📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS KOMPARATIF KEBERLANJUTAN SISTEM BUDIDAYA MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS) ANTARA MODEL TERSPESIALISASI DAN TERINTEGRASI PERMAKULTUR-EDUWISATA (KASUS PADA PT KUJAGA BUMI SEGERA DI KOTA BENGKULU)
Pengelolaan sampah organik berbasis biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) semakin berkembang sebagai solusi alternatif yang berpotensi mendukung keberlanjutan dalam dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Keberlanjutan ekonomi pada budidaya maggot BSF skala kecil dan menengah mendapati masalah biaya operasional yang meningkat, keuntungan yang semakin menurun, dan keterbatasan pasar. Budidaya maggot BSF yang terintegrasi dengan permakultur dan eduwisata menjadi salah satu solusi yang dirumuskan untuk menghadapi tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan sistem budidaya maggot BSF yang terintegrasi dengan permakultur dan eduwisata, serta menyusun rancangan model bisnis berkelanjutan berdasarkan hasil penilaian tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Life Cycle Sustainability Assessment (LCSA) yang mencakup Life Cycle Assessment (LCA) untuk dimensi lingkungan, Social Life Cycle Assessment (S-LCA) untuk dimensi sosial, dan Life Cycle Costing (LCC) untuk dimensi ekonomi. Analisis dilakukan dengan pendekatan sistem terintegrasi yang mencakup unit proses budidaya BSF, kebun, budidaya lele, dan aktivitas eduwisata agrikultur. Hasil analisis keberlanjutan selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC) untuk merancang model bisnis yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem budidaya BSF terintegrasi memiliki kinerja keberlanjutan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem budidaya BSF terspesialisasi pada ketiga dimensi keberlanjutan. Pada dimensi lingkungan, integrasi sistem menerapkan pemanfaatan aliran material secara sirkular yang menurunkan potensi dampak lingkungan melalui substitusi input konvensional dan pengurangan limbah. Pada dimensi sosial, keberadaan aktivitas permakultur dan eduwisata berkontribusi terhadap peningkatan kinerja sosial, terutama melalui aspek edukasi, keterlibatan masyarakat lokal, dan persepsi positif masyarakat terhadap aktivitas budidaya BSF. Pada dimensi ekonomi, integrasi multiproduk meningkatkan diversifikasi sumber pendapatan dan efisiensi biaya operasional sepanjang siklus hidup sistem. Tahapan proses yang teridentifikasi tersebut menjadi titik kritis yang berpotensi dioptimalkan untuk peningkatan kinerja sistem secara keseluruhan melalui rancangan model bisnis berkelanjutan. Rancangan model bisnis berkelanjutan yang dihasilkan menunjukkan bahwa integrasi budidaya BSF dengan permakultur, berupa kolam lele dan kebun pangan, dan eduwisata agrikultur tidak hanya memperkuat proposisi nilai lingkungan dan sosial, tetapi juga meningkatkan kelayakan ekonomi dan ketahanan model bisnis dalam jangka panjang.
PERANCANGAN KERANGKA PENGEMBANGAN ORGANISASI CV PUTRI INTAN KENCANA (JERNIP KENCANA)
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia dengan menyumbang sekitar 61% dari PDB negara dan mencakup lebih dari 97% angkatan kerja Indonesia. Terlepas dari signifikansi ini, banyak UKM di Indonesia mengalami masalah internal serius yang dapat mengancam kelangsungan hidup jangka panjang mereka, khususnya dalam hal suksesi kepemimpinan. Studi ini berfokus pada sebuah UKM di Indonesia bernama CV Putri Intan Kencana (Jernip Kencana), produsen minuman herbal tradisional berbasis di Kuningan, Jawa Barat, yang sedang menghadapi masalah suksesi kepemimpinan akibat keputusan CEO pendiri untuk pensiun. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, studi ini melakukan wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan analisis dokumen untuk menetapkan faktor-faktor organisasi yang menjadi akar penyebab yang dapat mencegah proses suksesi yang sukses. Analisis diagnostik mengintegrasikan tiga kerangka teori yang berbeda: Model Pertumbuhan Greiner yang membantu mengidentifikasi kondisi "krisis kepemimpinan" perusahaan saat ini; Model Bisnis Keluarga Tiga Lingkaran yang mengungkapkan interaksi kompleks dan dominasi absolut logika keluarga; dan Model Berlian Leavitt yang menilai kesiapan operasional di empat variabel berbeda yaitu tugas, teknologi, orang, dan struktur. Studi ini menemukan bahwa ada tiga hambatan internal kritis yang mengancam kelangsungan hidup Jernip Kencana pasca-suksesi: (1) ketergantungan penuh pada pengetahuan tacit CEO pendiri; (2) hierarki organisasi yang tidak berfungsi yang membuat para direktur dan calon penerus tidak memiliki otoritas yang sah; (3) resistensi budaya yang mendalam terhadap formalisasi yang menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai berbasis hubungan jangka panjang mereka. Analisis kesiapan operasional saat ini juga menunjukkan kesenjangan yang parah di keempat variabel tersebut, menunjukkan bahwa perusahaan kemungkinan besar akan runtuh setelah kepergian CEO. Sebagai tanggapan, studi ini mengusulkan kerangka kerja pengembangan organisasi (OD) komprehensif yang terdiri dari 27 intervensi yang dipisahkan menjadi 3 fase terpisah: (1) pembangunan fondasi; (2) pengembangan kemampuan; (3) pengembangan ketahanan organisasi.
