📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENGARUH KOMBINASI LINGKUNGAN CAHAYA DAN MEDIA BELAJAR TERHADAP VISUAL WELL-BEING BERBASIS HUMAN-CENTRIC LIGHTING DI RUANG KELAS

Peningkatan penggunaan media belajar digital menambah kompleksitas lingkungan pencahayaan di ruang kelas. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut terkait efeknya pada siswa. Perkembangan penelitian selama 10 tahun terakhir berfokus pada pencahayaan yang berpusat pada manusia atau Human-centric Lighting (HCL). HCL adalah semua jenis cahaya yang meningkatkan aspek visual, biologis, dan emosional manusia. Penelitian terdahulu di bidang HCL belum banyak yang mengevaluasi melalui pengukuran subjektif dari manusia terutama di fasilitas edukasi. Sehingga penelitian ini penting dilakukan untuk mengisi research gap tersebut. Indikator keberhasilan HCL yaitu peningkatan visual, biologikal, dan emosional digunakan untuk mengungkap visual well-being dari siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun teori tentang pengaruh dari faktor lingkungan cahaya dan media belajar terhadap visual well-being berbasis HCL di ruang kelas. Penelitian disertasi ini menggunakan metode eksperimental dengan 24 setting eksperimen yang merupakan kombinasi dari tipe jendela (bukaan samping dan bukaan belakang), bukaan tirai (tirai tertutup, tirai terbuka setengah, dan tirai terbuka penuh), dan jenis media belajar (whiteboard, glassboard, proyektor, dan smart TV). Penelitian ini melibatkan 45 siswa sebagai responden pada ruang kelas tipe bukaan belakang dan 25 siswa pada tipe bukaan samping dengan keseluruhan responden memiliki kronotipe menengah dan refraksi visual normal ataupun telah dikoreksi. Indikator yang akan dinilai pada penelitian ini adalah respons kejelasan visual, kelelahan visual, dan kenyamanan visual. Penelitian ini mengungkap bahwa visual well-being siswa terbentuk melalui interaksi dinamis antara respons kejelasan, kelelahan, dan kenyamanan visual yang saling memengaruhi, dengan kenyamanan visual sebagai faktor yang paling mendominasi visual well-being. Faktor-faktor yang membentuk visual well-being dapat diungkap melalui pemahaman mendalam terhadap respons-respons tersebut. Respons kejelasan visual terbentuk oleh dua indikator, yaitu performa dan persepsi kejelasan visual, yang dipengaruhi oleh kontras tugas, luminans media belajar, serta posisi duduk siswa. Karakteristik teks sebagai faktor yang berhasil diidentifikasi di luar hipotesis, menjadi salah satu faktor dominan dalam membentuk kejelasan visual siswa. Sedangkan kelelahan visual terbentuk dari lingkungan pencahayaan baik pada posisi duduk siswa maupun pada media belajar, faktor risiko flicker dari media belajar, dan efek non-linear dari jarak duduk. Faktor manusia juga berhasil diidentifikasi sebagai faktor yang turut memengaruhi kelelahan visual. Walaupun kelainan refraksi mata telah dikoreksi menggunakan lensa atau kacamata, efeknya tetap signifikan pada kelelahan visual. Persepsi kejelasan visual menjadi faktor kunci yang tidak hanya memengaruhi kenyamanan visual secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui pengurangan kelelahan visual. Selain faktor yang diduga pada hipotesis, penelitian ini juga mengungkap faktor gangguan visual turut memengaruhi respons HCL dan persepsi keseragaman cahaya sebagai faktor yang dominan dalam membentuk kenyamanan visual. Bila kejelasan visual dapat terbentuk dengan menetapkan kontras luminans yang tinggi (dapat dicapai dengan mengatur white luminance dan warna konten), kelelahan visual terjadi akibat ketidakseragaman cahaya pada posisi duduk dan kecerahan bidang tugas. Kecerahan bidang tugas perlu lebih tinggi dibandingkan dengan cahaya pada posisi duduk yang dapat dicapai dengan mengatur white luminance melalui penggunaan luminous device ataupun melalui penambahan luminer pada saat menggunakan non-lit device. Karakteristik lingkungan cahaya di ruang kelas dan media belajar telah berhasil diidentifikasi sebagai faktor yang membentuk visual well-being. Lebih dalam, penelitian ini berhasil mengungkap adanya faktor spasial dan manusia dalam membentuk respons tersebut. Dengan demikian, visual well-being tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan eksternal, tetapi juga dipengaruhi oleh respons individu yang bersifat subjektif dan kompleks. Penelitian ini menekankan pentingnya kesesuaian konfigurasi ruang kelas, persentase bukaan cahaya dan karakteristik media belajar dalam mendukung visual well-being siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa non-lit device memerlukan pencahayaan ruang yang cukup, sehingga ruang kelas dengan jendela samping menjadi lebih tepat. Sebaliknya, luminous device (reflected- dan self-lit device) membutuhkan stabilitas luminans layar, sehingga ruang kelas dengan jendela belakang lebih optimal. Proporsi bukaan cahaya diantara 59–64% dari luas dinding fasad interior saat menggunakan luminous device terbukti memberikan kondisi visual well-being terbaik. Sedangkan saat menggunakan non-lit device dibutuhkan bukaan yang lebih besar yaitu 73%. Secara keseluruhan, penggunaan self-lit device terbukti memberikan kondisi optimal melalui high clarity-low fatigue yang akhirnya mampu meningkatkan kenyamanan visual dan mencapai visual well-being. Temuan ini menjadi acuan penting dalam desain ruang kelas yang menyeimbangkan distribusi cahaya dan kesejahteraan visual. Kontribusi ini memberikan dasar teoretis dan praktis bagi perancangan ruang kelas dan ruang sejenis yang lebih adaptif dan mendukung kesehatan visual.

2026
👤 Penulis: Christy Vidiyanti
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGEMBANGAN STRATEGI OPERASIONAL UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PERAWATAN: STUDI KASUS PROF RENTAL BALIKPAPAN

