📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenEVALUASI KINERJA SEISMIK JEMBATAN PCI GIRDER TERHADAP PENGGUNAAN BASE ISOLATION LEAD RUBBER BEARING PADA AREA DEKAT PATAHAN DAN TANAH BERPOTENSI LIKUIFAKSI
Jembatan pada Jalur Lintas Pantai Selatan Jawa yang melintasi Sesar Opak memiliki beban lateral yang didominasi oleh aktivitas seismik signifikan dengan kondisi tanah pasir lepas berpotensi likuifaksi. Penelitian ini meninjau efektifitas dari penggunaan Lead Rubber Bearing (LRB) sebagai sistem isolasi seismik pada jembatan di area tersebut. Efektivitas Lead Rubber Bearing (LRB) dievaluasi melalui Non-Linear Time History Analysis (NLTHA) dengan tujuh pasang rekaman gempa yang telah diskalakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi sistem isolasi LRB secara signifikan mampu memodifikasi karakteristik dinamik global jembatan. Periode getar fundamental struktur mengalami perpanjangan dari rentang 0,4–0,6 detik pada model konvensional menjadi 1,6–1,7 detik pada model terisolasi. Perpanjangan periode ini berhasil menggeser respons struktur ke wilayah spektrum dengan percepatan rendah, yang berdampak pada reduksi gaya geser dasar (base shear) hingga 54% pada arah memanjang. Lebih lanjut, pada elemen struktur bawah, penggunaan LRB mampu mereduksi momen pilar (pier leg) hingga 62% pada arah melintang dan menekan nilai deformasi pilar hingga kisaran 70% pada mayoritas pilar. Dalam kondisi tanah terlikuifaksi, sistem LRB terbukti tetap efektif dalam memitigasi peningkatan beban akibat hilangnya dukungan lateral tanah. Evaluasi berdasarkan Performance-Based Seismic Design (PBSD) menunjukkan bahwa sistem isolasi ini mampu meningkatkan level kinerja struktur secara drastis, dari kondisi gagal (melampaui batas Collapse Prevention) pada sistem konvensional, menjadi level Elastic (Immediate Occupancy) pada seluruh pilar jembatan. Efektivitas mekanisme disipasi energi ini terverifikasi melalui kurva histeretik LRB, di mana pelelehan inti timbal (lead core) terbukti mampu menyerap energi seismik secara optimal.
DINAMIKA TEMPORAL JARINGAN TRANSPORTASI UDARA INDONESIA
Air transportation systems are complex, evolving infrastructures whose structural and functional characteristics change over time in response to demand, operational policies, and external disruptions. Traditional static network representations are limited in their ability to capture these temporal dynamics, particularly in archipelagic nations where seasonal migration triggers massive flow reconfigurations. This thesis investigates the temporal evolution of the Indonesian domestic air transportation network using a complex-network and temporal-network modelling approach. The network is constructed as a directed and weighted graph using monthly aggregated passenger data for the year 2018 to generate a sequence of temporal snapshots. A range of network topology metrics, including degree, centrality, and path length, along with Louvain community detection, are evaluated to characterise structural changes and mesoscale organisational stability over time. The results reveal a system defined by "Structural Resilience amidst Dynamic Reconfiguration." While the network successfully absorbed a 30.5% traffic fluctuation (7.50–9.79 million passengers) with minimal change to global topology (Average Path Length < 3.0), significant mesoscale adaptations were identified. Specifically, the Eid al-Fitr period triggered a "Dual-Core Intensification" phenomenon, where airlines activated bypass routes to secondary cities (increasing Betweenness Centrality in Yogyakarta by +46.2% and Semarang by +41.1%) while reinforcing the Eastern hub of Makassar (+3.8%). Furthermore, community detection revealed a demand-driven structural shift, where the network temporarily merged from four clusters to three during the July school holiday peak to accommodate the intense Java-Bali leisure corridor. This study provides a systematic framework for analysing the temporal dynamics of national-scale air transportation networks. It empirically demonstrates that the Indonesian aviation system relies on a stable "Geographic Backbone" (Jakarta-Makassar) to maintain connectivity, while employing a flexible "Economic Periphery" to handle demand shocks. These findings offer actionable insights for network resilience, operational planning, and policy evaluation within the Indonesian aviation system.
