📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM GRAPHICAL USER INTERFACE (GUI) PADA INSTRUMEN PENGUKURAN HASIL DMF-PCR

Makalah ini berisi perancangan, implementasi, serta verifikasi dari subsistem Graphical User Interface dari alat pengukuran dari proses Polymerase Chain Reaction (PCR) pada platform Digital Microfluidic (DMF). Sistem pengukuran yang dibuat dengan memanfaatkan prinsip flouresens dan menggunakan pewarna SYBR GREEN I untuk memantau proses amplifikasi dari deoxyribonucleic acid (DNA) atau ribonucleic acid (RNA). Pengembangan subsistem GUI ini dilakukan menggunakan framework Qt Quick dengan bahasa pemrograman C++ yang diintegrasikan pada platform sistem tertanam Raspberry Pi Model B. GUI bertujuan sebagai antarmuka pengguna dengan sistem, dengan masukan yang diberikan berupan sentuhan jari pengguna. Perancangan antarmuka difokuskan pada kemudahan operasional dalam pengaturan parameter eksperimen serta visualisasi data kurva amplifikasi secara real-time. GUI yang sudah dibuat dan dijalankan di Raspberry Pi akan dilakukan beberapa pengujian untuk memverifikasi kesesuaian implementasi dengan desain. Pengujian dilakukan dengan menelusuri semua state dan transisi dari state machine yang sudah di desain, selain itu juga dilakukan pengujian untuk integrasi antara GUI dengan subsistem mikroprosesor untuk memverifikasi kesesuaian keluaran berdasarkan dari masukan yang diberikan pengguna melalui GUI. Selain itu juga dilakukan pengujian untuk melihat seberapa mudahnya UI digunakan dengan memberikan kuesioner kepada beberapa sukarelawan yang mencoba produk. Hasil pengujian yang didapat adalah, sistem berhasil menjalankan semua state sesuai dengan yang sudah di desain, hasil kuesioner yang diberikan menunjukkan bahwa User Interface (UI) yang dibuat muda untuk digunakan. Namun, salah satu bagian fitur tambahan, yaitu multi-experiment gagal untuk berjalan ketika GUI dijalankan di Raspberry Pi.

2026
👤 Penulis: Muhammad Zaky Hermawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Digital Microfluidic (Dmf) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

APLIKASI PEMBANGUNAN MODEL KECEPATAN SEISMIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK COLOR INVERSION DAN MULTIATTRIBUTE PADA DEPTH MIGRATION

Seismik refleksi merupakan metode geofisika yang banyak digunakan untuk memetakan struktur bawah permukaan, khususnya dalam eksplorasi migas dan kajian geologi struktur. Namun demikian, bumi secara alami bersifat heterogen, baik dari segi sifat fisika batuan maupun kondisi geologinya. Keberadaan lapisan miring, lipatan, patahan, serta variasi kecepatan lateral yang kuat menyebabkan penampang seismik pada domain waktu sering kali tidak mampu merepresentasikan posisi reflektor yang sebenarnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesalahan interpretasi apabila tidak didukung oleh proses migrasi yang tepat dan model kecepatan yang akurat. Oleh karena itu, kualitas citra seismik sangat bergantung pada ketelitian pemodelan kecepatan, khususnya pada area dengan kompleksitas geologi tinggi. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk membangun dan mengevaluasi model kecepatan interval sebagai input utama pada proses Post Stack Depth Migration (PostSDM) dengan memanfaatkan pendekatan color inversion dan multi-attribute yang dikontrol oleh model strata berbasis batas horizon. Data yang digunakan berupa data seismik pre-stack yang terlebih dahulu diproses melalui tahapan input data, pengaturan geometri, analisis kecepatan menggunakan metode semblance dan Interactive Velocity Analysis (IVA), serta penerapan prestack time migration. Hasil time migration gather digunakan untuk mengevaluasi kualitas kecepatan melalui analisis residual moveout, sedangkan penampang time migration dimanfaatkan sebagai dasar interpretasi struktur, inversi seismik, dan ekstraksi properti. Ekstraksi log dilakukan pada penampang time migration untuk memperoleh log pseudo-well berupa acoustic impedance, kecepatan gelombang P, densitas, dan kedalaman. Log hasil ekstraksi dianalisis melalui crossplot untuk mengidentifikasi hubungan fisik antar parameter serta sebagai dasar penentuan target pemodelan kecepatan. Picking horizon dilakukan sebagai dasar pembentukan model strata yang akan digunakan dalam inversi dan atribut. Selanjutnya, resolusi lateral model kecepatan ditingkatkan menggunakan pendekatan multi-attribute berbasis atribut seismik, serta menggunakan metode band-limited color inversion guna menghasilkan model kecepatan interval yang konsisten secara lateral dan vertikal. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi multi-attribute dan color inversion menghasilkan model kecepatan interval yang lebih representatif terhadap kondisi bawah permukaan dibandingkan model awal. Penerapan kedua model kecepatan tersebut dalam proses PostSDM dan migrasi ulang domain waktu menghasilkan citra kedalaman dengan reflektor yang lebih terfokus, mampu menggambarkan struktur kompleks dan sistem patahan secara lebih tajam, serta memperbaiki posisi struktur secara signifikan. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa citra hasil migrasi menggunakan velocity interval dari kedua pendekatan memiliki kualitas yang relatif setara. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan teknik color inversion dan multi-attribute yang dikontrol oleh model strata berbasis batas horizon merupakan faktor penting dalam keberhasilan pemodelan kecepatan interval dan peningkatan kualitas migrasi seismik domain kedalaman pada area dengan variasi kecepatan lateral yang tinggi.

