📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPROJECT MANAGEMENT OFFICE MODEL TO SUPPORT BUSINESS PROCESS POST ORGANIZATION CHANGES: A CASE STUDY OF LAND MATTERS & FORMALITIES
Perubahan organisasi pada ABC Corporation juga berdampak pada Divisi Land Matters & Formalities (LMF). Perubahan terjadi pada beberapa aspek diantaranya perluasan wilayah kerja dan peningkatan jumlah program kerja. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan kompleksitas operasional, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam perencanaan, koordinasi, dan monitoring program kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan organisasi terhadap aktivitas operasional LMF, mengidentifikasi kebutuhan dan ekspektasi internal stakeholder dalam mendukung efektivitas operasional, serta menentukan pendekatan desain kerangka manajemen proyek yang paling sesuai dengan kebutuhan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap internal stakeholder LMF. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis skala Likert yang mengukur persepsi terhadap dampak perubahan organisasi, kebutuhan peran integrasi, dan preferensi model Project Management Office (PMO). Analisis data dilakukan menggunakan uji reliabilitas, statistik deskriptif, analisis korelasi, serta regresi berganda untuk mengidentifikasi model PMO yang paling signifikan dalam menjawab kebutuhan pasca perubahan organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan organisasi berdampak signifikan terhadap kompleksitas aktivitas operasional LMF, khususnya dalam perencanaan dan pemantauan program kerja lintas zona. Pemangku kepentingan internal secara konsisten menunjukkan kebutuhan yang tinggi terhadap peran integrasi, terutama dalam perencanaan terpusat, sistem monitoring kinerja, kejelasan peran dan tanggung jawab, serta sistem kerja yang adaptif. Lebih lanjut, hasil regresi berganda menunjukkan bahwa PMO dengan pendekatan Manajemen Strategis memiliki pengaruh paling signifikan dibandingkan model Control & Monitoring dan Methodology & Competency. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan pembentukan PMO Manajemen Strategis sebagai enabler strategis untuk meningkatkan efektivitas operasional LMF pasca perubahan organisasi. Implementasi PMO ini diharapkan dapat memperkuat integrasi, tata kelola, dan pengambilan keputusan lintas fungsi secara berkelanjutan
PENGARUH BAHAN PENYALUT DAN KONSENTRASINYA TERHADAP KANDUNGAN ZAT BESI, KALSIUM, DAN VITAMIN C DARI BUBUK DAUN KELOR
Kekurangan mikronutrien seperti zat besi, kalsium, dan vitamin C merupakan salah satu masalah gizi utama pada ibu hamil di Indonesia yang berdampak buruk terhadap kesehatan ibu dan janin. Daun kelor (Moringa oleifera) dikenal sebagai sumber alami yang kaya akan ketiga mikronutrien tersebut. Namun karakteristik sensitif vitamin C terhadap panas dan aroma khas daun kelor membatasi penggunaannya secara langsung dalam pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jenis dan konsentrasi bahan penyalut terhadap kandungan zat besi, kalsium, dan vitamin C dalam bubuk daun kelor yang diproses menggunakan metode spray drying. Bahan penyalut yang digunakan meliputi maltodekstrin, whey protein isolate, serta kombinasi keduanya dengan rasio yang divariasikan. Proses mikroenkapsulasi dilakukan untuk meningkatkan stabilitas, daya simpan, dan penerimaan produk akhir. Evaluasi dilakukan terhadap rendemen, kadar mikronutrien, kadar air, higroskopisitas, serta struktur dan morfologi bubuk menggunakan berbagai teknik analisis seperti AAS, UV-Vis spektrofotometri, dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan rasio bahan penyalut memengaruhi retensi nutrisi bubuk daun kelor. Retensi terbaik untuk zat besi (4,5%) dicapai dengan menggunakan whey protein isolate (1:4), kalsium (8,7%) menggunakan campuran maltodekstrin dan whey protein isolate 3:1 (1:2), serta vitamin c (6,21%) menggunakan campuran maltodekstrin dan whey protein isolate 1:3 (1:2). Bahan penyalut dan rasionya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rendemen dan karakteristik bubuk. Tetapi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelarutan bubuk daun kelor yang dihasilkan. Formulasi bahan penyalut dan rasio yang paling optimal adalah whey protein isolate 1:4
PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMBERIAN INSENTIF BERBASIS KONTRIBUSI INDIVIDU DI PERUSAHAAN JASA KONSULTANSI PT X
PT X sebagai perusahaan jasa konsultansi menghadapi tantangan dalam pemberian insentif yang konsisten, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan, karena saat ini kontribusi individu belum tercatat serta terolah secara kuantitatif melalui mekanisme yang terintegrasi. Kondisi tersebut menimbulkan kesulitan evaluasi kinerja konsultan berbasis data aktual proyek, sehingga keputusan insentif masih dipengaruhi subjektivitas dan tidak dapat dilacak. Penelitian ini bertujuan merancang Sistem Pendukung Keputusan (SPK) untuk pemberian insentif berbasis kontribusi individu dengan memanfaatkan data timesheet sebagai sumber bukti aktivitas. Penelitian dilakukan melalui studi pendahuluan dan pemetaan kebutuhan, kemudian mengumpulkan serta mengevaluasi beberapa model insentif dari literatur dan menyeleksinya bersama problem owner untuk memperoleh model yang paling sesuai dengan konteks PT X. Setelah model terpilih, rancangan sistem disusun melalui perancangan struktur timesheet, logika perhitungan insentif yang menggabungkan aspek kontribusi kuantitatif dan kualitatif, serta perancangan antarmuka pengguna dalam bentuk prototipe. Prototipe kemudian diuji melalui simulasi perhitungan serta kegiatan verifikasi dan validasi untuk memastikan kesesuaian aturan, konsistensi alur input–proses–output, dan relevansi keluaran rekomendasi bagi pengambilan keputusan manajerial. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar pengembangan sistem insentif yang lebih adil, transparan, dan berbasis kontribusi aktual dalam lingkungan kerja proyek di PT X.
PEMUTAHIRAN PETA BAHAYA GEMPA BERDASARKAN STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) LAPISAN DANGKAL DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH, INDONESIA
Kota Semarang merupakan wilayah perkotaan dengan tingkat kerentanan gempa yang tinggi akibat pengaruh kombinasi sumber gempa sesar kerak dangkal di sekitar kota dan gempa subduksi megathrust di selatan Pulau Jawa, serta kondisi geologi bawah permukaan yang heterogen. Penelitian ini bertujuan untuk memutakhirkan pemodelan bahaya gempa dan respons tapak seismik Kota Semarang melalui pendekatan terintegrasi berbasis karakterisasi kecepatan gelombang geser (Vs) multiskala. Karakterisasi tapak lokal dilakukan dengan mengintegrasikan hasil pengukuran Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) hingga kedalaman 30 m, microtremor array metode Spatial Autocorrelation (SPAC) untuk struktur lapisan dalam hingga engineering bedrock, analisis mikrotremor HVSR untuk periode dominan tanah (Tdom), serta data bor sebagai validasi. Analisis bahaya gempa probabilistik (PSHA) dilakukan pada kondisi engineering bedrock dengan probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun, diikuti analisis deagregasi untuk mengidentifikasi sumber gempa pengendali pada berbagai perioda spektral. Respons dinamik tanah dimodelkan menggunakan analisis perambatan gelombang nonlinier satu dimensi (NERA) dengan masukan akselerogram hasil spectral matching yang konsisten dengan karakteristik seismotektonik wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amplifikasi getaran tanah di Kota Semarang bersifat bergantung perioda dan tidak semata-mata dikontrol oleh keberadaan tanah lunak dengan sedimen tebal. Pada perioda pendek hingga menengah (T ? 0–0,2 s), amplifikasi signifikan dapat terjadi pada tapak dengan nilai VS30 sedang hingga rendah dan kedalaman engineering bedrock relatif dangkal akibat pengaruh gempa sesar kerak dangkal berjarak dekat serta kontras impedansi dan kompleksitas struktur bawah permukaan. Sebaliknya, pada perioda panjang (T ? 1,0 s), amplifikasi lebih dominan berkembang pada zona dengan sedimen tebal dan periode dominan tanah yang panjang akibat mekanisme resonansi dan respons cekungan, terutama ketika dipengaruhi oleh gempa subduksi bermagnitudo besar. Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi bahaya gempa dan mikrozonasi seismik di Kota Semarang perlu mempertimbangkan interaksi antara karakteristik sumber gempa, kandungan perioda gelombang gempa, dan parameter tapak lokal secara terpadu, dan tidak dapat direpresentasikan secara memadai hanya berdasarkan klasifikasi VS30.
