📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

STRATEGI BERBASIS AHP UNTUK KEBERLANJUTAN BISNIS OPERATOR TRANSPORTASI PUBLIK DI INDONESIA

Studi ini menyusun dan menguji suatu proses pengambilan keputusan bagi Metro Line Jakarta (MLJ) dengan menilai opsi-opsi strategis melalui pendekatan mixed-methods yang dirancang secara jelas untuk mendukung business sustainability jangka panjang dalam konteks angkutan umum perkeretaapian perkotaan (urban rail public transportation). Elemen kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan para eksekutif MLJ dan pemangku kepentingan eksternal, yang kemudian direkam, ditranskrip, dikodekan ke dalam tema-tema utama (strategi, tata kelola, keuangan, operasi, isu pemangku kepentingan, risiko), ditelaah dan dikroscek antar kelompok responden, serta divalidasi menggunakan dokumen sekunder untuk melakukan triangulasi dan meminimalkan bias. Bagian kuantitatif mencakup kajian data sekunder yang tersedia serta pelaksanaan survei Analytic Hierarchy Process (AHP) kepada enam responden; seluruh jawaban kemudian diolah menggunakan AHP On-Line Software untuk memeriksa nilai rasio konsistensi. Kondisi keuangan MLJ menunjukkan bahwa pada tahun 2024 tiga sumber pendapatan bergerak ke arah yang berbeda: subsidi mencapai 55,21% dari pendapatan operasi, non-fare sebesar 23,96% (sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, terutama karena penyesuaian ulang kontrak dan keterlambatan perizinan), dan fare sebesar 20,83%. Beban depresiasi yang besar timbul akibat besarnya aset tetap perkeretaapian yang dimiliki MLJ (depresiasi sekitar 38% dari total pendapatan tahunan MLJ). Seperti disebutkan sebelumnya, pendapatan fare mengikuti tren ridership, sedangkan pendapatan non-farebox menunjukkan pertumbuhan yang moderat. Keterbatasan yang teridentifikasi dari wawancara meliputi akuisisi dan penguasaan lahan, perizinan, serta kredibilitas pasar untuk layanan pelatihan dan konsultasi. Proses Strategi menggunakan PESTLE dan SWOT untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang penting, menerapkan Kepner Tregoe (KT) Decision Analysis untuk menyaring ide berdasarkan persyaratan yang harus dipenuhi, kemudian menggunakan AHP untuk memberi skor dan memeringkat alternatif berdasarkan kriteria yang merepresentasikan tujuan dan kendala MLJ. Model AHP menggunakan empat kriteria utama: Financial, Operations, Reputation/Stakeholder Perceptions, dan Legal/Regulatory. Tiga alternatif dianalisis. Alternative A (Non-farebox Enhancement) mengusulkan perluasan pendapatan dari ritel, iklan, naming rights dan proyek transit-oriented development (TOD) untuk menghasilkan pendapatan komersial yang stabil. Alternative B (Holding and Subsidiaries Re-strategy) bertujuan memperjelas peran anak perusahaan, menghilangkan tumpang tindih, dan memosisikan anak perusahaan agar menawarkan produk/jasa yang unik. Alternative C (Infrastructure Asset Restructuring) berupaya mengalihkan MLJ menuju pure operator model dengan memindahkan aset berat untuk menurunkan tekanan depresiasi dan mengelola biaya sewa/konsesi baru yang terkait. Alternative A ditetapkan sebagai pilihan utama dengan global priority sebesar 40,74%. Sensitivity testing dengan mengubah bobot pada kriteria utama sebesar +/- 10–20 persen tidak mengubah urutan peringkat alternatif. Berdasarkan hasil tersebut, rencana yang direkomendasikan berfokus pada dua workstream: mewujudkan transit-oriented development (TOD) yang bankable dan mengembangkan MLJ Academy menjadi produk yang berulang (repeatable product). Sebagai tuas kebijakan pendukung, rumus subsidi disarankan untuk direvisi sehingga sebagian pembayaran dikaitkan dengan ridership dan kualitas layanan, sambil tetap menjaga keterjangkauan melalui batas atas dan batas bawah yang jelas. Langkah-langkah ini diharapkan meningkatkan rata-rata pendapatan per kontrak, menurunkan ketergantungan pada subsidi, dan menyediakan template yang dapat direplikasi di lokasi-lokasi berikutnya. Penelitian ini menghasilkan dua kontribusi utama. Pertama, penelitian menunjukkan bagaimana operator urban rail tingkat kota di negara berkembang dapat mengombinasikan property-based value generation dan service-based revenue generation untuk menyeimbangkan sumber pendapatannya di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Kedua, penelitian ini menyajikan metodologi KT + AHP yang sederhana dan dapat direplikasi, yang mengubah beragam bukti dan pendapat pakar menjadi peringkat preferensi yang valid untuk memandu operator perkeretaapian perkotaan lain dengan kendala yang serupa.

