📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 146 dokumenGEOLOGI DAN PEMODELAN RESERVOIR STATIS KARBONAT PADA FORMASI BATURAJA DI LAPANGAN BUZZ, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN, SUMATRA SELATAN
Lapangan Buzz merupakan lapangan minyak dan gas bumi yang terletak di Blok Rimau, Cekungan Sumatra Selatan, Sumatra Selatan. Lapangan Buzz saat ini berada pada tahap produksi dan pengembangan. Reservoir yang menjadi penghasil hidrokarbon pada Lapangan Buzz yaitu Formasi Baturaja yang merupakan litologi karbonat. Fokus penelitian merupakan reservoir karbonat pada Formasi Baturaja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi geologi regional dan geologi daerah penelitian, menentukan karakteristik reservoir, dan melakukan pemodelan 3D statis. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data log tali kawat dari 15 sumur, data batuan inti dari 3 sumur, dan data uji sumur. Metode yang dilakukan meliputi analisis fasies dan lingkungan pengendapan, petrofisika, Reservoir Rock Type (RRT), penentuan geometri reservoir, dan pemodelan fasies dan petrofisika. Hasil penelitian ini didapatkan nilai pancung yaitu Porositas 10%, Volume serpih 25%, dan Saturasi air 70%. Terdapat dua asosiasi fasies pada daerah penelitian yaitu carbonate build up yang dicakup pada RT 1 dan RT 2 dan carbonate slope yang dicakup pada RT 3 dan RT 4.
GEOLOGI, ALTERASI, DAN MINERALISASI AREA SORI PANDA, DESA TOLO' OI, KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT
Daerah penelitian terdapat di Desa Tolo’ Oi, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan hanya berjarak ±20 km dari Kecamatan Hu’u yang dipisahkan oleh Teluk Gempi. Penelitian dilakukan berdasarkan kemenerusan Busur Sunda–Banda yang menghasilkan sumber daya yang besar, seperti Batu Hijau, Elang–Dodo, Rintih, Hu’u dan diharapkan adanya potensi mineralisasi di Desa Tolo’ Oi, khususnya Daerah Sori Panda. Penelitian dilakukan dengan metode pemetaan geologi dengan skala 1:15000 pada daerah dengan luas 6,9 km2. Metode analisis yang digunakan berupa analisis petrografi dan mineragrafi serta analisis spektral. Daerah penelitian terdiri dari empat satuan geomorfologi, yaitu Satuan Perbukitan Aliran Lava Riwo, Satuan Punggungan Volkanik Riwo, Satuan Perbukitan Aliran Lava Panobu, dan Satuan Dataran Aluvial Panobu. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda, yaitu Satuan Breksi Piroklastik, Satuan Lava Andesit Hornblenda, Satuan Lava Andesit Piroksen, Satuan Breksi Hidrotermal, dan Satuan Endapan Aluvial. Sistem alterasi yang terdapat pada daerah penelitian adalah sistem epitermal sulfidasi tinggi yang terdiri dari empat zona alterasi, yaitu Zona Silisifikasi, Zona Kuarsa ± Pirofilit ± Dikit, Zona Kuarsa ± Kaolinit ± Dikit ± Monmorilonit ± Ilit, dan Zona Klorit ± Kalsit ± Monmorilonit. Proses alterasi tersebut dikontrol oleh adanya sesar berarah timur laut–barat daya dan litologi breksi piroklastik yang bersifat permeabel.
