📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

AUTOMATION OF MAXILLA AND MANDIBLE REPOSITIONING WITH ELASTICNET REGRESSION MODEL

Bedah ortognatik adalah prosedur yang dirancang untuk mengoreksi deformitas rahang atas dan bawah guna mencapai oklusi gigi yang ideal. Untuk mendapatkan hasil yang ideal dari bedah ortognatik, terdapat dua jenis alat bantu bedah yang digunakan; templat dan wafer. Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muhammad Yusril Sulaiman, sebuah metode untuk mendesain alat bantu bedah tersebut dibuat dengan bantuan pencetakan 3D. Seluruh proses pembuatan template dan wafer terdiri dari perencanaan, desain, dan proses manufaktur. Proses perencanaan bedah yang ketat ini dilakukan untuk pasien tertentu dan saat ini masih dilakukan secara manual. Perkembangan pembelajaran mesin memungkinkan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan masalah hanya dengan membangun model berdasarkan kumpulan data yang dipilih. Dalam studi ini, metode regresi digunakan untuk memodelkan hubungan antara penanda kraniofasial yang telah dianotasi dan pergerakan pasca operasi. Sebuah sistem sistematis dan otomatis untuk perencanaan bedah ortognatik juga diperkenalkan. Ditulis dalam Python, alur kerja sistem ini mengintegrasikan ekstraksi penanda rahang atas dan bawah yang terstandarisasi serta model pembelajaran ElasticNet sekuensial untuk memprediksi posisi penanda pasca-bedah. Untuk memastikan relevansi klinis dari model yang dilatih, sistem ini menggabungkan serangkaian proses validasi data yang dilakukan untuk membandingkan hasil prediksi model dengan data sebenarnya. Dengan mengotomatiskan proses ini, beban kerja manual diharapkan akan berkurang secara signifikan dan reproduktibilitas meningkat.

2026
👤 Penulis: Shan Wirya Mulio
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Regresi

PEMANTAUAN KADAR ANTIBIOTIK MEROPENEM DALAM DARAH PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RSUP DR.HASAN SADIKIN

Untuk mencapai efektivitas serta keamanan yang baik, meropenem harus berada pada rentang kadar terapeutik sesuai dengan target farmakokinetik/farmakodinamik (PK/PD). Pemantauan kadar meropenem berperan penting dalam optimalisasi terapi pada pasien pneumonia yang sering mengalami perubahan farmakokinetik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ketercapaian parameter PK/PD yaitu dengan ditentukan oleh lamanya waktu kadar obat berada di atas nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dari patogen yang dituju (%fT > MIC) diantaranya pada 50% fT > MIC, 75% fT > MIC, 100% fT > MIC serta 50% fT > 4 x MIC, 75% fT > 4 x MIC, 100 % fT > 4 x MIC dengan pendekatan perhitungan proposi ketercapaian terapi pada pasien menggunakan metode % Probability of Target Attainment (PTA). Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pendidikan (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung pada pasien pneumonia rawat inap yang menerima antibiotik Meropenem. Penelitian observasional deskriptif potong lintang pada 30 pasien ini melibatkan pengambilan sampel darah pada jam ke-4, ke-6, dan ke-8 setelah pemberian dosis meropenem 1 g setiap 8 jam. Kadar meropenem dianalisis menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang telah tervalidasi sesuai pedoman European Medicine Agency (EMA). Hasil penelitian menunjukkan adanya variabilitas kadar meropenem antarindividu, terutama dipengaruhi oleh fungsi ginjal. Pasien dengan penurunan fungsi ginjal menunjukkan kadar yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama, sedangkan pasien dengan fungsi ginjal baik dan Augmented Renal Clearance (ARC) mengalami penurunan kadar yang lebih cepat. Pemberian melalui Extended Infusion 3 jam cenderung menghasilkan kadar plasma yang terjaga lebih lama dibandingkan Intermittent Infusion 1 jam. Ketercapaian klinis PTA ?90% pada semua subjek penelitian dengan seluruh rate infuse untuk dosis Meropenem 1 g setiap 8 jam i.v hingga 8 jam efektif terhadap MIC patogen ?2 mg/L. Analisis PTA menunjukkan bahwa ketercapaian target tertinggi diperoleh pada MIC ? 4 mg/L dengan target 50% fT>MIC pada PTA 100%. Extended Infusion cenderung memberikan PTA yang lebih tinggi dibandingkan Intermittent infusion, terutama pada target PK/PD yang tinggi. Untuk memperoleh ketercapaian kadar terapeutik yang lebih lama dapat disarankan pemberian Meropenem secara Extended Infus selama 3 jam. Pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan penelitian untuk penentuan kadar meropenem pada pasien yang menerima Extended Infus dan Intermittent Infus dengan jumlah populasi dan pengelompokan yang sesuai dengan desain studi lanjutan.

