📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

ANALISIS VARIABILITAS MUSIMAN FLUKS CO2 DAN ESTIMASI KARBON PADA EKOSISTEM LAMUN DI PERAIRAN JEPARA DAN KARIMUNJAWA

Peranan perairan tropis termasuk Indonesia sebagai CO2 source menjadi perhatian penting untuk memahami apakah lautan Indonesia berkontribusi terhadap pelepasan CO2 ke atmosfer. Walaupun begitu, pelepasan CO2 pada perairan dangkal lebih rendah dibandingkan dengan laut lepas. Hal tersebut dikarenakan pada perairan dangkal terdapat ekosistem karbon biru yang salah satunya adalah padang lamun/seagrass meadows. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan padang lamun dalam menyimpan organic carbon stock seagrass (OCS-SG) maupun organic carbon stock sediment (OCS-S) serta fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa; mengkaji pola harian fluks CO2; menganalisis faktor dominan dalam pengendapan OCS dan nilai fluks CO2; serta melakukan pemodelan hidrodinamika dan biogeokimia perairan menggunakan Massachusetts Institute of Technology general circulation model (MITgcm). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data observasi dan data model. Pengambilan data observasi dilakukan pada musim timur (Agustus 2022) dan barat (Februari 2023) menggunakan metode systematic sampling di perairan Jepara (5 stasiun) dan Karimunjawa (7 stasiun). Analisis OCS-SG dan OCS-S menggunakan metode loss on ignition. Model biogeokimia dan fluks CO2 menggunakan MITgcm dengan periode simulasi 1 Januari 2022–31 Mei 2024. Uji statistik dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), one-way ANOVA, korelasi, dan nonmetric multidimensional scaling. Hasil observasi menunjukkan bahwa jenis lamun dengan OCS-SG tertinggi adalah Oceana serrulata (Jepara) dan Thalassia hemprichii (Karimunjawa). Tingginya OCS-S dan OCS-SG di perairan Jepara (49,6±2,0 dan 19,25±1,84 gCorg m?2 ) dibandingkan Karimunjawa (49,1±1,7 dan 8,98±0,47 gCorg m?2 ) memiliki keterkaitan dengan fluks CO2. Peranan perairan Jepara dan Karimunjawa sebagai CO2 source dengan nilai fluks CO2 musim timur dan barat di perairan Jepara lebih rendah (0,006±0,0006 dan 0,021±0,002 molC m?2 th?1 ) dibandingkan dengan Karimunjawa (0,052±0,003 dan 0,065±0,002 molC m?2 th?1 ). Tingginya fluks CO2 di Karimunjawa dikarenakan adanya tambahan source carbonate di stasiun mangrove yang dekat perairan padang lamun, kalsifikasi dari makroalga Padina pavonica, dan kalsifikasi dari calcareous epifit. Beberapa faktor lainnya turut meningkatkan fluks CO2 seperti suhu permukaan laut (SPL) dan koefisien transfer gas (kwa). Hasil analisis PCA menunjukkan variabel OCS-S dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berbeda tergantung pada lokasi perairan. Di perairan Jepara, OCS-S dominan dipengaruhi oleh dry bulk density (korelasi negatif: r = -0,814 dan p-value < 0,001) dan total suspended solid (korelasi positif: r = 0,811 dan p-value < 0,001). Di perairan Karimunjawa OCS-S lebih dipengaruhi oleh karakteristik biologis lamun, yaitu kerapatan lamun, above-ground biomass dan below ground biomass dengan korelasi sebesar 0,572; 0,569; dan 0,482 dengan p-value < 0,001. Walaupun kedua perairan berperan sebagai CO2 source, stasiun vegetated memiliki nilai fluks CO2 yang lebih rendah dibandingkan stasiun unvegetated. Hal tersebut menunjukkan bahwa lamun memiliki peranan dalam menyerap dan mengurangi karbon anorganik perairan. Hasil analisis PCA menunjukkan fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa saat musim timur dan barat memiliki korelasi positif sangat kuat signifikan dengan kwa. Selain kwa, variabel pCO2sea dan ?pCO2 berkorelasi positif kuat signifikan dan SPL negatif kuat signifikan. Hasil pemodelan MITgcm menunjukkan bahwa nilai fluks CO2 pada daerah studi bervariasi terhadap musim dengan fluks CO2 tertinggi pada musim timur (0,208±0,079 molC m–2 th–1 ) dan terendah pada musim barat (0,016±0,133 molC m–2 th–1 ). Hasil model mampu menjelaskan tingginya fluks CO2 di Karimujawa yang diakibatkan oleh konsentrasi dissolved inorganic carbon yang lebih tinggi dari tambahan source carbonate. Variabilitas biogeokimia dan fluks CO2 di wilayah studi ini dipengaruhi oleh faktor musiman, yaitu perubahan arah arus, kecepatan angin, SPL, dan salinitas secara musiman. Pada musim barat dengan kecepatan angin menguat sehingga terjadi pelemahan stratifikasi bahkan tidak terdapat kedalaman mixed layer depth artinya tidak terdapat stratifikasi yang menyebabkan terjadinya percampuran massa air secara vertikal dari perairan dalam ke permukaan yang menyebabkan terjadinya penurunan suhu perairan, peningkatan nutrien (PO4 tinggi) dan peningkatan produksi fitoplankton ditandai dengan Dissolved Oxygen Phosphate (DOP) dan Dissolved Oxygen (DO) yang tinggi. Sementara itu, pada musim timur dengan kecepatan angin melemah tidak mampu untuk melakukan pencampuran vertikal sehingga terjadi peningkatan suhu perairan, terhambatnya masukan nutrisi secara vertikal ke lapisan mixed layer (fosfat rendah) yang mengakibatkan terjadi penurunan produksi fitoplankton (ditandai dengan DOP dan DO yang rendah). Sementara itu, variabilitas antartahunan (El Niño-Southern Oscillation) tidak memiliki pengaruh signifikan. Adapun kebaruan dari penelitian ini adalah diperolehnya kajian komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pengendapan OCS-SG dan OCS-S serta fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa menggunakan data observasi dan model MITgcm serta keterbatasan dalam pengambilan data observasi dapat terjelaskan dari hasil model MITgcm.

