📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPEMODELAN KEBUTUHAN RUANG AKIBAT DINAMIKA MAHASISWA ITB KAMPUS CIREBON DI KECAMATAN ARJAWINANGUN
Pembangunan ITB Kampus Cirebon mendorong pertumbuhan jumlah mahasiswa dan aktivitas akademiik di Kecamatan Arjawinangun. Pertambahan jumlah mahasiswa menimbulkan fenomena studentifikasi di Kecamatan Arjawinangun. Fenomena studentifikasi merupakan fenomena yang berpengaruh terhadap empat komponen yaitu komponen sosial, ekonomi, budaya, dan fisik lingkungan. Komponen-komponen ini saling terkait dan salig mempengaruhi satu sama lain dalam sebuah sistem. Namun, belum ada penelitian yang memandang fenomena ini dengan pendekatan sistem dinamik terutama di Kecamatan Arjawinangun. Sehingga penelitian ini hadir untuk menganalisis fenomena ini sebagai sebuah sistem yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel/faktor pendorong yang beperan dalam dinamika studentifikasi berdasarkan pembelajaran Kecamatan Jatinangor, menganalisis model dinamika studentifikasi terhadap perkembangan kawasan di Kecamatan Arjawinangun, dan mengidentifikasi skenario model dinamika studentifikasi terhadap perkembangan kawasan di Kecamatan Arjawinangun. Penelitian ini bersifat mixed methods dengan mencampurkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk memahami masalah lebih mendalam dengan jenis penelitian eksplanatori yang menjelaskan hubungan antar variabel fenomena studentifikasi. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan teknis dengan menggunakan aplikasi powersim untuk mensimulasikan model yang telah dibuat. Model dibuat dalam tiga skenario berdasarkan jumlah pertambahan program studi. Model terlebih dahulu disusun dalam bentuk Causal Loop Diagram (CLD), kemudian diterjemahkan dan disimulasikan dalam bentuk model dengan menggunakan aplikasi powersim. Hasil simulasi powersim divalidasi terlebih dahulu berdasarkan pembelajaran Kecamatan Jatinangor melalui pengukuran Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), mean correlation, dan error variance. Model juga disesuaikan berdasarkan kejadian di Kecamatan Arjawinangun. Variabel/faktor pendorong yang berperan dalam dinamika studentifikasi yaitu jumlah penduduk, migrasi masuk dan keluar, kebutuhan lahan permukiman, dan kebutuhan lahan fasilitas. Berdasarkan pembelajaran Kecamatan Jatinangor, perubahan fase dari fase pra-studentifikasi menjadi fase lonjakan populasiv mahasiswa yaitu ketika proporsi jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yaitu 5:1. Hasil identifikasi variabel/faktor pendorong ini kemudian disusun dalam bentuk CLD, kemudian diterjemahkan dengan aplikasi powersim sehingga dapat disimulasikan. Hasil validasi variabel jumlah mahasiswa, jumlah penduduk, luas permukiman, dan luas fasilitas menunjukkan model yang dibuat valid dan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan nilai mean correlation kurang dari lima persen, nilai error variance kurang dari tiga puluh persen, dan nilai persentase error yang di bawah sepuluh persen. Model yang telah divalidasi kemudian disimulasikan berdasarkan empat skenario. Skenario satu ketika jumlah program studi tidak bertambah, skenario dua ketika jumlah program studi bertambah tiga setiap lima tahun, skenario ketiga ketika jumlah program studi bertambah lima setiap lima tahun, dan skenario keempat mengikuti Master Plan Akademik Multi Kampus Skema PSDKU ITB Cirebon. Hasil skenario menunjukkan bahwa, meskipun jumlah program studi mengikuti master plan akademik, ini belum cukup untuk mendorong kawasan memasuki fase lonjakan populasi mahasiswa karena proporsi jumlah penduduk dibandingkan jumlah mahasiswa masih berada di atas 5:1 yaitu 9:1, sehingga dominasi demografis masih dominan oleh penduduk setempat. Meskipun begitu, kebutuhan hunian terus meningkat bahkan melampaui kapasitas kawasan pada tahun 2042 yang mendorong intensifikasi bangunan pada lokasi-lokasi dekat kampus. Berdasarkan hal ini, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan mahasiswa, mengendalikan zonasi dan intensitas bangunan terutama di sekitar kampus, serta melindungi lahan strategis dari konversi tak terkendali. Temuan dalam penelitian ini diharapkan mampu memperkaya wawasan pembaca terutama di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dan menjadi acuan bagi masyarakat, ITB Kampus Cirebon, dan Pemerintah dalam melaksanakan kegiatan dan merumuskan kebijakan sehingga dampak negatif dari fenomena studentifikasi dapat diminimalisasi.
ANALISIS SEBARAN KONEKTIVITAS EKOLOGI DAN MENENTUKAN JARINGAN EKOLOGI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) MENGGUNAKAN METODE MORPHOLOGICAL SPATIAL PATTERN ANALYSIS (MSPA) DAN MINIMUM CUMULATIVE RESISTANCE (MCR) DI JAKARTA PUSAT
Urbanisasi mendesak keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sehingga menurunkan nilai konektivitas ekologis yang berperan penting dalam menjaga stabilitas fungsi ekosistem perkotaan. Jakarta Pusat merupakan salah satu wilayah dengan proporsi RTH yang sangat rendah dan pola sebaran RTH yang kecil, menyebar, dan terisolasi memerlukan perencanaan jaringan ekologi yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran konektivitas ekologi dan menentukan jaringan ekologi RTH di Jakarta Pusat menggunakan metode Morphological Spatial Pattern Analysis (MSPA), Graph Theory Network (GTN), dan Minimum Cumulative Resistance (MCR). Data yang digunakan berupa peta penggunaan lahan tahun 2021, jaringan jalan dan sungai, serta batas administrasi wilayah. Analisis MSPA digunakan untuk mengidentifikasi struktur morfologi lanskap, kemudian GTN diterapkan untuk menentukan patch sumber ekologi berdasarkan nilai delta Probability of Connectivity (dPC). Selanjutnya, metode MCR digunakan untuk membangun jaringan ekologi dengan mempertimbangkan resistensi lanskap. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 37 patch sebagai primary source (dPC > 1) dan 8 patch sebagai secondary source (0,5 ? dPC ? 1). Jaringan ekologi yang dihasilkan terdiri atas primary link, secondary link, primary water link, secondary water link, serta koridor ekologis dengan optimalisasi melalui 142 stepping stone. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi dasar kebijakan perencanaan jaringan ekologi RTH yang efektif untuk meningkatkan konektivitas ekologis dan mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan di Jakarta Pusat.