STUDI ALTERASI DAN MINERALISASI BLOK DORO JATI, DESA TOLO'OI, KECAMATAN TARANO, KABUPATEN SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Sumbawa merupakan salah satu lokasi yang menghasilkan endapan logam emas dalam jumlah besar. Daerah penelitian berada di Desa Tolo’ Oi, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di lokasi tersebut, penelitian ini difokuskan pada salah satu prospek, yaitu Blok Doro Jati dengan luas daerah penelitian 2.2 x 2.1 km. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kondisi geologi daerah penelitian, menentukan zona alterasi, dan menentukan karakteristik mineralisasi. Pengambilan data lapangan dilakukan dengan pemetaan skala 1:11.500 dengan metode penelitian pemetaan geologi daerah penelitian, analisis petrografi, analisis mineragrafi, analisis AAS (Atomic Absorption Spectrometry), dan analisis PIMA (Portable Infrared Mineral Analyzer). Daerah penelitian berada pada morfologi perbukitan volkanik dengan kemiringan curam hingga sangat curam dan pola kelurusan umum berarah timur laut–barat daya dan barat laut–tenggara. Stratigrafi terdiri atas empat satuan, yaitu satuan tuf, satuan lava andesit piroksen, dan satuan kubah lava andesit olivin yang ketiganya berumur Miosen Awal–Miosen Tengah dan satuan aluvial berumur Holosen. Struktur geologi berupa breksiasi sesar dengan orientasi timur laut–barat daya, rekahan gerus, urat silika, kekar tarik, dan veinlet. Alterasi terbagi menjadi lima zona, yaitu zona vuggy silica (leached silicic), zona kuarsa + alunit ± opal (argilik lanjut), zona alunit + kuarsa + kaolinit ± pirofilit ± anhidrit (argilik lanjut), zona smektit (argilik) dan zona klorit ± smektit (propilitik). Mineralisasi tersebar pada zona alterasi vuggy silica dan alunit + kuarsa ± opal yang dicirikan dengan kehadiran pirit, magnetit, dan sfalerit dengan hematit dan gutit sebagai produk oksidasi. Mineralisasi terkonsentrasi pada breksi hidrotermal yang tersebar di zona breksiasi sesar berarah timur laut–barat daya.
STUDI GEOLOGI DAN KONTROL STRUKTUR TERHADAP ALTERASI DAN MINERALISASI DI DAERAH GUNUNG PANI, KECAMATAN BUNTULIA, KABUPATEN POHUWATO, PROVINSI GORONTALO
Pulau Sulawesi merupakan wilayah yang kaya akan mineralisasi di Indonesia. Salah satu daerah dengan potensi mineralisasi ini berada di Gunung Pani. Secara administratif, daerah penelitian berada di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, dengan luas area sebesar 8,75 km2. Daerah ini diketahui memiliki tipe endapan epitermal sulfidasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran litologi dan alterasi pada daerah penelitian. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui pola struktur geologi dan peranannya terhadap alterasi dan mineralisasi di daerah penelitian. Sebanyak 76 sampel batuan dan 8 lubang bor digunakan untuk analisis pada penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain pemetaan lapangan, petrografi sayatan tipis, sayatan poles, dan analisis spektral dengan menggunakan Analytical Spectral Devices (ASD). Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda terdiri dari 8 satuan batuan, yaitu Satuan Granodiorit, Satuan Monzonit, Satuan Riodasit Masif, Satuan Riodasit Banded, Satuan Breksi Riodasit, Satuan Breksi Diatrema, Satuan Tuf Lapili, dan Satuan Aluvial. Struktur geologi yang berkembang didominasi oleh sesar menganan turun berarah barat laut-tenggara dan sesar normal mengiri berarah timur laut-barat daya. Pengamatan lapangan menunjukkan sesar menganan turun memotong sesar normal mengiri. Adapun zona alterasi yang berkembang pada daerah penelitian, yaitu zona alterasi silika + ilit ± adularia, silika + ilit + smektit, ilit + smektit + silika, silika + smektit + ilit + klorit + kalsit, dan silika + klorit + kalsit + epidot. Mineralisasi pada daerah penelitian hadir sebagai urat, terdiseminasi, dan breksi hidrotermal dengan mineral bijih berupa pirit, arsenopirit, dan kalkopirit. Alterasi dan mineralisasi pada daerah penelitian dikontrol oleh sesar normal mengiri berarah timur laut-barat daya yang muncul akibat tektonik ekstensional. Peristiwa tektonik ini dapat terjadi akibat adanya penebalan kerak dan kolaps kerak bagian atas lengan utara Sulawesi pada fase subduksi Lempeng Laut Sulawesi. Sesar ini dipotong oleh sesar menganan turun berarah barat laut-tenggara yang merupakan tren sesar aktif di lengan utara Sulawesi.
