📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PERANCANGAN DAN REALISASI AUDIOMETER PURE TONE PORTABEL

Gangguan pendengaran dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Di Indonesia, alat skrining dan diagnosis pendengaran umumnya memiliki harga yang relatif mahal sehingga hanya tersedia di fasilitas kesehatan berskala besar. Kondisi ini menyebabkan masyarakat menengah ke bawah serta masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan mengalami kesulitan dalam melakukan pemeriksaan pendengaran. Selain itu alat skrining pendengaran ini juga sangat dibutuhkan untuk kawasan industri dengan lokasi kerja yang memiliki tingkat kebisingan cukup tinggi. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan perancangan dan realisasi audiometer nada murni portabel dengan sistem penghantaran suara melalui udara. Audiometer ini dirancang untuk menghasilkan suara nada murni pada frekuensi 125 Hz, 250 Hz, 500 Hz, 750 Hz, 1000 Hz, 1500 Hz, 2000 Hz, 3000 Hz, 4000 Hz, 6000 Hz, dan 8000 Hz dengan intensitas 0 dB hingga 100 dB dalam rentang 5 dB. Sistem audiometer menggunakan mikrokontroler ESP32 dan DAC eksternal PCM5102 untuk menghasilkan sinyal suara sesuai spesifikasi. Pengaturan frekuensi dan intensitas dilakukan secara digital menggunakan rotary encoder, sedangkan sistem antarmuka pengguna menggunakan aplikasi berbasis web. Audiometer dirancang bersifat portabel agar mudah dibawa dan dapat digunakan untuk menjangkau wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan. Kalibrasi dan pengukuran frekuensi serta intensitas dilakukan menggunakan Real Time Analyzer (RTA) di Ruang Semi Anechoic Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik, Teknik Fisika ITB. Hasil kalibrasi menunjukkan bahwa audiometer mampu menghasilkan frekuensi dan intensitas suara sesuai dengan spesifikasi yang dirancang. Untuk mengetahui akurasi diagnostik alat, dilakukan uji diagnostik di Kasoem Hearing Center terhadap lima subjek pasien berusia 23–24 tahun. Audiometer nada murni konvensional yang digunakan di ruang pemeriksaan khusus pendengaran dijadikan sebagai baku emas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh subjek memiliki hasil pemeriksaan pendengaran normal baik menggunakan audiometer konvensional maupun audiometer portabel. Terdapat sedikit perbedaan hasil pengukuran, namun masih berada dalam batas toleransi kesalahan yang diizinkan dan tidak memengaruhi kesimpulan diagnosis. Dengan demikian, audiometer nada murni portabel yang dikembangkan terbukti dapat digunakan sebagai alat skrining pendengaran alternatif dengan biaya terjangkau dan berpotensi diaplikasikan di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan.

2026
👤 Penulis: Namira Husaimah
🏷️ Elektronika Dan Komunikasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

FABRIKASI DAN EVALUASI HIDROGEL PVA/KERATIN/SERISIN SEBAGAI IMPLAN ELASTIS

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang ditandai dengan kerusakan pada tulang rawan sendi (kartilago) sehingga menyebabkan rasa nyeri pada sendi. Salah satu solusi untuk menyembuhkan OA adalah rekayasa jaringan dengan menggunakan hidrogel berbasis polyvinyl alcohol (PVA), keratin, dan serisin sebagai pengganti kartilago asli. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan fabrikasi hidrogel melalui proses freeze-thawing (physical crosslinking). Keratin diisolasi dari bulu ayam broiler melalui proses reduksi, sedangkan serisin diisolasi dari kepompong ulat sutra (Bombyx mori) melalui proses hot water degumming. Karakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) mengonfirmasi keberhasilan isolasi keratin dan serisin. Pengujian FTIR pada hidrogel menunjukkan bahwa protein telah terintegrasi dengan baik ke dalam matriks PVA. Berdasarkan analisis SEM, kombinasi keratin dan serisin secara sinergis menghasilkan struktur pori yang menyerupai matriks ekstraseluler (ECM). Pengujian fraksi gel pada hidrogel menunjukkan nilai rata-rata sekitar 90% yang berkorelasi dengan rasio swelling dan water content pada hidrogel. Penambahan protein juga meningkatkan kekuatan mekanik hidrogel. Nilai kekuatan tekan siklik hidrogel yang dihasilkan berkisar antara 14 hingga 37 kPa, sedangkan modulus elastisitas (kekakuan) hidrogel berkisar antara 29 hingga 63 kPa. Namun, hidrogel yang dihasilkan masih perlu optimasi lebih lanjut agar memenuhi standar implan elastis untuk aplikasi penanganan OA.

