π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 90 dokumenANALISIS STRATEGI PENCAPAIAN CARBON NEUTRALITY BERDASARKAN INVENTARISASI EMISI GAS RUMAH KACA DI PT X TAHUN 2023
Pemanasan global yang dialami bumi saat ini merupakan kondisi perubahan iklim yang memprihatinkan, sehingga IPCC berupaya menahan peningkatan suhu di bawah 1,5ΒΊC. PT X sebagai industri produksi krimer memiliki aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, sehingga perlu dilakukan inventarisasi emisi dan perancangan strategi pencapaian carbon neutrality. Inventarisasi emisi gas rumah kaca akan menggunakan pedoman GHG Protocol dan IPCC 2006, sementara perancangan strategi carbon neutrality akan mengikuti pedoman dari The Carbon Neutral Protocol. Sumber emisi PT X berasal dari pembakaran stasioner (14.660,93 tCO?e), pembakaran batu bara (18.153 tCO?e), pembakaran sumber bergerak (62,34 tCO?e), dan penggunaan listrik (1.565,05 tCO?e), dengan total 34.441,626 tCO?e. Untuk mencapai carbon neutrality, pendekatan yang akan digunakan meliputi peningkatan kandungan biodiesel, penerapan co-firing dengan cangkang sawit, pemasangan panel surya atap, transisi pemasokan sumber listrik melalui PLTB dan PLTS, penerapan teknologi CCS, dan penyerapan karbon dengan biochar. Tiga skenario pencapaian carbon neutrality dirancang sesuai tingkat komitmen finansial perusahaan. Skenario minimum mencapai carbon neutrality sebesar 11,02%, sedangkan skenario moderat mencapai 26,59%, dan skenario maksimum mencapai target 100%.
ANALISIS EMISI GAS RUMAH KACA DENGAN METODE LIFE CYCLE ASSESSMENT DI PT PLN NUSANTARA POWER UP INDRAMAYU
Kesadaran global akan perubahan iklim mendorong berbagai pelaku industri untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari kegiatan operasional mereka, khususnya untuk emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. PT PLN Nusantara Power UP Indramayu yang merupakan bagian dari sektor industri energi juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan dampak lingkungan yang signifikan. Makalah ini menganalisis emisi gas rumah kaca di PT PLN Nusantara Power UP Indramayu menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan unit fungsional 1 kWh dan ruang lingkup gate to gate aktivitas pembangkitan listrik mulai dari unit proses kondensor hingga generator-trafo. Hotspot dari aktivitas pembangkitan listrik ditemukan pada unit proses boiler yang menyumbang 99,98% dampak global warming potential (GWP) dari nilai GWP keseluruhan 0,001020865 ton CO2 eq/kWh. Begitu pula dengan dampak photochemical ozone creation potential (POCP) dimana boiler menyumbang 99,99% dari keseluruhan nilai POCP sebesar 0,000703089752 gr C?H? eq/kWh. Ditemukan juga tren kenaikan emisi gas rumah kaca dari PLTU Indramayu dengan persentase kenaikan emisi dari tahun 2021 ke 2022 adalah sebesar 4,89% dan dari tahun 2022 ke 2023 adalah sebesar 5,31%. Rekomendasi solusi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca diantaranya adalah optimalisasi teknologi co-firing, penggunaan teknologi carbon capture, dan penggunaan Ultra Super Critical (USC) Boiler.
POTENSI DAN UPAYA IDXCARBON DI INDONESIA MEMELOPORI PERDAGANGAN KARBON SEBAGAI MEKANISME REGULASI EKONOMI UNTUK MENCAPAI NET-ZERO EMISSION SESUAI KOMITMEN INTERNASIONAL
Disertasi ini berfokus pada peran IDXCarbon dalam kebijakan iklim Indonesia dalam kaitannya dengan tujuan global mengurangi emisi gas rumah kaca, serta kompleksitas perdagangan karbon baik secara internasional maupun domestik. IDXCarbon yang dimulai pada 26 September 2023 menyoroti upaya terpenting Indonesia dalam memerangi perubahan iklim sesuai dengan protokol internasional seperti Konferensi PBB di Rio de Janeiro tentang SDGs, UNFCCC, Protokol Kyoto, dan Perjanjian Paris. Program ini menekankan peran Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim, memanfaatkan perdagangan karbon untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Pasar Karbon, yang dikembangkan bekerja sama dengan ACX (Air Carbon Exchange), menggunakan teknologi rantai blok canggih untuk memastikan transparansi dan efektivitas, sehingga menghasilkan kekuatan yang kuat. dan pasar karbon yang adil. Sistem ini tidak hanya mematuhi persyaratan peraturan dan teknologi khusus Indonesia, namun juga berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon negara ini. Studi ini menyelidiki kerangka operasional IDXCarbon, mekanisme perdagangan, dan kepatuhan untuk menilai efisiensi dan tantangannya, dengan tujuan menjadikannya model internasional untuk skema perdagangan karbon. Hal ini konsisten dengan komitmen iklim negara-negara besar yang dimulai pada tahun 2019 dan peningkatan aktivitas Indonesia setelah tahun 2021, sebagaimana tersirat dalam Keputusan Presiden Joko Widodo No. 98 tentang βNilai Ekonomi Karbonβ. Studi ini mendapat dukungan luas dari kementerian dan lembaga pemerintah di Indonesia, yang mengindikasikan adanya gerakan nasional untuk memasukkan permasalahan iklim ke dalam agenda pembangunannya, sehingga memungkinkan pertumbuhan ekonomi dan ekologi dalam jangka panjang.
