📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenSINTESIS PARTIKEL NANO TiO2-KITOSAN DENGAN TEMPLAT KANJI MENGGUNAKAN METODA SOL GEL PADA COTTON SEBAGAI APLIKASI TEKSTIL ANTI UV
Sintesis partikel nano menggunakan TiO2 berbasis air dengan pH basa telah berhasil disintesis dengan menggunakan metode sol-gel dan telah terimobilisasi pada bahan Cotton dengan menggunakan asam sitrat sebagai zat pengikat silang, dengan metoda pad-dry-cure. Proses sintesis dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter diantaranya konsentrasi prekursor TiCl4 0.3 M, 0.5 M dan 1.0 M, menggunakan templat kanji 1%, dengan variasi temperatur kalsinasi (400?C,500?C, 600?C) selama 2 jam dan diaplikasikan ke bahan Cotton dengan metoda pad-dry-cure pada temperatur 120?C selama 3 menit. Karakterisasi Scanning Electron Microscope (SEM) untuk melihat morfologi dari hasil sintesis serbuk dan morfologi terimobilisasinya TiO2 pada bahan Cotton. Karakterisasi struktur dilakukan dengan X-Ray Diffraction (XRD), karakterisasi UV-Vis spektrofotometri dilakukan untuk memeriksa band gap, dan karakterisasi Brunauer Emmett Teller (BET) untuk melihat luas permukaan, diameter pori, dan volume rata-rata pori. Untuk aplikasi ke bahan tekstil dilakukan karakterisasi Fourier Transform Infra Red ( FTIR). Berdasarkan hasil Scanning Electron Microscope (SEM) dilihat morfologi partikel memberikan ukuran nano kurang dari 100 nm, pH basa cenderung memberikan partikel yang kecil dan teraglomerasi, setelah diberikan templat kanji distribusi partikel lebih seragam dengan ukuran partikel naik 170 – 200 nm. Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) memiliki struktur dengan tiga puncak utama (100), (101) dan (102,) fasa kristal yang terbentuk anatase dan rutile, dengan ukuran kristal 5 – 20 nm. Karakterisasi UV-Vis spektrofotometri memberikan nilai band gap 3,1 eV- 3,5 eV dan karakterisasi Brunauer Emmett Teller (BET) tanpa templat kanji 1 % luas permukan spesifik 40,65 m2/g, dengan volume total pori 0,278 cm3/g dengan penambahan templat kanji menjadi lebih kecil dengan luas permukan spesifik 35,44 m2/g dengan volume total pori 0,196 cm3/g , diameter rata-rata pori 20 – 30 nm. Hasil terbaik dari serbuk TiO2 partikel nano pada konsentrasi 0,3 M dengan penambahan templat kanji. Pada karakterisasi aplikasi ke bahan Cotton dilihat morfologi Scanning Electron Microscope (SEM) telah berhasil masuk dan terimobilisasi ke bahan Cotton dengan penambahan kitosan dan asam sitrat sebagai crosslinking sehinggga bisa berfungsi sebagai UV blocking, hasil karakterisasi dikonfirmasi dengan Fourier Transform Infra Red( FTIR), pada puncak 3495cm-1 adanya gugus O- H dan N-H, dan terdapat ikatan hidrogen dari asam karboksilat O – H pada puncak 2546 cm-1 dan adanya gugus Ti-O-Ti pada puncak serapan 511 cm-1.
