📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENERAPAN MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK MENCEGAH PLAGIARISME, PEMBAJAKAN DAN PENGGUNAAN TANPA IZIN ATAS HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL MILIK PART STUDIO
PART Studio, agensi kreatif berbasis Jakarta, memiliki kekayaan intelektual berharga berupa konsep acara, strategi branding, dan desain kreatif. Namun, organisasi menghadapi kerentanan bisnis kritis: budaya dan proses internal mendahulukan kecepatan produksi atas keamanan, menghasilkan presentasi konsep tanpa perlindungan dan eksposur aset intelektual. Kelemahan ini muncul melalui tiga kesenjangan: kurangnya kesadaran kekayaan intelektual tim kreatif, tidak adanya prosedur operasional baku formal untuk perlindungan kekayaan intelektual, dan ketergantungan pada sistem penyimpanan digital tidak aman yang menyebabkan plagiarisme, pembajakan, dan penggunaan tanpa izin karya kreatif, mengakibatkan kerugian finansial, kerusakan reputasi, dan penurunan moral tim. Penelitian ini bertujuan mengatasi bagaimana kekurangan perlindungan kekayaan intelektual yang menyebabkan plagiarisme, pembajakan, dan penggunaan tanpa izin mempengaruhi bisnis PART Studio, serta menentukan bagaimana manajemen pengetahuan dapat melindungi kekayaan intelektualnya. Dengan metodologi studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajemen senior dan analisis dokumen. Analisis menggunakan kerangka kerja People-Process-Technology (PPT) dan SECI untuk mendiagnosis proses bisnis yang ada, mengungkap kegagalan kritis dalam agensi kreatif. Untuk mengatasi kegagalan tersebut, diusulkan proses bisnis baru berbasis kerangka kerja Henao-Calad untuk mengintegrasikan manajemen kekayaan intelektual ke operasi manajemen pengetahuan. Solusi mencakup langkah-langkah esensial Henao-Calad: Identifikasi, Penilaian, dan Perlindungan sebelum presentasi konsep eksternal menghasilkan Komersialisasi. Kerangka kerja People-Process-Technology komprehensif disajikan, mencakup pelatihan kesadaran kekayaan intelektual wajib untuk staf, prosedur operasional baku baru untuk dokumentasi formal dan perlindungan alur kerja, serta implementasi sistem Manajemen Aset Digital Aman. Solusi terintegrasi ini memungkinkan PART Studio melindungi aset tak berwujud dari plagiarisme, pembajakan, dan penggunaan tanpa izin, membuka nilai komersial dari konsep belum dikomersialkan, serta membangun keunggulan kompetitif berkelanjutan di industri kreatif.
REKOMENDASI PENGENDALIAN RISIKO OPERASI ALAT BERAT PADA INDUSTRI PERTAMBANGAN MELALUI WALK-THROUGH TALK-THROUGH DENGAN THEMATIC ANALYSIS DAN INTERVENTION MAPPING DI PT XYZ
Operasi alat berat pada pertambangan terbuka memiliki risiko tinggi akibat dinamika lingkungan kerja yang sangat fluktuatif. Namun demikian, variasi kondisi fisik dan operasional di area kerja sering kali belum terakomodasi sepenuhnya dalam prosedur pengendalian formal. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekomendasi pengendalian risiko operasional di PT XYZ dengan memetakan praktik kerja aktual (Work-as-Done) guna menjembatani kesenjangan dengan prosedur baku. Fokus analisis diarahkan secara spesifik pada aktivitas front, hauling, dan disposal untuk mengidentifikasi error traps yang terbentuk dari interaksi sistem kerja sehari-hari. Dengan pendekatan ini, strategi mitigasi dirancang agar lebih adaptif terhadap tantangan nyata di lapangan dan bukan sekadar pemenuhan administratif. Pengumpulan data lapangan secara mendalam menggunakan metode Walk-Through Talk-Through (WTTT) yang dipadukan dengan analisis tematik berhasil mengidentifikasi tiga domain risiko utama yang memerlukan penguatan pengendalian operasional secara menyeluruh. Merespons temuan tersebut, strategi Intervention Mapping merumuskan pengendalian Paket A untuk memitigasi keterbatasan visual melalui penetapan protokol komunikasi baku serta validasi titik buta di area kritis agar informasi antarunit lebih jelas. Selanjutnya, pengendalian Paket B difokuskan pada manajemen risiko fisik melalui penerapan sistem inspeksi jalur berbasis keputusan objektif yang memberdayakan pengawas untuk memastikan kelayakan area kerja sebelum operasi dimulai. Pengendalian Paket C disusun secara kontekstual sesuai karakteristik lokasi, di mana Site A menerapkan manajemen ritme kerja aman untuk mencegah kelelahan, sedangkan Site P menargetkan disiplin penataan area berhenti dan keselamatan manuver di ruang sempit. Keseluruhan rekomendasi pengendalian ini mengintegrasikan perubahan perilaku operator dengan penguatan dukungan sistem organisasi, yang selanjutnya disarankan untuk divalidasi melalui uji coba implementasi terbatas (pilot testing) guna mengukur efektivitasnya secara nyata.
