📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenDESAIN SGRNA DAN UJI AKTIVITAS ENDONUKLEASE CRISPR-CAS9 RNP YANG MENARGETKAN GEN PENGKODE DOMAIN KINASE ERBB2
Ekpresi protein ERBB2 yang berlebih merupakan salah satu pemicu kanker payudara agresif melalui aktivasi jalur MAPK dan PI3K/Akt. Meskipun terapi anti-HER2 telah dikembangkan, resistansi dan kekambuhan masih menjadi kendala sehingga diperlukan pendekatan yang lebih spesifik dan presisi. Teknologi CRISPR-Cas9 menawarkan strategi menjanjikan untuk menonaktifkan gen penyebab kanker secara terarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain gRNA spesifik terhadap domain kinase gen ERBB2 serta menentukan efisiensi pemotongan kompleks CRISPR-Cas9 RNP terhadap domain tersebut secara in vitro. Pada penelitian ini dirancang sgRNAexon25, yang menargetkan exon 25 pengkode domain kinase ERBB2, dan menguji aktivitas pemotongannya secara in vitro. Validasi in vitro sangat perlu dilakukan untuk menilai efisiensi sgRNA. Fragmen exon 25 sepanjang 933 bp berhasil diamplifikasi dari sel SKOV3 dan digunakan sebagai target uji. Desain sgRNA dengan menggunakan program CHOPCHOP menghasilkan sgRNA dengan GC 60% dan efisiensi prediksi 69,79%, sementara analisis RNAfold menunjukkan tiga stem-loop stabil yang penting bagi pengikatan Cas9. Berdasarkan hasil Electrophoretic Mobility Shift Assay EMSA, Cas9 mampu mengenali dan mengikat sgRNAexon25, yang ditunjukkan oleh pergeseran mobilitas elektroforetik sebagai indikasi terbentuknya kompleks RNP. Uji endonuklease kompleks Cas9-RNP menunjukkan bahwa kontrol positif (sgRNA196) berhasil memotong target, tetapi sgRNAexon25 tidak menunjukkan pemotongan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya GC pada wilayah PAM-proximal, penggunaan PAM CGG yang kurang optimal, serta potensi misfolding sgRNA. Dapat disimpulkan bahwa sgRNAexon25 berhasil dirancang dan mampu membentuk kompleks RNP dengan Cas9 (dibuktikan melalui EMSA).
A HISTORICAL DATA-DRIVEN APPROACH FOR PRELIMINARY WORKOVER ASSESSMENT IN MATURE OIL FIELDS USING AN INTEGRATED LSTM-BASED MODEL AND SUPERVISED CLASSIFICATION
X Field is a mature oil field that has been producing since 1972 and now requires extensive workover activities to maintain and improve production efficiency. Although a significant volume of hydrocarbons remains unrecovered, declining well performance makes it increasingly important to identify workover candidates in a timely and systematic manner. This study proposes a data-driven framework to support workover planning using limited historical production data. The proposed framework integrates production forecasting and supervised classification into a single workflow. Long Short-Term Memory (LSTM) models are employed to forecast future oil and water production. The forecasted outputs are then used as inputs for a supervised classification model to determine the required workover type. The study focuses on five representative wells (XX003, XX004, XX015, XX016, and XX017) which are selected based on data quality, data quantity, and monthly average production. Meanwhile, there are four types of workover job incorporated, including re-perforation, revised packer, water shut off, and open new zone which will divided into Water shut off (WSO) and Perforation job. These jobs are selected based on the effectiveness to increase oil production rate and its operational frequency. This paper is divided into three main parts. First, the data is prepared by cleaning and selecting the most relevant features. Second, an LSTM-based model is developed to predict future oil and water production. Finally, a classification model is built and combined with the forecasting model to support decision making. Data involved encompassing monthly production data, workover history, and reservoir properties which proceed to create a unified and standardized data set for further analysis. In addition, the feature selection results indicate that future oil production is predicted using the most recent oil rate from well tests together with porosity, while water production is predicted to be using only the latest water rate from well tests. For the classification task, the model uses the predicted oil and water rates, as well as the most recent oil and water gradients to classify the data into “WSO”, “Perforation” and “NO” labels. The forecasting models are evaluated using MAPE, MAE, and RMSE metrics. A detailed error analysis is also conducted to distinguish error patterns between high and low target values. The results show that the forecasting model provides reliable predictions for up to three months ahead. For wells with high production rates, the average prediction error ranges from 0.1% to 9% for oil and 0.1% to 7% for water. For moderate to low-rate wells, the deviations are approximately 20 STBD for oil and between 138 and 300 STBD for water. The classification model was developed using a wrapper approach, in which multiple algorithms were evaluated. Based on the performance metrics—accuracy, precision, recall, and F-score. The Extra Trees Classifier achieved the best results, with an overall accuracy of up to 80.3%. on both the training and validation datasets. It successfully predicts the required workover type for wells XX003, XX004, XX015, and XX016, while it shows limitations in identifying water shut-off requirements for well XX017 when using forecasted inputs because the data availability to train “WSO” class is much lower than the other class. This means with larger number of sample and training data, it can robust the model’s performance. Overall, the proposed framework demonstrates strong potential as a practical and efficient decision-support tool for optimizing workover planning in mature oil fields, while reducing human intervention and maintaining consistent decision quality.
