📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 84 dokumenKAJIAN PERUBAHAN HORIZONTAL SRGI 2013 EPOCH 2012.0 KE EPOCH 2021.0
Indonesia merupakan wilayah yang kompleks secara geologis, yaitu berada di perbatasan antara zona tektonik aktif (Hall, 2009). Dengan adanya berbagai dinamika pada permukaan Bumi, yang mengakibatkan adanya pergerakan pada kedudukan titiktitik pada permukaan Bumi, maka dibutuhkan suatu konsistensi dan standarisasi sistem (Abidin, 2001). Indonesia memiliki Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) 2013, yang menggunakan kerangka referensi geospasial global ITRF 2008, dan direalisasikan pada bentuk Jaring Kontrol Geodesi (JKG). Pemutakhiran SRGI dapat dilakukan karena berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perubahan kedudukan pada titik-titik JKG. Adanya pemutakhiran SRGI2013, yaitu dengan melakukan penambahan epoch baru, akan menimbulkan sejumlah konsekuensi yang dapat terjadi di lapangan. Penelitian dibuat dengan memiliki tujuan untuk memperoleh besar pergerakan titik-titik stasiun pengamatan di Indonesia serta mengidentifikasi dampak yang diberikan pemutakhiran SRGI2013 terhadap informasi geospasial, dalam hal ini Peta Rupa Bumi Indonesia (PRBI), berdasarkan besar pergerakan titik-titik stasiun pengamatan tersebut. Titik-titik stasiun pengamatan dikelompokkan dalam 11 kluster yang memiliki karakteristik arah pergerakan yang sama, dan dari setiap kluster tersebut diperoleh nilai rata-rata pergerakan horizontal. Rata-rata nilai pergerakan selanjutnya dibandingkan dengan nilai ketelitian peta RBI, dengan 8 dari 11 kluster belum cukup untuk melewati toleransi Kelas 1 untuk peta RBI skala terbesar (1:1.000). Sehingga, jika hanya mempertimbangkan pergerakan stasiun CORS dalam waktu 9 tahun, maka perubahan SRGI2013 dari epoch 2012.0 ke epoch 2021.0 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap keakuratan dari Peta Rupa Bumi Indonesia.
PERKEMBANGAN METODE PEMODELAN VTEC IONOSFER BERBASIS GNSS DI NIGERIA MENGGUNAKAN HARMONIK SPHERICAL DENGAN SOLUSI TRANSFORMASI ORTHOGONAL
Konten elektron total vertikal (VTEC) adalah parameter penting dari ionosfer yang secara signifikan mempengaruhi perambatan sinyal radio. Estimasi VTEC yang akurat sangat penting untuk banyak aplikasi, seperti penentuan posisi, komunikasi satelit, dan prakiraan cuaca luar angkasa. Resolusi spasial dan temporal Peta Ionosfer Global (GIMs) dari Layanan GNSS Internasional (IGS), Pusat Penentuan Orbit di Eropa (CODE), dan model Ionosfer Referensi Internasional (IRI-2020) terbatas di wilayah dengan wilayah yang jarang atau terbatas. jaringan penerima, khususnya di Nigeria. Bias Kode Diferensial (DCB) satelit dan penerima adalah salah satu sumber kesalahan utama dalam penentuan posisi Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS) yang harus dipertimbangkan untuk memperkirakan VTEC secara akurat. Namun, DCB penerima yang tidak tergabung dalam jaringan IGS tidak tersedia dari GIM. Untuk mengatasi tantangan ini, kami berupaya mengembangkan dan membandingkan kinerja dua metode estimasi VTEC inovatif berdasarkan penerima tunggal dan jaringan yang menggunakan teknik ekspansi harmonik bola dan transformasi ortogonal. Metode baru kami memanfaatkan pengamatan multi-GNSS untuk secara akurat memperkirakan VTEC, satelit, dan penerima DCB. Data