2026
👤 Penulis: Atika Hasyati Asarina
🏷️ Hidrologi 🏷️ Rekayasa Jaringan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENINGKATAN TOLERANSI ETANOL PADA S. CEREVISIAE MELALUI ADAPTIVELABORATORY EVOLUTION (ALE) BERBASIS HEAT SHOCK SEBAGAI STRATEGIOPTIMASI PRODUKSI BIOETANOL

Ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil telah memicu tekanan ekonomi dan degradasi lingkungan yang signifikan. Di Indonesia, lonjakan impor BBM yang menembus US$12,4 miliar pada tahun 2024 memberikan beban fiskal yang berat, sementara emisi gas rumah kaca dari pembakaran fosil terus memperburuk krisis iklim dan polusi udara. Bioetanol muncul sebagai solusi strategis karena sifatnya yang terbarukan dan dapat diproduksi melalui proses fermentasi menggunakan ragi. Namun, efisiensi produksi bioetanol oleh Saccharomyces cerevisiae masih terhambat oleh toksisitas etanol produk akhir yang menyebabkan denaturasi protein, kerusakan membran, dan penghambatan pertumbuhan sel ragi pada konsentrasi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan strain mutan ragi yang toleran terhadap etanol hingga konsentrasi 16% (v/v) melalui metode Adaptive Laboratory Evolution (ALE) dengan memanfaatkan mekanisme cross-protection. Strategi ini menggunakan pretreatment heat shock untuk menginduksi sintesis Heat Shock Proteins (HSPs), seperti Hsp104. S. cerevisiae ditumbuhkan dalam medium Yeast Extract Peptone Dextrose (YPD) pada suhu ruang 23 ± 1.5°C, agitasi 0 rpm, dengan kondisi fakultatif anaerob. Proses ALE diawali dengan pemberian pretreatment heat shock pada suhu 50°C selama 10 menit, diikuti dengan adaptasi pada konsentrasi etanol yang meningkat secara progresif dari 10% hingga 16% (v/v). Konfirmasi terhadap evolved strain dilakukan melalui kultivasi pada medium YPD dengan konsetrasi etanol 16% (v/v) dan dibandingkan performa pertumbuhan strain berbasis heat shock terhadap strain ALE tanpa pretreatment heat shock. Hasil penelitian menunjukkan S. cerevisiae toleran etanol 16% (v/v) dengan kesintasan mencapai 92,40%, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan wild-type sebesar 48,73%. Strain hasil ALE mampu memertahankan mutasi secara stabil selama tiga kali subkultur berulang dengan laju pertumbuhan yang tidak berbeda secara signifikan (p-value > 0,05) antara strain ALE tanpa heat shock dan ALE dengan heat shock. Hal ini membuktikan bahwa metode ALE menggunakan etanol secara langsung sudah memadai untuk meningkatkan toleransi ragi terhadap stres etanol tinggi. Temuan ini berpotensi dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas bioetanol melalui penelitian lanjutan.

2026
👤 Penulis: Aurennisa Nindia Eka Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Bioetanol 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENINGKATAN TOLERANSI ETANOL PADA S. CEREVISIAE MELALUI ADAPTIVELABORATORY EVOLUTION (ALE) BERBASIS HEAT SHOCK SEBAGAI STRATEGIOPTIMASI PRODUKSI BIOETANOL

Ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil telah memicu tekanan ekonomi dan degradasi lingkungan yang signifikan. Di Indonesia, lonjakan impor BBM yang menembus US$12,4 miliar pada tahun 2024 memberikan beban fiskal yang berat, sementara emisi gas rumah kaca dari pembakaran fosil terus memperburuk krisis iklim dan polusi udara. Bioetanol muncul sebagai solusi strategis karena sifatnya yang terbarukan dan dapat diproduksi melalui proses fermentasi menggunakan ragi. Namun, efisiensi produksi bioetanol oleh Saccharomyces cerevisiae masih terhambat oleh toksisitas etanol produk akhir yang menyebabkan denaturasi protein, kerusakan membran, dan penghambatan pertumbuhan sel ragi pada konsentrasi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan strain mutan ragi yang toleran terhadap etanol hingga konsentrasi 16% (v/v) melalui metode Adaptive Laboratory Evolution (ALE) dengan memanfaatkan mekanisme cross-protection. Strategi ini menggunakan pretreatment heat shock untuk menginduksi sintesis Heat Shock Proteins (HSPs), seperti Hsp104. S. cerevisiae ditumbuhkan dalam medium Yeast Extract Peptone Dextrose (YPD) pada suhu ruang 23 ± 1.5°C, agitasi 0 rpm, dengan kondisi fakultatif anaerob. Proses ALE diawali dengan pemberian pretreatment heat shock pada suhu 50°C selama 10 menit, diikuti dengan adaptasi pada konsentrasi etanol yang meningkat secara progresif dari 10% hingga 16% (v/v). Konfirmasi terhadap evolved strain dilakukan melalui kultivasi pada medium YPD dengan konsetrasi etanol 16% (v/v) dan dibandingkan performa pertumbuhan strain berbasis heat shock terhadap strain ALE tanpa pretreatment heat shock. Hasil penelitian menunjukkan S. cerevisiae toleran etanol 16% (v/v) dengan kesintasan mencapai 92,40%, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan wild-type sebesar 48,73%. Strain hasil ALE mampu memertahankan mutasi secara stabil selama tiga kali subkultur berulang dengan laju pertumbuhan yang tidak berbeda secara signifikan (p-value > 0,05) antara strain ALE tanpa heat shock dan ALE dengan heat shock. Hal ini membuktikan bahwa metode ALE menggunakan etanol secara langsung sudah memadai untuk meningkatkan toleransi ragi terhadap stres etanol tinggi. Temuan ini berpotensi dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas bioetanol melalui penelitian lanjutan.

