πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 124 dokumen

TIME-LAPSE AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY (TL-ANT) PADA LAPANGAN INJEKSI FLUIDA UNTUK RENTANG WAKTU M3 DAN M4

Indonesia memiliki potensi sumber daya minyak bumi yang signifikan. Evaluasi terhadap sumursumur produksi secara berkala dibutuhkan untuk meningkatkan produksi minyak bumi. Salah satu usaha yang dilakukan adalah injeksi fluida ke dalam reservoir. Teknik ini bertujuan mendorong minyak yang tersisa agar mengalir ke dalam sumur produksi. Konektivitas antara sumur injeksi dan sumur produksi perlu dipelajari dengan menggunakan metode geofisika. Salah satu metode geofisika yang diaplikasikan adalah Ambient Noise Tomography (ANT). Data yang digunakan adalah data hasil korelasi silang 37 titik pengukuran dengan menggunakan seismometer IGU- 16HR 3C. Durasi pengukuran data dilakukan dalam rentang waktu M3 (14 – 21 November 2023) dan M4 (22 – 28 November 2023). Korelasi silang menghasilkan 666 pasang stasiun dengan Green’s function pada setiap pasangan stasiun. Kurva dispersi diperoleh untuk setiap pasang stasiun dan memberikan nilai kecepatan grup untuk beberapa periode yang berbeda. Selanjutnya, nilai Vs diperoleh dari proses direct inversion tomography hingga kedalaman 0.4 km. Hasil inversi Vs memiliki resolusi yang relatif baik pada kedalaman 0.1 – 0.2 km, baik secara horizontal maupun vertikal. Analisis perubahan nilai Vs menunjukkan adanya konektivitas antara sumur injeksi (W6 dan W7) dengan sumur produksi di sekitarnya. Hasil peta time-lapse (M4-M3) menunjukkan zona penurunan Vs pada arah Barat Daya sumur injeksi W6, dekat sumur produksi W1 dan W12. Sedangkan, konektivitas anomali rendah sumur injeksi W7 cenderung terjadi di arah Barat hingga Selatan, yaitu dekat sumur produksi W5 dan W10.

2024
πŸ‘€ Penulis: Khalda Zayyan
🏷️ Geofisika 🏷️ Teknik Injeksi Fluida 🏷️ Analisis Konektivitas Sumur

PEMANTAUAN POLA PERUBAHAN FLUIDA MENGGUNAKAN METODE TIME-LAPSE AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY (TL-ANT) PADA LAPANGAN β€œRR”

Kegiatan injeksi fluida dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan laju produksi migas di Lapangan β€œRR”. Aktivitas injeksi fluida perlu dipantau pola perubahan migrasi fluida dan konektivitas antara sumur injeksi dan sumur produksi. Pemantauan perubahan migrasi fluida dapat dilakukan dengan penerapan metode geofisika, salah satunya adalah metode Time-lapse Ambient Noise Tomography (TL-ANT). Metode TL-ANT memanfaatkan sinyal noise seismik yang terekam pada 37 stasiun seismik yang terpasang di area studi secara kontinu dalam kurun waktu tertentu. Metode TL-ANT didasarkan pada sinyal baru yang diperoleh dari korelasi silang antara dua stasiun seismik. Tahapan yang dilakukan adalah identifikasi Green Function untuk tiap pasang stasiun dan perhitungan nilai kecepatan grup untuk tiap periode yang diambil dari kurva dispersi. Selanjutnya adalah inversi kecepatan grup untuk mendapatkan citra tomografi Vs secara 3D. Data yang digunakan adalah data pengukuran seismik pasif selama 7 hari pada minggu ke-5 dan ke-6 setelah injeksi. Pada pengerjaan tugas akhir ini, citra tomografi ditampilkan dalam dua jenis penampang peta tomografi, yaitu penampang horizontal pada kedalaman 100-400 meter dan penampang vertikal pada orientasi timur-barat dan utara selatan di sekitar sumur injeksi. Berdasarkan hasil tersebut, profil anomali Vs rendah terlihat secara konsisten di sekitar sumur injeksi yang diinterpretasikan sebagai indikasi adanya persebaran fluida hasil kegiatan injeksi fluida. Selain itu, terlihat adanya konektivitas antara sumur injeksi W06 dengan sumur produksi W01, W03, dan W08 serta pada sumur injeksi W07 dengan sumur produksi W04 dan W10. Sedangkan untuk anomali tinggi mengindikasikan struktur geologi di sekitar area penelitian yang merupakan struktur batuan dengan densitas yang relatif lebih tinggi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Nadira Putri Sharfina
🏷️ Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Migas 🏷️ Analisis Data Seismik

