📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 172 dokumenTHE EFFECT OF PERFORATION DENSITY ON CEMENT SHEATH INTEGRITY UNDER BOTTOM-HOLE PRESSURE (BHP) CONDITIONS: FINITE ELEMENT MODELLING STUDY
This study evaluates the mechanical integrity of API Class G cement under injection-induced stress using Finite Element Modelling (FEM). A three-dimensional near-wellbore model was constructed to simulate the casing– cement–formation system, incorporating perforation densities of 2, 4, 6, and 12 shots per foot (SPF). Tensile and compressive failure were assessed based on stress thresholds (438 psi for tensile and 4380 psi for compressive strength) and a crack width criterion of 50 ?m. Simulation results show that tensile failure consistently occurs earlier than compressive failure, with cracks initiating and growing beyond the critical threshold after tensile stress is exceeded. Increasing perforation density improves stress distribution, resulting in higher critical bottom-hole pressure (BHP). However, it also leads to more severe crack propagation post-failure due to stress interaction between closely spaced tunnels. Two safety windows were defined: one based on stress response, and another on crack width evolution. Linear trendlines show strong correlation (R² > 0.83) between SPF and failure pressure, enabling predictive assessment. These findings highlight the dominant role of tensile stress in cement degradation and the trade-off between increased pressure tolerance and post-failure damage, providing useful insights for optimizing perforation strategies in well integrity design.
KAJIAN TARIF TOL BERDASARKAN PENDEKATAN ATP, WTP, DAN BKBOK (STUDI KASUS : JALAN TOL CIPULARANG DAN CIPALI)
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2024 tentang Jalan Tol, bahwa tarif tol dievaluasi setiap 2 (dua) tahun sekali untuk disesuaikan terhadap laju inflasi. Penelitian ini mengkaji kemampuan membayar (Ability to Pay/ATP) dan kemauan membayar (Willingness to Pay/WTP) pengguna jalan tol Cipularang dan Cipali serta mengkaji besar keuntungan biaya operasi kendaraan (BKBOK) terhadap penggunaan rute tol dan non tol. Penelitian dilakukan terhadap pengguna jalan tol Cipularang dan Cipali golongan 1, sebanyak masing-masing 70 (tujuh puluh) responden menggunakan kuesioner. ATP dihitung berdasarkan alokasi pengeluaran untuk pembayaran tol dan panjang perjalanan menggunakan jalan tol tiap responden. Data WTP diambil menggunakan metode discrete choice experiment dan dianalisis menggunakan model logit serta dihitung dengan nilai Marginal Rate of Substitution (MRS) antara variabel tarif dan penghematan waktu tempuh. Metode perhitungan BOK menggunakan Pedoman Perhitungan Biaya Operasi Kendaraan No. Pd. T-15-2005-B. Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai ATP pengguna jalan tol Cipularang sebesar Rp932,98/km dengan nilai WTP sebesar Rp422,79/km. Nilai ATP pengguna jalan tol Cipali didapatkan sebesar Rp 1.155/km dengan nilai WTP sebesar Rp361,22/km. Perhitungan BKBOK didapatkan untuk jalan tol Cipularang nilai BKBOK (70%) sebesar Rp931,56/km sementara untuk tol Cipali sebesar Rp439,06/km. Pada tol Cipularang. Berdasarkan tarif tol terakhir yang ditetapkan pada masing-masing tol, tarif eksisting kedua tol masih berada di bawah nilai ATP sementara nilai WTP berada di bawah tarif tol pada kedua tol.
DESAIN PROGRAM BANTUAN KEUANGAN YANG BERPUSAT PADA HARAPAN SEBAGAI MODEL PINJAMAN PEER-TO-PEER BERBASIS IMAN UNTUK KOMUNITAS GEREJA
Church communities in Indonesia often face a dilemma in providing financial assistance, caught between exclusionary formal credit systems and charity-based aid that can create dependency. This research addresses this gap by designing a faith-based peer-to-peer lending model that is both empowering and rooted in community values. Utilizing a qualitative approach, this study conducts a thematic analysis of in-depth interviews with 15 stakeholders across seven distinct groups within a GKI church community. The findings reveal four interconnected themes: the critical need for a human-centered process that preserves member dignity and ensures confidentiality; the unanimous demand for a formal, professional, and accountable governance framework to support relational trust; a shared vision for an empowering and sustainable alternative to predatory loans; and a pragmatic awareness of the financial and social risks that must be managed. The primary contribution of this research is the Hope-Centered Financial Aid Model, a tangible "high-trust, high-structure" framework whose core innovation is the "5Cs of Hope" (Character, Capacity, Commitment, Community, Context), a faith-based assessment standard that replaces traditional credit metrics. This model provides a feasible and faithful solution for churches to leverage their social and spiritual capital, balancing professional management with pastoral care to foster genuine empowerment.