2026
👤 Penulis: Niken Juni Astuti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

NUMERICAL INVESTIGATION OF MANUFACTURING- INDUCED PROPERTIES ON THE DRIVING BEHAVIOR OF SUBMERGED ARC WELDED HELICAL PIPES

Penelitian ini secara numerik mengkaji pengaruh sifat yang diinduksi oleh proses manufaktur terhadap perilaku pemancangan pipa baja Submerged Arc Welded Helical (SAWH). Empat parameter utama dianalisis, yaitu variasi sudut heliks, distribusi tegangan sisa akibat pengelasan, anisotropi material lokal, dan berat ram palu. Simulasi elemen hingga tiga dimensi dilakukan menggunakan Abaqus/Explicit untuk memodelkan interaksi tanah–pipa. Model numerik divalidasi terhadap hasil eksperimen, dengan galat relatif sebesar 3,75% pada gaya maksimum dan 4,41% pada perpindahan maksimum. Studi parametrik menunjukkan bahwa variasi sudut heliks, tegangan sisa pengelasan, dan anisotropi material memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap gaya puncak dan perpindahan maksimum, dengan deviasi di bawah 3%. Namun demikian, parameter-parameter tersebut berpengaruh signifikan terhadap perpindahan akhir (SET). Peningkatan sudut heliks dari 40° menjadi 60° meningkatkan perpindahan plastis akhir dari 2,65 mm menjadi 7,33 mm, yang dikaitkan dengan perubahan komponen tegangan sisa aksial dan keliling. Tegangan sisa akibat pengelasan dengan offset +20% terbukti meningkatkan SET dari 3,91 menjadi 5,36 mm jika dibandingkan dengan offset -20%, yang menunjukkan perannya yang krusial dalam perkembangan deformasi plastis. Sebaliknya, peningkatan berat ram palu dari 7 ton menjadi 14 ton menyebabkan kenaikan gaya puncak sebesar 24,36% dan SET sebesar 34,18%, yang mengindikasikan bahwa karakteristik palu mendominasi respons dinamik global selama proses pemancangan.

2026
👤 Penulis: Aniqa Faiza Shaliha
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KATALASE HPII STAPHYLOCOCCUS EQUORUM DAN KERATINASE BACILLUS VELEZENSIS REKOMBINAN: KONSTRUKSI ENZIM DENGAN FUSI POLIHISTIDIN PADA C-TERMINAL

Pemurnian protein merupakan tahap pen4ng dalam bioteknologi, dengan teknik kromatografi yang umum digunakan untuk memisahkan protein target dari residu seluler. Immobilised Metal A?nity Chromatography (IMAC) dengan penggunaan tag polihis4din (His-tag) sering dimanfaatkan pada tahap awal penangkapan protein. His-tag umumnya ditempatkan pada ujung N-terminal atau C-terminal, bergantung pada orientasi yang memas4kan paparan permukaan yang cukup untuk berikatan dengan resin Ni-NTA tanpa mengganggu ak4vitas enzim. Peneli4an ini berfokus pada enzim katalase HPII seq dan kera4nase, yang sebelumnya 4dak dapat mengikat resin secara efisien menggunakan kromatografi Ni-NTA ke4ka diekspresikan dengan His-tag pada N-terminal. Tujuan peneli4an ini adalah mengembangkan sistem ekspresi E. coli untuk kedua enzim tersebut dengan memindahkan His-tag ke C-terminal, sehingga meningkatkan efisiensi pengikatan tanpa menurunkan fungsi enzima4k. Gen target dikloning ke dalam backbone plasmid pET16b_rec menggunakan metode QuickStep Cloning, yaitu teknik PCR tanpa restriksi yang memanfaatkan megaprimer. Op4masi PCR dicapai pada suhu annealing 60°C dengan rasio primer (cterm:mega) 2:1 untuk katalase dan 10:1 untuk kera4nase. Keberhasilan pemindahan 8x His-tag ke C-terminal dikonfirmasi melalui analisis migrasi gel, pemetaan restriksi, dan sekuensing DNA. Setelah diekspresikan pada E. coli BL21(DE3), protein rekombinan— katalase HPII seq berukuran 77 kDa dan kera4nase matur berukuran 29 kDa—berhasil tertahan pada resin Ni-NTA. Uji ak4vitas kualita4f menunjukkan bahwa kedua enzim tetap mempertahankan fungsi biologisnya: katalase menunjukkan ak4vitas katali4k, sedangkan kera4nase menunjukkan ak4vitas kaseinoli4k dan kera4noli4k. Temuan ini menunjukkan bahwa penambahan His-tag pada C-terminal mampu mengatasi keterbatasan pengikatan yang muncul pada His-tag N-terminal, tanpa mengganggu integritas struktural maupun ak4vitas enzima4k.

2026
👤 Penulis: Velika Freesia Ulinaro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI PENGARUH KONDISI OPERASI TAHAP PERLAKUAN ASAM PADA PROSES PRODUKSI ALGINAT DARI RUMPUT LAUT COKELAT (SARGASSUM SP.)

