📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENCUCIAN HIJAU DALAM TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN: ANALISIS KRITIS TERHADAP KLAIM KEBERLANJUTAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN INDONESIA
Isu mengenai kredibilitas pelaporan keberlanjutan di sektor pertambangan semakin mendapat perhatian, terutama karena meningkatnya indikasi praktik greenwashing dalam pengungkapan CSR dan ESG perusahaan di Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara klaim keberlanjutan yang dilaporkan perusahaan dengan dampak lingkungan dan sosial yang dialami masyarakat di sekitar wilayah tambang, sehingga diperlukan suatu pendekatan evaluatif yang lebih kritis dan terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan bentuk-bentuk greenwashing yang ditemukan dalam studi terdahulu, mengevaluasi tingkat transparansi dan akurasi klaim keberlanjutan, serta memetakan tema dominan dan tren penelitian terkait greenwashing melalui analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer. Metode PRISMA 2020 V2 digunakan untuk menyeleksi 15 literatur yang paling relevan, yang kemudian dianalisis secara mendalam melalui pendekatan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola berulang terkait pengungkapan selektif, CSR simbolis, serta lemahnya akuntabilitas tata kelola dalam pelaporan keberlanjutan perusahaan tambang. Penelitian ini juga mengembangkan sebuah kerangka evaluasi greenwashing yang dirancang khusus untuk konteks pertambangan di Indonesia, yang dapat menjadi dasar teoretis dalam menilai keaslian dan integritas klaim keberlanjutan secara lebih ketat. Kerangka ini diharapkan dapat memperkuat transparansi, meningkatkan akuntabilitas, dan mendorong penelitian lanjutan mengenai pelaporan keberlanjutan dan praktik greenwashing.
PERANCANGAN BUSANA BERTEMA DISTOPIA MENGGUNAKAN TEKNIK REKA LATAR TEKSTIL
Penelitian ini mengangkat perancangan busana bertema distopia sebagai refleksi terhadap ketidakpastian, krisis sosial, dan degradasi lingkungan yang dihadapi manusia dalam konteks kehidupan kontemporer. Distopia dipahami sebagai gambaran kondisi masyarakat yang tidak stabil dan sarat kecemasan terhadap masa depan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk visual busana. Perancangan ini menempatkan busana tidak hanya sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai media naratif dan simbolik yang merepresentasikan isu-isu global serta pengalaman adaptasi manusia terhadap perubahan lingkungan dan sistem sosial. Melalui eksplorasi bentuk, siluet, dan detail visual, busana dirancang untuk menyampaikan pesan konseptual sekaligus tetap relevan dengan konteks fesyen kontemporer. Hasil karya ini menunjukkan bahwa busana memiliki potensi sebagai medium refleksi kritis yang mampu mengartikulasikan gagasan distopia secara visual, serta berkontribusi dalam memperluas wacana fesyen sebagai bentuk ekspresi budaya yang responsif terhadap dinamika sosial dan lingkungan.
PENGEMBANGAN HIDROGEL BERBASIS PATI TALAS (COLOCASIA ESCULENTA) YANG TERMUATI BIOFLAVONOID SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL
Umbi talas sebagai sumber pangan memiliki kandungan gizi yang tinggi sudah banyak dimanfaatkan terutama di sentra-sentra penghasil talas. Selama ini, umbi talas hanya diolah dari umbi segar kemudian dijadikan tepung, talas kukus, keripik, atau bahan makanan lainnya, tanpa adanya perlakuan-perlakuan secara mikro seperti pemisahan metabolit sekunder atau primer. Padahal selain memiliki kandungan gizi yang tinggi, umbi talas juga merupakan bahan alam yang potensial untuk dijadikan sumber alternatif polimer alami. Penggunaan polimer sudah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, salah satunya sebagai matriks dalam bentuk hidrogel. Hidrogel merupakan jaringan ikat silang polimer tiga dimensi yang dapat menyerap dan menahan air sekaligus mempertahankan struktur. Polimer sintetis sebagai bahan dasar hidrogel sudah banyak digunakan sejak jaman dahulu. Seiring berkembangnya zaman penggunaan polimer sintetis memiliki efek buruk terhadap lingkungan. Sehingga perlu adanya sumber alternatif polimer alami sebagai bahan dasar pembuatan hidrogel. Pati merupakan salah satu polimer alami sebagai bahan dasar hidrogel. Pada penelitian ini dilakukan isolasi pati talas serta sintesis hidrogel berbasis pati talas menggunakan metode freeze–thaw yang dimodifikasi melalui pembentukan ikat silang ganda (double network, DN). Isolasi pati talas dengan proses sentrifugasi menghasilkan kadar amilosa tertinggi sebesar 21,94%, yang berkontribusi terhadap peningkatan viskositas suspensi pati. Kelayakan pati sebagai bahan pangan ditunjukkan oleh hasil analisis proksimat berupa kadar air rendah, kadar glukosa di bawah ambang batas BPOM, dan tidak terdeteksinya lemak jenuh. Selain itu, keamanan produk dikonfirmasi melalui hasil analisis aflatoksin dan logam berat yang berada di bawah ambang batas regulasi. Penelitian ini secara umum terbagi dalam tiga tahapan utama, yaitu (i) isolasi pati talas, (ii) sintesis hidrogel pati talas dan modifikasi ikat silang melalui pembentukan jaringan ganda (DN), dan (iii) pemuatan bioflavonoid ke dalam hidrogel-DN. Pada tahap sintesis hidrogel, konsentrasi pati 9–14% menghasilkan struktur berpori dan berikat silang sebagaimana teramati melalui citra SEM dan pengukuran derajat pengembangan. Pati talas 14% menghasilkan sifat fisik dan tekstur paling unggul sebagai matriks penghantar. Melalui modifikasi ikat silang DN, pembentukan jaringan interpenetrating polymer network (IPN) antara pati dan glukomanan meningkatkan integritas ikatan silang serta kekuatan tekstur hidrogel yang dikonfirmasi oleh karakterisasi XRD, FTIR, SEM dan TPA. Pada tahap pemuatan bioflavonoid, hidrogel-DN menunjukkan sifat fisikokimia dan tekstur yang sesuai untuk aplikasi sistem penghantaran bioaktif. Hidrogel-bioflavonoid yang dihasilkan memiliki pelepasan senyawa aktif yang terkontrol dengan kapasitas pemuatan sebesar 26% dan efisiensi pemuatan mencapai 73,45%. Aktivitas antioksidan hidrogel sangat kuat, ditunjukkan oleh nilai IC?? sebesar 19,503 µg/mL dan persen inhibisi sebesar 82%. Hidrogel-bioflavonoid juga menunjukkan stabilitas yang baik sebagai pangan fungsional, dengan umur simpan masingmasing 63, 48, dan 44 hari pada suhu penyimpanan 10, 25, dan 35 °C. Temuan ini menunjukkan bahwa hidrogel berbasis pati talas dengan modifikasi ikat silang DN memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sistem penghantaran bioflavonoid dalam produk pangan fungsional yang memiliki aktivitas antioksidan dan berperan dalam peningkatan kesehatan.