KEANEKARAGAMAN MIKROBA LAUT DALAM DI LEPAS PANTAI BARAT LAUT SUMATRA: STUDI METAGENOMIK DAN ISOLASI BAKTERI PSIKROFILIK
Laut dalam Indonesia yang didefinisikan lebih dalam dari 200 m, merupakan wilayah yang sangat luas namun masih minim eksplorasi, meskipun diketahui memiliki keanekaragaman mikroba tinggi dan potensi bioteknologi yang besar. Lingkungan ekstrem seperti tekanan hidrostatik tinggi, suhu rendah, minim cahaya, dan ketersediaan nutrisi yang terbatas membentuk komunitas bakteri dengan adaptasi unik yang berbeda dari mikroba laut dangkal. Minimnya data eksplorasi di wilayah barat laut Sumatra menjadikan kajian awal ini sangat penting untuk memahami struktur komunitas, dinamika ekologis, serta potensi taksa baru yang belum terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi komunitas bakteri laut dalam menggunakan pendekatan metagenomik berbasis gen 16S rRNA full-length serta melakukan isolasi kultur bakteri psikrofilik yang teradaptasi pada suhu rendah sebagai upaya validasi keberadaan mikroba yang terdeteksi secara molekuler. Sampel diperoleh dari tiga stasiun laut dalam dengan variasi kedalaman, yaitu Stasiun 13, 14, dan 18. Pengambilan sampel dilakukan pada kolom air (permukaan, lapisan tengah, dan dasar) serta pada sedimen dengan ketebalan ±5 cm. DNA mikroba diekstraksi menggunakan ZymoBIOMICS™ DNA Miniprep Kit, diamplifikasi dengan primer universal 27F dan 1492R, kemudian disekuensing menggunakan platform Oxford Nanopore PromethION. Tahapan analisis bioinformatika mencakup basecalling, trimming, clustering, klasifikasi taksonomi menggunakan SILVA v138, serta perhitungan diversitas alfa dan beta melalui pipeline QIIME2 dan Epi2Me. Pendekatan kultivasi dilakukan menggunakan media Zobell Marine Broth/Agar 20% yang disesuaikan dengan karakteristik lingkungan oligotrofik, dan inkubasi dilakukan pada 4°C untuk memimik kondisi alami laut dalam. Hasil metagenomik menunjukkan adanya stratifikasi vertikal mikroba yang jelas pada Stasiun 13. Keanekaragaman mikroba meningkat seiring bertambahnya kedalaman, dengan indeks Shannon meningkat dari 1,75 pada permukaan menjadi 3,95 pada lapisan dasar. Pergeseran komposisi komunitas sejalan dengan perubahan kondisi lingkungan: Cyanobacteria mendominasi lapisan permukaan, kelompok heterotrofik seperti Proteobacteria dan Bacteroidota muncul pada lapisan tengah, sedangkan bakteri anaerob dan degradasi sulfur seperti Desulfobacterota dan Chloroflexi menjadi dominan pada lapisan dasar. Analisis sedimen memperlihatkan variasi horizontal antar stasiun. Stasiun 14 menunjukkan richness tertinggi (1209OTU) dan indeks Shannon terbesar, menandakan kompleksitas lingkungan yang lebih tinggi, sedangkan Stasiun 18 pada kedalaman >4500 m hanya memiliki richness 202 namun dengan evenness tinggi, mengindikasikan komunitas kecil yang stabil dan adaptif terhadap kondisi ekstrem. Upaya kultivasi berhasil memperoleh satu isolat psikrofilik dari dasar Stasiun 13. Hasil karakterisasi morfologi, pewarnaan Gram, dan sekuensing 16S rRNA menunjukkan kemiripan 92,06% dengan Rhodococcus fascians, mengindikasikan kemungkinan spesies baru atau garis keturunan bakteri laut dalam yang belum terdokumentasi dalam database referensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas bakteri laut dalam barat laut Sumatra memiliki keragaman tinggi serta struktur komunitas yang dikendalikan oleh gradien lingkungan dan kedalaman. Integrasi pendekatan metagenomik dan kultivasi memberikan gambaran ekologis yang lebih menyeluruh dan membuka peluang untuk eksplorasi potensi bioteknologi dari mikroba laut dalam. Studi ini menjadi pijakan bagi eksplorasi multiomics lebih lanjut untuk mengungkap sumber daya genetik mikroba dari ekosistem ekstrem Indonesia.
INTEGRASI ANALISIS KAUSAL KE DALAM MANAJEMEN RISIKO PENGADAAN: KERANGKA KERJA PENUNJUKAN LANGSUNG PADA BUMN
Penunjukan Langsung merupakan metode pengadaan yang paling umum digunakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, khususnya untuk transaksi non-konstruksi dengan nilai Rp100-200 juta. Namun, manajemen risiko untuk metode ini cenderung bersifat reaktif. Fokus manajemen risiko pada pengadaan ini biasanya hanya menilai pada tingkat keparahan risiko secara individual, tanpa melihat bagaimana risiko saling memengaruhi satu sama lain. Hal ini membuat organisasi menjadi cukup rentan terhadap kegagalan dalam mematuhi aturan, adanya temuan audit, dan inefisiensi anggaran. Tesis ini menyusun kerangka manajemen risiko proaktif untuk pengadaan Penunjukan Langsung di unit Perusahaan pada suatu BUMN di Indonesia, dengan tujuan mencapai target mendekati zero non-conformity. