📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

STUDI ALLOYING LOGAM TRANSISI MN PADA PEROVSKIT ANORGANIK HALIDA CSPBI3 BERBASIS DENSITY FUNCTIONAL THEORY DAN SIMULASI SCAPS-1D UNTUK APLIKASI SEL SURYA

Perovskit anorganik halida ?-CsPbI? merupakan material absorber yang menjanjikan untuk aplikasi sel surya karena memiliki sifat optoelektronik yang baik dan celah pita yang sesuai untuk konversi energi fotovoltaik. Namun, implementasi praktisnya masih terbatas akibat rendahnya stabilitas struktur pada kondisi lingkungan, di mana fase hitam yang aktif secara fotovoltaik cenderung berubah menjadi fase kuning yang tidak aktif. Selain itu, keberadaan Pb juga menimbulkan permasalahan toksisitas dan dampak lingkungan. Alloying logam transisi, khususnya Mn, dilaporkan mampu meningkatkan stabilitas serta memodifikasi sifat elektronik CsPbI?. Akan tetapi kajian yang menghubungkan sifat material pada tingkat atomik dengan performa perangkat fotovoltaik masih terbatas. Dalam penelitian ini, dikembangkan kerangka kerja terintegrasi berbasis Density Functional Theory (DFT) menggunakan VASP dan simulasi SCAPS-1D untuk mengevaluasi pengaruh alloying Mn pada CsPb1-xMnxI3 (x = 0; 0,125; dan 0,25). Hasil menunjukkan bahwa dari ketiga komposisi yang diteliti, komposisi x = 0,125 menghasilkan efisiensi konversi daya (PCE) tertinggi sebesar 28,30%, yang menunjukkan peningkatan PCE yang signifikan dibandingkan CsPbI3 pristine dengan PCE sebesar 23,97%. Peningkatan ini dikaitkan dengan penyempitan celah pita, peningkatan penyerapan optik, serta penyelarasan pita energi antarmuka yang lebih baik. Hasil ini menunjukkan bahwa alloying Mn berpotensi menjadi strategi efektif untuk pengembangan sel surya perovskit anorganik yang lebih efisien dan stabil.

2026
👤 Penulis: Geraldhika Revaldo Arya R
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI TEKNO-EKONOMI DAMPAK PAJAK KARBON TERHADAP LAJU PRODUKSI DAN DURASI PRODUKSI LAPANGAN MINYAK

Penerapan kebijakan pajak karbon pada sektor hulu minyak dan gas (migas) mengubah profil biaya operasional menjadi beban finansial langsung yang berdampak pada kelayakan ekonomi proyek. Dampak tersebut menjadi semakin kritis pada lapangan minyak tua yang secara alami mengalami penurunan laju produksi dan kenaikan biaya perbaikan sumur, sehingga memiliki kerentanan tinggi terhadap beban biaya tambahan berupa pajak karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penerapan pajak karbon mempengaruhi indikator ekonomi proyek migas, terutama Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), serta merancang dan menguji strategi pengaturan laju produksi dan durasi produksi sebagai upaya mitigasi terhadap beban biaya karbon. Metode penelitian menggabungkan inventarisasi emisi berbasis aktivitas dengan analisis finansial proyek. Emisi karbon dihitung untuk setiap sumber utama: pembakaran bahan bakar operasional, flaring, venting, dan fugitive emissions. Pendekatan berbasis aktivitas memungkinkan penghitungan emisi yang terperinci berdasarkan intensitas bahan bakar, jam operasi, volume flaring/venting, dan laju kebocoran yang diamati atau diestimasi. Emisi yang dihitung dikonversi menjadi beban biaya karbon menggunakan tarif pajak karbon yang diberlakukan, kemudian dikoreksi dengan mekanisme subsidi berbasis alokasi allowance dari pemerintah atau dengan kata lain sejumlah alokasi emisi yang diberikan mengurangi beban pajak riil sehingga menghasilkan biaya karbon bersih. Biaya karbon bersih ini dimasukkan ke dalam proyeksi arus kas operasi proyek sehingga perubahan NPV dan IRR dapat dihitung secara langsung. Untuk menguji strategi mitigasi operasional, dikembangkan skenario optimasi produksi yang merupakan kombinasi pengurangan laju produksi sebesar 10%, 20%, dan 30% bersama opsi perpanjangan durasi produksi masing-masing sebesar satu, dua, dan tiga tahun. Pendekatan ini merefleksikan trade-off klasik yaitu menurunkan laju produksi menurunkan intensitas emisi tahunan dan pajak karbon tahunan, namun menambah durasi lapangan sehingga menambah akumulasi biaya operasi dan risiko harga. Model keuangan dijalankan pada kondisi baseline ekonomi saat ini, serta melalui analisis sensitivitas terhadap eskalasi harga karbon jangka panjang untuk menilai ketahanan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberlakuan pajak karbon secara signifikan menurunkan NPV baseline meskipun mekanisme allowance atau subsidi dapat mengurangi sebagian beban awal. Di antara kombinasi skenario yang diuji, konfigurasi yang diberi kode Skenario C1 yakni pengurangan laju produksi yang moderat dipadu dengan perpanjangan durasi yang singkat, sehingga muncul sebagai konfigurasi paling optimal dalam kondisi ekonomi dan tarif karbon saat ini, karena mampu menyeimbangkan pengurangan pajak karbon tahunan tanpa memperbesar akumulasi biaya operasi secara berlebihan. Namun, hasil analisis sensitivitas mengungkap batas efektivitas strategi ini yaitu pada proyeksi jangka panjang dengan eskalasi harga karbon yang tinggi, penurunan laju produksi dan perpanjangan durasi tidak lagi cukup untuk menjaga kelayakan ekonomi dikarenakan NPV turun di bawah ambang kelayakan dan IRR menurun ke tingkat yang tidak menarik bagi investor. Dari sisi kebijakan dan praktik operasional, penelitian ini membuktikan bahwa pengaturan laju produksi adalah alat mitigasi jangka menengah yang berguna untuk lapangan migas tua menghadapi pajak karbon. Namun, efektivitasnya bersifat sementara dan sensitif terhadap trajektori harga karbon. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lapangan tua pada skenario kenaikan harga karbon, dibutuhkan integrasi strategi teknologi pengurangan emisi seperti efisiensi pembakaran, elektrifikasi fasilitas dengan energi rendah karbon, pengurangan fugitive emissions melalui inspeksi serta perbaikan infrastruktur. Penelitian ini juga menyoroti perlunya kebijakan allowance yang adil dan fleksibel serta desain pajak karbon yang mempertimbangkan kelangkaan ekonomi lapangan tua agar tidak menyebabkan penutupan dini yang merugikan perekonomian lokal. Penelitian ini menyumbang kerangka kuantitatif bagi pengambil keputusan perusahaan dan pembuat kebijakan untuk memungkinkan evaluasi trade-off antara kebijakan iklim dan kelayakan investasi hilir hulu migas, serta menegaskan pentingnya kombinasi pengaturan operasional dan investasi teknologi sebagai respons yang lebih tangguh terhadap beban biaya karbon.

