📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 146 dokumenANALISIS POTENSI RISIKO LAND SUBSIDENCE TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA BANDUNG: STUDI KASUS KECAMATAN GEDEBAGE
Ancaman land subsidence di Kecamatan Gedebage berdasarkan hasil pantauan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) menunjukkan laju penurunan tanah 5 hingga > 8 cm/tahunnya. Penurunan tanah ini disebabkan oleh faktor litologi tanah lunak yang mudah terkompresi dan dipercepat oleh faktor penggunaan air tanah. Bahkan tanpa faktor penggunaan air tanah, Kecamatan Gedebage akan terus mengalami land subsidence akibat karakteristik tanahnya yang lunak. Meski demikian, Kecamatan Gedebage tetap direncanakan sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) untuk melayani Kota Bandung bagian timur atau seluruhnya. Sebagai PPK yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, hal tersebut dapat meningkatkan kerentanan dari segi urban development. Adanya bahaya dari segi laju penurunan tanah dan kerentanan dari segi urban development sangat berpotensi meningkatkan risiko terhadap berbagai dampak yang dapat ditimbulkan akibat penurunan permukaan tanah, seperti kerusakan sarana dan prasarana, kerugian ekonomi, dan bahkan dapat berdampak hilangnya nyawa pada beberapa kasus ekstrem. Ancaman land subsidence ini juga berimplikasi terhadap rencana tata ruang yang telah disusun untuk Kecamatan Gedebage. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan melihat potensi risiko land subsidence terhadap perencanaan tata ruang Kecamatan Gedebage, mencakup rencana struktur ruang dan pola ruang. Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah mix method dengan menggabungkan antara pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan spasial. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, semua wilayah Kecamatan Gedebage berada pada ancaman bahaya land subsidence, dengan luas total wilayah 972 Ha, luas wilayah pada kelas bahaya tinggi 543 Ha dan luas wilayah pada kelas bahaya sangat tinggi 429 Ha. Sedangkan untuk kerentanan land subsidence di Kecamatan Gedebage terdiri atas 5 kelas kerentanan, yaitu kerentanan sangat rendah 19,4 Ha, rendah 161,3 Ha, sedang 367,73 Ha, tinggi 415,93 Ha, dan sangat tinggi sekitar 7,64 Ha. Berdasarkan hasil analisis risiko dengan mengalikan bahaya dan kerentanan, dihasilkan 4 kelas risiko, yaitu rendah 12 Ha, sedang 123 Ha, tinggi 635 Ha dan sangat tinggi 202 Ha. Kemudian untuk tingkat risiko land subsidence terhadap perencanaan tata ruang berdasarkan RTRW Kota Bandung Tahun 2022- 2042 melingkupi rencana struktur ruang dan pola ruang. Dari hasil analisis pada rencana struktur ruang yang terdiri atas infrastruktur dan jaringan, 14 infrastruktur yang berpotensi mengalami gangguan akibat land subsidence,1 pada risiko rendah, 2 sedang, 10 pada risiko tinggi dan 1 pada risiko sangat tinggi, sedangkan terhadap jaringan struktur ruang terdapat panjang jaringan 1,47 Km pada risiko rendah, 44,74 Km risiko sedang, 85,01 Km risiko tinggi, dan 36,89 Km pada risiko sangat tinggi. Untuk rencana pola ruang yang berpotensi mengalami risiko land subsidence terdiri atas 802 Ha kawasan budidaya dan 170 Ha kawasan lindung, terutama pada kawasan budidaya tepatnya kawasan perumahan di Kelurahan Cisaranten Kidul dan Rancabolang yang berada pada tingkat risiko tinggi hingga sangat tinggi.