PERANCANGAN ULANG TATA LETAK FASILITAS PT LUNARAY CAHYA ABADI
PT LCA merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi produk kecantikan berdasarkan pesanan pelanggan. Konsumen utama dari PT LCA merupakan brand kecantikan dan klinik kecantikan. Produk yang dihasilkan saat ini terdapat 4 (empat) varian yaitu produk sediaan padat, setengah padat, cair, dan bubuk. PT LCA memiliki 2 (dua) tingkat lantai produksi. Saat ini, permasalahan utama PT LCA adalah dari material flow dan material handling yang belum optimal. Material flow belum optimal dikarenakan proses perpindahan material yang berulang sehingga memiliki OMH yang tinggi. Sedangkan material handling yang belum optimal dikarenakan material handling yang digunakan masih menggunakan man power. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang tata letak pabrik PT LCA yang optimal dengan pertimbangan luas yang tersedia. Perancangan tata letak fasilitas PT LCA menggunakan pendekatan systemic layout planning (SLP) dengan metode perancangan dengan algoritma CRAFT. Metodologi penelitian yang digunakan merujuk pada pendekatan desain dan rekayasa ulang operasi yang diperkenalkan oleh PES LLC. Proses pembangkitan rancangan awal dan alternatif rancangan tata letak menggunakan perangkat lunak Excel yang menggunakan algoritma CRAFT dengan melakukan pertukaran dua atau tiga departemen (2/3 Opt). Perubahan tata letak terdapat pada ruang mixing dan filling setengah padat di pindahkan ke lantai satu serta ruang simpan dan cuci alat dan ruang staging di pindahkan ke lantai dua. Perubahan tersebut mengurangi, penggunaan lift dan mengurangi OMH Rancangan tata letak usulan menghasilkan total OMH sebesar Rp. 16.130,10 untuk lantai satu dan Rp. 27,00 untuk lantai dua. Jika dibandingkan dengan penggunaan tata letak sebelumnya yang memiliki nilai Rp. 12.135,10 untuk lantai satu dan Rp. 35,00 untuk lantai dua, nilai OMH pada tata letak usulan mengalami penurunan sebesar 24,54% untuk lantai satu dan 23% untuk lantai dua.
PERANCANGAN KORIDOR JALAN JOGOKARIYAN SEBAGAI KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN WISATA RELIGI DENGAN PENDEKATAN SHARED SPACES
Koridor Jalan Jogokariyan di Kota Yogyakarta telah bertransformasi menjadi kawasan strategis dengan identitas kuat sebagai kampung budaya dan destinasi wisata religi yang berpusat pada aktivitas Masjid Jogokariyan. Namun, tingginya intensitas kegiatan masyarakat, terutama pada momen keagamaan dan festival budaya, menimbulkan tekanan signifikan pada koridor jalan. Dominasi kendaraan bermotor, minimnya fasilitas pejalan kaki yang inklusif, serta konflik penggunaan ruang menyebabkan degradasi kualitas ruang publik dan kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, diperlukan upaya perancangan ulang untuk mengembalikan fungsi koridor sebagai ruang interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan metode prosedural fragmental process. Metode perancangan yang diterapkan meliputi problem solving dan optimizing melalui metode analisis evaluasi semu (pseudo-evaluation) untuk mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara prinsip normatif shared spaces dengan kondisi eksisting kawasan. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, pemetaan aktivitas, wawancara, dan studi literatur terkait kawasan cagar budaya serta pariwisata religi. Hasil perancangan ditunjukkan melalui konsep pengembangan dengan tema "Jogokariyan: Hamemayu Kahuripan – Faithscape of Culture". Konsep ini diimplementasikan melalui pembagian tiga segmen koridor, yaitu: Segmen Poleng (Welcome Gate), Segmen Jogokariyan (Central Area), dan Segmen Kawung (Supporting Trail). Intervensi desain utama meliputi perubahan sirkulasi kendaraan menjadi satu arah, pemusatan kantong parkir, pelebaran area pejalan kaki tanpa segregasi ketinggian (curbless), serta penerapan elemen visual bermotif budaya pada perkerasan jalan. Desain ini juga menciptakan flexible street yang adaptif terhadap kegiatan rutin maupun insidental seperti salat berjamaah dan pasar rakyat. Penerapan pendekatan shared spaces efektif dalam mentransformasi Jalan Jogokariyan dari sekadar infrastruktur lalu lintas menjadi ruang publik yang humanis dan berkarakter. Perancangan ini dapat mengintegrasikan fungsi mobilitas, spiritualitas, dan interaksi sosial, sekaligus memperkuat identitas kawasan sebagai living heritage yang aman dan inklusif.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI KAIN KATUN TERCANGKOK POLI(GLISIDIL METAKRILAT-MERAH KONGO)-KO-POLI (KALIUM 3-SULFOPROPIL METAKRILAT) UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN WARNA DAN SIFAT ANTIBAKTERI
