📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 124 dokumenPENILAIAN RESIKO PADA INDUSTRI RATTAN SEBAGAI PENGEMBANGAN BISNIS (STUDI KASUS: CV. TROPICA RATTAN)
Industri rotan Indonesia, yang merupakan kontributor utama bagi perekonomian Indonesia, menghadapi tantangan yang signifikan seperti pasokan bahan baku yang berfluktuasi, kenaikan biaya produksi, dan persaingan dari produk furnitur sintetis. CV Tropica Rattan, sebuah perusahaan menengah di Cirebon, menghadapi tantangan berupa penurunan kinerja ekspor dan inovasi yang terbatas. Studi ini menerapkan kerangka kerja manajemen risiko yang disesuaikan untuk mengatasi risiko operasional dan keuangan yang dapat mempengaruhi CV Tropica Rattan. Analisis internal dan eksternal dilakukan dengan menggunakan Business Model Canvas dan PESTLE untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang mungkin terjadi. Proses Hirarki Analitik kemudian digunakan untuk memprioritaskan risiko sehingga strategi mitigasi dapat diimplementasikan dengan cara yang efisien. Wawancara semi-terstruktur dan diskusi kelompok terarah memberikan wawasan kualitatif, sementara data sekunder digunakan untuk mendukung analisis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen risiko yang terstruktur dapat meningkatkan ketahanan dan daya saing perusahaan, sekaligus memberikan model yang dapat digunakan untuk UMKM serupa di industri rotan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana strategi risiko yang disesuaikan dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan efisiensi operasional di sektor manufaktur tradisional.
KAJIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI PEMALUAN DI KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA
Curah hujan yang tinggi, berkurangnya drainase atau kapasitas sungai, topografi, perubahan tata guna lahan, dan pengaruh pasang surut air laut merupakan faktor penyebab banjir. Banjir yang terjadi dari Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2023 di Sungai Pemaluan Kabupaten Penajam Paser Utara mengakibatkan masyarakat kesulitan beraktivitas, berdampak pada sosial-ekonomi dan pembangunan dari bencana ini cukup signifikan. Kabupaten Penajam Paser Utara, melalui pengukuran debit observasi guna menentukan nilai awal koefisien kekasaran manning dan diperoleh rating curve. Analisis menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir di RT 1 dan 4 termasuk tinggi, RT 2, 3, dan 5 tergolong sedang, sedangkan RT 6 memiliki ancaman rendah. Tingkat kerentanan yang bervariasi baik sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan di Kelurahan Pemaluan memiliki klasifikasi sedang begitupun tingkat kapasitas. Risiko banjir yang diidentifikasi pada kategori risiko sedang. Sebagai solusi pengendalian banjir, pendekatan berbasis alam (nature-based solution) diterapkan melalui restorasi hutan dan lahan basah, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas retensi air dan mengurangi limpasan. Implementasi ini berdampak pada perubahan nilai CN Komposit serta perbaikan sempadan sungai. Hasilnya, luas genangan banjir menurun dari 5,24 km² menjadi 3,83 km², dengan pengurangan volume banjir sebesar 42,25%. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis ekosistem efektif dalam mengurangi dampak banjir sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan di sepanjang Sungai Pemaluan.
