📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENINGKATAN TOLERANSI ETANOL SACCHAROMYCES CEREVISIAE MELALUI ADAPTIVE LABORATORY EVOLUTION (ALE) DENGAN INDUKSI STRES OSMOTIK BERBASIS NACL UNTUK PENINGKATAN EFISIENSI BIOETANOL

Ketergantungan terhadap minyak bumi telah meningkatkan risiko terhadap ketahanan energi nasional, mengingat konsumsi minyak bumi saat ini menyumbang sekitar 32-33% dari total emisi ????????2 secara global. Bioetanol muncul sebagai solusi strategis dan alternatif bahan bakar terbarukan untuk menekan emisi karbon dunia tersebut serta menggantikan penggunaan bahan bakar fosil yang produksinya cenderung menurun. Namun, efisiensi produksi bioetanol oleh ragi dapat terhambat oleh sifat toksisitas etanol yang merusak integritas membran sel sehingga menurunkan efektivitas produksi bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan toleransi S. cerevisiae terhadap paparan etanol hingga konsentrasi 16% (v/v) melalui teknik Adaptive Laboratory Evolution (ALE) dengan induksi stres osmotik NaCl. Metode ini memanfaatkan induksi stres osmotik untuk memicu aktivasi jalur HOG (HOG pathway) yang mendorong akumulasi gliserol dan trehalosa untuk meningkatkan integritas membran sel. Kultur S. cerevisiae dikultivasi dalam medium Yeast Peptone Dextrose (YPD) pada suhu ruang 23±1.5°C, agitasi 0 rpm, dengan kondisi fakultatif anaerob. Proses ALE dilakukan melalui fase pemaparan stresor NaCl 0.6 M (3,5% w/v) dan etanol selama 200 menit sebagai uji tantang (challenge), diikuti tahap pemulihan (recovery) selama 9 jam. Konsentrasi etanol ditingkatkan secara bertahap selama siklus berlangsung. Konfirmasi performa strain hasil ALE tanpa stresor NaCl dan ALE dengan stresor NaCl dilakukan dengan kultivasi pada medium YPD dengan penambahan etanol 16% (v/v) dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ALE dengan stres osmotik NaCl berhasil meningkatkan toleransi hingga etanol 16% (v/v) dengan kesintasan sebesar 88.66 ± 2,46% relatif terhadap kontrol secara signifikan (p-value < 0.05) lebih tinggi dibandingkan strain wild-type yang hanya memiliki kesintasan 48.73±2,33% dan strain ALE tanpa stresor NaCl memiliki kesintasan 74.73±1,58% serta didapatkan hasil laju pertumbuhan spesifik pada strain wild-type, strain ALE tanpa stresor NaCl, dan strain ALE dengan stresor NaCl berturut-turut 0.323±0.015/jam, 0.317±0.023/jam, & 0.342±0.013/jam. Hasil One-Way ANOVA pada uji performa sel menunjukkan bahwa perbedaan signifikan laju pertumbuhan sel antar strain pada Subkultur I dan Subkultur II memiliki p-value>0.05 yang berarti tidak terdapat perbedaan signfikan antar sampel. Kemudian pada Subkultur III didapatkan p-value<0.05 yang menunjukkan adanya signifikansi. Hal ini membuktikan bahwa strain ALE dengan stresor NaCl memiliki stabilitas proteksi yang paling tinggi dan terwariskan ditandai dengan kemampuan adaptasi dan performa yang lebih unggul dibandingkan wild-type dan strain ALE tanpa stresor NaCl.

2026
👤 Penulis: Rainy Sasanti Ramadhiani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PERAN BIOSURFAKTAN DARI KHAMIR LAUT PADA PROSES BIODEGRADASI PLASTIK HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