PERBANDINGAN STOK KARBON PADANG LAMUN DENGAN TINGKAT KONEKTIVITAS EKOSISTEM YANG BERBEDA DI PESISIR PULAU SAPARUA, MALUKU
Padang lamun merupakan ekosistem karbon biru yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon secara jangka panjang. Namun, kapasitas penyimpanan karbon padang lamun sangat bervariasi, dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor biogeokimia dan konektivitas ekosistem pesisir dalam suatu bentang laut (seascape). Konektivitas antar ekosistem, khususnya antara mangrove dan padang lamun, berpotensi memengaruhi struktur komunitas lamun serta sumber dan akumulasi karbon di dalam sedimen, tetapi aspek ini masih jarang dikaji secara komprehensif, terutama di wilayah kepulauan kecil seperti Pulau Saparua, Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan stok karbon padang lamun pada tingkat konektivitas ekosistem pesisir yang berbeda, serta menganalisis keterkaitannya dengan struktur komunitas lamun, kondisi biogeokimia, dan sumber karbon sedimen. Penelitian dilakukan pada tiga lokasi dengan tingkat konektivitas ekosistem mangrove dan lamun yang berbeda, yaitu Porto (konektivitas tinggi dengan mangrove alami), Paperu (konektivitas tinggi disertai tekanan antropogenik tinggi), dan Iha (konektivitas rendah dengan mangrove). Struktur komunitas lamun dianalisis menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), sedangkan biomassa atas dan bawah tanah serta sedimen diambil untuk analisis stok karbon menggunakan metode Loss on Ignition (LOI). Sumber karbon sedimen ditelusuri melalui analisis isotop stabil ?¹³C. Seluruh parameter dianalisis secara komparatif dan diuji keterkaitannya melalui analisis deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tingkat konektivitas ekosistem pesisir tercermin secara nyata dalam variasi struktur komunitas lamun, stok karbon, dan karakter sumber karbon sedimen. Tujuh spesies lamun teridentifikasi di Pulau Saparua, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, dan Halodule pinifolia, dengan keanekaragaman tertinggi ditemukan di lokasi yang terkoneksi dengan mangrove alami. Lokasi dengan konektivitas tinggi, yang umumnya dicirikan oleh perairan semitertutup, didominasi oleh spesies berstrategi persisten, sedangkan lokasi dengan konektivitas rendah dan perairan terbuka didominasi oleh spesies perintis dan ii oportunis. Stok karbon total menunjukkan gradien menurun seiring berkurangnya konektivitas, dengan nilai tertinggi tercatat di Porto (54,47 Mg C ha?¹), diikuti Paperu (45,93 Mg C ha?¹), dan terendah di Iha (33,91 Mg C ha?¹). Lokasi dengan konektivitas mangrove–lamun yang tinggi memiliki stok karbon sekitar 1,6 kali lebih besar dibandingkan lokasi dengan konektivitas mangrove–lamun yang rendah. Perbedaan ini berkaitan erat dengan kondisi biogeokimia sedimen, yang ditandai oleh dominasi fraksi sedimen halus pada lokasi yang berdekatan dengan mangrove. Analisis isotop ?¹³C mengindikasikan bahwa karbon sedimen pada seluruh lokasi didominasi oleh sumber autochthonous dari biomassa lamun, dengan variasi kontribusi karbon allochthonous yang dimodulasi oleh tingkat konektivitas ekosistem dan tekanan antropogenik. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa konektivitas ekosistem pesisir berperan penting dalam meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon biru pada padang lamun melalui pengaruhnya terhadap struktur komunitas dan dinamika sumber karbon sedimen. Temuan ini menegaskan bahwa konektivitas ekosistem perlu dipertimbangkan dalam strategi konservasi dan pengelolaan karbon biru berbasis bentang laut yang terintegrasi.
PERANCANGAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA STRATEGI PENGADAAN DENGAN INTEGRASI KRALJIC PORTFOLIO MATRIX DAN AHP-TOPSIS
Pengadaan jasa konsultansi enjiniring merupakan elemen kunci dalam menjamin ketepatan waktu dan kualitas pelaksanaan proyek ketenagalistrikan di PT PLN Enjiniring. Namun, kinerja pengadaan masih menghadapi permasalahan struktural berupa keterlambatan penyelesaian pekerjaan, tingginya frekuensi amandemen kontrak, serta proses pengambilan keputusan yang belum sepenuhnya berbasis analisis risiko dan dampak strategis. Kondisi tersebut tercermin dari belum optimalnya pencapaian indikator On-Time Delivery (OTD) dan berpotensi menghambat akselerasi proyek ketenagalistrikan nasional sesuai RUPTL 2025– 2034 Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan merancang kerangka pengambilan keputusan strategi pengadaan melalui integrasi Kraljic Portfolio Matrix dan metode Analytic Hierarchy Process (AHP)–Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Metode Delphi diterapkan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi kriteria Supply Risk dan Profit Impact serta kriteria pemilihan supplier sesuai karakteristik pengadaan jasa konsultansi enjiniring. AHP digunakan dalam dua tahapan utama, yaitu untuk menghitung bobot kriteria Supply Risk dan Profit Impact sebagai dasar pemetaan item pengadaan pada Kraljic Portfolio Matrix, serta untuk menentukan bobot kriteria dan sub-kriteria pemilihan supplier pada masing-masing kuadran Kraljic. Selanjutnya, TOPSIS digunakan untuk melakukan pemeringkatan alternatif supplier berdasarkan tingkat kedekatan terhadap solusi ideal pada setiap kategori ii pengadaan. Objek penelitian mencakup pengadaan jasa konsultansi pada infrastruktur transmisi, gardu induk, dan pembangkit di PT PLN Enjiniring Hasil penelitian menunjukkan bahwa item pengadaan PT PLN Enjiniring dapat diklasifikasikan secara sistematis ke dalam empat kuadran Kraljic, yaitu non- critical, leverage, bottleneck, dan strategic, dengan profil risiko dan dampak strategis yang berbeda antara kelompok transmisi dan gardu induk dan pembangkit. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi adanya penambahan dan diferensiasi kriteria pemilihan supplier pada beberapa kuadran Kraljic, yang tidak sepenuhnya tercakup dalam model Kraljic konvensional, sebagai respons terhadap kompleksitas teknis, risiko kinerja, dan kebutuhan kolaborasi jangka panjang pada pengadaan jasa konsultansi enjiniring. Pembobotan menggunakan AHP menunjukkan bahwa kriteria dominan pada setiap kuadran bersifat spesifik dan tidak seragam, sementara hasil pemeringkatan supplier menggunakan TOPSIS menghasilkan urutan prioritas supplier yang berbeda dibandingkan praktik eksisting, sehingga menyediakan dasar pengambilan keputusan pengadaan yang lebih objektif, terukur, dan kontekstual terhadap profil risiko serta kepentingan strategis perusahaan.
KUANTIFIKASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN TOTAL FENOLIK PADA PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) DENGAN SISTEM HIDROPONIK WICK SYSTEM MENGGUNAKAN LARUTAN NUTRISI AB-MIX, EMULSI IKAN, DAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC)
Peningkatan jumlah penduduk, alih fungsi lahan, dan urbanisasi membawa dampak buruk yang nyata terhadap kehidupan masyarakat perkotaan. Terbatasnya ruang budidaya pertanian yang menyebabkan keterbatasan bahan pangan dan peningkatan penggunaan kendaraan bermotor menghasilkan radikal bebas yang berbahaya bagi lingkungan. Inovasi pertanian seperti sistem hidroponik mampu menjawab tantangan tersebut karena mampu memanfaatkan lahan sempit masyarakat perkotaan. Namun, penggunaan pupuk sintetis yang umum digunakan pada system hidroponik seperti AB-mix menimbulkan isu keberlanjutan dan Kesehatan. POC NASA dan pupuk emulsi ikan hadir sebagai alternatif organic yang kaya nutrisi, mendukung pengelolaan limbah pertanian, dan mampu memproduksi tanaman yang lebih kaya akan antioksidan. Pakcoy (Brassica rapa L. Var. Nauli F1) dipilih sebagai komoditas karena nilai gizinya yang tinggi, permintaan konsumsi besar, dan waktu produksi yang singkat. Untuk mengetahui jumlah kapasitas antioksidan yang dihasilkan, dilakukan pengujian terhadap aktivitas antioksidan dan kadar total fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengaplikasi AB-mix, POC NASA, dan Pupuk Emulsi Ikan terhadap aktivitas antioksidan dan total senyawa fenolik tanaman pakcoy (Brassica rapa L. Var. Nauli F1) pada sistem hidroponik wick system. Penelitian dilakukan di Screenhouse, Laboratorium Rekayasa Sistem Produksi dan Biomassa dan Laboratorium Isolasi dan Analisis Bahan Alam Labtek IA ITB Jatinangor sejak Juni hingga Agustus 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan yaitu P1 (Ab-mix), P2 (POC NASA), dan P3 (Pupuk Emulsi Ikan) yang diulang sebanyak enam kali. Dosis POC NASA dan pupuk emulsi ikan yang digunakan, telah dilakukan pendekatan terhadap larutan AB-mix 1300 ppm dengan cara menyetarakan kandungan nitrogen pada larutan tersebut. Analisis statistik dilakukan menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji homogenitas. Data yang tidak homogen akan dilanjutkan dengan pengujian Welch ANOVA dan uji lanjut Games-Howell pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter total senyawa fenolik menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan pupuk emulsi ikan yaitu 547,9 ± 275,28 GAE/100g, hasil tersebut berbeda nyata terhadap perlakuan AB-mix dan berbeda tidak nyata terhadap perlakuan POC NASA. Hasil pengujian aktivitas antioksidan pada perlakuan AB-mix menunjukkan hasil IC50 terbaik yaitu 50,4 ?g/ml, hasil tersebut berbeda tidak nyata terhadap kedua perlakuan lainnya. Penggunaan alternatif nutrisi AB-mix yaitu POC NASA dan pupuk emulsi ikan menghasilkan total kandungan senyawa fenolik yang lebih tinggi namun hasil aktivitas antioksidan yang lebih rendah. Penerapan sistem hidroponik dengan menggunakan larutan organik perlu disesuaikan dengan kondisi larutan nutrisi organik yang memerlukan oksigen dan proses mineralisasi untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang optimal.