PEMODELAN DISPERSI POLUTAN DI UDARA PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP DENGAN BAHAN BAKAR BATUBARA
Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan listrik di dunia adalah melalui penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan bahan bakar batubara (PLTU batubara). Namun, PLTU batubara menghadapi tantangan berupa emisi yang dilepaskan udara dengan berbagai parameter pencemaran udara yang terkandung di dalamnya, seperti Sulfur Dioksida, Nitrogen Dioksida, Total Partikulat Tersuspensi, dan Merkuri. Untuk mempelajari pola dispersi pencemaran udara yang bersumber dari PLTU batubara, digunakan program pemodelan AERMOD View untuk memodelkan prediksi persebaran pencemaran udara dengan keluaran berupa prediksi peningkatan konsentrasi maksimum pada domain wilayah studi yang sudah ditetapkan. PLTU batubara yang diteliti berlokasi di Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil pemodelan, didapatkan sumber emisi dari objek penelitian dapat menyebabkan pelampauan baku mutu udara ambien untuk parameter SO2, NO2, dan TSP pada kondisi ekstremnya. Apabila dianalisis menggunakan baku mutu udara ambien National Ambient Air Quality Standard (NAAQS), seluruh parameter telah memenuhi kepatuhannya.
ANALISIS INVESTASI PENGEMBANGAN FASILITAS PENYIMPANAN LNG DI INDONESIA
Industri gas mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh peningkatan permintaan akan sumber energi yang menawarkan pembakaran yang lebih bersih dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya. LNG berada di puncak industri gas karena fleksibilitas dan kemampuan pengangkutan, menjadikannya opsi yang menarik bagi negara-negara yang ingin memenuhi kebutuhan gas mereka. Permintaan LNG yang terus meningkat untuk penggunaan global dan domestik mendorong kebutuhan pengembangan Infrastruktur LNG di Indonesia, terutama fasilitas penyimpanan LNG. Indonesia, yang memiliki keunggulan geografis dengan lokasi strategisnya di sepanjang jalur pelayaran utama, memberikan keuntungan alami untuk menjadi pemain utama dalam pasar LNG global. Fasilitas penyimpanan LNG meningkatkan keamanan energi dengan memastikan pasokan gas alam yang andal dan mengurangi risiko terkait dengan fluktuasi tingkat produksi dan ketergantungan impor. Namun, keputusan investasi terkait fasilitas penyimpanan LNG baru dihadapkan pada ketidakpastian dan tantangan. Tantangan-tantangan ini meliputi pasar energi yang tidak stabil, harga LNG yang fluktuatif, risiko geopolitik, peraturan lingkungan yang berkembang, dan perubahan teknologi. Ada beberapa tantangan keuangan untuk mengevaluasi proyek konstruksi Fasilitas Penyimpanan LNG, seperti pengeluaran modal awal yang signifikan, ketidakpastian parameter input, dan proyeksi pendapatan jangka panjang yang membuat perlunya evaluasi dan justifikasi yang cermat untuk memastikan keuntungan dan keberlanjutan jangka panjang. Studi ini mengevaluasi kelayakan pengembangan fasilitas penyimpanan LNG di Indonesia. Secara komersial, investasi ini layak karena permintaan LNG yang terus meningkat dan keunggulan strategis Indonesia. Biaya penyimpanan yang diperlukan agar layak secara ekonomi adalah US$ 15,03/mΒ³/bulan. Fasilitas penyimpanan LNG dengan kapasitas 180.000 mΒ³ layak dilanjutkan, menunjukkan NPV sebesar $33.706.123,46, IRR sebesar 10,96%, periode pengembalian 14,61 tahun, dan Indeks Profitabilitas 1,26. Peningkatan kapasitas menjadi 200.000 mΒ³ meningkatkan kelayakan dengan NPV sebesar $44.299.887,60, IRR sebesar 11,61%, periode pengembalian 13,67 tahun, dan Indeks Profitabilitas 1,32. Mengintegrasikan dengan infrastruktur yang telah ada lebih meningkatkan kelayakan, menghasilkan NPV sebesar $77.722.965,99, IRR sebesar 14,10%, periode pengembalian 11,04 tahun, dan Indeks Profitabilitas 1,56.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN JRAGUNG PAKET III, KABUPATEN SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH
Pada saat ini, Indonesia memperoleh energi listrik dari berbagai sumber, baik dari bahan bakar fosil maupun bahan bakar terbarukan. Hingga tahun 2025, Indonesia mengusahakan elektrifikasi hingga 100% dengan mengupayakan energi baru terbarukan (EBT) yang salah satunya adalah tenaga hydropower. Salah satu upaya elektrifikasi itu adalah dengan membuat PLTA Jragung yang terletak pada Bendungan Jragung, Kec. Pringapus, Kab. Semarang, Prov. Jawa Tengah. PLTA ini merupakan PLTA tipe storage yang beroperasi dengan debit yang digunakan untuk irigasi, air baku, dan pemeliharaan sungai. Dengan demikian, debit yang digunakan adalah dari pola operasi debit andalan 50% dan 80%, dengan debit maksimum pada debit andalan 4.25 m3/s pada debit andalan 50%. Dengan persebaran debit pada pola operasi Q50 dan Q80, PLTA Jragung memiliki kapasitas hingga 1654 kW dan dapat menghasilkan 2.68 GWh listrik per tahunnya. Perkiraan biaya pembangunannya adalah sebesar Rp12,568,168,438.40 dengan penjualan listrik per tahunnya sebesar Rp3,064,926,409.94 dengan NPV senilai Rp Rp6,849,511,445.45, IRR 13.96%, BCR 1.55, dan payback period 12.75 tahun.
