📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

USULAN PERANCANGAN MANAJEMEN HUBUNGAN PEMASOK UNTUK MENDUKUNG INOVASI DI PARAGONCORP

Penelitian ini mengusulkan perancangan model manajemen hubungan pemasok (SRM) untuk mendorong inovasi pada perusahaan kosmetik Indonesia dengan rantai pasok yang menggunakan sistem tarik, Paragoncorp. Penelitian ini didasari pada perkembangan pesat industri kecantikan dan sangat tersegmentasi akibat perubahan perilaku konsumen, meningkatnya permintaan akan variasi produk, dan persaingan yang didorong oleh inovasi dan keterikatan digital yang cepat. Industri kosmetik di Indonesia menghadapi tantangan seperti permintaan yang fluktuatif, persyaratan kualitas kemasan yang kompleks, serta kebutuhan bisnis untuk menjaga kelincahan, terutama dalam persaingan local maupun global. Perusahaan telah meluncurkan lebih dari 400 SKU baru pada tahun 2024 dan meningkat dari tahun ke tahun, sementara mengharapkan waktu pengembangan yang lebih singkat dari rata-rata 18 bulanmenjadi 6 bulan. Sembari menangani sejumlah besar SKU, perusahaan juga menghadapi masalah pemenuhan pasokan dengan rata-rata 91.84 % pada tahun 2024. Dari selisih pemenuhan pasokan material, kelincahan dan keandalan pemasok merupakan akar penyebab utama yang berkontribusi sebesar 78.89 %. Oleh karena itu, pemasok memainkan peran penting tidak hanya dalam operasi pasokan, tetapi juga mendorong inovasi yang penting untuk mempertahankan keunggulan kompetitif. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan utama: (1) Apa saja pertimbangan pemasok untuk mendukung pelanggan mereka terkait inovasi? (2) Bagaimana memodelkan SRM yang dapat membangun ekosistem untuk mendukung inovasi di Paragoncorp sebagai perusahaan kosmetik dengan rantai pasok sistem tarik? (3) Bagaimana peran bagian Sourcing dan Procurement dapat menjadi pendorong inovasi di perusahaan? Penelitian ini bertujuan untuk merancang model SRM di Paragoncorp yang mengintegrasikan aspirasi internal perusahaan dan ekspektasi pemasok eksternal, sehingga mendorong kolaborasi dan inovasi. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggabungkan wawancara ahli internal semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama terkait inovasi di perusahaan, serta survei kuantitatif terhadap 45 pemasok kemasan di Indonesia, Tiongkok, dan Thailand. Studi ini juga menganalisis data pembelian perusahaan menggunakan gabungan kerangka kerja strategis- Matriks Kraljic (untuk menilai risiko pasokan bahan dan dampaknya terhadap lama) dan Model Preferensi Pemasok (untuk memahami persepsi pemasok terhadap daya tarik dan nilai pelanggan). Lebih lanjut, model SERVQUAL digunakan untuk mengevaluasi kesenjangan dalam dimensi kualitas layanaan dari perspektif pemasok, memberikan wawasan tentang kekuatan relasional dan area yang perlu ditingkatkan. Berdasarkan penelitian ini, model SRM yang diusulkan mengintegrasikan lima pilar strategis—sinergi antar-pakar, penciptaan bersama setiap hari, waktu pemasaran yang lebih cepat, keunggulan operasional, dan kemitraan strategis berkelanjutan, yang ditopang oleh prinsip-prinsip integritas, hubungan yang melampaui transaksional, keadilan, dan keterbukaan. Model ini membangun proses SRM yang formal melalui segmentasi pemasok, penilaian kemitraan, definisi strategi, pembangunan hubungan, perencanaan bersama, serta manajemen risiko dan kinerja berkelanjutan. Struktur tata kelola dalam tim lintas fungsi dan dukungan eksekutif direkomendasikan untuk memastikan keselarasan dan komitmen berkelanjutan. Adopsi teknologi seperti platform digital kolaboratif dan dasbor kinerja ditekankan untuk memfasilitasi pembagian informasi secara real-time dan meningkatkan transparansi. Peran pengadaan dan pengadaan berkembang menjadi orkestrasi strategis inovasi dengan mengelola portofolio pemasok, memfasilitasi pemosisian pelanggan pilihan pemasok, dan mengelola detail mulai dari pemilihan pemasok hingga tinjauan kinerja. Pendekatan strategis ini memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan kapabilitas pemasok secara efektif, mengurangi waktu pemasaran, meningkatkan responsivitas dalam rantai pasokan sistem tarik, dan mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar yang bergerak cepat. Penelitian ini berkontribusi pada pengetahuan rantai pasokan dan pengadaan dengan menawarkan kerangka kerja SRM yang holistik, praktis, dan terintegrasi yang disesuaikan dengan konteks kosmetik sistem tarik yang menyeimbangkan aspirasi internal dengan perspektif pemasok, pemosisian portofolio, dan dinamika kualitas layanan untuk memungkinkan inovasi dan kelincahan yang berkelanjutan. Penelitian ini juga memberikan panduan yang dapat ditindaklanjuti dan peta jalan implementasi bagi perusahaan yang ingin mengubah hubungan pemasok menjadi ekosistem inovasi kolaboratif.

