📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 109 dokumenPERANCANGAN KAPAL LISTRIK NELAYAN 5 GT BERBASIS KENDALI KECEPATAN V/F KONSTAN
Dengan tingginya penggunaan bahan bakar fosil pada saat ini, menyebabkan dampak buruk terhadap lingkungan yang membuat banyak pihak mulai mengaplikasikan energi terbarukan pada berbagai sektor. Indonesia sebagai salah satu negara maritim dengan garis pantai terpanjang di dunia memiliki potensi bahari yang sangat melimpah. Akan tetapi hingga saat ini masih banyak nelayan di negeri ini yang masih mengandalkan bahan bakar fosil sebagai sumber energi untuk aktifitas melaut. Pada makalah ini, diusulkan sebuah kapal nelayan berukuran 5 GT bebas polusi berbasis mesin listrik yang lebih ramah lingkungan. Untuk mesin propulsi kapal, dipilih motor induksi sebagai pernggerak utamanya. Pemilihan motor induksi sebagai mesin utama berlandaskan pertimbangan keandalan, biaya dan ketahanan motor jenis ini. Untuk pengendalian motor, digunakan kendali V/f konstan dengan menggunakan kompensator proportional integrator (PI). Penggunaan kendali V/f konstan dengan PI ini sendiri dilandaskan pada kemudahan implementasi dan teknik untuk mengendaliannya. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa untuk kapal nelayan 5 GT diperlukan motor listrik dengan daya sebesar 50 HP sebagai penggerak utama. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai oleh kapal listrik ini adalah 11 knot. Hasil respon kecepatan pada motor induksi didapatkan adanya overshoot pada saat akselerasi sebesar 5 % dan 4% pada saat deselerasi. Sedangkan pada kondisi kecepatan konstan, sistem kendali motor yang diusulkan masih mampu menjaga kecepatan kapal pada saat terjadi perubahan beban dengan baik.
INVESTIGASI EKSPERIMENTAL PENGARUH SUDUT HELIX, SOLIDITAS, DAN SUDUT PITCH TERHADAP PRESTASI TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL DARRIEUS (VAWT) SKALA KECIL
Peningkatan krisis energi dan masalah lingkungan telah menyebabkan perhatian yang besar terhadap sumber energi terbarukan. Energi angin memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan energi. Menurut Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, target penerapan energi terbarukan di Indonesia pada tahun 2025 adalah setidaknya 23% dan akan mencapai 31% pada tahun 2050. Pemasangan dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, salah satunya adalah kecepatan angin rata-rata yang rendah di Indonesia yaitu sekitar 3–6 m/s. Di antara berbagai jenis turbin, turbin angin sumbu vertikal (VAWT) memiliki potensi terbesar untuk menghasilkan energi pada angka Reynolds rata-rata rendah yang berkaitan dengan kecepatan angin rendah untuk menghasilkan listrik secara lokal. Penelitian ini menyelidiki pengaruh berbagai parameter geometris, termasuk sudut heliks, sudut pitch, dan soliditas, pada VAWT skala kecil melalui eksperimen yang dilakukan di terowongan angin Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan seksi uji berukuran 40 cm x 40 cm dengan model dasar VAWT Darrieus tipe-H yang diskalakan untuk pengujian. Pengukuran RPM dan torsi dilakukan untuk menganalisis kurva kinerja turbin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa turbin dengan sudut heliks 0°, soliditas 0,25 (N = 5), dan sudut pitch 7,5° mencapai efisiensi lebih tinggi pada kondisi angka Reynolds rendah.
