📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPENILAIAN KESIAPAN DAN KEMATANGAN AI UNTUK ADOPSI AI YANG ETIS DAN BERTANGGUNG JAWAB: STUDI KASUS PADA PT SARANA MULTI INFRASTRUKTUR
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) di organisasi, termasuk lembaga keuangan seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), meng-encourage perusaaan untuk memanfaatkan AI dalam meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, analisis data dan informasi, serta pengambilan keputusan. Namun, pemanfaatan AI dapat menimbulkan risiko baru, terutama risiko yang berkaitan dengan keamanan data, etika penggunaan AI, transparansi proses AI membantu suatu output, dan akuntabilitas dari output AI. PT SMI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan menghadapi urgensi tersebut karenas saat ini karyawan di PT SMI menggunakan AI dalam operasionalnya dan pada tahun 2024 PT SMI pernah mengalami kebocoran data. Selain itu, adanya kebijakan negative growth dari Kementerian Keuangan dan arahan pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan ekosistem AI nasional. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kesiapan dan kematangan PT SMI dalam mengadopsi AI secara etis, aman, dan bertanggung jawab. Penelitian ini mengintegrasikan tiga kerangka teoretis: Technology–Organization–Environment (TOE) untuk mengukur kesiapan struktural organisasi, Technology Readiness Index (TRI) untuk menilai kesiapan psikologis karyawan, serta IBM AI Adoption Maturity Model untuk memetakan tahap kematangan implementasi AI di PT SMI. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-method melalui survei kuantitatif kepada karyawan dengan masa kerja lebih dari lima tahun dan wawancara semi-terstruktur dengan manajemen serta perwakilan dari divisi tertentu. Data sekunder untuk penelitian ini didapatkan dari dokumen internal PT SMI, Rencana Jangka Pangjang Perusahaan (RJPP) 2024–2028, risalah rapat, serta regulasi pemerintah terkait implementasi AI seperti SE Kominfo No. 9/2023, Kode Etik AI OJK, dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Hasil analisis TRI menunjukkan bahwa karyawan PT SMI memiliki tingkat optimisme dan inovasi yang tinggi terhadap penggunaan AI, namun masih terdapat ketidaknyamanan (discomfort) terkait kompleksitas teknologi. Dari sisi TOE, faktor teknologi dan organisasi menunjukkan adanya potensi penerapan AI terutama untuk kebutuhan otomasi pelaporan, analisis risiko pembiayaan, dan efisiensi operasiona. Namun, persepsi karyawan dan kebutuhan untuk mengimplementasikan AI belum dilandasi dengan kebijakan dan tata kelola AI yang memadai. Tidak adanya kebijakan internal mengenai keamanan AI, standar penggunaan AI generatif, dan mekanisme monitoring menjadi temuan utama di PT SMI. Berdasarkan pemetaan menggunakan IBM AI Adoption Maturity Model, PT SMI saat ini berada di fase awal yaitu Initial Experiments, ditandai dengan eksplorasi penggunaan AI yang terbatas dan belum adanya tata Kelola implementasi dan penggunaan AI. Kondisi ini menunjukkan bahwa PT SMI membutuhkan penguatan strategis untuk berpindah menuju fase Appropriate Use atau lebih jauh lagi Governance and Standardization, termasuk menyusun tata kelola AI, standar keamanan data dan membangun literasi dan kompetensi karyawan PT SMI terkait AI. Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis untuk memperkuat kesiapan dan tata kelola AI di PT SMI, yaitu membangun kerangka tata kelola AI yang sejalan dengan regulasi nasional, menetapkan standard operating procedures (SOP) penggunaan AI, mengembangkan kebijakan keamanan data untuk mencegah risiko kebocoran data, meningkatkan literasi dan pelatihan AI bagi karyawan serta menyusun roadmap implementasi AI yang sejalan dengan RJPP 2024–2028. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai integrasi TOE–TRI–IBM Maturity Model dalam menilai kesiapan AI pada institusi publik yang memiliki yang diatur secara ketat oleh regulasi pemerintah.
ANALISIS SKEMA AKUISISI TEKNOLOGI FOAM PIGGING DAN PENGEMBANGAN KAPABILITAS PADA PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS
PT BES bersama perusahaan induknya sedang mengembangkan teknologi foam pigging dalam rangka mendukung pembersihan dan inspeksi pipa di sektor energi. Saat ini, foam pig yang digunakan masih sepenuhnya bergantung pada pihak eksternal. Kondisi ini membatasi fleksibilitas operasional perusahaan dan menimbulkan risiko keterlambatan serta ketidakpastian ketika kebutuhan muncul pada proyek dengan jadwal yang ketat. Dampak lain yang dirasakan perusahaan adalah sulitnya menjaga konsistensi biaya dan kualitas produk. Selain itu, penggunaan bahan baku impor yang masih dominan membatasi upaya peningkatan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Permintaan foam pig di Indonesia terus meningkat seiring dengan ekspansi jaringan pipa minyak, gas, dan utilitas. Situasi ini menunjukkan pentingnya bagi PT BES untuk mulai membangun kapabilitas internal dan mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap teknologi eksternal. Dalam melakukan pendekatan analisis, digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pada analisis kualitatif dilakukan analisis SWOT, IFAS–EFAS, serta matriks risiko. Aspek pengendalian teknologi, proses pembelajaran, dan keberlanjutan operasional digunakan sebagai indikator utama dalam analisis kualitatif untuk menilai kesiapan internal dan kondisi eksternal. Sementara itu, analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) untuk menguji beberapa parameter seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Cash-on-Cash (CoC) untuk menilai kelayakan finansial. Pada tahap awal, beberapa alternatif akuisisi yang dipertimbangkan yaitu pembelian langsung, lisensi, joint venture, dan transfer teknologi bertahap. Kemudian, karena pemilik formula adalah perorangan, muncul opsi talent acquisition. Berdasarkan keseluruhan hasil kajian, direkomendasikan penerapan strategi kombinasi, di mana talent acquisition digunakan pada tahap awal untuk mendukung pengembangan kapabilitas internal, kemudian dilanjutkan dengan joint venture. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai untuk mendukung peningkatan TKDN dalam jangka panjang serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap teknologi eksternal.