EVALUASI BERBASIS SIMULASI DAMPAK KOMPARTEMENTALISASI TERHADAP KINERJA RESERVOIR DAN STRATEGI PENGEMBANGAN DI LAPANGAN EDA MENGGUNAKAN TNAVIGATOR
Reservoir simulation is essential for optimizing the development and management of compartmentalized reservoirs. This study evaluates the impact of compartmentalization on reservoir performance and development strategies in Field EDA, a compartmentalized oil reservoir. A dynamic reservoir model was built using tNavigator and calibrated through history matching with actual production data. The material balance method was applied to divide the reservoir into compartments based on pressure and fluid behavior. The study integrates key principles of reservoir engineering, including fluid properties and drive mechanisms, were integrated to enhance the simulation's reliability. Material balance techniques validated the presence of compartments and supported accurate modeling of pressure changes and fluid expansion, aiding in more precise history matching. Field EDA was divided into four compartments, North, South, East, and West by grouping wells with similar pressure and fluid characteristics. The validated model showed with only a 5% deviation. Field development plan was implemented, involving reactivating three wells every three months and adding three infill wells at similar intervals. Simulation results showed the recovery factor improved by 9.04% with reactivations and reached 10.58% after infill drilling. The study confirms that compartmentalized development planning significantly enhances reservoir performance and simulation accuracy in complex field settings.
PERANCANGAN PRODUK UNTUK COFFEESHOP DARI LIMBAH KULIT KOPI DENGAN KONSEP EKONOMI SIRKULAR (STUDI KASUS: DESA WARJABAKTI)
Dalam era modern yang semakin mengedepankan keberlanjutan, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku alternatif untuk produk ramah lingkungan menjadi semakin penting. Penelitian ini berfokus pada pengembangan material terbarukan dari limbah kulit kopi Indonesia sebagai alternatif material yang berkelanjutan dalam industri desain produk. Limbah kulit kopi, yang dihasilkan sebagai by product dari industri kopi dipilih karena ketersediaannya yang melimpah serta potensi pengolahan yang ramah lingkungan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah perancangan produk untuk coffeeshop dari limbah kulit kopi, untuk menciptakan material yang memiliki karakteristik fisik dan mekanik yang sesuai untuk diaplikasikan dalam berbagai produk. Pengembangan material ini diupayakan menghasilkan limbah seminimal mungkin dan mengoptimalkan penggunaan produk ramah lingkungan. Selain aspek teknis. Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah dari limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan. Pengembangan material dari kulit kopi dapat membuka peluang bagi industri lokal untuk memproduksi bahan ramah lingkungan dengan biaya produksi yang relatif rendah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, seperti bahan berbasis plastik yang banyak digunakan di industri global. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan solusi teknis terhadap masalah limbah dan kebutuhan material ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan sektor pertanian dan industri kreatif.
IMPLEMENTASI RECEIVER ORTHOGONAL TIME FREQUENCY SPACE (OTFS) BERBASIS SOFTWARE DEFINED RADIO (SDR)
Perkembangan teknologi komunikasi nirkabel telah melesat signifikan dari generasi pertama (1G) hingga generasi kelima (5G). Namun, permintaan aplikasi nirkabel dan jumlah pengguna internet yang melonjak telah membebani infrastruktur saat ini. Kebutuhan akan sistem yang lebih canggih seperti internet of things (IoT), komunikasi ultra-reliable low latency (URLLC), augmented reality (AR), dan integrasi kecerdasan buatan (AI) semakin mendesak. Tantangan utama adalah karakteristik kanal yang kompleks dengan mobilitas tinggi dan multi-path, menyebabkan Doppler spread dan delay spread parah yang mendegradasi kinerja. Skema orthogonal frequency division multiplexing (OFDM) yang umum dipakai rentan terhadap Doppler shift (Wei dkk., 2020). Untuk mengatasi ini, teknologi orthogonal time frequency space (OTFS) muncul sebagai kandidat menjanjikan. Berbeda dengan OFDM yang fokus pada domain waktu-frekuensi, OTFS mentransmisikan simbol pada domain delay-Doppler, memberikan ketahanan terhadap fading dan interferensi (Mohammed dkk., 2022). Tugas akhir ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan sistem receiver OTFS berbasis software defined radio (SDR) menggunakan ADALM-Pluto. Penelitian ini berfokus pada pengujian kinerja melalui BER. Karakterisasi kanal dilakukan dengan model Log-Normal Shadowing untuk mengestimasi path loss exponent (n) dan standard deviation of shadowing. Pengujian menunjukkan sistem receiver ini berhasil mengirimkan data dari dua laptop terpisah secara nirkabel dari jarak 1 hingga15 meter dan variasi gain receiver 30, 35, 40, 45, dan 50. Dalam skenario statis, kualitas rekonstruksi data baik pada jarak dekat, namun mengalami degradasi signifikan dan bit error rate (BER) sekitar 0.07-0.1 seiring jarakdan peningkatan gain receiver. Sistem juga berhasil diuji pada skenario bergerak dengan kecepatan 10km/jam, 20km/jam, dan 30km/jam, meskipun hasil menunjukkan degradasi kualitas gambar yang parah akibat efek Doppler dan perubahan kanal cepat.
