📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 124 dokumenRELOKASI HIPOSENTER GEMPA BUMI DI KOTA JAYAPURA MENGGUNAKAN METODE DOUBLE DIFFERENCE
Kota Jayapura merupakan wilayah yang mempunyai tatanan tektonik yang aktif, hal ini disebabkan oleh keberadaan Lempeng Pasifik, Lempeng Australia dan Lempeng Eurasia. Interaksi lempeng-lempeng tersebut mengakibatkan terjadinya gempa, beberapa diantaranya memiliki besaran magnitudo lebih besar dari M5 dan berdampak pada kerusakan bangunan signifikan. Salah satu kejadian gempa yang dirasakan adalah gempa M5,4 yang terjadi pada 9 Februari 2023. Gempa ini mengakibatkan kerusakan beberapa fasilitas umum, kantor pemerintahan, serta menyebabkan korban jiwa sebanyak 4 orang. Penentuan distribusi sumber gempa dapat dijadikan sebagai acuan awal untuk mempelajari perilaku dan analisis bahaya gempa. Hiposenter gempa sebelum dilakukan relokasi memiliki tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi. Hal ini menyebabkan rendahnya akurasi penentuan hiposenter gempa di daerah Jayapura. Untuk mendapatkan hiposenter gempa yang lebih baik, maka perlu dilakukan analisis relokasi hiposenter. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah relokasi double difference dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat akurasi hiposenter gempa. Pada penelitian Tugas Akhir ini, data yang digunakan adalah data waktu tiba gelombang P dan S berdasarkan katalog gempa BMKG periode 1 Januari 2018 sampai dengan 31 Juni 2022. Sedangkan data event yang digunakan adalah 3039 event, selanjutnya dilakukan relokasi dan diperoleh 2621 event dengan besaran magnitudo dari 1,2 sampai 6,1. Data hasil relokasi menunjukkan distribusi hiposenter menjadi lebih terfokus dan distribusi kedalaman gempa juga menjadi lebih konsisten, menandakan representasi yang lebih baik terhadap struktur bawah permukaan yang menunjukkan adanya tiga kluster yaitu kluster Mamberamo, kluster Jayapura dan kluster Pasir 6
KONFIRMASI STRUKTUR GEOLOGI MENGGUNAKAN PENGOLAHAN DATA GRAVITY LEBIH LANJUT PADA LAPANGAN PANAS BUMI TULEHU
Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi struktur geologi di lapangan panas bumi Tulehu melalui integrasi pengolahan data gravity lebih lanjut dan data survei terdahulu. Fokus utama dari penelitian ini adalah Sesar Banda dan Sesar Banda Hatuasa yang merupakan target pemboran eksplorasi. Data gravity yang diperoleh dari 123 titik pengukuran dengan jarak 250-300 m yang berfokus pada area Sesar Banda, Sesar Banda Hatuasa dan Gunung Eriwakang diolah menggunakan perangkat lunak Oasis Montaj untuk menghasilkan peta anomali Bouguer lengkap, anomali regional, anomali residual, First Horizontal Derivative (FHD), Second Vertical Derivative (SVD), dan Euler Deconvolution. Analisis ini diperkuat dengan integrasi data geokimia, seperti konsentrasi merkuri (Hg) dan karbon dioksida (CO?), resistivity discontinuity dan hasil pemboran sumur eksplorasi untuk memperdalam interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara distribusi anomali gravity, manifestasi panas bumi, konsentrasi CO? dan Hg, resistivity discontinuity serta data struktur geologi. Peta integrasi data mengungkapkan area dengan anomali yang mungkin memiliki potensi panas bumi, area tersebut terletak di sebalah timur sumur TLU-B-02 dan selatan Sesar Banda. Selain itu, kemiringan Sesar Banda diduga memiliki arah tenggara (SE). Meskipun terdapat indikasi pengendapan mineral yang mengurangi permeabilitas, Sesar Banda tetap berpotensi sebagai target pemboran panas bumi lebih lanjut. Data integrasi ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang struktur geologi permukaan dan bawah permukaan yang dapat mengalirkan fluida panas bumi ke permukaan.
