📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENGEMBANGAN SISTEM PENGUKURAN KAPASITIF BERBASIS OKSIDA GRAFENA (GO) UNTUK DETEKSI PB2+

Pencemaran air oleh logam berat seperti ion timbal (Pb²?) merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan, terutama di kawasan industri dan perkotaan yang memiliki aktivitas manufaktur dan limbah berbahaya. Meski batas ambang konsentrasi Pb²? telah ditetapkan oleh WHO dan pemerintah Indonesia, beberapa wilayah masih menunjukkan kadar yang melampaui ambang batas tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap kualitas air minum, irigasi, dan kehidupan akuatik. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem deteksi Pb²? yang tidak hanya sensitif dan selektif, tetapi juga efisien secara biaya, mudah digunakan, serta memungkinkan pengukuran di lokasi secara langsung tanpa memerlukan laboratorium khusus. Penelitian ini mengembangkan sensor kapasitif berbasis perubahan fase yang diimobilisasi dengan oksida grafena (graphene oxide, GO) untuk mendeteksi Pb²? dalam air dengan sensitivitas tinggi dan potensi aplikatif di lapangan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berfungsi sebagai tahap persiapan yang berfokus pada perancangan dan pengujian awal sistem sensor kapasitif, dan selanjutnya diujicobakan untuk mendeteksi kadar air dalam biodiesel sebagai model awal untuk menguji sensitivitas sistem terhadap variasi kapasitansi. Sensor menggunakan elektroda semi-silindris tanpa lapisan fungsional, yang dipasang secara non-intrusif pada dinding luar pipa aliran. Tahap ini melibatkan perancangan rangkaian elektronik pengkondisi sinyal, yang terdiri dari konversi kapasitansi ke pergeseran fase, konversi sinyal sinusoidal ke sinyal persegi, dan operasi logika gerbang XOR untuk menghasilkan sinyal pulsa berdurasi spesifik. Sensor diuji dalam mendeteksi kadar air pada biodiesel, menunjukkan hubungan linier antara konsentrasi air (1%–10%) dan output sensor, dengan sensitivitas yang bergantung pada frekuensi dan konfigurasi penguatan sinyal input. Simulasi berbasis fungsi transfer dan bode plot mengkonfirmasi kemampuan deteksi perubahan kapasitansi kecil dalam sistem tersebut. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kondisi optimal terjadi ketika nilai penguatan salah satu sinyal input setengah dari yang lainnya, yang kemudian dikonfirmasi oleh hasil pengukuran aktual. Tahap ini menjadi dasar penting untuk memahami pengaruh variasi kapasitansi terhadap pergeseran fase sebelum diterapkannya material fungsional dalam sistem deteksi spesifik dan selektif. Tahap kedua berfokus pada pengembangan sensor kapasitif untuk deteksi Pb²? dalam air dengan menggunakan elektroda interdigital (Interdigitated Electrode, IDE) yang dilapisi GO sebagai material aktif. Selain itu, dilakukan peningkatan kualitas sistem akuisisi data dan pengolahan sinyal dengan memanfaatkan perangkat Digilent Analog Discovery untuk mereduksi noise dan meningkatkan kestabilan output sensor. GO dipilih sebagai lapisan aktif karena memiliki luas permukaan besar, gugus fungsional reaktif (seperti hidroksil, epoksi, dan karboksil), serta kemampuan selektif terhadap Pb²? yang tinggi. Interaksi Pb²? dengan permukaan GO menyebabkan perubahan distribusi muatan dan nilai kapasitansi antara jari-jari elektroda IDE, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pergeseran fase sinyal melalui sistem elektronik yang telah dirancang. Seluruh proses pengukuran dan visualisasi data dilakukan melalui perangkat lunak berbasis Python yang terintegrasi dengan antarmuka pengguna. Untuk memastikan keberhasilan proses imobilisasi GO, dilakukan analisis karakterisasi melalui metode SEM untuk mengamati morfologi permukaan, FTIR untuk mengidentifikasi gugus fungsi aktif, serta XRD untuk mengonfirmasi struktur kristalin GO yang terbentuk. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor IDE-GO merespons secara linier terhadap peningkatan konsentrasi Pb²? dalam larutan uji, dengan sensitivitas sebesar 0,0556 °/ppm, waktu respons yang cepat, dan batas deteksi (LOD) mencapai 1,7 ppm. Korelasi linear yang kuat (R² > 0,946) ditunjukkan pada rentang konsentrasi 10–400 ppm, menandakan konsistensi dan reprodusibilitas performa sensor. Teknologi ini tidak hanya setara dengan metode konvensional seperti AAS dan ICP-MS dari segi sensitivitas, tetapi juga menawarkan sistem yang lebih sederhana, ringkas, portabel, serta tidak memerlukan kalibrasi kompleks maupun operator terlatih. Sistem sensor yang dikembangkan menunjukkan potensi besar sebagai perangkat presisi tinggi untuk deteksi ion logam berat seperti Pb²? dalam aplikasi monitoring kualitas air secara real-time dan jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Nacep Suryana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data 🏷️ Hidrologi

TOPOLOGY OPTIMIZATION OF TRIPLY PERIODIC MINIMAL SURFACE STRUCTURES FOR HYDROGEN STORAGE APPLICATIONS

Hydrogen energy storage is a cornerstone of the transition toward sustainable and renewable energy systems, requiring innovative solutions for efficiency and scalability. This research explored the application of Triply Periodic Minimal Surfaces (TPMS) structures, focusing on topology optimization to enhance mechanical integrity, internal volume and material efficiency under high loading conditions. For this study, a gyroid-based TPMS structure was integrated into a storage container geometry and optimized using the Solid Isotropic Material with Penalization (SIMP) method under displacement restraint, internal pressure, and external compressive loading. Both non-optimized and optimized structures were then put through static analysis to evaluate the structural response. The optimization process demonstrated stable convergence across all loading cases, resulting in redistributed material aligned with critical load-paths, with post-optimization analysis indicating increased structural compliance and localized stress concentrations, with a modest increase in internal volume. The results display that topology optimization enhances structural efficiency primarily through material redistribution rather than uniform material reduction, highlighting its potential for improving TPMS-based hydrogen storage structures.

