📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPERANCANGAN KONSEP PENGEMBANGAN LAYANAN THE ROOM 19 BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA RUANG KETIGA MENGGUNAKAN CHOICE-BASED CONJOINT
The Room 19 merupakan perpustakaan independen di Kota Bandung yang berfungsi sebagai ruang ketiga (third place), yaitu ruang di luar rumah dan kampus/kantor yang dimanfaatkan untuk beraktivitas secara fleksibel, baik untuk bersosialisasi maupun belajar dan bekerja. The Room 19 menghadapi tantangan dalam memaksimalkan pendapatan karena didominasi pelanggan pelajar dan mahasiswa dengan daya beli relatif rendah, sehingga kunjungan cenderung fluktuatif pada masa libur dan kontribusi layanan tambahan rendah. Untuk meningkatkan keberlanjutan bisnis, diperlukan strategi penetrasi pasar melalui pengembangan layanan dan penetapan harga berbasis preferensi konsumen. Penelitian ini mengidentifikasi atribut layanan yang memengaruhi keputusan konsumen, membentuk segmentasi pelanggan, serta menentukan rentang harga optimal layanan The Room 19. Metode choice-based conjoint (CBC) digunakan untuk menganalisis delapan atribut layanan (estimasi utilitas: hierarchical Bayes (HB); segmentasi: latent class regression (LCR)). Analisis harga dilakukan menggunakan Van Westendorp’s price sensitivity meter (PSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jam operasional, sistem penyewaan seating, dan insentif penggunaan layanan merupakan atribut paling berpengaruh. Segmentasi menghasilkan tiga kelompok pelanggan dengan kebutuhan berbeda, dengan kombinasi atribut paling disukai meliputi jam operasional 08.00–20.00, shift fleksibel 4 jam, insentif gratis 1 shift setiap 5 kunjungan, tarif peminjaman buku harian, serta bundling layanan seating dan peminjaman buku. Analisis PSM menunjukkan harga eksisting layanan seating dan peminjaman buku impor sedikit di atas harga optimal namun masih dapat diterima, sedangkan harga peminjaman buku lokal berada di bawah harga optimal sehingga terdapat ruang kenaikan harga secara terbatas.
PERANCANGAN PANDUAN PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA DAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Perkebunan kelapa sawit Indonesia merupakan perkebunan terbesar di seluruh dunia. Sektor ini menyumbangkan produk domestik bruto (PDB) yang tinggi bagi Indonesia. Namun, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan keselamatan dan kesehatan Kerja (K3). Tingkat kecelakaan kerja (KK) di sektor perkebunan mencapai 60,5% dari total kasus nasional. Penyakit akibat kerja (PAK) juga tidak luput dari perhatian walaupun terjadi underreporting di Indonesia. Kondisi ini juga disebabkan oleh pekerjaan di perkebunan yang masih padat karya dan minim penggunaan teknologi. Selain itu, tidak adanya panduan resmi terkait implementasi K3 di perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga berkontribusi pada hal ini. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko KK dan PAK yang dihadapi pekerja perkebunan kelapa sawit dan merancang panduan pencegahan yang relevan. Pada penelitian ini, data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, job hazard analysis (JHA), dan focus group discussion (FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan. Data FGD yang diperoleh selanjutnya diolah melalui analisis tematik untuk mengidentifikasi faktor risiko yang ada dan perumusan intervensi yang dibutuhkan. Perancangan panduan dilakukan dengan benchmark panduan terkait K3 yang relevan. Panduan kemudian divalidasi oleh stakeholder untuk memperoleh feedback sebagai perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan beragam faktor risiko yang dihadapi pekerja, meliputi safety hazard (misal: penggunaan alat tajam), ergonomic hazard (misal: postur janggal), psychosocial hazard (misal: tekanan manajerial), biological hazard (misal: gigitan serangga), chemical hazard (misal: pestisida), dan physical hazard (paparan suhu panas). Faktor risiko ini berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal, masalah pernapasan, hingga cedera langsung. Berdasarkan temuan dalam penelitian, dihasilkan panduan pencegahan KK dan PAK di perkebunan kelapa sawit dengan tujuh elemen utama program K3. Panduan ini telah mendapatkan respons positif dari stakeholder dan diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan KK dan PAK.
