📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenSISTEM IDENTIFIKASI KERUSAKAN NASKAH KUNO MENGGUNAKAN SEGMENTASI SEMANTIK
Naskah kuno merupakan warisan budaya yang sangat berharga namun rentan mengalami kerusakan akibat faktor usia, lingkungan, dan kondisi penyimpanan. Proses identifikasi kerusakan secara manual membutuhkan waktu 45-60 menit per naskah dan sangat bergantung pada keahlian konservator. Deteksi otomatis menggunakan segmentasi semantik dapat mempercepat proses preservasi dan memungkinkan penanganan koleksi dalam skala besar. Segmentasi semantik merupakan teknik berbasis kecerdasan buatan yang bekerja dengan mengklasifikasikan setiap piksel pada gambar ke dalam kategori kelas tertentu, sehingga sistem dapat mengenali lokasi serta bentuk kerusakan secara presisi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem identifikasi naskah kuno berbasis segmentasi semantik. Untuk mendapatkan model terbaik, penelitian ini membandingkan performa tiga arsitektur, yaitu SegFormer, U-Net, dan DeepLabV3+ dalam mendeteksi kerusakan pada naskah kuno Indonesia, serta mengidentifikasi faktor-faktor implementasi yang memengaruhi keberhasilan model. Penelitian menggunakan dataset mandiri dengan lima kelas, yaitu: background, fungi, foxing, noda, dan korosi tinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur berbasis transformer (SegFormer) memiliki performa superior dibandingkan model berbasis CNN untuk segmentasi semantik manuskrip dengan ketergantungan spasial (spatial dependencies) kompleks dan jumlah dataset terbatas. Dari total 66 data uji, sistem mampu mengidentifikasi seluruh gambar dengan kelas yang benar. Sebanyak 33 gambar memiliki selisih piksel prediksi antara ground truth dan hasil prediksi di rentang toleransi yang dapat diterima, sehingga sistem tetap efektif dalam menyimpulkan kondisi naskah secara garis besar.
PEMANTAUAN KUALITAS EFLUEN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT BERBASIS INTERNET OF THINGS DENGAN HYBRID RULE-BASED SYSTEM DAN MACHINE LEARNING
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di rumah sakit sangat penting untuk mencegah pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit di lingkungan sekitar karena limbah medis khususnya limbah di rumah sakit yang berbahaya karena mengandung bahan kimia dan biologis berbahaya. Oleh karena itu, baku mutu mengenai air limbah yang layak dibuang ke lingkungan sudah diatur oleh pemerintah. Saat ini, pengawasan kualitas efluen di berbagai fasilitas kesehatan masih menggunakan metode manual atau indikator biologis tradisional. Metode ini memiliki kekurangan seperti data yang kontinu dan keterlambatan respons terhadap perubahan kondisi efluen. Penelitian ini bertujuan mengatasi masalah tersebut dengan mengembangkan sistem pemantauan kualitas efluen berbasis Internet of Things (IoT) serta aplikasi dashboard terintegrasi yang menggabungkan sensor suhu, pH, total dissolved solids (TDS), dan gas amonia dengan sistem pemrosesan data cerdas. Penelitian ini mengusulkan pendekatan hybrid yang menggabungkan Rule-Based System dan algoritma Anomaly Detection untuk menciptakan mekanisme peringatan dini yang lebih efektif. Rule-Based System berfungsi sebagai filter pertama untuk mendeteksi pelanggaran ambang batas baku mutu kualitas secara langsung sesuai aturan pemerintah, sedangkan algoritma Anomaly Detection digunakan untuk mengenali pola penyimpangan yang halus namun berisiko. Penelitian ini membandingkan performa tiga algoritma Unsupervised Learning, yaitu Isolation Forest (IF), One-Class Support Vector Machine (OCSVM), dan Convolutional Autoencoder (Conv-AE), untuk menemukan konfigurasi dengan trade-off terbaik antara akurasi dan efisiensi dalam sistem pemrosesan real-time. Model Conv-AE kemudian dikonversi ke format TensorFlow Lite (TFLite) untuk meningkatkan penggunaan sumber daya. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa prototipe perangkat keras IoT mampu mengakuisisi data sensor secara stabil, dan aplikasi dashboard berhasil menyajikan pemantauan real-time serta mengirimkan notifikasi peringatan dini kepada pengguna. Evaluasi performa Anomaly Detection menunjukkan model Conv-AE TFLite memiliki performa terbaik dibandingkan model lainnya. Model ini mencapai tingkat recall sebesar 96,0% dan F1-score sebesar 94,0%, menunjukkan kemampuannya dalam mendeteksi anomali secara akurat. Dari sisi efisiensi, model ini memiliki ukuran file yang kecil, hanya 12 KB dan jauh lebih ringkas dibandingkan Isolation Forest yang berukuran 1.404 KB, sehingga sangat cocok untuk diimplementasikan pada sistem IoT. Meskipun memiliki rata-rata latensi pemrosesan sebesar 0,226 detik, di mana sedikit lebih tinggi dibandingkan metode lainnya, sistem ini mampu berjalan secara real-time dengan stabilitas yang baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan IoT dengan model hybrid yang menggabungkan Rule-Based System dan model Conv-AE TFLite adalah solusi yang kuat, menawarkan trade-off antara akurasi deteksi tinggi dan efisiensi memori yang memadai untuk mendukung pengambilan keputusan cepat dan pengelolaan lingkungan rumah sakit yang berkelanjutan.
PENGEMBANGAN KAKAS ANALISIS MALWARE UNTUK REVERSE ENGINEERING DENGAN MENGGUNAKAN LLM
Analisis malware merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting dalam menghadapi ancaman malware pada saat ini, namun proses ini masih mengalami banyak tantangan. Saat ini analisis umumnya dilakukan secara manual oleh ahli yang memakan waktu cukup panjang. Selain itu, analis masih mengalami tantangan dalam mengidentifikasi komponen yang benar-benar malicious pada malware dan juga menentukan prioritas dalam menganalisis sebuah malware. Penelitian yang ada saat ini pada dasarnya masih banyak berfokus pada pendeteksian malware serta explanation yang didemonstrasikan oleh LLMMaldetect (2025) dan Malparse (2025). Pendekatan ini hanya memberikan high level explanation tanpa menjelaskan komponen mana yang mencurigakan. Penelitian Fujii (2024) menunjukkan bahwa LLM dapat mengidentifikasi suspicious pada sebuah fungsi. Hanya saja penelitian ini hanya dapat mendeteksi pada level satu fungsi saja. Penggunaan LLM secara langsung pun tidak bisa dilakukan karena LLM tidak dapat melakukan analisis biner sehingga membutuhkan teknik khusus untuk memberikan kemampuan tersebut. Oleh karena itu, analis masih perlu untuk melakukan analisis mendalam untuk menemukan seluruh komponen malicious. Penelitian ini berfokus pada pembangunan sebuah kakas bernama Malize yang dapat membantu mencari suspicious component pada satu program utuh secara otomatis. Hal ini dapat membantu dalam memberikan overview kepada analis. Hal ini dapat tercapai dengan melibatkan dalam LLM dalam melakukan analisis. Pada kakas ini, LLM melakukan analisis pada decompiled/disassembled code dan fitur-fitur yang ada pada malware. Pengujian dari kakas ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan membandingkan terhadap laporan analisis tiga malware: HermeticWiper, Lockbit 3, dan Babuk Ransomware. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Malize mampu mengidentifikasi hingga 92,86% kapabilitas yang dilaporkan pada sampel ransomware Babuk dan hingga 63,64% pada HermeticWiper, sedangkan kinerjanya turun menjadi 31,82% pada Lockbit 3 yang ter-obfuscate. Malize juga mampu menganalisis penggunaan kapabilitas sesuai konteks pada sebuah binary. Malize juga mengidentifikasi kapabilitas mencurigakan secara konsisten pada varian malware berbeda.