TANTANGAN OPERASIONAL DAN SOLUSI STRATEGIS UNTUK DISTRIBUSI LISTRIK DI PULAU MENDOL
Meningkatnya permintaan energi dan kebutuhan akan pasokan listrik yang andal di Pulau Mendol dimana terjadi inefisiensi operasional dan finansial yang signifikan di Pembangkit Listrik Diesel Teluk Dalam. Inefisiensi ini tampak pada ketidakmampuan pembangkit untuk memenuhi permintaan beban puncak listrik secara andal, biaya operasional yang tinggi akibat konsumsi bahan bakar yang berlebihan, dan jam operasional yang terbatas, yang semuanya berdampak negatif pada kepuasan dan kepercayaan pelanggan. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk analisis menyeluruh terhadap tantangan-tantangan ini guna merumuskan inisiatif strategis yang bertujuan meningkatkan kapasitas operasional, keandalan, dan keberlanjutan finansial pembangkit. Penelitian ini membahas isu kritis peningkatan distribusi listrik di Pulau Mendol dengan mengevaluasi tantangan operasional di Pembangkit Listrik Diesel Teluk Dalam. Perumusan masalah melibatkan investigasi mendalam terhadap keterbatasan kapasitas pembangkit, inefisiensi bahan bakar, dan kendala operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengusulkan solusi strategis yang tidak hanya mengatasi inefisiensi ini tetapi juga memastikan keberlanjutan dan keandalan pasokan listrik jangka panjang di Pulau Mendol. Penelitian ini mengadopsi pendekatan metode campuran, mengintegrasikan teknik pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara terstruktur, sesi curah pendapat, dan tinjauan dokumen yang luas. Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk secara sistematis mengevaluasi dan memprioritaskan solusi energi alternatif berdasarkan kriteria seperti kelayakan ekonomi, dampak lingkungan, dan kelayakan teknis. Kerangka metodologis ini menyediakan evaluasi yang terstruktur dan komprehensif terhadap solusi potensial untuk mengatasi tantangan operasional yang teridentifikasi. Temuan penelitian mengungkapkan adanya perbedaan signifikan antara metrik kinerja yang ditargetkan dan aktual dari Pembangkit Listrik Diesel Teluk Dalam selama periode empat tahun. Masalah yang menonjol meliputi kinerja energi yang tidak memenuhi target dan fluktuasi konsumsi bahan bakar yang cukup besar. Penerapan kriteria kapasitas N-1 dan N-2 diidentifikasi sebagai hal yang krusial untuk memastikan keandalan dan ketahanan sistem tenaga, terutama dengan integrasi sumber energi terbarukan. Penelitian ini menyoroti perlunya inisiatif strategis yang berfokus pada modernisasi infrastruktur pembangkit dan adopsi praktik energi berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kinerja finansial. Studi ini mengusulkan beberapa solusi strategis, termasuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik, Pembangkit Listrik Hibrid DieselSurya, dan pembangunan Jaringan Kabel Bawah Laut 20 kV. Alternatif-alternatif ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan fleksibilitas operasional pembangkit sambil mempromosikan keberlanjutan lingkungan. Rencana implementasi menguraikan langkah-langkah spesifik dan dapat ditindaklanjuti untuk mengintegrasikan sumber energi terbarukan dan memodernisasi sistem distribusi listrik. Strategi yang diusulkan dirancang untuk memastikan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan bagi Pulau Mendol, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan wilayah tersebut.