ANALISIS KAPASITAS FISIK BANGUNAN DAN SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN DALAM KONTEKS MODEL RISIKO BENCANA DI INDONESIA: STUDI EMPIRIS GEMPABUMI PALU 2018 DAN CIANJUR 2022
Dua kejadian gempabumi besar terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir, yaitu Gempa Palu 2018 (Mw 7.5) dan Gempa Cianjur 2022 (Mw 5.6). Kedua bencana ini menyebabkan dampak signifikan berupa korban jiwa, kerusakan infrastruktur, maupun kerugian ekonomi. Namun demikian, tingkat kerusakan bangunan dan jumlah korban jiwa ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan magnitudo gempa yang terjadi. Fenomena ini mengindikasikan adanya faktor lain yang mempengaruhi tingkat kerusakan, khususnya kapasitas fisik bangunan dan kapasitas sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi kapasitas fisik dan sosial terhadap tingkat kerusakan pascabencana. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran (mixed methods), dengan studi kasus pada wilayah terdampak di Kota Palu dan Kabupaten Cianjur. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, observasi visual kerusakan bangunan, kuesioner dan wawancara mendalam untuk menilai kapasitas sosial dan literasi kebencanaan masyarakat. Hasil yang didapatkan antara laian bahwa kerusakan dapat terjadi akibat dari kondisi struktural (fisik) yang tidak sesuai dengan kondisi bahaya yang ada. Maka agar dapat sesuai, pengetahuan kebancanaan masyarakat harus tinggi. Implikasi bahwa bangunan mereka tidak baik, adanya faktor lain yaitu pengetahuan dan literasi kebencanaan yang rendah. Maka perlu dipertimbangkan didalam kajian risiko bencana untuk faktor yang sebelumnya belum terdefinisikan yaitu faktor kapasitas fisik. Kemudian, kapasitas fisik bangunan di kedua wilayah studi terbukti menjadi komponen dalam tingkat kerusakan struktural. Di Palu, bangunan rumah yang mengalami kerusakan berat sebanyak 40%, terutama di zona likuefaksi dan sepanjang jalur sesar aktif terdampak gempa dan tsunami, rusak sedang 29%, rusak ringan 23% dan tidak rusak 8%. Sementara di Cianjur, kerusakan bangunan sekolah dilihat dari struktur bangunan, dinding, plafon dan atap, yang mengalami kerusakan berat sebanyak 43%, rusak sedang 39% dan rusak ringan 17%. Dimana kerusakan tipikal pada bangunan sekolah yang diamati menunjukan kerusakan sedang sampai berat terjadi pada komponen nonstruktural (dinding, plafond, dan atap). Sementara pada komponen struktur (kolom dan balok) terdampak kerusakan ringan. Selain itu, tingkat literasi kebencanaan masyarakat terdampak berada pada kisaran 0-27% (untuk gempa), 13,8% (tsunami), dan 2% (likuefaksi), yang ditunjukkan dengan minimnya pemahaman risiko, kurangnya kesiapsiagaan, serta ketidaktahuan bahwa mereka tinggal di wilayah rawan bahaya. Maka perlu diperkuat dengan upaya peningkatan literasi kebencanaan secara berkala sebagai salah satu langkah mitigasi dalam pengurangan risiko bencana. Kebaruan dari disertasi ini terletak pada metodologi penyajian informasi empiris mengenai tingkat literasi kebencanaan, persepsi risiko, serta klasifikasi kerusakan bangunan berdasarkan kapasitas fisik dan sosial masyarakat secara simultan pada dua lokasi bencana berbeda. Disertasi ini juga memberikan masukan penting bagi penguatan model risiko bencana nasional agar lebih adaptif terhadap faktor sosial dan fisik. Rekomendasi dari penelitian ini antara lain perlunya integrasi data empiris sosial dan fisik dalam sistem pemodelan risiko nasional dan peningkatan literasi kebencanaan berbasis komunitas, dengan mengusulkan indikator kapasitas fisik berdasarkan temuan dilapangan.
