📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS KESIAPAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN PADA UMKM KULINER: STUDI KASUS UMKM DKI JAKARTA
Environmental, Social, and Governance (ESG) merupakan kerangka dalam menilai kinerja keberlanjutan perusahaan. Meskipun demikian, penerapan ESG pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di negara berkembang masih menghadapi berbagai keterbatasan konseptual dan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kerangka penilaian keberlanjutan lingkungan berbasis ESG yang dikontekstualisasikan untuk UMKM kuliner di Jakarta melalui integrasi indikator lingkungan ESG dan model Knowledge–Attitude–Readiness– Practice (KARP). Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan survei terhadap UMKM kuliner di lima wilayah administratif Jakarta yang dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLSSEM), serta wawancara terbatas untuk mengidentifikasi faktor eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan berperan sebagai variabel mediasi utama dalam menerjemahkan pengetahuan dan sikap terhadap praktik keberlanjutan. Meskipun pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan kesiapan, sikap tidak secara langsung menghasilkan praktik tanpa dukungan kesiapan operasional. Selain faktor internal, kendala struktural seperti keterbatasan finansial, ambiguitas regulasi, dan lemahnya keselarasan antara kebijakan dan kondisi operasional UMKM turut membatasi implementasi ESG. Penelitian ini berkontribusi pada kesiapan dalam mendorong penerapan keberlanjutan lingkungan di sektor usaha kecil perkotaan.
KLASIFIKASI PENYAKIT KARDIOVASKULAR MENGGUNAKAN METODE HYBRID DEEP LEARNING MEMANFAATKAN CITRA EKG
Penyakit kardiovaskular (Cardiovascular Disease, CVD) merupakan penyebab utama kematian global. Deteksi dini CVD melalui citra elektrokardiogram (EKG) berbasis kertas penting untuk membantu proses skrining, namun kualitas citra yang bervariasi seperti noise, artefak pemindaian, dan kontras yang rendah sering menurunkan kinerja sistem klasifikasi otomatis. Penelitian ini mengembangkan dan mengevaluasi kerangka klasifikasi citra EKG berbasis hybrid deep learning dengan memanfaatkan CNN pra-latih sebagai pembangkit representasi fitur, serta membandingkannya dengan pendekatan CNN end-to-end sebagai pembanding. Dataset yang digunakan terdiri atas empat kelas, yaitu Normal, Myocardial Infarction (MI), Previous Myocardial Infarction (PMI), dan Heart Block (HB). Tahap pra-pemrosesan mencakup cropping, konversi grayscale, Gaussian blur, Otsu thresholding, bitwise NOT, dan histogram equalization untuk menstandardisasi citra dan memperjelas pola gelombang. Ekstraksi fitur dilakukan menggunakan DenseNet201, ResNet50, dan InceptionV3, baik pada skenario fitur tunggal maupun feature fusion. Fitur kemudian diklasifikasikan menggunakan ANN (MLP), XGBoost, dan Random Forest, serta dievaluasi dengan akurasi, Matthews Correlation Coefficient (MCC), confusion matrix, dan waktu komputasi. Hasil menunjukkan bahwa skenario tanpa PCA memberikan performa terbaik, dengan kinerja tertinggi pada feature fusion DenseNet201 + InceptionV3 menggunakan ANN yang mencapai akurasi 0.9534 dan MCC 0.9375, sedangkan pada fitur tunggal kinerja terbaik mencapai akurasi 0.9427 dengan MCC 0.9234. Penerapan PCA berbasis cumulative explained variance 0.99 (n99) mampu menurunkan waktu komputasi, namun cenderung menurunkan performa terutama pada ANN. Pada pendekatan CNN end-to-end, model terpilih mencapai akurasi 0.9571, macro F1 0.9565, dan MCC 0.9425, sehingga menunjukkan bahwa pendekatan end-to-end dapat menjadi alternatif yang kompetitif ketika diinginkan pipeline yang lebih ringkas.