DESAIN DAN ANALISIS RISIKO KEGAGALAN AKIBAT LALU LINTAS PELAYARAN PADA PIPA BAWAH LAUT DI LAUT JAWA
Dalam industri migas, pipa bawah laut digunakan untuk menyalurkan minyak dan gas ataupun bahan kimia lainnya yang dibutuhkan selama masa operasi. Umumnya, konten yang dialirkan dalam pipa merupakan bahan yang dapat mencemari laut. Sehingga perlu dilakukan desain dan analisis kekuatan dan kelayakan pipa untuk menjamin ketahanan dan keamanan pipa selama masa operasinya. Mengacu pada DNV-ST-F101, pipa perlu didesain untuk mampu menahan tekanan internal maupun eksternal dengan menentukan tebal dinding pipa baja, lalu diperiksa ketersediaannya berdasarkan API 5L. Kemudian desain pipa tersebut perlu diperiksa kestabilannya berdasarkan DNV-RP-F109. Setelah melakukan desain pipa dan lapisan pelindungnya, dilakukan analisis kelayakan instalasi pipa berdasarkan kriteria batas regangan dan tegangan pada standar DNV-ST-F101. Kondisi permukaan dasar laut dapat berubah-ubah sepanjang waktu, sehingga dapat terjadi bentang bebas sehingga perlu dilakukan analisis bentang bebas berdasarkan standar DNV-ST-F101 dan DNV-RP-F105. Terakhir, dilakukan analisis risiko kegagalan pipa bawah laut akibat tumbukan jangkar, seretan jangkar, dan kapal tenggelam berdasarkan standar DNV-RP-F107 dan DNV-RP-F111. Berdasarkan analisis dan perhitungan pada studi ini dapat disimpulkan bahwa tebal dinding minimum pipa adalah sebesar 12.7 mm dengan lapisan pelindung beton sebesar 40mm. Pipa ini dapat digelar dengan menggunakan pipe lay barge Hafar Neptune dengan konfigurasi sudut rotasi hitch sebesar 13,3 derajat. Adapun bentang bebas maksimum yang dapat diterima pipa adalah sebesar 15,409 m. Selain itu, berdasarkan analisis risiko kegagalan, diketahui bahwa tingkat risiko kegagalan pipa berada pada area acceptable dan ALARP sehingga perlu dilakukan perencanaan mitigasi risiko yang dapat mengurangi konsekuensi kegagalan pada pipa bawah laut.
ANALISIS RISIKO PIPA BAWAH LAUT AKIBAT DROPPED ANCHOR, DRAGGED ANCHOR, DAN VESSEL SINKING DI SELAT MADURA
Setelah mendapatkan frekuensi kapal untuk setiap rute dan untuk setiap kategori kegagalan, dilanjutkan dengan melakukan analisis konsekuensi dan analisis probabilitas untuk setiap kategori kegagalan yaitu, dropped anchor, dragged anchor, dan vessel sinking. Dalam melakukan analisis konsekuensi kegagalan pipa bawah laut, kegagalan struktural pada pipa bawah laut dibagi menjadi empat kategori yaitu, minor damage, moderate damage, leakage, dan rupture Keempat kategori tersebut diklasifikasikan berdasarkan nilai perbandingan dent terhadap diameter pipa. Dalam melakukan analisis probabilitas kegagalan pipa, dilakukan terlebih dahulu perhitungan probabilitas kapal yang melalui area pipa untuk setiap rute alur pelayaran. Selanjutnya dilakukan perhitungan probabilitas kegagalan untuk setiap level konsekuensi kegagalan pipa bawah laut, probabilitas kejadian eksternal, dan probabilitas faktor reduksi kegagalan pipa bawah laut. Hasil analisis konsekuensi dan probabilitas kegagalan pipa bawah laut tersebut kemudian akan digunakan untuk melakukan penilaian risiko kegagalan pipa bawah laut. Dalam penilaian risiko pipa bawah laut, terdapat tiga kategori area yaitu area acceptable, ALARP (as low as reasonably practicable), dan not acceptable. Pada kategori dropped anchor, kegagalan rupture terjadi jika massa jangkar lebih besar dari 11339 kg, sedangkan pada kategori dragged anchor kegagalan rupture terjadi jika massa jangkar lebih besar dari 9624 kg. Hal tersebut terjadi karena jangkar yang terseret (dragged anchor) memberikan gaya yang lebih banyak dan nilai impact energy yang lebih besar serta berkelanjutan pada pipa. Pada kategori vessel sinking, kegagalan rupture terjadi jika DWT kapal lebih besar dari 3306 ton. Berdasarkan hasil penilaian risiko kegagalan pipa bawah laut diketahui bahwa tingkat risiko kegagalan pipa bawah laut sebagian besar berada di area yang dapat diterima (acceptable), kecuali risiko kegagala rupture berada pada area ALARP yang masih memenuhi syarat.