Meskipun usaha mikro sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, usaha ini sering kali bergumul dengan masalah efisiensi operasional yang membahayakan kelangsungan jangka panjang mereka. Kesulitan-kesulitan ini juga tercermin dalam Prof Rental Balikpapan, sebuah perusahaan penyewaan sepeda motor di Kalimantan Timur. Walau permintaan pasar dan pendapatan menunjukkan tren positif selama tujuh bulan pertama, perusahaan mengalami volatilitas biaya perawatan yang signifikan, melebihi anggaran hingga 394% antara Januari–Juli 2025. Ketidakpastian ini mengganggu profitabilitas dan menghambat ekspansi armada, sehingga diperlukan strategi operasional yang terstruktur untuk menstabilkan biaya dan meningkatkan keandalan. Penelitian ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan utama: (1) Faktor apa yang menyebabkan tingginya biaya perawatan yang tidak konsisten di Prof Rental Balikpapan? (2) Bagaimana jadwal perawatan preventif dapat disusun untuk menekan biaya dan memastikan ketepatan waktu servis? (3) Bagaimana Standard Operating Procedure (SOP) terstandarisasi dapat dikembangkan untuk menjamin disiplin pelaksanaan perawatan? Untuk memberikan jawaban atas ketiga pertanyaan utama tersebut, dipilih pendekatan campuran yang menggabungkan antara analisis kuantitatid dan analisis kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan pendiri, staf operasional, dan mekanik eksternal, sedangkan data sekunder mencakup catatan keuangan, log perawatan, dan panduan Original Equipment Manufacturer (OEM). Analisis kualitatif melalui content analysis dan pemetaan proses Business Process Model and Notation (BPMN)mengungkap kelemahan sistemik: perilaku perawatan reaktif, ketiadaan jadwal berbasis penggunaan, ketergantungan pada bengkel eksternal, serta dokumentasi yang terfragmentasi. Temuan ini diperkuat oleh hasil dari analisis kuantitatif. Statistik deskriptif dan analisis Pareto menunjukkan 36,89% dari total biaya perawatan terkonsentrasi pada overhaul mesin, sementara variabilitas interval kegagalan melebihi 50% pada unit berisiko tinggi, menandakan absennya mekanisme kontrol preventif. Sebagai solusi, penelitian ini merancang jadwal perawatan preventif menggunakan Failure Interval Analysis (FIA), yang menghitung interval perawatan berdasarkan paparan hari sewa, bukan asumsi kalender. Rencana ini membedakan interval berdasarkan tingkat keandalan unit, dengan pemeriksaan bulanan untuk unit berisiko tinggi dan pemeriksaan triwulanan untuk unit baru. Proyeksi biaya menunjukkan bahwa peralihan dari perawatan reaktif ke preventif dapat menurunkan total pengeluaran sekitar 60%, dari Rp 7.103.000 menjadi Rp 3.470.000 dalam enam bulan, sekaligus meningkatkan prediktabilitas dan mengurangi downtime. Rencana ini akan diterapkan untuk jangka pendek selama enam bulan, dengan evaluasi pada bulan ketujuh untuk memastikan efektivitas pengendalian biaya. Untuk menjamin disiplin pelaksanaan, Standard Operating Procedure (SOP) terstandarisasi dikembangkan dengan mengintegrasikan pemicu preventif, ambang batas persetujuan, dan protokol dokumentasi. Standard Operating Procedure (SOP) ini memformalkan peran, memperkenalkan Maintenance Work Order (MWO) untuk penguncian anggaran, serta mewajibkan mekanisme reset untuk menjaga kesinambungan siklus preventif. Dengan melakukan tindakan-tindakan ini, perawatan diubah dari proses yang ad hoc dan reaktif menjadi sistem yang terorganisir dan berbasis data. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan strategi preventif berbasis keandalan dan standarisasi proses untuk mencapai stabilitas biaya dan ketahanan operasional pada usaha mikro. Dengan mengintegrasikan penjadwalan berbasis Failure Interval Analysis (FIA) dan tata kelola Standard Operating Procedure (SOP), studi ini memberikan kerangka praktis untuk meningkatkan efisiensi perawatan dalam bisnis jasa dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian lanjutan disarankan untuk melakukan evaluasi jangka panjang dan mengeksplorasi digitalisasi atau solusi berbasis Internet of Things untuk pemantauan perawatan secara real-time.

2026
👤 Penulis: Eva Ervina
🏷️ Efisiensi Perawatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Mikro 🏷️ Kecerdasan Buatan

DESIGNING A FUNCTIONAL ORGANIZATIONAL STRUCTURE FOR BUSINESS SUSTAINABILITY IN A FAMILY-OWNED GARMENT SME: A CASE STUDY OF RAGAM JAYA GARMENT HOUSE

Ragam Jaya Garment House merupakan UKM garmen milik keluarga berbasis di Bandung yang berdiri pada tahun 1997 dan menjalankan model bisnis made-toorder untuk produk apparel dan merchandise institusi. Walaupun perusahaan telah beroperasi dalam jangka panjang, koordinasi kerja harian masih sangat bergantung pada kebiasaan informal dan pengawasan langsung dari owner. Isu utama yang ditemukan meliputi tidak adanya struktur organisasi tertulis dan kejelasan kepemilikan peran, pengambilan keputusan yang terpusat pada owner pada aktivitas operasional, serta meningkatnya risiko keberlanjutan dan kesinambungan bisnis ketika perusahaan mulai memasuki fase transisi generasi. Kondisi ini menimbulkan bottleneck koordinasi, meningkatkan risiko miskomunikasi dan rework ketika terjadi perubahan pesanan, serta membuat alur operasional kurang stabil saat owner tidak selalu tersedia. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif interpretif melalui wawancara semi terstruktur dengan owner, generasi kedua, admin, dan senior produksi, didukung observasi langsung serta telaah dokumen internal. Data dianalisis menggunakan thematic coding dan kemudian dipetakan dengan alat desain organisasi seperti Porter Value Chain, APQC Process Classification, matriks RACI, archetype organisasi Mintzberg, Span of Control serta Galbraith Star Model. Solusi yang diusulkan adalah struktur fungsional berbasis peran yang didukung batasan decision rights dan minimum process controls pada titik handoff dan persetujuan, sehingga pekerjaan rutin tidak selalu menunggu persetujuan owner. Studi ini memberikan kontribusi praktis tentang bagaimana desain organisasi dapat dikontekstualisasikan untuk UKM bisnis keluarga di Indonesia dengan memperkuat akuntabilitas, menurunkan ketergantungan pada figur kunci, dan meningkatkan kesiapan keberlanjutan operasi pada masa suksesi tanpa menghilangkan fleksibilitas kerja.

2026
👤 Penulis: Avan Farel Al Falah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PRICING SYSTEM UNTUK INDUSTRI FREIGHT FORWARDING INDONESIA: STUDI KASUS PT ADHI SURYA AMANAH