PREDIKSI BERDASARKAN CFD EFISIENSI KETAHANAN UNTUK BERBAGAI MODEL GERAK DARI PENERBANGAN BURUNG PENERBANGAN
Innovation in new technology demand, such as Micro Aerial Vehicle evolved recently for acquiring most favorable value of utilization that is denoted by efficiency parameter. Nature always become part of inspiration and for this interest, many researcher have spent much time on studying the behavior of flying animals to comprehend the fundamental, such as a bird in flight. As to seek bird flight efficiency, it is can be defined from endurance efficiency which is ratio of required aerodynamic power to a unit carried weight. This efficiency can give information about how a bird with its flapping wing motion be able to maintain its flight level for longer flight time. The paper presents the computation of endurance efficiency of a flapping bird flight using computational fluid dynamics approach. Hawk bird model becomes a computational case for studying the effect of flapping parameters on endurance efficiency. The flapping parameters includes, flapping way, flapping frequency, maximum angles of dihedral, retraction and twist. For the computational model, the bird only consider as a flat plate shaped wing model with the planform size based on Hawk bird geometry. The computational simulations are conducted to calculate time-dependent aerodynamic forces and pitching moment of the wing based on the solution of Reynold Averaged Navier-Stokes equation. To capture viscous effect at low Reynolds number of 2.0 x 105 on the wing surface, multi grid structured mesh is required. It is also to hinder numerical problem related to over-lapping mesh during the simulation of wing motion. Mimicking the motion of downstroke and upstroke of bird wing, a sinusoidal function is used. The simulations are carried out for the variation of flapping frequencies, retraction angle, maximum dihedral angle, maximum twist angle, and motion mechanism in order to investigate its effect on aerodynamic forces and moment production. The frequency variation is conducted within the upper and lower values of actual frequency 2.87 Hz as reference frequency of Hawk. Furthermore, dihedral variations is from 10 to 40 degrees. Then, the variations of twist or pitching angles is 12, 15, and 20 degrees. The variation of retraction or hand circumduction angle is 10, 20, and 25 degrees. In addition, the flapping ways are carried in three motions including pure flapping, pure flapping- retraction and symmetrical pure flapping- pitching. From the simulation results show higher flapping frequency yields greater peak aerodynamic coefficient, on the other hand, thrust production is not the same for each case. For the Retraction case, the greater dihedral the higher peak coefficient of lift, in contrary for the coefficient of thrust. For pure flapping motion case, the higher endurance efficiency is produced as decreasing dihedral angle. For the symmetrical flapping-pitching motion case, the higher efficiency produced is produced as increasing pitching angle. Then, the comparison among the motions, the pure flapping and retracting motions has lower efficiency than symmetrical flapping-pitching motion. Therefore, the higher endurance efficiency of the flapping-pitching motion can make better for range performance. The analyzed is also by generating velocity and pressure contours, mesh movement as to see the behavior of flapping motion in detail.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SANTRI BETAH MONDOK DI PESANTREN MENGGUNAKAN MODEL PERSAMAAN STRUKTURAL
Banyak faktor diduga memengaruhi santri betah mondok di pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor tersebut. Model Persaman Struktural (MPS) digunakan untuk mencari jawaban atas tujuan penelitian tersebut. Sampel dalam penelitian ini diperoleh menggunakan metode judgment sampling, yaitu sampel diambil berdasarkan kriteria-kriteria yang dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Kriteria sampel ialah santri yang telah mondok minimal empat tahun. Berdasarkan kriteria yang ada maka sampel dalam penelitian ini santri kelas XI dan XII. Sampel yang terjaring dalam penelitian ini berjumlah 145 responden. Berdasarkan faktor-faktor yang dikaji, seperti faktor kegiatan, dorongan orangtua, kondisi lingkungan pesantren dan fasilitas pesantren, hasil dari model persamaan struktural menujukkan bahwa kegiatan (pagelaran seni dan bimbngan konseling) merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap rasa betah santri mondok di Pesantren Condong.
KAJIAN ASPEK TEKNIS DALAM KAITANNYA DENGAN INTEGRASI DARAT DAN LAUT PADA PEKERJAAN PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT
Pipa bawah laut yang merupakan sebuah infrastruktur yang dibangun dengan teknologi yang membutuhkan pemahaman keilmuan yang mendalam serta biaya yang relatif besar memerlukan suatu perlakuan khusus, yaitu dalam hal proses perencanaan pemasangan pipa bawah laut sampai proses perawatan pipa tersebut. Dalam proses pemasangan pipa di daerah pesisir harus dilihat aspek-aspek teknis yang ada, tidak hanya aspek yang ada di lautan saja namun juga kita harus melihat aspek daerah pesisir (daratan).Adapun aspek-aspek teknis yang terkait diantaranya datum vertikal, datum horisontal, sistem proyeksi, skala dan satuan jarak. Metode yang digunakan adalan analisis kajian aspek-aspek teknis yang digunakan serta kelemahan dan kelebihannya. Dalam hal ini terutama yang dibahas adalah permasalahan perbedaan datum vertikal antar pulau (Pulau Jawa dan Sumatera).Setelah dilakukan anilisis maka didapat kan solusi dari masalah-masalah yang terjadi. Selain itu juga permasalahan perbedaan datum vertikal dapat diselesaikan dengan visualisasi dan perumusan, sehingga dapat mempermudah dalam penentuan aspek-aspek teknis yang sesuai dalam proses pemasangan jalur pipa bawah laut (Jawa-Sumatera).