2026
👤 Penulis: Nadia Vero Ulina Ambarita
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM SWITCHING, DAYA, SERTA CASING PRODUK PADA SISTEM DETEKSI KELAYAKAN KABEL KONEKTOR BANANA 4MM BERBASIS RESISTANSI

Kegiatan praktikum pada pendidikan sarjana Teknik Elektro sangat bergantung pada ketersediaan peralatan ukur yang andal, termasuk kabel konektor banana 4mm. Dalam praktiknya, degradasi kabel yang disebabkan oleh penggunaan berulang, konektor yang longgar, serta oksidasi dapat meningkatkan resistansi internal yang berpotensi mengganggu akurasi data eksperimen. Pengujian kontinuitas konvensional terbukti tidak memadai untuk mendeteksi degradasi tersebut karena hanya memverifikasi konektivitas elektrik tanpa mempertimbangkan karakteristik resistifnya. Tugas Akhir ini menyajikan desain dan implementasi sistem deteksi kelayakan kabel banana 4mm berbasis resistansi untuk kebutuhan laboratorium. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan subsistem switching berbasis relai, subsistem daya khusus, serta desain casing produk yang kokoh secara mekanik. Subsistem switching menggunakan relai yang dikendalikan oleh mikrokontroler melalui rangkaian driver BJT untuk memfasilitasi metode pengukuran resistansi empat kawat (four-wire measurement), uji kontinuitas, serta pembalikan arus (current reversal) guna mitigasi gaya gerak listrik (EMF). Subsistem daya menggunakan catu daya terintegrasi dengan pemisahan bidang ground analog dan digital untuk meningkatkan stabilitas pengukuran dan mereduksi kopling noise. Selain itu, desain casing dirancang untuk memenuhi standar ergonomi, keamanan pengguna, durabilitas, dan manajemen termal dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) serta lingkungan. Analisis eksperimental menunjukkan bahwa sistem mampu membedakan kabel yang terdegradasi dengan resistansi tinggi dari kabel layak pakai, sehingga memberikan penilaian yang lebih andal dibandingkan pengujian kontinuitas konvensional. Instrumen ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi laboratorium, reliabilitas pengukuran, serta keselamatan pengguna.

2026
👤 Penulis: Zaahirah Attamimi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

Tugas akhir ini membahas perancangan dan implementasi sistem deteksi kelayakan teknis kabel praktikum LDTE, dengan fokus pada keterbatasan pemeriksaan konvensional berbasis continuity test yang hanya menilai keterhubungan kabel tanpa mempertimbangkan parameter intrinsik kabel. Padahal, pada rangkaian listrik—terutama rangkaian sinyal kecil—resistansi kabel dapat berdampak signifikan terhadap kinerja rangkaian, sehingga kabel yang lolos continuity test tetap berpotensi menghasilkan data praktikum yang tidak sesuai dan menghabiskan waktu praktikan untuk troubleshooting. Untuk mengatasi hal tersebut, sistem dirancang dengan mengintegrasikan subsistem switching (relay) untuk pengaturan jalur ukur dan current reversal, subsistem proses & kontrol berbasis Arduino Nano V3 untuk akuisisi dan pengolahan data, serta subsistem user interface berbasis modul display OLED 0,96” dan push button untuk antarmuka pengguna. Dari sisi perilaku sistem, pengujian dimulai saat pengguna menekan tombol: sistem melakukan two-wire continuity test; jika lolos, sistem melanjutkan ke pengukuran resistansi four-wire dengan metode current reversal untuk memperoleh pembacaan yang lebih stabil, kemudian hasil resistansi dibandingkan dengan batas kelayakan untuk menentukan status layak atau tidak layak. Kriteria kelayakan ditetapkan menggunakan ambang batas resistansi kabel < 15,4 m?. Verifikasi sistem menunjukkan fungsi klasifikasi tercapai pada pengujian resistansi referensi, di mana 14,8 m? teridentifikasi “layak” dan 16,0 m? teridentifikasi “tidak layak.” Selain itu, sistem dapat dioperasikan dengan durasi rata-rata sekitar 9 detik per kabel pada pengujian pengguna, sehingga mempercepat proses pemeriksaan dibanding pemeriksaan manual berulang saat praktikum. Secara keseluruhan, di pembahasan dokumen ini, sistem berhasil mengintegrasikan switching, kontrol, dan antarmuka pengguna untuk meningkatkan ketepatan dan efisiensi pemeriksaan kelayakan kabel praktikum berbasis resistansi internal, sehingga mengurangi risiko penggunaan kabel yang secara hasil continuity test baik namun tidak layak secara teknis.

2026
👤 Penulis: Taufiq Hidayat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM SERVER UNTUK SISTEM MONITORING KONDISI TOILET PUBLIK