GNSS RINEX, IONEX, dan SP3 dari tahun 2011 di 9 penerima multi-GNSS di Jaringan Geodesi Nigeria yang diambil sampelnya pada interval 30 detik digunakan untuk penelitian ini. Pengamatan kode pseudo-range juga dihaluskan dengan pengamatan fase pembawa dan digunakan untuk penelitian ini. Untuk memastikan validitas hasil dan kualitas data, kami melakukan berbagai langkah pra-pemrosesan menggunakan kombinasi linier Melbourne-Wubbena dan kombinasi linier bebas geometri menggunakan program internal ITB-GNSSTEC berdasarkan pemrosesan batch dan teknik kuadrat terkecil. Metode berbasis stasiun tunggal memanfaatkan satu penerima GNSS untuk memperkirakan VTEC pada resolusi temporal 1 jam. Metode penerima tunggal menunjukkan kesesuaian yang penting jika dibandingkan dengan perkiraan model IGS, CODE, dan IRI-2020 selama periode aktivitas geomagnetik tenang dan terganggu, dengan menyajikan kisaran standar deviasi 2,882 hingga 7,362 TECU dan koefisien korelasi berkisar antara 0,898 hingga 7,362 TECU. 0,980 di berbagai stasiun independen. Metode berbasis jaringan ini memanfaatkan data dari jaringan sembilan penerima GNSS di Nigerian Geodetic Network (NIGNET), mencapai resolusi temporal 10 menit yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan meningkatkan kemampuan estimasi VTEC di Nigeria. Perbandingan dengan model yang ada juga menunjukkan korelasi yang kuat dalam berbagai kondisi, menunjukkan deviasi standar antara 2,8 hingga 6,5 TECU dan koefisien korelasi melebihi 0,92. Analisis spektral perkiraan VTEC dari model berbasis jaringan mengidentifikasi komponen frekuensi diurnal, semi-diurnal, dan sub-diurnal yang menonjol. Analisis musiman menyoroti rata-rata VTEC tertinggi pada Ekuinoks September dan Titik Balik Matahari Desember, dan terendah pada Titik Balik Matahari Juni. Dalam membandingkan kedua metode tersebut, metode penerima tunggal memberikan resolusi temporal yang lebih rendah yaitu 1 jam, sedangkan model berbasis jaringan menawarkan resolusi yang lebih tinggi yaitu 10 menit. Pola VTEC harian dari kedua metode menunjukkan nilai terendah pada pagi hari, puncak tengah hari, puncak ganda sesekali, dan peningkatan pasca matahari terbenam, terutama pada saat ekuinoks. Kedua model bekerja dengan baik selama periode aktivitas geomagnetik dan mampu menangkap peningkatan VTEC pasca matahari terbenam. Selain itu, kedua metode tersebut berhasil memperkirakan Bias Kode Diferensial (DCB) untuk GPS dan GLONASS, yang selaras dengan perkiraan CODE. Hasil kami menunjukkan bahwa model berbasis jaringan lebih cocok untuk menangkap perubahan yang cepat, sedangkan model penerima tunggal disarankan untuk aplikasi yang memerlukan resolusi temporal sedang dan mungkin merupakan pilihan yang baik untuk pemodelan VTEC, khususnya di area dengan jangkauan jaringan yang jarang. Penelitian ini telah berkontribusi pada pengembangan metode VTEC resolusi tinggi untuk memperkirakan DCB VTEC, satelit, dan penerima untuk area dengan distribusi penerima GNSS yang jarang. Oleh karena itu, memungkinkan deteksi karakteristik ionosfer lokal yang terlewatkan oleh model GIM. Penelitian ini secara signifikan meningkatkan pemahaman pemodelan VTEC dan karakteristiknya di Nigeria, menawarkan alat yang berharga untuk penentuan posisi yang tepat, komunikasi satelit, dan prakiraan cuaca luar angkasa.