2026
👤 Penulis: Arfandi P Santosa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Optimisasi Struktur

SIMULASI PROTOKOL PENCEGAHAN RUNWAY INCURSION DI BANDARA DUAL-USE DENGAN BLUESKY: STUDI KASUS BANDARA KALIMARAU

Bandara Kalimarau merupakan bandara dual-use yang menangani 5.384 penerbangan sipil dan 424 operasi militer per tahun, sehingga memiliki risiko runway incursion yang signifikan bila koordinasi tidak diatur secara ketat. Penelitian ini mengidentifikasi kelemahan kritis pada dokumen eksisting, karena koordinasi sipil-militer masih bergantung pada kesepakatan umum tanpa definisi jarak aman, kriteria pemisahan waktu, dan prosedur penanganan konflik yang baku. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method sequential explanatory dengan tiga fase. Fase pertama menganalisis tiga studi kasus internasional menggunakan Swiss Cheese Model untuk mengungkap pola kegagalan berlapis, fase kedua menjalankan enam skenario simulasi BlueSky, dan fase ketiga melakukan triangulasi untuk menilai konsistensi antara temuan kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif menemukan lima faktor dominan penyebab runway incursion, yaitu komunikasi implisit, hilangnya kesadaran situasional, celah prosedural dalam dokumen, beban kerja pengontrol yang tinggi, dan minimnya dukungan teknologi deteksi konflik. Simulasi kuantitatif menunjukkan bahwa skenario safe menghasilkan peningkatan Closest Point of Approach (CPA) hingga lebih dari sepuluh kali lipat, penurunan frekuensi konflik lebih dari 90 persen, pengurangan Detection time, dan eliminasi kejadian loss of separation, dengan perbedaan signifikan dibandingkan skenario baseline. Triangulasi menegaskan bahwa kombinasi intervensi prosedural dan teknologi bertahap yang diterapkan di Changi dapat diadaptasi untuk konteks Kalimarau. Berdasarkan gap analysis, penelitian ini menyusun draft protokol Letter of Operational Coordination Agreement (LOCA) baru yang mencakup prosedur hold-short 50 meter dari runway, manajemen kedatangan sekuensial dengan pemisahan 5 menit, fraseologi eksplisit dengan three-part readback dan frasa khusus penyeberangan, peta jalan implementasi bertahap teknologi, serta pembentukan runway safety team lintas lembaga. Kontribusi utama penelitian adalah kerangka integrasi studi kasus dan simulasi untuk perancangan protokol pencegahan runway incursion berbasis bukti pada bandara dual-use, yang dapat direplikasi di bandara penggunaan bersama lain di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Hidayatullah Mawaleda
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERUMUSAN EKOSISTEM PARIWISATA HALAL BERDASARKAN FAKTOR PALING BERPENGARUH TERHADAP NIAT BERKUNJUNG WISATAWAN MUSLIM

Industri pariwisata halal global mengalami pertumbuhan yang sangat pesat seiring meningkatnya permintaan perjalanan dari wisatawan Muslim. Namun, perkembangan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan strategis, seperti fragmentasi kebijakan antar destinasi, ketidakkonsistenan standar layanan halal, serta belum adanya standar sertifikasi halal yang terintegrasi. Kondisi ini berpotensi menciptakan pengalaman wisata yang tidak seragam, meningkatkan ketidakpastian bagi wisatawan Muslim, serta melemahkan tingkat kepercayaan dan menurunkan minat berkunjung wisatawan terhadap destinasi yang menerapkan konsep pariwisata halal. Selain itu, banyak destinasi masih menghadapi keterbatasan dalam penyediaan infrastruktur halal yang memadai, promosi yang kurang efektif, serta akses informasi halal yang masih sulit, khususnya melalui platform digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pariwisata halal mengalami perkembangan, perkembangan tersebut masih memiliki berbagai kekurangan, sehingga diperlukan strategi yang komprehensif dengan pendekatan ilmiah dan sistematis untuk memahami faktor-faktor penentu minat berkunjung wisatawan Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi niat berkunjung wisatawan Muslim dalam berwisata halal, (2) menentukan faktor yang paling berpengaruh terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim, serta (3) merumuskan strategi yang paling tepat sebagai rekomendasi untuk pengembangan konsep pariwisata halal. Penelitian ini dibangun atas grand theory Theory of Planned Behavior, yang diperluas dengan konstruk-konstruk kontekstual yang relevan dengan pariwisata halal, yaitu religiusitas, kesadaran halal, citra destinasi, kepercayaan terhadap destinasi, nilai yang dirasakan, dan norma subjektif, yang diuji pengaruhnya terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner daring yang disebarkan menggunakan berbagai platform media sosial melalui Google Forms. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling, dengan kriteria responden berupa wisatawan Muslim. Jumlah responden yang terkumpul sebanyak 212 responden, dan data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan perangkat lunak SmartPLS untuk menguji model. Hasil pengujian outer model dan inner model menunjukkan bahwa model telah memenuhi kriteria pengujian yang disyaratkan. Selanjutnya, hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa religiusitas, kesadaran halal, dan norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim. Sebaliknya, variabel citra destinasi, kepercayaan terhadap destinasi, dan nilai yang dirasakan tidak berpengaruh signifikan terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim dalam penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor internal individu dan faktor sosial, seperti komitmen religius, kesadaran terhadap prinsip halal, serta pengaruh lingkungan sosial, memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan faktor-faktor evaluatif terhadap atribut destinasi dalam membentuk niat berkunjung wisatawan Muslim. Berdasarkan hasil temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan strategi pengembangan pariwisata halal berbasis pendekatan ekosistem. Pendekatan ini menekankan bahwa penciptaan nilai bagi wisatawan tidak dapat dihasilkan oleh satu aktor secara terpisah, melainkan memerlukan keterpaduan peran dan koordinasi antaraktor yang saling melengkapi. Ekosistem pariwisata halal yang diusulkan dalam penelitian ini melibatkan empat aktor utama yang saling terhubung, yaitu: (1) pemerintah dan institusi publik sebagai pembuat kebijakan, penetap standar minimum layanan halal, serta penyedia infrastruktur pendukung; (2) lembaga sertifikasi halal dan otoritas keagamaan sebagai penyedia legitimasi, kepercayaan, dan edukasi halal; (3) pelaku industri pariwisata, pengelola destinasi, dan komunitas lokal sebagai penyedia layanan dan pengalaman wisata yang ramah Muslim; serta (4) platform digital, penyedia informasi, dan influencer sebagai saluran diseminasi informasi halal, pembentuk norma sosial, dan pengurang ketidakpastian. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada integrasi antara temuan empiris mengenai faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim dengan perumusan strategi berbasis ekosistem yang aplikatif, sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan strategis bagi para pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesiapan, daya saing, dan keberlanjutan pengembangan pariwisata halal.