Katun merupakan bahan tekstil yang tersusun dari serat selulosa bersifat hidrofilik sehingga mudah menyerap air, namun rentan terhadap pertumbuhan mikroorganisme dan memiliki interaksi lemah terhadap zat warna. Pewarna azo seperti merah kongo yang tergolong pewarna langsung sering digunakan pada katun, tetapi memiliki daya afinitas rendah terhadap serat selulosa. Untuk meningkatkan ketahanan warna dan memberikan sifat antibakteri pada katun, dilakukan sintesis dan pencangkokan poli(glisidil metakrilat-merah kongo)-ko-poli(kalium 3-sulfopropil metakrilat). Tahap pertama, merah kongo direaksikan dengan glisidil metakrilat melalui reaksi pembukaan cincin epoksida dengan katalis asam lewis untuk menghasilkan makromonomer glisidil metakrilat-merah kongo (GMA-MK). Pencangkokan monomer dilakukan ke kain katun dengan tiga pendekatan, yaitu (1) pencangkokan (GMA-merah kongo) terlebih dahulu kemudian diikuti dengan kalium 3- sulfopropil metakrilat (KSPM) menghasilkan katun-g-[poli(glisidil metakrilat-merah kongo)-b-poli(KSPM)], (2) pencangkokan (KSPM) terlebih dahulu kemudian diikuti dengan (GMA-merah kongo) menghasilkan katun-g-[poli(KSPM)-b-poli(glisidil metakrilat-merah kongo)], dan (3) pencangkokan (GMA-merah kongo) dan KSPM secara bersamaan menghasilkan katun-g-[poli(glisidil metakrilat-merah kongo)-random- poli(KSPM)]. KSPM berperan sebagai monomer hidrofilik yang mengandung gugus sulfonat sehingga berpotensi sebagai agen antibakteri. Hasil karakterisasi FT-IR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) menunjukkan adanya puncak serapan pada 2932 cm-1 (vibrasi C-H) dan 1734 cm-1 (vibrasi C=O) yang menandakan terbentuknya ikatan antara glisidil metakrilat dan merah kongo. Uji ketahanan warna menunjukkan penurunan nilai absorbansi larutan hasil pencucian pada kain katun termodifikasi dibandingkan katun tanpa perlakuan. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa kain katun hasil pencangkokan dengan poli(glisidil metakrilat-merah kongo)-b-poli(KSPM) menghasilkan nilai penurunan jumlah bakteri sebesar 97,6%, sedangkan pencangkokan dengan poli(KSPM)-b- poli(glisidil metakrilat-merah kongo) menghasilkan nilai penurunan jumlah bakteri sebesar 61,3%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pencangkokan bertahap monomer (GMA-merah kongo) dan KSPM pada katun berhasil dilakukan, serta mampu meningkatkan ketahanan warna dan memberikan efek antibakteri pada kain katun
HUBUNGAN LANGSUNG ANTARA MANAJER-KARYAWAN DAN KEPUASAAN KERJA DI BISNIS START-UP
Bisnis start-up umumnya berjalan dengan sumber daya yang terabatas, struktur organisasi yang ramping, dan peran kerja yang sering berubah. Karena itu, hubungan langsung antara manajer dan karyawan menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, manajer sering memegang banyak peran sekaligus, termasuk menjalankan fungsi Sumber Daya Manusia (SDM). Akibatnya, kualitas hubungan langsung antara manajer dan karyawan menjadi faktor utama yang membentuk pengalaman kerja karyawan. Penelitian ini akan membahas tiga pertanyaan utama. Pertama, bagaimana bentuk hubungan langsung antara manajer dan karyawan di start-up. Kedua, apa yang dimaksud dengan kepuasan kerja dalam konteks start-up. Ketiga, bagaimana kemungkinan hubungan antara hubungan manajer-karyawan dan kepuasan kerja tersebut. Ketiga pertanyaan ini penting karena sebagian besar start-up tidak memiliki fungsi HR formal, tetapi tetap membutuhkan hubungan kerja yang kuat antara manajer dan karyawan untuk menjaga engagement, mendukung kinerja yang baik, dan mempertahankan stabilitas organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan karyawan, manajer, dan pemilik tiga start-up di Indonesia. Peneliti menggunakan menggunakan NVIVO untuk proses coding dan thematic analysis untuk menganalisis temuan berdasarkan hasil wawancara. Analisia berdasarkan pada dua teori utama: Leader Member Exchange (LMX) untuk menilai kualitas hubungan manajer dan karyawan, serta teori Kepuasan Kerja dari McShane dan Von Glinow yang menekankan tiga komponen utama, yaitu karakteristik pekerjaan, lingkungan kerja, dan pengalaman emosional. Temuan disajikan dalam bentuk tema lintas kasus yang menunjukkan pola umum di seluruh start-up yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan manajer dan karyawan dalam bisnis start-up dapat dijelaskan melalui tiga dimensi LMX, yaitu kepercayaan, rasa hormat, dan kepatuhan. Kepercayaan terlihat dari keyakinan karyawan terhadap keputusan manajer, kepercayaan terhadap kompetensi manajer, dan keterbukaan komunikasi. Rasa hormat tampak dari kesopanan sehari-hari, pengakuan atas ide, bimbingan yang konstruktif, serta persepsi mengenai keadilan dalam pengambilan keputusan. Kepatuhan muncul melalui dukungan timbal balik, saling membantu ketika diperlukan, dan komitmen untuk terus berkolaborasi. Secara keseluruhan, pola ini menunjukkan bahwa lingkungan start-up sangat bergantung pada koordinasi antarpersonal, tanggung jawab bersama, dan kepemimpinan yang mudah diakses. Kepuasan kerja di start-up dapat dijelaskan melalui tiga komponen utama. Pertama, karakteristik pekerjaan yang mencakup variasi keterampilan, otonomi, kejelasan peran, makna pekerjaan, dan umpan balik dari hasil kerja. Kedua, lingkungan kerja yang ditandai oleh dukungan rekan kerja, manajer yang mudah dihubungi, pengakuan atas kinerja, dan kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Ketiga, pengalaman emosional di tempat kerja yang mencakup perasaan positif seperti kesenangan, kebanggaan, dan rasa syukur, sekaligus tantangan seperti beban kerja berat dan ketidakjelasan peran. Meskipun tuntutan kerja dapat tinggi, karyawan tetap merasa puas ketika mereka mendapatkan dukungan interpersonal dan pekerjaan dirasakan bermakna. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai bagaimana hubungan antarindividu membentuk pengalaman kerja di lingkungan start-up. Penelitian ini menjelaskan mengapa hubungan manajer dan karyawan dapat berdampak pada kepuasan kerja. Temuan ini juga memberikan dasar untuk memberikan rekomendasi praktis dalam memperkuat hubungan kerja dan meningkatkan kesejahteraan karyawan seiring pertumbuhan start-up.