PREDIKSI KONSUMSI ENERGI LISTRIK BERBASIS INTERNET OF THINGS MENGGUNAKAN ANALISIS SPASIAL-TEMPORAL PADA GEDUNG LABTEK VI ITB
Konsumsi energi listrik pada bangunan gedung memiliki pola dinamis yang dipengaruhi oleh aktivitas gedung dan interaksi antar-lantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi konsumsi energi listrik yang akurat pada Gedung Labtek VI ITB dengan memanfaatkan integrasi data Internet of Things melalui analisis spasial-temporal. Pendekatan ini mengatasi keterbatasan model temporal yang hanya bergantung pada tren historis tanpa mempertimbangkan korelasi energi antar-lantai (spasial). Metode yang digunakan adalah model hibrida CNN-LSTM dengan teknik Dilated Convolution yang dioptimasi melalui Bayesian Optimization. Model mengintegrasikan berbagai fitur spasial dan temporal, mencakup data energi historis, suhu luar ruangan, serta fitur pembeda antar-lantai untuk menangkap dinamika gedung secara lebih efektif. Penelitian mengevaluasi dua skenario, yaitu skenario Temporal dan skenario Spasial-Temporal, dengan variasi sliding window 8 jam, 24 jam, dan 168 jam. Hasil menunjukkan bahwa skenario Spasial-Temporal secara konsisten lebih baik dari skenario Temporal di seluruh target prediksi. Peningkatan performa paling signifikan terlihat pada Lantai 1, di mana penggunaan fitur spasial berhasil meningkatkan nilai R2 dari 0,6385 menjadi 0,8912 serta menurunkan nilai RMSE dari 0,954 menjadi 0,524 pada sliding window 168 jam. Secara keseluruhan, model Spasial-Temporal terbaik dicapai pada Lantai 3 dengan nilai R2 sebesar 0,9509 dan MAPE sebesar 10,63%. Hasil ini membuktikan bahwa penambahan fitur spasial memberikan konteks gedung yang lebih lengkap bagi model untuk meningkatkan akurasi prediksi. Selain itu, analisis sliding window menunjukkan bahwa sliding window 8 jam memadai untuk lantai dengan pola konsumsi energi listrik stabil, sementara sliding window 168 jam diperlukan untuk menangkap variansi tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan analisis spasial-temporal dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kualitas prediksi konsumsi energi listrik pada gedung bertingkat, yang diharapkan dapat mendukung strategi efisiensi energi dan pengoperasian gedung yang lebih cerdas.
PENGEMBANGAN KOLORIMETER BERBASIS CITRA DALAM RUANG WARNA CIELAB PADA KAMERA SMARTPHONE MENGGUNAKAN MODEL KOREKSI INTERPOLASI POLINOMIAL ORDE TINGGI
Perkembangan teknologi kamera pada smartphone membuka peluang pemanfaatannya sebagai alat ukur warna berbasis citra digital, tetapi reproduksi warna yang dihasilkan masih dipengaruhi oleh karakteristik sensor, pemrosesan citra internal, dan kondisi pencahayaan sehingga sering terjadi perbedaan dibandingkan dengan alat ukur standar seperti kolorimeter. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model koreksi warna untuk meningkatkan akurasi reproduksi warna kamera smartphone menggunakan pendekatan interpolasi polinomial dalam ruang warna CIELAB. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan kamera iPhone 13 sebagai sistem akuisisi citra dan kolorimeter sebagai alat referensi pengukuran warna. Data diperoleh dari objek berupa Macbeth chart dan kertas origami pada tiga kondisi pencahayaan, yaitu warm white, natural white, dan cool white. Nilai warna citra kamera dipetakan terhadap nilai referensi kolorimeter pada komponen L*, a*, dan b* dalam ruang warna CIELAB, kemudian dibangun model koreksi menggunakan interpolasi polinomial dengan penentuan orde optimal berdasarkan analisis mean absolute error (MAE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu meningkatkan akurasi warna secara signifikan, dengan penurunan nilai rata-rata perbedaan warna (?E*) dari 19,587 menjadi 7,413 pada warm white, dari 21,784 menjadi 4,042 pada natural white, serta dari 4,671 menjadi 1,994 pada cool white, yang setara dengan peningkatan akurasi warna sebesar 30,447%, 59,763%, dan 67,579%. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan interpolasi polinomial efektif dalam memodelkan hubungan nonlinier antara nilai warna kamera dan referensi kolorimeter sehingga berpotensi meningkatkan keandalan kamera smartphone sebagai alternatif sistem kolorimetri yang lebih praktis dan ekonomis.