EVALUASI DAN PERANCANGAN INISIATIF PENINGKATAN KINERJA RANTAI PASOK MASUK PADA PERUSAHAAN KOMPONEN OTOMOTIF MENGGUNAKAN SERVICE LEVEL AGREEMENT (SLA), MANAJEMEN PERSEDIAAN, DAN LEAN SIX SIGMA
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar pada sektor rantai pasok dan logistik, sehingga perusahaan perlu mengembangkan rantai pasok yang efektif dan tangguh. Dalam hal ini, Perusahaan X, sebuah merek dan pemasok suku cadang motor aftermarket, mengalami masalah dengan rantai pasok masuknya yang ditandai dengan ketergantungan pada pemasok luar negeri, variasi kualitas, dan perubahan waktu pengiriman yang menyebabkan ketidakseimbangan stok. Kondisi tersebut berkontribusi pada kekurangan stok dan kelebihan stok, yang meningkatkan biaya operasional dan menurunkan standar layanan pelanggan. Penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan utama, yaitu: (1) bagaimana kinerja pemasok masuk di Perusahaan X dalam hal Perjanjian Tingkat Layanan (SLA), (2) desain kebijakan persediaan masuk terbaik yang dapat diterapkan untuk barang prioritas, dan (3) perbaikan proses terbaik yang dapat dilakukan untuk meminimalkan cacat dan risiko gangguan pasokan. Studi ini menggunakan data kuantitatif sekunder dari catatan operasional internal Perusahaan X pada tingkat pemasok dan barang selama periode Januari-September 2025, termasuk data tentang waktu tunggu, akurasi pengiriman, pergerakan persediaan, dan laporan inspeksi kualitas. Wawancara semi-terstruktur dengan Manajer Gudang digunakan untuk melengkapi data, membuat diagram tulang ikan, dan mendalami analisis penyebab masalah. Pengukuran SLA, pengelompokan barang menggunakan analisis ABC/Pareto dan desain kebijakan sistem persediaan Q/P, serta model Lean Six Sigma (DMAIC) untuk pemetaan cacat dan navigasi penyebab akar digunakan untuk melakukan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pemasok inbound berada pada kategori moderate performance, dengan perbedaan karakteristik antara pemasok dari sisi ketepatan waktu dan konsistensi kualitas. Rancangan kebijakan persediaan berbasis analisis ABC/Pareto dan sistem Q/P berpotensi menurunkan risiko stockout sekaligus menyeimbangkan biaya pemesanan dan penyimpanan. Pendekatan Lean Six Sigma mengungkap bahwa variasi kualitas terutama dipengaruhi oleh kelemahan pada prosedur inspeksi, kemampuan pemasok menjaga konsistensi spesifikasi, serta koordinasi informasi antara fungsi internal. Penelitian ini dibatasi pada satu studi kasus perusahaan dan periode data tertentu, serta belum menguji kinerja pasca-implementasi secara jangka panjang. Oleh karena itu, usulan perbaikan disajikan dalam bentuk skenario implementasi bertahap untuk penerapan SLA berbasis monitoring berkala, penyesuaian kebijakan persediaan inbound, dan proyek peningkatan kualitas yang dapat dijadikan dasar bagi implementasi nyata di tahap berikutnya.
EKSPANSI STRATEGIS CV SURYA ABADI PUTRA KEMBAR: STUDI KELAYAKAN PASAR, OPERASIONAL, DAN FINANSIAL PADA INDUSTRI TEKSTIL DAN LOGISTIK
Studi ini meneliti kelayakan perluasan CV Surya Abadi Putra Kembar (SAPK), perusahaan pengolahan dan logistik limbah tekstil yang didirikan pada tahun 1988 di Bogor, ke sektor barang konsumsi kapas kecantikan (pembalut wanita). Perluasan ini didorong oleh perubahan dalam rantai nilai tekstil, meningkatnya persaingan, dan kapasitas produksi yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Penelitian ini mengevaluasi proyek berdasarkan kelayakan pasar, operasional, dan finansial. Analisis pasar menunjukkan pertumbuhan positif yang didukung oleh meningkatnya kesadaran akan kebersihan, konsumsi perawatan kulit, dan perluasan ritel modern dan e-commerce di Indonesia. Target pasar adalah perempuan perkotaan dan pinggiran kota berusia 17–39 tahun, dengan preferensi produk lokal berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Analisis operasional menunjukkan bahwa mesin yang menganggur dapat dimanfaatkan sebagian melalui model produksi hibrida, menggabungkan pemutihan dan pengeringan yang dialihdayakan dengan pemotongan dan pengemasan internal untuk mengoptimalkan biaya dan pengendalian kualitas. Analisis keuangan menggunakan proyeksi 10 tahun menunjukkan NPV positif, IRR di atas tingkat pengembalian yang dibutuhkan, dan periode pengembalian modal yang layak. Analisis sensitivitas dan Monte Carlo mengkonfirmasi ketahanan finansial. Studi ini menyimpulkan bahwa perluasan kapas kecantikan secara strategis dan finansial layak untuk pertumbuhan jangka panjang SAPK.
