📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPERANCANGAN BOARD GAME DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA DESIGN - DYNAMICS - EXPERIENCE (DDE) UNTUK MELATIH KONTROL INHIBISI PADA SISWA KELAS I SD
Penelitian ini bertujuan untuk merancang board game menggunakan kerangka Design–Dynamics–Experience (DDE) untuk melatih kontrol inhibisi pada siswa kelas I Sekolah Dasar (SD). Kontrol inhibisi merupakan bagian dari fungsi eksekutif pada otak yang berperan dalam inhibisi respons dan kontrol interferensi, serta menjadi prediktor masa depan individu. Proses perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond yang diawali dengan studi literatur, wawancara 2 tenaga kependidikan, dan observasi suasana belajar kelas I SD, yang menunjukkan bahwa kemampuan kontrol inhibisi siswa belum berkembang secara optimal. Perancangan board game menggunakan DDE dimulai dari perancangan experience yang berfokus pada latihan mempertahankan fokus dan pengendalian impuls, yang kemudian diterjemahkan ke dalam dynamics dan diwujudkan melalui design. Evaluasi dilakukan melalui playtesting secara bertahap kepada satu founder komunitas board game, satu pengembang game, dan tiga wali kelas I SD, dan observasi terhadap 18 siswa kelas I SD menggunakan instrumen observasi berlandaskan komponen DDE. Hasil menunjukkan bahwa board game yang dirancang mampu melatih kontrol inhibisi siswa kelas I SD yang mencakup inhibisi respons dan kontrol interferensi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan potensi kerangka DDE tidak hanya sebagai kerangka konseptual dalam merancang permainan, tetapi juga sebagai kerangka evaluatif dalam menilai kesesuaian antara desain permainan dan tujuan perancangan.
MEMPRIORITASKAN PEMILIHAN SUPPLIER UNTUK MENGURANGI EMISI SCOPE 3 MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Penelitian ini membahas masalah dalam pemilihan supplier untuk kolaborasi guna mengurangi emisi Scope 3 di PT Siemens Indonesia. Hal ini didorong oleh kebutuhan perusahaan untuk mencapai emisi net-zero pada tahun 2050, sejalan dengan target global. Mengurangi emisi Scope 3 penting karena mencakup sebagian besar total emisi. Namun, perusahaan menghadapi kesulitan dalam mengurangi emisi karena banyaknya supplier. Perusahaan tidak dapat berkolaborasi dengan semua supplier karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Oleh karena itu, perusahaan harus fokus berkolaborasi dengan supplier terpilih untuk mencapai hasil yang optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprioritaskan supplier untuk kolaborasi guna mengurangi emisi Scope 3. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, termasuk identifikasi masalah, pertanyaan dan tujuan penelitian, tinjauan pustaka, focus group discussions, melakukan metode AHP, dan memberikan solusi bisnis serta mengusulkan rencana implementasi. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif melalui tinjauan pustaka dan FGD, dan metode kuantitatif melalui kuesioner perbandingan berpasangan untuk AHP. Jurnal-jurnal sebelumnya telah menggunakan berbagai kriteria untuk pemilihan supplier. Kriteria-kriteria ini kemudian disaring dan disesuaikan dengan topik penelitian, menghasilkan 6 kriteria yang akan diusulkan dan dibahas dalam FGD. FGD dilakukan dengan melibatkan para ahli untuk mendapatkan kriteria akhir yang akan digunakan dalam metode AHP. AHP digunakan sebagai metode analisis data untuk memprioritaskan kriteria dan memprioritaskan pemasok berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria akhir adalah citra hijau, sistem manajemen lingkungan, komitmen lingkungan, dan emisi karbon. Pada alternatif, Indowire adalah pemasok prioritas tertinggi, dengan bobot 56,96%. Indowire memiliki skor tertinggi dan menunjukkan kinerja yang kuat di semua kriteria. Diikuti oleh Globalindo, Puma, Mun Hean, dan Pentamitra. Hasil ini memberikan solusi bagi PT Siemens Indonesia, memungkinkan kolaborasi dengan pemasok yang memiliki potensi tertinggi untuk pengurangan emisi, dengan mempertimbangkan beberapa kriteria.
