📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenSMART FARMING: PENGUKURAN UNSUR HARA TANAH MENUJU PRECISION AGRICULTURE (STUDI KASUS: KEBUN DINAS PERTANIAN, KELAUTAN DAN PERIKANAN KOTA PAREPARE)
Ketersediaan unsur hara tanah yang seimbang menjadi isu krusial dalam produksi pangan global karena pemupukan yang tidak tepat dosis dan waktu dapat memicu penurunan produktivitas, pemborosan input, serta degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan sistem smart farming berbasis Internet of Things (IoT) dan multi-model analitik untuk mendukung pemupukan presisi pada lahan cabai di Kebun Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Parepare. Metode yang digunakan adalah Design Science Research Methodology (DSRM) dengan tahapan identifikasi masalah, perancangan artefak, implementasi, dan evaluasi. Hasil pengukuran lapangan menghasilkan dataset gabungan sensor dan cuaca yang menunjukkan bahwa lahan percobaan cenderung miskin nitrogen (rata-rata 22,9 mg/kg, median 10 mg/kg, rentang 0–195 mg/kg), sementara fosfor dan kalium relatif lebih tersedia namun fluktuatif (P rata-rata 97,1 mg/kg, K ratarata 89,8 mg/kg). Analisis data menggunakan multi-model smart farming, yaitu Model A dikembangkan menggunakan Random Forest Classifier untuk mendeteksi empat kelas kondisi agronomis (–1 = normal, 0 = pemupukan, 1 = pengairan manual, 2 = hujan) berbasis fitur delta sensor, fitur waktu siklik, dan indikator hujan sintetis. Setelah penanganan ketidakseimbangan kelas, Model A mencapai akurasi sekitar 99,6% pada data uji, dengan kelas normal dikenali sangat baik (precision ±0,997; recall ±0,999). Event pemupukan yang terdeteksi digunakan untuk mengkalibrasi model peluruhan eksponensial unsur hara, dengan konstanta peluruhan nitrogen K = 0,79 hari?¹ sedangkan fosfor dan kalium memiliki K sekitar 0,75 hari?¹ dengan waktu paro sekitar 0,93 hari, yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh peningkatan N, P, K pasca pemupukan hilang dalam waktu kurang dari dua hari. Parameter ini kemudian digunakan Model B untuk menyimulasikan neraca harian N, P, K dan salinitas, serta menghasilkan rekomendasi dosis pemupukan harian yang menjaga konsentrasi hara mendekati target tanpa melampaui batas salinitas dan dosis maksimum. Secara keseluruhan, integrasi perangkat IoT dengan multi model analitik menghasilkan sistem rekomendasi pemupukan yang adaptif, spesifik lokasi, dan berpotensi menjadi fondasi pengembangan praktik dan kebijakan pemupukan berbasis data dalam kerangka precision agriculture.
FRAMEWORK PENGENALAN WAJAH UNTUK INDIVIDU KULIT GELAP
Penelitian ini mengusulkan framework Melanin-aware untuk mengurangi bias visual pada sistem pengenalan wajah, khususnya pada individu berkulit gelap. Melalui mekanisme adaptif berbasis weighted lightness, metode ini meningkatkan kualitas representasi citra dengan menghasilkan kontras dan detail wajah yang lebih seimbang dibandingkan preprocessing konvensional yang cenderung kurang optimal pada kulit berpigmentasi tinggi. Peningkatan performa paling signifikan terjadi pada kelompok Very Dark, dengan kenaikan akurasi hingga +11,3%, menunjukkan efektivitas metode dalam mengatasi distorsi visual akibat melanin tinggi dan meningkatkan fairness antar kelompok skin tone. Integrasi framework ke dalam model ArcFace dan VGGFace menghasilkan performa yang konsisten pada evaluasi Top-1, Top-5, dan Top-10, tanpa menurunkan akurasi pada kelompok tertentu. Pengujian threshold juga menunjukkan bahwa rentang 0,7– 0,8 merupakan nilai optimal untuk menekan false acceptance, dengan ArcFace lebih konservatif dibandingkan VGGFace. Secara keseluruhan, framework Melanin-aware terbukti meningkatkan akurasi, stabilitas embedding, dan keadilan algoritmik, serta berpotensi menjadi komponen penting dalam pengembangan sistem biometrik yang lebih inklusif dan robust.