2026
👤 Penulis: Aurennisa Nindia Eka Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Bioetanol 🏷️ Hidrologi

DINAMIKA TEMPORAL JARINGAN TRANSPORTASI UDARA INDONESIA

Air transportation systems are complex, evolving infrastructures whose structural and functional characteristics change over time in response to demand, operational policies, and external disruptions. Traditional static network representations are limited in their ability to capture these temporal dynamics, particularly in archipelagic nations where seasonal migration triggers massive flow reconfigurations. This thesis investigates the temporal evolution of the Indonesian domestic air transportation network using a complex-network and temporal-network modelling approach. The network is constructed as a directed and weighted graph using monthly aggregated passenger data for the year 2018 to generate a sequence of temporal snapshots. A range of network topology metrics, including degree, centrality, and path length, along with Louvain community detection, are evaluated to characterise structural changes and mesoscale organisational stability over time. The results reveal a system defined by "Structural Resilience amidst Dynamic Reconfiguration." While the network successfully absorbed a 30.5% traffic fluctuation (7.50–9.79 million passengers) with minimal change to global topology (Average Path Length < 3.0), significant mesoscale adaptations were identified. Specifically, the Eid al-Fitr period triggered a "Dual-Core Intensification" phenomenon, where airlines activated bypass routes to secondary cities (increasing Betweenness Centrality in Yogyakarta by +46.2% and Semarang by +41.1%) while reinforcing the Eastern hub of Makassar (+3.8%). Furthermore, community detection revealed a demand-driven structural shift, where the network temporarily merged from four clusters to three during the July school holiday peak to accommodate the intense Java-Bali leisure corridor. This study provides a systematic framework for analysing the temporal dynamics of national-scale air transportation networks. It empirically demonstrates that the Indonesian aviation system relies on a stable "Geographic Backbone" (Jakarta-Makassar) to maintain connectivity, while employing a flexible "Economic Periphery" to handle demand shocks. These findings offer actionable insights for network resilience, operational planning, and policy evaluation within the Indonesian aviation system.

2026
👤 Penulis: Marsha Virginia Merryl Saparta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KEANEKARAGAMAN MIKROBA LAUT DALAM DI LEPAS PANTAI BARAT LAUT SUMATRA: STUDI METAGENOMIK DAN ISOLASI BAKTERI PSIKROFILIK

Laut dalam Indonesia yang didefinisikan lebih dalam dari 200 m, merupakan wilayah yang sangat luas namun masih minim eksplorasi, meskipun diketahui memiliki keanekaragaman mikroba tinggi dan potensi bioteknologi yang besar. Lingkungan ekstrem seperti tekanan hidrostatik tinggi, suhu rendah, minim cahaya, dan ketersediaan nutrisi yang terbatas membentuk komunitas bakteri dengan adaptasi unik yang berbeda dari mikroba laut dangkal. Minimnya data eksplorasi di wilayah barat laut Sumatra menjadikan kajian awal ini sangat penting untuk memahami struktur komunitas, dinamika ekologis, serta potensi taksa baru yang belum terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi komunitas bakteri laut dalam menggunakan pendekatan metagenomik berbasis gen 16S rRNA full-length serta melakukan isolasi kultur bakteri psikrofilik yang teradaptasi pada suhu rendah sebagai upaya validasi keberadaan mikroba yang terdeteksi secara molekuler. Sampel diperoleh dari tiga stasiun laut dalam dengan variasi kedalaman, yaitu Stasiun 13, 14, dan 18. Pengambilan sampel dilakukan pada kolom air (permukaan, lapisan tengah, dan dasar) serta pada sedimen dengan ketebalan ±5 cm. DNA mikroba diekstraksi menggunakan ZymoBIOMICS™ DNA Miniprep Kit, diamplifikasi dengan primer universal 27F dan 1492R, kemudian disekuensing menggunakan platform Oxford Nanopore PromethION. Tahapan analisis bioinformatika mencakup basecalling, trimming, clustering, klasifikasi taksonomi menggunakan SILVA v138, serta perhitungan diversitas alfa dan beta melalui pipeline QIIME2 dan Epi2Me. Pendekatan kultivasi dilakukan menggunakan media Zobell Marine Broth/Agar 20% yang disesuaikan dengan karakteristik lingkungan oligotrofik, dan inkubasi dilakukan pada 4°C untuk memimik kondisi alami laut dalam. Hasil metagenomik menunjukkan adanya stratifikasi vertikal mikroba yang jelas pada Stasiun 13. Keanekaragaman mikroba meningkat seiring bertambahnya kedalaman, dengan indeks Shannon meningkat dari 1,75 pada permukaan menjadi 3,95 pada lapisan dasar. Pergeseran komposisi komunitas sejalan dengan perubahan kondisi lingkungan: Cyanobacteria mendominasi lapisan permukaan, kelompok heterotrofik seperti Proteobacteria dan Bacteroidota muncul pada lapisan tengah, sedangkan bakteri anaerob dan degradasi sulfur seperti Desulfobacterota dan Chloroflexi menjadi dominan pada lapisan dasar. Analisis sedimen memperlihatkan variasi horizontal antar stasiun. Stasiun 14 menunjukkan richness tertinggi (1209OTU) dan indeks Shannon terbesar, menandakan kompleksitas lingkungan yang lebih tinggi, sedangkan Stasiun 18 pada kedalaman >4500 m hanya memiliki richness 202 namun dengan evenness tinggi, mengindikasikan komunitas kecil yang stabil dan adaptif terhadap kondisi ekstrem. Upaya kultivasi berhasil memperoleh satu isolat psikrofilik dari dasar Stasiun 13. Hasil karakterisasi morfologi, pewarnaan Gram, dan sekuensing 16S rRNA menunjukkan kemiripan 92,06% dengan Rhodococcus fascians, mengindikasikan kemungkinan spesies baru atau garis keturunan bakteri laut dalam yang belum terdokumentasi dalam database referensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas bakteri laut dalam barat laut Sumatra memiliki keragaman tinggi serta struktur komunitas yang dikendalikan oleh gradien lingkungan dan kedalaman. Integrasi pendekatan metagenomik dan kultivasi memberikan gambaran ekologis yang lebih menyeluruh dan membuka peluang untuk eksplorasi potensi bioteknologi dari mikroba laut dalam. Studi ini menjadi pijakan bagi eksplorasi multiomics lebih lanjut untuk mengungkap sumber daya genetik mikroba dari ekosistem ekstrem Indonesia.