2026
👤 Penulis: Nurul Latifah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

METODE JOB HAZARD ANALYSIS DAN WHAT-IF/CHECKLIST UNTUK IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PEMBANGUNAN ASRAMA GEDUNG C DAN D INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Pada pembangunan asrama gedung C dan D ITB oleh PT X, banyak pekerja tidak menggunakan APD serta banyaknya tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang menyebabkan kecelakaan pada proyek. PT X tidak melakukan identifikasi bahaya dan analisis risko secara terstruktur sehingga akan banyak potensi bahaya terlewatkan dan menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menganalisis risiko, menentukan metode identifikasi bahaya terbaik dan sensitif dalam menentukan skor risiko, menentukan pekerjaan dengan skor risiko tertinggi, dan merekomendasikan tindakan pengendalian. Metode untuk mengidentifikasi bahaya adalah Job Hazard Analysis (JHA) dan What-If/Checklist. Pemilihan metode identifikasi bahaya terbaik menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini adalah bahaya yang didapat dengan JHA adalah bahaya kimia, api/panas, cahaya/sinar las, bising, gerakan, gesekan/kontak dengan alat, listrik, kinetik, getaran, dan tertimpa/terjatuh. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah bahaya gravitasi, gerakan, mekanikal/kinetik, elektrikal, tekanan, temperatur, kimia, radiasi, suara, kontak fisik dengan alat, dan kondisi tidak aman. Risiko bahaya tertinggi metode JHA adalah paparan bising pada pekerja dan pekerja dapat terjatuh dari lantai atap. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah susunan bata ringan terjatuh mengenai pekerja dan susunan keramik terjatuh mengenai pekerja (pengangkutan dengan crane). Dari hasil AHP, What-If/Checklist merupakan metode identifikasi bahaya terbaik untuk PT X. Dari skor total risiko secara keseluruhan, metode What-If/Checklist merupakan metode yang paling sensitif dalam penentuan skor risiko. Pekerjaan dengan skor risiko tertinggi secara keseluruhan pada metode What-If/Checklist dan JHA adalah pekerjaan struktur lantai. Tindakan pengendalian risiko dilakukan pada skor risiko proyek yang termasuk dalam tingkatan risiko very high, priority 1, dan substantial.

2026
👤 Penulis: Cretaceous Fadhal Bamahry
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERUMUSAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL UNTUK MENGATASI TANTANGAN VISIBILITAS PASAR PADA PERUSAHAAN JASA B2B TEREGULASI: STUDI KASUS PT SURYA CIPTA WISESA

Dalam pengadaan B2B saat ini, kehadiran digital telah bergeser dari aktivitas opsional menjadi mekanisme dasar untuk verifikasi legitimasi dan penyaringan pemasok tahap awal, khususnya pada industri dengan kepatuhan regulasi tinggi ketika pembeli mengandalkan informasi digital yang mudah diakses untuk menurunkan persepsi risiko. Penelitian ini mengkaji bagaimana ketiadaan kapabilitas pemasaran digital yang terstruktur membatasi visibilitas pasar pada perusahaan jasa B2B teregulasi, dengan tujuan merumuskan strategi pemasaran digital yang layak dan selaras dengan kapasitas organisasi serta batasan regulasi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus tunggal dengan pendekatan kualitatif, eksploratif, dan interpretatif yang berfokus pada PT Surya Cipta Wisesa, perusahaan jasa transportasi limbah B3 yang didirikan pada tahun 2007 dan telah beroperasi selama lebih dari satu dekade di Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan lima informan, terdiri dari dua pemangku kepentingan internal dan tiga profesional sisi pembeli yang terlibat dalam penyaringan vendor berbasis kepatuhan, serta dilengkapi audit digital pesaing dan telaah dokumen organisasi. Analisis tematik yang mengintegrasikan pengodean deduktif berbasis Resource-Based View, Teori Sinyal, dan kerangka Bain’s B2B Elements of Value, serta identifikasi pola induktif, menunjukkan bahwa tantangan utama perusahaan bukan pada kekurangan operasional, melainkan pada kesenjangan sinyal legitimasi: izin regulasi dan kapabilitas operasional yang bernilai tidak terobservasi secara digital pada tahap penyaringan awal, sehingga memicu eksklusi diam-diam dari daftar kandidat sebelum evaluasi formal dilakukan. Penelitian ini mengusulkan strategi pemasaran digital bertahap dengan pendekatan legitimacy-first yang menekankan infrastruktur minimum yang memadai, serta menawarkan kerangka kerja yang sensitif konteks dan relevan bagi UKM di lingkungan B2B teregulasi pada pasar negara berkembang.

2026
👤 Penulis: Enggal Andhana Aryo Wisesa
🏷️ Digital Marketing 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Regulasi Bisnis

ANALISIS VALUASI EKONOMI JASA EKOSISTEM PENYERBUKAN DAN STRATEGI PENERAPAN PENYERBUKAN TERKELOLA MEMANFAATKAN KOLONI LEBAH TANPA SENGAT (TETRAGONULA LAEVICEPS) PADA SISTEM PERTANIAN BERBASIS TANAMAN BUDIDAYA: STUDI DI PROVINSI JAWA BARAT