KAJIAN MEKANISME PERANGKAPAN CO2 MENGGUNAKAN STUDI SIMULASI RESERVOIR
Carbon dioxide (CO2) sequestration in saline aquifers is a key strategy for climate change mitigation, with longterm storage security heavily dependent on the residual trapping mechanism. This study investigates the fundamental influence of hysteresis—modeled using the Land's Trapping Coefficient—on the efficiency of CO2 trapping in the Utsira Formation. Through a series of numerical reservoir simulations, four scenarios were analyzed: a base case without hysteresis and three cases with varying Land's Coefficient values. The simulation results show a strong positive effect between the Land's Coefficient and the amount of residually trapped CO2. Furthermore, the analysis reveals an inverse relationship between hysteresis and dissolved trapping; the base case trapped the most dissolved (CO2), while the other case trapped the least. This occurs because hysteresis reduces plume mobility, thereby decreasing the contact area between the CO2 and formation brine and slowing the rate of dissolution. Pressure analysis also illustrates that scenarios with a higher final average reservoir pressure impact greater amounts of residual and supercritical trapping but with lower amounts of dissolved trapping. In conclusion, accurate hysteresis modelling is critical for estimating CO2 storage security as it significantly enhances residual trapping, a dominant mechanism for long-term CO2 immobilization.
PENERAPAN DIFFERENCE METHOD PADA RESERVOIR RESISTIVITAS RENDAH
This study conducts a comprehensive evaluation of water saturation (Sw), a critical factor in reservoir characterization, particularly in complex low resistivity reservoirs (LRR), where conductive clay minerals and bound water significantly complicate resistivity log interpretation. Four established methods for estimating water saturation—Archie, Simandoux, Waxman-Smits, and the Difference Method—are systematically compared, focusing on their accuracy, applicability, and robustness in low resistivity reservoirs characterized by heterogeneous lithology and complex mineralogy. The Difference Method isolates the contribution of clay-bound water by utilizing effective porosity and dry clay volume parameters derived from neutron and density logs, thereby mitigating the bias introduced by conductive bound water that affects conventional models. Results demonstrate that Archie’s method consistently overestimates Sw, often producing values greater than 1.0, which are physically unrealistic, while Simandoux and Waxman-Smits models provide more moderate but still somewhat inflated Sw estimates in certain intervals. The Difference Method yields the lowest and most physically plausible Sw values, aligning more closely with actual reservoir conditions. Validation was performed through fractional flow analysis to determine Sw values in the reservoir and permeability correlation, revealing an inverse relationship between Sw and permeability that supports the reliability of the Difference Method in addressing the challenges posed by LRR. This study underscores the critical importance of selecting appropriate Sw estimation techniques, highlighting the Difference Method as a superior approach for enhancing petrophysical evaluation accuracy and optimizing hydrocarbon production management in low resistivity reservoirs.
IDENTIFIKASI PENGARUH MATERIAL BERBASIS MISELIUM SEBAGAI INSULATOR TERHADAP KINERJA TERMAL RUMAH TINGGAL
Pertumbuhan penduduk Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren yang signifikan, sebagaimana dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (2023). Seiring dengan itu, jumlah rumah tangga yang memiliki hunian sendiri juga meningkat secara substansial. Perkembangan ini berpotensi menambah tekanan terhadap konsumsi energi sektor perumahan, yang merupakan salah satu penyumbang utama penggunaan energi di sektor bangunan. Dalam konteks ini, peningkatan performa termal rumah tinggal menjadi isu penting, terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pendinginan aktif. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah penggunaan material insulasi termal pada elemen pembatas bangunan. Namun demikian, material insulasi termal konvensional seperti fiberglass dan polistirena diketahui memiliki dampak negatif terhadap lingkungan karena jejak karbon produksinya yang tinggi, tingkat biodegradabilitas yang rendah, dan risiko kesehatan dalam proses instalasinya. Permasalahan tersebut mendorong perlunya eksplorasi terhadap material insulasi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Material berbasis miselium, yaitu struktur vegetatif dari jaringan jamur, menawarkan potensi yang menarik untuk dikembangkan sebagai insulasi termal. Miselium memiliki konduktivitas termal rendah, dapat tumbuh menggunakan limbah biomassa, dan memiliki kemampuan untuk terurai secara alami dalam lingkungan tanpa mencemari tanah atau air. Penggunaannya dapat mendukung upaya pengurangan emisi karbon, sekaligus menawarkan pendekatan baru dalam desain material bangunan berbasis bio-based. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik termal material berbasis miselium yang dikembangkan secara lokal, serta mengevaluasi pengaruh penerapannya sebagai insulasi terhadap kinerja termal rumah tinggal di dua kota dengan karakteristik iklim tropis yang berbeda, yakni Bandung dan Surabaya. Evaluasi dilakukan melalui pendekatan eksperimental dan simulatif, dengan membandingkan performa material miselium terhadap insulasi termal konvensional dan kondisi tanpa insulasi. Metodologi penelitian terdiri dari dua tahapan utama. Pertama, dilakukan pengujian laboratorium untuk memperoleh parameter termofisik material miselium, meliputi konduktivitas termal, kalor jenis, dan massa jenis. Pengujian dilakukan menggunakan metode steady-state untuk menghitung konduktivitas termal, kalorimetri untuk mengetahui kapasitas panas spesifik, serta pengukuran massa dan volume untuk menghitung densitas material. Kedua, data hasil uji digunakan sebagai input dalam simulasi kinerja bangunan menggunakan perangkat lunak EnergyPlus/DesignBuilder, untuk menganalisis Intensitas Konsumsi Energi (IKE) rumah tinggal satu lantai. Simulasi dilakukan dengan skenario temperatur set point 27°C, menggunakan tiga kondisi selubung bangunan: tanpa insulasi, menggunakan insulasi konvensional, dan menggunakan insulasi miselium. Hasil pengujian menunjukkan bahwa material miselium memiliki nilai konduktivitas termal sebesar 0,04 W/mK, yang sebanding dengan EPS dan material insulasi konvensional lainnya. Kalor jenisnya tercatat sebesar 1155,25 J/kgK, menandakan kapasitas penyimpanan panas yang cukup baik. Meskipun memiliki massa jenis sebesar 140,58 kg/m³, nilai tersebut masih dalam batas toleransi untuk insulasi bangunan dan menunjukkan peningkatan kestabilan dibandingkan dengan material miselium komposit generasi awal. Dari sisi kinerja bangunan, penerapan insulasi miselium menunjukkan penurunan signifikan dalam IKE di Bandung, menurunkan kategori konsumsi dari "Boros" menjadi "Sedang". Di Surabaya, meskipun nilai IKE juga menurun, klasifikasinya masih dalam kategori "Boros", yang menunjukkan bahwa kondisi iklim panas dan lembap di kota tersebut memerlukan strategi tambahan untuk mencapai kenyamanan termal optimal, seperti ventilasi silang, pemanfaatan shading, atau material atap reflektif. Penerapan miselium sebagai insulasi terbukti berkontribusi dalam menjaga stabilitas suhu ruang dalam bangunan, khususnya dalam meredam lonjakan suhu pada siang hari. Material ini menunjukkan performa yang konsisten dalam mengurangi paparan suhu ekstrem, serta memperbaiki profil kenyamanan termal pasif di dalam bangunan. Potensinya tidak hanya terletak pada aspek performa teknis, melainkan juga pada keberlanjutan ekologi dan ekonomi sirkular. Karakteristik biodegradabilitasnya memberikan peluang untuk mengembangkan sistem insulasi modular yang dapat diganti atau ditingkatkan tanpa membebani lingkungan pasca pemakaian. Temuan ini mendemonstrasikan bahwa material berbasis miselium layak dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif insulasi bangunan yang tidak hanya efisien secara termal, tetapi juga kompatibel dengan agenda dekarbonisasi sektor konstruksi dan pengembangan arsitektur berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan kebijakan dan praktik desain bangunan ramah lingkungan, serta membuka ruang inovasi lebih luas dalam pengembangan material arsitektur berbasis biomassa lokal. Pendekatan ini berpotensi memperluas ekosistem industri hijau di sektor konstruksi Indonesia dan mendukung transisi menuju pembangunan rendah emisi.
DARI BERPUSAT PADA PENDIRI MENJADI BERPUSAT PADA MEREK: KERANGKA KERJA STRATEGIS YANG DIUSULKAN UNTUK UKM MENGGUNAKAN PENDEKATAN PRISMA IDENTITAS MEREK KAPFERER, MEREK MAGNET, KOMUNIKASI PEMASARAN YANG TERINTEGRASI (STUDI KASUS: MAMBUCHA)
Studi ini mengkaji proses penyempurnaan yang dibutuhkan UKM yang dipimpin oleh pendiri yang lahir dan berkembang melalui penceritaan media sosial untuk berkembang menjadi organisasi yang terukur dan berpusat pada merek. Dengan menggunakan Mambucha, merek kombucha dari Indonesia, sebagai studi kasus, studi ini menyoroti bagaimana ketergantungan yang berlebihan pada pendiri, ketika mengungguli saluran merek resmi, menciptakan kerentanan strategis. Tujuannya adalah untuk mengusulkan kerangka kerja strategis yang menyempurnakan dan menyelaraskan saluran komunikasi pendiri dan merek, memastikan keberlanjutan merek. Studi ini menerapkan desain metode campuran dalam empat fase: (1) mendiagnosis identitas merek internal Mambucha menggunakan Prisma Identitas Merek Kapferer; (2) memetakan persepsi konsumen melalui survei; (3) menyempurnakan narasi merek melalui Metode Magnet Branding 15 Langkah; dan (4) mengembangkan peta jalan Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC) untuk mengurangi ketergantungan pada pendiri. Temuan menunjukkan ketidakselarasan yang signifikan antara identitas yang diinginkan dan yang dipersepsikan. Hasilnya adalah pemosisian yang lebih halus dan otonom di bawah kategori emosional dan fungsional baru, "Ritual Probiotics™", yang menjaga keaslian pendiri sekaligus membangun ekuitas merek yang independen. Kerangka kerja ini praktis bagi UKM yang berkembang melalui media sosial tetapi tetap rentan karena strategi komunikasi yang tidak seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan berkelanjutan membutuhkan penyempurnaan yang cermat, bukan penggantian, narasi pendiri menjadi sistem terstruktur yang berorientasi merek yang menyelaraskan niat internal dengan persepsi konsumen.
