📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 109 dokumen

ANALISIS TEKNO-EKONOMI PRODUKSI HIDROGEN HIJAU DENGAN ELEKTROLISIS PROTON EXCHANGE MEMBRANE (PEM) DI PLTA MUSI

Hidrogen merupakan salah satu energi terbarukan yang berperan penting dalam proses transisi energi untuk menekan laju emisi karbon. Peran penting hidrogen tersebut didukung dengan jumlah konsumsi hidrogen secara global yang terus meningkat 3% per tahun. Namun, jumlah hidrogen yang beredar mayoritas berasal dari hidrogen abu dan biru yang masih menggunakan sumber energi fosil. Hidrogen hijau yang diproduksi dari proses elektrolisis menggunakan sumber energi dari energi terbarukan hanya sebesar 0,1%. Oleh sebab itu, perlu peningkatan produksi hidrogen hijau salah satunya dengan memanfaatkan PLTA sehingga tidak ada emisi yang dihasilkan dari proses produksi hingga konsumsi hidrogen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hidrogen hijau yang dapat diproduksi melalui PEM Elektrolisis dengan energi dan air sebagai feedwater dari PLTA Musi. Simulasi PEM Elektrolisis dengan kapasitas 2 MW dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Aspen Plus. Pada penelitian ini juga dilakukan simulasi proses water treatment yang terdiri dari Ultrafiltration (UF) dan Reverse Osmosis (RO) untuk meningkatkan kualitas air PLTA Musi hingga memenuhi standar untuk PEM Elektrolisis. Simulasi dilakukan melalui perangkat lunak WAVE. Analisis ekonomi dilakukan diakhir dari penelitian ini untuk mengetahui nilai levelized cost of hydrogen (LCOH) dari hidrogen hijau yang dapat diproduksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa produksi hidrogen hijau dari PLTA Musi melalui PEM Elektrolisis berkapasitas 2 MW adalah 32,98 kg/h. Berdasarkan pola operasi PLTA Musi, maka hidrogen hijau yang dapat diproduksi dengan PEM Elektrolisis sebanyak tiga unit adalah 480983,6 kg dalam satu tahun. Hasil simulasi proses water treatment menunjukkan bahwa penggunaan UF dan RO dapat meningkatkan kualitas air PLTA Musi menjadi sesuai standar ASTM Type II sebagai feedwater proses PEM Elektrolisis. Nilai LCOH hidrogen hijau pada penelitian ini sebesar 7,8 $/kg. Dua faktor penentu nilai tersebut adalah biaya konsumsi listrik dan biaya investasi awal electrolyzer stack dan BOP. Nilai LCOH tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan hidrogen abu dan hidrogen biru.

2024
👤 Penulis: Ervin Dwi Saputro
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Ekonomi

PERANCANGAN PV ON GRID DENGAN BATERAI DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN ELECTRIFYING LIFESTYLE DI ALUN-ALUN KOTA PAGARALAM

Penelitian ini membahas implementasi Electrifying Lifestyle di Alun-Alun Merdeka Kota Pagaralam, yang mengintegrasikan sistem PLTS terhubung jaringan dengan penyimpanan baterai untuk mendukung transisi dari memasak gas ke listrik dan mempromosikan praktik berkelanjutan. Memanfaatkan energi surya dengan iradiasi rata-rata 4,65 kWh/m²/hari, inisiatif ini mendukung Rencana Energi Nasional Indonesia untuk mencapai 23% energi terbarukan pada 2025. Dua skema dianalisis: skema pertama mempertahankan memasak konvensional dengan integrasi energi terbarukan, dan skema kedua beralih sepenuhnya ke peralatan listrik. Kedua skema dibandingkan dengan Area Gaya Hidup Elektrifikasi di Jambi. Hasil perhitungan menunjukkan peningkatan permintaan energi yang signifikan, memerlukan kapasitas PLTS 64,37 kW dan 106,99 kW, serta menentukan spesifikasi sistem optimal untuk efisiensi maksimal. Penelitian ini menunjukkan manfaat transisi dari sistem berbasis bahan bakar fosil ke listrik untuk ruang publik, dengan potensi untuk diterapkan di kota lain guna mengurangi emisi dan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih bersih. Berdasarkan simulasi dan analisis, dapat disimpulkan bahwa implementasi Electrifying Lifestyle di Alun-Alun Pagaralam memberikan peningkatan efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pengembalian investasi dan biaya energi yang lebih cepat pada skema kedua.