MODEL 3D STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN INTERPRETASI DATA GAYA BERAT DAN SEJARAH PEMBENTUKAN DAERAH KARANGSAMBUNG, KEBUMEN UTARA, JAWA TENGAH
Kompleks Melange Luk-Ulo (LMC) terbentuk pada zona subduksi berumur Kapur yang terhenti akibat adanya kolisi mikro kontinen Jawa Timur di bagian selatan Sundaland. Melange ini dicirikan dengan adanya berbagai fragmen batuan yang tertanam pada matriks berbutir lebih halus. Fragmen-fragmen ini memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari ukuran krikil hingga bongkah dengan diameter yang dapat mencapai ratusan meter. Keberadaan batuan beku di Karangsambung masih menjadi perdebatan, terkait dengan asal-usul pembentukannya. Beberapa studi menunjukkan bahwa batuan tersebut terbentuk secara insitu, sementara studi lainnya memberikan bukti bahwa batuan tersebut merupakan bongkah dalam endapan melange. Fenomena ini terjadi karena batas antar batuan di permukaan, terutama di Kompleks Melange Luk-Ulo, cukup sulit untuk ditentukan hanya berdasarkan pemetaan geologi konvensional. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan tambahan melalui data geofisika agar interpretasi yang dihasilkan lebih reliable. Batas antar batuan di daerah tersebut dapat diindikasikan melalui perubahan densitas batuan, yang membuat pendekatan geofisika dengan metode gaya berat menjadi relevan untuk diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model 3D struktur geologi di daerah Karangsambung melalui integrasi antara data geologi dan data gaya berat. Hasil interpretasi dari model ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk rekonstruksi sejarah pembentukan daerah penelitian. Akuisisi data dalam penelitian ini menghasilkan 28 conto batuan dengan rata-rata densitas sekitar 2,61 g/cm³, sementara akuisisi data gaya berat menghasilkan 822 data. Hasil interpolasi dengan 818 data pada peta anomali Bouguer berkisar antara 68,65 hingga ?99,95 mgal. Pemisahan anomali residual menggunakan filter Butterworth – highpass dengan cut-off bilangan gelombang 0,15 yang menghasilkan anomali residual dalam rentang ?6,71 hingga 7,71 mgal, dengan anomali tinggi yang tersebar di sekitar G. Parang yang mengindikasikan tubuh batuan intrusi. Model geologi 3D disusun menggunakan enam penampang geologi berdasarkan data geologi yang tersedia. Model ini akan digunakan sebagai dasar untuk pemodelan lebih lanjut dengan input densitas sampel batuan untuk mengestimasi model apriori. Penentuan model apriori penting untuk memastikan inversi berjalan sesuai dengan prinsip geologi dan menghasilkan densitas yang teroptimasi. Dalam penelitian ini, inversi stokastik dengan pendekatan Monte Carlo dimanfaatkan untuk mencari solusi optimal. Batasan geologi diterapkan selama proses inversi, antara lain rasio bentuk (shape ratio), rasio volume (volume ratio), dan batasan densitas serta batasan stratigrafi, untuk memastikan model yang dihasilkan sesuai dengan kondisi geologi lapangan. Selain itu, iterasi dalam inversi dibatasi hingga 50 juta sehingga berhasil menurunkan misfit (RMSE) antara data kalkulasi dan data observasi gaya berat residual dari 2,8 mgal menjadi 0,54 mgal. Hasil inversi menunjukkan tiga bagian utama: (a) LMC terbagi menjadi dua zona berdasarkan kedalaman. Zona dangkal (0–2000 m) dicirikan oleh fragmen dengan densitas tinggi (2,65–2,79 g/cm³) yang tertanam dalam matriks dengan densitas rendah (2,43 ± 0,050 g/cm³). Zona dalam (>2000 m) memiliki batuan dengan densitas tinggi (2,87 ± 0,052 g/cm³), mendekati densitas gabro, yang ditafsirkan sebagai fragmen dari kerak samudera yang tercampur dalam sistem basement Melange Luk-Ulo. (b) Daerah tengah menunjukkan adanya intrusi diabas (2,77 ± 0,052 g/cm³) yang memotong batuan dasar dan Formasi Karangsambung. Pada kedalaman sekitar 3 km, terdapat batuan beku yang diinterpretasikan sebagai reservoir magma yang telah membeku. (c) Di bagian selatan, inversi menunjukkan struktur perlapisan dan perlipatan, yang disertai dengan perubahan densitas dan ketebalan lapisan, terutama pada Formasi Waturanda. Rekonstruksi geologi menunjukkan bahwa: (a) Pada pra-Tersier, Kompleks Melange Luk-Ulo terletak di zona subduksi Meratus yang terhenti pada Kapur Akhir akibat kolisi dengan mikro kontinen Jawa Timur. (b) Pada Eosen Tengah, subduksi terbentuk di selatan Jawa dengan arah barat-timur dan sudut penunjaman 60o dan diendapkan Formasi Karangsambung secara tidak selaras diatas LMC. (c) Pada Eosen Akhir hingga Oligosen, subduksi mencapai kedalaman sekitar 85–100 km, memicu vulkanisme bawah laut yang dicirikan dengan afinitas island arc tholeiitic. (d) Pada umur Oligosen Akhir-Miosen Awal, diperkirakan bahwa vulkanisme telah mereda dan daerah penelitian mengalami deformasi, erosi dan pengangkatan.
HIDROGEOKIMIA SISTEM PANAS BUMI GUNUNG SIMENUNG DAN SEKITARNYA, SUMATRA SELATAN-LAMPUNG.