2026
👤 Penulis: Zharfan Muhammad Salman
🏷️ Pariwisata Halal 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MEMBANGUN MANAJEMEN PERUBAHAN UNTUK EFEKTIVITAS ORGANISASI DI STUDIO ARSITEKTUR

Seiring dengan pertumbuhan signifikan sektor kreatif, studio arsitektur menghadapi sebuah tantangan yaitu mencoba menyeimbangkan kreativitas dan proses formalisasi untuk merubah pendekatan menjadi lebih berorientasi bisnis. Penelitian ini mengambil studi kasus Studio A, sebuah studio arsitektur yang sedang berkembang di Indonesia dan didirikan sejak tahun 2010. Studio A telah mencoba menjalani serangkaian inisiatif perubahan untuk menyesuaikan dengan tujuan strategis organisasinya. Inisatif perubahan ini juga didorong oleh perkembangan internal dan eksternal yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dengan merestrukturisasi sistem organisasi menjadi lebih “semikorporat” dan mendirikan unit bisnis baru. Meskipun inisiatif perubahan ini telah dibentuk, Studio A belum dapat mengimplementasikannya secara efektif, sehingga inisiatif tersebut menjadi tertunda. Untuk mengatasi masalah bisnis ini, penelitian ini dilakukan untuk menjawab 3 pertanyaan penelitian berikut: (1) Bagaimana tingkat efektivitas organisasi saat ini di Studio A dibandingkan dengan tingkat efektivitas yang diinginkan melalui inisiatif perubahan?, (2) Bagaimana proses perubahan organisasi saat ini selaras dengan kerangka kerja manajemen perubahan untuk mendukung reformasi organisasi yang sukses?, dan (3) Apa tindakan strategis yang harus diimplementasikan Studio A untuk meningkatkan proses manajemen perubahan dan memastikan reformasi organisasi yang efektif?. Kondisi ideal dan kondisi saat ini efektivitas organisasi Studio A dievaluasi menggunakan kerangka kerja McKinsey 7S. Setelah kesenjangan antara dua kondisi tersebut telah diidentifikasi, proses perubahan yang dilakukan Studio A dianalisis menggunakan kerangka kerja Kotter 8-step change management untuk menentukan langkah paling tepat dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi Studio A. Beberapa temuan menunjukkan ada beberapa hal mendasar yang menghambat proses perubahan di Studio A. Selain itu, Kotter 8-step change management dapat menjadi acuan untuk proses perubahan Studio A terutama lima langkah pertama yang berfokus pada melunturkan status quo organisasi. Berdasarkan temuan ini, penelitian ini merekomendasikan serangkaian tindakan strategis yaitu mendefinisikan visi, mengatur otonomi pengambilan keputusan, menetapkan program pengembangan kepemimpinan untuk manajer dan supervisor, menetapkan perekrutan bertahap dan mengevaluasi efektivitas peran, menetapkan manajemen talenta dan jenjang karier, serta menyelaraskan kompensasi dan rekognisi untuk karyawan.