STRATEGI BISNIS DAN PEMASARAN YANG SESUAI UNTUK FUEL TERMINAL PERTAMINA PULAU SAMBU MENGHADAPI DAMPAK KEBIJAKAN PENGENAAN PAJAK BADAN USAHA TETAP PADA BISNIS PENYEWAAN TANGKI PENYIMPANAN MINYAK & GAS BUMI
Peralihan energi, terutama pasca penandatanganan Protokol Kyoto pada 11 Desember 1997, meskipun kemajuannya lambat, telah mengubah iklim bisnis perdagangan minyak dan gas bumi, termasuk bisnis tangki penyimpanan di wilayah Selat Malaka dan Asia Tenggara. Deklarasi Singapura untuk berpartisipasi sebagai negara perintis dalam peralihan energi dan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menerapkan skema harga karbon pada 1 Januari 2019, dengan memberlakukan pajak karbon, telah mendorong beberapa pemain besar dalam bisnis ini untuk melepas aset terminal yang melayani penyewaan tangki dan kilang di wilayah Singapura atau mengalihkan bisnis mereka ke energi hijau, seperti Shell dan Advario.. Hal ini menciptakan peluang bagi Pulau Sambu Fuel Terminal, yang dioperasikan langsung oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak perusahaan PT Pertamina International Shipping, untuk dapat mengambil peran sebagai lokasi penyimpanan alternatif, yang diperkuat oleh lokasinya yang strategis di Selat Singapura dan kondisi saat ini yang belum dimanfaatkan. Peluang luas yang muncul tidak disertai dengan kemudahan dalam menjalankan bisnis, khususnya bisnis tangki penyimpanan, tantangan regulasi terutama terkait dengan peraturan pajak yang diterapkan untuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) sebesar 22% dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11%. Penelitian ini memiliki hipotesis bahwa meskipun Pulau Sambu memiliki keunggulan dari sisi lokasi geografis dan potensi pengembangan yang masih terbuka lebar, keunggulan tersebut hanya dapat terealisasi sebagian mengingat adanya hambatan regulasi, ketidaksesuaian desain terminal dengan nature strorage bisnis, dan belum dikenalnya PET di internasional. Lebih lanjut, tanpa dukungan aktif pemerintah, terutama terkait pelonggaran atau pembebasan pajak badan (Pph badan) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pengembangan bisnis jangka panjang Pulau Sambu hanya akan terbatas pada segmen pasar yang lebih rendah. Ambisi PET untuk menjadikan Terminal Bahan Bakar Pulau Sambu sebagai pusat penyimpanan bahan bakar minyak mentah dan bunkering regional akan sulit tercapai.
DIVERSIFIKASI STRATEGIS KE DALAM KONSULTANSI KEBERLANJUTAN: ANALISIS KESESUAIAN INTERNAL–EKSTERNAL PADA PREMYSIS CONSULTING
Penelitian ini mengkaji strategi diversifikasi Premysis Consulting ke dalam layanan konsultasi tentang keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan menggunakan pendekatan analisis kesesuaian antara faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai bagaimana expertise Premysis dalam konsultasi berbasis ISO dapat dimanfaatkan untuk memasuki pasar ESG yang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini dipicu oleh regulasi POJK 51/2017 serta meningkatnya tuntutan dari para pemangku kepentingan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kualitatif eksploratori. Penelitian dilakukan melalui wawancara internal, enam wawancara eksternal dengan klien, dan satu sesi Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Analisis PESTGDP dan VRIO–RBV mengungkapkan bahwa Premysis memiliki aset berharga seperti kepercayaan dari klien, metodologi yang teratur, serta kompetensi dalam regulasi. Namun, perusahaan ini juga menghadapi tantangan dalam hal keterampilan teknis ESG, kesiapan digital, dan pengembangan budaya inovasi. Hasil analisis tematik mengidentifikasi empat segmen pasar utama: Compliance-Oriented, Transformation-Focused, Mid-Sized/Underserved, dan Innovation-Oriented. Dari keempat segmen tersebut, segmen yang paling strategis untuk dikembangkan adalah Transformation-Focused dan Mid-Sized. Penelitian ini menganjurkan penerapan strategi bisnis hibrida. Strategi ini menggabungkan fokus pada diferensiasi untuk klien yang mengalami transformasi dan pendekatan kepemimpinan biaya untuk klien berskala menengah. Diversifikasi ESG dianggap pantas apabila didukung oleh peningkatan kemampuan dalam bidang ESG, pengembangan alat digital, dan pendekatan kerjasama dengan klien. Penelitian ini memberikan sumbangan pada kajian tentang konsultansi keberlanjutan dengan mengungkapkan cara keselarasan antara faktor-faktor internal dan eksternal dapat mendukung perusahaan konsultansi dalam bertransisi dari layanan yang fokus pada kepatuhan menjadi kemitraan strategis di bidang ESG.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERILAKU PEMILAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENGGUNAKAN STRUCTURAL EQUATION MODELLING (SEM) BERBASIS THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (TPB) YANG DIPERLUAS: STUDI KASUS KOTA AMBON, MALUKU