PT Adhi Surya Amanah (ASA Trans), perusahaan pengiriman barang B2B domestik di Indonesia, mengalami inefisiensi yang konsisten dalam proses penetapan harga yang menghambat pelaksanaan yang tepat waktu dan akurat yang diperlukan untuk tetap kompetitif di pasar. Perusahaan sebagian besar bergantung pada metode manual untuk persiapan penawaran, di mana informasi diperoleh secara terfragmentasi dan tersebar di berbagai spreadsheet, email, dan catatan tulisan tangan. Konsekuensi dari metode ini adalah keputusan penetapan harga yang fluktuatif, proses penawaran yang panjang, dan ketergantungan yang berlebihan pada interpretasi staf, yang membatasi kemampuan perusahaan untuk merespons dengan cepat permintaan pelanggan dalam lingkungan logistik yang semakin padat. Inefisiensi ini juga menghadirkan tantangan ilmiah dan manajerial, karena penetapan harga yang akurat dan tepat waktu sangat penting untuk profitabilitas dan kinerja pasar bagi perusahaan pengiriman barang. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengembangkan, menguji, dan membangun infrastruktur peramalan harga berbasis data yang akan membantu memaksimalkan efisiensi, meminimalkan kesalahan manusia, dan memberdayakan ASA Trans untuk membuat keputusan strategis yang lebih baik. Studi ini menganalisis alur kerja ASA Trans, membantu mengidentifikasi akar penyebab inefisiensi tersebut. Penilaian ini mengidentifikasi empat kelemahan utama: informasi harga yang terfragmentasi dan tidak terstruktur, verifikasi manual, kurangnya akses ke informasi biaya dan pasar terkini, dan peningkatan ketergantungan pada penilaian subjektif. Semua ini berkontribusi pada penurunan keandalan operasional dan membatasi pertumbuhan perusahaan. Untuk mengatasi tantangan ini, studi ini mengusulkan model peramalan berdasarkan asumsi bahwa informasi historis tentang biaya, tarif angkutan, dan harga ASA Trans dapat memberikan tren operasional yang diperlukan untuk peramalan yang akurat. Studi ini juga mengasumsikan bahwa tren pasar seperti harga bahan bakar dan tol dapat diprediksi dan spesifik. Penelitian ini akan mengidentifikasi persyaratan data untuk prediksi harga, metodologi peramalan acuan, mengembangkan sistem prediksi harga yang layak, dan mengintegrasikannya ke dalam alur kerja ASA Trans. Untuk mencapai tujuan ini, para peneliti melakukan proses multi-tahap. Untuk memperoleh data primer, mereka mengumpulkan data tarif angkutan internal, catatan biaya operasional, dan harga historis, sementara data sekunder dikumpulkan melalui perbandingan tarif angkutan dan kartu tarif pesaing. Tahapan ini meliputi pembersihan data, standardisasi data, analisis data eksplorasi, pembuatan model, dan validasi proses pembelajaran mesin. Secara spesifik, tiga model digunakan: Regresi Linier Berganda, Random Forest, dan LightGBM untuk mengidentifikasi pendekatan mana yang memberikan prediksi paling akurat dan operasional. Evaluasi model dilakukan menggunakan MAE, RMSE, dan MAPE bersama dengan kriteria validasi bisnis seperti kecepatan penawaran, kemudahan penggunaan, dan keselarasan dengan tujuan keuangan. Hasil menunjukkan bahwa model Random Forest mencapai kesalahan terendah dan konsistensi hasil tertinggi di berbagai situasi pengiriman. Model ini dapat memodelkan asosiasi nonlinier dan oleh karena itu berpotensi menjadi solusi yang baik untuk struktur multidimensional dan berbasis biaya dari industri angkutan domestik Indonesia. Model Random Forest diimplementasikan melalui Sistem Peramalan Harga berbasis web yang dikembangkan di ASA Trans. Pada fase pertama implementasi, model tersebut diimplementasikan sebagai alat kerja yang memungkinkan pengguna untuk memasukkan perkiraan biaya pengiriman, biaya operasional, dan waktu tunggu. Hasil uji menunjukkan bahwa waktu penyelesaian penawaran telah berkurang dari beberapa jam menjadi beberapa menit, menunjukkan peningkatan efisiensi operasional yang signifikan. Umpan balik pengguna selama proses pelatihan dan orientasi menunjukkan bagaimana sistem tersebut meningkatkan konsistensi, mengurangi beban kerja administratif, dan menghasilkan keputusan penetapan harga yang lebih akurat.

2026
👤 Penulis: Shofi Rafiiola
🏷️ Pengiriman Barang 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI TRIBOLOGI ALUMINIUM A356 DENGAN LUBRIKASI OLI 10W-40 DAN PENAMBAHAN GRAPHENE OXIDE

Graphene oxide (GO) merupakan material yang mulai digunakan sebagai bahan aditif pada pelumas kendaraan bermotor. Penambahan GO tersebut dikarenakan strukturnya yang dapat mengurangi gaya gesek yang dihasilkan. Pelumas yang ditambahkan dengan graphene oxide akan bekerja lebih efektif dalam melindungi mesin pembakaran pada kendaraan bermotor. Penelilitan ini berfokus pada pengukuran pengurangan massa serta koefisien gesek yang dihasilkan menggunakan alat pin-on-disk. Alat tersebut memungkinkan simulasi performa pelumas yang ditambahkan dengan graphene oxide pada permukaan komponen mesin kendaraan bermotor. Dalam pengujiannya, digunakan variasi jenis pelumasan yang berupa pengujian tanpa pelumas, dengan pelumas, dan dengan pelumas yang ditambahkan graphene oxide. Studi ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh pelumas dan aditif graphene oxide terhadap tingkat keausan abrasif pada paduan aluminium A356 dan mempelajari pengaruh pelumas dan aditif graphene oxide terhadap koefisien gesek yang dihasilkan. Pada pengujian ini, pegnujian akan dilakukan menggunakan uji gesek dan uji koefisein gesek dengan sampel logam dengan diameter kurang lebih 2x2x2 cm dengan variasi pelumasan; tanpa pelumas, dengan pelumas, serta pelumas yang ditambahkan graphene oxide sebanyak 1 mg/ml. Dari hasil pengujian yang dilakukan, didaptkan bahwa graphene oxide akan mengurangi massa yang hilang pada sampel aluminium (pengujian tanpa adanya penambahan pelumas sebesar 0,0032 g, menggunakan pelumas sebesar 0,0002 g, dan menggunakan pelumas yang ditambahkan graphene oxide sebesar 0,0002 g) dan mengurangi koefisien gesek yang dihasilkan (tanpa adanya penambahan pelumas sebesar 0,0827, menggunakan pelumas sebesar 0,0595, dan menggunakan pelumas yang ditambahkan graphene oxide sebesar 0,0584) yang secara statistik tidak signifikan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Zhafran Ammar Fahrezi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI SILIKAT DALAM MEDIA PERTUMBUHAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIOLOGIS DAN PROFIL PROTEOM NAVICULA SALINICOLA NLA