2026
👤 Penulis: Haekal Buana Suharya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KOREKSI DATA SUHU DAN PH LAUT MARINE COPERNICUS UNTUK PERAIRAN CIREBON

Perairan Cirebon di utara Pulau Jawa merupakan perairan dangkal yang dipengaruhi banyak muara sungai dan aktivitas manusia. Kondisi ini menyebabkan dinamika oseanografi yang kuat, terutama pada parameter suhu dan pH yang berperan penting dalam kualitas perairan. Pengukuran in situ memberikan data yang akurat, namun memerlukan biaya tinggi, sehingga data reanalisis CMEMS banyak digunakan sebagai alternatif. Namun, karena berskala global, data tersebut berpotensi tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi lokal pesisir sehingga perlu dievaluasi dan dikoreksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi vertikal suhu dan pH di perairan Cirebon, mengevaluasi kesesuaian data CMEMS terhadap data in situ, serta menyusun model koreksi. Pengamatan in situ dilakukan pada lima stasiun dari dekat pantai hingga lepas pantai dan diperoleh menggunakan sensor MIDAS CTD+ Valeport, sedangkan data pembanding berasal dari produk CMEMS. Analisis dilakukan menggunakan distribusi vertikal, korelasi Pearson, serta pemodelan regresi dengan evaluasi kinerja berdasarkan nilai korelasi dan RMSE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi vertikal suhu perairan Cirebon menunjukkan nilai minimum pada musim barat–timur (28,22–28,41°C) dan maksimum pada musim peralihan I–II (31,46–31,47°C), dengan kisaran pH 7,16–8,43. Data suhu CMEMS memiliki kesesuaian tinggi terhadap data in situ (R = 0,917), sedangkan data pH menunjukkan kesesuaian rendah (R = ?0,2089). Model koreksi terbaik untuk suhu diperoleh dari regresi polinomial orde dua dengan R = 0,921. Untuk pH, meskipun polinomial orde tiga memberikan R tertinggi (R = 0,222) dan regresi linier lebih praktis (R = 0,212), belum diperoleh model koreksi yang memadai.

2026
👤 Penulis: Adellya Andarista
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data

MODEL PENGGANTI (SURROGATE MODELLING) SIMULASI COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) KENDARAAN MELALUI MODIFIKASI TRIPNET

Penelitian ini dilakukan untuk menerapkan teknik surrogate modelling berbasis machine learning untuk mereplikasi hasil simulasi computational fluid dynamics (CFD) pada kendaraan, dengan metode yang digunakan merupakan modifikasi dari kajian TripNet agar bisa dijalankan pada Google Colab. Geometri kendaraan direpresentasikan menggunakan triplanes atau potongan-potongan geometri dua dimensi yang digenerasi melalui Neural Field Diffusion (NFD) dan dimodifikasi melalui penyesuaian algoritma neural network yang digunakan. Representasi ini digunakan sebagai masukan bagi dua model utama yakni convolutional neural network (CNN) untuk prediksi koefisien gesekan udara dan kombinasi U-Net–MLP untuk pemodelan velocity flow field dan surface pressure. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa model CNN menghasilkan % MAE sebesar 1.45% dengan koefisien determinasi R² ~0.80 untuk prediksi koefisien gesekan udara. Sementara itu, model U-Net–MLP menghasilkan % MAE rata-rata sebesar 15.71% untuk velocity flow field dan 16.85% untuk surface pressure. Dibandingkan dengan studi TripNet, perbedaan terutama muncul dari teknik normalisasi yang digunakan, di mana penelitian ini menekankan preservasi data untuk memodelkan nilai ekstrem meskipun berdampak pada penurunan akurasi di daerah bernilai kecil. Selain itu, triplanes yang teradaptasi juga berperan dalam perbedaan dengan hasil TripNet ini di mana triplanes yang diperoleh lebih rendah secara detil dan noisy dibandingkan hasil pada TripNet. Hasil ini menunjukkan bahwa surrogate modelling berbasis ML memiliki potensi sebagai alternatif komputasi CFD yang lebih ringan sekaligus menyoroti adanya kompromi antara akurasi di nilai ekstrem dan akurasi di nilai kecil beserta kompromi performa terhadap kualitas dalam generasi triplanes.