STABILITAS SEGREGASIONAL PLASMID PCDNA3.1(+)_UTR_SPIKE PADA ESCHERICHIA COLI TOP10 REKOMBINAN DALAM MEDIUM TERRIFIC BROTH TANPA PENAMBAHAN ANTIBIOTIK
Vaksin berbasis messenger RNA (mRNA) merupakan salah satu kemajuan baru dalam dunia kesehatan dalam melawan berbagai penyakit. Salah satu tahapan pada produksi vaksin ini adalah kultivasi sistem ekspresi untuk menghasikan plasmid DNA yang kemudian digunakan, sebagai template proses transkripsi mRNA secara in vitro. Salah satu tantangan pada kultivasi E. coli rekombinan dalam proses produksi vaksin mRNA, adalah stabilitas DNA plasmid, sehingga dibutuhkan penggunaan antibiotik selama proses kultivasi. Residu antibiotik yang terdapat pada sisa medium kultivasi dapat mendorong berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Selanjutnya, penghilangan antibiotik pada proses pengolahan limbah sangat sulit. Pada penelitian ini, dilakukan kajian tentang stabilitas plasmid E. coli TOP10 rekombinan plasmid pcDNA3.1(+)UTR_Spike pada medium yang mengandung dan tidak mengandung antibiotik (ampisilin). Berdasarkan hal itu dilakukan penentuan laju pertumbuhan dan subkultur E. coli TOP10 rekombinan selama 36 generasi pada medium Terrific Broth (TB) yang mengandung ampisilin dan yang tidak mengandung ampisilin. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa E. coli TOP10 rekombinan plasmid pcDNA3.1(+)UTR_Spike yang ditumbuhkan pada medium TB menunjukan periode fase lag yang sangat singkat (1-2 jam) dan bakteri tersebut berada pada fase eksponesial hingga jam ke 10. Berdasarkan hal ini maka subkultur dilakukan pada jam ke-8. Selanjutnya, dari percobaan ini diketahui bahwa E. coli TOP10 rekombinan pcDNA3.1(+)UTR_Spike yang ditumbuhkan pada medium TB memiliki laju pertumbuhan maksimum sebesar 0,31/jam. Konsentrasi DNA plasmid pada E. coli Top 10 rekombinan pcDNA3.1(+)UTR_Spike yang ditumbuhkan pada medium TB yang mengandung ampisilin secara signifikan lebih tinggi (3112,23 ng DNA plasmid/mg DCW E. coli Rekombinan) dibandingkan dengan konsentrasi plasmid pada E. coli rekombinan yang ditumbuhkan pada medium TB yang tidak mengandung ampisilin (1780,1 ng DNA plasmid/mg DCW E. coli Rekombinan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan sel lebih cepat pada medium tanpa penambahan ampisilin, sementara jumlah salinan plasmid (plasmid copy number) lebih tinggi pada medium yang mengandung ampisilin. Pada medium tanpa antibiotik, tidak terjadi seleksi sehingga E. coli tanpa plasmid dapat tumbuh lebih cepat karena beban metaboliknya lebih rendah. Sebaliknya, pada medium dengan ampisilin terjadi seleksi awal yang memungkinkan hanya E. coli berplasmid yang bertahan dan berkembang. Temuan ini memperlihatkan bahwa produksi plasmid tetap dapat dilakukan tanpa penggunaan antibiotik dengan cara yang lebih aman dan ramah lingkungan.
SISTEM IDENTIFIKASI KERUSAKAN NASKAH KUNO MENGGUNAKAN SEGMENTASI SEMANTIK
Naskah kuno merupakan warisan budaya yang sangat berharga namun rentan mengalami kerusakan akibat faktor usia, lingkungan, dan kondisi penyimpanan. Proses identifikasi kerusakan secara manual membutuhkan waktu 45-60 menit per naskah dan sangat bergantung pada keahlian konservator. Deteksi otomatis menggunakan segmentasi semantik dapat mempercepat proses preservasi dan memungkinkan penanganan koleksi dalam skala besar. Segmentasi semantik merupakan teknik berbasis kecerdasan buatan yang bekerja dengan mengklasifikasikan setiap piksel pada gambar ke dalam kategori kelas tertentu, sehingga sistem dapat mengenali lokasi serta bentuk kerusakan secara presisi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem identifikasi naskah kuno berbasis segmentasi semantik. Untuk mendapatkan model terbaik, penelitian ini membandingkan performa tiga arsitektur, yaitu SegFormer, U-Net, dan DeepLabV3+ dalam mendeteksi kerusakan pada naskah kuno Indonesia, serta mengidentifikasi faktor-faktor implementasi yang memengaruhi keberhasilan model. Penelitian menggunakan dataset mandiri dengan lima kelas, yaitu: background, fungi, foxing, noda, dan korosi tinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur berbasis transformer (SegFormer) memiliki performa superior dibandingkan model berbasis CNN untuk segmentasi semantik manuskrip dengan ketergantungan spasial (spatial dependencies) kompleks dan jumlah dataset terbatas. Dari total 66 data uji, sistem mampu mengidentifikasi seluruh gambar dengan kelas yang benar. Sebanyak 33 gambar memiliki selisih piksel prediksi antara ground truth dan hasil prediksi di rentang toleransi yang dapat diterima, sehingga sistem tetap efektif dalam menyimpulkan kondisi naskah secara garis besar.