PENGEMBANGAN HIDROGEL BERBASIS POLIMER ALAMI GLUKOMANAN DARI UMBI PORANG (AMORPHOPHALLUS MUELLERI BLUME) DAN POTENSI APLIKASINYA SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL
Hidrogel berbasis biopolimer menawarkan peluang strategis dalam pengembangan pangan fungsional karena sifatnya yang biokompatibel, kemampuannya menyerap air, serta potensinya sebagai matriks penghantaran senyawa bioaktif. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan produk pangan yang tidak hanya bernilai gizi tetapi juga memiliki efek fisiologis tambahan, glukomanan dari umbi Amorphophallus muelleri Blume (porang) menawarkan prospek yang sangat menjanjikan. Tantangan utamanya terletak pada variasi kualitas bahan baku, mekanisme pembentukan jejaring hidrogel yang memerlukan kontrol presisi, serta kemampuan matriks untuk mempertahankan stabilitas bioaktif alami. Penelitian ini menyajikan suatu strategi terpadu yang mencakup optimasi ekstraksi glukomanan, sintesis hidrogel melalui mekanisme Freeze–Thaw (FT), rekayasa jejaring fisik–ionik–ganda, serta pemuatan ekstrak temulawak untuk menghasilkan sistem penghantaran bioaktif yang stabil, fungsional, dan berpotensi diaplikasikan pada produk pangan modern. Tiga metode ekstraksi diuji secara komprehensif, dan metode multi-tahap etanol menghasilkan glukomanan berkadar tinggi dengan kandungan abu serta kalsium oksalat terendah, viskositas larutan tertinggi, struktur morfologi granula yang lebih seragam dan pola kristalinitas yang konsisten sesuai hasil FTIR dan XRD. Glukomanan ini kemudian digunakan sebagai prekursor utama untuk sintesis hidrogel melalui mekanisme FT. Optimasi proses dilakukan menggunakan desain Box–Behnken yang dikombinasikan dengan model pembelajaran mesin (Gradient Boosting, AdaBoost, dan kNN). Hasilnya menunjukkan bahwa konsentrasi glukomanan, durasi pembekuan, dan jumlah siklus FT merupakan parameter dominan yang menentukan ukuran pori, derajat pengembangan, dan kekuatan mekanik hidrogel. Model statistik menunjukkan kecocokan sangat baik (R² 0,95–0,99), sementara integrasi pembelajaran mesin meningkatkan akurasi prediksi terutama untuk variabel respons yang sangat nonlinear, seperti diameter pori. Variasi jejaring kemudian dianalisis melalui pembentukan tiga tipe matriks: jejaring fisik, jejaring ionik berbasis sodium tripolyphosphate, dan jejaring ganda yang mengombinasikan keduanya. Jejaring tunggal fisik/single network (SN-Fisik) menampilkan pori yang saling terhubung dengan kapasitas pengembangan tinggi karena dominasi ikatan hidrogen. Jejaring tunggal ionik/single network (SN-Ionik) memperlihatkan struktur yang lebih rapat akibat kolaps, derajat pengembangan lebih rendah, dan tekstur yang lebih lembut. Sementara itu, jejaring ganda/double network (DN) menunjukkan stabilitas paling baik, pori lebih teratur, ketahanan mekanik lebih tinggi, dan respons pengembangan yang lebih terkendali. Hasil SEM, FTIR, Raman, dan XRD menunjukkan reorganisasi molekuler dan perubahan kristalinitas yang konsisten dengan mekanisme pembentukan masing-masing jejaring. Fungsionalisasi hidrogel dilakukan melalui pemuatan ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) sebagai sumber senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri. Interaksi non-kovalen antara gugus hidroksil glukomanan dan senyawa bioaktif terdeteksi melalui pergeseran vibrasi pada spektrum FTIR dan Raman. Pemuatan ekstrak terbukti memodifikasi sifat hidrogel, terutama pada morfologi pori, kekuatan gel, dan kapasitas pengembangan. Uji pelepasan menunjukkan profil pelepasan terkontrol, di mana kecepatan difusi dipengaruhi oleh densitas jejaring fisik–ionik dan struktur pori internal. Aktivitas antioksidan dan antibakteri meningkat signifikan setelah pemuatan ekstrak, sementara uji biokompatibilitas in vitro menunjukkan respons yang tetap aman. Analisis fakta nutrisi mengungkap bahwa hidrogel glukomanan–temulawak memiliki kadar air tinggi, karbohidrat, protein dan lemak pada kadar sangat rendah, natrium minimal, serta nilai energi 165,36 kkal per 100 g. Profil ini konsisten dengan karakteristik bahan pangan rendah energi dan mendukung kelayakannya sebagai agen pembawa bioaktif untuk produk pangan fungsional. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara optimasi ekstraksi, rekayasa jejaring hidrogel, dan fungsionalisasi bioaktif mampu menghasilkan platform hidrogel glukomanan– temulawak yang stabil, aman, memiliki aktivitas biologis yang meningkat, dan berpotensi kuat untuk diaplikasikan dalam pengembangan pangan fungsional berbasis biomaterial lokal Indonesia.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM GRAPHICAL USER INTERFACE (GUI) PADA INSTRUMEN PENGUKURAN HASIL DMF-PCR