2026
👤 Penulis: Gita Advenia
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI EFEK SINERGIS KOMBINASI NANOPARTIKEL TIO2 DENGAN SURFAKTAN ANIONIK DAN ANIONIK-NONIONIK UNTUK APLIKASI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK

Peningkatan perolehan minyak lanjut diperlukan untuk mengatasi penurunan produksi yang didominasi lapangan tua. Pada metode kimia, surfaktan berperan dalam menurunkan tegangan antarmuka dan mengubah kebasahan batuan dan nanoteknologi membantu meningkatkan kedua mekanisme tersebut. Kombinasi surfaktan dan nanopartikel telah dilaporkan efektif, namun performanya masih bergantung pada stabilitas larutan. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh nanopartikel titanium dioksida (25 – 100 ppm) terhadap kinerja surfaktan alkil etoksi karboksilat (1,25 %b/b) dan alkil eter karboksilat + POE alkil eter (0,85 %b/b) pada salinitas 8.000 ppm melalui karakterisasi larutan dengan pengujian pH dan konduktivitas larutan serta potensial zeta, diikuti dengan uji tegangan antarmuka dan sudut kontak. Muatan permukaan batuan Berea-brine juga diukur untuk merepresentasikan kondisi permukaan batuan Berea, dan uji core flooding dilakukan untuk mengevaluasi kontribusi titanium dioksida terhadap peningkatan perolehan minyak. Hasil yang diperoleh menunjukkan penambahan titanium dioksida berhasil menurunkan tegangan antarmuka serta menurunkan sudut kontak sehingga batuan menjadi lebih water-wet. Hal ini menyebabkan perolehan minyak yang dihasilkan meningkat, dari 2,35% ROIP menjadi 3,26% ROIP pada surfaktan alkil eter karboksilat + POE alkil eter, namun menurun pada alkil etoksi karboksilat (5,65% ROIP ke 4,23% ROIP). Hal ini terjadi karena keterbatasan yang disebabkan oleh masih rendahnya stabilitas larutan surfaktan-titanium dioksida pada skala core Berea, sehingga memodifikasi pH larutan surfaktan-titanium dioksida ke kondisi yang lebih basa direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas titanium dioksida dalam meningkatkan perolehan minyak.

2026
👤 Penulis: Diyana Surya Puspita
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KUALITAS LEARNING MANAGEMENT SYSTEM DAN STRATEGI PENINGKATANNYA: STUDI KASUS DI EDULAB

Digitalisasi yang cepat di dunia pendidikan telah merubah cara bagaimana lembaga menyelenggarakan aktivitas pembelajaran, proses administrasi, dan pencapaian pembelajaran siswa. Hal ini diakselerasi juga dengan adanya situasi pandemi COVID-19. Penggunaan Sistem Informasi (SI), khususnya Learning Management System (LMS) menjadi sangat vital bagi kelanjutan pelaksanaan pelayanan akademik. Edulab sebagai lembaga konsultan pendidikan, dengan lebih dari lima puluh cabangnya yang beroperasi, memiliki LMS yang berperan menjadi sarana yang mengintegrasikan materi pembelajaran, instrumen penilaian, kanal komunikasi, dan pemantauan perkembangan akademik siswa. Meskipun demikian, LMS ini masih menghadapi beberapa kendala teknis yang terus berulang, meliputi ketidakstabilan akses, tidak lengkapnya pertanyaan ujian yang muncul, tampilan data yang tidak akurat, serta gangguan sistem saat penggunaan puncak. Permasalah ini juga dipercaya dapat berkontribusi dalam pencapaian prestasi akademik siswa. Kondisi inilah yang kemudian memperkuat pentingnya penelitian ini dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan mencari tahu apakah sistem telah bekerja dengan cukup baik, mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, dan menyusun rencana peningkatan sistem sehingga dapat mendukung Edulab dalam memperbaiki layanannya dan meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini menganalisis bagaimana kualitas dari LMS Edulab dapat mempengaruhi pelayanan, persepsi pengguna, dan efektivitas keseluruhan dari platform. Selain itu penelitian ini juga mencari tahu kendala dan batasan yang pada akhirnya menghambat penggunaannya. Evaluasi dilakukan terhadap keandalan sistem, akurasi dari informasi, dan tanggapan responsif dalam mendukung layanan LMS ini. Untuk memenuhi tujuan dari penelitian ini, Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone and McLean digunakan sebagai dasar analisis utama, diikuti dengan kerangka Technological-Organization-Environment. Dengan menggunakan kedua kerangka ini, penelitian ini diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap LMS, mempertimbangkan aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan platform. Metode mix digunakan dengan melibatkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 1,081 respon sebagai data kuantitatif kemudian dikumpulkan dari pengguna yang meliputi siswa, orang tua, dan pengajar. Respon dari survey kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk mengetahui bagaimana berbagai dimensi kualitas dari LMS berhubungan dengan kepuasan pengguna dan dampak yang ditimbulkannya. Untuk melengkapi analisis kuantitatif, pengambilan data kualitatif juga dilakukan melalui wawancara terhadap direktur, kepala kurikulum, dan para manajer regional. Hasil wawancara diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kendala sistem yang terus berulang, praktik koordinasi di lapangan, kesiapan pengguna, dan ekspektasi dari pengguna terhadap LMS. Dengan menggabungkan kedua data tersebut, penelitian ini dapat menemukan pola dari data kuantitatif dan gambaran pengalaman nyata yang tidak dapat dideskripsikan melalui data kuantitatif saja. Studi-studi sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh dari akurasi informasi, kemudahan penggunaan, dan layanan responsif terhadap bagaimana persepsi dan penilaian pengguna terhadap teknologi pendidikan. Seiring dengan pandangan tersebut, hasil penelitian ini juga menilai bahwa peningkatan performa sistem, kualitas informasi, dan kualitas layanan akan berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna. Diantara semua faktor, ditemukan bahwa kualitas layanan merupakan faktor yang paling dominan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peningkatan kepuasan pengguna tidak hanya mendorong keterlibatan belajar yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, kualitas pengambilan keputusan, dan efisiensi layanan pendidikan. Untuk melengkapi temuan kuantitatif tersebut, penelitian kualitatif dilakukan dengan menelaah kondisi nyata di lapangan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan terkait. Pada akhirnya study ini dapat menghasilkan rekomendasi praktis untuk Edulab dalam mengembangkan LMS dan mencapai keberhasilan akademik yang berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Dwi Putri Ayuningtyas
🏷️ Learning Management System 🏷️ Digitalisasi Pendidikan 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI KASUS PEMODELAN PREMI MURNI ASURANSI ALAT BERAT BERDASARKAN TIPE JAMINAN, USIA ALAT BERAT, JENIS ALAT BERAT DAN LOKASI RISIKO.