PERANCANGAN KERANGKA KERJA BERBASIS STRATEGI OPERASI UNTUK MENYELARASKAN PERMINTAAN DAN KAPASITAS PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PRODUSEN ES KRISTAL DALAM INDUSTRI RANTAI DINGIN
Studi ini mengidentifikasi ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar serta kinerja distribusi di sebuah usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi es kristal (Perusahaan A) di industri rantai dingin. Perusahaan memiliki total kapasitas 10 ton produksi per hari dengan mengandalkan dua mesin produksi, namun volume actual penjualan hanya mencapai 4-5 ton per hari. Situasi ini menyebabkan utilisasi produksi yang rendah dan cakupan distribusi yang terbatas. Data operasional selama periode 2024-2025 menunjukkan bahwa permintaan pelanggan berfluktuasi secara harian, mingguan, dan jam, sementara perilaku pemesanan bersifat mendadak, sehingga perusahaan tidak dapat merencanakan produksi dan rute distribusi secara optimal. Kapasitas lima kurir motor dalam radius 12 km juga menjadi bottleneck pada jam sibuk juga menghambat akurasi pengiriman. Berdasarkan kondisi ini, penelitian ini merumuskan masalah bagaimana menyelaraskan kapasitas produksi, permintaan pasar, dan kinerja distribusi dengan menentukan tujuan kinerja operasional; kualitas, kecepatan, keandalan, fleksibilitas, dan biaya yang perlu diprioritaskan. Desain penelitian menggunakan studi kasus dengan metode campuran yang didominasi kuantitatif. Analisis data arsip internal dilakukan untuk menghitung tingkat pemanfaatan produksi, tingkat pemanfaatan distribusi, rasio penjualan terhadap output, dan stabilitas kesenjangan permintaan-kapasitas. Selanjutnya, enam ahli internal (pemilik, staf administrasi, dua operator produksi, dan dua kurir) memberikan penilaian melalui Proses Hierarki Analitis (AHP), dan hasilnya diuji konsistensi sebelum digabungkan menjadi bobot prioritas kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakcocokan yang konsisten antara kapasitas terpasang dan permintaan aktual. Rata-rata utilisasi produksi berada di kisaran 34-36%, sementara beban distribusi menumpuk selama jam sibuk pagi dan sore. Analisis AHP menunjukkan bahwa biaya, kecepatan, dan keandalan merupakan prioritas utama untuk meningkatkan kinerja operasional, sejalan dengan pola ketidakefisienan yang terlihat dalam data operasional. Studi ini dalam bagian pembahasan menyoroti bahwa responsivitas distribusi, minimisasi biaya operasional yang tidak efisien, dan konsistensi penyediaan layanan dalam pemenuhan layanan merupakan hal esensial dalam menyelaraskan kapasitas dan permintaan. Kombinasi hasil operasional dan prioritas AHP menyediakan desain kerangka kerja berbasis keselarasan untuk strategi operasional. Saran untuk penelitian masa depan meliputi pengembangan sistem digital yang menggunakan data real-time dan peningkatan penyelidikan terhadap UMKM rantai dingin lainnya guna memastikan kerangka kerja strategis ini lebih valid secara eksternal.
ANALISIS DIVERSIFIKASI STRATEGIS: PENGEMBANGAN STRATEGI BISNIS UNTUK MANUFAKTUR DAPUR PROGRAM MBG
CV XYZ, produsen alat medis yang didirikan pada tahun 2003, menghadapi tantangan strategis dalam memperluas operasinya di pasar dapur industri Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia. Meskipun berhasil masuk ke pasar, perusahaan ini dihadapkan pada tiga kendala kritis: kapasitas produksi yang terbatas, dan hambatan harga premium. Penelitian ini menganalisis bagaimana CV XYZ dapat merumuskan strategi bisnis yang tepat untuk mencapai tujuan pertumbuhan sambil mempertahankan keunggulan kompetitifnya di pasar MBG yang sangat kompetitif dan sensitif terhadap harga. Penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif yang menggabungkan data primer melalui survei kuesioner untuk mengukur kekuatan kompetitif, wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan internal, dan analisis dokumen, dilengkapi dengan data sekunder dari dokumen pemerintah dan laporan industri. Analisis menerapkan kerangka strategis termasuk Analisis Lingkungan Umum, Analisis Industri, Analisis Pesaing, Pandangan Berbasis Sumber Daya, dan Analisis Rantai Nilai. Sintesis SWOT mengidentifikasi isu strategis kritis, sementara Matriks TOWS menghasilkan alternatif strategis yang dievaluasi melalui matriks kriteria berimbang. Analisis menunjukkan bahwa CV XYZ memiliki sumber daya unik, termasuk keahlian manufaktur berstandar medis, sertifikasi komprehensif (ISO 13485, CPAKB, Halal, SLHS, HACCP), perangkat lunak eksklusif, rekam jejak tanpa insiden, dan kemampuan konstruksi modular. Lingkungan eksternal menunjukkan peluang yang signifikan melalui program pemerintah berskala besar yang membutuhkan sekitar 30.000 dapur secara nasional, meskipun diimbangi oleh persaingan harga yang intens. Krisis keamanan pangan menciptakan premi kualitas sementara, memperluas pasar yang dapat dijangkau dari 10-15% menjadi 20-25% dari pembeli yang peduli kualitas. Tiga alternatif strategis muncul: Pertahanan Niche Premium, Penetrasi Pasar Massal, dan Kepemimpinan Pasar Terintegrasi. Evaluasi menunjukkan Kepemimpinan Pasar Terintegrasi memperoleh skor 4,05, jauh di atas alternatif lain (3,20 dan 3,00), mencerminkan kinerja unggul dalam pencapaian pertumbuhan dan pengembalian keuangan sambil mempertahankan keunggulan kompetitif. Strategi Differensiasi yang direkomendasikan menerapkan tiga tingkatan produk: Premium, Standar, dan Esensial. Implementasi dilakukan secara bertahap setiap kuartal hingga 2026.
