π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenKAJIAN PENGARUH JUMLAH TITIK IKAT TERHADAP KETELITIAN POSISI PADA PENGUKURAN GPS MENGGUNAKAN METODE JARING TERTUTUP DANJARING RADIAL
GPS (Global Positiong System) adalah penentuan posisi secara reseksi (ikatan kebelakang) dengan jarak atau pengukuran jarak secara simultan kebeberapa satelit yang koordinatnya telah diketahui. Penentuan posisi menggunakan GPS sangat diperlukan dalam berbagai aplikasi yang berbeda. Metode yang digunakan dalam pengukuran adalah metoda jaring tertutup dan metoda jaring radial dimana berdasarkan SNI 19-6724-2002 bahwa jaring tertutup adalah metode yang seharusnya digunakan dalam survei GPS. Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan Penambahan titik ikat dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dan kinerja dari metode jaring tertutup dan jaring radial terhadap ketelitian posisi yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh dari tugas akhir ini adalah selisih koordinat UTM pada kedua metode tersebut dalam fraksi milimeter sampai centimeter, penambahan titik ikat meningkatkan presisi atau nilai standar deviasi baseline maupun koordinat, metode jaring tertutup 2 titik ikat memiliki nilai terkecil berdasarkan perbandingan sudut jurusan dan jarak terhadap sudut jurusan dan jarak pada terestris dan juga berdasarkan perbandingan nilai transformasi affine metode jaring tertutup 2 titik ikat memiliki nilai terbaik dari semua metode. Dari tugas akhir ini disimpulkan bahwa secara umum metode jaring tertutup 2 titik ikat memiliki ketelitian posisi lebih baik.
IMPLEMENTASI INDOBERT UNTUK PREDIKSI SENTIMEN REAL-TIME PADA ISU PUBLIK DI TWITTER
Twitter merupakan salah satu platform media sosial yang banyak digunakan masyarakat untuk menyampaikan opini dan respons terhadap isu publik secara cepat, sehingga diperlukan metode yang mampu memantau kecenderungan sentimen masyarakat secara real time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen masyarakat pada platform Twitter menggunakan algoritma IndoBERT dengan tiga variasi aktivasi, yaitu No Activation, GELU, dan Tanh, guna memberikan gambaran kecenderungan isu publik terhadap suatu topik. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data tweet melalui proses crawling berdasarkan kata kunci tertentu, pelabelan data ke dalam kategori sentimen positif, netral, dan negatif, kemudian dilakukan fine-tuning model IndoBERT pada dataset berlabel. Model yang dihasilkan diimplementasikan ke dalam sistem berbasis antarmuka untuk memproses data Twitter dan menghasilkan prediksi sentimen secara langsung. Evaluasi dilakukan tidak hanya menggunakan hasil prediksi sentimen, tetapi juga dengan analisis perilaku keyakinan model melalui confidence score, logit margin, serta distribusi entropy untuk mengukur tingkat ketidakpastian prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IndoBERT dengan tiga variasi aktivasi mampu digunakan untuk prediksi sentimen secara real time dan memberikan gambaran kecenderungan sentimen masyarakat terhadap topik yang dianalisis. Perbedaan aktivasi memengaruhi karakter prediksi, terutama pada kestabilan output dan tingkat ketidakpastian, di mana Tanh cenderung menghasilkan prediksi lebih stabil, GELU lebih kuat dalam membentuk keputusan tegas pada sampel yang jelas, dan No Activation lebih sering berada pada kondisi borderline pada teks ambigu. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa IndoBERT dengan variasi aktivasi dapat digunakan sebagai solusi analisis sentimen real time untuk memantau opini publik pada isu tertentu di Twitter.