Asuransi Alat Berat memiliki karakteristik risiko yang heterogen akibat perbedaan jenis jaminan, usia alat berat, jenis alat berat, dan lokasi risiko, sehingga pendekatan tarif konvensional berpotensi menghasilkan estimasi premi yang kurang mencerminkan tingkat risiko aktual. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi premi murni asuransi CPM melalui pendekatan aktuaria berbasis data dengan diawali analisis profil klaim menggunakan statistik deskriptif serta segmentasi risiko melalui metode pengelompokan berdasarkan frekuensi, severitas, dan premi murni. Hasil analisis menunjukkan bahwa portofolio asuransi alat berat tidak homogen dan memerlukan pembentukan tarif per sel yang lebih granular untuk mengurangi potensi dibawah harga dan jauh diatas harga pada segmen tertentu. Estimasi premi murni dilakukan menggunakan Tweedie Generalized Linear Models mampu menangkap karakteristik data klaim dengan frekuensi nol yang tinggi dan distribusi severitas berekor kanan. Hasil model dibandingkan dengan metode burning cost dan tarif pembanding internal, yang menunjukkan bahwa pendekatan berbasis model menghasilkan estimasi premi yang lebih stabil, dapat dipertanggungjawabkan secara aktuaria, serta lebih sensitif terhadap variasi tingkat risiko. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan pendekatan penetapan tarif berbasis risiko berbasis tarif per sel sebagai dasar evaluasi dan penyempurnaan tarif premi asuransi alat berat yang lebih adaptif dan berbasis pengalaman klaim.

2026
👤 Penulis: Brigita Yosephine Lumban Gaol
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

KAITAN ANTARA BILANGAN ISTIMEWA DAN DIMENSI PARTISI GRAF

Suatu pelabelan titik pada graf dikatakan istimewa jika satu-satunya automorfisma yang mengawetkan pelabelan tersebut hanyalah identitas. Bilangan istimewa (distinguishing number) dari graf G adalah nilai terkecil m sedemikian hingga G memiliki pelabelan?m istimewa, dilambangkan dengan D(G). Untuk suatu partisi?k berurutan ? = {S1, S2, ..., Sk} dari V (G), representasi r(v|?) dari titik v terhadap ? adalah (d(v, S1), ..., d(v, Sk)), di mana d(v, S) = min{d(v, x)|x ? S}. Partisi ? tersebut merupakan partisi pembeda dari G bila semua vektor r(v|?) berbeda untuk semua v ? G. Nilai terkecil k di mana terdapat partisi pembeda dengan k kelas partisi dari graf G dinamakan dimensi partisi G, dilambangkan dengan pd(G). Partisi V (G) menjadi k kelas partisi dapat dipandang sebagai pelabelan setiap titik di V (G) ke {1, 2, ..., k}. Pelabelan istimewa yang ditemukan pada tahun 1996 dan partisi pembeda yang ditemukan pada tahun 2000 merupakan dua aturan pelabelan titik yang menarik minat para peneliti di bidang teori graf selama lebih dari 2 dekade. Berdasarkan definisinya, pelabelan istimewa didasarkan atas automorfisma titik, yang mana sifat automorfisma adalah mempertahankan ketetanggaan dari setiap titik yang dipetakan. Diperhatikan bahwa ketetanggaan titik berkaitan erat dengan jarak antar titik pada graf yang merupakan parameter dasar dalam menentukan partisi pembeda suatu graf. Oleh karena itu, cukup masuk akal bila kita menduga terdapat kaitan erat antara dua aturan pelabelan titik tersebut, sesuatu yang belum pernah diteliti hingga saat ini. Baik bilangan istimewa maupun dimensi partisi untuk beberapa kelas graf telah ditemukan. Di antaranya, graf siklus, graf lintasan, graf lengkap, graf Petersen, graf hypercube, graf bintang, graf bipartit lengkap, graf roda (batas atas dan bawah) , graf pohon ulat, pohon firecrackers, subdivisi pohon, dan beberapa struktur pohon lainnya. Namun demikian, hingga saat ini belum ada penelitian yang mengkaji kaitan antara kedua parameter tersebut. Bila kaitan tersebut diketahui, maka pengetahuan mengenai dimensi partisi suatu kelas graf dapat digunakan untuk mencari nilai bilangan istimewa dari kelas graf tersebut, dan sebaliknya. Penelitian disertasi ini akan memberi fokus perhatian pada kaitan dari kedua parameter graf tersebut. Secara lebih spesifik, penelitian disertasi ini berfokus pada kaitan umum dan kaitan khusus antara bilangan istimewa dan dimensi partisi graf sederhana terhubung. Kami berhasil menunjukkan bahwa untuk setiap graf G dimensi partisi merupakan batas atas bagi bilangan istimewa, yaitu D(G) ? pd(G). Kami juga menemukan beberapa kelas graf yang memenuhi D(G) = pd(G), di antaranya Pn, K1,n, Kn, Kn,n, graf bintang ganda Sm,n, dan Cn. Dengan menggunakan pengetahuan mengenai karakterisasi graf berorde n dan dimensi partisi n ? 1 atau n ? 2, kami berhasil mendapatkan beberapa kelas graf yang memenuhi pd(G) ? D(G) = 1 dan pd(G) ? D(G) = 2. Selisih antara dimensi partisi dan bilangan istimewa ini bisa menjadi sangat jauh, yang dapat dilihat contohnya pada graf theta umum dan juga graf roda. Sifat dimensi partisi terkait banyaknya titik kembar ternyata juga dimiliki oleh bilangan istimewa. Selain relasi umum antara dua pelabelan itu, dalam disertasi ini kami juga membahas pelabelan istimewa untuk kelas graf terhubung yang tidak memuat cycle, yaitu graf pohon. Bilangan istimewa maupun dimensi partisi untuk sebarang pohon hingga saat ini belum diketahui. Dalam penelitian ini kami mengkaji pohon berjari-jari 1 dan 2 dengan memperkenalkan notasi tuple. Dengan menggunakan notasi tersebut, dapat ditentukan bilangan istimewa setiap pohon dengan radius tidak melebihi 2. Kami menunjukkan bahwa untuk setiap bilangan bulat positif d, dapat dilakukan karakterisasi semua graf pohon T dengan rad(T) ? 2 dan bilangan istimewa d.