STUDI SHUNT ACTIVE POWER FILTER BERBASIS METODE KESETARAAN DAYA UNTUK PERBAIKAN KUALITAS DAYA
Beban nonlinier berbasis penyearah pada sistem satu fasa menyebabkan distorsi harmonisa arus yang menurunkan kualitas daya, meningkatkan rugi-rugi sistem, serta mempercepat degradasi peralatan listrik. Penelitian ini merancang dan mengevaluasi kinerja Shunt Active Power Filter (SAPF) berbasis metode kesetaraan daya untuk menghasilkan arus sumber yang sinusoidal dan sefasa dengan tegangan melalui injeksi arus kompensasi. Metode kesetaraan daya digunakan untuk membangkitkan arus referensi dengan pendekatan yang lebih sederhana, karena hanya memerlukan estimasi daya aktif rata-rata untuk menentukan amplitudo arus kompensasi tanpa transformasi koordinat. Sistem SAPF direalisasikan menggunakan inverter H-bridge bertipe Voltage Source Inverter (VSI) dan dikendalikan dengan Hysteresis Current Control (HCC) agar arus injeksi mampu mengikuti arus referensi secara cepat dan presisi. Evaluasi dilakukan melalui simulasi dan pengujian prototipe pada sistem satu fasa 110 V, 50 Hz dengan beban nonlinier, serta pengembangan ke sistem tiga fasa empat kawat. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada kondisi tanpa SAPF, THD arus sumber mencapai 18,35% dan menurun menjadi 5,78% setelah SAPF diaktifkan, serta 1,80% pada kondisi beban bervariasi dengan faktor daya meningkat hingga 1,00. Pada sistem tiga fasa empat kawat, THD arus sumber turun menjadi 2,33% sampai dengan 2,41% dengan arus netral mendekati nol dan faktor daya 1,00 pada setiap fasa. Pengujian prototipe memverifikasi hasil simulasi, di mana arus sumber setelah kompensasi menjadi sinusoidal dan sefasa dengan tegangan, sedangkan arus beban tetap nonlinier. Hasil ini membuktikan bahwa SAPF berbasis metode kesetaraan daya efektif, adaptif, dan valid secara eksperimental untuk peningkatan kualitas daya pada sistem tegangan rendah.
PERANCANGAN STRATEGI PENGELOLAAN PELANGGAN CV BAROKAH MARDHIYYA UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PRODUK MINYAK BALUR ZUMOIL
Zumoil merupakan perusahaan yang bergerak di industri kosmetik dan kecantikan dengan fokus pada kategori perawatan bayi dan anak. Perusahaan ini lahir dari CV Barokah Mardhiyya, yang didirikan pada tahun 2021 dengan model bisnis berbasis B2B (Business-to-Business). Didorong oleh aspirasi pemilik untuk menghadirkan produk herbal yang aman bagi anak, Zumoil diluncurkan pada 6 November 2023 yaitu Minyak Balur yang dikembangkan melalui riset formulasi herbal menggunakan teknologi nano. Namun, sejak peluncurannya, performa penjualan Zumoil tidak mencapai target yang telah ditetapkan dan cenderung mengalami stagnasi. Permasalahan ini diperburuk dengan tingkat churn pelanggan yang sangat tinggi, mencapai rata-rata 80%, menunjukkan bahwa pelanggan tidak membeli kembali produk Zumoil. Menghadapi situasi ini, Zumoil memerlukan strategi pengelolaan pelanggan yang komprehensif dan terukur untuk membangun hubungan jangka panjang yang kuat dengan pelanggannya. Penelitian ini ditujukan ntuk merancang strategi pengelolaan pelanggan usulan yang diawali dengan mengidentifikasi strategi pengelolaan pelanggan yang ada saat ini lalu dilanjut dengan audit strategi pengelolaan pelanggan menggunakan kerangka CRM Payne (2005). Kemudian dari hasil tersebut dilakukan evaluasi strategi pengelolaan pelanggan untuk meninjau gap antara kondisi ideal dan yang ada saat ini. Analisis RFM (Recency, Frequency, Monetary) digunakan sebagai dasar segmentasi untuk rancangan usulan strategi pengelolaan pelanggan yang diikuti oleh hasil evaluasi strategi pengelolaan pelanggan. Zumoil berada pada tingkat maturitas “membangun data repositori”, sehingga pemanfaatan data pelanggan perlu ditingkatkan dengan fokus pada retensi. Selain itu, hasil audit strategi pengelolaan pelanggan menunjukkan bahwa Zumoil perlu memperbaiki aspek Kepemimpinan Strategis yang salah satu komponennya berupa strategi pelanggan. Dengan demikian, Zumoil membutuhkan pengembangan strategi yang lebih jelas dan jangka panjang. Oleh karena itu, dibuat rancangan usulan strategi pengelolaan pelanggan pada pelanggan bernilai berdasarkan segmen RFM terpilih yaitu “Can’t Lose Them”, “Loyal Customers”, dan “Champions” berupa strategi retensi seperti program loyalty, education untuk dapat meningkatkan loyalitas dan profitabilitas Zumoil.