ANALISIS KELAYAKAN PEMILIHAN JALUR MRT JAKARTA FASE 3 TAHAP 1 DARI ASPEK BAHAYA GEOLOGI DAN ASPEK SOSIAL MENGGUNAKAN METODE GIS-AHP
Jalur MRT Jakarta fase 3 tahap 1 membentang dari Kembangan, Jakarta Barat hingga Ujung Menteng, Jakarta Timur sepanjang 33,3 km. Proyek ini diusulkan sebagai solusi atas permasalahan mobilitas di Jakarta akibat tingginya arus keluar-masuk kendaraan dari daerah Bodetabek dan keterbatasan ruang di Jabodetabek. Dengan kapasitas dan frekuensi tinggi, MRT diharapkan dapat memecahkan masalah mobilitas tersebut. Analisis ini mempertimbangkan dua aspek utama: potensi bahaya geologi dan aspek sosial. Potensi bahaya geologi meliputi delapan kriteria, yaitu litologi, kemiringan lereng, penurunan muka tanah, rawan banjir, kerentanan likuefaksi, kerentanan gerakan tanah, jarak dari sesar aktif, dan PGA. Sedangkan aspek sosial mencakup tiga kriteria: kepadatan penduduk, jarak dari transportasi umum, dan tata guna lahan. Metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) melalui penilaian ahli untuk menentukan bobot dari setiap aspek dan kriteria. Data spasial dari setiap kriteria dianalisis dan dipetakan untuk memvisualisasikan daerah dengan potensi bahaya geologi tinggi serta kesesuaian manfaat sosial. Hasil dari kedua aspek tersebut digabungkan untuk menghasilkan peta kelayakan jalur MRT Jakarta Fase 3 Tahap 1. Dari analisis, kriteria geologi yang paling berpengaruh adalah PGA dan jarak dari sesar aktif, dengan bobot masing-masing 19% dan 19,9%. Untuk aspek sosial, kepadatan penduduk adalah kriteria yang paling dominan dengan bobot 54,8%. Aspek bahaya geologi memiliki bobot sebesar 79,5%, sementara aspek sosial 20,5%. Pada zona sempadan 50 meter di sekitar jalur MRT, terdapat tiga zona kelayakan: tinggi (0,722 km² atau 21,67%), sedang (2,609 km² atau 78,33%), dan rendah (0 km² atau 0%).
STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI PADA AREA UTARA KOMPLEK GUNUNG PANDAN, JAWA TIMUR
Gunung Pandan merupakan bagian dari Geopark Bojonegoro, sehingga konservasi air tanah diperlukan untuk kebutuhan wisata dan masyarakat sekitar. Namun demikian, penelitian mengenai pola hidrogeologi di daerah penelitian belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan memetakan hidrogeologi. Pemahaman geologi didasarkan pada pemetaan geologi, struktur geologi, zona alterasi, geomorfologi, serta vulkanostratigrafi. Sedangkan, analisis hidrogeologi meliputi kontrol kemunculan mataair, karakteristik fisik serta kimia mataair, jenis akuifer, zona resapan, dan pola hidrogeologi di daerah penelitian. Berdasarkan analisis geomorfologi dan vulkanostratigrafi, daerah penelitian dapat dibagi menjadi 7 satuan geomorfologi, 5 khuluk, dan 23 gumuk. Berdasarkan pemetaan geologi, daerah penelitian dapat dibagi menjadi 39 satuan batuan tidak resmi. Struktur geologi utama di daerah penelitian berarah NNW-SSE berupa sesar geser mengiri (tear fault). Hal ini menyebabkan terbentuknya sesar mengiri (NE-SW), sesar menganan (NW-SE), dan perlipatan kecil (ENE-WSW). Dua zona alterasi yang berada di sekitar Khuluk Jari dengan mineral alterasi smektit-kaolinit-kuarsa dan oksida besi di sekitar mataair. Pemetaan mataair menunjukkan terdapat 9 mataair dingin dan 7 mataair hangat. Mataair di daerah penelitian dapat dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu mataair hangat-dingin yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer wackestone pada kelompok air Na-Cl dengan nilai TDS 1070-16200 ppm; mataair dingin yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer wackestone pada kelompok air Ca-HCO3-SO4 serta memiliki nilai TDS 424 ppm; mataair hangat yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer satuan kubah lava pada kelompok air Mg-HCO3 dengan nilai TDS 756 ppm; mataair dingin yang kemunculannya dikontrol oleh topografi dalam akuifer batuan breksi piroklastik dan breksi sedimen pada kelompok air Ca-Mg-HCO3 dengan nilai TDS 112-363 ppm; mataair hangat asam yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer wackestone pada kelompok air Ca-SO4 dengan TDS 350 ppm. Pola hidrogeologi memiliki arah umum selatan-utara dengan memerhatikan kedudukan batuan. Daerah resapan berada di zona sesar dan pada tinggian punggungan aliran piroklastik.
STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA SEPANJANG ALIRAN SUNGAI BANYUPAHIT, KABUPATEN BONDOWOSO, JAWA TIMUR
Sungai Banyupahit mengalir sepanjang 12 km di Kaldera Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan di sepanjang aliran sungai, yaitu dari hulu di sekitar Danau Kawah Ijen hingga keluaran Mata Air Hangat Blawan di dinding utara kaldera. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi dan keberadaan sistem panas bumi melalui karakteristik air di sepanjang Sungai Banyupahit. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah studi literatur, analisis citra DEM (Digital Elevation Model), pemetaan geologi, pengukuran langsung karakteristik fisik (temperatur, pH, dan konduktivitas listrik) air dingin dan panas, pengambilan dan analisis kimia sampel air dingin dan panas, serta pengukuran langsung gas tanah (CO2, H2S, dan SO2). Analisis citra DEM dan pemetaan di lapangan menunjukkan, bahwa litologi di sepanjang aliran Sungai Banyupahit tersusun atas 8 satuan batuan. Satuan tersebut, dari tua ke muda, adalah Satuan Breksi Piroklastik Blawan, Batugamping, Andesit Piroksen Blawan, Tuf Plalangan, Andesit Gunung Blau, Breksi Piroklastik Gunung Papak, Andesit Piroksen Kawah Ijen, dan Breksi Piroklastik Gunung Kukusan. Hasil pemetaan struktur geologi dan pengukuran gas tanah menunjukkan keterdapatan 3 struktur geologi berarah barat daya-timur laut. Manifestasi panas bumi muncul sebagai Danau Kawah Ijen (41°C, pH <1) di hulu Sungai Banyupahit dan Mata Air Hangat Blawan (40-50°C, pH~6,4) di hilir sungai. Karakteristik Sungai Banyupahit adalah mempunyai temperatur antara 21 dan 24°C, pH antara 0,7 dan 5 (makin netral ke arah hilir), tipe SO4, dan kaya akan unsur terlarut Cl, F, B, dan SiO2. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa di sepanjang Sungai Banyupahit terdapat 3 sistem panas bumi, yaitu Sistem Kawah Ijen, Gunung Blau, dan Blawan.
ANALISIS FAKTOR RISIKO PENDAKIAN GUNUNG DI INDONESIA PADA KEJADIAN FATAL PERIODE 2013- 2023 DENGAN SIMULASI MONTE CARLO
Penelitian ini menganalisis faktor risiko kejadian fatal pada pendakian gunung di Indonesia periode 2013-2023 menggunakan simulasi Monte Carlo. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi faktor-faktor risiko terkait kemiringan lereng dan Elevasi gunung yang berkontribusi terhadap kematian pendaki, menganalisis pengaruh dan interaksi antar faktor risiko, memodelkan risiko kematian menggunakan simulasi Monte Carlo, dan memberikan rekomendasi untuk mitigasi risiko. Metodologi penelitian meliputi pengumpulan data sekunder dari BASARNAS dan Peta Rupa Bumi Indonesia, analisis faktor risiko, pemodelan matematis faktor kemiringan lereng dan Elevasi gunung, serta integrasi model dalam simulasi Monte Carlo. Analisis statistik meliputi statistik deskriptif, analisis korelasi dan regresi, analisis sensitivitas, uji hipotesis, analisis probabilitas risiko, dan visualisasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin dan Elevasi gunung menjadi faktor risiko dominan, terutama dalam kondisi cuaca buruk. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan keselamatan pendaki gunung di Indonesia.