Diatom adalah salah satu kelas mikroalga yang memiliki dinding sel yang terbuat dari silika (frustula). Oleh karena itu, struktur cangkang diatom bersifat kokoh dan tidak mudah terdegradasi. Tanpa silikat dalam media pertumbuhan, diatom tidak dapat membentuk dinding sel yang kuat dan menjadi rentan terhadap serangan predator. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi silikat terhadap pertumbuhan, morfologi, dan fotosintesis diatom laut tropis Indonesia, spesies Navicula salinicola NLA. Pada penelitian ini dilakukan kultivasi Navicula salinicola NLA pada media dengan variasi konsentrasi Na2SiO3 15 g/L dan 45 g/L. Pola pertumbuhan dianalisis melalui kurva kerapatan sel, sedangkan morfologi diamati menggunakan mikroskop cahaya dan SEM. Laju fotosintesis ditentukan berdasarkan evolusi oksigen. Konsentrasi silikat 45 g/L dalam medium pertumbuhan menghasilkan kerapatan sel, ukuran sel, dan ukuran pori frustula yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi silikat 15 g/L. Selain itu, laju fotosintesis sel yang ditumbuhkan pada konsentrasi silikat 45 g/L lebih tinggi daripada silikat 15 g/L pada pH 6 (sumber karbon anorganik dominan: CO2), namun laju fotosintesis antar variasi silikat tidak berbeda pada pH 7,3 (sumber karbon anorganik dominan: HCO3-). Hal ini mengindikasikan bahwa kandungan silikat dalam medium pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan fiksasi CO2 dan fotosintesis. Selanjutnya, analisis proteomik dilakukan untuk mengidentifikasi jenis dan kelimpahan protein yang berfluktuasi akibat variasi silikat. Sebelas protein yang menunjukkan perbedaan kelimpahan akibat variasi silikat adalah protein pengikat klorofil A-B, hypothetical chloroplast RF39, protein pemanen cahaya fukosantin klorofil A/C, protein pengikat FMR1, histidin kinase, peptidase A1, dioksigenase Fe2OG, protein pengikat DNA winged-helix famili E2F/DP, protease pemotong ujung karboksil, dan dua protein yang belum dikarakterisasi. Beberapa protein tersebut terlibat langsung dalam proses fotosintesis dan memiliki kelimpahan yang lebih tinggi pada konsentrasi silikat 45 g/L dibandingkan dengan 15 g/L. Oleh karena itu, kandungan silikat yang lebih tinggi dalam medium pertumbuhan meningkatkan kemampuan fotosintesis sel.

2026
👤 Penulis: Nur Shabrina Rufaidah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Proteomologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMANFAATAN MOLASE TEBU YANG DIBERI PERLAKUAN INVERTASE SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER KARBON UNTUK PRODUKSI ENZIM REVERSE TRANSCRIPTASE REKOMBINAN OLEH ESCHERICHIA COLI BL21 (DE3)

Reverse transcriptase (RT) merupakan enzim yang berperan dalam mengkatalis reaksi konversi RNA menjadi complementary DNA (cDNA). Pada penelitian sebelumnya telahdilakukan pengembangan enzim rekombinan RT dengan menggunakan sistemekspresi bakteri E. coli BL21 dalam medium Luria Bertani (LB). Namun, hasil tersebut dianggapbelum optimal karena penggunan media LB dinilai kurang efisien secara ekonomi dansebagian besar protein diekspresikan pada inclusion body. Sehingga penelitianini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan molase tebu yang diberi perlakuan invertase(Invertase Treated Molasses, ITM) sebagai sumber karbon alternatif dalamproduksi enzim RT rekombinan. Pada penelitian ini, Sumber karbon molase diberi perlakuaninvertase selama 24 jam pada suhu 50 oC, selanjutnya, komponen gula dikuantifikasi dengan metode HPLC. Transformasi plasmid yang berisi gen pengkode enzimRTdilakukan pada sel E. coli DH5? dan E. coli BL21 (DE3), keberhasilan transformasi dikonfirmasi menggunakan metode PCR koloni. Keberhasilan dari ekspresi enzimRTrekombinan dikonfirmasi menggunakan metode SDS-PAGE. Berikutnya dilakukanpembuatan kurva standar E. coli BL21 (DE3) menggunakan suspensi sel yang berasal dari kultur padat yang telah diinkubasi overnight pada suhu 37 oC. Dilanjutkan denganpembuatan kurva tumbuh pada media minimal dengan variasi konsentrasi ITM(1%dan2%) dan konsentrasi garam (1 dan ½). Media dengan kinetika pertumbuhan terbaikdilanjutkan sebagai media produksi pada suhu 25 oC dan 37 oC dengan (A) dan tanpaaktivasi (TA). Analisis ekspresi protein dilakukan dengan metode SDS-PAGEdenganbantuan software ImageJ. Uji aktivitas dilakukan menggunakan metode two step RT- qPCR dengan membandingkan nilai Ct perlakuan terhadap nilai Ct RT komersial (?Ct). Pada hasil PCR koloni diperoleh pita DNA berukuran ~2.5 kb dan konfirmasi ekspresi diperoleh pita protein berukuran ~82 kDA. Hasil HPLC menunjukkan terjadi peningkatankonsentrasi fruktosa dan glukosa sebesar 137% dan 158% serta penurunan konsentrasi sukrosa sebesar 75% pada molase dengan perlakuan invertase jika dibandingkan denganmolase tanpa perlakuan invertase. Secara keseluruhan laju pertumbunan pada keempat variasi media molase jika dibandingkan dengan LB secara statistik tidak menunjukkanperbedaan yang signifikan. Kinetika pertumbuhan terbaik ditunjukkan oleh variasi medium 1,1 dan 1,½ dengan laju pertumbuhan (µ) 0.537 dan 0.542 jam-1 tanpa adanyafase lag di awal pertumbuhan. Berdasarkan hasil analisis ekspresi, protein RTdengantingkat ekspresi tertinggi pada media ITM diperoleh pada variasi 1,1 yang diinkubasi pada suhu 37°C dengan perlakuan aktivasi (1,1-37A). Hasil ini sejalan dengan hasil uji aktivitas, variasi ini memiliki rata-rata ?Ct paling rendah yaitu 2.56. Oleh karena itudapat disimpulkan molase yang diberi perlakuan invertase dapat digunakan sebagai sumber karbon dalam produksi enzim RT rekombinan tetapi perlu dioptimasi lebih lanjut. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah penggunaan metode RSM(Response SurfaceMethodology) untuk mengoptimasi komponen media dan scale-up produksi ke volumeyang lebih tinggi.

2026
👤 Penulis: Lili Fatri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EKSPRESI DAN KARAKTERISASI REKOMBINAN SPIDROIN AMPULAT UTAMA SUBTIPE-2 (MASP2 N-R12-C) PADA PICHIA PASTORIS