PREDIKSI LOG VP/VS MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING DAN KARAKTERISASI RESEVOIR BERBASIS CPEI PADA ZONA OVERPRESSURE, LAPANGAN BEKAPAI, CEKUNGAN KUTAI
Parameter kecepatan gelombang geser (Vs) merupakan komponen elastik yang sangat penting dalam karakterisasi reservoir, karena berperan dalam penentuan sifat mekanik batuan, evaluasi parameter elastik, serta identifikasi kondisi tekanan bawah permukaan. Namun, keterbatasan data log Vs pada beberapa sumur menyebabkan perlunya upaya prediksi untuk memperoleh informasi elastik yang lebih lengkap dan konsisten pada seluruh interval penelitian. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, penelitian ini melakukan estimasi Vs melalui pendekatan prediksi log Vp/Vs menggunakan metode machine learning yang akan ditransformasi menjadi Vs. Selain pemodelan Vs, penelitian ini juga menganalisis atribut inversi CPEI untuk memahami karakter petrofisika reservoir. Atribut CPEI menunjukkan korelasi sebesar 0.74 terhadap saturasi air dengan parameter n = 0.1, m = 0.2, dan chi = –30. Turunan CPEI terhadap parameter AI dan Vp/Vs digunakan untuk mendapatkan trend kompaksi yang memiliki korelasi terhadap parameter petrofisik yaitu porositas dan volume of shale. Hasil menunjukkan bahwa dCPEI/dVp/Vs memiliki korelasi 0.56 terhadap densitas dan dCPEI/dAI memiliki korelasi 0.7 terhadap volume of shale. Parameter-parameter tersebut kemudian diterapkan pada hasil inversi seismik dan terbukti efektif dalam mengidentifikasi zona reservoir hidrokarbon. Zona reservoir tersebut dicirikan oleh nilai CPEI yang rendah, dCPEI/dVp/Vs yang tinggi, kombinasi dCPEI/dVp/Vs–porositas yang tinggi, serta dCPEI/dAI yang rendah.
PERBANDINGAN PREDIKTIF DEKONVOLUSI DALAM DOMAIN WAKTU (X-T), DOMAIN TAU-P, DAN DESIGANTURE DALAM MENGATENUASI SHORT-PERIOD MULTIPLE PADA DATA SEISMIK LAUT DANGKAL 2D
Multipel periode pendek seringkali jadi masalah dalam data seismik laut yang memiliki waterbottom relatif dangkal. Keberadaan multipel ini menimbulkan ringing berperiode pendek yang memperpanjang wavelet efektif, menurunkan resolusi reflektor primer, serta berpotensi mengganggu interpretasi struktur bawah permukaan. Beberapa metode yang umum digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain prediktif dekonvolusi pada domain waktu (x-t), prediktif dekonvolusi pada domain tau-p (slant stack), serta metode designature. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ketiga metode tersebut dalam menekan multipel periode pendek pada data seismik laut dangkal, sehingga dapat diketahui metode mana yang paling efektif dalam menekan multipel periode pendek. Evaluasi dilakukan berdasarkan analisis autokorelasi, penampang stack, serta spektrum amplitudo dari penampang stack yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan data seismik laut 2D EW0404 lintasan BOL-33 hasil akuisisi kapal R/V Maurice Ewing tahun 2004 yang berada di wilayah Karibia Tenggara-Margin Venezuela. Tahapan pengolahan data meliputi preprocessing data, koreksi amplitudo, serta koreksi normal moveout (NMO) sebelum proses stacking. Selanjutnya dilakukan penerapan metode prediktif dekonvolusi pada domain waktu (x-t) dan domain tau-p, serta metode designature untuk menekan pengaruh multipel periode pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediktif dekonvolusi pada domain waktu (x-t) mampu mengatenuasi multipel periode pendek secara signifikan, akan tetapi masih terlihat residual multiple pada autokorelasi shot gather dan autokorelasi penampang stack. Prediktif dekonvolusi pada domain tau-p memberikan hasil yang paling efektif dalam menekan multipel periode pendek. Sementara itu, metode designature tidak efektif dalam menghilangkan multipel periode pendek. Berdasarkan hasil tersebut, prediktif dekonvolusi pada domain tau-p memberikan hasil paling optimal dalam menekan multipel periode pendek pada data seismik laut dangkal 2D dengan karakteristik serupa.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBER DAYA GAS PADA FORMASI ARANG TENGAH, LAPANGAN HKM, CEKUNGAN NATUNA BARAT