2026
👤 Penulis: Novi Yohanna
🏷️ Analisis Keputusan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH KULTIVASI LUAR RUANGAN TERHADAP PRODUKSI LIPID DAN KOMPONEN FAME CONTICRIBRA SP. TBI SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL

Kebutuhan bahan bakar dari tahun ke tahun terus meningkat, sementara ketersediaannya semakin terbatas khususnya untuk bahan bakar berbasis fosil. Mikroalga berpotensi sebagai bahan baku biodiesel karena kandungan lipidnya yang dapat dikonversi menjadi FAME (Metil Ester Asam Lemak). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kultivasi mikroalga laut di luar ruangan terhadap kadar lipid dan komposisi FAME. Sampel yang digunakan adalah kultur mikroalga yang berasal dari perairan pantai Pulau Bidadari, Teluk Jakarta (selanjutnya disebut sebagai kultur TBI). Kultur TBI dimurnikan dengan metode pengenceran berseri dan dikultivasi berulang hingga diperoleh kurva pertumbuhan. Spesies sampel diidentifikasi secara genetik menggunakan analisis urutan gen penanda 18S rRNA dan rbcL serta secara morofologi berdasarkan citra sel di bawah mikroskop cahaya. Lipid diisolasi dari kultur TBI dengan metode sohxlet dan dikonversi menjadi FAME melalui reaksi transesterifikasi. Karakteristik FAME yang dihasilkan dianalisis dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan kultur TBI memiliki tiga fase pertumbuhan, yaitu fase logaritma (hari ke-0-8), fase stasioner (hari ke-9-14), dan fase kematian (dimulai hari ke 14). Analisis urutan nukleotida fragmen gen dan pohon filogenetik menunjukkan bahwa kultur TBI berkerabat terdekat dengan Conticribra weissflogii berdasarkan gen 18S rRNA, sedangkan berdasarkan gen rbcL kultur TBI berkerabat dekat dengan tiga diatom yaitu Conticribra weissflogii, Thlassiosira weissflogii, dan Thalassiosira gessnerii. Analisis morfologi menunjukkan bahwa kultur TBI lebih mirip dengan C. Weissflogii. Oleh karena itu, sampel kultur diidentifikasi sebagai Conticribra sp. galur TBI. Kadar lipid kultur TBI di luar ruangan yang dipanen pada awal fase stasioner (hari ke-10; 3,84 × 10-9 g/sel) lebih tinggi daripada kultur di dalam ruangan yang dipanen di fase yang sama (1,92 × 10-9 g/sel). Sementara kadar lipid kultur TBI di dalam ruangan yang dipanen di awal fase stasioner tersebut lebih besar sedikit saja dari kultur yang dipanen di pertengahan fase logaritma (hari ke-6; 1,44 × 10-9 g/sel). Komposisi FAME, asam lemak jenuh (SFA) : asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) : asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), dari kultur di luar ruangan (fase stasioner, hari ke-10), kultur di dalam ruangan (fase stasioner, hari ke-10), dan kultur di dalam ruangan (fase logaritma, hari ke-6) secara berturut-turut adalah 40,45 : 48,92 : 9,74, 33,01 : 50,07 : 16,92, dan 4,60 : 6,23 : 89,17. Sehingga, FAME hasil kultivasi luar ruangan merupakan bahan baku yang paling sesuai untuk aplikasi biodiesel.

2026
👤 Penulis: Khansa Luthfiyah Ariqah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS NANOPARTIKEL MG(OH)? MENGGUNAKAN CAPPING AGENT CETYLTRIMETHYLAMMONIUM BROMIDE (CTAB) DAN [BMIM]CL

Studi ini mengkaji pembuatan nanopartikel Magnesium Hidroksida (Mg(OH)2) menggunakan 1-butil-3-metilimidazolium klorida ([BMIM]Cl) dan cetyltrimethylammonium bromide (CTAB) sebagai capping agent (capping agent). Magnesium Hidroksida sering digunakan sebagai agen penetral limbah air dan gas, sebagai tambahan dalam pupuk, dan sebagai komponen antasida dalam obat-obatan. Sumber utama Magnesium Hidroksida dalam studi ini adalah bittern, larutan yang diperoleh dari produk sampingan produksi garam NaCl, yang kaya akan magnesium klorida. Karakterisasi nanopartikel dilakukan menggunakan beberapa teknik, termasuk Mikroskop Elektron Transmisi (TEM) dan Difraksi Sinar-X (XRD). Temuan menunjukkan bahwa penambahan CTAB biasanya mengurangi ukuran partikel dan aglomerasi hingga konsentrasi optimal 0,05 M, menghasilkan ukuran partikel minimum rata-rata 58,72 nm. Namun demikian, penambahan CTAB di atas ambang batas optimal secara signifikan meningkatkan aglomerasi sebagai hasil dari flokulasi jembatan. Penambahan [BMIM]Cl menghasilkan munculnya senyawa dominan lainnya, khususnya Magnesium Klorida, namun tetap mempertahankan Magnesium Hidroksida. Data XRD menunjukkan bahwa fase dominan yang dihasilkan dengan [BMIM]Cl adalah Magnesium Klorida, sedangkan dengan CTAB, fase dominannya adalah Magnesium Hidroksida. Akibatnya, agen pelapis berbasis surfaktan seperti CTAB lebih efektif dalam menghasilkan nanopartikel Mg(OH)? yang kecil dan homogen dengan aglomerasi rendah pada konsentrasi optimal.