2026
👤 Penulis: Adithya Aladar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

MODEL MILP UNTUK DESAIN RANTAI PASOK GASOLINE, ETANOL, DAN BIOGASOLINE BERBASIS BLENDING DENGAN TUJUAN MEMINIMALKAN BIAYA TOTAL

Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun peningkatan tersebut belum diimbangi oleh kapasitas produksi dan ketersediaan pasokan dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan pemerintah masih harus memenuhi kekurangan pasokan melalui impor gasoline. Salah satu upaya untuk mengurangi impor gasoline adalah penerapan kebijakan pencampuran gasoline dengan etanol menjadi biogasoline. Implementasi Biogasoline E2.5 (97,5% gasoline dan 2,5% etanol) memerlukan perencanaan rantai pasok yang optimal karena proses pencampuran etanol–gasoline membutuhkan penentuan lokasi hub, lokasi blending, serta konfigurasi distribusi yang memengaruhi biaya total sistem. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model optimasi rantai pasok Biogasoline E2.5 menggunakan metode Mixed Integer Linear Programming (MILP) pada studi kasus PT X. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi keputusan strategis dan taktis dalam perancangan jaringan rantai pasok biogasoline, yang meliputi pemilihan hub, penentuan status depot sebagai inline blending depot atau end depot, penentuan kapasitas inline blending, serta penentuan aliran gasoline, etanol, dan biogasoline antar lokasi di seluruh wilayah Indonesia dengan tujuan meminimalkan biaya total. Model secara eksplisit menggunakan variabel biner untuk menentukan lokasi blending dan menjaga keseimbangan aliran produk dalam jaringan distribusi. Mengingat jumlah depot yang sangat besar, penyelesaian model dilakukan menggunakan pendekatan MILP berbasis branch and bound dan cut generation untuk meningkatkan efisiensi pencarian solusi optimal dan mempercepat waktu komputasi. Hasil optimasi menunjukkan adanya trade-off antara biaya investasi infrastruktur berupa pembangunan dan modifikasi tangki sebesar USD 38.722.201,18 dan biaya distribusi serta transportasi sebesar USD 267.339.009,38 per tahun. Analisis sensitivitas terhadap demand biogasoline, biaya transportasi, dan biaya pembangunan tangki menunjukkan bahwa ketiga parameter tersebut berpengaruh signifikan terhadap konfigurasi jaringan dan biaya total sistem. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam evaluasi skenario desain rantai pasok Biogasoline E2.5 yang efisien dan relevan.

2026
👤 Penulis: Farida Nurmala Sihotang
🏷️ Optimisasi Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pencampuran Bahan Bakar