MODIFIKASI KARAKTERISTIK FARMASETIKA METOKLOPRAMID MELALUI PEMBENTUKAN GARAM DENGAN ASAM FUMARAT
Metoklopramid (MCP) merupakan obat antiemetik yang memiliki keterbatasan karakteristik farmasetik seperti kelarutan, laju disolusi, dan sifat mekanik yang buruk. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembentukan kristal multikomponen pada MCP dan MCP-HCl dengan koformer asam oksalat dan galat dapat memodifikasi karakteristik farmasetik MCP. Oleh karena itu, rekayasa kristal melalui pembentukan kristal multikomponen merupakan strategi efektif untuk memodifikasi karakteristik farmasetik. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi karakteristik farmasetik MCP melalui pembentukan garam dengan asam fumarat (FUM). MCP memiliki gugus amina tersier yang mudah terprotonasi, sedangkan FUM memiliki dua gugus karboksilat yang mendukung terjadinya transfer proton. Screening berbagai rasio stoikiometri, pelarut, dan metode dilakukan untuk memperoleh kondisi optimum. Kristal MCP-FUM berhasil diperoleh melalui metode slurry dengan pelarut metanol dalam rasio stoikiometri MCP:FUM 2:1. Analisis PXRD menunjukkan pola difraksi baru pada 2?= 8,83????, 17,81????, 20,22????, 23,36°, 25,53° dan 26,77° yang mengonfirmasi terbentuknya fase kristalin baru. Analisis struktur kristal menggunakan SCXRD menunjukkan bahwa MCP-FUM membentuk kristal garam hidrat dalam sistem monoklinik dengan space group P2?. Karakterisasi garam MCP-FUM menggunakan DSC, TGA, FT-IR, dan SEM menunjukkan perubahan profil termal, perubahan spektra IR, dan perubahan morfologi kristal. Pembentukan garam MCP-FUM dapat meningkatkan kelarutan hingga 117 kali dan laju disolusi intrinsik hingga 57 kali dalam akuades dibandingkan dengan MCP, serta memperbaiki sifat tabletabilitas yang ditunjukkan dengan peningkatan tensile strength.
USULAN DESAIN PERFORMANCE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK PROSES PENGADAAN PRA-KONTRAK DI PERUSAHAAN KONSTRUKSI
Dengan kontribusi sekitar 9,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023–2024, sektor konstruksi merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Dalam operasional kontraktor, precontract procurement mencakup perencanaan kebutuhan, penyusunan spesifikasi teknis dan Bill of Quantities (BOQ), evaluasi vendor, negosiasi, serta finalisasi kontrak. Tahap ini bersifat strategis karena menentukan kesiapan proyek. Namun, sebagai perusahaan konstruksi milik negara, PT XY masih menghadapi permasalahan berupa lemahnya pengendalian kinerja, keterbatasan integrasi lintas fungsi, ketidaksiapan proses yang tidak merata, serta ketergantungan pada lagging indicators. Kondisi ini menunjukkan belum adanya mekanisme yang terstruktur untuk menegakkan compliance, accountability, dan early performance control, sehingga permasalahan kinerja baru teridentifikasi setelah berdampak pada procurement cycle time dan kesiapan proyek. Oleh karena itu, diperlukan Performance Management System (PMS) yang terstruktur dan berbasis pengetahuan. Penelitian ini menggunakan paradigma Knowledge-Based Performance Management System (KBPMS) untuk merancang PMS terintegrasi pada proses pre-contract procurement di PT XY. Analisis lingkungan internal dan eksternal dilakukan menggunakan PESTEL, SWOT–TOWS, dan Porter’s Five Forces. Selanjutnya, survei kuantitatif terhadap 55 responden dari Divisi Supply Chain, Divisi Operasi, dan tim proyek dilakukan untuk menilai tingkat kepentingan Key Performance Indicators (KPI) dengan metode Relative Importance Index (RII), yang kemudian diperingkat menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Untuk melengkapi analisis kuantitatif, dilakukan wawancara mendalam dengan tiga pemangku kepentingan kunci dari tiga divisi. Wawancara ini digunakan untuk memvalidasi KPI terpilih, mengidentifikasi permasalahan operasional, serta menerjemahkan kesenjangan kinerja ke dalam kebutuhan desain PMS dan proses digital pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 29 KPI yang dikelompokkan ke dalam tiga perspektif—Business Results, Internal Processes, dan Resource Capabilities— belum secara konsisten memenuhi target kinerja. Hal ini menegaskan perlunya sistem pemantauan yang lebih proaktif dan terintegrasi untuk meningkatkan kepatuhan, efektivitas proses, kualitas data, dan kapabilitas organisasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada proses precontract internal di satu perusahaan BUMN dan keterbatasan lingkup analisis kualitatif. Meskipun demikian, penelitian ini mengusulkan rencana implementasi PMS selama sembilan bulan yang mencakup tahap evaluasi, perencanaan, implementasi, dan penilaian, yang meliputi perancangan ulang alur kerja eProcurement, pengembangan dashboard kinerja, pelatihan pengguna, pilot testing, serta penguatan fitur digital untuk meningkatkan pengelolaan kinerja pre-contract procurement.