ANALISIS UKURAN BLOK OPTIMAL UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN VITALITAS PERKOTAAN BERBASIS MOBILITAS (LOKASI STUDI: KOTA BANDUNG)
Ukuran blok merupakan faktor utama yang memengaruhi vitalitas perkotaan, terutama dalam aspek mobilitas. Setiap jenis guna lahan menghasilkan tingkat aktivitas dan mobilitas yang berbeda, sehingga memerlukan konfigurasi blok yang sesuai. Ukuran blok yang sesuai dengan karakteristik fungsi lahan berpotensi meningkatkan efisiensi mobilitas. Meskipun begitu, kajian-kajian sebelumnya belum secara eksplisit menyoroti penentuan ukuran blok optimal dengan mempertimbangkan variasi jenis guna lahan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ukuran blok optimal sebagai upaya mendukung peningkatan vitalitas perkotaan, berdasarkan variasi guna lahan di Kota Bandung. Pada penelitian ini, tingkat vitalitas diukur menggunakan kerangka Vital Triangle, khususnya pada pilar mobility (mobilitas), yang meninjau lima komponen utama: mobilitas penduduk, pertukaran material, konektivitas informasi, aksesibilitas lalu lintas, serta kepadatan ruang terbuka. Nilai vitalitas dan ukuran blok saat ini kemudian menjadi dasar untuk penentuan ukuran blok optimal dengan menggunakan metode constraint line. Kota Bandung dipilih sebagai studi kasus karena memiliki karakteristik guna lahan yang beragam, memiliki tantangan mobilitas, serta belum memiliki regulasi terkait. Hasil menunjukkan bahwa masing masing jenis guna lahan memiliki ambang batas ukuran blok yang berbeda. Misalnya, kawasan perdagangan dan jasa skala kota menunjukkan nilai vitalitas optimal hingga ukuran 0,008 km², sementara skala wilayah pelayanan (WP) optimal hingga ukuran 0,002 km². Sebaliknya, kawasan industri baru mulai menunjukkan peningkatan vitalitas yang signifikan pada ukuran 0,02 km². Evaluasi terhadap kondisi saat ini menunjukkan bahwa banyak blok di Kota Bandung berada di luar rentang optimal tersebut, berpotensi menurunkan performa mobilitas kota. Temuan ini menegaskan pentingnya perencanaan blok berbasis fungsi lahan. Selain itu, pendekatan constraint line terbukti efektif dalam mengidentifikasi batas efisiensi spasial, sedangkan Vital Triangle menawarkan pendekatan kuantitatif yang holistik dalam menilai vitalitas kota.