ANALISIS ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH BERDASARKAN PEMODELAN GEOSPASIAL TERINTEGRASI DENGAN ESTIMASI KEDALAMAN BIDANG GELINCIR DI KABUPATEN CIANJUR TAHUN 2022
Gempa bumi Cianjur berkekuatan 5,6 Mw tahun 2022 yang dipicu oleh aktivitas seismik Sesar Cugenang menyebabkan pergerakan tanah di 295 titik serta mengakibatkan 850 korban jiwa. Kurangnya penelitian mendalam mengenai faktor penyebab gerakan tanah di Kabupaten Cianjur menjadi penyebab besarnya dampak bencana tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan zonasi kerentanan gerakan tanah di Kabupaten Cianjur dengan pendekatan geospasial berbasis statistik probabilistik menggunakan metode frequency ratio (FR). Metode ini digunakan untuk menganalisis hubungan antara parameter penyebab gerakan tanah dengan lokasi kejadian longsor di 295 titik historis guna menghasilkan peta zonasi kerentanan yang lebih akurat. Parameter spasial yang digunakan meliputi kemiringan lereng, jenis litologi, jarak dari sungai, dan jarak dari sesar. Pendekatan ini menghadirkan kebaruan dalam penelitian zonasi kerentanan, yang umumnya hanya mengandalkan data spasial. Dalam penelitian ini, ditambahkan parameter kedalaman bidang gelincir yang diperoleh dari analisis metode geolistrik pada tiga lintasan di lereng Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, yang menunjukkan kedalaman bidang gelincir berada pada rentang 6–9 meter. Untuk titik longsor lainnya, kedalaman bidang gelincir disimulasikan berdasarkan hasil interpretasi nilai FR dari parameter elevasi dan jenis litologi yang ada di Kabupaten Cianjur. Data ini kemudian diintegrasikan ke dalam pemodelan frequency ratio guna meningkatkan akurasi zonasi kerentanan gerakan tanah. Validasi model menunjukkan bahwa penambahan parameter kedalaman bidang gelincir meningkatkan akurasi pemodelan zonasi kerentanan gerakan tanah. Pada model dengan lima parameter spasial diperoleh nilai AUC Success Rate Curve (SRC) sebesar 0,882 dan AUC Prediction Rate Curve PRC sebesar 0,792. Setelah kedalaman bidang gelincir ditambahkan sebagai parameter ke-6, nilai AUC meningkat menjadi 0,892 untuk SRC dan 0,801 untuk PRC. Hal ini mengindikasikan bahwa kedalaman bidang gelincir berpengaruh terhadap tingkat kerentanan gerakan tanah dan dapat dijadikan parameter tambahan dalam metode frequency ratio. Hasil integrasi metode geospasial dan geolistrik menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi mencakup 5,92% dari total area, dengan lebih dari 25% kejadian gerakan tanah terdeteksi di zona ini. Penelitian ini menghasilkan peta tematik berjudul "Zonasi Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat," yang diharapkan dapat menjadi referensi dalam upaya mitigasi bencana longsor.
ANALISIS DAN INTEGRASI DATA SPASIAL UNTUK PENENTUAN LOKASI STRATEGIS SUMUR EKSPLORASI PADA LAPANGAN PANAS BUMI UNGARAN, JAWA TENGAH
Lapangan Panas Bumi Ungaran di Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Penelitian sebelumnya telah melakukan analisis geosains secara komprehensif dalam menentukan lokasi sumur produksi. Namun, masih terdapat ruang untuk penyempurnaan, khususnya dalam mempertimbangkan aspek aksesibilitas dan kesesuaian lingkungan sebagai faktor penting dalam eksplorasi dan pengembangan yang berkelanjutan. Aspek ini merupakan faktor kunci untuk memastikan lokasi pengeboran eksplorasi yang aman, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini mengadopsi teknologi Geographic Information System (GIS) untuk menganalisis dan mengintegrasikan data geologi, geokimia, geofisika, lingkungan, dan aksesibilitas. Metode boolean dan index overlay digunakan untuk menghasilkan peta potensi panas bumi yang mencerminkan zona dengan tingkat favorability tinggi (skor 7–9) serta area kesesuaian lingkungan dan aksesibilitas. Hasil penelitian mengidentifikasi dua lokasi strategis untuk pembangunan well pad eksplorasi. Purpose Exploration Well A (41.500 m²) berada di Sendang Pengilon, pada area perkebunan teh dengan akses logistik yang memadai. Lokasi ini direkomendasikan untuk menggunakan teknik pengeboran vertikal guna menyasar zona dengan favorability tertinggi (9), memungkinkan eksplorasi yang efisien dan terfokus. Purpose Exploration Well B (7.560 m²) terletak di timur Gedongsongo, pada area pertanian terbuka dengan akses yang baik. Lokasi ini memerlukan penerapan teknik pengeboran directional untuk menjangkau zona dengan favorability tertinggi (9) yang berada di sekitarnya. Pendekatan GIS dalam penelitian ini dapat mengintegrasikan berbagai data spasial secara komprehensif dan menghasilkan rekomendasi yang kuantitatif, objektif, dan terarah untuk pembangunan sumur eksplorasi. Kedua lokasi yang diidentifikasi memenuhi kriteria geosains, lingkungan, dan aksesibilitas, sehingga memberikan dasar yang kuat untuk perencanaan pengeboran eksplorasi dan pengembangan panas bumi di Lapangan Panas Bumi Ungaran.