2026
👤 Penulis: Stenly Saut Martua
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN KEAUSAN SISTEM GERAK MAKAN BERDASARKAN JUMLAH PUTARAN BALLSCREW

Ballscrew merupakan komponen utama pada sistem gerak makan mesin CNC yang berperan penting dalam menjaga akurasi posisi dan kualitas pemesinan. Seiring bertambahnya waktu operasi, ballscrew mengalami keausan yang menyebabkan penurunan preload dan peningkatan backlash, sehingga menurunkan kinerja sistem secara keseluruhan. Pemantauan kondisi ballscrew secara konvensional umumnya memerlukan pembongkaran mesin, yang tidak efisien dan sulit diterapkan pada lingkungan industri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemantauan keausan ballscrew tanpa pembongkaran mesin serta menganalisis beberapa pendekatan berbasis data eksperimen dalam memodelkan keausan ballscrew berdasarkan jumlah putaran. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data arus servo motor terhadap jumlah putaran ballscrew, yang dikonversikan menjadi indikator preload, serta data keausan ballscrew yang diperoleh melalui pengukuran laser. Pemodelan degradasi dilakukan menggunakan tiga metode berbasis data, yaitu regresi polinomial, Support Vector Regression (SVR), dan Gaussian Process Regression (GPR). Masing-masing metode diterapkan untuk memodelkan preload, keausan, serta model gabungan preload dan keausan sebagai fungsi dari jumlah putaran ballscrew. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah putaran ballscrew merupakan parameter yang efektif dalam merepresentasikan degradasi sistem gerak makan. Regresi polinomial mampu menggambarkan tren degradasi pada rentang data eksperimen, namun memiliki keterbatasan dalam prediksi jangka panjang. SVR menunjukkan performa yang lebih stabil dan tahan terhadap noise data, sedangkan GPR memberikan keunggulan tambahan berupa estimasi ketidakpastian prediksi melalui interval kepercayaan. Secara keseluruhan, pendekatan berbasis data, khususnya GPR, memiliki potensi yang baik untuk diterapkan dalam pemantauan kondisi dan perawatan prediktif ballscrew pada mesin CNC.

2026
👤 Penulis: Muhammad Al-Farisi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Eksperimen 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBUATAN, KARAKTERISASI, DAN STUDI PENCERNAAN IN VITRO KOMPLEKS INKLUSI ANTARA PATI DENGAN SENYAWA TURUNAN ASAM BUTIRAT

Pati merupakan polisakarida yang tersusun atas ?-D-glukosa yang mudah terhidrolisis pada saluran pencernaan. Pembentukan kompleks inklusi merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menurunkan laju hidrolisis pati. Senyawa turunan asam butirat merupakan asam lemak rantai pendek yang berpotensi sebagai agen anti-obesitas. Namun, senyawa butirat memiliki kelemahan, seperti bau dan rasa yang tidak sedap serta kestabilan yang rendah. Penelitian ini bertujuan membuat kompleks inklusi antara pati dengan senyawa turunan asam butirat (etil butirat, metil butirat, butil butirat, propil butirat, sodium butirat, dan asam butirat) serta melakukan karakterisasi fisikokimia dan studi pencernaan in vitro. Kompleks pati–butirat dibuat dengan variasi konsentrasi molekul tamu sebesar 3, 5, 7, dan 9% (b/b terhadap massa pati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleks inklusi pati–butirat berhasil dibuat, yakni berdasarkan data karakterisasi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), mikroskop polarisasi, Scanning Electron Microscopy (SEM), X-ray Diffraction (XRD), uji derajat penggembungan, dan uji degradasi enzimatis menggunakan ?-amilase. Berdasarkan spektrum FTIR, puncak dari senyawa butirat tidak muncul pada spektrum kompleks inklusi pati. Hal ini menandakan terbentuknya kompleks inklusi pati dengan senyawa butirat yang berada di dalam rongga amilosa. Hal ini didukung oleh citra mikroskop polarisasi dan SEM yang menunjukkan adanya perbedaan polarisasi dan morfologi antara pati dengan kompleks pati–butirat. Berdasarkan analisis XRD, diperoleh bahwa kompleks pati–butirat memiliki struktur yang dominan amorf. Melalui pengujian derajat penggembungan, diperoleh derajat penggembungan kompleks pati-butirat (20–25 mL/g) lebih rendah dibandingkan dengan pati (28–31 mL/g). Berdasarkan studi pencernaan in vitro melalui uji degradasi enzimatis, diperoleh bahwa kompleks pati–butirat memiliki ketahanan hidrolisis yang lebih kuat dibandingkan dengan pati. Pada waktu tak hingga, pati terhidrolisis hingga 83%, sedangkan kompleks pati-butirat hanya terhidrolisis sebesar 27–53%. Kompleks pati–butirat berhasil menunjukkan penurunan laju hidrolisis pati. Hal ini menjadikan kompleks inklusi pati–butirat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pati lambat cerna. Kata kunci: kompleks inklusi, pati, studi pencernaan

2026
👤 Penulis: Ratu Nabila Putri Firdaus
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ADSORPSI ION CU(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN KOMPOSIT SERBUK BIJI PEPAYA-ALGINAT-MAGNETIT

Ion Cu(II) merupakan polutan yang sering ditemukan dalam limbah industri pelapisan logam, pertambangan, pengolahan logam, dan industri tekstil. Paparan ion Cu(II) dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko kesehatan termasuk gangguan pencernaan, kerusakan hati, hingga kanker paru-paru. Penelitian ini bertujuan untuk membuat adsorben komposit serbuk biji pepaya-alginat-magnetit (BPAM) dan mengkarakterisasi adsorben komposit tersebut. Selain itu, ditentukan pula kondisi optimum dan model kinetika, isoterm, dan termodinamika adsorpsi ion Cu(II) oleh BPAM. Adsorben komposit BPAM telah berhasil disintesis dan dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy- Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS), dan X-ray Diffraction (XRD). Variasi komposisi BPAM menghasilkan kapasitas optimum pada perbandingan 3% biji pepaya: 3% alginat: 1% magnetit (w/v). Hasil karakterisasi FTIR, menunjukkan bahwa gugus fungsi O-H dan C=O berperan dalam proses adsorpsi ion Cu(II). Berdasarkan citra SEM, diperoleh informasi adsorben komposit BPAM tidak berbentuk bulat sempurna dan permukaan menjadi lebih rata setelah proses adsorpsi dilakukan. Selain itu, hasil pemetaan EDS menunjukkan keberadaan unsur Cu pada adsorben BPAM setelah adsorpsi. Hasil optimasi adsorpsi mengonfirmasi bahwa kondisi optimum adsorpsi ion Cu(II) oleh adsorben komposit BPAM tercapai pada pH 5, massa adsorben 0,125 g, dan waktu kontak 4 jam dengan kapasitas adsorpsi maksimum (Qmaks) sebesar 42,27 mg/g. Proses adsorpsi ini mengikuti model kinetika orde satu semu, model isoterm Langmuir, dan bersifat eksotermik. Hasil studi adsorpsi-desorpsi menunjukkan bahwa adsorben berpotensi untuk digunakan berulang dengan larutan pendesorpsi paling baik adalah larutan HNO3 0,01 M.

