📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPERANCANGAN DESAIN ALAT BANTU PASIEN DE QUERVAIN'S TENOSYNOVITIS DI INDONESIA PADA INSTRUMEN ADL
De Quervain’s Tenosynovitis (DQT) adalah kondisi tendinopati pada daerah ibu jari dan pergelangan tangan yang sering muncul akibat gerakan repetitif dan postur ergonomis yang buruk, sehingga mengganggu kemampuan melakukan Instrumental Activities of Daily Living (ADL). Di Indonesia, keterbatasan akses terhadap alat bantu yang dirancang khusus untuk DQT dan solusi yang mendukung aktivitas menggenggam dalam konteks sehari-hari menjadi masalah yang perlu ditangani. Permasalahan yang dikaji dalam tugas akhir ini adalah: bagaimana merancang Splint Ergonomis dan Estetis yang secara pasif mengalihkan distribusi beban genggaman dari pangkal ibu jari tanpa membatasi fungsionalitas tangan dalam aktivitas harian pada penderita DQT? Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi prototipe alat bantu untuk pasien DQT. Pendekatan penelitian bersifat kualitatif. Tahapan penelitian meliputi: 1) mengidentifikasi kebutuhan melalui observasi lapangan klinis dan wawancara mendalam dengan dokter ortopedi, praktisi ergonomi, dan pasien DQT; 2) memeriksa kegiatan, aktivitas menggenggam, dan ergonomi pengguna dengan alat bantu; 3) mengkonseptualisasi dan mengembangkan desain dengan menggunakan kerangka pemikiran desain; 4) membuat prototipe dan mock-up; dan 5) melakukan evaluasi awal melalui uji kegunaan. Ulasan singkat terhadap praktik dan perangkat yang ada menunjukkan kecenderungan imobilisasi yang menghambat aktivitas. Oleh karena itu, desain yang diusulkan menekankan dukungan postural yang memungkinkan penyembuhan terkontrol selama pelaksanaan ADL. Hasil pengujian awal prototipe menunjukkan perbaikan subjektif pada nyeri dan fungsi menggenggam serta umpan balik positif terkait kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan potensi keterjangkauan. Kesimpulannya, prototipe alat bantu yang dikembangkan memenuhi kriteria untuk DQT dan layak untuk dilanjutkan pada uji klinis yang lebih luas dan iterasi desain untuk skala lokal.
PERANCANGAN DAN EVALUASI USABILITY SISTEM CUSTOMER SERVICE BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL AGENT (LLM AGENT) DI PT GLOBAL UNGGUL MANDIRI (PAXEL)
Industri logistik yang terus berkembang mendorong PT Global Unggul Mandiri (Paxel) untuk mengandalkan chatbot Hera sebagai garda terdepan pelayanan pelanggan. Namun, chatbot existing berbasis rule-based hanya mencapai bot deflection rate 60% per Februari 2026, di bawah target manajemen sebesar 80%, akibat completion rate yang rendah sebesar 59,05%. Gejala masalah ini disebabkan oleh keterbatasan pencocokan kata kunci, alur percakapan statis, dan ketidakterhubungan dengan knowledge base terpusat. Penelitian ini bertujuan untuk proof of concept chatbot berbasis Large Language Model agent (LLM) agent, menganalisis perbandingan usability antara chatbot berbasis LLM agent (Sistem B) dan chatbot existing berbasis rule-based (Sistem A) berdasarkan kerangka ISO 9241-11, serta merumuskan rekomendasi sistem berdasarkan analisis tersebut. Perancangan sistem usulan dilakukan dengan menggunakan metodologi Framework for the Application of System Thinking (FAST) dengan pendekatan Object Oriented Analysis (OOA) yang disajikan dengan Unified Modelling Language (UML). Sistem usulan mengintegrasikan function/tools Retrieval Augmented Generation (RAG) dan parameterized database query dalam arsitekturnya. Sistem kemudian dievaluasi usability-nya melalui controlled experiment within-subjects terhadap 40 responden untuk mengukur efektivitas dengan metrik Task Completion Rate (TCR), efisiensi dengan Time on Task (ToT), dan kepuasan pengguna dengan Bot Usability Scale (BUS-11). Hasil menunjukkan Sistem B mencapai TCR 100%, lebih cepat hingga 52,9% pada tugas informasi layanan, serta skor BUS-11 sebesar 86,02 (Very Good) dibandingkan Sistem A sebesar 78,38% (Good). Penelitian merekomendasikan Paxel mengembangkan Hera secara in-house, didukung oleh sistem usulan yang lebih baik secara usability dan analisis kelayakan finansial yang positif.