PERENCANAAN SKENARIO UNTUK KLINIK PRATAMA BAHAGIA DALAM MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN DI MASA DEPAN DI INDUSTRI KESEHATAN
Di industri kesehatan, klinik fasilitas kesehatan tingkat pertama menghadapi tantangan dari ketidakpastian masa depan yang memengaruhi kemampuan operasional klinik. Klinik Pratama Bahagia adalah usaha keluarga yang telah beroperasi lebih dari 40 tahun. Klinik ini ingin diteruskan ke generasi berikutnya, namun saat ini klinik tidak memiliki rencana jangka panjang, yang menimbulkan kontradiksi dan celah dalam visinya untuk menjadi usaha keluarga yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi dan lingkungan saat ini, penelitian ini mengkaji bagaimana klinik pratama lokal dapat menjadi tangguh dalam menghadapi ketidakpastian dan berkembang selama 5 tahun ke depan. Dalam membantu Klinik Pratama Bahagia mencapai tujuannya, penelitian ini menggunakan metode perencanaan skenario untuk membantu klinik mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian di masa depan dengan mengidentifikasi isu-isu kunci, faktor pendorong, menciptakan skenario, dan menyiapkan solusi bisnis berdasarkan sinyal peringatan dini. Dalam pengumpulan dan analisis data, metode wawancara dan analisis konten digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema kunci. Analisis PESTEL, Analisis Lima Kekuatan Porter, dan Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi lingkungan eksternal dan internal industri klinik pratama. Dari temuan dua belas faktor pendorong, dua faktor pendorong yang paling berdampak dan tidak pasti dipilih dalam pembuatan matriks 2x2. Dua faktor pendorong tersebut adalah kebijakan dan regulasi pemerintah serta sumber daya manusia (SDM) dan manajemen internal. Dari dua faktor pendorong ini, empat skenario telah dibuat untuk menggambarkan lima tahun ke depan. Skenario-skenario tersebut adalah Tim yang Tangguh di Laut yang Bergelora, Titanic, Angin Belakang yang Tenang, dan Angin Belakang yang Terlewat. Setiap skenario memiliki implikasi, opsi, dan sinyal peringatan dini tersendiri. Berdasarkan sinyal peringatan dini, solusi bisnis dibuat untuk setiap skenario dan satu solusi umum untuk membimbing Klinik Pratama Bahagia. Hasilnya, untuk tetap kompetitif dan terus berkembang, Klinik Pratama Bahagia harus berinvestasi secara bijaksana dalam digitalisasi, kemampuan sumber daya manusia, dan layanan yang lebih baik untuk meningkatkan reputasi merek dan memperluas basis pasien. Rencana implementasi dalam studi ini diharapkan dapat memandu Klinik Pratama Bahagia dalam menghadapi ketidakpastian masa depan selama lima tahun ke depan.
STRATEGI BRANDING DALAM BISNIS B2B: STUDI KASUS PT MULTIBINA TEKNIKA UTAMA
Studi ini mengkaji tantangan branding PT Multibina Teknika Utama, sebuah distributor peralatan laboratorium di pasar B2B di Indonesia. Meskipun perusahaan memiliki kemampuan teknis yang kuat dan layanan purna jual yang baik, tingkat visibilitas mereknya rendah karena jarang muncul dalam hasil pencarian Google, sulit ditemukan di e-Katalog LKPP, serta memiliki konten produk dan tampilan digital yang tidak konsisten. Kondisi ini membuat calon pembeli baru tidak mengenal perusahaan kecuali melalui rekomendasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi branding B2B Multibina saat ini dan mengusulkan solusi untuk meningkatkan brand awareness dan citra perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan staf internal dan pembeli institusi, serta didukung oleh observasi digital. Data dianalisis menggunakan thematic analysis dan gap analysis. Temuan menunjukkan lima isu utama: rendahnya tingkat keterjangkauan (discoverability), lemahnya konten digital, kepercayaan pelanggan yang kuat karena layanan purna jual, meningkatnya ekspektasi digital dari pembeli, serta keterbatasan kapabilitas internal dalam menjalankan branding. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan peningkatan visibilitas digital, standarisasi konten produk, penguatan kredibilitas digital, serta pengembangan kesiapan internal untuk mendukung aktivitas branding.