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK KEGIATAN EKSKAVASI SITUS WARISAN BUDAYA INDONESIA (STUDI KASUS: KOMPLEKS CANDI BATUJAYA)
Indonesia adalah negara yang kaya akan warisan budaya. Hingga saat ini dokumentasi mengenai objek arkeologi masih terbatas. Hanya sedikit sekali sumber pengetahuan mengenai objek arkeologi yang terdokumentasi seperti foto, sketsa dan buku yang tersedia dan masih belum mencukupi kebutuhan yang diperlukan. Ekskavasi merupakan kegiatan yang khas dalam arkeologi, sehingga karena keterkaitannya yang begitu erat antara arkeologi dengan ekskavasi menjadikan ekskavasi layaknya identitas arkeologi. Sistem informasi geografis menyediakan kemampuan untuk menyimpan, menampilkan serta menganalisa data spasial. Kemampuan ini berperan besar dalam menyimpan data arkeologi yang diperlukan oleh para peneliti dalam membantu kegi ekskavasi. WebGIS memiliki keunggulan dalam menyajikan data spasial yang dapat diakses secara lebih mudah tanpa menggunakan bantuan software khusus GIS. Metode dalam menghasilkan sistem informasi berbasis web untuk membantu kegiatan ekskavasi arkeologi memiliki beberapa tahapan. Tahap awal pembangunan WebGIS dimulai dengan pembangunan basis data. Tahapan pembangunan basis data spasial ini meliputi desain konseptual, desain logika dan desain fisik. Desain basis data yang telah dirancang kemudian diimplementasikan dengan menggunakan bantuan software PostgreSQL/PostGIS. Selanjutnya, untuk membuat tampilan aplikasi ke halaman web, penulis menggunakan Mapserver dan Google Maps API. Dengan dibuatnya aplikiasi WebGIS ini, diharapkan para arkeolog dapat mengakses dan meng-update data yang dibutuhkan, sehingga kegiatan ekskavasi dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.
PEMETAAN POTENSI ENERGI PANASBUMI DENGAN ANALISIS ANOMALI SUHU PERMUKAAN DAN PEMETAAN MINERAL ALTERASI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS: KAWASAN PATUHA, JAWA BARAT)
Jumlah penduduk di dunia terus bertambah setiap tahunnya dan mengakibatkan peningkatan jumlah konsumsi energi fosil yang jumlahnya sendiri semakin menipis setiap tahunnya. Panasbumi merupakan energi yang terbarukan dan bersifat energi yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi. Penelitian ini dilakukan untuk memantau potensi energi panasbumi di suatu daerah dengan melihat anomali temperatur permukaan dan kandungan mineral alterasi akibat sistem hidrotermal panasbumi. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan suatu peta temperatur untuk diidentifikasi anomali suhu daerah tersebut dan menghasilkan peta klasifikasi mineral alterasi akibat sistem hidrotermal. Daerah kawasan Patuha, Jawa Barat merupakan daerah yang dijadikan objek dari penelitian ini. Data yang digunakan untuk melakukan kegiatan penelitian ini adalah menggunakan data multitemporal dari citra Landsat 7 dan Landsat 8. Metode untuk menghasilkan peta temperatur adalah dengan mengektrasi citra termal menjadi citra temperatur daerah Patuha, Jawa Barat. Sedangkan untuk mendapatkan hasil peta mineral alterasi, dilakukan metode klasifikasi berdasarkan spektrum daerah manifestasi permukaan dengan data sekunder dari hasil penelitian lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah peta temperatur daerah penelitian untuk menganalisa anomali suhu sebagai identifikasi awal terdapatnya sumber panasbumi. Selain itu, hasil penelitian juga berupa peta klasifikasi mineral alterasi untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang mengandung mineral alterasi hidrotermal berdasarkan spektrum pada manifestasi permukaan. Kemudian dari hasil klasifikasi digabungkan dengan lokasi yang anomali temperaturnya konstan pada keempat peta temperatur. Hasil dari penggabungan ini menunjukkan terdapatnya manifestasi permukaan dari hasil penelitian tugas akhir ini.