STUDI KELEMBAGAAN PENGELOLAAN WILAYAH PERI URBAN WAY HUWI SEBAGAI KAWASAN CEPAT TUMBUH
Perluasan pertumbuhan kawasan perkotaan yang melampaui batas administratif mendorong terbentuknya wilayah transisi yang berkembang cepat dengan dinamika spasial, sosial, dan ekonomi yang kompleks. Wilayah tersebut kerap menghadapi persoalan pengelolaan karena mekanisme perencanaan dan kelembagaan yang ada masih berorientasi pada batas kewenangan formal, sementara aktivitas dan keterkaitan wilayah bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. Kondisi ini menjadikan wilayah pinggiran kota rentan terhadap alih fungsi lahan yang tidak terkendali, tekanan terhadap lingkungan, serta keterbatasan layanan dasar. Fenomena tersebut terlihat pada Desa Way Huwi di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, yang berkembang pesat seiring keterkaitannya secara fungsional dengan Kota Bandar Lampung dan keberadaan infrastruktur strategis di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi pengelolaan wilayah yang tumbuh cepat serta memahami bentuk dan dinamika kelembagaan yang terlibat dalam pengelolaannya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan aktor kunci yang terlibat dalam pengelolaan wilayah. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan kondisi pengelolaan wilayah, serta analisis isi untuk mengidentifikasi pola kelembagaan dan hubungan antar aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah studi mengalami perubahan signifikan yang ditandai oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan terbangun, berkembangnya aktivitas perdagangan dan jasa, munculnya bangunan informal, serta meningkatnya permasalahan lingkungan. Namun, pengelolaan wilayah masih didominasi oleh pendekatan normatif dan sektoral yang bertumpu pada pembagian kewenangan administratif. Koordinasi antar aktor belum terbangun secara efektif dan belum didukung oleh mekanisme pengelolaan kawasan yang terintegrasi.
PENGEMBANGAN DAN KARAKTERISASI SNEDDS BERBASIS EKSTRAK ORYZA SATIVA VAR. GLUTINOSA BLANCO SEBAGAI KANDIDAT NUTRASETIKAL: EVALUASI AKTIVITAS HEPATOPROTEKTIF DAN BIODISTRIBUSI IN VIVO-EX VIVO
Ekstrak beras ketan hitam (EKH; Oryza sativa var. glutinosa Blanco) diketahui kaya akan senyawa bioaktif, terutama polifenol, flavonoid, dan antosianin, yang berperan sebagai antioksidan dan memiliki potensi hepatoprotektif. Namun, keterbatasan kelarutan air, stabilitas, dan bioavailabilitas oral menjadi kendala utama dalam pengembangan ekstrak ini sebagai produk nutrasetikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem penghantaran berbasis Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) dan bentuk padatnya (Solid-SNEDDS/S-SNEDDS) guna meningkatkan kinerja biofarmasetika dan efektivitas hepatoprotektif ekstrak ketan hitam. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi etanol dan dilakukan metabolite profiling menggunakan Ultra Performance Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry (UPLC- MS/MS), yang mengidentifikasi sianidin-3-o-glukosida (13,87 ± 0,12 mg/g) dan kuersetin (24,10 ± 1,34 mg/g) sebagai senyawa penanda utama. Formulasi SNEDDS dikembangkan menggunakan minyak jagung, Tween® 80, dan propilen glikol, kemudian dioptimalkan melalui diagram fase pseudoternary dan disolidifikasi dengan Neusilin® US2 untuk menghasilkan S-SNEDDS. Karakterisasi meliputi ukuran droplet, waktu emulsifikasi, potensial zeta, stabilitas termodinamik, serta analisis fisikokimia menggunakan TEM, SEM, FTIR, DSC, dan XRD. Hasil menunjukkan bahwa SNEDDS menghasilkan nanoemulsi dengan ukuran droplet sekitar 15 nm, emulsifikasi cepat, dan peningkatan kelarutan serta laju disolusi pada berbagai kondisi pH (1,2; 4,5; dan 6,8). Aktivitas antioksidan meningkat secara signifikan pada formulasi SNEDDS-EKH (IC??32,6 ????g/mL) dibandingkan EKH (IC??47,4 ????g/mL). Evaluasi in vivo pada model cedera hati yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl?) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH pada dosis 100 dan 200 mg/kg BB secara signifikan menurunkan kadar ALT, AST, ALP, GGT, dan bilirubin total, serta menormalkan kadar albumin. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi perbaikan struktur jaringan hati melalui penurunan nekrosis hepatosit dan infiltrasi inflamasi. Studi biodistribusi in vivo dan ex vivo menggunakan In Vivo Imaging System (IVIS) dan Ex Vivo Imaging System (EVIS) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH terdistribusi secara cepat dan selektif ke jaringan hati setelah pemberian oral, dengan intensitas sinyal fluoresens tertinggi pada fase awal dan penurunan progresif seiring waktu. Pola biodistribusi ini mengkonfirmasi sifat hepatoselektif sistem SNEDDS tanpa adanya akumulasi persisten pada organ nontarget, sehingga mendukung aspek keamanan sistem penghantaran. Secara keseluruhan, integrasi standarisasi ekstrak, formulasi SNEDDS dan S-SNEDDS, serta evaluasi aktivitas hepatoprotektif dan biodistribusi in vivo-ex vivo membuktikan bahwa sistem SNEDDS merupakan pendekatan yang efektif dan rasional untuk meningkatkan bioavailabilitas, efikasi, dan keamanan ekstrak ketan hitam sebagai kandidat nutrasetikal hepatoprotektif berbasis teknologi nano.