Natrium alginat merupakan salah satu hidrokoloid yang banyak digunakan sebagai pengental, pembentuk gel, penstabil, dan pengemulsi dalam industri pangan. Natrium alginat ini dapat diperoleh dari rumput laut cokelat dan banyak terkandung di dinding sel dalam bentuk kalsium alginat. Pada tahun 2019, Indonesia mengimpor 1.600 ton asam alginat, tetapi pada tahun yang sama, PT. Panorama Laut Indah mampu mengekspor rumput laut coklat Sargassum sp. sebesar 2.000 ton ke Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar bahan baku penghasil alginat tetapi belum dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan alginat dalam negeri. Secara umum, proses produksi natrium alginat terdiri atas tahap perlakuan awal, perlakuan asam, ekstraksi basa, presipitasi, pemurnian, dan pengeringan. Rendemen serta karakteristik natrium alginat bergantung pada beberapa hal, seperti spesies rumput laut dan kondisi operasi yang ditetapkan. Penelitian ini berfokus pada tahap perlakuan asam yang bertujuan untuk menentukan pengaruh kondisi operasi pada tahap perlakuan asam terhadap rendemen dan karakteristik natrium alginat. Rancangan percobaan penelitian ini adalah faktorial desain 3 faktor, 2 level, dengan 3 center point. Faktor tersebut meliputi konsentrasi HCl (0,1 M; 0,2 M; 0,3 M), waktu perlakuan asam (1 jam, 2 jam, 3 jam), dan suhu perlakuan asam (30°C, 45°C, 60°C). Natrium alginat yang dihasilkan kemudian dihitung nilai rendemen dan diuji karakteristik fisik dan kimianya, meliputi viskositas, gel strength, kemurnian, kadar abu, whiteness index, dan kadar air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi HCl pada tahap perlakuan asam berpengaruh signifikan terhadap gel strength dan whiteness index; waktu perlakuan asam berpengaruh signifikan terhadap gel strength, whiteness index, dan kadar abu; serta suhu perlakuan asam berpengaruh signifikan terhadap rendemen, viskositas, gel strength, kemurnian, whiteness index, dan kadar abu. Sedangkan interaksi antar faktor secara umum hanya memengaruhi gel strength dan whiteness index. Kadar air lebih dipengaruhi oleh proses pengeringan dibandingkan oleh tahap perlakuan asam. Natrium alginat terbaik pada rentang variasi penelitian ini diperoleh pada variasi 0,3 M; 3 jam, 30°C yang menghasilkan rendemen 20,52%, viskositas 46,7 cP, gel strength 89,95 g/cm2, kemurnian 89,95%, kadar abu 22,95%, whitenees index 21,41, dan kadar air 11,93%.

2026
👤 Penulis: Fairuz Dihyan Rengganis
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DEVELOPMENT AND EXPERIMENTATION OF A WHEELCHAIR PROTOTYPE FOR INDOOR MAPPING USING LIDAR-BASED SLAM

Mobilitas mandiri sangat krusial bagi perkembangan kognitif dan fisik anak-anak dengan disabilitas fisik, namun mengoperasikan kursi roda standar dapat berdampak pada kelelahan fisik dan mental yang menghambat partisipasi sosial. Meskipun teknologi navigasi otonom menawarkan solusi menjanjikan untuk mengurangi kelelahan, sistem yang ada saat ini seringkali bersifat umum, sulit dijangkau karena biaya perangkat keras yang tinggi, atau kurang mempertimbangkan desain spesifik yang dibutuhkan anak-anak. Akibatnya, masih terdapat kesenjangan yang signifikan dalam pengembangan alat bantu mobilitas otonom yang aksesibel dan berpusat pada anak yang dapat beroperasi secara andal di lingkungan dalam ruangan (indoor). Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merinci pengembangan dan integrasi prototipe kursi roda otonom yang dirancang untuk pemetaan dalam ruangan yang tangguh. Sistem ini beroperasi pada arsitektur Robot Operating System 2 (ROS 2), yang menggabungkan data dari sensor 2D Light Detection and Ranging (LiDAR), Inertial Measurement Unit (IMU), dan sensor efek Hall untuk bernavigasi secara efektif. Extended Kalman Filter (EKF) digunakan untuk menggabungkan data proprioseptif dari odometri roda dan IMU, guna memitigasi efek selip roda dan penyimpangan (drift) untuk memberikan estimasi posisi (pose) yang akurat. Fusi sensor ini mendukung algoritma Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) berbasis LiDAR, yang memungkinkan kursi roda membangun peta occupancy grid yang presisi di lingkungan yang tidak diketahui. Validasi eksperimental memverifikasi kemampuan sistem dalam memberikan performa navigasi dengan presisi tinggi. Uji gerak linier menunjukkan linearitas pengukuran yang tinggi (R² ? 0.999) setelah kalibrasi untuk kesalahan sistematis radius roda, sementara konsistensi pemetaan diverifikasi secara kuantitatif melalui uji coba berulang menggunakan Structural Similarity Index Measurement (SSIM), yang menghasilkan skor kemiripan antara 0,66 dan 0,77. Hasil ini mengonfirmasi bahwa sistem SLAM berbasis LiDAR yang dikembangkan dapat membangun peta dalam ruangan yang konsisten secara andal, sehingga menetapkan landasan fungsional dan tangguh bagi kursi roda bantu otonom di masa depan.