IDENTIFIKASI KOMPONEN PASUT SERTA PERHITUNGAN ARGUMENASTRONOMIS DAN KOREKSI NODALNYA UNTUK KEPERLUAN ANALISISDATA PASUT
Gelombang pasut merupakan penjumlahan dari gelombang-gelombang yang terjadi pada saat menjalarnya gelombang pasut tersebut. Tiap-tiap gelombang yang membentuk suatu gelombang pasut yang telah terinterferensi tersebut direpresentasikan oleh komponen-komponen pasut yang jumlahnya sangat banyak. Komponen pasut merupakan komponen-komponen gaya yang dapat membangkitkan pasut. Dengan adanya komponen ini dapat diketahui resultan dari amplitudo dan fase gelombang pasut di mana tiap-tiap komponen memiliki amplitudo dan fase tersendiri. Setiap komponen pasut memiliki nilai argumen astronomis dan koreksi nodal yang mempengaruhi nilai resultan amplitudo dan fase gelombang pasut dan nilai tersebut harus diketahui untuk dapat dilakukannya analisis pasut. Setiap komponen terjadi berdasarkan posisi bulan dan matahari terhadap bumi, sehingga argumen astronomis dan koreksi nodal suatu komponen pasut tersebut diekspresikan dalam fungsi elemen-elemen orbit matahari dan bulan. Terdapat komponen pasut utama di mana persamaan argumen astronomis dan koreksi nodalnya telah diketahui dengan pasti. Dari persamaan inilah didapat nilai-nilai argumen astronomis dan koreksi nodal suatu komponen pasut yang lainnya dengan melakukan perhitungan matematis sederhana yang disusun oleh Bernard Simon dari SHOM dan John Page dari IHO. Didapat sebanyak 408 jenis komponen pasut yang nantinya akan digunakan dalam kegiatan analisis dan prediksi pasut. Sebagiannya kecil dari jenis komponen ini nilai argumen astronomis dan koreksi nodalnya tidak didapat karena nilai komponen-komponen penyusunnya tidak diketahui.
ANALISIS DECISION MAKING PADA PENDAFTARAN DAN KURASI BOOTH DI COMIC FRONTIER
Pertumbuhan pesat konvensi budaya populer telah meningkatkan tingkat persaingan serta ekspektasi terhadap sistem pendaftaran exhibitor yang transparan dan efisien. Comic Frontier, sebagai salah satu acara pop culture terbesar di Indonesia, menghadapi ketidakpuasan exhibitor yang berulang terkait proses pendaftaran booth dan kurasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kesenjangan antara ekspektasi dan pengalaman exhibitor, (2) menentukan akar penyebab keluhan exhibitor, (3) mengkaji praktik terbaik dari acara sejenis berskala besar, dan (4) merumuskan perbaikan strategis untuk menciptakan sistem pendaftaran yang lebih efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuesioner dianalisis melalui gap analysis, Analysis of Variance (ANOVA), serta uji kecukupan faktor untuk mengidentifikasi perbedaan persepsi exhibitor berdasarkan tingkat pengalaman. Wawasan kualitatif diperoleh melalui wawancara dan Focus Group Discussion (FGD), yang kemudian disusun secara sistematis menggunakan metode Kepner-Tregoe (KT) dan diprioritaskan melalui analisis Pareto. Selanjutnya, matriks bobot dikembangkan untuk mengevaluasi tingkat kepentingan dan dampak relatif dari akar masalah yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara ekspektasi dan pengalaman exhibitor, khususnya pada aspek kejelasan proses, transparansi komunikasi, dan mekanisme umpan balik. Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan tingkat kepuasan yang signifikan secara statistik antar kelompok exhibitor berdasarkan pengalaman, yang mengindikasikan bahwa sistem yang ada saat ini cenderung kurang mengakomodasi exhibitor pemula. Analisis KT dan Pareto mengidentifikasi keterbatasan struktural—yakni ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah pendaftar dan kapasitas organisasi—sebagai akar penyebab utama ketidakpuasan. Benchmarking terhadap acara sejenis menegaskan pentingnya struktur timeline yang jelas dan kriteria kurasi yang transparan dalam membangun kepercayaan dan persepsi keadilan exhibitor. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan dua solusi strategis: pengembangan kerangka pendaftaran yang terstruktur dan transparan sebagai prioritas jangka pendek, serta implementasi platform pendaftaran digital terintegrasi sebagai inisiatif transformasi jangka panjang. Solusi ini diharapkan mampu mengurangi ketidakpastian, meningkatkan kualitas komunikasi, dan memperkuat tata kelola proses pendaftaran. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen acara dengan menunjukkan bahwa analisis masalah berbasis data dan desain sistem yang berorientasi pada pemangku kepentingan dapat meningkatkan pengalaman exhibitor serta keberlanjutan organisasi dalam penyelenggaraan acara budaya berskala besar.
PERANCANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST): PENGOLAHAN SAMPAH RESIDU DI TPA CIPAYUNG, KOTA DEPOK, JAWA BARAT
TPA Cipayung Kota Depok saat ini masih menerapkan sistem open dumping yang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan operasional. Upaya pengurangan sampah melalui pengolahan eksisting belum mampu menekan timbulan residu secara signifikan, sehingga diperlukan teknologi pengolahan lanjutan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem insinerator sebagai pengolahan sampah residu di TPST Cipayung Kota Depok, dengan pendekatan konsep green building melalui optimalisasi tata letak fasilitas, efisiensi sistem, dan pengendalian dampak lingkungan. Berdasarkan hasil analisis, timbulan sampah yang masuk ke TPA Cipayung rata-rata mencapai 704,2 ton/hari dengan dominasi fraksi organik dan karakteristik yang masih memiliki potensi pembakaran. Sampah residu direpresentasikan dalam bentuk rumus empiris semu berdasarkan hasil ultimate analysis untuk keperluan perhitungan kebutuhan udara pembakaran dan estimasi gas buang. Insinerator yang dirancang menggunakan tipe controlled air dengan kapasitas pengolahan 28 ton/hari dan dilengkapi sistem Air Pollution Control berupa flue gas quench tower, venturi scrubber, mist eliminator, dan cerobong untuk memenuhi baku mutu emisi. Penerapan konsep green building diwujudkan melalui pengelompokan fungsi bangunan, efisiensi penggunaan energi dan air, serta pengendalian emisi dan residu. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa total biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp48,47 miliar, dengan CAPEX khusus fasilitas insinerator sebesar Rp44,51 miliar. Biaya operasional (OPEX) total sebesar Rp13,75 miliar per tahun, dengan OPEX khusus insinerator sebesar Rp6,78 miliar per tahun. Analisis payback period menunjukkan bahwa investasi insinerator dapat kembali dalam waktu kurang dari satu tahun pada seluruh skenario pendapatan. Dengan demikian, penerapan iv insinerator di TPST Cipayung dinilai layak secara teknis dan ekonomi serta mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan green building.
STRATEGI PENURUNAN BACKLOG PERUMAHAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Permasalahan backlog perumahan merupakan isu struktural yang hingga saat ini masih menjadi tantangan utama pembangunan perkotaan di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Kota Bandung. Backlog perumahan tidak hanya mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah rumah dan jumlah keluarga, tetapi juga menggambarkan keterbatasan akses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan berlokasi sesuai dengan kebutuhan aktivitas ekonomi. Berbagai kebijakan perumahan telah dilaksanakan oleh pemerintah, terutama melalui program Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Namun, efektivitas kebijakan tersebut dalam menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan masih dipertanyakan, terutama ketika dihadapkan pada dinamika harga lahan, keterbatasan pasokan rumah, serta kondisi sosial-ekonomi rumah tangga MBR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika backlog perumahan MBR di Kota Bandung serta mengevaluasi efektivitas berbagai skenario kebijakan perumahan melalui pendekatan sistem dinamik. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi mekanisme struktural yang membentuk backlog perumahan MBR; (2) menganalisis pengaruh kebijakan sisi permintaan, sisi penawaran, sosial-ekonomi, serta kebijakan lahan dan lokasi hunian terhadap dinamika backlog; dan (3) merumuskan kombinasi kebijakan yang paling efektif dalam menurunkan backlog perumahan MBR dalam jangka panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan sistem dinamik dengan membangun Causal Loop Diagram (CLD) dan stock and flow diagram (SFD). Model dikembangkan melalui beberapa submodel utama, yaitu submodel populasi dan keluarga MBR, submodel segmentasi MBR dan preferensi hunian, submodel keterjangkauan dan kas keluarga MBR, submodel kas developer dan penyediaan rumah, serta submodel harga dan ketersediaan lahan. Model disimulasikan untuk periode jangka panjang guna menangkap perilaku dinamis sistem perumahan serta dampak tertunda dari kebijakan. Skenario kebijakan yang dianalisis meliputi skenario dasar (Business as Usual/BAU), skenario kebijakan sisi3 permintaan, skenario sosial-ekonomi, skenario sisi penawaran, skenario kebijakan lahan dan lokasi hunian, serta skenario kebijakan gabungan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada skenario BAU, backlog perumahan MBR di Kota Bandung cenderung menurun secara lambat namun tetap bertahan pada tingkat yang tinggi dalam jangka panjang. Skenario kebijakan sisi permintaan dan sosial-ekonomi memberikan dampak positif terhadap penurunan backlog, namun bersifat terbatas dan tidak berkelanjutan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas penyediaan rumah dan pengendalian faktor lahan. Skenario sisi penawaran menunjukkan kemampuan menurunkan backlog dalam jangka menengah, tetapi berpotensi menimbulkan efek balik dalam jangka panjang akibat tekanan harga dan keterbatasan lahan. Sementara itu, skenario kebijakan lahan dan lokasi hunian memberikan dampak paling konsisten dalam menurunkan backlog secara jangka panjang melalui peningkatan akses lahan yang layak dan terjangkau bagi MBR. Skenario kebijakan gabungan menunjukkan hasil paling optimal, dengan penurunan backlog yang signifikan dan relatif stabil hingga akhir periode simulasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model sistem dinamik backlog perumahan MBR yang tidak hanya berfokus pada kepemilikan rumah melalui skema subsidi, tetapi juga memasukkan pilihan hunian alternatif berupa bangun mandiri dan sewa, serta mempertimbangkan aspek lokasi dan biaya transportasi sebagai bagian dari keterjangkauan hunian. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya interaksi lintas kebijakan dan mengungkap bahwa kebijakan perumahan yang berdiri sendiri cenderung menghasilkan dampak yang tidak berkelanjutan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian perumahan perkotaan berbasis sistem dinamik dengan menegaskan bahwa backlog perumahan merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor sosial, ekonomi, kelembagaan, dan spasial. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan perumahan yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang guna menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan.