ORKESTRASI TRANSFORMASI DIGITAL MELALUI SISTEM BISNIS TERINTEGRASI UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL DAN PENGALAMAN PELANGGAN PT. BATUR ARTHA YULIS
PT. Batur Artha Yulis merupakan perusahaan manufaktur berbasis proyek yang bergerak di bidang produk besi dan konstruksi, yang saat ini masih menjalankan sebagian besar proses bisnisnya secara manual dan berbasis komunikasi informal seperti WhatsApp. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai permasalahan operasional, antara lain keterlambatan proses penawaran, tidak adanya visibilitas progres produksi secara real-time, duplikasi dan inkonsistensi data, serta rendahnya transparansi informasi bagi pelanggan. Dari sisi pelanggan, kondisi ini menimbulkan ketidakpastian terhadap status pesanan, keterlambatan konfirmasi, dan pengalaman layanan yang kurang profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan operasional dan customer experience yang ada, serta merancang solusi transformasi digital yang terintegrasi dengan menggunakan kerangka kerja Digital Transformation Orchestra (DTO) dan pendekatan Design Thinking. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif dengan pengumpulan data primer melalui wawancara mendalam kepada manajemen internal dan pelanggan eksternal, serta data sekunder dari dokumen perusahaan dan literatur terkait. Analisis dilakukan melalui pemetaan proses bisnis, customer journey, analisis tematik, dan perumusan solusi berbasis ideation dan prototyping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar permasalahan utama terletak pada ketiadaan sistem terintegrasi yang menghubungkan fungsi penjualan, produksi, gudang, dan keuangan. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan sebuah ekosistem digital terintegrasi yang terdiri dari ERP sebagai tulang punggung operasional, CRM untuk pengelolaan pelanggan dan penawaran, database terpusat untuk pesanan dan desain, sistem pelacakan pesanan internal dan eksternal, serta dashboard KPI sebagai alat monitoring kinerja. Selain itu, program pelatihan dan pendampingan staf juga dirancang untuk memastikan keberhasilan adopsi sistem. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berdampak pada peningkatan efisiensi operasional dan akurasi data, tetapi juga secara signifikan meningkatkan transparansi, koordinasi antar departemen, serta kualitas pengalaman pelanggan. Dengan implementasi yang konsisten dan bertahap, PT. Batur Artha Yulis memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi organisasi yang lebih sistematis, berbasis data, dan berorientasi pada pelanggan.
MITIGASI PERUBAHAN KUALITAS FISIK-KIMIAWI AIR TANAH DALAM POTENSI KEBOCORAN CO2 PADA APLIKASI CARBON CAPTURE, UTILIZATION & STORAGE (CCUS) MELALUI REKAYASA ADSORBEN PENGHALANG
Implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) menyimpan resiko alterasi kualitas air tanah dangkal akibat potensi kebocoran CO2 pada penyimpanan onshore, formasi storage geologi heterogen dan injeksi tekanan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisa proses mitigasi perubahan fisikkimiawi air tanah terhadap kebocoran CO? melalui adsorbsi kation. Simulasi uji kebocoran CO2 sistem batch selama 14 hari dengan laju aliran CO2(g) 100 mL/menit dan dilanjutkan uji adsorbsi menggunakan 3 adsorben (sekam padi, zeolit dan bentonite clay). Hasil uji kebocoran menunjukkan penurunan pH menuju 6.5, ORP menuju -39,5 mV, DO menuju 2 mg/L dan peningkatan parameter ionic strength (TDS, salinity dan EC) 33,2 – 34,5 %. Di sisi lain, peningkatan signifikan terhadap Fe, Mn, Al, Mg dan Zn terjadi, namun