2026
👤 Penulis: Andi Pujo Rahadi
🏷️ Teori Graf 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EXPERIMENTAL INVESTIGATION OF ENERGY ABSORPTION IN THIN-WALLED CRASH BOX FILLED WITH LATTICE STRUCTURES

Crashworthiness merupakan aspek krusial dalam keselamatan struktur dan transportasi, di mana kemampuan penyerapan energi dan pengendalian deformasi sangat penting untuk mengurangi risiko cedera selama peristiwa tumbukan. Penelitian ini mengkaji kinerja crashworthiness kolom aluminium berbentuk heksagonal yang diisi dengan struktur kisi (lattice), yaitu pola heksagon standar dan honeycomb re-entrant, yang diproduksi menggunakan teknologi manufaktur aditif. Struktur mikro tersebut dievaluasi melalui pengujian tekan aksial kuasi-statik untuk menilai kemampuan penyerapan energi serta perilaku kegagalannya. Metode eksperimen meliputi pengujian tekan pada kolom aluminium heksagonal, baik tanpa isian maupun dengan berbagai jenis lattice, untuk mengkuantifikasi parameter seperti beban puncak, gaya hancur rata-rata, penyerapan energi spesifik, dan efisiensi penghancuran. Sebuah alat uji yang dirancang khusus digunakan untuk merekam pola deformasi serta respons beban–perpindahan. Isian lattice dirancang dengan massa dan dimensi batas yang identik guna memastikan perbandingan yang terkendali. Penggunaan perangkat uji khusus memungkinkan penangkapan pola deformasi dan respons beban-perpindahan secara akurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengisi lattice secara signifikan meningkatkan stabilitas struktural dengan mengubah mekanisme deformasi dari global buckling menjadi pelipatan progresif lokal (localized progressive folding). Pola hibrida dan re-entrant, yang memiliki jumlah sudut internal dan engsel plastik yang lebih banyak, menghasilkan SEA dan CFE yang lebih unggul dibandingkan kolom kosong atau heksagonal standar. Dengan mempertahankan massa dan dimensi batas yang identik untuk perbandingan terkontrol, temuan ini menunjukkan bahwa pengisi auxetic dan hibrida hasil cetak 3D menawarkan solusi berkinerja tinggi yang dapat disesuaikan untuk mengoptimalkan disipasi energi dalam aplikasi transportasi yang kritis terhadap keselamatan.

2026
👤 Penulis: Reinhard Rhema
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

FLOW OVER CIRCULAR CYLINDER WITH SPLITTER PLATE USING LATTICE BOLTZMANN METHODS APPLYING GRID REFINEMENT

Salah satu cara melakukan kendali aliran pasif pada silinder adalah dengan menambahkan pelat pemisah (splitter plate atau SP). SP dapat menekan vortex-induced vibration (VIV) pada silinder sehingga gaya hambat rata-rata ???????? dan fluktuasi gaya angkat ????? ???? berkurang. Dalam tesis ini, kendali aliran pasif dilakukan dengan mensimulasikan aliran melintasi silinder dan SP dengan berbagai variasi parameter. Simulasi dilakukan menggunakan metode Lattice Boltzmann (LBM) yang unggul pada kisi Kartesius seragam. Permasalahan dengan kisi seragam pada kasus aliran melintasi silinder adalah 80% daerah kisi tidak memerlukan resolusi tinggi karena hanya mengandung solusi gradien rendah. Untuk mempercepat simulasi, diperlukan skema kisi tidak seragam. Skema yang dipilih dalam tesis ini adalah grid refinement ’penghalusan kisi’ yang diusulkan oleh Rohde. Metode ini dikembangkan sehingga menjadi skema nested grid refinement ’penghalusan kisi bertingkat’ untuk ???? jumlah tingkat. Algoritma ini diuji pada aliran melintasi silinder dengan 2, 3, 4, dan 5 tingkat penghalusan. Hasil dari pengujian menunjukkan akurasi yang hampir sempurna, baik secara visual maupun parametrik. Percepatan komputasi yang diperoleh mencapai 23 kali lipat dibandingkan dengan kasus tanpa penghalusan. Dengan skema yang tersedia, aliran melintasi silinder dengan SP disimulasikan dengan variasi nilai bilangan Reynolds ???????? (100–200), jarak pelat dari silinder ???? (0, 5????–2, 5????), dan tebal pelat ???? (0, 03????–0, 1????). Panjang SP ditetapkan sebesar ????. Total terdapat 125 kasus simulasi. Hasil simulasi dianalisis untuk mendapatkan konfigurasi terbaik dan pengaruh dari setiap parameter. Secara umum, peningkatan ???? menurunkan ???????? dan ????? ???? . Di sisi lain, pengaruh ???? dapat diabaikan pada semua hasil kecuali untuk ????????,???????? . Selain itu, analisis medan aliran dan rezim aliran juga dilakukan.