Sutra dragline disekresikan oleh kelenjar spesifik laba-laba untuk membentuk rangka dari jaring laba-laba sebagai mobilitas dan perlindungan diri. Sutra ampulat utama terdiri dari gabungan berbagai subtipe sehingga dapat menyusun sutra yang memiliki kekuatan dan elastisitas lebih tinggi dibandingkan dengan sutra baja. Secara umum, sutra laba-laba disusun oleh spidroin, polipeptida besar yang terbagi menjadi tiga bagian utama, terdiri dari: bagian tengah yang berulang serta dua bagian ujung globular kecil yang lestari. Spidroin ampulat utama subtipe-2 (MaSp2) adalah salah satu subtipe spidroin ampulat utama yang memiliki urutan poli-alanin dan kaya akan residu glisin pada daerah perulangan dan motif GPGQQ sehingga dapat membentuk struktur belokkan pada lembaran-? untuk meningkatkan elastisitas sutra laba-laba. Selain komposisi asam amino serta motif pada daerah perulangan, modifikasi pascatranslasi menjadi peran penting lainnya dalam memodulasi konformasi tingkat struktur sekunder dan proses pembentukan serat sutra, yang melibatkan perubahan gugus fosfor dan hidroksil pada residu asam amino tertentu. Untuk memahami peran modifikasi pascatranslasi dalam proses pelipatan dan pembentukan sutra, strategi yang dapat dilakukan adalah mengekspresikan gen pengkode MaSp2 pada mikroorganisme yang memiliki sistem modifikasi pasca-translasi salah satunya adalah ragi. Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan gen sintetik MaSp2 pada ragi P. pastoris serta mengkarakterisasikan MaSp2 rekombinan yang telah dimurnikan. Sekuens MaSp2 merupakan gabungan sekuens MaSp2 domain ujung N dan 12 perulangan pada daerah perulangan dari Trichonephila clavipes dan domain ujung C berasal dari sekuens MaSp2 Latrodectus hesperus. Plasmid rekombinan pPICZA- MaSp2 yang membawa gen sintetik MaSp2 (N-R12-C) telah dikonstruksikan secara komersial serta digunakan dalam konstruksi P. pastoris X-33-MaSp2. Hasil analisis PCR transforman ragi menunjukkan pita DNA berukuran ~1,8 kpb yang mengkonfirmasi gen MaSp2 dan pita DNA berukuran ~2,1 kpb yang memverifikasi gen MaSp2 mengandung promotor dan terminator AOX1. P. pastoris X-33 ditransformasikan dengan plasmid linear pPCIZA-MaSp2 dan diseleksi pada media yang mengandung Zeocin. Ekspresi MaSp2 (N-R12-C) dilakukan dengan induksi metanol 2% (v/v) selama 24 jam. Profil SDS-PAGE ekstrak kasar menunjukkan perbedaan profil 60 – 72 kDa serta diatas 72 kDa. Hasil Western Blot mengkonfirmasi berat molekul rekombinan MaSp2 (N-R12-C) berkisar ~74 kDa atau lebih tinggi dari hasil perhitungan teoritikal yang dimungkinkan adanya modifikasi pasca-translasi. Pemurnian rekombinan dilakukan menggunakan resin Ni-NTA dengan peningkatan konsentrasi imidazol. Profil SDS-PAGE hasil pemurnian tanpa agen pereduksi menunjukkan pita multimer >180 kDa dan monomer sekitar ~74 kDa, yang telah divalidasi dari hasil pemetaan fragmen peptida UPLC-HRMS sesuai dengan konstruksi peptida terutama pada domain ujung N. Rekombinan MaSp2 (N-R12-C) diduga mampu membentuk homodimer yang dimediasi Cys560 pada domain ujung C. Interaksi jembatan garam antara Asp38 dan Lys63 pada ujung N berperan dalam mengarahkan orientasi pembentukan homodimer MaSp2. Di sisi lain, protein rekombinan ditemukan dalam bentuk fragmentasi sekitar ~43 kDa yang mengarah pada domain ujung C.

2026
👤 Penulis: Tamamal Afiah Purnomo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KUANTIFIKASI NITROGEN DAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) DENGAN HIDROPONIK WICK SYSTEM MENGGUNAKAN LARUTAN NUTRISI AB-MIX, PUPUK ORGANIK CAIR (POC), DAN PUPUK EMULSI IKAN

Pakcoy merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dapat di budidaya secara hidroponik dengan sistem sumbu (wick system). Budidaya pakcoy secara hidroponik membutuhkan larutan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Larutan nutrisi yang paling umum digunakan yaitu AB Mix. Namun AB mix dapat berakibat toksik dan menimbulkan residu kimia, jika digunakan dalam jangka panjang. Alternatif pengganti nutrisi AB Mix yaitu penggunaan pupuk organik cair dan pupuk emulsi ikan. Penggunaan pupuk organik berpotensi menggantikan peran AB Mix dalam sistem hidroponik, khususnya dalam penyediaan nitrogen dan peningkatan kadar klorofil tanaman pakcoy. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh penggunaan masing-masing larutan nutrisi AB-Mix, pupuk organik cair (POC), dan pupuk emulsi ikan terhadap kandungan klorofil dan nitrogen tanaman pakcoy pada hidroponik wick system. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni – Agustus 2025 di Screenhouse Laboratorium Teknik 1A ITB Kampus Jatinangor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan tiga perlakuan yaitu P1 = Larutan AB Mix (27 mL larutan A + 27 mL larutan B), P2 = POC NASA (23 mL), dan P3 = Pupuk emulsi ikan (16 mL). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil penelitian didapat, kandungan nitrogen maupun kandungan klorofil pada perlakuan AB Mix memiliki hasil yang paling tinggi dibandingkan dua perlakuan yang lain. Perlakuan AB Mix menghasilkan 7,02% untuk total nitrogen dan 4,79 mg/L untuk total klorofil. Sementara itu, perlakuan POC NASA menghasilkan nilai nitrogen 1,82% dan total klorofil 2,49 mg/L, sedangkan pupuk emulsi ikan menghasilkan nitrogen 2,39% dan klorofil 2,45 mg/L. Penggunaan AB Mix pada sistem hidroponik wick memberikan pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan penggunaan pupuk organik cair, baik POC NASA maupun emulsi ikan terhadap kadar nitrogen total tanaman pakcoy. Begitu juga dengan kandungan klorofil, penggunaan AB Mix secara signifikan menghasilkan kandungan klorofil yang lebih tinggi pada daun pakcoy. Ketersediaan hara merupakan faktor penentu utama dalam keberhasilan sistem budidaya hidroponik. Nitrogen pada AB Mix tersedia dalam bentuk anorganik yang langsung diserap akar, sehingga lebih efisien dalam membentuk asam amino, protein, dan klorofil. Sedangkan, pupuk organik cair membutuhkan proses mineralisasi, sehingga ketersediaan haranya lebih lambat, tidak seragam, dan lebih rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat dibuktikan bahwa penggunaan pupuk organik belum mampu menyaingi penggunaan AB Mix, meskipun lebih ramah lingkungan pupuk organik masih menghasilkan total nitrogen dan kadar klorofil yang lebih rendah.

2026
👤 Penulis: Siti Hadiyati
🏷️ Hidroponik 🏷️ Nutrisi Tanaman 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS VARIABILITAS MUSIMAN FLUKS CO2 DAN ESTIMASI KARBON PADA EKOSISTEM LAMUN DI PERAIRAN JEPARA DAN KARIMUNJAWA