ANALISIS PEMODELAN DATUM PASUT TERHADAP REFERENSI TINGGI ELLIPSOID, GEOID, DAN MEAN SEA LEVEL DI PESISIR UTARA JAWA BARAT
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah perairan yang sangat luas. Kondisi ini membuat dibutuhkannya data pasang surut air laut sebagai acuan referensi tinggi vertikal. Mean Sea Level merupakan acuan referensi vertikal yang biasa digunakan di Indonesia. Sebagai lembaga yang berwenang dalam penyediaan referensi vertikal, Badan Informasi Geospasial terus berupaya dalam pembangunan stasiun pengamatan pasang surut di seluruh wilayah di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menampilkan visualisasi pemodelan datum pasut berupa peta datum pasut Highest Astronomical Tide, Lowest Astronomical Tide, Mean High Water Spring, Mean Low Water Spring, dan Mean Sea Level terhadap referensi tinggi ellipsoid, geoid, dan Mean Sea Level yang ada di Pesisir Utara Jawa Barat. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini diawali dengan pengumpulan data- data sekunder berupa data-data datum pasut. Pada tahap pengolahan data diawali dengan melakukan masking data datum pasut, dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi natural breaks untuk menentukan kelas-kelas datum pasut, dan diakhiri dengan melakukan layouting peta datum pasut. Hasil dari penelitian ini berupa peta- peta datum pasut Highest Astronomical Tide, Lowest Astronomical Tide, Mean High Water Spring, Mean Low Water Spring, dan Mean Sea Level terhadap referensi tinggi ellipsoid, geoid, dan Mean Sea Level yang ada di Pesisir Utara Jawa Barat. Pemodelan datum pasut terhadap referensi tinggi Mean Sea Level memiliki rentang nilai -1,18 – 1,01 m. Pemodelan datum pasut terhadap referensi tinggi geoid memiliki rentang nilai -1,09 – 1,11 m. Pemodelan datum pasut terhadap referensi tinggi ellipsoid memiliki rentang nilai 18,6 – 29,5 m.
VARIASI TEMPORAL GEOID DARI DATA SATELIT GRACE DI WILAYAH INDONESIA
Salah satu tujuan utama dari ilmu geodesi adalah menentukan bentuk dan ukuran bumi termasuk di dalamnya penentuan geoid. Geoid sendiri dapat ditentukan dengan metode satelit yang disebut dengan metode satelit gravimetri salah satunya adalah satelit GRACE Tugas akhir ini akan membahas tentang cara penentuan geoid dengan menggunakan satelit gravimetri, salah satunya adalah satelit GRACE (Gravity Recovery And Climat Experiment), dengan menggunakan koefisien model geopotensial dari CSR pada data tahun 2005 sehingga diharapkan mampu melihat variasi perubahan temporal geoid yang berfokus pada wilayah Indonesia
STUDI PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH
Kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia salah satunya bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah yang dinyatakan dalam bentuk sertipikat. Dalam kegiatan pendaftaran tanah dilakukan pengukuran batas-batas bidang tanah dengan mengacu pada titik-titik dasar teknik yang dinyatakan dalam bentuk pilar orde 2, 3, dan 4 yang diselenggarakan oleh BPN-RI (Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia). Jumlah titik dasar yang seharusnya dibangun di Indonesia mencapai jutaan sedangkan pada kenyataannya jumlah dan sebaran titik dasar yang ada belum merata dan menjangkau seluruh wilayah. Keterbatasan jumlah titik dasar ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor biaya pengadaan titik dasar yang tidak murah dan selanjutnya mempengaruhi waktu yang diperlukan BPN untuk melakukan sertifikasi seluruh bidang tanah di Indonesia. Untuk mengatasi keterbatasan jumlah titik dasar dan mendukung percepatan sertifikasi bidang tanah, diusulkan sistem GPS CORS (Global Positioning System Continuously Operating Reference Stations) yang berwujud sebagai titik kerangka referensi yang dipasangi receiver GPS dan beroperasi secara kontinyu selama dua puluh empat jam. Dalam penelitian ini dilakukan kajian dan analisis mengenai pemanfaatan sistem GPS CORS dalam rangka pengukuran bidang tanah secara ekonomis dan efisien. Dalam pemanfaatan sistem GPS CORS ini, BPN harus mempersiapkan halhal terkait seperti pengembangan sumber daya manusia dan struktur organisasi di dalam BPN agar sistem GPS CORS dapat dimanfaatkan dalam pengukuran bidang tanah.