PENGEMBANGAN MODEL FORECASTING DEMAND BERBASIS MACHINE LEARNING DAN PERANCANGAN KEBIJAKAN PERSEDIAAN SPARE PART PESAWAT DENGAN PENDEKATAN INTERMITTENT DEMAND
PT X menghadapi tantangan dalam perencanaan kebutuhan spare part pesawat untuk aktivitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) karena pola permintaan yang bersifat intermittent (jarang muncul dan banyak bernilai nol). Metode forecasting existing saat ini memiliki akurasi yang rendah, sehingga berisiko menyebabkan kekurangan stok. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model forecasting yang lebih akurat menggunakan pendekatan Machine Learning (ML) dan menyusun kebijakan persediaan yang optimal dengan pendekatan intermittent demand. Metodologi diawali dengan klasifikasi pola permintaan menggunakan parameter Average Demand Interval (ADI) dan Coefficient of Variation Squared (????????2) untuk mengelompokkan spare part ke dalam kategori smooth, erratic, slow, dan lumpy, dilanjutkan analisis ABC berbasis nilai biaya multi-mata uang yang distandardisasi ke USD. Pengembangan model dilakukan melalui dua skema: forecasting menggunakan model Naïve sebagai baseline dan Two-Stage Regression (klasifikasi dan regresi), dengan feature engineering berupa lag temporal, moving average, demand density, dan fitur momentum. Analisis feature importance menunjukkan bahwa fitur lag temporal dan demand density merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan akurasi prediksi pada pola intermittent demand. Untuk menangani ketidakseimbangan kelas pada Stage 1, diterapkan teknik SMOTE (Synthetic Minority Over-sampling Technique). Algoritma yang diuji untuk Two-Stage Regression meliputi Logistic/Linear Regression, Random Forest, dan Support Vector Machine (SVM), dievaluasi menggunakan chronological train-test split (80:20) dan walk-forward rolling validation. Signifikansi perbedaan performa model Machine Learning terhadap metode baseline dan metode existing yaitu Syntetos-Boylan Approximation (SBA) dibuktikan secara statistik menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Model terbaik kemudian diintegrasikan ke dalam perhitungan kebijakan persediaan berupa Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan safety stock menggunakan pendekatan Negative Binomial Distribution (NBD). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kebijakan persediaan usulan merupakan alternatif yang paling optimal dibanding metode existing, dengan potensi penghematan Total Inventory Cost (TIC) hingga 72%.
USULAN REKAYASA PROSES BISNIS PRODUK FESYEN BERBASIS TENUN IKAT WARNA ALAM SUMBA TIMUR DI LURITANEA
Luritanea saat ini menghadapi hambatan produktivitas dalam mengekseskusi proses operasional inovasi produk berbasis tenun ikat Sumba “Tenun Eco-fashion”. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pemetaan proses operasional, tanggung jawab masing-masing proses yang belum terdefinisi, dan tidak adanya sistem pengendalian standar kualitas untuk proses operasional. Berdasarkan potensi penyelesaian masalah yang didukung dari penelitian terkait dengan dampak positif penerapan Business Process Reengineering (BPR) yang berorientasi pada standar kualitas untuk menciptakan nilai di mata pelanggan, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rancangan proses bisnis pengembangan produk Tenun Eco-fashion pada Luritanea yang didasarkan pada persyaratan dalam standar ISO 9001. Peneltian ini menggunakan tahapan implementasi BPR yang terdiri dari: persiapan reengineering, pemetaan dan analisis proses bisnis as-is, perancangan proses to-be, dan implementasi hasil reengineering melalui pemenuhan persyaratan ISO 9001:2015. Pada penelitian ini BPR dilakukan dengan dua pendekatan untuk menghasilkan dua arah perbaikan, yaitu pendekatan clean sheet dan pendekatan systematic reengineering. Pemetaan proses bisnis as-is diawali dengan identifikasi proses bisnis melalui wawancara semi terstruktur yang menghasilkan 6 kategori proses, 24 proses, dan 97 aktivitas. Setelah dilakukan evaluasi terhadap ISO 9001:2015, proses as-is hanya memenuhi 17 dari 63 (26,9%) klausul yang dipersyaratkan. Setelah dilakukan perancangan proses to-be, melalui pendekatan clean sheet dihasilkan 4 proses baru dan 4 proses yang dilakukan perancangan ulang, sedangkan melalui pendekatan systematic reengineering dihasilkan 2 proses dari pembakuan prosedur. Untuk mendukung pemenuhan persyaratan ISO 9001:2015 dihasilkan juga rancangan informasi terdokumentasi yang terdiri 10 dokumen pendukung, 4 formulir, dan 10 prosedur. Dari hasil evaluasi proses bisnis to-be dan rancangan informasi terdokumentasi terhadap ISO 9001:2015, didapatkan pemenuhan 61 dari 63 klausul proses bisnis (96,8%). Penelitian ini menghasilkan rancangan proses bisnis yang didasarkan pada pemenuhan persyaratan dalam standar ISO 9001:2015 dan didokumentasikan dalam pemodelan proses bisnis IDEF9000.