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN DARI CITRA LANDSAT MENGGUNAKAN METODE LINEAR SUPPORT VECTOR MACHINES (STUDI AREA: KABUPATEN BANDUNG)
Sekarang ini, citra remote sensing dapat digunakan untuk banyak hal, salah satunya adalah klasifikasi tutupan lahan. Mengklasifikasi tutupan lahan pada suatu area dapat menghasilkan banyak informasi yang berguna, seperti perkembangan infrastruktur atau keragaman bangunan di suatu kota. Belakangan ini banyak metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan tutupan lahan yang memakai citra remote sensing. Salah satu metode terbaru yang menjanjikan adalah Support Vector Machines (SVMs). SVMs sendiri didasarkan pada sebuah statistical learning theory, dimana pada dasarnya SVMs adalah sebuah binary classifier. Dalam penelitian ini, SVMs dalam bentuk liniernya digunakan untuk mencari tahu apakah overall accuracy dari metode ini lebih baik bila dibandingkan dengan metode klasifikasi lainnya, yaitu Maximum Likelihood Classification (MLC), ketika dipakai untuk mengklasifikasi beberapa area di Kabupaten Bandung menggunakan data Landsat TM-5. Hasil menunjukkan bahwa SVMs umumnya memiliki hasil yang lebih baik, terutama di area yang cukup homogen dimana hanya ada 2-3 kelas di area tersebut. Meskipun ada beberapa hambatan ketika mengklasifikasi area yang cukup padat atau area dengan lebih dari 3 kelas di dalamnya. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa SVMs lebih baik dari MLC, terutama pada area yang cukup homogen. Namun MLC sedikit lebih baik pada area yang cukup heterogen, meskipun SVMs sendiri tidak terlalu jauh tertinggal dalam hal ini. Solusi dari permasalahan ini bisa diatasi dengan memakai fungsi kernel di penelitian selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
IMPLEMENTASI KONSEP CITYGML DALAM VISUALISASI MODEL TIGA DIMENSI ARSITEKTUR LANSEKAP DARI FOTO UDARA FORMAT KECIL
Kota Ciawi memiliki banyak perkampungan dan perumahan padat yang terdapat pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sehingga secara tidak langsung mengakibatkan rusaknya hulu sungai tersebut dan menyebabkan banjir pada Ibukota DKI Jakarta. Untuk mengatasi permasalahan mengenai ketidaksesuaian pembangunan pada DAS Ciliwung, diperlukan sebuah visualisasi nyata yang mampu merepresentasikan kondisi DAS Ciliwung sebenarnya. Dewasa ini, pembuatan model 3D terus mengalami perkembangan. Salah satu perkembangannya adalah diciptakannya konsep CityGML. Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan untuk membuat model 3D DAS Ciliwung yang berada di wilayah Desa Cibanon dan Pandansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk kebutuhan perancangan arsitektur lansekap dan menampilkan model 3D tersebut ke dalam format CityGML. Dalam pelaksanaannya, didapatkan data dari hasil pemotretan foto udara menggunakan pesawat tanpa awak (UAV). Data tersebut berupa hasil pengolahan triangulasi udara dari dua buah perangkat lunak yang berbeda, Isat dan Agisoft Photoscan. Kedua data tersebut akan dilakukan kompilasi data serta permodelan secara tiga dimensi sehingga menghasilkan dua buah visualisasi tiga dimensi yang akan disimpan ke dalam format CityGML. Hasil penelitian ini adalah dua buah model 3D visualisasi daerah penelitian. Dua model tersebut dilakukan perbandingan ketelitian berdasarkan pada nilai residual triangulasi udara dan pengamatan point-to-point. Hasil analisis menyatakan bahwa model hasil pengolahan Isat lebih teliti dibandingkan dengan Agisoft Photoscan. Kedua model tersebut secara visual telah merepresentasikan objek yang sesuai dengan kebutuhan arsitektur lansekap. Namun ketika dilakukan penyimpanan ke dalam format CityGML, objek yang dapat direpresentasikan hanya berupa objek bangunan.