2026
👤 Penulis: Rafi Izza Rizaldi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Dinamika Fluida 🏷️ Modeling Geometri Kendaraan

PENGARUH TINGKAT ANTROPOMORFIK CHATBOT KONSELING TERHADAP PREFERENSI MAHASISWA: PERAN KARAKTERISTIK PSIKOLOGIS DAN GENDER

Perkembangan teknologi digital mendorong pemanfaatan chatbot sebagai media interaksi dalam berbagai layanan berbasis daring, termasuk layanan konseling. Meskipun chatbot menawarkan kemudahan dan efisiensi, efektivitas interaksi chatbot dalam layanan konseling juga perlu diperhatikan, karena preferensi pengguna terhadap chatbot mencerminkan sejauh mana interaksi tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Preferensi ini tidak bersifat seragam, sehingga variasi respons dapat diamati lebih jelas ketika pengguna dibedakan berdasarkan demografi tertentu. Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji preferensi pengguna terhadap chatbot dan peran karakteristik psikologis dalam interaksi manusia dan teknologi, kajian yang menelaah pola preferensi pada masing-masing kelompok gender serta mengaitkannya langsung dengan perancangan alur interaksi chatbot konseling masih terbatas. Penelitian ini memberikan perspektif tambahan dengan menempatkan fokus analisis pada preferensi terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling pada masing- masing kelompok gender dan mengaitkannya dengan implikasi perancangan alur interaksi chatbot konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola preferensi pengguna terhadap chatbot konseling berdasarkan karakteristik psikologis pengguna dalam masing-masing kelompok gender. Penelitian melibatkan 188 responden mahasiswa dengan dua variabel psikologis, yaitu social anxiety dan neuroticism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola preferensi pengguna terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling berbeda antar kelompok gender. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian interaksi manusia dan chatbot melalui pendekatan psikologis, serta kontribusi praktis bagi pengembang layanan konseling digital dalam merancang chatbot yang lebih sesuai dengan preferensi pengguna.

2026
👤 Penulis: Putrifa Wirahayu Adi Muslima
🏷️ Psikologi 🏷️ Interaksi Manusia Dan Teknologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMASARAN YANG EFEKTIF UNTUK MENARIK DAN MEMPERTAHANKAN PENGUNJUNG: STUDI KASUS SELASAR SUNARYO ART SPACE

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) yang beroperasi lebih dari 20 tahun dalam Kota Kreatif UNESCO Bandung menghadapi tantangan keterlibatan pengunjung yang mempengaruhi institusi budaya, yaitu ketidakkonsistenan kehadiran, jangkauan demografis terbatas (terutama terdiri dari profesional muda dan individu berkaitan dengan seni), dan kurangnya kesadaran di luar audiens saat ini. Penelitian ini menyelidiki aktivitas pemasaran saat ini, motivasi pengunjung, dan kesenjangan misi SSAS yang tidak terpenuhi menggunakan penelitian metode campuran yang terdiri dari survei (n=162), wawancara dengan pengunjung dan non-pengunjung (n=11), data institusional, dan laporan publik melalui bauran pemasaran 7Ps, STP, dan teori perilaku pengunjung. Analisis menunjukkan bahwa pemasaran bersifat reaktif tetapi tidak strategis, terlihat pada Instagram yang tidak memiliki konten konversi. Kesenjangan infrastruktur meliputi kurangnya petunjuk lokasi dan bantuan interpretatif yang terbatas. Penargetan terjadi secara implisit dibandingkan eksplisit. Meskipun SSAS memiliki keunggulan unik termasuk keunikan arsitektur, perbukitan alami, lingkungan kontemplatif, pemasaran tidak sejalan dengan keunggulan eksperiensial ini. Rencana yang diusulkan memposisikan SSAS sebagai pelarian kontemplatif alihalih galeri klasik dan berfokus pada para Pencari Pengalaman (pengunjung yang mengutamakan pengalaman daripada pengetahuan tentang seni), mengeluarkan program keanggotaan, dan mengatasi kekurangan infrastruktur. Studi ini menunjukkan bahwa strategi berbasis bukti yang dapat dikembangkan oleh organisasi budaya dengan sumber daya terbatas dapat menghasilkan pertumbuhan audiens berdasarkan misi institusional serta meningkatkan keterlibatan komunitas.