Peranan perairan tropis termasuk Indonesia sebagai CO2 source menjadi perhatian penting untuk memahami apakah lautan Indonesia berkontribusi terhadap pelepasan CO2 ke atmosfer. Walaupun begitu, pelepasan CO2 pada perairan dangkal lebih rendah dibandingkan dengan laut lepas. Hal tersebut dikarenakan pada perairan dangkal terdapat ekosistem karbon biru yang salah satunya adalah padang lamun/seagrass meadows. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan padang lamun dalam menyimpan organic carbon stock seagrass (OCS-SG) maupun organic carbon stock sediment (OCS-S) serta fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa; mengkaji pola harian fluks CO2; menganalisis faktor dominan dalam pengendapan OCS dan nilai fluks CO2; serta melakukan pemodelan hidrodinamika dan biogeokimia perairan menggunakan Massachusetts Institute of Technology general circulation model (MITgcm). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data observasi dan data model. Pengambilan data observasi dilakukan pada musim timur (Agustus 2022) dan barat (Februari 2023) menggunakan metode systematic sampling di perairan Jepara (5 stasiun) dan Karimunjawa (7 stasiun). Analisis OCS-SG dan OCS-S menggunakan metode loss on ignition. Model biogeokimia dan fluks CO2 menggunakan MITgcm dengan periode simulasi 1 Januari 2022–31 Mei 2024. Uji statistik dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA), one-way ANOVA, korelasi, dan nonmetric multidimensional scaling. Hasil observasi menunjukkan bahwa jenis lamun dengan OCS-SG tertinggi adalah Oceana serrulata (Jepara) dan Thalassia hemprichii (Karimunjawa). Tingginya OCS-S dan OCS-SG di perairan Jepara (49,6±2,0 dan 19,25±1,84 gCorg m?2 ) dibandingkan Karimunjawa (49,1±1,7 dan 8,98±0,47 gCorg m?2 ) memiliki keterkaitan dengan fluks CO2. Peranan perairan Jepara dan Karimunjawa sebagai CO2 source dengan nilai fluks CO2 musim timur dan barat di perairan Jepara lebih rendah (0,006±0,0006 dan 0,021±0,002 molC m?2 th?1 ) dibandingkan dengan Karimunjawa (0,052±0,003 dan 0,065±0,002 molC m?2 th?1 ). Tingginya fluks CO2 di Karimunjawa dikarenakan adanya tambahan source carbonate di stasiun mangrove yang dekat perairan padang lamun, kalsifikasi dari makroalga Padina pavonica, dan kalsifikasi dari calcareous epifit. Beberapa faktor lainnya turut meningkatkan fluks CO2 seperti suhu permukaan laut (SPL) dan koefisien transfer gas (kwa). Hasil analisis PCA menunjukkan variabel OCS-S dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berbeda tergantung pada lokasi perairan. Di perairan Jepara, OCS-S dominan dipengaruhi oleh dry bulk density (korelasi negatif: r = -0,814 dan p-value < 0,001) dan total suspended solid (korelasi positif: r = 0,811 dan p-value < 0,001). Di perairan Karimunjawa OCS-S lebih dipengaruhi oleh karakteristik biologis lamun, yaitu kerapatan lamun, above-ground biomass dan below ground biomass dengan korelasi sebesar 0,572; 0,569; dan 0,482 dengan p-value < 0,001. Walaupun kedua perairan berperan sebagai CO2 source, stasiun vegetated memiliki nilai fluks CO2 yang lebih rendah dibandingkan stasiun unvegetated. Hal tersebut menunjukkan bahwa lamun memiliki peranan dalam menyerap dan mengurangi karbon anorganik perairan. Hasil analisis PCA menunjukkan fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa saat musim timur dan barat memiliki korelasi positif sangat kuat signifikan dengan kwa. Selain kwa, variabel pCO2sea dan ?pCO2 berkorelasi positif kuat signifikan dan SPL negatif kuat signifikan. Hasil pemodelan MITgcm menunjukkan bahwa nilai fluks CO2 pada daerah studi bervariasi terhadap musim dengan fluks CO2 tertinggi pada musim timur (0,208±0,079 molC m–2 th–1 ) dan terendah pada musim barat (0,016±0,133 molC m–2 th–1 ). Hasil model mampu menjelaskan tingginya fluks CO2 di Karimujawa yang diakibatkan oleh konsentrasi dissolved inorganic carbon yang lebih tinggi dari tambahan source carbonate. Variabilitas biogeokimia dan fluks CO2 di wilayah studi ini dipengaruhi oleh faktor musiman, yaitu perubahan arah arus, kecepatan angin, SPL, dan salinitas secara musiman. Pada musim barat dengan kecepatan angin menguat sehingga terjadi pelemahan stratifikasi bahkan tidak terdapat kedalaman mixed layer depth artinya tidak terdapat stratifikasi yang menyebabkan terjadinya percampuran massa air secara vertikal dari perairan dalam ke permukaan yang menyebabkan terjadinya penurunan suhu perairan, peningkatan nutrien (PO4 tinggi) dan peningkatan produksi fitoplankton ditandai dengan Dissolved Oxygen Phosphate (DOP) dan Dissolved Oxygen (DO) yang tinggi. Sementara itu, pada musim timur dengan kecepatan angin melemah tidak mampu untuk melakukan pencampuran vertikal sehingga terjadi peningkatan suhu perairan, terhambatnya masukan nutrisi secara vertikal ke lapisan mixed layer (fosfat rendah) yang mengakibatkan terjadi penurunan produksi fitoplankton (ditandai dengan DOP dan DO yang rendah). Sementara itu, variabilitas antartahunan (El Niño-Southern Oscillation) tidak memiliki pengaruh signifikan. Adapun kebaruan dari penelitian ini adalah diperolehnya kajian komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pengendapan OCS-SG dan OCS-S serta fluks CO2 di perairan Jepara dan Karimunjawa menggunakan data observasi dan model MITgcm serta keterbatasan dalam pengambilan data observasi dapat terjelaskan dari hasil model MITgcm.

2026
👤 Penulis: Nurul Latifah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

METODE JOB HAZARD ANALYSIS DAN WHAT-IF/CHECKLIST UNTUK IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PEMBANGUNAN ASRAMA GEDUNG C DAN D INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Pada pembangunan asrama gedung C dan D ITB oleh PT X, banyak pekerja tidak menggunakan APD serta banyaknya tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang menyebabkan kecelakaan pada proyek. PT X tidak melakukan identifikasi bahaya dan analisis risko secara terstruktur sehingga akan banyak potensi bahaya terlewatkan dan menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menganalisis risiko, menentukan metode identifikasi bahaya terbaik dan sensitif dalam menentukan skor risiko, menentukan pekerjaan dengan skor risiko tertinggi, dan merekomendasikan tindakan pengendalian. Metode untuk mengidentifikasi bahaya adalah Job Hazard Analysis (JHA) dan What-If/Checklist. Pemilihan metode identifikasi bahaya terbaik menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini adalah bahaya yang didapat dengan JHA adalah bahaya kimia, api/panas, cahaya/sinar las, bising, gerakan, gesekan/kontak dengan alat, listrik, kinetik, getaran, dan tertimpa/terjatuh. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah bahaya gravitasi, gerakan, mekanikal/kinetik, elektrikal, tekanan, temperatur, kimia, radiasi, suara, kontak fisik dengan alat, dan kondisi tidak aman. Risiko bahaya tertinggi metode JHA adalah paparan bising pada pekerja dan pekerja dapat terjatuh dari lantai atap. Sedangkan metode What-If/Checklist adalah susunan bata ringan terjatuh mengenai pekerja dan susunan keramik terjatuh mengenai pekerja (pengangkutan dengan crane). Dari hasil AHP, What-If/Checklist merupakan metode identifikasi bahaya terbaik untuk PT X. Dari skor total risiko secara keseluruhan, metode What-If/Checklist merupakan metode yang paling sensitif dalam penentuan skor risiko. Pekerjaan dengan skor risiko tertinggi secara keseluruhan pada metode What-If/Checklist dan JHA adalah pekerjaan struktur lantai. Tindakan pengendalian risiko dilakukan pada skor risiko proyek yang termasuk dalam tingkatan risiko very high, priority 1, dan substantial.