PENGEMBANGAN NANOEKSTRAK SKLEROTESTA BIJI MELINJO (GNETUM GNEMON L.) DAN STUDI POTENSINYA SEBAGAI ANTIAGING ALAMI MELALUI AKSI MODULASI PROSES PENUAAN
Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh hampir di seluruh provinsi di Indonesia yang diketahui mengandung senyawa golongan stillbenoid di antaranya resveratrol sebagai antioksidan. Resveratrol diketahui mempunyai mekanisme kerja mengaktivasi ekspresi protein sirtuin1 SIRT1 secara langsung, dimana SIRT1 merupakan salah satu protein yang berperan mengendalikan proses penuaan/aging. Aging merupakan proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, yang terjadi pada seluruh organ tubuh dan merupakan faktor risiko morbiditas terkait age-related disease khususnya penyakit degeneratif, dan berpotensi meningkatkan risiko kematian. Potensi luar biasa resveratrol sebagai antiaging dihadapkan dengan rendahnya kelarutan sehingga menurunkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak sklerotesta melinjo sebagai agen antiaging melalui pendekatan nanoteknologi. Sklerotesta biji melinjo yang merupakan limbah diolah menggunakan metode ball milling untuk menghasilkan partikel berskala nanometer untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati resveratrol yang terkandung di dalamnya. Proses nanonisasi ekstrak kering sklerotesta biji melinjo dilakukan secara topdown dengan teknik ball milling kemudian dikarakterisasi sifat fisiko kimianya, dilakukan identifikasi dan penetapan kadar resveratrol menggunakan High Performance Liquid Chromatography untuk memastikan bioaktif dalam nanoekstrak tetap mempunyai daya antiaging. Proses ini meningkatkan kelarutan dan efektivitas farmasetikanya, sehingga menjadikannya alternatif bahan baku farmasetika yang bernilai ekonomi serta ramah lingkungan. Karakterisasi fisiko kimia menunjukkan bahwa nanoekstrak sklerotesta biji melinjo memiliki kelarutan yang lebih baik serta stabilitas yang baik terhadap peningkatan temperatur. Uji in vitro dilakukan pada human dermal fibroblast cell CRL2522 yang diinduksi proses penuaannya menggunakan H2O2. Beberapa parameter yang diamati diantaranya adalah ekspresi SIRT1dan BCL2 yang memperkuat mekanisme terkait antiaging. SIRT1 merupakan protein yang dapat diaktifasi oleh resveratrol sehingga bekerja sebagai antiaging, sedangkan BCL2 merupakan suatu gen anti apoptosis yang dapat mempertahankan keberlangsungan hidup sel. Uji in vivo yang dilakukan bertahap diawali uji aktivitas antiaging menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) galur Wistar dilakukan dengan pemberian nanoekstrak secara oral kemudian dilakukan evaluasi makroskopis dan pengukuran kadar SIRT1. Kemudian untuk mengetahui keamanan nanoekstrak dan profil farmakokinetik dilakukan uji toksisitas akut dan uji farmakokinetik untuk mengetahui profil farmakokinetik nanoekstrak. Uji in vitro pada Human Dermal Fibroblast Cell line (CRL2522) mengungkapkan bahwa nanoekstrak ini memiliki aktivitas antiaging. Mekanisme antiaging dikonfirmasi melalui peningkatan ekspresi SIRT1, yang berperan dalam perbaikan sel, serta BCL2, gen yang menghambat apoptosis. Hasil ini menunjukkan bahwa nanoekstrak mampu memodulasi jalur molekuler yang terkait dengan regenerasi dan perlindungan sel kulit. Pengujian in vivo pada tikus Wistar yang terpapar sinar UVB menunjukkan bahwa pemberian oral nanoekstrak sklerotesta melinjo mampu mengurangi dampak penuaan dengan meminimalisasi munculnya kerutan pada kulit dorsal. Hasil ini mendukung potensinya sebagai agen antiaging oral yang efektif. Pada uji toksisitas akut mengindikasikan bahwa nanoekstrak ini aman untuk konsumsi oral tanpa menunjukkan efek toksik yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil mentransformasikan limbah sklerotesta melinjo menjadi produk nanoekstrak dengan aktivitas antiaging yang terbukti melalui pendekatan in vitro dan in vivo. Keamanan serta efektivitas yang ditunjukkan oleh nanoekstrak ini memperkuat potensinya sebagai kandidat agen antiaging oral yang inovatif dan berkelanjutan. Sebagai penelitian yang mengkaji potensi antiaging dari nanoekstrak sklerotesta biji melinjo, hasil ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan suplemen alami berbasis bahan alam lokal untuk pencegahan aging dan penyakit degeneratif terkait usia. Pengembangan suplemen berbasis nanoekstrak ini dapat memberikan alternatif terapi non-invasif. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengayaan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan bahan alam Indonesia yang bernilai tinggi dalam bidang kesehatan dan farmasi. Penelitian ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengoptimalkan formulasi nanoekstrak dan mengkaji efektivitas jangka panjangnya pada model hewan serta uji klinis pada manusia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan produk berbasis nanoekstrak sklerotesta melinjo di masa depan.