PENGEMBANGAN SISTEM BIKE FITTING BERBASIS SENSOR WEARABLE DAN APLIKASI ANALISIS POSE UNTUK EVALUASI STABILITAS PANGGUL DAN POSTUR TUBUH
Bike fitting merupakan proses penyesuaian posisi sepeda terhadap pengendara untuk meningkatkan efisiensi kayuhan, kenyamanan, serta mengurangi risiko cedera muskuloskeletal. Meskipun penting untuk pencegahan cedera, layanan bike fitting saat ini masih kurang portabel dan mengandalkan sistem laboratorium yang mahal, sehingga sulit dijangkau oleh pesepeda non-atlet. Penerapan bike fitting sejatinya sangat krusial bagi pesepeda rekreasional demi menghindari keluhan muskuloskeletal akibat kesalahan postur yang repetitif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem bike fitting hibrida yang dirancang agar lebih mudah diakses (accessible) oleh masyarakat umum melalui solusi yang objektif, portabel, dan terjangkau. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan sensor wearable berbasis Inertial Measurement Unit (IMU) BNO055 pada area sakrum untuk mengukur pelvic rocking dan pelvic tilt, serta aplikasi Android berbasis MediaPipe BlazePose untuk menganalisis postur tubuh secara markerless. Evaluasi sistem meliputi pengujian akurasi, performa, dan pengujian dinamis pada tiga subjek menggunakan mountain bike (MTB) dan road bike dengan tiga variasi tinggi sadel. Hasil validasi menunjukkan sensor IMU memiliki Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,326° pada sumbu roll dan 0,626° pada sumbu pitch. Estimasi sudut lutut MediaPipe menghasilkan MAE sebesar 4,12° (BDC) dan 5,27° (TDC). Sistem bekerja dengan sampling rate IMU 78,39 Hz, frame rate MediaPipe 17,6 fps, Bluetooth Low Energy (BLE) latensi median 8,0 ms, packet loss 0%, serta offset sinkronisasi maksimum 34,8 ms. Pengujian dinamis membuktikan sistem mampu mendeteksi perubahan biomekanika akibat variasi tinggi sadel melalui parameter knee angle, pelvic rocking, dan pelvic tilt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hibrida IMU-MediaPipe berhasil menyediakan alat evaluasi data gerak real-time yang andal dan memadai bagi pesepeda rekreasional.
PERANCANGAN DAN EVALUASI KEANDALAN ORB-SLAM3 UNTUK SISTEM PENENTUAN POSISI PADA LINGKUNGAN TANPA SINYAL GPS
Dewasa ini, perkembangan sistem penentuan posisi sangat bergantung pada keberadaan GPS. GPS menawarkan teknologi penentuan posisi yang fleksibel untuk digunakan pada berbagai bidang, mudah digunakan, responsif, mampu beroperasi secara global, dan memiliki biaya relatif murah jika dibandingkan dengan performa yang dihasilkan. Namun pada implementasinya ternyata terdapat tempat dengan kondisi tertentu mengakibatkan degradasi pada fungsi GPS. Lingkungan seperti ini disebut area GPS-denied. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh keberadaan objek penghalang seperti pepohonan, bangunan tinggi, jembatan, yang menyebabkan pelemahan sinyal GPS. Pada Tugas Akhir ini, visual Simultaneous Localization andMapping (vSLAM) digunakan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan penentuan posisi pada lingkungan GPS-denied. Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) merupakan suatu algoritma yang memungkinkan suatu device untuk membuat suatu map dari lingkungan sekitarnya sekaligus mengestimasi posisi dirinya sendiri pada peta tersebut, sementara vSLAM adalah jenis SLAM yang menggunakan sensor visual. Di antara berbagai jenis vSLAM yang ada, ORB-SLAM3 dipilih karena memiliki tingkat robustness yang tinggi jika dibandingkan dengan metode lainnya. Pada Tugas Akhir ini, digunakan repository eksisting dengan modifikasi sesuai kebutuhan sistem. Modifikasi yang dilakukan meliputi penambahan subfungsi ROS2 Node Layer Stereo dan User Interface. ROS2 Node Layer berfungsi sebagai penghubung antara ROS2 Communication System dan ORB-SLAM3. Topic ROS2 Communication System digunakan untuk mengirim data image, sementara topic ORB-SLAM3 digunakan untuk mengirim data terkait estimasi posisi, status tracking, serta informasi pendukung lainnya. Sementara subsistem user interface dikembnagkan untuk mempermudah proses pengujian sistem. Subsistem ini terdiri dari 3 komponen, yaitu server, pose sender, dan website HTML. Server merupakan pusat dari sistem komunikasi ini, fungsinya adalah mengatur alur sistem komunikasi dan sebagai perantara antara pose sender dan file HTML. Pose sender digunakan untuk mengambil data yang dihasilkan oleh ORB-SLAM3 dan mengirimkannya ke server untuk didistribusikan kembali nantinya. Terakhir, website HTML digunakan sebagai antarmuka pengguna untuk mempermudah user dalam memantau hasil estimasi posisi oleh ORB-SLAM3. Data yang ditampilkan pada user interface terdiri atas koordinat, orientasi, trajektori, status tracking, status deteksi loop closure, dan timestamp. Selain itu, website juga menyediakan fitur untuk untuk mengunduh seluruh data yang diterima dalam format CSV. Tujuan utama dari Tugas Akhir ini adalah mengembangkan suatu sistem positioning yang mampu beroperasi secara akurat dan presisi dalam waktu singkat meski digunakan dalam lingkungan GPS-denied. Ketercapaian tujuan ini diuji melalui 7 spesifikasi terkait akurasi, presisi, waktu komputasi, durasi penggunaan, massa device, ketahanan panas, dan ketahanan debu. Di antara seluruh spesifikasi tersebut, hanya satu spesifikasi yang tidak terpenuhi, yaitu ketahanan debu. Sebagian besar dari spesifikasi yang diinginkan memang berhasil tercapai, namun sebagian besar ketercapaian ini memiliki syarat tertentu yang harus dipenuhi. Seperti contohnya, spesifikasi akurasi hanya dapat memenuhi spesifikasi pada jarak pengujian di bawah 10 m, pengujian presisi drone baru dilakukan ketika drone mendarat, dan massa device yang belum memperhitungkan massa sistem user. Hasil pengujian menujukkan bahwa sistem mampu menghasilkan estimasi posisi dengan tingkat akurasi di bawah 10 cm pada jarak pengukuran di bawah 10 m, memiliki tingkat presisi di atas 80%, dan waktu komputasi yang diperlukan untuk menghasilkan estimasi posisi ini bernilai di bawah 100 ms. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Tugas Akhir sudah memecahkan masalah karena berhasil mengembangkan sistem yang dapat melakukan estimasi posisi secara akurat dan presisi pada area GPS-denied dengan waktu komputasi yang singkat..Meski begitu tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat banyak aspek yang perlu dikembangkan lebih lanjut agar sistem dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan user secara nyata.