MENGELOLA TRANSISI TEKNOLOGI: ANALISIS LCA, TCO DAN MANFAAT EKONOMI DARI ELEKTRIFIKASI TRAKTOR TERMINAL GABUNGAN DI PELABUHAN (STUDI KASUS: PT PELINDO TERMINAL TELUK LAMONG)
Penelitian ini membahas urgensi untuk melakukan transisi Combined Tractor Terminals (CTTs) menuju elektrifikasi dalam konteks maritim, dengan fokus pada Terminal Teluk Lamong (TTL) di Indonesia. Studi ini dimulai dengan menetapkan baseline untuk tingkat emisi dan biaya yang terkait dengan CTT bertenaga diesel konvensional, berdasarkan data historis dan kondisi operasional saat ini di TTL. Melalui Life Cycle Assessment (LCA), penelitian ini mengkuantifikasi dampak lingkungan, termasuk emisi CO2, NOx, dan partikel (PM) sepanjang siklus hidup CTT. Setelah LCA, studi ini mengevaluasi Total Cost of Ownership (TCO) untuk tiga skenario elektrifikasi: diesel AGV, battery-swapped AGV, dan hybrid AGV. Analisis TCO ini memasukkan biaya lingkungan yang diperoleh dari hasil LCA, memberikan pandangan menyeluruh tentang implikasi finansial dalam jangka waktu 16 tahun. Analisis manfaat ekonomi, termasuk Analisis Biaya-Manfaat (CBA), kemudian dilakukan untuk menilai potensi pengembalian dan kelayakan keseluruhan dari skenario elektrifikasi yang diusulkan. Hasilnya menunjukkan bahwa skenario battery-swapped AGV secara signifikan mengurangi TCO dibandingkan dengan baseline, sekaligus mencapai pengurangan emisi tertinggi. Skenario hybrid AGV, meskipun sedikit meningkatkan TCO, menawarkan pendekatan seimbang antara keuntungan operasional dan manfaat lingkungan. Skenario diesel AGV menawarkan keuntungan finansial yang sederhana dengan pengurangan TCO yang marginal tetapi memberikan manfaat lingkungan yang lebih sedikit. Studi ini menyimpulkan dengan merekomendasikan bahwa PT Pelindo Terminal Teluk Lamong memprioritaskan investasi dalam battery-swapped AGV karena potensinya yang kuat untuk penghematan biaya dan pengurangan emisi. Penelitian ini juga menyarankan integrasi bertahap AGV hybrid untuk menyeimbangkan tujuan operasional dan lingkungan.
DETEKSI KEGAGALAN SISTEM PLTS PADA MODE OPERASI DAN DEGRADASI KINERJA MENGGUNAKAN METODE XGBOOST
Teknologi matahari (surya) adalah salah satu energi baru terbarukan (EBT) yang berpotensi berkelanjutan karena radiasi matahari ada di seluruh dunia dan tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Potensi energi surya di Indonesia besar, sekitar 4,8 KWh/m² atau setara dengan 112.000 GWp, namun baru dimanfaatkan sekitar 10 MWp. Photovoltaic (PV) adalah teknologi yang mengubah energi matahari menjadi listrik dan merupakan komponen utama dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Meskipun teknologi PV telah berkembang pesat, kelemahan seperti degradasi kinerja dan penurunan nilai performance ratio (PR) masih ada. Pemodelan fisis dan pembelajaran mesin dapat membantu mendeteksi gangguan pada PLTS. Tugas akhir ini menggunakan algoritma XGBoost untuk mendeteksi, mengklasifikasikan, dan melakukan regresi nilai PR pada sistem PLTS hybrid di Laboratorium Manajemen Energi (Lab.ME) ITB. Data operasional dikumpulkan selama satu tahun dengan resolusi per menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur penting untuk mendeteksi mode operasi ditentukan menggunakan metode korelasi Pearson dan pertimbangan teoritis, menghasilkan 15 fitur penting. Perhitungan nilai PR menunjukkan tingkat kesalahan hanya 1,49%. Klasifikasi mode operasi dengan XGBoost menunjukkan akurasi tinggi, mencapai 99,49%, dan 99,87% dengan hyperparameter tuning. Regresi nilai PR menggunakan XGBoost menunjukkan performa baik dengan nilai RMSE dan MAE mendekati 0, namun regresi linear kurang mampu merepresentasikan perubahan PR tahunan. Frekuensi mingguan memberikan representasi perubahan PR tahunan yang paling stabil.Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan sistem deteksi kegagalan yang lebih akurat dan efisien, mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Kata kunci: energi terbarukan, PV, XGBoost, PR, deteksi gangguan, pembelajaran mesin ?