PENGEMBANGAN KATALIS BIFUNGSIONAL CU–FE?O?/ZSM-5 UNTUK KONVERSI CO? KE AROMATIK

Konversi langsung CO? menjadi hidrokarbon cair, seperti senyawa aromatik benzena, toluena, dan xilena (BTX), merupakan topik yang sedang menjadi perhatian karena potensinya dalam mengatasi masalah lingkungan sekaligus menghasilkan produk bernilai tinggi. Namun, hingga kini, proses tersebut masih menghadapi tantangan berupa rendahnya aktivitas katalis, selektivitas terhadap produk aromatik ringan serta stabilitas katalis dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja katalis bifungsional berbasis besi oksida dan zeolit dalam konversi gas CO? menjadi aromatik. Penelitian berfokus pada modulasi situs aktif pada katalis besi oksida serta rekayasa struktur pori pada katalis zeolit melalui penambahan templat nano CaCO3 dengan metode bebas pelarut. Modulasi situs aktif dilakukan dengan penambahan promotor dan pengaturan kondisi reduksi. Sedangkan rekayasa struktur pori dilakukan dengan menambahkan templat CaCO3 pada sintesis zeolit melalui metode bebas pelarut. Katalis zeolit pada penelitian ini didesain memiliki 3 sistem pori, yaitu mikropori, mesopori, dan makropori yang diharapkan dapat menyediakan situs aktif yang cukup dan mudah diakses melalui adanya mesopori dan makropori. Selain itu, juga sebagai tempat penampung bagi terbentuknya kokas selama reaksi, sehingga deaktivasi pada katalis zeolit dapat dihambat. Masing-masing katalis yang disintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, FTIR, XRF, SEM, TEM, TGA, dan XPS. Selain itu, sebelum digunakan sebagai sistem katalis bifungsional besi oksida/zeolit, masing-masing katalis diuji secara terpisah menggunakan umpan berturut-turut CO2 dan C2H4 untuk katalis besi oksida dan zeolit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya Cu yang terdistribusi rata mengubah sifat elektronik katalis Fe2O3 yang berpengaruh pada peningkatan selektivitas olefin. Selain itu, modulasi situs aktif melalui pengaturan gas pereduksi menggunakan CO dapat meningkatkan situs Fe2C5 yang kemudian berperan aktif dalam menghasilkan intermediet seperti olefin dan parafin. Peningkatan situs aktif karbida ini diiringi dengan peningkatan rasio produk olefin terhadap parafin mencapai 60% lebih besar dibandingkan dengan katalis yang direduksi dengan H2. Selanjutnya, keberadaan templat CaCO3 pada sistem sintesis zeolit tanpa adanya pelarut terbukti dapat menghasilkan zeolit dengan tiga tingkat pori (mikropori, mesopori, dan makropori) Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan rasio templat/SiO2 mempengaruhi pembentukan mesopori serta distribusi ukuran partikel. Sebaliknya, kristalinitas serta keasaman yang dihasilkan cenderung identik. Tingkat hierarki optimum, yang direpresentasikan oleh nilai Index Hierarchy Factor (IHF), dicapai pada rasio templat/SiO2 = 0,5. Selanjutnya, hasil evaluasi katalis zeolit pada reaksi konversi etilena menjadi aromatik menunjukkan adanya hubungan yang linier antara tingkat hierarki dengan aktivitas dan stabilitas katalis yang diwakili oleh nilai konversi, TOF, dan kandungan kokas. Adapun perbedaan keasaman pada zeolit secara signifikan memengaruhi konversi serta perolehan produk cair. Sedangkan jumlah asam total berkorelasi positif terhadap selektivitas aromatik. Evaluasi pengaruh kondisi reaksi pada produksi senyawa aromatik dari gas etilena menggunakan katalis zeolit menunjukkan bahwa selektivitas terhadap senyawa aromatik sangat dipengaruhi oleh temperatur reaksi, yang meningkat berturut-turut sebesar 0%, 16,57%, 58,29%, dan 75,28% pada temperatur 250 ?, 320 ?, 380 ?, dan 450 ?. Adapun peningkatan tekanan berpengaruh pada pembentukan senyawa berat, dan GHSV berpengaruh terhadap perolehan BTX dengan selektivitas terhadap senyawa BTX yang hampir mirip. Pengujian katalis pada sistem bifungsional menunjukkan hasil yang sejalan dengan pengujian pada bifungsional besi oksida/zeolit, menunjukkan bahwa isoparafin pada komposisi umpan CO2:H2 = 1:6 gabungan katalis Cu-Fe2O3/Zeolit menggunakan zeolit komersial yang direduksi menggunakan gas CO dapat meningkatkan perolehan fraksi C??, dengan produk dominan berupa isoparafin. Selain itu, olefin rantai panjang seperti diena dan hidrokarbon siklik yang merupakan prekursor pembentukan senyawa aromatik juga terobservasi pada kondisi ini. Fraksi aromatik kemudian diamati pada peningkatan jumlah CO2 (CO2:H2 1:3) dengan selektivitas aromatik total sebesar 8,82% dengan konversi CO2 sebesar 34,78%. Aktivitas ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan zeolit hasil sintesis optimum yang telah diuji pada tahap sebelumnya (HZS-50-25), yaitu menghasilkan konversi sebesar 46,71% dengan selektivitas aromatik yang meningkat sebesar 28,76%. Peningkatan ini disertai dengan penurunan selektivitas gas CO yang signifikan dari 42% ke 9,22% berturut-turut untuk zeolit komersial dan zeolit sintesis dan peningkatan perolehan aromatik BTX sebesar 13,21% dibandingkan dengan katalis bifungsional menggunakan zeolit komersial yang hanya menghasilkan perolehan BTX sebesar 3,07%. Hasil ini membuktikan efek signifikan adanya pori 3 tingkat pada zeolit hasil sintesis yang membantu mempercepat difusi molekul untuk mencapai dan keluar dari sisi aktif zeolit

2026
👤 Penulis: Noerma Juli Azhari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PREDIKSI UTILISASI PERANGKAT OPTICAL LINE TERMINAL MENGGUNAKAN ALGORITMA LONG SHORT-TERM MEMORY UNTUK MENDUKUNG KEPUTUSAN PENINGKATAN PERANGKAT

Pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan pengguna seiring berjalannya waktu. Peningkatan pengguna cukup signifikan pernah terjadi pada saat pandemi COVID-19 dan terus mengalami peningkatan setelahnya. Peningkatan pengguna ini pun berpengaruh terhadap ketersedian kapasitas jaringan yang ditawarkan oleh perusahaan telekomunikasi. Sehingga perusahaan dituntut untuk selalu bersedia memberikan investasi terhadap perangkat telekomunikasi agar tetap memenuhi kebutuhan pengguna. Namun ada kalanya perusahaan masih menerapkan proses perhitungan modal/capital expenditure yang kurang efektif dengan metode perhitungan manual pada data yang sangat banyak. Pada tugas akhir ini, dilakukan perencanaan sebuah aplikasi berbasis web yang membantu proses perhitungan modal perangkat optical line terminal (OLT) pada jaringan telekomunikasi. Produk ini memiliki fitur prediksi utilisasi perangkat OLT menggunakan program bantu machine learning neural network serta proses otomasi pengolahan data dan perhitungan modal yang bertujuan untuk mempermudah proses perhitungan modal dan memberikan gambaran tren utilisasi perangkat OLT. Penggunaan machine learning dilakukan pada masing-masing port perangkat OLT untuk memahami tingkah laku tren utilisasi port tersebut, sehingga mampu memberikan prediksi tren utilisasi untuk satu tahun ke depan. Model machine learning yang digunakan pada tugas akhir ini adalah Long Short-Term Memory (LSTM). Model LSTM digunakan karena performanya yang baik untuk pengolahan data yang memiliki fokus terhadap waktu, sehingga nantinya hasil kedua model ini akan dibandingkan untuk memberikan gambaran umum kepada pengguna. Proyek ini memiliki beberapa tahap seperti pra-proses data, pelatihan model, prediksi tren utilisasi masing-masing port perangkat OLT, serta menampilkan seluruh hasil pada aplikasi web. Pada tahap pra-proses data, data mentah terlebih dahulu dibersihkan karena adanya kemungkinan duplikasi data, data tak wajar, dan masalah lainnya sehingga sebagian data diganti nilai-nya dengan menyesuaikan aturan yang diberikan, sebagian data dihapus, dan ada juga penambahan data untuk menyesuaikan kebutuhan data, setelahnya data dinormalisasi agar sesuai dengan kebutuhan masukan model LSTM. Pada tahap pelatihan model serta prediksi tren, data yang sudah diolah dijadikan sebagai masukan dan keluaran masing-masing model, sehingga model dapat memahami pola tren utilisasi dan mampu memberikan prediksi yang baik. Pengukuran performa model akan dievaluasi dari nilai metrik R2 (Determinasi Koefisien) serta grafik perbanding antara training loss dan validation loss. Setelahnya, keseluruhan hasil dan informasi dari proses sebelumnya akan ditampilkan pada aplikasi web agar pengguna dapat memahami setiap proses yang telah dilakukan beserta dapat melihat hasil akhir perhitungan modal. Harapannya keseluruhan tahap ini dapat diproses secara otomasi oleh aplikasi sehingga pengguna tidak perlu lagi mengatur keseluruhan proses masing-masing secara manual. Hasil dari proyek ini menunjukkan bahwa keseluruhan proses dapat membantu proses perhitungan modal, dimana keseluruhan proses dilakukan secara otomasi yang dapat dipantau pengguna hanya pada satu aplikasi web. Prediksi tren utilisasi yang diberikan oleh LSTM pun dapat membantu perusahaan dalam memahami port dan perangkat OLT mana yang perlu penambahan perangkat. Walaupun demikian, model LSTM masih memberikan pola prediksi yang cukup kurang merepresentasikan pola tren utilisasi aktual pada sebagian port OLT, hal ini dikarenakan kurangnya data aktual sehingga kedua model masih belum berhasil menangkap pola tren utilisasi perangkat tersebut. Sebagai kesimpulan, proyek ini menunjukkan potensi dari aplikasi web ini dalam mempermudah perhitungan modal oleh perusahaan dengan proses otomasinya dan kemampuan model LSTM dalam memprediksi tren utilisasi perangkat OLT. Walaupun hasil prediksi masih belum merepresentasikan tren utilisasi aktual dari sebagian perangkat OLT pada saat pembuatan proyek ini, harapannya dengan adanya proses otomasi, model tersebut akan terus belajar dan memberikan hasil yang lebih baik lagi.

2026
👤 Penulis: Ishlah Muhammadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

HIBRIDISASI MATERIAL EMAS MESOPORI DENGAN METAL ORGANIC FRAMEWORKS PADA DETEKSI SURFACE-ENHANCED RAMAN SCATTERING TERHADAP KONTAMINAN CHLORINATED AROMATIC HYDROCARBONS

Deteksi selektif hidrokarbon aromatik terklorinasi (chlorinated aromatic hydrocarbons/CAHs) dalam sampel lingkungan tetap menjadi tantangan besar akibat interferensi matriks yang kompleks. Disertasi ini menyajikan pengembangan sebuah sensor surface-enhanced Raman spectroscopy/SERS yang mengintegrasikan film emas mesopori (mAu) dengan lapisan selektif metal-organic framework/MOF UiO-66-I untuk mendeteksi CAHs secara sangat sensitif dan selektif. Substrat plasmonik dibentuk melalui elektrodeposisi prekursor emas (HAuCl?) bersama misel blok kopolimer polystyrene-block-poly(ethylene oxide) (PS18,000-b-PEO7,500) pada elektroda Au/Si. Analisis statistik spasial terhadap morfologi film menggunakan pair-correlation function, g(r), dan number variance, ?2(R) mengungkap bahwa susunan pori-pori pada film mAu bersifat hiperuniform tipe III yang tak-teratur (disordered hyperuniform). Sistem ini menampilkan korelasi jarak-jauh yang meningkatkan kopling cahaya datang dengan plasmon permukaan, sementara ketakteraturan jarak-dekat menghasilkan lokalisasi medan elektromagnetik (EM) yang intens, yang dikenal sebagai "hotspot". Simulasi elektromagnetik dan analisis distribusi Weibull mengonfirmasi bahwa morfologi hiperuniform ini menempati "zona Goldilocks", menghasilkan kerapatan hotspot yang tinggi dan reproduksibilitas yang lebih baik dibandingkan susunan acak (random non-overlapping/RNO) maupun yang teratur sempurna (square array/SQ). Fungsi selektifitas dicapai dengan melapisi film mAu menggunakan MOF UiO-66-I yang mengandung ligan tereftalat dan 2-iodotereftalat melalui metode vapor-assisted conversion/VAC. Lapisan MOF ini memainkan peran ganda yang krusial: 1. Perekrutan molekul target secara selektif: Gugus iodin pada ligan MOF membentuk ikatan halogen (HaB) yang reversibel dan spesifik dengan atom klorin pada CAHs. Hal ini memungkinkan perekrutan dan pelekatan molekul target (seperti 1,4-diklorobenzena/DCB dan 4-klorobifenil/BiCl) dari lingkungan yang kompleks langsung ke dalam hotspot SERS, sekaligus menolak interferen umum seperti protein (BSA), hidrokarbon aromatik polisiklik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAHs), dan ion-ion anorganik. 2. Peningkatan kopling cahaya: Lapisan UiO-66-I memiliki indeks refraksi yang relatif tinggi (n ~ 1.468 pada ? = 785 nm). Lapisan ini berfungsi sebagai lapisan pemerangkap optik yang meningkatkan kopling cahaya dengan struktur mAu di bawahnya, mengurangi reflektansi secara signifikan (~82% dibandingkan film Au datar). Simulasi EM lebih lanjut menunjukkan bahwa lapisan MOF dengan ketebalan optimal memfasilitasi pembentukan vorteks energi (aliran vektor Poynting) yang mengangkat dan memusatkan medan EM ke dalam lapisan MOF, tepat di lokasi molekul target teradsorpsi. Ketebalan lapisan MOF (tMOF) dioptimasi secara eksperimental dan teoretis. Hasil menunjukkan bahwa lapisan dengan ketebalan 77 nm menghasilkan sinyal SERS tertinggi, memberikan peningkatan intensitas 6 kali lipat dibandingkan film mAu yang tidak dilapisi. Sensor hibrida mAu@UiO-66-I ini menunjukkan kinerja deteksi yang luar biasa dengan performa: • Sensitifitas tinggi: Batas deteksi (limit of detection/LoD) untuk DCB dan BiCl mencapai di bawah 1 × 10-10 M, dimana beberapa orde magnitudo lebih rendah dari batas ambang kesehatan US EPA untuk DCB dalam air minum (5 × 10-7 M). • Selektifitas unggul: Sensor mempertahankan sinyal CAHs yang kuat dan jelas dalam matriks kompleks, termasuk campuran dengan BSA, naftalena, serta sampel referensi air tanah (ERM-CA616) dan air laut (G0154), tanpa adanya puncak interferensi yang signifikan. • Kemampuan penggunaan ulang: Berkat sifat reversibel dari ikatan halogen, sensor dapat diregenerasi melalui pencucian dengan etanol dan mempertahankan kinerjanya hingga beberapa siklus adsorpsi-desorpsi. • Reproduktibilitas baik: Analisis statistik pada peta Raman konfokal menunjukkan deviasi standar relatif (RSD) point-to-point sebesar 13,4%, sample-to-sample sebesar 15,2% dan substrate-to-substrate sebesar 17,8%, mengindikasikan uniformitas sinyal yang sangat baik untuk substrat SERS selektif. Keseluruhan hasil penelitian membuktikan bahwa strategi hibridisasi antara material plasmonik hiperuniform dan kimia retikular MOF berhasil menciptakan platform deteksi yang kuat. Pendekatan ini secara simultan mengonsentrasikan baik molekul target (melalui HaB) maupun energi cahaya (melalui pemerangkapan optik dan formasi hotspot) pada lokasi yang sama, sehingga mencapai sensitivitas dan selektifitas tertinggi untuk deteksi polutan lingkungan yang spesifik dalam matriks sesungguhnya. Disertasi ini tidak hanya menyajikan sebuah sensor yang efektif tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan platform SERS generasi berikutnya untuk berbagai aplikasi diagnostik dan lingkungan.