Makalah ini berisi perancangan, implementasi, serta verifikasi dari subsistem Graphical User Interface dari alat pengukuran dari proses Polymerase Chain Reaction (PCR) pada platform Digital Microfluidic (DMF). Sistem pengukuran yang dibuat dengan memanfaatkan prinsip flouresens dan menggunakan pewarna SYBR GREEN I untuk memantau proses amplifikasi dari deoxyribonucleic acid (DNA) atau ribonucleic acid (RNA). Pengembangan subsistem GUI ini dilakukan menggunakan framework Qt Quick dengan bahasa pemrograman C++ yang diintegrasikan pada platform sistem tertanam Raspberry Pi Model B. GUI bertujuan sebagai antarmuka pengguna dengan sistem, dengan masukan yang diberikan berupan sentuhan jari pengguna. Perancangan antarmuka difokuskan pada kemudahan operasional dalam pengaturan parameter eksperimen serta visualisasi data kurva amplifikasi secara real-time. GUI yang sudah dibuat dan dijalankan di Raspberry Pi akan dilakukan beberapa pengujian untuk memverifikasi kesesuaian implementasi dengan desain. Pengujian dilakukan dengan menelusuri semua state dan transisi dari state machine yang sudah di desain, selain itu juga dilakukan pengujian untuk integrasi antara GUI dengan subsistem mikroprosesor untuk memverifikasi kesesuaian keluaran berdasarkan dari masukan yang diberikan pengguna melalui GUI. Selain itu juga dilakukan pengujian untuk melihat seberapa mudahnya UI digunakan dengan memberikan kuesioner kepada beberapa sukarelawan yang mencoba produk. Hasil pengujian yang didapat adalah, sistem berhasil menjalankan semua state sesuai dengan yang sudah di desain, hasil kuesioner yang diberikan menunjukkan bahwa User Interface (UI) yang dibuat muda untuk digunakan. Namun, salah satu bagian fitur tambahan, yaitu multi-experiment gagal untuk berjalan ketika GUI dijalankan di Raspberry Pi.
APLIKASI PEMBANGUNAN MODEL KECEPATAN SEISMIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK COLOR INVERSION DAN MULTIATTRIBUTE PADA DEPTH MIGRATION
Seismik refleksi merupakan metode geofisika yang banyak digunakan untuk memetakan struktur bawah permukaan, khususnya dalam eksplorasi migas dan kajian geologi struktur. Namun demikian, bumi secara alami bersifat heterogen, baik dari segi sifat fisika batuan maupun kondisi geologinya. Keberadaan lapisan miring, lipatan, patahan, serta variasi kecepatan lateral yang kuat menyebabkan penampang seismik pada domain waktu sering kali tidak mampu merepresentasikan posisi reflektor yang sebenarnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesalahan interpretasi apabila tidak didukung oleh proses migrasi yang tepat dan model kecepatan yang akurat. Oleh karena itu, kualitas citra seismik sangat bergantung pada ketelitian pemodelan kecepatan, khususnya pada area dengan kompleksitas geologi tinggi. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk membangun dan mengevaluasi model kecepatan interval sebagai input utama pada proses Post Stack Depth Migration (PostSDM) dengan memanfaatkan pendekatan color inversion dan multi-attribute yang dikontrol oleh model strata berbasis batas horizon. Data yang digunakan berupa data seismik pre-stack yang terlebih dahulu diproses melalui tahapan input data, pengaturan geometri, analisis kecepatan menggunakan metode semblance dan Interactive Velocity Analysis (IVA), serta penerapan prestack time migration. Hasil time migration gather digunakan untuk mengevaluasi kualitas kecepatan melalui analisis residual moveout, sedangkan penampang time migration dimanfaatkan sebagai dasar interpretasi struktur, inversi seismik, dan ekstraksi properti. Ekstraksi log dilakukan pada penampang time migration untuk memperoleh log pseudo-well berupa acoustic impedance, kecepatan gelombang P, densitas, dan kedalaman. Log hasil ekstraksi dianalisis melalui crossplot untuk mengidentifikasi hubungan fisik antar parameter serta sebagai dasar penentuan target pemodelan kecepatan. Picking horizon dilakukan sebagai dasar pembentukan model strata yang akan digunakan dalam inversi dan atribut. Selanjutnya, resolusi lateral model kecepatan ditingkatkan menggunakan pendekatan multi-attribute berbasis atribut seismik, serta menggunakan metode band-limited color inversion guna menghasilkan model kecepatan interval yang konsisten secara lateral dan vertikal. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi multi-attribute dan color inversion menghasilkan model kecepatan interval yang lebih representatif terhadap kondisi bawah permukaan dibandingkan model awal. Penerapan kedua model kecepatan tersebut dalam proses PostSDM dan migrasi ulang domain waktu menghasilkan citra kedalaman dengan reflektor yang lebih terfokus, mampu menggambarkan struktur kompleks dan sistem patahan secara lebih tajam, serta memperbaiki posisi struktur secara signifikan. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa citra hasil migrasi menggunakan velocity interval dari kedua pendekatan memiliki kualitas yang relatif setara. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan teknik color inversion dan multi-attribute yang dikontrol oleh model strata berbasis batas horizon merupakan faktor penting dalam keberhasilan pemodelan kecepatan interval dan peningkatan kualitas migrasi seismik domain kedalaman pada area dengan variasi kecepatan lateral yang tinggi.