INTEGRATED HYDRODYNAMIC AND THERMAL MODELING TO ANALYZE THE INFLUENCE OF JETTY STRUCTURES AND POWER PLANT DISCHARGE AT THE JAVA 7 COAL-FIRED POWER PLANT, SERANG, BANTEN, INDONESIA
Wilayah pesisir yang menjadi lokasi infrastruktur pembangkit listrik skala besar dicirikan oleh interaksi kompleks antara dinamika laut alami dan struktur rekayasa. Operasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara di wilayah pesisir menghasilkan pembuangan panas secara kontinu melalui sistem air pendingin, sementara infrastruktur pendukung seperti jetty memberikan batasan fisik terhadap sirkulasi perairan. Kombinasi pengaruh tersebut berpotensi mengubah kondisi hidrodinamika lokal, memengaruhi distribusi suhu dan salinitas, serta memodifikasi proses pencampuran di perairan sekitarnya. Oleh karena itu, analisis yang komprehensif dan terintegrasi terhadap proses-proses tersebut menjadi penting untuk mendukung pengelolaan operasi pembangkit listrik pesisir yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. PLTU Java 7 yang berlokasi di perairan pesisir Serang, Banten, Indonesia, memiliki peran strategis dalam memasok energi listrik untuk Pulau Jawa. Pembangkit ini menggunakan air laut sebagai media pendingin yang kemudian dibuang kembali ke lingkungan laut dengan suhu yang lebih tinggi. Selain itu, struktur jetty dibangun untuk mendukung kegiatan transportasi bahan bakar dan operasional pembangkit. Meskipun infrastruktur tersebut sangat penting bagi operasional pembangkit, keberadaannya dapat memengaruhi pola arus serta penyebaran plume suhu dan salinitas yang dihasilkan dari pembuangan air pendingin. Pemahaman terhadap interaksi ini sangat krusial dalam mengevaluasi potensi dampak lingkungan dan sosial di wilayah pesisir sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh struktur jetty dan pembuangan air pendingin terhadap karakteristik hidrodinamika, suhu, dan salinitas di perairan pesisir sekitar PLTU Java 7 menggunakan pendekatan pemodelan numerik terintegrasi. Pemodelan hidrodinamika dua dimensi dilakukan menggunakan MIKE 21 untuk mensimulasikan elevasi muka air, tinggi gelombang signifikan, serta kecepatan arus horizontal rata-rata kedalaman. Model dikembangkan, dikalibrasi, dan diverifikasi menggunakan data observasi yang tersedia untuk memastikan bahwa hasil simulasi merepresentasikan kondisi hidrodinamika wilayah studi secara realistis. Untuk menangkap proses hidrodinamika multiskala secara memadai, diterapkan pendekatan pemodelan bersarang (nested modeling). Model skala regional terlebih dahulu dibangun untuk merepresentasikan dinamika pasang surut, gelombang, dan arus dalam skala besar. Hasil dari model regional ini kemudian digunakan sebagai kondisi batas bagi model lokal dengan resolusi lebih tinggi yang berfokus pada area sekitar pembangkit dan struktur jetty. Pendekatan ini memungkinkan transfer gaya hidrodinamika regional ke dalam domain lokal secara konsisten, di mana pengaruh struktur dan proses pembuangan panas menjadi lebih dominan. Berdasarkan hasil pemodelan hidrodinamika dua dimensi bersarang, model tiga dimensi dikembangkan menggunakan MIKE 3 untuk mensimulasikan distribusi suhu dan salinitas akibat pembuangan air pendingin. Kerangka pemodelan tiga dimensi ini dirancang untuk merepresentasikan stratifikasi vertikal, proses pencampuran, serta perilaku plume dalam kolom air. Kalibrasi dan verifikasi model suhu dan salinitas dilakukan menggunakan data observasi yang tersedia guna mengevaluasi keandalan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur jetty secara signifikan memengaruhi kondisi hidrodinamika lokal dengan mengubah arah dan kecepatan arus di sekitar area pembangkit. Perubahan hidrodinamika ini berdampak pada jalur dispersi serta sebaran spasial plume suhu dan salinitas. Simulasi tiga dimensi menunjukkan bahwa pembuangan panas dapat menyebabkan stratifikasi lokal pada kondisi tertentu, sementara gaya hidrodinamika dan pengaruh struktur mendorong proses pencampuran serta pemisahan plume di area lain. Interaksi antara hidrodinamika, pembuangan panas, variasi salinitas, dan struktur jetty memiliki peran penting dalam mengendalikan perilaku plume termal, yang berimplikasi pada pengelolaan sistem pendingin dan mitigasi dampak lingkungan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemodelan terintegrasi menggunakan MIKE 21 dan MIKE 3 merupakan kerangka yang andal untuk menganalisis proses hidrodinamika dan termal yang saling berinteraksi di lingkungan pembangkit listrik pesisir. Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung kajian dampak lingkungan dan sosial, pengelolaan wilayah pesisir, serta operasi pembangkit listrik yang berkelanjutan, dan dapat menjadi referensi bagi studi serupa di wilayah pesisir lainnya.