Toilet publik merupakan fasilitas krusial yang memengaruhi kenyamanan dan kesehatan pengguna, terutama pada lingkungan dengan mobilitas tinggi seperti kampus. Perubahan kondisi (bau/amonia, lantai basah, serta habisnya tisu dan sabun) dapat terjadi cepat sepanjang hari, sementara pemeliharaan yang mengandalkan inspeksi manual cenderung reaktif, terlambat, dan sulit diaudit. Tugas akhir ini berkontribusi pada sistem monitoring toilet berbasis Internet of Things (IoT) dengan fokus pada subsistem server sebagai pusat penerimaan, pemrosesan, penyimpanan, dan distribusi informasi operasional. Subsistem server diimplementasikan menggunakan Node.js (Express) dan Type-Script. Telemetri dari node ESP32 dikirim melalui endpoint HTTPS (mis. POST /data) yang dilindungi autentikasi API key dan validasi payload agar hanya data sah yang dapat ditulis ke basis data. Data sensor kemudian dinormalisasi menjadi status semantik yang konsisten untuk dashboard dan notifikasi, disertai mekanisme anti-noise (debounce) untuk mencegah perubahan status sesaat akibat fluktuasi pembacaan. Penyimpanan menggunakan PostgreSQL dengan Prisma ORM dan dipisahkan menjadi tabel snapshot (status terbaru per perangkat) untuk akses cepat dashboard, serta tabel history (time-series) untuk audit, ekspor CSV, dan sumber scheduled report. Pembaruan real-time dikirim melalui WebSocket setelah ingest berhasil. Workflow operasional didukung Telegram Bot yang mengirim alert pada indikator yang paling actionable (terutama tisu/sabun), mengirim reminder ketika kondisi belum terselesaikan, serta mencatat acknowledgement petugas untuk supervisi. Deployment diperkuat dengan Nginx (TLS termination), kebijakan port minimal melalui firewall, dan process manager (PM2). Pengujian end-to-end menunjukkan konsistensi antara telemetri, database (snapshot/history), tampilan dashboard, dan pesan Telegram. Keterbatasan saat ini meliputi autentikasi berbasis shared secret dan ketergantungan konektivitas; pengembangan lanjut dapat mencakup identitas perangkat yang lebih kuat (mTLS) dan manajemen insiden yang lebih lengkap.

2026
👤 Penulis: Muhamad Fikri
🏷️ Iot 🏷️ Kontrol Lokal 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

USULAN STRATEGI O2O TERINTEGRASI UNTUK MENJEMBATANI KESENJANGAN SENSORIK: STUDI KASUS PADA ALDIVA

Evolusi pesat ekonomi digital telah mendisrupsi lanskap ritel tradisional secara fundamental, khususnya dalam sektor modest fashion di Indonesia. Meskipun ecommerce menawarkan kenyamanan yang tak tertandingi, hal ini memunculkan hambatan kritis yang dikenal sebagai Kesenjangan Sensorik yaitu ketidakmampuan konsumen untuk menyentuh, merasakan, dan mencoba produk sebelum membeli. Bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) seperti Aldiva, kesenjangan ini mengakibatkan tingginya Risiko Persepsi di kalangan pelanggan, yang berujung pada keraguan pembelian dan pengabaian keranjang belanja. Meskipun memiliki kehadiran fisik dan saluran digital, Aldiva saat ini menghadapi tantangan strategis di mana operasionalnya berjalan secara terpisah (silo). Data awal menunjukkan bahwa meskipun pelanggan menginginkan perjalanan belanja hibrida meriset secara online dan membeli secara offline (Webrooming) infrastruktur Aldiva saat ini gagal memfasilitasi perilaku tersebut akibat ketidaksinkronan inventaris dan gesekan organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal pendorong kinerja bisnis, mengevaluasi kesiapan operasional perusahaan, dan merumuskan strategi komprehensif untuk menjembatani kesenjangan sensorik ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksplanatori sekuensial dengan desain studi kasus tunggal. Kerangka kerja penelitian didasarkan pada teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R) untuk menganalisis pergeseran perilaku konsumen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semiterstruktur dengan dua kelompok kunci: manajemen internal untuk mengaudit kapabilitas operasional, dan konsumen yang aktif secara digital untuk memahami hambatan psikologis mereka terkait kualitas kain dan kecocokan ukuran. Analisis dilakukan melalui tiga tahap berurutan. Pertama, lingkungan eksternal dianalisis menggunakan PESTEL dan Analisis Pesaing, sedangkan kapabilitas internal dinilai menggunakan kerangka STP, Bauran Pemasaran 7P, dan VRIO. Kedua, temuan ini disintesis ke dalam Analisis SWOT untuk mendiagnosis posisi strategis Aldiva. Terakhir, Matriks TOWS digunakan untuk menghasilkan alternatif strategi yang dapat ditindaklanjuti. Hasil analisis komprehensif mengungkapkan bahwa kinerja bisnis Aldiva didorong oleh tren eksternal Webrooming yang kuat, di mana pelanggan secara aktif mencari validasi fisik untuk memitigasi risiko online. Namun, peluang ini terhambat secara signifikan oleh kelemahan internal. Secara khusus, studi ini mengidentifikasi “Silo Operasional” (insentif yang bertentangan antara tim online dan offline) dan “Ketidaksinkronan Inventaris” (sistem stok manual) sebagai hambatan utama yang mencegah perjalanan pelanggan yang mulus. Akibatnya, berdasarkan analisis SWOT, Aldiva menempati posisi strategis yang didefinisikan oleh Nilai Aset Tinggi (Toko Fisik) namun Kesiapan Operasional Rendah. Meskipun toko fisik berfungsi sebagai Jangkar Kepercayaan (Trust Anchor) yang kritis, aset ini masih kurang dimanfaatkan karena tidak adanya integrasi data realtime. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merumuskan “Strategi Perdagangan O2O Terintegrasi” (The Integrated O2O Commerce Strategy). Berbeda dengan pendekatan multi-saluran tradisional, strategi ini menyatukan operasi online dan offline ke dalam satu ekosistem tunggal yang didukung oleh tiga pilar utama: (1) Integrasi Infrastruktur Digital melalui Cloud POS untuk memastikan visibilitas inventaris real-time; (2) Penyelarasan Organisasi melalui Model Insentif Berbasis Atribusi untuk membongkar persaingan internal; dan (3) Strategi Klik-dan-Ambil (Pick-Up & Fit) untuk mengamankan pendapatan di awal sekaligus memanfaatkan toko untuk validasi layanan. Studi ini berkontribusi pada literatur ilmu pemasaran dengan memvalidasi Resource-Based View (RBV) dalam konteks UKM. Studi ini menunjukkan bahwa di pasar yang mengutamakan digital, toko fisik bertindak sebagai sumber daya langka dan tidak tergantikan yang membangun kredibilitas merek dan membedakan merek tersebut dari pesaing yang murni online. Secara praktis, strategi yang diusulkan mengubah toko fisik dari sekadar titik transaksional pasif menjadi pusat pengalaman aktif, yang secara efektif menetralkan kesenjangan sensorik dan memastikan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Wahyu Indra Pratama
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Digitalisasi Ukm

KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT KOMPLEKS UMUR OLIGO MIOSEN AWAL DENGAN METODE INVERSI DETERMINISTIK PADA AREA LEPAS PANTAI UTARA MADURA, CEKUNGAN JAWA TIMUR

Lapangan “ABBA” merupakan salah satu lapangan migas produktif di lepas pantai utara Cekungan Jawa Timur. Formasi Kujung yang tersusun atas batuan karbonat diketahui sebagai potensial target reservoir pada daerah ini. Temuan hidrokarbon di selatan lapangan mendorong penelitian ini melakukan karakterisasi reservoir guna optimalisasi pengembangan lapangan. Namun, kompleksitas dan heterogenitas batuan karbonat menjadi tantangan utama dalam prediksi aliran fluida. Sehingga, penelitian ini bertujuan menganalisis properti fisik sensitif dan karakteristik reservoir Formasi Kujung, memetakan persebaran reservoir berporositas baik, serta mengevaluasi metode inversi AI antara model based dan Linear Programming Sparse Spike (LPSS) berdasarkan resolusi dan konsistensinya terhadap data sumur. Studi ini menggunakan data seismik 3D full-stack yang diintegrasikan dengan 2 sumur pengembangan dan 4 sumur eksplorasi. Tahapan karakterisasi meliputi uji parameter sensitif dan transformasi volume porositas melalui hubungan log AI dan log porositas. Hasil analisis menunjukkan parameter AI sangat sensitif memisahkan porous dan tight carbonate dengan nilai cut-off 10.400 (m/s)(g/cc). Dalam evaluasi metode, model based relatif menghasilkan nilai lebih stabil dan memiliki validasi sumur lebih akurat dibandingkan metode LPSS yang cenderung overfit meskipun mampu menampilkan reflektivitas secara natural. Hasil analisis integrasi menunjukkan distribusi kualitas reservoir dikontrol oleh evolusi tektonostratigrafi dan lingkungan pengendapan. Interval Kujung I pada struktur tinggian merupakan zona paling prospektif karena pengaruh lingkungan shelf edge berenergi tinggi pada umur Miosen Awal yang mendukung perkembangan porositas primer (>20%). Sebaliknya, kualitas pada Kujung II dan III menurun seiring transisi ke lingkungan yang lebih dalam, di mana peningkatan porositas hanya terjadi secara lokal akibat diagenesis sekunder berupa dolomitisasi saat Oligosen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengoptimalkan strategi pengembangan lapangan dan mitigasi risiko eksplorasi.

2026
👤 Penulis: Gracia Hanarosalia Sitorus
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN AKSELERATOR RISC-V Q-LEARNING BERBASIS ALGORITMA RBED+ DENGAN TEKNIK PARALELISASI SPASIAL

Tesis membahas upaya pengembangan lanjut akselerator Q-Learning yang terintegrasi dengan inti Veer EL2. Pengembangan dilakukan melakukan modifikasi pada perangkat lunak dan keras. Modifikasi perangkat lunak dilakukan dengan mengembangkan metode pemilihan kebijakan yang awalnya menggunakan ?- greedy policy menjadi Epsilon Decay yang dapat memprioritaskan antara eksplorasi dan eksploitasi pada waktu yang sesuai. Diterapkan pula RBED+, yang menyesuaikan ? setiap kali agen mendapatkan imbalan kumulatif yang cukup dan saat agen mencapai tujuan. Modifikasi perangkat keras dilakukan dengan melakukan paralelisasi spasial pada akselerator untuk mempercepat proses QLearning. Pengetesan dilakukan pada dua tahap: pengetesan kebijakan, dan pengetesan perangkat keras dan lunak. Pengetesan kebijakan membandingkan QLearning yang menggunakan ?-greedy policy dengan Epsilon Decay (eksponensial, linear, RBED+). Pengetesan umum membandingkan performa Q-Learning terhadap akselerator dan kebijakan yang berbeda pada berbagai skala. Hasil menunjukkan bahwa Exponential Epsilon Decay dan RBED+ dapat mencapai konvergensi imbalan kumulatif dalam waktu tercepat. Terlihat pula bahwa jumlah total aksi yang agen perlu lakukan lebih kecil ketika kedua strategi tersebut diimplementasikan. RBED+ yang bergantung pada performa, dapat meningkatkan peluruhan dari 0.9898 menjadi 0.97364 tanpa adanya degradasi kualitas yang terlihat. Akan tetapi, waktu rata-rata Q-Learning RBED+ masih berada di bawah ?- greedy (0.2). Salah satu kemungkinan adalah karena implementasi RBED+ yang lebih kompleks sehingga memperlambat program. Hasil tes perangkat keras dan lunak menunjukkan bahwa Q-Learning dengan RBED+ menunjukkan performa terbaik, kecuali saat skala terbesar yang menggunakan akselerator. RBED+ juga memiliki hasil stabil tanpa divergensi, dibandingkan strategi lain yang menghasilkan 5-22.5% divergen. Desain akselerator baru tidak dapat menghasilkan peningkatan di atas 1%, karena percepatan dari paralelisasi jauh lebih kecil dari durasi Q-Learning secara keseluruhan. Akan tetapi, ditemukan adanya perbedaan performa akselerator terhadap strategi berdasarkan fokus pada eksploitasinya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Raihan Elfazri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Algoritma Q-Learning 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MODEL PENGENDALIAN PERSEDIAAN UNTUK PRODUK YANG MENGALAMI DETERIORASI DENGAN PERMINTAAN PROBABILISTIK DI BAWAH KEBIJAKAN PENUNDAAN PEMBAYARAN DAN KENDALA ANGGARAN