KAJIAN TEKNO-EKONOMI PENERAPAN SIKLUS BINER BAWAH PADA SUATU LAPANGAN PANAS BUMI
Kebutuhan energi dunia yang semakin meningkat setiap tahunnya mendorong perkembangan energi baru terbarukan seperti energi panas bumi. Indonesia memiliki 40% cadangan panas bumi dunia atau setara 28910 MW. Namun, hanya 8% atau 2284 MW Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTPB) yang terpasang di Indonesia pada tahun 2023. Teknologi biner merupakan teknologi paling banyak diterapkan pada PLTPB, dengan 203 dari 473 PLTB di seluruh dunia menggunakan teknologi sistem biner. Siklus biner definisikan sebagai gabungan dua siklus yaitu siklus fluida panas bumi dari suatu sumur produksi hingga sumur reinjeksi, dan Siklus Rankine Organik (SRO). Sistem SRO menggunakan fluida kerja organik sebagai fluida yang menyerap panas dari fluida panas bumi. Teknologi sistem biner ini belum banyak diaplikasikan di Indonesia. Teknologi SRO biasanya digunakan untuk memanfaatkan fluida panas bumi yang memiliki karkateristik nilai entalpi rendah dan juga memanfaatkan air panas (brine) yang dipisahkan dari fluida panas bumi di separator dua fase. Lapangan panas bumi yang diteliti merupakan tipe lapangan panas bumi yang didominasi air dimana ciri khasnya adalah lebih banyak kandungan air panas (brine) dibandingkan jumlah uap air (steam). Brine yang berlimpah ini berpotensi digunakan sebagai sumber panas untuk menambah generasi listrik dengan menerapakan PLTPB sistem biner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi potensi peningkatan generasi listrik dengan memanfaatkan energi dari brine pada suatu lapangan panas bumi yang selama ini direinjeksikan langsung ke dalam bumi, untuk menguapkan fluida kerja organik pada SRO. Penelitian ini berfokus pada pemilihan fluida kerja organik dan evaluasi fundamental proses konfigurasi untuk implementasi SRO pada suatu lapangan panas bumi. Fluida kerja yang dipelajari adalah n-pentana, dan i-pentana. Fluida kerja tersebut dipilih karena termasuk fluida kerja yang paling banyak digunakan di Indonesia. Perbandingan juga dilakukan dengan fluida kerja n-butana dan n-hexana sebagai alternatif. Konfigurasi yang dipelajari termasuk SRO dengan dan tanpa recuperator. Simulasi dengan ASPEN HYSYS menunjukkan model yang memiliki generasi bersih (W-plant) yang tertinggi (22,05 MW) adalah SRO nbutana dengan recuperator. Namun, perhitungan nilai IRR dan NPV menunjukkan bahwa investasi yang terbaik adalah untuk SRO n-pentana dengan recuperator (15% dan $ 16.440.118).
LEVEL 3 FITNESS FOR SERVICE ASSESSMENT OF METAL LOSS ON NATURAL GAS PIPELINE
Natural gas remains a pivotal energy source globally due to its low carbon intensity and versatility across industrial, power generation, commercial, and residential sectors. With abundant reserves and relatively low production costs, natural gas acts as a pivotal role in future energy landscapes. To meet rising domestic demand, expanding natural gas infrastructure, including pipelines, is essential. However, prolonged operation of pipelines can lead to various forms of damage such as corrosion, which compromises structural integrity and operational safety. This undergraduate project focuses on assessing a natural gas pipeline, located at certain region in Sumatera Island from the well production facility to a processing facility over a distance of about 4.7 km. The pipeline segment, particularly between KP 2785 and KP 2803, has experienced corrosion anomalies that affect its integrity. A total of 14 corrosion anomalies with varying sizes have been identified in the determined region, necessitating a thorough Fitness-For-Service (FFS) evaluation according to API 579-1/ASME FFS-1 (2021). Using API 579-1/ASME FFS-1 (2021) guideline, a comprehensive FFS Level 3 assessment for metal loss damage type was conducted. The assessment result revealed that the pipeline can still operate with derated conditions at temperature of 199.4Β°F (93?) and pressure of 500 psig for approximately seven months. Beyond this period, further operational derating or remedial actions are required to ensure the safety of continued operation. This study highlights the critical role of FFS assessments in maintaining the pipeline integrity and safety against the corrosion damage.
8PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO RAHU 2, PARLILITAN, SUMATERA UTARA
Pemerintah indonesia sedang mendorong percepatan transisi energi dari energi berbahan dasar fosil berubah menjadi energi terbarukan dengan target net zero emission pada tahun 2060. Krisis energi listrik yang belum merata di beberapa daerah juga diupayakan terselesaikan bertahap, salah satu upayanya dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) Rahu-2 yang terletak di provinsi Sumtare Utara. PLTM ini direncanakan untuk melihat potensi yang tersedia dan berdasarkan data yang tersedia dengan debit andalan yang dapat dimanfaatkan sebesar 5,43 m3/s dengan probabilitas 50%. PLTM Rahu-2 memanfaatkan debit tersebut menghasilkan daya maksimal sebesar 5,79 MW dengan energi pertahun sebesar 36,2 Gwh dengan perkiraan biaya pembangunan PLTM Rahu-2 sebesar Rp125,667,046,003 dengan penjualan listrik pertahunnya untuk 10 tahun pertama sebesar Rp 43.257.176.330 dan 10 tahun selanjutnya Rp 23.284.040.988 didapatkan nilai NPV sebesar Rp 143,335,635,146, IRR 21,15% dan BCR 2,13.