KUALITAS TATA KELOLA INSTITUSIONAL DAN TRANSPARANSI PAJAK PERUSAHAAN: PERAN MODERASI TATA KELOLA PERUSAHAAN, BUKTI DARI PERUSAHAAN MULTINASIONAL UNI EROPA VS AS
Transparansi pajak perusahaan semakin menjadi aspek penting dalam pelaporan korporasi. Namun demikian, secara empiris masih belum dapat dipastikan apakah institusi negara asal yang lebih kuat mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi perpajakan secara lebih luas. Skripsi ini menganalisis apakah rule of law dan control of corruption berhubungan dengan transparansi pajak perusahaan, serta apakah kualitas tata kelola perusahaan memperkuat hubungan tersebut, dengan menggunakan sampel perusahaan multinasional terbuka di Uni Eropa dan Amerika Serikat selama periode 2019β2023 dan model panel fixed effects. Hasil penelitian tidak mendukung efek positif yang diprediksi. Rule of law tidak signifikan secara statistik untuk perusahaan AS, tetapi bernilai negatif dan signifikan untuk perusahaan UE, sedangkan control of corruption tidak signifikan secara statistik di kedua kawasan. Efek moderasi juga secara umum tidak signifikan, dengan ditemukan bukti lemah mengenai interaksi negatif rule of law pada perusahaan UE. Studi ini berkontribusi dengan menunjukkan, dalam desain komparatif UEβAS, bahwa kualitas institusional yang lebih kuat tidak selalu menghasilkan transparansi pajak yang lebih tinggi dalam analisis intra-perusahaan.
EKSTRAKSI LOGAM BESI DARI TERAK PELEBURAN TEMBAGA MENGGUNAKAN HYDROGEN PLASMA SMELTING REDUCTION (HPSR)
Tembaga merupakan salah satu logam yang paling penting di dunia dan digunakan secara luas. Pirometalurgi adalah rute yang paling banyak digunakan untuk memproduksi tembaga. Proses peleburan pada temperatur tinggi menghasilkan terak yang merupakan produk samping. Produksi 1 ton tembaga murni akan menghasilkan 2 β 3 ton terak peleburan tembaga. Penimbunan terak dalam skala besar dapat menimbulkan masalah lingkungan. Terak peleburan tembaga mengandung logam-logam bernilai ekonomi, salah satunya adalah besi. Pada penelitian ini, ekstraksi besi dari terak peleburan tembaga dipelajari menggunakan peleburan reduksi plasma hidrogen (hydrogen plasma smelting reduction/HPSR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi durasi peleburan reduksi hidrogen terhadap produk hasil reduksi dan persen ekstraksi Fe dan Cu dalam logam. Serangkaian percobaan yang terdiri dari preparasi dan karakterisasi awal terak peleburan tembaga, proses reduksi dengan HPSR, dan karakterisasi produk hasil reduksi. Terak peleburan tembaga dari PT Smelting Gresik dilakukan karakterisasi awal dengan menggunakan XRD dan XRF. Percobaan reduksi dilakukan menggunakan reaktor HPSR dengan variasi durasi reduksi 30, 60, 120, 240, 360, 480, dan 600 detik, serta menggunakan 1 gram sampel dengan total laju alir gas campuran Ar-80% H2 sebesar 5 liter/menit. Produk hasil reduksi ditimbang kembali untuk mengetahui kehilangan berat akibat proses reduksi. Produk hasil reduksi kemudian dipreparasi dan dilakukan karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope_Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui komposisi kimia dan distribusi unsur pada logam dan terak yang terbentuk. Data ini digunakan untuk mengestimasikan persen ekstraksi Fe dan Cu dalam logam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya durasi reduksi berpengaruh pada peningkatan kehilangan berat sampel dari 14,86% hingga 66,38%. Kadar Fe dalam logam selalu berada di atas 94% pada seluruh variasi durasi reduksi dengan kadar tertinggi sebesar 97,83% pada durasi reduksi 360 detik. Meskipun kadar Cu di logam mengalami penurunan, perubahannya tidak terlalu signifikan dan relatif berada pada rentang 1,21β1,33% pada durasi reduksi 360, 480, dan 600 detik. Persen ekstraksi Fe mulai melampaui 99% pada durasi reduksi 480 detik dan mencapai nilai tertinggi sebesar 99,43% pada durasi reduksi 600 detik. Sementara itu, persen ekstraksi Cu relatif stabil pada hampir seluruh durasi reduksi, dengan penurunan pada durasi reduksi 60 dan 480 detik. Selain itu, kadar FeO dalam terak menurun dari 36,89% pada durasi reduksi 30 detik hingga mencapai 0,38% pada durasi reduksi 600 detik. Kadar CuO dalam terak cenderung stabil di bawah 0,2%. Maka dari itu, HPSR berpotensi menjadi alternatif teknologi yang ramah lingkungan dalam memproduksi logam besi dari terak peleburan tembaga.