PERANCANGAN DAN EVALUASI KEANDALAN ORB-SLAM3 UNTUK SISTEM PENENTUAN POSISI PADA LINGKUNGAN TANPA SINYAL GPS
Dewasa ini, perkembangan sistem penentuan posisi sangat bergantung pada keberadaan GPS. GPS menawarkan teknologi penentuan posisi yang fleksibel untuk digunakan pada berbagai bidang, mudah digunakan, responsif, mampu beroperasi secara global, dan memiliki biaya relatif murah jika dibandingkan dengan performa yang dihasilkan. Namun pada implementasinya ternyata terdapat tempat dengan kondisi tertentu mengakibatkan degradasi pada fungsi GPS. Lingkungan seperti ini disebut area GPS-denied. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh keberadaan objek penghalang seperti pepohonan, bangunan tinggi, jembatan, yang menyebabkan pelemahan sinyal GPS. Pada Tugas Akhir ini, visual Simultaneous Localization andMapping (vSLAM) digunakan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan penentuan posisi pada lingkungan GPS-denied. Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) merupakan suatu algoritma yang memungkinkan suatu device untuk membuat suatu map dari lingkungan sekitarnya sekaligus mengestimasi posisi dirinya sendiri pada peta tersebut, sementara vSLAM adalah jenis SLAM yang menggunakan sensor visual. Di antara berbagai jenis vSLAM yang ada, ORB-SLAM3 dipilih karena memiliki tingkat robustness yang tinggi jika dibandingkan dengan metode lainnya. Pada Tugas Akhir ini, digunakan repository eksisting dengan modifikasi sesuai kebutuhan sistem. Modifikasi yang dilakukan meliputi penambahan subfungsi ROS2 Node Layer Stereo dan User Interface. ROS2 Node Layer berfungsi sebagai penghubung antara ROS2 Communication System dan ORB-SLAM3. Topic ROS2 Communication System digunakan untuk mengirim data image, sementara topic ORB-SLAM3 digunakan untuk mengirim data terkait estimasi posisi, status tracking, serta informasi pendukung lainnya. Sementara subsistem user interface dikembnagkan untuk mempermudah proses pengujian sistem. Subsistem ini terdiri dari 3 komponen, yaitu server, pose sender, dan website HTML. Server merupakan pusat dari sistem komunikasi ini, fungsinya adalah mengatur alur sistem komunikasi dan sebagai perantara antara pose sender dan file HTML. Pose sender digunakan untuk mengambil data yang dihasilkan oleh ORB-SLAM3 dan mengirimkannya ke server untuk didistribusikan kembali nantinya. Terakhir, website HTML digunakan sebagai antarmuka pengguna untuk mempermudah user dalam memantau hasil estimasi posisi oleh ORB-SLAM3. Data yang ditampilkan pada user interface terdiri atas koordinat, orientasi, trajektori, status tracking, status deteksi loop closure, dan timestamp. Selain itu, website juga menyediakan fitur untuk untuk mengunduh seluruh data yang diterima dalam format CSV. Tujuan utama dari Tugas Akhir ini adalah mengembangkan suatu sistem positioning yang mampu beroperasi secara akurat dan presisi dalam waktu singkat meski digunakan dalam lingkungan GPS-denied. Ketercapaian tujuan ini diuji melalui 7 spesifikasi terkait akurasi, presisi, waktu komputasi, durasi penggunaan, massa device, ketahanan panas, dan ketahanan debu. Di antara seluruh spesifikasi tersebut, hanya satu spesifikasi yang tidak terpenuhi, yaitu ketahanan debu. Sebagian besar dari spesifikasi yang diinginkan memang berhasil tercapai, namun sebagian besar ketercapaian ini memiliki syarat tertentu yang harus dipenuhi. Seperti contohnya, spesifikasi akurasi hanya dapat memenuhi spesifikasi pada jarak pengujian di bawah 10 m, pengujian presisi drone baru dilakukan ketika drone mendarat, dan massa device yang belum memperhitungkan massa sistem user. Hasil pengujian menujukkan bahwa sistem mampu menghasilkan estimasi posisi dengan tingkat akurasi di bawah 10 cm pada jarak pengukuran di bawah 10 m, memiliki tingkat presisi di atas 80%, dan waktu komputasi yang diperlukan untuk menghasilkan estimasi posisi ini bernilai di bawah 100 ms. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Tugas Akhir sudah memecahkan masalah karena berhasil mengembangkan sistem yang dapat melakukan estimasi posisi secara akurat dan presisi pada area GPS-denied dengan waktu komputasi yang singkat..Meski begitu tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat banyak aspek yang perlu dikembangkan lebih lanjut agar sistem dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan user secara nyata.