ANALISIS COSEISMIC SLIP GEMPA MW6.4 BENGKULU, 13 AGUSTUS 2017 BERDASARKAN DATA GPS

Pada 13 Agustus 2017, pukul 10:08 WIB (3:08 UTC) terjadi gempa bumi tektonik sebesar Mw6.4 berpusat di laut sejauh 72 km arah barat daya Bengkulu Utara, Indonesia dengan kedalaman 50.5 km (USGS) dan berlokasi di koordinat 3.768Β°S 101.623Β°E. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa ini terjadi akibat aktivitas subduksi dengan patahan naik yang terjadi di zona Benioff di bawah fore arc basin di sebelah barat Sumatra. Penelitian ini menganalisis displacement dan distribusi coseismic slip dengan menggunakan data Global Positioning System (GPS) yang tersebar di 6 lokasi stasiun dari Sumateran GPS Array (SuGAR) dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan analisis. Tahapan pertama yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menghitung coseismic displacement dari data time series pada setiap stasiun GPS. Tahapan kedua yaitu melakukan melakukan plot vektor coseismic displacement. Tahapan ketiga adalah melakukan perhitungan magnitudo gempa dan coseismic slip. Penelitian ini membuat dua model berdasarkan luasan bidang. Model 1 memiliki luas 60 km Γ— 110 km dengan dip sebesar 30Β° dan strike 314Β°. Model 1 dibagi menjadi 66 sub-faults yang memiliki luas masing-masing 10 km Γ— 10 km. Model 2 memiliki luas 60 km Γ— 60 km dengan dip sebesar 30Β° dan strike 314Β°. Model 2 dibagi menjadi 36 sub-faults yang memiliki luas masing-masing 10 km Γ— 10 km. Model 1 memiliki nilai slip maksimal sebesar 0.155 m yang terletak di koordinat longitude 101.3026 dan latitude -4.1521 (sekitar ~43 km dari episenter USGS) dan di kedalaman 13 km. Fokus distribusi slip pada Model 2 terletak di koordinat longitude 101.5361 dan latitude -3.9104 (sekitar ~11 km dari episenter USGS) dan di kedalaman 38 km dengan nilai slip maksimal yaitu 0.512 m. Penelitian ini menunjukkan bahwa Model yang paling mendekati data observasi adalah Model 2 dengan Mw 6.56 dan RMSE sebesar 4.86 mm.

2024
πŸ‘€ Penulis: Taufiq Pangestu
🏷️ Gempa Bumi Tektonik 🏷️ Analisis Slip Coseismik 🏷️ Geofisika

ANALISIS 2D BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER UNTUK MENENTUKAN POTENSI AIR TANAH

Air merupakan sumber daya alam yang perannya sangat penting bagi kehidupan. Sebagian air ada yang tersimpan dalam bentuk air tanah. Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah. Untuk dapat mengetahui potensi air tanah pada suatu kawasan tertentu, perlu dilakukan survei geofisika. Salah satu metode survey geofisika yang dapat digunakan adalah metode geolistrik. Pada penelitian ini, metode geolistrik digunakan untuk mengetahui persebaran air tanah di Desa Sukaratu, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pengambilan data dilakukan menggunakan konfigurasi Wenner kemudian datanya diolah menggunakan software RES2DINV untuk mendapatkan interpretasi 2D resistivitas bawah permukaan di sepanjang lintasan pengukuran pada lokasi penelitian. Persebaran resistivitas tersebut dapat digunakan untuk memprediksi lapisan bawah permukaan. Semakin kecil nilai resistivitasnya maka potensi keberadaan air tanah semakin besar.