PEMANTAUAN KUALITAS EFLUEN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT BERBASIS INTERNET OF THINGS DENGAN HYBRID RULE-BASED SYSTEM DAN MACHINE LEARNING
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di rumah sakit sangat penting untuk mencegah pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit di lingkungan sekitar karena limbah medis khususnya limbah di rumah sakit yang berbahaya karena mengandung bahan kimia dan biologis berbahaya. Oleh karena itu, baku mutu mengenai air limbah yang layak dibuang ke lingkungan sudah diatur oleh pemerintah. Saat ini, pengawasan kualitas efluen di berbagai fasilitas kesehatan masih menggunakan metode manual atau indikator biologis tradisional. Metode ini memiliki kekurangan seperti data yang kontinu dan keterlambatan respons terhadap perubahan kondisi efluen. Penelitian ini bertujuan mengatasi masalah tersebut dengan mengembangkan sistem pemantauan kualitas efluen berbasis Internet of Things (IoT) serta aplikasi dashboard terintegrasi yang menggabungkan sensor suhu, pH, total dissolved solids (TDS), dan gas amonia dengan sistem pemrosesan data cerdas. Penelitian ini mengusulkan pendekatan hybrid yang menggabungkan Rule-Based System dan algoritma Anomaly Detection untuk menciptakan mekanisme peringatan dini yang lebih efektif. Rule-Based System berfungsi sebagai filter pertama untuk mendeteksi pelanggaran ambang batas baku mutu kualitas secara langsung sesuai aturan pemerintah, sedangkan algoritma Anomaly Detection digunakan untuk mengenali pola penyimpangan yang halus namun berisiko. Penelitian ini membandingkan performa tiga algoritma Unsupervised Learning, yaitu Isolation Forest (IF), One-Class Support Vector Machine (OCSVM), dan Convolutional Autoencoder (Conv-AE), untuk menemukan konfigurasi dengan trade-off terbaik antara akurasi dan efisiensi dalam sistem pemrosesan real-time. Model Conv-AE kemudian dikonversi ke format TensorFlow Lite (TFLite) untuk meningkatkan penggunaan sumber daya. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa prototipe perangkat keras IoT mampu mengakuisisi data sensor secara stabil, dan aplikasi dashboard berhasil menyajikan pemantauan real-time serta mengirimkan notifikasi peringatan dini kepada pengguna. Evaluasi performa Anomaly Detection menunjukkan model Conv-AE TFLite memiliki performa terbaik dibandingkan model lainnya. Model ini mencapai tingkat recall sebesar 96,0% dan F1-score sebesar 94,0%, menunjukkan kemampuannya dalam mendeteksi anomali secara akurat. Dari sisi efisiensi, model ini memiliki ukuran file yang kecil, hanya 12 KB dan jauh lebih ringkas dibandingkan Isolation Forest yang berukuran 1.404 KB, sehingga sangat cocok untuk diimplementasikan pada sistem IoT. Meskipun memiliki rata-rata latensi pemrosesan sebesar 0,226 detik, di mana sedikit lebih tinggi dibandingkan metode lainnya, sistem ini mampu berjalan secara real-time dengan stabilitas yang baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan IoT dengan model hybrid yang menggabungkan Rule-Based System dan model Conv-AE TFLite adalah solusi yang kuat, menawarkan trade-off antara akurasi deteksi tinggi dan efisiensi memori yang memadai untuk mendukung pengambilan keputusan cepat dan pengelolaan lingkungan rumah sakit yang berkelanjutan.
USULAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU (IMC) PURA MANGKUNEGARAN SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA
Pura Mangkunegaran memegang peran sebagai situs cagar budaya dan salah satu objek wisata sejarah di Surakarta, Jawa Tengah. Studi ini meneliti tantangan yang dihadapi oleh Pura sebagai tujuan warisan budaya dengan visibilitas meningkat tetapi berjuang dengan pemahaman merek dan korelasi makna yang rendah. Penelitian ini mengadopsi metodologi kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam yang tidak terstruktur dan didukung oleh dokumen survei pengunjung manajemen internal. Analisis dimulai dengan penilaian internal dan eksternal menggunakan kerangka kerja VRIO dan PESTLE diikuti dengan analisis tematik Nvivo. Pendekatan ini memastikan pemahaman menyeluruh tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman Pura Mangkunegaran (SWOT), yang kemudian disintesis menggunakan matriks TOWS dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang mengarah pada perumusan rekomendasi strategis menggunakan rekomendasi komunikasi pemasaran terpadu (IMC). Temuan utama dari analisis internal menunjukkan bahwa Pura Mangkunegaran memiliki beberapa sumber daya berharga yang berakar pada warisan budaya, bangunan bersejarah, asset restoran, dan pengalaman pengunjung yang unik. Namun, kekuatan ini cenderung dibatasi oleh kesiapan organisasi, fasilitas pendukung yang terbatas, dan kurangnya penceritaan publik yang jelas. Meskipun demikian, analisis eksternal mengungkapkan bahwa munculnya tren pariwisata budaya dan peningkatan upaya penggabungan teknologi menunjukkan peluan, namun persaingan dengan destinasi serupa dan persepsi publik cenderung menimbulkan tantangan. Strategi bisnis yang diusulkan menggunakan IMC mengintegrasikan semua bauran media yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Penelitian ini berkontribusi pada bidang pemasaran wisata budaya dengan memberikan kerangka kerja praktis yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pengalaman kunjungan dan pemahaman nilai dari destinasi.