PRINSIP PERANCANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA STUDI KASUS: ZONA INTI DAN PENYANGGA SUMBU FILOSOFI YOGYAKARTA BAGIAN SELATAN
Sumbu Filosofi Yogyakarta merupakan sebuah warisan budaya yang termanifestasikan secara fisik melalui tatanan struktur kota berbasis sumbu. Manifestasi tersebut merepresentasikan gagasan kosmologis dan filosofis terkait kehidupan, yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2023. Hal ini mempertegas signifikansi Sumbu Filosofi Yogyakarta dalam konteks sejarah, budaya, dan peradaban di tingkat dunia. Dokumen nominasi UNESCO membagi Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu bagian Utara, Tengah, dan Selatan. Diantara ketiganya, upaya pelestarian serta pengelolaan pada Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan masih belum terimplementasi secara signifikan. Selain itu, kawasan ini belum memiliki arahan perancangan spesifik yang mampu menjembatani urgensi pelestarian warisan budaya dengan upaya menghadapi dinamika kota guna menjamin keberlanjutan kawasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan prinsip perancangan sebagai landasan pengembangan Zona inti dan Penyangga Sumbu Filosofi bagian Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat eksploratif dengan pendekatan abduktif melalui studi kasus. Kajian diawali dengan studi literatur yang mencakup regulasi, dokumen, teori, maupun literatur terkait lainnya. Kajian tersebut memberikan kerangka konseptual prinsip normatif perancangan Kawasan Cagar Budaya (KCB) berbasis sumbu sebagai situs Warisan Budaya Dunia (WBD), serta makna dan peran Sumbu Filosofi Yogyakarta. Selanjutnya analisis karakter spasial dilakukan melalui observasi lapangan untuk memahami kondisi eksisting kawasan. Selain itu, analisis isi melalui coding dilakukan terhadap hasil wawancara agar dapat menggali perspektif ahli lebih dalam, baik akademisi, praktisi, maupun pemangku kepentingan lokal. Kajian-kajian tersebut menghasilkan potensi dan persoalan kawasan yang kemudian diintepretasikan ke dalam kriteria perancangan. Kriteria-kriteria tersebut menjadi jembatan yang mengubungkan kebutuhan kawasan dengan rumusan prinsip perancangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 (empat) prinsip perancangan yang dapat diterapkan pada Zona Inti dan Penyangga Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan, yaitu Contextuality, Cognitive Legibility, Spatial Continuity, dan Responsive Streetscape. Prinsip Contextuality menekankan pada perancangan yang adaptif terhadap konteks kawasan dari berbagai aspek untuk menjaga harmoni kawasan. Prinsip Cognitive Legibility memperkuat sense of place kawasan melalui tatanan elemen spasial yang memudahkan pengguna untuk memahami identitas kawasan. Prinsip Spatial Continuity menjamin kesinambungan elemen ruang dalam menjaga integritas kawasan yang mempertegas keberadaan sumbu. Prinsip Responsive Streetscape mendorong tranformasi koridor jalan menjadi ruang publik yang bersifat inklusif dan responsif terhadap kebutuhan beragam pengguna. Meskipun setiap prinsip memiliki fungsi strategis yang berbeda, integrasi dari keempat prinsip tersebut akan memastikan setiap intervensi desain dapat terarah dengan lebih optimal dalam memperbaiki kualitas spasial kawasa studi. Sebagai arahan perancangan, keempat prinsip tersebut diharapkan dapat melindungi nilainilai penting yang ada sekaligus menjawab tantangan pembangunan secara berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut bukan hanya berkontrubusi dalam pelindungan terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta bagian Selatan, namun juga memberikan wawasan yang lebih luas terhadap pengintegrasian nilai-nilai warisan budaya pada praktik rancang kota.
SIMULASI ALIRAN AKIBAT KERUNTUHAN BENDUNGAN LIMBAH TAMBANG DENGAN HEC-RAS 2D DAN METODE BEDA HINGGA MAC-CORMACK UNTUK ALIRAN DEBRIS DAN NON-DEBRIS STUDI KASUS: TAILING STORAGE FACILITY (TSF) UMPANG KARANG, KABUPATEN BANYUWANGI, PROVINSI JAWA TIMUR
Bendungan limbah tambang menyimpan material berupa lumpur yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan masyarakat apabila terjadi kegagalan atau keruntuhan, dimana overtopping merupakan penyebab kegagalan yang paling umum terjadi. Pada umumnya, simulasi keruntuhan bendungan hanya mempertimbangkan aliran air (non-debris) tanpa memperhitungkan material padat yang terbawa, padahal aliran lumpur (debris) memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi akibat densitas dan kemampuan angkut material yang lebih besar. Penelitian ini membahas simulasi keruntuhan Bendungan Limbah Tambang Umpang Karang yang berlokasi di Tujuh Bukit Copper Gold Minesite, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Simulasi aliran akibat keruntuhan bendungan dilakukan menggunakan program HEC-RAS 2D versi 6.6 serta model numerik berbasis metode beda hingga dengan skema Mac-Cormack yang dikembangkan menggunakan program Fortran. Dua kondisi hidrologi awal yang dipertimbangkan adalah kondisi hari cerah (sunny day) dan hari hujan (rainy day), yang keduanya diasumsikan terjadi akibat kegagalan overtopping. Kondisi sunny day merepresentasikan keruntuhan pada cuaca normal tanpa curah hujan dan tambahan aliran masuk, sedangkan kondisi rainy day merepresentasikan keruntuhan yang terjadi saat atau setelah hujan ekstrem dengan kondisi waduk terisi penuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik aliran debris dan non-debris serta pengaruhnya terhadap area hilir bendungan, memetakan daerah genangan untuk masing-masing jenis aliran pada kondisi sunny day dan rainy day, membandingkan hasil simulasi antara HEC-RAS 2D dan model numerik skema Mac-Cormack, serta melakukan pemetaan bahaya banjir berdasarkan kedalaman genangan dan kecepatan aliran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran debris memberikan dampak yang lebih signifikan dibandingkan aliran non-debris, ditandai dengan debit puncak, volume aliran, kedalaman genangan, dan kecepatan aliran yang lebih besar. Skenario rainy day menghasilkan area genangan yang lebih luas dibandingkan sunny day, dengan kondisi paling kritis terjadi pada skenario debris rainy day, yaitu area genangan sebesar 11.490.309,85 m², kedalaman genangan maksimum 10,30 m, dan kecepatan aliran maksimum 9,50 m/s. Perbandingan hasil simulasi menunjukkan bahwa kedua model menghasilkan pola genangan yang konsisten meskipun terdapat perbedaan kuantitatif. Pengaruh pasang surut tidak signifikan pada aliran non-debris, namun mulai memengaruhi sebaran genangan aliran debris sekitar empat jam setelah keruntuhan. Pemetaan bahaya banjir menunjukkan tingkat bahaya tertinggi terjadi pada skenario aliran debris, khususnya di area hilir yang dekat dengan bendungan, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar evaluasi risiko dan perencanaan mitigasi keruntuhan bendungan limbah tambang.