2024
πŸ‘€ Penulis: Lintang Bimo Sekti Wahyono
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Resistivitas Bawah Permukaan 🏷️ Manajemen Sumber Daya Air

PENERAPAN METODE VERTICAL GRAVITY GRADIENT UNTUK IDENTIFIKASI UTILITAS BAWAH PERMUKAAN DI AREA KAMPUS GANESHA ITB

Jaringan utilitas di bawah permukaan tanah menyediakan hal-hal penting untuk kehidupan sehari-hari dan memiliki masa guna yang terbatas, sehingga perlu dilakukan perawatan untuk menghindari potensi bencana karena kerusakan utilitas. Namun terdapat keterbatasan dalam hal pengamatan secara langsung keberadaan utilitas bawah permukaan serta pemetaan utilitas yang kurang akurat. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini digunakan metode vertical gravity gradient yang merupakan pengembangan dari metode gravitasi. Penerapan metode vertical gravity gradient dilakukan dengan pengukuran gravitasi dari minimal dua ketinggian yang berbeda pada setiap titik pengukuran. Melalui metode tersebut diharapkan dapat mengatasi keterbatasan di antaranya dalam hal akurasi vertikal, efektivitas tenaga kerja, dan biaya. Berdasarkan hasil perhitungan anomali vertical gravity gradient dapat diidentifikasi keberadaan batas utilitas bawah permukaan. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, dilakukan pemodelan ke depan. Pemodelan dilakukan dengan membuat dua lintasan yaitu lintasan A-A’ dengan arah Barat Daya-Timur Laut dan lintasan B-B’ dengan arah Tenggara-Barat Laut. Hasil pemodelan ke depan dengan error sebesar 0.004 mGal/m menunjukkan keberadaaan geomaterial berupa topsoil dengan densitas 1.6 g/cm3, subsoil dengan densitas 2.2-2.4 g/cm3, loose soil dengan densitas 1.2 g/cm3, beton dengan densitas 2.2 g/cm3, dan pipa besi cor dengan densitas 7.8 g/cm3. Selain itu, terdeteksi utilitas berupa dua manhole dengan tinggi 2.6 m, diameter 1.05 m, dan tebal cover 0.05 m, serta tiga pipa bercabang terdeteksi dengan diameter 0.18 m yang berkurang menjadi dua cabang dengan diameter 0.24 m pada kedalaman 1 m dari permukaan tanah. Hasil pemodelan divalidasi secara visual tracing dan telah menunjukkan kesesuaian hasil. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa metode vertical gravity gradient dapat digunakan sebagai salah satu metode alternatif untuk mengidentifikasi keberadaan utilitas bawah permukaan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Bintang Fadhiil
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Rantai Pasokan Air 🏷️ Manajemen Sumber Daya Alam