OPTIMASI FORMULASI PASTA GIGI BERBASIS BIOSURFAKTAN BACILLUS CLAUSII F7 DAN EVALUASI POTENSI PENGHAMBATANNYA TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MUTANS
Karies gigi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi mencapai 88% di Indonesia. Streptococcus mutans merupakan penyebab utama penyakit ini dengan membentuk plak dan menghasilkan asam di permukaan gigi. Pasta gigi konvensional umumnya menggunakan surfaktan sintetis seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) untuk meningkatkan efikasi pembersihan gigi. Akan tetapi, surfaktan sintetis dalam pasta gigi berpotensi menimbulkan efek samping seperti iritasi mukosa mulut. Penelitian sebelumnya telah mengaplikasikan biosurfaktan dalam formulasi pasta gigi, tetapi masih menghasilkan aktivitas pembusaan yang rendah. Aspek pembusaan pasta gigi berperan penting untuk membantu distribusi bahan aktif dalam pasta gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi biosurfaktan F7 sehingga menghasilkan formulasi pasta gigi dengan karakteristik fisikokimia standar komersial dan efektif untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian dilakukan dengan membuat formulasi pasta gigi sederhana yang ditambahkan biosurfaktan Bacillus clausii F7 (1000 ppm dan 5000 ppm) konsentrasi 0,5%–20% (w/w). Evaluasi fisikokimia dilakukan dengan mengukur daya sebar, pH, dan busa. Potensi penghambatannya terhadap S. mutans diukur melalui profil viabilitas sel, sintesis karbohidrat total ekstraseluler polisakarida (EPS), dan produksi asam laktat. Pasta gigi biosurfaktan terpilih kemudian dievaluasi kualitas dan keamanannya sesuai ISO 11609:2017. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan 5%, 10%, dan 15% (w/w) biosurfaktan F7 5000 ppm secara signifikan meningkatkan kualitas fisikokimia pasta gigi. Konsentrasi biosurfaktan F7 5000 ppm dengan penambahan 5% (w/w) dalam formulasi pasta gigi ditetapkan sebagai konsentrasi optimal karena mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans hingga 85% serta menurunkan produksi asam laktat hingga 60%. Sementara itu, konsetrasi karbohidrat total EPS tidak menunjukkan pengurangan yang signifikan. Formulasi dengan konsentrasi ini juga memenuhi standar ISO 11609:2017, baik aspek fisikokimia maupun mikrobiologis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa 5% (w/w) biosurfaktan F7 5000 ppm merupakan konsentrasi optimal untuk menghasilkan formulasi pasta gigi dengan karakteristik fisikokimia standar mutu komersial dan efektif menghambat pertumbuhan S. mutans.
PERANCANGAN SISTEM KENDALI LAMPU LALU LINTAS PADA SIMPANG BUAH BATU-SAMSAT BANDUNG MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIBRIDA MULTI-AGENT ATTENTION-BASED SOFT ACTOR-CRITIC (MASAC) DAN MAX PRESSURE DENGAN OPTIMISASI BAYESIAN
Penelitian ini mengembangkan sistem kendali lampu lalu lintas adaptif di persimpangan Buah Batu-Samsat Bandung menggunakan pendekatan hibrida Multi-Agent Attention-Based Soft Actor-Critic (MASAC) dan Max Pressure dengan optimisasi Bayesian menggunakan Tree-structured Parzen Estimator (TPE). Dalam mengurangi kemacetan lalu lintas perkotaan, penelitian ini memanfaatkan data dari Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung pada bulan Juni 2023 untuk pelatihan, validasi, dan pengujian sistem. Kemudian, kontribusi utama penelitian ini meliputi tiga aspek. Aspek pertama yaitu penerapan optimisasi Bayesian dengan TPE untuk hyperparameter tuning MASAC dan perbandingan kinerja pendekatan jaringan kritik MASAC dengan weight sharing dan tanpa weight sharing. Aspek terakhir adalah pengembangan Hibrida MASAC-Max Pressure. Penelitian ini menghasilkan konfigurasi hyperparameter terbaik pada Trial 2 tanpa weight sharing dan Trial 6 dengan weight sharing. Lalu, hasil validasi menunjukkan pendekatan jaringan kritik MASAC dengan weight sharing mengurangi panjang antrean dan waktu tunggu kendaraan lebih dari 10% dibandingkan tanpa weight sharing dan bobot kombinasi optimal, 80% MASAC dan 20% Max Pressure, pada pengembangan Hibrida MASAC-Max Pressure. Pengujian pada empat skenario lalu lintas (hari kerja dan akhir pekan pada periode pagi hari dan sore hari) menunjukkan Hibrida MASAC-Max Pressure sebagai metode terbaik yang lebih unggul dari DQN serta PPO dan MASAC mengurangi panjang antrean dan waktu tunggu kendaraan lebih dari 80% dan 70% dibandingkan Fixed-Time Control. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sistem kendali lampu lalu lintas adaptif Hibrida MASAC-Max Pressure dengan optimisasi Bayesian (TPE) merupakan solusi dalam meningkatkan efisiensi lalu lintas pada persimpangan Buah Batu-Samsat Bandung dan memiliki potensi untuk diterapkan lebih luas pada persimpangan-persimpangan dengan tingkat kemacetan lalu lintas yang tinggi khususnya Indonesia.