2026
👤 Penulis: Zafira Meizzati Indraputri
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

STUDI KOMPUTASI DESAIN KATALIS PDZN BERBASIS PERMUKAAN DAN KLASTER BERPENYANGGA PADA MEKANISME REAKSI HIDROGENASI KARBON DIOKSIDA MENJADI ASAM FORMAT

Reaksi reduksi konversi CO2 menjadi berbagai macam turunannya merupakan salah satu upaya dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca, sekaligus memanfaatkan hasil turunannya pada berbagai macam sektor (industri, energi, dan lain-lain). Salah satu produk konversi CO2 ini, yakni asam format (HCOOH), mempunyai banyak kegunaan seperti sebagai carrier salah satu bahan bakar energi terbarukan dan ramah lingkungan berupa hidrogen, preservasi anti bakteri, dan prekursor sintesis. Katalis memegang peranan penting dalam reaksi konversi karena stabilitas dari ikatan antar atom-atom CO2 yang kuat sehingga mempunyai energi aktivasi atau barrier yang tinggi. Berbagai macam katalis homogen dan heterogen telah banyak digunakan, diteliti, dan dikembangkan hingga saat ini, dengan kelebihan dan tantangannya masing-masing. Katalis heterogen mempunyai kelebihan separasi yang relatif lebih mudah dan stabilitas yang tinggi, namun mempunyai kelemahan berupa selektivitas yang lebih rendah daripada jenis homogen. Modifikasi situs aktif katalis heterogen berbasis klaster berpenyangga sangat penting untuk merancang sistem katalis yang mempunyai aktivitas, stabilitas, dan selektivitas lebih baik. Paduan logam Pd dan Zn yang disangga dengan material ZrO2 adalah salah satu objek rancangan yang menjanjikan untuk katalis reaksi hidrogenasi CO2 menjadi HCOOH. Di samping itu, situs aktif katalitik aktif dan mekanisme reaksi detail masih belum diketahui. Dua model sistem katalis representatif diteliti dalam studi disertasi ini: permukaan PdZn(101) dan klaster subnanometer berpenyangga Pd5Zn/ZrO2. Kalkulasi basis DFT yang dikombinasikan dengan simulasi mikrokinetika digunakan untuk mengidentifikasi struktur dan konfigurasi optimal reaksi. Dari hasil kalkulasi dan simulasi, didapatkan bahwa Pd5Zn/ZrO2 memberikan konfigurasi adsorpsi dan pembentukan spesies intermediet yang jauh lebih stabil secara termodinamika. Lebih lanjut, rute format lebih dominan terjadi pada permukaan PdZn(101), berbeda dengan klaster Pd5Zn/ZrO2 yang mempunyai preferensi jalur karboksil pada mekanisme hidrogenasi CO2 menjadi HCOOH. Analisis struktur elektronik mengungkapkan karakteristik preferensi adsorpsi keadaan transisi dan intermediet yang terpusat pada atom-atom Pd-Zn-Zr di situs antarmuka klaster-penyangga, yang memberikan selektivitas terhadap jalur karboksil pada Pd5Zn/ZrO2. Perbandingan hasil simulasi mikrokinetika menunjukkan preferensi pembentukan COOH pada Pd5Zn/ZrO2 dibandingkan PdZn(101) pada suhu sedang hingga tinggi. Sistem katalis Pd5Zn/ZrO2 juga memproduksi paling banyak HCOOH dibanding permukaan PdZn pada suhu di atas 400 K, dengan reaksi pembentukan HCOO* adalah rate-determining step dari keseluruhan reaksi. ?

2026
👤 Penulis: Marleni Wirmas
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

MODEL KONSEPTUAL GENETIK REE (RARE EARTH ELEMENTS): INTEGRASI PENDEKATAN GEOKIMIA, MINERALOGI, DAN PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS KALIMANTAN BARAT, SULAWESI BARAT, DAN BANGKA-BELITUNG)

Rare earth elements (REE) merupakan komoditas strategis untuk teknologi maju dan transisi energi. Di Indonesia, REE banyak dijumpai pada sistem pelapukan granitoid di lingkungan tropis, tetapi keterkaitan antara sumber, proses pelapukan, media retensi, dan sebaran spasialnya masih terbatas. Penelitian ini menyusun model konseptual genetik REE pada Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Bangka–Belitung melalui integrasi geokimia (XRF dan ICP-MS), mineralogi (petrografi/mineragrafi dan XRD), serta pengindraan jauh (Sentinel-2). Mineral pembawa REE dominan yang teridentifikasi meliputi monazite, allanite, zircon, xenotime, serta fase sekunder (kaolinite–halloysite dan oksida/hidroksida Fe–Al) sebagai media retensi. Data geokimia yang heterogen dianalisis menggunakan PCA, korelasi non-parametrik (spearman), dan klasterisasi untuk mengungkap asosiasi REE dengan derajat pelapukan dan fase mineral pembawanya pada horizon O–A–B–C. Hasil menunjukkan dua sistem utama: (i) ion-adsorption pada regolit granitoid (Kalbar–Sulbar–Bangka) yang dikontrol pelepasan REE dari mineral aksesori dan retensi pada lempung/oksihidroksida, serta (ii) placer/pengolahan di Bangka–Belitung yang menghasilkan anomali lokal sangat tinggi akibat pengayaan mineral berat. Secara spasial, integrasi NDVI sebagai kontrol vegetasi dan Clay Mineral Index (CMI) sebagai indikator relatif lempung/alterasi digunakan untuk menyeleksi zona permukaan yang berpotensi, dan diverifikasi dengan data mineralogi–geokimia. Model konseptual yang dihasilkan menjelaskan mekanisme pembentukan, pengayaan, serta pola distribusi REE secara vertikal dan lateral pada wilayah studi.