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode campuran (mixed-methods). Data dikumpulkan melalui tinjauan regulasi, data risiko historis internal perusahaan, analisis literatur, dan wawancara semi-terstruktur dengan enam praktisi pengadaan. Responden mencakup pihak-pihak dari unit pengendalian anggaran, penjaminan mutu, operasional pengadaan, dan pengguna. Dari sisi kuantitatif, penilaian Likelihood × Impact konvensional dikombinasikan dengan analisis kausal DEMATEL (Decision Making Trial and Evaluation Laboratory). Keduanya kemudian diintegrasikan melalui Significance Index yang menghasilkan gambaran tingkat keparahan risiko berdampak biaya langsung maupun tidak langsung. Dari sisi kualitatif, Directed Content Analysis digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab menggunakan data dari transkrip wawancara. Kerangka kerja ini mengikuti prinsip manajemen risiko ISO 31000:2018. Hasil analisis memvalidasi adanya delapan risiko kritis. Kelompok Risiko Kriteria Pengadaan mencakup pemilihan dan justifikasi kriteria Penunjukan Langsung, sedangkan Risiko Proses berfokus pada kualitas pelaksanaan dan dokumentasi pada pengadaan. Pemetaan kausal DEMATEL mengklasifikasikan lima risiko sebagai Risiko Penyebab yang mendorong munculnya risiko lain, dan tiga lainnya sebagai Risiko Akibat yang dipengaruhi oleh risiko penyebab. Significance Index menunjukkan bahwa risiko Kebocoran Informasi Anggaran memiliki prioritas tertinggi (SI = 9,06) karena pengaruh kausal dan kontribusi biayanya yang kuat, meskipun tidak memiliki skor keparahan tertinggi. Ini menunjukkan bahwa prioritisasi risiko berbasis keparahan dengan metode konvensional dapat melewatkan risiko yang penting. Dari analisis kualitatif, teridentifikasi 30 sub-kode akar penyebab dalam enam tema. Di antaranya, risiko Kesenjangan Dokumentasi dan risiko Standardisasi terlihat sebagai pola yang memengaruhi beberapa risiko sekaligus. Ditemukan juga rantai kausal dari risiko Kualitas Justifikasi yang Tidak Memadai ke risiko Amandemen Kontrak, yang berarti risiko hilir bisa ditekan dengan menangani penyebabnya di hulu. Kerangka kerja terintegrasi ini mencakup proses identifikasi, analisis, penanganan, dan pemantauan, di mana strategi mitigasi ditentukan berdasarkan klasifikasi kausalnya. Risiko penyebab (Cause risks) ditangani melalui pengendalian preventif yang menyasar akar masalah, sedangkan risiko akibat (Effect risks) dikelola melalui intervensi hulu atau pengendalian detektif-korektif. Pengendalian yang diusulkan ini diproyeksikan mampu menurunkan skor risiko inheren rata-rata sebesar 37%. Secara khusus, standardisasi template justifikasi menjadi solusi yang efisien karena mampu memitigasi berbagai risiko sekaligus. Selain itu, alur implementasi tiga fase beserta metrik keberhasilannya turut disusun untuk mendukung adopsi sistem yang selaras dengan kapasitas organisasi saat ini. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan mendemonstrasikan penerapan analisis interdependensi kausal dalam manajemen risiko pada pengadaan, serta pemanfaatan Significance Index sebagai metode prioritisasi risiko secara hibrida. Secara praktis, kerangka kerja ini menawarkan intervensi konkret bagi organisasi yang menjadi objek studi, di mana metodologinya dapat diadaptasi untuk proses pengadaan di BUMN sejenis. Kendati temuan riset ini bersifat spesifik pada konteks kasus tersebut, pendekatan analitis yang digunakan tetap dapat direplikasi pada lingkungan dengan regulasi serupa.
MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMASARAN YANG EFEKTIF UNTUK MENARIK DAN MEMPERTAHANKAN PENGUNJUNG: STUDI KASUS SELASAR SUNARYO ART SPACE
Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) yang beroperasi lebih dari 20 tahun dalam Kota Kreatif UNESCO Bandung menghadapi tantangan keterlibatan pengunjung yang mempengaruhi institusi budaya, yaitu ketidakkonsistenan kehadiran, jangkauan demografis terbatas (terutama terdiri dari profesional muda dan individu berkaitan dengan seni), dan kurangnya kesadaran di luar audiens saat ini. Penelitian ini menyelidiki aktivitas pemasaran saat ini, motivasi pengunjung, dan kesenjangan misi SSAS yang tidak terpenuhi menggunakan penelitian metode campuran yang terdiri dari survei (n=162), wawancara dengan pengunjung dan non-pengunjung (n=11), data institusional, dan laporan publik melalui bauran pemasaran 7Ps, STP, dan teori perilaku pengunjung. Analisis menunjukkan bahwa pemasaran bersifat reaktif tetapi tidak strategis, terlihat pada Instagram yang tidak memiliki konten konversi. Kesenjangan infrastruktur meliputi kurangnya petunjuk lokasi dan bantuan interpretatif yang terbatas. Penargetan terjadi secara implisit dibandingkan eksplisit. Meskipun SSAS memiliki keunggulan unik termasuk keunikan arsitektur, perbukitan alami, lingkungan kontemplatif, pemasaran tidak sejalan dengan keunggulan eksperiensial ini. Rencana yang diusulkan memposisikan SSAS sebagai pelarian kontemplatif alihalih galeri klasik dan berfokus pada para Pencari Pengalaman (pengunjung yang mengutamakan pengalaman daripada pengetahuan tentang seni), mengeluarkan program keanggotaan, dan mengatasi kekurangan infrastruktur. Studi ini menunjukkan bahwa strategi berbasis bukti yang dapat dikembangkan oleh organisasi budaya dengan sumber daya terbatas dapat menghasilkan pertumbuhan audiens berdasarkan misi institusional serta meningkatkan keterlibatan komunitas.