Plastik High Density Polyethylene (HDPE) merupakan salah satu limbah polimer sintetis yang terdiri atas rantai alkana panjang yang memiliki sifat sangat stabil, hidrofobik dan sulit terurai secara alami. Pendekatan biodegradasi plastik menggunakan mikroorganisme menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun, penelitian biodegradasi plastik HDPE oleh isolat khamir masih sangat terbatas. Penelitian sebelumnya telah berhasil mengisolasi khamir dari sampah plastik di lingkungan laut yaitu Meyerozyma carpophila (M6.0.2), Candida tropicalis (M5.0.1), dan Rhodotorula mucilaginosa (BI.4.1.1) yang dilaporkan mampu mendegradasi plastik. Namun, peran biosurfaktan dalam proses biodegradasi plastik tersebut belum dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi degradasi HDPE oleh isolat khamir dan mengkarakterisasi biosurfaktan yang dihasilkannya. Tahapan penelitian ini dimulai dengan uji pendahuluan pada 3 jenis medium (Bushnell Haas, MSM1 dan MSM2) dengan menggunakan crude oil. Analisis yang dilakukan meliputi kepadatan sel (TPC), pH, indeks emulsifikasi (EI24%), dan oil spreading test. Selanjutnya, dilakukan uji aktivitas enzimatis (lignin peroksidase, lakase, lipase) ketiga isolat dengan metode kolorimetri. Kurva pertumbuhan dibuat untuk mengetahui umur inokulum pada uji biodegradasi HDPE. Uji biodegradasi HDPE dilakukan dengan menghitung persentasi degradasi total HDPE, nilai kepadatan sel planktonik (sel/mL), biofilm (CFU/cm2), dan berat biosurfaktan (g/L). Karakterisasi plastik HDPE hasil biodegradasi dilakukan melalui analisis FTIR dan SEM, serta karakterisasi crude biosurfaktan dilakukan dengan analisis FTIR dan LC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan isolat dalam menghasilkan biosurfaktan terbaik pada medium MSM2 dengan crude oil 2% pada suhu 30°C, 150 rpm. Uji aktivitas enzim menunjukkan hasil positif untuk enzim lignin peroksidase (LiP) dan negatif untuk enzim lakase pada ketiga isolat, sementara enzim lipase hanya positif pada isolat M6.0.2 dan M5.0.1 pada hari ke-10. Berdasarkan kurva pertumbuhan, kultur M6.0.2 memiliki GT sebesar 6,1 jam dan ? = 0,114/jam, kultur M5.0.1 memiliki GT sebesar 7,8 jam dan ? = 0,089/jam, dan kultur BI.4.1.1 memiliki GT sebesar 7,1 jam dan ? = 0,098/jam. Pada uji biodegradasi HDPE, persentase degradasi tertinggi dicapai oleh M6.0.2 sebesar 1,55% (w/w), diikuti oleh M5.0.1 sebesar 1,34% (w/w), dan BI.4.1.1 sebesar 0,65% (w) yang diamati pada hari ke-10. Analisis SEM mengonfirmasi adanya perbedaan tingkat dan pola kerusakan permukaan plastik pada hari ke-10 waktu inkubasi, dari kerusakan intensif pada M6.0.2, kerusakan yang lebih ringan pada M.5.0.1 hingga perubahan minimal berupa robekan kecil pada BI.4.1.1. Analisis FTIR menunjukkan adanya gugus baru pada plastik HDPE hasil biodegradasi pada panjang gelombang di sekitar 1743-1745 cm-1 (C=O). Biosurfaktan rata-rata yang dihasilkan pada proses biodegradasi plastik HDPE secara berturutturut yaitu 0,825 g/L untuk M6.0.2, 1,039 g/L untuk M5.0.1, dan 1,104 g/L untuk BI.4.1.1. Struktur senyawa biosurfaktan ketiga isolat pada produksi hari ke-3 teridentifikasi sebagai senyawa glikolipid yang memiliki setidaknya 5 puncak hasil spektrum IR. Hasil analisis LC-MS memperkuat hasil FTIR bahwa biosurfaktan yang dihasilkan oleh isolat M5.0.1 dan BI.4.1.1 teridentifikasi sebagai senyawa glikolipid jenis sophorolipid dan pada M6.0.2 jenis mannosylerythritol lipid.

2026
👤 Penulis: Zahra Rahayu Puteri
🏷️ Biodegradasi Plastik 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENENTUAN ANGGOTA GUGUS GALAKSI MENGGUNAKAN METODE RED SEQUENCE DENGAN PERTIMBANGAN POPULASI RUANG REDSHIFT-WARNA

Gugus galaksi adalah struktur terbesar dan termasif yang terikat oleh gravitasi di alam semesta yang bisa bertindak sebagai laboratorium studi evolusi galaksi dan struktur skala besar. Dalam studi gugus galaksi, identifikasi galaksi anggota gugus krusial untuk menentukan batasan-batasan fisis gugus. Mengingat metode yang ada kerap menghasilkan luaran yang bervariasi, proses identifikasi ini menjadi permasalahan yang tidak trivial. Penelitian ini berfokus pada penentuan keanggotaan 11 gugus galaksi dengan rentang nilai redshift 0.1 < z < 0.6 yang diambil dari katalog Reionization Lensing Cluster Survey (RELICS). Langkah pertama penelitian ini adalah identifikasi Brightest Cluster Galaxy (BCG) melalui seleksi visual galaksi tercerlang pada citra yang sesuai dengan karakteristik BCG, dan berikutnya diverifikasi secara individu melalui platform ”Navigate” yang disediakan oleh Sloan Digital Sky Survey (SDSS). Nilai redshift (z) dari BCG yang terpilih tersebut kemudian ditetapkan sebagai acuan utama untuk estimasi jarak gugus. Keanggotaan gugus dalam studi ini didefinisikan utamanya sebagai populasi galaksi pembentuk pola red sequence yang dapat terlihat pada Color- Magnitude Diagram (CMD). Memanfaatkan informasi jarak dari redshift fotometrik, distribusi galaksi ditinjau pada Color-redshift Diagram (CRD) menggunakan bantuan peta kontur rapat jumlah. Pemotongan data berdasarkan nilai kontur diaplikasikan pada dua bandwidth warna, yaitu berdasarkan selisih magnitudo pada filter f606w—f814w dan f814w—f105w, untuk mengeliminasi populasi galaksi di luar red sequence. Hasil pemotongan dari kedua bandwidth tersebut divisualisasikan pada CMD untuk mengonfirmasi keberadaan red sequence, dan katalog galaksi anggota final dibentuk dari irisan (intersection) kedua dataset tersebut. Evaluasi terhadap katalog Wen & Han (2024) menunjukkan perbedaan jumlah anggota antara 3,81% hingga 120,93%, dengan rata-rata selisih nilai redshift sebesar 0,038. Berdasarkan hasil yang didapat, metodologi yang digunakan dalam penelitian ini dapat menjadi pertimbangan ketika melakukan analisis gugus galaksi karena memberikan pendekatan baru terkait proses identifikasi anggota gugus