ANALISIS INVESTASI PEMBANGUNAN JETTY DI WILAYAH KAWASAN INDUSTRI KIMIA KALIMANTAN TIMUR
Kawasan Industri Kimia Kalimantan Timur merupakan proyect industri kimia berbasiskan batubara pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Industri ini juga mendukung program pemerintah yakni hilirisasi batubara yang menjadi arah kebijakan pemerintah untuk dapat meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Nilai tambah ini selain bertujuan untuk mengubah Batubara mentah menjadi produkproduk jadi seperti amonia, metanol, DME dan turunan lainya juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Peningkatan Industri Kimia yang ada dapat membuka kesempatan baru dalam berinvestasi, membuka lapangan pekerjaan alih teknologi, mengurangi emisi yang berdampak pada kemandirian ekoniomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan investasi pembangunan Pelabuhan sebagai pendukung utama proyek pengembangan dan operasional Kawasan industri kimia berbasiskan Batubara di Kalimantan Timur. Dalam konteks transformasi energi dan peningkatan nilai tambah sumber daya mineral, industry kimia berbasis batubara menjadi strategi penting bagi Indonesia. Pembangunan pelabuhan ini diharapkan dapat memperlancar proses pembangunan, memfasilitasi distribusi material bahan bangunan dan logistik yang efisien serta menunjang operasional kawasn indutri kimia yang ada. Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini mencakup analisa Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period menggunakan model kalkulasi FCFE yang dikembangkan oleh Damodaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan Pelabuhan Konstruksi PT. BCDE memiliki prospek kelayakan finansial yang cukup baik, dengan NPV dan IRR yang positif, dan Payback Period dalam jangka waktu yang dapat diterima. Sehingga Project C merupakan skema yang layak dipilih untuk investasi jangka panjang. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi manajemen PT. BCDE, stakeholder terkait, investor, dan termasuk pemerintah, tentang pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung dalam hal ini Pelabuhan untuk keberhasilan pengembangan kawasan industri berbasiskan batubara.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN JRAGUNG PAKET III, KABUPATEN SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH
Pada saat ini, Indonesia memperoleh energi listrik dari berbagai sumber, baik dari bahan bakar fosil maupun bahan bakar terbarukan. Hingga tahun 2025, Indonesia mengusahakan elektrifikasi hingga 100% dengan mengupayakan energi baru terbarukan (EBT) yang salah satunya adalah tenaga hydropower. Salah satu upaya elektrifikasi itu adalah dengan membuat PLTA Jragung yang terletak pada Bendungan Jragung, Kec. Pringapus, Kab. Semarang, Prov. Jawa Tengah. PLTA ini merupakan PLTA tipe storage yang beroperasi dengan debit yang digunakan untuk irigasi, air baku, dan pemeliharaan sungai. Dengan demikian, debit yang digunakan adalah dari pola operasi debit andalan 50% dan 80%, dengan debit maksimum pada debit andalan 4.25 m3/s pada debit andalan 50%. Dengan persebaran debit pada pola operasi Q50 dan Q80, PLTA Jragung memiliki kapasitas hingga 1654 kW dan dapat menghasilkan 2.68 GWh listrik per tahunnya. Perkiraan biaya pembangunannya adalah sebesar Rp12,568,168,438.40 dengan penjualan listrik per tahunnya sebesar Rp3,064,926,409.94 dengan NPV senilai Rp Rp6,849,511,445.45, IRR 13.96%, BCR 1.55, dan payback period 12.75 tahun.