ANALISIS PERBANDINGAN KODE BATANG DNA TUMBUHAN OBAT INDONESIA CRYPTOCARYA PULCHRINERVIA ASAL SUMATRA DAN KALIMANTAN
Cryptocarya merupakan salah satu genus utama dari Famili Lauraceae yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain sebagai bahan bangunan, parfum, pulp, dan furnitur. Selain itu, genus ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti nyeri sendi, nyeri otot, dan infeksi jamur. Salah satu spesies potensial di Indonesia adalah Cryptocarya pulchrinervia, yang tersebar di hutan hujan tropis Sumatra dan Kalimantan. Penelitian fitokimia terhadap daun C. pulchrinervia asal Sumatra yang dibudidayakan di Kebun Raya Bogor menunjukkan adanya kandungan senyawa piron dengan aktivitas sitotoksik tinggi terhadap sel murin leukemia P-388, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai obat antikanker dan suplemen kesehatan. Pemanfaatan lebih lanjut spesies ini memerlukan metode identifikasi yang akurat. Namun, kemiripan morfologi antarspesies Cryptocarya menyulitkan identifikasi secara konvensional, sehingga diperlukan penanda genetik berupa kode batang DNA. Hingga saat ini, data genetik C. pulchrinervia belum tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi genetik pada tingkat intraspesifik C. pulchrinervia dan tingkat interspesifik dalam Genus Cryptocarya, serta menentukan kode batang DNA menggunakan marka rbcL dan 18S rRNA (wilayah V1–V6, V7–V8, dan V8–V9). DNA diisolasi dari daun C. pulchrinervia menggunakan metode setiltrimetilamonium bromida (CTAB), kemudian fragmen gen rbcL dan 18S rRNA diamplifikasi, disekuensing, dan dianalisis menggunakan perangkat lunak BioEdit, BLAST, MEGA11, Clustal Omega, dan Bio- Rad DNA Barcode Generator. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya variasi genetik intraspesifik C. pulchrinervia pada lokus kloroplas rbcL dan lokus inti 18S rRNA wilayah V1–V9 dengan tingkat kemiripan genetik sebesar 100%. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa marka rbcL dan 18S rRNA wilayah V1–V6 memiliki daya diskriminasi yang tinggi untuk identifikasi hingga tingkat genus, yang didukung oleh keberadaan karakter diagnostik spesifik pada posisi nukleotida tertentu. Sebaliknya, marka 18S rRNA wilayah V7–V9 menunjukkan pola filogenetik yang tidak konsisten dan kurang efektif untuk identifikasi taksonomi. Dengan demikian, marka rbcL dan 18S rRNA wilayah V1–V6 direkomendasikan sebagai kode batang DNA untuk identifikasi C. Pulchrinervia.
KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT PEMBANGUNAN REVETMENT DAN KEGIATAN NORMALISASI SUNGAI BATANG AGAM KOTA PAYAKUMBUH
Sungai Batang Agam merupakan sungai alluvial yang memiliki karakteristik bermeander dengan palung relatif dalam serta melintasi kawasan padat penduduk, perkotaan, lahan pertanian, dan fasilitas umum di wilayah Kota Payakumbuh dan sekitarnya. Sungai ini menjadi bagian penting dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Agam, dengan hulu berada di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, serta hilir yang melintasi Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar, dan Kota Payakumbuh sebelum bermuara ke Sungai Batang Sinamar. Secara alami, dinamika fluvial berupa erosi, transportasi sedimen, dan deposisi membentuk morfologi sungai. Namun, aktivitas manusia seperti perubahan tata guna lahan di daerah hulu dan kegiatan penambangan pasir di bagian hilir telah mempercepat ketidakseimbangan morfologi sungai, yang memicu erosi dasar, longsoran tebing, dan sedimentasi berlebih di beberapa segmen sungai. Permasalahan utama yang terjadi di Sungai Batang Agam Hilir adalah longsoran tebing sungai yang mengakibatkan perubahan alur, berkurangnya lahan pertanian, serta ancaman terhadap permukiman masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh peningkatan debit dan kecepatan aliran akibat perubahan tata guna lahan di hulu serta gangguan keseimbangan sedimentasi akibat aktivitas penambangan pasir. Untuk mengurangi dampak tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang telah melaksanakan program penanganan sungai berupa normalisasi, pembangunan tanggul, dan perkuatan tebing sepanjang ±2,85 km pada periode 2017–2020 (Tahap I) serta sepanjang ±1,2 km pada tahun 2025 (Tahap II) pada titik-titik rawan di Sungai Batang Agam Hilir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Sungai Batang Agam akibat proses sedimentasi dan keruntuhan tebing, serta mengevaluasi efektivitas penanganan sungai yang telah dilakukan terhadap laju sedimentasi stabilitas, dan dinamika morfologi sungai. Analisis dilakukan menggunakan pemodelan hidraulika dan transportasi sedimen satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan perangkat lunak HEC-RAS yang telah melalui proses kalibrasi dan validasi. Estimasi suplai sedimen tahunan dihitung menggunakan pendekatan iii berbasis erosi lahan Universal Soil Loss Equation (USLE), sedangkan simulasi transportasi sedimen menggunakan kombinasi fungsi transport Meyer–Peter Müller dan metode kecepatan jatuh sedimen Wu dan Wang. Selain itu, pengaruh keruntuhan tebing terhadap dinamika sedimentasi dianalisis dengan mempertimbangkan Bank Stability and Toe Erosion Model (BSTEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan sungai yang telah dilakukan efektif dalam meningkatkan kapasitas sungai dan mengurangi limpasan banjir kala ulang 25 tahun, dengan penurunan tinggi muka air banjir mencapai sekitar 1,1 m. Estimasi suplai sedimen tahunan berdasarkan pendekatan USLE menunjukkan nilai sebesar 67.335 ton/tahun, sedangkan hasil simulasi model dengan debit kala ulang satu tahun menghasilkan nilai transport sedimen sebesar 54.597 ton/tahun. Secara keseluruhan, penanganan sungai mampu mengurangi tingkat agradasi dan degradasi dasar sungai hingga sekitar 15%. Namun demikian, peningkatan kecepatan aliran pada beberapa segmen pasca penanganan, khususnya pada bagian tengah sungai, menyebabkan peningkatan tegangan geser dasar yang memicu degradasi lokal. Sebaliknya, pada segmen hulu dan hilir terjadi kecenderungan agradasi akibat perubahan geometri lebar dasar sungai serta keberadaan bangunan pulau di hilir. Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan dan perencanaan penanganan Sungai Batang Agam secara berkelanjutan serta sebagai referensi dalam evaluasi dampak morfologi sungai akibat intervensi manusia.