2026
👤 Penulis: Daanish Ernesto A K Monterroso
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN DAN SIMULASI PELACAKAN TITIK DAYA MAKSIMUM DENGAN METODE PHYSICS-INFORMED DEEP NEURAL NETWORK

Ketergantungan Indonesia pada energi fosil yang mencapai 67% mendorong urgensi pemanfaatan energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Namun, karakteristik daya panel surya bersifat nonlinier dan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi iradiansi serta suhu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem PLTS melalui penerapan metode Physics-Informed Machine Learning (PIML) untuk memprediksi duty cycle pada algoritma Maximum Power Point Tracker (MPPT) metode PIML pada MPPT dapat mengurangi pertubasi berulang yang dilakukan oleh metode Perturb and Observe (P&O), sehingga osilasi daya di sekitar titik MPP dapat diminimalkan. Pada pengujian kondisi Standard Test Condition, metode PIML menghasilkan efisiensi sebesar 70,34% pada topologi buck dan 97,71% pada topologi boost. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan metode konvensional Perturb and Observe (P&O) yang menghasilkan efisiensi sebesar 65,44% pada buck dan 88,26% pada topologi boost. Secara keseluruhan, penggunaan metode PIML terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi.

2026
👤 Penulis: Irena Theresia Maspaitella
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Hidrologi

STUDI IN SILICO DESAIN NOVEL PEPTIDA BERPOTENSI ENDOSITOSIS MELALUI JALUR CAVEOLAE

Nanopartikel masuk ke dalam sel melalui jalur endositosis dimediasi clathrin, makropinositosis, serta jalur endositosis dimediasi indepeden clathrin dan caveolae, umumnya mengarahkan muatan menuju endosom dan lisosom sehingga molekul terapeutik sering mengalami degradasi sebelum mencapai target intraseluler. Berbeda dengan mekanisme tersebut, jalur endositosis dimediasi caveolae mampu menghindari degradasi lisosomal dan dimanfaatkan oleh beberapa virus, termasuk simian virus 40 (SV40) untuk memasuki sel dengan memanfaatkan reseptor GM1. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengoptimasi peptida berbasis protein SV40 sebagai kandidat ligan penarget jalur caveolae menggunakan pendekatan komputasi. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi penentuan asam amino inti SV40 yang berikatan dengan reseptor GM1, penentuan kandidat peptida yang berpotensi memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor GM1, Optimasi urutan asam amino pada peptida terpilih (alanin scanning, valin substitution, dan conservative substitution) dan Analisis Interaksi dan Energi Seluruh Peptida yang terbentuk. Evaluasi kandidat peptida dilakukan berdasarkan kesesuaian lokasi interaksi dengan reseptor, nilai energi interaksi kompleks, dan root mean square deviation (RMSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fragmen peptida VP1 SV40 pada rentang residu 270-278 dengan urutan asam amino Phe-Thr-Asn-Thr-Ser-Gly-Thr-Gln-Gln-NH?mempertahankan pola interaksi utama dengan reseptor GM1. Analisis alanin scanning mengidentifikasi residu pada posisi 272 dan 273 sebagai residu hotspot pengikatan. Tahap optimasi menghasilkan beberapa varian peptida dengan energi interaksi yang lebih negatif dibandingkan dengan peptida awal. Dua kandidat dengan energi interaksi paling negatif, yaitu Phe-Thr-Asn-Thr-Ser-Gly-Thr-Gln-Ala-NH?(-0,09476 Hartree/partikel) dan Phe-Thr-Asn-Thr-Gln-Gly-Thr-Gln-Gln-NH?(-0,08235 Hartree/partikel), dipilih bersama peptida cetakan awal sebagai kandidat utama untuk pengembangan selanjutnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi bertahap berbasis komputasi mampu menghasilkan beberapa kandidat peptida penarget GM1 dengan afinitas yang meningkat dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai ligan penarget jalur endositosis dimediasi caveolae.

