📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

TINGKAT KENYAMANAN BERLARI KORIDOR JALAN DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN INDIKATOR RUNNABILITY

Tren pertumbuhan pelari terus meningkat di Indonesia dan populer di area perkotaan, salah satunya di Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa koridor jalan bukan hanya sebagai jalur mobilitas, tetapi juga sebagai elemen ruang publik yang berperan sebagai wadah aktivitas fisik dan rekreasi. Namun, tren pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan kualitas koridor yang memadai untuk berlari. Kebutuhan pelari berbeda dengan pejalan kaki sehingga tingkat kenyamanan berlari atau runnability menjadi lebih rinci daripada walkability. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas koridor jalan di Kota Bandung berdasarkan indikator runnability yang divalidasi dengan persepsi pelari Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan jenis eksploratif pada lokasi penelitian Kota Bandung, yang dilakukan dengan pendekatan spasial dengan skala segmen jalan 50 m. Penelitian ini diawali dengan menentukan indikator runnability melalui tinjauan literatur. Kandidat indikator tersebut dinilai signifikansinya melalui kuesioner persepsi yang diberikan kepada 111 pelari Kota Bandung sehingga didapatkan 10 indikator paling signifikan menurut persepsi pelari di Kota Bandung. Selanjutnya untuk menentukan tingkat kenyamanan tiap segmen jalan akan diidentifikasi berdasarkan indikator runnability persepsi pelari secara spasial. Penelitian ini menggunakan data sekunder untuk menganalisis setiap indikator, termasuk penggunaan data street view imagery (SVI) untuk melihat perspektif objektif dan subjektif. Juga dilakukan evaluasi perbandingan terhadap intensitas penggunaan koridor dari strava run heatmap. Rekomendasi intervensi didapatkan dari matriks perbandingan runnability dengan run heatmap, yang terbagi menjadi lima intervensi, yakni prioritas peningkatan, peningkatan kualitas, dipertahankan, ditingkatkan bertahap, dan tidak diintervensi. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 56% segmen jalan yang perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan kualitas koridor lari di Kota Bandung. Diharapkan penelitian ini dapat memberi gambaran runnability di Kota Bandung serta menjadi landasan peningkatan kualitas koridor jalan untuk mewujudkan kota yang lebih ramah pelari

2026
👤 Penulis: Muhammad Ayyub Anshori
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS KEADILAN SPASIAL PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA BANDUNG BERBASIS INDEKS AKSESIBILITAS DAN DETEKSI CITRA SATELIT

Keadilan merupakan salah satu prinsip yang secara ideal mendasari praktik pembangunan perkotaan. Permukiman kumuh dengan karakteristik yang heterogen menjadi salah satu komponen kota yang relatif menerima ketidakadilan spasial secara masif, seperti keterbatasan akses masyarakat terhadap hunian layak, fasilitas dasar, hingga sumber daya perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keadilan spasial permukiman kumuh di Kota Bandung melalui Indeks Aksesibilitas Kumuh (IAK) dan deteksi citra satelit. Penelitian yang menggunakan pendekatan spasial-kuantitatif ini terdiri dari empat tahapan utama, yaitu identifikasi karakteristik permukiman kumuh, deteksi sebaran dan dinamika permukiman kumuh menggunakan object-based image analysis (OBIA), pengukuran tingkat keadilan spasial melalui Indeks Aksesibilitas Kumuh (IAK), dan penentuan prioritas penanganan melalui eksplorasi kawasan. Hasil komparasi citra Landsat 9, Sentinel-2A, dan Airbus Image menunjukan bahwa Sentinel-2A menjadi citra dengan performa terbaik, yaitu overall accuracy sebesar 81%, producer’s accuracy sebesar 73%, dan user’s accuracy sebesar 86,9%. Berdasarkan hasil deteksi, luas permukiman kumuh Kota Bandung menurun dari 516,91 hektare di 2017 menjadi 381,63 hektare pada 2023, dan diproyeksikan menjadi 110,63 hektare di 2042. Namun, penurunan ini tidak serta merta menunjukan bahwa masyarakat permukiman kumuh memiliki hidup yang lebih adil dan sejahtera. Nilai IAK permukiman kumuh Kota Bandung sebagai representasi tingkat keadilan spasial berada pada rentang 0,009 hingga 0,371 dengan rata-rata 0,198. Dibandingkan dengan permukiman formal, hanya 12 dari 140 permukiman kumuh yang memiliki nilai aksesibilitas lebih tinggi dibandingkan rata-rata sampel permukiman formal. Secara sebaran spasial, permukiman kumuh di bagian tengah kota cenderung memiliki nilai aksesibilitas yang lebih baik dibandingkan permukiman kumuh di pinggiran kota yang tidak hanya lebih rendah tetapi juga lebih resisten dalam hasil proyeksi. Pemahaman atas temuan kondisi keadilan spasial tersebut diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan penanganan permukiman kumuh yang berorientasi pada keadilan.

2026
👤 Penulis: I Putu Widyananda Putra
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