2026
👤 Penulis: Gavin Alexander Arpandy
🏷️ Robotika 🏷️ Pemetaan Indoor 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN TRANSPORT SIANIDA (CN-) PADA ZONA TAK JENUH UNTUK EVALUASI METODE PENIMBUNAN TAILING DI TAMBANG EMAS, PALU, SULAWESI TENGAH

Kegiatan penambangan dan pengolahan emas menghasilkan tailing yang berpotensi mengandung senyawa berbahaya bagi lingkungan, salah satunya sianida (CN?) yang digunakan dalam proses pelindian emas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode penimbunan tailing terhadap jarak sebaran kontaminan sianida pada zona tak jenuh di tambang emas Palu, Sulawesi Tengah, serta menentukan metode penimbunan tailing dengan tingkat risiko pencemaran airtanah paling rendah. Tiga metode penimbunan yang dianalisis meliputi landfill, backfill, dan dam tailing yang diatur dalam Permen LHK Nomor 6 Tahun 2021. Penelitian menggunakan pemodelan numerik dengan perangkat lunak MODFLOW-SURFACT. Pemodelan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah simulasi aliran airtanah kondisi steady state untuk kalibrasi model berdasarkan data muka airtanah hasil pengukuran lapangan. Hasil simulasi steady state digunakan sebagai kondisi awal (initial heads) pada simulasi transien transport kontaminan. Transport sianida dimodelkan menggunakan pendekatan adveksi–dispersi. Sumber kontaminan dimodelkan sebagai konsentrasi konstan dengan nilai yang diperoleh dari data uji TCLP tailing. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode penimbunan tailing memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola dan kedalaman migrasi kontaminan sianida. Pada skenario dam tailing, kontaminan sianida mampu bermigrasi hingga menembus lapisan pasir–konglomerat yang berperan sebagai akuifer, dengan kedalaman maksimum migrasi mencapai sekitar 150 m. Sementara itu, pada skenario landfill, kontaminan sianida hanya terdistribusi pada lapisan-lapisan atas dan tidak mampu menembus lapisan silt–clay.

2026
👤 Penulis: Wirandika Mayzzani Hadiana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH GREEN LITERACY TERHADAP NIAT BERINVESTASI GENERASI Z

Hadirnya ancaman krisis iklim turut mendorong upaya global untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan, dengan pasar modal menjadi salah satu medium paling penting bagi implementasi keuangan hijau untuk mendanai berbagai proyek pembangunan berkelanjutan tersebut. Komitmen Indonesia untuk menjadi negara bebas karbon (net zero) pada tahun 2060 telah memicu pengembangan instrumen investasi hijau, termasuk Sukuk Tabungan Hijau (Green Savings Sukuk). Meskipun lebih dari separuh investor pasar modal Indonesia merupakan Generasi Z, partisipasi mereka dalam instrumen investasi hijau tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan generasi lain. Padahal, Generasi Z dianggap sebagai generasi dengan tingkat kesadaran lingkungan paling tinggi. Meskipun kesadaran lingkungan terbukti dimiliki oleh kalangan Generasi Z, terdapat kesenjangan signifikan antara sikap (attitude) dengan perilaku (behavior) investasi mereka. Penelitian ini lantas berupaya untuk mengkaji kesenjangan antara sikap dengan perilaku ini dengan menyelidiki bagaimana green literacy memengaruhi niat investasi Generasi Z terhadap produk keuangan hijau, khususnya melalui lensa teoritis Theory of Planned Behavior. Penelitian ini menerapkan desain mixed-methods yang menggabungkan analisis konten (content analysis) kualitatif dari materi promosi dengan pemodelan persamaan struktural kuantitatif (SEM). Analisis kualitatif dalam penelitian ini menelaah konten promosi Instagram dari platform investasi dan perusahaan sekuritas dalam rangka mengidentifikasikan praktik industri terkini dalam mengomunikasikan informasi investasi hijau kepada Generasi Z. Sementara itu, bagian analisis kuantitatif menggunakan metode SEM-PLS untuk menguji enam hipotesis yang melibatkan hubungan antara green literacy, perceived benefits, sikap (attitude), subjective norms, perceived behavioral control, dan niat investasi hijau (green investing intention). Dengan demikian, kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini berupaya untuk mengembangkan Theory of Planned Behavior dengan menggabungkan green literacy sebagai variabel eksternal yang penting dalam memengaruhi pembentukan sikap (attitude) dan niat investasi langsung (direct investment intention). Hasil dari penelitian ini mendapati bahwa green literacy muncul sebagai prediktor terkuat di antara variabel lain dengan menunjukkan pengaruh yang besar pada pembentukan sikap. Perceived benefits lantas secara signifikan membentuk sikap positif terhadap investasi hijau. Selanjutnya, sikap (attitude) secara positif memengaruhi niat investasi, kendati hubungannya bersifat moderat. Subjective norms, khususnya pengaruh media sosial dan rekomendasi teman sebaya, secara signifikan turut dapat memprediksi niat investasi di kalangan Generasi Z. Namun, perceived behavioral control yang menunjukkan pengaruh tidak signifikan pada niat investasi mengindikasikan bahwa kepercayaan diri serta ketersediaan sumber daya finansial bukan merupakan hambatan utama untuk membentuk niat berinvestasi. Selain itu, penting untuk menggarisbawahi bahwa turut terdapat disparitas yang antara strategi promosi platform investasi dengan hasil analisis. Ini mengindikasikan bahwa penerapan strategi promosi yang memuat green literacy, melingkupi aspek finansial dan keberlanjutan lingkungan, dapat menjadi strategi yang lebih efektif. Penelitian ini lantas berkontribusi untuk memperkaya literatur dalam lingkup keuangan berkelanjutan dengan memberikan bukti empiris tentang peran penting green literacy dalam membentuk perilaku investasi hijau di kalangan Generasi Z. Temuan tersebut menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi platform investasi, perusahaan sekuritas, dan lembaga keuangan mengenai kebutuhan akan program pendidikan green literacy secara komprehensif yang mengintegrasikan pengetahuan keuangan dengan pemahaman keberlanjutan lingkungan. Dengan meningkatkan green literacy melalui konten edukasi yang ditujukan secara tepat, platform investasi dapat memperkuat sikap Generasi Z terhadap investasi berkelanjutan dan mengubah nilai dan prinsip kelingkungan mereka menjadi keputusan investasi yang nyata. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mengatasi kesenjangan antara sikap dengan perilaku, tidak hanya dibutuhkan peningkatan kesadaran tentang adanya peluang investasi hijau, tetapi juga peningkatan literasi keuangan dan lingkungan untuk memungkinkan pengambilan keputusan investasi yang terinformasi dan sejalan dengan nilai dan prinsip yang dimiliki.