STRATEGI PENINGKATAN AKSES AIR MINUM PERPIPAAN DI DKI JAKARTA MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS
Untuk mendukung ketercapaian target 100% akses air minum perpipaan di Kota Jakarta, pemerintah telah menetapkan berbagai strategi. Namun, aksesibilitas air perpipaan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari aspek teknis maupun nonteknis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor- faktor tersebut sehingga dapat memberikan intervensi yang tepat sasaran sesuai keadaan aktual Kota Jakarta. Pendekatan sistem dinamik digunakan untuk mensimulasikan dan memodelkan interaksi antara variabel-variabel utama selama periode 10 tahun (2028-2038) menggunakan diagram lingkaran sebab-akibat dan diagram aliran-stok, yang diikuti dengan validasi statistik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario strategi intervensi yang berdiri sendiri menghasilkan tingkat efektivitas yang bervariasi, dengan skenario optimalisasi sistem penyaluran mencapai persentase pelanggan tertinggi (85%), diikuti oleh skenario aspek ekonomi (56%), skenario aspek lingkungan (55%), dan pengembangan sumber daya manusia (53%). Kombinasi skenario menunjukkan dampak yang lebih kuat melalui sinergi lintas sektor. Kombinasi aspek teknis dan sosial menghasilkan persentase pelanggan 86% pada tahun 2038, sementara kombinasi aspek lingkungan dan ekonomi mencapai 61%. Skenario yang mengintegrasikan empat aspek mencapai 98% persentase pelanggan pada mulai tahun 2038. Hasil ini menyoroti pentingnya peran kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat perluasan jaringan air pipa. Studi ini menyediakan skenario intervensi yang dapat mendukung pemerintah daerah Jakarta dalam meningkatkan konektivitas masyarakat ke jaringan air pipa.
KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT BANGUNAN PENGENDALI BANJIR DI SUNGAI BABAKAN KABUPATEN BREBES
Kejadian banjir tertinggi terjadi pada tahun 2022 yaitu berada pada daerah provinsi Jawa Tengah. Daerah Aliran Sungai (DAS) Babakan merupakan salah satu DAS yang terletak di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. DAS Babakan memiliki karakteristik hidrologi yang kompleks, dengan topografi yang cenderung datar dan tingkat hujan yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya banjir. Berdasarkan Laporan Kejadian Banjir dari BBWS Cimanuk–Cisanggarung, tercatat sebanyak 20 kejadian banjir di Kecamatan Ketanggungan selama lima tahun terakhir (2020–2024). Kejadian banjir paling sering terjadi pada tahun 2020 dan 2023, dengan lima desa terdampak, di mana Desa Ketanggungan menjadi lokasi dengan frekuensi banjir tertinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir di wilayah ini bersifat berulang (recurrent flooding). Penelitian ini menganalisis penanganan banjir dalam mereduksi genangan banjir dan pengaruhnya terhadap perubahan morfologi sungai. Obyek penelitian mencakup segmen Sungai Babakan sepanjang 3,90 km, dimulai dari Jembatan Burg Ketanggungan sebagai batas hulu dan Jembatan Sutamaja sebagai batas hilir. Analisis hidrologi menggunakan metode HSS Nakayasu. Analisis Hidraulika berupa permodelam banjir menggunakan HEC-RAS 1D untuk memperoleh profil muka air kondisi eksisting dan HEC-RAS 2D untuk memperoleh luas genangan dan cakupan lokasi banjir pada tiga skenario. Sedangkan pemodelan sedimen dilakukan dengan tiga skenario menggunakan HEC-RAS 1D untuk mengetahui perubahan morfologi dasar sungai di sepanjang lokasi kajian. Hasil analisis karakteristik DAS Babakan membentuk busur yang sesuai dengan Hidrograf Nakaysu dan dengan debit banjir Q20 sebesar 241.860 m3/detik. Hasil pemodelan banjir kondisi eksisting menggunakan HECRAS 1D dengan debit Q20 menunjukan bahwa kapasitas Sungai Babakan belum mampu menampung debit banjir dengan luapan terjadi sepanjang sungai dengan ketinggian mencapai ± 0,50 – 1,50 m. Hasil pemodelan banjir menggunakan HECRAS 2D dengan debit Q20, kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir sehingga menyebabkan terjadi limpasan yang menggenangi permukiman, persawahan, dan fasilitas umum lainnya dengan tinggi limpasan rata-rata mencapai 0.40 m dan luas genangan seluas 88.76 Ha; kondisi setelah penanganan dengan dua kolam detensi dan peningkatan tanggul sekitar kolam masih mengalami limpasan pada beberapa segmen sungai dengan tinggi limpasan rata-rata sekitar 0,30 m, dengan luas genangan yang tereduksi menjadi 79,07 ha; kondisi penanganan lanjutan berupa peningkatan tanggul Sungai Babakan dengan penambahan tinggi rata-rata 1,00 m pada tanggul kiri dan 1,50 m pada tanggul kanan, yang secara signifikan mampu menghilangkan limpasan sehingga tidak terjadi genangan. Hasil pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D dengan debit andalan Q50 metode FJ Mock selama satu tahun menunjukan bahwa kejadian agradasi didominasi pada kondisi Penanganan I dan Penanganan II pada bagian sungai setelah adanya bangunan pengendali banjir (lateral structure) dengan volume total sebesar 1.835,88 ton/tahun (Penanganan I) dan 1.852,58 ton/tahun (Penanganan II). Sedangkan kejadian degradasi didominasi pada kondisi eksisting dari bagian hulu hingga hilir secara merata dengan volume total sebesar 1.931,95 ton/tahun, namun pada kondisi Penanganan I dan Penanganan II terjadi pada saat sebelum bangunan pengendali banjir hulu dan setelah bangunan pengendali banjir hilir.