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN PENILAIAN KESULITAN KEUANGAN (STUDI KASUS PADA PT ACSET INDONUSA TBK PERIODE 2020–2024)
Industri konstruksi memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia melalui penyediaan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan pembentukan modal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir industri ini menghadapi tekanan keuangan yang semakin besar akibat volatilitas makroekonomi, pengetatan anggaran infrastruktur pemerintah, kenaikan biaya material, serta meningkatnya intensitas persaingan. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan keuangan perusahaan konstruksi berbasis proyek yang memiliki fleksibilitas harga terbatas dan tingkat eksposur yang tinggi terhadap risiko pembengkakan biaya. PT Acset Indonusa Tbk (ACST) merupakan salah satu contoh menonjol dari penurunan kinerja keuangan yang berkepanjangan, yang ditandai dengan kerugian persisten, melemahnya struktur permodalan, serta meningkatnya ketergantungan terhadap liabilitas, sehingga relevan untuk dianalisis secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan ACST dan menilai tingkat financial distress yang dialami selama periode 2020–2024. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus manajerial, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan melalui analisis rasio keuangan dan analisis DuPont, (2) menilai tingkat financial distress menggunakan model prediksi kebangkrutan yang telah mapan, (3) mengidentifikasi faktor-faktor keuangan utama yang berkontribusi terhadap kelemahan struktural dan kerugian berkepanjangan, serta (4) merumuskan solusi bisnis berbasis bukti untuk mendukung pengambilan keputusan manajerial dan keberlanjutan jangka panjang. Penelitian ini didasarkan pada proposisi bahwa kerugian berkepanjangan dan erosi modal merupakan pendorong utama terjadinya financial distress pada perusahaan konstruksi berbasis proyek yang beroperasi dalam lingkungan persaingan dan tekanan biaya yang tinggi. Untuk memberikan konteks strategis, penelitian ini mengintegrasikan analisis lingkungan eksternal dan industri menggunakan kerangka PESTEL dan Porter’s Five Forces. Analisis keuangan internal dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang bersumber secara eksklusif dari laporan keuangan konsolidasian ACST yang telah diaudit untuk periode 2020–2024. Kinerja keuangan dievaluasi melalui rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas, sementara analisis DuPont digunakan untuk menguraikan Return on Equity (ROE) ke dalam komponen profitabilitas, efisiensi aset, dan leverage keuangan. Penilaian financial distress selanjutnya dilakukan menggunakan model Altman Z-Score, Ohlson O-Score, dan Zmijewski XScore. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ACST mengalami kondisi financial distress yang berkelanjutan sepanjang periode pengamatan. Rasio profitabilitas yang secara konsisten bernilai negatif mencerminkan ketidakmampuan perusahaan dalam menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai atas aset dan ekuitasnya. Analisis DuPont menunjukkan bahwa nilai ROE yang tidak normal pada tahuntahun tertentu lebih disebabkan oleh kondisi ekuitas negatif dibandingkan oleh perbaikan kinerja operasional. Indikator likuiditas dan solvabilitas juga menunjukkan keterbatasan fleksibilitas keuangan jangka pendek serta struktur permodalan yang rapuh akibat akumulasi kerugian. Analisis pembandingan terhadap PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dan Obayashi CoRporation menunjukkan bahwa kondisi keuangan ACST secara struktural lebih lemah dibandingkan dengan perusahaan sejenis baik di tingkat domestik maupun internasional, yang mengindikasikan bahwa financial distress yang dialami bersifat struktural, bukan siklikal. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan solusi bisnis terintegrasi yang berfokus pada restrukturisasi modal untuk memulihkan solvabilitas, penguatan tata kelola risiko proyek untuk mencegah erosi margin, serta optimalisasi modal kerja guna meningkatkan likuiditas jangka pendek. Solusi tersebut diimplementasikan melalui rencana implementasi bertahap yang memprioritaskan stabilisasi keuangan dalam jangka pendek, disiplin operasional dalam jangka menengah, dan ketahanan struktural dalam jangka panjang. Penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen keuangan terapan dengan menunjukkan kerangka terintegrasi yang mengombinasikan analisis strategis eksternal, diagnostik keuangan internal, dan pembandingan lintas perusahaan dalam penanganan financial distress pada perusahaan konstruksi berbasis proyek, serta memberikan implikasi praktis bagi pemulihan koRporasi dan peningkatan kinerja yang berkelanjutan.
MODEL KONSEPTUAL GENETIK REE (RARE EARTH ELEMENTS): INTEGRASI PENDEKATAN GEOKIMIA, MINERALOGI, DAN PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS KALIMANTAN BARAT, SULAWESI BARAT, DAN BANGKA-BELITUNG)
Rare earth elements (REE) merupakan komoditas strategis untuk teknologi maju dan transisi energi. Di Indonesia, REE banyak dijumpai pada sistem pelapukan granitoid di lingkungan tropis, tetapi keterkaitan antara sumber, proses pelapukan, media retensi, dan sebaran spasialnya masih terbatas. Penelitian ini menyusun model konseptual genetik REE pada Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Bangka–Belitung melalui integrasi geokimia (XRF dan ICP-MS), mineralogi (petrografi/mineragrafi dan XRD), serta pengindraan jauh (Sentinel-2). Mineral pembawa REE dominan yang teridentifikasi meliputi monazite, allanite, zircon, xenotime, serta fase sekunder (kaolinite–halloysite dan oksida/hidroksida Fe–Al) sebagai media retensi. Data geokimia yang heterogen dianalisis menggunakan PCA, korelasi non-parametrik (spearman), dan klasterisasi untuk mengungkap asosiasi REE dengan derajat pelapukan dan fase mineral pembawanya pada horizon O–A–B–C. Hasil menunjukkan dua sistem utama: (i) ion-adsorption pada regolit granitoid (Kalbar–Sulbar–Bangka) yang dikontrol pelepasan REE dari mineral aksesori dan retensi pada lempung/oksihidroksida, serta (ii) placer/pengolahan di Bangka–Belitung yang menghasilkan anomali lokal sangat tinggi akibat pengayaan mineral berat. Secara spasial, integrasi NDVI sebagai kontrol vegetasi dan Clay Mineral Index (CMI) sebagai indikator relatif lempung/alterasi digunakan untuk menyeleksi zona permukaan yang berpotensi, dan diverifikasi dengan data mineralogi–geokimia. Model konseptual yang dihasilkan menjelaskan mekanisme pembentukan, pengayaan, serta pola distribusi REE secara vertikal dan lateral pada wilayah studi.