OPTIMISASI PENJADWALAN PEMBANGKITAN EKONOMIS DAN RENDAH KARBON DENGAN PENETRASI TINGGI PEMBANGKIT VARIABLE RENEWABLE ENERGY PADA SISTEM INTERKONEKSI JAWA-MADURA-BALI
Sektor pembangkitan energi listrik di Indonesia merupakan sektor utama yang berkontribusi besar dalam produksi emisi karbon nasional. Permasalahan ini disebabkan karena tingginya penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, khususnya batubara. Untuk meminimalkan dampak dari permasalahan ini, maka diperlukan upaya strategis sehingga transisi energi bersih di Indonesia, khususnya pada sektor pembangkitan energi listrik, dapat terwujud. Namun demikian, transisi ini menimbulkan tantangan yang rumit bagi operator sistem tenaga listrik, yang bertugas memastikan skema pengoperasian sistem tenaga listrik yang aman (daya pembangkitan dan pembebanan pada sistem yang seimbang), ekonomis (minimum biaya produksi), dan ramah lingkungan (rendah emisi karbon). Adapun tantangan utamanya terletak pada optimisasi penjadwalan pembangkitan, yang mencakup penjadwalan Unit Commitment dan Economic Dispatch. Optimisasi ini umumnya sering dihadapkan dengan permasalahan yang bersifat kompleks, seperti melibatkan fungsi non-linier, pertimbangan multi-konstrain, dan variabel yang dinamis (berubah terhadap waktu). Berdasarkan permasalahan tersebut, pada penelitian ini diusulkan metode optimisasi penjadwalan pembangkitan ekonomis dan rendah karbon dengan mempertimbangkan adanya penetrasi tinggi dari pembangkit Variable Renewable Energy. Adapun model optimisasi yang diusulkan dalam penelitian ini telah diimplementasikan pada Sistem Interkoneksi Jawa-Madura-Bali dengan menggunakan perangkat lunak Python Pandas for Data Science. Hasil simulasi model optimisasi menunjukkan bahwa peningkatan penetrasi VRE pada sistem dapat berdampak pada peningkatan Biaya Pokok Penyediaan sistem serta dapat menurunkan produksi emisi karbon sistem. Analisis regresi linier dilakukan untuk mengkuantifikasi dependensi antara penetrasi VRE yang disimulasikan terhadap BPP sistem dan produksi emisi karbon pada sistem.
PENGEMBANGAN PV DAN BESS PADA SISTEM MICROGRID DI INDONESIA
Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, menghadapi tantangan dan peluang di sektor energi. Indonesia saat ini sedang melakukan transisi dari penggunaan bahan bakar fosil ke penggunaan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan tenaga air. Sebagai bagian dari transformasi ini, beberapa jaringan mikro telah dibangun di sekitar pulau-pulau di negara ini. Namun, proses mengintegrasikan sumber-sumber terbarukan yang berfluktuasi ini ke dalam sistem tenaga listrik sangatlah rumit. Studi ini menyelidiki kemajuan sistem mikrogrid hibrida, yang penting untuk mencapai keadaan nol emisi bersih dan memaksimalkan efisiensi energi dan kemampuan beradaptasi. Sistem hibrida, yang menggabungkan energi terbarukan dan sumber-sumber tradisional, sangatlah penting. Studi ini mengkategorikan microgrid berdasarkan pola pasokannya, khususnya menekankan pada sistem multi-microgrid yang terisolasi dan saling berhubungan. Tesis ini menyelidiki ekspansi, pengoperasian, dan pengelolaan jaringan mikrogrid, serta dampaknya terhadap keseluruhan sisi pasokan operasi, dengan menganalisis contoh-contoh kasus nyata. Indonesia mengalami kemajuan dalam program respons permintaan dan skenario operasi interkoneksi terhadap penurunan biaya sistem fotovoltaik (PV) dan baterai. Tesis ini berfokus pada potensi peningkatan perluasan dan pengoperasian jaringan mikro di Indonesia, dengan penekanan khusus pada penciptaan masa depan energi berkelanjutan.
NETWORK DESIGN OPTIMIZATION & PROJECT ECONOMIC VIABILITY EVALUATION OF CCS/CCUS HUB PLAN: A CASE STUDY IN WEST JAVA
In response to Indonesia's ambitious net-zero emissions target by 2060 and the increasing energy demand, this study evaluates the potential of a CCS/CCUS hub in West Java, focusing on optimizing network design and assessing economic viability. As CO2 emissions from coal-powered plants rise and the shift towards cleaner energy becomes more critical, implementing CCS/CCUS technology appears imperative. This research aims to mitigate high transportation costs from emission sources to storage sites by optimizing transportation networks. Employing Dijkstra's algorithm, MILP, and economic analysis, the study identifies cost-effective transportation routes for CO2 to Jatibarang and Tambun storage sites while innovating by clustering emission sources for efficient infrastructure development. Sensitivity analysis examines various parameters' impact on CO2 injection rates, providing insights for CCS/CCUS hub scalability and strategic planning. However, findings reveal that current carbon pricing and market mechanisms fall short of providing necessary financial incentives for CCS/CCUS hubs, with uncertainties in CO2 injection rates and costs complicating economic evaluations. The study underlines the need for robust policy support, including incentives for carbon capture, an aggressive carbon pricing scheme, regulatory support, international cooperation, and technological advancements to offset costs and enhance economic viability. Despite challenges, the CCS/CCUS hub in West Java shows promise in contributing to Indonesia's net-zero emission goals, contingent on significant advancements in policy and technology.