berdasarkan kecenderungan mobilisasi pada pH 6,5 ditetapkan fokus studi ini pada kation Fe+2 dengan peningkatan 22 kali lipat dan Mn+2 6 kali lipat. Pemilihan adsorben didasarkan pada karakterististik inert dan performa pemulihan berupa potensi adsorpsi dan kestabilan pH. Analisis kualitatifkuantitatif dilakukan dengan FTIR (Fourier Transform Infra Red) dan Cation Exchange Capacity (CEC) yang menunjukkan bahwa tiap adsorben berpotensi menjadi adsorben berdasarkan kehadiran situs aktif dan rentang CEC 15,75-99,67 meq/100g. Uji adsorpsi menunjukkan rentang efisiensi optimum 47 – 55 % (sekam padi), 90–97% (zeolit) dan 91-93% (bentonite clay), uji kinetika menunjukkan kapasitas adsorpsi optimum kation Fe+2 0,40 mg/g (bentonit), 0,47 mg/g (sekam padi), 11,18 mg/g (zeolit) serta untuk kation Mn+2 1,81 mg/g (sekam padi), 3,42 mg/g (bentonite clay) dan 11,29 mg/g (zeolit). Hasil tersebut digunakan untuk menetapkan ketebalan lapisan adsorben dalam sistem barrier berdasarkan nilai kontribusi. Analisa performa barrier dengan menggunakan air destilasi dan air tanah sintetik jenuh CO2 menunjukkan adsorpsi tidak dapat dijelaskan dengan baik pada kation Fe+2 dengan analisa Model Thomas Non Linear. Analisa keandalan model tersebut iv menghasilkan nilai koefisien determinasi (R 2 ) -0,821dan 0,458 serta Overall Relative Error 4,958 – 40,357. Di sisi lain, adsorpsi kation Mn+2 dapat dijelaskan dengan lebih baik dengan model tersebut sehingga menghasilkan nilai keandalan model berupa nilai R 2 0,910 dan 0,536 serta Overall Relative Error 3,578 – 12,540. Selanjutnya, terkait performa penyisihan didapatkan rentang laju adsorpsi (Kth) Fe+2 pada tiap variasi air kontaminan adalah 0,00013 mL/min/g serta laju adsorpsi Mn+2 dalam rentang 0,0019 mL/min/g. Kapasitas adsorpsi maksimum (qth) Fe+2 pada tiap variasi air kontaminan adalah 0,119 mg/g serta pada Mn+2 0,229 dan 0,273 mg/g. Selanjutnya, pendekatan beban kation (time series-cation load) juga dilakukan untuk melihat persentase penyisihan Fe+2 dan Mn+2 pada masing-masing kondisi air. Efisiensi penyisihan kation Mn+2 jauh lebih baik dibandingkan Fe+2 dengan rentang 40,78 % - 53,58 % sedangkan Fe+2 bernilai -9,37 % - 3,33 % akibat masifnya proses leaching Fe+2 dari adsorben. Fenomena leaching kation Fe+2 dapat dijelaskan dengan pengukuran AAS (Atomic Adsorption Spectrophotometry) yang memvalidasi kehadiran kation Fe pada adsorben senilai 1,973 mg/L jika terlarut sempurna di sepanjang kontak. Analisa diagram solubility menghasilkan kesimpulan dengan rentang pH 6-7 dan kondisi suboksik Fe masih dapat hadir dalam fase terlarut sebelum perlahan teroksidasi jika nilai potensi reduksi fuktuatif. Pengaruh nilai teknis yang didapat juga disebabkan oleh nilai (EBCT/Empty Bed Contact Time) berada dalam rentang 2,8 – 22,7 menit. Jika dianalisa lebih lanjut dengan pendekatan volume pori, waktu kontak aktual hanya 5-20 detik per adsorben yang mengindikasikan bahwa sebaran kontak tidak merata (chanelling). Kesimpulan yang dapat disusun dari semua analisa kuantitatif dan kualitatif pada barrier elementer ini, barrier yang dikembangkan belum optimal menahan lonjakan fisik-kimawi secara umum namun dapat memitigasi lonjakan konsentrasi Mn+2 agar tidak melewati baku mutu dengan umur teknis singkat yaitu 92 hari (konversi pada skala lapangan). Oleh sebab itu, barrier adsorben berikutnya yang akan dikembangkan perlu kajian teknikal-normatif terkait potensi leaching, aktivasi lanjuta dan rekayasa stabilisasi bed mencegah chanelling sehingga mengoptimalkan kapasitas adsorpsi dan waktu kontak polutan dengan barrier.