2026
👤 Penulis: Cretaceous Fadhal Bamahry
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENINGKATAN PRODUKSI KONTEN DIGITAL UNTUK UKM : PENDEKATAN DESIGN SCIENCE UNTUK PENGEMBANGAN ALUR KERJA TERINTEGRASI AI

Penelitian ini mengkaji perancangan ulang workflow produksi konten Instagram yang terintegrasi AI untuk meningkatkan kecepatan, konsistensi, dan keandalan layanan bagi klien SME di Pallas Creative, sebuah agensi digital marketing. Seiring meningkatnya ketergantungan SME pada Instagram untuk membangun awareness dan mendorong penjualan, agensi dituntut untuk menghasilkan konten secara tepat waktu dan konsisten. Namun, tantangan operasional seperti brief yang kurang jelas, revisi berulang, dan koordinasi yang terfragmentasi sering memicu keterlambatan, rework, serta lead time yang tidak stabil. Karena itu, penelitian ini menyoroti masalah utama yaitu bagaimana workflow produksi konten berbasis AI dapat dirancang dan diimplementasikan untuk mengurangi inefisiensi tanpa mengorbankan kualitas konten dan kepuasan klien dalam konteks agensi dan SME. Konteks penelitian ini menegaskan kebutuhan akan tata kelola workflow yang lebih terstruktur pada lingkungan media sosial yang dinamis, di mana momentum konten, responsivitas, dan disiplin operasional sama pentingnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Design Science Research yang didukung oleh Business Process Management. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan pihak internal yang terlibat dalam operasional produksi konten serta perwakilan klien SME, serta dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi internal. Workflow eksisting dipetakan menggunakan BPMN untuk mengidentifikasi bottleneck dan loop revisi, sedangkan analisis tematik dan root cause analysis digunakan untuk menyusun temuan, termasuk pengelompokan menggunakan lensa Technology Organization Environment. Temuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan desain dan prinsip perancangan untuk membangun artefak workflow usulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inefisiensi bersifat sistemik dan terutama dipengaruhi oleh keselarasan tahap awal yang lemah, termasuk ketidakjelasan brief dan ketidaksiapan aset, siklus approval dan revisi yang panjang dengan feedback yang terfragmentasi, keterbatasan tracking dan kontrol versi antar tools, serta bottleneck operasional akibat ketergantungan peran dan tingginya permintaan mendadak. Berdasarkan temuan tersebut, workflow berbasis AI yang diusulkan mencakup brief readiness gate, tata kelola revisi dan approval yang lebih jelas melalui single gate approval dan feedback terstruktur, tracking dan versioning terpusat sebagai single source of truth, alur produksi dual lane untuk konten planned dan momentum, serta dukungan AI dengan pendekatan human in the loop untuk pengembangan brief, ideasi, drafting, dan quality check. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan blueprint workflow praktis yang membantu agensi yang melayani SME menurunkan lead time dan rework sekaligus menjaga konsistensi serta keandalan layanan.

2026
👤 Penulis: Andika Rifki Afandi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Digital 🏷️ Analisis Teknologi Organisasi

ANALISIS VALUASI EKONOMI JASA EKOSISTEM PENYERBUKAN DAN STRATEGI PENERAPAN PENYERBUKAN TERKELOLA MEMANFAATKAN KOLONI LEBAH TANPA SENGAT (TETRAGONULA LAEVICEPS) PADA SISTEM PERTANIAN BERBASIS TANAMAN BUDIDAYA: STUDI DI PROVINSI JAWA BARAT

Penyerbukan melalui perantaraan serangga merupakan jasa ekosistem yang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Namun, penurunan populasi polinator akibat intensifikasi pertanian, perubahan penggunaan lahan, dan penggunaan pestisida menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan produksi tanaman perkebunan dan hortikultura. Terdapat masalah dalam kuantifikasi nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan pada tanaman perkebunan dan hortikultura. Begitu pula masalah bagaimana menganalisis potensi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah tanpa sengat (Tetragonula laeviceps) di Jawa Barat. Jawaban terhadap masalah tersebut dapat dijadikan dasar pengembangan strategi mengantisipasi fenomena gangguan terhadap jasa ekosistem penyerbukan. Maka dari itu, Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai ekonomi jasa ekosistem penyerbukan serangga berdasarkan pendekatan produksi melalui perhitungan Economic Value of Insect Pollination (EVIP) pada komoditas perkebunan dan hortikultura, menganalisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni lebah T. laeviceps dengan perbandingan parameter Revenue - Cost Ratio (R/C) tiap komoditas perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat, serta merumuskan strategi pengelolaan menggunakan analisis SWOT dan model bisnis penyerbukan terkelola yang sesuai dengan kondisi regional menggunakan Business Model Canvas (BMC). Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai EVIP sebesar Rp 51,88 juta/hektar/tahun atau setara 14,35% dari total produksi perkebunan dan hortikultura di Jawa Barat. Hasil analisis potensi kelayakan ekonomi penerapan penyerbukan terkelola menggunakan koloni T. laeviceps menunjukkan peningkatan rata-rata nilai R/C sebesar 31,21%. Pada komoditas dengan Dependency Ratio (D) sedang hingga esensial (0,65–0,95), seperti melon (D = 0,95; ?R/C = 3,81); semangka (D = 0,95; ?R/C = 1,41); alpukat (D = 0,65; ?R/C = 1,35); labu siam (D = 0,65; ?R/C = 1,34); jambu biji (D = 0,65; ?R/C = 1,24); mangga (D = 0,65; ?R/C = 1,24); durian (D = 0,65; ?R/C = 1,15); buah naga (D = 0,65; ?R/C = 1,03); ketimun (D = 0,65; ?R/C = 0,88); dan tomat (D = 0,65; ?R/C = 0,92), mengalami perubahan status kelayakan ekonomi dari tidak efisien (R/C < 1) menjadi efisien (R/C > 1) setelah penerapan penyerbukan terkelola. Penerapan penyerbukan terkelola menunjukkan peningkatan nilai R/C pada komoditas lain seperti sawo (D = 0,65; ?R/C = 1,94); stroberi (D = 0,25; ?R/C = 0,34); dan paprika (D = 0,05; ?R/C = 0,11). Adapun pada komoditas dengan ketergantungan terhadap serangga polinator yang lebih rendah (D = 0,05-0,25) cenderung mengalami penurunan R/C seperti pada jeruk bali (D = 0,05; ?R/C = -1,79); kelapa (D = 0,25; ?R/C = -1,58); dan kelapa sawit (D = 0,05; ?R/C = -1,09). Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan kelayakan ekonomi (?R/C) memiliki hubungan positif dengan tingkat ketergantungan tanaman terhadap polinator. Hasil analisis matriks IE menunjukkan bahwa kondisi eksternal dan internal penerapan penyerbukan terkelola berada pada Sel V, dengan skor IFE sebesar 2,52 dan skor EFE sebesar 2,43, sehingga arah pengembangan yang direkomendasikan adalah hold and maintain. Alternatif strategi dari analisis SWOT diimplementasikan ke dalam model BMC menempatkan petani hortikultura dan perkebunan skala kecil hingga menengah, khususnya yang menerapkan sistem pertanian organik dan greenhouse, sebagai segmen pelanggan utama. Proposisi nilai yang ditawarkan meliputi efisiensi penyerbukan, pengurangan kebutuhan penyerbukan manual, potensi peningkatan kualitas hasil panen, serta kesesuaian dengan prinsip pertanian ramah lingkungan. Sumber pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan atau sewa koloni, tetapi juga dari jasa pelatihan, pendampingan, serta produk turunan lebah, dengan dukungan kemitraan antara kelompok tani, kelompok tani hutan, pemerintah, dan akademisi.