STUDI TEKNO-EKONOMI UNTUK FLUID COLLECTION AND REINJECTION SYSTEM PADA LAPANGAN PANAS BUMI
Penelitian ini mengembangkan kerangka terpadu Front End Engineering Design (FEED) dan analisis tekno-ekonomi untuk mengevaluasi kelayakan Fluid Collection and Reinjection System (FCRS) pada lapangan panas bumi dengan kapasitas target 50–55 MW. Kajian teknis dilakukan melalui pemodelan neraca massa dan energi menggunakan Aspen HYSYS versi 14, dengan kondisi operasi meliputi laju uap 430–460 ton/jam, tekanan keluaran 5,3–5,5 bar(a), dan temperatur 140–150 °C guna menjaga kualitas uap turbin, mengendalikan risiko silica scaling, serta memastikan keandalan operasi jangka panjang. Hasil simulasi digunakan sebagai dasar sizing dan spesifikasi peralatan utama FCRS, termasuk separator, silencer, cooling pond, steam trap, pompa, serta konfigurasi dan material sistem perpipaan. Estimasi Capital Expenditure (CAPEX) dilakukan menggunakan pendekatan bottom-up. Pada skenario FCRS saja, hasil FEED menunjukkan CAPEX sebesar USD 13,86 juta dengan kinerja subsistem yang optimal. Namun, ketika FCRS diposisikan sebagai bagian dari proyek panas bumi greenfield, di mana FCRS merepresentasikan sekitar 10–15% dari total CAPEX, maka total investasi proyek terimplikasi berada pada kisaran USD 92–138 juta. Mengacu pada tolok ukur sektor panas bumi Indonesia sebesar USD 3.800–4.200 per kW, total CAPEX yang lebih realistis berada pada kisaran USD 209–231 juta. Pada tingkat investasi tersebut, hasil analisis ekonomi menunjukkan penurunan signifikan indikator keekonomian, dengan IRR turun dari 13,6% (skenario FCRS saja) menjadi sekitar 8% pada CAPEX USD 150 juta, serta 6–7% pada CAPEX USD 200–220 juta, disertai NPV negatif hingga USD 25–40 juta dan payback period yang memanjang hingga 15– 18 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tarif panas bumi eksisting sebesar 8,07 sen USD/kWh belum memadai untuk mendukung pembiayaan proyek apabila seluruh biaya pengeboran dan pembangkit listrik diperhitungkan
SILIKA MESOPORI KIT-6 DAN KARBAN MESOPORI BERSTRUKTUR NEGATIF KIT-6 SEBAGAI PENYANGGA KATALIS NANOPARTIKEL AU UNTUK REDUKSIP-NITROFENOL
Material mesopori dengan luas pennukaan tinggi, seperti silika KIT-6 dan karbon mesopori menunjukkan potensi besar sebagai penyangga katalis yang efektif karena stabilitas dan kemampuannya memfasilitasi difusi reaktan.Pada penelitian ini, silika mesopori IGT-6 disintesis menggunakan surfak1:an Pluronic Pl 2J dalam suasana asam, yang kemudian digunakan sebagai cetakan untuk mensintesis karbon mesopori (MC) berstruktur negatif KIT-6. Nanopartikel Au dicampurkan pada kedua material penyangga tersebut, sebagai Au-KIT dan Au-MC, untuk mencegah terjadinya aglomerasi pada nanopartikel Au. Keberhasilan pembentukan nanopartikel Au dikonfi11nasi mclalui analisis UV-Vis Diffi1se Refle ctance Spectroscopy (DRS) yang menunjukkan puncak serapan khas nanopartikel Au pada rentang panjang gelombang 500-550 run. Pengujian aklivilas kalaliLik malerial dilakukan melalui reaksi reduksi p nitrofenol yang bersifat toksik menjadi p-aminofenol yang lebih aman menggunakan pereduksi NaBH". Hasil uji katalitik menunjukkan bahwa katalis Au-KIT memiliki perfonna yang lebih unggul dibandingkan Au-MC, di mana reaksi reduksi menggunakan Au-KIT selesai dalam waktu kurang dari 1 menit, sedangkan Au-MC membutuhkan waktu sekitar 7 me11it. Melalui persamaan Arrhenius dan Eyring pada basil uji katalitik Au-KIT dan Au-MC dcngan variasi suhu, diperoleh parameter kinetika reaksi secara berurutan Eobs (60,68 dan 196,iO kJ/mol), Hi (58,23 dan 194,24 kJ/mol), si (-0,044 dan 0,297 kJ/mol.K), dan Gt (71,51dan 74,97 kJ/mol). Studi kinetika yang dilakukan mengindikasikan bahwa material mesopori basil sintesis dapat digunakan sebagai material penyangga katalis Au. Penentuan mekanisme reaksi menggunakan persamaan Arrhenius dengan variasi konsentrasi p-nitrofenol dan NaBH4 pada rcduksi p-nitrofcnol mcnunjukkan bahwa kedua katalis mcngikuti mekanisme reaksi Langmuir-Hinshelwood.