SINTESIS SENSOR GLUKOSA BERBASIS POLIANILINA DENGAN METODE ONE-POT ELECTROPOLYMERISATION DALAM FLOW CELL

Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia, dengan lebih dari 20 juta penderita saat ini. Kebutuhan akan perangkat diagnostik yang cepat dan terjangkau mendorong pengembangan biosensor elektrokimia berbasis polimer konduktif sebagai solusi Point-of-Care Testing (POCT). Penelitian ini mengembangkan biosensor glukosa berbasis polianilina (PANI) pada screen-printed carbon electrode (SPCE) menggunakan pendekatan one-pot Electropolymerisation dalam sistem flow cell. Parameter elektropolimerisasi dioptimasi melalui metode chronoamperometry (CA), diikuti evaluasi tiga strategi imobilisasi enzim glukosa oksidase (GOx): PANI+GA+GOx, PANI/GA/GOx, dan PANI+GOx. Karakterisasi dilakukan menggunakan FTIR-ATR, SEM-EDX, cyclic voltammetry (CV), differential pulse voltammetry (DPV), dan chronoamperometry (CA). Kondisi optimum elektropolimerisasi dicapai pada konsentrasi anilin 10 mM dalam 0,1 M H?SO?, potensial +0,6 V, selama 10 menit. Sistem imobilisasi PANI+GA+GOx memiliki morfologi permukaan granular yang tersebar secara merata, serta terkonfirmasi terjadi peningkatan kandungan oksigen dari 14,63% menjadi 18,32% berdasarkan analisis EDX. Kondisi optimum flow cell diperoleh pada laju alir 20 ml/hr dan pH 4. Sistem PANI+GA+GOx dalam konfigurasi flow cell menghasilkan sensitivitas tertinggi sebesar 58,96 ?A·mM?¹·cm?² (DPV, 1–10 mM, R² = 0,921) dan LOD terendah 15,47 ?M (CA, 10–100 ?M, R² = 0,950). Selektivitas terhadap dopamin, asam askorbat, dan asam laktat dikonfirmasi dengan respons interferan yang sangat minimal. Penelitian ini membuktikan bahwa biosensor PANI melalui one-pot electropolymerisation dalam flow cell merupakan pendekatan yang efektif dan reprodusibel, berpotensi dikembangkan sebagai perangkat POCT ekonomis untuk pemantauan diabetes di fasilitas kesehatan primer.

2026
👤 Penulis: Vini Hafidzatul Hakimah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGY DEVELOPMENT OF TOP BUAH SEGAR: SWOT AND TOWS MATRIXANALYSIS

Nowadays, people's need of comfort is increasing. Modern people tend to go to modern market which is more comfortable compared to the traditional market. People's paradigm has shifted from not only concern with low prices, but also concern with the pleasantness of a store or market. One of the example of a modern market is Top Buah Segar. First established in jl. Caman in the city of bekasi, as the only modern market in the area that specializing in selling fruits, Top Buah Segar earn themself a large amount of money. But when they entering the third year, their sales is going down drastically. Meanwhile, The Top Buah Segar branch in Cibubur has gain a lot of profit and manage to maintain their customer untill now. This paper will explain and describe the phenomenon of Top Buah Segar and finding the problems using research methodologies such as interview, literature study, and Questionnaire. writer conducted interview with the store manager of Top Buah segar to get more information related to the factors that affect Top Buah Segar. Because the branch in Cibubur has a better performance, writer will create a strategy based on the Cibubur branch performance to increase the performance of Top Buah Segar in Bekasi. The tools used in this research were SWOT and TOWS Analysis, and questionnaire. SWOT Analysis was used to identify the internal and external factors affected Top Buah Segar in the industry from the perception of the company itself. On the other hand, questionnaire which based on Marketing Mix 7P strategy identified the internal factors of firm from customers' perception. After all tools were done executed, the researcher found strength, weaknesses, opportunities and threats of Top Buah Segar Bekasi The weakness were the lack of the employees, the physical evidence, the price and the rest is the strength of Top Buah Segar. The opportunities of Top Buah Segar Bekasi are mainly because theres 3 housing estate nearby and theres a school will be built next to the store while the threats are from other stores like Giant and Indomaret. After performed data analysis, the conclusion and recommendation were made. Top Buah Segar in Bekasi lack in almost every aspect of the Markting Mix 7p, while Top Buah Segar in Cibubur excell at every aspect. In order to increase its performance the researcher recommend that Top Buah Segar Bekasi need to hire more employees to better manage the stores, create a marketing team to search and maintain customers, and they need to fix the physical evidence. Keyword: Marketing Mix Analysis, SWOT, Basic Model of Strategic Management, Top

2026
👤 Penulis: Angga Nugraha
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Swot

PERANCANGAN DASHBOARD UNTUK PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN OBJECTIVES KEY RESULTS PADA PT CERITA PROGRESIF INDONESIA

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dashboard pemantauan Objectives Key Results (OKR) pada PT Cerita Progresif Indonesia (Diceritain), sebuah health-tech startup yang berfokus pada layanan kesehatan mental di Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi perusahaan adalah proses pelaporan OKR yang masih dilakukan secara manual dengan delay hingga dua minggu, tidak adanya visualisasi data terintegrasi, serta terjadinya inkonsistensi data antar divisi. Penelitian ini menghasilkan empat output utama. Pertama, metodologi perancangan dashboard yang disintesis dari enam metodologi acuan (Gupea, Turban, Eva, Pureshare, User Centric, dan Noetix) dengan pendekatan usage-centered dan top-down yang sesuai dengan karakteristik startup. Kedua, identifikasi kebutuhan informasi bisnis mencakup empat area utama: Financial Metrics, Customer Metrics, Internal Process, dan Learning & Growth untuk empat divisi pengguna. Ketiga, rancangan prototipe dashboard strategis menggunakan Google Data Studio yang terintegrasi dengan Google Cloud Firestore. Keempat, evaluasi terhadap rancangan yang menunjukkan pemenuhan seluruh kebutuhan fungsional dan non-fungsional, serta hasil pengujian usability menggunakan System Usability Scale (SUS) dengan skor 77.5 yang menunjukkan prototipe layak digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dashboard yang dirancang mampu mengatasi permasalahan delay pelaporan dan minimnya visualisasi data, serta memberikan platform pemantauan terintegrasi yang efisien secara biaya bagi perusahaan.