PERBANDINGAN METODE DEKONVOLUSI WERNER DAN DEKONVOLUSI EULER YANG DIGUNAKAN PADA DATA GRAVITASI

Salah satu metode geofisika yang telah terbukti efektif untuk menggali informasi mengenai struktur bawah permukaan adalah metode gravitasi. Pada dasarnya, dekonvolusi bertujuan untuk mengestimasi kedalaman anomali gravitasi. Salah satu pendekatan dekonvolusi yang banyak digunakan adalah metode Euler dan Werner. Dekonvolusi Werner adalah metode inversi pada data magnetik atau gravitasi dengan jarak teratur untuk memperkirakan kedalaman dan lokasi tubuh sumber. Penerapan metode dekonvolusi Werner menggunakan konsep jendela bergerak memerlukan perhatian terhadap beberapa parameter penting. Parameter-parameter tersebut meliputi Window Length, Window Shift Increment, Window Expansion Increment, dan Detrend Order. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek dari parameter-parameter tersebut serta hasil solusi yang diperoleh, sehingga dapat dijadikan pedoman untuk secara efektif menerapkan dekonvolusi Werner. Dekonvolusi Werner dan Dekonvolusi Euler diterapkan pada data sintetik untuk penelitian ini yang didapat dari pemodelan kedepan. Hasil dari analisis parameter-parameter efektif dapat digunakan dan berhasil mendeteksi anomali yang telah dibuat. Untuk Dekonvolusi Werner, pemilihan window length yang disarankan adalah yang panjangnya sama dengan body sumber anomali. Nilai yang disarankan untuk Detrend Order adalah 2. Untuk parameter Window Shift & Expansion Increment, nilai yang semakin kecil akan membuat solusi yang dihasilkan semakin banyak. Solusi dekonvolusi Euler data sintetik dengan berbagai indeks struktural dan lebar jendela, di mana penggunaan indeks struktural yang tinggi akan menghasilkan estimasi kedalaman yang dalam, sedangkan lebar jendela berpengaruh terhadap sebaran solusi. Perbedaan signifikan yang terlihat pada kedua metode tersebut adalah jumlah parameter yang perlu ditentukan dan fleksibilitas dalam mendeteksi berbagai struktur berbeda. Dengan menggunakan Dekonvolusi Werner, tidak diperlukan untuk menggunakan indeks struktural seperti Dekonvolusi Euler.

2024
πŸ‘€ Penulis: Al Arsy Sulthan Lufti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data

PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN PADA MICHOACAN-GUANAJUATO MENGGUNAKAN METODE GRAVITASI DAN MAGNETIK

Terdapat beberapa kawasan gunung api di dunia yang memiliki sifat berlawanan dengan polygenetic volcanoes. Kawasan gunung api ini disebut monogenetic volcanic field. Bentuk gunung berani monogenetik ini bervariasi, mulai dari kerucut cinder, maars, hingga kubah lava. Gunung berapi yang unik ini diduga memiliki kaitan dengan crustal thinning dalam proses pembentukannya. Crustal thinning sendiri, biasanya terjadi di zona rift atau di dekat zona subduksi. MichoacanGuanajuato Volcanic Field berada di zona subduksi, di mana lempeng tektonik Pasifik tenggelam di bawah lempeng Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah menginterpretasi hasil pemodelan bawah permukaan pada Michoacan-Guanajato Volcanic Field dan membuktikan adanya peristiwa crustal thinning di MichoacanGuanajato Volcanic Field. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan studi pustaka, pengolahan data, dan analisis hasil penelitian. Data dalam penelitian ini menggunakan data gravitasi, aeromagnetik, dan data elevasi. Data gravitasi diperoleh dari data GGMplus, data aeromagnetik diperoleh dari data EMAG-2, dan data elevasi diperoleh dari situs resmi USGS. Data yang dilakukan akan diolah dan dimodelkan serta dikaitkan dengan kondisi geologi di kawasan monogenetik tersebut. Pola anomali gravitasi pada kawasan Michoacan-Guanajuato Volcanic Field cenderung lebih rendah dibandingkan dengan anomali gravitasi pada kawasan sekitarnya yang tidak termasuk bagian dari volcanic field. Peta Total Magnetic Intensity (TMI) yang telah mengalami Reduction to Pole (RTP), menunjukkan adanya variasi nilai anomali magnetik baik yang rendah maupun tinggi. Hasil dari model yang didapatkan berdasarkan dua penampang menunjukkan adanya perbedaan nilai kedalaman Moho dari 28 hingga 38 km. Sehingga, model ini menunjukkan adanya fenomena crustal thinning pada Michoacan-Guanajuato Volcanic Field.

2024
πŸ‘€ Penulis: Riezka Alifa Ramadhani
🏷️ Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Tektonik 🏷️ Hidrologi Vulkanologi

PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN KAMCHATKA MONOGENETIC VOLCANIC FIELD (KMVF) MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK

Gunung api monogenetik merupakan tipe gunung api yang unik, ditandai dengan volume erupsi kecil dan sejarah erupsi singkat. Daerah Kamchatka memiliki Monogenetic Volcanic Field (MVF) yang terdistribusi di sekitar kawasan Klyuchevskaya Volcanic Group (KVG). Di Daerah Kamchatka terjadi interaksi antar Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia yang memicu aktivitas tektonik dan vulkanik yang signifikan. Penelitian ini berfokus pada fenomena penipisan kerak yang menunjukkan pembentukan MVF, di mana magma dari mantel bumi naik secara sporadis hingga menembus permukaan. Untuk menggambarkan pemodelan bawah permukaan, penulis menggunakan data satelit gravitasi GGMPlus dan magnetik EMAG2. Proses pengolahan data melibatkan koreksi Bouguer dan koreksi terrain pada data gravitasi disturbance untuk menghasilkan Anomali Bouguer Lengkap (CBA), serta reduksi ke kutub pada data magnetik untuk menghilangkan pengaruh medan magnet bumi. Hasil analisis menunjukkan bahwa densitas dan suseptibilitas mantel bumi masing – masing adalah 2,99 – 3,4 gr/cc dan 0,000001 - 0,0055 cgs, sementara untuk kerak bumi adalah 2,72 – 2,76 gr/cc dan 0,000004 – 0,060355 cgs. Pemodelan 2D memperlihatkan keberadaan dapur magma, aliran magma, serta variasi batas Moho antara 26 km hingga 35 km. Fenomena penipisan kerak paling signifikan terdeteksi pada kedalaman 26 km di bawah MVF. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai dinamika vulkanik di Kamchatka, serta implikasinya terhadap interpretasi aktivitas tektonik dan vulkanik di zona subduksi. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi dalam studi serupa di wilayah vulkanik lainnya.

2024
πŸ‘€ Penulis: Riyandra Alifna
🏷️ Geofisika 🏷️ Vulkanologi 🏷️ Tektonika

ANALISIS STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DALAM MEMPELAJARI KEBERADAAN SESAR DI DAERAH CIANJUR, JAWA BARAT

Telah terjadi gempa di Cianjur pada 21 November 2022 yang mengakibatkan banyak kerugian. Dugaan awal gempa ini disebabkan oleh aktivitas Sesar Cimandiri segmen Rajamandala yang melewati Cianjur. Namun hasil studi yang dilakukan oleh beberapa peneliti terkait gempa ini menyimpulkan adanya indikasi sesar baru yang belum teridentifikasi sebelumnya. Salah satu metode geofisika yang dapat digunakan untuk menggambarkan struktur bawah permukaan adalah metode gravitasi. Dengan melakukan analisis terhadap respon anomali gravitasi yang didapatkan diharapkan mampu memberikan gambaran struktur bawah permukaan Cianjur. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data gravitasi gabungan antara data yang diukur langsung oleh penulis dan data yang diukur oleh tim survei dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Dari pengolahan serta analisis yang telah dilakukan didapatkan peta anomali Bouguer lengkap yang menunjukkan rentang nilai anomali antara 46,5–59,5 mGal, peta anomali regional dengan nilai antara 48,5–57 mGal, dan peta anomali residual dengan rentang nilai antara (-2) –2,8 mGal. Terdapat sebuah kelurusan dan area menarik di bagian tengah yang ditunjukkan oleh peta anomali residual, tilt derivative, dan total horinzal of tilt derivative. Kelurusan yang terbentuk diduga berkaitan dengan adanya batas kontak satuan batuan, dan area menarik di bagian tengah peta diduga berkaitan dengan adanya intrusi di bawah permukaan. Dari model yang telah dibuat terdapat 5 satuan batuan utama yang menjadi penyusunnya yaitu Qyg (breksi dan lahar Gunung Gede), Qyc (bongkahan basalt), Qot (breksi dan lava dari gunung api tertua), Pb (breksi, lava, batupasir tufan keras), dan Ha (intrusi andesit hornblende dan porfir diorit hornblende). Pada model tersebut terdapat sesar yang diduga terbentuk akibat pergerakan intrusi di bagian tengah model. Adanya sesar ini mengkonfirmasi adanya indikasi sesar baru yang belum teridentifikasi seperti yang disimpulkan oleh beberapa penelitian geofisika sebelumnya.