INTEGRITY ANALYSIS OF SUBSEA PIPELINES WITH CRACKS USING THE EXTENDED ELEMENT METHOD (XFEM)
Subsea pipelines are vulnerable to cracks and geometric imperfections like ovality. Standard Fitness-for-Service (FFS) assessments, specifically API 579-1, assume perfectly cylindrical geometries, risking dangerous underestimations of the Stress Intensity Factor . This study evaluates ovality's impact on fracture mechanics and develops a novel correction factor. Through 3D Extended Finite Element Method (XFEM) simulations, a parametric study varied D/t ratios (15-45), ovality (0 - 4%), relative crack depths, and aspect ratios under internal pressure. The baseline model achieved excellent validation against API 579-1 (3.09% deviation). Results reveal ovality significantly amplifies , particularly in thin-walled pipes (D/t = 45) due to secondary bending moments. Thick-walled pipes (D/t = 15) proved generally less sensitive, although specific shallow and elongated flaws exhibited anomalous stress behaviors requiring further numerical validation. Consequently, a new Ovality Correction Factor was systematically formulated by isolating the ovality effectvia multi-variable non-linear regression (2= 0.680), providing a more realisticstructural integrity assessment tool.
ANALISIS KETIDAKPASTIAN KADAR DAN MODEL GEOLOGI MENGGUNAKAN TEKNIK SIMULASI KONDISIONAL PADA ESTIMASI SUMBERDAYA NIKEL DI LOKASI X
Penambangan memerlukan tingkat keyakinan yang tinggi sehingga dibutuhkan metode estimasi yang akurat. Tingkat kesalahan atau penyimpangan dari data reconciliation terhadap data estimasi sering terjadi sehingga mempengaruhi kinerja proses maupun pemanfaatan tambang itu sendiri. Sementara estimasi sumberdaya adalah fondasi keputusan tambang namun sering mengalami deviasi. Estimasi yang dianggap terbaik saat ini yaitu metode Ordinary Kriging (OK) mengalami efek smoothing dan underestimated ketidakpastian, sedangkan ketidakpastian domain geologi sering diabaikan padahal berdampak signifikan pada tonase dan kadar. Penelitian ini mengembangkan Internal Confidence Framework (ICF) berbasis simulasi kondisional untuk mengintegrasikan ketidakpastian kadar dan domain guna klasifikasi sumberdaya berbasis risiko. Metode meliputi Sequential Gaussian Simulation (SGS) dengan metrik Relative Uncertainty 90 (RU90), Sequential Indicator Simulation (SIS) untuk domain, serta integrasi melalui prinsip weakest link. Hasil menunjukkan ICF konsisten antar domain yang berbeda pada Relative Kriging Standard Daeviation (RKSD) yang inkonsisten. Data yang berisi analisa kimia nikel laterit dan juga spasialnya menghasilkan hubungan spasi data dengan ketidakpastian terkonfirmasi negatif kuat, dengan peningkatan spasi 25 menjadi 100 m meningkatkan RU90 59% pada limonit (0,22 menjadi 0,35) dan 78% pada saprolit (0,41 menjadi 0,73). OK menghasilkan smoothing kuat dengan penurunan varians 61% pada nikel saprolit, sementara simulasi mempertahankan varians data dan mengungkapkan ketidakpastian domain sebagai weakest link. Penelitian menegaskan keunggulan ICF dalam merefleksikan realitas geologi melalui multiple realization. Implikasi praktisnya, ICF memungkinkan risk-based mine planning, optimasi infill drilling, serta pelaporan sumberdaya sesuai standar di Indonesia.