2026
👤 Penulis: Sylviana Wibisono
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Inovasi Perusahaan Kosmetik 🏷️ Pengadaan Dan Pengadaan

FAKTOR-FAKTOR UTAMA YANG MEMBENTUK LOYALITAS PELANGGAN DI SUAR RUANG COFFEE GROUND

Studi ini mengkaji bagaimana kualitas layanan, atmosfer toko, dan kewajaran harga berhubungan dengan kepuasan dan loyalitas pelanggan di Suar Ruang, sebuah kedai kopi khusus di pasar kafe urban yang sedang berkembang. Berdasarkan teori pemasaran klasik seperti Rantai Layanan-Laba, model SERVQUAL, dan kerangka kerja pemasaran eksperimental, kami menggunakan desain riset hibrida untuk menangkap persepsi dan niat perilaku pelanggan secara sistematis. Kuesioner terstruktur diberikan kepada pelanggan aktif dan wawancara mendalam dengan manajer dan staf menyertai data kuantitatif ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan yang dirasakan (daya tanggap, keandalan, dan empati) memiliki dampak yang signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas pelanggan. Lingkungan toko, terutama desain/partisi, atmosfer, dan pengalaman sensorik tampak sebagai faktor kunci yang memengaruhi pengalaman pelanggan melalui ikatan emosional dan kunjungan ulang. Hubungan tidak langsung antara kewajaran harga dan loyalitas melalui kepuasan dalam mendukung manfaat nilai yang dirasakan dalam pilihan pelanggan juga ditemukan. Studi ini juga mengakui kemungkinan program loyalitas praktik terbaik, yang terdiri dari program keterlibatan komunitas dan penawaran yang dipersonalisasi, untuk meningkatkan keterlibatan konsumen dan advokasi merek.Penelitian ini mengusulkan kerangka strategis bagi Suar Ruang Coffee Ground untuk memanfaatkan program loyalitasnya dengan menyelaraskan peningkatan operasional dan prinsip experiential marketing. Rekomendasi yang diajukan melampaui konteks studi kasus ini, memberikan implikasi bagi usaha kecil hingga menengah di sektor hospitality. Penelitian ini berkontribusi pada literatur akademik maupun praktik manajerial dengan menjembatani konstruksi teoretis dan strategi yang dapat diterapkan guna mempertahankan daya saing di pasar kopi yang berorientasi pada pengalaman.

2026
👤 Penulis: Muhammad Nabil Fajri
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pemasaran Kreatif 🏷️ Hidrologi

ANALISIS STRATEGI BISNIS UNTUK MENDIRIKAN PERUSAHAAN PENILAIAN KREDIT KARBON DI INDONESIA: STUDI KASUS PT. AGINATANDRA KARYA MANDIRI

Penelitian ini membahas faktor-faktor yang menentukan keberhasilan masuk pasar ke dalam industri penilaian kredit karbon di Indonesia. Studi ini mengisi kesenjangan penting dalam pemahaman tentang bagaimana perusahaan dapat beroperasi secara strategis di lingkungan kelembagaan yang baru berkembang. Pasar karbon di Indonesia memiliki potensi besar dengan kebutuhan pembiayaan iklim mencapai Rp 4.000 triliun hingga 2030, namun masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan lembaga asesor, perubahan regulasi yang cepat, dan infrastruktur teknis yang belum memadai. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran paralel konvergen, menggabungkan wawancara semi-terstruktur dengan 3 profesional yang berprofesi di pasar karbon dan juga diskusi kelompok terarah (FGD), serta survei terhadap 301 responden yang berasal dari industri, lembaga pemerintah, dan kalangan akademisi. Hasil analisis kualitatif menggunakan SWOT, PESTEL, dan Porter’s Five Forces menunjukkan bahwa dinamika pasar banyak dipengaruhi oleh dukungan kuat dari pemerintah, infrastruktur yang belum efisien, serta kesenjangan pengetahuan di sektor ini. Analisis faktor konfirmatori memvalidasi delapan konstruk teoretis, di mana kompetensi strategis muncul sebagai faktor paling berpengaruh (CA: 0,807), disusul oleh kepatuhan terhadap pemangku kepentingan (CA: 0,741), kepatuhan terhadap pemerintah (CA: 0,835), dan kemampuan manajemen lingkungan (CA: 0,850). Dari sintesis hasil penelitian, ditemukan lima faktor kunci keberhasilan: kompetensi strategis, kepatuhan terhadap regulasi dan institusi, keterlibatan pemangku kepentingan, kemampuan manajemen lingkungan, serta hubungan yang efektif dengan pemerintah. Temuan ini memperkuat Resource-Based View (RBV), Stakeholder Theory, dan Institutional Theory, dengan menekankan bahwa keberhasilan memasuki pasar di wilayah tropis menuntut kemampuan multidimensi, bukan hanya bersaing secara konvensional, tetapi juga mampu menavigasi regulasi yang dinamis, membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan, dan beradaptasi terhadap ketidakpastian institusional. Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi perusahaan yang ingin mengembangkan bisnis di pasar lingkungan yang sedang tumbuh dengan kompleksitas regulasi dan tantangan institusional seperti di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Raditya Dwi Indrawan
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Pasar Karbon