2026
👤 Penulis: Dandi Winata Putra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

IDENTIFIKASI KOMUNITAS SERANGGA FORENSIK PADA KARKAS KELINCI DI LOKASI YANG BERBEDA DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS MORFOLOGI DAN ANALISIS DNA METABARCODING

Perpindahan karkas pascakematian dapat memengaruhi pola kolonisasi serangga forensik dan durasi dekomposisi karena setiap lingkungan memiliki karakteristik ekologi yang berbeda. Perbedaan tersebut ditentukan oleh faktor biotik seperti serangga yang dijumpai pada karkas dan abiotik, seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan pH tanah. Oleh karena itu, investigasi terhadap kondisi lokasi peristiwa kematian dapat dilakukan melalui identifikasi jenis serangga forensik yang ditemukan pada karkas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh perbedaan lokasi dekomposisi karkas kelinci terhadap durasi pembusukan dan struktur komunitas serangga forensik menggunakan pendekatan morfologi serangga ordo diptera dan coleoptera, serta DNA metabarcoding ordo diptera. Kedua analisis dilakukan terhadap serangga forensik yang dikoleksi dari karkas kelinci yang terdekomposisi di area kampus, hutan, dan sungai, pasca kematian di area kampus. Analisis morfologi dilakukan pada imago menggunakan mikroskop stereo dan mengacu pada referensi ilmiah, sedangkan analisis molekuler dilakukan terhadap larva serangga forensik (ordo diptera) melalui pendekatan DNA metabarcoding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dekomposisi berlangsung 66 jam lebih cepat di area kampus dibandingkan hutan dan sungai. Dekomposisi karkas di kampus berlangsung selama 240 jam, sedangkan hutan dan sungai berlangsung selama 306 jam. Berdasarkan analisis morfologi, terdapat empat spesies serangga dari ordo diptera dengan spesies yang mendominasi adalah Chrysomya megacephala dan dua spesies dari ordo coleoptera. Hasil analisis morfologi imago dan DNA metabarcoding larva dari ordo diptera menunjukkan perbedaan pola dominansi dan keanekaragaman. Analisis morfologi imago mengidentifikasi Chrysomya megacephala sebagai spesies dominan, sedangkan analisis DNA metabarcoding larva menunjukkan dominasi Hemipyrellia ligurriens. Selain itu, analisis DNA metabarcoding mengungkapkan keanekaragaman diptera yang lebih tinggi dibandingkan analisis morfologi yang diduga disebabkan oleh imago yang telah meninggalkan karkas pada fase dekomposisi lanjut. Selain itu, pada setiap lokasi didapatkan serangga oportunis dari ordo hymnoptera, yaitu Oecophylla smaragdina, Camponotus singularis, Polyrhachis illaudata, dan Anoplolepis gracilipes. Analisis kelimpahan serangga forensik (diptera) menunjukkan bahwa rarefaction curve menggambarkan variasi richness spesies tertinggi pada lokasi sungai (S1, S2, S3), diikuti kampus (K1, K2, K3) dan terendah di hutan (H1, H2, H3). Pendekatan Principal Coordinate Analysis (PCoA) berbasis indeks Bray-Curtis mendukung perbedaan komposisi komunitas serangga forensik di tiga lokasi secara terpisah. Analisis beta diversity menggunakan indeks Bray-Curtis menunjukkan bahwa komunitas serangga antar lokasi memiliki tingkat perbedaan sangat tinggi (indeks = 1) yang mengindikasikan komposisi serangga sangat dipengaruhi kondisi ekosistem lokal, sedangkan ulangan teknis dalam lokasi yang sama memiliki perbedaan sedang hingga tinggi (0,816) karena variasi spesies pada taxa minor. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga forensik berbeda antar lokasi yang dipengaruhi oleh parameter microclimate (suhu, pH, kelembaban, dan kecepatan angin). Perbedaan komposisi komunitas dan durasi dekomposisi dapat menjadi referensi dasar untuk mendeteksi perpindahan karkas pasca kematian dalam investigasi serangga forensik di lingkungan tropis dengan karakteristik habitat yang serupa.