PERANCANGAN STRATEGI RETENSI PELANGGAN BERDASARKAN PERILAKU KONSUMEN DI TOKO DAGING NUSANTARA SOREANG
Industri ritel daging di Indonesia terus mengalami pertumbuhan konsisten seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Toko Daging Nusantara (TDN) merupakan salah satu pemain industri yang mengusung konsep ritel modern dalam mendistribusikan daging segar dan olahan kepada konsumen akhir. TDN juga memperluas lini produk ke berbagai bahan pangan lain sehingga beroperasi layaknya supermarket. Penelitian ini dibatasi pada TDN cabang Soreang, yang dipilih karena memiliki performa omset dan akuisisi pelanggan yang rendah. TDN Soreang mengalami permasalahan nilai CRR (customer retention rate) yang rendah sebesar 36% dibandingkan CRR global (63%). Masalah ini diperkuat dengan temuan bahwa 61,5% pelanggan tidak kembali berbelanja selama lebih dari lima bulan sejak transaksi terakhir. Penelitian ini bertujuan merancang strategi retensi berdasarkan eksplorasi terhadap perilaku pelanggan. Model perilaku yang digunakan mencakup teori Stimulus-Organism-Response (SOR), serta empat model lain yang relevan dengan pembelian ulang di gerai ritel supermarket, yaitu model Chatzoglou, dkk (2022), Anene (2022), Hilal (2022), dan Fitri & Mardikaningsih (2023). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 12 pelanggan dari empat segmen yang dipilih menggunakan teknik judgemental dan convenience sampling. Kemudian, data wawancara dianalisis menggunakan metode analisis tematik induktif dan deduktif. Hasil analisis digunakan untuk menyusun daftar kebutuhan pelanggan yang diklasifikasi dengan model Kano. Daftar kebutuhan akan menjadi dasar perumusan strategi retensi berdasarkan kerangka marketing mix 7P. Alternatif strategi dievaluasi menggunakan matriks penilaian ICE untuk memilih strategi yang paling relevan bagi masing-masing segmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan faktor yang memengaruhi pembelian kembali pada segmen akibat kebutuhan yang berbeda.
HUBUNGAN LITOFASIES DAN ASOSIASI FASIES TERHADAP ROCK TYPE PADA ZONA POTENSIAL HIDROKARBON RESERVOIR E3140 FORMASI BALIKPAPAN, LAPANGAN BERAS, CEKUNGAN KUTAI
Reservoir E3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Beras, Cekungan Kutai yang terdapat di tepi bagian timur, Kalimantan Timur merupakan salah satu cekungan sedimen penghasil hidrokarbon di Indonesia yang saat ini dikelola oleh PT Pertamina Hulu Indonesia Zona 9. Menurunnya laju produksi pada reservoir E3140 menjadi tantangan pada tahap pengembangan sehingga dibutuhkan model geologi reservoir 3D yang mampu menjelaskan tingkat karakteristik heterogenitas reservoirnya. Penelitian ini menentukan analisis litofasies, asosiasi fasies serta lingkungan pengendapan, analisis rock type serta penyebarannya dengan multi resolution graph-based clustering (MRGC) dan prediksi permeabilitas dari hubungan permeabilitas dan porositas berdasarkan pengelompokan rock type, dan pemodelan geologi reservoir 3D dari dari reservoir E3140 Formasi Balikpapan, Cekungan Kutai. Hasil analisis deskripsi inti batuan dari analogi sumur Lapangan Mutiara dan log elektrofasies pada reservoir batupasir E3140 merupakan asosiasi fasies distributary channel pada lingkungan pengendapan delta, bagian delta plain yang dipengaruhi pasang surut. Selain itu, reservoir batupasir E3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Beras yang merupakan asosiasi fasies distributary channel tersusun atas beberapa litofasies dari hasil analogi deskripsi inti batuan pada sumur MUT0530 reservoir G3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Mutiara yaitu (1) Litofasies Batupasir Planar Cross Bedding, (2) Litofasies Batupasir Planar Cross Bedding Bioturbation, (3) Litofasies Batupasir Cross Lamination With Mud Drapes, (4) Litofasies Batupasir Wavy Ripple Cross-Lamination With Mud Drapes Bioturbation, (5) Litofasies Batupasir Wavy Ripple Cross-Lamination With Mud Flasher. Analisis rock type (RT) dari reservoir batupasir E3140, Formasi Balikpapan terdiri dari 5 rock type. Salah satunya pada sumur BRS030 yang memiliki data routine core analysis (RCAL) dan memiliki data nilai produksi kumulatif minyak 6.722.949 STB dan kumulatif gas 1.560.048 MScf, pada asosiasi fasies distributary channel sebagai penghasil hidrokarbon utama dapat dibagi menjadi 3 rock type (RT) yaitu RT 01 yang memiliki kualitas yang sangat baik dengan nilai FZI ? 6,278, nilai porositas 32,30% – 32,5% dan nilai permeabilitas 2830,5 mD – 444,3 mD, RT 02 dengan kualitas baik dengan nilai FZI 3,62 – 6,03, nilai porositas 30,2% - 35,7%, dan nilai permeabilitas 772 mD – 2955 mD, dan RT03 dengan kualitas sedang dengan nilai FZI 0,223 – 3,603, nilai porositas 27,7% –34,7% dan nilai permeabilitas 277 mD – 1256 mD. Hasil analisis dari rock type ini juga nantinya akan digunakan untuk melakukan prediksi permeabilitas berdasarkan hasil klasifikasi RT-nya dengan menggunakan hubungan antara nilai permeabilitas dari data routine core analysis (RCAL) dan normalized porosity. Rock type pada sumur-sumur reservoir E3140 Formasi Balikpapan yang tidak memiliki data routine core analysis (RCAL) diprediksi dengan menggunakan multi resolution graph-based clustering (MRGC). Pemodelan properti reservoir seperti pemodelan penyebaran rock type, pemodelan penyebaran volume shale, pemodelan penyebaran porositas, dan pemodelan penyebaran prediksi permeabilitas berdasarkan klasifikasi rock type dikontrol oleh pemodelan asosiasi fasies pada reservoir E3140, Formasi Balikpapan, Lapangan Beras. Hal ini diharapkan mampu menghasilkan model geologi reservoir E3140, Formasi Balikpapan yang mampu menggambarkan tingkat karakteristik heterogenitas reservoirnya.