INTEGRASI PERAMALAN PERMINTAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL PADA DISTRIBUTOR MRO: STUDI KASUS PADA PT LIMA PUTRA JAYA
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor Pemeliharaan, Perbaikan, dan Operasi (MRO), seperti PT Lima Putra Jaya, sering mengalami inefisiensi operasional akibat manajemen inventaris yang berbasis intuisi. Praktik ini menyebabkan kerugian finansial yang signifikan akibat kelebihan stok (overstock), stok mati (deadstock), dan hilangnya peluang penjualan. Penelitian ini mengatasi masalah tersebut dengan mengembangkan kerangka kerja manajemen inventaris yang sistematis dan berbasis data. Menggunakan metodologi studi kasus kuantitatif dengan data historis perusahaan selama 32 bulan, penelitian ini mengklasifikasikan pola permintaan menggunakan Matriks Kategorisasi Syntetos-Boylan dan mengevaluasi berbagai model peramalan deret waktu (time-series forecasting) serta Metode Croston dan Metode SBA (Syntetos-Boylan Approximation) untuk memprediksi permintaan produk. Model dengan error terkecil kemudian digunakan untuk menghitung parameter pengendalian inventaris yang optimal, termasuk Economic Order Quantity (EOQ), Reorder Point (ROP), dan Safety Stock. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang diusulkan menawarkan peningkatan finansial yang signifikan dibandingkan pendekatan berbasis intuisi saat ini. Implementasi parameter yang dioptimalkan diperkirakan dapat melepaskan modal kerja yang tertahan (frozen working capital) sebesar Rp 604,328,150. Angka ini merepresentasikan jumlah kas yang dapat dilepaskan dari penghapusan inventaris berlebih ke tingkat yang optimal. Selain itu, sistem ini diproyeksikan dapat menghemat Rp 113,555,196 setiap tahun dalam biaya inventaris, yang merupakan pengurangan biaya operasional rutin yang mencerminkan peningkatan efisiensi sebesar 85.7 persen..
ANALISIS PENGARUH KOMPENSASI, PENGAKUAN, LINGKUNGAN KERJA, DAN KETERLIBATAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN BERSKALA KECIL DI JAKARTA ( CV PAYU RASA INDONESIA )
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompensasi, pengakuan, lingkungan kerja, dan keterlibatan karyawan terhadap kinerja karyawan pada perusahaan makanan dan minuman berskala kecil di Jakarta, dengan studi kasus pada CV Payu Rasa Indonesia, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey, dan data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 100 responden yang terdiri atas karyawan CV Payu Rasa Indonesia serta karyawan dari dua perusahaan makanan dan minuman sejenis guna memenuhi kebutuhan ukuran sampel penelitian, serta data dianalisis menggunakan metode regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap kinerja karyawan, baik secara simultan maupun parsial, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi, pengakuan, lingkungan kerja, dan keterlibatan karyawan secara simultan dan parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, diantara keempat variabel tersebut, kompensasi merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling dominan, diikuti oleh pengakuan, lingkungan kerja, dan keterlibatan karyawan serta temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kinerja karyawan pada perusahaan makanan dan minuman berskala kecil dapat dicapai melalui penerapan sistem kompensasi yang kompetitif dan adil, penciptaan lingkungan kerja yang kondusif, pelaksanaan program pengakuan yang terstruktur, serta penguatan keterlibatan karyawan melalui komunikasi dan pemberdayaan yang efektif, sehingga penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi manajemen CV Payu Rasa Indonesiadalam merancang kebijakan sumber daya manusia yang strategis untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing perusahaan
FORMULASI STRATEGI BISNIS UNTUK LAYANAN NON-BAHAN BAKAR DI SPBU: MEMANFAATKAN PERTUMBUHAN KENDARAAN BERAT DARI PROGRAM BIOSOLAR