2026
👤 Penulis: R. B. Krishnamurti
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Digitalisasi Manajemen

ANALISIS PEMETAAN DELAY TROPOSFER, WILAYAH SUMATERA MENGGUNAKAN DATA GPS KONTINYU, SUMATERA GPS ARRAY (SUGAR)

Sinyal GPS mengalami refraksi atau pembiasan dalam perjalanannya dari satelit ke antena receiver ketika melalui lapisan troposfer. Besarnya penyimpangan jarak akibat perlambatan waktu tempuh sinyal GPS saat melewati lapisan troposfer, umumnya disebut sebagai delay troposfer. Delay troposer pada arah zenith disebut dengan Zenith Total Delay. ZTD terdiri dari komponen hidrostatik, Zenith Hydrostatic Delay dan komponen basah, Zenith Wet Delay. Besaran ZTD ini selain digunakan sebagai faktor koreksi terhadap ukuran jarak dari satelit ke antena, khususnya dalam aplikasi geodesi yang membutuhkan ketelitian tinggi, dapat juga digunakan sensor meteorologis di suatu lokasi pengamatan. Tugas akhir ini akan mengulas beberapa teori dasar mengenai bias troposfer pada sinyal GPS serta akan mengestimasi nilai ZTD pada titik di Sumatera menggunakan data pengamatan GPS kontinyu SUGAR, Sumatera GPS Array. Nilai ZTD dari data GPS dihitung menggunakan software Bernese 5.0. Metode pengolahan dilakukan dengan 2 cara, pertama dengan menggunakan mode jaring “obsmax” atau jaring optimal yang dibuat oleh software. Kedua, pengolahan dilakukan secara single baseline untuk tiap stasiun. Sebelumnya, untuk memutuskan model troposfer apa yang paling cocok digunakan, pada pengolahan secara jaring obsmax, diterapkan 2 model troposfer yang berbeda yaitu model Niell dan Hopfield. Untuk kemudian dibandingkan terhadap nilai ZTD pada titik BAKO dan NTUS yang diestimasi oleh IGS. Nilai estimasi ZTD pada titik BAKO dan NTUS yang dihasilkan menggunakan model Hopfield umumnya lebih mendekati nilai solusi dari IGS dengan nilai rerata selisih antara solusi IGS dengan hasil pengolahan menggunakan model hopfield sebesar 7 mm untuk titik BAKO dan 9 mm untuk titik NTUS. Sedangkan penggunaan model Niell menghasilkan nilai selisih sebesar 18 mm untuk titik BAKO dan 16 mm untuk titik NTUS. Sehingga pengolahan selanjutnya dilakukan mengunakan model Hopfield. Nilai ZTD yang dihasilkan dari hitungan secara jaring umumnya menghasilkan nilai yang lebih besar sekitar 10 cm sampai 20 cm terhadap hasil hitungan menggunakan single baseline. Metode single baseline kemudian akan digunakan pada proses hitungan selanjutnya. Selain itu tugas akhir ini akan menunjukkan perbedaan pola ZTD pada masing-masing titik pengamatan di Sumatera, dan pemilihan titik ikat untuk masing-masing itik pengamat terkait dengan hitungan secara single baseline tersebut.

2026
👤 Penulis: Ade Rafianto
🏷️ Geodesi 🏷️ Hidrologi Meteorologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGENDALIAN STRUKTUR DAN MORFOLOGI PADA KATODE LINI0,5MN1,5O4 UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA ELEKTROKIMIA BATERAI ION LITIUM

Baterai ion litium merupakan salah satu teknologi penyimpanan energi yang penting dalam mendukung kebutuhan energi modern, khususnya untuk aplikasi perangkat elektronik portabel dan kendaraan listrik. Peningkatan kebutuhan akan densitas energi yang lebih tinggi mendorong pengembangan material katode dengan performa lebih baik. Namun, katode komersial berbasis Li[NixCoyMn1?x?y]O2 (NCM) dan Li[NixCoyAl1?x?y]O2 (NCA) masih bergantung pada unsur kobalt yang mahal dan terbatas. LiNi0,5Mn1,5O4 (LNMO) merupakan salah satu kandidat katode bebas kobalt yang menjanjikan karena memiliki tegangan kerja tinggi sekitar 4,7 V (vs. Li/Li+), kapasitas teoritis sekitar 147 mAh g-1, dan jalur difusi ion Li+ tiga dimensi yang mendukung kinerja fast charging. Namun, implementasi katode LNMO dalam aplikasi komersial masih menghadapi tantangan, terutama terkait stabilitas siklus yang rendah akibat efek Jahn-Teller yang berasal dari keberadaan Mn3+, pelarutan logam transisi, dan reaksi antarmuka elektrode-elektrolit pada tegangan tinggi. Kinerja elektrokimia sangat bergantung pada morfologi dan struktur kristalnya. Partikel berukuran nano dapat memperpendek jalur difusi ion litium sehingga meningkatkan performa laju, tetapi cenderung mempercepat reaksi samping dengan elektrolit. Sedangkan partikel berukuran mikrometer dapat meningkatkan stabilitas antarmuka, namun memiliki keterbatasan pada transport ion. Pendekatan morfologi hierarkis menjadi strategi efektif karena partikel primer yang berukuran nano dapat mempercepat difusi ion Li,sementara agregasi partikel sekunder meningkatkan densitas volumetrik dan stabilitas struktur. Di sisi lain, struktur kristal LNMO terdiri dari fasa ordered (teratur, P4332) dan fasa disordered (tidak teratur, Fd-3m). Fasa disordered umumnya lebih menguntungkan karena dapat meningkatkan konduktivitas elektronik dan difusi ion litium. Namun, peningkatan Mn3+ dapat menyebabkan reaksi disproporsionasi dan efek Jahn-Teller yang menurunkan stabilitas struktur. Pengendalian fasa ordered-disordered menjadi penting dalam optimasi kinerja LNMO. Dalam penelitian ini, peningkatan performa elektrokimia katode LNMO untuk aplikasi baterai ion litium dilakukan melalui modifikasi morfologi bulat hierarkis menggunakan metode kopresipitasi serta pengendalian fasa melalui variasi laju pendinginan selama proses perlakuan panas. Hasil karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) melaporkan bahwa seluruh sampel didominasi oleh struktur ii spinel LNMO dengan grup ruang Fd-3m. Terdapat impuritas rock-salt fasa LixNi1-xO yang berada pada puncak 2? = 37,83° dan 43,61° serta impuritas fasa Na0,7MnO2,05 pada 2? = 15,82°. Hasil Rietveld refinement mengonfirmasi bahwa seluruh sampel memiliki dominasi fasa disordered, dengan derajat disordered yang meningkat seiring peningkatan laju pendinginan. Analisis rasio intensitas puncak bidang (111)/(311) dan (311)/(400) LNMO-5 memiliki nilai tertinggi yang mengindikasikan struktur spinel semakin ideal dan stabilitas yang lebih baik. Hasil Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bahwa material LNMO yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki morfologi bulat hierarkis mikro-nano dengan ukuran partikel sekitar 1,4-2,8 ?m. Semakin lambat laju pendinginan menghasilkan ukuran partikel yang lebih besar. Hasil pengujian Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) menunjukkan bahwa LNMO-5 memiliki resistansi transfer muatan (RCT) terendah yang mengindikasikan kinetika elektrokimia yang paling baik. Pengujian charge-discharge pada densitas arus 0,1 C menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki struktur Fd-3m yang ditandai dengan adanya redoks Mn3+/Mn4+ dan pemisahan plateau redoks Ni2+/Ni3+ dan Ni3+/Ni4+. Kontribusi aktif redoks Mn menunjukkan peningkatan seiring meningkatnya laju pendinginan. Peningkatan ini mengindikasikan bertambahnya kandungan Mn3+ dalam struktur yang berkorelasi dengan meningkatnya derajat struktur disordered. LNMO-5 memiliki kapasitas spesifik (117,99 mAh g-1) dan efisiensi Coulombic (94,66%) tertinggi daripada LNMO-3 dan LNMO-7. Selain itu, LNMO-5 performa rate capability tertinggi, serta stabilitas terbaik yang mampu mempertahankan 98,20% kapasitas setelah 200 siklus. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi optimal antara derajat fasa disordered yang terkontrol dan morfologi hierarkis yang mampu mendukung transportasi ion, menurunkan resistansi dan meningkatkan stabilitas siklus LNMO.