PENGEMBANGAN SISTEM KONTROL PREDIKTIF BERBASIS REINFORCEMENT LEARNING UNTUK OPTIMASI KENYAMANAN TERMAL DAN EFISIENSI ENERGI PADA SISTEM HVAC SMART BUILDING
Sistem tata udara atau Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) merupakan penyumbang konsumsi energi terbesar pada bangunan komersial, namun sering kali dioperasikan dengan strategi kontrol konvensional yang tidak efisien. Penelitian ini mengusulkan sistem kontrol prediktif berbasis Reinforcement Learning (RL) menggunakan algoritma Deep Q-Network (DQN) untuk mengoptimalkan keseimbangan antara kenyamanan termal dan efisiensi energi. Lingkungan simulasi virtual dibangun menggunakan pendekatan hibrida berbasis algoritma XGBoost dengan strategi Next-Temperature (NT), yang menghasilkan akurasi prediksi temperatur ruangan cukup tinggi dengan nilai R^2 mencapai 0,9685 dan RMSE 0,3166°C. Berdasarkan evaluasi terhadap 50 ruangan uji dengan karakteristik termal variatif, model DQN terpilih mampu menghasilkan rata-rata penghematan energi global sebesar 49,44% serta peningkatan kenyamanan termal sebesar 31,56% dibandingkan kontrol historis pada asumsi Coefficient of Performance (COP) konstan. Guna memastikan validitas hasil terhadap realitas fisik, dilakukan uji validasi pada salah satu sampel ruang kelas di lantai 3 gedung Labtek XIX ITB menggunakan parameter efisiensi eksergi sistem dengan COP dinamis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa strategi agen tetap menghasilkan penghematan energi riil yang signifikan sebesar 28,13%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan agen dalam mengeksploitasi inersia termal bangunan melalui manipulasi setpoint dinamis tidak hanya unggul secara matematis, namun juga valid secara fisis menurut Hukum Termodinamika II.
ANALISIS SPESIFISITAS SUBSTRAT ENDOGLUKANASE BCELFP
Lignoselulosa merupakan biomassa dinding sel tumbuhan yang tersusun atas tiga polimer utama, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Proses degradasi selulosa menjadi glukosa memerlukan aktivitas enzim selulase, salah satunya adalah endoglukanase yang berperan dalam memutus ikatan ?-1,4-glikosidik. Penelitian ini mengkaji gen pengode endoglukanase termofilik (Bcelfp) yang berasal dari bakteri Fervidobacterium pennivorans. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekspresikan gen bcelfp tersebut ke dalam sistem ekspresi Escherichia coli BL21(DE3) dan menganalisis aktivitas enzim terhadap berbagai jenis substrat, meliputi CMC (carboxymethyl cellulose), wheat (gandum), rye (gandum hitam), sorgum, semolina, dan daun jagung. Tahapan metode yang dilakukan mencakup transformasi plasmid ke dalam pET28a-Bcelfp ke dalam sel E. coli BL21(DE3), produksi endoglukanase BcelFp, pemecahan sel (lisis) dengan sonikator, serta visualisasi protein menggunakan SDS- PAGE (sodium dodecyl sulfate–polyacrylamide gel electrophoresis). Uji konsentrasi protein dilakukan menggunakan metode Bradford, sementara uji aktivitas enzim ditentukan melalui metode DNS (asam 3,5-dinitrosalisilat). Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa gen pengode endoglukanase BcelFp berhasil diekspresikan dengan baik, ditandai dengan munculnya pita protein pada berat molekul sekitar 37,89 kDa. Berdasarkan hasil uji Bradford, diperoleh konsentrasi enzim sebesar 9,121 µg/µL. Pengujian aktivitas menunjukkan bahwa endoglukanase BcelFp aktif menghidrolisis seluruh substrat yang diuji. Aktivitas spesifik tertinggi tercatat pada substrat turunan selulosa (CMC) dengan nilai mencapai 0,950±0,024 U/mg. Pada pengujian menggunakan kelompok substrat alami, aktivitas enzim menunjukkan nilai yang lebih rendah dengan urutan spesifisitas dari yang tertinggi ke terendah adalah gandum hitam, semolina, gandum, sorgum, dan daun jagung.