KAJIAN KOMPUTASI STRUKTUR MAGNETIK MATERIAL TOPOLOGICAL SEMIMETAL DAN ANOMALOUS HALL CONDUCTIVITY GDPTBI
Anomalous Hall conductivity (AHC) umumnya diasosiasikan dengan sistem feromagnetik yang memiliki magnetisasi remanen besar sehingga efek Hall dapat muncul walaupun tanpa pemberian medan magnetik eksternal. Namun, pemahaman AHC berbasis kurvatur Berry pada material topological semimetal (TSM) menunjukkan bahwa sistem antiferomagnetik (AFM) juga dapat memiliki nilai AHC yang signifikan walaupun hampir tidak memiliki magnetisasi remanen. Fenomena ini diamati pada material TSM AFM non-collinear Mn3Sn dan TSM AFM collinear GdPtBi. Secara khusus, keberadaan AHC pada material Mn3Sn telah diamati secara eksperimen dengan nilai yang berkorelasi terhadap perubahan struktur magnetiknya. Namun, berbagai studi terkait struktur magnetik Mn3Sn masih menunjukkan hasil yang beragam dalam hal kestabilan konfigurasi magnetik, sehingga diperlukan kajian sistematik untuk memperoleh validasi terhadap konfigurasi yang telah dilaporkan. Di sisi lain, fenomena perubahan AHC pada variasi struktur magnetik GdPtBi belum pernah dilaporkan. Hal tersebut menjadi dasar motivasi dalam penelitian ini untuk mempelajari struktur magnetik Mn3Sn dan GdPtBi serta kemungkinan kontrol AHC pada GdPtBi melalui variasi struktur magnetik AFM. Dalam studi ini, struktur magnetik dipelajari menggunakan pendekatan nilai medan magnetik internal yang dibandingkan dengan hasil eksperimen muon spin relaxation (????SR) dari literatur. Nilai medan magnetik internal dihitung secara numerik berbasis pendekatan medan magnetik dipolar pada posisi henti muon yang diestimasi sebelumnya dengan density functional theory (DFT). Pada Mn3Sn, posisi henti muon diperoleh pada posisi di antara dua konfigurasi segitiga atom Sn. Pada posisi tersebut medan magnetik internal dihitung dalam dua model struktur inverse triangular yaitu pada struktur dengan space group magnetik Pc’mm’ (AFM-1) dan Pcm’m’ (AFM-2) serta masing-masing variasinya terhadap sudut luar bidang (????) untuk menggambarkan struktur commensurate (???? = 90? ) dan incommensurate (???? ? 90? ). Hasil perhitungan medan magnetik internal kedua struktur membentuk pola sinusoidal dengan rentang ekstremum 0,46 T untuk struktur AFM-1 dan 2,7 T untuk AFM-2. Hasil tersebut akan dibandingkan dengan hasil eksperimen dari sampel polikristal. Pada material GdPtBi, penentuan posisi henti muon menunjukkan keberadaan dua kemungkinan posisi dengan konfigurasi oktahedral pada subkisi kosong dari kisi Bravais FCC. Dari kedua kemungkinan posisi, salah satunya memiliki medan magnetik internal yang sesuai dengan literatur. Kecocokan tersebut berada pada konfigurasi AFM dengan momen magnetik Gd berorientasi dengan sudut bidang (????) 30? . Hasil ini konsisten dengan data difraksi neutron yang telah dilaporkan, sehingga memvalidasi AFM dengan ???? = 30? sebagai keadaan dasar GdPtBi. Selanjutnya, efek perubahan struktur magnetik GdPtBi terhadap nilai AHC dipelajari menggunakan analisis struktur pita elektronik berbasis DFT dan formula Kubo berbasis interpolasi Wannier. Analisis struktur pita memperlihatkan adanya persilangan tiga pita di sekitar energi Fermi yang mengindikasikan material ini sebagai triple-point semimetal (TPSM). Variasi orientasi momen AFM dari ???? = 0 ? , 15? , 30? memodifikasi kekuatan spin–orbit coupling (SOC) yang menggeser energi titik triple secara signifikan dari keadaan tak terhuni menuju ke keadaan terhuni. Perhitungan AHC dengan formula Kubo menunjukkan bahwa hal ini berimplikasi langsung pada perubahan transpor AHC dengan perbedaan nilai mencapai 75,06 ??¹cm?¹. Hasil tersebut menunjukkan struktur pita berperan langsung terhadap AHC sehingga pengaturan struktur magnetik dapat digunakan sebagai mekanisme untuk meningkatkan performa AHC.