STUDI KARAKTERISTIK TEMPORAL VTEC BERDASARKAN DATA IGS BADAN INFORMASI GEOSPASIAL
Efek ionosfer adalah salah satu sumber kesalahan pada data Global Navigation Satellite System (GNSS) yang bisa menyebabkan kesalahan posisi sebesar beberapa puluh meter, sehingga untuk mendapatkan posisi yang teliti efek tersebut harus direduksi. Salah satu cara untuk mereduksi efek ionosfer pada data GNSS adalah dengan menggunakan model ionosfer. Dalam kaitannya dengan teknik pencitraan ionosfer dengan GNSS, model koreksi ionosfer bisa digunakan untuk mempelajari karakteristik fisis dari ionosfer melalui parameter Vertical Total Electron Content (VTEC) Penelitian ini akan membahas aktivitas ionosfer yang difokuskan pada kajian karakteristik temporal VTEC dan melihat korelasinya dengan aktivitas matahari. Data yang digunakan adalah data satelit Global Positioning system (GPS) dari stasiun International GNSS Service (IGS) Badan Informasi Geospasial (BIG) dari bulan Januari 2010 sampai Desember 2012. Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa nilai VTEC setiap hari dipengaruhi oleh pemanasan matahari serta memperlihatkan nilai VTEC yang fluktuatif. Aktivitas minimum ionosfer terjadi sekitar pagi hari antara jam 04:00 WIB sampai jam 05:00 WIB dengan nilai VTEC sekitar 20 TECU dan maksimum sekitar jam 14:00 WIB sampai jam 15:00 WIB dengan nilai VTEC lebih dari 40 TECU. Korelasi VTEC dengan sunspot number menunjukan korelasi yang positif dengan keofisien korelasi sebesar 0.77. Aktivitas ionosfer menunjukan peningkatan dari bulan ke bulan pada tahun 2010 sampai 2012. Secara umum puncak aktivitas ionosfer terjadi pada tahun 2012 dan dalam beberapa bulan selama tiga tahun telah terjadi fenomena sintilasi (scintillation). Musim equinox adalah musim yang aktivitas ionosfernya paling tinggi dibandingkan dengan musim summer solstice dan winter solstice. Spektral VTEC menunjukkan adanya fenomena annual, semi-annual, diurnal, semi-diurnal, dan ter-diurnal dari aktivitas matahari.
PENENTUAN LANDAS KONTINEN EKSTENSI DI PERAIRAN UTARA PAPUA
United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 menyatakan bahwa negara pantai mempunyai hak-hak kedaulatan atas wilayah lautan. Hal ini mendorong negara-negara pantai untuk mengajukan kepemilikan wilayah lautan yang salah satunya adalah landas kontinen ekstensi. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki hak untuk mengajukan landas kontinen ekstensi kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui Commission on the Limits of the Continental Shelf (CLCS). Wilayah perairan Indonesia yang memiliki potensi landas kontinen salah satunya adalah perairan utara Papua. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan landas kontinen ekstensi di perairan utara Papua. Metode yang digunakan untuk menentukan landas kontinen ekstensi tersebut yaitu dengan metode kombinasi dari garis-garis formula berdasarkan pendekatan dari pedoman keilmuan dan teknis yang dikeluarkan oleh CLCS. Luas maksimum landas kontinen ekstensi yang bisa didapatkan di perairan utara Papua adalah sebesar 39.946 km2. Landas kontinen ekstensi tersebut didapatkan dari hasil kombinasi garis formula 60 mil laut dari kaki lereng / foot of slope (FOS) dan 60 mil laut dari perbatasan lanjutan antara Indonesia dan Papua Nugini yang berada pada punggung samudra Eauripik rise.