2026
👤 Penulis: Setto Lintang Agung Wahyudi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MEMPERKUAT KETAHANAN PELAYANAN KESEHATAN INDONESIA MELALUI PEMBANGUNAN PRODUKSI ALAT KESEHATAN DALAM NEGERI

Sistem kesehatan Indonesia masih sangat bergantung pada impor dializer, dengan sekitar 89% dari kebutuhan nasional dipasok dari luar negeri. Tingkat ketergantungan impor yang tinggi ini berdampak pada sektor kesehatan berupa gangguan pasokan dan arus keluar modal yang berkelanjutan, masalah yang menjadi sangat jelas selama pandemi COVID-19. Sejalan dengan jumlah pasien yang membutuhkan dialisis rutin yang terus meningkat, permintaan akan alat medis dialisis juga meningkat. Situasi ini menekankan pentingnya pengembangan fasilitas manufaktur lokal untuk memperkuat ketahanan kesehatan di Indonesia. Studi ini menilai kelayakan pendirian fasilitas manufaktur dializer lokal di Indonesia melalui studi kasus PT. Ichiban Medical Global (nama samaran). Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan data primer dari sumber internal perusahaan, termasuk proyeksi investasi, biaya, dan operasional, yang didukung oleh data sekunder dari peraturan pemerintah, BPJS Kesehatan, asosiasi industri, dan organisasi kesehatan internasional. Analisis mencakup permintaan pasar, dukungan regulasi di bawah kebijakan Persyaratan Konten Domestik (TKDN), kesiapan teknis dan operasional, dan kelayakan finansial menggunakan metode penganggaran modal. Hasil penelitian menunjukkan permintaan pasar yang kuat dan berkelanjutan yang didukung oleh cakupan BPJS dan peraturan dializer sekali pakai, serta kebijakan pemerintah yang menguntungkan seperti insentif TKDN dan pengadaan e-Katalog. Analisis keuangan menunjukkan hasil investasi yang positif, dengan Nilai Sekarang Bersih (NPV) yang positif, Tingkat Pengembalian Internal (IRR) di atas biaya modal, dan periode pengembalian modal yang dapat diterima. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa manufaktur dializer lokal layak secara finansial dan penting secara strategis untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat sistem kesehatan Indonesia.

2026
👤 Penulis: Yudi Abdillah Sobrizal
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MENURUNKAN TINGKAT PENGUNDURAN DIRI KARYAWAN DI PANAH DENGAN PENDEKATAN METODE CAMPURAN

Perekonomian Indonesia masih bertumbuh positif, begitu pula sektor FMCG dan manufaktur. Perusahaan konsumen lokal Indonesia sedang naik daun di pasar lokal menyusul gelombang gerakan boikot konsumen terhadap produk asing, dan momentum ini harus dimanfaatkan oleh perusahaan lokal untuk mengembangkan bisnis mereka. Untuk mencapai hal tersebut, bisnis membutuhkan jumlah karyawan yang optimal untuk menjalankan strategi dan perencanaan. Tingkat pengunduran diri karyawan yang tinggi menjadi tantangan bagi bisnis untuk menangkap peluang bisnis tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apa saja faktor-faktor kunci yang menyebabkan pengunduran diri, dan juga untuk merancang langkah-langkah untuk mengendalikannya. Tinjauan literatur menghasilkan enam kemungkinan penyebab pengunduran diri karyawan (pengembangan diri, beban kerja, kemajuan karier, hubungan di tempat kerja, penghargaan & pengakuan, dan kepuasan kerja). Sebuah perusahaan konsumen konglomerat lokal digunakan sebagai objek penelitian ini. Analisis dari hasil kuesioner pengunduran diri (n=544), wawancara mendalam dengan karyawan yang mengundurkan diri (menggunakan pengkodean manual), dan kunjungan lapangan ke cabang dilakukan untuk menentukan faktor-faktor pendorong utama pengunduran diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam faktor yang disebutkan di atas memengaruhi keputusan pengunduran diri karyawan, dengan penekanan utama pada kemajuan karier, beban kerja, dan penghargaan & pengakuan yang skornya di bawah rata-rata keseluruhan. Empat inisiatif diusulkan untuk mengendalikan tingkat pengunduran diri, dengan mempertimbangkan hasil pendorong utama pengunduran diri dan hasil tinjauan pustaka. Keempat inisiatif tersebut adalah: pasar kerja internal, jenjang karier ganda, pengaturan kerja fleksibel, dan survei kompensasi eksternal.