PEMODELAN MULTI SKENARIO BAHAYA TANAH LONGSOR UNTUK PENILAIAN KERUGIAN BANGUNAN FASILITAS KESEHATAN DI PULAU JAWA
Tanah longsor dapat terjadi hampir di seluruh bagian dunia, salah satunya di Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang kerap terjadi bencana tanah longsor. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tanah longsor merupakan bencana alam yang paling sering terjadi di Pulau Jawa pada tahun 1998 – 2023 jika dibandingkan dengan bencana alam yang lain. Bencana tanah longsor tersebut menimbulkan dampak yang serius sehingga perlu dilakukan upaya penanggulangan bencana tanah longsor melalui penilaian bencana tanah longsor. Penilaian bencana tanah longsor dilakukan dengan tujuan untuk memahami karakteristik bencana tanah longsor serta untuk mengetahui potensi risiko yang dapat terjadi akibat bencana tanah longsor. Pemodelan bahaya tanah longsor merupakan salah satu metode penilaian bencana tanah longsor yang paling efektif untuk dilakukan sebagai upaya pengurangan dampak bencana tanah longsor. Model bahaya tanah longsor digunakan untuk mengetahui tingkat bahaya tanah longsor di suatu wilayah. Penilaian bahaya tanah longsor dapat dilakukan secara deterministik dan probabilistik sehingga dapat menilai bahaya tanah longsor dengan lebih komprehensif karena mempertimbangkan ketidakpastian dari faktor pengendali yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor. Salah satu faktor pengendali yang bersifat probabilistik adalah curah hujan. Adapun beberapa faktor pengendali yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor adalah topografi, geologi, penutup lahan, kegempaan, curah hujan, dan hidrologi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan bahaya tanah longsor berdasarkan beberapa skenario pemodelan, yaitu secara deterministik dan probabilistik. Adapun jumlah skenario yang dilakukan pada penelitian ini adalah 12 skenario yang dibedakan berdasarkan penggunaan metode pemodelan dan data periode ulang curah hujan penyusun model. Pemodelan bahaya tanah longsor diawali dengan pemodelan suseptibilitas tanah longsor untuk mengetahui potensi atau tingkat kerawanan suatu daerah untuk terjadi tanah longsor. Metode yang digunakan untuk memodelkan suseptibilitas tanah longsor adalah metode analytical heirarchy proccess (AHP) dan frequency rasio (FR). Kedua metode tersebut masing-masing bersifat heuristik dan statistik. Metode heuristik dilakukan untuk menilai faktor pengendali tanah longsor penyusun model berdasarkan pendapat para ahli. ..........
REDESAIN KAWASAN WISATA ALAM SITU PATENGAN, KECAMATAN RANCABALI, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
Bencana longsor merupakan jenis bencana alam yang sering ditemukan pada areal dengan dominasi lereng dan berdampak pada kerugian ekonomi serta rusaknya aspek lingkungan dan ekosistem. Wilayah Taman Wisata Alam (TWA) Situ Patengan merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Kabupaten Bandung yang menyajikan kekayaan alam berupa danau dengan bentang alam pegunungan. Wilayah tersebut dikelilingi oleh akses jalan dengan bagian pinggir berupa lereng dan pondasi batuan. Penelitian ini bertujuan memetakan areal kerawanan longsor melalui klasifikasi parameter penyebab longsor berdasarkan metode Anbalagan pada wilayah TWA Situ Patengan dan sekitarnya. Penelitian ini mengkaji pemetaan potensi longsor melalui pemodelan spasial merujuk metode Anbalagan yang mencakup parameter litologi, kemiringan, tutupan lahan, relief relatif, kebasahan lahan, curah hujan, dan zona seismik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area kerawanan longsor terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu kerawanan rendah seluas 151,35 hektar, kerawanan sedang seluas 37,61 hektar, dan kerawanan tinggi seluas 2,87 hektar. Sebaran areal dengan tingkat kerawanan tinggi ditemukan pada areal pinggir lereng antara TWA Situ Patengan dan Cagar Alam Patengan 1, sedangkan tingkat kerawanan rendah dan sedang banyak ditemukan pada areal pemanfaatan wisata.