2026
👤 Penulis: Az Zahra Faradika Fildzah K
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN PARAMETER WANGGI TINUNG DI KECAMATAN KAMBERA DAN KECAMATAN KANATANG

Industri tenun ikat merupakan sektor UMKM terbesar di Sumba Timur dan berperan sebagai sumber penghidupan bagi banyak perempuan, sekaligus menjadi bagian penting dari identitas dan nilai tradisional masyarakat setempat. Aktivitas menenun yang seharusnya di lestarikan ini menghadapi tantangan karena upaya pelestarian melalui perancangan alat tenun selama ini masih didominasi pendekatan teknis semata sehingga nilai - nilai tradisional belum terakomodasi dengan baik. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini b ertujuan mengembangkan parameter perancangan alat tenun ( wanggi tinung) yang mampu mengakomodasi proses tenun tradisional dan modern untuk memenuhi kebutuhan pengguna serta menyesuaikan dengan konteks dan fungsionalitas. Penelitian ini mengintegrasikan metode ATUMICS, Axiomatic Design (AD) , dan TRIZ untuk merumuskan parameter desain yang menjaga nilai tradisional sekaligus memenuhi kebutuhan fungsional alat tenun . Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi customer needs (CN) , elemen tradisi yang perlu dipertahankan, serta permasalahan teknis yang muncul . Temuan tersebut selanjutnya dipetakan melalui kerangka AD untuk menghasilkan hubungan functional requirements (FR) da n Design Parameter (DP) , serta diselesaikan menggunakan prinsip - prinsip TRIZ ketika ditemukan kontradiksi desain yang membutuhkan solusi inovatif. Analisis observasi melalui pendekatan tematik menunjukkan bahwa temuan lapangan dapat dipetakan ke elemen - elemen ATUMICS dengan fokus pada shape sebagai dasar pertimbangan utama dalam perbaikan bentuk alat tenun. Proses ini menghasilkan 23 CN yang kemudian diterjemahkan melalui kerangka AD dan diselesaikan dengan TRIZ sehingga terbentuk 24 FR dan 24 DP sebagai landasan desain. Dari DP tersebut dirumuskan enam parameter perancangan kunci , yaitu sistem pengatur tegangan tubuh, tilang, sistem penahan ujung lua r tenunan, sistem pemisah lungsin atas dan bawah, tuka, dan sistem pemadat benang pakan .

2026
👤 Penulis: Keisha Ayu Sudiro
🏷️ Desain Produk 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Teknologi Inovatif

KAJIAN EKSPERIMENTAL PERILAKU SAMBUNGAN MOMEN END-PLATE DENGAN MENGGUNAKAN SEISMIC GRADE MATERIAL SN400B

Indonesia memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi, sehingga kinerja sambungan balok–kolom pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) menjadi faktor penting dalam menjamin kemampuan deformasi plastis dan disipasi energi struktur. Salah satu sambungan momen yang telah terprakualifikasi adalah Bolted Unstiffened Extended End-Plate (BUEEP) Connection sesuai SNI 7860:2020 dan SNI 7972:2020. Selain konfigurasi sambungan, mutu material baja turut mempengaruhi respons siklik sambungan, khususnya pada perbandingan antara baja seismic-grade SN400B dan baja standard SS400. Penelitian ini mengevaluasi secara eksperimental perilaku sambungan momen BUEEP dengan membandingkan kedua material tersebut melalui pengujian dua spesimen skala penuh berkonfigurasi identik berupa spesimen 1 (SS400) dan spesimen 2 (SN400B). Program pengujian meliputi uji tarik kupon, uji komposisi kimia menggunakan SEM–EDS, serta uji siklik sambungan balok–kolom. Parameter yang dianalisis mencakup kekuatan, kekakuan, perilaku histeresis, kapasitas deformasi plastis, regangan, dan disipasi energi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Spesimen 2 memenuhi persyaratan sifat mekanis dan kimia material berdasarkan standar JIS, sedangkan Spesimen 1 tidak sepenuhnya memenuhi persyaratan tersebut. Uji tarik kupon menunjukkan bahwa Spesimen 1 memiliki kecenderungan kekuatan yang lebih tinggi, namun dengan kapasitas deformasi plastis dan daktilitas yang lebih rendah. Hal ini didukung oleh hasil uji komposisi kimia yang menunjukkan kandungan sulfur (S) yang lebih tinggi sebagai unsur pengotor pada Spesimen 1 serta kandungan silikon (Si) yang berkontribusi terhadap peningkatan kekuatan, di mana kombinasi tersebut berdampak pada penurunan daktilitas material. Pada pengujian siklik, Spesimen 1 menunjukkan kapasitas kekuatan yang relatif lebih tinggi, tetapi dengan degradasi kekakuan dan kemampuan deformasi plastis yang lebih terbatas, sedangkan Spesimen 2 menunjukkan perilaku histeresis yang lebih stabil, disipasi energi yang lebih besar, dan degradasi kekakuan yang lebih terkendali. Secara keseluruhan, hasil uji mekanis, kimia, dan siklik menunjukkan kecenderungan yang konsisten. Sambungan BUEEP dengan material SS400 memperlihatkan perilaku yang secara umum mendekati SN400B dan masih memenuhi persyaratan SNI 7860:2020 dan SNI 7972:2020, meskipun dengan tingkat daktilitas yang lebih rendah.