MEMAHAMI ALOKASI PREMIUM FAIRTRADE DALAM KOPERASI PRODUSEN KOPI SKALA KECIL

Terdapat kekhawatiran global yang semakin meningkat bahwa sistem pangan saat ini tidak berkelanjutan dan bahwa produsen berskala kecil, meskipun memegang peran sentral, menghadapi berbagai keterbatasan yang disebabkan oleh kemiskinan, akses layanan yang terbatas, dan ketimpangan struktural dalam pasar. Fairtrade, sebagai sebuah standar keberlanjutan yang bersifat sukarela dan bekerja dalam skala global, berupaya mengatasi sebagian ketimpangan tersebut dengan menyediakan harga minimum yang terjamin dan tambahan Fairtrade Premium yang ditujukan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan lingkungan jangka panjang. Namun, bukti lapangan menunjukkan bahwa hasil yang dicapai antar organisasi sangat bervariasi, dan penggunaan serta dampak Fairtrade Premium sangat bergantung pada tata kelola internal, representasi, dan proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menjawab kebutuhan praktis untuk memahami dinamika internal tersebut dengan berfokus pada satu koperasi kopi tersertifikasi Fairtrade di Aceh yang pernah mengalami krisis tata kelola, pencabutan sertifikasi, dan sertifikasi ulang terkait pengelolaan Fairtrade Premium. Penelitian ini dipandu oleh beberapa ide, yaitu bahwa para aktor koperasi membuat keputusan dengan informasi yang terbatas; bahwa norma, aturan, dan dinamika kelompok membentuk bagaimana sesuatu ditafsirkan; bahwa struktur tata kelola koperasi dan relasi kekuasaan memengaruhi siapa yang berpartisipasi dan siapa yang menetapkan agenda; dan bahwa faktor-faktor tersebut secara kolektif menentukan bagaimana keputusan dinegosiasikan dalam rapat dan akhirnya menghasilkan pola alokasi Fairtrade Premium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alokasi Fairtrade Premium dijalankan melalui struktur demokratis formal, tetapi kesenjangan kapasitas, informasi yang asimetris menyebabkan kekuatan menentukan arah penggunaan berada pada manajemen. Pola alokasi Premium Fairtrade juga ditemukan sangat memihak pada manfaat jangka pendek yang bersifat individual. Ini adalah akibat dari harapan atas manfaat langsung, kekecewaan terhadap pengelolaan organisasi di masa lalu, dan rendahnya kesadaran risiko perubahan iklim di kalangan petani, yang sering menafsirkan gangguan lingkungan sebagai sesuatu yang alami dan tak terhindarkan. Kelemahan tata kelola, peran yang tidak jelas, pengawasan yang terbatas, dan ketakutan terhadap konflik, juga memperkuat orientasi jangka pendek dan memperdalam ketergantungan pada satu pembeli, sementara tekanan finansial mendorong koperasi menggunakan Premium sebagai dukungan operasional, bukan investasi strategis.

2026
👤 Penulis: Tina Ernieta Tioria Verelina N
🏷️ Koperasi 🏷️ Fairtrade 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

RANCANGAN STRATEGI KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK ESG DAN KEPERCAYAAN PUBLIK: STUDI KASUS TELKOM INDONESIA

Komunikasi Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi agenda strategis bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, namun tingkat kesadaran publik terhadap inisiatif ESG spesifik sering kali tertinggal dibandingkan upaya internal. Telkom Indonesia telah memperkenalkan kerangka GoZero% dan menerbitkan berbagai laporan keberlanjutan yang telah diaudit pihak ketiga, tetapi wawancara internal dan pengamatan awal menunjukkan bahwa aktivitas tersebut belum secara otomatis terkonversi menjadi ESG brand awareness dan kepercayaan publik yang kuat. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis bagaimana Telkom Indonesia saat ini mengomunikasikan inisiatif ESG kepada publik beserta keterbatasan pendekatan yang ada, dan (2) merumuskan kerangka strategi komunikasi untuk memperkuat ESG brand awareness dan kepercayaan publik. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan internal di bidang keberlanjutan, komunikasi perusahaan, dan unit terkait; survei daring kepada responden publik (pelanggan dan non-pelanggan); serta data sekunder seperti laporan keberlanjutan, laporan tahunan, dan konten digital. Analisis dilakukan melalui triangulasi antara ketiga sumber data tersebut, dengan dukungan PESTEL dan SWOT–TOWS untuk mendiagnosis kesenjangan komunikasi dan mengidentifikasi opsi strategi. Hasil penelitian menunjukkan tiga kesenjangan utama: (1) kesenjangan visibilitas dan saliens, di mana inisiatif ESG berjalan aktif namun belum kuat diasosiasikan dengan merek Telkom di benak publik; (2) kesenjangan kejelasan (clarity), karena pesan ESG cenderung teknis dan tersebar di berbagai kanal serta dokumen panjang; dan (3) kesenjangan kredibilitas yang bukan disebabkan lemahnya data, melainkan terbatasnya penggunaan proof point yang jelas dan mudah dipahami audiens. Penelitian ini mengusulkan kerangka strategi komunikasi ESG yang terintegrasi bagi Telkom, yang terdiri dari: penempatan GoZero% sebagai payung ESG ber-endorsed, content engine berbasis proof point yang mengubah metrik terverifikasi menjadi narasi short-form, aktivasi event dan KOL dengan jembatan digital yang jelas ke kanal milik Telkom, serta ESG hub dengan data dictionary dasar sebagai rujukan tunggal indikator kunci. Secara akademik, tesis ini berkontribusi melalui pendekatan diagnosis kesenjangan komunikasi ESG berbasis triangulasi dalam konteks BUMN; secara praktis, tesis ini memberikan peta jalan terstruktur bagi Telkom Indonesia untuk meningkatkan ESG brand awareness dan kepercayaan publik..