HUBUNGAN PAJANAN KEBISINGAN TERHADAP PENURUNAN FUNGSI PENDENGARAN DAN GANGGUAN PSIKOLOGIS PEKERJA INDUSTRI PVC COMPOUND (STUDI KASUS: PT.X KOTA TANGERANG)
Kebisingan merupakan faktor bahaya fisik yang umum dijumpai di lingkungan kerja industri dan dapat menimbulkan dampak auditif maupun non-auditif. Industri PVC compound menggunakan mesin yang beroperasi secara kontinu sehingga berpotensi menghasilkan kebisingan melebihi Nilai Ambang Batas (NAB). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pajanan kebisingan dengan penurunan fungsi pendengaran dan gangguan psikologis pada pekerja industri PVC compound di Kota Tangerang. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan 40 responden yang terdiri atas 30 orang pekerja kelompok terpapar dan 10 pekerja kelompok kontrol. Kebisingan tempat kerja diukur menggunakan Sound Level Meter sedangkan pajanan kebisingan personal diukur menggunakan noise dosimeter. Fungsi pendengaran dinilai melalui audiometri nada murni (Pure Tone Average/PTA), dan gangguan psikologis dinilai menggunakan General Health Questionnaire (GHQ-28). Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, serta multivariat dengan bantuan RStudio dan Jamovi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di area produksi berkisar antara 66–103 dB(A). Analisis bivariat menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal dekat sumber bising berhubungan signifikan dengan penurunan fungsi pendengaran pekerja (p < 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia dan tempat tinggal berpengaruh signifikan terhadap penurunan fungsi pendengaran setelah dikontrol oleh variabel intensitas kebisingan, masa kerja, penggunaan alat pelindung telinga, hobi terkait kebisingan, dan riwayat bekerja di tempat bising (p < 0,05). Intensitas kebisingan kerja hanya menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gangguan psikologis pada aspek disfungsi sosial (p < 0,05). Dapat disimpulkan, variabel tempat tinggal berhubungan secara signifikan terhadap penurunan pendengaran dan intensitas bising berpengaruh signifikan pada disfungsi sosial pekerja.
ANALISIS PENGARUH PEMBUBUHAN MIKRONUTRIEN PADA PENGOLAHAN LIMBAH POME TERHADAP PEMBENTUKAN BIOETANOL : METAANALISIS
Peningkatan kebutuhan energi yang terus meningkat dari sektor industri maupun sektor domestik, telah mendorong penelitian terkait sumber energi alternatif yang bisa digunakan menjadi energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan. Bioetanol dapat menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Salah satu usaha dalam optimalisasi pembentukan bioetanol adalah dengan penambahan mikronutrien sebagai kofaktor enzim untuk meningkatkan efisiensi pengolahan limbah secara anaerob. Penelitian dilakukan dalam rangka melakukan analisis pengaruh penambahan mikronutrien terhadap penyisihan senyawa organik (Chemical Oxygen Demand), pembentukan Total Asam Volatil (TAV), dan produksi bioetanol dari limbah POME. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara variabel tersebut berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir sehingga dapat menjadi rekomendasi berdasarkan hasil meta-analisis yang dilakukan. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dilanjutkan dengan analisis meta-analisis korelasional. Data diperoleh dari literatur yang relevan dan telah memenuhi kriteria inklusi, seperti kesamaan substrat, metode anaerobik, serta tersedianya data kuantitatif mengenai mikronutrien dan hasil fermentasi etanol. Dalam proses analisis, data yang diperoleh diekstraksi untuk kemudian dihitung persentase pengurangan COD, pembentukan TAV, dan produksi bioetanol. Selanjutnya, dilakukan uji korelasi dan perhitungan effect size yang ditransformasikan menggunakan metode Fisher’s z untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara penambahan mikronutrien terhadap pembentukan etanol. Nilai summary effect yang didapatkan pada meta analisis adalah sebesar 0,1 dan model effect size adalah fixed effect model. Hasil meta-analisis tersebut dilakukan uji verifikasi di laboratorium dengan dosis optimum pembentukan etanol. Pada pengujian laboratorium terdapat dua variasi yakni kombinasi Fe2+ dengan Zn2+ dan kombinasi antara Cu2+, Mn2+, dan Mg2+ . Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kombinasi Fe2+ dengan Zn2+ meningkatkan nilai etanol sebesar 94% pada jam ke-72 dengan konsentrasi etanol sebesar 180,96 mg/L. Sedangkan kombinasi antara Cu2+, Mn2+, dan Mg2+ memberikan peningkatan pembentukan etanol sebesar 96% pada jam ke-72 yakni sebesar 120,81. Sedangkan pada reaktor kontrol hanya memberikan peningkatan sebesar 39%.
PEMODELAN DAN KARAKTERISASI SEL BATERAI LITHIUM-ION NMC811 21700 MENGGUNAKAN ELECTROCHEMICAL IMPEDANCE SPECTROSCOPY
Baterai lithium-ion dengan katoda NMC811 banyak digunakan pada kendaraan listrik karena densitas energi yang tinggi. Namun, karakteristik impedansi dan dinamika elektrokimia internal sel sangat dipengaruhi oleh kondisi operasi, khususnya state of charge (SOC) dan laju pengosongan (C-rate). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik impedansi sel lithium-ion NMC811 tipe silinder 21700 menggunakan metode electrochemical impedance spectroscopy (EIS) pada rentang SOC 20–90% dan variasi C-rate 0,2C hingga 3C pada suhu ruang. Hasil pengujian EIS menunjukkan bahwa variasi SOC dan C-rate berpengaruh signifikan terhadap karakteristik impedansi sel, yang tercermin pada perubahan resistansi ohmik, respon charge transfer, serta perilaku difusi ion lithium. Respon impedansi tersebut dimodelkan menggunakan pendekatan Equivalent Circuit Model (ECM) yang terdiri atas elemen induktansi, resistansi ohmik, jaringan paralel resistansi charge transfer dan constant phase element, serta elemen Warburg. Parameter model diekstraksi melalui proses fitting terhadap data EIS, dengan nilai RMSE rata-rata sebesar 4,89×10?? ?. Hasil validasi menunjukkan bahwa variasi parameter ECM terhadap SOC dan C-rate mampu merepresentasikan karakteristik utama respon impedansi sel pada berbagai kondisi operasi, dengan nilai RMSE berada pada orde 10?? ? dan rata-rata sebesar 3,26×10?? ?. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pemodelan berbasis EIS–ECM mampu merepresentasikan perilaku listrik sel NMC811 secara konsisten pada kondisi pengujian yang dilakukan.