2024
👤 Penulis: Wella Datika
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Efisiensi Energi Publik

ANALISIS PENURUNAN EMISI KARBON MELALUI PERENCANAAN DAN PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN DI KALIMANTAN TIMUR

Peningkatan kebutuhan energi di Kalimantan Timur didorong oleh pertumbuhan populasi dan perkembangan ekonomi sehingga menuntut adanya perencanaan energi yang komprehensif untuk memastikan keberlanjutan dan efisiensi. Meskipun wilayah Kalimantan Timur memiliki potensi energi terbarukan yang signifikan dari tenaga air, surya, dan biomassa, lebih dari 85% pembangkit listriknya masih bergantung pada batu bara dan diesel yang menyumbang emisi karbon dioksida (CO?) dalam jumlah besar. Pada tahun 2022, energi terbarukan hanya menyumbang 7,24% dalam bauran energi regional, jauh di bawah target 12,39% pada tahun 2025 sesuai Rencana Umum Energi Nasional. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak Low Emission Analysis Platform (LEAP) untuk memproyeksikan permintaan energi dan mengevaluasi pengurangan emisi CO? hingga tahun 2035 dengan empat skenario: Business as Usual (BAU), pemanfaatan PLTN, energi terbarukan, dan kombinasi PLTN dengan energi terbarukan (RE MIX). Hasil simulasi menunjukkan peningkatan permintaan listrik dari 4.420,2 GWh pada tahun 2023 menjadi 6.968,1 GWh pada tahun 2035, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 3,83%. Skenario RE MIX mencatat pengurangan emisi terbesar sebesar 14,52% dengan total emisi 11.577,5 ribu metrik ton, sementara skenario PLTN mencatat pengurangan 12,84% dengan total emisi 11.805,6 ribu metrik ton. Dari sisi biaya pokok produksi (BPP), skenario energi terbarukan menunjukkan biaya terendah, yakni Rp822,72/kWh, dibandingkan skenario BAU, sedangkan skenario PLTN dan RE MIX mencatat BPP tertinggi masing-masing sebesar Rp1.456,39/kWh dan Rp1.514,30/kWh. Meskipun demikian, skenario RE MIX menawarkan manfaat penurunan emisi terbesar dengan kredit karbon sebesar 3.933 ribu USD, diikuti oleh skenario PLTN dengan 3.476,82 ribu USD, sementara skenario energi terbarukan menghasilkan kredit karbon sebesar 980,74 ribu USD. Skenario Energi Terbarukan menjadi pilihan yang paling optimal dalam jangka menengah dalam transisi energi menuju sistem yang lebih berkelanjutan. Kombinasi biaya produksi yang rendah, investasi yang relatif terjangkau, dan kontribusi terhadap keberlanjutan menjadikan skenario ini pilihan strategis dalam mendukung komitmen terhadap pengurangan emisi dan peralihan ke energi terbarukan yang ramah lingkungan.

2024
👤 Penulis: Anwar Siddiq Sutejo
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Emissi Karbon 🏷️ Perencanaan Energi

ANALISIS PERFORMA PV MODULE PADA DAERAH TERPOLUSI

Aplikasi modul Photovoltaik (PV) menawarkan banyak manfaat dalam mendukung transisi ke energi terbarukan. Meskipun memiliki banyak keuntungan, modul PV memiliki kelemahan, salah satunya adalah polutan yang dapat memengaruhi kinerja output PV. Penelitian ini dilakukan di wilayah baturaja, sumatera selatan yang dekat dengan pabrik semen, sehingga terdapat potensi polutan partikel semen yang dapat mengendap pada permukaan modul PV. Penelitian ini menganalisis kinerja dan efisiensi tiga buah modul PV yang dalam studi serupa umumnya hanya menggunakan dua buah modul PV dengan dua kondisi berbeda. Ketiga modul PV dianalisa dengan tiga kondisi yang berbeda yaitu kondisi modul PV bersih, kondisi modul PV sebenarnya yang dibiarkan terkontaminasi debu, dan kondisi modul PV yang diberikan endapan debu seberat 40 gram. Ketiga modul PV tersebut dibandingkan dengan kondisi iradiansi dan waktu yang sama. Penelitian ini juga menggunakan dua beban lampu yang berbeda yaitu lampu 7 Watt dan 50 Watt. Pengambilan data dilakukan sebanyak 8 kali dalam kurun waktu 94 Hari yang dimulai dari pukul 09:00 hingga 16:00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa endapan debu berpengaruh terhadap kinerja output PV modul dan efisiensinya. Kondisi Tegangan open-circuit (Voc) dan Arus short-circuit (Isc) yang lebih rendah memiliki pengaruh lebih besar terhadap kinerja output Modul PV dari pada polutan yang menempel di permukaan modul PV, Selain itu, kondisi cuaca dan irradiansi juga memiliki dampak signifikan terhadap kinerja output PV, Meskipun cuaca hujan dapat mengurangi endapan debu pada modul PV

