📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS PENGARUH AUGMENTED REALITY (VIRTUAL TRY-ON) DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (ANALISIS WARNA) TERHADAP NIAT BELI GENERASI Z TERHADAP PRODUK MAKE-UP DI INDONESIA : KASUS WARDAH
Integrasi Augmented Reality (AR) dan Artificial Intelligence (AI) yang semakin meningkat dalam industri kecantikan di Indonesia telah mengubah cara konsumen mengevaluasi dan memilih produk makeup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Virtual Try-On berbasis AR dan Color Analysis berbasis AI memengaruhi niat beli konsumen Generasi Z terhadap produk makeup di Indonesia. Penelitian ini menggunakan kerangka Stimulus–Organism–Response (SOR), karena model ini memungkinkan penjelasan psikologis yang lebih mendalam mengenai bagaimana stimulus teknologi memicu evaluasi kognitif dan emosional internal, yang selanjutnya membentuk niat perilaku. Dengan berfokus pada persepsi nilai internal konsumen, penelitian ini tidak hanya menangkap aspek kinerja teknologi, tetapi juga proses psikologis yang mendasari pengambilan keputusan dalam konteks kecantikan digital. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan mengumpulkan data melalui kuesioner terstruktur berskala Likert yang didistribusikan kepada responden Generasi Z di Indonesia berusia 18– 26 tahun yang memiliki pengalaman menggunakan fitur kecantikan berbasis AR/AI. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interactive Experience secara signifikan meningkatkan Perceived Utilitarian Value, sementara Insight Experience secara signifikan memperkuat Perceived Hedonic Value. Sebaliknya, Accuracy Experience tidak berpengaruh signifikan terhadap Hedonic Value, yang menunjukkan bahwa akurasi dipersepsikan sebagai kebutuhan fungsional dasar, bukan sebagai pendorong emosional. Selain itu, Perceived Utilitarian Value muncul sebagai prediktor paling berpengaruh terhadap Purchase Intention, yang menegaskan pentingnya evaluasi fungsional dalam membentuk keputusan pembelian berbasis teknologi. Secara keseluruhan, model penelitian ini menunjukkan daya jelaskan yang kuat dan menekankan peran sentral persepsi nilai sebagai mekanisme psikologis yang menghubungkan pengalaman AR/AI dengan niat beli konsumen. Penelitian ini berkontribusi pada literatur perilaku konsumen digital dengan membedakan jalur nilai fungsional dan emosional dalam lingkungan berbasis AR/AI. Secara praktis, merek kecantikan disarankan untuk memprioritaskan desain sistem yang interaktif, insight berbasis AI yang terpersonalisasi, serta fitur pendukung keputusan guna meningkatkan keyakinan kognitif dan keterlibatan emosional konsumen. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan kerangka ini dengan memasukkan mediator psikologis tambahan seperti kepercayaan atau persepsi risiko, serta mengujinya pada kategori produk dan konteks budaya yang berbeda.
MENINGKATKAN PENGALAMAN DAN KETERLIBATAN PELANGGAN DENGAN MENGINTEGRASIKAN FOUR REALMS OF EXPERIENCE DAN INOVASI MODEL BISNIS: STUDI KASUS PENDEKATAN BERBASIS KOMUNITAS EUTERRIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan strategis yang dihadapi oleh Euterria, sebuah merek perawatan wajah berbasis nano-technology, dalam menerjemahkan nilai ilmiah produk menjadi keterlibatan pelanggan yang bermakna. Meskipun menawarkan inovasi nano-technology dan formulasi berbahan alami, temuan awal menunjukkan bahwa tingginya rasa ingin tahu pelanggan belum sepenuhnya menghasilkan keterikatan emosional maupun kepercayaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan kerangka Design Thinking melalui tahapan Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test untuk mengembangkan solusi bisnis yang berpusat pada pelanggan. Penelitian ini mengusulkan strategi aktivasi berbasis komunitas yang mengintegrasikan Business Model Innovation dan Four Realms of Experience (Entertainment, Educational, Esthetic, dan Escapist) melalui aktivitas gamified sampling, edukasi nano-technology, konsultasi perawatan kulit, serta keterlibatan digital. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi menggunakan Instagram Insights yang menunjukkan 3.734 interaksi dengan dominasi konten Reels sebesar 83,5% serta 487 kali share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pengalaman berbasis layanan mampu meningkatkan kepercayaan pelanggan, brand recall, dan purchase intention. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran dari pendekatan yang berfokus pada produk menuju model pengalaman berbasis layanan mampu meningkatkan pembentukan kepercayaan, daya ingat merek, serta niat pembelian. Dengan menekankan interaksi yang berorientasi pada nilai serta konsultasi personal.