PENGUJIAN KEANDALAN MESIN STIRLING UNTUK KONVERSI BIOGAS MENJADI LISTRIK
Mesin Stirling bekerja dengan prinsip siklus termodinamika perpindahan panas gas kerja yang ada di dalam mesin dan sumber panas ekstemal mesin. Bahan bakar yang digunakan pada mesin Stirling ini biasanya bahan bakar fosil berupa minyak, batu bara, atau gas alam. Namun, seiring pemakaian bahan bakar fosil sebagai sumber energi, cadangan bahan bakar fosil semakin menipis, maka dari itu dibutuhkan energi altematif dari energi terbarukan (renewable), di Indonesia potensi energi terbarukan (EBT) mencapai 3692 Gigawatt (GW), akan tetapi sumber energi terbarukan ini belum optimal digunakan dibandingkan dengan energi fosil, dari sumber energi terbarukan ini terdapat salah satu energi yang mudah dimanfaatkan di lingkungan masyarakat yaitu biogas. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme. Biogas mengandung komponen yang terdiri dari ± 60% CH4 (metana), ± 38% CO2 (karbon dioksida), ± 2% N2, 02, H2, dan H2S. Biogas didominasi oleh gas metana yang dapat dibakar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai energi yang diperoleh dari hasil pembakaran dan efisiensi konversi biogas menjadi listrik oleh mesin Stirling, serta meninjau faktor yang mempengaruhi keandalan mesin Stirling. Penelitian ini dilakukan dengan sebuah metode percobaan menggunakan prototipe mesin Stirling berbahan bakar biogas yang bersumber dari BBPPMPV BMTI Pada percobaan ini digunakan variasi laju alir biogas pada 25 mL/min, beroperasi pada rentang emperatur 200 °C - 300 °C dan dilakukan sebanyak 3 percobaan. Dari hasil percobaan diperoleh rata rata dari daya, energi output, energi input bahan bakar, dan efisiensi konversi biogas menjadi listrik yang dihasilkan berturut-turut adalah 0,172 Watt; 1,22 kJ; 27,68 - 43,25 kJ; 2,87 - 4,48% Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan riset teknologi serta inovasi di bidang pemanfaatan energi terbarukan khususnya penggunaan mesin Stirling untuk konversi biogas menjadi listrik.
PENGUJIAN KEANDALAN MESIN STIRLING UNTUK KONVERSI BIOGAS MENJADI LISTRIK
Mesin Stirling bekerja dengan prinsip siklus termodinamika perpindahan panas gas kerja yang ada di dalam mesin dan sumber panas ekstemal mesin. Bahan bakar yang digunakan pada mesin Stirling ini biasanya bahan bakar fosil berupa minyak, batu bara, atau gas alam. Namun, seiring pemakaian bahan bakar fosil sebagai sumber energi, cadangan bahan bakar fosil semakin menipis, maka dari itu dibutuhkan energi altematif dari energi terbarukan (renewable), di Indonesia potensi energi terbarukan (EBT) mencapai 3692 Gigawatt (GW), akan tetapi sumber energi terbarukan ini belum optimal digunakan dibandingkan dengan energi fosil, dari sumber energi terbarukan ini terdapat salah satu energi yang mudah dimanfaatkan di lingkungan masyarakat yaitu biogas. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme. Biogas mengandung komponen yang terdiri dari ± 60% CH4 (metana), ± 38% CO2 (karbon dioksida), ± 2% N2, 02, H2, dan H2S. Biogas didominasi oleh gas metana yang dapat dibakar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai energi yang diperoleh dari hasil pembakaran dan efisiensi konversi biogas menjadi listrik oleh mesin Stirling, serta meninjau faktor yang mempengaruhi keandalan mesin Stirling. Penelitian ini dilakukan dengan sebuah metode percobaan menggunakan prototipe mesin Stirling berbahan bakar biogas yang bersumber dari BBPPMPV BMTI Pada percobaan ini digunakan variasi laju alir biogas pada 25 mL/min, beroperasi pada rentang emperatur 200 °C - 300 °C dan dilakukan sebanyak 3 percobaan. Dari hasil percobaan diperoleh rata rata dari daya, energi output, energi input bahan bakar, dan efisiensi konversi biogas menjadi listrik yang dihasilkan berturut-turut adalah 0,172 Watt; 1,22 kJ; 27,68 - 43,25 kJ; 2,87 - 4,48% Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan riset teknologi serta inovasi di bidang pemanfaatan energi terbarukan khususnya penggunaan mesin Stirling untuk konversi biogas menjadi listrik.