USULAN STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS UNTUK MENINGKATKAN PROFITABILITAS CV. KHARISMA SATRIA LESTARI
Industi tekstil di Indonesia merupakan salah satu industri yang banyak mendapat perhatian karena kondisi industi yang sedang lesu. Hal ini ditandai dengan banyaknya perusahaan tekstil yang bangkrut, terjadi PHK besar-besaran, dan tingkat utilisasi pabrik tekstil yang hanya sebesar 45%. Kondisi ini tidak terlepas dari berbagai faktor seperti regulasi yang mempermudah akses impor produk tekstil yang memberikan ancaman nyata bagi produser domestik karena mampu memberikan harga yang lebih murah dengan kualitas yang baik. Hal ini juga diperparah oleh ketidakstabilan geopolitik global, faktor makroekonomi, perubahan tren pakaian yang cepat, serta keterlambatan adopsi teknologi, yang membuat perusahaan tekstil domestik menjadi kurang kompetitif baik di pasar dalam maupun di luar negeri. Penurunan permintaan terhadap produk tekstil berdampak erat pada penurunan permintaan suku cadang (spare parts) mesin yang menjadi bagian krusial dalam produksi. Sebagai salah satu supplier suku cadang mesin tekstil, CV. Kharisma Satria Lestari (KSL) menjadi salah satu perusahaan yang ikut terdampak. CV. KSL merupakan perusahaan keluarga yang sudah berdiri sejak tahun 1990 dan berdomisili di Kota Bandung. Selama beberapa tahun terakhir, CV. KSL mengalami penurunan jumlah klien sebesar 37% dan penurunan pendapatan mencapai 37.5%. Oleh karena itu, di dalam studi ini akan dibahas bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan performa CV. KSL dan merumuskan startegi bisnis yang tepat untuk dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif di dalam proses pengumpulan dan analisis data. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi partisipan dan wawancara semi-terstruktur. Sementara, pengumpulan data sekunder dilakukan melalui tinjauan pustaka yang melibatkan beberapa sumber, seperti laporan perusahaan, laporan industri, buku, jurnal, artikel, dan berita. Dari data yang telah terkumpul dilakukan analisis tematik dan triangulasi data dan metodologi untuk memastikan validitas dan reliabilitas penelitian. Perusahaan dianalisis dari sudut pandang eksternal perusahaan ataupun internal dengan menggunakan sejumlah kerangka analisis, seperti STP (Segmenting, Targeting, Positioning), Porter's Five Forces, VRIN, SWOT, dan TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV. KSL hanya melayani satu segmen saja, yaitu perusahaan-perusahaan tekstil berskala sedang hingga besar yang melakukan sejumlah tahapan produksi terintegrasi dari spinning hingga finishing. Meskipun segmen ini memiliki kebutuhan suku cadang yang besar dari segi kuantitas maupun variasi, namun karena hanya mengandalkan satu segmen dari satu industri saja, CV. KSL sangat rentan terhadap fluktuasi permintaan. Hal ini diperparah oleh kondisi internal perusahaan yang masih belum optimal, seperti keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan mesin produksi, dan pengambilan keputusan yang terpusat sehingga menyebabkan perusahaan kurang responsif terhadap ancaman dari luar dan membatasi perusahaan dalam berinovasi. Berdasarkan kondisi internal dan eksternal perusahaan, strategi bisnis yang direkomendasikan adalah diferensiasi luas, dimana CV. KSL sebaiknya berfokus dalam upaya akuisisi klien baru, baik di segmen yang saat ini sudah dilayani maupun di segmen lain, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan tekstil berskala kecil. Meskipun skala perusahaan kecil, namun jumlah perusahaan lebih besar sehingga ukuran jumlah pembeli yang potensial lebih besar. Meski begitu, pendekatan untuk segmen ini berbeda dimana CV. KSL sebaiknya memposisikan diri sebagai mitra reparasi suku cadang alih-alih produsen spare part karena keterbatasan calon pelanggan serta perusahaan pesaing di dalam kapabilitas teknis. Untuk mewujudkan strategi bisnis ini, CV. Kharisma Satria Lestari harus memperkuat kapabilitas digital marketing, membangun jaringan yang lebih luas, serta meningkatkan kapabilitas R&D yang berkaitan dengan peningkatan kualitas produk serta fitur produk yang membuat CV. KSL lebih unggul, baik dalam hal produk ataupun layanan, dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan pesaing, yang pada akhirnya dapat mewujudkan tujuan perusahaan di dalam peningkatkan profitabilitas.
STUDI APLIKASI SENYAWA AZOBENZENA SEBAGAI SAKELAR MOLEKULER: PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS PROYEK MELALUI PENDEKATAN STEAM UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS
Penelitian ini mengangkat konteks kimia modern azobenzena sebagai sakelar molekuler (photoswitch) untuk memperkuat pembelajaran abad ke-21 melalui Project-Based Learning (PjBL) terintegrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) pada jenjang SMA. Secara kimia, kajian berfokus pada fotoisomerisasi trans ? cis turunan azobenzena dengan metil kuning (4-dimetilaminoazobenzena) sebagai model, serta pewarna makanan berbasis azo sebagai pembanding. Secara pendidikan, penelitian mengembangkan dan menguji modul STEAM–PjBL yang mengintegrasikan perancangan alat (fotoreaktor sederhana), eksperimen, analisis data, dan komunikasi ilmiah melalui poster. Metode penelitian meliputi pemurnian metil kuning, karakterisasi (FT-IR, ¹H NMR, ¹³C NMR), serta uji fotoisomerisasi melalui iradiasi UV–Vis (? = 400 nm) yang dipantau menggunakan spektrofotometri UV–Vis. Modul STEAM–PjBL diimplementasikan pada 28 siswa kelas XII selama empat pertemuan. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui desain pretest–posttest, kuesioner motivasi Intrinsic Motivation Inventory (IMI), rubrik penilaian proyek fotoreaktor, eksperimen, dan poster, serta kuesioner uji modul pembelajaran dengan analisis Rasch. Hasil kajian kimia menunjukkan bahwa metil kuning berhasil dimurnikan dan terkonfirmasi sebagai senyawa target melalui triangulasi data karakterisasi. Uji fotoisomerisasi memperlihatkan perubahan spektrum UV–Vis yang mengindikasikan proses trans ? cis, ditandai pergeseran hipsokromik (blue shift), disertai perubahan warna yang dipantau menggunakan aplikasi color meter dan munculnya noda baru yang lebih polar pada KLT. Laju trans ? cis bergantung pada pelarut: etanol (1 s) > isopropanol (5 s) > asetonitril (30 s). Relaksasi termal cis ? trans juga bervariasi, yaitu etanol (6 menit), isopropanol (30 menit), dan asetonitril (1 menit), yang menegaskan peran medium pelarut (kepolaran, ikatan hidrogen, dan dinamika medium) terhadap efisiensi fotosakelar. Sebaliknya, pewarna makanan berbasis azo yang diuji pada iradiasi ? = 400–500 nm tidak menunjukkan fotoisomerisasi teramati pada kondisi pengujian, baik melalui spektrum maupun indikator pendukung. Pada aspek pendidikan, seluruh kelompok berhasil merancang fotoreaktor sederhana yang berfungsi untuk uji fotoisomerisasi metil kuning. Reliabilitas penilaian proyek fotoreaktor tergolong tinggi (? ? 0,84), penilaian eksperimen rendah–sedang (? ? 0,52), dan penilaian poster sedang (? ? 0,64). Analisis Rasch pada pretest (25 butir; n = 28) menunjukkan kualitas instrumen yang baik (pemisahan item 2,48, reliabilitas item 0,86, KR-20 0,88) dengan rerata kemampuan siswa 0,27 logit. Setelah implementasi modul, posttest menunjukkan peningkatan kemampuan (rerata 2,18 logit), meskipun kualitas instrumen berada pada kategori sedang (pemisahan item 1,33, reliabilitas item 0,64, KR-20 0,71). Hasil IMI juga menunjukkan respons positif terhadap pengalaman pembelajaran, dengan skor Interest/Enjoyment ? 4,42 (tinggi), Perceived Competence ? 3,50 (cukup tinggi), dan Pressure/Tension-Reverse ? 3,30 (sedang). Secara keseluruhan, data mendukung adanya peningkatan kemampuan siswa setelah pembelajaran menggunakan modul STEAM–PjBL bertema sakelar molekuler azobenzena. Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) metil kuning layak digunakan sebagai model sakelar molekuler azobenzena pada konteks sekolah berdasarkan indikator spektrum dan uji pendukung, sedangkan pewarna makanan azo yang diuji tidak menunjukkan fotoisomerisasi teramati pada kondisi pengujian, dan (2) modul STEAM–PjBL yang dikembangkan layak diterapkan serta berpotensi meningkatkan capaian kognitif dan motivasi belajar, sekaligus memfasilitasi keterampilan abad ke-21.