2024
👤 Penulis: Nendi Wismoyo
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Kinerja Modul Photovoltaik 🏷️ Polusi Dan Eksposur Lingkungan

PEMODELAN DAN OPTIMISASI PADA SISTEM PEMBANGKITAN HYBRID DIESEL, SOLAR PV, DAN BIOMASSA DENGAN BATERAI PADA PULAU TERISOLASI

Sistem hybrid adalah suatu sistem yang memiliki banyak gabungan pembangkit (thermal dan renewable energy). Lokasi peneilitian berada di Pulau Gili Ketapang yang terletak di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Kondisi eksisting pada Gili Ketapang kebutuhan listrik disuplai oleh sistem Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD). PLTD Gili Ketapang terdiri dari 2 mesin yaitu mesin CUMMINS II dan CUMMINS III dengan daya mampu masing-masing 525 kW yang dioperasikan secara bergiliran. Beban puncak maksimum yang pernah dialami oleh sistem Gili Ketapang adalah 474 kW pada tahun 2021. Secara rata-rata pada tahun 2024 untuk beban pada saat LWBP adalah 302 kW dan saat WBP adalah 373 kW. Sistem PLTD memiliki biaya operasional yang tinggi, ketergantungan logistik yang rumit, serta dampak lingkungan signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi di Gili Ketapang agar pemenuhan kebutuhan listrik dapat selalu tersedia dengan andal dan berkualitas dan dengan adanya system baru yang diterapkan dapat mengurangi biaya pembangkitan serta menciptakan energi yang ramah lingkungan. Melalui struktur mikrogrid, potensi pengembangan sistem pembangkit tenaga berbasis energi terbarukan, berbagai jenis penyimpanan, dan beban yang bervariasi diintegrasikan. PLTS sebagai energi baru terbarukan tentunya diharapkan mampu mengurangi biaya operasi PLTD dikkarena PLTS mendapatkan energi primer secara gratis. Namun PLTS memiliki kekurangan seperti energi baru terbarukan pada umumnya yaitu “intermitten”, dimana pada PLTS sendiri tidak dapat secara terus-menerus menyuplai sistem karena bergantung pada paparan sinar matahari. Walaupun PLTS juga dilengkapi dengan Battery Energy Storage System (BESS), namun kapasitas nya tidak dapat memenuhi kebutuhan listrik secara terus – menerus dalam jangka panjang. Diperlukan tambahan pembangkit ramah lingkungan lainnya yang sumber energinya melimbah di sekitar daerah terisolasi yakni, biomassa yang berbahan bakar sisa hasil panen jagung (maize stover). Diharapkan dengan adanya pembangkit ini dapat meningkatkan tingkat perekonomian warga sekitar. Tesis ini menyajikan penelitian optimasi tentang desain dan pengembangan sistem energi terbarukan hibrida untuk aplikasi mikrogrid di Gili Ketapang. Sistem ini menggabungkan teknologi solar PV, biomassa, dan baterai. Sebuah teknik optimasi Least Cost dengan aplikasi HOMER telah dilakukan untuk menentukan ukuran optimal dari sumber-sumber dalam sistem hibrida, dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan kebutuhan beban di Gili Ketapang. Evaluasi menunjukkan bahwa yang paling optimal adalah kapasitas PV sebesar 798 kW, Biomassa sebesar 343 kW dan baterai Lithium ion sebesar 3.400 kWh. Sedangkan secara biaya sistem hybrid yang terhubung ke jaringan yang optimal memperoleh NPC 167,26 milyar dan biaya pembangkitan (COE) sebesar Rp. 4.615/kWh. Dan secara dampak lingkungan, dengan sistem baru ini emisi gas CO2 mencapai 9.543 kg/tahun. Selain mendesain sistem yang dapat dikategorikan secara finansial paling optimal, dalam penelitian ini juga penulis melakukan analisis terkait sisi keteknisan dengan menggunakan aplikasi DIGSILENT Power Factory yakni mensimulasikan rugirugi yang ditimbulkan dan analisa kestabilan dalam kondisi tertentu, sehingga diharapkan dengan sistem baru ini selain layak dari sisi ekonomis juga layak dari sisi teknik. Dari hasil simulasi menunjukkan bahwa rugi-rugi setelah diterapkan system baru menjadi 2,11% (turun 78,92% dari susut bulan Desember 2024) Program ini penting karena dapat mengantisipasi pemadaman bergilir akibat kekurangan pasokan dan mengurangi biaya pembangkitan. Ini sejalan dengan program PLN, yang mendukung energi ramah lingkungan. Dan pemerintah daerah dan PT PLN dapat bekerja sama untuk mengelola sumber daya energi baru terbarukan secara terintegrasi.