Gunung Seminung, terletak di selatan Danau Ranau, merupakan gunung pascakaldera di Segmen Kumering, bagian dari Sesar Besar Sumatra. Potensi sistem panas bumi di wilayah ini ditandai oleh manifestasi mata air panas di sekitar tepi danau, bagian utara, dan barat gunung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hidrogeokimia fluida panas bumi, mengevaluasi proses bawah permukaan, dan memvisualisasikan model hidrogeokimia Gunung Seminung. Data diperoleh melalui survei lapangan dan studi terdahulu, meliputi pengukuran parameter fisis air (temperatur, pH, TDS, salinitas, konduktivitas), analisis kimia anion-kation, isotop stabil (?¹?O dan ?²H), alterasi mineral, serta survei gas tanah (CO? dan Hg). Hasil penelitian menunjukkan manifestasi memiliki tipe air bikarbonat yang terdilusi air meteorik. Diagram isotop stabil mengindikasikan pengayaan isotop akibat interaksi fluida dengan batuan bawah permukaan. Struktur geologi, seperti sesar Talang Kedu dan Wai Uluhan, menjadi jalur permeabilitas fluida ke permukaan. Anomali Hg dan CO? di udara tanah ditemukan di desa Kota Batu dan Talang Kedu, menunjukkan aktivitas hidrotermal. Kluster manifestasi di bagian utara menunjukkan keluaran fluida melalui Sesar Wai Uluhan, sedangkan kluster barat dipengaruhi oleh Sesar Talang Kedu. Air tanah berasal dari puncak Gunung Seminung pada elevasi sekitar 1547 – 1597 mdpl yang meresap pada kedalaman dangkal. Air bikarbonat kemudian mengalir dari elevasi tinggi ke elevasi rendah dan muncul sebagai mata air panas pada pinggir danau. Mata air ini keluar akibat zona depresi dari Gunung Seminung dengan Danau Ranau. Mata air panas yang muncul pada sistem panas bumi ini merupakan outflow pada sistem. Sebaran temperatur bawah permukaan memiliki estimasi kedalaman reservoir berada pada sekitar – 677 hingga – 725 mdpl.
UPAYA MITIGASI STRUKTURAL DALAM PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MIU KABUPATEN SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH AKIBAT ALIRAN DENGAN SEDIMEN KONSENTRASI TINGGI
Pasca gempa Palu, mulai dari 28 September 2018 hingga Desember 2021, setidaknya terjadi 24 kejadian banjir longsor, yang memengaruhi 15 desa di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala. Sebagai respons terhadap bencana tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Pemerintah Indonesia (BAPPENAS) segera membentuk tim tugas strategis dan mengembangkan rencana rekonstruksi yang mendasar pada bulan Desember 2018. Salah satu area yang diprioritaskan untuk rekonstruksi adalah bagian ruas Sungai Miu Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah yang bersisian dengan jalan poros Palu – Kulawi yang menghubungkan beberapa kecamatan. Gempa tersebut memicu terjadinya kelomgsoran tebing pada beberapa lereng bukit yang merupakan bagian dari daerah tangkapan air (subdas) Sungai Miu yang berdampak pada perubahan tutupan lahan dan peningkatan erosivitas tanah. Hal ini kemudian akan merubah respon DAS Miu terhadap limpasan air hujan dan penambahan konsentrasi sedimen akan berpengaruh terhadap perubahan morfologi Sungai Miu Berdasarkan hal-hal tersebut di atas diperlukan kajian terkait dengan potensi daya rusak air yang akan berdampak dari Sungai Miu seperti genangan akibat luapan air dan gerusan sungai akibat perubahan geomorfologi sungai yang terjadi pada kondisi eksisting atau kondisi setelah penanganan. Upaya struktural yang diusulkan sebagai alternatif penanganan adalah bangunan revetmen untuk melindungi gerusan tebing sungai atau bangunan dam konsolidasi series untuk mengendalikan gerusan. Alternatif penanganan lainnya yang dapat dipertimbangkan adalah usulan zona gerusan sebagai upaya mitigasi dalam menghadapi potensi gerusan.
PERANCANGAN LANSKAP PESISIR GEOWISATA MANGROVE MANDRAJAYA DI CILETUH PALABUHANRATU UNESCO GLOBAL GEOPARK
Prioritas Pengembangan wisata di Desa Mandrajaya adalah Wisata Ekologi Mangrove seluas 5 Hektar, yang dimana secara makro sangat sedikit penyebarannya di Kawasan Geopark Ciletuh, sehingga sedang diupayakan untuk diperluas ekosistemnya untuk menjadi pelindung bagi Kawasan pesisir dari ancaman abrasi, tsunami, perubahan iklim. Dan aktifitas manusia. Amenitas dalam Kawasan wisata mangrove Mandrajaya yang dikelola oleh POKMASI (Kelompok Masyarakat Sadar Konservasi) ini telah mengalami kerusakan. Meningkatkan ekosistem Mangrove (Biodiversity) untuk perlindungan kawasan pesisir Mandrajaya, merancang amenitas yang mendukung aktifitas serta mobilisasi masyarakat local maupun pengunjung, menata zona budaya (Culturediversity), dan Merancang fasilitas pendukung untuk mengexplorasi keragaman geologi (Geodiversity) disepanjang Kawasan pesisir cluster (F) mengungkap fenomena subdiksi purba. Metode Perancangan dalam 3 tahapan yaitu : Pre – design Phase, Site Assessment (Inventaris tapak, pengumpulan data, dan data analisis) serta Design Phase oleh LaGro. Berdasarkan Hasil Penelitian, dibuatkan perencanaan dalam skala meso, dan skala Mikro. Desa Mandrajaya memiliki keragaman Geologi disepanjang Kawasan pesisir, keanekaragaman hayati terutama mangrove, dan keanekaragaman budaya berupa budaya maritim. Hal tersebut menjadi Potensi yang harus dikembangkan agar Masyarakat mendapatkan keuntungan secara ekonomi dengan mempertahankan kekayaan alam yang dimiliki.