2026
👤 Penulis: Idhiyani Murounaky
🏷️ Baterai Ion Litium 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

JARUM MIKRO TERLARUT BERBASIS POLIMER TERINTEGRASI NANOEMULSI KURKUMIN TERLAPISI KITOSAN YANG BERPOTENSI SEBAGAI SISTEM PENGHANTARAN TRANSDERMAL UNTUK TERAPI KANKER

Jarum Mikro terlarut (JMt) merupakan salah satu sistem penghantaran obat transdermal yang bersifat minimal invasif, biokompatibel, dan mampu menghantarkan obat secara terkontrol melalui pembentukan mikrokanal pada kulit. Sistem ini berpotensi meningkatkan efisiensi penghantaran obat dibandingkan dengan rute konvensional. Integrasi JMt dengan sistem nano menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas zat aktif yang memiliki keterbatasan fisikokimia. Salah satu senyawa yang memerlukan strategi penghantaran inovatif adalah kurkumin, yaitu senyawa polifenol alami yang memiliki aktivitas antikanker yang kuat melalui mekanisme induksi apoptosis dan penghambatan proliferasi sel. Meskipun demikian, pemanfaatan kurkumin dalam terapi kanker masih terhambat oleh kelarutan air yang sangat rendah, stabilitas yang terbatas, serta bioavailabilitas yang rendah ketika diberikan secara oral. Oleh karena itu, pengembangan sistem penghantaran berbasis nano yang dikombinasikan dengan JMt menjadi alternatif yang rasional untuk meningkatkan efektivitas terapeutik kurkumin dalam terapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan JMt berbasis asam hialuronat (AH), polivinil alkohol (PVA), dan karboksimetil selulosa (CMC) sebagai sistem penghantaran transdermal untuk terapi kanker. Sistem JMt tersebut kemudian diintegrasikan dengan nanoemulsi kurkumin berlapis kitosan (NE-Kur-Kit) yang dirancang sebagai sistem penghantaran obat responsif terhadap pH untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas kurkumin. Selanjutnya, aktivitas antikanker dari NE-Kur-Kit dievaluasi melalui pengujian sitotoksisitas terhadap sel kanker MCF-7. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan formulasi, karakterisasi fisikokimia, uji pelepasan obat dan stabilitas, evaluasi sitotoksisitas secara in vitro, serta pengujian karakteristik dan permeasi JMt secara ex vivo. Nanoemulsi kurkumin berlapis kitosan diformulasikan dengan variasi konsentrasi kitosan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap stabilitas dan profil pelepasan obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem NE-Kur-Kit memiliki sifat pelepasan obat yang sangat responsif terhadap pH, dengan pelepasan kurkumin jauh lebih tinggi pada kondisi asam (pH 5,4) dibandingkan dengan kondisi fisiologis normal (pH 7,4). Pada pH 5,4, pelepasan kurkumin mencapai 93,57% (1 mg/mL kitosan), 50,60% (2 mg/mL), dan 31,16% (4 mg/mL), sedangkan pada pH 7,4 pelepasan obat sangat rendah, yaitu 3,20%, 3,06%, dan 0,34%. Berdasarkan uji stabilitas, konsentrasi kitosan 2 mg/mL merupakan kondisi optimum yang memiliki stabilitas dan responsivitas pH yang baik. Evaluasi aktivitas sitotoksik terhadap sel MCF-7 menggunakan metode MTT menunjukkan bahwa formulasi NE-Kur-Kit secara signifikan meningkatkan potensi antikanker kurkumin. Kurkumin bebas memiliki nilai IC50 sebesar 6,997 µg/mL, sedangkan setelah diformulasikan dalam bentuk NE-Kur-Kit, nilai IC50 menurun drastis menjadi 1,638 µg/mL, yang menunjukkan peningkatan efikasi sitotoksik lebih dari empat kali lipat. Integrasi NE-Kur-Kit ke dalam sistem JMt berbasis AH, PVA, dan CMC menghasilkan JMt dengan karakteristik fisik yang baik, namun JMt berbasis CMC menunjukkan sifat mekanik paling rendah dibandingkan dengan AH dan PVA, sehingga berpotensi membatasi kemampuan penetrasinya. Uji permeasi ex vivo menunjukkan bahwa JMt berbasis AH memberikan kinerja paling optimal, dengan permeasi kurkumin sebesar 59,74% pada pH 7,4 dan meningkat menjadi 86,11% pada pH 5,4 dalam waktu 7 jam, sedangkan JMt berbasis PVA menunjukkan permeasi yang lebih rendah, yaitu 17,71% (pH 7,4) dan 34,58% (pH 5,4). Perbedaan ini berhubungan dengan sifat AH yang lebih higroskopis dan amorf yang mempercepat disolusi JMt dan difusi obat, sementara struktur semi-kristalin PVA lebih resisten terhadap penetrasi air sehingga pelepasan dan permeasi berlangsung lebih lambat dan terkontrol. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi sistem nanoemulsi kurkumin berlapis kitosan yang responsif terhadap pH dengan JMt berbasis polimer, serta evaluasi sistematis aktivitas sitotoksiknya terhadap sel MCF-7. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah penting dalam pengembangan sistem penghantaran obat transdermal yang cerdas, terarah, dan noninvasif untuk terapi kanker serta membuka peluang pengembangan lanjutan menuju aplikasi praklinik dan klinis. Kata kunci: kurkumin, nanoemulsi, jarum mikro terlarut, penghantaran transdermal, sel MCF-7, kitosan, sistem pH responsif