EVALUASI FORMULASI NANOSUSPENSI EKSTRAK KEMANGI (OCIMUM AMERICANUM L.) DAN SAKARIDA UBI CILEMBU TERHADAP PERTUMBUHAN LACTOBACILLUS PLANTARUM
Latar belakang: Ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L.) diketahui kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan serta berpotensi menjaga homeostasis saluran pencernaan melalui modulasi mikrobiota usus. Namun, pemanfaatannya sering terkendala oleh rendahnya stabilitas senyawa aktif terhadap degradasi oksidatif selama proses ekstraksi, penyimpanan, maupun metabolisme oral. Pengembangan formulasi nanosuspensi menjadi solusi potensial untuk meningkatkan stabilitas senyawa aktif dan meningkatkan ketersediaannya di kolon agar dapat dimanfaatkan oleh probiotik. Dalam hal ini, sakarida ubi Cilembu terfosforilasi berperan sebagai penstabil dengan mekanisme elektrostatik dan sterik, dengan L-arginin sebagai crosslinker yang memperkuat interaksi molekuler. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan nanosuspensi ekstrak daun kemangi menggunakan sakarida ubi jalar Cilembu terfosforilasi sebagai penstabil sekaligus sumber nutrisi probiotik yang dikombinasikan dengan L-arginin sebagai penstabil, serta menguji potensi pertumbuhan probiotik terhadap Lactobacillus plantarum. Metode: Ekstraksi daun kemangi dilakukan dengan Ultrasound-Assited Extraction (UAE) menggunakan pelarut etanol 60% dengan penambahan asam sitrat 0,5%. Ekstraksi ubi cilembu dilakukan melalui tahap pemisahan pati dan hidrolisis asam, selanjutnya dilakukan fosforilasi dengan STPP 1%. Nanosuspensi diformulasikan dengan pendekatan bottom-up, melalui pembentukan partikel koloid ekstrak kemangi, kemudian penambahan penstabil arginin dan sakarida ubi cilembu, diikuti dengan high-shear homogenization. Optimasi formulasi nanosuspensi dilakukan menggunakan rancangan Box– Behnken Design (BBD). Formula dikarakterisasi dan diuji aktivitas pertumbuhan probiotik terhadap Lactobacillus plantarum dengan metode pengukuran turbiditas (OD600) yang dikonversi untuk memperkirakan jumlah koloni. Hasil: Formulasi nanosuspensi menghasilkan sediaan dengan ukuran seragam 261,12 ± 1,85 nm yang ditunjukkan oleh indeks polidispersitas 0,271 ± 0,03. Hasil optimasi BBD menunjukkan faktor yang signifikan terhadap pertumbuhan Lactobacillus plantarum adalah konsentrasi kemangi dan konsentrasi sakarida. Formulasi nanosuspensi pada kombinasi ekstrak kemangi 0,5%; sakarida ubi cilembu 9%; dan arginin 1% menunjukkan aktivitas antioksidan dan prebiotik yang baik. Aktivitas ii antioksidan meningkat secara signifikan sebesar 31%, dari 492,21 ± 5,91 mg AAE/g pada ekstrak tunggal menjadi 539,34 ± 7,87 mg AAE/g pada nanosuspensi, yang menunjukkan bahwa pengembangan sediaan nanosuspensi memberikan perlindungan terhadap degradasi oksidatif. Sediaan nanosuspensi cair menunjukkan stabilitas fisik dan kimia yang baik pada kondisi penyimpanan 4°C yang mampu mempertahankan karakteristik nanosuspensi lebih baik dibandingkan suhu 25°C dan 40°C. Evaluasi pertumbuhan probiotik menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan Lactobacillus plantarum mencapai 86,05% dibandingkan dengan media standar MRS.