Penyerbukan melalui perantaraan serangga merupakan jasa ekosistem yang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Namun, penurunan populasi polinator akibat intensifikasi pertanian, perubahan penggunaan lahan, dan penggunaan pestisida menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan produksi tanaman perkebunan dan hortikultura. Terdapat masalah dalam kuantifikasi nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan pada tanaman perkebunan dan hortikultura. Begitu pula masalah bagaimana menganalisis potensi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah tanpa sengat (Tetragonula laeviceps) di Jawa Barat. Jawaban terhadap masalah tersebut dapat dijadikan dasar pengembangan strategi mengantisipasi fenomena gangguan terhadap jasa ekosistem penyerbukan. Maka dari itu, Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan serangga berdasarkan pendekatan produksi melalui perhitungan Economic Value of Insect Pollination (EVIP) pada komoditas perkebunan dan hortikultura, menganalisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah T. laeviceps dengan perbandingan parameter Revenue - Cost Ratio (R/C) tiap komoditas perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat, serta merumuskan strategi pengelolaan menggunakan analisis SWOT dan model bisnis penyerbukan terkelola yang sesuai dengan kondisi regional menggunakan Business Model Canvas (BMC). Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai EVIP sebesar Rp 51,88 juta/hektar/tahun atau setara 14,35% dari total produksi perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat. Hasil analisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni T. laeviceps menunjukkan peningkatan rata-rata nilai R/C sebesar 31,21%. Pada komoditas dengan Dependency Ratio (D) sedang hingga esensial (0,65–0,95), seperti melon (D = 0,95; ?R/C = 3,81); semangka (D = 0,95; ?R/C = 1,41); alpukat (D = 0,65; ?R/C = 1,35); labu siam (D = 0,65; ?R/C = 1,34); jambu biji (D = 0,65; ?R/C = 1,24); mangga (D = 0,65; ?R/C = 1,24); durian (D = 0,65; ?R/C = 1,15); buah naga (D = 0,65; ?R/C = 1,03); ketimun (D = 0,65; ?R/C = 0,88); dan tomat (D = 0,65; ?R/C = 0,92), mengalami perubahan status kelayakan ekonomi dari tidak efisien (R/C < 1) menjadi efisien (R/C > 1) setelah penerapan penyerbukan terkelola. Penerapan penyerbukan terkelola menunjukkan peningkatan nilai R/C pada komoditas lain seperti sawo (D = 0,65; ?R/C = 1,94); stroberi (D = 0,25; ?R/C = 0,34); dan paprika (D = 0,05; ?R/C = 0,11). Adapun pada komoditas dengan ketergantungan terhadap serangga polinator yang lebih rendah (D = 0,05-0,25) cenderung mengalami penurunan R/C seperti pada jeruk bali (D = 0,05; ?R/C = -1,79); kelapa (D = 0,25; ?R/C = -1,58); dan kelapa sawit (D = 0,05; ?R/C = -1,09). Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan kelayakan ekonomi (?R/C) memiliki hubungan positif dengan tingkat ketergantungan tanaman terhadap polinator. Hasil analisis matriks IE menunjukkan bahwa kondisi eksternal dan internal penerapan penyerbukan terkelola berada pada Sel V, dengan skor IFE sebesar 2,52 dan skor EFE sebesar 2,43, sehingga arah pengembangan yang direkomendasikan adalah hold and maintain. Alternatif strategi dari analisis SWOT diimplementasikan ke dalam model BMC menempatkan petani hortikultura dan perkebunan skala kecil hingga menengah, khususnya yang menerapkan sistem pertanian organik dan greenhouse, sebagai segmen pelanggan utama. Proposisi nilai yang ditawarkan meliputi efisiensi penyerbukan, pengurangan kebutuhan penyerbukan manual, potensi peningkatan kualitas hasil panen, serta kesesuaian dengan prinsip pertanian ramah lingkungan. Sumber pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan atau sewa koloni, tetapi juga dari jasa pelatihan, pendampingan, serta produk turunan lebah, dengan dukungan kemitraan antara kelompok tani, kelompok tani hutan, pemerintah, dan akademisi.

2026
👤 Penulis: Rudy Wahyudi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN DASBOR BUSINESS INTELLIGENCE UNTUK MANAJEMEN PERSEDIAAN BERBASIS PERMINTAAN: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DISTRIBUTOR FARMASI MEDIKLUG

Karakteristik distribusi farmasi adalah variasi produk yang sangat beragam dan permintaan produk yang bervariasi bergantung pada pelanggan, sehingga sangat penting untuk memastikan persediaan berada di tempat dan waktu yang tepat agar operasional berjalan efektif. Hal ini dikarenakan keputusan persediaan yang tidak tepat dan tidak mencerminkan penggunaan aktual produk dan layanan oleh pelanggan biasanya mengakibatkan kekosongan stok (stock-outs) pada barang dengan permintaan tinggi, kelebihan stok pada barang dengan permintaan rendah, tingginya hari persediaan (days on inventory), serta penurunan pendapatan. Kondisi ini terutama terjadi ketika organisasi memiliki informasi permintaan yang ekstensif namun tidak memanfaatkannya dalam pengambilan keputusan persediaan. Mediklug adalah perusahaan teknologi kesehatan yang memiliki unit distribusi farmasi dan sistem Rekam Medis Elektronik (RME), yang sedang menghadapi penurunan pendapatan pada periode Juli-September 2025 meskipun memiliki data konsumsi di tingkat klinik. Penelitian ini didasarkan pada masalah kurangnya visibilitas permintaan dalam manajemen persediaan melalui teori Rantai Pasok Berbasis Permintaan (Demand-Driven Supply Chain atau DDSC) yang berfokus pada sinyal permintaan pelanggan yang nyata sebagai dasar keputusan pasokan. Teori Business Intelligence (BI) diterapkan untuk mengoperasionalisasikan data permintaan menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti. Tujuan penelitian ini mencakup analisis ketidaksesuaian antara permintaan dan persediaan, pembuatan intervensi dasbor berbasis BI untuk pengambilan keputusan persediaan, serta penilaian penerimaan solusi yang diusulkan oleh para pemangku kepentingan. Metode studi kasus campuran (mixed-methods) digunakan dalam penelitian ini. Analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dari data konsumsi dan inventaris selama tiga bulan dan menstandarisasi nama produk teks bebas EMR ke penamaan produk inventaris internal. Data kualitatif dikumpulkan menggunakan survei dan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan operasional. Temuan menunjukkan bahwa kesenjangan antara permintaan dan persediaan terjadi secara konstan, dan dasbor BI yang diusulkan mampu meningkatkan visibilitas permintaan serta memfasilitasi pengambilan keputusan. Dasbor tersebut dipersepsikan oleh pemangku kepentingan sebagai solusi yang berguna, layak diterapkan, dan dapat ditindaklanjuti. Penelitian ini bernilai karena mengilustrasikan fasilitasi praktis prinsip-prinsip DDSC dalam distribusi farmasi dengan bantuan BI.

2026
👤 Penulis: Nicolaus Ernest Mamonto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Bisnis 🏷️ Kecerdasan Buatan

DESAIN PLATFORM PERANTARA DIGITAL UNTUK MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI USAHA MIKRO PADA KONSER K-POP DI INDONESIA DENGAN MEMFASILITASI KOORDINASI DAN MENINGKATKAN KEPERCAYAAN