PENGARUH PENSIUN DINI PLTU BATUBARA TERHADAP EMISI CO2, TENAGA KERJA, DAN BIAYA PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK DI INDONESIA
Produksi batubara uap Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dengan cadangan terbukti batubara uap terbesar dikawasan Asia-Pasifik bersama dengan China dan Australia. Pada tahun 2023 produksi batubara Indonesia sekitar 775 juta ton dengan kebutuhan batubara dalam negeri mencapai 213 juta ton atau sekitar 27% dari produksi batubara nasional, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan batubara di dalam negeri untuk keperluan energi dan non-energi memiliki peluang yang sangat besar di masa mendatang. PLTU batubara memiliki porsi terbesar dalam jumlah kapasitas terpasang pembangkit energi fosil yaitu sekitar 42.343 MW atau 59% dari total. Tren pemanfaatan batubara untuk PLTU terus meningkat seiring dengan tumbuhnya konsumsi energi listrik Indonesia dari waktu ke waktu. Tantangan dalam pemanfaatan batubara sebagai sumber energi primer kedepannya akan sangat berbenturan dengan isu lingkungan. International Energy Agency memproyeksikan semua skenario untuk pemenuhan target 1,50C demi mencapai target net zero emission tahun 2060, harus memuat pengurangan penggunaan bahan bakar batubara lebih cepat. Salah satunya adalah melalui penonaktifan PLTU batubara lebih cepat dari masa nonaktifasi secara normal atau lebih dikenal pensiun dini PLTU batubara. Pensiun dini PLTU akan berdampak pada banyak aspek diantaranya terkait dengan transisi yang berkeadilan untuk pekerja di sektor batubara, pertimbangan lingkungan, dan pertimbangan ekonomi. Oleh karena itu perlu kiranya sebuah perancangan dan analisis untuk melihat pengaruh pensiun dini PLTU batubara dari sisi hulu hingga hilir batubara sebagai sumber energi primer khususnya kaitannya dengan aspek lingkungan, aspek sosial dan aspek ekonomi. Dalam penelitian ini dikembangkan model sistem dinamik (SD), Model SD dipilih karena mampu menggambarkan struktur kompleks dan perilaku dalam lingkup sektoral yang dibahas. Pada penelitian ini, model pensiun dini PLTU batubara terdiri dari beberapa subsistem yang dikembangkan sesuai sistem nyata. Pensiun dini PLTU batubara akan sangat berdampak pada aspek lingkungan, tenaga kerja, biaya pembangkitan dan keandalan pasokan listrik nasional. pada aspek lingkungan, pensiun dini PLTU batubara dapat mengurangiemisiCO2pembangkitlistriksekitar176.093.000tonCO2 danemisiGRK pada sektor pertambangan batubara sekitar 7.396.000 ton CO2 equivalent selama masa early retired (tahun 2027-2030). Kehilangan tenaga kerja pada sektor pertambangan batubara adalah sekitar 11.992 pekerja (2027-2030), sedangkan pada sektor kelistrikan tenaga kerja yang hilang adalah sekitar 1.385 pekerja (2027-2030) dengan penyerapan tenaga kerja karena pengembangan pembangkit EBT adalah sekitar 4.531 pekerja (2027-2030). Kedepannya pensiun dini PLTU batubara akan sangat berdampak pada kenaikan biaya pembangkitan energi listrik, dengan rata-rata kenaikan diperkirakan sekitar Rp 4,81per kWh atau sekitar Rp 1.775 Miliar per tahun selama masa early retired. Pensiun dini PLTU batubara sangat berpotensi mengakibatkan kekurangan pasokan listrik nasional sehingga langkah-langkah mitigasi harus diupayakan sedemikian rupa dengan segala risiko dan manfaat yang akan terjadi. Penerapan pensiun dini PLTU batubara kedepannya harus melihat pada 3 pilar konsep pengembangan pembangkit listrik yaitu affordabilty (least cost), security of supply (keandalan) dan acceptability (environmental consideration) yang harus diupayakan agar ketiga aspek tersebut dapat terpenuhi
PEMANFAATAN LIMBAH AIR GARAM SISA GEOTERMAL SEBAGAI ANODE SILIKON BATERAI ION LITIUM