Proses pemilahan sampah rumah tangga yang efektif sangat bergantung pada partisipasi aktif dari masyarakat. Namun di Kota Ambon, tingkat partisipasi masyarakat tergolong rendah. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat perilaku pemilahan sampah serta konteks yang melatarbelakanginya menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan perilaku pemilahan sampah rumah tangga masyarakat Kota Ambon dengan menggunakan model Theory of Planned Behavior (TPB) yang diperluas dan menguji kesesuaian model, validitas, dan reliabilitasnya. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) (termasuk Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan Path Analysis) serta didukung oleh analisis statistik deskriptif. Data diperoleh melalui survei terhadap 300 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku pemilahan sampah dipengaruhi oleh sikap (CR = 3,874 dan p = 0,000), norma subjektif (CR = 2,029 dan p = 0,042), dan intervensi informasi (CR = 1,980 dan p = 0,048), Selain itu persepsi kontrol perilaku (CR = 0,894 dan p = 0,371), dukungan fasilitas (CR = -1,524 dan p = 0,127), dan regulasi dan kebijakan (CR = 0,236 dan p= 0,813), menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Model ini menunjukkan Goodness of Fit yang baik dengan nilai RMSEA = 0,058, CFI = 0,949, TLI = 0,943, dan Chi-square/df = 2,003. Temuan ini menghasilkan model perilaku berbasis TPB yang telah teruji dengan pendekatan SEM yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah. Studi ini juga berkontribusi pada literatur perilaku pro-lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan dengan secara empiris memvalidasi model TPB yang diperluas dalam konteks perkotaan di Indonesia.
MENAVIGASI KETERGANTUNGAN PLATFORM: PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS DI BALIK PERGESERAN MODEL BISNIS D2C PT LOCAL
Fokus penilitian adalah tentang bagaimana perusahaan mulai berani beralih dari ketergantungan pada marketplace dan mulai menapaki jalannya sendiri lewat model Direct-to-Consumer (D2C). Pendekatannya bukan soal angka semata. Ini tentang cerita di balik layar tentang keputusan yang rumit, rasa lelah tim di lapangan, sampai harapan yang tumbuh pelan-pelan di tengah perubahan. Data yang dipakai datang dari wawancara dengan tim internal, survei pelanggan, dan laporan keuangan perusahaan. Beberapa alat bantu strategi dipakai supaya arah analisis tetap jelas. Ada SWOT dan TOWS untuk melihat kekuatan dan tantangan, Porter’s Five Forces buat menakar kerasnya persaingan, serta Resource-Based View (RBV) untuk menilai apakah PT Local punya modal yang cukup kuat untuk benar-benar berdiri sendiri. Hasilnya lumayan menampar. Dalam dua tahun terakhir, biaya dari marketplace melonjak dari 16% jadi 25% dari total penjualan online. Sementara omsetnya nyaris tidak berubah. Tanda yang jelas kalau sesuatu harus diubah. Buat mereka, yang penting itu kemudahan, bukan nama platform. Dari semua temuan itu, muncul lima langkah nyata. Pertama, biarkan tetap jadi pintu untuk menarik pembeli baru, tapi arahkan pelanggan lama ke kanal D2C supaya brand bisa mengatur margin dan punya data sendiri. Kedua, buat pengalaman D2C yang menarik, tampilan website bersih, pembayaran cepat, pengiriman tepat waktu, dan layanan pelanggan yang responsif. Ketiga, manfaatkan data pelanggan yang sudah ada untuk bikin sistem loyalitas brand, supaya pembeli merasa jadi bagian dari keluarga besar PT Local. Keempat, bereskan urusan belakang layar satukan sistem keuangan dan teknologi biar rekonsiliasi tidak lagi rumit. Dan terakhir, bentuk tim lintas divisi yang rutin cek perkembangan dan langsung tangani masalah sebelum membesar. Intinya bukan melarikan diri dari marketplace, tapi berhenti jadi tawanan mereka. PT Local sebenarnya sudah punya fondasi kuat, tim teknologi yang solid, deretan brand bagus, dan orang-orang yang peduli. Sekarang tinggal dijalani perlahan tapi pasti beralih dari traffic pinjaman ke hubungan pelanggan yang benar-benar milik sendiri, dari margin tipis ke keuntungan yang lebih tenang. Karena pada akhirnya, perjalanan menuju D2C ini bukan sekadar strategi baru, tapi cara perusahaan merebut kembali kendali atas ceritanya sendiri.