Pengelolaan persediaan untuk produk yang mengalami deteriorasi menjadi semakin kompleks ketika pelaku usaha menghadapi permintaan yang bersifat tidak pasti (probabilistik), kebijakan penundaan pembayaran dari pemasok, serta kendala anggaran. Dalam praktik bisnis ritel dan distribusi, keputusan persediaan masih sering didasarkan pada pendekatan heuristik, yang berpotensi menyebabkan tingginya biaya persediaan, terjadinya kekurangan stok, serta inefisiensi finansial. Sejalan dengan karakteristik permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model sistem pengendalian persediaan probabilistik bagi produk deteriorasi dalam satu kerangka pengambilan keputusan yang terintegrasi. Model yang diusulkan diformulasikan dalam kerangka optimasi dengan tujuan meminimalkan total biaya persediaan per unit waktu, yang mencakup biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya deteriorasi, biaya kekurangan persediaan, biaya simpan finansial, serta bunga yang diperoleh dengan tetap mempertimbangkan penentuan ukuran lot pemesanan optimal, cadangan pengaman, dan titik pemesanan ulang secara simultan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi lapangan pada satu pelaku usaha ritel dan distribusi, meliputi wawancara serta data sekunder berupa data historis permintaan dan parameter operasional yang digunakan sebagai input numerik dalam analisis model pada kedua skenario pembayaran. Penelitian ini mempertimbangkan dua skenario pembayaran, yaitu ketika periode pembayaran terjadi sebelum persediaan habis (M ? T) dan ketika periode pembayaran melebihi panjang siklus persediaan (M ? T). Pada skenario M ? T, diperoleh ukuran lot pemesanan optimal sebesar 448 unit, dengan cadangan pengaman sebesar 23 unit dan titik pemesanan ulang sebesar 38 unit. Sementara itu pada skenario M ? T total biaya persediaan menjadi lebih minimum dengan rekomendasi ukuran lot pemesanan optimal sebesar 483 unit, serta cadangan pengaman dan titik pemesanan ulang yang sama. Dibandingkan dengan kebijakan persediaan eksisting, model yang diusulkan mampu menurunkan total biaya persediaan sebesar 12,47% pada skenario M ? T dan 14,75% pada skenario M ? T. Temuan penelitian menegaskan pentingnya integrasi antara keputusan operasional persediaan dan kebijakan pembayaran kepada pemasok dalam meningkatkan efisiensi sistem persediaan, sekaligus menghasilkan kebijakan yang optimal secara matematis dan aplikatif secara bisnis

2026
👤 Penulis: Uud Prayuda
🏷️ Optimisasi Persediaan Produk Deteriorasi 🏷️ Analisis Pembayaran Kredit 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN STRATEGI ADOPSI PENGGUNAAN UNBUNDLED RENEWABLE ENERGY CERTIFICATE BERDASARKAN FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT PADA SEKTOR INDUSTRI GARMEN DAN ALAS KAKI DI PROVINSI JAWA TENGAH

Industri garmen dan alas kaki adalah salah satu sektor utama dalam ekspor di Indonesia namun juga menjadi kontributor emisi yang signifikan. Kedua industri tersebut menghadapi tekanan untuk mengurangi karbon dalam operasi perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) yang diterbitkan PLN hadir sebagai instrumen fleksibel untuk klaim penggunaan EBT. Namun, penggunaan REC di sektor-sektor prioritas di Jawa Tengah masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat adopsi EBT melalui REC di level mikro, menganalisis interaksi level makro dan meso dalam membentuk dinamika tersebut, serta merumuskan strategi peningkatan adopsi REC yang kontekstual bagi PLN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus multi-kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 12 perusahaan sektor alas kaki dan garmen yang dipilih berdasarkan status adopsi EBT dan pembelian REC. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis dan dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk mengidentifikasi pola dan perbedaan. Temuan penelitian mengonfirmasi menemukan bahwa buyer internasional adalah pendorong utama yang mampu mengatasi hambatan mikro seperti biaya tinggi. Secara khusus, adopsi REC terhambat oleh persepsinya sebagai biaya tambahan tanpa manfaat finansial langsung, kurangnya pengetahuan teknis, dan adanya persepsi legitimasi. Dinamika ini dibentuk oleh interaksi tekanan makro dari buyer menciptakan legitimasi, sementara variasi sumber daya di level meso seperti keuangan dan pengetahuan menyaring respon, menjelaskan mengapa perusahaan dengan sumber daya kuat memilih PLTS Atap sedangkan yang terbatas memilih REC. Berdasarkan analisis tiga level yaitu makro-meso-mikro, disimpulkan bahwa strategi peningkatan adopsi REC bagi PLN harus bersifat multilevel, terintegrasi, dan berurutan. Strategi tersebut mencakup pembangunan legitimasi melalui ko-kreasi regulasi dan diplomasi di level makro, segmentasi pasar berbasis sumber daya di level meso, serta intervensi di level mikro untuk mengubah persepsi nilai dan menyederhanakan akses. Implikasinya, PLN perlu bertransformasi dari seller menjadi market builder, didukung oleh percepatan regulasi pemerintah dan peningkatan kapabilitas industri.