2026
👤 Penulis: Sarah Zulfa Khairunnisa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Raman

OPTIMASI LEAST-SQUARES COLLOCATION MULTI-BLOCK MENGGUNAKAN TILING ADAPTIF DAN DEKOMPOSISI MATRIKS UNTUK PEMODELAN GEOID REGIONAL SKALA BESAR

Least-Squares Collocation (LSC) merupakan metode optimal dalam pemodelan geoid. Pada dataset berskala besar, LSC memiliki kompleksitas komputasi tinggi sehingga perlu dioptimasi menggunakan pendekatan multi-blok. Tujuan penelitian ini adalah membangun pendekatan LSC berbasis pembagian domain (tiling) dengan penerapan overlap, weighting, serta evaluasi metode penyelesaian sistem linier. Data sintetis anomali gayaberat dan anomali tinggi dari model EGM2008 sebanyak 10.585 titik di wilayah Pulau Jawa digunakan untuk mengestimasi nilai anomali tinggi residual menggunakan LSC pada skema konvensional dan berbasis tiling, dengan metode penyelesaian Cholesky, Lower Upper (LU), dan Preconditioned Conjugate Gradient (PCG). Evaluasi difokuskan pada akurasi, efisiensi komputasi, dan kestabilan numerik untuk membandingkan kinerja Cholesky, LU, dan PCG dalam menentukan pendekatan yang paling efektif. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan tiling mampu mempertahankan akurasi dengan RMS residual sekitar 0,0048–0,0052 m, sebanding dengan LSC global sebesar 0,0045 m. Dari sisi efisiensi, waktu komputasi berkurang signifikan dari 105,68 detik (konvensional) menjadi hingga 0,99 detik per tile. Edge effect teridentifikasi sebagai sumber utama error pada batas domain, namun berhasil direduksi melalui kombinasi overlap, cosine taper weighting, dan cropping, dengan penurunan simpangan baku dari 0,0177 m menjadi sekitar 0,0045 m. Metode Cholesky menunjukkan performa komputasi terbaik, sementara seluruh metode menghasilkan solusi yang konsisten secara numerik. Pendekatan LSC berbasis multi-blok terbukti efisien dan scalable untuk pemodelan regional skala besar. Estimasi anomali tinggi residual yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar dalam pemodelan geoid melalui proses quasi-geoid to geoid separation.

2026
👤 Penulis: M. Angga Hadi Pratama
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Geofisika 🏷️ Optimasi Algoritma