2026
👤 Penulis: Dea Sona Alamanda
🏷️ Komunikasi Esg 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kepatuhan Publik

USULAN STRATEGI INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION UNTUK FELFEST UI

Komplek Felfest UI berada di lingkungan Universitas Indonesia. Komplek ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan termasuk ruang acara, fasilitas olahraga, kafe/restoran, serta studio foto. Dengan berbagai bisnis yang ada tersebut, masyarakat masih memandang Felfest UI sebagai lokasi pernikahan saja, sehingga layanan lainnya kurang dikenal dan target pendapatan belum tercapai. Untuk memperbaiki keadaan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi hal-hal yang memengaruhi kesadaran publik terhadap komplek Felfest UI, menganalisis keunggulan yang dimiliki, dan merumuskan strategi marketing yang sesuai. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan lewat wawancara dengan berbagai pihak yang bervariasi, dan juga didukung dengan data dari studi literatur. Berdasarkan temuan penelitian, Berbagai keunggulan yang dimiliki Felfest UI belum dimanfaatkan secara optimal akibat kurangnya integrasi organisasi dan komunikasi pemasaran yang tidak konsisten. Dengan temuan tersebut, strategi Integrated Marketing Communication (IMC) kemudian diusulkan sebagai solusi untuk perbaikan.

2026
👤 Penulis: Ikhma Hariyanti
🏷️ Integrated Marketing Communication 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pemasaran Organisasi

PENILAIAN DAN MITIGASI RISIKO KETERLAMBATAN IZIN EKSPOR LNG MENGGUNAKAN ISO 31000:2018 DAN ANALISIS KEPUTUSAN: STUDI KASUS PT SULAWESI

Proyek LNG memerlukan biaya yang sangat besar, baik untuk pembangunan maupun operasional. Proyek-proyek tersebut juga berada di bawah regulasi yang ketat. Ketika peraturan berubah atau proses persetujuan memerlukan waktu lebih lama dari rencana, operasional dapat terdampak dan biaya dapat meningkat. Kondisi ini juga dapat memengaruhi bagian lain dalam rantai pasok energi. Di Indonesia, ekspor LNG diatur oleh dua ketentuan utama, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2024 dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 94. Kedua regulasi ini bertujuan melindungi pasokan energi domestik. Namun, dalam pelaksanaannya, tahapan proses serta pembagian peran antarinstansi terus mengalami perubahan. Hal ini menyebabkan waktu persetujuan menjadi sulit diprediksi. Pada tahun 2025, kondisi tersebut memicu keterlambatan berulang dalam penerbitan izin ekspor. PT Sulawesi, sebagai pabrik LNG single-train, merasakan dampaknya melalui risiko nyata terhadap operasional dan penjualan. Studi ini menelaah bagaimana PT Sulawesi dapat mengurangi risiko keterlambatan izin ekspor. Studi menggunakan ISO 31000:2018 sebagai pedoman utama manajemen risiko, serta memanfaatkan perangkat bantu pengambilan keputusan dan estimasi biaya sederhana. Studi ini memposisikan Enterprise Risk Management (ERM) sebagai alat untuk membantu pimpinan mengambil Keputusan, bukan sekadar pemenuhan formalitas. Kajian ini menghubungkan tinjauan risiko yang terstruktur dengan skenario “what-if” untuk mendukung pengambilan keputusan ketika regulasi tidak jelas. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan memanfaatkan wawancara serta data. Data utama diperoleh dari wawancara semi-terstruktur dengan pimpinan senior PT Sulawesi. Data tambahan berasal dari dokumen perusahaan, naskah regulasi, dan laporan publik. Proses manajemen risiko mengikuti tahapan ISO 31000: identifikasi risiko, analisis/penilaian risiko, evaluasi risiko, serta perencanaan perlakuan risiko. Studi juga menggunakan alat seperti PESTEL, diagram fishbone, dan causal loop diagram untuk menunjukkan keterkaitan keterlambatan izin dengan pembuat kebijakan, pasokan gas, permintaan domestik, serta penerimaan negara. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlambatan izin ekspor bukan sekadar persoalan administratif, melainkan risiko ketepatan waktu (timing risk) yang lebih mendasar dan terkait dengan cara regulasi dijalankan. Pada tahun 2025, beberapa faktor terjadi bersamaan, antara lain lambatnya persetujuan data neraca gas nasional, pembagian kewenangan lintas instansi, perbedaan interpretasi atas aturan kementerian, keterbatasan pada sistem SNANK/INSW, perubahan personel dan unit kerja di kantor-kantor kunci, serta transisi menuju regulasi baru. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan kemacetan proses perizinan (permit bottleneck). Dengan menggunakan matriks risiko ISO 31000, studi menilai risiko ini berada pada tingkat tinggi hingga mendekati kritis. Skor risiko adalah 20, berdasarkan nilai 4 untuk kemungkinan (likelihood) dan 5 untuk dampak (impact). Penilaian ini selaras dengan keterlambatan berulang pada tahun 2025 dan potensi dampak finansial minimal lebih dari USD 80 juta. Nilai tersebut mencakup keterlambatan pendapatan, biaya tambahan akibat penyesuaian rencana pengapalan, serta potensi denda kontrak. Analisis kesenjangan (gap analysis) juga menunjukkan keterbatasan kontrol yang saat ini diterapkan PT Sulawesi. Perusahaan telah memiliki langkah ERM dasar, namun pemilik risiko masih terfragmentasi, tindakan sering kali baru dimulai setelah masalah terjadi, dan pemicu (trigger) untuk respons cepat belum terdefinisi dengan jelas. Perencanaan skenario “what-if” dan pemantauan status perizinan juga masih terbatas jika dibandingkan dengan praktik baik ISO 31000. Simulasi berbasis angka menunjukkan dua temuan utama. Pertama, pengalihan hingga 10 kargo ke pasar domestik dapat menimbulkan dampak finansial yang relatif kecil berdasarkan ketentuan pembayaran saat ini. Namun, skenario terburuk jauh lebih besar. Jika sekitar 20 kargo harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik, mendekati setengah dari produksi tahunan, laba dapat turun sedikitnya sekitar USD 40 juta. Kerugian berpotensi meningkat hingga sekitar dua kali lipat apabila denda kontrak diberlakukan atau apabila PT Sulawesi harus membeli kargo pengganti untuk menutup kargo yang dialihkan ke pasar domestik. Setelah langkah-langkah mitigasi yang dilakukan pada tahun 2025, skor risiko menurun menjadi 12. Langkah tersebut meliputi peningkatan koordinasi dengan pembuat kebijakan, pertemuan dengan instansi daerah, negosiasi dengan pembeli jangka panjang untuk meningkatkan fleksibilitas kargo, serta penguatan koordinasi internal perusahaan. Lang understood, langkah-langkah ini membantu, namun risiko tetap signifikan karena PT Sulawesi masih bergantung pada ketentuan neraca gas nasional dan proses perizinan terpusat. Studi ini merekomendasikan perbaikan praktis berdasarkan praktik umum pengendalian perizinan LNG, antara lain penyusunan decision-tree untuk menentukan kapan kargo perlu dialihkan, rencana yang jelas untuk pengelolaan hubungan dan koordinasi dengan regulator, peningkatan fleksibilitas dalam ketentuan penjualan, serta rencana implementasi bertahap agar perubahan dapat berjalan konsisten. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bagaimana ISO 31000 dan perangkat pengambilan keputusan dapat membantu mengelola risiko keterlambatan izin dalam operasi LNG, serta menawarkan langkah-langkah yang jelas bagi PT Sulawesi dan perusahaan LNG lain yang menghadapi regulasi serupa.