PERANAN DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR PADA PERILAKU OTOKORELASI MODEL OTOREGRESI DENGAN MATRIKS HANKEL
Disertasi ini membahas peranan Dekomposisi Nilai Singular (DNS) dalam memahami perilaku otokorelasi pada metode Box-Jenkins (BJ), khususnya untuk model otoregresi (Autoregressive, AR) melalui pendekatan matriks Hankel (H). Pendekatan berangkat dari kebutuhan untuk menggali keterkaitan antara struktur akar–siku (root–elbow pattern) pada spektrum singular dengan karakteristik dinamika Deret Waktu (DW). Meskipun DNS telah lama digunakan dalam berbagai bidang seperti analisis korespondensi, model regresi linier dan pembelajaran mesin, penerapannya pada DW untuk mengidentifikasi karakteristik otokorelasi model AR melalui struktur H masih terbatas dan memerlukan kajian yang lebih mendalam. DNS pada penelitian ini merujuk pada pendekatan analisis DW yang dikenalkan oleh Broomhead dan King, yang dikenal dengan Analisis Spektrum Singular (Singular Spectrum Analysis, SSA). Meskipun BJ dan SSA memiliki tujuan yang sama, namun pendekatan yang digunakan sangatlah berbeda. Permasalahan yang masih terbuka yaitu bagaimana DNS dilakukan untuk menyederhanakan subkomponen pada model AR secara efektif dan efisien. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis perilaku spektrum singular yang dihasilkan dari representasi H model AR(1) dan AR(2), serta menilai kestabilan dan konsistensinya terhadap variasi parameter model (????????) dan panjang jendela (window length, ????). Karakteristik statistik-aljabar dari matriks H pada DNS dikaji lebih dalam sebagai dasar penentuan panjang jendela optimal (????????????????). Nilai ???????????????? ditentukan berbasis kestabilan nilai singular dari H (???????? ? ) dengan batas toleransi terpilih (????????) sebesar 10%, 5% dan 1%. Semakin ketat ????????, semakin besar ???????????????? yang dibutuhkan. Untuk menguji kesesuaian teori DNS, dilakukan penerapan pada data empiris Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (NTR–USD) selama 10 tahun masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014-2024) yang terbagi atas 2 periode. Masing-masing periode ini merepresentasikan model AR(1) dan AR(2). Metode penelitian meliputi simulasi DW model AR(1) dan AR(2) dengan berbagai kombinasi ???????? yang diubah ke dalam struktur matriks H. DNS kemudian dilakukan untuk memperoleh ???????? ? dan vektor singular (???????? dan ????????) terkait. Barisan ???????? ? dianalisis dari sisi kestabilan, pola dominasi dan konvergensinya terhadap variasi ????. Analisis pada data empiris NTR–Dollar AS digunakan untuk menilai tingkat konsistensi hasil simulasi terhadap fenomena nyata. Berbeda dengan data simulasi, data empiris lebih kompleks karena faktor eksternal, derau dan ketidakpenuhan asumsi pada residual model (????????) yang dapat mempengaruhi struktur DNS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada model AR(1), kestabilan barisan ????1 ? terjaga pada ???? = 2 dengan pola akar-siku DNS konsisten terhadap perubahan ????1. Ketika |????1|? 1, kontribusi ????1 ? semakin dominan. Hasil analitik juga menjamin bahwa selisih antara variasi oleh ????1 dan ????2 terhadap inersia total (????1,2) ? ????1 dengan selisih <10%. Temuan ini meyakinkan bahwa DNS mampu menangkap struktur dominan otokorelasi secara efisien pada model sederhana. Sebaliknya, pada model AR(2), kestabilan spektrum singular bergantung pada jenis akar karakteristik polinomial model (?), baik riil positif/negatif maupun kompleks konjugat. Akibatnya, perilaku DNS menjadi lebih kompleks. Selain itu, hasil numerik berdasarkan analisis konvergensi menunjukkan bahwa ???????????????? antara 3-23 memberikan keseimbangan antara efisiensi komputasi dan kestabilan hasil DNS. Secara umum, penerapan pada data empiris NTR-USD memperlihatkan pola sejalan dengan hasil simulasi. Dengan demikian, DNS tidak hanya valid secara teoritis dan numerik, tetapi juga aplikatif serta unggul dalam menangkap perubahan struktur dinamis DW antar periode. Kebaruan pada disertasi ini terletak pada integrasi pendekatan DNS dan struktur H dalam menganalisis otokorelasi model AR dan juga penentuan ???????????????? yang meliputi penguatan landasan teoritis, pengayaan metode diagnostik ordo pada model AR berbasis spektrum singular serta perluasan penerapan DNS pada data empiris ekonomi. Secara keseluruhan, disertasi ini menegaskan bahwa DNS bukan hanya alat dekomposisi matematis, tetapi juga memiliki peranan substantif dalam memahami struktur dinamis DW. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan metode analitik baru untuk model AR dengan ordo lebih tinggi maupun penerapannya pada berbagai bidang empiris.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM SWITCHING, DAYA, SERTA CASING PRODUK PADA SISTEM DETEKSI KELAYAKAN KABEL KONEKTOR BANANA 4MM BERBASIS RESISTANSI