EVALUASI POTENSI PLASTIK SEBAGAI PEREKAT PEMBRIKETAN REFUSE DERIVED FUEL (RDF) DARI SAMPAH ANORGANIK
Produksi briket di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) saat ini masih bergantung pada penambahan bahan perekat kanji (tepung tapioka) karena mesin ekstrusi ulir eksisting belum mampu menghasilkan briket utuh tanpa perekat, sehingga menambah biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter tekanan, temperatur, dan perekat optimal pembriketan RDF pada dua jalur perekat, yaitu menggunakan kanji dan menggunakan plastik di dalam sampah anorganik, setelah sebelumnya mengevaluasi parameter proses pembriketan pada mesin ekstrusi ulir. Penelitian meliputi karakterisasi bahan baku, pemodelan pembriketan mesin ekstrusi ulir, pembriketan pada mesin ekstrusi ulir, dan eksperimen terkontrol menggunakan mesin press hidrolik dengan variasi kandungan kanji, tekanan (15 – 30 MPa), dan temperatur (110 – 170 °C) pada bahan baku sampah anorganik berkadar air 15%. Pengujian durabilitas dilakukan menggunakan metode uji jatuh (drop test) dari ketinggian 185 cm ke permukaan pelat baja sebanyak empat kali, untuk mengetahui kemampuan briket menerima beban benturan eksternal. Pengukuran densitas dan kadar air, serta pengamatan visual briket juga dilakukan untuk menganalisis kualitas briket yang dihasilkan. Karakterisasi fisik menunjukkan cacahan RDF memiliki kadar air 34,4% dengan dominasi plastik film LDPE sebesar 37%. Pemodelan mesin ekstrusi ulir mengestimasi tekanan operasi mesin sekitar 15 MPa, dan hasil eksperimen terkontrol menunjukkan bahwa pada temperatur pembriketan 110 °C, briket tanpa perekat hanya mencapai durabilitas 56,5 – 58%, sedangkan briket berkanji mencapai 96%. Namun demikian, pada temperatur pembriketan 150 °C dan 170 °C, briket tanpa perekat mencapai durabilitas 97 – 100%, setara dengan briket berkanji. Temuan ini membuktikan bahwa fraksi plastik dapat berfungsi sebagai perekat menggantikan kanji, sepanjang temperatur pembriketan memadai untuk mengaktifkan pelunakan plastik. Evaluasi parameter proses menyimpulkan bahwa temperatur merupakan faktor pembatas utama pembriketan tanpa perekat pada mesin eksisting.
KAJIAN ANALITIK PERILAKU LENTUR KOLOM BETON BERTULANG YANG DIPERKUAT CARBON FIBER-REINFORCED POLYMER (CFRP) LONGITUDINAL DENGAN MODIFIKASI PENGANGKURAN
Penelitian ini mengkaji perilaku lentur kolom beton bertulang (RC) yang diperkuat CFRP longitudinal, dengan fokus pada pengaruh sistem pengangkuran terhadap efektivitas perkuatan. Tiga spesimen dianalisis: kolom kontrol (C10), kolom dengan CFRP longitudinal dan pengangkuran standar ACI 440.2R-17 (C11), serta kolom dengan CFRP longitudinal, CFRP transversal, dan modifikasi pengangkuran (C12). Model analitik closed-form dikembangkan berdasarkan ACI 318 dan ACI 440.2R-17, mencakup analisis momen-kurvatur (model trilinear, dengan Menegotto-Pinto sebagai pembanding strain hardening baja) dan transformasi ke kurva gaya-perpindahan menggunakan kekakuan dua tahap dan integrasi panjang sendi plastis (???????? = 450 mm, SNI 2847:2019), dibandingkan terhadap data eksperimental pembebanan lateral monotonik (Pasaribu, 2024; Apriwelni et al., 2025). Model berhasil merepresentasikan pola umum perilaku M-? dan P-? ketiga spesimen. Selisih kapasitas lateral puncak model terhadap eksperimen adalah ?9,83% (C10), ?15,18% (C11), dan ?14,11% (C12). Pada C11, transformasi ke P-? memerlukan penyesuaian panjang efektif kolom (L = 1550 mm, dikurangi 250 mm tinggi pelat angkur) untuk merepresentasikan pergeseran titik lentur kritis akibat delaminasi selimut beton, konsisten dengan relokasi sendi plastis eksperimental ±250 mm dari dasar kolom. C12 menunjukkan modus kegagalan rupture CFRP dengan sendi plastis tetap di dasar kolom, mengindikasikan keberhasilan modifikasi pengangkuran mencegah debonding prematur. Perbandingan ini menormalisasi kapasitas lentur gabungan baja, beton, dan CFRP terhadap ACI 440.2R-17. Parameter krusial pada konfigurasi angkur standar ACI (C11) adalah panjang efektif kolom akibat zona kaku pelat angkur, bukan formula kapasitas momen nominal (Mn) itu sendiri.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN PELANGGAN PADA CHARMIGOS
Charmigos merupakan UMKM fesyen aksesori dengan kanal penjualan utama marketplace. Produk utama Charmigos adalah gelang charm yang dapat dikustomisasi, modular, dan collectible. Meskipun karakteristik produk tersebut memiliki potensi untuk mendorong pembelian kembali, data transaksi menunjukkan bahwa tingkat pembelian ulang dan frekuensi pembelian pelanggan masih rendah. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan data transaksi sebagai dasar segmentasi pelanggan dan perumusan strategi yang sesuai dengan karakteristik setiap segmen. Metode yang digunakan adalah analisis RFM dan klasterisasi. Pelanggan dengan nilai monetary tinggi dipisahkan terlebih dahulu sebagai segmen B2B berdasarkan pendekatan outlier dan batasan bisnis, sedangkan pelanggan B2C dikelompokkan menggunakan klasterisasi K-Means. Hasil pengolahan mengidentifikasi segmen B2B serta dua klaster pelanggan B2C, yaitu Loyal Customer dan At Risk. Hasil segmentasi digunakan sebagai dasar penyusunan strategi, yaitu reaktivasi pelanggan At Risk, retensi pelanggan Loyal Customer, dan strategi B2B berbasis bauran pemasaran. Penelitian ini juga merancang sistem untuk pendukung keputusan pengelolaan pelanggan berbasis Streamlit untuk mendukung pengolahan data, segmentasi, rekomendasi strategi, dan evaluasi implementasi. Efektivitas strategi dievaluasi melalui perubahan tingkat pembelian ulang, profitabilitas penggunaan voucer diskon pada segmen B2C, serta marketing funnel pada strategi B2B. Implementasi strategi menunjukkan bahwa B2C mampu mendorong transaksi ulang dan menghasilkan profit positif, sedangkan B2B mampu meningkatkan jumlah pelanggan dan membentuk alur konversi. Setelah implementasi, tingkat pembelian ulang meningkat dari 18,01% menjadi 19,68%.