PENURUNAN DIGITAL TERRAIN MODEL DARI DATA DIGITAL SURFACE MODEL MENGGUNAKAN SIMPLE MORPHOLOGICAL FILTER
DTM (Digital Terrain Model) merupakan suatu model permukaan digital yang memiliki informasi mengenai permukaan tanah sedangkan DSM (Digital Surface Model) memiliki informasi tentang permukaan tanah beserta objek yang ada seperti bangunan dan vegetasi. Untuk menghasilkan suatu DTM, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menurunkan data DSM. Proses penurunan ini terbagi menjadi 2 metode, yaitu metode image-based dan metode range-based. Metode image-based berlaku jika data yang digunakan untuk proses penurunan tersebut berdasarkan metode fotogrametri sedangkan metode range-based berlaku jika data yang digunakan berasal dari laser scanner atau LIDAR. Karena data DSM masih memiliki fitur selain tanah, maka perlu dilakukan suatu metode untuk menghilangkan fitur tersebut. Metode ini disebut juga DSM filtering. SMRF (Simple Morphological Filter) merupakan salah satu metode DSM filtering yang bertujuan untuk melakukan proses klasifikasi permukaan secara otomatis pada data DSM yang dihasilkan melalui pengolahan metode range-based. Hasil klasifikasi tersebut adalah suatu pengamatan dapat diklasifikasikan sebagai tanah atau bukan tanah Dengan menggunakan beberapa parameter seperti window, slope, cell size, dan elevation threshold, maka fitur bukan tanah dapat dihilangkan. Pada penelitian ini, SMRF digunakan pada data DSM di lokasi ITB Jatinangor dan ITB, dengan data DSM yang berasal dari pengolahan metode image-based. Hasilnya menunjukkan bahwa proses SMRF dapat menghasilkan DTM pada daerah penelitian ITB Jatinangor dan ITB. Validasi dengan menggunakan data terestris dilakukan pada DTM daerah penelitian ITB Jatinangor yang menghasilkan RMSE sebesar 1.668 m.
STUDI EFEK REFRAKSI ORDE TINGGI IONOSFIR PADA PENENTUAN POSISI GPS DENGAN MENGGUNAKAN PENGUKURAN BASELINE PANJANG (DIATAS 200 KM)
GPS (Global Positioning System) adalah suatu sistem radio navigasi dan penentuan posisi objek statis maupun dinamis dengan menggunakan satelit. Dalam pengukuran data jarak antar satelit GPS ke receiver, jarak yang seharusnya diukur merupakan jarak lurus antara satelit GPS dan receiver, tetapi karena adanya efek pembiasan pada lapisan atmosfer bumi terhadap sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS, maka jarak sinyal yang diukur tidaklah berupa jarak lurus antar satelit GPS dengan reciver, tetapi merupakan jarak yang sudah mengalami pembiasan oleh lapisan atmosfer bumi,terutama pada lapisan ionosfer (Abidin, 2001). Secara praktis, kesalahan pengukuran karena ionosfir dapat diminimalisir dengan menggunakan kombinasi linear dari dua frekuensi pengamatan seperti GPS L1 dan L2, dimana perhitungan ini dapat meminimalisir hampir 90% dari bias ionosfer, sisa 10 % merupakan sesuatu yang dapat dikatakan sebagai efek orde tinggi refraksi ionosfer. Walaupun hanya bersifat 10 %, untuk keperluan aplikasi GPS yang membutuhkan ketelitian tinggi, efek orde tinggi ini harus diperhitungkan. Pada penelitian ini, pembahasan yang akan dikaji lebih dalam adalah efek refraksi yang terdapat pada lapisan ionosfer. studi kasus yang akan diambil berupa perbadingan data antara posisi titik yang mendapatkan sinar matahari yang cukup banyak (daerah ekuator) dengan daerah yang kurang mendapatkan sinar matahari (daerah belahan bumi utara) pada waktu solar cycle tertinggi dan terendah dengan menggunakan metode pengukuran baseline panjang. Hasil yang didapat dari penilitan ini mengatakan efek dari refraksi ionosfer yang ada hanya berada pada kisaran ± 1 milimeter untuk perbedaan nilai koordinat antara data yang telah dikoreksi dengan yang tidak dikoreksi, tetapi efek refraksi orde tinggi pada pengukuran GPS juga tetap harus diperhitungkan jika ingin mendapatkan hasil pengukuran yang lebih baik.