PENDEKATAN HALF-FLIP 2D UNTUK OPTIMASI MULTI-MODAL ENGAGEMENT CLASSIFICATION PADA PEMBELAJARAN DARING
Transformasi digital dalam pendidikan telah melahirkan ekosistem pembelajaran berbasis teknologi yang semakin kompleks, terutama melalui konsep smart campus yang mengintegrasikan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas proses belajar. Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi pembelajaran daring, yang hingga kini tetap digunakan dalam bentuk pembelajaran asinkron. Namun, model ini menimbulkan tantangan dalam pemantauan engagement peserta didik karena minimnya interaksi langsung dengan pengajar. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan sistem klasifikasi engagement berbasis Facial Emotion Recognition (FER) yang dikombinasikan dengan indikator visual lain, yaitu arah kepala dan kondisi mata, pada pembelajaran video asinkron. Fokus penelitian diarahkan pada peningkatan ketahanan FER terhadap kondisi wajah yang teroklusi sebagian, khususnya akibat tangan yang menutupi wajah atau orientasi non-frontal. Metode yang dikembangkan berupa pipeline pre-processing berbasis citra 2D. Proses ini meliputi deteksi dan penghapusan objek tangan, koreksi arah kepala, serta rekonstruksi wajah frontal melalui teknik duplikasi bagian wajah yang tidak teroklusi. Hasil rekonstruksi kemudian diproses oleh model FER seperti CNN, DeepFace, dan FaceLib. Eksperimen menunjukkan peningkatan akurasi signifikan pada kasus oklusi vertikal, dengan CNN naik 33,79% dan DeepFace 14,29% dibanding baseline. Pada wajah non-frontal, peningkatan tetap terjadi meski terbatas, sedangkan oklusi di area mulut tidak memberikan perbaikan berarti dan bahkan menurunkan performa beberapa model. Secara keseluruhan, metode pre-processing adaptif ini terbukti meningkatkan robustness FER terhadap oklusi parsial, terutama pada setengah area wajah secara vertikal. Kendati demikian, keterbatasan masih muncul pada performa hand-detector yang digunakan, sehingga penelitian lanjutan dengan model deteksi tangan yang lebih robust serta pendekatan multi-modal sangat disarankan untuk dilakukan improvisasi. Secara umum, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metode pre-processing untuk menangani oklusi wajah, sehingga sistem engagement classification menjadi lebih tangguh terhadap beragam kondisi wajah peserta didik dalam pembelajaran digital.
USULAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU (IMC) PURA MANGKUNEGARAN SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA
Pura Mangkunegaran memegang peran sebagai situs cagar budaya dan salah satu objek wisata sejarah di Surakarta, Jawa Tengah. Studi ini meneliti tantangan yang dihadapi oleh Pura sebagai tujuan warisan budaya dengan visibilitas meningkat tetapi berjuang dengan pemahaman merek dan korelasi makna yang rendah. Penelitian ini mengadopsi metodologi kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam yang tidak terstruktur dan didukung oleh dokumen survei pengunjung manajemen internal. Analisis dimulai dengan penilaian internal dan eksternal menggunakan kerangka kerja VRIO dan PESTLE diikuti dengan analisis tematik Nvivo. Pendekatan ini memastikan pemahaman menyeluruh tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman Pura Mangkunegaran (SWOT), yang kemudian disintesis menggunakan matriks TOWS dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang mengarah pada perumusan rekomendasi strategis menggunakan rekomendasi komunikasi pemasaran terpadu (IMC). Temuan utama dari analisis internal menunjukkan bahwa Pura Mangkunegaran memiliki beberapa sumber daya berharga yang berakar pada warisan budaya, bangunan bersejarah, asset restoran, dan pengalaman pengunjung yang unik. Namun, kekuatan ini cenderung dibatasi oleh kesiapan organisasi, fasilitas pendukung yang terbatas, dan kurangnya penceritaan publik yang jelas. Meskipun demikian, analisis eksternal mengungkapkan bahwa munculnya tren pariwisata budaya dan peningkatan upaya penggabungan teknologi menunjukkan peluan, namun persaingan dengan destinasi serupa dan persepsi publik cenderung menimbulkan tantangan. Strategi bisnis yang diusulkan menggunakan IMC mengintegrasikan semua bauran media yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Penelitian ini berkontribusi pada bidang pemasaran wisata budaya dengan memberikan kerangka kerja praktis yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pengalaman kunjungan dan pemahaman nilai dari destinasi.