ADAPTASI STRATEGI PEMASARAN RITEL LINTAS SEGMEN B2B DAN B2C: STUDI KASUS PERITEL MAKANAN BEKU DI INDONESIA
Seiring meningkatnya persaingan dan tekanan ekonomi di sektor ritel makanan beku di Indonesia, strategi untuk mempertahankan trafik pengunjung toko (offline foot traffic) menjadi sangat krusial. Penelitian ini mengevaluasi adaptasi strategi ritel FrozenMart terhadap segmen B2B dan B2C, dengan fokus pada peningkatan pengalaman pelanggan, loyalitas, dan frekuensi pembelian. Tujuan utamanya adalah menjawab kesenjangan trafik antara bulan-bulan musiman dan bulan reguler. Penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed-method), dengan survei kuantitatif (n=300) di 10 cabang toko dan wawancara kualitatif untuk menggali lebih dalam pandangan pelanggan. Analisis data meliputi statistik deskriptif, Importance-Performance Analysis (IPA), clustering dengan algoritma K-Means, serta simulasi kelayakan finansial (CPA, ROI, BEP, NPV, IRR). Variabel utama yang dianalisis mencakup preferensi display produk, pengaruh program membership, dan perilaku terhadap promosi. Hasil menunjukkan bahwa hampir 70% pelanggan B2C adalah perempuan dan mayoritas berdomisili di sekitar toko, menegaskan pentingnya strategi pemasaran lokal. Meskipun partisipasi membership rendah (23,7%), lebih dari 90% responden menyatakan bahwa program tersebut mempengaruhi keputusan belanja. Pelanggan sangat menyukai promosi berupa potongan harga langsung dan display produk yang ditata berdasarkan kategori. Pada segmen B2B, promosi khusus dan layanan pengantaran menjadi ekspektasi utama. Simulasi keuangan menunjukkan potensi ROI positif, dengan strategi hibrida seperti bundling, membership tersegmentasi, dan event komunitas memberikan proyeksi kinerja terbaik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi strategi ritel berbasis pengalaman dan aktivasi lokal merupakan kunci keberlangsungan di pasar ritel frozen food Indonesia yang semakin kompetitif.
MENINGKATKAN KESADARAN MEREK DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN: MENEMBUS PASAR GENERASI DIGITAL NATIVE UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DANA PENSIUN (STUDI KASUS DPLK BANK BJB)
Dari tahun ke tahun, seiring dengan pertumbuhan populasi Indonesia, khususnya di kalangan anak muda, mempersiapkan keuangan di usia dini menjadi hal yang semakin penting. Dana pensiun seharusnya membantu individu untuk memiliki kehidupan pensiun yang lebih nyaman, tetapi pada kenyataannya belum ada program yang menarik perhatian bahkan di kalangan Gen Z. Penelitian ini berusaha mencari tahu bagaimana Instagram, salah satu sosial media yang paling sering diakses Gen Z, dapat meningkatkan brand awareness dan turut berkontribusi dalam program pensiun yang disebut "bjb Siap" yang dikelola oleh DPLK bank bjb. Sebagai generasi digital native, tentu memiliki akses ke teknologi, tetapi masih banyak Gen Z yang mengabaikan perencanaan keuangan di masa depan. Banyak dari mereka lebih mementingkan pengalaman di masa kini. Bahkan, di Instagram, sangat sedikit Gen Z yang terlibat dengan konten berkaitan dengan dana pensiun. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana brand bjb Siap dan konten yang mereka posting di instagram membantu menciptakan awareness, dan yang lebih penting, apakah awareness tersebut bisa mendorong partisipasi nyata pada program pensiun bjb Siap. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini mengambil pendekatan metode kuantitatif. Data diperoleh melalui survei daring dan analisis konten akun Instagram bjb Siap dengan 200 responden Gen Z dari Bandung. Dengan mengacu pada konsep Theory of Planned Behavior, Brand Awareness, dan Digital Marketing, penelitian ini berupaya menentukan tiga variabel utama: penggunaan Instagram, kualitas konten Instagram, dan kesadaran merek. Ketiga variabel tersebut kemudian dianalisis terhadap intent Gen Z untuk berpartisipasi dalam dana pensiun menggunakan pemodelan persamaan struktural (SEM) dengan bantuan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan temuan yang menarik. Meskipun penggunaan Instagram dan kualitas konten mampu meningkatkan Brand Awareness, hal tersebut tidak berujung pada partisipasi. Bahkan, meskipun responden Gen Z mengenal dan mempercayai merek bjb Siap, banyak dari mereka yang tidak termotivasi untuk ikut serta dalam program yang ditawarkan. Ternyata, berkenal dengan sebuah merek tidak menjadi faktor utama jika produk yang ditawarkan (dalam hal ini, tabungan pensiun) tidak relevan bagi pengguna. Instagram memang efektif menyebarkan pesan, namun jika konten yang disampaikan tidak personal, menarik, dan emosional, pesan tersebut tidak akan membekas. Akun Instagram bjb Siap sendiri menunjukkan potensi, namun dalam hal lain terlihat seperti banyak ruang perbaikan, seperti menyiasati interaksi yang lebih mendalam. Ada missing link pada sesi interaktif yang bisa membuat percakapan jadi lebih interaktif misalnya segmenta QnA secara langsung, polling, atau menampilkan video pendek dari pengguna yang menceritakan pengalamannya dan ide-ide nya. Sesi langsung seperti ini hanya mampu dijangkau jika menjangkau audiens sebesar 25000 follower yang tidak diperoleh dengan instan. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi seperti penempatan nurtured post yang tepat, need some action dari tim admin dan press release aktif dari instore di beberapa tempat juga. Untuk emosi yang lebih dalam perluas koneksi lewat konten yang lebih mendalam dan memperkenalkan gambar pensiun dari pendekatan mimpi yang bisa dicapai. Di mana pengampunan tanggungan dan kebebasan untuk mengejar passion. Kedua, memiliki jadwal yang ditentukan oleh si admin entah di sore pakai hari kerja ataupun akhir pekan seperti 3 kali sepekan. Itu bisa dimulai dengan bersosialisasi dengan follower sehingga berkomunikasi digunkan diunggahnya cerita, survei ketertarikan hashtagnya juga. Kombinasi seperti itu dapat meraih follower yang tersebar di negara berjalan, dan para penyuka konten tiktok. Yang ketiga. Bergabunglah langsung dengan influencer yang relevan dan jangan pikirkan respons dengan positif dan jenius. Terakhir, untuk momen simpel secara bersamaan kisah bisa bercerita secara bersamaan bukan sekadar mereka. Penelitian ini memberikan kontribusi besar bagi diskusi tentang inklusivitas keuangan baik secara akademis maupun praktis. Temuan menunjukkan bahwa meskipun platform digital seperti Instagram berguna dalam branding, perubahan perilaku yang nyata memerlukan pemahaman yang lebih dalam tentang pola perilaku, nilai, dan motivasi audiens. Selain itu, penelitian ini menekankan perlunya menyelaraskan strategi pemasaran dengan kehidupan dan aspirasi nyata para pemuda. Sebagai kesimpulan, mengajak Gen Z untuk ambil bagian dalam skema pensiun bukan hanya tentang terlihat, tetapi tentang dipahami dan dipercayai. Instagram dapat berfungsi sebagai jembatan yang kuat, tetapi hanya ketika digunakan dengan cara yang tulus, bermakna, dan personal. Jalan menuju masa depan keuangan yang lebih baik bagi generasi muda di Indonesia tidak dimulai dengan sekadar kesadaran; ini dimulai dengan keterhubungan yang otentik.
MEMANUSIAKAN MOBILITAS PERKOTAAN: MEMAHAMI PERILAKU KOMUTER KELAS MENENGAH DAN ATAS DI JABODETABEK UNTUK ADOPSI TRANSPORTASI PUBLIK BERKELANJUTAN
Mobilitas perkotaan di megapolitan yang berkembang pesat menghadapi tantangan perilaku yang kompleks, namun perilaku komuter dari kalangan menengah-atas, yang berkontribusi besar terhadap ketergantungan pada kendaraan pribadi, masih kurang mendapat perhatian dalam penelitian. Penelitian ini mengkaji preferensi pemilihan moda transportasi di kalangan komuter kelas menengah-atas di wilayah Jabodetabek, di tengah meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi yang menghambat pencapaian tujuan mobilitas berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi pilihan moda transportasi dan bagaimana transportasi umum dapat bersaing secara lebih efektif. Dengan menggunakan desain penelitian campuran (mixed-methods) eksplanatori berurutan, penelitian ini mengintegrasikan Teori Perilaku Konsumen, Teori Perilaku Terencana, dan Teori Pemilihan Moda. Analisis kuantitatif terhadap 234 responden survei, dilanjutkan dengan 13 wawancara kualitatif, mengeksplorasi sikap, perilaku, dan dinamika pengambilan keputusan. Analisis faktor dan klaster mengidentifikasi tiga segmen komuter: Young Urban Explorers (22,3%) yang mengadopsi pola multimoda dan memiliki kepedulian lingkungan, Comfort-Driven Private Users (33,8%) yang mengutamakan kenyamanan dan status kendaraan pribadi, serta Balanced Mobility Mavens (44,0%) yang tetap setia pada kendaraan pribadi dengan penerimaan terbatas terhadap transportasi umum, tergantung pada standar keselamatan. Analisis regresi logistik mengungkap prediktor utama, yakni kepedulian lingkungan (? = 0,29), aversi terhadap kepadatan (? = -0,89), serta hubungan positif yang tidak terduga antara tingkat tarif dan niat menggunakan transportasi umum (OR = 3,158), yang menunjukkan bahwa tarif tinggi ditafsirkan sebagai sinyal kualitas oleh pengguna kelas atas. Temuan ini berkontribusi bagi teori dan praktik dengan menunjukkan bahwa intervensi yang berorientasi pada kualitas—yang menargetkan kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan—sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku. Studi ini menantang pendekatan perencanaan transportasi berbasis biaya dan mendorong strategi yang selaras dengan nilai-nilai kompleks para komuter kalangan menengah-atas. Keterbatasan penelitian meliputi fokus geografis tunggal serta penggunaan data yang dilaporkan sendiri; studi longitudinal dan lintas kota di masa depan sangat dianjurkan.