2024
👤 Penulis: Muhammad Rizal Falfi
🏷️ Hybrid Energy Systems 🏷️ Microgrid 🏷️ Energi Terbarukan

KAJIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ENERGI TERBARUKAN DALAM UPAYA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DI INDONESIA

Pasca Perjanjian Paris, Indonesia telah menyampaikan komitmen penurunan emisi GRK melalui NDC di 2016 dan diperbarui di 2022 melalui ENDC. Sebelumnya, Indonesia telah menyatakan komitmen serupa melalui Perpres No.61/2011. Setiap kali Indonesia membuat komitmen baru, tingkat emisi di tahun komitmen tersebut selalu lebih tinggi dibandingkan tingkat emisi di tahun komitmen sebelumnya. Pada ENDC, sektor energi merupakan penghasil emisi tertinggi kedua di 2010 dan diproyeksikan menjadi yang tertinggi di 2030. Berdasarkan hal tersebut, sektor energi seharusnya memegang peran kunci upaya penurunan emisi dan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan merupakan salah satu caranya. Namun hingga tahun 2023, bauran energi terbarukan masih rendah. Sebenarnya, rencana pemanfaatan energi terbarukan telah masuk dalam RPJPN Tahun 2005-2025 serta KEN di 2006. Namun ketika dikaitkan dengan komitmen tersebut, pemanfaatan energi terbarukan belum mampu menggantikan energi fosil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan energi terbarukan dalam upaya penurunan emisi GRK di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan analisis naratif dan analisis implementasi kebijakan publik. Temuan dari penelitian ini adalah kebijakan energi terbarukan telah ada sejak 1974 melalui Keppres No.16/1974 dan rencana pemanfaatan energi terbarukan telah masuk dalam KEN sejak 2006 dan RPJPN Tahun 2005-2025. Selanjutnya, analisis naratif pada rentang waktu implementasi komitmen penurunan emisi menemukan bahwa terjadi berbagai hal dalam implementasi kebijakan energi terbarukan, seperti rendahnya capaian program percepatan pembangunan pembangkit listrik, konflik proyek PLTP, belum adanya peta jalan pensiun dini PLTU, serta penghapusan skema ekspor listrik PLTS Atap. Lalu, pada analisis implementasi kebijakan publik diketahui bahwa terjadi inkonsistensi antara kebijakan dengan implementasinya, ketidakpatuhan pemerintah pada peraturan, kebijakan menimbulkan disinsentif bagi masyarakat, serta kewenangan urusan energi terbarukan terfragmentasi dalam pemerintah. Terakhir, investasi di bidang energi terbarukan belum mempengaruhi tingkat emisi GRK karena realisasi investasi membutuhkan beberapa tahun pasca komitmen dibuat, investasi energi terbarukan tidak cukup besar untuk dapat menggantikan peran energi fosil, harga jual listrik energi terbarukan tidak bersaing, dan pemanfaatan pembangkit listrik batu bara terus meningkat.

2024
👤 Penulis: Fikri Abdurrahman Haidar
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Penurunan Emission Gas Rumah Kaca (Grk) 🏷️ Implementasi Kebijakan Publik

INTEGRASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEMS UNTUK PEMENUHAN ENERGI INDUSTRI DI PULAU TERPENCIL: STUDI KASUS PULAU BUNYU INDONESIA

Pulau Bunyu, yang terletak di Kalimantan Utara, Indonesia, mengalami peningkatan kebutuhan energi yang didorong oleh pertumbuhan sektor industri. Sistem energi yang ada saat ini, yang bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), menghadapi tantangan keberlanjutan. Penelitian ini mengevaluasi potensi integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan Battery Energy Storage Systems (BESS) sebagai Solusi energi yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan perhitungan cepat digunakan untuk menganalisis kelayakan sistem hibrid ini, yang kemudian diverifikasi melalui simulasi. Sistem yang diusulkan mencakup PLTS berkapasitas 26,6 MWp, penyimpanan baterai sebesar 70,4 MWh, dan inverter 25,3 MW. Meskipun Levelized Cost of Electricity (LCOE) yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan sistem saat ini, manfaat jangka Panjang seperti pengurangan konsumsi bahan bakar fosil, emisi yang lebih rendah, dan keandalan energi yang lebih baik, menjadikan sistem ini solusi yang menjanjikan. Penelitian ini juga merekomendasikan penghapusan PLTD secara bertahap, menggantinya dengan kombinasi PLTMG dan PLTS+BESS untuk meningkatkan keandalan energi di Pulau ini. Pendekatan ini dapat menjadi modul bagi integrasi energi terbarukan di wilayah terpencil lainnya di Indonesia.