FORMULASI DAN OPTIMASI NANOEMULSI EKSTRAK DAUN KEMANGI (OCIMUM AMERICANUM L.) DENGAN SAKARIDA UBI CILEMBU SERTA UJI AKTIVITAS NEFROPROTEKTIF PADA MODEL HEWAN GAGAL GINJAL
Latar belakang dan tujuan: Kerusakan ginjal yang dipicu oleh stres oksidatif dan inflamasi merupakan salah satu mekanisme utama pada berbagai kondisi nefropati, sehingga diperlukan strategi terapi suportif yang mampu menargetkan kedua proses tersebut. Penelitian ini bertujuan memformulasikan dan mengoptimalkan nanoemulsi ekstrak daun kemangi (Ocimum americanum L.) dengan sakarida ubi Cilembu serta mengevaluasi respons molekuler jaringan ginjal tikus Wistar guna menilai potensi efek nefroprotektif sediaan tersebut. Metode: Nanoemulsi disiapkan melalui pendekatan bottom-up dengan pembentukan koloid polifenol yang diinduksi pemanasan, diikuti proses emulsifikasi. Optimasi dilakukan menggunakan metode One Factor At a Time (OFAT), desain faktorial, dan Box–Behnken Design (BBD) berdasarkan respons ukuran partikel. Formula terpilih dikarakterisasi dan diuji in vivo melalui biomarker stres oksidatif–inflamasi, analisis ekspresi gen, dan histopatologi ginjal. Hasil: Formula optimal diperoleh pada kombinasi faktor sakarida, heksilen glikol, dan gliserin pada Box–Behnken Design, yang setelah dikonfirmasi secara eksperimental menghasilkan ukuran partikel sebesar 174,20 ± 4,59 nm. Pada pengujian in vivo, pemberian formula optimum menurunkan kadar MDA dan TNF-?serta meningkatkan kapasitas antioksidan total (CUPRAC). Selain itu, kondisi stres oksidatif, inflamasi, dan apoptosis ginjal yang meningkat pada kelompok induksi mengalami perbaikan, yang ditunjukkan oleh penurunan signifikan ekspresi gen penanda cedera tubulus dan apoptosis (KIM-1, vimentin, Casp3, dan Capn1), disertai peningkatan signifikan ekspresi gen pertahanan antioksidan (Nrf2 dan HO-1) dan penurunan aktivitas jalur inflamasi NF-?B. Perubahan molekuler tersebut menunjukkan perbaikan kondisi stres oksidatif, inflamasi, dan kerusakan tubulus ginjal, yang selaras dengan pemulihan struktur jaringan ginjal pada analisis histopatologi PAS.
INDEKS PERSAHABATAN DARI GRAF HASIL OPERASI TAMBAH DAN KARAKTERISASI GRAF YANG MEMILIKI KARDINALITAS INDEKS PERSAHABATAN KECIL
Perkembangan teori pelabelan graf dimulai dengan konsep ?-valuation yang diperkenalkan oleh (Rosa, 1967), yang kemudian dipopulerkan oleh (Golomb, 1972) dengan sebutan pelabelan anggun (graceful labeling). Evolusi konsep ini melahirkan pelabelan harmoni (harmonious labeling) (Graham dan Sloane, 1980a) dan pelabelan Kordial (cordial labeling) (Cahit, 1987). Kemudian (Lee dan Ng, 2008) memperkenalkan konsep indeks persahabatan (friendly index) sebagai generalisasi kuantitatif dari pelabelan kordial. Secara formal, indeks persahabatan dari suatu graf G didefinisikan sebagai himpunan FI(G) = {N(f) : f pelabelan persahabatan}, dengan N(f) = |ef (1) ? ef (0)| mengukur selisih jumlah sisi berlabel 1 dan 0 dari pelabelan persahabatan f : V (G) ? {0, 1}. Meskipun penelitian tentang indeks persahabatan telah berkembang cukup pesat, kajian literatur menunjukkan adanya dua celah penelitian (research gaps), yaitu pengaruh operasi graf terhadap indeks persahabatan dan karakterisasi graf berdasarkan kardinalitas indeks persahabatan. Dalam tesis ini akan dibahas indeks persahabatan untuk operasi tambah G+H, yang menghubungkan setiap titik di G dengan setiap titik di H. Pembahasan ini dibentuk dari sifat-sifat FI(G+H) terhadap pelabelan G dan H yang terinduksi. Kemudian penelitian ini juga akan membahas karakterisasi graf G yang memiliki kardinalitas indeks persahabatan kecil, yaitu |FI(G)| = 1 atau |FI(G)| = 2 dengan menentukan hubungan pertukaran label titik -titik di G terhadap indeks dari pelabelan persahabatan G.