Pertumbuhan pesat industri K-pop di Indonesia telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar K-pop terbesar. Hal ini tercermin dari kuatnya penetrasi budaya K-pop di kalangan generasi muda di Indonesia yang terlihat dari tingginya tingkat pengeluaran penggemar untuk konser serta berbagai layanan pendukung lainnya. Permintaan yang ada mendorong munculnya usaha mikro di lingkungan konser yang menawarkan berbagai jasa seperti akomodasi, jasa tata rias, dan penyewaan peralatan terkait konser. Studi ini menunjukkan bahwa ketiadaan standarisasi prosedur layanan dan mekanisme untuk meningkatkan rasa kepercayaan dalam ekosistem layanan informal meningkatkan rasa ketidakpastian dan menghambat kualitas layanan bagi penyedia maupun pelanggan. Oleh karena kondisi tersebut, studi ini merekomendasikan pengembangan platform perantara dalam mengurangi permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan exploratory sequential mixed method. Tahap awal penelitian menggunakan fase kualitatif melalui wawancara terhadap 24 partisipan dari kalangan pelanggan dan penyedia untuk mengeksplorasi perilaku, motivasi, dan tantangan operasional dalam setiap interaksi di dalam ekosistem. Data pada tahap ini dianalisis menggunakan Customer Journey Map dan Empathy Map untuk menilai kondisi ekosistem serta mengidentifikasi permasalahan yang menghambat pertumbuhan industri. Selain itu, Doblin’s Ten Types of Innovation digunakan untuk mengkonseptualisasikan strategi inovasi yang dapat diimplementasikan. Selanjutnya, fase kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 150 pelanggan untuk memvalidasi inovasi agar sesuai dengan ekspektasi pengguna secara keseluruhan. Pada tahap ini, Value Proposition Canvas digunakan untuk menilai kesesuaian solusi dengan ekspektasi pelanggan, sementara Lean Canvas dilakukan untuk menerjemahkan konsep menjadi nilai yang dapat diberikan kepada setiap stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standarisasi prosedur layanan dan inovasi yang meningkatkan rasa kepercayaan dapat mengurangi permasalahan yang ada dan membantu profitabilitas jangka panjang yang ditunjukkan melalui Minimum Viable Product. Hal ini diperkuat oleh trust-oriented design factors dan benchmarking analysis untuk memperjelas posisi solusi platform saat ini dalam menjawab permasalahan dan mengarahkan platform menuju pengembangan yang selanjutnya. Studi ini menunjukkan peran platform perantara yang dapat mentransformasi interaksi informal pada eksosistem usaha mikro menjadi lebih terstruktur dan akuntabel.

2026
👤 Penulis: Aurellio Fishandy
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS UNTUK MENINGKATKAN JUMLAH PENGUNJUNG DI SPBU YANG MENGHADAPI GANGGUAN INDUSTRI

Industri SPBU di Indonesia sedang mengalami perubahan struktural yang didorong oleh kenaikan biaya operasional, tekanan regulasi, persaingan yang semakin ketat, dan tahap awal elektrifikasi mobilitas. SPBU di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta mengalami penyusutan margin keuntungan karena meningkatnya biaya operasional, sementara margin bahan bakar tetap diatur secara ketat. Di saat yang sama, pergeseran ekspektasi konsumen terhadap kualitas layanan yang lebih tinggi, peningkatan fasilitas, dan kemudahan digital semakin membentuk kembali lanskap persaingan. Dengan latar belakang ini, studi ini mengkaji dua pertanyaan penelitian utama: (1) Apa penyebab penurunan jumlah pengunjung di SPBU? dan (2) Bagaimana pemilik SPBU dapat meningkatkan margin keuntungan? Pertanyaan-pertanyaan ini dimotivasi oleh kebutuhan SPBU—terutama yang beroperasi di bawah jaringan Pertamina—untuk mendesain ulang model bisnis dan sistem operasional mereka agar tetap kompetitif dalam industri yang menghadapi disrupsi teknologi dan perilaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, yang mengintegrasikan wawancara kualitatif dengan manajer dan supervisor SPBU, survei pelanggan kuantitatif, dan alat analisis strategis. Studi ini menerapkan kerangka kerja analitis yang mencakup PESTEL, Lima Kekuatan Porter, Resource-Based View (RBV), analisis VRIO, analisis pelanggan, dan formulasi strategi SWOT–TOWS untuk menilai secara komprehensif lingkungan internal dan eksternal SPBU studi kasus (PT Duta Selatan Cemerlang). Wawancara memberikan wawasan tentang tantangan operasional, struktur biaya, dan kendala manajerial, sementara survei pelanggan menangkap preferensi pengguna terkait akurasi, kualitas layanan, kebersihan, kenyamanan, aksesibilitas, layanan digital, dan penawaran pelengkap. Temuan-temuan ini disintesis untuk mengidentifikasi akar penyebab erosi margin dan merumuskan rekomendasi strategis. Temuan menunjukkan bahwa penurunan jumlah pengunjung terutama disebabkan oleh kelemahan operasional internal dan ketidaksesuaian dengan ekspektasi pelanggan yang terus berkembang, bukan faktor harga bahan bakar. Kualitas layanan yang tidak konsisten, kebersihan dan kenyamanan fasilitas yang tidak memadai, disiplin operasional yang lemah, dan loyalitas pelanggan yang terbatas mengurangi kunjungan berulang. Secara eksternal, persaingan yang ketat, meningkatnya ekspektasi pelanggan, dan munculnya solusi mobilitas alternatif semakin memperkuat perilaku pelanggan yang beralih. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja perbaikan strategis yang mengintegrasikan keunggulan operasional dengan peningkatan model bisnis. Strategi jangka pendek menekankan perbaikan fasilitas, peningkatan kebersihan, peningkatan layanan, dan penerapan SOP standar untuk meningkatkan konsistensi di seluruh shift. Strategi jangka menengah berfokus pada sistem pemeliharaan preventif, pelatihan staf, dan optimalisasi manajemen antrean untuk meningkatkan throughput dan mengurangi waktu henti peralatan. Strategi jangka panjang melibatkan inisiatif pengembangan bisnis, termasuk perluasan ritel non-bahan bakar (NFR) seperti minimarket, kafe, layanan nitrogen, kios digital, dan layanan terkait kendaraan, yang menawarkan margin lebih tinggi daripada penjualan bahan bakar. Lebih lanjut, transformasi digital—yang mencakup pembayaran non-tunai, sistem informasi pelanggan, dan pemantauan operasional berbasis data—diidentifikasi sebagai hal yang krusial bagi daya saing di masa depan. Terakhir, studi ini merekomendasikan persiapan strategis untuk infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik (SPKLU) sebagai bagian dari transformasi berwawasan ke depan yang selaras dengan kebijakan transisi energi nasional. Kontribusi penelitian ini terletak pada kerangka kerja analitis terintegrasi yang menggabungkan wawasan pelanggan, penilaian kapabilitas internal, dan dinamika industri eksternal untuk merumuskan strategi praktis bagi transformasi SPBU. Temuan ini memberikan landasan pengambilan keputusan bagi pemilik SPBU yang ingin meningkatkan profitabilitas sekaligus beradaptasi dengan disrupsi industri jangka panjang. Selain itu, studi ini menawarkan kerangka kerja yang terukur dan dapat diterapkan pada SPBU serupa di seluruh Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan menjembatani realitas operasional dengan pandangan ke depan yang strategis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model bisnis SPBU yang lebih tangguh dan kompetitif dalam lanskap energi dan mobilitas yang terus berkembang.