2024
πŸ‘€ Penulis: Made Teja Krisna Devana
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Bawah Permukaan 🏷️ Sesar Geologi

ESTIMASI KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) MENGGUNAKAN METODE EARTHQUAKE HORIZONTAL-TO-VERTICAL SPECTRAL RATIO (EHVSR) DAN DATA GEMPA SUSULAN CIANJUR 2022

Pada tanggal 21 November 2022, gempa bumi berkekuatan 5,6 melanda Cianjur, Jawa Barat, Indonesia, mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Gempa terjadi di kedalaman kurang lebih 10 km terkait adanya indikasi sesar konjugasi di wilayah tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengkarakterisasi struktur bawah permukaan wilayah Cianjur dengan menggunakan metode Earthquake Horizontal to Vertical Spectral Ratio (EHVSR). Dengan menganalisis rekaman gempa susulan dari 19 stasiun pengukuran, kami memperoleh kurva EHVSR dari bagian perekaman noise, gelombang S, dan gelombang coda. Jika dibandingkan bagian-bagian tersebut, bagian gelombang S menunjukkan hasil yang menunjukkan frekuensi dominan lebih rendah dan amplitudo lebih tinggi yang menunjukkan adanya lapisan tanah lunak yang lebih tebal di wilayah tersebut. Namun, bentuk kurva bagian gelombang coda memiliki kemiripan dengan kurva bagian perekaman noise. Kemiripan tersebut menunjukkan bahwa gelombang tersebut bergerak pada medium dengan cara yang serupa dan beresonansi pada frekuensi atau struktur geologi yang hampir sama. Informasi kurva EHVSR komponen gelombang S setiap stasiun pengukuran dilakukan Inversi kurva EHVSR untuk memberikan profil kecepatan gelombang geser (VS). Berdasarkan hasil inversi kurva EHVSR, Cianjur memiliki struktur tanah keras dan batuan lunak yang cukup tebal, namun di beberapa titik terdapat lapisan tanah lunak yang tipis. Pada kedalaman 30 m dan 100 m, material masih cukup bervariasi dengan indikasi lapisan yang kurang terkompaksi, sementara pada kedalaman 500 m, material menjadi lebih seragam dan terkompaksi. Pada kedalaman 1000 m, peningkatan VS menunjukkan adanya lapisan yang lebih padat dan keras, kemungkinan berupa batuan dasar. Berdasarkan klasifikasi, daerah penelitian memiliki tanah sedang hingga keras.

2024
πŸ‘€ Penulis: Fernanda Daiva Pangestu
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Gelombang Gempa 🏷️ Struktur Tanah

STUDI FASIES SEISMIK PADA FORMASI TALANGAKAR, SUBCEKUNGAN JAMBI, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN

Subcekungan Jambi merupakan subcekungan yang berada di Cekungan Sumatra Selatan dan menjadi salah satu penghasil hidrokarbon utama di Indonesia. Formasi Talangkar adalah salah satu formasi yang berperan sebagai batuan induk dan reservoir pada Subcekungan Jambi . Eksplorasi migas telah dilakukan lebih dari satu abad dan menghasilkan minyak dan gas lebih dari 1,5 miliar barel. Namun, pemerintah masih mengharapkan berbagai penemuan baru di daerah ini. Oleh karena itu, studi fasies seismik dan data sumur dilakukan untuk membuka wawasan baru mengenai persebaran Formasi Talangakar di bawah permukaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis litofasies, analisis elektrofasies, pengikatan data sumur pada seismik, interpretasi seismik 3D, analisis fasies seismik, dan interpretasi lingkungan pengendapan. Formasi Talangakar pada daerah penelitian didominasi oleh batulempung dengan perselingan batulanau, sisipan batupasir, dan batubara. Berdasarkan analisis fasies arsitektur, interval penelitian merupakan bagian dari sungai bermeander dan riverdominated delta. Analisis tersebut dikorelasikan dengan fasies seismik sehingga diketahui persebaran lingkungan pengendapannya. Hasil analisis fasies seismik menunjukan bahwa daerah penelitian memiliki enam fasies seismik yaitu fasies seismik 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Fasies seismik tersebut dikorelasikan dengan fasies arsitektur. Pengkorelasian tersebut meliputi fasies arsitektur prodelta dan floodplain yang berkorelasi dengan fasies seismik 1, fan delta yang berkorelasi dengan fasies seismik 2, delta plain dan swamp yang berkorelasi dengan fasies seismik 3, distributary channel dan river channel yang berkorelasi dengan fasies 4, delta front yang berkorelasi dengan fasies seismik 5, dan floodplain yang berkorelasi dengan fasies seismik 6.