PERAN KONSISTENSI PLATFORM DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM MENDORONG EFEKTIVITAS KAMPANYE: PERSPEKTIF PENGENDALIAN STRATEGIS PADA TELKOMSEL
Percepatan transformasi digital di Indonesia telah secara signifikan mengubah cara merek telekomunikasi berinteraksi dengan konsumen di berbagai platform. Bagi Telkomsel, operator jaringan seluler terbesar di Indonesia, kemunculan konsumen digital asli dari generasi Gen Z dan Milenial membawa peluang sekaligus tantangan, terutama ketika perilaku konsumen menjadi semakin terfragmentasi, perpindahan platform semakin sering terjadi, dan efektivitas pemasaran didefinisikan ulang oleh ekosistem konten berbasis algoritma. Meskipun Telkomsel telah berinvestasi pada teknologi pemasaran seperti Predictive AI, analitik berbasis Azure, dan ekosistem DigiAds, ketidakseimbangan dalam pemilihan dan implementasi platform mengakibatkan kinerja kampanye yang tidak konsisten. Penelitian ini mengkaji hubungan antara konsistensi platform, dinamika perilaku konsumen, serta pengendalian strategis, dan bagaimana ketiganya memengaruhi efektivitas kampanye digital Telkomsel. Tiga isu utama mendorong penelitian ini: (1) perubahan perilaku Gen Z yang bergerak cepat antarplatform seperti TikTok, Instagram, dan MyTelkomsel; (2) ketidaksesuaian antara wawasan berbasis AI dengan eksekusi kampanye aktual; dan (3) kebutuhan akan pengendalian strategis untuk memastikan bahwa kinerja kampanye tetap sejalan dengan tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan perilaku terhadap efektivitas platform, menilai kemampuan Telkomsel dalam menjaga konsistensi platform, serta mengevaluasi pengaruh konsistensi terhadap engagement, brand recall, dan konversi. Penelitian menggunakan desain kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajer dan profesional pemasaran digital dari berbagai divisi Telkomsel seperti Digital Sales, Brand & Communication, Regional Operations, GTM & Growth, dan By.U Creative Communications. Melalui analisis konten dan tematik, penelitian menemukan pola berulang terkait keselarasan platform, adaptasi kampanye berbasis perilaku, dan manajemen kinerja strategis. Kerangka konseptual penelitian terdiri dari tiga konstruk utama: Dinamika Perilaku Konsumen (kredibilitas sumber dan kualitas konten), Konsistensi Platform (integrasi promosi, layanan pelanggan, dan pemenuhan), serta Pengendalian Strategis (KPI pasar, pelanggan, dan finansial). Temuan penelitian menunjukkan tiga hal penting. Pertama, konsistensi platform merupakan faktor utama keberhasilan kampanye, namun sulit dijaga karena perubahan preferensi konsumen dan algoritma platform yang sangat cepat. Meskipun seluruh tim sepakat akan pentingnya keselarasan pesan, tone, dan identitas merek, pelaksanaannya sering berbeda ketika ada kebutuhan adaptasi regional atau kekhasan produk. Kedua, perilaku Gen Z sangat memengaruhi pemilihan platform. Responden menjelaskan bahwa segmen ini melakukan keputusan pembelian melalui banyak titik kontak dalam satu perjalanan—mengenal produk di TikTok, memvalidasi di Instagram, dan bertransaksi melalui MyTelkomsel atau platform e-commerce. Pola non-linear ini menuntut adaptasi konten yang cepat dan pemantauan perilaku secara real-time. Ketiga, mekanisme pengendalian strategis belum merata; meskipun KPI kuat di tingkat korporat, penerapannya belum konsisten antar divisi. Meskipun Predictive AI dan DigiAds mampu mengidentifikasi audiens berpotensi tinggi, wawasan tersebut tidak selalu diterjemahkan secara konsisten ke dalam strategi kreatif atau alokasi media karena adanya silo organisasi. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kampanye digital tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas divisi, tata kelola konten yang terpadu, dan pelacakan perilaku yang berkelanjutan. Ketika Telkomsel berhasil mengintegrasikan elemen-elemen tersebut, seperti dalam kampanye TikTok Ramadan 2024, hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam awareness, incremental reach, dan transaksi aplikasi. Sebaliknya, kampanye yang tidak konsisten atau salah memilih platform menunjukkan kinerja yang lebih rendah meskipun aset kreatifnya berkualitas tinggi. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan pentingnya konsistensi platform sebagai kompetensi strategis bukan sekadar operasional dalam ekosistem pemasaran digital. Penelitian ini juga memperluas literatur dengan menunjukkan bagaimana pola migrasi platform yang dipicu perilaku konsumen memengaruhi pengendalian strategis dalam organisasi digital berskala besar. Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi operasional bagi Telkomsel untuk memperkuat tata kelola KPI, meningkatkan keselarasan kreatif lintas platform, dan menstandarkan perencanaan kampanye berbasis perilaku. Pada akhirnya, memastikan bahwa kampanye digital tetap konsisten, berpusat pada konsumen, dan dikendalikan secara strategis sangat penting agar Telkomsel dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di lingkungan digital Indonesia yang terus berkembang.