2026
👤 Penulis: Dias Murtadho
🏷️ Manajemen Karyawan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pendidikan Karir

STRATEGI BERBASIS AHP UNTUK KEBERLANJUTAN BISNIS OPERATOR TRANSPORTASI PUBLIK DI INDONESIA

Studi ini menyusun dan menguji suatu proses pengambilan keputusan bagi Metro Line Jakarta (MLJ) dengan menilai opsi-opsi strategis melalui pendekatan mixed-methods yang dirancang secara jelas untuk mendukung business sustainability jangka panjang dalam konteks angkutan umum perkeretaapian perkotaan (urban rail public transportation). Elemen kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan para eksekutif MLJ dan pemangku kepentingan eksternal, yang kemudian direkam, ditranskrip, dikodekan ke dalam tema-tema utama (strategi, tata kelola, keuangan, operasi, isu pemangku kepentingan, risiko), ditelaah dan dikroscek antar kelompok responden, serta divalidasi menggunakan dokumen sekunder untuk melakukan triangulasi dan meminimalkan bias. Bagian kuantitatif mencakup kajian data sekunder yang tersedia serta pelaksanaan survei Analytic Hierarchy Process (AHP) kepada enam responden; seluruh jawaban kemudian diolah menggunakan AHP On-Line Software untuk memeriksa nilai rasio konsistensi. Kondisi keuangan MLJ menunjukkan bahwa pada tahun 2024 tiga sumber pendapatan bergerak ke arah yang berbeda: subsidi mencapai 55,21% dari pendapatan operasi, non-fare sebesar 23,96% (sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, terutama karena penyesuaian ulang kontrak dan keterlambatan perizinan), dan fare sebesar 20,83%. Beban depresiasi yang besar timbul akibat besarnya aset tetap perkeretaapian yang dimiliki MLJ (depresiasi sekitar 38% dari total pendapatan tahunan MLJ). Seperti disebutkan sebelumnya, pendapatan fare mengikuti tren ridership, sedangkan pendapatan non-farebox menunjukkan pertumbuhan yang moderat. Keterbatasan yang teridentifikasi dari wawancara meliputi akuisisi dan penguasaan lahan, perizinan, serta kredibilitas pasar untuk layanan pelatihan dan konsultasi. Proses Strategi menggunakan PESTLE dan SWOT untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang penting, menerapkan Kepner Tregoe (KT) Decision Analysis untuk menyaring ide berdasarkan persyaratan yang harus dipenuhi, kemudian menggunakan AHP untuk memberi skor dan memeringkat alternatif berdasarkan kriteria yang merepresentasikan tujuan dan kendala MLJ. Model AHP menggunakan empat kriteria utama: Financial, Operations, Reputation/Stakeholder Perceptions, dan Legal/Regulatory. Tiga alternatif dianalisis. Alternative A (Non-farebox Enhancement) mengusulkan perluasan pendapatan dari ritel, iklan, naming rights dan proyek transit-oriented development (TOD) untuk menghasilkan pendapatan komersial yang stabil. Alternative B (Holding and Subsidiaries Re-strategy) bertujuan memperjelas peran anak perusahaan, menghilangkan tumpang tindih, dan memosisikan anak perusahaan agar menawarkan produk/jasa yang unik. Alternative C (Infrastructure Asset Restructuring) berupaya mengalihkan MLJ menuju pure operator model dengan memindahkan aset berat untuk menurunkan tekanan depresiasi dan mengelola biaya sewa/konsesi baru yang terkait. Alternative A ditetapkan sebagai pilihan utama dengan global priority sebesar 40,74%. Sensitivity testing dengan mengubah bobot pada kriteria utama sebesar +/- 10–20 persen tidak mengubah urutan peringkat alternatif. Berdasarkan hasil tersebut, rencana yang direkomendasikan berfokus pada dua workstream: mewujudkan transit-oriented development (TOD) yang bankable dan mengembangkan MLJ Academy menjadi produk yang berulang (repeatable product). Sebagai tuas kebijakan pendukung, rumus subsidi disarankan untuk direvisi sehingga sebagian pembayaran dikaitkan dengan ridership dan kualitas layanan, sambil tetap menjaga keterjangkauan melalui batas atas dan batas bawah yang jelas. Langkah-langkah ini diharapkan meningkatkan rata-rata pendapatan per kontrak, menurunkan ketergantungan pada subsidi, dan menyediakan template yang dapat direplikasi di lokasi-lokasi berikutnya. Penelitian ini menghasilkan dua kontribusi utama. Pertama, penelitian menunjukkan bagaimana operator urban rail tingkat kota di negara berkembang dapat mengombinasikan property-based value generation dan service-based revenue generation untuk menyeimbangkan sumber pendapatannya di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Kedua, penelitian ini menyajikan metodologi KT + AHP yang sederhana dan dapat direplikasi, yang mengubah beragam bukti dan pendapat pakar menjadi peringkat preferensi yang valid untuk memandu operator perkeretaapian perkotaan lain dengan kendala yang serupa.