KAJIAN TINGKAT KEKRITISAN SISTEM FUNGSIONAL (FSCA) DAN TINGKAT KEKRITISAN PERALATAN (ECA) STUDI KASUS: UNIT REGENERASI AMINA KILANG PERTAMINA BALIKPAPAN
Minyak bumi dan gas alam tetap memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi, meskipun ada peningkatan penggunaan energi terbarukan. Proyek RDMP Kilang Pertamina Balikpapan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk kilang guna mendukung ketahanan energi nasional dan keberlanjutan produksi. Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) memiliki banyak unit proses dan komponen kompleks yang memerlukan pemeliharaan untuk mengurangi risiko kegagalan. Namun, karena banyaknya komponen dan keterbatasan sumber daya, pemeliharaan harus diprioritaskan berdasarkan tingkat kekritisannya. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat kekritisan sistem fungsional dan peralatan di Unit Regenerasi Amina Kilang Pertamina Balikpapan dengan merujuk pada pedoman di KPB dan simulasi proses menggunakan Aspen HYSYS. Penentuan tingkat kekritisan dimulai dengan menetapkan batasan sistem dan sistem fungsional dari dokumen PFD, dilanjutkan dengan kajian FSCA (Functional System Criticality Assessment) untuk mengevaluasi tingkat kekritisan sistem fungsional, serta ECA (Equipment Criticality Assessment) untuk mengevaluasi tingkat kekritisan peralatan. FSCA dan ECA merupakan suatu pendekatan metodis yang bertujuan untuk mengevaluasi potensi risiko dengan mempertimbangkan dampak bisnis serta aspek keselamatan dan lingkungan yang terkait. Analisis FSCA dan ECA menggunakan Risk Assessment Matrix (RAM) untuk menentukan tingkat kekritisan aset berdasarkan kemungkinan kegagalan dan kategori konsekuensi. Kategori konsekuensi mencakup faktor ekonomi, keselamatan dan kesehatan (H&S), serta lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem fungsional di Unit Regenerasi Amina dikategorikan dalam tingkat kekritisan Ekstrem (E) dengan total konsekuensi sebesar 4,700,545 USD. Pada tingkat kekritisan peralatan, tidak ada peralatan yang dikategorikan sebagai Ekstrem (E), Tinggi (H), atau Sedang (M), tetapi 13 peralatan dikategorikan sebagai Sedang Tinggi (MH), 46 peralatan dikategorikan sebagai Rendah (L), dan 4 peralatan dikategorikan sebagai Nihil (N). Setelah penilaian FSCA dan ECA, dilakukan simulasi proses menggunakan Aspen HYSYS untuk mengevaluasi dampak perubahan parameter peralatan, seperti tekanan, dimensi kolom, bukaan katup, dan temperatur pada kualitas produk akhir. Tingkat kekritisan masing-masing peralatan kemudian ditentukan menggunakan distribusi normal. Simulasi proses menggunakan Aspen HYSYS menunjukkan bahwa tingkat kekritisan sistem fungsional di Unit Regenerasi Amina adalah Ekstrem (E), dengan nilai Risk Priority Number terbesar sebesar 3125 dan persentase relatif terhadap kondisi normal terbesar sebesar 19.672% pada Regenerator Column. Pendekatan ini memungkinkan KPB mengalokasikan sumber daya pemeliharaan secara lebih efisien dengan fokus pada komponen yang lebih kritis untuk memastikan kinerja dan keamanan optimal.
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PT NINDYA KARYA (PERSERO) DALAM RANGKA PERSIAPAN PENAWARAN UMUM PERDANA SAHAM (IPO)
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, namun masih ada tantangan bagi perusahaan-perusahaan di sektor konstruksi yang ingin go public. Tesis ini mengkaji kerangka kerja manajemen risiko PT Nindya Karya (Persero) dalam persiapan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO). Dengan menggunakan metodologi Analytical Hierarchy Process (AHP), penelitian ini mengidentifikasi dan menilai faktor-faktor risiko kritis yang spesifik untuk industri konstruksi di Indonesia yang dapat mempengaruhi keberhasilan IPO. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner AHP yang didistribusikan kepada para pemangku kepentingan internal dan eksternal PT Nindya Karya. Temuan menunjukkan bahwa efektivitas audit internal dan risiko operasional merupakan risiko internal yang paling signifikan, dengan risiko yang pertama diklasifikasikan sebagai risiko yang ekstrem. Secara eksternal, risiko waktu dan kinerja penjamin emisi diidentifikasi sebagai risiko ekstrem, yang mencerminkan sifat pasar yang tidak stabil dan peran penting dari waktu yang tepat dan penjaminan emisi yang kompeten dalam keberhasilan IPO. Penelitian ini diakhiri dengan rekomendasi strategis untuk meningkatkan praktik manajemen risiko PT Nindya Karya, menyelaraskannya dengan praktik terbaik di industri dan memastikan perusahaan memiliki posisi yang baik untuk IPO yang sukses.