2026
👤 Penulis: Muhammad Ixa Ramadhika
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Interaksi Protein 🏷️ Hidrologi

KEBEBASAN SIPIL, PEMBANGUNAN EKONOMI, DAN KETERBUKAAN PERDAGANGAN: BUKTI DARI ANALISIS LINTAS NEGARA

Penelitian ini mengkaji hubungan antara kebebasan sipil dan keterbukaan perdagangan antarnegara, dengan perhatian khusus pada peran pembangunan ekonomi. Dengan menggunakan data lintas negara dari 100 negara yang dirata-ratakan selama periode 2019±2023, analisis ini menggunakan regresi Ordinary Least Squares (OLS) untuk menilai apakah kebebasan sipil berkaitan dengan keterbukaan perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebebasan sipil tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap keterbukaan perdagangan setelah faktor-faktor makroekonomi dikendalikan. Sebaliknya, GDP per kapita muncul sebagai prediktor yang kuat dan konsisten terhadap keterbukaan perdagangan, yang menyoroti peran dominan pembangunan ekonomi dalam membentuk integrasi perdagangan. Untuk menguji kemungkinan adanya heterogenitas, sebuah model regresi hierarkis dengan istilah interaksi antara kebebasan sipil dan tingkat pendapatan diestimasi. Hasil interaksi menunjukkan tidak ada bukti bahwa tingkat pendapatan memoderasi hubungan antara kebebasan sipil dan keterbukaan perdagangan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan sipil tidak memiliki peran sebagai pendorong langsung maupun yang bergantung pada tingkat pendapatan terhadap keterbukaan perdagangan, melainkan berfungsi sebagai kondisi institusional latar belakang.

2026
👤 Penulis: Irsan Indra Kusuma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

INVESTIGASI MEKANISME MOBILISASI MINYAK OLEH BIOSURFAKTAN BERBASIS RHAMNOLIPID DAN SOPHOROLIPID MELALUI OBSERVASI LANGSUNG PADA MIKROMODEL

Penurunan produksi minyak pada reservoir yang telah menjalani tahap primer dan sekunder sering meninggalkan minyak yang masih terperangkap di pori-pori batuan, sulit untuk dimobilisasi karena keterbatasan mekanisme perpindahan fluida pada skala pori. Untuk mengatasi tantangan ini, teknik Enhanced oil recovery menggunakan biosurfaktan seperti rhamnolipid dan sophorolipid telah banyak dipertimbangkan, mengingat sifatnya yang ramah lingkungan dan stabil pada kondisi reservoir. Namun, studi komparatif mengenai kinerja kedua biosurfaktan ini pada konsentrasi rendah dan dalam kondisi variasi salinitas yang berbeda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan rhamnolipid dan sophorolipid dalam menurunkan tegangan antamuka, memodifikasi sifat keterbasahan, dan meningkatkan mobilisasi minyak, dengan menggunakan mikromodel pola heterogen dan pola Berea untuk visualisasi langsung. Pengujian pertama yang dilakukan adalah analisis tegangan antamuka, dari hasil menunjukkan pola penurunan yang konsisten pada konsentrasi rhamnolipid 0,05% dan sophorolipid 0,1%, yang menjadi nilai Critical Micelle Concentration. Penurunan tegangan antarmuka yang signifikan terlihat pada salinitas 10.000 ppm dan 20.000 ppm, yang sejalan dengan hasil pengamatan mikromodel yang menunjukkan pecahnya minyak menjadi tetesan kecil. Meskipun sophorolipid juga menunjukkan penurunan tegangan antarmuka lebih tinggi dibandingkan dengan rhamnolipid pada kondisi yang sama. Pengamatan perilaku fasa mengungkapkan bahwa pada seluruh variasi salinitas dan variasi konsentrasi, tidak terbentuk mikroemulsi meskipun dilakukan penyimpanan selama 21 hari pada suhu 60°C. Rhamnolipid dan sophorolipid hanya menghasilkan fasa minyak dan fasa air. Selain itu, pengukuran sudut kontak menunjukkan bahwa kedua biosurfaktan dapat menurunkan sudut kontak secara signifikan baik pada suhu ruang maupun suhu reservoir. Pada salinitas 10.000 ppm, rhamnolipid menurunkan sudut kontak hingga 31°, sementara sophorolipid mencapai 39°. Pada salinitas 30.000 ppm, sudut kontak kedua biosurfaktan masih dapat turun hingga 59,5°, menunjukkan kestabilan biosurfaktan pada kondisi reservoir. Uji mikromodel pola heterogen dengan sudut orientasi 0° menunjukkan bahwa injeksi rhamnolipid dan sophorolipid dapat meningkatkan mobilisasi minyak secara signifikan, dengan peningkatan recovery factor sebesar 15% lebih tinggi dibandingkan tanpa biosurfaktan pada salinitas 10.000–20.000 ppm. Pada mikromodel pola Berea, rhamnolipid lebih efektif dalam meningkatkan mobilisasi minyak, dengan peningkatan recovery factor sebesar 28% lebih tinggi dibandingkan dengan sophorolipid. Visualisasi mekanisme penurunan IFT pada micromodel pola Berea menunjukkan bahwa biosurfaktan efektif mengurangi gaya tarik antar fasa, yang mempercepat pergerakan minyak. Sedangkan mekanisme keterbasahan alteration pada visualisasi mikromodel pola Berea menunjukkan bahwa kedua biosurfaktan dapat mengubah sudut kontak dari intermediate-wet menjadi water-wet. Secara keseluruhan, pengujian mikromodel mengindikasikan bahwa penggunaan biosurfaktan dapat meningkatkan recovery factor, dengan hasil terbaik pada rhamnolipid dibandingkan sophorolipid. Pada mikromodel pola heterogen dengan salinitas 10.000 ppm, recovery factor rhamnolipid mencapai 77,98%, sedangkan sophorolipid hanya mencapai 66,54%. Pada salinitas 20.000 ppm, recovery factor rhamnolipid mencapai 70,65% dan sophorolipid 65,30%. Pada salinitas 30.000 ppm, rhamnolipid menunjukkan recovery factor sebesar 61,86%, sedangkan sophorolipid 53,77%. Pada mikromodel pola Berea, rhamnolipid menunjukkan hasil recovery factor yang lebih baik pada semua variasi salinitas, dengan recovery factor pada salinitas 10.000 ppm mencapai 89,99% dan sophorolipid 68,43%. Hasil ini menunjukkan bahwa rhamnolipid lebih efektif dalam meningkatkan efisiensi perolehan minyak di reservoir berpori.