PENENTUAN PARAMETER KETIDAKCOCOKAN (MISMATCH) IMF MENGGUNALKAN GALAKSI PELENSA DARI SISTEM LENSA GRAVITASI EYE OF HORUS
Penelitian ini berfokus pada pemodelan sistem lensa gravitasi dengan dua sumber latar belakang yang dikenal sebagai Double Source Plane (DSP). DSP merupakan sistem yang memungkinkan pengukuran kosmologi yang lebih akurat, dengan memberikan informasi dari dua sumber latar belakang yang memiliki redshift berbeda. Sistem yang dipilih untuk studi ini adalah Eye of Horus (EoH), sebuah sistem lensa gravitasi kuat yang ditemukan pertama kali pada survei Hyper Suprime-Cam Subaru Strategic Program. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji distribusi massa galaksi pelensa menggunakan data fotometri dan spektroskopi, serta menganalisis struktur keseluruhan dari EoH dengan menggabungkan pemodelan distribusi massa dan analisis dinamika sistemnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode rekonstruksi lensa parametrik menggunakan perangkat lunak glafic, yang menggabungkan data fotometri dari Hubble Space Telescope dan data spektroskopi dari Sloan Data Sky Survey (SDSS). Pemodelan ini melibatkan komponen-komponen massa galaksi dengan profil Hernquist, NFW, dan model sumber dengan profil SΒ΄ersic. Penelitian ini juga mempersiapkan analisis lebih lanjut untuk memahami kontribusi materi gelap melalui studi dinamis menggunakan data spektroskopi yang tersedia. Hasil pemodelan menunjukkan dominasi materi gelap pada total massa galaksi lensa. Validasi dilakukan melalui analisis spektroskopi menggunakan pPXF, yang menghasilkan dispersi kecepatan bintang sebesar 336,49 Β± 41,67 km/s. Massa dinamis galaksi yang dihitung dibandingkan dengan massa bintang dari pemodelan lensa, menghasilkan parameter mismatch ?IMF = 2,09Β±0,52, mendekati Initial Mass Function (IMF) Salpeter. Temuan ini mengindikasikan bahwa EoH memiliki populasi bintang bermassa rendah yang lebih banyak dibandingkan prediksi IMF Chabrier, selaras dengan kecenderungan pada galaksi masif di redshift menengah.
EVALUASI DAMPAK PELATIHAN DI BAWAH PROGRAM DESA BAKTI BCA TERHADAP KAPABILITAS DAN HASIL EKONOMI DI DESA WISATA HIJAU BILEBANTE
Studi ini mengevaluasi dampak pelatihan di bawah Program Desa Bakti BCA terhadap kemampuan dan hasil ekonomi peserta di Desa Wisata Hijau Bilebante, Indonesia. Studi ini membahas keterbatasan umum dalam pelaporan CSR, di mana keberhasilan sering digambarkan melalui aktivitas dan hasil daripada perubahan penerima manfaat yang terukur. Menggunakan desain retrospektif satu kelompok sebelum-sesudah, studi ini menafsirkan temuan melalui perspektif model logika, yang didukung oleh ISO 26000 dan GRI 203/413. Analisis didasarkan pada tanggapan kuesioner terstruktur dari 31 peserta yang menilai kondisi mereka sebelum pelatihan dan kondisi mereka saat ini setelah pelatihan. Data dibersihkan, dipasangkan, dikodekan, dan dikonversi sebelum analisis validitas, reliabilitas, dan deskriptif. Normalitas dinilai menggunakan uji ShapiroWilk; karena data berpasangan tidak normal, Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon digunakan, sedangkan ukuran efek digunakan untuk menafsirkan besarnya perubahan dan mengevaluasi hipotesis penelitian. Temuan ini mengungkapkan pola peningkatan yang konsisten di seluruh tahapan model logika. Pada tingkat output, rata-rata kelompok meningkat dari 2,153 menjadi 3,911. Di seluruh 42 indikator hasil, skor rata-rata naik dari 2,737 menjadi 4,438, sementara indikator ekonomi berbasis Likert meningkat dari 2,824 menjadi 4,290. Perubahan ini signifikan secara statistik dan didukung oleh ukuran efek yang besar secara seragam. Peningkatan terkuat ditemukan pada pendapatan bruto, kemandirian ekonomi, dan persepsi keamanan peserta dalam menyampaikan pendapat dan memberikan umpan balik program. Secara substansial, hasil penelitian juga menunjukkan peningkatan yang nyata dalam perkiraan pendapatan bruto, yang menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan dikaitkan dengan kesiapan ekonomi dan kondisi mata pencaharian yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa program pelatihan ini menghasilkan peningkatan multidimensional yang bermakna yang melampaui penyampaian pelatihan hingga penguatan kemampuan, partisipasi masyarakat, dan peningkatan ekonomi tidak langsung. Studi ini memberikan bukti praktis untuk akuntabilitas CSR dan memberikan dasar terstruktur untuk penyempurnaan program, pelaporan keberlanjutan, dan replikasi dalam konteks desa wisata lainnya.