2024
👤 Penulis: Oddy Permana Putra Sinaga
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Hidrologi Industri

MENGATASI TANTANGAN BISNIS PANEL SURYA: STUDI KASUS ENERGIAS DI INDONESIA

Perubahan iklim dan ketergantungan terhadap sumber energi fosil yang terbatas telah menimbulkan krisis energi dan ketidakstabilan ekonomi di seluruh dunia dan Indonesia. Ketrgantungan terhadapan energi tidak terbarukan juga mengancam keberlangsungan dari lingkungan di Indonesia. Hal tersebut membuat adanya keinginan akan energi terbarukan, salah satunya dengan menggunakan tenaga surya. Dengan letak geografisnya yang strategis di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki potensi besar untuk penggunaan dan pengembangan energi tenaga surya dan dapat menjadi salah solusi untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Energias, sebagai perusahaan kecil yang bergerak di bidang penyedia dan pemasangan panel surya, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi terbarukan dan terjangkau di Indonesia. Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi tantangan yang dihadapi perusahaan kecil dalam industri energi terbarukan dengan menggunakan pendekatan VRIO dan PESTLE. Analisis VRIO digunakan untuk mengidentifikasi sumber daya internal yang dimiliki oleh Energias serta memberikan evaluasi, factor internal apa yang mempengaruhi kinerja Energias selama menjalankan bisnis di sektor ini. Di sisi lain, analisis PESTLE mengevaluasi faktor-faktor eksternal yang berpengaruh bagi Energias dan bisnis sejenis, termasuk potensi besar energi surya, kebijakan pemerintah, dinamika pasar, dan tren teknologi, yang memengaruhi perkembangan perusahaan dalam konteks ekonomi lokal dan global. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis untuk meningkatkan daya saing Energias dalam pasar energi terbarukan, serta menawarkan wawasan bagi pelaku usaha kecil lainnya dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi tantangan di sektor energi surya di Indonesia.

2024
👤 Penulis: Rifqi Putrayesa
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Bisnis Perusahaan Kecil 🏷️ Analisis Swot

UJI EKSPERIMENTAL KINERJA ARCHIMEDES SPIRAL WIND TURBINE

Energi listrik merupakan energi krusial yang memiliki peranan penting bagi seluruh masyarakat pada kehidupan modern. Namun, saat ini sumber terbesar penghasil energi listrik berasal dari PLTU. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia berencana diversifikasi energi sesuai yang tercantum dalam Perpres Nomor 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Dalam rencana tersebut, ditargetkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Indonesia mencapai 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Salah satu Energi Terbarukan yang melimpah di Indonesia adalah energi angin. Namun, angin di Indonesia memiliki kecepatan angin rendah (3 – 6 m/s). Perlu dikembangkan turbin angin yang cocok digunakan pada kondisi tersebut. Salah satu alternatif adalah turbin angin archimedes spiral (ASWT). Oleh karena itu, Tugas Sarjana ini secara eksperimental menyelidiki kinerja rotor ASWT pada kondisi kecepatan angin tertentu dengan opening blade angle berbeda. Percobaan dilakukan pada kecepatan angin 4 m/s, 5 m/s, dan 6,5 m/s dengan variasi opening blade angle 30°,45°,dan 60°. Percobaan tersebut dilakukan menggunakan wind tunnel. Oleh karena itu, percobaan yang dilakukan merupakan percobaan skala laboratorium. Percobaan dilakukan dengan bertujuan mengambil data nilai torsi, kecepatan putar, dan daya rotor ASWT. Kemudian data yang terkumpul diolah untuk menghasilkan plot koefisien data Cp, koefisien torsi Ct, dan tip speed ratio yang dapat dihasilkan oleh rotor ASWT pada tiap kecepatan berbeda untuk mengevaluasi kinerja rotor ASWT. Pada tiap percobaan, rotor ASWT dengan blade angle 60° memiliki nilai Cp maksimum di tiap-tiap kecepatan berbeda. Nilai Cp maksimum yang didapat pada percobaan ini adalah 0,26. Selain itu, rotor ASWT dengan bilah terbesar memiliki rentang TSR operasi lebih lebar dan titik rasio TSR lebih tinggi dari koefisien daya maksimum daripada rotor ASWT dengan blade angle kecil. Di sisi lain, rotor ASWT dengan blade angle kecil memungkinkan aliran bebas yang tidak terganggu melewati bilah rotor lebih mudah daripada yang memiliki blade angle besar.