2026
👤 Penulis: Andi Alfian Jayusman
🏷️ Seismologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PROYEK SMARTKOS: MERANCANG PLATFORM DIGITAL UNTUK PENGELOLAAN KOS INFORMAL - ANALISIS TAM DAN LEAN STARTUP

Sebagian besar pemilik kos Jakarta masih mengelola 5–20 kamar secara konvensional: mencatat detail penyewa di buku, menagih sewa tunai, dan mengoordinasikan perbaikan melalui percakapan WhatsApp. Pola ini terasa nyaman tetapi menimbulkan inefisiensi; pemilik menghabiskan banyak jam setiap bulan merekonsiliasi catatan yang tersebar, mengejar pembayaran terlambat dari sekitar seperlima penyewa, dan menanggung biaya pemeliharaan reaktif yang terus meningkat. Platform teknologi properti yang ada terutama melayani pengelola apartemen mewah atau pasar penyewa berskala besar sehingga kebutuhan operator kos mikro tetap kurang terjawab. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pemilik informal dapat mengadopsi solusi digital melalui SmartKos sebagai contoh platform yang dirancang khusus untuk segmen ini. Metodologi mengandalkan wawancara semi-terstruktur dengan sebelas pelaku dalam ekosistem sewa kos di Jakarta (pemilik, administrator, dan penyewa) yang dikombinasikan dengan pembandingan sistematis terhadap platform sejenis. Analisis menggunakan Technology Acceptance Model untuk mengidentifikasi pendorong adopsi, dan prinsip Lean Startup untuk menstruktur siklus bangun– ukur–pelajari, yang menghasilkan Business Model Canvas untuk menjelaskan posisi SmartKos dalam lanskap PropTech Indonesia. Tiga kesulitan operasional muncul berulang dan secara agregat menguras biaya per tahun dari properti tipikal berkapasitas 15 kamar: rekaman keuangan terfragmentasi, friksi koordinasi pembayaran, serta keterbatasan visibilitas terhadap status pemeliharaan. WhatsApp menjadi kanal komunikasi utama tetapi tidak menyediakan struktur untuk mengubah percakapan sehari-hari menjadi jejak pencatatan yang dapat diaudit. Rekomendasi berfokus pada penetapan harga freemium yang selaras dengan plafon kesediaan membayar sekitar IDR 50.000 per bulan, peluncuran fitur bertahap guna menguji penerimaan perilaku sebelum perluasan fungsi, dan akuisisi pelanggan melalui iklan langsung alih-alih hanya mengandalkan rujukan antarpemilik. Implementasi diusulkan berlangsung dalam tiga tahap selama 12 bulan dan didukung kerangka analitis terintegrasi yang menegaskan bahwa konteks informal menuntut penyesuaian terhadap model penerimaan teknologi yang lazim di lingkungan formal.

2026
👤 Penulis: Esri Hestiningtyas
🏷️ Teknologi Properti 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGEMBANGAN SISTEM AI AGENT GEOSPASIAL MULTIMODAL (STUDI KASUS: PEMERIKSAAN STASIUN RADIO MICROWAVE LINK)

Pemeriksaan izin stasiun radio (ISR) microwave link merupakan fungsi kritis dalam pengelolaan spektrum frekuensi radio yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Monitor Spektrum Frekuensi Radio (SFR) Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital. Saat ini, proses pemeriksaan masih bersifat semi-manual, meliputi identifikasi anomali data izin (jarak link dan pergeseran koordinat lokasi), analisis potensi interferensi antar link, dan ekstraksi parameter teknis dari screenshot konfigurasi perangkat. Proses ini memerlukan waktu lama (rata-rata 60 menit per siklus analisis), sumber daya manusia besar, dan rentan terhadap kesalahan. Penelitian ini mengusulkan pengembangan sistem multimodal artificial intelligence (AI) agent geospasial yang dapat melakukan deteksi anomali jarak link (< 20 m atau > 200 km) dan pergeseran koordinat lokasi (> 20 m), analisis potensi interferensi berbasis analisis spasial-frekuensi, ekstraksi otomatis teks konfigurasi dari screenshot menggunakan vision-language model, dan visualisasi interaktif hasil analisis pada peta digital dengan fitur filtering berdasarkan wilayah, klien, dan rentang frekuensi. Sistem dirancang menggunakan arsitektur tool-calling agent berbasis large language model (LLM) dengan beberapa modul terintegrasi: (1) modul deteksi anomali berbasis aturan (rule-based) untuk memeriksa konsistensi data izin sesuai standar operasional prosedur (SOP) Ditjen SDPPI; (2) modul analisis interferensi yang menggunakan spatial indexing (BallTree) dan frequency overlap detection untuk mengidentifikasi potensi gangguan co-channel dan adjacent-channel; (3) modul ekstraksi teks dari screenshot menggunakan vision-language model dan optical character recognition (OCR); serta (4) modul visualisasi geospasial menggunakan peta interaktif dengan fitur filter dinamis. Sistem diimplementasikan menggunakan Python dengan integrasi Telegram chatbot sebagai antarmuka pengguna berbasis bahasa natural. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem berhasil meningkatkan efisiensi waktu analisis sebesar 99,95% (dari 60 menit menjadi 2,81 detik menggunakan Gemini Flash-Lite), dengan akurasi deteksi anomali mencapai 100% dan akurasi identifikasi kandidat interferensi mencapai 95,3% dibandingkan validasi manual. Tool-calling agent mencapai akurasi rata-rata 0,95 dalam pemilihan tools dan parameter yang tepat, dengan model Claude Haiku 4.5 mencatat akurasi tertinggi sebesar 0,98 ± 0,13. Biaya operasional sistem 99,95% lebih rendah dibandingkan solusi komersial seperti Tableau (USD 0,035 vs USD 70/bulan). Evaluasi usability menunjukkan bahwa 100% responden teknisi UPT Monitor SFR menilai antarmuka Telegram mudah digunakan, dengan pencarian ISR di sekitar lokasi lapangan 75% lebih cepat dibanding metode manual (15 detik vs 60 detik). Sistem ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada solusi berbayar, meningkatkan aksesibilitas bagi institusi pemerintah dengan keterbatasan anggaran, dan mempercepat proses pemeriksaan stasiun radio melalui antarmuka yang intuitif dan mobile-friendly.