Lapangan HKM yang terletak di Laut Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, merupakan lapangan penghasil hidrokarbon pada Formasi Arang Tengah yang diendapkan pada Miosen Awal hingga Miosen Tengah. Kehadiran hidrokarbon terkonfirmasi melalui data drill stem test (DST) yang menunjukkan adanya aliran gas pada interval FAT-1 dan FAT-2. Pada sumur AR-1, laju alir produksi gas pada interval FAT-1 mencapai 39 MMSCFD pada tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi reservoir berdasarkan hasil analisis stratigrafi dan struktur geologi, menentukan kualitas reservoir berdasarkan hasil analisis petrofisika, serta mengestimasi sumber daya gas pada interval FAT-1 dan FAT-2. Data yang digunakan meliputi laporan dan deskripsi batuan inti, log tali kawat dari lima sumur, data seismik 3D, laporan routine core analysis (RCAL), dan dokumen pendukung lainnya. Analisis fasies menunjukkan bahwa interval FAT-1 terdiri dari sembilan litofasies yang membentuk asosiasi fasies marshes, intertidal flat, distributary mouth bar, dan delta front yang mencerminkan lingkungan tide-dominated delta. Berdasarkan stratigrafi sikuen, interval FAT-1 terendapkan pada highstand system tract, dengan puncak reservoir dibatasi sequence boundary dan dasar reservoir dibatasi oleh flooding surface. Sementara itu, interval FAT-2 terendapkan pada highstand system tract, dengan puncak dan dasar reservoir dibatasi oleh flooding surface. Struktur geologi pada area penelitian adalah antiklin dengan arah barat laut–tenggara. Analisis petrofisika pada lima sumur menunjukkan bahwa interval FAT-1 memiliki ketebalan net pay berkisar 7–100 ft dengan rata-rata 45,07 ft, sedangkan interval FAT-2 berkisar 1–25 ft dengan rata-rata 11,33 ft. Interval FAT-1 memiliki rata-rata net-to-gross 0,40, porositas efektif 0,25, saturasi air 0,27, volume serpih 0,44, dan permeabilitas 1.681,11 mD. Sementara itu, interval FAT-2 memiliki rata-rata netto- gross 0,21, porositas efektif 0,20, saturasi air 0,41, volume serpih 0,43, dan permeabilitas 72,88 mD. Asosiasi fasies distributary mouth bar memiliki properti petrofisika terbaik dibandingkan asosiasi fasies lainnya. Estimasi sumber daya gas dilakukan dengan menetapkan kedalaman lowest known gas (LKG) pada 4.783,0 ft SSTVD untuk interval FAT-1 dan 4.583,7 ft SSTVD untuk interval FAT-2, menghasilkan estimasi sumber daya gas masing-masing 255,3 BCF dan 49,6 BCF.
ANALISIS NUMERIK PENGARUH PENGGUNAAN GURNEY FLAP TERHADAP PERFORMA TURBIN WELLS PROFIL NACA 0020 DI OSCILLATING WATER COLUMN (OWC)
Turbin Wells pada sistem Oscillating Water Column (OWC) mampu mengonversi aliran udara bolak balik menjadi daya poros, namun performanya menurun pada koefisien aliran tinggi akibat stall. Penelitian ini mengkaji modifikasi bilah turbin Wells profil NACA 0020 melalui penambahan Gurney flap pada trailing edge dengan variasi flap height (FH) dan flap width (FW) yang disusun menggunakan RSM–CCD untuk memperoleh konfigurasi yang paling efektif. Simulasi dilakukan dengan CFD kondisi tunak pada ANSYS Fluent untuk ???? = 0,1 hingga 0,350 dan dilanjutkan hingga ????= 0,4 untuk mengamati perilaku pasca stall. Kinerja dievaluasi menggunakan koefisien torsi ????????, koefisien input ????????, dan efisiensi ????, dengan tambahan efisiensi rata rata ???????????? dan koefisien torsi rata rata ????????????????. Hasil menunjukkan Gurney flap meningkatkan torsi pada zona pra stall hingga ????= 0,3. Berdasarkan perbandingan efisiensi rata rata ????????????,dipilih tiga konfigurasi yang memberikan peningkatan paling konsisten pada rentang pra stall, yaitu modifikasi 1, 6, dan 8. Kemudian ketiganya ditinjau kembali menggunakan ????????????????untuk memastikan peningkatan torsi rata rata tetap kuat. Nilai ???????????????? baseline 0,1969 meningkat menjadi 0,2445 (Modifikasi 1), 0,2400 (Modifikasi 6), dan 0,2610 (Modifikasi 8), dengan peningkatan terbesar 32,58 persen pada Modifikasi 8. Modifikasi 8 juga menghasilkan efisiensi rata rata sebesar 52,40% mengalami kenaikan 7,9% dibandingkan dengan kondisi baseline. Pada perluasan kondisi pasca stall, performa bilah termodifikasi bertahan lebih lama dibanding baseline sebelum koefisien torsi berubah menjadi negatif pada sekitar ????= 0,4, yang menandakan batas operasi efektif telah terlampaui.