EVALUASI STABILITAS TEROWONGAN BERDASARKAN KLASIFIKASI RMR DAN GSI PADA HEADRACE TUNNEL PLTA ASAHAN 3, KABUPATEN ASAHAN, SUMATRA UTARA
Terowongan PLTA Asahan 3 berada di Desa Tangga, Kecamatan Aeh Songsongan, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatra Utara. Tujuan pembangunan terowongan ini adalah untuk menambah pasokan listrik yang belum tercukupi di Sumatra Utara dan agar tetap bisa melayani kebutuhan masyarakat pada saat salah satu pembangkit mengalami pemeliharaan. Penelitian ini ditujukan untuk memahami kondisi geologi teknik daerah penelitian, menentukan sistem penyangga terowongan yang tepat, dan mengevaluasi properti mekanik terhadap deformasi terowongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pekerjaan lapangan berupa pemetaan geologi serta analisis petrografi, analisis empiris dengan metode RMR dan GSI, pekerjaan laboratorium terkait sifat keteknikan tanah dan batuan, serta analisis metode numerik menggunakan metode elemen hingga untuk analisis kestabilan terowongan. Hasil penelitian menunjukkan daerah penelitian terdiri dari 3 satuan geologi dari tua ke muda antara lain: Satuan Batupasir Konglomeratan, Satuan Tuf, dan Satuan Aluvial. Berdasarkan hasil penyelidikan inti bor maka dapat diketahui pada daerah penelitian tersusun atas fair – good rock yaitu batupasir konglomeratan. Struktur geologi yang ditemukan berupa sesar minor yang tidak dapat dipetakan. Sistem penyangga terowongan yang disarankan berupa rockbolt dan shotcrete pada good rock dan gabungan rockbolt, shotcrete, dan wiremesh pada fair rock. Dengan parameter properti mekanik RMR didapatkan nilai rata-rata total displacement pada 0,97 cm pada kondisi dipasang perkuatan dengan beban gempa. Dengan parameter properti mekanik GSI didapatkan nilai rata-rata total displacement pada 0,387 cm pada kondisi dipasang perkuatan dengan beban gempa. Hasil analisis kestabilan terowongan memperlihatkan bahwa klasifikasi GSI memiliki hasil yang paling cocok digunakan pada headrace tunnel PLTA Asahan 3 yang umumnya tersusun atas jenis fair – good rock.