2026
👤 Penulis: Muhammad Hilman Kusnawan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Industri Garmen Dan Alas Kaki 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MENINGKATKAN KEPUASAN PENGALAMAN PELANGGAN DAN EFISIENSI OPERASIONAL MELALUI INOVASI MODEL BISNIS DENGAN PENDEKATAN DESIGN THINKING PADA SALEEYA FLORIST

Industri florikultura di Indonesia merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif yang terus berkembang. Permintaan tidak hanya dipicu oleh acara tradisional seperti pernikahan dan wisuda, tetapi juga oleh perubahan gaya hidup generasi milenial dan Gen Z. Bunga kini dipandang sebagai medium ekspresi diri, personal branding, dan estetika gaya hidup. Di Bandung, yang dikenal dengan ekosistem ekonomi kreatifnya, Saleeya Florist berdiri pada tahun 2023 dengan konsep unik Omakase, di mana pelanggan mempercayakan sepenuhnya desain rangkaian bunga kepada florist. Konsep ini membedakan Saleeya dari florist konvensional, namun juga menghadirkan tantangan yang menghambat pertumbuhan berkelanjutan. Tiga isu utama yang muncul adalah: pertama, banyak pelanggan kesulitan mengungkapkan preferensi mereka, sehingga terjadi kesenjangan antara ekspektasi dan hasil rangkaian. Kedua, ketergantungan pada pekerja paruh waktu tanpa pelatihan terstruktur atau alur kerja yang jelas menimbulkan inkonsistensi kualitas layanan, terutama pada musim sibuk. Ketiga, bisnis masih sangat bergantung pada puncak musim tertentu seperti Hari Valentine atau periode wisuda, yang mengakibatkan pendapatan tidak stabil dan sulit untuk ditingkatkan skala pertumbuhannya. Tantangan yang saling terkait ini menegaskan perlunya proses inovasi yang terstruktur, yang mampu menyeimbangkan kreativitas, kepercayaan pelanggan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini menggunakan Design Thinking sebagai pendekatan metodologis utama dan Business Model Innovation (BMI) sebagai kerangka konseptual. Design Thinking, melalui tahapan iteratif—empathize, define, ideate, prototype, dan test— menyediakan proses berpusat pada manusia untuk mengidentifikasi masalah dan menciptakan solusi. Sementara itu, BMI yang dioperasionalkan melalui Business Model Canvas (BMC) serta pola disrupsi dari The Invincible Company (Osterwalder et al., 2020), memungkinkan konfigurasi ulang secara sistematis pada elemen frontstage (value proposition, customer segments, channels, relationships) maupun backstage (resources, activities, partnerships). Integrasi kedua kerangka ini memastikan solusi yang dihasilkan berorientasi pelanggan, layak secara operasional, dan berkelanjutan secara strategis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pelanggan, wawancara internal dengan staf, observasi proses pemesanan melalui WhatsApp dan Instagram, serta benchmarking dengan florist dan dekorator acara lain. Analisis data dilakukan menggunakan empathy mapping dan business model mapping. Pendekatan multimethod ini memberikan pemahaman holistik atas pengalaman pelanggan dan praktik operasional, sehingga temuan yang dihasilkan kaya akan wawasan sekaligus relevan secara praktis. Hasil penelitian diharapkan mencakup tiga capaian utama: meningkatnya kepuasan pelanggan melalui alat yang lebih baik untuk menangkap preferensi dan komunikasi yang transparan, konsistensi operasional yang lebih terjamin melalui alur kerja terstruktur dan manajemen pekerja paruh waktu, serta pendapatan yang lebih stabil melalui diversifikasi layanan seperti workshop, langganan korporat, dan kolaborasi acara. Kontribusi penelitian ini terletak pada kemampuannya menunjukkan bagaimana bisnis kreatif skala kecil dapat mengintegrasikan Design Thinking dan BMI untuk menjawab tantangan umum dalam pengalaman pelanggan dan operasional. Secara konseptual, studi ini memperlihatkan bagaimana riset berorientasi empati dapat diterjemahkan menjadi inovasi model bisnis yang nyata. Secara praktis, penelitian ini menawarkan strategi yang jelas bagi Saleeya Florist untuk membangun ketahanan dan skalabilitas di industri yang kompetitif dan musiman.

2026
👤 Penulis: Nadya Aisyah Prabowo
🏷️ Design Thinking 🏷️ Business Model Innovation (Bmi) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS PENGARUH LOKASI PENEMPATAN SENDI PLASTIS PADA BALOK TERHADAP LEVEL KINERJA GEDUNG BAJA EKSISTING DENGAN METODE NLTHA