MODEL FISIKA LONGSOR UNTUK MITIGASI BENCANA DI KAWASAN SITINJAU LAUT KOTA PADANG SUMATERA BARAT
Kawasan Sitinjau Laut merupakan wilayah perbukitan yang terletak di ujung timur kecamatan Lubuk Kilangan kota Padang. Daerah ini sangat rentan terhadap bahaya longsoran/gerakan tanah karena memiliki medan yang sangat curam (70º sampai dengan 85º), tata guna lahan yang kurang tepat serta curah hujan yang tergolong tinggi sepanjang tahun. Oleh karena itu investigasi potensi longsor sangat penting dilakukan, mengingat dari tahun ke tahun frekuensi bencana longsor di kawasan Sitinjau Laut terus terjadi peningkatan. Hal ini telah menimbulkan kerugian harta maupun jiwa yang tidak sedikit. Dalam rangka investigasi potensi longsor di kawasan Sitinjau Laut, maka dilakukan analisis potensi longsor pada lima lokasi dengan metode pengharkatan terhadap tujuh variabel yaitu; kemiringan lereng, tekstrur tanah dan batuan, kedalaman efektif tanah, tingkat pelapukan batuan, penggunaan lahan, kerapatan vegetasi dan curah hujan. Untuk menentukan harkat dari ketujuh variabel tersebut dilakukan survei dan penelitian lapangan. Data yang didapatkan dari masing-masing variabel dijumlahkan sebagai harkat total sehingga dapat ditentukan tingkat potensi longsor pada masing-masing lokasi tersebut. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian adalah, lokasi pertama mempunyai harkat total 26 dengan kategori potensi longsor berat, lokasi kedua mempunyai harkat total 26 dengan kategori potensi longsor berat, lokasi ketiga mempunyai harkat total 24 dengan kategori potensi longsor berat, lokasi keempat mempunyai harkat total 21 dengan kategori potensi longsor sedang dan lokasi kelima mempunyai harkat total 22 dengan kategori potensi longsor sedang. Pada laporan penelitian ini juga dilakukan penjabaran fenomena longsor secara fisis sebagai upaya edukasi, prevensi dan mitigasi bencana bagi masyarakat dan suatu masukan kepada pemangku kepentingan dalam rangka penangggulangan bencana longsor di kawasan tersebut. Sehingga diharapkan resiko yang ditimbulkan oleh bencana longsor di kawasan ini dapat diminimalisir untuk masa yang akan datang.
GEOLOGI CEKUNGAN DEPAN BUSUR DAERAH SEGINIM, KABUPATEN BENGKULU SELATAN, PROVINSI
Kecamatan Seginim merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Daerah penelitian berada di kawasan hutan lindung Provinsi Bengkulu dengan daerah penelitian seluas 72 km2. Daerah penelitian terletak pada koordinat UTM dengan northing 9518000-9527000 dan easting 29200-300000 pada zona 48S dengan datum WGS84. Penelitian ini terdiri dari pengamatan dan pengambilan data di lapangan, analisis laboratorium dan studio, serta penyajian kondisi geologi daerah penelitian. Daerah penelitian merupakan bagian dari zona V yang berada di lereng bagian barat Perbukitan Barisan. Bentang alam daerah penelitian adalah berupa lembahan, punggungan, dan perbukitan yang secara umum dipengaruhi oleh geometri batuan terobosan dan struktur geologi dilihat dari pola sungai radial dan rektangular yang terdapat pada daerah penelitian. Litologi yang tersebar pada daerah penelitian memiliki karakteristik berupa batuan volkanik seperti Breksi Piroklastik (Formasi Hulusimpang), Breksi Laharik, dan Lava (Formasi Lakitan); batuan terobosan berupa Granit dan Andesit; dan Batuan sedimen transisi hingga laut dangkal berupa Batupasir Karbonan (Formasi Seblat), Batubara, Konglomerat, Batugamping Klastik, dan Batupasir Karbonatan. Satuan batuan pada daerah penelitian memiliki umur Miosen Awal hingga Resen. Struktur Geologi terbentuk pada zona strike-slip dan subduksi oblik dengan mekanisme simple shear juga merupakan hal yang menarik untuk dipelajari dengan keterdapatan berbagai jenis struktur geologi seperti sesar geser, sesar naik, sesar normal, dan lipatan tegak.