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KAWASAN WISATA PANTAI BATUKARAS, KABUPATEN PANGANDARAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi untuk maju disektor pariwisata. Pada tahun 2020, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi penyumbang devisa nasional terbesar melampaui sektor migas, batubara, dan minyak kelapa sawit. Jumlah penerimaan devisa nasional dipengaruhi peningkatan jumlah wisatawan dan jumlah pengeluaran wisatawan. Peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi akan diiringi peningkatan jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Semenjak tahun 2017, Kementerian Pariwisata RI bekerja sama dengan International Network of Sustainable Tourism Observatories (INSTO) untuk mengembangkan program pariwisata berkelanjutan pada lima daerah di Indonesia, salah satunya Pantai Batukaras. Kawasan wisata Pantai Batukaras dilengkapi satu buah Tempat Penampungan Sementara (TPS) yaitu TPS Legokpari. Permasalahan utama yang terkait pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Batukaras adalah penumpukan sampah di area TPS pada kondisi puncak lonjakan pengunjung. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengolahan sampah untuk meminimalkan residu yang diangkut menuju TPA dan mendukung diperolehnya sertifikasi sustainable tourism yang diakui oleh dunia. Pengolahan sampah dilakukan melalui pembangunan TPS 3R Batukaras yang terdiri dari pemilahan sampah, pengolahan sampah organik open windrow, pengolahan material daur ulang laku jual (kaca, logam, kertas, plastik), dan pengolahan sampah plastik PP dan PE pada reaktor pirolisis. Perancangan pengolahan sampah TPS 3R Batukaras dirancang mampu menangani sampah terpilah dari sumber menjadi tiga jenis yaitu sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah lain-lain dengan debit sampah masuk yang mampu diolah sebesar 4,95 ton/hari dengan komposisi utama sampah organik 61,73% dan sampah plastik 12,38%. Jumlah sampah yang diangkut menuju TPA Purbahayu adalah 31,34% dari jumlah sampah yang masuk dengana adanya TPS 3R Batukaras. Kebutuhan lahan minimal untuk pengelolaan sampah di TPS 3R Batukaras adalah 490,14 m2 .
KETIDAKSELARASAN STRATEGI INDUSTRI ASURANSI JIWA DI INDONESIA DI ERA EKONOMI DIGITAL: EVIDENSI DARI PERSEPSI PUBLIK TERHADAP NIAT PEMBELIAN DAN NIAT MEMPERTAHANKAN POLIS
Industri asuransi jiwa di Indonesia menunjukkan stagnasi dalam beberapa periode terakhir, sementara peningkatan ekonomi digital meningkatkan ekspektasi publik terhadap layanan asuransi jiwa meliputi kecepatan, kesederhanaan, transparansi, dan konsistensi lintas kanal. Hal ini perlu diidentifikasi, terutama dari persepsi publik, karena asuransi jiwa merupakan layanan berbasis kepercayaan yang tidak memberikan manfaat langsung, melainkan setelah risiko menjadi kenyataan. Oleh karenanya, kepercayaan penting dalam kaitannya dengan niat membeli dan retensi Penelitian ini mengkaji stagnasi industri asuransi jiwa melalui Perceived Strategic Misalignment (PSM), yang didefinisikan sebagai persepsi publik atas ketidaksesuaian antara apa yang diberikan industri dalam hal layanan dengan ekspektasi publik. Terdapat empat dimensi persepsi yang dimodelkan sebagai faktor kepercayaan yaitu ketidaksesuaian atas kompleksitas (kesulitan memahami spesifikasi produk), transparansi (ketidakjelasan informasi tentang ketentuan ketentuan polis), keandalan klaim (keraguan tentang proses klaim), dan integrasi layanan (informasi yang tidak konsisten di berbagai saluran). Hipotesisnya PSM yang lebih tinggi menurunkan kepercayaan publik dan kepercayaan yang lebih tinggi meningkatkan niat perilaku publik. Karena membeli polis dan melanjutkan polis merupakan proses yang berbeda, penelitian ini dibagi antara niat pembelian dan niat retensi. Model A menguji niat pembelian untuk non-pemegang polis dan Model B menguji niat retensi untuk pemegang polis. Desain penelitian didasarkan pada survei kualitatif dengan kuesioner online terstruktur. Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan bootstrapping digunakan untuk mengevaluasi hipotesis. Secara keseluruhan, dari penelitian ini, PSM menyiratkan penurunan kepercayaan terlepas dari perbedaan dimensi antara bukan pemegang polis dan pemegang polis, sementara kepercayaan yang lebih tinggi menghasilkan niat pembelian dan retensi yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk mempercepat pertumbuhan di industri ini, kepercayaan perlu dipulihkan dengan meningkatkan pengalaman publik melalui transparansi yang lebih baik, keandalan klaim, integrasi layanan, diikuti dengan produk dan proses yang lebih sederhana.