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PT NINDYA KARYA (PERSERO) DALAM RANGKA PERSIAPAN PENAWARAN UMUM PERDANA SAHAM (IPO)
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, namun masih ada tantangan bagi perusahaan-perusahaan di sektor konstruksi yang ingin go public. Tesis ini mengkaji kerangka kerja manajemen risiko PT Nindya Karya (Persero) dalam persiapan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO). Dengan menggunakan metodologi Analytical Hierarchy Process (AHP), penelitian ini mengidentifikasi dan menilai faktor-faktor risiko kritis yang spesifik untuk industri konstruksi di Indonesia yang dapat mempengaruhi keberhasilan IPO. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner AHP yang didistribusikan kepada para pemangku kepentingan internal dan eksternal PT Nindya Karya. Temuan menunjukkan bahwa efektivitas audit internal dan risiko operasional merupakan risiko internal yang paling signifikan, dengan risiko yang pertama diklasifikasikan sebagai risiko yang ekstrem. Secara eksternal, risiko waktu dan kinerja penjamin emisi diidentifikasi sebagai risiko ekstrem, yang mencerminkan sifat pasar yang tidak stabil dan peran penting dari waktu yang tepat dan penjaminan emisi yang kompeten dalam keberhasilan IPO. Penelitian ini diakhiri dengan rekomendasi strategis untuk meningkatkan praktik manajemen risiko PT Nindya Karya, menyelaraskannya dengan praktik terbaik di industri dan memastikan perusahaan memiliki posisi yang baik untuk IPO yang sukses.
EVALUASI EKONOMI DAN STRATEGI PENGELOLAAN RISIKO PADA PROYEK INFRASTRUKTUR BATUBARA: STUDI KASUS PT. XYZ
Penelitian ini menganalisis kelayakan ekonomi dari proyek pengembangan jalur angkut dan pelabuhan batubara baru di PT. XYZ, Sumatera Selatan. Dengan proyeksi peningkatan produksi batubara hingga 15 juta ton per tahun, penelitian ini mengevaluasi empat skenario: mempertahankan jalur kereta api eksisting, dan tiga alternatif pembangunan infrastruktur baru menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF), Simulasi Monte Carlo, dan Real Option Valuation (ROV). Hasil analisis DCF menunjukkan bahwa skenario 3 memiliki NPV tertinggi sebesar Rp1,69 triliun, menjadikannya pilihan yang paling menguntungkan. Simulasi Monte Carlo mengungkapkan probabilitas keberhasilan proyek tertinggi pada skenario 3, yaitu sebesar 60,82%. Evaluasi dengan pendekatan ROV, termasuk Binomial Lattice, Black-Scholes, dan Rainbow Option, menegaskan bahwa skenario 3 menawarkan nilai opsi dan fleksibilitas manajerial tertinggi, mengindikasikan potensi keuntungan terbesar di tengah volatilitas pasar. Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan skenario 3 sebagai opsi paling ekonomis dan optimal bagi PT. XYZ dalam mendukung peningkatan produksi batubara.
PEMODELAN MULTI SKENARIO BAHAYA TANAH LONGSOR UNTUK PENILAIAN KERUGIAN BANGUNAN FASILITAS KESEHATAN DI PULAU JAWA
Tanah longsor dapat terjadi hampir di seluruh bagian dunia, salah satunya di Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang kerap terjadi bencana tanah longsor. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tanah longsor merupakan bencana alam yang paling sering terjadi di Pulau Jawa pada tahun 1998 – 2023 jika dibandingkan dengan bencana alam yang lain. Bencana tanah longsor tersebut menimbulkan dampak yang serius sehingga perlu dilakukan upaya penanggulangan bencana tanah longsor melalui penilaian bencana tanah longsor. Penilaian bencana tanah longsor dilakukan dengan tujuan untuk memahami karakteristik bencana tanah longsor serta untuk mengetahui potensi risiko yang dapat terjadi akibat bencana tanah longsor. Pemodelan bahaya tanah longsor merupakan salah satu metode penilaian bencana tanah longsor yang paling efektif untuk dilakukan sebagai upaya pengurangan dampak bencana tanah longsor. Model bahaya tanah longsor digunakan untuk mengetahui tingkat bahaya tanah longsor di suatu wilayah. Penilaian bahaya tanah longsor dapat dilakukan secara deterministik dan probabilistik sehingga dapat menilai bahaya tanah longsor dengan lebih komprehensif karena mempertimbangkan ketidakpastian dari faktor pengendali yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor. Salah satu faktor pengendali yang bersifat probabilistik adalah curah hujan. Adapun beberapa faktor pengendali yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor adalah topografi, geologi, penutup lahan, kegempaan, curah hujan, dan hidrologi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan bahaya tanah longsor berdasarkan beberapa skenario pemodelan, yaitu secara deterministik dan probabilistik. Adapun jumlah skenario yang dilakukan pada penelitian ini adalah 12 skenario yang dibedakan berdasarkan penggunaan metode pemodelan dan data periode ulang curah hujan penyusun model. Pemodelan bahaya tanah longsor diawali dengan pemodelan suseptibilitas tanah longsor untuk mengetahui potensi atau tingkat kerawanan suatu daerah untuk terjadi tanah longsor. Metode yang digunakan untuk memodelkan suseptibilitas tanah longsor adalah metode analytical heirarchy proccess (AHP) dan frequency rasio (FR). Kedua metode tersebut masing-masing bersifat heuristik dan statistik. Metode heuristik dilakukan untuk menilai faktor pengendali tanah longsor penyusun model berdasarkan pendapat para ahli. ..........