EVALUASI FORMULASI NANOSUSPENSI EKSTRAK KEMANGI (OCIMUM AMERICANUM L.) DAN SAKARIDA UBI CILEMBU TERHADAP PERTUMBUHAN LACTOBACILLUS PLANTARUM
Latar belakang: Ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L.) diketahui kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan serta berpotensi menjaga homeostasis saluran pencernaan melalui modulasi mikrobiota usus. Namun, pemanfaatannya sering terkendala oleh rendahnya stabilitas senyawa aktif terhadap degradasi oksidatif selama proses ekstraksi, penyimpanan, maupun metabolisme oral. Pengembangan formulasi nanosuspensi menjadi solusi potensial untuk meningkatkan stabilitas senyawa aktif dan meningkatkan ketersediaannya di kolon agar dapat dimanfaatkan oleh probiotik. Dalam hal ini, sakarida ubi Cilembu terfosforilasi berperan sebagai penstabil dengan mekanisme elektrostatik dan sterik, dengan L-arginin sebagai crosslinker yang memperkuat interaksi molekuler. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan nanosuspensi ekstrak daun kemangi menggunakan sakarida ubi jalar Cilembu terfosforilasi sebagai penstabil sekaligus sumber nutrisi probiotik yang dikombinasikan dengan L-arginin sebagai penstabil, serta menguji potensi pertumbuhan probiotik terhadap Lactobacillus plantarum. Metode: Ekstraksi daun kemangi dilakukan dengan Ultrasound-Assited Extraction (UAE) menggunakan pelarut etanol 60% dengan penambahan asam sitrat 0,5%. Ekstraksi ubi cilembu dilakukan melalui tahap pemisahan pati dan hidrolisis asam, selanjutnya dilakukan fosforilasi dengan STPP 1%. Nanosuspensi diformulasikan dengan pendekatan bottom-up, melalui pembentukan partikel koloid ekstrak kemangi, kemudian penambahan penstabil arginin dan sakarida ubi cilembu, diikuti dengan high-shear homogenization. Optimasi formulasi nanosuspensi dilakukan menggunakan rancangan Box– Behnken Design (BBD). Formula dikarakterisasi dan diuji aktivitas pertumbuhan probiotik terhadap Lactobacillus plantarum dengan metode pengukuran turbiditas (OD600) yang dikonversi untuk memperkirakan jumlah koloni. Hasil: Formulasi nanosuspensi menghasilkan sediaan dengan ukuran seragam 261,12 ± 1,85 nm yang ditunjukkan oleh indeks polidispersitas 0,271 ± 0,03. Hasil optimasi BBD menunjukkan faktor yang signifikan terhadap pertumbuhan Lactobacillus plantarum adalah konsentrasi kemangi dan konsentrasi sakarida. Formulasi nanosuspensi pada kombinasi ekstrak kemangi 0,5%; sakarida ubi cilembu 9%; dan arginin 1% menunjukkan aktivitas antioksidan dan prebiotik yang baik. Aktivitas ii antioksidan meningkat secara signifikan sebesar 31%, dari 492,21 ± 5,91 mg AAE/g pada ekstrak tunggal menjadi 539,34 ± 7,87 mg AAE/g pada nanosuspensi, yang menunjukkan bahwa pengembangan sediaan nanosuspensi memberikan perlindungan terhadap degradasi oksidatif. Sediaan nanosuspensi cair menunjukkan stabilitas fisik dan kimia yang baik pada kondisi penyimpanan 4°C yang mampu mempertahankan karakteristik nanosuspensi lebih baik dibandingkan suhu 25°C dan 40°C. Evaluasi pertumbuhan probiotik menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan Lactobacillus plantarum mencapai 86,05% dibandingkan dengan media standar MRS.