INTERPRETASI DATA GRAVITASI DAERAH GUNUNG TANGKUBAN PERAHU DAN SEKITARNYA UNTUK MENENTUKAN POTENSI PANAS BUMI
Pemakaian energi, di Indonesia, sedang mengalami kenaikan beberapa tahun terakhir. Salah satu sumber energi dapat digunakan di Indonesia adalah energi panas bumi. Energi panas bumi menjadi fokus penelitian ini dikarenakan belum efektifnya penggunaan sumber panas bumi sebagai sumber energi terbarukan. Eksplorasi geofisika dilakukan pada Gunung Tangkuban Perahu dan sekitarnya untuk mencari sumber panas bumi. Eksplorasi yang dilakukan adalah metode gravitasi, dimana prinsip gravitasi Newton digunakan. Metode gravitasi dilakukan menggunakan gravimeter untuk mengukur gravitasi di daerah pengukuran. Data gravitasi hasil bacaan kemudian dikoreksi agar didapatkan anomali bouger lengkap. Pemisahan regional dan residual kemudian dilakukan terhadap anomali bouger lengkap. Kemudian anomali bouger lengkap, anomali regional dan anomali residual dibuat peta konturnya. Peta kontur kemudian diinterpretasi agar didapatkan gambaran apakah terdapat reservoir panas. Anomali bouger lengkap bernilai 270 s.d. 380 mgal. Sedangkan anomali regional yang didapatkan adalah sebesar 90 sampai 370 mgal dan anomali residual yang memiliki range nilai -30 sampai 270 mgal. Jalur dibuat untuk dilakukan pemodelan keadaan bawah permukaan. Berdasarkan hasil pemodelan Jalur AB memiliki daerah yang densitas relatif bernilai -0.206 sampai dengan +0.4524 dibanding daerah sekitarnya. Sedangkan pada Jalur CD, Densitas relatifnya memiliki range antara +0.4901 dan -0.155 dibanding daerah sekitarnya. Pada Jalur EF densitas relatifnya berentang dari -0.136 sampai 0.4160 dibanding daerah sekitarnya. Hasil pemodelan metode gravitasi dibandingkan dengan hasil pemodelan Controlledsource Audio-frequency Magnetotellurics (CSAMT) dan didapatkan bahwa hasil pemodelan sudah serupa.
PEMODELAN DATA MAGNETIK UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH PROSPEK PANAS BUMI (STUDI KASUS DI DAERAH X)
Indonesia merupakan negara yang memiliki kandungan panas bumi terbesar di dunia sebesar 40% dari panas bumi yang ada di dunia. Pasokan sumber daya panas bumi yang dimiliki Indonesia menguntungkan bagi Indonesia sendiri mengingat peningkatan populasi dan kebutuhan penduduk Indoneia dalam penggunaan energi listrik. Panas bumi merupakan sumber daya energi terbarukan yang perlu dikembangkan oleh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi listrik negara. Maka dari itu, diperlukan eksplorasi lanjut dalam observasi sumber panas bumi. Geofisika merupakan salah satu ilmu yang menerapkan prinsip fisika dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan bumi. Salah satu metode geofisika adalah metode magnetik yang mana metode ni merupakan metode yang menggunakan dasar pengukuran berdasarkan medan magnett di permukaan bumi karena adanya anomali benda yang termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Pada Tugas Akhir ini akan dianalisis magnetisasi pada permukaan bumi dengan mengetahui susunan batuan pada struktur bawah permukaan bumi. Batuan pada umumnya memiliki nilai medan yang terbilang sangat kecil dan temperatur memengaruhi nilainya. Semakin tinggi temperatur, maka benda akan mengalami demagnetisasi. Untuk mengetahui struktur bawah permukaan bumi, dapat digunakan software Mag2DC. Perangkat ini menggunakan metode trial and error untuk melakukan pemodelan nilai kontras suseptibilitas magnetik yang dialami oleh batuan. Jika kontras suseptibilitas bernilai negatif, maka terdapat anomali magnetik yang mana terdapat sumber panas bumi. Pada langkah awal pemodelan, daerah yang dipilih adalah daerah yang memiliki anomali magnetik dengan kontras suseptibilitas magnetik sedang hingga rendah. Pada pemodelan diperoleh terdapat kontras suseptibilitas magnetik yang bernilai negatif dan terdapat pada kedalaman yang mendekati inti bumi. Daerah ini mengindikasikan adanya sumber panas bumi. Adapun untuk memperoleh pemodelan struktur permukaan bawah bumi ini diperlukan analisis pada daerah penelitian bahwa dominasi batuan yang ada untuk dapat menentukan secara akurat batuan penyusun struktur permukaan bawah tanah. Pada pemodelan, diperoleh terdapat empat jenis batuan yang menyusun struktur bawah permukaan bumi, yaitu batuan tufa, batuan breksi tufaan, piroklastik, dan batuan lapuk.