2026
👤 Penulis: Kaffa Faiqoh Alhimmah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MITIGASI BENCANA BANJIR DI KOTA MAKASSAR DENGAN MENGINTEGRASIKAN NILAI-NILAI PAPPASANG (STUDI KASUS: KELURAHAN PACCERAKKANG, KECAMATAN BIRINGKANAYA)

Selain faktor cuaca ekstrim, penurunan daya dukung lingkungan memberikan pengaruh yang cukup besar pada peningkatan risiko bencana banjir di wilayah Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Dengan mengambil studi kasus di wilayah tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan merancang suatu media mitigasi bencana banjir dengan pendekatan sosial struktural yang diadopsi dari salah satu kearifan lokal setempat, yakni nilai-nilai pappasang tentang panduan sikap dan perilaku untuk meningkatkan kesadaran risiko dan mendorong kapasitas adaptif masyarakat dalam menghadapi risiko bencana banjir. Melalui observasi dan wawancara masyarakat di tujuh lokasi rawan banjir wilayah Kelurahan Paccerakkang, serta penelusuran pustaka dan wawancara bersama akademisi dan budayawan di Kota Makassar, ditemukan beberapa nilai nilai pappasang yang relevan dan memiliki potensi untuk dikembangkan dalam perancangan media mitigasi bencana banjir. Nilai-nilai yang dimaksud yaitu; menyangkut pentingnya pemahaman dan kesadaran masyarakat maupun pemerintah setempat atas keterlibatannya pada penurunan daya dukung infrastruktur dan lingkungan alam sekitar; kepedulian lingkungan dan kolektivitas (gotong royong) dalam menjaga dan meningkatkan kembali daya dukung tersebut; dan peningkatan kesiapsiagaan, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di daerah yang sangat rentan dilanda bencana banjir. Hasil temuan ini kemudian dianalisis dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan sebuah gagasan dan strategi peningkatan kesadaran risiko masyarakat melalui media informasi berupa peta risiko banjir. Peta risiko banjir ini dapat diterapkan melalui skema penyaluran media informasi yang telah dirumuskan berdasarkan pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Dengan demikian, hasil rancangan peta risiko banjir yang telah disalurkan secara masif nantinya dapat menstimulasi lahirnya respons kognitif masyarakat untuk melakukan serangkaian tindakan adaptif, baik secara proaktif maupun secara reaktif dalam meminimalisir risiko bencana banjir di wilayah Kelurahan Paccerakkang

2026
👤 Penulis: Al Muhamat Fatahudin Saifudin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

POTENSI ENERGI SURYA BERDASARKAN SEBARAN TUTUPAN AWAN PADACITRA AVHRR HARIAN DENGAN METODE KLASIFIKASI K-MEANS DANOVERLAY WEIGHTED SUM

Indonesia, terbentang di garis khatulistiwa memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi surya. Konsumsi energi dari bahan bakar fosil sudah dalam taraf mengkhawatirkan diiringi dengan peningkatan volume gas rumah kaca dari bahan bakar fosil. Indonesia dengan potensi energi suryanya yang begitu besar seharusnya dapat memanfaatkan sumber daya ini dengan optimal. Dalam pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga surya dibutuhkan kajian awal untuk menentukan tempat yang layak karena besarnya pengaruh tutupan awan terhadap efisiensi pembangkit listrik tenaga surya. Tutupan awan merupakan salah satu faktor dalam efisiensi kerja pembangkit listrik tenaga surya. Dalam tugas akhir ini dilakukan kombinasi metode klasifikasi k-means dan weighted sum overlay pada citra AVHRR harian terhadap tutupan awan di pulau Kalimantan yang menghasilkan peta potensi energi surya berdasarkan sebaran tutupan awan dalam periode Juni sampai September 2010 dan 2012. Dengan hasil ini diharapkan memberikan suatu kajian awal untuk melihat potensi energi surya di suatu lokasi pada rentang waktu tertentu berdasarkan banyak sedikitnya tutupan awan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh.