2026
👤 Penulis: Novi Yohanna
🏷️ Analisis Keputusan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH KULTIVASI LUAR RUANGAN TERHADAP PRODUKSI LIPID DAN KOMPONEN FAME CONTICRIBRA SP. TBI SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL

Kebutuhan bahan bakar dari tahun ke tahun terus meningkat, sementara ketersediaannya semakin terbatas khususnya untuk bahan bakar berbasis fosil. Mikroalga berpotensi sebagai bahan baku biodiesel karena kandungan lipidnya yang dapat dikonversi menjadi FAME (Metil Ester Asam Lemak). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kultivasi mikroalga laut di luar ruangan terhadap kadar lipid dan komposisi FAME. Sampel yang digunakan adalah kultur mikroalga yang berasal dari perairan pantai Pulau Bidadari, Teluk Jakarta (selanjutnya disebut sebagai kultur TBI). Kultur TBI dimurnikan dengan metode pengenceran berseri dan dikultivasi berulang hingga diperoleh kurva pertumbuhan. Spesies sampel diidentifikasi secara genetik menggunakan analisis urutan gen penanda 18S rRNA dan rbcL serta secara morofologi berdasarkan citra sel di bawah mikroskop cahaya. Lipid diisolasi dari kultur TBI dengan metode sohxlet dan dikonversi menjadi FAME melalui reaksi transesterifikasi. Karakteristik FAME yang dihasilkan dianalisis dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan kultur TBI memiliki tiga fase pertumbuhan, yaitu fase logaritma (hari ke-0-8), fase stasioner (hari ke-9-14), dan fase kematian (dimulai hari ke 14). Analisis urutan nukleotida fragmen gen dan pohon filogenetik menunjukkan bahwa kultur TBI berkerabat terdekat dengan Conticribra weissflogii berdasarkan gen 18S rRNA, sedangkan berdasarkan gen rbcL kultur TBI berkerabat dekat dengan tiga diatom yaitu Conticribra weissflogii, Thlassiosira weissflogii, dan Thalassiosira gessnerii. Analisis morfologi menunjukkan bahwa kultur TBI lebih mirip dengan C. Weissflogii. Oleh karena itu, sampel kultur diidentifikasi sebagai Conticribra sp. galur TBI. Kadar lipid kultur TBI di luar ruangan yang dipanen pada awal fase stasioner (hari ke-10; 3,84 × 10-9 g/sel) lebih tinggi daripada kultur di dalam ruangan yang dipanen di fase yang sama (1,92 × 10-9 g/sel). Sementara kadar lipid kultur TBI di dalam ruangan yang dipanen di awal fase stasioner tersebut lebih besar sedikit saja dari kultur yang dipanen di pertengahan fase logaritma (hari ke-6; 1,44 × 10-9 g/sel). Komposisi FAME, asam lemak jenuh (SFA) : asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) : asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), dari kultur di luar ruangan (fase stasioner, hari ke-10), kultur di dalam ruangan (fase stasioner, hari ke-10), dan kultur di dalam ruangan (fase logaritma, hari ke-6) secara berturut-turut adalah 40,45 : 48,92 : 9,74, 33,01 : 50,07 : 16,92, dan 4,60 : 6,23 : 89,17. Sehingga, FAME hasil kultivasi luar ruangan merupakan bahan baku yang paling sesuai untuk aplikasi biodiesel.

2026
👤 Penulis: Khansa Luthfiyah Ariqah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PENGARUH MODEL BERKAS PROTON TERHADAP DISTRIBUSI DOSIS PADA FANTOM AIR BERBASIS SIMULASI MONTE CARLO TOPAS

Distribusi dosis merupakan aspek penting dalam menentukan efektivitas dan kelayakan penggunaan terapi proton. Distribusi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik partikel sumber dan model berkas yang digunakan. Penelitian ini menganalisis distribusi dosis yang dihasilkan oleh berkas proton 56,2 MeV dengan sumber model Gaussian, paralel, dan phase space yang melintasi fantom air homogen. Karakteristik dari setiap model berkas dianalisis melalui kurva Percentage Depth Dose (PDD) dan profil dosis. Estimasi dosis diperoleh dari akumulasi data pada 300 voxel scoring region sepanjang sumbu x dan y, dengan profil dosis yang diamati pada permukaan fantom dan kedalaman Dmax. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Gaussian dan paralel memiliki PDD yang identik dengan kedalaman Dmax 2,525 cm, berbeda dengan model phase space yang bertambah 8% atau 0,2 cm. R80 dan R90 dari berkas Gaussian dan paralel juga menunjukkan nilai yang sama, yaitu 2,540 cm dan 2,532 cm, dengan berkas phase space yang bertambah 0,215 cm untuk R80 dan 0,210 cm untuk R90. Distal fall off (DFO) berkas Gaussian dan paralel pun hampir sama, yaitu ±0,055 cm, sedangkan berkas phase space bertambah 0,014 cm. Full width at half maximum (FWHM) dari berkas Gaussian, paralel dan phase space secara berurutan adalah 0,301 cm, 0,296 cm, dan 0,348 cm. Selain PDD, kurva profil dosis dari ketiga model berkas juga menunjukkan karakteristik khusus dari berkas proton 56,2 MeV. FWHM dari profil dosis berkas Gaussian < phase space < paralel, yang berada dalam rentang 1,657- 2,490 cm. Nilai ini menunjukkan model berkas Gaussian menghasilkan distribusi dosis yang paling terfokus. Lebar 13,5% dosis dari Dmax berkas phase space < Gaussian < paralel dengan nilai 2,6-3,2 cm. Simetri dari semua berkas berada di bawah toleransi yang direkomendasikan AAPM TG 224, yang berada pada rentang 0,026%-0,165%. Penumbra lateral phase space < paralel < Gaussian bernilai 0,502-0,756 cm. Dari seluruh parameter kurva PDD dan profil dosis yang dihitung, model phase space menunjukkan kesesuaian nilai parameter terbaik terhadap data referensi hasil penelitian sebelumnya, serta standar klinis seperti NIST dan AAPM TG 224.