STUDI PENAMBAHAN BIJIH SAPROLIT UNTUK NETRALISASI ASAM DI PROSES RECYCLE LEACHING PADA LARUTAN ARTIFISIAL HASIL PELINDIAN PRODUK HIGH PRESSURE ACID LEACHING (HPAL)
High-pressure acid leaching (HPAL) merupakan proses pengolahan bijih laterit tipe limonit secara hidrometalurgi yang paling banyak diadopsi secara global. Proses ini memanfaatkan asam sulfat untuk melindi logam pada suhu dan tekanan tinggi (240–270 °C, 33–55 atm) untuk melarutkan nikel dan kobalt dari bijih limonit. Namun, proses HPAL memiliki kekurangan, yaitu besarnya volume limbah padat yang dihasilkan. Untuk setiap ton nikel yang diproduksi, diperkirakan 1,4– 1,6 ton limbah juga dihasilkan. Untuk mengatasi tantangan ini, dilakukan penelitian untuk menguji kemampuan bijih saprolit sebagai agen netralisasi pada proses yang disebut recycle leaching dimana saprolit ditambahkan ke larutan hasil pelindian (pregnant leach solution, PLS) HPAL yang masih mengandung asam bebas. Proses ini mampu menetralkan asam dan sekaligus melarutkan nikel tambahan dari saprolit tanpa memerlukan penambahan asam baru sehingga berpotensi untuk mengurangi penggunaan reagen netralisasi umum seperti kapur dan batu kapur yang berpotensi mengurangi volume limbah padat yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu preparasi, percobaan pendahuluan, dan percobaan utama. Pada tahap pendahuluan, desain percobaan menggunakan metode design of experiment (DoE) full factorial 2³ dengan dua replikasi untuk mengidentifikasi kontribusi masing-masing faktor terhadap konsentrasi asam bebas. Percobaan utama kemudian dirancang menggunakan metode Taguchi Orthogonal Array L? dengan dua replikasi untuk menentukan kondisi optimum. Pelindian dilakukan pada PLS artifisial produk HPAL dalam reaktor leher tiga pada temperatur 95 °C dengan pengadukan 400 rpm. Konsentrasi asam bebas dianalisis menggunakan metode titrasi asam-basa dengan NaOH 0,2 N, sedangkan kadar logam yang terlarut dianalisis menggunakan atomic absorption spectroscopy (AAS). Setelah kondisi optimum ditemukan, dilakukan percobaan lanjutan untuk menentukan persen ekstraksi logam dan kinetika pelindian pada kondisi optimum. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rasio bijih/H2SO4 memberikan kontribusi tertinggi (76,88 %) terhadap penurunan konsentrasi asam bebas, diikuti oleh rasio S/L slurry (15,91 %) dan waktu pelindian (4,52 %). Konsentrasi asam bebas minimum dicapai pada kondisi optimum dengan rasio bijih/H2SO4 1,7 pada rasio S/L 0,43 g/mL dengan waktu pelindian 7 jam dimana diperoleh penurunan konsentrasi asam bebas dari 60 g/L menjadi sekitar 13,6 g/L. Persen ekstraksi logam pada kondisi optimum recycle leaching menunjukkan bahwa magnesium mengalami pelindian paling tinggi, mencapai sekitar 45,10 %, diikuti kobalt sebesar 37,76 %, besi sebesar 34,54 %, dan nikel 21,90 %.