2026
👤 Penulis: Farrel Hadi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

IDENTIFIKASI RISIKO BUSINESS LOGIC VULNERABILITY PADA HTTP TRAFFIC MENGGUNAKAN LARGE LANGUAGE MODEL DENGAN PENDEKATAN RETRIEVAL-AUGMENTED GENERATION

Business Logic Vulnerabilities (BLV) merupakan jenis kerentanan yang muncul akibat cacat perancangan alur bisnis aplikasi, bukan kesalahan sintaksis pada kode. Pendekatan pemindaian keamanan aplikasi yang umum digunakan saat ini, seperti Static Application Security Testing (SAST) dan Dynamic Application Security Testing (DAST) konvensional, umumnya efektif mengidentifikasi kerentanan sintaksis, namun masih memiliki titik buta yang besar terhadap BLV. Hal ini disebabkan karena BLV menuntut pemahaman konteks proses bisnis dan urutan interaksi pengguna yang tidak dapat ditangkap hanya dengan pencocokan pola atau fuzzing heuristik. Penelitian ini mengusulkan sebuah teknik DAST berbasis Large Language Model (LLM) untuk mengidentifikasi BLV dari rekaman interaksi pengguna dalam bentuk HTTP Archive (HAR). Kontribusi utama penelitian ini adalah: (1) pendekatan penggunaan HAR, LLM, dan Retrieval-Augmented Generation (RAG) sebagai memori eksternal untuk mempertahankan konteks pada interaksi yang panjang, dan (3) evaluasi empiris kinerja LLM dengan RAG dalam mengidentifikasi BLV dibandingkan alat DAST konvensional. Evaluasi dilakukan pada dua aplikasi uji, yaitu PortSwigger Web Security Academy BLV Labs dan OWASP Juice Shop. Hasil pengujian menunjukkan bahwa LLM yang diintegrasikan dengan RAG mampu mengidentifikasi berbagai kategori potensi BLV, khususnya yang berkaitan dengan state manipulation dan broken access control. Pada PortSwigger BLV Labs, pendekatan LLM dengan RAG mencapai detection coverage sebesar 77,7%, sedangkan pada Juice Shop mencapai 45%, sementara ZAP memiliki tingkat identifikasi mendekati 0% untuk BLV. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan semantic reasoning LLM, yang diperkuat dengan memori eksternal melalui RAG, mampu menjembatani sebagian gap yang tidak dapat ditangani oleh pemindai keamanan tradisional. Namun, efektivitas tetap bergantung pada kelengkapan rekaman HAR dan kualitas knowledge base yang digunakan, yang memberikan arah pengembangan lanjutan pada aspek eksplorasi otomatis dan pengembangan knowledge base.

2026
👤 Penulis: Alifia Rahmah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Risiko Aplikasi 🏷️ Hidrologi Internet

STUDY OF PREIMPLANTATION CELL EMBRYO STAGE USING IPSC AND HPSC USING DIFFERENT INDUCTION METHODS

Ethical debates about Embryonic Stem Cell focus on obtaining preimplantation embryos, as this sacrifices potential infants. To address this, BGI is studying if more accessible induced pluripotent stem cells can be used in primed-to-preimplantation inducing mediums. This study aims to compare the differences in known preimplantation stage markers in cells undergoing different induction methods. Determining variable genes, differentially expressed genes, and upregulated pathways between 12-Day (4CL medium) H9 embryonic stem cell line and public 12-Day (5iLAF medium) G15.AO induced pluripotent stem cells, analysed differentially expressed genes were dot-plotted to select for pre-implantation stage markers. Followed by induction of Pluripotent primed stem cells of embryonic and induced origin in 4CL, a primed-to-preimplantation inducing medium made by BGI, for 12 days. Samples tested for presence of Early Embryo Stage and Preimplantation markers (KLF17, ZFP42, TFCP2L1, DNMT3L) using Quantitative Polymerase Chain Reaction. Shared variable gene S100A6’s, determined to impact the efficiency of post-to-preimplantation induction. via CacyBP/SIP inhibition, acting as WNT inhibitor, through degradation of b-catenin. Independent T-tests of QPCR showed, H9 and U2 samples, cell lines had no significant difference collectively, and primed Day 1 and 4CL Day 12 samples did. Before 4CL induction. U2 is already producing REX1 at a higher expression, further induced by 4CL medium. TFCP2L1 and DNMT3L results show U2 is more conducive for epiblast-like cells while H9 favours blastocysts. REX1 shows remnant signs of WNT signal alterations from its previous induction process, adding variability in using pre-induced cell lines for post-to-preimplantation induction.