PENGARUH GANGGUAN ELEKTRIK ARCING TERHADAP TEGANGAN TEMBUS DAN ANALISIS GAS TERLARUT PADA BERBAGAI JENIS ISOLASI MINYAK TRANSFORMATOR
Transformator merupakan komponen penting dalam sistem tenaga listrik yang keandalannya sangat bergantung pada kualitas minyak isolasi sebagai media isolasi dan pendingin. Gangguan elektrik arcing dapat mempercepat degradasi minyak dan memicu kegagalan transformator, sehingga diperlukan kajian komparatif terhadap ketahanan berbagai jenis minyak transformator terhadap pengaruh elektrik arcing. Metode yang digunakan adalah dengan pengujian pemberian gangguan arcing dengan berbagai parameter seperti durasi, tegangan dan jarak elektroda untuk menguji tegangan tembus dan analisis gas terlarut dengan beberapa metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan arcing menyebabkan penurunan signifikan nilai tegangan tembus pada seluruh jenis minyak isolasi. Minyak natural ester mengalami penurunan terbesar dari 52,35 kV menjadi 27,10 kV, diikuti minyak GTL dari 43,20 kV menjadi 23,28 kV dan minyak mineral dari 38,20 kV menjadi 22,33 kV, yang menunjukkan ketahanan sedang terhadap stres arcing. Sebaliknya, minyak sintetik ester mengalami penurunan paling kecil dari 39,87 kV menjadi 26,47 kV, menandakan stabilitas dielektrik terbaik. Analisis gas terlarut mengonfirmasi terjadinya arcing pada seluruh minyak melalui dominasi gas asetilena (C?H?) dan hidrogen (H?), dengan kemunculan gas minor seperti etilena (C?H?) dan karbon monoksida (CO). Hasil Segitiga Duval menunjukkan mayoritas sampel berada pada zona D1, sementara metode TDCG mengindikasikan tingkat keparahan tinggi akibat dominasi C?H? dan H2. Temuan ini menegaskan hubungan langsung antara intensitas arcing yang semakin besar dengan penurunan nilai tegangan tembus dan peningkatan gas terlarut.
EVALUASI EFEKTIVITAS KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PERENCANAAN TATA RUANG PADA RTRW KOTA MANADO
Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) merupakan instrumen kebijakan yang dirancang untuk mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam proses perencanaan tata ruang. Namun, dalam praktiknya, efektivitas KLHS sering kali dipertanyakan, terutama terkait sejauh mana rekomendasinya benar-benar memengaruhi substansi teknis Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas KLHS dalam meningkatkan kualitas perencanaan tata ruang pada RTRW Kota Manado. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode evaluatif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen KLHS dan RTRW Kota Manado, perbandingan substansi RTRW sebelum dan sesudah integrasi KLHS, serta wawancara mendalam dengan aktor kunci yang terlibat dalam proses penyusunan KLHS dan RTRW. Analisis data dilakukan menggunakan analisis konten dan analisis tematik untuk menilai efektivitas proses dan efektivitas produk (outcome) KLHS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan KLHS pada RTRW Kota Manado tergolong efektif secara prosedural. Seluruh tahapan penyusunan KLHS telah dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan dilakukan secara paralel dengan proses penyusunan RTRW. Namun demikian, dari sisiiii efektivitas substantif, integrasi rekomendasi KLHS ke dalam substansi RTRW masih bersifat parsial dan cenderung normatif. Rekomendasi KLHS lebih banyak memengaruhi arah kebijakan umum, seperti pengendalian intensitas pemanfaatan ruang, tetapi belum secara konsisten diterjemahkan ke dalam ketentuan teknis tata ruang yang operasional dan terdiferensiasi secara spasial, khususnya pada pengaturan struktur ruang dan pola ruang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan KLHS tidak dapat diukur hanya berdasarkan kepatuhan prosedural, melainkan harus dinilai dari kemampuannya mengarahkan pengambilan keputusan spasial secara strategis. Oleh karena itu, penguatan peran KLHS sebagai instrumen substantif diperlukan agar dapat berfungsi tidak hanya sebagai prasyarat perencanaan, tetapi sebagai pengendali utama kualitas kebijakan tata ruang yang berkelanjutan dan adaptif terhadap risiko lingkungan.