KONTESTASI KEPENTINGAN DALAM PERENCANAAN KAWASAN KONSERVASI GEOLOGI DI DESA GUNUNG SUNGGING: SEBUAH KAJIAN MULTI LEVEL PERSPECTIVE
Konservasi geologi bertujuan untuk melindungi dan melestarikan komponen geologi yang memiliki nilai penting bagi penelitian dan pendidikan. Konservasi geologi menjadi semakin relevan dalam menghadapi ancaman eksploitasi yang dapat merusak keberlanjutan komponen geologi, terutama yang memiliki nilai ilmiah sebagai warisan geologi. Penelitian ini berfokus pada dinamika transisi dari eksploitasi menuju konservasi fosil megalodon di Desa Gunung Sungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Penemuan fosil megalodon pada akhir tahun 2019, yang memiliki nilai ilmiah tinggi sebagai warisan geologi, menjadi awal terjadinya eksploitasi dan praktik jual beli fosil secara masif. Aktivitas ini menimbulkan ancaman terhadap keberlanjutan fosil sebagai bagian dari warisan geologi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Badan Pengelola Geopark Ciletuh- Palabuhanratu, dan tokoh masyarakat setempat. Perbedaan kepentingan terhadap nilai ilmiah dan nilai ekonomi fosil menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transisi, mengidentifikasi peran aktor-aktor yang terlibat, dan upaya perencanaan kawasan konservasi geologi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka Multi-Level Perspective (MLP), penelitian ini mengungkapkan bahwa interaksi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan lembaga terkait berperan penting dalam mendorong perubahan dari eksploitasi menuju konservasi. Salah satu hasil konkret dari upaya konservasi geologi adalah pendirian museum Megalodon sebagai pusat pelestarian, penelitian, dan edukasi. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap perencanaan kawasan konservasi geologi dengan menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam konservasi warisan geologi. Temuan ini juga dapat menjadi referensi bagi wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa terkait konservasi warisan geologi, khususnya dalam mengelola kontestasi kepentingan antara nilai ilmiah dan nilai ekonomi.
MODEL PENILAIAN KESESUAIAN LAHAN BERBASIS GEOLOGI TERINTEGRASI SOSIOEKONOMI: CONTOH TERAPAN DI KAWASAN PERKOTAAN CIKALONG WETAN, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Tujuan penyelenggaraan penataan ruang menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021 adalah untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Akan tetapi, sampai saat ini masih banyak peruntukan ruang yang justru memperparah dampak dari bencana alam. Hal ini dikarenakan proses penyusunan Rencana Tata Ruang memiliki beberapa kelemahan yaitu: (i) data dan informasi yang dilibatkan terkait kondisi geologi kawasan yang hendak ditata masih bersifat umum dan tidak terperinci; (ii) dalam proses pengambilan keputusan zonasi tata ruangnya, data geologi dibobotkan secara terpisah dari data sosioekonomi; (iii) pengambilan keputusannya berpola dependensi hierarki sehingga tingkat akurasi rendah; dan (iv) karena dianalisis secara terpisah, maka produk zonasi keleluasaan geologi tidak sepadan dengan produk zonasi peruntukan lahan dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Oleh sebab itu diperlukan suatu model penilaian zonasi kesesuaian lahan yang secara koheren dengan mempertimbangkan integrasi data ruang geologi dan sosioekonomi. Tujuan utama penelitian ini adalah merancang model penilaian berbasis geologi terintegrasi sosioekonomi untuk zonasi kesesuaian lahan. Model tersebut mencakup: (i) merumuskan jenis subkriteria dan jenis data faktor yang esensial (mutlak diperlukan) untuk penilaian zonasi kesesuaian lahan dalam lingkup kriteria geologi dan sosioekonomi; (ii) menyusun standardisasi klasifikasi skor kelas untuk setiap jenis data; dan (iii) merancang pola jaringan Spatial Multicriteria Evaluation (SMCE) untuk penilaian kesesuaian lahan yang bisa mengintegrasikan semua data (geologi dan sosioekonomi). Tujuan selanjutnya yang ingin dicapai adalah menerapkan model penilaian zonasi kesesuaian lahan tersebut dalam penataan ruang di Kawasan Perkotaan Cikalong Wetan, sebagai salah satu pengembangan kawasan perkotaan baru di Indonesia. Lingkup data yang dinilai dibatasi pada data-data spasial dan data faktor geologi untuk bentang alam dataran tinggi atau perbukitan (non-pesisir)......
KAJIAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN DAMPAKNYA TERHADAP TITIK TITIK DASAR BATAS LAUT DI PULAU SIBERUT
Menurut Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2002 dan perubahannya Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2008 tentang Daftar koordinat geografis titik-titik garis pangkal (Titik dasar) Kepulauan Indonesia, garis pangkal merupakan acuan awal pada penentuan titik dasar. Indikasi awal perubahan garis pangkal dapat diamati dari ketidaksesuaian posisi garis pangkal dengan titik dasar. Penelitian Tesis ini akan mengkaji perubahan garis pangkal dengan melakukan ekstraksi garis pantai menggunakan metode Normalized Difference Water Index (NDWI). Data yang digunakan citra satelit SPOT 7 dengan multitemporal. Metode NDWI digunakan untuk memisahkan perairan dan daratan sehingga didapatkan batas yang jelas sebagai representasi dari garis pantai sesaat. Perubahan Garis pangkal dihitung menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) menggunakan hasil ekstraksi data multitemporal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa citra SPOT 7 mampu melakukan deteksi perubahan garis pantai di Pulai Siberut. Pada tahun 2016 hingga 2021 laju perubahan posisi garis pantai akibat abrasi ratarata 3,35 m/tahun dan akresi rata-rata 4,7 m/tahun.