2026
👤 Penulis: Rudy Wahyudi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN DASBOR BUSINESS INTELLIGENCE UNTUK MANAJEMEN PERSEDIAAN BERBASIS PERMINTAAN: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DISTRIBUTOR FARMASI MEDIKLUG

Karakteristik distribusi farmasi adalah variasi produk yang sangat beragam dan permintaan produk yang bervariasi bergantung pada pelanggan, sehingga sangat penting untuk memastikan persediaan berada di tempat dan waktu yang tepat agar operasional berjalan efektif. Hal ini dikarenakan keputusan persediaan yang tidak tepat dan tidak mencerminkan penggunaan aktual produk dan layanan oleh pelanggan biasanya mengakibatkan kekosongan stok (stock-outs) pada barang dengan permintaan tinggi, kelebihan stok pada barang dengan permintaan rendah, tingginya hari persediaan (days on inventory), serta penurunan pendapatan. Kondisi ini terutama terjadi ketika organisasi memiliki informasi permintaan yang ekstensif namun tidak memanfaatkannya dalam pengambilan keputusan persediaan. Mediklug adalah perusahaan teknologi kesehatan yang memiliki unit distribusi farmasi dan sistem Rekam Medis Elektronik (RME), yang sedang menghadapi penurunan pendapatan pada periode Juli-September 2025 meskipun memiliki data konsumsi di tingkat klinik. Penelitian ini didasarkan pada masalah kurangnya visibilitas permintaan dalam manajemen persediaan melalui teori Rantai Pasok Berbasis Permintaan (Demand-Driven Supply Chain atau DDSC) yang berfokus pada sinyal permintaan pelanggan yang nyata sebagai dasar keputusan pasokan. Teori Business Intelligence (BI) diterapkan untuk mengoperasionalisasikan data permintaan menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti. Tujuan penelitian ini mencakup analisis ketidaksesuaian antara permintaan dan persediaan, pembuatan intervensi dasbor berbasis BI untuk pengambilan keputusan persediaan, serta penilaian penerimaan solusi yang diusulkan oleh para pemangku kepentingan. Metode studi kasus campuran (mixed-methods) digunakan dalam penelitian ini. Analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dari data konsumsi dan inventaris selama tiga bulan dan menstandarisasi nama produk teks bebas EMR ke penamaan produk inventaris internal. Data kualitatif dikumpulkan menggunakan survei dan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan operasional. Temuan menunjukkan bahwa kesenjangan antara permintaan dan persediaan terjadi secara konstan, dan dasbor BI yang diusulkan mampu meningkatkan visibilitas permintaan serta memfasilitasi pengambilan keputusan. Dasbor tersebut dipersepsikan oleh pemangku kepentingan sebagai solusi yang berguna, layak diterapkan, dan dapat ditindaklanjuti. Penelitian ini bernilai karena mengilustrasikan fasilitasi praktis prinsip-prinsip DDSC dalam distribusi farmasi dengan bantuan BI.

2026
👤 Penulis: Nicolaus Ernest Mamonto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Bisnis 🏷️ Kecerdasan Buatan

DESAIN PLATFORM PERANTARA DIGITAL UNTUK MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI USAHA MIKRO PADA KONSER K-POP DI INDONESIA DENGAN MEMFASILITASI KOORDINASI DAN MENINGKATKAN KEPERCAYAAN

Pertumbuhan pesat industri K-pop di Indonesia telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar K-pop terbesar. Hal ini tercermin dari kuatnya penetrasi budaya K-pop di kalangan generasi muda di Indonesia yang terlihat dari tingginya tingkat pengeluaran penggemar untuk konser serta berbagai layanan pendukung lainnya. Permintaan yang ada mendorong munculnya usaha mikro di lingkungan konser yang menawarkan berbagai jasa seperti akomodasi, jasa tata rias, dan penyewaan peralatan terkait konser. Studi ini menunjukkan bahwa ketiadaan standarisasi prosedur layanan dan mekanisme untuk meningkatkan rasa kepercayaan dalam ekosistem layanan informal meningkatkan rasa ketidakpastian dan menghambat kualitas layanan bagi penyedia maupun pelanggan. Oleh karena kondisi tersebut, studi ini merekomendasikan pengembangan platform perantara dalam mengurangi permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan exploratory sequential mixed method. Tahap awal penelitian menggunakan fase kualitatif melalui wawancara terhadap 24 partisipan dari kalangan pelanggan dan penyedia untuk mengeksplorasi perilaku, motivasi, dan tantangan operasional dalam setiap interaksi di dalam ekosistem. Data pada tahap ini dianalisis menggunakan Customer Journey Map dan Empathy Map untuk menilai kondisi ekosistem serta mengidentifikasi permasalahan yang menghambat pertumbuhan industri. Selain itu, Doblin’s Ten Types of Innovation digunakan untuk mengkonseptualisasikan strategi inovasi yang dapat diimplementasikan. Selanjutnya, fase kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 150 pelanggan untuk memvalidasi inovasi agar sesuai dengan ekspektasi pengguna secara keseluruhan. Pada tahap ini, Value Proposition Canvas digunakan untuk menilai kesesuaian solusi dengan ekspektasi pelanggan, sementara Lean Canvas dilakukan untuk menerjemahkan konsep menjadi nilai yang dapat diberikan kepada setiap stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standarisasi prosedur layanan dan inovasi yang meningkatkan rasa kepercayaan dapat mengurangi permasalahan yang ada dan membantu profitabilitas jangka panjang yang ditunjukkan melalui Minimum Viable Product. Hal ini diperkuat oleh trust-oriented design factors dan benchmarking analysis untuk memperjelas posisi solusi platform saat ini dalam menjawab permasalahan dan mengarahkan platform menuju pengembangan yang selanjutnya. Studi ini menunjukkan peran platform perantara yang dapat mentransformasi interaksi informal pada eksosistem usaha mikro menjadi lebih terstruktur dan akuntabel.

2026
👤 Penulis: Aurellio Fishandy
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 68 dari 418
💬