2026
👤 Penulis: Ahmad Saufi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Geospasial

MENGEVALUASI INEFISIENSI OPERASIONAL DAN MENINGKATKAN PRAKTIK BERKELANJUTAN UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA KEUANGAN DI AXIA TEKINDO SEMESTA

PT Axia Tekindo Semesta menumbuhkan pendapatannya sebesar 73,4% dari IDR 32,99 miliar (2022) menjadi IDR 57,20 miliar (2024), namun margin operasi menurun menjadi 6,50% tanpa peningkatan EBITDA. Penelitian ini menemukan inefisiensi operasional yang menyebabkan paradoks ini dengan bantuan alat-alat seperti Activity-Based Costing, Time-Driven Costing, dan Value Stream Mapping, Porter's Value Chain, yang divalidasi melalui benchmarking APICS, WERC, dan CSCMP. Tujuh inefisiensi dengan biaya IDR 1,36-1,79 miliar/tahun (37-48% laba operasi) ditemukan termasuk penurunan perputaran persediaan, produktivitas gudang 16 versus 20-25 pesanan/jam-tenaga kerja, pemborosan ERP IDR 243-282 juta, premi transportasi 11-25%, kematangan teknologi 40/75, dan kinerja 62. Peta jalan tiga tahap senilai IDR 1,54 miliar dengan penghematan IDR 2,32 miliar per tahun meningkatkan margin perusahaan dari 6,50% menjadi 10,56%. Fase 1 (bulan 1-6): investasi IDR 165 juta untuk penghematan IDR 678 juta. Fase 2 (bulan 6-18): IDR 750 juta untuk penghematan IDR 573 juta. Fase 3 (bulan 12-24): IDR 625 juta untuk penghematan IDR 1,07 miliar. Kinerja di atas rata-rata dalam model ini dapat dicapai dalam 24 bulan melalui model pembiayaan mandiri. Penelitian ini menunjukkan kombinasi yang berhasil dari berbagai model analisis di pasar berkembang dan menawarkan bukti empiris bahwa implementasi terorganisir dari praktik terbaik dapat menyelesaikan masalah inefisiensi operasional pada distributor berukuran menengah yang mengalami ketidakselarasan pertumbuhan-profitabilitas.

2026
👤 Penulis: Faldy Ilman Fariski
🏷️ Kepatuhanan Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Perusahaan

REKOMENDASI PENGENDALIAN RISIKO OPERASI ALAT BERAT PADA INDUSTRI PERTAMBANGAN MELALUI WALK-THROUGH TALK-THROUGH DENGAN THEMATIC ANALYSIS DAN INTERVENTION MAPPING DI PT XYZ

Operasi alat berat pada pertambangan terbuka memiliki risiko tinggi akibat dinamika lingkungan kerja yang sangat fluktuatif. Namun demikian, variasi kondisi fisik dan operasional di area kerja sering kali belum terakomodasi sepenuhnya dalam prosedur pengendalian formal. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekomendasi pengendalian risiko operasional di PT XYZ dengan memetakan praktik kerja aktual (Work-as-Done) guna menjembatani kesenjangan dengan prosedur baku. Fokus analisis diarahkan secara spesifik pada aktivitas front, hauling, dan disposal untuk mengidentifikasi error traps yang terbentuk dari interaksi sistem kerja sehari-hari. Dengan pendekatan ini, strategi mitigasi dirancang agar lebih adaptif terhadap tantangan nyata di lapangan dan bukan sekadar pemenuhan administratif. Pengumpulan data lapangan secara mendalam menggunakan metode Walk-Through Talk-Through (WTTT) yang dipadukan dengan analisis tematik berhasil mengidentifikasi tiga domain risiko utama yang memerlukan penguatan pengendalian operasional secara menyeluruh. Merespons temuan tersebut, strategi Intervention Mapping merumuskan pengendalian Paket A untuk memitigasi keterbatasan visual melalui penetapan protokol komunikasi baku serta validasi titik buta di area kritis agar informasi antarunit lebih jelas. Selanjutnya, pengendalian Paket B difokuskan pada manajemen risiko fisik melalui penerapan sistem inspeksi jalur berbasis keputusan objektif yang memberdayakan pengawas untuk memastikan kelayakan area kerja sebelum operasi dimulai. Pengendalian Paket C disusun secara kontekstual sesuai karakteristik lokasi, di mana Site A menerapkan manajemen ritme kerja aman untuk mencegah kelelahan, sedangkan Site P menargetkan disiplin penataan area berhenti dan keselamatan manuver di ruang sempit. Keseluruhan rekomendasi pengendalian ini mengintegrasikan perubahan perilaku operator dengan penguatan dukungan sistem organisasi, yang selanjutnya disarankan untuk divalidasi melalui uji coba implementasi terbatas (pilot testing) guna mengukur efektivitasnya secara nyata.