2026
👤 Penulis: David Sugijanto
🏷️ Fluid Dinamika 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Metode Lattice Boltzmann

PERANCANGAN MODEL KEMITRAAN RANTAI PASOK KENTANG INDUSTRI DENGAN PETANI DI JAWA BARAT (STUDI KASUS: DIVISI SUPPLY CHAIN – PT PQR)

Rantai pasok kentang olahan di Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan ketersediaan dan kualitas bahan baku, serta tingginya ketergantungan pada bahan baku impor. Meskipun Jawa Barat diharapkan dapat berperan sebagai lokasi produksi strategis untuk sumber pasokan, rantai pasok tersebut masih sering mengalami gangguan pasokan secara berkala. Temuan lapangan menunjukkan bahwa permasalahan tersebut tidak semata-mata terbatas pada aspek teknis produksi kentang, melainkan lebih dipicu oleh persoalan tata kelola kemitraan dan ketiadaan kerangka manajemen risiko dalam rantai pasok. Oleh karena itu, pengembangan model kemitraan yang terinformasi dan berorientasi pada risiko menjadi isu manajerial yang mendesak bagi PT PQR. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model kemitraan strategis antara PT PQR dan petani kentang untuk kentang olahan di Jawa Barat yang mampu meningkatkan keandalan rantai pasok melalui penguatan kelembagaan dan mitigasi risiko sebagai prioritas utama. Secara lebih spesifik, tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi perbedaan utama antara praktik kemitraan yang saat ini diterapkan dengan praktik terbaik (best practices) melalui benchmarking, dan (2) mengembangkan model kemitraan yang berlandaskan pada mitigasi risiko dan perencanaan kontinjensi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan utama di Divisi Rantai Pasok PT PQR, agronom lapangan, serta pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan dengan petani dan agregator. Data sekunder diperoleh dari dokumen internal perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Analisis Benchmarking, Analisis Kesenjangan (Gap Analysis), serta Analisis Risiko Rantai Pasok dengan menggunakan Risk Priority Index (RPI) dan peta panas risiko (risk heat map). Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko paling penting terkonsentrasi pada tiga area utama. Pertama, risiko yang berkaitan dengan aspek kelembagaan, seperti kurangnya mekanisme koordinasi yang baik, kejelasan peran, serta penegakan perjanjian kontrak, merupakan risiko dengan prioritas tertinggi. Kedua, risiko yang berkaitan dengan dukungan terhadap proses produksi disebabkan oleh ketidakkonsistenan kualitas benih serta tingkat dukungan teknis, pengendalian mutu, dan pengelolaan panen. Ketiga, risiko operasional dan finansial meliputi keterlambatan jadwal tanam benih serta ketidakmampuan petani untuk memenuhi kewajiban kemitraan akibat keterbatasan likuiditas. Berdasarkan temuan empiris tersebut, penelitian ini mengusulkan model kemitraan agregator yang disempurnakan, yang ditopang oleh kontrak multi-tahun, pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas, proses dukungan produksi yang terharmonisasi, serta proses koordinasi risiko yang terstruktur. Model yang diusulkan juga mengintegrasikan analisis kinerja yang berfokus pada risiko, yang dilengkapi dengan rencana kontinjensi risiko secara spesifik untuk mengelola risiko kelembagaan, risiko produksi, dan risiko operasional yang diprioritaskan. Model ini bertujuan untuk menyelaraskan struktur kemitraan dengan lingkungan risiko yang ada dalam rantai pasok, sehingga dapat membantu menjamin keandalan pasokan, mengurangi ketergantungan negara terhadap impor kentang, serta memperkuat ketahanan rantai pasok kentang olahan PT PQR. Dari sudut pandang praktis, penelitian ini menunjukkan bagaimana proses benchmarking, analisis kesenjangan, dan analisis risiko dalam rantai pasok dapat dimanfaatkan dalam perancangan model kemitraan agribisnis yang terstruktur dan responsif terhadap risiko.

2026
👤 Penulis: Yusup Supriatna
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DAMPAK CUKAI DAN PANDEMI TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN: BUKTI DARI SEBUAH PERUSAHAAN TEMBAKAU INDONESIA