PENENTUAN LOKASI PONDASI BAWAH PERMUKAAN CIMAHI MALL MENGGUNAKAN METODE GROUND PENETRATING RADAR (GPR) DENGAN SHIELDED ANTENNA
Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan metode geofisika yang menggambarkan kondisi dibawah permukaan tanah. Metode GPR memanfaatkan pantulan dari gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh bagian transmitter dan diterima oleh bagian receiver. Metode ini menggunakan parameter permitivitas listrik dan kecepatan rambat gelombang pada suatu material untuk menunjukkan kondisi dibawah permukaan tanah. Metode GPR dapat diaplikasikan untuk menentukan lokasi suatu struktur dibawah tanah dalam pembangunan suatu konstruksi. Cimahi Mall sedang merencanakan pembangunan lanjutan yang membutuhkan lokasi tiang pancang dari mall tersebut. Penelitian dilakukan menggunakan metode GPR dengan shielded antenna yang disebabkan terdapatnya potensi sumber noise disekitar lokasi penelitian yang selanjutnya akan dibandingkan hasilnya dengan metode GPR tanpa shielded antenna. Pengolahan dari hasil akuisisi data dilakukan dengan piranti lunak MatGPR dengan beberapa tahapan seperti Dewow Filter dan Removal Global Background. Berdasarkan hasil interpretasi data yang telah diolah menggunakan MatGPR, ditentukan terdapat 2 tiang pondasi pada setiap lintasan pengukuran dengan jarak antar tiang pondasi sebesar 2 meter. Pengukuran yang menggunakan Shielded Antenna memiliki kualitas data yang lebih baik dibandingkan dengan pengukuran yang tidak menggunakan Shielded Antenna.
KUANTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN MASSA BATUAN KUAT PADA METODE BLOCK CAVING BERDASARKAN KECEPATAN GELOMBANG SEISMIK DAN PERILAKU TEGANGAN-REGANGAN.
Penerapan metode block caving dalam 20 tahun terakhir semakin popular dan meluas cakupannya pada massa batuan kuat. Di Indonesia juga terdapat sejumlah potensi endapan porfiri yang prospektif untuk penerapan metode block caving, yaitu: Onto di Pulau Sumbawa, Tambulilato di Pulau Sulawesi, Tumpangpitu dan Randu Kuning di Pulau Jawa. Sebagai persiapan untuk menunjang tahap ekplorasi dan operasi produksi di masa depan, penguasaan metode kuantifikasi massa batuan di sekitar tambang yang menggunakan metode block caving menjadi krusial. Dimensi bukaan yang relatif besar, terletak jauh di permukaan, dan sifat batuan yang keras, menjadikan tantangan penambangan metode block caving semakin menantang sehingga diperlukan metode pemantauan yang handal untuk pengendalian bahaya gempa dan rockburst. Sampai saat ini, monitoring mikroseismik telah digunakan untuk analisis hiposenter dan klaster gempa di tambang bawah tanah. Akan tetapi, pemanfaatan data geofisika dari gempa yang terjadi di sekitar cave untuk informasi evolusi kondisi massa batuan masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguantifikasi tingkat kerusakan massa batuan pada mekanisme propagasi cave berdasarkan pengukuran kecepatan gelombang ultrasonik batuan terkekarkan di laboratorium, tomografi kecepatan gelombang seismik di lapangan, dan pemodelan numerik tegangan-regangan. Studi dilakukan di cave DMLZ, cave terdalam (terletak sekitar 1700 m di bawah permukaan) di site PT Freeport Indonesia, Papua. Massa batuan di DMLZ didominasi oleh batuan karbonatan (batugamping dan marmer) yang ditembus oleh intrusi Diorit dan membentuk endapan Skarn. Sampel inti bor dari site dipotongpotong, kemudian potongan-potongan sampel diatur untuk berbagai konfigurasi kerapatan kekar. Pengukuran kecepatan gelombang primer dan sekunder (Vp dan Vs) di laboratorium menggunakan alat ukur gelombang ultrasonic Panasonic Oyo 2.0 telah dilakukan. Sekitar 409 data hasil pengukuran memberikan persamaan empiris yang menyatakan hubungan antara frekuensi kekar (FF) dengan kecepatan gelombang, yaitu ???????????? ???????????? = e-0.016FF dan ???????????? ???????????? = e-0.056FF. Vpj dan Vsj menyatakan kecepatan gelombang sampel terkekarkan serta Vp0 dan Vs0 