PENGARUH PAJANAN DEBU RESPIRABLE DAN LOGAM TERHADAP FUNGSI PARU-PARU PEKERJA DI PT. X
Industri PVC compound memiliki berbagai proses produksi yang berpotensi menghasilkan debu respirable dan unsur kimia berbahaya yang dapat berdampak terhadap kesehatan pekerja, khususnya fungsi paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi debu respirable terinhalasi pada pekerja industri PVC compound, mengidentifikasi komposisi unsur logam, serta menilai risiko kesehatan akibat pajanan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan personal sampler pump yang dipasang pada pekerja di tujuh bagian pekerjaan, yaitu weighing, mixer, extruder, operator, mobile worker, warehouse, dan office sebagai area kontrol. Analisis konsentrasi debu respirable dilakukan dengan metode gravimetri, sedangkan karakterisasi unsur kimia pada filter dilakukan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF). Fungsi paru pekerja diukur menggunakan pemeriksaan spirometri dan dianalisis keterkaitannya dengan pajanan debu respirable dan logam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata konsentrasi debu respirable tertinggi terdapat pada area weighing sebesar 3340 µg/m³. Dari hasil karakterisasi, teridentifikasi 14 unsur kimia dalam sampel debu, dengan unsur Pb dan Si menunjukkan konsentrasi tinggi pada beberapa bagian kerja—Pb pada area weighing (695,67 µg/m³), mixer (63,07 µg/m³), dan mobile worker (78,46 µg/m³); serta Si pada area weighing (162,72 µg/m³), mixer (63,07 µg/m³), dan warehouse (25,03 µg/m³). Analisis hubungan antarunsur menunjukkan bahwa Fe, K, dan Mn memiliki hubungan yang kuat sehingga dapat berperan sebagai unsur penanda dari proses produksi PVC compound. Hasil penilaian risiko kesehatan menunjukkan bahwa nilai Hazard Quotient (HQ) tertinggi diperoleh dari unsur Pb, dan sebanyak 38 pekerja memiliki nilai Hazard Index (HI) > 1, yang mengindikasikan potensi risiko kesehatan non-karsinogenik. Pengendalian risiko yang disarankan meliputi peningkatan sistem ventilasi pada area berdebu seperti weighing, mixer, dan extruder, serta penggunaan alat pelindung pernapasan yang sesuai standar untuk menurunkan potensi pajanan debu respirable terhadap pekerja.
KAJIAN PEMBANGUNAN DAN REVITALISASI DRAINASE UTAMA TERHADAP BANJIR DAN PERUBAHAN MORFOLOGI DI SUNGAI ASAM KOTA JAMBI
Kota Jambi sebagai ibukota Provinsi Jambi memiliki peran strategis sebagai pusat pemerintahab, perdagangan, dan jasa. Namun, hingga saat ini permasalahan banjir masih sering terjadi dan menimbulkan dampak signifikan terhadap masyarakat serta infrastruktur publik. Salah satu penyebab utama banjir adalah menurunnya kapasitas Sungai Asam yang melintasi kawasan perkotaan. Kondisi tersebut di perparah oleh morfologi Sungai Asam yang berkelok, penyempitan penampang akibat pemukiman di bantaran sungai, serta fluktuasi muka air di Sungai Batanghari yang merupakan outlet dari Sungai Asam yang dapat menghambat aliran banjir dari hulu. Untuk mengurangi dampak banjir yang terjadi Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi melakukan penanganan berupa pembangunan dan revitaliasi darinase utama Kota Jambi dengan melaksanakan normaliasi sungai, perlindungan tepi sungai (revetment) dan rehabilitasi pompa. Penelitian ini menganalisis penanganan banjir tersebut dalam mereduksi genangan banjir dan pengaruhnya terhadap perubahan morfologi dasar sungai. Kajian dilakukan pada Sungai Asam sepanjang 12,04 km. Analisis hidrologi menggunakan HEC-HMS dengan metode HSS SCS-CN. Analisis Hidraulika berupa permodelam banjir menggunakan HEC-RAS 1D untuk memperoleh profil muka air dan HEC-RAS 2D untuk memperoleh luas genangan dan lokasi banjir, sedangkan pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D untuk mengetahui perubahan morfologi dasar sungai. Hasil analisis hidrologi diperoleh debit banjir recana kala ulang 25 tahun sebesar 141,70 m3/s. Hasil pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS 1D dengan Q25 pada kondisi eksisting menunjukan kapasitas Sungai Asam belum mampu menampung debit banjir dengan luapan terjadi sepanjang sungai dengan ketinggian ±0,30 – 2,00 m, sedangkan pada kondisi penanganan berupa normaliasasi