ANALISIS ZONA SESAR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SIFAT SEKATAN DAN STABILITAS SESAR DI LAPANGAN

Kompleksitas struktur geologi di Cekungan Sumatra Selatan merupakan hasil dari evolusi tektonik multi-fase yang melibatkan fase syn-extensional, subsidence post-extensional, hingga kompresi dan inversi pada Neogen. Salah satu struktur utama yang berkembang pada cekungan ini adalah Sesar Lematang yang berperan penting dalam mengontrol migrasi hidrokarbon serta distribusi akumulasi fluida pada reservoir. Lapangan “S” yang terletak pada zona sesar ini menunjukkan indikasi perangkap hidrokarbon pada zona sub-thrust, sehingga diperlukan kajian komprehensif mengenai karakteristik sesar, analisis deformasi, serta kemampuan sekatan sesar untuk menilai potensi akumulasi hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik Sesar Lematang serta implikasinya terhadap sifat sekatan sesar dan stabilitas sesar pada area sumur AP-1. Metode penelitian meliputi interpretasi struktur menggunakan data seismik dan sumur, rekonstruksi palinspastik untuk memahami deformasi, analisis sifat sekatan sesar menggunakan parameter Shale Gouge Ratio (SGR) dan distribusi volume serpih (Vshale), serta evaluasi stabilitas sesar berdasarkan pendekatan geomekanika. Analisis dilakukan pada interval-interval formasi untuk mengevaluasi kapasitas penyekatan sesar terhadap migrasi fluida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sesar Lematang dikontrol oleh struktur yang berkembang sejak fase syn-extensional hingga fase transpersi. Litologi yang didominasi serpih dengan nilai volume serpih rata-rata sekitar 0,49–0,53 menghasilkan nilai SGR berkisar 25–88% dengan rata-rata sekitar 47–55%, yang mengindikasikan kapasitas sekatan sesar yang relatif baik. Analisis stabilitas sesar menunjukkan bahwa zona sesar masih berada dalam kondisi relatif stabil sehingga potensi kebocoran fluida relatif rendah. Dengan demikian, Sesar Lematang pada daerah penelitian berperan sebagai sekatan struktural yang efektif dalam mengontrol akumulasi hidrokarbon.

2026
👤 Penulis: Shinta Ayu Puspita
🏷️ Geologi Sumatra Selatan 🏷️ Analisis Deformasi Geologis 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN RISIKO POLUSI UDARA TERHADAP KESEHATAN SECARA SPASIAL DENGAN PENYESUAIAN KURVA KERENTANAN

Polusi udara dapat membahayakan kesehatan manusia dan menyebabkan sekitar 4,2 juta kematian setiap tahunnya. Untuk meminimalisir dampaknya, sangat penting untuk melakukan pemodelan risiko polusi udara secara spasial. Studi ini bertujuan untuk memodelkan risiko polusi udara secara spasial menggunakan kurva kerentanan. Penelitian ini mempertimbangkan tiga parameter utama: bahaya, kerentanan, dan paparan, sesuai dengan standar Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Bahaya polusi udara dihitung dengan mengintegrasikan data dari stasiun lapangan global dan pengamatan satelit, dengan mempertimbangkan sumber polutan, kondisi meteorologi, dan faktor lingkungan. Parameter kerentanan dianalisis menggunakan kurva kerentanan yang memperhitungkan intensitas bahaya dan dampak polusi udara, khususnya tingkat kematian yang disebabkan oleh polusi udara. Parameter paparan melibatkan distribusi populasi manusia di berbagai wilayah. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola dan karakteristik distribusi risiko polusi udara secara global dengan lebih akurat. Wawasan ini penting untuk mengembangkan sistem mitigasi multi-polutan udara yang efektif. Studi ini menunjukkan bahwa Asia dan Afrika memiliki risiko polusi udara tertinggi, dengan distribusi polusi udara tertinggi berada di Bangladesh, India, Pakistan, Rwanda, dan China, dengan indeks polusi masing-masing 0,554, 0,422, 0,415, 0,322, dan 0,303. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan publik terhadap risiko polusi udara, sehingga berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

2026
👤 Penulis: Tania Septi Anggraini
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN KAKAS VISUALISASI INTERAKTIF UNTUK ANALISIS BASIS KODE PROGRAM

Seiring meningkatnya kompleksitas sistem perangkat lunak modern, kebutuhan akan kakas bantu yang dapat memudahkan pemahaman terhadap struktur dan hubungan antar komponen dalam suatu codebase menjadi semakin penting. Proses pemahaman kode secara manual dinilai tidak efisien dan rentan kesalahan, terutama pada proyek berskala besar. Namun, kakas-kakas yang ada saat ini masih memiliki berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikembangkan sebuah kakas analisis dan visualisasi kode yang mampu menghasilkan representasi graf terpadu (unified graph) dengan menggabungkan beberapa jenis graf analisis, yaitu Abstract Syntax Tree (AST), Control Flow Graph (CFG), dan Call Graph (CG). Ketiga graf tersebut dikonstruksi dan di-overlay untuk membentuk representasi terpadu yang interaktif. Selain visualisasi secara interaktif, kakas ini juga menyediakan pengolahan untuk basis kode secara utuh yang memungkinkan pengguna melakukan visualisasi kode secara langsung untuk keperluan eksplorasi projek dalam skala yang lebih besar. Hasil pengembangan sistem diuji menggunakan pendekatan black-box dan System Usability Scale (SUS) untuk memastikan sistem berjalan sesuai dengan spesifikasi kebutuhan serta terukur dalam tingkat kemudahan penggunaan dan efektivitas dalam penggunaan sistem.

2026
👤 Penulis: Fakih Anugerah Pratama
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Basis Kode 🏷️ Visualisasi Interaktif

PERANCANGAN USULAN INTERVENSI PERILAKU MENGEMUDI DI ATAS BATAS KECEPATAN JALAN TOL MELALUI PENDEKATAN PEMODELAN DAN SIMULASI MENGEMUDI