2026
👤 Penulis: Patrick Ekklesio H Dachi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi

PENINGKATAN WAKTU UNTUK MEMPEROLEH WAWASAN ANALITIK DATA MELALUI SOLUSI AGENTIC AI: STUDI KASUS PT DOMPET MASA DEPAN

Sebagai perusahaan rintisan di industri yang berkembang, PT Dompet Masa Depan (“Dompet”) menghadapi masalah berupa lonjakan tingkat pelanggaran Service Level Agreement (SLA) hingga hampir 60% dan waktu perolehan wawasan (time-to-insight) yang melambat dua kali lipat dalam satu tahun terakhir. Meskipun volume data tumbuh lebih dari 25 kali lipat, Root Cause Analysis (RCA) mengungkap bahwa penurunan kinerja ini bukan semata masalah kapasitas, melainkan akibat tingginya permintaan manual yang repetitif (“toil”). Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pemangku kepentingan pada tim data akibat ketiadaan konteks data yang mudah dipahami, yang mendesak adanya kebutuhan akan solusi analitik mandiri (self-serve) yang cerdas berbasis Agentic AI. Studi ini menerapkan metodologi Riset Ilmu Desain (DSR) untuk mengembangkan solusi yang terukur. Penilaian faktor Teknologi-Organisasi-Lingkungan (TOE) mengonfirmasi kelayakan adopsi AI agen, dengan menunjukkan keunggulan relatif yang tinggi serta dukungan manajemen yang kuat. Kedua, studi ini menerapkan Teori Batasan Objek dan Prinsip Desain dalam IS untuk menyintesis kerangka kerja Masukan-Agen-Keluaran (IAO) dalam merancang platform analitik data mandiri berbasis Agentic AI. Artefak ini mengusung arsitektur multi-agen yang terdiri dari agen Supervisor, Query, Visualization, Analyst, Reviewer, dan Responder. Agen-agen tersebut mampu memproses permintaan dalam bahasa alami, menjalankan kueri SQL, dan menghasilkan wawasan yang penuh konteks. Solusi yang diusulkan dievaluasi terhadap 22 kebutuhan pengguna dan sistem yang telah ditetapkan, serta divalidasi melalui enam skenario penggunaan komprehensif, dengan mencapai tingkat pemenuhan 100%. Terakhir, menggunakan metode Metode Jalur Kritis (CPM) dan analisis PERT, studi ini menyajikan rencana implementasi konkret dengan estimasi waktu penyelesaian selama 47 hari kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa solusi Agentic AI ini memungkinkan Dompet untuk mengalihkan beban tugas analitik repetitif, sehingga dapat mengurangi waktu perolehan wawasan dan memungkinkan tim data analitik untuk kembali fokus pada inisiatif strategis.

2026
👤 Penulis: Kalistus Ambara Sandyanugraha
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data

PENANGANAN LUMPUR TINJA TOILET DARURAT DI KAWASAN TERKENA BENCANA PADA FASE INTERMEDIATE (STUDI KASUS: KABUPATEN CIANJUR)

Risiko kesehatan lingkungan yang persisten akibat ketergantungan berkepanjangan pada solusi sanitasi darurat pasca-gempa Cianjur 2022 mendesak adanya transisi strategis menuju manajemen sanitasi yang aman dan berkelanjutan (Safely Managed Sanitation) di Kecamatan Cugenang. Melalui pendekatan mixed-methods, penelitian ini melibatkan 110 responden rumah tangga di 16 desa di Kecamatan Cugenang, yang ditentukan melalui rumus Yamane dan teknik disproportional stratified random sampling, serta 11 informan kunci yang dipilih secara purposive sampling dari unsur pemerintah dan non-pemerintah. Penelitian ini mengintegrasikan analisis risiko sanitasi (EHRA), evaluasi teknis Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terhadap Sphere Standards, serta pemetaan pemangku kepentingan dengan matriks Power vs. Interest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun wilayah berada pada kategori risiko "Sedang", sektor Air Limbah Domestik (ALD) merupakan kontributor risiko terbesar dengan rata-rata skor IRS mencapai 0,78. Temuan ini divalidasi oleh adanya Shit Flow Diagram (SFD) yang mengonfirmasi kondisi Unsafely Managed akibat kelemahan aspek penampungan (tangki septik tidak kedap) serta ketiadaan layanan penyedotan dan pengolahan lumpur tinja yang berfungsi. Analisis pemangku kepentingan mengidentifikasi hambatan kritis (bottleneck) pada Bappeda sebagai aktor dengan kekuatan tinggi namun memiliki kepentingan rendah (Keep Satisfied) terhadap isu manajemen lumpur tinja, yang berpotensi menghambat keberlanjutan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R3P). Sebagai solusi, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengembangan "Model Kelembagaan Kolaboratif" yang mentransformasi jaringan tata kelola dari kondisi terfragmentasi (fragmented) menjadi terintegrasi (integrated). Secara praktis, model kolaboratif yang dihasilkan dapat diadopsi sebagai kerangka acuan kebijakan bagi pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan dalam merancang program pemulihan sanitasi pascabencana yang lebih tangguh, inklusif, dan memenuhi standar keselamatan internasional.

2026
👤 Penulis: Faiza Firlany
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH MODAL SOSIAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN EVAKUASI BENCANA TSUNAMI (STUDI KASUS : DESA GALALA, KOTA AMBON)

Penelitian ini mengkaji pengaruh modal sosial dalam pengambilan keputusan evakuasi tsunami pada masyarakat pesisir Desa Galala. Desa Galala telah diakui Tsunami Ready oleh UNESCO–IOC melalui pemenuhan 12 indikator kesiapsiagaan, yang menandai kematangan kapasitas prabencana komunitas. Namun pengakuan formal sebagai wilayah Tsunami Ready tidak serta-merta menjamin efektivitas respons masyarakat dalam situasi nyata. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan pemgumpulan data primer melalui wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan telaah dokumen kemudian analisis dengan metode grounded theory. Hasil menunjukkan bahwa input berupa kesiapsiagaan berbasis partisipasi dan solidaritas komunitas, termasuk jejaring kepercayaan, praktik gotong royong, dan pengalaman simulasi menjadi fondasi prabencana. Pada process, keputusan dibentuk oleh tiga mekanisme yang saling menguatkan: (i) kepatuhan terhadap arahan tim siaga bencana desa yang berlandaskan legitimasi lokal; (ii) proses evakuasi keluarga yang dipicu emosi protektif dan dibingkai norma sosial (persuasi,otoritatif); dan (iii) pengambilan Keputusan evakuasi karena di dorong oleh nilai nilai praktik/ritual keagamaan serta memori kolektif. Output yang dihasilkan ialah evakuasi kolektif yang cepat dan tertib, termasuk kepatuhan rute dan dukungan antartetangga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan evakuasi di Desa Galala tidak semata ditentukan oleh faktor struktural dan informasi formal, melainkan secara kuat dibentuk oleh modal sosial yang mencakup dimensi afektifii kolektif. Modal sosial yang terejawantahkan melalui jejaring bonding, bridging, dan linking berfungsi sebagai mekanisme aktif yang memfasilitasi penyebaran informasi, memperkuat legitimasi keputusan, dan mengonsolidasikan tindakan kolektif saat darurat. Dimensi afektif dalam modal sosial, yang bersumber dari pengalaman traumatis masa lalu, memori kolektif, kasih sayang keluarga, serta kepercayaan spiritual, menjadi energi sosial yang menghidupkan jaringan lintas generasi untuk bertindak cepat dan saling menolong. Dengan demikian, keputusan evakuasi di Desa Galala lahir dari interaksi erat antara struktur jejaring sosial dan daya afektif yang tertanam di dalamnya, menjadikan modal sosial sebagai fondasi kunci dalam kesiapsiagaan dan resiliensi bencana.