REKAYASA PERMUKAAN TI6AL4V DENGAN PELAPISAN SERISIN DAN OKSIDA GRAFENA UNTUK MENINGKATKAN BIOAKTIVITAS DAN SIFAT ANTIBAKTERI MATERIAL IMPLAN TULANG
Fraktur tulang merupakan salah satu permasalahan besar dalam kesehatan global dengan sekitar 178 juta kasus baru per tahun. Ti6Al4V merupakan salah satu material implan tulang yang paling banyak digunakan, namun masih memiliki dua tantangan utama, yaitu keterbatasan bioaktivitas akibat sifat bioinertnya dan kerentanan terhadap infeksi terkait implan. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi permukaan Ti6Al4V dengan pelapisan serisin dan oksida grafena (GO) menggunakan coupling agent 3-aminopropyltriethoxysilane (APTES) dan glutaraldehida (GTA) untuk meningkatkan bioaktivitas dan sifat antibakteri implan. Pelapisan dilakukan dengan dua metode, yaitu layer-by-layer dan campuran. Karakterisasi FTIR mengonfirmasi keberhasilan isolasi serisin melalui kemunculan puncak Amida I, Amida II, dan Amida III. Pengukuran sudut kontak air menunjukkan perubahan bertahap dari Ti (~95°) menjadi Ti-OH (~7°), Ti-APTES (~12°), Ti-GTA (~45°), hingga Ti- SS (~48°). Evaluasi antibakteri menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538 menunjukkan hanya pelapisan serisin (Ti-SS) yang meningkatkan reduksi bakteri, yaitu sebesar 44,38% relatif terhadap Ti6Al4V tanpa pelapisan. Evaluasi bioaktivitas melalui perendaman dalam larutan SBF selama 14 hari menunjukkan bahwa Ti-SS menginduksi pembentukan hidroksiapatit dengan rasio Ca/P sebesar 1,67, sementara Ti-SS-GO/M dan Ti-SS-GO/L menghasilkan rasio yang lebih rendah, masing-masing 1,60 dan 1,54. Seluruh sampel menunjukkan viabilitas sel fibroblas 3T3 di atas 90% pada 24 jam dan tetap mempertahankan viabilitas yang tinggi hingga 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapisan serisin pada Ti6Al4V memberikan kombinasi bioaktivitas dan aktivitas antibakteri terbaik, sementara penambahan GO justru menurunkan kedua performa tersebut.
OPTIMASI EFISIENSI DETEKSI OBJEK 3D MULTI-MODAL BERBASIS BEVFUSION MENGGUNAKAN MULTI-LEVELDISTILASI PENGETAHUAN
Deteksi objek tiga dimensi (3D) multi-modal merupakan komponen penting pada sistem persepsi kendaraan otonom karena bertugas mengklasifikasikan objek dan mengestimasi kotak pembatas 3D yang memuat posisi, dimensi, orientasi, serta skor keyakinan dari kombinasi data kamera dan Light Detection and Ranging (LiDAR). Pendekatan fusi berbasis Bird’s Eye View (BEV), seperti BEVFusion, mampu menyatukan informasi semantik kamera dan struktur geometris LiDAR dalam representasi tampak atas yang konsisten. Namun, model semacam ini umumnya memiliki kebutuhan komputasi, memori, dan latensi inferensi yang tinggi. Kondisi tersebut membatasi penerapannya pada perangkat dengan sumber daya terbatas, misalnya platform edge computing atau sistem komputasi onboard kendaraan otonom. Penelitian ini berangkat dari masalah tersebut dengan mengkaji apakah arsitektur BEVFusion dapat dikompresi melalui model student yang lebih ringan, lalu dipulihkan performanya melalui distilasi pengetahuan bertingkat tanpa menambah beban pada fase inferensi. Metode yang diusulkan menggunakan kerangka teacher–student. Model teacher didefinisikan sebagai BEVFusion standar hasil reproduksi internal, sedangkan dua model student, yaitu Student S dan Student Extra Small (XS), dirancang melalui pengurangan kapasitas backbone kamera, cabang LiDAR, modul fusi, dan backbone BEV. Distilasi pengetahuan diterapkan pada lima komponen: fitur kamera, fitur LiDAR, representasi BEV hasil fusi, relasi pada detection head, dan logit keluaran akhir. Komponen fitur dan relasi menggunakan adaptasi Interchange Transfer-based Knowledge Distillation (itKD), sedangkan distilasi logit menyelaraskan distribusi probabilitas kelas yang dilunakkan. Selain pembobotan statis, penelitian ini mengevaluasi Dynamic Weight Averaging (DWA) untuk menyesuaikan kontribusi setiap loss berdasarkan dinamika konvergensi. Evaluasi dilakukan pada dataset nuScenes dengan metrik akurasi Mean Average Precision (mAP) dan nuScenes Detection Score (NDS), serta metrik efisiensi berupa jumlah parameter, ukuran model, alokasi memori Graphics Processing Unit (GPU), latensi, dan Frames Per Second (FPS). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kompresi langsung tanpa distilasi menurunkan akurasi secara jelas, terutama pada Student XS. Distilasi fitur pada cabang kamera dan LiDAR memberikan kontribusi pemulihan terbesar. Student S dengan konfigurasi distilasi statis terbaik mencapai mAP 67,16% dan NDS 69,80%, sangat dekat dengan teacher reproduksi yang mencapai mAP 67,36% dan NDS 70,76%. Model ini sekaligus menurunkan parameter dari 40,80 juta menjadi 5,95 juta, sehingga menghasilkan reduksi 6,9× dengan alokasi memori GPU yang lebih rendah. Pada NVIDIA RTX 3090 dengan TensorRT FP16, throughput meningkat dari 55,24 FPS pada teacher menjadi 83,70 FPS pada Student S. Student XS mencapai ukuran yang lebih ringkas, yaitu 3,86 juta parameter, 14,85 MB, dan alokasi memori GPU 731 MB, dengan throughput 97,25 FPS pada RTX 3090 TensorRT FP16. Validasi pada NVIDIA Drive Orin menunjukkan peningkatan throughput dari 13,32 FPS pada teacher menjadi 36,43 FPS pada Student S dan 48,41 FPS pada Student XS. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa manfaat DWA bersifat kondisional. Pada Student S, pembobotan statis lebih stabil dan menghasilkan akurasi terbaik. Pada Student XS, DWA meningkatkan mAP secara marginal terhadap konfigurasi S3, tetapi konfigurasi S2 tetap menjadi pilihan terbaik berdasarkan NDS. Selain itu, evaluasi per kelas memperlihatkan bahwa Student XS mengalami degradasi besar pada kendaraan berukuran besar seperti truck dan bus. Dengan demikian, Student S lebih sesuai sebagai kompromi antara efisiensi dan akurasi, sedangkan Student XS lebih tepat untuk skenario dengan batas komputasi ketat dan toleransi terhadap penurunan akurasi. Seluruh hasil perlu dibaca dalam konteks evaluasi single-run, sehingga klaim peningkatan marginal masih memerlukan validasi statistik melalui pelatihan berulang.
ANALISIS TEGANGAN MEKANIK DAN OPTIMASI DESAIN RANGKA KURSI RODA ELEKTRIK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
Kursi roda elektrik merupakan alat bantu mobilitas yang penting bagi penyandang disabilitas, namun penambahan komponen elektronik seperti baterai, motor, dan kontroler meningkatkan beban yang harus ditanggung oleh rangka. Desain rangka kursi roda elektrik yang menjadi objek penelitian ini belum dievaluasi keselamatan strukturalnya secara formal. Penelitian ini bertujuan menganalisis tegangan mekanik pada rangka, menentukan faktor keamanannya, dan merancang desain baru yang lebih ringan namun tetap memenuhi persyaratan keselamatan sesuai standar ISO 7176-8:2014. Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan geometri tiga dimensi rangka menggunakan SOLIDWORKS, kemudian dianalisis menggunakan Metode Elemen Hingga (MEH) pada perangkat lunak ANSYS Workbench dengan elemen solid tetrahedron orde kedua (SOLID187). Kondisi tumpuan jepit diterapkan pada titik kontak roda, dengan pembebanan statis sebesar 1.177,2 N pada area tempat duduk sesuai ISO 7176-8:2014 dan kapasitas beban nominal 50 kg. Studi konvergensi mesh dilakukan untuk memastikan keandalan hasil, dan optimasi desain dilakukan secara parametrik dengan mengurangi ketebalan dinding pada komponen yang mengalami tegangan jauh di bawah batas izin. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain awal rangka menghasilkan tegangan von Mises maksimum sebesar 86 MPa dengan faktor keamanan global sebesar 2,91, yang telah memenuhi persyaratan SF ? 2,0. Evaluasi faktor keamanan lokal mengungkapkan adanya komponen dengan SF mencapai 1.136,36, menunjukkan inefisiensi penggunaan material yang besar. Melalui optimasi ketebalan dinding, diperoleh desain optimal dengan massa rangka berkurang 36,94% (dari 850,59 gram menjadi 536,37 gram); meskipun faktor keamanan global menurun menjadi 0,58, faktor keamanan lokal tiap komponen masih jauh di atas batas minimum yang disyaratkan, sehingga desain optimal dinyatakan layak digunakan.