KONSEP PANCER JALMA DALAM PERANCANGAN SISTEM TANDA WATU PAYUNG HUTAN TURUNAN DI KAWASAN GUNUNG SEWU UNESCO GLOBAL GEOPARK KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Realisasi sikap kepedulian terhadap pelestarian bumi diwujudkan oleh kawasan Gunung Sewu dengan menjadi anggota UNESCO Global Geoparks. Satu dari beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota organisasi dunia tersebut adalah syarat memiliki visibilitas teritorial yang terdiri dari enam jenis penanda serta mencantumkan slogan dan logo geopark. Pembuatan sistem tanda harus mengacu pula pada himbauan freedom of landscape yang mengarahkan agar pemandangan alam spesifik dan mengagumkan dijauhkan dari penempatan panel informasi yang berlebihan. Syarat tersebut harus dipenuhi oleh obyek wisata Watu Payung yang menghadirkan hamparan awan saat dini hari dan jalur jelajah dari hutan lindung pohon jati hingga berakhir di Sungai Oya. Obyek wisata ini terletak di dalam Hutan Turunan, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul wilayah barat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Watu Payung Hutan Turunan dengan keragaman geologi, keragaman hayati dan keragaman budaya yang khas merupakan bagian dari 32 geosite dan geoforest di kawasan karst Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Permasalahan timbul saat sistem tanda terpasang di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark bertolak belakang dari peran yang seharusnya mampu membangun suasana khas kawasan konservasi. Tampilan sistem tanda terpasang lebih tepat ditempatkan di kawasan atau bangunan komersial dan korporasi. Penggunaan material industri berbiaya tinggi pada sistem tanda terpasang bertentangan dengan butir-butir pasal pada Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan. Hal ini timbul karena belum ada konsep dan perancangan sistem tanda yang dapat dijadikan panduan oleh sebagian masyarakat setempat sebagai pengelola atraksi alam dalam wilayah konservasi. Pola empat pada falsafah budaya Jawa sedulur papat kalima pancer, kiblat papat kalima pancer sebagai pedoman orientasi ruang dari Keraton Yogyakarta dan jalma limpat seprapat tamat merupakan bagian dari keseharian masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pola ini menjadi sumber gagasan perumusan konteks kritis ii bagian terpenting dari Metode Practice-led Research. Metode penelitian performatif dengan mengeksplorasi rancangan sebagai alternatif dari metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif yang menghasilkan teori baru disertai suatu karya. Konteks kritis penelitian ini menghasilkan tiga kelompok rumusan. Pertama, rumusan menggunakan gagasan sedulur papat berisi empat kriteria pada sistem tanda nuansa keragaman budaya (1) jenama dengan komponen warisan seni budaya dan kriya lokal, (2) teknik menulis manual dan spontan pada jenama dan judul penanda, (3) benda warisan seni, budaya dan kriya lokal sebagai bagian penanda, (4) warisan seni, budaya dan kriya lokal tak benda. Kedua, rumusan gagasan kiblat papat berisi empat nuansa keragaman geologi dan hayati sebagai kriteria fisik dan lokasi sistem tanda (1) wilayah pengelolaan (2) peletakan terintegrasi jenis - jenis penanda dengan mendekatkan atau menggabungkan, (3) strategi jangkauan pengelola mempertimbangkan karakteristik kontur alam, jarak dan lokasi penempatan sistem tanda, (4) mengoptimalkan pemanfaatan material alam dan memanfaatkan sumber cahaya alami di bawah tanah, alam terbuka dan pesisir pantai. Seluruh komponen melebur pada sistem tanda sebagai kalima pancer. Penggunaan sistem tanda virtual imaterial sebagai gagasan jalma limpat sprapat tamat dipergunakan sebagai media yang mengakomodasi kompleksitas dan dinamika materi edukasi dikemas dalam perangkat kompak, ringkas dan interaktif berbasis teknologi digital. Sepuluh kriteria pada gagasan konsep merancang sistem tanda ini dinamakan Pancer Jalma. Irisan Model Metode Piramida Penanda sebagai teori sistem tanda pendahulu dengan konsep ini didominasi oleh kriteria-kriteria yang sejalan. Model Teori Semiotika digunakan untuk menganalisis makna dari sistem tanda terpasang dan luaran karya dari praktik. Uji luaran karya terhadap respons masyarakat dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, menyebarkan angket dan pameran. Penanda terpasang dari zona publik dan di dalam Watu Payung Hutan turunan dibandingkan dengan luaran karya dilakukan analisa menggunakan sepuluh kriteria pada Konsep Pancer Jalma. Hasilnya, sepuluh kriteria dari Konsep Pancer Jalma berkurang secara bertahap mengikuti pergeseran yang dimulai dari zona geoforest/geosite bergerak ke zona transisi hingga zona publik. Dengan demikian Konsep Pancer Jalma terbukti menjawab permasalahan dan dapat dipakai sebagai konsep pedoman perancangan sistem tanda di kawasan geopark. Selain memenuhi syarat fungsi, sistem tanda memiliki konotasi konsisten dengan keragaman khas geopark dan lebih dalam lagi menyiratkan nilai sejarah serta penggunaan material terbarukan.