Identifikasi aktivitas sesar aktif di wilayah daratan DKI Jakarta, khususnya Sesar Baribis-Kendeng, serta pemutakhiran peta sumber gempa nasional dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah paradigma risiko seismik terhadap infrastruktur perkotaan. Gedung baja eksisting yang didesain berdasarkan peraturan lama memerlukan evaluasi mendalam untuk memastikan ketahanannya terhadap peningkatan seismic demand terbaru. Salah satu parameter kritis dalam analisis nonlinear gedung baja adalah pemodelan sendi plastis pada elemen balok, yang secara teoritis menentukan pola disipasi energi dan mekanisme keruntuhan struktur secara keseluruhan. Penelitian ini difokuskan pada analisis level kinerja gedung baja eksisting setinggi 49,5 meter di DKI Jakarta dengan mempertimbangkan variasi lokasi penempatan sendi plastis pada elemen balok guna mendapatkan prediksi mekanisme kerusakan yang lebih akurat. Metodologi penelitian ini dilakukan melalui simulasi numerik berbasis Nonlinear Time History Analysis (NLTHA). Sebagai input beban dinamik riwayat waktu, digunakan 11 pasangan rekaman gempa asli yang telah melalui proses spectral matching dan disesuaikan dengan orientasi Rotational Doubleperiod 100 (RotD100) sesuai standar ASCE 7-16 untuk menangkap respon amplifikasi maksimum arah horizontal. Evaluasi dilakukan pada dua model komparatif, yaitu Model A dengan penempatan sendi plastis pada muka kolom dan Model B dengan penempatan sendi plastis pada jarak dua kali tinggi efektif kolom dari muka kolom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemutakhiran parameter kegempaan tahun 2024 meningkatkan beban seismik pada struktur, gedung eksisting tersebut masih memiliki kapasitas cadangan yang memadai dan masih memenuhi kriteria aman yang disyaratkan dalam SNI 1726:2019. Model B terbukti memberikan hasil yang lebih unggul dalam memprediksi perlindungan zona sambungan kritis melalui mekanisme disipasi energi yang lebih stabil dibandingkan Model A. Urutan pelelehan elemen secara konsisten dimulai dari elemen balok (first yield), yang mengonfirmasi pemenuhan kriteria Strong Column-Weak Beam (SCWB) aktual sehingga risiko keruntuhan tingkat (story collapse) dapat dihindari. Berdasarkan kriteria penerimaan komponen yang ditetapkan dalam ASCE 41-17, level kinerja global gedung berada pada kategori Life Safety (LS). Dengan demikian, gedung baja eksisting tersebut disimpulkan masih aman dan layak beroperasi tanpa memerlukan perkuatan struktur terhadap ancaman gempa terbaru.

2026
👤 Penulis: Dedi Saputra
🏷️ Geotermologi 🏷️ Analisis Nonlinear 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MEMERINGKAT PERTIMBANGAN INVESTASI UTAMA DI KALANGAN MODAL VENTURA DALAM KEPUTUSAN PENDANAAN STARTUP TAHAP AWAL DI INDONESIA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Penelitian ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia, yang dikarakterisasi oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi serta asimetri informasi yang signifikan dalam pendanaan tahap awal. Dalam kondisi pasar yang volatil ini, manajer modal ventura harus melakukan penyaringan secara ketat terhadap berbagai kriteria investasi yang saling bersaing, sehingga diperlukan pemetaan prioritas strategis guna memberikan transparansi bagi para pendiri startup mengenai ekspektasi investor. Untuk menangkap prioritas tersebut, studi ini menerapkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang melibatkan lima pemodal ventura untuk menyusun pengambilan keputusan VC ke dalam hierarki dua tingkat. Hasil penelitian mengidentifikasi 'Atribut Wirausaha dan Tim' sebagai prioritas utama (Peringkat 1), diikuti oleh 'Atribut Produk dan Layanan' (Peringkat 2), 'Pertimbangan Keuangan' (Peringkat 3), dan 'Faktor Pasar' (Peringkat 4). Pada tingkat sub-faktor, prioritas tertinggi adalah: Pengalaman dan Rekam Jejak Pendiri; Proposisi Nilai; Kejelasan Inovasi dan Diferensiasi; serta Kelayakan Teknis dan Skalabilitas. Sebaliknya, Intensitas Persaingan dan Lanskap Pasar, bersama dengan Lingkungan Eksternal dan Kondisi Sektor, menempati peringkat terendah, di mana seluruh penilaian berpasangan telah memenuhi standar reliabilitas (CR < 0,10). Wawasan kualitatif mengonfirmasi pola pikir yang mengutamakan pendiri, di mana ketangguhan kepemimpinan dan kredibilitas berfungsi sebagai perlindungan utama bagi keberhasilan investasi. Meskipun hierarki memberikan landasan strategis, wawasan para ahli menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti jaringan elit pendiri atau perubahan regulasi yang drastis dapat mengesampingkan protokol evaluasi standar secara sementara. Temuan ini memberikan prioritas yang jelas mengenai kriteria keputusan VC tahap awal di Indonesia, yang menunjukkan bahwa evaluasi tersebut pada dasarnya berpusat pada figur pendiri dan bergantung pada konteks.

2026
👤 Penulis: Albert Lukas Pithel Hasugian
🏷️ Analisis Keuangan Startup 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

STRATEGI PENINGKATAN RANTAI PASOKAN KOPI BERKELANJUTAN BERBASIS PEMBERDAYAAN PETANI LOKAL (STUDI KASUS DI ALLNESIA COFFEE)

Inkonsistensi kualitas dan tingkat cacat yang tinggi merupakan masalah umum dalam rantai pasokan kopi yang bergantung pada petani kecil, terutama pada tahap pengolahan awal. Studi ini mengeksplorasi bagaimana perbedaan praktik pengolahan di tingkat petani dan koperasi memengaruhi tingkat cacat dan mengidentifikasi strategi peningkatan mana yang harus diprioritaskan untuk mengurangi cacat dan memperkuat pemberdayaan petani. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang didukung oleh data tingkat cacat, yang dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan catatan produksi dari petani dan koperasi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar cacat berasal dari tingkat pertanian, khususnya selama panen dan aktivitas pasca panen awal. Praktik-praktik seperti pemetikan ceri campuran, pengeringan yang tidak konsisten, dan tidak adanya pengendalian mutu preventif menciptakan cacat yang tidak dapat sepenuhnya diperbaiki pada tahap selanjutnya. Meskipun koperasi membantu meningkatkan konsistensi kualitas, peran mereka terutama bersifat korektif dan memiliki dampak terbatas pada cacat yang sudah terjadi di hulu. Berdasarkan temuan ini, empat intervensi strategis dievaluasi menggunakan metode prioritas berbasis SMART. Hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan modal manusia yang ditargetkan yang berfokus pada penyebab cacat utama adalah intervensi yang paling penting, diikuti oleh penerapan manajemen mutu preventif di tingkat pertanian. Kedua strategi ini saling mendukung, karena pelatihan memungkinkan petani untuk menerapkan praktik kualitas standar secara konsisten. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis kemampuan di hulu lebih efektif daripada tindakan korektif di hilir dalam mengurangi cacat dan meningkatkan kinerja rantai pasokan. Temuan ini menawarkan panduan praktis bagi koperasi dan manajer rantai pasokan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas secara berkelanjutan melalui pemberdayaan petani. Kata kunci:

2026
👤 Penulis: Mochammad Robith Aizzurrohman
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Pengelolaan Petani 🏷️ Hidrologi Pertanian

PENGARUH JENIS NANOPARTIKEL MAGNETIK FE3O4 DAN NIFE2O4 SERTA MEDAN MAGNET EKSTERNAL NON-HOMOGEN TERHADAP TRANSFER KALOR DAN DINAMIKA MELTING PADA KOMPOSIT ASAM LAURAT

Penelitian disertasi ini mengkaji pengaruh jenis nanopartikel magnetik terhadap dinamika proses pencairan pada material penyimpan energi termal berbasis phase change material (PCM) dengan matriks asam laurat (lauric acid/LA). Kajian dilakukan pada dua kondisi, yaitu tanpa medan magnet dan dengan penerapan medan magnet eksternal non-homogen yang searah dengan arah aliran kalor. Setiap sampel didefinisikan sebagai komposit LA dan komposit-magnetik LA. Selain itu, penelitian ini mempelajari konduktivitas termal dan viskositas dalam kaitannya dengan proses pencairan. Nanopartikel magnetik yang ditambahkan ke dalam matriks asam laurat adalah Fe?O? dan NiFe?O?, keduanya memiliki sifat superparamagnetik, dengan fraksi massa sebesar 2%. Besar medan magnet yang digunakan pada pengukuran konduktivitas termal dan viskositas disesuaikan dengan kondisi eksperimen proses pencairan yang diperoleh dari konfigurasi magnet permanen. Hasil pengukuran menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC) menunjukkan bahwa LA murni memiliki nilai entalpi sebesar 179 J/g, sedangkan pada komposit LA/Fe?O4 dan LA/NiFe?O? nilai entalpinya masing-masing menurun menjadi 167 J/g dan 165 J/g. Pengukuran konduktivitas termal pada fase padat menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami peningkatan sebesar 6,13%, sedangkan komposit LA/NiFe?O? meningkat sebesar 3,68% dibandingkan LA murni. Pada fase cair (T = 55?°C), peningkatan konduktivitas termal tercatat sebesar 2,9% untuk komposit LA/Fe?O? dan 2,2% untuk komposit LA/NiFe?O? dibandingkan LA murni. Selain itu, pengaruh medan magnet terhadap konduktivitas termal menghasilkan peningkatan sekitar 2,3% untuk kedua komposit-magnetik LA dibandingkan kondisi tanpa medan magnet. Di sisi lain, pengukuran viskositas menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami peningkatan sebesar 11,73%, sedangkan komposit LA/NiFe?O? meningkat sebesar 11,12% dibandingkan LA murni. Dalam kondisi penerapan medan magnet, viskositas komposit-magnetik LA/Fe?O? meningkat sekitar 5,28%, sedangkan komposit-magnetik LA/NiFe?O? meningkat sekitar 2% dibandingkan kondisi tanpa medan magnet Hasil eksperimen proses pencairan menunjukkan bahwa penambahan nanopartikel magnetik pada matriks LA dapat mempercepat laju pencairan dan memperjelas zona mushy. Dibandingkan dengan asam laurat murni, laju pencairan meningkat masing-masing sebesar 9% pada LA/Fe?O? dan 3% pada LA/NiFe?O?. Hal ini menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami percepatan pencairan lebih tinggi dibandingkan komposit LA/NiFe?O?, yang berkaitan dengan peningkatan transfer kalor konduksi dan konveksi yang lebih signifikan. Di sisi lain, penerapan medan magnet eksternal non-homogen pada komposit-magnetik LA menyebabkan perlambatan proses pencairan. Perlambatan ini disebabkan oleh gaya Kelvin yang sejajar dengan arah aliran kalor. Selain itu, penerapan medan magnet mempertebal zona mushy, khususnya pada komposit LA/Fe?O?, yang menunjukkan resistansi lebih besar terhadap perubahan fase serta modifikasi dinamika antarmuka padatcair akibat efek konveksi termomagnetik. Secara kuantitatif, total waktu pencairan meningkat sebesar -40% untuk komposit LA/Fe?O? dan -12,5% untuk komposit LA/NiFe?O? dibandingkan dengan kondisi tanpa medan magnet. Hasil penelitian disertasi ini menunjukkan bahwa dinamika pencairan komposit LA dapat dikendalikan melalui karakteristik nanopartikel magnetik serta pengaruh medan magnet eksternal. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan potensi aplikasi dalam pengembangan perangkat termomagnetik, khususnya dalam pemanfaatan energi termal melalui perubahan sifat magnetik material. Selain itu, berkontribusi terhadap upaya penyediaan energi bersih dan terjangkau (Sustainable Development Goals No. 7) serta mitigasi perubahan iklim (Sustainable Development Goals No. 13).

2026
👤 Penulis: Akhmad Yusuf
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 53 dari 349
💬