2026
👤 Penulis: Winda Trisna Wulandari
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENENTUAN BEDA TINGGI GEODETIK MENGGUNAKAN GPS UNTUKPENENTUAN TINGGI ORTHOMETRIK

Hingga saat ini, ketelitian komponen vertikal dari penentuan posisi menggunakan GPS tidak sebaik komponen horisontalnya yang diakibatkan oleh bias dan kesalahan yang ada. Untuk memperoleh komponen vertikal (tinggi geodetik) yang memiliki kualitas yang baik pada penentuan posisi menggunakan GPS, maka bias dan kesalahan yang ada harus dapat tereduksi secara optimal. Untuk dapat mereduksi bias dan kesalahan yang ada dapat dilakukan dengan melakukan metoda pengamatan dan metoda pengolahan data yang baik. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data menggunakan metoda GPS diferensial moda radial dari satu titik ikat. Pengolahan data dilakukan secara “single baseline” menggunakan perangkat lunak Bernese 5.0 dan TGO 1.62 dengan melakukan pengoreksian serta pengestimasian bias dan kesalahan secara optimal sesuai dengan kemampuan algoritma pengolahan data yang digunakan. Data yang digunakan adalah data dalam fungsi baseline dan lama pengamatan, sehingga dari pengolahan data dapat dihasilkan nilai beda tinggi geodetik dalam variasi spasial dan temporal. Dari hasil pengolahan data, semakin pendek baseline pengamatan dan semakin lama pengamatan, maka kualitas nilai beda tinggi geodetik akan semakin baik dilihat dari variasi nilai beda tinggi geodetik. Pada baseline pengamatan yang lebih panjang dengan lama pengamatan yang lebih pendek dihasilkan kualitas beda tinggi geodetik yang kurang baik. Hal ini disebabkan karena bias dan kesalahan seperti bias troposfir, kesalahan orbit, multipath, dan lainnya tidak dapat tereduksi dengan optimal. Dari bias dan kesalahan tersebut, bias troposfer memberikan dampak yang lebih dominan karena belum dapat tereduksi secara optimal. Dilihat dari segi perangkat lunak yang digunakan, perangkat lunak Bernese 5.0 memberikan kualitas tinggi geodetik yang lebih baik daripada penggunaan perangkat lunak TGO 1.62

2026
👤 Penulis: Angga Trysa Yuherdha
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Gps 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMANFAATAN BIOKARBON ARANG KAYU CAMPURAN PADA PROSES REDUKSI SUHU TINGGI RESIDU BAUKSIT UNTUK PRODUKSI LOGAM BESI PADA TEMPERATUR 800 HINGGA 1200 °C