PERANCANGAN KONSEP PENGEMBANGAN LAYANAN THE ROOM 19 BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA RUANG KETIGA MENGGUNAKAN CHOICE-BASED CONJOINT
The Room 19 merupakan perpustakaan independen di Kota Bandung yang berfungsi sebagai ruang ketiga (third place), yaitu ruang di luar rumah dan kampus/kantor yang dimanfaatkan untuk beraktivitas secara fleksibel, baik untuk bersosialisasi maupun belajar dan bekerja. The Room 19 menghadapi tantangan dalam memaksimalkan pendapatan karena didominasi pelanggan pelajar dan mahasiswa dengan daya beli relatif rendah, sehingga kunjungan cenderung fluktuatif pada masa libur dan kontribusi layanan tambahan rendah. Untuk meningkatkan keberlanjutan bisnis, diperlukan strategi penetrasi pasar melalui pengembangan layanan dan penetapan harga berbasis preferensi konsumen. Penelitian ini mengidentifikasi atribut layanan yang memengaruhi keputusan konsumen, membentuk segmentasi pelanggan, serta menentukan rentang harga optimal layanan The Room 19. Metode choice-based conjoint (CBC) digunakan untuk menganalisis delapan atribut layanan (estimasi utilitas: hierarchical Bayes (HB); segmentasi: latent class regression (LCR)). Analisis harga dilakukan menggunakan Van Westendorp’s price sensitivity meter (PSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jam operasional, sistem penyewaan seating, dan insentif penggunaan layanan merupakan atribut paling berpengaruh. Segmentasi menghasilkan tiga kelompok pelanggan dengan kebutuhan berbeda, dengan kombinasi atribut paling disukai meliputi jam operasional 08.00–20.00, shift fleksibel 4 jam, insentif gratis 1 shift setiap 5 kunjungan, tarif peminjaman buku harian, serta bundling layanan seating dan peminjaman buku. Analisis PSM menunjukkan harga eksisting layanan seating dan peminjaman buku impor sedikit di atas harga optimal namun masih dapat diterima, sedangkan harga peminjaman buku lokal berada di bawah harga optimal sehingga terdapat ruang kenaikan harga secara terbatas.
STUDI SHUNT ACTIVE POWER FILTER BERBASIS METODE KESETARAAN DAYA UNTUK PERBAIKAN KUALITAS DAYA
Beban nonlinier berbasis penyearah pada sistem satu fasa menyebabkan distorsi harmonisa arus yang menurunkan kualitas daya, meningkatkan rugi-rugi sistem, serta mempercepat degradasi peralatan listrik. Penelitian ini merancang dan mengevaluasi kinerja Shunt Active Power Filter (SAPF) berbasis metode kesetaraan daya untuk menghasilkan arus sumber yang sinusoidal dan sefasa dengan tegangan melalui injeksi arus kompensasi. Metode kesetaraan daya digunakan untuk membangkitkan arus referensi dengan pendekatan yang lebih sederhana, karena hanya memerlukan estimasi daya aktif rata-rata untuk menentukan amplitudo arus kompensasi tanpa transformasi koordinat. Sistem SAPF direalisasikan menggunakan inverter H-bridge bertipe Voltage Source Inverter (VSI) dan dikendalikan dengan Hysteresis Current Control (HCC) agar arus injeksi mampu mengikuti arus referensi secara cepat dan presisi. Evaluasi dilakukan melalui simulasi dan pengujian prototipe pada sistem satu fasa 110 V, 50 Hz dengan beban nonlinier, serta pengembangan ke sistem tiga fasa empat kawat. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada kondisi tanpa SAPF, THD arus sumber mencapai 18,35% dan menurun menjadi 5,78% setelah SAPF diaktifkan, serta 1,80% pada kondisi beban bervariasi dengan faktor daya meningkat hingga 1,00. Pada sistem tiga fasa empat kawat, THD arus sumber turun menjadi 2,33% sampai dengan 2,41% dengan arus netral mendekati nol dan faktor daya 1,00 pada setiap fasa. Pengujian prototipe memverifikasi hasil simulasi, di mana arus sumber setelah kompensasi menjadi sinusoidal dan sefasa dengan tegangan, sedangkan arus beban tetap nonlinier. Hasil ini membuktikan bahwa SAPF berbasis metode kesetaraan daya efektif, adaptif, dan valid secara eksperimental untuk peningkatan kualitas daya pada sistem tegangan rendah.
PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI KUALITAS CPO BERBASIS SPEKTROSKOPI RAMAN DENGAN VARIABILITAS DATA MULTI-INSTRUMEN DAN MULTIBATCH
Minyak kelapa sawit merupakan komoditas strategis utama di Indonesia dengan volume produksi dan ekspor yang menempati posisi teratas di dunia. Untuk menjaga daya saing di pasar global, kualitas minyak sawit terutama minyak sawit mentah (CPO) perlu dikendalikan secara akurat melalui parameter seperti asam lemak bebas (FFA) dan kadar air. Metode spektroskopi Raman yang dikombinasikan dengan machine learning menawarkan analisis yang cepat dan non-destruktif untuk penentuan kualitas CPO. Namun dalam pengujian kualitas dapat menggunakan instrumen spektroskopi Raman dengan jenis yang berbeda atau variasi batch produksi CPO menyebabkan adanya variabilitas data spektrum Raman. Sehingga diperlukan pengembangan model prediksi kualitas CPO yang mampu menangani variabilitas data multi-instrumen dan multi-batch. Data spektrum Raman diperoleh menggunakan dua jenis instrumen, yaitu HORIBA MacroRAM™ dan YIXIST Portable Raman Spectrometer. Sampel CPO dikelompokkan ke dalam tiga batch utama yang merepresentasikan variasi sumber produksi serta perbedaan konfigurasi pengukuran instrumen. Tahapan penelitian terdiri dari preparasi, preprocessing¸ pembagian data sesuai variabilitas data multiinstrumen dan multi-batch, uji korelasi untuk spektrum Raman multi-instrumen, pengembangan model prediksi dengan menggunakan berbagai macam algoritma machine learning, serta evaluasi model menggunakan MAE untuk regresi dan skor F1 untuk klasifikasi. Hasil uji korelasi spektrum Raman multi-instrumen di rentang 0,72 – 0,77 menunjukkan adanya tingkat kemiripan pola spektral yang cukup kuat, meskipun belum mencerminkan kesesuaian yang sangat tinggi antara spektrum yang dihasilkan oleh kedua instrumen. Analisis model regresi menunjukkan bahwa algoritma decision tree merupakan algoritma terbaik sebagai dalam memprediksi FFA dan kadar air baik pada skenario multi-instrumen (rentang kesalahan rata-rata prediksi sebesar 0% sampai 22,2% untuk FFA dan 0% sampai 1,3% untuk kadar air) dan multi-batch (rentang kesalahan rata-rata prediksi sebesar 1,05% hingga 2,72 untuk FFA dan 1,01% hingga 1,1%untuk kadar air). Analisis model klasifikasi menunjukkan bahwa algoritma random forest merupakan algoritma terbaik sebagai dalam memprediksi FFA dan kadar air baik pada skenario multi-instrumen maupun multi-batch dengan skor F1 sama dengan 1 dan akurasi mencapai 100%. Selain itu, hasil penggunaan dataset gabungan baik sebagai data latih maupun data prediksi pada variabilitas multi-instrumen atau multi-batch terbukti mampu meningkatkan kestabilan dan kemampuan generalisasi model.
MODIFIKASI KARAKTERISTIK FARMASETIKA METOKLOPRAMID MELALUI PEMBENTUKAN GARAM DENGAN ASAM FUMARAT
Metoklopramid (MCP) merupakan obat antiemetik yang memiliki keterbatasan karakteristik farmasetik seperti kelarutan, laju disolusi, dan sifat mekanik yang buruk. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembentukan kristal multikomponen pada MCP dan MCP-HCl dengan koformer asam oksalat dan galat dapat memodifikasi karakteristik farmasetik MCP. Oleh karena itu, rekayasa kristal melalui pembentukan kristal multikomponen merupakan strategi efektif untuk memodifikasi karakteristik farmasetik. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi karakteristik farmasetik MCP melalui pembentukan garam dengan asam fumarat (FUM). MCP memiliki gugus amina tersier yang mudah terprotonasi, sedangkan FUM memiliki dua gugus karboksilat yang mendukung terjadinya transfer proton. Screening berbagai rasio stoikiometri, pelarut, dan metode dilakukan untuk memperoleh kondisi optimum. Kristal MCP-FUM berhasil diperoleh melalui metode slurry dengan pelarut metanol dalam rasio stoikiometri MCP:FUM 2:1. Analisis PXRD menunjukkan pola difraksi baru pada 2?= 8,83????, 17,81????, 20,22????, 23,36°, 25,53° dan 26,77° yang mengonfirmasi terbentuknya fase kristalin baru. Analisis struktur kristal menggunakan SCXRD menunjukkan bahwa MCP-FUM membentuk kristal garam hidrat dalam sistem monoklinik dengan space group P2?. Karakterisasi garam MCP-FUM menggunakan DSC, TGA, FT-IR, dan SEM menunjukkan perubahan profil termal, perubahan spektra IR, dan perubahan morfologi kristal. Pembentukan garam MCP-FUM dapat meningkatkan kelarutan hingga 117 kali dan laju disolusi intrinsik hingga 57 kali dalam akuades dibandingkan dengan MCP, serta memperbaiki sifat tabletabilitas yang ditunjukkan dengan peningkatan tensile strength.