ANALISIS STRATEGI BISNIS STARBUCKS INDONESIA BERDASARKAN PERSEPSI KONSUMEN DI WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYA
Studi ini bertujuan untuk menganalisis strategi pertumbuhan berkelanjutan Starbucks Indonesia melalui pendekatan strategis bisnis dengan melihat persepsi konsumen, kondisi internal-eksternal perusahaan, dan perumusan strategi ekspansi yang relevan. Masalah tekanan keuangan, pelayanan yang buruk di gerai Starbucks, dan banyaknya pesaing akan menjadi tantangan bagi Perusahaan Starbucks. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang tepat diperlukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan Starbucks. Hal ini membuat studi ini akan fokus pada perancangan strategi bisnis dengan pendekatan model organisasi industri. Studi ini menggunakan pendekatan campuran kuantitatif dan kualitatif. Survei kuantitatif dilakukan pada 128 responden di wilayah Jakarta Raya, dan pendekatan kualitatif melalui analisis PESTEL, Lima Kekuatan Porter, dan bauran pemasaran. Studi ini secara khusus berfokus pada operasional Starbucks Indonesia di wilayah Greater Jakarta (Jabodetabek), karena responden dan dinamika persaingan yang dianalisis terbatas pada cakupan geografis ini. Hasil menunjukkan bahwa Starbucks memiliki kesadaran merek yang tinggi, persepsi premium yang kuat, dan tingkat kepuasan yang positif terhadap kualitas produk, suasana toko, dan pelayanan barista. Namun, harga yang tinggi dan aktivitas promosi digital yang kurang intensif merupakan kelemahan utama. Analisis eksternal mengungkapkan bahwa industri kopi Indonesia sangat menarik dengan pertumbuhan yang cepat, tetapi juga sangat kompetitif karena banyaknya pesaing dan produk pengganti lokal. Kesimpulan studi ini menegaskan bahwa pertumbuhan berkelanjutan Starbucks Indonesia dapat dicapai melalui strategi transnasional yang mengintegrasikan standar global dengan adaptasi lokal, memperkuat keterlibatan digital, berinovasi pada produk lokal, dan meningkatkan pengalaman toko sebagai ruang sosial modern. Strategi ini menjadi dasar untuk ekspansi pasar yang relevan dan berkelanjutan.
ANALISIS KOMPARATIF KEBERLANJUTAN SISTEM BUDIDAYA MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS) ANTARA MODEL TERSPESIALISASI DAN TERINTEGRASI PERMAKULTUR-EDUWISATA (KASUS PADA PT KUJAGA BUMI SEGERA DI KOTA BENGKULU)
Pengelolaan sampah organik berbasis biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) semakin berkembang sebagai solusi alternatif yang berpotensi mendukung keberlanjutan dalam dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Keberlanjutan ekonomi pada budidaya maggot BSF skala kecil dan menengah mendapati masalah biaya operasional yang meningkat, keuntungan yang semakin menurun, dan keterbatasan pasar. Budidaya maggot BSF yang terintegrasi dengan permakultur dan eduwisata menjadi salah satu solusi yang dirumuskan untuk menghadapi tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan sistem budidaya maggot BSF yang terintegrasi dengan permakultur dan eduwisata, serta menyusun rancangan model bisnis berkelanjutan berdasarkan hasil penilaian tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Life Cycle Sustainability Assessment (LCSA) yang mencakup Life Cycle Assessment (LCA) untuk dimensi lingkungan, Social Life Cycle Assessment (S-LCA) untuk dimensi sosial, dan Life Cycle Costing (LCC) untuk dimensi ekonomi. Analisis dilakukan dengan pendekatan sistem terintegrasi yang mencakup unit proses budidaya BSF, kebun, budidaya lele, dan aktivitas eduwisata agrikultur. Hasil analisis keberlanjutan selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC) untuk merancang model bisnis yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem budidaya BSF terintegrasi memiliki kinerja keberlanjutan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem budidaya BSF terspesialisasi pada ketiga dimensi keberlanjutan. Pada dimensi lingkungan, integrasi sistem menerapkan pemanfaatan aliran material secara sirkular yang menurunkan potensi dampak lingkungan melalui substitusi input konvensional dan pengurangan limbah. Pada dimensi sosial, keberadaan aktivitas permakultur dan eduwisata berkontribusi terhadap peningkatan kinerja sosial, terutama melalui aspek edukasi, keterlibatan masyarakat lokal, dan persepsi positif masyarakat terhadap aktivitas budidaya BSF. Pada dimensi ekonomi, integrasi multiproduk meningkatkan diversifikasi sumber pendapatan dan efisiensi biaya operasional sepanjang siklus hidup sistem. Tahapan proses yang teridentifikasi tersebut menjadi titik kritis yang berpotensi dioptimalkan untuk peningkatan kinerja sistem secara keseluruhan melalui rancangan model bisnis berkelanjutan. Rancangan model bisnis berkelanjutan yang dihasilkan menunjukkan bahwa integrasi budidaya BSF dengan permakultur, berupa kolam lele dan kebun pangan, dan eduwisata agrikultur tidak hanya memperkuat proposisi nilai lingkungan dan sosial, tetapi juga meningkatkan kelayakan ekonomi dan ketahanan model bisnis dalam jangka panjang.