STRATEGI UNTUK MEMULIHKAN STABILITAS BISNIS PT. EDU
Perkembangan digitalisasi yang pesat secara signifikan mengubah sistem penyampaian pendidikan. Apa yang dulunya didominasi oleh pembelajaran tatap muka kini beralih ke platform pembelajaran online yang memfasilitasi pembelajaran jarak jauh dan berbasis teknologi. PT. Edu merupakan salah satu penyedia layanan pendidikan berbasis teknologi yang mengalami penurunan pendapatan meskipun sektor pendidikan digital di Indonesia mengalami transformasi yang cepat. Penelitian ini mengeksplorasi akar penyebab penurunan tersebut dan menganalisis kebutuhan mendesak untuk merumuskan strategi guna memulihkan stabilitas bisnis PT. Edu. Penelitian ini didorong oleh faktor-faktor strategis, operasional, dan pemasaran yang saling berinteraksi dan mempengaruhi penurunan kinerja perusahaan edtech. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi tantangan saat ini yang dihadapi PT. Edu, baik internal maupun eksternal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, melakukan wawancara mendalam dengan beberapa pemangku kepentingan internal dan eksternal, penulis mengumpulkan data dan menganalisisnya menggunakan alat seperti Marketing Mix 7Ps, VRIO, PESTEL, Porter's Five Forces, SWOT, dan TOWS Matrix. Temuan menunjukkan bahwa tantangan utama PT. Edu adalah kemampuan internal, strategi promosi pemasaran yang tidak efektif, tekanan pasar eksternal, serta tekanan politik dan kendala ekonomi. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, studi ini merumuskan solusi berdasarkan kekuatan dan kelemahan PT. Edu, sambil juga mempertimbangkan ancaman dan peluang eksternal yang memengaruhi bisnis PT. Edu. Solusi ini berfokus pada perbaikan cepat dan berdampak tinggi untuk menstabilkan kinerja, seperti merancang tingkatan harga yang lebih jelas, menawarkan perjanjian kemitraan multi-tahun dengan harga fleksibel, meningkatkan kemampuan pemasaran menggunakan alat otomatisasi, memisahkan promosi program gratis dan berbayar, dan lain-lain. Studi ini juga menyediakan matriks prioritas dari solusi yang ditawarkan agar PT. Edu dapat membandingkan dan menentukan mana yang perlu diprioritaskan, serta dilampirkan jadwal implementasi untuk melihat kapan setiap strategi harus dimulai.
USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK ZAMRA BACKYARD
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi penurunan kinerja penjualan Zamra Backyard Coffee Shop dan merumuskan strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan kinerja bisnisnya. Dalam penelitian ini, pendekatan penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data berdasarkan wawancara mendalam dengan pemilik, manajer operasional, lima pelanggan tetap dan lima calon pelanggan, serta observasi lapangan dan dokumen pendukung lainnya. Analisis dilakukan menggunakan VRIO, Porter's Five Forces, SWOT, TOWS Matrix, dan kerangka kerja Marketing Mix (7P), yang didukung oleh analisis tematik data wawancara. Temuan menunjukkan bahwa penurunan penjualan terutama didorong oleh kelemahan internal, terutama kualitas "biasa" dan terbatasnya variasi makanan, lokasi kafe yang kurang mudah diakses, dan fasilitas parkir yang tidak memadai. Dari perspektif eksternal, tekanan persaingan yang tinggi, daya tawar pelanggan yang kuat, dan kecenderungan pelanggan untuk memilih kafe dengan akses yang lebih mudah semakin memperparah tantangan yang dihadapi Zamra. Berdasarkan analisis TOWS dan hasil tematik, sejumlah strategi pemasaran disarankan, seperti peningkatan kualitas makanan dan pengembangan menu, strategi harga, aksesibilitas dan parkir, konsistensi promosi digital, keandalan layanan, pelatihan staf, alur layanan selama jam sibuk, dan bukti fisik. Strategi-strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, memperkuat diferensiasi, dan memulihkan kinerja penjualan Zamra Backyard secara berkelanjutan.