2026
👤 Penulis: Jovinove Emmanuel
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN NANOEKSTRAK SKLEROTESTA BIJI MELINJO (GNETUM GNEMON L.) DAN STUDI POTENSINYA SEBAGAI ANTIAGING ALAMI MELALUI AKSI MODULASI PROSES PENUAAN

Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh hampir di seluruh provinsi di Indonesia yang diketahui mengandung senyawa golongan stillbenoid di antaranya resveratrol sebagai antioksidan. Resveratrol diketahui mempunyai mekanisme kerja mengaktivasi ekspresi protein sirtuin1 SIRT1 secara langsung, dimana SIRT1 merupakan salah satu protein yang berperan mengendalikan proses penuaan/aging. Aging merupakan proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, yang terjadi pada seluruh organ tubuh dan merupakan faktor risiko morbiditas terkait age-related disease khususnya penyakit degeneratif, dan berpotensi meningkatkan risiko kematian. Potensi luar biasa resveratrol sebagai antiaging dihadapkan dengan rendahnya kelarutan sehingga menurunkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak sklerotesta melinjo sebagai agen antiaging melalui pendekatan nanoteknologi. Sklerotesta biji melinjo yang merupakan limbah diolah menggunakan metode ball milling untuk menghasilkan partikel berskala nanometer untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati resveratrol yang terkandung di dalamnya. Proses nanonisasi ekstrak kering sklerotesta biji melinjo dilakukan secara topdown dengan teknik ball milling kemudian dikarakterisasi sifat fisiko kimianya, dilakukan identifikasi dan penetapan kadar resveratrol menggunakan High Performance Liquid Chromatography untuk memastikan bioaktif dalam nanoekstrak tetap mempunyai daya antiaging. Proses ini meningkatkan kelarutan dan efektivitas farmasetikanya, sehingga menjadikannya alternatif bahan baku farmasetika yang bernilai ekonomi serta ramah lingkungan. Karakterisasi fisiko kimia menunjukkan bahwa nanoekstrak sklerotesta biji melinjo memiliki kelarutan yang lebih baik serta stabilitas yang baik terhadap peningkatan temperatur. Uji in vitro dilakukan pada human dermal fibroblast cell CRL2522 yang diinduksi proses penuaannya menggunakan H2O2. Beberapa parameter yang diamati diantaranya adalah ekspresi SIRT1dan BCL2 yang memperkuat mekanisme terkait antiaging. SIRT1 merupakan protein yang dapat diaktifasi oleh resveratrol sehingga bekerja sebagai antiaging, sedangkan BCL2 merupakan suatu gen anti apoptosis yang dapat mempertahankan keberlangsungan hidup sel. Uji in vivo yang dilakukan bertahap diawali uji aktivitas antiaging menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) galur Wistar dilakukan dengan pemberian nanoekstrak secara oral kemudian dilakukan evaluasi makroskopis dan pengukuran kadar SIRT1. Kemudian untuk mengetahui keamanan nanoekstrak dan profil farmakokinetik dilakukan uji toksisitas akut dan uji farmakokinetik untuk mengetahui profil farmakokinetik nanoekstrak. Uji in vitro pada Human Dermal Fibroblast Cell line (CRL2522) mengungkapkan bahwa nanoekstrak ini memiliki aktivitas antiaging. Mekanisme antiaging dikonfirmasi melalui peningkatan ekspresi SIRT1, yang berperan dalam perbaikan sel, serta BCL2, gen yang menghambat apoptosis. Hasil ini menunjukkan bahwa nanoekstrak mampu memodulasi jalur molekuler yang terkait dengan regenerasi dan perlindungan sel kulit. Pengujian in vivo pada tikus Wistar yang terpapar sinar UVB menunjukkan bahwa pemberian oral nanoekstrak sklerotesta melinjo mampu mengurangi dampak penuaan dengan meminimalisasi munculnya kerutan pada kulit dorsal. Hasil ini mendukung potensinya sebagai agen antiaging oral yang efektif. Pada uji toksisitas akut mengindikasikan bahwa nanoekstrak ini aman untuk konsumsi oral tanpa menunjukkan efek toksik yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil mentransformasikan limbah sklerotesta melinjo menjadi produk nanoekstrak dengan aktivitas antiaging yang terbukti melalui pendekatan in vitro dan in vivo. Keamanan serta efektivitas yang ditunjukkan oleh nanoekstrak ini memperkuat potensinya sebagai kandidat agen antiaging oral yang inovatif dan berkelanjutan. Sebagai penelitian yang mengkaji potensi antiaging dari nanoekstrak sklerotesta biji melinjo, hasil ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan suplemen alami berbasis bahan alam lokal untuk pencegahan aging dan penyakit degeneratif terkait usia. Pengembangan suplemen berbasis nanoekstrak ini dapat memberikan alternatif terapi non-invasif. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengayaan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan bahan alam Indonesia yang bernilai tinggi dalam bidang kesehatan dan farmasi. Penelitian ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengoptimalkan formulasi nanoekstrak dan mengkaji efektivitas jangka panjangnya pada model hewan serta uji klinis pada manusia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan produk berbasis nanoekstrak sklerotesta melinjo di masa depan.