STUDI EKSPERIMENTAL KINERJA SEISMIK SAMBUNGAN BALOK-KOLOM YANG UMUM DIGUNAKAN DI INDONESIA
Studi ini menginvestigasi kinerja seismik sambungan balok-kolom nonprakualifikasi yang umum digunakan di Indonesia (bolted end-plate with lower haunch/BECLH) dibandingkan dengan sambungan prakualifikasi (Bolted Unstiffened Extended End-Plate/BUEEP) melalui uji eksperimental siklik skala penuh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua tipe sambungan berhasil memenuhi kriteria penerimaan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dengan mencapai rotasi inelastis minimal 0,04 radian; namun, sambungan BUEEP menunjukkan perilaku histeresis yang jauh lebih simetris, stabil, dan memiliki daktilitas tinggi melalui plastifikasi balok, sedangkan sambungan BECLH memperlihatkan respons asimetris dengan degradasi kekuatan pada arah tarik serta disipasi energi yang didominasi oleh mekanisme slip. Disimpulkan bahwa meskipun sambungan BECLH dapat diterima menurut standar, sambungan BUEEP menawarkan keunggulan signifikan dalam hal stabilitas struktur dan mekanisme kegagalan yang lebih aman dibandingkan praktik konstruksi konvensional di Indonesia.
PENDEKATAN STRATEGIS UNTUK MEMPERKUAT KEUNGGULAN KOMPETITIF SATU DENTAL DI INDUSTRI KLINIK GIGI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana SATU Dental dapat memperkuat keunggulan kompetitifnya dalam industri klinik gigi swasta di Indonesia yang semakin kompetitif. Meskipun SATU Dental menerapkan model operasional yang terstandarisasi di seluruh jaringan kliniknya, kinerja antarwilayah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa keunggulan kompetitif perusahaan belum terealisasi secara merata pada tingkat klinik. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada identifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja klinik, serta perumusan strategi yang mampu menyelaraskan standar korporasi dengan kebutuhan pasar lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data pendapatan, volume pasien, dan pertumbuhan klinik di sembilan wilayah operasional. Analisis kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan manajemen dan tenaga medis. Seluruh temuan dianalisis menggunakan kerangka manajemen strategis, yaitu Marketing Mix (7Ps), VRIO, PESTEL, Porter’s Five Forces, serta SWOT–TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan demografi, tingkat persaingan, preferensi pasien, dan aksesibilitas lokasi menjadi faktor utama yang memengaruhi variasi kinerja antarwilayah. Wilayah dengan pertumbuhan tinggi seperti Bogor dan Jakarta Timur didukung oleh demografi kelas menengah dan persaingan yang moderat, sedangkan wilayah pasar matang seperti Jakarta Utara dan Jakarta Pusat mengalami pertumbuhan lebih lambat akibat kejenuhan pasar. Berdasarkan sintesis analisis, penelitian ini merekomendasikan tiga arah strategi utama, yaitu diferensiasi layanan melalui keunggulan klinis dan integrasi digital, pengembangan sumber daya manusia, serta standarisasi operasional dengan eksekusi strategi berbasis wilayah. Temuan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara standarisasi dan lokalisasi untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
PENGEMBANGAN ELEKTROLIT PADAT POLIMER PVA/LICH3COO TERMODIFIKASI NANOKRISTALIN SELULOSA DAN IONIC LIQUID EMIMBR UNTUK BATERAI ION LITIUM
Perkembangan teknologi baterai modern seperti Lithium-Ion Battery (LIB), telah mendesak kebutuhan untuk sumber energi yang lebih efisien, ringan, dan ramah lingkungan. Akan tetapi penggunaan elektrolit cair yang memfasilitasi konduktivitas ionik antara elektroda meskipun sangat efektif dalam kinerja baterai, tetapi memiliki resiko keselamatan yang signifikan termasuk kebocoran, mudah terbakar, dan ketidakstabilan termal. Selain itu, separator konvensional berbasis poliolefin, seperti polipropilen (PP) dan polietilen (PE) memiliki keterbatasan signifikan dalam hal stabilitas termal dan kemampuan menahan pertumbuhan dendrit litium, serta dampak lingkungan karena sulit terdegradasi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut dan seiring berkembangnya konsep baterai organik dan solid- state, pengembangan solid polymer electrolyte (SPE) berbasis polimer biodegradable menjadi solusi yang menjanjikan untuk meningkatkan keselamatan serta ramah lingkungan. SPE berfungsi sebagai elektrolit sekaligus separator elektronik antara anoda dan katoda. Penelitian ini mengembangkan membran SPE berbasis polivinil alkohol (PVA), yang dikenal memiliki sifat mekanik baik, dapat membentuk film yang stabil, biaya rendah, dan sifat biodegradable. Untuk meningkatkan konduktivitas ionik PVA, ditambahkan litium asetat (LiCH3COO) sebagai sumber ion Li?. Namun penambahan garam litium sering menurunkan kekuatan mekanik membran. Oleh karena itu, nanokristalin