Studi ini menganalisis stagnasi kinerja SPBU 24.345.135 dalam skema PSO Biosolar di Indonesia, di mana harga yang terregulasi, margin tetap, dan penurunan alokasi sebesar 6,48% pada tahun 2025 meningkatkan risiko perpindahan pelanggan di koridor Trans-Sumatra. Dengan menggunakan bukti kasus campuran (catatan operasional, data regulasi/alokasi, observasi aliran layanan, survei pengemudi N = 243, serta wawancara pemangku kepentingan), studi ini: (1) menyusun STP berbasis kebutuhan untuk pengguna kendaraan berat, (2) mengidentifikasi faktor internal–eksternal yang membentuk layanan non- bahan bakar (NFS), dan (3) merumuskan strategi terintegrasi untuk pertumbuhan dan daya saing NFS. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed-method. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei pengemudi (N = 243), yang mencakup penilaian kinerja layanan berbasis SERVPERF, evaluasi komparatif terhadap SPBU alternatif, pengukuran kepuasan, serta indikator kebutuhan fasilitas. Klasterisasi K-means berbasis kebutuhan digunakan untuk membentuk segmen dan mengarahkan STP. Bukti kualitatif dari wawancara pengemudi dan internal, disertai observasi lapangan serta pemetaan pesaing, digunakan untuk memvalidasi mekanisme perilaku, menjelaskan pola perpindahan pelanggan, dan mendukung analisis internal–eksternal (sumber daya/kapabilitas, logika penciptaan nilai, serta perumusan berbasis SWOT/TOWS). Dua akar masalah utama teridentifikasi: ketidaksesuaian segmen–layanan (aset stopover belum dioptimalkan untuk pelanggan logistik kendaraan berat yang mencakup 57% basis pelanggan) dan asimetri operasional (kesiapan layanan tidak selaras dengan jendela permintaan kunci, termasuk pukul 03.00–07.00). Preferensi pengemudi mengikuti logika dua tahap: ketersediaan dan stabilitas antrean menentukan apakah pengemudi bertahan; ketika kondisi stabil, persepsi keadilan layanan dan kenyamanan stopover mendorong kunjungan ulang. SPBU diposisikan sebagai Reliable Logistics Stopover Hub dengan strategi diferensiasi terfokus yang dijalankan melalui enam inisiatif bertahap: stabilisasi ketersediaan, pengendalian throughput pada jam puncak, penyesuaian jam operasi, rekonfigurasi fasilitas yang ramah truk, penguatan kontrol kepatuhan dan keadilan layanan, serta pengembangan NFS yang berorientasi pada kebutuhan pengemudi.
EVALUASI ADOPSI MYRENTOKIL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SERVICE PROFIT CHAIN DI PT RENTOKIL INITIAL INDONESIA
Teknologi digital di sektor jasa sangat penting untuk meningkatkan efisiensi, kepatuhan, dan kualitas. MyRentokil berbasis cloud dari PT Rentokil Initial Indonesia menyederhanakan pelaporan teknisi dan memperluas akses data pelanggan. Keterbatasan konsistensi internal dan penolakan yang cukup besar terhadap perubahan prosedur kerja telah membatasi profitabilitas platform tersebut. Masalah-masalah ini telah menimbulkan kekhawatiran manajerial tentang tata kelola digital dan integrasi loyalitas serta kinerja layanan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara infrastruktur teknologi dan layanan pelanggan di lapangan. Studi ini meneliti determinan adopsi MyRentokil oleh supervisor dan teknisi serta pengaruhnya terhadap kualitas layanan dan loyalitas pengguna. Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2) dan Service Profit Chain digunakan untuk memetakan perilaku penggunaan sistem digital dan produktivitas layanan pelanggan. Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) digunakan untuk mengevaluasi model prediksi eksploratif pada variabel laten meskipun ukuran sampel terbatas. Di tempat kerja, ekspektasi upaya, kondisi pendukung, dan kebiasaan mendorong kontak staf dengan sumber daya operasional. Karena Ekspektasi Kinerja tidak memengaruhi pengguna sistem, ekspektasi profesional dan rutinitas harian mendorong adopsi teknologi baru. Intensitas penggunaan aplikasi yang berkelanjutan meningkatkan Kepuasan Kerja, yang membantu membangun persepsi kualitas layanan. Karena kontak langsung yang lemah, transformasi digital membutuhkan dukungan tata kelola yang stabil dan implementasi praktis untuk memuaskan pelanggan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh adopsi teknologi tetapi juga oleh tata kelola digital, kesiapan organisasi, dan integrasi antara sistem, proses, dan perilaku manusia. Penelitian ini merekomendasikan penguatan program pelatihan berbasis peran, standardisasi proses layanan berbasis data digital, dan penguatan peran pengawasan dari para supervisor untuk memastikan bahwa adopsi MyRentokil menghasilkan dampak manajerial yang berkelanjutan bagi perusahaan.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MOF-303 SEBAGAI ADSORBEN AIR PADA PROSES ADSORPTION HEAT TRANSFORMATION (AHT)