2026
👤 Penulis: Fasya Fadhila
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Morfologi 🏷️ Hidrologi

SAKANA: TIDUR SEBAGAI SIMBOL KETENANGAN BATIN MELALUI SENI PATUNG

Kegelisahan terhadap budaya pencapaian yang melelahkan, memicu kerinduan akan ketenangan batin. Refleksi kritis terhadap fenomena tersebut menimbulkan ketertarikan pada fenomena tidur yang dalam budaya pencapaian sering dianggap sebagai istirahat biasa atau kemalasan. Tidur kemudian dipandang sebagai simbol ketenangan batin yang diposisikan sebagai sesuatu yang bernilai lebih tinggi dan dianggap penting dibandingkan budaya pencapaian tersebut. Lingkup permasalahan karya ini mencakup bagaimana tidur sebagai simbol ketenangan batin dapat dimanifestasikan melalui seni patung dan proses penciptaannya. Teori utama yang digunakan adalah teori seni sebagai simbol oleh Susanne K. Langer dalam bukunya Feeling and Form (1953). Visualisasi gagasan berpusat pada penciptaan kesatuan bentuk yang berfungsi sebagai simbol dalam mengartikulasikan perasaan tenang. Karya ini diwujudkan melalui medium seni patung figuratif dengan marmer putih sebagai material utama. Miniaturisasi dan elemen instalasi dalam seni patung digunakan sebagai strategi artistik yang mendukung kematangan visualisasi gagasan. Proses penciptaan karya meliputi empat tahapan utama yaitu eksplorasi gestur tidur, pembuatan sketsa karya, produksi objek patung, dan pemasangan atau display karya. Seluruh rangkaian proses menciptakan hasil karya berupa patung figuratif berskala miniatur dengan material marmer putih yang menampilkan sosok perempuan tertidur. Karya ini tidak hanya mewakili pengalaman batin pribadi terkait ketenangan dalam tidur, tetapi juga mencerminkan pengalaman kolektif masyarakat. Interpretasi dan pemaknaan terhadap karya tetap bergantung pada penonton dan bagaimana karya tersebut dipersepsi. Pada tingkat yang lebih dalam, karya diharapkan tidak sekadar memberikan pengalaman visual tetapi juga memantik pengalaman eksistensial yang bermakna.

2026
👤 Penulis: Haura Azizah Ahmad
🏷️ Seni 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

SILIKA MESOPORI KIT-6 DAN KARBAN MESOPORI BERSTRUKTUR NEGATIF KIT-6 SEBAGAI PENYANGGA KATALIS NANOPARTIKEL AU UNTUK REDUKSIP-NITROFENOL

Material mesopori dengan luas pennukaan tinggi, seperti silika KIT-6 dan karbon mesopori menunjukkan potensi besar sebagai penyangga katalis yang efektif karena stabilitas dan kemampuannya memfasilitasi difusi reaktan.Pada penelitian ini, silika mesopori IGT-6 disintesis menggunakan surfak1:an Pluronic Pl 2J dalam suasana asam, yang kemudian digunakan sebagai cetakan untuk mensintesis karbon mesopori (MC) berstruktur negatif KIT-6. Nanopartikel Au dicampurkan pada kedua material penyangga tersebut, sebagai Au-KIT dan Au-MC, untuk mencegah terjadinya aglomerasi pada nanopartikel Au. Keberhasilan pembentukan nanopartikel Au dikonfi11nasi mclalui analisis UV-Vis Diffi1se Refle ctance Spectroscopy (DRS) yang menunjukkan puncak serapan khas nanopartikel Au pada rentang panjang gelombang 500-550 run. Pengujian aklivilas kalaliLik malerial dilakukan melalui reaksi reduksi p­ nitrofenol yang bersifat toksik menjadi p-aminofenol yang lebih aman menggunakan pereduksi NaBH". Hasil uji katalitik menunjukkan bahwa katalis Au-KIT memiliki perfonna yang lebih unggul dibandingkan Au-MC, di mana reaksi reduksi menggunakan Au-KIT selesai dalam waktu kurang dari 1 menit, sedangkan Au-MC membutuhkan waktu sekitar 7 me11it. Melalui persamaan Arrhenius dan Eyring pada basil uji katalitik Au-KIT dan Au-MC dcngan variasi suhu, diperoleh parameter kinetika reaksi secara berurutan Eobs (60,68 dan 196,iO kJ/mol), Hi (58,23 dan 194,24 kJ/mol), si (-0,044 dan 0,297 kJ/mol.K), dan Gt (71,51dan 74,97 kJ/mol). Studi kinetika yang dilakukan mengindikasikan bahwa material mesopori basil sintesis dapat digunakan sebagai material penyangga katalis Au. Penentuan mekanisme reaksi menggunakan persamaan Arrhenius dengan variasi konsentrasi p-nitrofenol dan NaBH4 pada rcduksi p-nitrofcnol mcnunjukkan bahwa kedua katalis mcngikuti mekanisme reaksi Langmuir-Hinshelwood.

2026
👤 Penulis: Jonathan Samuel Rajagukguk
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 66 dari 418
💬