2026
👤 Penulis: Siti Mutmainnah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Simulasi Monde Carlo 🏷️ Hidrologi

SINTESIS NANOPARTIKEL MG(OH)? MENGGUNAKAN CAPPING AGENT CETYLTRIMETHYLAMMONIUM BROMIDE (CTAB) DAN [BMIM]CL

Studi ini mengkaji pembuatan nanopartikel Magnesium Hidroksida (Mg(OH)2) menggunakan 1-butil-3-metilimidazolium klorida ([BMIM]Cl) dan cetyltrimethylammonium bromide (CTAB) sebagai capping agent (capping agent). Magnesium Hidroksida sering digunakan sebagai agen penetral limbah air dan gas, sebagai tambahan dalam pupuk, dan sebagai komponen antasida dalam obat-obatan. Sumber utama Magnesium Hidroksida dalam studi ini adalah bittern, larutan yang diperoleh dari produk sampingan produksi garam NaCl, yang kaya akan magnesium klorida. Karakterisasi nanopartikel dilakukan menggunakan beberapa teknik, termasuk Mikroskop Elektron Transmisi (TEM) dan Difraksi Sinar-X (XRD). Temuan menunjukkan bahwa penambahan CTAB biasanya mengurangi ukuran partikel dan aglomerasi hingga konsentrasi optimal 0,05 M, menghasilkan ukuran partikel minimum rata-rata 58,72 nm. Namun demikian, penambahan CTAB di atas ambang batas optimal secara signifikan meningkatkan aglomerasi sebagai hasil dari flokulasi jembatan. Penambahan [BMIM]Cl menghasilkan munculnya senyawa dominan lainnya, khususnya Magnesium Klorida, namun tetap mempertahankan Magnesium Hidroksida. Data XRD menunjukkan bahwa fase dominan yang dihasilkan dengan [BMIM]Cl adalah Magnesium Klorida, sedangkan dengan CTAB, fase dominannya adalah Magnesium Hidroksida. Akibatnya, agen pelapis berbasis surfaktan seperti CTAB lebih efektif dalam menghasilkan nanopartikel Mg(OH)? yang kecil dan homogen dengan aglomerasi rendah pada konsentrasi optimal.

2026
👤 Penulis: Stenly Saut Martua
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN KEAUSAN SISTEM GERAK MAKAN BERDASARKAN JUMLAH PUTARAN BALLSCREW

Ballscrew merupakan komponen utama pada sistem gerak makan mesin CNC yang berperan penting dalam menjaga akurasi posisi dan kualitas pemesinan. Seiring bertambahnya waktu operasi, ballscrew mengalami keausan yang menyebabkan penurunan preload dan peningkatan backlash, sehingga menurunkan kinerja sistem secara keseluruhan. Pemantauan kondisi ballscrew secara konvensional umumnya memerlukan pembongkaran mesin, yang tidak efisien dan sulit diterapkan pada lingkungan industri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemantauan keausan ballscrew tanpa pembongkaran mesin serta menganalisis beberapa pendekatan berbasis data eksperimen dalam memodelkan keausan ballscrew berdasarkan jumlah putaran. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data arus servo motor terhadap jumlah putaran ballscrew, yang dikonversikan menjadi indikator preload, serta data keausan ballscrew yang diperoleh melalui pengukuran laser. Pemodelan degradasi dilakukan menggunakan tiga metode berbasis data, yaitu regresi polinomial, Support Vector Regression (SVR), dan Gaussian Process Regression (GPR). Masing-masing metode diterapkan untuk memodelkan preload, keausan, serta model gabungan preload dan keausan sebagai fungsi dari jumlah putaran ballscrew. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah putaran ballscrew merupakan parameter yang efektif dalam merepresentasikan degradasi sistem gerak makan. Regresi polinomial mampu menggambarkan tren degradasi pada rentang data eksperimen, namun memiliki keterbatasan dalam prediksi jangka panjang. SVR menunjukkan performa yang lebih stabil dan tahan terhadap noise data, sedangkan GPR memberikan keunggulan tambahan berupa estimasi ketidakpastian prediksi melalui interval kepercayaan. Secara keseluruhan, pendekatan berbasis data, khususnya GPR, memiliki potensi yang baik untuk diterapkan dalam pemantauan kondisi dan perawatan prediktif ballscrew pada mesin CNC.

2026
👤 Penulis: Muhammad Al-Farisi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Eksperimen 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 74 dari 418
💬