2026
👤 Penulis: Christina Natalia
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Iso 31000:2018 🏷️ Enterprise Risk Management (Erm)

FORMULASI DAN KARAKTERISASI NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) MENGANDUNG SIMVASTATIN SERTA AKTIVITAS SITOTOKSIK TERHADAP TRIPLE NEGATIVE BREAST CANCER (TNBC)

Triple Negative Breast Cancer (TNBC) adalah salah satu jenis kanker payudara yang tidak memiliki reseptor hormon estrogen, progesteron, dan HER2. TNBC dikenal sebagai subtipe kanker payudara yang paling agresif dengan angka kekambuhan tinggi, angka kesembuhan rendah, dan tingkat harapan hidup rendah. Tidak adanya ketiga reseptor hormon menyebabkan pilihan pengobatan untuk TNBC menjadi lebih terbatas. Selain itu, telah banyak dilaporkan kasus kemoresistensi pada TNBC akibat pemberian kemoterapi yang merupakan opsi terapi utama TNBC. Untuk itu, diperlukan pengembangan alternatif terapi lain yang lebih efektif, salah satunya dengan menggunakan konsep drug repurposing yang dikombinasi dengan suatu sistem penghantaran obat. Salah satu kandidat obat yang potensial untuk digunakan adalah simvastatin, obat antihiperlipidemia golongan statin. Pada penelitian ini dikembangkan sistem penghantaran simvastatin (Sim) dengan Nanostructured Lipid Carrier (NLC) serta pengujian aktivitas sitotoksik terhadap TNBC. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula dan proses pembuatan optimal NLC-Sim, menguji karakteristik NLC-Sim, menguji stabilitas NLC-Sim, dan menguji aktivitas sitotoksik NLC-Sim. Penelitian diawali dengan proses optimasi formula yang diikuti dengan karakterisasi dan uji stabilitas NLC-Sim. Formula optimal kemudian diuji aktivitas sitotoksik terhadap sel 4T1 yang merupakan model TNBC. Hasil optimasi formula diperoleh formula optimal dengan komponen lipid padat dan lipid cair berupa beeswax dan virgin coconut oil (VCO) dengan konsentrasi total 4% dan rasio 3:1. Kombinasi surfaktan yang diperoleh adalah Tween 80 dan PEG 400 dengan konsentrasi total 5% dan rasio 4:1. Berdasarkan optimasi proses, diperoleh proses sonikasi optimal berupa dua tahap sonikasi menggunakan sonicator bath dan sonicator probe. NLC-Sim optimal yang didapatkan memiliki ukuran partikel sebesar 192,10 ± 11,73 nm, indeks polidispersitas sebesar 0,25 ± 0,02, zeta potensial sebesar -8,67 ± 2,41 mV, dan efisiensi enkapsulasi sebesar 99,11 ± 0,25%. NLC-Sim menunjukkan stabilitas yang baik pada penyimpanan di suhu 2-8 °C selama 14 hari. Hasil uji sitotoksik terhadap sel 4T1 menunjukkan bahwa NLC-Sim memberikan efek lebih baik dibandingkan NLC blanko dan larutan simvastatin, dengan nilai IC50 sebesar 80,84 ± 11,62 µM. Hasil ini menunjukkan bahwa penghantaran simvastatin menggunakan NLC berpotensi sebagai alternatif terapi TNBC.