selulosa (CNC) digunakan sebagai agen penguat, sedangkan cairan ion 1-etil-3-metilimidazolium bromida (EMImBr) digunakan sebagai pemlastis dan konduktor ionik untuk meningkatkan fase amorf membran dan mobilitas ion. Kombinasi ketiga bahan ini diharapkan dapat menghasilkan membran SPE dengan konduktivitas ionik tinggi, kekuatan mekanik optimal, dan sifat ramah lingkungan yang sesuai untuk aplikasi baterai generasi baru. Metode sintesis yang digunakan melibatkan isolasi selulosa dari bonggol jagung dan hidrolisis untuk memperoleh nanokristalin selulosa, yang kemudian dikarakterisasi menggunakan FTIR, analisis ukuran partikel, dan analisis morfologi menggunakan SEM dan TEM. Cairan ion EMImBr disintesis menggunakan Microwave-Assisted Organic Synthesis (MAOS) dan dikarakterisasi dengan ¹H- NMR dan ¹³C-NMR. Membran SPE [PVA/LiCH3COO/CNC/EMImBr] difabrikasi dengan teknik solution casting dan diuji menggunakan XRD, FTIR, SEM, TGA, UTM, dan EIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% LiCH3COO ke dalam matriks PVA menghasilkan konduktivitas ionik diperoleh sebesar 1,43×10?? S/cm dengan kekuatan mekanik yang tinggi (tegangan 36,12 MPa, regangan 530,46%). Penambahan EMImBr pada membran [PVA/10% LiCH3COO] meningkatkan konduktivitas ionik, dengan nilai optimum pada 40% EMImBr yaitu mencapai 2,21×10?? S/cm, meskipun diikuti oleh penurunan kekuatan mekanik. Sebaliknya, penambahan 5% CNC pada membran [PVA/10% LiCH3COO] meningkatkan kekuatan mekanik (tegangan 40,3 MPa, regangan 524,97%), meskipun mengakibatkan penurunan konduktivitas ionik. Berdasarkan variasi komposisi yang diuji (penggabungan penambahan CNC dan EMImBr ke dalam PVA/10% LiCH3COO), kombinasi 5% CNC-30% EMImBr menunjukkan hasil paling optimum, menghasilkan konduktivitas ionik tertinggi (5,26×10?? S/cm) dengan sifat mekanik yang baik (tegangan 21,82 MPa, regangan 884,64%). Kebaharuan dari penelitian ini adalah penggabungan nanokristalin selulosa dan cairan ion EMImBr untuk mencapai keseimbangan optimal antara konduktivitas ionik dan kekuatan mekanik pada membran SPE berbasis polimer biodegradable, yang belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini juga memanfaatkan limbah pertanian sebagai sumber nanokristalin selulosa dan menunjukkan hasil yang ramah lingkungan serta biaya rendah. Membran SPE [PVA/LiCH3COO/CNC/EMImBr] yang dikembangkan berpotensi menjadi SPE solid-state yang aman dan efisien untuk baterai ion litium generasi berikutnya, mendukung pengembangan teknologi baterai organik, serta memberikan kontribusi pada solusi penyimpanan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN, SOSIAL, DAN TATA KELOLA (ESG) DENGAN KEPUTUSAN INVESTASI INVESTOR RITEL: STUDI KASUS PADA PT BANK CENTRAL ASIA TBK (BBCA)
Faktor Environmental, Social, dan Governance (ESG) telah terintegrasi menjadi standar keuangan global, dengan aset berbasis ESG diproyeksikan melampaui USD 45 triliun pada tahun 2025. Di Indonesia, penerapan ESG didorong oleh POJK 51/2017 dan Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan (2021-2025). Meskipun demikian, bukti empiris yang menjelaskan bagaimana investor ritel merespons pengungkapan ESG masih terbatas, terutama di sektor perbankan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kinerja ESG terhadap keputusan investasi investor ritel pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). ??Penelitian ini menilai pengaruh dimensi ESG terhadap keputusan investasi serta menguji peran investment horizon sebagai moderasi. Pendekatan kuantitatif eksplanatori digunakan dengan menyebarkan kuesioner terstruktur kepada 175 investor ritel pemilik saham BBCA. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dan moderated regression dengan 2.000 sampel bootstrapping BCa. Hasil menunjukkan bahwa faktor ESG secara kolektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan investasi. Di antara ketiga dimensi, Governance menjadi satu-satunya faktor yang berpengaruh signifikan, menegaskan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan etika pengelolaan dalam membangun kepercayaan investor. Dimensi Environmental dan Social berpengaruh positif namun tidak signifikan, dan investment horizon tidak memoderasi hubungan tersebut secara signifikan. ??Temuan ini memperluas penerapan teori Stakeholder, Signaling, dan Planned Behavior dengan menunjukkan bahwa praktik tata kelola yang kredibel menjadi sinyal ESG paling berpengaruh bagi investor. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan agar BCA memperkuat komunikasi ESG melalui portal ESG Highlight yang interaktif dan terintegrasi dengan media sosial untuk meningkatkan transparansi dan keterlibatan investor. Hasil ini memberikan wawasan untuk strategi ESG serta mendorong perilaku investasi berkelanjutan di sektor perbankan Indonesia.