Tingkat permintaan aluminium terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor transportasi, konstruksi, dan kemasan, yang mendorong peningkatan produksi alumina sebagai bahan baku utama aluminium. Produksi alumina melalui Proses Bayer menghasilkan limbah padat berupa residu bauksit (red mud) dalam jumlah besar, dimana setiap 1 ton alumina dapat menghasilkan sekitar 0,8-1,5 ton residu bauksit. Limbah ini berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan karena sifatnya yang sangat basa. Namun, residu bauksit masih mengandung unsur berharga, terutama besi sehingga berpotensi dimanfaatkan kembali melalui proses reduksi suhu tinggi. Pemanfaatan biokarbon dari arang kayu campuran sebagai reduktor diharapkan dapat menjadi alternatif reduktor serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan batubara. Serangkaian percobaan reduksi temperatur tinggi telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh jenis reduktor dan temperatur terhadap karakteristik fasa logam dan terak yang terbentuk dari reduksi residu bauksit. Proses reduksi dilakukan menggunakan briket komposit residu bauksit dengan reduktor biokarbon atau batubara dalam horizontal tube furnace pada temperatur 800, 900, 1000, 1100, dan 1200°C dengan waktu penahanan 120 menit serta aliran gas argon sebesar 2 L/menit untuk menciptakan kondisi inert. Selama percobaan, massa awal dan massa akhir sampel dicatat sehingga perubahan massa dapat ditentukan secara kuantitatif sebagai indikasi berlangsungnya reaksi reduksi. Selanjutnya, produk hasil reduksi dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui morfologi dan komposisi unsur, serta X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengidentifikasi fasa yang terbentuk. Persentase perubahan massa meningkat seiring kenaikan temperatur pada penggunaan kedua reduktor. Berdasarkan perbandingan perubahan massa aktual dan teoritis, reduksi residu bauksit menggunakan reduktor biokarbon menunjukkan persen konversi lebih tinggi yaitu maksimal 113%, sedangkan batubara sebesar maksimal 87,17%. Hasil pemetaan unsur menunjukkan pemisahan logam dan terak yang lebih baik pada penggunaan biokarbon. Kadar Fe tertinggi dari penggunaan biokarbon diperoleh pada temperatur 1000°C sebesar 99,24%, sedangkan batubara diperoleh pada 900°C sebesar 99,26%. Pada temperatur yang lebih tinggi, kadar Fe menurun akibat peningkatan kandungan silikon yang paling signifikan pada 1200°C, yaitu 5,61% pada biokarbon dan 3,90% pada batubara. Ukuran logam maksimum terbentuk pada 1200°C dengan nilai 77,15 ?m pada biokarbon dan 81,53 ?m pada batubara. Persentase area logam terbesar penggunaan reduktor biokarbon adalah sebesar 11,63% dan batubara sebesar 9,58%. Selain itu, fasa oksida dominan yang terbentuk pada kedua reduktor adalah fasa aluminosilikat.

2026
👤 Penulis: Mellisa
🏷️ Reduksi Suhu Tinggi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENINGKATAN KINERJA PREDIKSI LINK BERBASIS EMBEDDING DENGAN PENGELOMPOKAN VEKTOR

Knowledge graph digunakan untuk menyimpan sekumpulan fakta dalam bentuk triple SPO (subjek, predikat, objek) atau (entitas, relasi, entitas). Salah satu masalah yang umum terjadi pada KG adalah KG tidak lengkap yaitu terdapat salah satu bagian entitas atau relasi yang hilang. Penggunaan KG tidak lengkap dapat menurunkan akurasi suatu task. Relasi yang hilang merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada KG tidak lengkap. Untuk melengkapi link atau relasi yang hilang dapat menggunakan prediksi link. Seiring bertambahnya fakta yang perlu disimpan, ukuran KG juga bertambah besar, terdiri dari jutaan entitas dan relasi. Semakin besar KG, maka semakin besar juga peluang KG tersebut tidak lengkap dan waktu yang dibutuhkan untuk memprediksi relasi yang hilang juga semakin meningkat. Oleh karena itu, akurasi hasil prediksi dan efisiensi waktu prediksi pada metode prediksi link perlu ditingkatkan. Embedding merupakan salah satu pendekatan yang digunakan pada prediksi link. Embedding mengubah representasi entitas dan relasi sebagai vektor dalam ruang dimensi tertentu. Proses utama prediksi link berbasis embedding terdiri atas tiga tahap yaitu embedding, scoring, dan pemeringkatan. Embedding mengubah entitas dan relasi menjadi nilai vektor. Scoring menghitung skor setiap triple menggunakan scoring function tertentu dan pemeringkatan mengurutkan triple berdasarkan skor dari yang tertinggi hingga terendah. Hasil prediksi ditentukan dari skor setiap triple. Semakin tinggi skor, semakin besar kemungkinan triple tersebut valid. Clustering digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan kesamaan tertentu. Teknik ini dapat diterapkan pada prediksi link berbasis embedding untuk mengelompokkan vektor sehingga prediksi link dilakukan pada cluster tertentu. Dengan membatasi jumlah vektor yang perlu diproses pada proses scoring dan pemeringkatan triple, waktu yang dibutuhkan untuk proses prediksi menjadi lebih efisien dan meningkatkan peluang hasil prediksi yang lebih akurat. Eksperimen penelitian dilakukan pada tiga dataset: WN18RR, WN11 dan FB13. Teknik prediksi link berbasis embedding yang digunakan sebagai metode baseline adalah TransE dan eksperimen menggunakan beberapa dimensi embedding rentang 50 hingga 200. Pengelompokan vektor menggunakan dua skema yaitu Balanced Iterative Reducing and Clustering Using Hierarchies (BIRCH) dan pengelompokan berdasarkan kesamaan relasi. Kualitas cluster dievaluasi menggunakan Silhouette Coefficient (SC) dan akurasi prediksi link menggunakan Hits@N, Mean Rank (MR), Mean Reciprocal Rank (MRR). Pengukuran efisiensi waktu berdasarkan waktu yang digunakan untuk memprediksi seluruh data uji pada setiap dataset. Metode prediksi link berbasis embedding dengan pengelompokan vektor diberi nama Link Prediction Clustering (LPC). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kualitas cluster memiliki nilai rentang 0,86 hingga 0,93. Nilai ini mengindikasikan bahwa pengelompokan vektor mendekati nilai 1, yang berarti kualitas cluster yang dihasilkan bagus. Oleh karena itu pengelompokan vektor dapat digunakan untuk membatasi area prediksi link. Pemilihan kelompok vektor menggunakan pengukuran jarak terdekat antara triple yang akan diprediksi dengan cluster yang ada, menggunakan Euclidean dan Mahalanobis. Berdasarkan hasil perhitungan relatif terhadap metode baseline, penerapan kelompok vektor terbukti dapat meningkatkan akurasi hasil prediksi Hits@1 rentang 10% – 98% dan mempersingkat waktu prediksi rentang 62% - 99,96%. Berdasarkan hasil penelitian, LPC terbukti berhasil meningkatkan akurasi hasil prediksi link sekaligus mengurangi waktu prediksi link pada KG tidak lengkap dan berukuran besar. Kebaharuan dan orisinalitas penelitian ini terletak pada penerapan pengelompokan vektor hasil embedding. Kontribusi utama disertasi ini adalah menghasilkan metode prediksi link berbasis embedding yang lebih akurat dan waktu prediksi lebih efisien dengan pengelompokan vektor hasil embedding.