USULAN DESAIN PERFORMANCE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK PROSES PENGADAAN PRA-KONTRAK DI PERUSAHAAN KONSTRUKSI
Dengan kontribusi sekitar 9,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023–2024, sektor konstruksi merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Dalam operasional kontraktor, precontract procurement mencakup perencanaan kebutuhan, penyusunan spesifikasi teknis dan Bill of Quantities (BOQ), evaluasi vendor, negosiasi, serta finalisasi kontrak. Tahap ini bersifat strategis karena menentukan kesiapan proyek. Namun, sebagai perusahaan konstruksi milik negara, PT XY masih menghadapi permasalahan berupa lemahnya pengendalian kinerja, keterbatasan integrasi lintas fungsi, ketidaksiapan proses yang tidak merata, serta ketergantungan pada lagging indicators. Kondisi ini menunjukkan belum adanya mekanisme yang terstruktur untuk menegakkan compliance, accountability, dan early performance control, sehingga permasalahan kinerja baru teridentifikasi setelah berdampak pada procurement cycle time dan kesiapan proyek. Oleh karena itu, diperlukan Performance Management System (PMS) yang terstruktur dan berbasis pengetahuan. Penelitian ini menggunakan paradigma Knowledge-Based Performance Management System (KBPMS) untuk merancang PMS terintegrasi pada proses pre-contract procurement di PT XY. Analisis lingkungan internal dan eksternal dilakukan menggunakan PESTEL, SWOT–TOWS, dan Porter’s Five Forces. Selanjutnya, survei kuantitatif terhadap 55 responden dari Divisi Supply Chain, Divisi Operasi, dan tim proyek dilakukan untuk menilai tingkat kepentingan Key Performance Indicators (KPI) dengan metode Relative Importance Index (RII), yang kemudian diperingkat menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Untuk melengkapi analisis kuantitatif, dilakukan wawancara mendalam dengan tiga pemangku kepentingan kunci dari tiga divisi. Wawancara ini digunakan untuk memvalidasi KPI terpilih, mengidentifikasi permasalahan operasional, serta menerjemahkan kesenjangan kinerja ke dalam kebutuhan desain PMS dan proses digital pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 29 KPI yang dikelompokkan ke dalam tiga perspektif—Business Results, Internal Processes, dan Resource Capabilities— belum secara konsisten memenuhi target kinerja. Hal ini menegaskan perlunya sistem pemantauan yang lebih proaktif dan terintegrasi untuk meningkatkan kepatuhan, efektivitas proses, kualitas data, dan kapabilitas organisasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada proses precontract internal di satu perusahaan BUMN dan keterbatasan lingkup analisis kualitatif. Meskipun demikian, penelitian ini mengusulkan rencana implementasi PMS selama sembilan bulan yang mencakup tahap evaluasi, perencanaan, implementasi, dan penilaian, yang meliputi perancangan ulang alur kerja eProcurement, pengembangan dashboard kinerja, pelatihan pengguna, pilot testing, serta penguatan fitur digital untuk meningkatkan pengelolaan kinerja pre-contract procurement.
KAJIAN KOMPUTASI STRUKTUR MAGNETIK MATERIAL TOPOLOGICAL SEMIMETAL DAN ANOMALOUS HALL CONDUCTIVITY GDPTBI
Anomalous Hall conductivity (AHC) umumnya diasosiasikan dengan sistem feromagnetik yang memiliki magnetisasi remanen besar sehingga efek Hall dapat muncul walaupun tanpa pemberian medan magnetik eksternal. Namun, pemahaman AHC berbasis kurvatur Berry pada material topological semimetal (TSM) menunjukkan bahwa sistem antiferomagnetik (AFM) juga dapat memiliki nilai AHC yang signifikan walaupun hampir tidak memiliki magnetisasi remanen. Fenomena ini diamati pada material TSM AFM non-collinear Mn3Sn dan TSM AFM collinear GdPtBi. Secara khusus, keberadaan AHC pada material Mn3Sn telah diamati secara eksperimen dengan nilai yang berkorelasi terhadap perubahan struktur magnetiknya. Namun, berbagai studi terkait struktur magnetik Mn3Sn masih menunjukkan hasil yang beragam dalam hal kestabilan konfigurasi magnetik, sehingga diperlukan kajian sistematik untuk memperoleh validasi terhadap konfigurasi yang telah dilaporkan. Di sisi lain, fenomena perubahan AHC pada variasi struktur magnetik GdPtBi belum pernah dilaporkan. Hal tersebut menjadi dasar motivasi dalam penelitian ini untuk mempelajari struktur magnetik Mn3Sn dan GdPtBi serta kemungkinan kontrol AHC pada GdPtBi melalui variasi struktur magnetik AFM. Dalam studi ini, struktur magnetik dipelajari menggunakan pendekatan nilai medan magnetik internal yang dibandingkan dengan hasil eksperimen muon spin relaxation (????SR) dari literatur. Nilai medan magnetik internal dihitung secara numerik berbasis pendekatan medan magnetik dipolar pada posisi henti muon yang diestimasi sebelumnya dengan density functional theory (DFT). Pada Mn3Sn, posisi henti muon diperoleh pada posisi di antara dua konfigurasi segitiga atom Sn. Pada posisi tersebut medan magnetik internal dihitung dalam dua model struktur inverse triangular yaitu pada struktur dengan space group magnetik Pc’mm’ (AFM-1) dan Pcm’m’ (AFM-2) serta masing-masing variasinya terhadap sudut luar bidang (????) untuk menggambarkan struktur commensurate (???? = 90? ) dan incommensurate (???? ? 90? ). Hasil perhitungan medan magnetik internal kedua struktur membentuk pola sinusoidal dengan rentang ekstremum 0,46 T untuk struktur AFM-1 dan 2,7 T untuk AFM-2. Hasil tersebut akan dibandingkan dengan hasil eksperimen dari sampel polikristal. Pada material GdPtBi, penentuan posisi henti muon menunjukkan keberadaan dua kemungkinan posisi dengan konfigurasi oktahedral pada subkisi kosong dari kisi Bravais FCC. Dari kedua kemungkinan posisi, salah satunya memiliki medan magnetik internal yang sesuai dengan literatur. Kecocokan tersebut berada pada konfigurasi AFM dengan momen magnetik Gd berorientasi dengan sudut bidang (????) 30? . Hasil ini konsisten dengan data difraksi neutron yang telah dilaporkan, sehingga memvalidasi AFM dengan ???? = 30? sebagai keadaan dasar GdPtBi. Selanjutnya, efek perubahan struktur magnetik GdPtBi terhadap nilai AHC dipelajari menggunakan analisis struktur pita elektronik berbasis DFT dan formula Kubo berbasis interpolasi Wannier. Analisis struktur pita memperlihatkan adanya persilangan tiga pita di sekitar energi Fermi yang mengindikasikan material ini sebagai triple-point semimetal (TPSM). Variasi orientasi momen AFM dari ???? = 0 ? , 15? , 30? memodifikasi kekuatan spin–orbit coupling (SOC) yang menggeser energi titik triple secara signifikan dari keadaan tak terhuni menuju ke keadaan terhuni. Perhitungan AHC dengan formula Kubo menunjukkan bahwa hal ini berimplikasi langsung pada perubahan transpor AHC dengan perbedaan nilai mencapai 75,06 ??¹cm?¹. Hasil tersebut menunjukkan struktur pita berperan langsung terhadap AHC sehingga pengaturan struktur magnetik dapat digunakan sebagai mekanisme untuk meningkatkan performa AHC.