MANAJEMEN RISIKO MUTU PADA PROSES PRODUKSI TABLET HISAP VITAMIN C DI PT. BNJ
Suatu Industri Farmasi yang memasarkan produknya di Indonesia wajib menerapkan Cara Penmbuatan Obat yang Baik (CPOB) terkini, yaitu CPOB 2024. Salah satu aspek dalam CPOB 2024 adalah Manajemen Risiko Mutu. Untuk mengkaji risiko mutu, salah satu metode yang dapat digunakan adaah FMEA (Failure Mode and Effect Analysis). Melalui metode FMEA diharapkan tujuan penelitian ini dapat memberikan gambaran terkait elemen yang dikaji pada setiap tahapan proses produksi, identifikasi risiko pada setiap proses dan menilaian risiko, serta memberikan informasi tindakan pencegahan dan perbaikan terhadap risiko agar dapat dijadikan pedoman bagi manajemen perusahaan. Penelitian diawali dengan focused group discussion untuk membahas dokumen yang diperlukan dalam pembuatan kajian risiko pada proses produksi tablet vitamin C, pembuatan FMEA, penentuan tindakan mitigasi dan pembuatan action priority matrix serta sistem pelaksanaan pemantauan efektivitas tindakan mitigasi. Berdasarkan hasil kajian terhadap proses produksi tablet hisap vitamin C, dihasilkan total mode kegagalan (failure mode) sebanyak 300 failure mode yang terdiri dari 237 risiko rendah, 57 risiko sedang, dan 6 risiko tinggi. Berdasarkan kajian risiko mutu tersebut didapatkan 10 macam tindakan mitigasi yang akan dilakukan yang terdiri dari 1 tindakan perbaikan cepat, 3 proyek besar, dan 6 tindakan tindakan pelengkap. Kajian risiko mutu dengan metode FMEA telah dirancang sesuai dengan tahapan produksi tablet hisap vitamin C. Risiko selama proses produksi secara menyeluruh dapat diidentifikasi lebih awal untuk mendapatkan proses produksi yang handal sehingga dapat mencegah penyimpangan dan keluhan berulang.