PEMILIHAN LOKASI EKSPANSI TOKO BAKMI KITA MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)DENGAN STRATEGI PEMASARAN LOKASI YANG TERDIFERENSIASI
Pertumbuhan Industri food and beverage (F&B) Service di Indonesia semakin pesat dan mendorong semakin ketatnya persaingan, terutama di wilayah Jabodetabek yang menampung hampir 40% pelaku usaha F&B Service nasional. Dengan demikian, pemilihan lokasi menjadi keputusan strategis yang sangat menentukan keberhasilan sebuah restoran. Toko Bakmi Kita, yang berdiri di Kota Serang sejak 2019, berencana memperluas jangkauan bisnisnya ke Jabodetabek dengan pendekatan yang lebih terukur dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kriteria utama dalam pemilihan lokasi restoran menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP), serta menilai lima alternatif lokasi untuk menentukan lokasi ekspansi. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner AHP kepada 15 pelaku usaha dan professional di bidang F&B Service, serta data sekunder dari Google Maps dan MAPID. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari delapan kriteria utama, aksesibilitas menjadi faktor yang paling berpengaruh, diikuti daya Tarik pasar, biaya sewa, dan penggerak arus pelanggan. Pada tingkat sub-kriteria, jarak ke jalan utama, skema pembayaran sewa, serta tingkat okupansi siang dan malam menjadi penentu utama daya tarik lokasi. Dari lima lokasi yang dianalisis, dua lokasi memiliki skor tertinggi yaitu Graha Raya Tangerang (Lokasi E) dengan skor 88,56 dan Grand Wisata Bekasi (Lokasi A) dengan skor 85,12. Keduanya dinilai paling memenuhi kombinasi akses yang baik, potensi pasar, dan struktur biaya yang mendukung ekspansi Toko Bakmi Kita di Jabodetabek.
MODEL AKSES STRATEG IS UNTUK PERUSAHAAN FARMASI MULTINASIONAL DALAM MEMPERLUAS AKSES OBAT INOVATIF DI PASAR NEGARA BERKEMBANG: PENDEKATAN BERBASIS EKUITAS
Perusahaan farmasi multinasional (MNC) beroperasi di negara berkembang, mereka sering mengalami kinerja strategis yang buruk sehingga gagal menyediakan produk baru. Hal ini disebabkan oleh sifat kaku dari struktur tata kelola global mereka dan strategi yang selaras secara global, yang menghasilkan model penetapan harga yang tidak memungkinkan opsi “go middle”, sehingga memaksa mereka memilih antara model “go high” atau “go low”. Selain itu, terdapat keterlambatan dalam peluncuran produk baru serta ketergantungan pada proses tender pemerintah sebagai sarana utama untuk memberikan akses kepada pasien. Kebijakan JKN di Indonesia semakin memperburuk tantangan ini karena lebih memprioritaskan pengendalian biaya daripada inovasi klinis. Penelitian ini menggunakan kerangka teori manajemen strategis dan analisis kualitatif tematik menggunakan perangkat NVivo untuk mengkaji lingkungan eksternal dan internal dengan memanfaatkan kerangka teoritis Porter’s Five Forces, Resource-Based View (RBV), dan Strategic Entrepreneurship guna mengembangkan strategi tingkat bisnis yang adaptif serta menilai kelayakan implementasi solusi bisnis yang diusulkan. Desain penelitian eksploratif kualitatif diterapkan dengan pendekatan Design Thinking, yang mencakup lima tahap iteratif: Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan pemangku kepentingan dari berbagai sektor terkait, dan data ditriangulasi dengan sumber sekunder. Proses ideasi strategis mencakup pengembangan model akses inovatif seperti penetapan harga berbasis ekuitas, strategi hibrida, dan kontrak berbasis hasil. Prototipe dievaluasi melalui pemodelan skenario dan umpan balik pemangku kepentingan, yang menunjukkan kelayakan kuat untuk penetapan harga berbasis ekuitas sebagai solusi yang dapat diskalakan. Temuan penelitian ini menekankan bahwa agar berhasil di pasar negara berkembang, MNC harus meninggalkan strategic arrogance dan penggunaan pedoman global yang kaku, serta beralih ke strategi yang berbasis lokal, kolaboratif, dan adaptif.
MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG): EVALUASI MODEL PENYALURAN MELALUI VIRTUAL ACCOUNT BRI UNTUK AKUNTABILITAS DANA PUBLIK DAN KOORDINASI PEMANGKU KEPENTINGAN
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu dari nawa cita pelaksanaan strategis pemerintah Indonesia dalam sektor gizi masyarakat, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo pada tahun 2025 di bawah naungan Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan alokasi APBN sebesar Rp71 triliun pada tahun pertama, program ini dirancang untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini menjadi tonggak harapan berkurangnya angka stunting yang masih memprihatinkan serta memperkuat kualitas gizi sumber daya manusia dalam jangka panjang. Namun, mempertimbangkan seluruh pembiayaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka penyaluran dana harus tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kaitan dengan audit. Implementasi awal jelas membuktikan adanya kelemahan dalam mekanisme penyaluran. Pada tahap awal, penyaluran dana disetorkan ke rekening virtual account yayasan mitra, yang menuaungi dapur, untuk kemudian ditransfer ke dapur-dapur penyedia makanan (SPPG). Rantai distribusi yang panjang ini menimbulkan tambahan waktu, perhitungan yang dinilai kurang transparan, serta kendala rekonsiliasi pembayaran. Beberapa dapur atau SPPG sudah mengungkapkan keberatan atas keterlambatan atas pembayaran dana, yang menyebabkan tertertunda atau terhentinya kegiatan operasional sementara. Permasalahan ini merupakan tantangan atas perlunya sistem penyaluran yang lebih efisien dan transparan, yang mampu menjaga akuntabilitas dana publik sekaligus memberi keyakinan kepastian arus kas bagi dapur dan pemasok. Sebagai mitra perbankan utama, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memperkenalkan Model Penyaluran melalui Virtual Account (VA). Melalui skema ini, setiap SPPG memperoleh nomor VA unik dalam sistem BRI, sehingga dana dari BGN dapat ditransfer langsung dengan rekonsiliasi otomatis dan pencatatan real-time melalui Cash Management System(Qlola). Penelitian ini dilakukan untuk memastikan kebermanfaatan implementasi atas Virtual Account dalam Program Makan Bergizi Gratis serta mengevaluasi tingkat penerimaan para pemangku kepentingan. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: pertama, mengkuantifikasi implementasi dampak virtual account dalam hal efisiensi dan transparansi; kedua, mengidentifikasi faktor apa saja yang memberikan kontribusi terhadap keinginan para pengguna menggunakan sistem; dan ketiga, menilai kontribusil dashboard virtual account dalam kaitan fungsi monitoring dan rekonsiliasi pada level institusional. Metode penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kombinasi data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap petugas SPPG dengan menggunakan kerangka Technology Acceptance Model (TAM3), yang berfokus pada persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan niat perilaku. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan petugas SPPG yang juga mengacu pada TAM3, serta pejabat BGN dengan pendekatan Technology–Organization–Environment (TOE). Hasil penelitian memberikan keyakinan senada dengan harapan bahwa virtual account dalam penyaluran pemerintah mampu meningkatkan kecepatan penyaluran, mengurangi kesalahan rekonsiliasi, serta memperkuat dalam hal pertanggungjawaban audit. Petugas SPPG menyampaikan bahwa kepercayaan meningkat dalam mengelola transaksi harian, senada dengan hasil survei yang menunjukkan persepsi positif terkait manfaat dan kemudahan dalam menggunakan. Dari sisi kelembagaan, BGN menegaskan bahwa dashboard memperkuat pengawasan keuangan serta meningkatkan akuntabilitas. Secara keseluruhan, penelitian memberikan keyakinan positif bahwa virtual account dapat menjadi solusi efektif secara teknis sekaligus dapat diterima pada level kelembagaan dalam hal ini Badan Gizi Nasional. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan bukti empiris bahwa sistem VA dapat menjadi instrumen keuangan digital yang handal untuk program publik berskala besar. Secara praktis, hasil penelitian merekomendasikan agar mekanisme VA diformalkan ke dalam pedoman operasional MBG, disertai pelatihan pengguna, dukungan teknis, serta strategi perluasan bertahap hingga tingkat nasional. Untuk penelitian selanjutnya, evaluasi dimungkinkan untuk diperluas sampai dengan penerima manfaat langsung (anak sekolah, ibu, dan balita) untuk mengukur dampak sosial, serta memperhatikan implementasi serupa di program sosial pemerintah lainnya. Dapat kami tarik kesimpulan, perjalanan untuk penyaluran berbasis model penyaluran dengan virtual account telah merubah peta perjalanan penyaluran MBG dari mekanisme manual yang berdampak pada kekecewaan akibat keterlambatan pembayaran menjadi mekanisme baru yang lebih cepat, tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan membuat aliran dana lebih transparan, program MBG dapat menjaga konsistensi dalam pemenuhan makanan bergizi bagi jutaan masyarakat Indonesia dan juga menjaga peran integritas dalam andil aliran dana publik.