PENINGKATAN KINERJA OPERASIONAL MELALUI KEAMANAN PSIKOLOGIS DAN FOLLOWERSHIP: STUDI KASUS PEKERJA HARIAN LEPAS PADA CV. ADIK WIJAYA
Pasar tenaga kerja Indonesia didominasi oleh sektor informal, di mana sekitar 60% tenaga kerja beroperasi tanpa kontrak formal, terutama pada sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Penelitian ini mengangkat fenomena "Paradoks Modal Manusia" di CV. Adik Wijaya, sebuah UKM keluarga di Subang, di mana ketergantungan pada pekerja harian lepas seringkali memicu masalah integritas operasional, seperti manipulasi data dan perilaku diam (defensive silence) akibat rendahnya keamanan psikologis. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui metodologi "Five Whys" dan Model Followership Kelley, penelitian ini mengkaji bagaimana intervensi perilaku dapat mentransformasi pengikut tipe "Pasif" atau "Pragmatis" menjadi mitra "Teladan" (Exemplary). Temuan menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan data operasional saat ini disebabkan oleh rasa takut rasional terhadap manajemen yang punitif, bukan karena ketidakmampuan teknis. Implementasi kepemimpinan berbasis supervisi dan rutinitas daily check-in terbukti berhasil menurunkan hambatan interpersonal dalam berkomunikasi, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang aman (safe-learning). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika tata kelola relasional menggantikan taktik komando-kendali yang kaku, pekerja informal menunjukkan loyalitas yang lebih tinggi, keterlibatan proaktif, dan transparansi data yang lebih baik. Penelitian ini memberikan kerangka kerja strategis bagi UKM di Indonesia untuk mengoptimalkan tenaga kerja informal dengan memprioritaskan kontrak psikologis di atas perjanjian hukum formal guna mencapai keunggulan operasional yang berkelanjutan.
PENGARUH KONSENTRASI SN TERHADAP SIFAT MEKANIK PADUAN MG-SN DENGAN SIMULASI MOLECULAR DYNAMICS
Peningkatan emisi pada sektor transportasi mendorong perlunya pengembangan material yang ramah lingkungan. Salah satu strategi realistis yang dapat diterapkan adalah lightweighting pada komponen otomotif untuk menurunkan konsumsi energi dan emisi. Magnesium merupakan material struktural ultraringan dengan densitas sekitar 1,74 g/cm3, namun keterbatasan sifat mekanik membatasi aplikasinya terutama pada komponen otomotif. Penguatan paduan Mg dengan unsur tanah jarang terbukti efektif tetapi kurang ekonomis, sehingga Sn dipilih sebagai unsur paduan alternatif karena mampu meningkatkan kekuatan dan kekakuan Mg melalui mekanisme solid solution strengthening serta pengendalian pergerakan dislokasi dengan biaya yang lebih rendah. Rangkaian simulasi menggunakan metode molecular dynamics dilakukan untuk menganalisis pengaruh penambahan unsur Sn pada paduan MgSn. Simulasi diawali dengan membuat struktur sel tunggal HCP MgSn dengan penambahan konsentrasi Sn (0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1; 2; dan 3 at.%) sebagai random solid solution. Struktur kemudian dimodelkan menggunakan potensial interatomik MEAM pada temperatur konstan 300 K. Selanjutnya, dilakukan minimisasi energi untuk memperoleh parameter kisi kesetimbangan, diikuti dengan proses relaksasi termal menggunakan ensemble NPT (300 K, 1 bar). Pengujian mekanik dilakukan melalui uniaxial tensile dan uniaxial compressive untuk menghasilkan kurva stress-strain, yang kemudian digunakan untuk menentukan nilai ultimate tensile strength, yield strength, dan Young’s modulus. Evolusi struktur kristal serta perilaku dislokasi dianalisis menggunakan common neighbor analysis (CNA) dan dislocation extraction analysis (DXA). Sedangkan stacking-fault energy (SFE) dihitung dari perbandingan energi struktur sempurna dan struktur yang mengandung stacking fault yang dinormalisasi terhadap luas bidang kesalahan tumpuk. Penambahan Sn pada paduan MgSn menunjukkan peningkatan terhadap nilai UTS (4,09 GPa menjadi 4,94 GPa), yield strength (2,89 GPa menjadi 3,02 GPa), dan Young’s modulus (51,28 GPa menjadi 53,53 GPa) seiring dengan peningkatan konsentrasi Sn. Peningkatan tersebut disebabkan oleh distorsi kisi yang menghambat pergerakan dislokasi dan memperkuat ikatan antaratom. Penambahan Sn >1 at.% juga meningkatkan nilai SFE dari 397 mJ/m2 pada Mg murni menjadi 407 mJ/m2 pada MgSn 3 at.%. Sedangkan penambahan Sn ? 1 at.% menghasilkan nilai SFE yang relatif sama bahkan lebih rendah daripada Mg murni yaitu 396 mJ/m2 pada MgSn 0,4 at.%. Hal ini disebabkan oleh perubahan struktur kristal dari HCP menjadi amorf akibat penambahan Sn yang mengubah kestabilan dislokasi dan struktur kristal sehingga mempengaruhi ketangguhan dan deformasi material.