Industri tembakau di Indonesia telah menghadapi tekanan struktural akibat penyesuaian tarif cukai pada periode sebelum dan sesudah COVID?19, yang berdampak pada kinerja industri dari sisi operasional, penetapan harga, dan tingkat keterjangkauan. Skala industri, kontribusi fiskal yang signifikan, serta kompleksitas yang melekat menuntut perlunya identifikasi faktor?faktor yang memengaruhi kinerja industri guna memastikan stabilitas kinerja di tengah seringnya terjadi guncangan non?ekonomi. Penelitian ini mengkaji dampak guncangan fiskal berupa cukai dan guncangan non?fiskal berupa COVID?19 terhadap pendapatan bersih, Harga Pokok Penjualan (HPP), laba, serta pendapatan berdasarkan lini segmen utama, dengan menggunakan data keuangan triwulanan periode 2018 hingga 2025. Tiga spesifikasi model digunakan, yaitu model COVID?19, model cukai, dan model gabungan, yang seluruhnya memasukkan variabel musiman. Variabel?variabel didefinisikan untuk mengukur dampak nominal terhadap pendapatan, biaya, serta stabilitas segmen. Kinerja model dievaluasi berdasarkan hasil absolut (pendapatan, HPP, laba) dan hasil per segmen, dengan fokus pada interpretabilitas untuk kepentingan manajerial. Model ini juga mencakup pengujian stasioneritas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi guna memvalidasi hasil inferensi. Ketiga spesifikasi model diterapkan menggunakan analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) dengan variabel musiman untuk menjaga kejelasan interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan profitabilitas secara bersih, yang secara statistik signifikan dalam hal dampak negatif COVID?19 terhadap laba. Sementara itu, hasil untuk pendapatan bersih dan HPP tidak menunjukkan signifikansi statistik. Namun demikian, dampak COVID?19 terhadap laba terbukti signifikan dan positif pada segmen bisnis SKM, sedangkan pendapatan bersih total, HPP, dan laba secara keseluruhan tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan ketahanan kinerja industri melalui penerapan strategi penetapan harga berjenjang, pengendalian biaya yang sensitif terhadap cukai, sinkronisasi produksi dan peluncuran produk dengan tahapan kenaikan tarif, serta rekayasa kemasan dan bentuk produk untuk menjaga keterjangkauan secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini memberikan masukan penting bagi perumusan kebijakan, khususnya melalui penyediaan peta jalan cukai yang dapat diprediksi, yang akan membantu menjaga stabilitas kinerja industri dalam menghadapi guncangan seperti COVID?19.

2026
👤 Penulis: Donnyanto Adrian Limadinata
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRUKTUR ELEKTRONIK DAN SIFAT OPTIK DARI M2SNO4 (M = MG, ZN) DAN PENGARUH SUBSTITUSI TI4+

Struktur elektronik dan sifat optik Mg2SnO4, Zn2SnO4 tanpa-substitusi dan tersubstitusi Ti4+ telah dihitung menggunakan metode full potential linear augmented plane wave (FP-LAPW) dalam teori kerapatan fungsional (DFT). Potensial korelasi-pertukaran Perdew, Burke dan Ernzerhof (PBE) dan Tran-Blaha modified Becke-Johnson (TB-mBJ) digunakan dalam perhitungan ini. Dengan menganalisis density of states (DOS), terdapat transisi antara pita valensi tertinggi dari orbital 2p O menuju pita konduksi terendah 5s Sn dengan nilai energi 4,26 eV untuk Mg2SnO4 dan 2,72 eV untuk Zn2SnO4. DOS pada pita valensi menunjukkan keadaan defek yang dibangun orbital 2p O. Rapat keadaan 2p O semakin meningkat pada lingkungan Mg2+. Parameter struktur dan celah pita energi material tanpa-substitusi didapat hasil yang sesuai dengan eksperimen. Substitusi dilakukan dengan mengganti posisi Sn4+ menjadi Ti4+. DOS menunjukkan pita baru 3d Ti yang memiliki korelasi pada teori medan kristal oktahedral. Pita energi 3d Ti semakin menurun bila lingkungan Sn4+ meningkat di sekitar Ti4+. Perhitungan konstanta dielektrik riil dan imajiner digunakan untuk menentukan koefisien absorpsi. Zn2SnO4 memiliki absorpsi cahaya lebih tinggi dari Mg2SnO4 pada daerah sinar tampak, serta akan meningkat pada substitusi Ti4+.

2026
👤 Penulis: Wahyu Orphan Kuswantoro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRUKTUR ELEKTRONIK DAN SIFAT OPTIK DARI M2SNO4 (M = MG, ZN) DAN PENGARUH SUBSTITUSI TI4+

Struktur elektronik dan sifat optik Mg2SnO4, Zn2SnO4 tanpa-substitusi dan tersubstitusi Ti4+ telah dihitung menggunakan metode full potential linear augmented plane wave (FP-LAPW) dalam teori kerapatan fungsional (DFT). Potensial korelasi-pertukaran Perdew, Burke dan Ernzerhof (PBE) dan Tran-Blaha modified Becke-Johnson (TB-mBJ) digunakan dalam perhitungan ini. Dengan menganalisis density of states (DOS), terdapat transisi antara pita valensi tertinggi dari orbital 2p O menuju pita konduksi terendah 5s Sn dengan nilai energi 4,26 eV untuk Mg2SnO4 dan 2,72 eV untuk Zn2SnO4. DOS pada pita valensi menunjukkan keadaan defek yang dibangun orbital 2p O. Rapat keadaan 2p O semakin meningkat pada lingkungan Mg2+. Parameter struktur dan celah pita energi material tanpa-substitusi didapat hasil yang sesuai dengan eksperimen. Substitusi dilakukan dengan mengganti posisi Sn4+ menjadi Ti4+. DOS menunjukkan pita baru 3d Ti yang memiliki korelasi pada teori medan kristal oktahedral. Pita energi 3d Ti semakin menurun bila lingkungan Sn4+ meningkat di sekitar Ti4+. Perhitungan konstanta dielektrik riil dan imajiner digunakan untuk menentukan koefisien absorpsi. Zn2SnO4 memiliki absorpsi cahaya lebih tinggi dari Mg2SnO4 pada daerah sinar tampak, serta akan meningkat pada substitusi Ti4+.

2026
👤 Penulis: Wahyu Orphan Kuswantoro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 63 dari 418
💬