2026
👤 Penulis: Vittoreo R. Wargakusumah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Stem Cell 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

UJI EFEKTIVITAS PUPUK KASGOT PELET PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL PRODUKSI BIOMASSA TANAMAN SAWI HIJAU (BRASSICA JUNCEA L.)

Ketersediaan sawi hijau (Brassica juncea L.) berbanding terbalik dengan konsumsinya yang tinggi. Salah satu penyebab penurunan ketersediaan ini adalah degradasi tanah akibat pemakaian pupuk anorganik yang berlebih. Pengunaan pupuk kasgot pelet diharapkan dapat menjadi pembenah tanah untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penelitian ini dilakukan di Greenhouse di Kampus ITB Jatinangor pada bulan Desember 2024 sampai Februari 2025. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor perlakuan 5 jenis pupuk yaitu : pupuk NPK mutiara, pupuk kasgot pelet, pupuk kasgot curah, pupuk NPK + pupuk kasgot pelet, dan pupuk NPK + pupuk kasgot curah dengan 4 kali pengulangan.. Hasil penelitian menunjukkan pupuk organik secara nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dibandingkan pupuk anorganik (NPK). Efektivitas pemberian pupuk organik kasgot terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut pupuk kasgot curah > pupuk kasgot pelet > NPK + kasgot curah > NPK + kasgot pelet > pupuk NPK. Meski efektivitas pupuk pelet kasgot lebih rendah dibandingkan kasgot curah, namun pupuk ini dapat direkomendasikan karena menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang optimum pada tanaman sawi

2026
👤 Penulis: Kimmy Sarah Lunggana
🏷️ Pupuk Organik 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KASGOT PELET TERHADAP KUALITAS TANAH DAN PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (BRASSICA JUNCEA L.)

Sawi hijau (Brassica juncea L.) merupakan komoditas sayuran dengan konsumsi rata-rata mencapai 2.483 kg per kapita per tahun. Pada tahun 2022, Indonesia memproduksi sawi hijau sebanyak 760,608 ton. Akan tetapi, produksi sawi hijau yang menurun pada tahun 2023 menjadi 686,876 ton berbanding terbalik dengan konsumsi masyarakat Indonesia. Penurunan produksi sawi hijau di Indonesia disebabkan oleh penurunan kualitas tanah akibat tingginya penggunaan pupuk kimia sintetik dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu upaya perbaikan kualitas tanah adalah melalui pemberian pupuk organik. Pupuk kasgot adalah pupuk organik yang berasal dari residu biokonversi larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) yang mengandung unsur hara tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik pelet kasgot terhadap kualitas media tanam sawi hijau. Penelitian dilakukan di Greenhouse Labtek IA Kampus ITB Jatinangor pada bulan Desember, 2024 sampai bulan Februari, 2025. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan yaitu Pupuk NPK, pupuk kasgot pelet, pupuk kasgot curah, pupuk kasgot pelet + Pupuk NPK, dan Pupuk Kasgot Curah + Pupuk NPK dengan 4 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik kasgot pelet tidak berbeda nyata dalam pengamatan kualitas tanah yaitu suhu, kelembaban, pH dan porositas tanah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Meski demikian, pengamatan kadar klorofil menunjukkan pemberian pupuk NPK secara nyata menurunkan kadar klorofil tanaman sawi pada perlakuan Pupuk NPK.

2026
👤 Penulis: Rosa Khairunnisa
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEGEMBANGAN LAYANAN KONSULTASI INVESTASI BERBASIS ANALYSIS-SUPPORT TOOL UNTUK MENINGKATAN KAPABILITAS ANALISIS INVESTOR RITEL