Kegiatan praktikum pada pendidikan sarjana Teknik Elektro sangat bergantung pada ketersediaan peralatan ukur yang andal, termasuk kabel konektor banana 4mm. Dalam praktiknya, degradasi kabel yang disebabkan oleh penggunaan berulang, konektor yang longgar, serta oksidasi dapat meningkatkan resistansi internal yang berpotensi mengganggu akurasi data eksperimen. Pengujian kontinuitas konvensional terbukti tidak memadai untuk mendeteksi degradasi tersebut karena hanya memverifikasi konektivitas elektrik tanpa mempertimbangkan karakteristik resistifnya. Tugas Akhir ini menyajikan desain dan implementasi sistem deteksi kelayakan kabel banana 4mm berbasis resistansi untuk kebutuhan laboratorium. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan subsistem switching berbasis relai, subsistem daya khusus, serta desain casing produk yang kokoh secara mekanik. Subsistem switching menggunakan relai yang dikendalikan oleh mikrokontroler melalui rangkaian driver BJT untuk memfasilitasi metode pengukuran resistansi empat kawat (four-wire measurement), uji kontinuitas, serta pembalikan arus (current reversal) guna mitigasi gaya gerak listrik (EMF). Subsistem daya menggunakan catu daya terintegrasi dengan pemisahan bidang ground analog dan digital untuk meningkatkan stabilitas pengukuran dan mereduksi kopling noise. Selain itu, desain casing dirancang untuk memenuhi standar ergonomi, keamanan pengguna, durabilitas, dan manajemen termal dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) serta lingkungan. Analisis eksperimental menunjukkan bahwa sistem mampu membedakan kabel yang terdegradasi dengan resistansi tinggi dari kabel layak pakai, sehingga memberikan penilaian yang lebih andal dibandingkan pengujian kontinuitas konvensional. Instrumen ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi laboratorium, reliabilitas pengukuran, serta keselamatan pengguna.
Tugas akhir ini membahas perancangan dan implementasi sistem deteksi kelayakan teknis kabel praktikum LDTE, dengan fokus pada keterbatasan pemeriksaan konvensional berbasis continuity test yang hanya menilai keterhubungan kabel tanpa mempertimbangkan parameter intrinsik kabel. Padahal, pada rangkaian listrik—terutama rangkaian sinyal kecil—resistansi kabel dapat berdampak signifikan terhadap kinerja rangkaian, sehingga kabel yang lolos continuity test tetap berpotensi menghasilkan data praktikum yang tidak sesuai dan menghabiskan waktu praktikan untuk troubleshooting. Untuk mengatasi hal tersebut, sistem dirancang dengan mengintegrasikan subsistem switching (relay) untuk pengaturan jalur ukur dan current reversal, subsistem proses & kontrol berbasis Arduino Nano V3 untuk akuisisi dan pengolahan data, serta subsistem user interface berbasis modul display OLED 0,96” dan push button untuk antarmuka pengguna. Dari sisi perilaku sistem, pengujian dimulai saat pengguna menekan tombol: sistem melakukan two-wire continuity test; jika lolos, sistem melanjutkan ke pengukuran resistansi four-wire dengan metode current reversal untuk memperoleh pembacaan yang lebih stabil, kemudian hasil resistansi dibandingkan dengan batas kelayakan untuk menentukan status layak atau tidak layak. Kriteria kelayakan ditetapkan menggunakan ambang batas resistansi kabel < 15,4 m?. Verifikasi sistem menunjukkan fungsi klasifikasi tercapai pada pengujian resistansi referensi, di mana 14,8 m? teridentifikasi “layak” dan 16,0 m? teridentifikasi “tidak layak.” Selain itu, sistem dapat dioperasikan dengan durasi rata-rata sekitar 9 detik per kabel pada pengujian pengguna, sehingga mempercepat proses pemeriksaan dibanding pemeriksaan manual berulang saat praktikum. Secara keseluruhan, di pembahasan dokumen ini, sistem berhasil mengintegrasikan switching, kontrol, dan antarmuka pengguna untuk meningkatkan ketepatan dan efisiensi pemeriksaan kelayakan kabel praktikum berbasis resistansi internal, sehingga mengurangi risiko penggunaan kabel yang secara hasil continuity test baik namun tidak layak secara teknis.
KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT KOMPLEKS UMUR OLIGO MIOSEN AWAL DENGAN METODE INVERSI DETERMINISTIK PADA AREA LEPAS PANTAI UTARA MADURA, CEKUNGAN JAWA TIMUR
Lapangan “ABBA” merupakan salah satu lapangan migas produktif di lepas pantai utara Cekungan Jawa Timur. Formasi Kujung yang tersusun atas batuan karbonat diketahui sebagai potensial target reservoir pada daerah ini. Temuan hidrokarbon di selatan lapangan mendorong penelitian ini melakukan karakterisasi reservoir guna optimalisasi pengembangan lapangan. Namun, kompleksitas dan heterogenitas batuan karbonat menjadi tantangan utama dalam prediksi aliran fluida. Sehingga, penelitian ini bertujuan menganalisis properti fisik sensitif dan karakteristik reservoir Formasi Kujung, memetakan persebaran reservoir berporositas baik, serta mengevaluasi metode inversi AI antara model based dan Linear Programming Sparse Spike (LPSS) berdasarkan resolusi dan konsistensinya terhadap data sumur. Studi ini menggunakan data seismik 3D full-stack yang diintegrasikan dengan 2 sumur pengembangan dan 4 sumur eksplorasi. Tahapan karakterisasi meliputi uji parameter sensitif dan transformasi volume porositas melalui hubungan log AI dan log porositas. Hasil analisis menunjukkan parameter AI sangat sensitif memisahkan porous dan tight carbonate dengan nilai cut-off 10.400 (m/s)(g/cc). Dalam evaluasi metode, model based relatif menghasilkan nilai lebih stabil dan memiliki validasi sumur lebih akurat dibandingkan metode LPSS yang cenderung overfit meskipun mampu menampilkan reflektivitas secara natural. Hasil analisis integrasi menunjukkan distribusi kualitas reservoir dikontrol oleh evolusi tektonostratigrafi dan lingkungan pengendapan. Interval Kujung I pada struktur tinggian merupakan zona paling prospektif karena pengaruh lingkungan shelf edge berenergi tinggi pada umur Miosen Awal yang mendukung perkembangan porositas primer (>20%). Sebaliknya, kualitas pada Kujung II dan III menurun seiring transisi ke lingkungan yang lebih dalam, di mana peningkatan porositas hanya terjadi secara lokal akibat diagenesis sekunder berupa dolomitisasi saat Oligosen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengoptimalkan strategi pengembangan lapangan dan mitigasi risiko eksplorasi.
PENINGKATAN KONVERSI PEMBELIAN PADA PRODUK EKOWISATA DENGAN TINGKAT FAMILIARITAS RENDAH: STUDI KASUS WALKTOFOREST
Ekowisata semakin dipromosikan sebagai alternatif berkelanjutan terhadap pariwisata massal. Namun, di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Indonesia, produk ekowisata tertentu—khususnya birdwatching—masih memiliki tingkat familiaritas dan adopsi yang rendah di pasar domestik. Penelitian ini mengkaji permasalahan bisnis yang dihadapi oleh Walktoforest, sebuah wirausaha sosial di Jawa Barat yang mengintegrasikan konservasi, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pariwisata berbasis pengalaman. Meskipun memiliki visibilitas digital yang tinggi, tingkat konversi pemesanan produk birdwatching masih rendah dan berpotensi mengganggu keberlanjutan finansial organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemecahan masalah diagnostik dengan kerangka kerja Pirate Metrics AAARRR (Awareness, Acquisition, Activation, Revenue, Retention, Referral) untuk menganalisis perilaku pelanggan sepanjang funnel digital. Data yang digunakan berupa revealed preference data dari analitik digital internal Walktoforest, meliputi wawasan Instagram, kinerja Meta Ads, log pertanyaan WhatsApp, dan data transaksi dalam periode pengamatan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kinerja penjualan tidak disebabkan oleh kualitas produk, harga, atau keterbatasan permintaan pasar, melainkan oleh hambatan adopsi perilaku akibat rendahnya familiaritas pengalaman. Hambatan utama mencakup penghindaran ketidakpastian, persepsi risiko pengalaman, dan kurangnya kejelasan pengalaman pada tahap keputusan. Meskipun tahap Awareness menghasilkan lebih dari 63.000 impresi, penurunan terbesar terjadi antara Activation dan Revenue, sementara tahap pascapengalaman menunjukkan kinerja yang kuat dengan tingkat rujukan sebesar 75%. Penelitian ini mengusulkan strategi optimalisasi funnel berbasis perilaku untuk meningkatkan konversi produk ekowisata niche.