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PENINGKATAN BIAYA KONSTRUKSI PADA PROYEK BENDUNGAN DARI SUDUT PANDANG PELAKU KONSTRUKSI(STUDI KASUS: PROYEK BENDUNGAN CIPANAS)
Dalam rangka mensukseskan kestabilan pangan, swasembada pangan serta meningkatkan kestabilan ekonomi masyarakat, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan berbagai pembangunan infrastruktur penunjang kestabilan pangan. Pemerintah melalui peraturan Presiden No. 47 Tahun 2016 menetapkan beberapa proyek bendungan sebagai Proyek Strategis Nasional untuk mendukung ketahanan air dan pangan nasional. Namun dalam pelaksanaannya, banyak bendungan yang sedang dibangun mengalami kenaikan biaya konstruksi. Bendungan Cipanas adalah salah satu bendungan yang mengalami kenaikan biaya konstruksi sebesar 66%. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh pemahaman adanya hubungan antara karakteristik proyek dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kenaikan biaya konstruksi Bendungan Cipanas. Penelitian ini dibatasi kepada proyek Bendungan yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional yakni Bendungan Cipanas. Penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kenaikan biaya konstruksi pada proyek Bendungan Cipanas, sehingga untuk proyek-proyek bendungan serupa dapat diantisipasi dan diambil tindakan untuk mencegah atau mengendalikan kenaikan biaya yang sangat berarti. Dengan menggunakan data sekunder berupa data kontrak dan data primer yakni kuisioner yang dilakukan kepada Pelaku Konstruksi Bendungan Cipanas didapatkan faktor yang berpengaruh terhadap kenaikan biaya konstruksi adalah kondisi geologi, kesalahan perencanaan, sulitnya mendapatkan material, tenaga kerja dan peralatan, keterlambatan pembebasan lahan, kondisi sosial masyarakat, pelaksanaan konstruksi yang buruk, kenaikan harga material, pengajuan klaim, estimasi biaya yang tidak tepat, kondisi ekonomi, kondisi global, force majeure, akses proyek yang sulit, kebijakan pemerintah, dan perubahan iklim. Karakteristik Bendungan Cipanas yang ditemukan adalah lokasi proyek, tipe bendungan dan ketersediaan material, tipe saluran pengelak, kondisi geologi, pembebasan lahan dan kebutuhan lahan serta kondisi sosial masyarakat.
STRATEGI PENINGKATAN KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA WISATAWAN DI KAWASAN BANDUNG UTARA TERHADAP BAHAYA BENCANA GEMPA BUMI SESAR LEMBANG (STUDI KASUS : KECAMATAN LEMBANG)
Berdasarkan sudut pandang sektor pariwisata, Kecamatan Lembang merupakan salah satu wilayah yang memiliki daya tarik wisata yang diminati oleh masyarakat baik lokal, nasional, hingga mancanegara. Keberadaan Kecamatan Lembang yang dilewati oleh garis Sesar Lembang menjadi perhatian peneliti terkait potensi gempa bumi dan bahaya yang ditimbulkan dari aktivitas gempa bumi Sesar Lembang. Potensi gempa bumi tersebut dapat mengancam wisatawan yang sedang berwisata di kawasan tersebut sehingga perlu di tinjau terkait strategi peningkatan kesiapsiagaan bagi wisatawan dalam menghadapi bencana gempa bumi Sesar Lembang. Penelitian-penelitian terdahulu seringkali membahas terkait strategi upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat lokal. Penelitian ini mencoba mencari tahu strategi peningkatan kesiapsiagaan yang ditujukan pada wisatawan di Kawasan Bandung Utara dalam hal ini adalah Kecamatan Lembang. Hasil penelitian menunjukan bahwa unsur perangkat daerah dan swasta sebagai pengelola destinasi wisata belum mengupayakan peningkatan kesiapsiagaan bagi wisatawan yang berkunjung di Kecamatan Lembang. Upaya yang dilakukan oleh unsur perangkat daerah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat baru dilaksanakan kepada para pengelola destinasi wisata melalui Bimbingan Teknis kepada para pekerja di Destinasi Wisata. Walaupun sebagian wisatawan telah mengetahui keberadaan Sesar Lembang serta potensi bahaya yang ditimbulkan, namun untuk mengurangi dampak yang dirasakan oleh wisatawan, maka perlu di buat strategi yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan bagi para wisatawan. Strategi yang ditawarkan dalam penelitian ini berupa sosialisasi jenis dan fungsi data kebencanaan, Pemberian informasi kiat-kiat penyelamatan diri melalui media informasi interaktif untuk wisatawan pada destinasi wisata, serta optimalisasi pemberian sarana dan prasarana untuk evakuasi bencana. Penelitian diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pengembangan kebijakan pada sektor pariwisata terutama pariwisata yang aman bencana.