Pertumbuhan jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak sepenuhnya diiringi oleh peningkatan kapabilitas analisis investasi yang terstruktur. Meskipun literasi dan partisipasi investasi mengalami peningkatan, banyak investor masih mengandalkan rekomendasi informal, opini pihak ketiga, serta strategi berbasis momentum dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan semata-mata keterbatasan akses informasi, melainkan ketiadaan support tools yang mampu menerjemahkan literasi keuangan menjadi proses analisis yang sistematis dan konsisten. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi secara konseptual model layanan konsultasi investasi yang dirancang untuk memperkuat investor capabilities melalui integrasi analytical support tools dan pendampingan personal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif yang berlandaskan kerangka problem–solution fit dan product–market fit. Studi dilakukan di Lampung dengan melibatkan investor ritel yang dipilih secara purposive, terdiri dari profesional, pengusaha, pensiunan, dan pekerja awal karier yang telah memiliki pengalaman investasi namun belum memiliki kerangka analisis yang terstruktur. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur untuk menggali proses pengambilan keputusan investasi, keterbatasan analitis, pola ketergantungan terhadap rekomendasi, serta persepsi terhadap layanan berbasis support tools. Data dianalisis menggunakan thematic analysis melalui proses open coding dan pengelompokan tema yang selaras dengan konstruk problem–solution fit, value proposition, dan product–market fit. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama. Pertama, keterbatasan struktur analisis, di mana responden mengalami kesulitan dalam membaca laporan keuangan, melakukan valuasi, memprioritaskan indikator yang relevan, serta mengelola risiko secara sistematis. Kedua, pola ketergantungan terhadap rekomendasi eksternal, yang menunjukkan bahwa keputusan investasi sering kali tidak berbasis kerangka evaluasi yang konsisten. Ketiga, kebutuhan akan support tools yang terstruktur, berupa roadmap analisis, mekanisme evaluasi yang lebih sederhana, serta pendampingan dalam interpretasi data. Keempat, persepsi nilai dan penerimaan layanan, di mana responden menilai bahwa integrasi analytical support tools dan sesi coaching personal dapat meningkatkan kejelasan, kepercayaan diri, dan disiplin dalam pengambilan keputusan. Temuan ini mengonfirmasi adanya problem–solution fit karena solusi yang dirancang secara langsung menjawab kesenjangan struktural yang dialami investor ritel. Dari perspektif product–market fit, hasil validasi kualitatif menunjukkan adanya persepsi kegunaan, relevansi, dan kesiapan adopsi pada segmen sasaran. Model yang dikembangkan menggeser orientasi layanan konsultasi dari pendekatan berbasis rekomendasi menjadi pendekatan penguatan kapabilitas analitis. Fokus layanan bukan pada pemberian prediksi saham, melainkan pada pembangunan struktur berpikir dan mekanisme pengambilan keputusan yang sistematis. Meskipun penelitian ini terbatas pada validasi kualitatif dalam konteks wilayah tertentu dan belum menguji kinerja finansial, penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan model konsultasi investasi berbasis empowerment yang selaras dengan kebutuhan pengguna dan kesiapan pasar.

2026
👤 Penulis: Mohammad Rizki Arif Kesuma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Investasi

KAJIAN KINERJA SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BAJA DENGAN KUNCIAN TARIK SEBAGAI ELEMEN SEKRING YANG DAPAT DIGANTI

Gempa bumi merupakan salah satu beban ekstrem yang paling kritis bagi struktur bangunan, khususnya pada sistem rangka baja yang mengandalkan kinerja sambungan balok–kolom untuk mempertahankan stabilitas global saat mengalami deformasi besar. Sambungan tahan gempa konvensional umumnya mengandalkan plastifikasi pada elemen utama, yang berpotensi menimbulkan kerusakan permanen dan menyulitkan proses pemulihan pascagempa. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan konsep sambungan balok–kolom baja dengan mekanisme interlock sebagai elemen replaceable fuse, yang dirancang untuk melokalisasi plastifikasi pada komponen yang dapat diganti. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan bertahap yang mencakup analisis numerik tingkat komponen dan sambungan, serta pengujian eksperimental sambungan skala penuh dengan pembebanan siklik. Analisis numerik digunakan untuk mengkaji pengaruh parameter geometrik dan mekanisme kerja sambungan, sementara pengujian eksperimental bertujuan memverifikasi respons aktual dan mekanisme plastifikasi yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plastifikasi utama berhasil terlokalisasi pada elemen interlock, sementara elemen struktur utama tetap berada dalam kondisi elastis hingga deformasi besar. Hasil pengujian eksperimental dibandingkan secara langsung dengan hasil analisis numerik dalam hal perilaku gaya–deformasi global, lokasi plastifikasi dominan, serta perkembangan mekanisme kegagalan. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa model numerik mampu merepresentasikan mekanisme utama transfer gaya dan plastifikasi yang direncanakan pada elemen interlock. Meskipun terdapat sedikit perbedaan bentuk kurva histeresis pada deformasi besar, nilai gaya maksimum dan lokasi plastifikasi dominan yang diperoleh dari hasil numerik dan eksperimental tetap berada pada tingkat yang sebanding. Kalibrasi model numerik dilakukan dengan menyesuaikan parameter gap awal antar pelat interlock agar lebih representatif terhadap kondisi fabrikasi aktual. Penyesuaian ini terbukti mampu memperbaiki representasi respons awal sambungan, khususnya terkait kekakuan awal dan fenomena pinching, serta menghasilkan kesesuaian yang lebih baik dengan hasil eksperimen hingga deformasi menengah. Meskipun respons kuantitatif pada deformasi besar masih menunjukkan perbedaan, konsistensi kapasitas puncak dan mekanisme plastifikasi utama tetap terjaga. Temuan ini menunjukkan bahwa sambungan interlock memiliki konsistensi mekanisme, di mana mekanisme plastifikasi dan urutan kegagalan yang direncanakan tetap terjaga meskipun terdapat ketidaksempurnaan fabrikasi seperti variasi gap dan slip awal. Dengan demikian, konsep sambungan balok–kolom baja dengan elemen replaceable fuse yang diusulkan dinilai valid secara mekanisme dan kinerja, serta memiliki potensi untuk meningkatkan kemudahan perbaikan dan ketahanan struktur terhadap gempa bumi.

2026
👤 Penulis: Prima Sukma Yuana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 58 dari 418
💬