TRANSFORMASI MANAJEMEN PADA BISNIS KELUARGA DI PERKEBUNAN SAWIT: DARI MANAJEMEN INDEPENDEN MENUJU ORGANISASI PROFESIONAL DAN TERSTRUKTUR
Industri keluarga masih sangat kuat dalam industri agribisnis di Indonesia, terutama di industri kelapa sawit. Meskipun penting secara ekonomi, terdapat masalah struktural dan manajerial di sebagian besar perkebunan keluarga yang disebabkan oleh bentuk pengelolaan tradisional dan informal. Makalah ini mengeksplorasi bagaimana analisis pekerjaan dan manajemen modal manusia (HCM) dapat digunakan untuk mencapai perubahan manajemen dan keberlanjutan suksesi di perkebunan kelapa sawit milik keluarga di Sumatera Utara. Studi ini mendasarkan metodologinya pada studi kasus kualitatif, dan didukung dengan data kuantitatif yang terbatas mengenai produktivitas dan struktur tenaga kerja. Wawancara mendalam dengan pemilik perkebunan, anggota keluarga, dan karyawan kunci digunakan sebagai metode pengumpulan data primer, sedangkan observasi lapangan dan analisis dokumen juga digunakan sebagai metode tambahan. Berdasarkan struktur dalam kerangka kerja Braun dan Clarke (2006), analisis tematik digunakan untuk mengekstrak tema umum dalam hal peran pekerjaan, suksesi kepemimpinan, dan inisiatif profesionalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis pekerjaan yang tidak terencana mengakibatkan kurangnya kejelasan tanggung jawab pekerjaan, duplikasi tugas, dan inkonsistensi dalam penyelesaian tugas di berbagai tingkatan. Kombinasi analisis pekerjaan dan model HCM seperti desain pekerjaan berbasis kompetensi, kerangka penilaian kinerja, dan manajemen talenta akan sangat meningkatkan kinerja organisasi dan membekali organisasi dengan transisi menuju kepemimpinan antar generasi. Perencanaan suksesi juga diakui oleh penelitian ini sebagai faktor penentu perubahan berkelanjutan, yang berkorelasi dengan pendekatan teoritis dalam teori bisnis keluarga, kekayaan sosioemosional, dan pengembangan modal manusia. Penelitian ini bermanfaat dalam memahami bagaimana agribisnis keluarga dapat ditransformasikan menjadi perusahaan yang dikelola secara profesional tanpa kehilangan nilai-nilai sosioemosional dan warisan perusahaan tersebut. Seperti yang ditunjukkan dalam kerangka kerja yang diusulkan, analisis pekerjaan merupakan kerangka kerja yang efektif untuk mendasarkan restrukturisasi sistem modal manusia, suksesi kepemimpinan, dan daya saing dalam jangka panjang di industri kelapa sawit milik keluarga di Indonesia.