PENENTUAN RETENSI OPTIMAL SKEMA REASURANSI GEMPA BUMI EXCESS OF LOSS STUDI KASUS: REASURANSI GEMPA BUMI PROVINSI PAPUA DAN PAPUA BARAT
Papua merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan terletak pada pertemuan antara dua lempeng tektonik, yaitu Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo-Australia. Hal ini mengakibatkan Papua rentan terhadap bencana gempa bumi yang dapat mengakibatkan risiko korban jiwa dan juga risiko kerugian finansial. Untuk meminimalisir dampak terjadinya kerugian finansial akibat bencana gempa bumi, dapat digunakan instrumen asuransi dan reasuransi gempa bumi. Di dalam Tugas Akhir ini, dibahas tentang skema asuransi/reasuransi Excess-of-Loss menggunakan Earthquake Catastrophe (CAT) Model. Suatu CAT Model terdiri dari 4 modul, yaitu: Hazard, Inventory, Vulnerability, dan Loss Modules. Di dalam Tugas Akhir ini, retensi optimal dari skema reasuransi Excess of Loss ditentukan dengan cara meminimumkan Value-at-Risk dari suatu peubah acak Kerugian Finansial Total yang dialami suatu perusahaan asuransi. Premi risiko reasuransi ditentukan menggunakan Expected Value Premium Principle. Data yang digunakan sebagai studi kasus adalah data Average Annual Loss akibat gempa bumi tektonik di 6 Kota/Kabupaten di Papua, yaitu: Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Mimika, Kabupaten Nabire, dan Kota Sorong. Dilakukan beberapa skenario penentuan retensi optimal berdasarkan 4 asumsi distribusi peluang untuk Kerugian Finansial Agregat, yaitu: Lognormal, Gamma, Inverse Gaussian, dan Pareto; beberapa nilai Coefficient of Variation (CV); serta beberapa nilai loading factor dalam penentuan premi risiko reasuransi..
PENENTUAN RETENSI OPTIMAL SKEMA REASURANSI EXCESS OF LOSS (STUDI KASUS: REASURANSI GEMPA BUMI DI PROVINSI JAWA BARAT)
Indonesia merupakan negara yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik besar dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Laut Filipina. Hal ini mengakibatkan Indonesia berpotensi mengalami banyak gempa bumi. Sebagai contoh, karena terdapat Lempeng Tektonik Indo-Australia di sebelah selatan provinsi Jawa Barat, maka provinsi Jawa Barat sangat rentan terhadap bencana gempa bumi. Selain dapat menyebabkan banyak korban jiwa, gempa bumi juga dapat mengakibatkan terjadinya kerugian finansial pada properti yang terdampak bencana tersebut. Menurut Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, kerugian finansial di Indonesia akibat gempa bumi, rata-rata, adalah sebesar Rp 7.56 triliun per tahun. Oleh sebab itu, diperlukan suatu instrumen untuk meminimalisir kerugian finansial akibat bencana gempa bumi; salah satunya adalah asuransi dan reasuransi gempa bumi. Di dalam Tugas Akhir ini, dibahas secara singkat tentang Earthquake Catastrophe (CAT) Model, yang terdiri dari 4 modul, yaitu: Hazard, Inventory, Vulnerability, dan Loss Modules. Di dalam Tugas Akhir ini juga dibahas tentang skema Reasuransi Excess-of-Loss dan penentuan retensi optimal dengan cara meminimumkan Value-at-Risk dari Total Cost perusahaan asuransi. Data yang digunakan sebagai studi kasus adalah data Average Annual Loss (AAL) di 7 Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yaitu: Kabupaten Sukabumi; Kabupaten Bogor; Kabupaten Bandung; Kabupaten Cianjur; Kabupaten Tasikmalaya; Kota Bandung; dan Kabupaten Bandung Barat. Dilakukan beberapa skenario penentuan retensi optimal berdasarkan 4 asumsi distribusi peluang untuk Kerugian Finansial Agregat, yaitu: Lognormal, Gamma, Inverse Gaussian, dan Pareto; beberapa nilai Coefficient of Variation (CV); serta beberapa nilai loading factor dalam penentuan premi risiko reasuransi. Penentuan premi risiko reasuransi adalah dengan menggunakan Expected Value Premium Principle.