2026
👤 Penulis: Viona Dika Rikumahu
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS FITNESS-FOR-SERVICE PADA PIPA PENYALUR DENGAN CACAT RETAK DAN PENYOK STUDI KASUS : FASILITAS HULU MINYAK DAN GAS SUMATRA

Pentingnya industri minyak dan gas untuk energi Indonesia membuat perawatan ageing facility menjadi aktivitas yang krusial. Dua kerusakan yang kerap ditemukan pada pipeline adalah cacat retak dan penyok dimana pembahasan mendalam asesmen FFS sudah banyak dilakukan. Akan tetapi belum ada pembahasan FFS ketika retak dalam pipa terkena penyok. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk melakukan asesmen FFS pada pipeline 18 inci yang memiliki retak dan penyok dilokasi yang sama. Pipeline dinyatakan layak beroperasi dengan retak sedalam 2,54 mm karena panjang retak 12,7 mm tidak melebihi batas kritikal level 1. Selain itu titik asesmen (????????,????????) tidak melebihi kurva FAD pada level 2 maupun 3. Sama halnya, pipeline dinyatakan aman beroperasi dengan cacat penyok 3,81 mm karena semua kriteria pada level 1 dan 3 cacat penyok dipenuhi. Ditemukan pula bahwa tegangan sisa akibat pengelasan dapat diabaikan karena jarak cacat jauh dengan sambungan las pada 500 mm. Pengenalan penyok dengan retak membuat regangan plastik ekuivalen 0,1765 melebihi batas triaxial strain pipa pada 0,1304 yang menandakan local failure. Titik asesmen yang dihasilkan juga melewati kurva FAD yang menandakan pipeline mengalami fracture. Ditemukan kedalaman maksimum penyok yang diperbolehkan hanya 1,36 mm. Variasi retak dengan rasio a/t 0,2, 0,5, dan 0,8 dilakukan pada tekanan operasi sampai desain yang tidak cukup kuat untuk menggagalkan pipeline. Akan tetapi penambahan penyok menyebabkan pipeline gagal untuk semua ukuran. Pipeline dengan a/t 0,2 gagal karena indentasi membuat crack front membuka dan fracture terjadi. Sedangkan pipa dengan a/t 0,5 dan 0,8 mengalami local failure karena ukuran retak memperbolehkan regangan plastik mencapai batas triaxial strain sebelum cacat retak gagal. Terakhir, kedalaman maksimum penyok untuk tiap ukuran retak juga telah ditemukan sebagai referensi inspeksi selanjutnya.

2026
👤 Penulis: Alessandro Mahendra Putra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EFEKTIVITAS RESPONS COVID-19 MELALUI SISTEM DISTRIBUSI VAKSIN RANTAI DINGIN BIO FARMA DI INDONESIA: ANALISIS SINERGI TEKNOLOGI DAN KEBIJAKAN

This research examines Biofarma's Cold Chain Vaccine Distribution System in Indonesia's COVID-19 pandemic technology-policy synergy. This study seeks to quantify the real and intangible advantages of technology-policy integration, evaluate the system's impact on vaccine delivery timing and quantity, and analyse vaccine quality throughout Indonesia's different regions. The study used a qualitative approach to interview 18 Indonesian provincial officials to determine how technology and policy integration affect vaccination distribution. Results showed numerous major patterns: 1) Technological backbone, where automation has transformed vaccine distribution coordination and precision; 2) Operational revolution, where operational efficiency and adaptability were improved; 3) Regional nuances, where unique regional challenges and factors affecting distribution system efficacy were identified; and 4) Vaccine safeguarding, where real-time monitoring and transparent inventory management insured vaccine safety. These patterns properly convey the facts, highlighting the importance of technology and policy integration in COVID-19 vaccine delivery. The report emphasises the need to align technology and policy to address obstacles and improve vaccine distribution, contributing to the COVID-19 response and future global humanitarian operations.

2026
👤 Penulis: Ardhy Nugrahanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Kebijakan Dan Teknologi

DEVELOPMENT OF AN N-LINKED GLYCOSYLATED HEMAGGLUTININ EXPRESSION STRATEGY IN ESCHERICHIA COLI FOR A POULTRY VACCINE CANDIDATE AGAINST HIGHLY PATHOGENIC AVIAN INFLUENZA (HPAI) H5N1 AND CAMPYLOBACTER JEJUNI

Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 dan Campylobacter jejuni masih menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan unggas. Vaksin glikokonjugat multivalen yang secara simultan menargetkan H5N1 dan C. jejuni menawarkan strategi yang menjanjikan untuk perlindungan jangka panjang melalui induksi respons imun yang bergantung pada sel T. Protein Glycan Coupling Technology (PGCT) memungkinkan produksi vaksin tersebut melalui sintesis glikoprotein secara rekombinan di Escherichia coli dengan memanfaatkan sistem N-glikosilasi milik C. jejuni (lokus pgl). Hemaglutinin (HA), antigen permukaan utama H5N1, berfungsi sebagai protein pembawa yang sesuai untuk dikonjugasikan dengan N-glikan antigenik C. jejuni yang juga berlimpah. Namun, ekspresi HA di E. coli terhambat oleh banyaknya ikatan disulfida yang menyebabkan agregasi, karena E. coli memiliki kapasitas terbatas untuk mendukung pembentukan ikatan disulfida yang kompleks akibat lingkungan sitoplasmanya yang bersifat reduktif. Keterbatasan ini mengakibatkan rendahnya produksi protein dan efisiensi glikosilasi, mengingat glikosilasi yang dimediasi PGCT memerlukan protein yang larut dan telah ditranslokasikan ke ruang periplasmic. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan dan N-glikosilasi protein HA H5N1 rekombinan yang terkonjugasi dengan N-glikan C. jejuni (rH5-GT) melalui evaluasi kombinasi strain E. coli dan peptida sinyal (SP), serta kondisi kultur. Dua kombinasi strain–peptida sinyal E. coli dievaluasi untuk mengarahkan HA melalui jalur translokasi dan lingkungan pelipatan yang berbeda, yaitu SCM6–PelB yang mendukung ekspor bergantung Sec dalam strain yang mendorong transfer N-glikan (?wecA, ?waaL), serta SHuffle-TorA yang memungkinkan pembentukan ikatan disulfida di sitoplasma (?gor, ?trxB, cdsbC) sebelum ekspor bergantung Tat. Selain itu, pengaruh penurunan suhu kultivasi (25°C dan 30°C) serta rentang konsentrasi IPTG (0-0,5 mM) dievaluasi untuk mengidentifikasi kondisi ekspresi yang mendukung produksi glikoprotein. Protein total, protein larut, dan protein terglikosilasi yang diekspresikan kemudian dianalisis menggunakan Western blot dengan antibodi primer anti-His tag (1:3000) dan lektin soybean agglutinin (SBA) (1:500). Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. coli SHuffle-TorA hanya menghasilkan rH5 non-glikosilasi (~68,8 kDa), yang kemungkinan disebabkan oleh hambatan sterik pada situs glikosilasi ketika HA yang telah terlipat sempurna memasuki periplasma, sehingga menghalangi akses oligosakariltransferase (OTase) pglB. Sebaliknya, E. coli SCM6-PelB(SP) memungkinkan produksi rH5-GT (~84,4 kDa), yang menunjukkan bahwa translokasi dalam keadaan terlipat sebagian atau tidak terlipat sepenuhnya sangat penting untuk glikosilasi rH5-GT. Penurunan suhu inkubasi (25 °C) dengan durasi inkubasi yang sama (4 jam) menghasilkan peningkatan efisiensi glikosilasi sebesar ~2 kali lipat yang bersifat signifikan (P < 0,05; uji t Welch). Sementara itu, tidak diberikannya IPTG justru menghasilkan peningkatan efisiensi glikosilasi yang lebih signifikan (P < 0,01; uji t Welch) sebesar ~3 kali lipat, dengan tingkat protein total yang tetap serupa di seluruh kondisi. Hal ini menunjukkan bahwa ekspresi basal yang lambat memungkinkan pelipatan protein dan transfer glikan yang lebih baik. Secara keseluruhan, penelitian ini mengidentifikasi E. coli SCM6-PelB(SP) dengan jalur Sec, penurunan suhu, serta ekspresi basal tanpa IPTG sebagai parameter optimal untuk produksi rH5-GT dalam sistem PGCT.

2026
👤 Penulis: Aishah Nadira
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PRODUK FERMENTASI HANJELI (COIX LACRYMA-JOBI VAR. MA-YUEN) OLEH BAKTERI ASAM LAKTAT ASAL MAKANAN TRADISIONAL INDONESIA SEBAGAI KANDIDAT BAHAN KOSMETIK PEMELIHARAAN SAWAR KULIT

Kulit merupakan organ terluar tubuh manusia yang berperan sebagai penghalang (sawar) terhadap berbagai faktor lingkungan. Rusaknya sawar kulit menjadikan kulit kering, sensitif, rapuh, mudah mengalami infeksi, iritasi, inflamasi, serta dapat memicu penyakit kulit seperti dermatitis atopik, eksim, jerawat, dan psoriasis. Patofisiologi ini umumnya berkaitan dengan menurunnya level protein yang menjaga integritas dan hidrasi stratum corneum (SC), seperti Filaggrin (FLG), Involucrin (IVL), dan Loricrin (LOR). Paparan lingkungan seperti sinar ultraviolet, polusi, dan bahan kimia iritan dapat meningkatkan stres oksidatif yang memperparah kondisi tersebut dengan menurunkan ekspresi FLG, IVL, dan LOR, serta menghambat sintesis kolagen dan penyembuhan luka. Oleh karena itu, diperlukan bahan kosmetik yang mampu menjaga kesehatan dan fungsi sawar kulit untuk mencegah masalah kulit akut maupun kronis. Tren penggunaan bahan kosmetik berbasis tanaman dan fermentasi probiotik terus meningkat. Salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan adalah hanjeli (Coix lacryma-jobi var. ma-yuen), yang secara empiris dan klinis telah digunakan untuk mengatasi dermatitis atopik, eksim, serta penyembuhan luka kronis. Dalam kosmetik modern, biji hanjeli (Coicis semen, CS) diklaim mampu menghidrasi dan menenangkan kulit. Namun demikian, mekanisme molekuler dan selulernya dalam memelihara sawar kulit masih terbatas diteliti. Sementara itu, bakteri asam laktat (BAL), yang sebagian besarnya dikenal sebagai probiotik dan berstatus generally recognized as safe (GRAS), menjanjikan dalam fermentasi bahan alam karena terbukti meningkatkan kandungan, absorptivitas, dan bioaktivitas senyawa bermanfaat. BAL dapat diisolasi dari berbagai sumber, termasuk makanan fermentasi tradisional, relatif lebih aman karena tergolong food grade microorganism. Penelitian ini bertujuan memperoleh kandidat bahan baku kosmetik dari fermentasi CS menggunakan BAL indigeneous asal makanan fermentasi tradisional Indonesia, dengan identifikasi metabolit bioaktif serta verifikasi mekanisme molekuler dan selulernya secara in vitro untuk memelihara sawar kulit. Tahapan penelitian meliputi isolasi, karakterisasi, dan identifikasi BAL dari lima makanan fermentasi (tempe, tempe gembus, tauco, tape ketan, dan tape singkong); optimasi CS sebagai media fermentasi; produksi sampel melalui fermentasi CS dengan BAL terpilih; analisis kandungan kimia; serta uji bioaktivitas berbasis sel secara in vitro. Isolasi BAL dilakukan menggunakan media de Man Rogosa and Sharpe (MRS) agar, kemudian dikarakterisasi dan diidentifikasi secara fenotipik dan genotipik. Dari proses ini diperoleh 15 isolat, teridentifikasi sebagai Lactiplantibacillus plantarum (2), Lacticaseibacillus fermentum (2), Pediococcus acidilactici (2), dan P. pentosaceus (9), seluruhnya menunjukkan karakter ?-hemolisis sebagai indikasi keamanan. Supernatan bebas sel (CFS) BAL terpilih menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap patogen kulit (Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Cutibacterium acnes, dan Pseudomonas aeruginosa) dengan diameter hambat antara 10,32?11,95 mm. Hal ini mengindikasikan potensi manfaat untuk penggunaan topikal. CS dianalisis kandungan proksimatnya kemudian dioptimasi untuk menjadi media fermentasi. Analisis proksimat menunjukkan kandungan utama CS adalah karbohidrat (71,7%; mengandung serat pangan 5,2%), protein (13,8%), dan lipid (2,09%). Optimasi media fermentasi menghasilkan AC10Y (10% b/v CS yang dihidrolisis dengan HCl 0,05 N menggunakan autoklaf pada 121°C, 1 atm, 15 menit, dan disuplementasi 0,5% b/v yeast extract) sebagai media optimum. Media ini mendukung pertumbuhan LpTKK dengan baik yang ditunjukkan dengan peningkatan OD600, penurunan kadar gula pereduksi, dan penurunan pH yang menunjukkan bahwa fermentasi berjalan dengan menghasilkan asam laktat. AC10Y juga menunjukkan performa yang sama baiknya dalam menumbuhkan PpTC2N. Selanjutnya, media AC10Y yang tidak difermentasi (NF) dan hasil fermentasi oleh LpTKK dan TC2N berupa supernatan bebas sel (FCF-Lp dan FCF-Pp) dan supernatan lisat sel (FCL-Lp dan FCL-Pp) diliofilisasi, dianalisis komposisi kimia, serta diuji bioaktivitasnya. Analisis komponen bioaktif dengan spektrofotometri UV-vis, FTIR-ATR, LC- HRMS, dan HPLC menunjukkan kandungan utama sampel adalah sakarida, protein, asam amino, dan amida asam lemak. Fermentasi meningkatkan kadar asam laktat, asam indol-3-laktat, dan nikotinamida. Uji bioaktivitas membuktikan seluruh sampel dapat meningkatkan ekspresi gen sawar kulit pada sel keratinosit HaCaT, membantu penyembuhan luka pada sel fibroblas NIH/3T3, melindungi dari stres oksidatif yang diinduksi H2O2, dan tidak toksik hingga konsentrasi 5 mg/mL. FCF- Lp menunjukkan bioaktivitas tertinggi dengan peningkatan level mRNA FLG, IVL, dan LOR pada sel keratinosit HaCaT masing-masing sebesar 2,29 ± 0,19; 1,20 ± 0,08; dan 2,50 ± 0,04 kali lipat, dan menutup luka hingga 88,1 ± 6,8% pada sel fibroblas NIH/3T3. Temuan ini menegaskan potensi FCF-Lp sebagai kandidat bahan baku kosmetik pemelihara sawar kulit, sekaligus memberikan verifikasi ilmiah terkait penggunaan empiris dan modern CS melalui mekanisme molekuler dan seluler.