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI HIGH RISE BUILDING PADA PT. HUTAMA KARYA (PERSERO)
Keterlambatan proyek konstruksi yang sering terjadi menyebabkan kerugian bagi kontraktor dan owner, termasuk pembengkakan biaya dan menurunnya kredibilitas. PT. Hutama Karya (Persero) sebagai salah satu kontraktor nasional skala besar yang mengalami keterlambatan proyek dapat berdampak pada target kinerja dan laba perusahaan. Adanya keterlambatan proyek high rise building dalam kurun waktu 6 tahun terakhir pada PT. Hutama Karya (Persero) dapat mengakibatkan target kinerja dan target laba dari perusahaan akan sulit tercapai, dikarenakan terjadi pembengkakan biaya pelaksanaan akibat dari keterlambatan proyek tersebut. Dengan adanya manajemen yang baik maka keterlambatan tersebut dapat segera diidentifikasi, dievaluasi dan dilakukan mitigasinya, sehingga mampu semua proyek dapat menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan pekerjaan pada proyek-proyek high rise building yang dikerjakan oleh PT. Hutama Karya (Persero), mengetahui peringkat (ranking) pengelompokan faktor-faktor penyebab keterlambatan pekerjaan pada proyek- proyek high rise building yang dikerjakan oleh PT. Hutama Karya (Persero), dan mengetahui faktor dominan penyebab utama keterlambatan penyelesaian proyek high rise building yang dikerjakan oleh PT. Hutama Karya (Persero). Identifikasi faktor risiko dilakukan menggunakan metode studi literatur dan dilanjutkan penyebaran kuesioner identifikasi risiko. Setelah faktor-faktor risiko terindentifikasi, dilanjutkan penyebaran kuesioner penilaian risiko berdasarkan probabilitas dan dampak dengan responden pihak manajemen proyek-proyek high rise building yang dikerjakan oleh PT. Hutama Karya (Persero). Metode yang digunakan dalam penelitian metode Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) yang menghasilkan cluster-cluster dari faktor risiko keterlambatan pelaksanaan proyek. Analisis menggunakan metode AHC dapat membentuk cluster berdasarkan probabilitas dan dampak dari faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan proyek high rise building. Pada tahapan AHC dilakukan penggabungan faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan proyek menggunakan pendekatan euclidean distance dan centroid linkage. Euclidean distance pada AHC bertujuan untuk mengukur jarak sehingga dalam satu anggota cluster dapat memiliki karakteristik probabilitas dan dampak yang sama sedangkan fungsi dari centroid linkage adalah menggabungkan faktor (leaf) atau cluster kecil (nodes) menjadi cluster yang lebih besar (root). Data mean dari probabilitas dan dampak yang dianalisis menggunakan AHC, kemudian dilanjutkan dengan penentuan ranking cluster dan faktor dominan menggunakan metode Euclidean Distance. Euclidean Distance sebagai tools pengukuran jarak dari cluster yang telah didapatkan sehingga dapat diketahui ranking cluster dan faktor dominannya. Dihasilkan 32 faktor risiko dari tahap identifikasi risiko yang relevan sebagai penyebab keterlambatan pelaksanaan proyek high rise building yang dikerjakan oleh PT. Hutama Karya. Pada analisis AHC diperoleh 3 cluster utama yakni Cluster 1 berisi 23 anggota, Cluster 2 berisi 6 anggota, dan Cluster 3 berisi 3 anggota faktor risiko. Pada tahap perhitungan nilai Euclidean distance untuk penentuan ranking cluster dan faktor dominan. Diperoleh hasil bahwa Cluster 2 dengan nilai 5,070 merupakan ranking pertama, selanjutnya ranking kedua yaitu Cluster 1 dengan nilai 4,247, dan ranking ketiga adalah Cluster 3 dengan nilai 3,190. Sehingga, Cluster 2 dapat disebut sebagai high overall risk karena memiliki tingkat probabilitas dan dampak yang tinggi dalam menyebabkan keterlambatan pelaksanaan proyek high rise building pada PT. Hutama Karya (persero) yakni keterlambatan kedatangan peralatan dan material, kurangnya pengawasan terhadap pekerja, keputusan penting managemen yang lama, kurangnya koordinasi antara owner, konsultan dan kontraktor, perubahan desain dan desain yang kurang lengkap, dan rendahnya keahlian/ kemampu dari pekerja. Cluster 1 sebagai moderate overall risk dan Cluster 3 sebagai low overall risk.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KETERLAMBATAN WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN PADA PROYEK INFRASTRUKTUR.