PERANCANGAN KERANGKA PENGEMBANGAN ORGANISASI CV PUTRI INTAN KENCANA (JERNIP KENCANA)
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia dengan menyumbang sekitar 61% dari PDB negara dan mencakup lebih dari 97% angkatan kerja Indonesia. Terlepas dari signifikansi ini, banyak UKM di Indonesia mengalami masalah internal serius yang dapat mengancam kelangsungan hidup jangka panjang mereka, khususnya dalam hal suksesi kepemimpinan. Studi ini berfokus pada sebuah UKM di Indonesia bernama CV Putri Intan Kencana (Jernip Kencana), produsen minuman herbal tradisional berbasis di Kuningan, Jawa Barat, yang sedang menghadapi masalah suksesi kepemimpinan akibat keputusan CEO pendiri untuk pensiun. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, studi ini melakukan wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan analisis dokumen untuk menetapkan faktor-faktor organisasi yang menjadi akar penyebab yang dapat mencegah proses suksesi yang sukses. Analisis diagnostik mengintegrasikan tiga kerangka teori yang berbeda: Model Pertumbuhan Greiner yang membantu mengidentifikasi kondisi "krisis kepemimpinan" perusahaan saat ini; Model Bisnis Keluarga Tiga Lingkaran yang mengungkapkan interaksi kompleks dan dominasi absolut logika keluarga; dan Model Berlian Leavitt yang menilai kesiapan operasional di empat variabel berbeda yaitu tugas, teknologi, orang, dan struktur. Studi ini menemukan bahwa ada tiga hambatan internal kritis yang mengancam kelangsungan hidup Jernip Kencana pasca-suksesi: (1) ketergantungan penuh pada pengetahuan tacit CEO pendiri; (2) hierarki organisasi yang tidak berfungsi yang membuat para direktur dan calon penerus tidak memiliki otoritas yang sah; (3) resistensi budaya yang mendalam terhadap formalisasi yang menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai berbasis hubungan jangka panjang mereka. Analisis kesiapan operasional saat ini juga menunjukkan kesenjangan yang parah di keempat variabel tersebut, menunjukkan bahwa perusahaan kemungkinan besar akan runtuh setelah kepergian CEO. Sebagai tanggapan, studi ini mengusulkan kerangka kerja pengembangan organisasi (OD) komprehensif yang terdiri dari 27 intervensi yang dipisahkan menjadi 3 fase terpisah: (1) pembangunan fondasi; (2) pengembangan kemampuan; (3) pengembangan ketahanan organisasi.
MODEL OPTIMISASI TERINTEGRASI UNTUK NESTING 2-DIMENSI DAN PENJADWALAN DUA TAHAP
Penelitian ini berfokus pada pengembangan model optimasi terpadu untuk mengatasi masalah fragmentasi antara proses nesting dan penjadwalan produksi di lingkungan manufaktur PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Permasalahan utama berupa inefisiensi material dan keterlambatan produksi pada lini komponen sayap CN235 diidentifikasi bersumber dari pendekatan tradisional yang menyelesaikan kedua proses secara terpisah. Untuk itu, dirumuskan model Mixed-Integer Linear Programming (MILP) yang mengintegrasikan Two-Dimensional Bin Packing Problem dengan penjadwalan flow shop dua tahap ke dalam satu kerangka matematis dengan fungsi tujuan ganda: meminimalkan jumlah batch sebagai proksi efisiensi material dan meminimalkan total keterlambatan. Model yang dikembangkan mengakomodasi berbagai constraint operasional, termasuk rotasi dan larangan overlapping, serta diimplementasikan menggunakan MATLAB R2022a. Hasil evaluasi melalui studi kasus data riil menunjukkan bahwa model terintegrasi menghasilkan kinerja yang secara signifikan lebih unggul dibandingkan pendekatan konvensional. Model ini berhasil mengurangi jumlah batch dan total keterlambatan secara bersamaan, dengan mengoptimalkan pembentukan batch yang padat secara geometris sekaligus harmonis dari aspek waktu proses. Kebaruan penelitian terletak pada formulasi matematisterpadu yang menyatukan constraint spasial dan temporal dalam satu kerangka solusi, memberikan kontribusi teoretis pada bidang Integrated Process Planning and Scheduling serta kontribusi praktis berupa kerangka kerja yang dapat diadopsi industri manufaktur untuk meningkatkan efisiensi sistem produksi secara holistik.