2024
👤 Penulis: Muhammad Rofi Al Gifari
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Turbin Angin 🏷️ Kecerdasan Buatan

PRODUKSI BESI NIKEL BABI MELALUI REDUKSI BIJIH NIKEL SAPROLITIK MENGGUNAKAN TOREFAKSI BIOMASSA

Nikel merupakan salah satu bahan baku terpenting dalam industri. Ini memainkan peran penting dalam produksi baja tahan karat, yang digunakan dalam berbagai reaktor proses kimia. Namun, metode ekstraksi menghasilkan emisi karbon dalam jumlah yang signifikan ke lingkungan. Dengan target Indonesia menuju target “Zero Net Emission” pada tahun 2060, metode yang jauh lebih bersih perlu ditemukan. Reduksi dilakukan untuk mengekstraksi nikel dari bijih nikel sprolitik. Proses reduksi secara tradisional menggunakan batubara sebagai reduktor. Biomassa ter-torefaksi merupakan potensi pengganti yang menjanjikan. Dengan tidak adanya batubara, biomassa ter-torefaksi dapat melakukan reduksi dengan sukses — dengan tidak adanya sulfur dan kontaminan lainnya, Ni dan Fe akan dapat diekstraksi dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Torefaksi dilakukan dalam kondisi inert dengan menggunakan Nitrogen dan berlangsung pada suhu 300°C selama 60 menit. Biomassa yang telah ditorrefaksi kemudian dicampur dengan 8 gram bijih saprolit dengan menggunakan stoikiometri 1:1 dan 1:1,5 untuk mendapatkan massa total biomassa yang telah ditorrefaksi. Campuran ini kemudian direduksi pada suhu 900°C selama 3 jam dalam horizontal muffle furnace dan kemudian dilanjutkan dengan peleburan pada suhu 1550°C selama 2 jam dalam vertical furnace. Hasil sampel yang diperoleh dianalisis menggunakan SEM-EDS. Proses torefaksi menghasilkan peningkatan persentase fixed carbon dalam biomassa yang ditorrefaksi dalam kisaran 5%-15%. Hal ini memberikan persentase fixed carbon akhir dalam biomassa sebesar 20%-29%. Menghasilkan terpilihnya sebuk gergaji mahoni dan kaliandra, dan cangkang sawit dan kemiri. Reduksi memberikan persentase massa akhir Ni dan Fe sebesar 6%-12% dan 82%-86% dengan menggunakan rasio stoikiometri 1:1, 5%-7% dan 65%-78% menggunakan rasio 1:1,5. Perolehan Ni tertinggi adalah 11.66% dengan menggunakan cangkang kemiri sebagai reduktor dengan stoikiometri 1:1.

2024
👤 Penulis: Joshua Theodore Setyawan
🏷️ Reduksi Bijih Nikel Sprolitik 🏷️ Hidrologi Mineral 🏷️ Energi Terbarukan

PRODUKSI BESI NIKEL BABI MELALUI REDUKSI BIJIH NIKEL SAPROLITIK MENGGUNAKAN TOREFAKSI BIOMASSA

Nikel merupakan salah satu bahan baku terpenting dalam industri. Ini memainkan peran penting dalam produksi baja tahan karat, yang digunakan dalam berbagai reaktor proses kimia. Namun, metode ekstraksi menghasilkan emisi karbon dalam jumlah yang signifikan ke lingkungan. Dengan target Indonesia menuju target “Zero Net Emission” pada tahun 2060, metode yang jauh lebih bersih perlu ditemukan. Reduksi dilakukan untuk mengekstraksi nikel dari bijih nikel sprolitik. Proses reduksi secara tradisional menggunakan batubara sebagai reduktor. Biomassa ter-torefaksi merupakan potensi pengganti yang menjanjikan. Dengan tidak adanya batubara, biomassa ter-torefaksi dapat melakukan reduksi dengan sukses — dengan tidak adanya sulfur dan kontaminan lainnya, Ni dan Fe akan dapat diekstraksi dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Torefaksi dilakukan dalam kondisi inert dengan menggunakan Nitrogen dan berlangsung pada suhu 300°C selama 60 menit. Biomassa yang telah ditorrefaksi kemudian dicampur dengan 8 gram bijih saprolit dengan menggunakan stoikiometri 1:1 dan 1:1,5 untuk mendapatkan massa total biomassa yang telah ditorrefaksi. Campuran ini kemudian direduksi pada suhu 900°C selama 3 jam dalam horizontal muffle furnace dan kemudian dilanjutkan dengan peleburan pada suhu 1550°C selama 2 jam dalam vertical furnace. Hasil sampel yang diperoleh dianalisis menggunakan SEM-EDS. Proses torefaksi menghasilkan peningkatan persentase fixed carbon dalam biomassa yang ditorrefaksi dalam kisaran 5%-15%. Hal ini memberikan persentase fixed carbon akhir dalam biomassa sebesar 20%-29%. Menghasilkan terpilihnya sebuk gergaji mahoni dan kaliandra, dan cangkang sawit dan kemiri. Reduksi memberikan persentase massa akhir Ni dan Fe sebesar 6%-12% dan 82%-86% dengan menggunakan rasio stoikiometri 1:1, 5%-7% dan 65%-78% menggunakan rasio 1:1,5. Perolehan Ni tertinggi adalah 11.66% dengan menggunakan cangkang kemiri sebagai reduktor dengan stoikiometri 1:1.