2026
👤 Penulis: Marvel Zoe Immanuella
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK ALPHA-MANGOSTIN BERTARGET MITOKONDRIA TERHADAP TRIPLE NEGATIVE  BREAST  CANCER  (TNBC)

Kanker merupakan salah satu penyakit yang terjadi karena pertumbuhan abnormal sel yang sangat cepat dan dapat menyebabkan terjadinya metastasis. Kanker dapat menyerang berbagai organ tubuh, salah satunya adalah kanker yang menyerang payudara. Kanker payudara dapat diklasifikasikan menjadi empat subtipe molekular, yakni luminal A, luminal B, HER2-enriched, dan basal/TNBC (Triple Negative Breast Cancer). Subtipe TNBC memiliki prognosis yang paling buruk karena tidak adanya ekspresi reseptor hormon dan HER2 (Human Epidermal Growth Factor Receptor 2). Terapi TNBC yang dijalankan saat ini masih memiliki beberapa kelemahan berupa resistensi dan kemungkinan adanya toksisitas terhadap sel normal. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan alternatif terapi yang lebih spesifik terhadap TNBC. Salah satu strategi yang dapat dilakukan, yakni dengan menarget mitokondria sel menggunakan senyawa mitotoksik karena mitokondria merupakan organel esensial yang berperan dalam fungsi vital dan letal sel. Sebelumnya telah dilakukan pengembangan senyawa ?-mangostin berbasis liposom bertarget spesifik terhadap mitokondria yang disebut dengan lipoDQ ?-mangostin. Pada penelitian tersebut permukaan liposom yang mengandung ?-mangostin dimodifikasi dengan suatu mitokondriotropik, yakni dequalinium klorida (DQA). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas sitotoksik lipoDQ ?-mangostin secara in vitro terhadap sel 4T1 yang merupakan sel mammary carcinoma yang diisolasi dari mencit BALB/c sebagai model TNBC. Berdasarkan hasil karakterisasi nanopartikel, diperoleh ukuran lipoDQ ?-mangostin 150,13 ± 3,98 nm dengan indeks polidispersitas < 0,3 dan zeta potensial +11,31 ± 1,50 mV, serta efisiensi penjeratan zat aktif sebesar > 80%. Berdasarkan hasil uji aktivitas sitotoksik diperoleh bahwa toksisitas lipoDQ ?-mangostin lebih tinggi jika dibandingkan liposom ?-mangostin (tidak bertarget mitokondria) dan larutan ?-mangostin dengan IC50 sebesar 57,92 ± 5,53 µM. Berdasarkan hasil yang diperoleh menandakan bahwa lipoDQ ?-mangostin berpotensi sebagai alternatif terapi TNBC.

2026
👤 Penulis: Devira Fitriana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN MESOPOROUS SILICA NANOPARTICLE (MSN) MENGANDUNG CELECOXIB DENGAN GATEKEEPER BERBASIS  POLY-L-LYSINE TERMODIFIKASI HISTIDIN

Celecoxib merupakan obat golongan Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) yang umumnya digunakan untuk mengatasi inflamasi kronis dan dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan penurunan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat setiap hari. Salah satu Upaya mengatasinya adalah dengan membuat sediaan lepas lambat. Penelitian sebelumnya menunjukkan Mesoporous Silica Nanoparticle (MSN) dapat dimodifikasi permukaannya untuk dijadikan sediaan lepas lambat. MSN umumnya dimodifikasi dengan gatekeeper seperti Poly-L-Lysine (PLL). Penilitian lainnya menunjukkan bahwa PLL yang dimodifikasi dengan gugus histidin dapat meningkatkan jumlah obat yang dilepaskan dari MSN. Penelitian ini meliputi sintesis MSN dan fungsionalisasinya dengan gugus amina, penjeratan obat ke dalam nanopartikel, pembuatan gatekeeper Poly-L-Lysine-Histidin (PLL-His), dan konjugasinya ke MSN. MSN yang telah dibuat dikarakterisasi dengan beberapa instrumen serta uji pelepasan in vitro pada pH 1,2 dan pH 7,4. Hasil analisis termogravimetri (TGA) menunjukkan adanya penurunan %weight loss yang lebih besar pada MSN dengan gatekeeper dibandingkan MSN tanpa gatekeeper. Seluruh MSN dan modifikasinya memiliki ukuran partikel <300 nm serta indeks polidispersitas <0,5. MSN mampu menjerat celecoxib dengan efisiensi 23,35 ± 0,39% dan kapasitas 23,54 ± 0,42%. Hasil uji pelepasan menunjukkan MSN yang terkonjugasi dengan gatekeeper dapat melindungi obat agar tidak terlepas pada pH lambung (pH 1,2) dan pelepasan obat yang lambat pada pH situs absorbsi (pH 7,4). Pelepasan obat pada MSN dengan gatekeeper PLL-His juga menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan (p-value <0,05) dibandingkan MSN dengan gatekeeper PLL.