PEMANFAATAN LIMBAH AIR GARAM SISA GEOTERMAL SEBAGAI ANODE SILIKON BATERAI ION LITIUM
Energi panas bumi telah menjadi fokus sebagai sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan. Namun, dalam produksi listrik dari sumber energi ini, timbul limbah berupa air garam sisa geotermal yang dapat menghambat aliran fluida dan merugikan industri geotermal. Limbah ini memiliki potensi sebagai prekursor ekstraksi silikon, sebuah material yang menarik untuk baterai ion litium berkat kapasitas teoritisnya yang tinggi. Anode silikon memiliki kapasitas teoritis yang jauh lebih besar (4200 mAh/g) dibandingkan dengan anode grafit (372 mAh/g) yang digunakan sebagai anode pada baterai ion litium komersial. Dengan kelimpahan sumber daya silikon dalam air garam sisa geotermal, terbuka peluang untuk mengolah limbah tersebut serta memanfaatkannya sebagai sumber produksi silikon yang lebih murah dan ramah lingkungan. Penelitian ini berhasil mengekstraksi silikon dari air garam sisa geotermal dengan menggunakan agen presipitasi CaCl2 dan NaOH sebagai pengatur pH. Selanjutnya silika direduksi menggunakan metode reduksi magnesiotermik dengan bantuan NaCl sebagai heat scavenger. Proses penghilangan pengotor dan produk samping dilakukan menggunakan HCl dan HF. Silikon yang dihasilkan memiliki ukuran partikel submikron dan membentuk struktur tiga dimensi (3D) yang berpori. Hasil pengujian GCD menunjukkan anode silikon hasil ektraksi mampu mempertahankan 24,19% kapasitas awalnya (2736,64 mAh/g) setelah 300 siklus pengujian. Selain itu, pengujian rate capability menunjukkan retensi kapasitas sebesar 25,07% kapasitas awalnya pada densitas arus terbesar yaitu 1000 mAh/g.
USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK PERUSAHAAN PENGEMBANG SOLAR PV (STUDI KASUS: PT XYZ)
Perubahan iklim dunia yang semakin parah mengharuskan adanya Tindakan segera, salah satunya adalah penerapan energi terbarukan seperti panel surya (solar PV) yang dapat mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Di Indonesia, potensi pemanfaatan tenaga surya sebesar 207,8 gigawatt dan termasuk potensi terbesar bagi wilayah Indonesia (wilayah khatulistiwa). Saat ini, telah bermunculan banyak perusahaan solar PV untuk membantu pengurangan emisi karbon yang menjadikan persaingan ketat untuk mendapatkan pelanggan. PT. XYZ harus mengkaji secara mendalam tentang perumusan strategi marketing melalui analisa kondisi internal dan eksternal. Analisis internal terdiri dari nilai potensi yang dimiliki perusahaan seperti STP (segmenting, targeting, positioning) dan marketing mix (place, price, promotion, product, process, people, physical evidence) serta value-chain Activity. Sedangkan Analisa eksternal terdiri dari lingkungan umum seperti PESTLE (Political, Economic, Technological, Legal, Environment), cakupan industri, analisis kompetitor, dan analisis pelanggan melalui pendekatan decision-journey pada perilaku konsumen. Hasil analisa menunjukkan bahwa cara perusahaan agar dapat bersaing dan mendapatkan pelanggan lebih banyak ialah menargetkan kepada perusahaan dengan ukuran perusahaan yang besar (large enterprises), hal ini didukung oleh analisa hasil wawancara kepada pimpinan large enterprises sebanyak 60% menyatakan ingin memasang solar PV. Pendekatan B2B melalui direct marketing kepada pimpinan perusahaan pelanggan menjadikan solusi utama untuk mendapatkan pelanggan. Selain dengan aktif mempromosikan jasa solar PV melalui Public Source.