Pembangunan infrastruktur merupakan elemen kunci dalam pengembangan ekonomi suatu negara, termasuk di Indonesia. Dalam dekade terakhir, pembangunan infrastruktur di Indonesia telah mengalami peningkatan yang signifikan, terutama dalam proyek pembangunan jalan tol dan bendungan. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), berkomitmen untuk terus mengembangkan infrastruktur guna mencapai visi "Indonesia Emas" pada tahun 2045. Meskipun demikian, banyak proyek infrastruktur mengalami keterlambatan dalam pelaksanaannya, yang dapat berdampak negatif pada biaya, kualitas, dan waktu penyelesaian proyek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan proyek jalan tol dan bendungan yang dikelola oleh Divisi Sipil Umum PT. Hutama Karya (Persero). Studi kasus meliputi beberapa proyek utama seperti Jalan Tol Gempol-Pasuruan, Jalan Tol Tebing Tinggi-Indrapura, Jalan Tol Tebing Tinggi-Serbelawan, Jalan Tol IKN Karangjoang-Karingau, Bendungan Semantok, dan Bendungan Ladongi. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi pustaka, pengumpulan data, penyebaran kuesioner kepada pemilik proyek, konsultan supervisi, dan kontraktor pelaksana, serta analisis hasil kuesioner. Melalui distribusi kuesioner kepada 36 responden yang terdiri dari pemilik proyek, konsultan supervisi, dan kontraktor, ditemukan bahwa masalah lahan belum bebas, penjadwalan dan perencanaan yang tidak tepat, kurangnya sumber daya, dan situasi tak terduga merupakan faktor dominan yang menyebabkan keterlambatan. Analisis lebih lanjut didapatkan bahwa dari 16 penyebab keterlambatan yang terkait lahan/tanah, terdapat 5 dari aspek non-teknis dan 13 dari aspek teknis, dengan dua penyebab yang saling berkaitan, yaitu jenis dan item pekerjaan pada kontrak tidak lengkap dan situasi tak terduga. Rata-rata nilai risiko menunjukkan bahwa faktor keterlambatan yang berkaitan dengan lahan/tanah memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan faktor lainnya. Untuk proyek jalan tol, nilai risiko aspek teknis adalah 10,75 dan aspek non-teknis adalah 12,33, sementara untuk proyek bendungan nilai risiko kedua aspek tersebut identik yaitu 13,40. Temuan ini menekankan pentingnya manajemen risiko lahan/tanah dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proyek infrastruktur di Divisi Sipil Umum PT. Hutama Karya (Persero). Dengan penelitian ini, diharapkan dapat membantu dalam pengelolaan proyek di masa mendatang, memberikan kontribusi pada peningkatan pengetahuan bagi para insinyur teknik sipil, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan PT. Hutama Karya (Persero).
SCENARIO PLANNING STRATEGI PENGGANTIAN MATERIAL TRANSMISI UTAMA/MTU DI PT PLN (PERSERO)
Kelistrikan adalah hal yang sangat penting untuk mendukung perkembangan dalam segala bidang. Perkembangan dalam bidang ekonomi, teknologi, pariwisata, pendidikan dan lain sebagainya semua membutuhkan listrik untuk hadir dan menerangi setiap proses perkembanganya. Oleh karena itu ketersediaan dan kehandalan listrik menjadi faktor utama PT PLN untuk dapat terus meningkatkan performanya. Ketersediaan dan kehandalan listrik harus didukung dari performa masing-masing bidang yang di PLN mulai dari bidang pembangkitan, bidang transmisi dan bidang distribusi, sehingga bisa dirasakan langsung kulaitas layanannya oleh end customer. Khusus untuk bidang transmisi, banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja availability dan reliability yaitu terkait kondisi main material transmission/Material Transmisi Utama (MTU) yang sudah memiliki usia operasi yang tua (20-25 tahun operasi) dan bahkan samapi usia sangat tua (lebih dari 25 tahun operasi). Peralatan tersebut hingga saat ini masih beroperasi dan menjadikan resiko besar bagi kelangsungan bisnis PLN, karena peralatan tersebut dapat menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak karena peralatan tersebut sudah melewati masa End Of Life nya. Penelitian ini akan mengeksplorasi terkait scenario planning untuk menentukan metode apa yang terbaik untuk penggantian peralatan/MTU di bidang Transmisi PT PLN (Persero). Tahapan perencanaan skenario melalui 5 tahap yakni orientasi, eksplorasi, pengembangan skenario, pertimbangan opsi dan implementasi, serta integrasi. Keempat scenario tersebut adalah Breakdown Based Replacement (BBR), Condition Based Replacement (CBR), Time Based Replacement (TBR) serta Innovation Based Replacement (IBR). Penelitian ini menjelaskan implikasi, opsi dan strategi untuk setiap skenario yang kemudian dapat dijadikan pertimbangan bagi PT PLN (Persero) untuk memberikan keputusan yang proaktiv dan menghasilkan strategi yang baik bagi setiap skenario. Parameter utama yang dijadikan pedoman dalam pemelihan skenario ini adalah tingkat keandalan yang bisa dicapai dan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan skenario terebut.