2026
👤 Penulis: Marlina Indriastuti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

OPTIMASI FORMULASI PASTA GIGI BERBASIS BIOSURFAKTAN BACILLUS CLAUSII F7 DAN EVALUASI POTENSI PENGHAMBATANNYA TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MUTANS

Karies gigi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi mencapai 88% di Indonesia. Streptococcus mutans merupakan penyebab utama penyakit ini dengan membentuk plak dan menghasilkan asam di permukaan gigi. Pasta gigi konvensional umumnya menggunakan surfaktan sintetis seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) untuk meningkatkan efikasi pembersihan gigi. Akan tetapi, surfaktan sintetis dalam pasta gigi berpotensi menimbulkan efek samping seperti iritasi mukosa mulut. Penelitian sebelumnya telah mengaplikasikan biosurfaktan dalam formulasi pasta gigi, tetapi masih menghasilkan aktivitas pembusaan yang rendah. Aspek pembusaan pasta gigi berperan penting untuk membantu distribusi bahan aktif dalam pasta gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi biosurfaktan F7 sehingga menghasilkan formulasi pasta gigi dengan karakteristik fisikokimia standar komersial dan efektif untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian dilakukan dengan membuat formulasi pasta gigi sederhana yang ditambahkan biosurfaktan Bacillus clausii F7 (1000 ppm dan 5000 ppm) konsentrasi 0,5%–20% (w/w). Evaluasi fisikokimia dilakukan dengan mengukur daya sebar, pH, dan busa. Potensi penghambatannya terhadap S. mutans diukur melalui profil viabilitas sel, sintesis karbohidrat total ekstraseluler polisakarida (EPS), dan produksi asam laktat. Pasta gigi biosurfaktan terpilih kemudian dievaluasi kualitas dan keamanannya sesuai ISO 11609:2017. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan 5%, 10%, dan 15% (w/w) biosurfaktan F7 5000 ppm secara signifikan meningkatkan kualitas fisikokimia pasta gigi. Konsentrasi biosurfaktan F7 5000 ppm dengan penambahan 5% (w/w) dalam formulasi pasta gigi ditetapkan sebagai konsentrasi optimal karena mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans hingga 85% serta menurunkan produksi asam laktat hingga 60%. Sementara itu, konsetrasi karbohidrat total EPS tidak menunjukkan pengurangan yang signifikan. Formulasi dengan konsentrasi ini juga memenuhi standar ISO 11609:2017, baik aspek fisikokimia maupun mikrobiologis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa 5% (w/w) biosurfaktan F7 5000 ppm merupakan konsentrasi optimal untuk menghasilkan formulasi pasta gigi dengan karakteristik fisikokimia standar mutu komersial dan efektif menghambat pertumbuhan S. mutans.

2026
👤 Penulis: Shipa Ramdhiani Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN STRATEGI RETENSI PELANGGAN BERDASARKAN PERILAKU KONSUMEN DI TOKO DAGING NUSANTARA SOREANG

Industri ritel daging di Indonesia terus mengalami pertumbuhan konsisten seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Toko Daging Nusantara (TDN) merupakan salah satu pemain industri yang mengusung konsep ritel modern dalam mendistribusikan daging segar dan olahan kepada konsumen akhir. TDN juga memperluas lini produk ke berbagai bahan pangan lain sehingga beroperasi layaknya supermarket. Penelitian ini dibatasi pada TDN cabang Soreang, yang dipilih karena memiliki performa omset dan akuisisi pelanggan yang rendah. TDN Soreang mengalami permasalahan nilai CRR (customer retention rate) yang rendah sebesar 36% dibandingkan CRR global (63%). Masalah ini diperkuat dengan temuan bahwa 61,5% pelanggan tidak kembali berbelanja selama lebih dari lima bulan sejak transaksi terakhir. Penelitian ini bertujuan merancang strategi retensi berdasarkan eksplorasi terhadap perilaku pelanggan. Model perilaku yang digunakan mencakup teori Stimulus-Organism-Response (SOR), serta empat model lain yang relevan dengan pembelian ulang di gerai ritel supermarket, yaitu model Chatzoglou, dkk (2022), Anene (2022), Hilal (2022), dan Fitri & Mardikaningsih (2023). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 12 pelanggan dari empat segmen yang dipilih menggunakan teknik judgemental dan convenience sampling. Kemudian, data wawancara dianalisis menggunakan metode analisis tematik induktif dan deduktif. Hasil analisis digunakan untuk menyusun daftar kebutuhan pelanggan yang diklasifikasi dengan model Kano. Daftar kebutuhan akan menjadi dasar perumusan strategi retensi berdasarkan kerangka marketing mix 7P. Alternatif strategi dievaluasi menggunakan matriks penilaian ICE untuk memilih strategi yang paling relevan bagi masing-masing segmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan faktor yang memengaruhi pembelian kembali pada segmen akibat kebutuhan yang berbeda.

2026
👤 Penulis: Kalma Sadiya Djamhoer
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi
Halaman 62 dari 349
💬