PENGEMBANGAN AKSELERATOR RISC-V Q-LEARNING BERBASIS ALGORITMA RBED+ DENGAN TEKNIK PARALELISASI SPASIAL
Tesis membahas upaya pengembangan lanjut akselerator Q-Learning yang terintegrasi dengan inti Veer EL2. Pengembangan dilakukan melakukan modifikasi pada perangkat lunak dan keras. Modifikasi perangkat lunak dilakukan dengan mengembangkan metode pemilihan kebijakan yang awalnya menggunakan ?- greedy policy menjadi Epsilon Decay yang dapat memprioritaskan antara eksplorasi dan eksploitasi pada waktu yang sesuai. Diterapkan pula RBED+, yang menyesuaikan ? setiap kali agen mendapatkan imbalan kumulatif yang cukup dan saat agen mencapai tujuan. Modifikasi perangkat keras dilakukan dengan melakukan paralelisasi spasial pada akselerator untuk mempercepat proses QLearning. Pengetesan dilakukan pada dua tahap: pengetesan kebijakan, dan pengetesan perangkat keras dan lunak. Pengetesan kebijakan membandingkan QLearning yang menggunakan ?-greedy policy dengan Epsilon Decay (eksponensial, linear, RBED+). Pengetesan umum membandingkan performa Q-Learning terhadap akselerator dan kebijakan yang berbeda pada berbagai skala. Hasil menunjukkan bahwa Exponential Epsilon Decay dan RBED+ dapat mencapai konvergensi imbalan kumulatif dalam waktu tercepat. Terlihat pula bahwa jumlah total aksi yang agen perlu lakukan lebih kecil ketika kedua strategi tersebut diimplementasikan. RBED+ yang bergantung pada performa, dapat meningkatkan peluruhan dari 0.9898 menjadi 0.97364 tanpa adanya degradasi kualitas yang terlihat. Akan tetapi, waktu rata-rata Q-Learning RBED+ masih berada di bawah ?- greedy (0.2). Salah satu kemungkinan adalah karena implementasi RBED+ yang lebih kompleks sehingga memperlambat program. Hasil tes perangkat keras dan lunak menunjukkan bahwa Q-Learning dengan RBED+ menunjukkan performa terbaik, kecuali saat skala terbesar yang menggunakan akselerator. RBED+ juga memiliki hasil stabil tanpa divergensi, dibandingkan strategi lain yang menghasilkan 5-22.5% divergen. Desain akselerator baru tidak dapat menghasilkan peningkatan di atas 1%, karena percepatan dari paralelisasi jauh lebih kecil dari durasi Q-Learning secara keseluruhan. Akan tetapi, ditemukan adanya perbedaan performa akselerator terhadap strategi berdasarkan fokus pada eksploitasinya.
PENGEMBANGAN APLIKASI ANDROID UNTUK KLASIFIKASI GAMBAR ANIME BERBASIS DEEP LEARNING DALAM MEMBEDAKAN GAMBAR MANUAL BUATAN ILUSTRATOR DENGAN GAMBAR BUATAN AI
Artificial intelligence (AI) sudah mampu menghasilkan gambar, khususnya gambar ilustrasi anime/gambar anime. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait isu hak cipta yang merugikan illustrator karena gambar anime oleh AI begitu mirip dengan gambar ilustrator secara manual. Kusuma dkk. (2024) dan Johan dkk. (2025) melakukan penelitian terkait masalah ini dengan memanfaatkan model MobileNet. Zhu dkk. (2025) mengembangkan model khusus dengan dataset generator gambar anime. Namun, belum ada implementasi dalam bentuk aplikasi android yang dinilai lebih praktis digunakan. Aplikasi android klasifikasi gambar anime dibangun dengan model MobileNetV3Large sebagai basis model. Model tersebut dilatih dengan total 5597 gambar ilustrasi bergaya anime dengan teknik single splitting per labelnya dengan rasio 60:20:20 untuk data latih, validasi, dan uji. Dataset diambil hampir seluruhnya dari dataset yang digunakan Zhu dkk. (2025) dan sumber terbuka seperti Kaggle. Model yang dilatih mampu mencapai hasil akurasi 90.09%. Lalu, konversi dan kuantisasi model dilakukan agar model dapat digunakan di aplikasi android. Model versi INT8 digunakan setelah mengungguli model versi FLOAT32 dalam akurasi dan ukuran model dengan masing-masing nilai 90.18% dan 6.94 MB. Waktu inferensi model INT8 mencapai 0.0197 detik, 0.0007 detik lebih lambat dari model FLOAT32. Namun, dataset yang digunakan masih imbalanced dengan jumlah gambar bertipe pemandangan, chibi, dan gambar berwarna hitam-putih masih sedikit pada dataset sehingga dibutuhkan penambahan dataset yang dapat dilakukan dengan data augmentation. Penambahan dataset juga dibutuhkan untuk penambahan data uji di luar domain dataset yang ada untuk memvalidasi keandalan model dari segi akurasi. Klasifikasi gambar anime ini juga belum menerapkan fitur visualisasi area yang menentukan hasil klasifikasi gambar seperti Grad-CAM. Aplikasi masih belum memiliki fitur feedback pengguna berdasarkan hasil klasifikasi serta penerapan federated learning berdasarkan feedback tersebut. Kata kunci: klasifikasi, gambar anime, MobileNet, artificial intelligence, ilustrator
MEMERINGKAT PERTIMBANGAN INVESTASI UTAMA DI KALANGAN MODAL VENTURA DALAM KEPUTUSAN PENDANAAN STARTUP TAHAP AWAL DI INDONESIA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Penelitian ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia, yang dikarakterisasi oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi serta asimetri informasi yang signifikan dalam pendanaan tahap awal. Dalam kondisi pasar yang volatil ini, manajer modal ventura harus melakukan penyaringan secara ketat terhadap berbagai kriteria investasi yang saling bersaing, sehingga diperlukan pemetaan prioritas strategis guna memberikan transparansi bagi para pendiri startup mengenai ekspektasi investor. Untuk menangkap prioritas tersebut, studi ini menerapkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang melibatkan lima pemodal ventura untuk menyusun pengambilan keputusan VC ke dalam hierarki dua tingkat. Hasil penelitian mengidentifikasi 'Atribut Wirausaha dan Tim' sebagai prioritas utama (Peringkat 1), diikuti oleh 'Atribut Produk dan Layanan' (Peringkat 2), 'Pertimbangan Keuangan' (Peringkat 3), dan 'Faktor Pasar' (Peringkat 4). Pada tingkat sub-faktor, prioritas tertinggi adalah: Pengalaman dan Rekam Jejak Pendiri; Proposisi Nilai; Kejelasan Inovasi dan Diferensiasi; serta Kelayakan Teknis dan Skalabilitas. Sebaliknya, Intensitas Persaingan dan Lanskap Pasar, bersama dengan Lingkungan Eksternal dan Kondisi Sektor, menempati peringkat terendah, di mana seluruh penilaian berpasangan telah memenuhi standar reliabilitas (CR < 0,10). Wawasan kualitatif mengonfirmasi pola pikir yang mengutamakan pendiri, di mana ketangguhan kepemimpinan dan kredibilitas berfungsi sebagai perlindungan utama bagi keberhasilan investasi. Meskipun hierarki memberikan landasan strategis, wawasan para ahli menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti jaringan elit pendiri atau perubahan regulasi yang drastis dapat mengesampingkan protokol evaluasi standar secara sementara. Temuan ini memberikan prioritas yang jelas mengenai kriteria keputusan VC tahap awal di Indonesia, yang menunjukkan bahwa evaluasi tersebut pada dasarnya berpusat pada figur pendiri dan bergantung pada konteks.