Energi panas bumi telah menjadi fokus sebagai sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan. Namun, dalam produksi listrik dari sumber energi ini, timbul limbah berupa air garam sisa geotermal yang dapat menghambat aliran fluida dan merugikan industri geotermal. Limbah ini memiliki potensi sebagai prekursor ekstraksi silikon, sebuah material yang menarik untuk baterai ion litium berkat kapasitas teoritisnya yang tinggi. Anode silikon memiliki kapasitas teoritis yang jauh lebih besar (4200 mAh/g) dibandingkan dengan anode grafit (372 mAh/g) yang digunakan sebagai anode pada baterai ion litium komersial. Dengan kelimpahan sumber daya silikon dalam air garam sisa geotermal, terbuka peluang untuk mengolah limbah tersebut serta memanfaatkannya sebagai sumber produksi silikon yang lebih murah dan ramah lingkungan. Penelitian ini berhasil mengekstraksi silikon dari air garam sisa geotermal dengan menggunakan agen presipitasi CaCl2 dan NaOH sebagai pengatur pH. Selanjutnya silika direduksi menggunakan metode reduksi magnesiotermik dengan bantuan NaCl sebagai heat scavenger. Proses penghilangan pengotor dan produk samping dilakukan menggunakan HCl dan HF. Silikon yang dihasilkan memiliki ukuran partikel submikron dan membentuk struktur tiga dimensi (3D) yang berpori. Hasil pengujian GCD menunjukkan anode silikon hasil ektraksi mampu mempertahankan 24,19% kapasitas awalnya (2736,64 mAh/g) setelah 300 siklus pengujian. Selain itu, pengujian rate capability menunjukkan retensi kapasitas sebesar 25,07% kapasitas awalnya pada densitas arus terbesar yaitu 1000 mAh/g.
PENGEMBANGAN MANAJEMEN ENERGI PADA SISTEM MIKROGRID CERDAS DENGAN METODE DEEP Q-LEARNING UNTUK MENINGKATKAN RENEWABLE FRACTION DAN BATTERY UTILIZATION, SERTA MENURUNKAN LEVELIZED COST OF ELECTRICITY
<p align="justify">Mikrogrid (MG), sebagai entitas sistem energi listrik cerdas yang mewujudkan integrasi sumber energi terbarukan, menjadi jawaban atas kebutuhan energi listrik yang terus meningkat bersamaan dengan menipisnya cadangan energi fosil. Namun, sifat intermiten dari sumber energi terbarukan menjadi kendala bagi MG, karena dapat menyebabkan menurunnya kinerja MG yang ditandai dengan tidak maksimalnya renewable fraction (RF) dan battery utilization (BU). Hal ini dapat diatasi oleh penerapan kontrol pada komponen-komponen MG, dengan salah satu komponennya adalah sistem baterai penyimpan energi (SBPE). Reinforcement learning (RL), salah satu cabang dari machine learning, adalah salah satu metode yang menjanjikan untuk diaplikasikan pada kontrol manajemen energi pada MG cerdas. Penggunaan algoritma-algoritma RL dalam MG cerdas dapat mewujudkan agen yang dapat dilatih untuk melaksanakan suatu tugas, dalam kasus ini meregulasi pengisian dan pengosongan SBPE untuk manajemen energi, untuk memenuhi sebuah fungsi reward yang diinginkan yaitu operasi MG cerdas yang efisien berdasarkan parameter kinerjanya. Salah satu metode RL yang akan dimanfaatkan pada penelitian ini adalah deep Q-learning. Algoritma deep reinforcement learning (DRL) khusus yang disebut DQN diaplikasikan ke manajemen energi yang optimal MG dengan ketidakpastian. Tujuannya adalah untuk menemukan jadwal pembangkitan yang paling hemat biaya dari MG dengan memanfaatkan sistem penyimpan energi sepenuhnya. Pada praktiknya, kapasitas daya yang dihasilkan oleh panel surya seringkali melebihi daya yang dibutuhkan beban. Akan tetapi, sistem tidak menerima sepenuhnya daya yang diproduksi panel surya akibat keterbatasan kebutuhan daya beban dan kapasitas baterai. Hal ini disebabkan oleh konsep derating yang diterapkan pada PV inverter di mana terdapat pengurangan daya keluaran tergantung pada kebutuhan kondisi sebagai tindakan perlindungan komponen dari kerusakan dengan meningkatkan frekuensi inverter. Pemanfaatan daya PV yang tidak optimal menyebabkan nilai renewable fraction (RF) rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai RF adalah dengan menyuplai daya ke jaringan listrik publik atau disebut dengan grid feed. Trilema Energi didefinisikan sebagai kebutuhan untuk menemukan keseimbangan antara keamanan energi (energy security), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (sustainability) serta dampaknya. Ketiga sisi dari trilema ini berfokus pada hal yang berbeda, dengan tujuan dan rekomendasi aksi yang seringkali bertolak belakang. Algoritma yang dibuat pada penelitian ini diharapkan dapat memperhitungkan pengaturan pola pengisian dan pengosongan SBPE dengan memperhitungkan levelized cost