PENENTUAN DESKRIPTOR MOLEKUL SENYAWA TURUNAN 2-ANILINOPIRIMIDIN YANG BERPENGARUH TERHADAP AKTIVITAS INHIBISI FOKAL ADESI KINASE
Kanker ovarium menempati peringkat ke-3 sebagai penyebab kematian akibat kanker. Salah satu penyebabnya adalah resistensi sel kanker terhadap pengobatan kemoterapi yang ada, sehingga dibutuhkan pengembangan obat. Aktivitas Fokal Adesi Kinase (FAK) yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi sel kanker terhadap terapi yang dijalani. Sebuah studi menunjukkan potensi turunan 2-anilinopirimidin sebagai inhibitor FAK. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan model Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas (HKSA) untuk mengidentifikasi parameter fisikokimia yang berperan dalam aktivitas penghambatan terhadap FAK, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengembangan senyawa turunan 2-anilinopirimidin baru dengan nilai IC50 yang lebih baik. Sebanyak 45 senyawa turunan 2-anilinopirimidin dimodelkan dalam bentuk struktur tiga dimensi, kemudian dioptimasi dengan metode Density Functional Theory (DFT) dengan pendekatan fungsi B3LYP dan basis set 6-31G, dan dihitung nilai deskriptor molekulnya dengan menggunakan beberapa perangkat lunak. Data senyawa yang diperoleh dibagi menjadi training set dan test set. Model dibangun dengan training set menggunakan regresi multilinier dan divalidasi secara internal. Tidak ada model akhir yang diperoleh dari penelitian ini karena belum memenuhi seluruh kriteria, akan tetapi, berdasarkan hasil analisis deskriptor pada model yang dihasilkan, deskriptor LogS, Rotbonds, TPSA, HBA, momen dipol, dan polarisabilitas adalah deskriptor-deskriptor yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas inhibisi FAK.
RECOMMENDATIONS AND DEVELOPMENT OF REGULATORY FRAMEWORKS FOR THE CERTIFICATION OF ELECTRIC PROPULSION SYSTEMS IN ADVANCED AIR MOBILITY AIRCRAFT IN INDONESIA
The rapid development of Advanced Air Mobility (AAM) technologies has prompted Indonesia's Directorate General of Civil Aviation (DGCA) to develop a robust national certification framework. This study identifies regulatory requirements for Electric Propulsion Systems (EPS) by benchmarking Indonesian regulations against certification frameworks established by EASA and FAA. In addition, a Functional Hazard Assessment (FHA) is conducted to evaluate potential EPS failure modes in lift-and-cruise eVTOL aircraft. The analysis indicates that AAM certification requirements depend on the architecture of the electric propulsion system and the intended operational scenarios. It also reveals regulatory gaps related to high-voltage electrical hazards, battery thermal runaway, distributed propulsion architectures, and cascade failure mechanisms. The FHA results show that failures such as loss of vertical thrust and energy system failures have high safety criticality, requiring stringent safety and reliability requirements at both aircraft and system levels. Based on these findings, this study recommends the adoption or harmonization with EASA SC-VTOL and SC E-19 or FAA AC 21.17-4 as interim references to support the safe integration of AAM certification in Indonesia.
ANALISIS POLA SPASIAL KENYAMANAN LINGKUNGAN PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN XAI DAN BERBASIS DATA TERBUKA (STUDI KASUS KOTA BANDUNG)
Urbanisasi dan perubahan iklim meningkatkan ketidaknyamanan lingkungan perkotaan di kota-kota negara berkembang seperti Indonesia, termasuk Kota Bandung. Kajian kenyamanan kota di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan dimensi kenyamanan termal dengan infrastruktur data yang terbatas. Penelitian ini mengembangkan Indeks Kenyamanan Lingkungan Perkotaan (Urban Environmental Comfort Indeks/UECI) guna mengidentifikasi pola spasial kenyamanan multidimensi dan menganalisis faktor pendorongnya yang terkait morfologi kota dengan pendekatan Explainable Artificial Intelligence (XAI) berbasis open-source data. UECI disusun sebagai indeks komposit nonkompensatori menggunakan metode Mazziotta–Pareto Index yang mengintegrasikan dimensi termal, kualitas udara, visual, dan persepsi kenyamanan. Untuk memodelkan faktor pendorong, penelitian ini membandingkan model Random Forest dengan model GraphSAGE yang merepresentasikan hubungan spasial dan bentuk kota dalam struktur graf. Hasil pemetaan menunjukkan tipologi kenyamanan yang jelas, di mana kawasan relatif nyaman terkonsentrasi di bagian utara dan timur yang lebih hijau dan berkepadatan bangunan lebih rendah, sedangkan kawasan tidak nyaman dan kritis didominasi oleh koridor permukima dan komersial padat di bagian selatan dan barat. Model GraphSAGE mencapai akurasi sekitar 62% dan melampaui Random Forest dan menegaskan pentingnya konteks spasial dalam memprediksi kenyamanan. Analisis XAI dengan SHAP mengungkapkan bahwa kepadatan dan ketinggian bangunan, jarak ke jalan arteri dan kolektor, kedekatan terhadap badan air, serta intensitas aktivitas komersial berinteraksi secara non-linear, sehingga menuntut strategi penataan ruang adaptif yang sensitif terhadap tipologi kawasan untuk meningkatkan kenyamanan lingkungan perkotaan.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN TOPOGRAFI DIWILAYAH PERTAMBANGAN MENGGUNAKAN LIDAR (LIGHT DETECTION ANDRANGING)