menyatakan kecepatan gelombang sampel batuan utuh. Persamaan ini kemudian digunakan untuk kuantifikasi kualitas massa batuan pada mekanisme caving. Tomografi 4D kecepatan gelombang seismik selama 57 hari menunjukkan bahwa menjelang caving terbentuk zona kecepatan rendah dengan Vp 4.5 km/s, yang berarti massa batuan mengalami peningkatan kerapatan kekar hingga 16 kekar/meter atau setara dengan RQD 50.41% (Fair Rock). Perburukan atau kerusakan massa batuan terjadi secara cepat akibat pertumbuhan kekar yang ditunjukkan oleh penurunan gelombang. Dua minggu sebelum caving, di zona kecepatan rendah terjadi tingkat kerusakan massa batuan (D) sekitar 0.74, 0.5, dan 0.67 berturut-turut berdasarkan parameter Vp, Vs, dan modulus deformasi massa massa batuan (Erm). Zona kecepatan rendah dipertimbangkan sebagai zone of loosening yang diberi perlakuan modifikasi propertis massa batuan pada pemodelan numerik teganganregangan- perpindahan. Distribusi perpindahan hasil pemodelan cukup valid karena sesuai dengan perubahan bentuk cave menurut data Time Domain Reflectometer (TDR). Metode modifikasi model kemudian diterapkan untuk melakukan simulasi interaksi cave dengan zone of loosening dan zona fraktur sintetik. Pemanfaatan kecepatan batuan dari tomografi 4D dan pendekatan untuk memodifikasi modulus deformasi massa batuan berguna sebagai referensi untuk menganalisis model perpindahan terkait propagasi cave. Studi kasus dan simulasi yang dicontohkan penting untuk memahami rekayasa batuan dalam mengendalikan propagasi cave, baik dengan preconditioning massa batuan atau penanganan zona fraktur.
APLIKASI PRESTACK DEPTH MIGRATION MENGGUNAKAN METODE KIRCHHOFF DAN COMMON REFLECTION ANGLE UNTUK MENCITRAKAN STRUKTUR KOMPLEKS CEKUNGAN KUTAI UTARA
Dalam pencitraan struktur geologi daerah kompleks dengan variasi kecepatan lateral signifikan seperti pada Cekungan Kutai Utara, migrasi waktu tidak cukup karena mengasumsikan lintasan straight ray pada medium yang homogen lateral, sehingga Depth Migration lebih ideal karena memperhitungkan raybending. Time Migration memerlukan model kecepatan RMS, sementara Depth Migration memerlukan model kecepatan interval. Sebelum dapat dilakukan migrasi, harus dibuat terlebih dahulu model kecepatan interval yang akurat melalui proses seperti analisis moveout residual dan tomografi refleksi. Migrasi Kirchhoff yang berbasis single-arrival dibatasi oleh beberapa masalah, terutama kurangnya iluminasi pada suatu titik bawah permukaan dan artefak kinematik akibat multipathing. Migrasi Kirchhoff pada umumnya hanya akan memilih satu arrival saja berdasarkan beberapa macam seleksi, seperti waktu tempuh paling singkat atau yang menghasilkan amplitudo paling tinggi. Multi-arrival belum dapat diaplikasikan pada migrasi Kirchhoff karena kebutuhan kemampuan komputasinya yang secara teori akan sangat berat. Common Reflection Angle Migration (CRAM) merupakan metode migrasi ray-tracing yang bersifat multi-arrival, dan dilakukan pada Local Angle Domain. CRAM didasarkan oleh prinsip iluminasi setara, di mana algoritma migrasi menembakkan sinar ke segala arah dari suatu titik bawah permukaan menuju ke lokasi sumber dan receiver di permukaan sehingga meng-konsiderasi semua arrival. Metode ini mengkomputasi operator migrasi seperti raypath, traveltime, phase-shift, dan geometrical spreading yang digunakan secara langsung dalam proses migrasi tanpa harus disimpan dalam suatu disk. Pencitraan stuktur Cekungan Kutai Utara dengan PreSTM Kirchhoff masih dipengaruhi oleh pitfall seperti push-down dan distorsi pada area sesar. PreSDM Kirchhoff mampu menghilangkan efek push-down, akan tetapi masih menghasilkan image stack yang terdistorsi pada area sesar. Hasil PreSDM CRAM tidak hanya menghasilkan image yang paling jelas, tetapi juga berhasil menggambarkan struktur major seperti sesar geser dan intrusi yang bersesuaian dengan penelitian geologi Cekungan Kutai Utara sebelumnya.