of electricity (LCOE) untuk menunjang sisi keterjangkauan dari trilema energi serta efisiensi komponen inverter hibrida untuk menunjang sisi keberlanjutan trilemma energi. Pada penelitian ini diterapkan penjadwalan aksi SBPE berbasis optimasi dengan menggunakan salah satu jenis metode reinforcement learning, yaitu deep Q- learning berdasarkan optimasi efisiensi inverter hibrida dan levelized cost of electricity (LCOE). Efisiensi inverter hibrida dioptimalkan dengan mengoperasikan inverter pada rentang daya masukan yang menghasilkan efisiensi terbaik. Algoritma yang sudah dioptimasi kemudian digunakan untuk membuat rekomendasi penjadwalan baterai. Pengaturan penjadwalan pengisian dan pengosongan baterai serta penjadwalan grid feed ini mengakibatkan peningkatan RF dan BU. Algoritma kontrol ditempatkan dalam kerangka kerja MG digital twin (MGDT) yang memodelkan objek fisik menjadi objek digital. Berdasarkan hasil uji dan analisis, diperoleh kenaikan RF dan BU masing-masing sebesar 8,78% dan 51,79% dibandingkan dengan algoritma decisiton tree. Terdapat kenaikan rata-rata nilai LCOE pada algoritma DQN untuk baterai VRLA sebesar Rp278,44/kWh yang tidak diharapkan. Penggantian baterai menggunakan LFP dapat menurunkan nilai LCOE sebesar Rp101,05/kWh. Berdasarkan hasil uji dan analisis, penggunaan baterai LFP dapat meningkatkan nilai RF dan BU serta menurunkan nilai LCOE. <p align="justify">
PEMODELAN SISTEM DINAMIK OPTIMASI POTENSI PANAS BUMI INDONESIA TERHADAP UPAYA PENURUNAN EMISI: STUDI KASUS PADA BADAN USAHA ENERGI MILIK NEGARA
Sektor energi memiliki tugas penting untuk menyediakan bahan bakar bagi masyarakat untuk menjalankan bisnis dan rumah tangga mereka. Di sisi lain, sektor energi juga merupakan salah satu kontributor utama emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Pemerintah Indonesia telah menetapkan strategi jangka panjang untuk beralih ke energi yang lebih rendah karbon guna meningkatkan ketahanan ekonomi negara dan pembangunan berkelanjutan. Untuk mewujudkan strategi tersebut, sektor energi di Indonesia harus menerapkan rencana transisi energi dengan mendiversifikasi portofolio mereka dengan menggabungkan energi terbarukan ke dalam operasi mereka guna mengurangi jejak karbon. Indonesia memiliki sumber daya panas bumi yang melimpah; oleh karena itu, pengembangan energi panas bumi dapat menjadi salah satu tahap dalam proses tersebut. Tinjauan literatur dan wawancara dengan pemangku kepentingan dilakukan untuk mengidentifikasi variabel kunci yang dapat berkontribusi pada optimalisasi potensi panas bumi di Indonesia dalam upaya pengurangan emisi. Diagram gambaran umum disusun untuk menggambarkan semua pemangku kepentingan dan variabel yang terlibat. Bauran energi, penerapan pajak karbon, harga kredit karbon, waktu penyelesaian proyek, pendanaan eksternal, dan insentif pemerintah adalah beberapa variabel kunci yang diidentifikasi. Elemen-elemen penting ini kemudian dimasukkan ke dalam model dinamika sistem untuk menilai efek kuantitatif dari perubahan pada variabel-variabel tersebut terhadap pencapaian target kapasitas panas bumi dan pengurangan emisi baik secara nasional maupun di dalam perusahaan. Ada dua puluh sembilan skenario yang dikembangkan dari sembilan skenario kelompok termasuk dua kombinasi intervensi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pengembangan potensi energi panas bumi di Indonesia dapat dipercepat dengan komitmen pemangku kepentingan yang kuat untuk menyediakan insentif spesifik dan ketersediaan sumber keuangan. Selain itu, untuk mengurangi emisi, pemangku kepentingan dapat bekerja sama untuk memperkuat instrumen kebijakan seperti penerapan pajak karbon, menetapkan bagian yang lebih tinggi untuk campuran energi terbarukan, dan mendukung industri berbasis karbon (misalnya mekanisme perdagangan karbon) selain dari pengembangan energi terbarukan. Melangkah maju, sangat penting bagi semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama secara efektif dalam memanfaatkan mekanisme keuangan, dan kerangka kerja regulasi untuk membuka potensi penuh energi panas bumi di Indonesia.
USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK PLTU BATUBARA SESUAI DENGAN KOMITMEN INDONESIA UNTUK MENGATASI PERUBAHAN IKLIM
PT Sumatera Pembangkit merupakan Independent Power Producer (IPP) yang melaksanakan konstruksi, pengoperasian, pembiayaan, dan pemeliharaan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Batubara) Sumatera dan jalur transmisi sepanjang puluhan kilometer dari PLTU Sumatera ke Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi terdekat di Sumatera. Seiring dengan upaya Indonesia untuk melakukan transisi menuju praktik energi berkelanjutan dalam mengatasi perubahan iklim dan komitmen Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional (NDC) terhadap Perjanjian Paris dengan mengeluarkan peraturan lingkungan yang lebih ketat dan target emisi Gas Rumah Kaca (GRK), PT Sumatera Pembangkit harus benar-benar mematuhi perubahan peraturan tersebut dan bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan potensial yang dapat berdampak pada perekonomian bisnisnya. Sebagai pelaksana bisnis PLTU, PT Sumatera Pembangkit harus mengatasi tantangan efisiensi pembangkit listrik, permasalahan lingkungan, integrasi teknologi baru, dan penyelarasan kebijakan energi global dan nasional agar tetap menjadi pemain dominan dan andal di sektor pembangkit listrik sambil tetap menjamin kelangsungan keekonomiannya. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan atas strategi bisnis PT Sumatera Pembangkit mengenai praktik keberlanjutan jangka panjang dan posisi kompetitifnya serta rencana implementasi untuk memungkinkan dan memperkuat daya saing dan keberlanjutan PT Sumatera Pembangkit. Untuk mendukung dan memperkuat strategi bisnis PT Sumatera Pembangkit yang kemudian ditetapkan, penelitian ini juga melakukan analisis finansial mengenai implikasi percepatan penerapan nilai ekonomi karbon dan retrofit CCS (Carbon Capture and Storage) pada PLTU Sumatera untuk menangani kelebihan kuota emisi karbon, sebagai alternatif perdagangan dan pajak karbon, terhadap kelayakan ekonomi PT Sumatera Pembangkit. PT Sumatera Pembangkit saat ini berada pada momen penting di mana PT Sumatera Pembangkit dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, keunggulan operasional, dan posisi strategisnya untuk tidak hanya meningkatkan posisi pasarnya tetapi juga membuat kontribusi besar terhadap sasaran ketahanan dan keberlanjutan energi Indonesia. Pergeseran regulasi juga terbukti berkontribusi terhadap keberlanjutan dan kelayakan ekonomi. Dari analisa finansial, terlihat bahwa kelayakan ekonomi PT Sumatera Pembangkit tidak stabil dan sensitive terhadap perubahan batas emisi karbon dan harga karbon, dimana kelayakan ekonominya akan mengalami penurunan jika ada perubahan pada batas emisi (lebih rendah) dan harga karbon (lebih tinggi). Perubahan ini akan berdampak baik untuk penerapan nilai ekonomi karbon maupun retrofit CCS pada PLTU Sumatera. Dikarenakan PT Sumatera Pembangkit tidak memiliki kendali atas perubahan- perubahan ini, PT Sumatera Pembangkit berkewajiban untuk memastikan dan melaksanakan upaya efisiensi pembangkit untuk menjaga emisi yang dikeluarkan oleh PLTU Sumatera dalam batasan emisi yang diizinkan untuk kemudian dapat mengeksploitasi kesempatan untuk dapat menjual kelebihan unit emisi karbonnya. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kelangsungan jangka panjang PLTU Sumatera bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dan bergerak selaras dengan lanskap peraturan yang terus berkembang di Indonesia dan komitmen terhadap energi berkelanjutan dan target iklim. Analisis ini menunjukkan bahwa PLTU Sumatera masih dapat mempertahankan dan berpotensi mengembangkan posisi kompetitif dan keberlanjutannya, serta tetap menghasilkan keuntungan melalui strategi bisnis yang tepat, seperti memperkuat kontribusi dalam ketahanan energi, mendorong pola operasional terbaik dan mengadopsi inovasi dan kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pembangkit, memanfaatkan peraturan mengenai perdagangan karbon, meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan FABA dan gipsum, terlibat dalam kemitraan dan kolaborasi strategis untuk mendukung proyek infrastruktur ketenagalistrikan pemerintah, menjajaki peluang ekspansi, dan mengadopsi standar internasional. Mempertimbangkan infrastruktur listrik Indonesia yang masih sangat bergantung pada PLTU dan bagaimana PLTU masih menjadi sumber yang paling dapat diandalkan untuk menjamin ketahanan energi Indonesia, secara umum, prospek sektor PLTU kemungkinan akan terus tumbuh dan tetap menguntungkan di masa mendatang. Meskipun terdapat tantangan yang perlu diatasi, seperti rencana penghentian dini PLTU-PLTU tua dan syarat kepatuhan yang lebih ketat terhadap kebijakan dan peraturan lingkungan, tapi terdapat pula peluang yang dapat dimanfaatkan, contohnya adalah mekanisme pasar karbon, pengelolaan limbah atau produk samping untuk memberikan nilai tambah, serta inovasi dan kemajuan teknologi. Kemampuan dan daya tanggap sektor PLTU untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan ini dan mengintegrasikan praktik- praktik berkelanjutan ke dalam model bisnisnya sangat menentukan keberhasilan, kelayakan, dan profitabilitas jangka panjangnya.