PERANCANGAN SISTEM PRODUCTION ACTIVITY CONTROL (PAC) BERBASIS DIGITAL MODEL PADA PROSES INTEGRASI FUSELAGE CN-235 DI PT DIRGANTARA INDONESIA
x ABSTRAK PERANCANGAN SISTEM PRODUCTION ACTIVITY CONTROL (PAC) BERBASIS DIGITAL MODEL PADA PROSES INTEGRASI FUSELAGE CN-235 DI PT DIRGANTARA INDONESIA Tegar Iman Syahputra (13422115), Ester Naomi Sinaga (13422143), Ilouvi Syafna Latif (13422146) PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memproduksi pesawat CN-235 melalui proses integrasi fuselage yang melibatkan banyak aktivitas kompleks seperti perakitan, inspeksi, serta penanganan defect dan rework. Proses ini mengalami deviasi jadwal yang signifikan, ditandai dengan keterlambatan mulainya task sebesar 183 hari dan keterlambatan penyelesaian hingga 97 hari dari target yang ditetapkan. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya granularitas pencatatan aktivitas produksi yang hanya dilakukan pada level operasi tanpa merekam kejadian pada level job ticket, serta pengambilan keputusan pengendalian produksi yang bersifat reaktif akibat rendahnya visibilitas kondisi aktual shop floor dan penanganan defect yang tidak terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem Production Activity Control (PAC) berbasis digital model untuk menjawab permasalahan operasional yang ada pada proses integrasi fuselage CN-235. Sistem dikembangkan menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD), yang mencakup identifikasi kebutuhan pengguna, perancangan proses bisnis usulan, pengembangan modul, serta verifikasi, validasi, dan user testing. PAC yang dirancang terdiri atas empat modul, yaitu Shop Floor Data Collection (SFDC), Digital Reporting System, dashboard berbasis digital model, dan simulasi berbasis Discrete Event Simulation (DES). SFDC mencatat aktivitas produksi pada level job ticket, sedangkan Digital Reporting System mengelola findings, NCR, dan tindak lanjut defect. Dashboard menyediakan visibilitas produksi melalui enam KPI utama, yaitu schedule adherence, utilization efficiency, quality ratio, reject ratio, rework ratio, dan worker efficiency, serta visualisasi spasial status pekerjaan dan NCR pada representasi digital pesawat CN-235. Modul simulasi digunakan untuk mengevaluasi skenario produksi dan mendukung keputusan perencanaan. Hasil verifikasi dan validasi menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan fungsional serta kebutuhan nonfungsional yang termasuk dalam ruang lingkup penelitian telah terpenuhi. Secara finansial, proyek ini layak diimplementasikan dengan nilai NPV sebesar Rp62.493.452, IRR sebesar 17,4%, dan payback period selama 3,27 tahun. Sistem PAC yang dirancang diharapkan dapat meningkatkan visibilitas proses produksi, mempercepat penanganan defect, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih responsif dan berbasis data pada lingkungan manufaktur kedirgantaraan dengan kompleksitas tinggi.
RANCANG BANGUN ALAT UJI ANALISIS KOEFISIEN KINERJA (COEFFICIENT OF PERFORMANCE) DARI THERMOELECTRIC COOLER DAN EFISIENSI KONVERSI TERMAL DARI THERMOELECTRIC GENERATOR
Modul termoelektrik adalah perangkat padat yang dapat berfungsi sebagai pendingin melalui efek Peltier atau pembangkit daya melalui efek Seebeck. Penelitian ini dilakukan karena adanya permasalahan terkait ketidaksesuaian performa pada modul termoelektrik yang terpasang pada alat pendingin (Larasati, 2016). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun instalasi alat uji performa guna menganalisis nilai koefisien performa (COP) pendingin termoelektrik dan efisiensi konversi pembangkit termoelektrik secara akurat antara nilai aktual dengan nilai teoretisnya. Alat uji yang dibangun dirancang untuk menguji modul berdimensi 40x40 mm dengan mengintegrasikan komponen blok air penukar panas ganda dengan fluida kerja air, blok perantara aluminium, dan sistem akuisisi data berbasis mikrokontroler dengan sensor temperatur, voltase, serta arus listrik. Pengujian pendingin dilakukan dengan memvariasikan tegangan masukan dan laju aliran massa air. Evaluasi keandalan instalasi dilakukan melalui analisis komparatif antara nilai COP aktual dari perhitungan neraca energi fluida terhadap nilai COP teoretis berdasarkan pemodelan Ferrotec. Hasil pengujian pendingin menghasilkan rentang perbedaan temperatur sebesar 2,88°C hingga 11,90°C, dengan deviasi antara COP aktual dan COP teoretis Ferrotec berkisar antara 99,75% hingga 100,00%. Tingginya deviasi ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian instrumen pengukur temperatur untuk membaca perbedaan temperatur fluida yang sangat kecil, besarnya rugi-rugi panas secara lateral pada komponen blok perantara yang kurang terisolasi, serta tingginya hambatan kontak termal. Sementara itu, pengujian efisiensi pembangkit termoelektrik tidak dapat diselesaikan akibat penggunaan resistor tetap yang tidak mampu mengakomodasi fluktuasi hambatan dalam modul. Untuk pengembangan alat uji selanjutnya, sangat disarankan adanya peningkatan kualitas dan ketelitian alat ukur temperatur, penambahan isolasi termal, serta penggunaan beban elektronik dinamis untuk pengujian pembangkit termoelektrik.