KUANTIFIKASI SPEKTRAL VISIBLE-SHORTWAVE INFRARED CITRA LANDSAT 9 UNTUK MENDETEKSI MINERAL FOSFAT DI DAERAH MAMUJU, SULAWESI BARAT, INDONESIA
Fosfat sebagian besar digunakan dalam pembuatan pupuk untuk nutrisi tanaman dan produksi suplemen pakan ternak. Hanya 10 - 15% dari produksi batuan fosfat dunia yang memiliki kegunaan lain, seperti obat-obatan, keramik, sumber alternatif penting untuk elemen tanah jarang (REE), dan baterai Litium-Besi-Fosfat (LFP). Di Indonesia, berbagai jenis batuan tersusun oleh komponen fosfat, namun batuan yang memiliki nilai ekonomis sangat terbatas. Umumnya, sumber daya fosfat ini ditemukan pada endapan fosfat sedimen atau biogenik, sedangkan sumber daya fosfat yang berasal dari batuan beku masih belum ditemukan. Oleh karena itu, pemetaan yang akurat secara regional dengan menggunakan metode spectral-wise diusulkan dalam penelitian ini. Lima referensi spektral yang berasal dari mineral fosfat dari USGS spectral library digunakan, yaitu: fluorapatit, klorapatit, hidroksilapatit, monasit, dan xenotim. Metode Spectral-wise ini bertujuan untuk mengidentifikasi anomali mineral fosfat berdasarkan perilaku absorpsi spektral yang menunjukkan pola absorpsi yang sama pada panjang gelombang 2 ?m yang berasal dari ortofosfat (PO4). Formulasi berdasarkan spektral ini kemudian diaplikasikan untuk mendeteksi keberadaan fosfat dengan menggunakan citra Landsat 9. Metode spectral-wise berhasil mendeteksi tiga zona prospek PO4 di Simboro, Mamuju dan Tapalang seluas 2.604 Ha dengan kandungan P2O5 mencapai 1,14 – 2,73 Wt.%. Metode ini telah diverifikasi memiliki akurasi sekitar 77% berdasarkan perbandingan dengan sampel batuan maupun tanah yang mengandung P2O5 pada studi lapangan. Karakteristik batuan alkalin tinggi di area penelitian menjadi indikasi anomali mineral fosfat. Zona potensi mineral fosfat lebih dominan pada karakter batuan di area utara yang dipengaruhi oleh aktifitas hidrotermal dan dikontrol oleh struktur geologi.
PEMANTAUAN PLUME CO2 MENGGUNAKAN TEKNIK VSP SELANG WAKTU UNTUK PROGRAM CCS PADA LAPANGAN
Pemanasan global akibat akumulasi gas rumah kaca seperti CO? dan metana berdampak signifikan pada lingkungan dan kehidupan manusia. Indonesia, sebagai penghasil emisi CO? terbesar kesembilan di dunia, berkomitmen untuk mencapai net zero emisi pada tahun 2060 sesuai Perjanjian Paris. Salah satu upaya utama untuk mengurangi emisi karbon adalah dengan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), yaitu menangkap emisi karbon dan menyimpannya di formasi geologi dalam bumi. Untuk memastikan keamanan penyimpanan ini, pemantauan evolusi plume CO? yang telah diinjeksikan menjadi sangat penting. Metode Vertical Seismic Profiles (VSP) selang waktu, khususnya yang memanfaatkan Distributed Acoustic Sensing (DAS), menawarkan pemantauan beresolusi tinggi yang lebih efisien secara biaya dibandingkan metode lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan bawah permukaan 3D guna mensimulasikan injeksi dan memantau pergerakan plume CO?. Prosesnya dimulai dengan pembangunan model kecepatan 3D untuk keperluan konversi dari domain waktu ke domain kedalaman. Kemudian pembangunan model kecepatan 3 dimensi untuk kondisi sebelum dan sesudah injeksi CO?. Model ini digunakan sebagai basis untuk simulasi seismik yang menghasilkan data sintetis sebelum dan setelah injeksi CO? menggunakan perangkat lunak NORSAR. Data ini kemudian diproses melalui metode Kirchhoff Target Migration dalam workflow NORSAR untuk menghasilkan citra seismik yang mampu memperlihatkan distribusi dan keberadaan plume CO? secara jelas.