EVALUASI DAMPAK LINGKUNGAN DARI REFRIGERAN BER-GWP TINGGI DAN EKSPLORASI ALTERNATIF BERKELANJUTAN UNTUK REFRIGERASI KOMERSIAL DI INDONESIA
Indonesia's commercial refrigeration sector relies heavily on R-404A, a refrigerant with a high Global Warming Potential (GWP) targeted for phase-down under the Kigali Amendment. This study evaluates the thermodynamic performance, technical feasibility, and environmental impact of replacing R-404A with low-GWP alternatives R-407F and R-454C in a 15.00 kW commercial system. Thermodynamic metrics, primarily Coefficient of Performance (COP) and Volumetric Cooling Capacity (VCC), were obtained using Aspen HYSYS simulations. A feasibility assessment compared drop-in versus retrofit scenarios to ensure cooling loads were maintained. Additionally, the study forecasted nationwide direct emissions from 2025 to 2045 and conducted a Total Equivalent Warming Impact (TEWI) analysis to quantify the comprehensive lifecycle carbon footprint. Results indicate that R-407F offers the highest efficiency (COP 1,52) as a viable drop-in replacement. Conversely, R-454C provides a 96% reduction in GWP but operates at a lower efficiency (COP 1,41), requiring a 16,09% compressor capacity upscale (retrofit) to prevent excessive duty cycles. Emission forecasts show that transitioning to R-454C would reduce national direct emissions by 96,41% by 2045. TEWI analysis reveals that while R-407F currently yields the lowest overall lifecycle footprint, R-454C offers superior long-term climate benefits by minimizing the environmental impact of refrigerant leaks. Ultimately, this research provides essential engineering and policy data for Indonesia's transition to sustainable refrigeration.
FORMULASI SERUM NANOSUSPENSI UNTUK MENGURANGI UKURAN PARTIKEL TEMU PUTIH (CURCUMA ZEDOARIA (CHRISTM.) ROSCOE)
Temu puth atau or Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe tanaman yang umum digunakan sebagai bahan pangan dan obat tradisional. Rimpang dari tanaman tersebut mengandung zat kurkuminoid, zat yang umum ditemukan pada genus Curcuma dengan manfaatnya yang melimpah termasuk sebagai antoksidan. Meski temu puth memiliki manfaat yang berlimpah, manfaat tersebut terhambat oleh tngkat kelarutan dalam air yang rendah, terutama berkaitan dengan aktvitas dan permeasinya pada kulit. Tujuan dari penelitan ini adalah mengurangi ukuran ekstrak C.zedoari untuk sediaan kulit. Beberapa metode hadir sebagai opsi untuk meningkatkan permeasi ekstrak tersebut, dengan metode nanosuspensi sebagai metode terpilih. Nanosuspensi tersebut menggunakan satu dari tga jenis ekstrak yang dihasilkan, yang masing-masing memiliki kandungan kurkuminoid dan aktvitas antoksidannya sendiri. Kandungan nanosuspensi yang dihasilkan adalah 1% ekstrak C.zedoaria, 0,2% Cocamidopropil betaine, 2% Tween 20, 2% propilen glikol, dan ditambahkan hingga 100% dengan air. Nanosuspensi yang dihasilkan memiliki tampilan berwarna cukup kuning dan keruh, dengan diameter ukuran partkel 1243.1 nm dan pH 5.8. Nanosuspensi kemudian diuji permeasi yang memperoleh puncak fux pada jam pertama, lalu mengalami penurunan pada jam kedua hingga jam ke-lima dari pengujian.
KUANTIFIKASI RISIKO KETERCAPAIAN TARGET PENERIMAAN IURAN BPJS KESEHATAN DENGAN INTERVENSI KEPESERTAAN
Keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan sangat bergantung pada keseimbangan kondisi keuangan lembaga sehingga pencapaian target penerimaan iuran menjadi fokus utama manajemen risiko. Penelitian ini bertujuan mengembangkan framework kuantifikasi risiko penerimaan iuran menggunakan model deret waktu ARIMAX dengan variabel eksogen jumlah peserta aktif. Proyeksi kepesertaan diperoleh dari mengaplikasikan model rantai Markov yang telah dimodifikasi sedangkan simulasi Monte Carlo diterapkan untuk mengestimasi distribusi penerimaan iuran tahunan dan menghitung peluang ketercapaian target. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ARIMAX mampu menangkap keterkaitan antara dinamika kepesertaan dan penerimaan iuran. Model terbaik untuk data tahun 2022-2024 adalah ????????????????????????(0, 1, 0) dengan nilai MAPE sebesar 1,95% pada data pengujian. Tanpa intervensi tambahan, peluang ketercapaian target Rp168,5 triliun hanya sebesar 37,00%. Dari tiga skenario intervensi yang diuji, skenario peningkatan peserta baru dinilai paling efisien dengan peluang keberhasilan 96,38%. Kerangka kerja ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi manajemen risiko.