dan revetment terdapat segmen yang tidak terjadi luapan banjir yaitu pada segmen 1 dan segmen 2, sedangkan pada segmen 3, segmen 4 dan segmen 5 masih terdapat lupan banjir setinggi ±0,30 – 1,80 m. Hasil pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS 2D dengan debit Q25 diperoleh luas dan genangan banjir berturut-turut pada kondisi eksisting seluas 117,78 Ha; pada kondisi rencana penanganan berupa normalisasi dan revetment seluas 39,45 Ha dengan reduksi sebesar 66,51%; serta pada kondisi usulan pengananan berupa kolam retensi dan parapet seluas 23.47 Ha dengan reduksi sebesar 80.07%. Hasil simulasi menggunakan HEC-RAS 2D juga menunjukan bahwa 6 unit pompa dengan total kapasitas 15 m3/s belum mampu mencegah terjadinya luapan di stasiun pompa asam pada kondisi muka air Sungai Batanghari lebih tingg dari pada muka air banjir di Sungai Asam, tetapi usulan pengendalian banjir berupa kolam retensi dan parepet dapat menunda kedatangan banjir dan mepercepat proses surutnya lupaan ditunjukan dengan penurunan durasi surut pada kondisi eksisting semula 19 jam menjadi 14 jam 30 menit. Hasil pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D dengan debit rerata bulanan selama satu tahun menunjukan pada kondisi eksisting perubahan morfologi dasar Sungai Asam relatif seimbang sepanjang sungai dengan agradasi sebesar ±216,53 m³/tahun dan degradasi sebesar ±191,36 m³/tahun, pada kondisi rencana penanganan berupa normalisasi dan revetment terjadi penurunan agradasi menjadi 83,43 m3/tahun serta perubahan morfologi dasar Sungai dari sebelumnya relatif seimbang menjadi lebih terlokaliasi dengan total degradasi sebesar ±187,09 m3/tahun terutama pada bagian hilir sungai, pada kondisi usulan penanganan berupa kolam retensi dan parapet terjadi penurunan degradasi menjadi ±145,19 m3/tahun dan agrdasi menjadi 79,45 m3/tahun, dimana keberadaan kolam retensi menyebabkan perubahan pola dasar sungai, dengan agradasi di bagian hulu kolam retensi dan degradasi di hilir, sedangkan pada kondisi penangan berupa normalisasi dan revetment menggunakn debit banjir Q25 perubahan morfologi dasar sungai didominasi oleh degrdasi dengan total sebesar 20,02 m3/hari dan agradasi sebesar 4,32 m3/hari.
EKSTRAKSI GELOMBANG AKUSTIK MENGGUNAKAN DEMODULASI FASE PADA SINYAL KELUARAN INSTRUMEN DISTRIBUTED ACOUSTIC SENSING (DAS) FIBER OPTIC
Distributed Acoustic Sensing (DAS) berbasis fiber optic memungkinkan pemantauan getaran secara terdistribusi dengan merekam sinyal hamburan balik Rayleigh, di mana gangguan mekanik memodulasi fase optik. Instrumen DAS yang digunakan pada penelitian ini menghasilkan keluaran berupa data interferometrik mentah komponen in-phase (I) dan quadrature (Q), sehingga diperlukan pemrosesan numerik untuk mengekstrak sinyal akustik. Penelitian ini mengembangkan alur pemrosesan untuk mengonversi data biner I/Q menjadi amplitudo, fase optik, fase kontinu melalui phase unwrapping, serta beda fase/gradien spasial sebagai proxy terhadap regangan (strain). Selanjutnya, filter digital band-pass diterapkan untuk mengekstraksi komponen akustik pada frekuensi target, disertai evaluasi performa tambahan menggunakan metrik Signalto-Noise Ratio (SNR). Validasi dilakukan menggunakan data sintetik berbasis I/Q yang merepresentasikan fase statik Rayleigh dan modulasi fase dengan dua skenario sumber (stasioner dan bergerak). Frekuensi sumber utama diatur sekitar 200 Hz agar konsisten dengan pengujian real, serta ditambahkan ilustrasi frekuensi rendah 10 Hz untuk menunjukkan pemulihan sinyal melalui tahapan demodulasi, unwrapping, dan pemfilteran. Tahapan pemrosesan yang sama kemudian diaplikasikan pada data real dari eksperimen laboratorium menggunakan kabel fiber optic single-mode nonarmored. Hasil menunjukkan bahwa visualisasi spasial-temporal (DAS record section) berhasil menampilkan respons akustik terdistribusi pada pita frekuensi target dan menyediakan dasar kuantitatif tambahan untuk menilai kualitas pengukuran melalui SNR. Penelitian ini menyediakan alur pemrosesan yang dapat direproduksi untuk pengolahan data mentah instrumen DAS serta menjadi landasan bagi pengembangan pengujian dan pemrosesan lanjutan.