STRATEGI BISNIS YANG DIUSULKAN UNTUK STARTUP SAAS: STUDI KASUS ASSIST.ID
Laju globalisasi dan terobosan teknologi yang pesat telah mendorong transformasi digital di Indonesia, khususnya di sektor health-tech. Pergeseran ini, yang didorong oleh mandat pemerintah seperti PMK 24/2022 mengenai Rekam Medis Elektronik (RME), telah menciptakan peluang signifikan sekaligus persaingan ketat bagi penyedia Software-as-a-Service (SaaS). Assist.id, sebuah perusahaan SaaS health-tech terkemuka di Indonesia dengan basis lebih dari 6.000 klien, telah mengalami pertumbuhan awal yang pesat. Namun, kini perusahaan berada di strategic inflection point yang kritis. Tanpa adanya strategi bisnis yang formal dan terdokumentasi, Assist.id menghadapi ambiguitas operasional dalam alokasi sumber daya dan risiko bisnis yang signifikan. Hal ini mencakup tekanan customer churn yang tinggi dari pesaing 'freemium' di segmen pasar volume tinggi (Segmen 1) dan dari pesaing 'kaya fitur' di segmen pasar profit tinggi (Segmen 2). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesenjangan strategis ini dan merumuskan strategi business-level yang komprehensif untuk menjamin keunggulan kompetitif Assist.id yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur yang mendalam dengan manajemen internal (CEO, CMO, CTO, Manajer CS) dan pelanggan eksternal (Klinik Pratama dan Klinik Utama). Data dianalisis menggunakan kerangka kerja strategis termasuk Analisis STP, General Environment, Industry Environment, Value Chain Analysis, dan Matriks SWOT/TOWS. Analisis mengungkapkan bahwa masalah bisnis inti Assist.id berasal dari "lingkar umpan balik" (feedback loop) internal yang tidak efisien (W1) , yang menciptakan "kesenjangan fitur" (feature gap) kritis (W3) dan membuat 'mesin profit' (Segmen 2) perusahaan menjadi rentan terhadap pesaing. Strategi yang ada saat ini tidak memadai untuk mempertahankan kedua segmen tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pergeseran ke Strategi Integrasi Kepemimpinan Biaya/Diferensiasi. Strategi ini mencakup tiga tindakan utama : 1) Meluncurkan paket 'freemium' yang patuh regulasi (Kepemimpinan Biaya) untuk mempertahankan Segmen 1 dari perang harga. 2) Mempercepat peta jalan R&D untuk fitur-fitur canggih (Diferensiasi) untuk melindungi Segmen 2 yang bernilai tinggi. 3) Menerapkan perubahan organisasi untuk memperbaiki lingkar umpan balik internal, sehingga menyelaraskan pengembangan produk secara langsung dengan kebutuhan pasar.
IDENTIFIKASI EFEKTIVITAS GREEN ROOF DAN GREEN WALL PADA KAWASAN PERUMAHAN PADAT DALAM UPAYA MITIGASI URBAN HEAT ISLAND
Peningkatan temperatur udara di kawasan perkotaan akibat urbanisasi atau dikenal dengan Urban Heat Island (UHI) merupakan akumulasi kalor pada kawasan perkotaan padat seperti area perumahan, perkampungan, perdagangan, dan lainnya. Akumulasi kalor tersebut berakibat dari dominasi pemakaian material berat seperti beton dan bata merah pada bangunan yang menyerap serta melepaskan kalor ke udaa secara lambat. Salah satu teknologi mitigasi UHI adalah atap hijau (green roof) dan dinding hijau (green wall) yang dilaporkan mampu mengelola energi dari sinar matahari untuk kebutuhan evapotranspirasi dan fotosintesis. Penggunaan tanaman pada atap dan dinding bangunan berfungsi tidak hanya sebagai pelapis, tetapi juga sebagai penyerap energi dari matahari sehingga tidak terbaurkan ke udara. Namun, efektivitas penerapan dinding dan atap hijau untuk menurunkan intensitas UHI di kawasan permukiman perlu banyak kajian. Penelitian ini bertujuan mempelajari efektivitas atap dan dinding hijau untuk mengurangi intensitas Urban Heat Island Intensity (UHII) secara spasial dan temporal pada penggunaan tanaman Brekele (Philodendron burle-marxii) dan Pakis Pedang (Nephrolepis exaltata). Metode penelitian meliputi tiga tahap utama yaitu, (1) identifikasi kondisi lingkungan termal Kawasan Perumahan pada empat periode waktu (pagi, siang, sore, malam), (2) eksperimen efek penerapan atap dan dinding hijau berorientasi Timur dan Barat dengan pengukuran variabel temperatur udara (Ta), temperatur permukaan daun (Tls), temperatur radiasi (GT), kelembapan relatif (RH), kecepatan angin (v), dan radiasi matahari (SI), serta (3) simulasi spasial menggunakan ENVI-met 5.7.1 untuk memetakan distribusi panas dan keseimbangan energi kawasan secara tiga dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atap hijau memiliki kemampuan signifikan dalam menurunkan temperatur permukaan hingga 13,39°C dibandingkan atap beton (kontrol), meskipun menunjukkan kecenderungan memanaskan udara pada pagi hari. Sebaliknya, dinding hijau menunjukkan variasi kinerja berdasarkan orientasi dinding. Dinding Timur efektif menurunkan temperatur udara sebesar 1,19–2,54°C dengan penundaan puncak suhu (delay) hingga 37–68 menit dibandingkan dinding bata (kontrol), sedangkan penerapan dinding hijau pada dinding Barat menurunkan temperatur udara lebih besar hingga 2,04–2,82°C lebih dingin pada sore hari dengan fluktuasi kelembapan relatif 5–8% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakter tanaman dimana Pakis Pedang (Nephrolepis exaltata) dengan daun yang relatif tipis (0,2–0,4 mm), tinggi batang sekitar 40–90 cm, dan kerapatan daun yang renggang mampu menurunkan suhu dengan cepat namun menghasilkan pola penurunan lebih fluktuatif. Sebaliknya, Brekele (Philodendron burle-marxii) dengan daun yang lebih tebal (0,6–1,0 mm), tinggi tanaman sekitar 40–60 cm, serta daun yang lebih rapat lebih efektif dalam meredam penetrasi radiasi matahari dan menghasilkan penurunan yang lebih stabil. Simulasi spasial pada ENVI-met di mana sistem selubung tanaman dimodelkan dengan modifikasi parameter seperti Leaf Area Index (LAI) serta properti substrat dan media tanam, menunjukkan bahwa kombinasi atap dan dinding hijau secara bersamaan mampu menurunkan temperatur udara maksimum kawasan dari 34,94°C menjadi 34,54°C serta mengurangi area panas ekstrem (>34°C) sebesar 688 m² atau 19,6% dari total tapak. Distribusi panas kawasan menunjukkan pergeseran area panas tinggi menjadi kategori panas ringan (31–32°C), menandakan efek sinergis tanaman terhadap homogenisasi termal lingkungan. Secara konseptual, kombinasi tanaman horizontal dan vertikal membentuk mekanisme pendinginan dua lapis, yaitu atap hijau sebagai peredam panas vertikal dan dinding hijau sebagai penyebar panas horizontal yang bersama-sama memperkuat aliran udara sejuk antarpermukaan dan menurunkan puncak suhu harian. Hasil analisis juga mengindikasikan bahwa pengaruh kondisi cuaca juga terbukti berpengaruh, di mana peningkatan tutupan awan (cloud cover) hingga 60% ke atas menurunkan kapasistas evapotranspirasi harian. Temuan ini dapat dipahami karena tanaman tropis membutuhkan asupan radiasi matahari yang optimal terutama pada kondisi di atas 350 W/m² untuk mencapai proses evapotrapotranspirasi terbaik. Secara keseluruhan, dinding dan atap hijau merupakan teknologi mitigasi UHII untuk kawasan perumahan padat dengan iklim tropis lembap.