Pertambangan memiliki dampak positif bagi negara. Termasuk sebagai dampak positif adalah sumber devisa negara, sumber pendapatan asli daerah, dan menciptakan lapangan kerja. Namun pertambangan juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif dari pertambangan salah satunya adalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pertambangan yaitu perubahan tutupan lahan, perubahan topografi, dan kerusakan tubuh tanah (Arwan, 2011). Pada penelitian ini hanya difokuskan pada perubahan tutupan lahan dan perubahan topografi. Tujuh puluh persen kerusakan hutan di Indonesia diakibatkan oleh aktivitas pertambangan (Kemenhut) dan laju kerusakan hutan mencapai 1.315.000 Ha per tahun (FAO). Untuk itu perlu adanya monitoring kerusakan lingkungan. Salah satu teknologi yang sedang berkembang saat ini yaitu LIDAR. LIDAR dapat menghasilkan informasi topografi permukaan bumi dalam posisi horizontal dan vertikal. Salah satu keunggulan LIDAR adalah dapat mengakusisi data yang cukup cepat pada area yang luas. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan tutupan lahan dan perubahan topografi pada area pertambangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah vegetasi mengalami penurunan 230.533 hektar pada tahun 2010 sampai 2012. Dan volume topografi meningkat 18 juta m3 karena terdapat akumulasi material di area pertambangan.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI BIOSYNTHETIC GENE CLUSTER DARI ISOLAT G7 ASAL DANAU HALOFILIK GILI MENO, NUSA TENGGARA BARAT
Danau halofilik merupakan ekosistem ekstrem yang berpotensi menjadi sumber mikroorganisme dengan kemampuan adaptasi fisiologis dan molekuler yang unik, termasuk dalam menghasilkan biosynthetic gene cluster (BGC) yang berperan dalam biosintesis metabolit sekunder bernilai tinggi. Danau halofilik Gili Meno yang terletak di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, hingga saat ini belum banyak dieksplorasi dari aspek potensi mikroorganismenya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi potensi metabolit sekunder isolat G7 asal Danau Gili Meno melalui pendekatan genome mining serta karakterisasi aktivitas biologis senyawa metabolit sekundernya. Isolat G7 merupakan salah satu isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari Danau Gili Meno dan ditumbuhkan pada medium Zobell Marine Agar. Pemilihan isolat G7 didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya yang mengidentifikasi empat isolat bakteri (G1, G5, G6, dan G7) melalui analisis gen 16S rRNA. Identifikasi awal menunjukkan keempat isolat termasuk ke dalam spesies yang berbeda yaitu Cytobacillus horneckiae, Bacillus foramis, Bacillus firmus, dan Cytobacillus kochii. Namun, analisis Whole Genome Sequencing lanjutan terhadap keempat isolat menunjukkan bahwa seluruh isolat adalah spesies yang sama yaitu Cytobacillus horneckiae 1P01SC. Isolat G7 dipilih karena memiliki kualitas perakitan genom terbaik dibandingkan isolat lain, ditunjukkan oleh nilai coverage tinggi, jumlah contig lebih sedikit, dan completeness >99%. Penelitian diawali dengan perakitan genom untuk mengidentifikasi secara akurat isolat G7. Hasil Whole Genome Sequencing (WGS) menggunakan Oxford Nanopore Technologies (ONT) GridION kemudian dirakit menggunakan Flye (v2.8.3-b1695) dan menunjukkan bahwa isolat G7 teridentifikasi sebagai Cytobacillus horneckiae dengan ukuran genom sebesar 5.772.037 bp dan tingkat completeness sebesar 99,35%. Genom utuh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan genome mining dengan antiSMASH untuk memprediksi keberadaan dan jenis BGC. Prediksi antiSMASH mengidentifikasi sembilan klaster BGC, meliputi terpene precursor, T3PKS, NRP-metallophore NRPS, azole-containing RiPP, terpene, NRPS, arylpolyene, lassopeptide, dan NRPS-like. Fokus penelitian ini diarahkan pada klaster NRPmetallophore NRPS yang memiliki kemiripan dengan klaster biosintesis siderofor tipe katekolat. Siderofor adalah senyawa pengikat besi dengan potensi aplikasi di berbagai bidang bioteknologi industri dan kesehatan. Karakterisasi potensi metabolit sekunder dilakukan melalui pendekatan fungsional dengan uji aktivitas siderofor menggunakan metode Simple Double-Layer Chrome Azurol S (SD-CAS) agar. Aktivitas siderofor ditunjukkan oleh pembentukan zona halo berwarna oranye di sekitar koloni, yang diukur secara kuantitatif berdasarkan selisih diameter zona halo oranye dan diameter koloni. Selain itu, pertumbuhan bakteri dipantau melalui pengukuran Optical Density (OD) untuk mengevaluasi hubungan antara fase pertumbuhan dan produksi siderofor. Hasil uji SD-CAS menunjukkan bahwa Cytobacillus horneckiae isolat G7 mampu menghasilkan senyawa siderofor. Aktivitas siderofor tertinggi secara signifikan teramati pada fase pertumbuhan stasioner, yaitu pada jam ke-22, dengan nilai rata-rata diameter zona halo oranye sebesar 0,83 ± 0,21 mm. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif antara peningkatan OD dan pembentukan zona halo oranye, yang mengindikasikan bahwa produksi siderofor berkaitan erat dengan regulasi fisiologis sel pada fase stasioner. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa Cytobacillus horneckiae isolat G7 asal danau halofilik Gili Meno memiliki potensi sebagai penghasil siderofor yang dapat dieksplorasi lebih lanjut.