STUDI ANALISIS KARAKTERISTIK RESERVOIR KARBONAT PADA LAPANGAN JORRVASKR, FORMASI KUJUNG, CEKUNGAN JAWA TIMUR
Cekungan Jawa Timur merupakan cekungan penghasil hidrokarbon yang penting, dimana Lapangan Jorrvaskr menjadi salah satu lapangan produksi utamanya. Lapangan ini memproduksikan hidrokarbon dari reservoir karbonat Formasi Kujung yang bersifat heterogen. Heterogenitas ini disebabkan oleh variasi lingkungan pengendapan dan pengaruh proses diagenesis yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan studi yang mengintegrasikan analisis fasies, diagenesis, dan petrofisika untuk dapat mengkarakterisasi serta memahami kualitas dan sebaran reservoir secara rinci. Penelitian ini menggunakan data log tali kawat (wireline log) dan data batuan inti (core) dari total 20 sumur. Metode yang digunakan mencakup beberapa tahapan analisis, yaitu analisis fasies berdasarkan deskripsi inti batuan, analisis diagenesis untuk mengetahui perubahan batuan pasca-pengendapan, dan evaluasi petrofisika. Melalui evaluasi petrofisika, dihitung properti-properti reservoir, mencakup volume serpih (Vsh), porositas efektif (PHIE), dan saturasi air (Sw). Hasil analisis menunjukkan reservoir penelitian merupakan endapan carbonate build-up yang tersusun atas beberapa asosiasi fasies. Nilai rata-rata petrofisika pada interval reservoir adalah volume serpih mencapai 0,134, dengan porositas sebesar 0,135, dan saturasi air sebesar 0,359. Kualitas reservoir ini menunjukkan korelasi yang jelas dengan tipe fasies dan proses diagenesis yang mempengaruhinya. Asosiasi fasies dengan kualitas reservoir yang baik dikontrol oleh proses diagenesis konstruktif seperti pelarutan, sedangkan asosiasi fasies berkualitas rendah dipengaruhi oleh proses diagenesis destruktif seperti sementasi.
SINTESIS IN SITU GRAFENA MULTILAPIS PADA SUHU RENDAH DENGAN METODE HW IP–VHF–PECVD SEBAGAI LAPISAN JENDELA PADA SEL SURYA SILIKON POLIKRISTALIN TIPE P–I–N
Grafena multilapis (multilayer graphene/MLG) merupakan salah satu material karbon dua dimensi yang paling menjanjikan dalam pengembangan perangkat elektronik dan optoelektronik modern. Kombinasi sifat khasnya seperti transparansi optik yang tinggi, konduktivitas listrik yang kuat, mobilitas pembawa muatan yang besar, serta struktur pita energi yang unik, menjadikannya kandidat ideal untuk menggantikan material elektroda transparan konvensional (transparent conducting electrodes, TCEs) seperti transparent conductive oxide (TCO) dan indium tin oxide (ITO) dalam sel surya film tipis. Selain itu, kemampuan MLG untuk berfungsi sebagai lapisan jendela memperkuat potensinya dalam memperbaiki proses penyerapan cahaya dan transportasi muatan pada struktur fotovoltaik. Berbagai metode sintesis grafena, termasuk MLG telah dikembangkan, dengan CVD dan PECVD menjadi pendekatan dominan. Namun, sebagian besar teknik ini masih memerlukan suhu tinggi dan proses transfer MLG yang kompleks, sehingga meningkatkan biaya dan menurunkan kompatibilitas proses. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam realisasi MLG sebagai komponen elektroda transparan dalam sel surya skala besar. Pada saat yang sama, pemanfaatan silikon polikristalin sebagai material aktif menawarkan keseimbangan yang menarik antara efisiensi fotovoltaik dan biaya produksi dibandingkan silikon amorf atau silikon kristalin tunggal. Integrasi MLG dengan silikon polikristalin, terutama dalam konfigurasi p–i–n, menawarkan jalur pengembangan sel surya murah, efisien, dan kompatibel dengan proses suhu rendah. Penelitian ini mengkaji penumbuhan MLG pada suhu rendah menggunakan teknik Hot Wire Cell in Plasma Very High Frequency PECVD (HW IP–VHF–PECVD) pada frekuensi plasma 70 MHz. MLG ditumbuhkan secara in situ di atas katalis Ni dengan kondisi optimum: suhu sekitar 185 °C, tekanan 350 mTorr, laju alir CH4 15 sccm, dan daya plasma 30 W, yang menghasilkan MLG nanokristalin dengan jumlah lapisan 3–7, resistansi lembar ~35,6 ?/sq, dan transmitansi optik hingga ~82%. Kemudian, lapisan Si tipe–i ditumbuhkan pada suhu 185 °C dengan durasi optimumnya 75 menit, menghasilkan struktur mikrokristalin–polikristalin yang stabil, halus (Ra ~6–10 nm), dan memiliki sifat optik yang mendukung absorpsi cahaya yang efektif pada perangkat p–i–n. MLG yang telah dioptimasi kemudian diintegrasikan secara langsung ke dalam struktur perangkat sel surya p–i–n berbasis silikon polikristalin pada tiga jenis substrat: kaca (CG), kaca berlapis TCO, dan kaca berlapis ITO. Integrasi dilakukan tanpa proses transfer MLG, sehingga antarmuka MLG/Si tipe-p terbentuk secara bersih tanpa kontaminasi residu, yang umumnya ditemukan dalam metode transfer berbasis polimer. Pengujian karakteristik I–V menunjukkan bahwa MLG memberikan peningkatan performa yang konsisten pada seluruh perangkat. Pada substrat kaca Corning (CG), efisiensi meningkat dari 3,89 % (perangkat referensi) menjadi 6,10 % dengan MLG. Pada substrat CG+TCO, efisiensi meningkat dari 4,21 % menjadi 8,52 %. Peningkatan terbesar terjadi pada substrat CG+ITO, di mana efisiensi meningkat dari 4,44 % menjadi 8,95 %, dengan JSC mencapai 17,12 mA/cm² dan FF sebesar 58,09 %. Peningkatan VOC, JSC, dan FF pada seluruh substrat menunjukkan bahwa MLG berfungsi secara simultan sebagai TCE dan window layer, meningkatkan transparansi optik, homogenitas antarmuka, dan konduktivitas permukaan. Jika dibandingkan dengan penelitian MLG–Si sebelumnya, seperti sel Schottky grafena–Si (efisiensi 1–6%), graphene nanomeshes pada porous–Si (?7%), atau grafena pada struktur amorf dengan efisiensi <0,1%—maka capaian efisiensi 6–9% pada penelitian ini menempati posisi kompetitif dalam kategori penelitian MLG suhu rendah tanpa proses transfer. Keunggulan utama pendekatan HW IP–VHF– PECVD terletak pada kemampuannya menumbuhkan MLG dan seluruh lapisan silikon p–i–n secara berurutan dalam satu reaktor, pada suhu <300 °C, sehingga sepenuhnya kompatibel dengan teknologi sel surya film tipis generasi berikutnya. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi MLG nanokristalin sebagai TCE sekaligus berfungsi sebagai window layer dalam sel surya p–i–n berbasis silikon polikristalin yang difabrikasi secara in situ menggunakan proses PECVD berfrekuensi sangat tinggi dan suhu rendah. Pendekatan ini menghilangkan keperluan proses transfer MLG, mengurangi kompleksitas fabrikasi, dan meningkatkan kualitas antarmuka. Temuan ini memberikan kontribusi ilmiah penting terhadap pengembangan elektroda transparan berbasis MLG serta mekanisme integrasinya dengan lapisan silikon polikristalin. Selain itu, penelitian ini membuka peluang bagi pemanfaatan MLG dalam teknologi fotovoltaik murah dan berkelanjutan.