INTEGRASI DATA GEOLOGI, GEOKIMIA, GEOFISIKA (INDUCED POLARIZATION & RESISTIVITY) UNTUK PENENTUAN ZONA POTENSI MINERAL LOGAM DI DAIRI SUMATRA UTARA
Daerah Bukit Dolok Pangkuruhan pada Kabupaten Dairi berdasarkan dari beberapa kegiatan penyelidikan terdahulu oleh Pusat Sumberdaya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) diketahui terdapat daerah prospek mineral logam dan ditemukan adanya kandungan emas yang mengindikasikan adanya proses endapan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mineralisasi dan alterasi daerah penelitian, mengidentifikasi serta mengintegrasi data geologi dan geofisika untuk penentuan zona potensi mineral logam di Dairi Sumatra Utara. Metode analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis data hasil pengamatan laboratorium meliputi data petrografi, mineragrafi, X-ray Difraction (XRD) dan Portable Infrared Mineral Analyzer (PIMA) diperoleh hasil pemetaan litologi serta pemetaan alterasi dan mineralisasi. Selain itu, dilakukan analisis statistik geokimia untuk menmperoleh pemetaan kadar unsur logam dan pemetaan zona anomali kadar unsur mineral logam. Metode analisis geofisika diterapkan untuk menghasilkan penampang dari lintasan pengukuran geolistrik induced polarization dan resistivity. Seluruh hasil analisis dari semua metode tersebut kemudian diintegrasikan untuk memberikan gambaran distribusi zona potensi mineralisasi bawah permukaan di daerah penelitian. Satuan batuan pada daerah penelitian terdiri dari 3 satuan litologi yaitu satuan filit, satuan batupasir metasediment dan satuan tufa. Tipe alterasi pada daerah penelitian terdapat alterasi argilik (illite-halloysite-kaolinite), argilik-propilitik (illite-intchlorite), filik (quatrz-phyrite-chlorite) dan filik-silifikasi (quatrz-muscovite-illite). Hasil interpretasi dari mengintegrasikan data geologi, geokimia dan geofisika maka dapat diidentifikasi zona potensi mineral logam terdapat pada lintasan 5 zona prospek (Zn-Pb-Ag) dan lintasan 8 zona prospek (Au-Pb) dengan masing-masing lintasan memiliki nilai chargeability tinggi (107-190 msec) dan nilai resistivity sedang-tinggi (100-31623 ohm.m). Kadar unsur Zn memiliki nilai tertinggi yaitu (11000 ppm), kadar unsur Pb sebesar (2324-4753 ppm), kadar unsur Ag memiliki nilai yang terkecil yaitu (10-25 ppm), dan kadar unsur Au sebesar (1525-3 ppm).
INTEGRASI METODE GEOLISTRIK DA INDUKSI ELEKTROMAGNETIK UNTUK ANALISIS KETERSEDIAAN AIR DALAM MENDUKUNG OPTIMASI PENGELOLAAN PERTANIAN DI DESA GIRIMUKTI, KECAMATAN SMEDANG UTARA, KAB SUMEDANG
Pertanian di Indonesia menjadi komoditas utama untuk menyokong perekonomian di dalam negeri. Didukung oleh Indonesia yang terletak di dekat garis khatulistiwa menjadikan Indonesia hanya memiliki dua musim saja yaitu musim hujan dan kemarau yang mempermudah para petani untuk menentukan musim panen. Namun hal tersebut bukanlah satu-satunya alasan yang menjadikan produk pertanian Indonesia memiliki kualitas yang terbaik. Banyak petani di Indonesia yang mengeluhkan bahwa masalah yang dihadapi sekarang adalah kalah saing terhadap produk pertanian dari luar Indonesia. Solusi dari permasalahan tersebut ialah menerapkan dua konsep pertanian yaitu Precision Agriculture dan Sustainable Agriculture. Dalam penerapan kedua konsep tersebut diperlukan langkah awal berupa pemetaan kandungan air menggunakan metode geofisika pada suatu petak sawah di Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengukuran Elektromagnetik dan Geolistrik lalu dilanjutkan dengan pemodelan quasi-3D untuk pemetaan konduktivitas pada lahan penelitian dengan peta konduktivitas dari Induksi Elektromagnetik secara horizontal dan peta konduktivitas dari Geolistrik secara vertikal. Hasil yang didapatkan dalam pengukuran dengan kedua metode menunjukkan tren yang sama mengenai kandungan air yang rendah terdapat pada kedalaman tanah dangkal dan mengalami peningkatan kandungan air yang tinggi hingga kedalaman 4.56 meter ditandai dengan peningkatan nilai konduktivitas dan juga penurunan kandungan air ke arah Utara lahan penelitian ditandai dengan nilai konduktivitas yang menurun dari 23.46 ke 9.1 mS/m.