OPTIMISASI STRATEGI PEMASARAN HIJAU BERBASIS MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN PELANGGAN: STUDI KASUS SARIAYU MARTHA TILAAR
Penelitian ini mengkaji penerapan strategi green marketing berbasis media sosial dalam meningkatkan customer engagement, dengan studi kasus pada Sariayu Martha Tilaar. Dalam beberapa tahun terakhir, percepatan digitalisasi di industri kecantikan Indonesia telah menjadikan media sosial sebagai faktor penentu daya saing merek, khususnya di kalangan konsumen muda seperti Generasi Z dan Milenial yang menaruh perhatian besar pada keaslian, keberlanjutan, serta kecepatan interaksi digital. Meskipun Sariayu memiliki kredibilitas institusional yang kuat, sejarah merek yang panjang, serta komitmen terhadap kecantikan alami dan etis melalui Martha Tilaar Innovation Center dan program keberlanjutan Kampoeng Djamoe Organik, kinerja digital merek ini masih tergolong rendah. Ketidaksesuaian antara nilai hijau yang kuat dengan tingkat engagement digital yang lemah menunjukkan adanya permasalahan strategis yang memerlukan analisis sistematis. Sejalan dengan isu bisnis tersebut, penelitian ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, mengidentifikasi strategi pemasaran terintegrasi yang dapat diterapkan oleh Sariayu untuk memperkuat customer engagement sekaligus menjaga relevansi jangka panjang di tengah persaingan industri kecantikan yang semakin ketat. Kedua, menganalisis keterkaitan antara elemen pemasaran utama yaitu social media marketing, online marketing, brand ambassador, dan brand community dengan tingkat customer engagement yang dilaporkan oleh konsumen terhadap merek Sariayu. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfokus pada evaluasi hubungan statistik antarvariabel, tetapi juga menghasilkan rekomendasi strategis yang aplikatif bagi pengembangan bisnis. Penelitian ini menggunakan desain mixed-method. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui survei daring terhadap konsumen Generasi Z dan Milenial di Indonesia yang aktif menggunakan media sosial. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling untuk menguji keterkaitan antara stimulus pemasaran dan customer engagement. Sementara itu, pendekatan kualitatif dilakukan melalui analisis internal dan eksternal, termasuk observasi konten digital Sariayu, benchmarking dengan merek pesaing, serta kajian tren industri kecantikan berkelanjutan. Kombinasi kedua pendekatan ini memungkinkan triangulasi temuan dan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan adanya engagement paradox. Meskipun model penelitian memiliki kemampuan prediktif yang kuat terhadap customer engagement, variabel psikologis yang sebelumnya diasumsikan sebagai mediator—seperti sikap terhadap engagement dan norma subjektif—tidak terbukti berperan signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa engagement konsumen, khususnya Generasi Z, lebih bersifat respons langsung terhadap stimulus digital dibandingkan sebagai hasil dari proses psikologis yang terencana. Selain itu, aktivitas brand community ditemukan memiliki hubungan negatif dengan sikap terhadap engagement, yang mengarah pada kemungkinan terjadinya kejenuhan konten atau persepsi kurangnya keaslian dalam aktivitas komunitas yang dijalankan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rendahnya engagement Sariayu terutama disebabkan oleh faktor organisasi dan eksekusi, khususnya keterbatasan digital agility serta ketidakmampuan menerjemahkan nilai keberlanjutan berbasis heritage ke dalam format konten yang relevan dengan platform digital. Berdasarkan analisis TOWS, penelitian ini merekomendasikan penerapan strategi terintegrasi yang mencakup pemanfaatan micro-influencer, optimalisasi kanal real-time commerce, penguatan storytelling hijau yang autentik, serta peningkatan intensitas dan konsistensi aktivasi digital untuk meningkatkan engagement dan daya saing di platform berbasis algoritma.
USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK MEMPERKUAT DAYA SAING DALAM LINGKUNGAN INDUSTRI KEBUGARAN DI PASAR SKALA KECIL MELALUI PENYEMPURNAAN BISNIS MODEL KANVAS: STUDI KASUS AW FITNESS CENTER
AW Fitness Center telah menjadi satu-satunya pusat kebugaran di Nanga Pinoh selama lebih dari sebelas tahun, sehingga memiliki monopoli alami dan basis pelanggan di pasar lokal yang kecil. Situasi ini berubah pada Juni 2025 ketika pesaing baru dan lebih modern masuk ke wilayah tersebut, sehingga pendapatan AW Fitness Center turun sekitar 40%. Perubahan mendadak ini membuat ekspektasi pelanggan menjadi jelas dan bagaimana AW Fitness Center perlu merevisi model bisnisnya untuk tetap relevan. Studi ini berfokus pada faktor internal dan eksternal yang memengaruhi tantangan saat ini yang dihadapi oleh gym dan bertujuan untuk menawarkan model bisnis yang lebih sesuai untuk lingkungan kompetitif baru. Penelitian ini menggunakan studi kasus kualitatif dengan 15 peserta dari pemangku kepentingan internal dan eksternal. Mengimplementasikan analisis Lima Kekuatan Porter, analisis VRIO, dan pemetaan Business Model Canvas untuk memahami kondisi bisnis saat ini. Temuan menunjukkan kekuatan mulai dari hubungan berbasis kepercayaan dan layanan fleksibel, hingga kelemahan utama seperti fasilitas yang sudah tua, operasi informal, dan kapasitas staf yang terbatas. Dengan menggunakan analisis SWOT-TOWS, studi ini merumuskan 14 arah strategis yang diterjemahkan menjadi 32 perbaikan dalam Business Model Canvas yang dirancang ulang. Model yang diusulkan menyediakan jalur yang praktis dan realistis bagi AW Fitness Center untuk meningkatkan daya saingnya, memberikan pengalaman anggota yang lebih baik, dan mencapai keberlanjutan dalam lingkungan pasar yang kecil.