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK KINEMATIK GPS UNTUK PENGAMATANDEFORMASI LEMPENG BUMI
Setiap penentuan posisi menggunakan metode GPS memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat ketelitian, seperti panjang baseline pengamatan, problem penentuan ambiguitas fase secara on-the-fly, kelambatan akibat medium propagasi di atmosfer, cycle slip, serta bias residual lainnya. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian kualitas data pengamatan kinematik GPS pada suatu jaring yang telah ditentukan sehingga diperoleh nilai ketelitian data agar dapat memberikan gambaran kualitas data pengamatan. Dari hasil pengolahan dengan menggunakan RTKLIB diperoleh gambaran ketelitian berupa nilai residu dan nilai variansi. Hasil simulasi pengamatan kinematik GPS menunjukkan bahwa semakin panjang baseline pengamatan maka semakin besar nilai residu dan nilai variansinya. Untuk panjang baseline 400 m nilai residu sebesar 1-2 cm dan nilai variansi berkisar diantara 0.01-0.02 cm2; untuk panjang baseline 7.1 km nilai residu berkisar diantara 0-13 cm dengan variansi sebesar 0.20-0.21 cm2; dan untuk panjang baseline 94.9 km nilai residu berkisar diantara 14-120 cm dan nilai variansi sebesar 0.47-0.97 cm2. Kemungkinan terjadinya perbedaan dengan nilai akibat ketidak-akuratan data pengamatan dengan nilai yang sebenarnya sebesar 0.5 cm. Menurut hasil penelitian, pada panjang baseline yang relatif pendek (dibawah 10 km), penggunaan kombinasi model koreksi ionosfer Estimated Slant Total Electron Content dan koreksi troposfer Saastamoinen memberikan hasil yang terbaik. Sedangkan untuk baseline dengan panjang dibawah 100 km penggunaan model koreksi troposfer Zenith Total Delay memberikan hasil terbaik. Dengan mengetahui karakteristik kinematik GPS diharapkan deformasi lempeng bumi —baik di darat maupun di dasar laut, dapat diamati dari waktu ke waktu. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan penelitian terkait fenomena deformasi lempeng bumi yang akurat, murah dan cepat.
PEMETAAN BAHAYA PROBABILISTIK JATUHAN TEFRA DI GUNUNG MERAPI DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN MODEL TEPHRA2: KASUS ERUPSI TUNGGAL DENGAN ANGIN PADA MUSIM YANG BERBEDA
Jatuhan tefra merupakan salah satu bahaya utama dari erupsi gunung berapi yang sering terjadi di Indonesia. Pola sebaran dan deposisi tefra tidak hanya bergantung pada kekuatan letusan gunung berapi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi angin di berbagai lapisan atmosfer. Variabilitas angin musiman di Indonesia berperan penting dalam menentukan arah dan jangkauan sebaran tefra, namun kajian kuantitatif yang secara khusus menilai pengaruhnya terhadap bahaya jatuhan tefra masih terbatas. Pengaruh variasi angin musiman terhadap sebaran dan probabilitas jatuhan tefra dianalisis menggunakan simulasi dengan model numerik Tephra2. Simulasi dilakukan dengan skenario erupsi yang merepresentasikan karakteristik letusan Gunung Merapi tahun 2010. Seluruh parameter erupsi meliputi tinggi kolom erupsi, laju keluaran massa, distribusi ukuran partikel, dan durasi letusan ditetapkan konstan untuk mengisolasi pengaruh angin. Kondisi angin direpresentasikan oleh data angin reanalysis ERA5 pada beberapa lapisan tekanan yang dikelompokkan ke dalam musim hujan (DJF), musim kemarau (JJA), serta dua musim peralihan (MAM dan SON). Beberapa prosedur telah dikembangkan untuk memungkinkan menjalankan model Tephra2 dengan masukan profil angin setiap 6 jam. Distribusi spasial jatuhan tefra dengan berbagai densitas kemudian dipetakan sebagai probabilitas keterlampauan (exceedance probability) untuk musim-musim terkait. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa jatuhan tefra dengan densitas tinggi terkonsentrasi di dekat kawah, sementara kondisi angin secara signifikan memengaruhi pola deposisi tefra untuk densitas menengah dan rendah. Selain itu, ditemukan bahwa akibat angin timuran di lapisan atas, jatuhan tefra cenderung menyebar ke arah barat pada setiap musim. Sebaran ke arah barat paling kuat terjadi selama musim JJA karena angin timuran di lapisan bawah yang relatif kuat. Variasi distribusi jatuhan tefra lebih beragam pada musim-musim lainnya. Analisis probabilistik menunjukkan bahwa keterlampauan massa tefra bervariasi secara spasial dan musiman, dengan paparan tertinggi diamati di sektor barat Gunung Merapi, khususnya di Kecamatan Srumbung, pada musim JJA dan SON, serta yang terendah pada musim DJF.