STUDI EKSPERIMENTAL DAN ANALISIS NUMERIK TERHADAP PERILAKU STRUKTURAL DINDING BETON 3D PRINTING MENGGUNAKAN SIMULASI LS-DYNA
Perkembangan teknologi beton cetak tiga dimensi (3D printing concrete) memberikan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi dan inovasi pada industri konstruksi. Namun demikian, penerapannya pada elemen struktural masih menghadapi keterbatasan, terutama terkait perilaku mekanik dan kapasitas struktural akibat lemahnya ikatan antar lapisan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku struktural dinding beton 3D printing melalui pendekatan eksperimental dan numerik, dengan menitikberatkan pada pengaruh konfigurasi angkur terhadap kapasitas dan mekanisme kegagalan dinding. Program eksperimental mencakup pengujian sifat mekanik material beton cetak 3D yang meliputi kuat tekan, kuat tarik langsung, kuat tarik belah, kuat lentur, dan kuat geser. Nilai hasil pengujian tersebut digunakan sebagai dasar penentuan parameter material dalam analisis numerik. Pengujian struktural dinding dilakukan terhadap beberapa variasi, yaitu dinding tanpa angkur, dinding dengan angkur slip, dan dinding dengan angkur berikatan penuh (full bond), yang dibebani secara lateral hingga mencapai kondisi runtuh. Analisis numerik dilakukan menggunakan perangkat lunak LS-DYNA dengan pemodelan material nonlinier dan interaksi antar lapisan. Parameter material pada model numerik dikalibrasi berdasarkan hasil pengujian eksperimental. Proses validasi model dilakukan melalui perbandingan respons numerik dan eksperimental yang meliputi hubungan beban–perpindahan, kapasitas maksimum, kekakuan awal, serta pola kerusakan dan mekanisme kegagalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan angkur memberikan peningkatan signifikan terhadap kapasitas lateral dan kestabilan struktural dinding beton 3D printing. Dinding dengan konfigurasi angkur berikatan penuh menunjukkan kinerja struktural terbaik, sedangkan dinding tanpa angkur didominasi oleh kegagalan geser antar lapisan. Secara keseluruhan, hasil analisis numerik menunjukkan kesesuaian yang baik dengan hasil eksperimen. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan desain, pemodelan numerik, dan penerapan struktural dinding beton 3D printing, khususnya untuk bangunan di wilayah rawan gempa.
PENGEMBANGAN PLATFORM KANAL FLUIDA GRAVITATIONAL FLOW CELL BERBASIS CETAK 3 DIMENSI
Mikrofluida merupakan teknologi pengendalian fluida skala mikro yang banyak dikembangkan pada aplikasi biosensor karena efisiensi penggunaan sampel, kecepatan reaksi, serta sensitivitas dan reprodusibilitas pengukuran yang baik. Integrasi mikrofluida dalam platform flow cell berbasis lab-on-chip memungkinkan aliran fluida yang terkontrol, stabil, dan meminimalkan risiko kontaminasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan platform mikrofluida flow cell gravitasi berbasis pencetakan 3D yang terintegrasi dengan sensor elektrokimia Screen Printed Carbon Electrode (SPCE) serta mengevaluasi performa pengukuran elektrokimianya dibandingkan metode droplet. Platform dirancang menghasilkan aliran gravitasi dinamis tanpa injeksi eksternal dan diuji menggunakan metode Cyclic Voltammetry, Differential Pulse Voltammetry, serta amperometri dengan larutan ferro-ferricyanide. Hasil pengujian menunjukkan platform memiliki akurasi dimensi yang baik tanpa kebocoran, mampu menghasilkan aliran fluida stabil dengan debit 0,417–1,104 L/jam, serta menunjukkan aliran laminar dengan bilangan Reynolds di bawah 2100 sehingga sesuai untuk aplikasi mikrofluida. Hasil pengujian menunjukkan bahwa single channel tipe II memiliki performa elektrokimia setara dengan kondisi droplet pada CV dan DPV, sedangkan tipe I dipengaruhi oleh geometri kanal pada konsentrasi tertentu; pada amperometri sebagian besar desain menunjukkan hubungan linear arus–konsentrasi, sementara dual channel inlet dipengaruhi proses pengenceran dan pencampuran, sehingga penelitian ini menegaskan kebaruan platform mikrofluida flow cell gravitasi hasil cetak 3D yang mampu menghasilkan aliran gravitasi dinamis tanpa injeksi eksternal dengan performa setara droplet.