ANALISIS UMUR SUDU TURBIN BERDASARKAN PARAMETER CREEP DENGAN METODE ELEMEN HINGGA PADA PLTP LAHENDONG UNIT 1
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berperan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional serta menyediakan suplai listrik yang stabil sebagai sumber energi baseload. Dalam sistem pembangkit ini, turbin uap merupakan komponen utama yang berfungsi mengubah energi termal dari uap panas bumi menjadi energi mekanik yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik melalui generator. Keandalan dan efisiensi operasi turbin sangat bergantung pada kondisi komponen sudu turbin yang bekerja pada kondisi operasi yang ekstrem, yaitu temperatur tinggi, tekanan tinggi, serta lingkungan kimia yang agresif. Pada sistem pembangkit panas bumi, uap yang digunakan untuk menggerakkan turbin sering kali mengandung gas non-kondensabel seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), yang berpotensi menciptakan lingkungan korosif dan mempercepat proses degradasi material. PLTP Lahendong Unit 1 di Sulawesi Utara merupakan salah satu pembangkit panas bumi yang memiliki peran penting dalam sistem kelistrikan regional dengan kapasitas terpasang sebesar 20 MW. Unit pembangkit ini mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2001 dan telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Seiring dengan meningkatnya akumulasi jam operasi, komponen-komponen kritis pada turbin mengalami proses penuaan material yang dapat memengaruhi integritas struktural dan keandalannya. Sudu turbin merupakan salah satu komponen yang paling rentan terhadap kerusakan karena secara langsung terpapar aliran uap berkecepatan tinggi serta berbagai kontaminan kimia yang terkandung di dalam fluida panas bumi. Kondisi ini menyebabkan sudu turbin berpotensi mengalami berbagai mekanisme kerusakan seperti creep, korosi, erosi, fatigue, dan stress corrosion cracking (SCC), yang dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya kegagalan struktural komponen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi pada sudu turbin PLTP Lahendong Unit 1 serta mengevaluasi umur sisa komponen berdasarkan mekanisme degradasi material yang terjadi selama operasi. Pendekatan penelitian dilakukan melalui analisis kerusakan menggunakan data inspeksi Non- Destructive Test (NDT), evaluasi perubahan mikrostruktur material menggunakan metode in-situ metallography, serta analisis numerik menggunakan simulasi metode elemen hingga (finite element method). Analisis tersebut mempertimbangkan parameter operasi aktual pembangkit seperti temperatur uap, ii tekanan operasi, serta durasi operasi yang diperoleh dari data log sheet operasional pembangkit. Metode inspeksi material yang digunakan dalam penelitian ini meliputi berbagai teknik pengujian non-destruktif seperti ultrasonic test (UT), magnetic particle test (MPT), dan penetrant inspection untuk mendeteksi adanya cacat permukaan maupun cacat internal pada material sudu turbin. Selain itu, pengujian metalografi in-situ dilakukan untuk mengamati perubahan mikrostruktur material yang terjadi akibat paparan temperatur tinggi dan tegangan jangka panjang selama masa operasi turbin. Melalui pengamatan mikrostruktur, indikasi kerusakan akibat creep dapat diidentifikasi melalui keberadaan microvoids, cavities, oriented cavities, maupun microcracks yang terbentuk pada batas butir material. Perubahan mikrostruktur tersebut menjadi indikator penting dalam mengevaluasi tingkat kerusakan material dan memperkirakan sisa umur pakai komponen. Hasil analisis menunjukkan bahwa degradasi material pada sudu turbin dipengaruhi oleh kombinasi faktor termal, mekanis, dan kimia dari lingkungan operasi panas bumi. Interaksi antara temperatur tinggi, tegangan jangka panjang akibat gaya sentrifugal turbin, serta lingkungan korosif dari gas-gas non-kondensabel dapat mempercepat proses degradasi material pada sudu turbin yang terbuat dari Martensitic Stainless Steel (SS 410). Dalam kondisi operasi jangka panjang, proses creep dapat menyebabkan pembentukan rongga mikro (microcavities) yang kemudian berkembang menjadi retakan mikro dan retakan makro yang berpotensi menyebabkan kegagalan struktural komponen apabila tidak terdeteksi secara dini. Melalui pendekatan analisis terpadu yang menggabungkan inspeksi material, evaluasi mikrostruktur, serta simulasi numerik, penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi degradasi aktual pada sudu turbin serta estimasi sisa umur operasionalnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penerapan strategi pemeliharaan berbasis kondisi (condition-based maintenance) serta perencanaan pemeliharaan turbin yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, keandalan operasi PLTP Lahendong Unit 1 dapat tetap terjaga sekaligus meminimalkan risiko kegagalan komponen yang tidak terprediksi serta meningkatkan umur pakai aset pembangkit secara keseluruhan.