2026
👤 Penulis: Fitri Susanti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MODEL KONSEPTUAL ADOPSI INTELIGENSI ARTIFISIAL UNTUK ARSITEKTUR ORGANISASI

Arsitektur organisasi atau enterprise architecture (EA) merupakan abstraksi tentang kondisi organisasi saat ini, kondisi yang diinginkan di masa depan, serta tahapan transisi untuk mencapainya. Pada era Industri 4.0, perkembangan teknologi digital yang pesat menuntut organisasi memiliki arsitektur organisasi yang mampu memanfaatkan Inteligensi Artifisial atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. EA yang ada seperti Zachman dan The Open Group Architecture Framework (TOGAF) telah banyak digunakan, namun sebagian besar belum mengadopsi AI secara menyeluruh di seluruh domain arsitekturnya. Keterbatasan tersebut menghambat organisasi dalam merespon perubahan lingkungan bisnis dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model konseptual adopsi Inteligensi Artifisial untuk arsitektur organisasi yang mengadopsi AI ke dalam lima domain utama EA, yaitu arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi, arsitektur teknologi, dan arsitektur keamanan. Model konseptual ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan organisasi akan model arsitektur yang berorientasi pada pengambilan keputusan berbasis data. Metodologi penelitian yang digunakan adalah Design Science Research Methodology (DSRM) dengan tahapan identifikasi masalah, penentuan tujuan, desain dan pengembangan model, serta evaluasi awal terhadap konsep yang dikembangkan. Penelitian hingga tahap ini menghasilkan model konseptual adopsi AI ke dalam EA, yang memadukan TOGAF Architecture Development Model (ADM) sebagai kerangka utama dengan Business Architecture Body of Knowledge (BIZBOK) pada domain bisnis. Model ini menekankan adopsi AI dalam domain bisnis, data, aplikasi, teknologi, dan keamanan secara terintegrasi untuk membangun arsitektur organisasi yang berbasis data. Penelitian ini mengembangkan Model Konseptual adopsi AI dalam EA dengan memasukkan komponen adopsi AI ke dalam lima domain EA : arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi, arsitektur teknologi, dan arsitektur keamanan. Model konseptual ini dibangun dengan memadukan struktur domain EA (mengacu pada TOGAF dan BIZBOK) dengan tiga komponen utama adopsi AI: (1) Machine Intelligence Continuum (MIC), (2) AI Technologies; serta (3) AI Use. Integrasi ini menghasilkan model arsitektur yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga mampu mendukung keputusan berbasis data. Lapisan etika AI ditempatkan sebagai fondasi lintas domain untuk memastikan pemanfaatan AI selaras dengan prinsip akuntabilitas, transparansi, keadilan, perlindungan data, keamanan, dan keberlanjutan. Evaluasi model dilakukan melalui studi kasus observasional pada lima perguruan tinggi—tiga di Indonesia dan dua di luar negeri—dengan pendekatan pemetaan kondisi AS-IS dan perancangan kondisi TO-BE, analisis kesenjangan lintas domain EA, serta pemetaan praktik AI terhadap komponen MIC, AI Technologies, dan AI Use. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model konseptual ini layak digunakan sebagai kerangka analitis untuk mengkaji kesiapan, keterpaduan, dan peran AI dalam EA, khususnya pada konteks layanan akademik. Model yang dihasilkan memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan EA berbasis AI dan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan, termasuk validasi pakar dan pengujian empiris pada lingkungan operasional nyata

2026
👤 Penulis: Leni Fitriani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Enterprise Architecture (Ea) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MODEL PENILAIAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN MELALUI LIFE CYCLE ASSESSMENT DI KOTA BUKITTINGGI