Pengembangan infrastruktur jalan tol di Indonesia mengalami peningkatan pesat sejak tahun 2015. Namun, pertumbuhan tersebut diiringi dengan tingginya angka kecelakaan dan fatalitas, di mana sekitar 42,9% kecelakaan di jalan tol dikaitkan dengan perilaku mengemudi di atas batas kecepatan. Secara umum, kecelakaan lalu lintas di jalan tol dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu faktor lingkungan, kendaraan, dan pengemudi—di mana faktor pengemudi menyumbang sekitar 85% dari keseluruhan kasus. Meski penelitian mengenai perilaku mengemudi telah banyak dilakukan, studi yang mengintegrasikan pemodelan perilaku dan pengujian eksperimental untuk memahami perilaku mengemudi di atas batas kecepatan, khususnya melalui simulator mengemudi dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model perilaku mengemudi di atas batas kecepatan di jalan tol Indonesia dengan menekankan peran faktor psikologis individual, serta mengevaluasi peran perspektif waktu masa depan dalam memengaruhi perilaku tersebut secara eksperimental, sebagai dasar perancangan intervensi perilaku yang berbasis bukti empiris. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap pertama berfokus pada pengembangan model perilaku berdasarkan integrasi Theory of Planned Behavior (TPB), Theory of Normative Social Behavior (TNSB), Zimbardo Time Perspective Inventory (ZTPI-18), dan Big Five Inventory (BFI-10). Model ini diuji melalui survei kepada pengemudi yang memiliki pengalaman berkendara di jalan tol. Hasil analisis tahap pertama berhasil mengidentifikasi sejumlah variabel signifikan yang mempengaruhi kecenderungan melanggar batas kecepatan, dengan perspektif waktu masa depan (Future Time Perspective/FTP) menunjukkan peran prediktif yang menonjol. Tahap kedua dilakukan melalui eksperimen menggunakan simulator mengemudi berbasis komputer untuk menguji secara kausal perbedaan perilaku mengemudi antara pengemudi dengan FTP tinggi dan FTP rendah dalam lingkungan jalan tol virtual. Data yang dikumpulkan mencakup kecepatan rata-rata, frekuensi, dan durasi mengemudi di atas batas kecepatan, aktivitas gelombang otak beta dan gamma, variabilitas denyut jantung (Heart Rate Variability/HRV), serta persepsi beban kerja mental menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa partisipan dengan FTP rendah cenderung mengemudi lebih cepat, lebih sering mengemudi di atas batas kecepatan, dan melaporkan beban kerja mental yang lebih tinggi dibandingkan partisipan dengan FTP tinggi, disertai perbedaan respons fisiologis dan kognitif yang konsisten. Temuan dari Penelitian Tahap I dan Tahap II tersebut selanjutnya diintegrasikan untuk merumuskan rancangan intervensi perilaku yang menargetkan determinan perilaku utama yang teridentifikasi secara empiris. Rancangan intervensi disusun menggunakan kerangka Behaviour Change Wheel (BCW) dengan memetakan determinan perilaku ke fungsi intervensi dan Behavior Change Techniques (BCT), yang kemudian ditranslasikan ke dalam elemen pesan dan media intervensi yang sesuai dengan konteks mengemudi. Secara keseluruhan, penelitian ini telah menghasilkan model perilaku mengemudi di atas batas kecepatan yang terintegrasi secara teoretis dan tervalidasi secara eksperimental, serta mengembangkan rancangan intervensi perilaku yang diturunkan secara sistematis dari temuan empiris tersebut. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperkuat peran perspektif waktu dalam perilaku mengemudi berisiko, serta kontribusi praktis sebagai dasar pengembangan intervensi keselamatan jalan tol yang lebih terarah dan kontekstual di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Hanif Qai'd Azzikrullah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN SISTEM PENJADWALAN KAPAL TONGKANG BERBASIS MULTI-OBJECTIVE OPTIMIZATION MENGGUNAKAN NSGA-II PADA OPERASI LEPAS PANTAI MIGAS

Penjadwalan kapal tongkang pada operasi lepas pantai migas di PT XYZ masih dilakukan secara manual menggunakan spreadsheet dan pengalaman operator. Proses tersebut membutuhkan waktu koordinasi panjang, sulit direplikasi, dan berisiko menghasilkan pemanfaatan sumber daya yang kurang optimal. Penelitian ini mengembangkan sistem penjadwalan kapal tongkang berbasis multi-objective optimization dengan algoritma Non-Dominated Sorting Genetic Algorithm II (NSGA-II). Sistem ini menghasilkan alternatif jadwal yang memenuhi constraint operasional. Objektif dari sistem ini adalah meminimalkan makespan, total jarak pelayaran, dan idle time, serta memaksimalkan early oil. Keempat objektif tersebut memiliki potensi konflik satu sama lain, misalnya jadwal dengan makespan yang singkat belum tentu menghasilkan jarak pelayaran minimum. Oleh karena itu, sistem yang dikembangkan tidak hanya mencari satu solusi terbaik, tetapi menghasilkan alternatif solusi kompromi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan operasional. Persoalan dimodelkan sebagai Multi-Objective Vehicle Routing Problem (MOVRP) dengan mempertimbangkan data kapal tongkang, lokasi anjungan dan sumur, daftar pekerjaan, durasi pekerjaan, locked program, serta waktu tempuh antar lokasi. Solusi direpresentasikan dalam kromosom yang memuat prioritas dan alokasi pekerjaan, kemudian diterjemahkan melalui mekanisme decoding dan repair agar setiap jadwal memenuhi constraint. Implementasi sistem mencakup prapemrosesan data, evaluasi fungsi objektif, algoritma NSGA-II, algoritma Genetic Algorithm sebagai pembanding, serta visualisasi. Evaluasi dilakukan melalui analisis sensitivitas parameter, perbandingan dengan Genetic Algorithm dan jadwal aktual, serta User Acceptance Test (UAT). Hasil pengujian menunjukkan bahwa NSGA-II mampu menghasilkan himpunan solusi yang layak dan memberikan beberapa alternatif kompromi antarobjektif. Dibandingkan pendekatan pembanding, NSGA-II unggul dan lebih sesuai untuk persoalan multiobjektif karena tidak hanya menghasilkan satu jadwal, tetapi sekumpulan pilihan jadwal yang dapat dianalisis berdasarkan kebutuhan operasional. Hasil UAT memperoleh nilai 4,82 dari 5,00, yang menunjukkan tingkat penerimaan pengguna sangat baik. Dengan demikian, sistem yang dikembangkan dapat menjadi alat bantu penjadwalan yang lebih terstruktur, objektif, dan informatif bagi operasi kapal tongkang lepas pantai migas.