ANALISIS SCREENING PCL-5 DAN AKTIVITAS ELEKTROFISIOLOGIS OTAK SEBAGAI INDIKATOR AWAL PTSD PADA PENYINTAS PASCABENCANA LONGSOR DESA CIBENDA, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Bencana alam tanah longsor tidak hanya berdampak pada lingkungan, ekonomi, sosial, dan fisik penyintas, tapi juga merusak kesehatan mental yang berpotensi memunculkan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) pada penyintas. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi skor PCL-5, PSD relatif, asimetri otak, serta korelasi antara parameter PCL-5 dan parameter EEG pada penyintas pascabencana longsor Desa Cibenda, Kabupaten Bandung Barat (2024) melalui screening kuesioner PCL-5 dan pengukuran aktivitas gelombang alfa dan beta dengan fokus pada perbedaan antara individu yang terindikasi PTSD (n = 6) dan non-PTSD (n = 8). Data diperoleh dari skor kuesioner PCL-5 dan perekaman EEG di kanal AF7, AF8, TP9, dan TP10 pada tiga sesi: baseline awal (BL1), perlakuan (pemaparan kuesioner PCL-5, T), dan baseline akhir (BL2). Data EEG diolah menjadi 3 varibel analisis, meliputi power spectral density (PSD) relatif, frontal alpha asymmetry (FAA), dan temporal alpha asymmetry (TAA). Hasil three-way mixed ANOVA pada PSD relatif menunjukkan adanya perbedaan pola aktivasi otak yang spesifik secara spasio-temporal. Kelompok PTSD menunjukkan disregulasi berupa asimetri interhemisfer yang signifikan pada sesi BL2, ditandai dengan perbedaan daya antara AF7 dan AF8 (palfa = 0,032; pbeta = 0,033). Sebaliknya, kelompok non-PTSD menunjukkan spesialisasi aktivitas fungsional yang jelas antara wilayah frontal-temporal (AF7-TP9 serta AF8-TP10, p < 0,05), terutama pada sesi T dan BL2. Selain itu, kedua kelompok dapat dibedakan berdasarkan PSD relatif alfa dan beta pada kanal AF8, terutama di sesi BL2 (palfa/beta = 0,022). Hasil two-way mixed ANOVA untuk FAA mengonfirmasi perbedaan signifikan antarkelompok pada sesi BL2 (p = 0,048) serta disregulasi lateralitas pada kelompok PTSD yang lebih menonjol dibandingkan kelompok non-PTSD, khususnya antara sesi T dan BL2 (p = 0,014). Analisis korelasi mengungkapkan perbedaan arsitektur neural yang kontras antarkelompok. Pada kelompok non-PTSD yang memiliki struktur korelasi terorganisasi, area AF7 menjadi prediktor utama gejala intrusion melalui korelasi positif alfa (r = 0,84) dan korelasi negatif beta (r = -0,84). Sebaliknya, kelompok PTSD menunjukkan arsitektur yang tidak teratur, ditandai dengan diskontinuitas aktivitas pascastimulus (korelasi T-BL2 yang lemah) dan subskala negative alteration (r = 0,93) dan hyperarousal (r = -0,88) yang berkorelasi kuat secara spesifik dengan daya alfa TP9 pada sesi BL2. Penelitian ini membuktikan potensi kanal AF7 (anterofrontal kiri), AF8 (anterofrontal kanan), dan TP9 (temporoparietal kiri) sebagai kandidat biomarker elektrofisiologis sensitif untuk membedakan profil psikopatologis PTSD penyintas bencana longsor.
IDENTIFIKASI POTENSI ASET PUBLIK SEBAGAI DAYA TARIK MICE TOURISM DI KOTA ADMINISTRATIF JAKARTA PUSAT
Industri MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) berkembang pesat di DKI Jakarta dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta pariwisata perkotaan. Tingginya kepadatan kota dan keterbatasan lahan mendorong perlunya strategi pemanfaatan ruang yang adaptif melalui pendekatan asset-based activation. Pemanfaatan aset publik seperti taman kota, museum, pasar, kawasan transitoriented development (TOD), dan perpustakaan berpotensi meningkatkan vitalitas kawasan, memperkuat konektivitas pejalan kaki, serta membangun identitas kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method melalui analisis spasial dengan teknik buffer 400 meter dan 800 meter, matriks skoring berbasis lima dimensi kapasitas ruang, aksesibilitas, lingkungan pendukung, nilai simbolik, dan potensi regenerasi kawasan serta kajian literatur terkait pariwisata urban dan kota global. Analisis dilakukan untuk mengklasifikasikan tingkat kesiapan aset publik dalam mendukung kegiatan MICE ke dalam skala besar, menengah, dan kecil. Hasil penelitian menunjukkan variasi tingkat kesiapan aset publik, di mana aset skala besar paling siap mendukung MICE berskala luas, sementara aset skala menengah dan kecil lebih sesuai untuk kegiatan tematik dan berbasis komunitas. Temuan ini menegaskan pentingnya aktivasi aset publik dan integrasi aksesibilitas transportasi dalam pengembangan MICE yang berkelanjutan.