SIMULASI TRANSFER KALOR PADA KOMPOSIT PHASE CHANGE MATERIAL BERBASIS ASAM LAURAT DENGAN MELTING ASIMETRIK
Studi karakteristik transfer kalor Phase Change Material (PCM) organik berbasis Asam Laurat (Lauric acid, LA) dan komposit magnetik dilakukan melalui metode simulasi yang didukung oleh data eksperimen. Simulasi dijalankan pada konfigurasi kotak tiga dimensi dengan pemanasan terkontrol di dinding kiri menggunakan metode Volume of Fluid (VOF) pada perangkat lunak Ansys Fluent. Material komposit berupa Fe3O4 dan NiFe2O4 masing-masing sebesar 2 wt% ditambahkan ke dalam LA untuk meningkatkan sifat termal dan responsnya terhadap aplikasi termomagnetik. Parameter input simulasi dikalibrasi berdasarkan data eksperimen terdahulu mengenai pelelehan PCM berbasis LA. Penggunaan PCM dipilih karena sifatnya yang ramah lingkungan, stabil, serta memiliki kapasitas kalor laten tinggi. Tujuan utama kajian ini adalah mengevaluasi distribusi temperatur, dinamika fraksi cair, dan pola perpindahan kalor pada LA murni serta komposit LA/Fe3O4 dan LA/NiFe2O4 selama proses transisi fase. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pelelehan dimulai dari sisi pemanasan dan berkembang ke arah kanan seiring bertambahnya waktu, diiringi pembentukan pola konveksi alami yang semakin kuat pada daerah yang telah mencair. Penambahan partikel magnetik terbukti meningkatkan laju perpindahan kalor, yang ditunjukkan oleh waktu pelelehan penuh yang lebih cepat hingga sekitar 10 menit dibandingkan LA murni. Perbandingan hasil simulasi dengan data eksperimen menunjukkan kesesuaian yang baik sehingga memvalidasi model numerik yang digunakan. Studi ini memberikan dasar pemahaman kuantitatif mengenai peningkatan performa termal LA melalui penambahan komposit magnetik Fe3O4 dan NiFe2O4.
PENGARUH STRATEGI PENETAPAN HARGA TERHADAP CITRA MEREK DAN KESEDIAAN MEMBAYAR PADA FURNITUR PREMIUM INDONESIA, STUDI KASUS: PT. CALEDON DESIGN CENTER
Ketidakpastian makro ekonomi menciptakan situasi yang kompleks bagi sektor furnitur di Indonesia. Lebih lanjut, kondisi perang tarif telah menyebabkan konsumen menunda pembelian di sektor non-primer seperti furnitur. Lingkungan yang penuh tantangan ini mengharuskan perusahaan bisa menentukan solusi tercepat dan paling tepat. Caledon, furnitur premium asal Singapura yang memiliki pangsa pasar terbesar-nya di Indonesia, merespons kondisi ini melalui strategi penetapan harga yang sulit untuk mengamankan keseimbangan penjualan dengan mengukur kesediaan membayar konsumen bersamaan dengan memastikan citra merek mereka tidak terdegrarasi pada saat yang bersamaan. Penelitian mengkaji dampak strategi penetapan harga pada citra merek dan kesediaan membayar. Penulis menggunakan sofa sebagai kontributor utama bisnis dengan lima tipe sofa teratas Marvin, Evita, Leo, Korus, dan Dallas. Studi ini membahas (1) Apa strategi penetapan harga yang efektif berdasarkan PED analysis? (2) Apakah strategi penetapan harga berdampak pada kesediaan pelanggan untuk membayar? (3) Bagaimana strategi penetapan harga Caledon memengaruhi citra merek premiumnya?. Analisa triangulasi melalui metode Price Elasticity Demand (PED) dari data transaksi Desember 2023 hingga Juli 2025, PLS-SEM dengan data survey 140 responden, dan analisa deskriptif demografi serta perilaku pelanggan mendukung pengembangan solusi terbaik untuk kasus bisnis. Hasil integrasi menunjukan strategi penetapan harga efektif pada level produk berdasarkan PED. Namun, hubungan strategi penetapan harga dan kesediaan membayar lemah, p-value 0,065 dan T-statistik 1,847, lebih tinggi dari nilai T-tabel 1,657. Demikian pula, hubungan citra merek terhadap kesediaan membayar ditolak p-value 0,114 dan T-statistik 1,581. Hanya strategi penetapan harga yang memiliki pengaruh positif terhadap citra merek, Path Coefficient=0,839,T-statistik= 35,610, dan p-value <0,001. Menandakan bahwa strategi penetapan harga hanya memberikan sinyal yang kuat untuk membangun persepsi citra merek, tanpa secara langsung mempengaruhi kesediaan membayar.
MENGEMBANGKAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MEMILIH LOKASI RITEL DALAM EKSPANSI BERBAGAI MEREK: STUDI KASUS DARI PERUSAHAAN RITEL TERKEMUKA DI INDONESIA
Industri ritel di Indonesia telah berubah dari waktu ke waktu tapi pemilihan lokasi ritel tetap menjadi salah satu elemen penting untuk menentukan kesuksesan dalam bisnis ritel. Dalam studi kasus ini, Arkana Group sebagai operator dari berbagai brand internasional dimana menjangkau berbagai macam kebutuhan konsumen di Indonesia, dimana salah satu tantangannya adalah dalam memilih lokasi ritel yang optimal dan sejalan dengan strategi tujuan dari suatu brand. Biaya premis, lokasi, perilaku konsumen dan pemangku kepentingan adalah pertimbangan penting lainnya dalam proses pengambilan keputusan dalam menentukan lokasi ritel. Salah satu tantangannya adalah kurangnya standar dan data pendukung sebagai pendekatan dalam menentukan lokasi ritel. Saat ini keputusan-keputusan sering terpengaruh berdasarkan pengalaman manajemen dan histori data perusahaan, dimana menjadi formalitas daripada tolak ukur perusahaan. Alhasil, bias subjektif dan penilaian yang tidak konsisten di berbagai divisi menjadi penilaian yang salah dalam pemilihan lokasi, kinerja toko-toko yang buruk, dan kerugian profit. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur dan objektif dalam pemilihan lokasi ritel pada konteks ekspansi multi-merek. Pendekatan metode campuran digunakan. Pertama, wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama termasuk Brand Manager, Business Development, dan Project Manager dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam proses yang ada serta kriteria utama. Temuan kualitatif kemudian disintesis dan disusun ke dalam model pengambilan keputusan multi-kriteria dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah kerangka pengambilan keputusan yang praktis untuk meningkatkan konsistensi, mengurangi bias subjektif, dan menyelaraskan antar pemangku kepentingan dalam pemilihan lokasi ritel. Di kemudian hari, kerangka yang baru tidak hanya untuk praktik para manajemen tapi bisa bahan diskusi akademik dalam pengambilan keputusan di pasar ritel yang sedang berkembang.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN FRONTLINER PIHAK KETIGA UNTUK PENCAPAIAN KINERJA DI INDUSTRI FMCG PT GOOD FOOD JAKARTA RAYA
Dalam bisnis FMCG, khususnya di General Trade, frontliner merchandiser memegang peran penting setelah salesman mendistribusikan produk ke outlet. Tugas dan fungsinya mencakup memastikan produk terlihat jelas dan ditampilkan dengan baik di toko, dengan konsep “available” (produk tersedia di toko), “visible” (produk terlihat di display), dan “accessible” (mudah jangkauan oleh konsumen). Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengelola operasional, PT Good Food telah melakukan investasi besar dalam visibilitas program untuk meningkatkan penjualan offtake dan penggunaan tracking tools. Namun pencapaian KPI terkait ketepatan waktu implementasi dan kepatuhan masih belum mencapai target, terutama di wilayah Jabodetabek. Setelah mengamati kondisi di lapangan dan berdiskusi dengan tim lapangan, para supervisor, dan lembaga mitra, semakin terlihat bahwa masalah utamanya terletak pada sisi kapabilitas. Cukup banyak frontliner yang mulai bekerja berorientasi tanpa awal yang memadai, dan sebagian dari mereka belum benar-benar memahami aturan dasar visibilitas, kepatuhan standar, atau bahkan cara mengoperasikan aplikasi tracking. Studi ini menggunakan wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan analisis fishbone untuk mengidentifikasi akar masalah. Dari proses tersebut, muncul empat faktor utama: ketidaksesuaian pelatihan, ketidaksesuaian KPI, masalah koordinasi, serta tantangan eksternal seperti aktivitas kompetitor atau keterbatasan toko. Dari semua faktor tersebut, yang paling sering muncul, mendesak,& paling realistis untuk diselesaikan adalah ketiadaan program yang berorientasi pada standar bagi merchandiser baru. Berdasarkan hal ini, disusunlah desain orientasi yang lebih terstruktur, mencakup proses onboarding, kesiapan merchandiser, hingga sistem dukungan supervisor& frontliner buddy di outlet. Materi pelatihan wajib meliputi WHO Code dan Safety Riding, penjelasan jobdesk, pembekalan KPI, pelatihan POSM serta penggunaan tracking tools, pemahaman operasional distributor, dan evaluasi setelah pelatihan. Model onboarding yang diusulkan ini diharapkan dapat mengurangi perbedaan kemampuan antar-frontliner, meningkatkan compliance, dan membantu pencapaian KPI visibility tepat waktu. Intinya sederhana: ketika frontliner tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan mengapa hal itu penting, eksekusi di lapangan jadi lebih konsisten dan kinerja bisnis pun bisa meningkat.
PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN FREELANCE YANG EFISIEN PADA INDUSTRI EVENT DI INDONESIA: STUDI KASUS EVORIA EVENT ORCHESTRATOR
Objektif penelitian ini adalah mengembangkan dan mendesain sistem yang efektif untuk pengelolaan tenaga kerja lepas (freelance) di industri event Indonesia dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus Evoria Event Orchestrator. Sebagai perusahaan manajemen acara berskala menengah yang membutuhkan banyak tenaga freelance, Evoria menghadapi tantangan struktural dalam mengelola basis talenta terus berkembang. Saat ini ada 900 orang freelance yang terdaftar dalam komunitas freelance Evoria, tetapi hanya 10 persen yang aktif. Rendahnya pemanfaat ini disebabkan karena tidak ada sistem yang terpusat untuk rekruitmen, penugasan, evaluasi hingga retensi freelance yang berujung pada keterlambatan operasional, komunikasi yang tidak konsisten, serta variasi dalam kualitas hasil kerja. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus denga pendekatan kualitatif dengan metode Design Thinking untuk menggali pengalaman manusia dan proses organisasi yang menimbulkan ketidakefisienan tersebut. Metode dan pendekatan ini dipilih karena menggabungkan empati, kolaborasi, dan proses iteratif untuk mencapai efisiensi sistem sekaligus untuk mempertahankan motivasi manusia yakni tim Evoria dan freelance. Kerangka konseptual penelitian ini menggabungkan tiga kerangka teori: Event Lifecycle dari Getz (2012), Volunteer Management Lifecycle dari Cuskelly (2006), dan satu variabel dari Employee Lifecycle Model oleh Sullivan (2014). Ketiganya menyediakan kerangka komprehensif yang menuntun organisasi untuk membangun sistem yang efisien tanpa kehilangan sisi manusiawi, sehingga struktur kerja dan kolaborasi antarindividu dapat berjalan selaras. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan tenaga lepas dan tim internal Evoria yaitu Head of Event, Event Manager, dan Admin HR, serta dilengkapi data sekunder dari dokumen internal. Analisis tematik menemukan enam akar permasalahan utama: waktu persiapan yang singkat, budaya kerja cepat tanpa sistem, koordinasi manual, kesenjangan keterampilan tenaga lepas, komunikasi yang bergantung pada individu, serta umpan balik yang tidak diubah menjadi pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini merancang dan menguji tiga solusi strategis: (1) Evoria Crew Planner, sistem perencanaan tenaga kerja terpusat yang meningkatkan perencanaan dan distribusi kerja; (2) Evoria Coordination Manual, panduan alur kerja standar untuk menyelaraskan koordinasi antara divisi HR dan Event; serta (3) Evoria Learning Hub & Freelance Circle, unit bisnis baru untuk pelatihan, sertifikasi, dan pembangunan komunitas tenaga lepas. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan kecepatan koordinasi, kejelasan beban kerja, serta kepuasan tim Evoria, menegaskan bahwa efisiensi dapat dicapai tanpa mengorbankan fleksibilitas dan hubungan manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keseimbangan antara struktur dan empati merupakan kunci keberhasilan pengelolaan tenaga lepas yang berkelanjutan. Melalui pendekatan berbasis desain, Evoria berhasil mengubah proses manual yang terfragmentasi menjadi sistem terpadu berbasis data yang memenuhi kebutuhan operasional sekaligus aspek manusia. Model ini dapat menjadi referensi bagi penyelenggara acara lain di Indonesia untuk memprofesionalkan sistem manajemen tenaga lepas mereka.
USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK MENINGKATKAN KINERJA BISNIS PROGRAM YOGA TEACHER TRAINING DI ELING ACADEMY
Eling Academy, unit bisnis Eling Group adalah pusat pelatihan yoga & wellness di Bali. Kinerja program Yoga Teacher Training (YTT) Eling Academy masih rendah, terbukti dari frekuensi penyelenggaraan programnya yang jauh lebih rendah dibandingkan penyelenggara lain. Meskipun Bali telah menjadi destinasi unggulan program YTT global, sebagian besar penyelenggara YTT di Bali dijalankan oleh orang asing dan illegal menurut hukum Indonesia. Sayangnya, praktik-praktik ini masih berjalnjut hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eskternal yang memengaruhi kinerja Eling Academy dan merumuskan strategi bisnis. Metodologi penelitian yang digunakan ialah studi kasus kualitatif dengan beberapa analisis. Wawancara mendalam dilakukan, dilengkapi dengan data sekunder. Analisis tematik digunakan serta triangulasi untuk menguatkan tema-tema dari wawancara dengan bukti eksternal untuk kredibilitas analitis. Alat analisis digunakan seperti VRIO, Pengalaman Pelanggan, PESTEL, Porter’s Five Forces, dan 4-Component Competitor Analysis untuk mengevaluasi kondisi internal dan eskternal Eling Academy yang kemudian diprioritaskan untuk merumuskan strategi melalui pembobotan matriks IFE dan EFE. Analisis SWOT mengkonsolidasikan hasil analisis tersebut, dan solusi yang diusulkan memprioritaskan empat strategi melalui analisis TOWS: (1) Memulai diferensiasi berbasis garis keturunan dan metode otentik Bali Hatha Yoga melalui peningkatan posisi pasar, (2) Meningkatkan kesiapan operasional untuk meningkatkan frekuensi dan konsistensi program, (3) Memperkuat visibilitas internasional melalui kehadiran digital dan kolaborasi sistematis, dan (4) Mengembangkan ekosistem peserta dan alumni yang komprehensif untuk mendorong keterlibatan berkelanjutan. Strategi-strategi ini diintegrasikan ke dalam rencana implementasi multi-tahun, yang membawa Eling Academy dari aktivasi hingga konsolidasi dan akhirnya menuju premiumisasi serta pertumbuhan berkelanjutan.
STRATEGI OPERASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KINERJA ANALIS DI IT SERVICE DESK JAKARTA ROYAL BLUE ENERGY
Global Service Desk yang bekerja 24/7 dan mencakup seluruh wilayah kerja Royal Blue Company bekerja menggunakan aplikasi tiket sistem untuk menangani berbagai masalah dan permintaan yang berhubungan dengan IT. Penelitian ini menitikberatkan pada Jakarta Service Desk (JSD) dan menganalisis kinerja para analis pada bulan Januari-Juni 2025. Penelitian dilakukan untuk melihat apa saja strategi yang diterapkan pada JSD dan apa saja tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan performa kerja tiap analis. Di situasi kerja yang terus berubah dan meningkatnya volume tiket yang masuk dan dengan berubahnya teknologi yang terus menerus, analis JSD diharapkan dapat bertahan dengan menunjukkan performa sesuai target. Beberapa strategi yang diterapkan sudah terbukti dapat membuat performa analis meningkat, dan beberapa perlu dibenahi untuk mengurangi celah dan hambatan yang ada. Dilakukan evaluasi pada strategi yang sudah diterapkan di antaranya program training tiap minggu yang diadakan oleh Tim Kepuasan Penlanggan, portal layanan mandiri untuk pengguna, alat otomatisasi, inisiasi shif-left, rotasi tugas per minggu, dan lain-lain. Analisis yang dilakukan adalah dengan menggunakan Analisis Celah dan Analisis Fishbone. Dengan mengetahui celah pada setiap aspek yang berpengaruh pada kinerja analis dan menentukan penyebab masalahnya, analis diharapkan dapat fokus mengecilkan celah agar hasil yang didapatkan dapat sesuai target yang ditetapkan. Hasil menunjukkan bahwa celah kritis dalam penelitian ini adalah pada rotasi tugas per minggu. Jika celah kritis ini diperbaiki, hal ini akan berdampak pada kinerja lainnya seperti layanan pesan singkat dan layanan telepon. Dibutuhkan kerja sama dari setiap analis untuk dapat mencapai target sesuai KPI dan memberikan layanan yang memuaskan untuk setiap user.
PENGEMBANGAN PRODUK PERAWATAN RAMBUT INOVATIF UNTUK AREGA BEAUTY
Penelitian ini dilakukan untuk memahami penyebab stagnasi produk Arega Beauty dan mengembangkan arah inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia. Produk awal Arega yang berfokus pada perbaikan rambut rusak akibat pewarnaan ternyata tidak menjawab masalah utama pasar yaitu kerontokan rambut dan ketidakseimbangan kulit kepala. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi pasar, analisis penjualan, serta penerapan Root Cause Analysis dan kerangka New Product Development. Analisis tematik menunjukkan bahwa konsumen sangat mengutamakan efektivitas yang dapat terlihat, keamanan bahan, dan hasil yang konsisten dalam iklim tropis. Stagnasi terjadi karena formulasi awal kurang memiliki bahan aktif yang didukung riset dan proses pengujian yang terbatas. Penelitian ini kemudian mengusulkan pengembangan Arega Fortifying Hair Tonic dengan keratin, rosemary oil, dan aloe vera sebagai solusi alami yang tetap memiliki dasar ilmiah untuk masalah kerontokan rambut. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pengembangan produk yang berbasis data dan validasi konsumen sangat penting untuk meningkatkan relevansi pasar dan membangun kembali kepercayaan terhadap Arega.