INTEGRASI K-MEANS, PROGRAM LINEAR, DAN AHP UNTUK EKSPANSI FASILITAS AGRIBISNIS STRATEGIS DI INDONESIA
Penelitian ini merekomendasikan strategi ekspansi fasilitas yang optimal bagi distributor buah di Indonesia yang kapasitas pematangan pisang Cavendish-nya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan yang meningkat, dengan mengintegrasikan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk mengevaluasi konfigurasi alternatif. Klasterisasi K-Means digunakan untuk mensegmentasi permintaan pelanggan dan mengidentifikasi lokasi fasilitas baru yang potensial, yang kemudian dibandingkan dengan lokasi yang sudah ada untuk menghasilkan alternatif ekspansi. Linear Programming (LP) kemudian diterapkan untuk menilai implikasi biaya total dari konfigurasi jaringan terpusat (sentralisasi), tersebar (desentralisasi), dan hibrida. Untuk mengakomodasi perspektif manajerial, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk memberi bobot pada kriteria kuantitatif seperti biaya dan responsivitas, bersamaan dengan kriteria kualitatif termasuk kualitas produk dan keselarasan sumber pasokan (sourcing alignment). Analisis K-Means mengidentifikasi tata letak optimal dengan 5-pusat (centroid) dan 3-pusat, yang mengindikasikan potensi konsolidasi di Jawa Tengah dan menghasilkan empat alternatif ekspansi yang layak. Meskipun hasil LP menunjukkan konfigurasi hibrida sebagai opsi berbiaya terendah, analisis AHP menyoroti preferensi pemangku kepentingan terhadap faktor-faktor non-biaya, yang mengarah pada pemilihan tata letak 5-pusat meskipun biayanya lebih tinggi. Uji sensitivitas mengkonfirmasi ketahanan (robustness) model hibrida dalam skenario yang didorong oleh biaya Penelitian ini berkontribusi dalam bentuk kerangka kerja pendukung keputusan yang terintegrasi yang menggabungkan klasterisasi, optimasi, dan analisis multi-kriteria untuk memandu perencanaan ekspansi fasilitas untuk barang yang mudah rusak (perishable goods). Kerangka kerja ini menawarkan pendekatan yang seimbang untuk desain jaringan logistik, menyelaraskan efisiensi operasional dengan sumber pasokan strategis dan tujuan kualitas dalam rantai pasok pisang di Indonesia.
PENGARUH PENGALAMAN WISATA TERHADAP KEPUASAN DAN LOYALITAS PENGUNJUNG TAMAN REKREASI DAGO DREAMPARK LEMBANG JAWA BARAT
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor pembentuk loyalitas pengunjung di Taman Rekreasi Dago Dreampark, Lembang, dengan fokus pada pengaruh pengalaman wisata (visitor experience), pertumbuhan pribadi (personal growth), dan ketegangan (tension) terhadap kepuasan dan loyalitas. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode PLS-SEM terhadap data dari 204 responden, hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengalaman wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan, yang selanjutnya juga berdampak signifikan dalam membangun loyalitas pengunjung. Namun, kontra dengan hipotesis awal, pertumbuhan pribadi dan ketegangan terbukti tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan. Studi ini juga menemukan bahwa usia dan tingkat pendidikan secara signifikan memoderasi hubungan antara kepuasan dan loyalitas. Berdasarkan Importance-Performance Map Analysis (IPMA), kepuasan dan pengalaman wisata teridentifikasi sebagai faktor kunci dengan kinerja dan tingkat kepentingan tinggi. Temuan ini tidak hanya memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan model perilaku pengunjung di taman rekreasi bertema, tetapi juga menjadi panduan strategis bagi manajemen destinasi untuk memprioritaskan peningkatan kualitas pengalaman wisata dan kepuasan guna membangun loyalitas berkelanjutan, khususnya pada segmen pengunjung usia produktif dan terdidik.