STUDY PENENTUAN NILAI KAPASITANSI PARASITIK PADA MOTOR INDUKSI DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ANSYS ELECTRONICS DESKTOP (AED)
Motor induksi tiga fasa merupakan motor listrik yang banyak digunakan pada berbagai pengaplikasian industri karena memiliki konstruksi yang sederhana, efisien yang tinggi, serta tingkat keandalan yang baik. Pada struktur motor induksi terdapat interaksi elektromagnetik antar komponen seperti stator, rotor, dan frame. Interaksi tersebut dapat menimbulkan kapasitansi parasit yang terbentuk akibat adanya beda potensial listrik yang dipisahkan oleh udara maupun material isolasi. Kapasitansi parasit pada motor induksi umumnya terdiri dari kapasitansi statorframe (Csf), rotor-frame (Crf) dan stator-rotor (Csr). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dari kapasitansi parasit pada motor induksi tiga fasa. Simulasi dilakukan menggunakan software ANSYS Maxwell dengan metode matriks kapasitansi guna menentukan hubungan kapasitif antar stator- rotor, dan frame. Model ini dilakukan dalam dengan variasi slot stator yang berubah yaitu, 30, 36, 42 dan 48 serta variasi jarak antar stator-rotor dari 5 mm hingga 10 mm. Dari variasi jarak sehingga simulasi dilakukan dengan dua kondisi elektromagnetik yaitu stator membesar dan rotor mengecil untuk mengamati pengaruh perubahan dimensi terhadap distribusi medan lsitrik dan nilai kapasitansi yang dihasilkan. Hasil simulasi menunjukkan perubahan dari jumlah stator dan jarak stator-rotor mempengaruhi yang signifikan pada kapasitansi stator-rotor dan rotor-frame, dimana nilai Csr dan Crf cendrung menurun seiring dengan bertambahnya jarak jarak stator-rotor. Sedangkan pada kapasitansi stator-frame cendrung lebih konstan untuk seluruh variasi slot stator dan jarak stator-rotor. Hal ini menunjukkan bahdwa distribusi medan listrik antar stator frame lebih dipengaruhi oleh geometri motor dibandingkan perubahan parameter slot. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebiih baik mengenai karakteristik kapasitansi parasit pada motor induksi serta menjadi dasar dalam analisis fenomena arus bocor dan tengana poros pada system penggerak listrik.
EVALUASI LAYANAN PENGEMBANGAN BISNIS PADA INKUBASI BERBASIS UNIVERSITAS: STUDI KASUS THE GREATER HUB
Inkubator bisnis berbasis universitas dipandang sebagai penghubung penting dalam memfasilitasi bisnis rintisan dengan menggabungkan sumber daya akademis dengan layanan inkubasi bisnis. Meskipun inkubator bisnis semakin banyak didirikan, hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengukur dampak layanan inkubasi bisnis terhadap pengembangan kemampuan kewirausahaan, kecuali kinerja bisnis jangka pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas layanan pengembangan bisnis yang diberikan oleh The Greater Hub SBM ITB, yang berafiliasi dengan Institut Teknologi Bandung. Penelitian ini berfokus pada pengukuran dampak layanan terhadap kemampuan menengah, yaitu peningkatan dampak sosial dan pembangunan aliansi, dan pengaruhnya terhadap logika pengambilan keputusan kewirausahaan, yaitu kausalitas dan eksperimentasi & kerugian yang terjangkau. Pendekatan penelitian kuantitatif, yaitu penelitian penjelasan kuantitatif, digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan inkubasi bisnis yang diberikan oleh The Greater Hub SBM ITB dalam mengembangkan kemampuan menengah dan pengaruhnya terhadap logika pengambilan keputusan kewirausahaan. Populasi penelitian ini terdiri dari 266 startup yang telah diinkubasi di The Greater Hub SBM ITB dari tahun 2019 hingga 2025. Pemodelan persamaan struktural digunakan sebagai teknik analisis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan pengembangan bisnis memiliki dampak yang kuat pada pembangunan aliansi ekosistem dan bahwa dampak tersebut terbatas pada kemampuan penskalaan. Penskalaan dampak sosial terkait positif dengan perencanaan terstruktur, sementara pembangunan aliansi sangat terkait dengan pengambilan keputusan yang adaptif dalam lingkungan yang tidak pasti. Studi ini menyimpulkan bahwa inkubator berbasis universitas harus dinilai berdasarkan kapasitas mereka untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan daripada berfokus pada kriteria berbasis output.