2024
πŸ‘€ Penulis: Afif Yulma Putra
🏷️ Seismologi 🏷️ Geofisika 🏷️ Arsitektur Lingkungan Pengendapan

KONVERGENSI INTENSITAS PROSES TITIK DI RUANG PARAMETER BERDIMENSI DUA

Proses titik adalah salah satu konsep fundamental dalam teori probabilitas dan statistika yang digunakan untuk memodelkan kejadian-kejadian acak yang tersebar dalam ruang atau waktu. Proses titik dengan ruang parameter berdimensi dua ditulis {????(????)???????2}. Dalam studi ini, ???? merupakan daerah pengamatan terjadinya gempa bumi di Jawa Barat 2014-2023, maka ????(????) menyatakan banyaknya kejadian gempa bumi pada daerah ??????2. Kejadian sukses didefinisikan sebagai terjadinya peristiwa gempa di Jawa Barat tahun 2014-2023 dengan besar magnitudo ?4,0 SR dan kedalaman pusat gempa ?[0,300] km. ???? dipartisi menggunakan partisi polar yang memanfaatkan koordinat polar (????,????) untuk melakukannya. Terdapat tiga model partisi, yaitu model A, B, dan C. Model A adalah teknik partisi polar dengan ketentuan ????????=???????? dan ?????????????????, untuk |????????|=|????????|,?????????. Ketentuan pada model B adalah ????????=???????? dan ????????=????????. Sedangkan model C adalah ????????????????? dan ?????????????????. Ketentuan ????????????????? dan ????????=???????? tidak memenuhi syarat |????????|=|????????|,?????????, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai model partisi polar. Model yang diaplikasikan pada ???? yaitu: model A, B, dan campuran (A dan B). Model A atau B digunakan untuk mengetahui banyak partisi minimum agar masing-masing partisi memuat paling banyak satu sukses. Model campuran digunakan untuk mengamati dan mengelompokkan daerah berdasarkan distribusi gempa. Tiga model partisi tersebut menghasilkan ???? hitung yang berbeda. Selain itu, ???? diestimasi menggunakan EIK berdasarakan model A. Konvergensi intensitas merujuk pada pendekatan suatu barisan ???? menuju nilai tertentu seiring ???? dan/atau ????. Intensitas gempa dalam proses titik akan mendekati nilai yang tetap atau stabil seiring ????dan/atau ???? tertentu.

2024
πŸ‘€ Penulis: Silmie Yashifa Eldhyawati
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Proses Titik 🏷️ Metodologi Estimasi Eik

INVERSI SATU DIMENSI METODE MAGNETOTELLURIK DENGAN VARIASI ALGORITMA PENYELESAIAN MATRIKS DAN PENERAPANNYA PADA DATA LAPANGAN

Indonesia adalah negara yang berada pada jalur pacific ring of fire yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Karena hal tersebut, Salah satu sumber daya alam Indonesia yang memiliki potensi besar adalah energi panas bumi atau dikenal sebagai energi geotermal. Untuk dapat memanfaatkan potensi tersebut, tentunya dibutuhkan suatu metode untuk dapat memetakan struktur bawah permukaan daerah-daerah yang memiliki potensi panas bumi. Metode yang dapat dimanfaatkan dalam proses eksplorasi ini adalah metode geofisika. Salah satu metode geofisika yang biasa digunakan dalam menentukan struktur bawah permukaan adalah metode magnetotellurik. Pada penelitiaan ini, dilakukan proses inversi occam 1 dimensi untuk mengetahui sebaran resistivitas dibawah permukaan bumi dengan melakukan variasi algoritma penyelesaian matriks. Nilai error yang didapat pada data lapangan disebabkkan oleh beberapa faktor pada saat proses pengambilan data seperti penggunaan perangkat elektronik, jaringan listrik, hingga kendaraan yang melewati lokasi pengambilan data yang dapat menyebabkan adanya gangguan elektromagnetik alami bumi. Pada penelitian ini, didapatkan algoritma penyelesaian matriks dekomposisi LU memiliki nilai error yang lebih kecil dan waktu penyelesaian yang lebih cepat dibandingkan dengan metode conjugate gradient dan biconjugate gradient