PENGARUH JENIS NANOPARTIKEL MAGNETIK FE3O4 DAN NIFE2O4 SERTA MEDAN MAGNET EKSTERNAL NON-HOMOGEN TERHADAP TRANSFER KALOR DAN DINAMIKA MELTING PADA KOMPOSIT ASAM LAURAT
Penelitian disertasi ini mengkaji pengaruh jenis nanopartikel magnetik terhadap dinamika proses pencairan pada material penyimpan energi termal berbasis phase change material (PCM) dengan matriks asam laurat (lauric acid/LA). Kajian dilakukan pada dua kondisi, yaitu tanpa medan magnet dan dengan penerapan medan magnet eksternal non-homogen yang searah dengan arah aliran kalor. Setiap sampel didefinisikan sebagai komposit LA dan komposit-magnetik LA. Selain itu, penelitian ini mempelajari konduktivitas termal dan viskositas dalam kaitannya dengan proses pencairan. Nanopartikel magnetik yang ditambahkan ke dalam matriks asam laurat adalah Fe?O? dan NiFe?O?, keduanya memiliki sifat superparamagnetik, dengan fraksi massa sebesar 2%. Besar medan magnet yang digunakan pada pengukuran konduktivitas termal dan viskositas disesuaikan dengan kondisi eksperimen proses pencairan yang diperoleh dari konfigurasi magnet permanen. Hasil pengukuran menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC) menunjukkan bahwa LA murni memiliki nilai entalpi sebesar 179 J/g, sedangkan pada komposit LA/Fe?O4 dan LA/NiFe?O? nilai entalpinya masing-masing menurun menjadi 167 J/g dan 165 J/g. Pengukuran konduktivitas termal pada fase padat menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami peningkatan sebesar 6,13%, sedangkan komposit LA/NiFe?O? meningkat sebesar 3,68% dibandingkan LA murni. Pada fase cair (T = 55?°C), peningkatan konduktivitas termal tercatat sebesar 2,9% untuk komposit LA/Fe?O? dan 2,2% untuk komposit LA/NiFe?O? dibandingkan LA murni. Selain itu, pengaruh medan magnet terhadap konduktivitas termal menghasilkan peningkatan sekitar 2,3% untuk kedua komposit-magnetik LA dibandingkan kondisi tanpa medan magnet. Di sisi lain, pengukuran viskositas menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami peningkatan sebesar 11,73%, sedangkan komposit LA/NiFe?O? meningkat sebesar 11,12% dibandingkan LA murni. Dalam kondisi penerapan medan magnet, viskositas komposit-magnetik LA/Fe?O? meningkat sekitar 5,28%, sedangkan komposit-magnetik LA/NiFe?O? meningkat sekitar 2% dibandingkan kondisi tanpa medan magnet Hasil eksperimen proses pencairan menunjukkan bahwa penambahan nanopartikel magnetik pada matriks LA dapat mempercepat laju pencairan dan memperjelas zona mushy. Dibandingkan dengan asam laurat murni, laju pencairan meningkat masing-masing sebesar 9% pada LA/Fe?O? dan 3% pada LA/NiFe?O?. Hal ini menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami percepatan pencairan lebih tinggi dibandingkan komposit LA/NiFe?O?, yang berkaitan dengan peningkatan transfer kalor konduksi dan konveksi yang lebih signifikan. Di sisi lain, penerapan medan magnet eksternal non-homogen pada komposit-magnetik LA menyebabkan perlambatan proses pencairan. Perlambatan ini disebabkan oleh gaya Kelvin yang sejajar dengan arah aliran kalor. Selain itu, penerapan medan magnet mempertebal zona mushy, khususnya pada komposit LA/Fe?O?, yang menunjukkan resistansi lebih besar terhadap perubahan fase serta modifikasi dinamika antarmuka padatcair akibat efek konveksi termomagnetik. Secara kuantitatif, total waktu pencairan meningkat sebesar -40% untuk komposit LA/Fe?O? dan -12,5% untuk komposit LA/NiFe?O? dibandingkan dengan kondisi tanpa medan magnet. Hasil penelitian disertasi ini menunjukkan bahwa dinamika pencairan komposit LA dapat dikendalikan melalui karakteristik nanopartikel magnetik serta pengaruh medan magnet eksternal. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan potensi aplikasi dalam pengembangan perangkat termomagnetik, khususnya dalam pemanfaatan energi termal melalui perubahan sifat magnetik material. Selain itu, berkontribusi terhadap upaya penyediaan energi bersih dan terjangkau (Sustainable Development Goals No. 7) serta mitigasi perubahan iklim (Sustainable Development Goals No. 13).