MENGEVALUASI KELAYAKAN KOMERSIAL PERAWATAN KULIT YANG TERINSPIRASI DARI TOKEK DAN DIREKAYASA SECARA BIOTEKNOLOGI UNTUK PIGMENTASI
Konsumen perawatan kulit terus mengkhawatirkan masalah pigmentasi seperti melasma, flek hitam, warna kulit tidak merata, dan hiperpigmentasi pasca inflamasi (PIH). Karena kurangnya penyesuaian dalam perawatan kulit tradisional, banyak orang masih merasakan hasil yang bervariasi bahkan dengan beragam solusi pencerah. Wawasan biologis baru yang dapat mengarah pada penggunaan kosmetik yang lebih terfokus diberikan oleh penemuan ilmiah terbaru, termasuk pengamatan bahwa mutasi pada gen SPINT1 mempengaruhi proses pigmentasi pada tokek Lemon Frost. Hasil ini menjadi landasan teoritis untuk Radiance, pendekatan perawatan kulit presisi yang terinspirasi dari tokek yang mencakup peptida bioteknologi, bahan aktif berbasis bukti, dan penyesuaian opsional berbasis DNA. Sehubungan dengan perawatan kulit berbasis bioteknologi, penelitian ini mengamati persepsi pelanggan, tantangan adopsi, faktor kepercayaan, dan kelayakan komersial. Minat pelanggan terhadap penyesuaian berbasis DNA adalah sedang (rata-rata = 3,28/5), namun niat membeli mereka jauh lebih rendah (rata-rata = 2,62/5), menurut survei utama (n = 53), yang didominasi oleh responden berusia antara 18 dan 24 tahun. Kekhawatiran mengenai akurasi, harga premium, privasi data, dan waktu yang dibutuhkan untuk menerima hasil berbasis DNA merupakan empat kendala utama yang selalu muncul. Di sisi lain, indikator pembangunan kepercayaan yang paling kuat ditemukan dalam rekomendasi dokter kulit dan bukti studi klinis, diikuti oleh bukti sosial seperti gambar sebelum dan sesudah. Menurut perkiraan keuangan berdasarkan pemodelan COIL Task 2, Radiance dapat memperoleh keuntungan sebesar AUD 525,216 dan penjualan sebesar AUD 4,48 juta selama periode lima tahun, dengan titik impas sebesar 6,686 unit. Temuan-temuan ini menunjukkan adanya peluang finansial yang signifikan, mengingat pertimbangan yang cermat terhadap harga, transparansi, dan kepercayaan. Berdasarkan temuan penelitian secara keseluruhan, bioteknologi yang terinspirasi dari tokek menawarkan potensi untuk menciptakan produk perawatan kulit yang lebih akurat. Namun, keterlibatan dokter kulit, tata kelola data yang etis, validasi ilmiah, dan komunikasi efektif yang menjembatani kesenjangan antara minat teoritis dan perilaku pembelian aktual semuanya diperlukan untuk keberhasilan penerapan. Radiance menunjukkan bagaimana psikologi konsumen dan keahlian biologis dapat digunakan untuk menciptakan strategi bisnis perawatan kulit presisi yang sukses.
EVALUASI KEBIJAKAN OPERASIONAL SISTEM PRODUKSI SEPABLOCK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIMULASI
Industri ketenagalistrikan memiliki tanggung jawab fundamental untuk selalu memenuhi permintaan energi listrik, namun pemenuhan tersebut dihadapkan pada dua tantangan utama, yaitu ketidakpastian permintaan dan kompleksitas penentuan konfigurasi sistem yang melibatkan konsekuensi teknis dan biaya operasional. Tantangan ini juga terjadi pada sistem distribusi PT PLN (Persero) UP3 Jambi, dimana masih sering terjadi pemadaman akibat defisit daya yaitu permintaan lebih besar dari kapasitas yang tersedia. Dalam periode 2018–2025, tercatat 60 kali pemadaman dengan rata-rata durasi 102 menit akibat defisit daya dengan total kerugian sebesar Rp. 504.431.452. Akar permasalahan tersebut adalah belum terintegrasinya proses prediksi beban listrik dengan proses perencanaan kapasitas jaringan distribusi listrik dan penentuan konfigurasi jaringan, dimana keputusan operasional masih bertumpu pada data historis dan konfigurasi eksisting yang bersifat statis sehingga tidak mempertimbangkan kemungkinan kenaikan beban yang dapat menyebabkan trip. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem prediksi permintaan beban listrik dan perencanaan kapasitas jaringan distribusi listrik berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan Mixed-Integer Linear Programming (MILP) dimana model prediksi yang dibentuk menggunakan metode statistik multiple linear regression (MLR) dengan variabel meliputi beban historis, data kalender, kondisi cuaca, jumlah pelanggan, serta variabel teknis operasional. Pemilihan variabel pada penelitian ini menggunakan stepwise regression, serta evaluasi model menggunakan MAPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MLR mampu menghasilkan tingkat akurasi prediksi yang kompetitif, dengan MAPE di bawah 5% pada horizon waktu per jam, per hari dan perbulan yaitu MAPE per jam 3,74%, MAPE per hari 4,76% dan MAPE per bulan 4,62% sehingga layak digunakan sebagai input bagi optimasi konfigurasi. ii Perencanaan kapasitas jaringan distribusi listrik dan rekonfigurasi jaringan pada penelitian ini menunjukkan potensi pengurangan biaya kerugian energi, biaya unmet demand dan biaya kejadian trip melalui rekomendasi rekonfigurasi switching yang dapat diterapkan pada sistem IoT–SCADA, sehingga konfigurasi jaringan dapat disesuaikan secara adaptif terhadap perubahan beban. Berdasarkan hasil optimasi, sebanyak 21 feeder di rekonfigurasi dengan total biaya sebesar Rp. 28.622.992,78 dengan penghematan sebesar 76,44% dibanding sistem aktual.