MAPPING OF OCEAN CURRENT FOR FEASIBILITY STUDY OF MICRO-SCALE MARINE CURRENT TURBINE (STUDY CASE: KEPULAUAN SERIBU)
Renewable energy is an alternative energy to replace fossil fuel. One example of renewable energy is marine current which can produce electricity by using marine current turbine. This study is conducted to create marine current probabilities map for feasibility study of micro-scale marine current turbine in Pramuka, Karya, Panggang, and Semak Daun Islands. This turbine needs current speed that exceeds 0.3 m/s to move the rotor. This map is made by using marine current speed data for a year. The marine current speed data are obtained by a hydrodynamic model. This model represents natural ocean phenomena, such as marine current, wave, and surface elevation. Based on tidal and current verification one can decide whether a hydrodynamic model is good enough. Statistical processing was done to produce probability value of marine current that exceeds 0.3 m/s from the extracted marine current data based on the hydrodynamic model. The probability value will be used in map making. The result of this study is marine current probability map which shows the accumulative duration of one particular marine current speed. The duration of current speeds that exceed 0.3 m/s is around 14-18 days in a year. Thus, installing marine current turbine in the study area is not effective.
KAJIAN TENTANG WILAYAH ENKLAVE PROVINSI OEKUSI TIMOR LESTE DALAM KAITANNYA DENGAN BATAS LAUT INDONESIA DAN TIMOR LESTE
Indonesia berbatasan darat dan laut dengan Timor Leste. Sampai saat ini perundingan antara RI (Republik Indonesia) dan RDTL (Republik Demokratik Timor Leste) belum sampai pada batas lautnya. Penulisan Tugas Akhir ini menitikberatkan pada penetapan garis batas laut teritorial Provinsi Oekusi, Timor Leste. Metodologi yang digunakan dalan menentukan garis batas wilayah Laut Teritorial Enklave Oekusi Timor Leste dimulai dari identifikasi penggunaan garis pangkal kedua Negara. Indonesia sebagai Negara Kepulauan dapat menggunakan garis pangkal lurus, sedangkan Oekusi Timor Leste hanya garis pangkal normal. Prinsip yang digunakan dalam penarikan garis tengah adalah prinsip ekuidistan konsep lingkaran antara Baseline Indonesia dengan Basepoint Oekusi Timor Leste. Hasil yang didapat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah koordinat-koordinat titik pembentuk garis batas laut teritorial antara Indonesia dan Oekusi – Timor Leste di Laut Sawu.
SURVEI HIDROGRAFI UNTUK PERENCANAAN DERMAGA DALAM USAHA TRANSPORTASI HASIL PERTAMBANGAN BATUBARA (STUDI KASUS : SUNGAI KELAI, BERAU, KALIMANTAN TIMUR)
Pemerintah telah mewajibkan seluruh perusahaan batubara untuk membawa hasil batubaranya melalui jalur tersendiri, dikarenakan infrastruktur umum tidak dapat menampung kendaraan-kendaraan pengangkut hasil tambang yang ukuran dan muatannya sangat besar. Jika transportasi batubara tersebut dipaksakan menggunakan jalur umum akan merusak dan membuat kapasitas infrastruktur umum melewati batas. Atas dasar tersebut, Perusahaan PT Beraucoal memanfaatkan jalur sungai untuk mendistribusikan hasil tambang batubaranya. Pada studi kasus ini, penelitian dilakukan di sungai Kelai Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang akan dibuka blok pertambangan baru di daerah Parapatan. Masalah yang dihadapi adalah Sungai Kelai merupakan sungai yang dangkal sehingga sulit untuk mengoperasikan tongkang, sehingga direncakanlah sungai Kelai sebagai jalur penyeberangan kendaraan-kendaraan pengangkut batubara yang dapat dihubungkan dengan blok Binungan 1-4. Penelitian yang dilakukan mencakup pengamatan tinggi muka air sungai selama 29 hari dan survei batimetri yang dilakukan menurut SP 44 IHO orde 1B bersamaan dengan pengamatan tinggi muka air sungai untuk koreksi. Dari hasil survei batimetri diperoleh ketinggian sungai sehingga dapat direncanakan lokasi dermaga yang akan dibangun untuk mendukung distribusi batubara.