PEMODELAN PELUANG GOL PADA FUTSAL SATU-LAWAN-SATU MENGGUNAKAN SIMULASI KINEMATIKA DAN GEOMETRI SHOOTING
Penelitian ini memperluas metrik Expected Goals (xG) pada skenario futsal satu- lawan-satu menjadi fungsi probabilitas gabungan spasio-temporal menggunakan Agent-Based Modeling. Melalui metode Monte Carlo berbasis komputasi JavaScript, probabilitas gol dievaluasi dengan mengonfrontasikan kecepatan proyektil (15, 25, dan 35 m/s) terhadap latensi motorik biologis penjaga gawang (200 ms). Perhitungan ruang lintasan diekstraksi secara dinamis menggunakan algoritma bisektor sudut bukaan gawang (open angle) dan terintegrasi dengan Continuous Collision Detection (CCD). Hasil regresi fungsi Sigmoid terhadap data simulasi membuktikan bahwa peningkatan energi kinetik memicu pergeseran drastis pada titik ekuilibrium (peluang gol 50%). Jarak kritis (x0) terdorong mundur dari 9,23 meter pada kecepatan 15 m/s menjadi 19,24 meter pada 35 m/s, sementara ambang batas sudut ( ?0 ) menyusut ketat dari 0,21 menjadi 0,09 radian. Disimpulkan bahwa momentum proyektil ekstrem memicu kelumpuhan reaksi (reaction paralysis) yang secara efektif menetralkan parameter jarak tembak. Peluang gol terbukti merupakan hasil irisan mutlak antara ketersediaan celah geometri dan keunggulan waktu kinematika, di mana sisa probabilitas kegagalan asimtotik murni diakibatkan oleh inakurasi biomekanik penendang (angular noise).
PERANCANGAN KATALOG KOMODITAS TERINTEGRASI TKDN DAN MEKANISME MONITORING DALAM PROSES PENGADAAN DI PT BUMI ENERGI
PT Bumi Energi merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi dan berkontribusi dalam mendukung kebijakan industri nasional melalui praktik pengadaannya. Berdasarkan Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2022, BUMN diwajibkan memprioritaskan pengadaan produk dalam negeri, dengan pengawasan oleh Kementerian ESDM serta BPKP. Meskipun demikian, banyak BUMN, termasuk PT Bumi Energi, masih menghadapi tantangan dalam penerapannya, seperti vendor yang belum memahami cara melakukan selfassessment nilai TKDN, sementara pelaporan perusahaan masih mengandalkan data TKDN yang dideklarasikan sendiri oleh vendor. Selain itu, belum terdapat pedoman teknis yang jelas mengenai penerapan mekanisme monitoring dan sanksi TKDN, padahal hal ini sangat krusial terutama untuk pengadaan strategis. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan PT Bumi Energi sebagai unit analisis. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, telaah dokumen internal dan pedoman kebijakan. Untuk memperoleh wawasan praktik terbaik, dilakukan benchmarking dengan perusahaan hulu migas yang telah menerapkan kebijakan TKDN secara efektif. Analisis difokuskan pada identifikasi kesenjangan dan hambatan implementasi, yang kemudian menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi strategi perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum optimalnya implementasi TKDN dipengaruhi oleh ketiadaan regulasi sektoral yang secara rinci mengatur pelaksanaan TKDN di sektor pertambangan dan minerba, berbeda dengan sektor migas yang telah memiliki ketentuan komprehensif termasuk penerapan sanksi. Perbandingan dengan perusahaan serumpun mengindikasikan tantangan serupa, terutama pada aspek monitoring dan verifikasi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penguatan kemampuan pengguna dalam proses monitoring melalui pendampingan oleh tim P3DN perusahaan. Penelitian ini juga menyarankan pemanfaatan dokumentasi capaian TKDN dari proyek sejenis sebagai referensi penetapan nilai minimum TKDN pada pengadaan berikutnya, dengan catatan spesifikasi dan kondisi pasar tetap relevan.