MENINGKATKAN KEAMANAN DIGITAL MENGGUNAKAN KERANGKA PENILAIAN KEMATANGAN KEAMANAN SIBER DI TELKOMSIGMA
Mengingat lingkungan cybersecurity yang rumit akibat pesatnya perkembangan teknologi digital, teknologi perlindungan tingkat lanjut sangat diperlukan. Tingkat kesiapan cybersecurity di Indonesia masih belum merata, di mana banyak organisasi beroperasi pada tingkat kematangan (maturity level) yang rendah dan sangat rentan terhadap ancaman. Studi ini berfokus pada salah satu perusahaan TIK terkemuka di Indonesia yang menghadapi masalah skor dasar Cyber Maturity Assessment (CMA) yang rendah, yaitu 1.44, yang menunjukkan postur keamanan yang ad hoc dan reaktif. Untuk memverifikasi perubahan yang terukur, studi ini bertujuan mengidentifikasi masalah mendasar yang menyebabkan skor rendah, menyusun rencana perbaikan yang terfokus, dan menilai keberhasilan kegiatan yang telah diimplementasikan. Penelitian ini menggunakan desain riset campuran, yaitu kualitatif-kuantitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui Focus Group Discussions (FGDs) dengan stakeholders terpilih dan penilaian menyeluruh terhadap dokumentasi internal organisasi. Sementara itu, analisis kuantitatif menggunakan formula penilaian Cyber Maturity Assessment (CMA) dari Global Consulting Company untuk menilai domain-domain kerangka kerja dalam peringkat kematangan maturity ratings. Berdasarkan hasil ini, dibuatlah solusi bisnis yang terfokus dan strategi implementasi menyeluruh untuk meningkatkan kematangan siber. Diagnosis awal menemukan kesenjangan kritis di setiap domain. Domain Legal and Compliance (Hukum dan Kepatuhan) dan Business Continuity Management (Manajemen Kelangsungan Bisnis) mendapatkan skor terendah karena rencana pemulihan yang belum teruji dan kurangnya proses berbasis teknologi yang terformalisasi. Sebagai respons, dikembangkan roadmap prioritas selama tiga tahun, yang berfokus pada dokumentasi dan integrasi strategis. Setelah inisiatif-inisiatif ini diterapkan dan divalidasi melalui evaluasi, skor kematangan total organisasi meningkat dari 1.44 menjadi 2.50. Studi ini menyimpulkan bahwa implementasi peta jalan secara sistematis dan bertahap terbukti sangat efektif, berhasil memvalidasi pendekatan tesis untuk meningkatkan kematangan siber. Studi ini menawarkan landasan yang bermanfaat bagi perusahaan TIK untuk beralih dari postur keamanan yang ad hoc dan reaktif menjadi postur yang Defined (Terdefinisi) dan Managed (Terkelola). Hasil ini juga menunjukkan bahwa meskipun domain operasional dapat ditingkatkan secara signifikan, domain strategis seperti Legal and Compliance memerlukan komitmen berkelanjutan dari eksekutif setelah dokumentasi awal untuk mencapai kematangan penuh (full maturity).
DIVERSIFIKASI STRATEGIS PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI MENENGAH: MENYEIMBANGKAN PERTUMBUHAN DENGAN PELESTARIAN KOMPETENSI INTI – STUDI KASUS WSA CONSTRUCTION + PLANNING
Perusahaan konstruksi di Indonesia semakin berupaya menyesuaikan bidang operasinya dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki. Ketiadaan strategi yang relevan menjadi perhatian utama bagi perusahaan yang berusaha menganalisis kapabilitas operasionalnya di pasar tertentu. WSA Construction + Planning menjadi acuan utama dalam penelitian ini. Strategi pertumbuhan yang dapat diimplementasikan dikembangkan melalui kombinasi penelitian kualitatif (wawancara dengan pemangku kepentingan sebanyak n=6) dan metodologi kuantitatif (n=87) berdasarkan jalur diversifikasi WSA. WSA membutuhkan strategi dan kerangka kerja yang lebih baik untuk menganalisis perusahaan konstruksi dan pertumbuhan pasar. Menurut kerangka Porter’s Five Forces, pembangunan fasilitas kesehatan memiliki potensi pertumbuhan tertinggi dibandingkan tiga sektor konstruksi yang dianalisis. WSA dapat memanfaatkan dinamika pertumbuhan sektor konstruksi melalui pendekatan kompetitif multifaset karena proyeksi peningkatan pembangunan di segmen kesehatan. WSA memiliki pendekatan yang tepat dalam konstruksi melalui pengembangan kapabilitas dinamis (sensing, seizing, transforming), namun perlu memperdalam pengetahuan terkait konstruksi fasilitas kesehatan dan kepatuhan terhadap standar yang berlaku. Strategi yang diusulkan berfokus pada spesialisasi konstruksi fasilitas kesehatan (60% dari total investasi diversifikasi, dengan target kontribusi pendapatan 33% pada tahun 2029 sebesar Rp70 miliar) serta konsultasi berbasis keberlanjutan (40% dari total investasi diversifikasi, dengan target kontribusi pendapatan 16% pada tahun 2029 sebesar Rp33,5 miliar). Kombinasi ini menciptakan posisi pasar unik sebagai sustainable healthcare construction specialist. Kerangka implementasi lima tahun memperkirakan peningkatan pendapatan dari Rp82 miliar (2024) menjadi Rp215 miliar (2029), mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 21% dengan internal rate of return antara 32–38% . Celah penelitian terletak pada integrasi teori Resource-Based View, Dynamic Capabilities Theory, dan Core Competence Theory dalam konteks diversifikasi industri konstruksi, pengembangan metode baru berbasis validasi pemangku kepentingan (stakeholder-validated market framework), serta diversifikasi kompetitif berkelanjutan berbasis keunggulan operasional. Dengan mengindeks strategi tersebut dalam konteks industri konstruksi, temuan ini memperluas kerangka kerja bagi perusahaan konstruksi menengah untuk menjalankan diversifikasi strategis yang berkelanjutan di pasar yang terus berkembang.