PENENTUAN PARAMETER TRANSFORMASI DATUM DI LINGKUNGAN PERTAMINA HULU MAHAKAM (PHM)
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggunakan datum lokal P2Exc-T9 sebagai datum pada peta kerja operasional. Secara historis, PHM telah memiliki parameter transformasi datum antara ITRF93 epok 1995.2 – Total ke datum lokal P2Exc-T9 yang digunakan untuk keperluan operasional. Namun, terdapat selisih nilai koordinat sebesar 70 cm east dan 2 cm north ketika parameter transformasi tersebut diaplikasikan kepada teknologi WADGNSS yang menggunakan datum ITRF2020 untuk keperluan navigasi. Selisih ini tidak memenuhi kriteria ketelitian posisi kurang dari 10 cm yang diinginkan oleh PHM. Perbedaan nilai ini disebabkan oleh efek deformasi di area Mahakam. Untuk itu, diperlukan suatu parameter transformasi time-specific antara datum ITRF2020 ke datum P2Exc-T9 yang memperhitungkan efek deformasi. Dua model transformasi yaitu Helmert 7-parameter dan Molodensky-Badekas 10-parameter digunakan untuk mencari model transformasi terbaik. Data pengukuran dari 7 titik sekutu dan 6 titik uji di area Mahakam digunakan untuk menghitung dan menguji parameter transformasi antara datum ITRF2020 ke P2Exc-T9. Hasil dari pengujian menggunakan titik uji menunjukkan bahwa hasil parameter transformasi telah memenuhi standar ketelitian kurang dari 10 cm yang diinginkan PHM. Berdasarkan nilai RMSE hasil pengolahan parameter, transformasi Molodensky-Badekas 10-parameter memberikan residu yang lebih kecil dibandingkan dengan transformasi Helmert 7-parameter sehingga model transformasi Molodensky-Badekas 10 parameter lebih sesuai untuk aplikasi operasional PHM.
PENENTUAN PARAMETER TRANSFORMASI DATUM DI LINGKUNGAN PERTAMINA HULU MAHAKAM (PHM)
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggunakan datum lokal P2Exc-T9 sebagai datum pada peta kerja operasional. Secara historis, PHM telah memiliki parameter transformasi datum antara ITRF93 epok 1995.2 – Total ke datum lokal P2Exc-T9 yang digunakan untuk keperluan operasional. Namun, terdapat selisih nilai koordinat sebesar 70 cm east dan 2 cm north ketika parameter transformasi tersebut diaplikasikan kepada teknologi WADGNSS yang menggunakan datum ITRF2020 untuk keperluan navigasi. Selisih ini tidak memenuhi kriteria ketelitian posisi kurang dari 10 cm yang diinginkan oleh PHM. Perbedaan nilai ini disebabkan oleh efek deformasi di area Mahakam. Untuk itu, diperlukan suatu parameter transformasi time-specific antara datum ITRF2020 ke datum P2Exc-T9 yang memperhitungkan efek deformasi. Dua model transformasi yaitu Helmert 7-parameter dan Molodensky-Badekas 10-parameter digunakan untuk mencari model transformasi terbaik. Data pengukuran dari 7 titik sekutu dan 6 titik uji di area Mahakam digunakan untuk menghitung dan menguji parameter transformasi antara datum ITRF2020 ke P2Exc-T9. Hasil dari pengujian menggunakan titik uji menunjukkan bahwa hasil parameter transformasi telah memenuhi standar ketelitian kurang dari 10 cm yang diinginkan PHM. Berdasarkan nilai RMSE hasil pengolahan parameter, transformasi Molodensky-Badekas 10-parameter memberikan residu yang lebih kecil dibandingkan dengan transformasi Helmert 7-parameter sehingga model transformasi Molodensky-Badekas 10 parameter lebih sesuai untuk aplikasi operasional PHM.