2026
👤 Penulis: Jovinka Natalie Xeliem
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ISOLASI SENYAWA AKTIF INHIBITOR ENZIM TIROSINASE DARI EKSTRAK ETANOL AMPAS BIJI MALAPARI (PONGAMIA PINNATA  (L.) PIERRE)

Hiperpigmentasi merupakan suatu kondisi ketika area kulit memproduksi melanin secara berlebihan yang mengakibatkan warna kulit lebih gelap dibandingkan kulit normal di sekitarnya. Enzim tirosinase merupakan katalisator melanogenesis dengan menghidroksilasi tirosin dan mengoksidasi L-DOPA menjadi DOPAkuinon dalam jalur sintesis melanin. Inhibitor tirosinase dapat menghambat laju enzim tirosinase sehingga menjadi salah satu pencegahan hiperpigmentasi. Sebelumnya, biji tumbuhan malapari (Pongamia pinnata (L.) Pierre) disebutkan memiliki manfaat secara tradisional dalam penggunaan yang bervariasi terhadap kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ampas biji tanaman malapari untuk menentukan potensi ekstrak etanol dan isolatnya sebagai inhibitor enzim tirosinase serta mengkarakterisasi isolat yang diperoleh. Ampas biji malapari diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% kemudian difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Uji aktivitas inhibisi enzim tirosinase secara kuantitatif dilakukan terhadap ekstrak menggunakan microplate assay dengan mengukur absorbansinya pada panjang gelombang 475 nm. Nilai IC50 ekstrak dan asam kojat (kontrol positif) berturut-turut adalah 1306,96 ± 164,79 g/mL dan 7,92 ± 0,47 g/mL. Uji aktivitas kualitatif dengan µ µ KLT bioautografi dilakukan terhadap ekstrak dan fraksi, terbentuknya bercak putih paling intens yang menunjukkan potensi inhibisi tirosinase paling kuat dimiliki oleh fraksi n-heksana. Fraksi n-heksana disubfraksinasi menggunakan kromatografi kolom klasik dengan metode elusi gradien. Subfraksi dilanjutkan pada subfraksinasi tahap II dengan metode kromatografi radial dan pemurnian dengan menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif sehingga didapatkan isolat Y. Isolat Y diuji kemurnian dengan kromatografi pengembangan tunggal tiga fase gerak dan kromatografi dua dimensi. Karakterisasi isolat Y dengan penampak bercak spesifik dan kromatografi lapis tipis-densitometri menunjukkan bahwa isolat Y merupakan senyawa golongan flavonoid subgolongan flavon. Isolat Y diuji aktivitas kuantitatif dan menunjukan % inhibisi enzim tirosinase pada konsentrasi 100 g/mL µ sebesar 5,833%.

2026
👤 Penulis: Maryam Prabasari Dewi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBUATAN SEDIAAN GARGARISMA DARI HIDROSOL HERBA TIMI (THYMUS VULGARIS) DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI  TERHADAP  BAKTERI  STREPTOCOCCUS MUTANS

Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang umum terjadi, disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Dalam rangka mencegah karies gigi, dibutuhkan suatu langkah preventif, salah satunya berkumur dengan gargarisma. Akan tetapi, saat ini banyak sediaan gargarisma mengandung klorheksidin yang memberikan efek samping berupa perubahan warna gigi dan penurunan pH saliva sehingga akan menjadi masalah pada keseimbangan mikrobiota rongga mulut. Herba timi (Thymus vulgaris) merupakan salah satu tumbuhan dengan aktivitas antibakteri yang baik, khususnya dalam minyak atsiri. Dalam produksi minyak atsiri dengan distilasi uap, terdapat air distilat atau hidrosol yang dianggap sebagai limbah produksi. Sebanyak 100 gram simplisia dengan 1500 mL akuades akan didistilasi dan sebanyak 300 mL hidrosol pertama yang memiliki aktivitas antibakteri berdasarkan hasil uji difusi cakram. Pengujian dilanjutkan ke mikrodilusi, diperoleh informasi konsentrasi 50% merupakan KHM dan KBM hidrosol herba timi. Uji koefisien fenol dilakukan untuk menentukan konsentrasi hidrosol dalam formulasi, diperoleh konsentrasi 45% masih dapat membunuh bakteri sehingga konsentrasi tersebut dipilih dan dilanjutkan ke formulasi. Formulasi sediaan gargarisma adalah hidrosol, natrium sakarin, propilparaben, metilparaben, natrium sitrat, asam sitrat, etanol, gliserin, perisa mint, dan akuades. Diperoleh pH 5.87±0,02 dengan viskositas 0.99 mPa.s untuk sediaan akhir. Uji hedonik yang dilakukan memberikan hasil gargarisma hidrosol masih perlu ditingkatkan perihal aroma dan kesegarannya. Uji konfirmasi menghasilkan aktivitas antiseptik gargarisma di pasaran lebih baik dibandingkan gargarisma hidrosol herba timi, tetapi hasil uji kontak menunjukkan gargarisma hidrosol herba timi memiliki kemampuan bakterisidal karena memiliki daya bunuh sebesar 99,9% pada waktu kontak 120 detik.