Adsorption Heat Transformation (AHT) merupakan teknologi penyimpanan energi yang memanfaatkan proses adsorpsi-desorpsi, dengan sumber energi berasal dari panas limbah domestik dan panas limbah industri. Salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi proses adsorpsi-desorpsi pada teknologi AHT dengan meningkatkan kapasitas adsorpsi (?q) material adsorben. Pada penelitian ini dilakukan sintesis MOF-303 menggunakan metode solvotermal dengan variasi jenis basa (trietilamina, NaOH, dan tanpa penambahan basa) serta variasi penambahan basa NaOH (1,5 mmol dan 3 mmol), yang selanjutnya diaplikasikan sebagai material adsorben pada teknologi AHT. Struktur dan kristalinitas MOF-303 dianalisis menggunakan Powder X-Ray Diffraction (PXRD), gugus fungsi yang ada pada MOF-303 dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), stabilitas termal dianalisis dengan menggunakan Thermogravimetric Analysis (TGA), sedangkan suhu desorpsi, entalpi penguapan, dan kapasitas panas (Cp) ditentukan menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC). Hasil analisis menggunakan PXRD menunjukkan MOF-303 dengan penambahan jumlah basa NaOH 1,5 mmol dan 3 mmol berhasil terbentuk dengan persen kristalinitas berturut-turut 61 dan 59%. Hasil analisis menggunakan FTIR menunjukkan bahwa pada MOF-303 dengan penambahan jumlah basa NaOH 1,5 mmol dan 3 mmol teridentifikasi puncak baru pada panjang gelombang 1600 cm-1 dan 1392 cm-1 yang merupakan karakteristik dari ikatan -COO-Al, serta pada panjang gelombang 620 cm-1 juga teridentifikasi puncak yang menunjukkan adanya ikatan Al-O pada ligan H2PZDC dengan ion logam Al3+. Hasil analisis menggunakan TGA, MOF-303 memiliki stabilitas termal hingga 420 °C dan dapat menyerap hingga 30% air. Berdasarkan karakterisasi menggunakan DSC, MOF-303 mengalami proses endotermik pada suhu 27 – 192 °C dengan tiga puncak endotermik pada suhu 108, 123, dan 145 °C serta entalpi penguapan 1,386 kJ/g. Pengukuran terhadap kapasitas panas (Cp) mengindikasikan nilai Cp meningkat pada rentang 0,007 – 3,890 J/g°C pada rentang suhu 20 – 95 °C. Berdasarkan analisis stabilitas termal, suhu endotermik, entalpi penguapan, dan kapasitas panas (Cp) yang telah dilakukan pada penelitian ini, MOF- 303 memiliki potensi untuk diterapkan sebagai adsorben air pada proses adsorpsi-desorpsi pada teknologi AHT.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL BIOMASSA PADA TANAMAN PAKCOY (BRASSICA RAPA. L) DENGAN HIDROPONIK SUMBU (WICK SYSTEM) MENGGUNAKAN LARUTAN NUTRISI AB-MIX, PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DAN PUPUK CAIR EMULSI IKAN (FISH EMULSION) KOMERSIAL
Ketersediaan lahan pertanian semakin berkurang seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Budidaya non lahan (soil less) seperti sistem hidroponik sumbu diperlukan sebagai alternatif budidaya pada lahan sempit. Budidaya secara hidroponik masih sangat bergantung pada input pupuk anorganik seperti AB mix, yang tidak berkelanjutan. Pendekatan organik seperti penggunaan pupuk organik cair (POC) dan emulsi ikan (fish emulsion) merupakan solusi alternatif menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan pupuk yang rendah residu, kaya nutrisi dan mikroba, sekaligus mendukung pertanian zero waste. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan AB-Mix, POC Nasa, dan pupuk emulsi ikan Grow Quick Ultra terhadap pertumbuhan dan hasil biomassa tanaman pakcoy (Brassica rapa L. Var. Nauli F1) pada sistem hidroponik sumbu (wick system). Penelitian dilaksanakan di Screen house 1B ITB Jatinangor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan. Dosis POC dan emulsi ikan disetarakan berdasarkan kandungan nitrogen total yang setara dengan larutan AB-Mix konsentrasi 1300 ppm. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah, bobot kering, serta rasio tajuk-akar selama empat minggu masa tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan AB-Mix memberikan pertumbuhan dan hasil biomassa yang paling tinggi secara signifikan dibandingkan dua perlakuan lainnya. Pada akhir pengamatan (4 MST), tinggi ratarata tanaman dengan perlakuan AB-Mix mencapai 20,85 cm dengan bobot basah sebesar 17,05 g per tanaman. Sementara itu, perlakuan POC dan emulsi ikan hanya menghasilkan tinggi rata-rata 10,22 cm dan 11,49 cm dengan bobot basah 1,39 g dan 2,08 g. Kondisi larutan nutrisi organik yang memiliki konduktivitas listrik (EC) rendah dan pH basa (alkali) menyebabkan ketersediaan hara makro dan mikro menjadi terbatas, sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal. Substitusi langsung pupuk organik cair ataupun emulsi ikan komersial terhadap pupuk anorganik AB-Mix pada sistem hidroponik sumbu belum efektif dalam mendukung pertumbuhan dan produksi biomassa tanaman pakcoy. Penerapan sistem hidroponik organik memerlukan penyesuaian formulasi nutrisi, proses mineralisasi, serta pengendalian pH yang lebih baik agar ketersediaan unsur hara dapat mendukung pertumbuhan optimal.