PENENTUAN PARAMETER TRANSFORMASI DATUM DI LINGKUNGAN PERTAMINA HULU MAHAKAM (PHM)
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggunakan datum lokal P2Exc-T9 sebagai datum pada peta kerja operasional. Secara historis, PHM telah memiliki parameter transformasi datum antara ITRF93 epok 1995.2 – Total ke datum lokal P2Exc-T9 yang digunakan untuk keperluan operasional. Namun, terdapat selisih nilai koordinat sebesar 70 cm east dan 2 cm north ketika parameter transformasi tersebut diaplikasikan kepada teknologi WADGNSS yang menggunakan datum ITRF2020 untuk keperluan navigasi. Selisih ini tidak memenuhi kriteria ketelitian posisi kurang dari 10 cm yang diinginkan oleh PHM. Perbedaan nilai ini disebabkan oleh efek deformasi di area Mahakam. Untuk itu, diperlukan suatu parameter transformasi time-specific antara datum ITRF2020 ke datum P2Exc-T9 yang memperhitungkan efek deformasi. Dua model transformasi yaitu Helmert 7-parameter dan Molodensky-Badekas 10-parameter digunakan untuk mencari model transformasi terbaik. Data pengukuran dari 7 titik sekutu dan 6 titik uji di area Mahakam digunakan untuk menghitung dan menguji parameter transformasi antara datum ITRF2020 ke P2Exc-T9. Hasil dari pengujian menggunakan titik uji menunjukkan bahwa hasil parameter transformasi telah memenuhi standar ketelitian kurang dari 10 cm yang diinginkan PHM. Berdasarkan nilai RMSE hasil pengolahan parameter, transformasi Molodensky-Badekas 10-parameter memberikan residu yang lebih kecil dibandingkan dengan transformasi Helmert 7-parameter sehingga model transformasi Molodensky-Badekas 10 parameter lebih sesuai untuk aplikasi operasional PHM.
PENENTUAN PARAMETER TRANSFORMASI DATUM DI LINGKUNGAN PERTAMINA HULU MAHAKAM (PHM)
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggunakan datum lokal P2Exc-T9 sebagai datum pada peta kerja operasional. Secara historis, PHM telah memiliki parameter transformasi datum antara ITRF93 epok 1995.2 – Total ke datum lokal P2Exc-T9 yang digunakan untuk keperluan operasional. Namun, terdapat selisih nilai koordinat sebesar 70 cm east dan 2 cm north ketika parameter transformasi tersebut diaplikasikan kepada teknologi WADGNSS yang menggunakan datum ITRF2020 untuk keperluan navigasi. Selisih ini tidak memenuhi kriteria ketelitian posisi kurang dari 10 cm yang diinginkan oleh PHM. Perbedaan nilai ini disebabkan oleh efek deformasi di area Mahakam. Untuk itu, diperlukan suatu parameter transformasi time-specific antara datum ITRF2020 ke datum P2Exc-T9 yang memperhitungkan efek deformasi. Dua model transformasi yaitu Helmert 7-parameter dan Molodensky-Badekas 10-parameter digunakan untuk mencari model transformasi terbaik. Data pengukuran dari 7 titik sekutu dan 6 titik uji di area Mahakam digunakan untuk menghitung dan menguji parameter transformasi antara datum ITRF2020 ke P2Exc-T9. Hasil dari pengujian menggunakan titik uji menunjukkan bahwa hasil parameter transformasi telah memenuhi standar ketelitian kurang dari 10 cm yang diinginkan PHM. Berdasarkan nilai RMSE hasil pengolahan parameter, transformasi Molodensky-Badekas 10-parameter memberikan residu yang lebih kecil dibandingkan dengan transformasi Helmert 7-parameter sehingga model transformasi Molodensky-Badekas 10 parameter lebih sesuai untuk aplikasi operasional PHM.