PERBANDINGAN METODE ANALISIS DAN EVALUASI POTENSI LIKUEFAKSI BERDASARKAN DATA CPTU DI PULAU REKLAMASI, PANTAI INDAH KAPUK, DKI JAKARTA
Analisis likuefaksi pada daerah reklamasi telah gencar dilakukan karena material utama reklamasi umumnya bersifat non-kohesif yang rentan terhadap likuefaksi. Indonesia yang dikenal sebagai “ring of fire” memiliki potensi gempa yang tinggi yang dapat memicu terjadinya likuefaksi. Uji penetrasi konus (CPT) merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pengambilan data lapisan tanah yang kemudian dijadikan sebagai data analisis likuefaksi dan kondisi geologi daerah penelitian. Analisis likuefaksi pada penelitian ini menggunakan perbandingan 3 metode yang saat ini sedang berkembang. Analisis data dilakukan hingga menghasilkan nilai faktor keamanan likuefaksi termasuk nilai perpindahan lateral dan penurunan tanah, kondisi permukaan tanah jika terjadi likuefaksi, serta indeks potensi likuefaksi daerah penelitian. Hasil analisis lapisan tanah pada daerah penelitian menghasilkan 3 variasi jenis sedimen, yaitu: jenis sedimen pasir, jenis sedimen lanau, dan jenis sedimen lempung. Dari hasil perbandingan tiga metode yang digunakan secara umum memperlihatkan bahwa daerah penelitian memiliki potensi likuefaksi yang tinggi pada material clean sand pada kedalaman antara 4,5 – 15 m dari permukaan. Nilai perpindahan lateral terbesar rata-rata pada tiap titik CPTu berkisar antara 97,46 – 339,02 cm dan penurunan tanah terbesar rata-rata pada tiap titik CPTu berkisar antara 4,41 – 23,39 cm. Kondisi permukaan tanah diperkirakan berpotensi likuefaksi dan nilai indeks potensi likuefaksi (LPI) menunjukkan bahwa pada daerah penelitian memiliki LPI rata-rata very high risk kecuali pada titik CPTu-CH4950 dan CPTu-CH5050 yang memiliki nilai LPI high risk.
STUDI GEOLOGI DAN KONTROL KEMUNCULAN MATA AIR DINGIN DAN HANGAT DI DAERAH WANAYASA, KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH
Mata air dingin dan hangat di daerah Wanayasa dan sekitarnya telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai sumber air dalam aktivitas sehari-hari sehingga perlu dijaga kelestariannya. Penelitian mengenai kondisi geologi dan hidrogeologi sangat penting untuk tujuan konservasi sumber air, tetapi di area ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk memetakan kondisi geologi dan mengidentifikasi faktor geologi yang mengontrol kemunculan mata air dingin dan hangat di daerah Wanayasa dan sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, analisis citra DEMNAS, pemetaan lapangan, dan analisis laboratorium terhadap sampel batuan dan air. Berdasarkan hasil analisis, geomorfologi di daerah penelitian terbagi menjadi 19 satuan. Daerah penelitian terbagi ke dalam 15 satuan batuan berdasarkan prinsip vulkanostratigrafi dan litostratigrafi. Struktur geologi yang teridentifikasi di daerah penelitian yaitu Sesar Menganan Turun Sirukem, Sesar Menganan Turun Balun, dan Sesar Naik Mrawu. Berdasarkan tipe kemunculannya, mata air pada daerah penelitian diklasifikasikan menjadi mata air depresi, rekahan, dan sesar. Mata air depresi memiliki debit <1 L/s yang berada pada tekuk lereng, sedangkan mata air yang dikontrol oleh rekahan dan sesar diklasifikasikan sebagai mata air rekahan dan sesar dengan debit >1 L/s. Daerah resapan air berada pada elevasi 1600 m berdasarkan analisis isotop 18O dan 2H. Daerah resapan berada pada kMata air dingin dan hangat di daerah Wanayasa dan sekitarnya telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai sumber air dalam aktivitas sehari-hari sehingga perlu dijaga kelestariannya. Penelitian mengenai kondisi geologi dan hidrogeologi sangat penting untuk tujuan konservasi sumber air, tetapi di area ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk memetakan kondisi geologi dan mengidentifikasi faktor geologi yang mengontrol kemunculan mata air dingin dan hangat di daerah Wanayasa dan sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, analisis citra DEMNAS, pemetaan lapangan, dan analisis laboratorium terhadap sampel batuan dan air. Berdasarkan hasil analisis, geomorfologi di daerah penelitian terbagi menjadi 19 satuan. Daerah penelitian terbagi ke dalam 15 satuan batuan berdasarkan prinsip vulkanostratigrafi dan litostratigrafi. Struktur geologi yang teridentifikasi di daerah penelitian yaitu Sesar Menganan Turun Sirukem, Sesar Menganan Turun Balun, dan Sesar Naik Mrawu. Berdasarkan tipe kemunculannya, mata air pada daerah penelitian diklasifikasikan menjadi mata air depresi, rekahan, dan sesar. Mata air depresi memiliki debit <1 L/s yang berada pada