2026
👤 Penulis: Shazya Audrea Taufik
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Optimisasi Operasional 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Migas

EVALUASI KOMPONEN PIPELINE QUESTION ANSWERING PADA DOKUMEN ESG BERBASIS PDF

Dokumen Environmental, Social, and Governance (ESG) berbentuk PDF umumnya panjang, semi-terstruktur, serta banyak memuat tabel dan nilai numerik. Karakteristik tersebut membuat question answering dokumen ESG tidak hanya bergantung pada model bahasa, tetapi juga pada representasi dokumen, retrieval, seleksi evidence, penyusunan konteks, routing, dan prompt. Penelitian ini mengevaluasi komponen pipeline question answering pada dokumen ESG berbasis PDF untuk menganalisis pengaruh tiap komponen terhadap kualitas konteks, lokalisasi bukti, grounding, dan jawaban akhir. Konfigurasi pipeline yang diuji mencakup ekstraksi PDF, normalisasi dokumen, pembangunan flat chunks, recursive chunks, dan evidence units, retrieval menggunakan BM25, dense retrieval, dan hybrid retrieval, serta pembentukan jawaban berbasis retrieval-augmented generation. Evaluasi menggunakan 119 pertanyaan dari ESGBench dengan metrik retrieval, metrik jawaban, dan metrik diagnostik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa recursive chunks dengan hybrid retrieval menjadi konfigurasi retrieval awal paling seimbang, tetapi lokalisasi halaman bukti masih terbatas. Evidence units lebih tepat digunakan sebagai pelengkap untuk sitasi, grounding operasional, dan analisis diagnostik, bukan sebagai pengganti konteks utama. Pada evaluasi akhir, context-only RAG lebih stabil daripada prompt-routed RAG.

2026
👤 Penulis: Zahira Dina Amalia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Dokumen Esg 🏷️ Manajemen Informasi

SISTEM REMEDIASI AKSESIBILITAS WEB DENGAN STANDAR WCAG 2.2 LEVEL AA MENGGUNAKAN INFRASTRUKTUR CLOUD DAN MODEL GENERATIF AI

Website perguruan tinggi merupakan infrastruktur informasi vital bagi mahasiswa. Namun, tingkat kepatuhan terhadap pedoman aksesibilitas web bagi penyandang disabilitas pada portal akademik sering kali masih berstatus belum memadai, sehingga secara langsung membatasi kemandirian interaksi pengguna dengan disabilitas. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini mengembangkan sebuah ekstensi browser bernama "A11y-Ally" yang mampu melakukan remediasi masalah aksesibilitas secara otomatis tanpa memodifikasi kode sumber asli. Sistem ekstensi browser ini dibangun dengan mengintegrasikan spesifikasi Manifest V3 pada sisi klien dengan microservices berbasis Node.js dan memanfaatkan infrastruktur Cloud dari Google Cloud Platform, membuat suatu pendekatan arsitektur hibrida client-server. Solusi teknis yang diterapkan meliputi sanitasi dan modifikasi Document Object Model lokal, penggunaan algoritma interpolasi warna untuk memperbaiki rasio kontras teks, serta pemanfaatan Generative AI untuk menghasilkan deskripsi teks alternatif gambar kontekstual. Efisiensi performa sistem didukung oleh mekanisme caching terdistribusi berbasis Redis. Hasil evaluasi menggunakan audit teknis Pa11y pada portal Direktorat Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung menunjukkan bahwa A11y-Ally berhasil menekan tingkat nonkonformitas hingga 96,75 persen, mereduksi 431 isu dari 33 halaman menjadi 14 isu berdasarkan standar WCAG 2.2 Level AA. Selain itu, pengujian usability pada ekstensi browser menggunakan System Usability Scale menghasilkan skor rata-rata 70,73 yang memvalidasi bahwa ekstensi memiliki tingkat penerimaan dan pengoperasian yang layak pakai oleh manusia. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam penerapan AI dan Cloud Computing untuk menciptakan ekosistem akademik digital yang inklusif.

2026
👤 Penulis: Deovie Lentera Hikmatullah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Cloud Computing 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Akademik

SPATIAL EQUITY PENYEDIAAN TAMAN PUBLIK BERBASIS ANALISIS SUPPLY-DEMAND DAN AKSESIBILITAS DI KOTA BANDUNG

Ketersediaan dan aksesibilitas ruang terbuka hijau (RTH), khususnya taman sebagai ruang publik, merupakan aspek penting dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan dan inklusif. Namun, distribusi taman di kawasan perkotaan masih sering tidak sesuai dengan distribusi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat spatial equity layanan taman di Kota Bandung melalui integrasi analisis ketersediaan taman (supply), distribusi penduduk (demand), dan aksesibilitas berbasis jaringan (accessibility). Penelitian menggunakan pendekatan urban analytics berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Data taman diperoleh melalui kurasi RDTR Kota Bandung dengan fokus pada taman kota, taman kecamatan, dan taman kelurahan. Analisis demand dilakukan menggunakan pendekatan dasymetric mapping berbasis bangunan pada grid heksagonal, sedangkan analisis aksesibilitas dilakukan menggunakan metode service area berbasis jaringan jalan dengan skenario waktu tempuh 5, 10, dan 15 menit. Tingkat spatial equity dianalisis menggunakan indikator green space service coverage rate (C), green space recreation opportunity index (R), dan regional evenness (Skor G). Metode location-allocation digunakan dalam menentukan lokasi prioritas pengembangan taman. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa distribusi taman di Kota Bandung masih menunjukkan ketimpangan, terutama pada kawasan permukiman padat di luar pusat kota. Sebagian besar wilayah berada pada kategori kemerataan rendah hingga sangat rendah, khususnya skenario 5 menit berjalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan konvensional berbasis jumlah penduduk administratif seperti SNI dan Permen PU belum mampu merepresentasikan kebutuhan layanan taman secara aktual. Dengan demikian, pendekatan berbasis spatial equity dan real demand lebih efektif dalam mendukung perencanaan taman yang lebih adil dan berbasis kebutuhan masyarakat.

2026
👤 Penulis: Felysse Briantano
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 54 dari 418
💬