PENYUSUNAN PROGRAM PEMERIKSAAN BERDASARKAN KEANDALAN DAN RISIKO PADA PERALATAN DALAM SINYAL ELEKTRIK DAOP 1 JAKARTA
Sebagai pusat bisnis utama di Indonesia, DKI Jakarta mengalami peningkatan signifikan dalam permintaan layanan transportasi, khususnya pada Kereta Rel Listrik (KRL). Penambahan rangkaian KRL dan frekuensi perjalanan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas angkutan penumpang. Langkah tersebut berdampak pada peningkatan beban kerja fasilitas operasi khususnya sistem persinyalan. Keandalan sistem persinyalan sangat penting dalam menjaga kelancaran operasional KRL. Saat ini nilai keandalan yang ditargetkan oleh perusahaan sangat tinggi, yaitu 99,68%. Berdasarkan laporan evaluasi kinerja masih terjadi gangguan sistem persinyalan khususnya pada Peralatan Dalam Sinyal Elektrik (PDSE) yang berfungsi untuk mengendalikan pergerakan KRL, memberikan informasi tentang kondisi jalur, dan memastikan keselamatan operasi sehingga target nilai keandalan belum tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki program pemeriksaan yang ada saat ini guna meningkatkan keandalan komponen PDSE di wilayah Daop 1 Jakarta. Tahapan yang dilakukan adalah analisis keandalan dan risiko untuk memahami tingkat kinerja sistem persinyalan dan potensi bahaya akibat kegagalan sistem persinyalan. Program pemeriksaan yang diusulkan dalam penelitian ini melibatkan rekayasa teknik berupa mengubah interval waktu pemeriksaan pada peralatan persinyalan. Hasil dari program pemeriksaan didapatkan kenaikan nilai keandalan salah satu sistem Elixs dari 66,41% menjadi 99,74% dengan penambahan biaya pemeriksaan sebesar Rp. 2.772.445.956,00 atau 469% dari biaya pemeriksaan sebelumnya. Selain itu, didapatkan penurunan tingkat risiko pada masing-masing mode kegagalan komponen PDSE seperti kerusakan modul dan kesalahan pemrograman peralatan sehingga masuk dalam kriteria dapat ditoleransi dengan penambahan biaya pemeriksaan sebesar Rp. 1.145.570.526 atau 94% dari biaya pemeriksaan sebelumnya namun penambahan biaya tersebut dinilai lebih rasional guna mengurangi potensi kehilangan pendapatan yang disebabkan oleh gangguan operasional KA dan KRL karena kerusakan pada peralatan persinyalan, yang diperkirakan mencapai Rp. 3.322.581.652,00.
ANALISIS PENDEKATAN BERBASIS RISIKO DALAM SISTEM PERIZINAN BERUSAHA: STUDI KASUS PADA PENYELENGGARAAN ONLINE SINGLE SUBMISSION - RISK BASED APPROACH DI KEMENTERIAN INVESTASI/BKPM
Di Indonesia, adopsi pendekatan berbasis risiko dalam sistem perizinan mengakibatkan pemberian izin didasarkan pada tingkatan risiko dan ancaman lingkungan eksternal dari suatu kegiatan usaha sehingga tidak seluruh kegiatan usaha wajib memiliki izin. Perizinan berbasis risiko dilakukan berdasarkan penetapan tingkat risiko yang diperoleh dari penilaian risiko, namun terdapat ancaman risiko yang belum tercantum dalam indikator penilaian risiko. Melalui penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan pada penyelenggaraan OSS-RBA di Kementerian Investasi/BKPM untuk melihat bagaimana resiko diidentifikasi dan dikelola. Pengumpulan data dilakukan melalui kajian literatur dan penelusuran dokumen-dokumen terkait regulasi dan kebijakan implementasi OSS-RBA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem OSS-RBA telah berhasil mengintegrasikan penilaian risiko dalam proses perizinan, memungkinkan diferensiasi perizinan berdasarkan tingkat risiko kegiatan usaha. Hal ini menyederhanakan proses perizinan untuk usaha dengan risiko rendah dan menciptakan kerangka pengawasan yang lebih terstruktur dan terorganisir. Namun, terdapat tantangan dalam mengelola risiko yang belum teridentifikasi secara efektif, seperti risiko sosioekonomi yang baru teridentifikasi setelah adanya laporan eksternal. Konsepsi RBA yang dilaksanakan dalam OSS-RBA bertujuan meningkatkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha melalui penerbitan perizinan yang lebih efektif dan sederhana serta pengawasan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun sistem OSS-RBA telah dilengkapi dengan kerangka pengawasan komprehensif, diperlukan upaya berkelanjutan untuk mengelola risiko yang belum teridentifikasi dan memastikan sistem pengawasan tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan lingkungan regulasi dan kondisi di lapangan.