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN UNTUK ADAPTASI STRATEGI PEMASARAN DI INDUSTRI TEMBAKAU
Industri tembakau di Indonesia merupakan industri yang berada di bawah peraturan dan pengawasan yang sangat ketat. Saat ini, industri tersebut sedang mengalami tantangan besar yang disebabkan oleh beberapa faktor dan berpengaruh terhadap kinerja bisnis mereka terutama pada menurunnya profitabilitas dan volume penjualan rokok. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah regulasi yang terus berubah dan semakin ketat seperti kenaikan cukai. Faktor lain yang berkontribusi adalah meningkatnya trend penggunaan rokok alternatif (dari 0.3% di 2011 ke 3% di tahun 2021) dan juga maraknya penjualan rokok illegal seperti yang dilaporkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada tahun 2023. Selain itu, di Oktober 2024, Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah no 28 yang mengatur pemasaran rokok secara lebih ketat. Perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia sedang berada dalam fase krusial dimana inovasi dalam strategi pemasaran sangat diperlukan untuk mempertahankan bisnis. Perusahaan-perusahaan tersebut ditantang untuk beradaptasi untuk memastikan keberlanjutan bisinis dalam jangka panjang. Hal ini dianggap sangat penting karena faktor eksternal berubah sangat cepat dalam waktu yang singkat. Berdasarkan tantangan-tangtangan tersebut, analisis konsumen menjadi sangat penting dilakukan oleh perushaan karena akan sangat membantu mereka dalam memahami dan mengantisipasi perubahan preferensi konsumen. Dengan memahami preferensi konsumen, Perusahaan dapat membuat produk yang sesuai dan responsive dengan permintaan pasar. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi penurunan konsumsi rokok, menentukan prioritas faktor yang harus ditingkatkan yang paling berpengaruh pada niat pembelian rokok konvensional, serta merumuskan startegi marketing yang paling sesuai untuk berdadaptasi dan menyasar pada permasalahan utama mengenai perubahan perilaku konsumen. Studi ini menganalisis delapan faktor yang mungkin berpengaruh terhadap niat pembelian rokok konvensional, seperti faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis serta faktor stimuli pemasaran seperti produk, lokasi, harga, dan promosi. Hipotesis yang disusun berdasarkan studi literatur memprediksi bahwa kedelapan faktor tersebut berpengaruh positif terhadap niat pembelian. Dalam mengevaluasi potensi pengaruh dari kedelapan faktor tersebut terhadap niat pembelian, penulis mengadakan survey dengan 236 sampel dan melakukan analisis data menggunakan model PLS-SEM. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada 5 faktor utama yang menyebabkan penurunan konsumsi rokok seperti meningkatnya kesadaran tentang kesehatan atau dampak kesehatan dari merokok, kondisi ekonomi yang tidak mencukupi, tidak dapat merokok karena alasan kesehatan atau fisik yang tidak memungkinkan dan meningkatnya trend rokok alternatif. Terkait faktor yang mempengaruhi niat pembelian, hasil PLS-SEM analisis menunjukkan bahwa tuhuh dari delapan faktor memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat pembelian. Faktor yang paling tidka berpengaruh adalah faktor budaya. Faktor yang yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap niat pembelian adalah faktor personal (koefisien 0.183) diikuti oleh faktor lokasi (koefisien 0.181), faktor social (koefisien 0.175) dan faktor promosi (koefisien 0.157). Untuk merumuskan startegi pemasaran yang adaptive, penulis menggunakan IPMA (Importance-Performance) analisis yang menggabungkan hasil path koefisien dan rata-rata data survey utnuk menghasilkan list prioritas strategi. Hasil menunjukkan bahwa prioritas pertama yang harus ditingkatkan dalam penyusunan startegi adalah faktor personal dan promosi karena memiliki nilai path koefisien tinggi namun masih kurang secara performa atau nilai rata-rata survey. Oleh karena itu, sangat penting bagi Perusahaan untuk menargetkan persona konsumen seperti umur (PER1), pekerjaan (PER2), aktivitas (PER3), pendapatan (PER4), gaya hidup (PER7) dan perlu juga memprioritaskan support banner toko (PRM5) yang memiliki skor paling tinggi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam kepada praktisi industri untuk keperluan manajemen bisnis yang bertanggung jawab serta berkontribusi terhadap pengembangan ilmu ppengetahuan dalamanalisis perilaku konsumen dan adaptasi strategi pemasaran di industri tembakau.