PERBANDINGAN STOK KARBON PADANG LAMUN DENGAN TINGKAT KONEKTIVITAS EKOSISTEM YANG BERBEDA DI PESISIR PULAU SAPARUA, MALUKU
Padang lamun merupakan ekosistem karbon biru yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon secara jangka panjang. Namun, kapasitas penyimpanan karbon padang lamun sangat bervariasi, dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor biogeokimia dan konektivitas ekosistem pesisir dalam suatu bentang laut (seascape). Konektivitas antar ekosistem, khususnya antara mangrove dan padang lamun, berpotensi memengaruhi struktur komunitas lamun serta sumber dan akumulasi karbon di dalam sedimen, tetapi aspek ini masih jarang dikaji secara komprehensif, terutama di wilayah kepulauan kecil seperti Pulau Saparua, Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan stok karbon padang lamun pada tingkat konektivitas ekosistem pesisir yang berbeda, serta menganalisis keterkaitannya dengan struktur komunitas lamun, kondisi biogeokimia, dan sumber karbon sedimen. Penelitian dilakukan pada tiga lokasi dengan tingkat konektivitas ekosistem mangrove dan lamun yang berbeda, yaitu Porto (konektivitas tinggi dengan mangrove alami), Paperu (konektivitas tinggi disertai tekanan antropogenik tinggi), dan Iha (konektivitas rendah dengan mangrove). Struktur komunitas lamun dianalisis menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), sedangkan biomassa atas dan bawah tanah serta sedimen diambil untuk analisis stok karbon menggunakan metode Loss on Ignition (LOI). Sumber karbon sedimen ditelusuri melalui analisis isotop stabil ?¹³C. Seluruh parameter dianalisis secara komparatif dan diuji keterkaitannya melalui analisis deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tingkat konektivitas ekosistem pesisir tercermin secara nyata dalam variasi struktur komunitas lamun, stok karbon, dan karakter sumber karbon sedimen. Tujuh spesies lamun teridentifikasi di Pulau Saparua, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, dan Halodule pinifolia, dengan keanekaragaman tertinggi ditemukan di lokasi yang terkoneksi dengan mangrove alami. Lokasi dengan konektivitas tinggi, yang umumnya dicirikan oleh perairan semitertutup, didominasi oleh spesies berstrategi persisten, sedangkan lokasi dengan konektivitas rendah dan perairan terbuka didominasi oleh spesies perintis dan ii oportunis. Stok karbon total menunjukkan gradien menurun seiring berkurangnya konektivitas, dengan nilai tertinggi tercatat di Porto (54,47 Mg C ha?¹), diikuti Paperu (45,93 Mg C ha?¹), dan terendah di Iha (33,91 Mg C ha?¹). Lokasi dengan konektivitas mangrove–lamun yang tinggi memiliki stok karbon sekitar 1,6 kali lebih besar dibandingkan lokasi dengan konektivitas mangrove–lamun yang rendah. Perbedaan ini berkaitan erat dengan kondisi biogeokimia sedimen, yang ditandai oleh dominasi fraksi sedimen halus pada lokasi yang berdekatan dengan mangrove. Analisis isotop ?¹³C mengindikasikan bahwa karbon sedimen pada seluruh lokasi didominasi oleh sumber autochthonous dari biomassa lamun, dengan variasi kontribusi karbon allochthonous yang dimodulasi oleh tingkat konektivitas ekosistem dan tekanan antropogenik. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa konektivitas ekosistem pesisir berperan penting dalam meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon biru pada padang lamun melalui pengaruhnya terhadap struktur komunitas dan dinamika sumber karbon sedimen. Temuan ini menegaskan bahwa konektivitas ekosistem perlu dipertimbangkan dalam strategi konservasi dan pengelolaan karbon biru berbasis bentang laut yang terintegrasi.
PERANCANGAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA STRATEGI PENGADAAN DENGAN INTEGRASI KRALJIC PORTFOLIO MATRIX DAN AHP-TOPSIS
Pengadaan jasa konsultansi enjiniring merupakan elemen kunci dalam menjamin ketepatan waktu dan kualitas pelaksanaan proyek ketenagalistrikan di PT PLN Enjiniring. Namun, kinerja pengadaan masih menghadapi permasalahan struktural berupa keterlambatan penyelesaian pekerjaan, tingginya frekuensi amandemen kontrak, serta proses pengambilan keputusan yang belum sepenuhnya berbasis analisis risiko dan dampak strategis. Kondisi tersebut tercermin dari belum optimalnya pencapaian indikator On-Time Delivery (OTD) dan berpotensi menghambat akselerasi proyek ketenagalistrikan nasional sesuai RUPTL 2025– 2034 Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan merancang kerangka pengambilan keputusan strategi pengadaan melalui integrasi Kraljic Portfolio Matrix dan metode Analytic Hierarchy Process (AHP)–Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Metode Delphi diterapkan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi kriteria Supply Risk dan Profit Impact serta kriteria pemilihan supplier sesuai karakteristik pengadaan jasa konsultansi enjiniring. AHP digunakan dalam dua tahapan utama, yaitu untuk menghitung bobot kriteria Supply Risk dan Profit Impact sebagai dasar pemetaan item pengadaan pada Kraljic Portfolio Matrix, serta untuk menentukan bobot kriteria dan sub-kriteria pemilihan supplier pada masing-masing kuadran Kraljic. Selanjutnya, TOPSIS digunakan untuk melakukan pemeringkatan alternatif supplier berdasarkan tingkat kedekatan terhadap solusi ideal pada setiap kategori ii pengadaan. Objek penelitian mencakup pengadaan jasa konsultansi pada infrastruktur transmisi, gardu induk, dan pembangkit di PT PLN Enjiniring Hasil penelitian menunjukkan bahwa item pengadaan PT PLN Enjiniring dapat diklasifikasikan secara sistematis ke dalam empat kuadran Kraljic, yaitu non- critical, leverage, bottleneck, dan strategic, dengan profil risiko dan dampak strategis yang berbeda antara kelompok transmisi dan gardu induk dan pembangkit. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi adanya penambahan dan diferensiasi kriteria pemilihan supplier pada beberapa kuadran Kraljic, yang tidak sepenuhnya tercakup dalam model Kraljic konvensional, sebagai respons terhadap kompleksitas teknis, risiko kinerja, dan kebutuhan kolaborasi jangka panjang pada pengadaan jasa konsultansi enjiniring. Pembobotan menggunakan AHP menunjukkan bahwa kriteria dominan pada setiap kuadran bersifat spesifik dan tidak seragam, sementara hasil pemeringkatan supplier menggunakan TOPSIS menghasilkan urutan prioritas supplier yang berbeda dibandingkan praktik eksisting, sehingga menyediakan dasar pengambilan keputusan pengadaan yang lebih objektif, terukur, dan kontekstual terhadap profil risiko serta kepentingan strategis perusahaan.