2024
👤 Penulis: Ahmad Alfardan
🏷️ Reduksi Bijih Nikel Sprolitik 🏷️ Hidrologi Mineral 🏷️ Energi Terbarukan

ANALISIS DAMPAK FINANSIAL NILAI EKONOMI KARBON TERHADAP KINERJA INVESTASI PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI DI PT PLN (PERSERO)

Perubahan iklim merupakan masalah global yang signifikan, dan emisi gas rumah kaca (GRK) adalah salah satu penyebab utamanya. Pada tahun 2022, sektor energi berkontribusi atas sekitar 73% dari total emisi global. PT PLN (Persero), perusahaan utilitas listrik BUMN di Indonesia, telah mengembangkan langkahlangkah strategis untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, termasuk peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan dan penerapan mekanisme nilai keekonomian karbon. Studi ini mengkaji dampak finansial dari mekanisme nilai keekonomian karbon terhadap investasi proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi berkapasitas 110 MW di PLN. Analisis dilakukan dengan metode kuantitatif untuk mengukur indicator-indikator keuangan seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan NPV sebesar 17.00%, Payback Period lebih cepat dari semula 16.29 menjadi 13.33 tahun, dan peningkatan MIRR sebesar 0.48%. Penelitian ini juga mengidentifikasi variabel-variabel yang memiliki dampak signifikan, seperti nilai tukar mata uang dan tarif uap panas bumi. Berdasarkan analisis skenario, skenario dasar menunjukkan NPV sebesar IDR 855,30 miliar, sementara rentang NPV yang lebar antara skenario terburuk dan terbaik sebesar Rp 7.148,82 miliar menunjukkan bahwa kelayakan proyek sangat tergantung pada variabel input. Simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa proyek ini memiliki probabilitas 97.10% akan berada pada NPV positif, menunjukkan bahwa proyek stabil secara keuangan pada berbagai skenario. Menurut studi ini, mengintegrasikan mekanisme penetapan harga karbon ke dalam model analisa investasi kelayakan proyek dapat meningkatkan kinerja keuangan proyek. Namun, penting juga untuk menerapkan strategi manajemen risiko yang komprehensif seperti menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang kuat, secara aktif bernegosiasi untuk mengamankan tarif uap dalam jangka panjang, dan menjajaki peluang di pasar karbon internasional yang menawarkan harga kredit karbon yang lebih baik. PT PLN (Persero) perlu secara rutin memonitor dan memperbarui langkah mitigasi untuk menjaga kelayakan proyek pada berbagai kondisi.

2024
👤 Penulis: Arief Heryana
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Keuangan Investasi Proyek 🏷️ Manajemen Risiko Energi

STUDI MENGENAI DAMPAK KENAIKAN EV TERHADAP MOBIL KONVENSIONAL/ WAWASAN KASUS DARI PASAR OTOMOTIF INDONESIA.

Indonesia, dengan perekonomian yang terus berkembang dan infrastruktur yang berkembang, menghadapi tantangan besar dalam mengalokasikan kebutuhan transportasi dan pada saat yang sama juga memperhatikan kepedulian terhadap lingkungan. Penelitian ini akan mengeksplorasi aspek-aspek kendaraan, dengan fokus khusus pada kendaraan listrik (EV) di Indonesia melalui tinjauan komprehensif terhadap literatur yang ada, kebijakan pemerintah, dan laporan industri. Penelitian ini mengkaji keadaan industri otomotif di Indonesia saat ini, dengan menyoroti tren, tantangan, dan peluang utama. Laporan ini mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi kendaraan listrik di Indonesia, termasuk insentif pemerintah, pembangunan infrastruktur, preferensi pelanggan, dan peningkatan teknologi. Lebih lanjut, artikel ini mengkaji implikasi ekonomi, lingkungan, dan sosial dari adopsi kendaraan listrik secara luas di Indonesia. Meskipun terdapat tantangan seperti infrastruktur pengisian daya yang terbatas, biaya awal yang tinggi, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik, Indonesia memiliki potensi pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang tinggi karena banyaknya pasokan sumber daya alam dan dukungan pemerintah yang kuat terhadap inisiatif energi terbarukan. Makalah ini diakhiri dengan rekomendasi bagi pemangku kepentingan industri dan peneliti untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, sehingga berkontribusi terhadap upaya negara menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