PERANCANGAN DAN REALISASI AUDIOMETER PURE TONE PORTABEL
Gangguan pendengaran dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Di Indonesia, alat skrining dan diagnosis pendengaran umumnya memiliki harga yang relatif mahal sehingga hanya tersedia di fasilitas kesehatan berskala besar. Kondisi ini menyebabkan masyarakat menengah ke bawah serta masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan mengalami kesulitan dalam melakukan pemeriksaan pendengaran. Selain itu alat skrining pendengaran ini juga sangat dibutuhkan untuk kawasan industri dengan lokasi kerja yang memiliki tingkat kebisingan cukup tinggi. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan perancangan dan realisasi audiometer nada murni portabel dengan sistem penghantaran suara melalui udara. Audiometer ini dirancang untuk menghasilkan suara nada murni pada frekuensi 125 Hz, 250 Hz, 500 Hz, 750 Hz, 1000 Hz, 1500 Hz, 2000 Hz, 3000 Hz, 4000 Hz, 6000 Hz, dan 8000 Hz dengan intensitas 0 dB hingga 100 dB dalam rentang 5 dB. Sistem audiometer menggunakan mikrokontroler ESP32 dan DAC eksternal PCM5102 untuk menghasilkan sinyal suara sesuai spesifikasi. Pengaturan frekuensi dan intensitas dilakukan secara digital menggunakan rotary encoder, sedangkan sistem antarmuka pengguna menggunakan aplikasi berbasis web. Audiometer dirancang bersifat portabel agar mudah dibawa dan dapat digunakan untuk menjangkau wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan. Kalibrasi dan pengukuran frekuensi serta intensitas dilakukan menggunakan Real Time Analyzer (RTA) di Ruang Semi Anechoic Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik, Teknik Fisika ITB. Hasil kalibrasi menunjukkan bahwa audiometer mampu menghasilkan frekuensi dan intensitas suara sesuai dengan spesifikasi yang dirancang. Untuk mengetahui akurasi diagnostik alat, dilakukan uji diagnostik di Kasoem Hearing Center terhadap lima subjek pasien berusia 23–24 tahun. Audiometer nada murni konvensional yang digunakan di ruang pemeriksaan khusus pendengaran dijadikan sebagai baku emas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh subjek memiliki hasil pemeriksaan pendengaran normal baik menggunakan audiometer konvensional maupun audiometer portabel. Terdapat sedikit perbedaan hasil pengukuran, namun masih berada dalam batas toleransi kesalahan yang diizinkan dan tidak memengaruhi kesimpulan diagnosis. Dengan demikian, audiometer nada murni portabel yang dikembangkan terbukti dapat digunakan sebagai alat skrining pendengaran alternatif dengan biaya terjangkau dan berpotensi diaplikasikan di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan.
PENINGKATAN TOLERANSI ETANOL PADA S. CEREVISIAE MELALUI ADAPTIVELABORATORY EVOLUTION (ALE) BERBASIS HEAT SHOCK SEBAGAI STRATEGIOPTIMASI PRODUKSI BIOETANOL
Ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil telah memicu tekanan ekonomi dan degradasi lingkungan yang signifikan. Di Indonesia, lonjakan impor BBM yang menembus US$12,4 miliar pada tahun 2024 memberikan beban fiskal yang berat, sementara emisi gas rumah kaca dari pembakaran fosil terus memperburuk krisis iklim dan polusi udara. Bioetanol muncul sebagai solusi strategis karena sifatnya yang terbarukan dan dapat diproduksi melalui proses fermentasi menggunakan ragi. Namun, efisiensi produksi bioetanol oleh Saccharomyces cerevisiae masih terhambat oleh toksisitas etanol produk akhir yang menyebabkan denaturasi protein, kerusakan membran, dan penghambatan pertumbuhan sel ragi pada konsentrasi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan strain mutan ragi yang toleran terhadap etanol hingga konsentrasi 16% (v/v) melalui metode Adaptive Laboratory Evolution (ALE) dengan memanfaatkan mekanisme cross-protection. Strategi ini menggunakan pretreatment heat shock untuk menginduksi sintesis Heat Shock Proteins (HSPs), seperti Hsp104. S. cerevisiae ditumbuhkan dalam medium Yeast Extract Peptone Dextrose (YPD) pada suhu ruang 23 ± 1.5°C, agitasi 0 rpm, dengan kondisi fakultatif anaerob. Proses ALE diawali dengan pemberian pretreatment heat shock pada suhu 50°C selama 10 menit, diikuti dengan adaptasi pada konsentrasi etanol yang meningkat secara progresif dari 10% hingga 16% (v/v). Konfirmasi terhadap evolved strain dilakukan melalui kultivasi pada medium YPD dengan konsetrasi etanol 16% (v/v) dan dibandingkan performa pertumbuhan strain berbasis heat shock terhadap strain ALE tanpa pretreatment heat shock. Hasil penelitian menunjukkan S. cerevisiae toleran etanol 16% (v/v) dengan kesintasan mencapai 92,40%, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan wild-type sebesar 48,73%. Strain hasil ALE mampu memertahankan mutasi secara stabil selama tiga kali subkultur berulang dengan laju pertumbuhan yang tidak berbeda secara signifikan (p-value > 0,05) antara strain ALE tanpa heat shock dan ALE dengan heat shock. Hal ini membuktikan bahwa metode ALE menggunakan etanol secara langsung sudah memadai untuk meningkatkan toleransi ragi terhadap stres etanol tinggi. Temuan ini berpotensi dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas bioetanol melalui penelitian lanjutan.