Sektor pariwisata berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan akibat aktivitas akomodasi, transportasi, dan rekreasi yang menyertai pergerakan wisatawan. Kota Bukittinggi, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pariwisata, memiliki keterbatasan daya dukung lingkungan. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan intensitas pariwisata tanpa perencanaan yang memadai berisiko menurunkan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan aktivitas pariwisata di Kota Bukittinggi secara komprehensif menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), mulai dari tahap inventori hingga analisis dampak dan perumusan strategi pengelolaan berkelanjutan. Unit fungsional yang digunakan adalah satu wisatawan yang melakukan aktivitas selama satu hari di Kota Bukittinggi, dengan cakupan sistem meliputi subsistem akomodasi, transportasi, wisata rekreasi, wisata kuliner, dan wisata belanja. Hasil analisis dampak midpoint menunjukkan bahwa kategori dampak yang paling dominan adalah Global Warming Potential (GWP) pada setiap unit fungsional, yang terutama berasal dari penggunaan listrik di akomodasi (1,34 kg CO2-eq), transportasi—khususnya kendaraan MPV (0,64 kg CO2-eq), penggunaan energi pada aktivitas wisata rekreasi (0,148 kg CO2-eq), penggunaan kayu bakar pada wisata kuliner (0,976 kg CO2-eq), serta aktivitas wisata belanja yang berkaitan dengan produk suvenir berbasis olahan pertanian (1,058 kg CO2-eq). Dampak lanjutan pada tingkat endpoint untuk setiap unit fungsional mencakup penurunan kesehatan manusia yang direpresentasikan oleh hilangnya hari sehat akibat disabilitas sebesar 0,007 DALY, degradasi kualitas dan keberlanjutan ekosistem yang ditunjukkan oleh potensi kehilangan ekosistem terestrial sebesar 1,029 × 10-5 species·year, kehilangan ekosistem air tawar sebesar 1,16 × 10-5 species·year, serta kehilangan ekosistem air laut sebesar 4,7 × 10-8 species·year, dan meningkatnya biaya pemulihan sumber daya alam sebesar 0,36 USD. Proyeksi tekanan lingkungan hingga tahun 2040 mengindikasikan peningkatan beban lingkungan yang semakin besar seiring pertumbuhan jumlah wisatawan dan penduduk, apabila tidak dilakukan intervensi kebijakan dan teknologi yang memadai. Pengembangan skenario wisata ramah lingkungan dilakukan untuk mengevaluasi potensi penurunan dampak lingkungan melalui penerapan teknologi dan perubahan praktik pengelolaan. Skenario optimis menunjukkan bahwa implementasi panel surya sebesar 60–70% pada fasilitas akomodasi, penerapan rain water harvesting sebesar 60%, minimisasi dan pengelolaan sampah sebesar 50–74,5%, penyediaan layanan transportasi listrik sebesar 52,3%, penggunaan bahan pangan beras organik sebesar 20%, penggantian kayu bakar dengan sumber energi yang lebih bersih sebesar 100%, serta peningkatan pembelian suvenir ramah lingkungan sebesar 72% mampu menurunkan berbagai kategori dampak lingkungan secara signifikan per wisatawan per hari. Penurunan tersebut mencakup dampak perubahan iklim, konsumsi energi fosil, penggunaan air, serta toksisitas terhadap manusia dan ekosistem. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini menyusun roadmap pariwisata berkelanjutan Kota Bukittinggi periode 2026–2035 dengan pendekatan Three Horizons, yang mencakup tahapan stabilisasi, transformasi, serta integrasi. Roadmap ini menunjukkan bahwa penerapan skenario optimis secara bertahap berpotensi menurunkan dampak lingkungan per wisatawan per hari sekaligus menjaga daya saing destinasi wisata. Secara keseluruhan, hasil penelitian menyatakan bahwa integrasi pendekatan LCA ke dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan pariwisata daerah merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pariwisata Kota Bukittinggi yang berkelanjutan, rendah karbon, dan berdaya dukung jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Nofriya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Hidrologi

RISK QUANTIFICATION OF TAIL STRIKE DURING TAKEOFF PHASE USING SUBSET SIMULATION

Keselamatan penerbangan senantiasa menjadi prioritas utama dalam industri dirgantara. Fase lepas landas merupakan fase yang sangat sensitif terhadap faktor manusia maupun teknis, yang berpotensi menghadirkan risiko langka namun kritis seperti peristiwa tail strike. Meskipun penelitian terdahulu telah meninjau risiko ini, sering kali terdapat keterbatasan dalam mengintegrasikan dinamika terbang dengan teknik probabilitas tingkat lanjut sehingga presisi dari kuantifikasi risiko menjadi terbatas. Penelitian ini menjawab keterbatasan tersebut dengan menerapkan kuantifikasi risiko probabilistik untuk mengevaluasi probabilitas insiden tail strike pada pesawat Boeing 747 saat fase lepas landas. Tujuan penelitian ini dicapai melalui pengembangan model dinamika untuk menghitung tail clearance serta penetapan limit state function, ????(????), yang didefinisikan sebagai tail clearance, di mana ????(????)?0 mendefinisikan sebuah kegagalan. Dengan menggunakan metode Subset Simulation untuk mengestimasi probabilitas di berbagai kondisi operasional, penelitian ini memperoleh nilai probabilitas kegagalan, ????????, sebesar 5.63×10?7, yang dikategorikan sebagai extremely remote failure oleh EASA. Hasil dari analisis sensitivitas manual mengidentifikasi bahwa ground speed merupakan faktor risiko utama, di mana rotasi di bawah kecepatan yang seharusnya (under speed rotation) memicu terjadinya tail strike. Selain itu, penggunaan defleksi elevator yang tidak terlalu agresif ditemukan efektif dalam menurunkan probabilitas kegagalan. Sebagai kesimpulan, risiko tail strike dapat dimitigasi secara efektif melalui manajemen kecepatan rotasi dan kontrol pitch yang disesuaikan dengan berat serta konfigurasi pesawat.

2026
👤 Penulis: Rangga Brava Ivanza
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DARI FENOMENA PENURUNAN TANAH DI KAWASAN SEMARANG

Dampak dari fenomena penurunan tanah di kawasan Semarang telah dapat dilihat langsung pada kehidupan sehari-hari, seperti retaknya bangunan, rusaknya infrastruktur, dan meluasnya genangan banjir rob. Berdasarkan data survei GPS yang telah dilakukan sejak tahun 2008-2012, diketahui bahwa Semarang mengalami penurunan tanah dengan laju 0-0,22 m per tahun atau 0-22 cm per tahun. Informasi yang dirasa penting mengenai penurunan tanah di Semarang ini belum ditunjang oleh mudahnya informasi tersebut didapat oleh masyarakat umum atau pihak yang membutuhkan. Untuk itu, diperlukan suatu sistem untuk menjawab kebutuhan tersebut. Penelitian tugas akhir ini mencoba untuk membangun sebuah basis data spasial yang kemudian ditampilkan dalam SIG berbasis web. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu dalam mengorganisasi penyimpanan data spasial dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan informasi terkait penurunan tanah di Kota Semarang. Tahapan penelitian ini terdiri dari pembangunan basis data spasial, pembangunan aplikasi SIG berbasis web beserta pembangunan aplikasi basis data. Hasil dari penelitian ini adalah dibangunnya sebuah SIG berbasis web dari fenomena penurunan tanah di Kawasan Semarang dengan menggunakan perangkat lunak PostgreSQL/PostGIS dan GeoServer. Informasi yang didapatkan dari hasil pembangunan aplikasi ini masih terbatas. Hal ini dikarenakan oleh ketersediaan data-data terkait penurunan tanah di Kota Semarang yang terbatas pula.

2026
👤 Penulis: Resta Artariani
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Infrastruktur 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 55 dari 418
💬