2026
👤 Penulis: Nur Miftahurrohmah
🏷️ Kosmetika 🏷️ Probiotik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KAJIAN GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI TERHADAP KONTAMINASI FOSFAT DI CEKUNGAN AIR TANAH SURABAYA-LAMONGAN

Air tanah memiliki peranan vital sebagai sumber air bersih bagi kebutuhan manusia dan lingkungan, namun eksploitasi berlebihan telah menimbulkan penurunan muka air tanah dan degradasi kualitas yang signifikan. Dampak tersebut terutama terlihat pada fenomena penurunan muka air tanah dengan sangat cepat, serta terjadinya pencemaran air tanah. Penelitian Disertasi ini mengkaji lebih detil karakteristik kualitas air tanah di Cekungan Air Tanah (CAT) Surabaya-Lamongan dengan metode komparasi pada senyawa fosfat (senyawa utama) dan komponen lainnya yakni nitrat, nitrit, amonia, sulfat, fluoride, kromium, kadmium, mangan, pH di tahun 2022 terhadap hasil amatan di tahun 2025 (fase yang sama di musim penghujan). Selain itu juga dilakukan analisis terhadap hasil uji pemompaan (pumping test) terhadap 25 (dua puluh lima) sumur sampel di lapangan dengan 2 (dua) metode yakni pengujian sumur dengan step draw down test dan pengujian akuifer melalui long periode test. Kemudian hasil analisis pumping test tersebut dilanjutkan dengan analisis penentuan parameter kuantitatif berupa storativitas (S), transmisivitas (T), dan konduktivitas hidrolik (K) dari seluruh titik sampel pumping test tadi. Hasil analisis tersebut selanjutnya dijelaskan dalam bentuk spasial berupa peta isopach yang menunjukkan bahwa terdapat 4 (empat) formasi litologi yang berada pada Cekungan Air Tanah Surabaya-Lamongan yakni formasi batupasir lempungan (clayey sandstone), batulempung pasiran (sandy claystone), tuf pasiran (sandy tuff), dan tuf (tuff). Berdasarkan hubungan antara hasil uji pemompaan dan peta isopach ini dapat dianalisis lebih lanjut mengenai karakteristik sistem hidrostratigrafi dan keterkaitannya dengan distribusi lapisan akuifer, akuitar, dan tanah (soil) pada sistem akuifer bebas (unconfined aquifer). Sistem akuifer di wilayah studi dicirikan dengan komposisi lapisan clayey sandstone yang berpotensi sebagai akuifer produktif. Ketebalan lapisan berkisar antara 8 hingga 24 meter dan mendukung kapasitas penyimpanan air tanah yang baik. Sistem akuitar di wilayah studi dicirikan dengan lapisan sandy claystone, sandy tuff, dan tuff berfungsi sebagai akuitar. Ketebalan lapisan berkisar antara 2 hingga 16 meter. Pemodelan numerik SWAT+ digunakan untuk mengkaji dinamika hidrologi, interaksi air permukaan–air tanah, serta dampak penggunaan lahan terhadap distribusi fosfat. Meskipun model baseline menunjukkan performa kalibrasi yang masih lemah, pemodelan ini memberikan kerangka kerja penting untuk pengelolaan sumber daya air berkelanjutan dan mitigasi pencemaran di wilayah tersebut. Aktivitas domestik, industri, dan pertanian memberikan kontribusi signifikan terhadap pencemaran fosfat. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan sumber daya air tanah berkelanjutan dan mitigasi pencemaran di CAT Surabaya–Lamongan.

2026
👤 Penulis: Arif Gunawan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 57 dari 349
💬