IDENTIFIKASI MICRORNA YANG MENARGET FAKTOR TRANSKRIPSI SEBAGAI REGULATOR TIDAK LANGSUNG JALUR BIOSINTESIS KURKUMIN DALAM UPAYA PENINGKATAN KANDUNGAN KURKUMIN PADA CURCUMA LONGA L.
Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman obat Indonesia yang memiliki nilai ekonomi penting dengan ekstrak kurkumin sebagai senyawa unggulan dari rimpang kunyit. Kurkumin merupakan salah satu jenis senyawa metabolit sekunder kurkuminoid yang kaya akan potensi farmakologis, di antaranya menunjukkan aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antivirus, antidiabetik, hingga antikanker. Namun demikian, kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang kunyit secara alami rendah (±3–8% berat kering) dengan jumlah yang bervariasi antar varietas. Kondisi ini disebabkan oleh biosintesis kurkumin yang sangat bergantung pada faktor genetik maupun lingkungan. Akibatnya, produksi obat-obatan yang membutuhkan ekstrak kurkumin mengalami kendala dalam memenuhi konsistensi dosis dan kualitas. Selain itu, rendahnya kadar kurkumin menyebabkan kebutuhan rimpang kunyit lebih besar sehingga meningkatkan biaya produksi. Upaya peningkatan kadar kurkumin melalui pemuliaan konvensional seringkali menghadapi hambatan karena kondisi keanekaragaman genetik kunyit yang rendah serta sifat steril kunyit akibat status triploid (3n). Maka dari itu, pengembangan metode pemuliaan molekuler diperlukan sebagai solusi perbaikan sifat tanaman yang lebih tepat sasaran dan efisien. Salah satu pendekatan rekayasa genetik, yakni genome editing dapat digunakan untuk menarget sistem regulasi ekspresi gen jalur biosintesis kurkumin. Regulasi ekspresi gen dikendalikan oleh peran microRNA dan faktor transkripsi (TF). Dalam konteks ini, miRNA dan faktor transkripsi (TF) bekerja dalam jaringan regulasi yang saling berinteraksi untuk mengontrol perkembangan dan adaptasi tanaman. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan ekspresi diferensial miRNA kunyit pada dua aksesi kunyit dengan kadar kurkumin lebih tinggi dan lebih rendah, (2) mengidentifikasi jenis- jenis miRNA yang menarget faktor transkripsi terkait regulasi ekspresi gen jalur biosintesis kurkumin, dan (3) menentukan gen-gen yang ditarget oleh faktor transkripsi dari miRNA berkaitan dengan regulasi biosintesis kurkumin. Penelitian ini menggunakan dua sampel rimpang kunyit yaitu aksesi kunyit dengan kadar kurkumin lebih tinggi (No. aksesi CL?82: 4,94% b/b kurkuminoid) dan aksesi kunyit berkadar kurkumin lebih rendah (No. aksesi CL?61: 2,51% b/b kurkuminoid), masing-masing dilakukan pengujian dengan dua ulangan. MiRNA dari rimpang kunyit diekstraksi menggunakan kit isolasi microRNA, kemudian kualitas hasil isolasi divalidasi melalui pengukuran kemurnian dan konsentrasi miRNA serta visualisasi pita miRNA pada gel elektroforesis. Pengurutan basa miRNA pada kedua kelompok sampel dilakukan dengan small RNA sequencing menggunakan platform Illumina NovaSeq 6000. Ekstraksi miRNA menghasilkan miRNA murni yang terkonfirmasi melalui pengukuran rasio kemurnian serta visualisasi pita dengan ukuran sesuai karakteristik miRNA. Hasil pembacaan sekuens miRNA dari masing-masing sampel diperoleh bacaan mentah sejumlah 11 – 16 juta reads. Melalui tahap quality control hasil akhir diperoleh bacaan bersih miRNA (18 – 28 bp) sejumlah 5 – 12 juta reads. Identifikasi novel dan known miRNA menghasilkan 154 known miRNA dan 85 novel miRNA. Dari jumlah tersebut, 21 miRNA dilaporkan terekspresi signifikan melalui analisis ekspresi diferensial miRNA di mana 14 miRNA mengalami kenaikan ekspresi (upregulated) dan tujuh miRNA mengalami penurunan ekspresi (downregulated). Analisis prediksi target miRNA menggunakan psRNAtarget menunjukkan tujuh jenis miRNA menarget faktor transkripsi. Empat miRNA yaitu novel-miR99, zma-miR156b, novel-miR7, dan novel-miR92 terekspresi naik sementara tiga miRNA lainnya, yaitu ath-miR158, novel-miR29, dan osa-miR159 terekspresi turun. Analisis Gene Ontology dari gen target faktor transkripsi ditemukan berperan dalam regulasi transkripsi, aktivasi faktor transkripsi, pengikatan DNA serta respons terhadap cekaman dan sinyal hormon sehingga berpotensi dalam regulasi tingkat atas biosintesis kurkumin. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan varietas C. longa unggul melalui pendekatan genome editing yang menargetkan miRNA pada masa mendatang.