2024
πŸ‘€ Penulis: Dede Aditia Mursalim
🏷️ Geofisika 🏷️ Inversi Magnetotellurik 🏷️ Metodologi Penyelesaian Matriks

APLIKASI METODE RADIOMAGNETOTELURIK SURVEY BAWAH PERMUKAAN DANGKAL DI LAPANGAN RANCACIUNG LIMBANGAN KABUPATEN GARUT

Metode Radiomagnetotelurik (RMT) adalah teknik elektromagnetik yang menggunakan sinyal dari pemancar radio dalam rentang frekuensi 10 kHz hingga 1 MHz. Karena terbatasnya rentang frekuensi ini, RMT biasanya digunakan untuk investigasi dangkal. Metode RMT masih relatif baru, dengan sebagian besar penelitian dilakukan di Eropa. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menerapkan metode RMT di Indonesia. Pengolahan data dilakukan menggunakan Tensor-M dan mtpy, dan hasil inversi 2D diperoleh dengan Occam2DMT. Survei dilakukan di Lapangan Rancaciung, Desa Neglasari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. Data akuisisi dikumpulkan dari tiga profil dengan total 18 stasiun, dengan jarak antar stasiun 20 meter. Dari akuisisi data RMT, rentang resistivitas yang diperoleh adalah 100 – 105 Ohm m. Inversi 2D diterapkan pada setiap profil dan membandingkannya dengan nilai referensi serta informasi geologi yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode RMT dapat diterapkan di daerah penelitian dan merupakan pendekatan yang dapat diandalkan untuk eksplorasi bawah permukaan dangkal.

2024
πŸ‘€ Penulis: Wawan Kurniawan
🏷️ Geofisika 🏷️ Metodologi Penelitian Geologi Bawah Permukaan 🏷️ Analisis Data Elektromagnetik

PENGOLAHAN DATA DAN INTERPRETASI BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN DATA GAYA BERAT LAPANGAN PANAS BUMI KAMOJANG, GARUT, JAWA BARAT

Lapangan panas bumi Kamojang, yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan wilayah dengan potensi panas bumi yang tinggi, ditandai dengan seringnya muncul mata air panas dan fumarol. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model bawah permukaan yang mendetail dari sistem panas bumi di wilayah ini. Melalui pemanfaatan data gravitasi dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi ITB yang dikumpulkan pada tahun 2006, kami membuat peta Anomali Bouguer Lengkap yang akurat, dengan menggunakan densitas rata - rata yang berdasarkan pendekatan metode Parasnis sebesar 2,56 gr/cc. Nilai-nilai Anomali Bouguer Lengkap yang dihasilkan untuk Kamojang berkisar antara 22.5 mGal hingga 35.5 mGal. Dalam menganalisis data ini, kami menerapkan teknik pemisahan dengan filter Moving Average memisahkan anomali regional dan residual. Hasil analisis derivative menggunakan metode FHD dan SVD menunjukkan adanya struktur sesar yang signifikan dengan orientasi Barat Daya-Timur Laut. Berdasarkan dua dari tiga lintasan hasil analisis derivative tersebut menunjukkan keberadaan sesar normal, sementara satu lintasan lainnya menunjukkan keberdaan sesar naik. Keberadaan struktur sesar hasil analisis derivative ini memiliki kesesuaian dengan hasil yang diperoleh peta anomali residual dan peta geologi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Fuad Fakhrurrozy
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Gravitasi 🏷️ Struktur Sesar
Halaman 7 dari 9
πŸ’¬