PERANCANGAN SISTEM DC MICROGRID DENGAN TOPOLOGI CLUSTER UNTUK DAERAH 3T
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan total 17.000 pulau yang tersebar di seluruh kawasannya. Dengan tersebarnya pulau tersebut, Indonesia juga memiliki potensi energi terbarukan yang tinggi dan dapat dimanfaatkan. Namun, masih terdapat banyak pulau yang belum merasakan adanya listrik yang reliabel karena rendahnya rasio elektrifikasi terutama pada daerah 3T. Untuk mengatasi hal tersebut, diusulkan sistem DC Microgrid dengan topologi cluster. Topologi cluster digunakan karena memiliki kemampuan untuk beroperasi secara mandiri maupun terhubung dalam beberapa blok penyusun. Hasil penelitian menunjukkan perancangan sistem DC Microgrid dengan topologi cluster berhasil diwujudkan. Sistem ini tersusun dari satu atau lebih blok penyusun yang dinamakan Multisource PCS dengan kendali yang terdesentralisasi pada tiap blok penyusun. Tiap Multisource PCS memiliki kapasitas 3 kW dan terdiri dari bus DC Link dan DC Grid, konverter daya, baterai, dan panel surya. Kendali yang terdesentralisasi memungkinkan operasi mandiri maupun terhubung pada tiap Multisource PCS dengan kemampuan aliran daya yang terkontrol dalam dan antar Multisource PCS.
PEMODELAN SISTEM DINAMIK OPTIMASI POTENSI PANAS BUMI INDONESIA TERHADAP UPAYA PENURUNAN EMISI: STUDI KASUS PADA BADAN USAHA ENERGI MILIK NEGARA
Sektor energi memiliki tugas penting untuk menyediakan bahan bakar bagi masyarakat untuk menjalankan bisnis dan rumah tangga mereka. Di sisi lain, sektor energi juga merupakan salah satu kontributor utama emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Pemerintah Indonesia telah menetapkan strategi jangka panjang untuk beralih ke energi yang lebih rendah karbon guna meningkatkan ketahanan ekonomi negara dan pembangunan berkelanjutan. Untuk mewujudkan strategi tersebut, sektor energi di Indonesia harus menerapkan rencana transisi energi dengan mendiversifikasi portofolio mereka dengan menggabungkan energi terbarukan ke dalam operasi mereka guna mengurangi jejak karbon. Indonesia memiliki sumber daya panas bumi yang melimpah; oleh karena itu, pengembangan energi panas bumi dapat menjadi salah satu tahap dalam proses tersebut. Tinjauan literatur dan wawancara dengan pemangku kepentingan dilakukan untuk mengidentifikasi variabel kunci yang dapat berkontribusi pada optimalisasi potensi panas bumi di Indonesia dalam upaya pengurangan emisi. Diagram gambaran umum disusun untuk menggambarkan semua pemangku kepentingan dan variabel yang terlibat. Bauran energi, penerapan pajak karbon, harga kredit karbon, waktu penyelesaian proyek, pendanaan eksternal, dan insentif pemerintah adalah beberapa variabel kunci yang diidentifikasi. Elemen-elemen penting ini kemudian dimasukkan ke dalam model dinamika sistem untuk menilai efek kuantitatif dari perubahan pada variabel-variabel tersebut terhadap pencapaian target kapasitas panas bumi dan pengurangan emisi baik secara nasional maupun di dalam perusahaan. Ada dua puluh sembilan skenario yang dikembangkan dari sembilan skenario kelompok termasuk dua kombinasi intervensi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pengembangan potensi energi panas bumi di Indonesia dapat dipercepat dengan komitmen pemangku kepentingan yang kuat untuk menyediakan insentif spesifik dan ketersediaan sumber keuangan. Selain itu, untuk mengurangi emisi, pemangku kepentingan dapat bekerja sama untuk memperkuat instrumen kebijakan seperti penerapan pajak karbon, menetapkan bagian yang lebih tinggi untuk campuran energi terbarukan, dan mendukung industri berbasis karbon (misalnya mekanisme perdagangan karbon) selain dari pengembangan energi terbarukan. Melangkah maju, sangat penting bagi semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama secara efektif dalam memanfaatkan mekanisme keuangan, dan kerangka kerja regulasi untuk membuka potensi penuh energi panas bumi di Indonesia.