2026
👤 Penulis: Made Diah Laksmi Puspitasari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

AKTIVITAS INHIBITOR ENZIM XANTIN OKSIDASE SECARA IN VITRO OLEH EKSTRAK ETANOL DAUN DAN KULIT JERUK SIAM MADU (CITRUS RETICULATA BLANCO) DAN JERUK LIMAU (CITRUS X AMBLYCARPA [HASSK.] OCHSE) SERTA FRAKSI TERPILIH

Gout terjadi karena akumulasi asam urat yang membentuk kristal berbentuk jarum di sekitar persendian. Alopurinol adalah obat pilihan pertama untuk gout. Alopurinol bekerja dengan menghambat xantin oksidase (XO), yaitu enzim yang penting untuk produksi asam urat. Akan tetapi, alopurinol memiliki efek samping seperti pruritis makulopapular, nekrosis hati, hepatitis, dan hipersensitivitas. Penelitian ini bertujuan mencari inhibitor XO alternatif dari limbah bahan alam, yaitu kulit dan daun Citrus reticulata Blanco serta Citrus x amblycarpa (Hassk.) Ochse karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kulit dan daun marga Citrus mengandung flavonoid yang dilaporkan memiliki aktivitas sebagai inhibitor XO. Sampel diekstraksi melalui maserasi dengan etanol 70%, dikarakterisasi, dan diuji aktivitas penghambatan XO secara in vitro. Uji aktivitas dilakukan menggunakan 96-well plates untuk menyiapkan sampel dan spektrofotometri microplate reader untuk menentukan absorbansi. Persentase inhibisi dan nilai IC50 dihitung. Ekstrak terpilih difraksinasi menggunakan n-heksana, etil asetat, dan air, serta aktivitas penghambatan XO dari fraksi juga diuji menggunakan metode yang sama. Ekstrak etanol daun Citrus reticulata sebagai ekstrak terpilih menunjukkan aktivitas penghambatan XO dengan IC50 sebesar 25,52 ± 5,26 µg/mL, dibandingkan dengan 1,81 ± 0,35 µg/mL untuk alopurinol. Fraksi etil asetat menunjukkan nilai IC50 sebesar 40,88 ± 2,97 µg/mL. Ekstrak dan fraksi etil asetat daun Citrus reticulata mengandung rutin yang diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis (TLC). Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat daun Citrus reticulata memiliki aktivitas terhadap inhibisi enzim XO.

2026
👤 Penulis: Putri Revy Afriany
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK  DAN FRAKSI TERPILIH BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA L.) SERTA DAUN DAN KULIT APEL MANALAGI (MALUS SYLVESTRIS (L.) MILL.)  TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT

Tingginya prevalensi jerawat di Indonesia menyebabkan berkembangnya penelitian terhadap bahan alam dalam mencari alternatif pengobatan jerawat. Indonesia memiliki banyak sekali tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional, termasuk tanaman bunga telang dan apel manalagi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, bunga telang (Clitoria ternatea L.) dan apel manalagi (Malus sylvestris (L.) Mill) diketahui mengandung senyawa flavonoid dan polifenol yang dapat berperan sebagai antimikroba. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak tanaman bunga telang dan apel manalagi terhadap bakteri penyebab jerawat. Aktivitas antimikroba ditentukan melalui uji difusi agar cakram sebagai uji pendahuluan, penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) dengan mikrodilusi, dan penentuan konsentrasi bunuh minimum (KBM). Uji pendahuluan menunjukkan ekstrak etanol bunga telang memiliki aktivitas paling baik dibandingkan ekstrak daun apel dan kulit apel sehingga dilanjutkan untuk uji KHM dan KBM. Diperoleh nilai KHM ekstrak bunga telang sebesar 25 mg/mL dan fraksi etil asetat sebagai fraksi dengan aktivitas paling baik sebesar 6,25 mg/mL terhadap kedua bakteri uji. Kemudian diperoleh nilai KBM ekstrak dan fraksi etil asetat bunga telang sebesar 25 mg/mL terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan >100 mg/mL terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Berdasarkan nilai KBM yang diperoleh, ekstrak dan fraksi bunga telang memiliki aktivitas lebih baik terhadap terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.

2026
👤 Penulis: Alika Azalea
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI JAMUR ENDOFIT EXOPHIALA PISCIPHILA S14

Resistensi antibiotik merupakan permasalahan yang akan terus dihadapi dunia. Pada tahun 2019, kematian yang disebabkan oleh resistensi antibakteri mencapai jumlah 4,95 juta jiwa. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk menghadapi permasalahan ini adalah melakukan penelitian dan pengembangan senyawa antibakteri baru. Jamur endofit Exophiala pisciphila adalah cendawan DSE yang mampu tumbuh dalam kondisi stress dan metabolit sekundernya diduga memiliki aktivitas antibakteri sehingga potensinya sebagai antibakteri dapat dikaji. Pertama, kultur cair E. pisciphila dipisahkan biomassa dan filtratnya dengan metode sentrifugasi. Biomassa yang didapatkan kemudian diekstraksi dengan metode maserasi dalam metanol dan filtrat diekstraksi dengan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut etil asetat. Melalui skrining aktivitas antibakteri metode difusi cakram, ekstrak etil asetat E. pisciphila diketahui memiliki diameter hambat sebesar 9,20 ± 0,4 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 9,65 ± 0,25 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Di antara semua fraksi, fraksi semipolar E. pisciphila diketahui memiliki aktivitas antibakteri terbaik melalui metode mikrodilusi dengan konsentrasi hambat minimum 1024 µg/mL terhadap E. coli dan S. aureus dan konsentrasi bunuh minimum 2048 µg/mL terhadap S. aureus. Senyawa yang terkandung dalam fraksi tersebut adalah senyawa golongan fenol dan steroid atau triterpenoid dengan aktivitas terbaik terhadap bakteri gram positif.

2026
👤 Penulis: Josephine
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 69 dari 349
💬