TRANSFORMASI SOLUSI SUMBER DAYA MANUSIA STRATEGIS DI KORPORASI PELABUHAN : PENDEKATAN SKENARIO
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kompatibilitas perencanaan skenario dalam menyiapkan strategi yang tepat bagi perusahaan pembelajaran dan konsultasi bagian dari grup operator pelabuhan badan usaha milik negara (BUMN), dalam mengembangkan kemampuannya untuk menghadapi tantangan dalam memenuhi mandat perusahaan induk sebagai penyedia solusi sumber daya manusia (SDM). Penelitian kualitatif ini dimulai dengan menggabungkan analisis lingkungan eksternal menggunakan PESTEL dan evaluasi sumber daya internal dengan model VRIO untuk mengidentifikasi ketidakpastian penting yang memengerauhi arah strategis perusahaan, diperkuat dengan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) yang melibatkan tim operasional internal untuk mengidentifikasi masalah yang dirasakan dan faktor pendorong, diikuti dengan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan manajerial dan strategis untuk memvalidasi dan menyempurnakan skenario yang muncul. Dari rangkaian faktor pendorong yang lebih luas, dua ketidakpastian kritis diidentifikasi: tingkat otonomi strategis yang diberikan kepada perusahaan dalam kelompok BUMN dan tingkat keterbukaan pasar di luar ekosistem operator pelabuhan internal. Ketidakpastian ini menjadi dasar matriks empat skenario yang dikembangkan dengan narasi terperinci, implikasi strategis, sinyal peringatan dini, dan opsi tanggapan. Pendekatan ini memfasilitasi formulasi opsi strategis yang tidak dioptimalkan untuk masa depan tunggal, melainkan tangguh di berbagai lingkungan yang dimungkinkan. Studi ini menyimpulkan bahwa perencanaan skenario memainkan peran kritis sebagai alat strategi perusahaan sekaligus menyoroti pentingnya pembangunan kemampuan secara bertahap yang selaras dengan rencana jangka panjang perusahaan dan batasan tata kelola perusahaan. Tiga rekomendasi strategis inti diusulkan: mengadopsi perencanaan skenario sebagai mekanisme strategi korporat yang berulang, menerapkan pengembangan kemampuan secara bertahap dan terstruktur sesuai dengan kematangan organisasi yang realistis, serta mengelola ketergantungan pihak ketiga melalui strategi kemitraan selektif daripada internalisasi penuh. Secara kolektif, rekomendasi ini menyediakan kerangka kerja praktis dan berbasis teori untuk perusahaan pembelajaran dan konsultasi yang berafiliasi dengan BUMN yang ingin berkembang menjadi pelabuhan kelas dunia yang didukung oleh sumber daya manusia kelas dunia.
PLACE ATTACHMENT PADA RESTORAN CAGAR BUDAYA DENGAN PEDEKATAN ADAPTIVE REUSE (STUDI KASUS: RESTORAN DAKKEN RIAU, BANDUNG)
Restoran Dakken Riau merupakan hasil adaptive reuse dari bangunan cagar budaya yang berada di Jalan Martadinata, Kota Bandung. Dakken menawarkan suasana asli bangunan hunian kolonial Belanda sebagai daya tarik utamanya. Adaptive reuse pada bangunan Dakken menghasilkan transformasi ruang yang memungkinkan pengunjung ikut merasakan suasana bangunan cagar budaya walaupun bukan pada fungsi aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan konsep adaptive reuse pada Restoran Dakken Riau dan mencari tahu faktor-faktor yang berpengaruh dalam memunculkan place attachment pengunjung. Restoran Dakken Riau dipilih sebagai salah satu bangunan cagar budaya golongan A dan berdiri pada kawasan yang juga berkembang pesat sebagai kawasan komersial di Kota Bandung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan rancangan penelitian exploratory sequential. Hasil penelitian menunjukkan adaptive reuse memberikan transformasi ruang dari bangunan hunian kolonial yang bersifat privat menjadi ruang publik komersial berupa restoran. Adaptasi bangunan Dakken memunculkan beragam aktivitas dan kondisi spasial yang berpengaruh kepada place attachment pengunjung. Dari berbagai indikator, terdapat delapan faktor laten yang mempengaruhi place attachment pada bangunan ini, yaitu: keterikatan emosional, kepuasan tempat, aspek privasi, aktivitas, lokasi, karakteristik bangunan, tekstur dan estetika dan atmosfir tempat. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan keterikatan pegunjung cenderung kepada indikator keterikatan fisik bangunan, diikuti dengan indikator keterikatan sosial, kepuasan tempat dan keterikatan emosional.