tekuk lereng, sedangkan mata air yang dikontrol oleh rekahan dan sesar diklasifikasikan sebagai mata air rekahan dan sesar dengan debit >1 L/s. Daerah resapan air berada pada elevasi 1600 m berdasarkan analisis isotop 18O dan 2H. Daerah resapan berada pada kondisi litologi berupa batuan piroklastik dengan kemiringan lereng datar hingga landai. Daerah luahan dijumpai pada elevasi yang lebih rendah dengan litologi berupa endapan aluvial dan kemiringan lereng landai. Nilai TDS <100 ppm dari mata air dingin menunjukkan tidak adanya kontaminasi termal dengan tipe pola aliran lokal. Mata air hangat menunjukkan tipe pola aliran regional yang ditandai dengan nilai TDS >1000 ppm, serta kandungan unsur terlarut yang relatif lebih tinggi. Mata air hangat bersirkulasi dari utara ke selatan dengan sumber panas yang diinterpretasikan berasal dari sisa aktivitas vulkanisme Gunung Rogojembangan, kemudian keluar melalui bidang sesar.ondisi litologi berupa batuan piroklastik dengan kemiringan lereng datar hingga landai. Daerah luahan dijumpai pada elevasi yang lebih rendah dengan litologi berupa endapan aluvial dan kemiringan lereng landai. Nilai TDS <100 ppm dari mata air dingin menunjukkan tidak adanya kontaminasi termal dengan tipe pola aliran lokal. Mata air hangat menunjukkan tipe pola aliran regional yang ditandai dengan nilai TDS >1000 ppm, serta kandungan unsur terlarut yang relatif lebih tinggi. Mata air hangat bersirkulasi dari utara ke selatan dengan sumber panas yang diinterpretasikan berasal dari sisa aktivitas vulkanisme Gunung Rogojembangan, kemudian keluar melalui bidang sesar.
KORELASI DENSITAS KELURUSAN DENGAN PERSEBARAN NATURAL COKE DAN ZONA KEMAGNETAN BATUAN BERDASARKAN DATA CITRA DI KABUPATEN MURUNG RAYA, KALIMANTAN TENGAH
Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, memiliki kondisi geologi kompleks dan kaya akan sumber daya alam. Penelitian ini ditujukan untuk menyusun peta densitas kelurusan secara semi otomatis menggunakan software PCI Geomatica berdasarkan data Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) dan Shuttle Radar Topography Mission (SRTM). Penelitian ini juga menganalisis korelasi antara peta densitas kelurusan dengan litologi, struktur geologi regional, zona kemagnetan batuan, dan sebaran lubang bor Natural coke dan batuan beku (Igneous Rock). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah dengan densitas kelurusan rendah cenderung berada pada formasi batuan kompleks dan berusia tua, sementara daerah dengan densitas kelurusan sedang hingga tinggi berada pada formasi batuan sedimen yang lebih muda. Korelasi antara densitas kelurusan dengan zona kemagnetan batuan menunjukkan peningkatan korelasi pada elevasi yang lebih tinggi. Selain itu, terdapat korelasi kuat antara sebaran lubang bor natural coke dengan densitas kelurusan sedang hingga tinggi dengan persen probabilitas rata-rata keterdapatannya sebesar 70% untuk natural coke dan 63% untuk Igneous Rock. Korelasi positif juga ditemukan antara keterdapatan natural coke dan Igneous Rock dengan zona kemagnetan tinggi, terutama di Blok Y, sedangkan di Blok X, keterdapatannya menyebar di zona kemagnetan rendah dan tinggi.
PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN DATA MAGNETIK UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEBERADAAN DANAU MAAR: STUDI KASUS DAERAH WADUK SETUPATOK, KABUPATEN CIREBON
Danau maar terbentuk dari serangkaian letusan dengan skala kecil, yang terjadi ketika magma naik ke permukaan. Selanjutnya, magma tersebut mengalami kontak dengan permukaan air tanah dan menghasilkan ledakan freatomagmatik di bawah permukaan. Pemahaman mengenai struktur bawah permukaan danau maar dapat dilakukan, salah satunya melalui penggunaan metode magnetik untuk memodelkan struktur bawah permukaan. Penelitian kali ini menggunakan metode magnetik untuk mendapatkan model struktur bawah permukaan. Sebelum pemodelan dilakukan, data magnetik dikoreksi terlebih dahulu. Koreksi ini terdiri dari koreksi diurnal dan koreksi IGRF. Kemudian, pemodelan kedepan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Oasis Montaj. Pada penelitian ini, nilai suseptibilitas yang digunakan memiliki rentang nilai 0,000166 cm³/g – 0,005940 cm³/g. Pemodelan dilakukan dengan membuat tiga lintasan dengan rentang error metode magnetik berkisar 8,905 nT – 13,006 nT. Dari pemodelan yang telah dilakukan, dihasilkan struktur bawah permukaan yang sesuai dengan kondisi geologinya. Berdasarkan hasil tersebut, pada lokasi penelitian teridentifikasi adanya danau maar, yang tertimbun oleh satuan batuan Hasil Gunungapi Muda Careme.