2024
👤 Penulis: Muhammad Haikal Nadhif
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Otomotif 🏷️ Hidrologi Lingkungan

ESTIMASI POTENSI SUMBER DAYA PANAS LAUT DI PERAIRAN INDONESIA DENGAN MENINJAU KARAKTERISTIK TERMOKLIN

Laut memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan energi listrik terbarukan, salah satunya adalah Ocean Thermal Energi Conversion atau yang biasa disebut dengan OTEC. OTEC merupakan salah satu konsep energi terbarukan yang memanfaatkan perbedaan temperatur di permukaan laut dengan kedalaman laut untuk mendapatkan energi listrik sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk pengambilan air dingin di kedalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kedalaman pengambilan air dingin siklus OTEC dengan menggunakan karakteristik termoklin yaitu gradien temperatur. Perhitungan dilakukan dengan mencari integral dari gradien temperatur terhadap kedalaman. Perhitungan integral dapat dilakukan dengan menggunakan metode diskritisasi dengan menghitung luas di bawah kurva. Dari pengolahan data dihasilkan kedalaman minimum dan maksimum untuk pengambilan air dingin. Penggunaan kedalaman maksimum untuk menentukan kedalaman yang konsisten. Dihasilkan kedalaman konsisten berada di antara kedalaman 400 meter hingga 800 meter di Perairan Selat Makassar, Laut Sulawesi, dan Utara Papua. Daya yang dihasilkan pada kedalaman minimal pengambilan air dingin yang konsisten dihasilkan yaitu daya tertinggi ada bulan April memiliki nilai yang paling tinggi yaitu bernilai 599,34 GW. Sedangkan bulan dengan daya terendah adalah bulan Agustus yaitu bernilai 553,36 GW. Fenomena regional akan mempengaruhi daya OTEC di Indonesia. IOD negatif dan La-Nina akan meningkatkan daya dari OTEC sedangkan IOD positif dan El-Nino akan mengurangi daya dari OTEC

2024
👤 Penulis: Bimo Sheva Prihantoro
🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Energi

KAJIAN POTENSI REDUKSI EMISI GRK TAK LANGSUNG IPAL SETIABUDI DENGAN PENGGUNAAN PLTS TERAPUNG

Industri pengolahan air, termasuk air limbah merupakan salah satu kontributor yang signifikan terhadap pemanasan global akibat penggunaan energi listrik yang tinggi. Di Indonesia, 65% pembangkitan energi listrik masih menggunakan sumber batu bara yang memiliki emisi gas rumah kaca tinggi. Sementara itu, industri air sebenarnya memiliki beberapa potensi pemanfaatan energi baru dan terbarukan salah satunya dengan pemasangan PLTS. IPAL S di Pulau Jawa yang terletak di sebelah Waduk S dengan luas 40.000 m2 memiliki potensi itu yaitu melalui pemanfaatan luasnya permukaan air waduk untuk pemasangan PLTS secara terapung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kebutuhan energi listrik IPAL, kapasitas PLTS dan output energinya, penggunaan energi PLTS oleh IPAL, reduksi emisi GRK tak langsung dari pengalihan penggunaan listrik jaringan ke PLTS, dan kelayakan keekonomian pemasangan PLTS terapung. Penelitian ini menggunakan simulasi aplikasi bebas akses Global Solar Atlas untuk mengestimasi output energi PLTS terapung pada luas maksimum waduk yang diperbolehkan oleh regulasi untuk dimanfaatkan. Hasilnya, dapat dipasang PLTS dengan kapasitas 1,36 MWp yang menghasilkan energi rata-rata harian sebesar 4.513 kWh per hari. IPAL S sendiri membutuhkan energi listrik sebesar 17.776 kWh per hari, sehingga seluruh energi PLTS dapat dimanfaatkan oleh IPAL. Pemanfaatan energi dari PLTS selama 25 tahun masa hidupnya menghasilkan potensi reduksi emisi gas rumah kaca dari penggunaan listrik sebesar 22,2%-23,9% dengan beberapa skenario proyeksi faktor emisi.

2024
👤 Penulis: Felix Frederick Widiono
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca 🏷️ Manajemen Energi Industri Air
Halaman 6 dari 8
💬