ANALISIS SEISMIC HAZARD FUNCTION DI KOTA-KOTA BESAR DI JAWA BAGIAN TENGAH
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis bahaya seismik di tiga kota besar di Jawa bagian tengah, yaitu Yogyakarta, Semarang, dan Surakarta, yang rentan terhadap aktivitas seismik akibat subduksi Lempeng India-Australia dan sesar aktif di daratan. Dengan menggunakan metode Probability Seismic Hazard Analysis (PSHA), penelitian ini mengintegrasikan data seismicity rate dan katalog gempa dangkal dengan kedalaman maksimum 60 km. Estimasi b-value lokal dan regional dilakukan untuk membandingkan pengaruhnya terhadap kurva Seismic Hazard Function (SHF). Penggunaan b-value lokal menghasilkan kurva SHF yang lebih curam dibandingkan b-value regional, dengan nilai Probability of Exceedence (PE) yang lebih rendah pada nilai Peak Ground Acceleration (PGA) yang sama. Selain itu, dalam penelitian juga dilakukan evaluasi terhadap a-value, sehingga didapati adanya pengaruh a-value terhadap variabilitas SHF di setiap kota serta adanya keterkaitan seismik di antara ketiga wilayah. Di samping itu, penelitian juga membandingkan estimasi kurva SHF yang dilakukan dengan GMPE Fukushima & Tanaka (1992) dan Kanno, dkk. (2006) guna mengetahui perbedaan penggunaan kedua GMPE tersebut pada daerah penelitian. Penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang baik mengenai bahaya seismik di wilayah Jawa bagian tengah, yang penting untuk upaya mitigasi risiko bencana di masa depan.
ANALISIS TINGKAT KEGEMPAAN SEGMEN ACEH MENGGUNAKAN METODE PERGESERAN PERMUKAAN BERDASARKAN PENGAMATAN GPS
Dari sejarah kegempaan yang terjadi, rata-rata gempa >8 Mw di dunia ini sekali dalam setahun. Di Sumatra, Gempa Sumatra-Andaman pada tanggal 26 Desember 2004 dengan kekuatan Mw>9.0 dan gempa Nias-Simeulue pada tanggal 28 Maret 2005 yang berkekuatan Mw=8.7 terjadi dalam waktu dan lokasi yang berdekatan. Hal ini mengindikasikan telah terjadi pelepasan energi yang cukup besar pada kawasan tersebut. Hal ini dapat diteruskan ke daratan Sumatra di bagian Utara, terutama kawasan ujung Pulau Sumatra, yang dikhawatirkan memicu terjadinya gempa di darat, tempat Segmen Aceh berada. Untuk memantau indikasi tersebut pada kawasan Segmen Aceh dilakukan analisis deformasi terhadap Segmen Aceh setelah terjadi dua gempa besar tersebut untuk mengetahui tingkat kegempaannya. Analisis untuk meneliti tingkat kegempaan ini menggunakan metode pergeseran permukaan yang mendasarkan pada pengamatan GPS (Global Positioning System). Titik-titik ukur GPS ditempatkan melingkupi area patahan dengan mengikuti kaidah dengan target laju geser (slip rate) dan kedalaman terkunci (locking depth) patahan. Aktivitas patahan salah satunya dicirikan oleh adanya pergeseran relatif kedua blok pada patahan tersebut. Dengan metode pengukuran diferensial dan lama pengukuran delapan hingga sepuluh jam akan didapatkan hasil pengukuran GPS dengan ketelitian hingga dalam orde mm. Dengan ketelitian ini mampu mengamati pergeseran yang terjadi meskipun kecil. Pada tahap berikutnya hasil pengukuran ini digunakan untuk pemodelan mekanisme pergeseran menggunakan model dislokasi elastis untuk mengetahui besar pergeseran yang terjadi di Segmen Aceh. Dalam penelitian ini digunakan formulasi matematis elastic half space-Okada yang mampu menghubungkan interaksi gerakan slab (pergeseran) di subduksi terhadap gerakan yang terjadi di permukaaa