PENGARUH KEPEMILIKAN SELEBRITI TERHADAP NIAT BELI MELALUI PERSEPSI KEASLIAN: STUDI KASUS PADA RARE BEAUTY OLEH SELENA GOMEZ
Meningkatnya konsep celebrity-owned brands semakin berkembang dan memengaruhi perilaku konsumen, khususnya konsumen yang menaruh perhatian besar pada autentisitas dalam komunikasi merek. Berbeda dengan endorsement, celebrity-owned brands menunjukkan keterlibatan langsung dalam pengembangan dan pengelolaan merek, sehingga berpotensi meningkatkan kepercayaan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh celebrity ownership terhadap purchase intention pada Rare Beauty oleh Selena Gomez melalui perceived authenticity sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan kerangka Stimulus-Organism-Response (SOR), di mana celebrity ownership berperan sebagai stimulus, perceived authenticity sebagai organism, dan purchase intention sebagai respons. Meaning Transfer Theory oleh McCracken digunakan untuk menjelaskan bagaimana nilai dan identitas selebritas dapat ditransfer ke merek dan selanjutnya memengaruhi konsumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner daring kepada 123 responden di Indonesia berusia 18-28 tahun yang telah mengenal Rare Beauty. Data dianalisis menggunakan SPSS dan hasil penelitian menunjukkan bahwa celebrity ownership berpengaruh positif terhadap perceived authenticity dan purchase intention. Selain itu, perceived authenticity juga berpengaruh positif terhadap purchase intention. Analisis mediasi menunjukkan bahwa perceived authenticity memediasi secara penuh hubungan antara celebrity ownership dan purchase intention.
KERANGKA STRATEGI PEMASARAN PRA PELUNCURAN UNTUK LOKERKU: STUDI EKSPLORATIF TENTANG FAKTOR PENDORONG ADOPSI PADA INDIVIDU KARIER AWAL DI JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kerangka strategi pemasaran pra peluncuran bagi LokerKu, yaitu platform rekrutmen digital yang dirancang untuk mendukung pencari kerja karier awal di Jakarta. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi platform digital baru dalam menarik calon pengguna sebelum memasuki pasar. Dalam konteks tersebut, pemahaman mengenai persepsi target pengguna terhadap konsep platform yang ditawarkan menjadi penting untuk menyusun strategi masuk pasar yang efektif. Penelitian ini menggunakan kerangka Difusi Inovasi dari Rogers dengan fokus pada empat atribut utama, yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kompleksitas, dan kemudahan diamati. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur terhadap individu karier awal berusia 19 sampai 25 tahun di Jakarta yang memiliki pengalaman dalam mencari pekerjaan atau magang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LokerKu dipersepsikan secara positif ketika diposisikan sebagai platform yang tidak hanya menyediakan informasi lowongan kerja. Partisipan menilai fitur seperti pencocokan kerja yang terarah, dukungan penyusunan curriculum vitae, persiapan wawancara, dan pelacakan lamaran sebagai fitur yang relevan dan bernilai. Keunggulan relatif terlihat dari kemampuan platform dalam memberikan arahan dan dukungan yang lebih jelas selama proses pencarian kerja, sedangkan kesesuaian tercermin dari kecocokan antara konsep platform dengan kebutuhan pengguna karier awal. Kesederhanaan, kejelasan, serta visibilitas progres juga menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi positif. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa LokerKu perlu diposisikan sebagai pendamping karier yang terpercaya bagi pencari kerja karier awal dengan menekankan dukungan yang praktis, kredibilitas, kemudahan penggunaan, serta komunikasi nilai yang jelas sebelum peluncuran.