PRODUKSI BERSIH BERBASIS PEMANFAATANLIMBAH SERBUK BESI DARI AKTIVITAS PANDAI BESI DESA MEKARMAJU UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL
Limbah serbuk besi dari aktivitas pandai besi berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai katalis alternatif pada proses Fenton dalam degradasi zat warna sintetis pada limbah tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik serbuk besi hasil aktivitas pandai besi sebagai katalis, mengevaluasi efektivitas katalis tersebut dalam degradasi Methyl Orange, dan menilai pengaruh parameter operasional terhadap efisiensi degradasi melalui pendekatan kinetika dan analisis statistik. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan sistem batch dengan variasi pH (2;3; dan 4), konsentrasi katalis (1;2; dan 3 g/L), konsentrasi Methyl Orange (10; 25; dan 75 mg/L), dan konsentrasi H?O? (3,3; 6,6; dan 13,2 mM). Karakterisasi katalis dilakukan dengan uji SEM-EDX, XRD, dan metode 1,10-fenantrolin untuk menentukan morfologi, komposisi mineral, serta kandungan besi total. Hasil menunjukkan bahwa limbah serbuk besi memiliki komposisi utama Fe?O? dan Fe?O? dengan morfologi berpori dan ukuran partikel rata-rata 8,579 µm, yang mendukung pembentukan radikal hidroksil (•OH). Kondisi optimum diperoleh pada pH 2, suhu 30°C, konsentrasi katalis serbuk besi 1 g/L, H?O? 3,3 mM, dan konsentrasi Methyl Orange 10 mg/L dengan efisiensi degradasi mencapai lebih dari 90% dalam waktu 15 menit. Analisis kinetika menunjukkan bahwa proses degradasi mengikuti model orde dua dengan nilai R² tertinggi 0,9645, yang menandakan laju reaksi dikendalikan oleh interaksi antara radikal hidroksil dan molekul Methyl Orange. Uji ANOVA menunjukkan bahwa konsentrasi katalis berpengaruh signifikan terhadap efisiensi degradasi, sedangkan interaksi antara serbuk besi dengan H?O? dan Methyl Orange juga menunjukkan pengaruh yang signifikan. Uji aplikasi pada limbah tekstil asli menghasilkan efisiensi degradasi sebesar 69% dalam waktu 15 menit, menandakan efektivitas katalis pada kondisi nyata. Pemanfaatan limbah serbuk besi sebagai katalis mendukung prinsip produksi bersih dengan mengurangi timbulan limbah serbuk besi dan menekan penggunaan bahan kimia baru dalam pengolahan limbah cair tekstil.
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KORIDOR JALAN L.L.R.E.MARTADINATA KOTA BANDUNG
Kawasan cagar budaya merupakan bagian penting dari identitas kota karena mengandung nilai historis, sosial, dan arsitektural yang membentuk karakter ruang perkotaan. Namun, dinamika pembangunan dan intensifikasi kegiatan ekonomi sering kali menimbulkan tekanan terhadap keberlanjutan kawasan bersejarah. Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang mengalami transformasi signifikan dari kawasan hunian kolonial menjadi koridor perdagangan dan jasa. Perubahan fungsi tersebut memicu berbagai bentuk intervensi fisik yang berpotensi menurunkan integritas visual, karakter kawasan, serta nilai signifikansi budayanya. Persoalan utama yang dihadapi adalah belum tersedianya ketentuan pengendalian pembangunan kawasan yang bersifat operasional, kontekstual, dan selaras dengan karakter budaya kawasan. Penelitian ini bertujuan merumuskan ketentuan pengendalian pembangunan dalam pelestarian kawasan cagar budaya di Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus, metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan studi dokumen. Analisis dilakukan secara normatif, visual, morfologi kota, dan deskriptif–komparatif untuk mengidentifikasi karakter kawasan, prinsip pelestarian, serta persoalan empiris pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fisik bangunan, dominasi visual bangunan baru, alih fungsi ruang publik, serta penambahan elemen komersial yang tidak kontekstual menjadi isu utama pelestarian kawasan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan mekanisme pengendalian pembangunan berbasis design control yang mencakup prinsip, indikator, komponen pengendalian, serta pedoman perancangan dan prosedur design review. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi kajian perancangan kota dan kontribusi praktis sebagai rujukan pengendalian pembangunan kawasan cagar budaya di Kota Bandung.