FORMULASI DAN OPTIMASI NANOEMULSI EKSTRAK DAUN KEMANGI (OCIMUM AMERICANUM L.) DENGAN SAKARIDA UBI CILEMBU SERTA UJI AKTIVITAS NEFROPROTEKTIF PADA MODEL HEWAN GAGAL GINJAL
Latar belakang dan tujuan: Kerusakan ginjal yang dipicu oleh stres oksidatif dan inflamasi merupakan salah satu mekanisme utama pada berbagai kondisi nefropati, sehingga diperlukan strategi terapi suportif yang mampu menargetkan kedua proses tersebut. Penelitian ini bertujuan memformulasikan dan mengoptimalkan nanoemulsi ekstrak daun kemangi (Ocimum americanum L.) dengan sakarida ubi Cilembu serta mengevaluasi respons molekuler jaringan ginjal tikus Wistar guna menilai potensi efek nefroprotektif sediaan tersebut. Metode: Nanoemulsi disiapkan melalui pendekatan bottom-up dengan pembentukan koloid polifenol yang diinduksi pemanasan, diikuti proses emulsifikasi. Optimasi dilakukan menggunakan metode One Factor At a Time (OFAT), desain faktorial, dan Box–Behnken Design (BBD) berdasarkan respons ukuran partikel. Formula terpilih dikarakterisasi dan diuji in vivo melalui biomarker stres oksidatif–inflamasi, analisis ekspresi gen, dan histopatologi ginjal. Hasil: Formula optimal diperoleh pada kombinasi faktor sakarida, heksilen glikol, dan gliserin pada Box–Behnken Design, yang setelah dikonfirmasi secara eksperimental menghasilkan ukuran partikel sebesar 174,20 ± 4,59 nm. Pada pengujian in vivo, pemberian formula optimum menurunkan kadar MDA dan TNF-?serta meningkatkan kapasitas antioksidan total (CUPRAC). Selain itu, kondisi stres oksidatif, inflamasi, dan apoptosis ginjal yang meningkat pada kelompok induksi mengalami perbaikan, yang ditunjukkan oleh penurunan signifikan ekspresi gen penanda cedera tubulus dan apoptosis (KIM-1, vimentin, Casp3, dan Capn1), disertai peningkatan signifikan ekspresi gen pertahanan antioksidan (Nrf2 dan HO-1) dan penurunan aktivitas jalur inflamasi NF-?B. Perubahan molekuler tersebut menunjukkan perbaikan kondisi stres oksidatif, inflamasi, dan kerusakan tubulus ginjal, yang selaras dengan pemulihan struktur jaringan ginjal pada analisis histopatologi PAS.
INDEKS PERSAHABATAN DARI GRAF HASIL OPERASI TAMBAH DAN KARAKTERISASI GRAF YANG MEMILIKI KARDINALITAS INDEKS PERSAHABATAN KECIL
Perkembangan teori pelabelan graf dimulai dengan konsep ?-valuation yang diperkenalkan oleh (Rosa, 1967), yang kemudian dipopulerkan oleh (Golomb, 1972) dengan sebutan pelabelan anggun (graceful labeling). Evolusi konsep ini melahirkan pelabelan harmoni (harmonious labeling) (Graham dan Sloane, 1980a) dan pelabelan Kordial (cordial labeling) (Cahit, 1987). Kemudian (Lee dan Ng, 2008) memperkenalkan konsep indeks persahabatan (friendly index) sebagai generalisasi kuantitatif dari pelabelan kordial. Secara formal, indeks persahabatan dari suatu graf G didefinisikan sebagai himpunan FI(G) = {N(f) : f pelabelan persahabatan}, dengan N(f) = |ef (1) ? ef (0)| mengukur selisih jumlah sisi berlabel 1 dan 0 dari pelabelan persahabatan f : V (G) ? {0, 1}. Meskipun penelitian tentang indeks persahabatan telah berkembang cukup pesat, kajian literatur menunjukkan adanya dua celah penelitian (research gaps), yaitu pengaruh operasi graf terhadap indeks persahabatan dan karakterisasi graf berdasarkan kardinalitas indeks persahabatan. Dalam tesis ini akan dibahas indeks persahabatan untuk operasi tambah G+H, yang menghubungkan setiap titik di G dengan setiap titik di H. Pembahasan ini dibentuk dari sifat-sifat FI(G+H) terhadap pelabelan G dan H yang terinduksi. Kemudian penelitian ini juga akan membahas karakterisasi graf G yang memiliki kardinalitas indeks persahabatan kecil, yaitu |FI(G)| = 1 atau |FI(G)| = 2 dengan menentukan hubungan pertukaran label titik -titik di G terhadap indeks dari pelabelan persahabatan G.