STUDI INTERAKSI IONIK NORFLOKSASIN DAN LEVOFLOKSASIN DENGAN KETOPROFEN TERHADAP POTENSI ANTIBIOTIK DAN AKTIVITAS ANTIINFLAMASI
Norfloksasin dan levofloksasin merupakan antibiotik golongan fluoriquinolon dari generasi berbeda yang umum digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Norlfoksasin memiliki kelarutan yang rendah didalam air, sebaliknya, levofloksasin memiliki kelarutan yang tinggi, meskipun demikian, keduanya sama-sama bersifat tidak stabil terhadap cahaya dan oksigen. Dalam penanganan infeksi, antibiotik seringkali diberikan bersama dengan antiinflamasi, salah satunya adalah NSAID. Ketoprofen merupakan obat golongan NSAID yang banyak digunakan dalam praktik klinis untuk mengelola peradangan dan nyeri yang terkait dengan infeksi bakteri, namun memiliki kelarutan yang rendah didalam air. Penelitian terdahulu melaporkan pembuatan garam multikomponen antara antibiotik dan antiinflamasi dapat meningkatkan sifat fisikokimia, potensi antibiotik, dan aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis, karakterisasi, analisis stabilitas, kelarutan, potensi antibiotik, dan aktivitas antiinflamasi dari garam norfloksasinketoprofen dan levofloksasin-ketoprofen. Pembuatan diagram fase biner digunakan sebagai langkah awal untuk memprediksi jenis interaksi pada sistem multikomponen yang terbentuk dan dan menentukan rasio molar stoikiometri yang tepat, dilanjutkan dengan pembuatan garam multikomponen menggunakan teknik Solvent Drop Grinding (SDG) dengan perbandingan 1:1 yang dikonfirmasi menggunakan elektrothermal, Differential Scanning Calorimetry (DSC), dan Powder X-Ray Diffractometry (PXRD). Selanjutnya, Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) digunakan untuk menganalisis interaksi struktur. Uji stabilitas fisik dilakukan secara organoleptik dalam kondisi terkontrol (25±5°C/RH 70-80%) selama 4 minggu, diikuti dengan pengamatan perubahan struktural menggunakan PXRD. Uji kelarutan dilakukan menggunakan metode spektrofotometer derivatif UV, pengukuran potensi antibiotik menggunakan metode mikrodilusi terhadap bakteri Gram-positif (Staphylococcus aureus) dan Gram-negatif (Escherichia coli), serta uji antiinflamasi in vivo terhadap tikus Wistar. Garam norfloksasin-ketoprofen dan levofloksasin-ketoprofen berhasil disintesis dan dikarakterisasi. Pembentukan garam multikomponen terjadi akibat interaksi ionik antara gugus N-piperazin dari norfloksasin dan levofloksasin dengan gugus karboksilat dari ketoprofen. Garam yang terbentuk terbukti meningkatkan stabilitas norfloksasin dan levofloksasin, begitu pula kelarutan ketoprofen dan norfloksasin. Selain itu, potensi antibiotik dan aktivitas antiinflamasi juga mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian, kedua garam multikomponen ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat baru, disertai dengan uji lanjutan seperti uji toksisitas in vivo dan uji klinis.