MEKANISME OKSIDASI TEMPERATUR TINGGI PADA PELAPISAN DAN PADUAN FECR : PERAN KARBIDA DAN PENGARUH UKURAN BUTIR
Pelapisan pada material struktural seperti pipa boiler mengalami degradasi diakibatkan oksidasi. Pelapisan digunakan untuk melindungi material dengan membentuk oksida protektif seperti Cr2O3. Pada kenyataannya pembentukan Cr2O3 pada pelapisan memerlukan kandungan Cr yang tinggi, berbeda dengan paduan yang dapat membentuk Cr2O3 dengan kandungan Cr yang rendah. Pelapisan menggunakan serbuk FeCr dan campuran FeCr+Cr3C2-NiCr diaplikasikan menggunakan metoda high velocity oxygen fuel (HVOF). Paduan FeCr dibuat dengan menggunakan spark plasma sintering (SPS) kemudian heat treatment pada suhu 1100 °C selama 2 jam. Penambahan Cr3C2-NiCr pada pelapisan meningkatkan kandungan Cr pada pelapisan. Hasil oksidasi pada suhu 900 °C menunjukkan pelapisan FeCr+Cr3C2-NiCr memberikan ketahanan oksidasi lebih baik dan sebaliknya pada suhu 700 °C memiliki ketahanan oksidasi yang lebih rendah. Analisa XRD dan SEM menunjukkan pada suhu 700 °C terbentuk fasa Cr2O3 tipis yang memberikan ketahanan oksidasi pada pelapisan FeCr. Sedangkan pada suhu 900 °C pelapisan FeCr+Cr3C2-NiCr membentuk fasa FeCr2O4 yang tinggi dan menurunkan fasa Fe2O3 yang terbentuk. Secara termodinamika, karbida akan mengalami dekarburisasi dan membentuk Cr2O3. Paduan FeCr dikarakterisasi menggunakan EBSD untuk melihat ukuran butir. Paduan FeCr-NonHT memiliki ukuran butir lebih kecil dibandingkan dengan FeCr-HT. Kinetika oksidasi pada suhu 700 °C dan 900 °C menunjukkan penurunan penambahan massa pada paduan FeCr-HT. Ukuran butir yang besar mengurangi daerah pembentukan oksida di batas butir. Analisa XRD, SEM dan XPS menunjukkan oksida yang terbentuk pada permukaan paduan FeCr. Fasa yang terbentuk didominasi oleh Cr2O3 dan spinel. Sesuai dengan teori termodinamika Cr2O3 lebih mudah terbentuk.
EFEKTIVITAS NIRA NIPAH (NYPA FRUTICANS) SEBAGAI PENGGANTI MOLASE UNTUK APLIKASI BIOSTIMULASI DALAM TEKNOLOGI MEOR (MICROBIAL ENHANCED OIL RECOVERY)
MEOR (Microbial Enhanced Oil Recovery) merupakan metode Enhanced Oil Recovery yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk meningkatkan perolehan minyak dan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber karbon sebagai nutrisi mikroorganisme. Molase umum digunakan sebagai sumber karbon, tetapi ketersediaannya dipengaruhi oleh dinamika pasar industri, sehingga harganya cenderung fluktuatif. Nira nipah (Nypa fruticans) merupakan cairan manis kaya akan gula, berasal dari tanaman nipah (Nypa fruticans) yang populasinya berlimpah di pesisir pantai Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas nira nipah (Nypa fruticans) sebagai sumber karbon alternatif untuk mensubstitusi molase dalam aplikasi MEOR pada reservoir minyak Jambi. Metode penelitian meliputi inkubasi selama 5 hari medium berisi brine water dan crude oil sebagai sampel kontrol, sementara sampel perlakuan ditambahkan NPK, DAP, dan nira nipah atau molase dengan pengamatan parameter profil pertumbuhan bakteri, perubahan pH, indeks emulsifikasi (E24), penurunan tegangan antarmuka (Interfacial Tension/IFT), perubahan viskositas minyak, serta analisis SARA (Saturated, Aromatic, Resin, Asphaltene). Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan bakteri sampel nira nipah sebesar 2,146 hari-1, sedangkan molase 2,723 hari-1, dengan densitas akhir keduanya berada di sekitar 8,45 log CFU/mL. Pada parameter tegangan permukaan, penurunan IFT dan pembentukan emulsi (E24) nira nipah lebih besar (masing-masing 33,14% dan 61,30%) dibandingkan molase (masing-masing 14,49% dan 60,13%). Kestabilan emulsi sampel nira nipah didukung oleh produksi asam organik yang tinggi, sehingga mencapai pH 5,35 (molase 6,37). Sebaliknya, media molase lebih unggul dalam menurunkan viskositas minyak (23,84%) dibandingkan nira nipah (7,42%). Berdasarkan analisis SARA, konsentrasi fraksi saturated dan resin pada sampel molase mengalami pola naik-turun yang lebih besar serta menghasilkan endapan asphaltene (5%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan nira nipah (2%). Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa nira nipah efektif diaplikasikan sebagai pengganti molase untuk aplikasi biostimulasi dalam teknologi MEOR.