SIMULASI TRANSFER KALOR PADA KOMPOSIT PHASE CHANGE MATERIAL BERBASIS ASAM LAURAT DENGAN MELTING ASIMETRIK
Studi karakteristik transfer kalor Phase Change Material (PCM) organik berbasis Asam Laurat (Lauric acid, LA) dan komposit magnetik dilakukan melalui metode simulasi yang didukung oleh data eksperimen. Simulasi dijalankan pada konfigurasi kotak tiga dimensi dengan pemanasan terkontrol di dinding kiri menggunakan metode Volume of Fluid (VOF) pada perangkat lunak Ansys Fluent. Material komposit berupa Fe3O4 dan NiFe2O4 masing-masing sebesar 2 wt% ditambahkan ke dalam LA untuk meningkatkan sifat termal dan responsnya terhadap aplikasi termomagnetik. Parameter input simulasi dikalibrasi berdasarkan data eksperimen terdahulu mengenai pelelehan PCM berbasis LA. Penggunaan PCM dipilih karena sifatnya yang ramah lingkungan, stabil, serta memiliki kapasitas kalor laten tinggi. Tujuan utama kajian ini adalah mengevaluasi distribusi temperatur, dinamika fraksi cair, dan pola perpindahan kalor pada LA murni serta komposit LA/Fe3O4 dan LA/NiFe2O4 selama proses transisi fase. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pelelehan dimulai dari sisi pemanasan dan berkembang ke arah kanan seiring bertambahnya waktu, diiringi pembentukan pola konveksi alami yang semakin kuat pada daerah yang telah mencair. Penambahan partikel magnetik terbukti meningkatkan laju perpindahan kalor, yang ditunjukkan oleh waktu pelelehan penuh yang lebih cepat hingga sekitar 10 menit dibandingkan LA murni. Perbandingan hasil simulasi dengan data eksperimen menunjukkan kesesuaian yang baik sehingga memvalidasi model numerik yang digunakan. Studi ini memberikan dasar pemahaman kuantitatif mengenai peningkatan performa termal LA melalui penambahan komposit magnetik Fe3O4 dan NiFe2O4.
PENGARUH STRATEGI PENETAPAN HARGA TERHADAP CITRA MEREK DAN KESEDIAAN MEMBAYAR PADA FURNITUR PREMIUM INDONESIA, STUDI KASUS: PT. CALEDON DESIGN CENTER
Ketidakpastian makro ekonomi menciptakan situasi yang kompleks bagi sektor furnitur di Indonesia. Lebih lanjut, kondisi perang tarif telah menyebabkan konsumen menunda pembelian di sektor non-primer seperti furnitur. Lingkungan yang penuh tantangan ini mengharuskan perusahaan bisa menentukan solusi tercepat dan paling tepat. Caledon, furnitur premium asal Singapura yang memiliki pangsa pasar terbesar-nya di Indonesia, merespons kondisi ini melalui strategi penetapan harga yang sulit untuk mengamankan keseimbangan penjualan dengan mengukur kesediaan membayar konsumen bersamaan dengan memastikan citra merek mereka tidak terdegrarasi pada saat yang bersamaan. Penelitian mengkaji dampak strategi penetapan harga pada citra merek dan kesediaan membayar. Penulis menggunakan sofa sebagai kontributor utama bisnis dengan lima tipe sofa teratas Marvin, Evita, Leo, Korus, dan Dallas. Studi ini membahas (1) Apa strategi penetapan harga yang efektif berdasarkan PED analysis? (2) Apakah strategi penetapan harga berdampak pada kesediaan pelanggan untuk membayar? (3) Bagaimana strategi penetapan harga Caledon memengaruhi citra merek premiumnya?. Analisa triangulasi melalui metode Price Elasticity Demand (PED) dari data transaksi Desember 2023 hingga Juli 2025, PLS-SEM dengan data survey 140 responden, dan analisa deskriptif demografi serta perilaku pelanggan mendukung pengembangan solusi terbaik untuk kasus bisnis. Hasil integrasi menunjukan strategi penetapan harga efektif pada level produk berdasarkan PED. Namun, hubungan strategi penetapan harga dan kesediaan membayar lemah, p-value 0,065 dan T-statistik 1,847, lebih tinggi dari nilai T-tabel 1,657. Demikian pula, hubungan citra merek terhadap kesediaan membayar ditolak p-value 0,114 dan T-statistik 1,581. Hanya strategi penetapan harga yang memiliki pengaruh positif terhadap citra merek, Path Coefficient=0,839,T-statistik= 35,610, dan p-value <0,001. Menandakan bahwa strategi penetapan harga hanya memberikan sinyal yang kuat untuk membangun persepsi citra merek, tanpa secara langsung mempengaruhi kesediaan membayar.
MENGEMBANGKAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MEMILIH LOKASI RITEL DALAM EKSPANSI BERBAGAI MEREK: STUDI KASUS DARI PERUSAHAAN RITEL TERKEMUKA DI INDONESIA
Industri ritel di Indonesia telah berubah dari waktu ke waktu tapi pemilihan lokasi ritel tetap menjadi salah satu elemen penting untuk menentukan kesuksesan dalam bisnis ritel. Dalam studi kasus ini, Arkana Group sebagai operator dari berbagai brand internasional dimana menjangkau berbagai macam kebutuhan konsumen di Indonesia, dimana salah satu tantangannya adalah dalam memilih lokasi ritel yang optimal dan sejalan dengan strategi tujuan dari suatu brand. Biaya premis, lokasi, perilaku konsumen dan pemangku kepentingan adalah pertimbangan penting lainnya dalam proses pengambilan keputusan dalam menentukan lokasi ritel. Salah satu tantangannya adalah kurangnya standar dan data pendukung sebagai pendekatan dalam menentukan lokasi ritel. Saat ini keputusan-keputusan sering terpengaruh berdasarkan pengalaman manajemen dan histori data perusahaan, dimana menjadi formalitas daripada tolak ukur perusahaan. Alhasil, bias subjektif dan penilaian yang tidak konsisten di berbagai divisi menjadi penilaian yang salah dalam pemilihan lokasi, kinerja toko-toko yang buruk, dan kerugian profit. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur dan objektif dalam pemilihan lokasi ritel pada konteks ekspansi multi-merek. Pendekatan metode campuran digunakan. Pertama, wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan utama termasuk Brand Manager, Business Development, dan Project Manager dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam proses yang ada serta kriteria utama. Temuan kualitatif kemudian disintesis dan disusun ke dalam model pengambilan keputusan multi-kriteria dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah kerangka pengambilan keputusan yang praktis untuk meningkatkan konsistensi, mengurangi bias subjektif, dan menyelaraskan antar pemangku kepentingan dalam pemilihan lokasi ritel. Di kemudian hari, kerangka yang baru tidak hanya untuk praktik para manajemen tapi bisa bahan diskusi akademik dalam pengambilan keputusan di pasar ritel yang sedang berkembang.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN FRONTLINER PIHAK KETIGA UNTUK PENCAPAIAN KINERJA DI INDUSTRI FMCG PT GOOD FOOD JAKARTA RAYA
Dalam bisnis FMCG, khususnya di General Trade, frontliner merchandiser memegang peran penting setelah salesman mendistribusikan produk ke outlet. Tugas dan fungsinya mencakup memastikan produk terlihat jelas dan ditampilkan dengan baik di toko, dengan konsep “available” (produk tersedia di toko), “visible” (produk terlihat di display), dan “accessible” (mudah jangkauan oleh konsumen). Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengelola operasional, PT Good Food telah melakukan investasi besar dalam visibilitas program untuk meningkatkan penjualan offtake dan penggunaan tracking tools. Namun pencapaian KPI terkait ketepatan waktu implementasi dan kepatuhan masih belum mencapai target, terutama di wilayah Jabodetabek. Setelah mengamati kondisi di lapangan dan berdiskusi dengan tim lapangan, para supervisor, dan lembaga mitra, semakin terlihat bahwa masalah utamanya terletak pada sisi kapabilitas. Cukup banyak frontliner yang mulai bekerja berorientasi tanpa awal yang memadai, dan sebagian dari mereka belum benar-benar memahami aturan dasar visibilitas, kepatuhan standar, atau bahkan cara mengoperasikan aplikasi tracking. Studi ini menggunakan wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan analisis fishbone untuk mengidentifikasi akar masalah. Dari proses tersebut, muncul empat faktor utama: ketidaksesuaian pelatihan, ketidaksesuaian KPI, masalah koordinasi, serta tantangan eksternal seperti aktivitas kompetitor atau keterbatasan toko. Dari semua faktor tersebut, yang paling sering muncul, mendesak,& paling realistis untuk diselesaikan adalah ketiadaan program yang berorientasi pada standar bagi merchandiser baru. Berdasarkan hal ini, disusunlah desain orientasi yang lebih terstruktur, mencakup proses onboarding, kesiapan merchandiser, hingga sistem dukungan supervisor& frontliner buddy di outlet. Materi pelatihan wajib meliputi WHO Code dan Safety Riding, penjelasan jobdesk, pembekalan KPI, pelatihan POSM serta penggunaan tracking tools, pemahaman operasional distributor, dan evaluasi setelah pelatihan. Model onboarding yang diusulkan ini diharapkan dapat mengurangi perbedaan kemampuan antar-frontliner, meningkatkan compliance, dan membantu pencapaian KPI visibility tepat waktu. Intinya sederhana: ketika frontliner tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan mengapa hal itu penting, eksekusi di lapangan jadi lebih konsisten dan kinerja bisnis pun bisa meningkat.
ANALISIS KESENJANGAN KUALITAS FASILITAS PENDUKUNG BLEISURE TOURISM DAN TINGKAT KEPUASAN BLEISURE DI KOTA BANDUNG
Pengembangan pariwisata perkotaan yang mengakomodasi bleisure tourism yang merupakan perjalanan bisnis yang dikombinasikan dengan aktivitas leisure/wisata, aktivitas tersebut membutuhkan dukungan fasilitas pendukung yang memadai agar wisatawan merasa nyaman serta terdorong untuk memperpanjang masa tinggal dan melakukan aktivitas wisata di destinasi. Kota Bandung sebagai kota bisnis sekaligus destinasi wisata memerlukan pemetaan kualitas fasilitas pendukung bleisure dari sudut pandang wisatawan sebagai pengguna langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan (gap) kualitas fasilitas pendukung bleisure tourism serta tingkat kepuasan wisatawan bleisure di Kota Bandung. Dimensi kualitas fasilitas yang dianalisis mencakup aspek bukti fisik (tangibles) yang relevan dengan konteks bleisure yang terdiri dari 5 dimensi yaitu accomodation, business facilities, leisure facilities, family-friendly facilities, dan accesibilities.Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode deskriptif-evaluatif dengan jumlah sampel 160 responden wisatawan bleisure. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Skala pengukuran menggunakan skala Likert. Metode analisis data menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI), analisis gap (importance–performance), dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasil analisis menunjukkan nilai CSI sebesar 79,70% yang mengindikasikan bahwa secara keseluruhan wisatawan bleisure merasa puas terhadap fasilitas pendukung bleisure tourism di Kota Bandung. Namun, hasil analisis gap menunjukkan bahwa performance < importance dengan nilai 3,18 < 3,39 dan rata-rata gap sebesar -0,21, yang berarti kualitas fasilitas pendukung yang dirasakan belum sepenuhnya memenuhi harapan wisatawan bleisure. Hasil analisis IPA menunjukkan atribut yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki meliputi transportasi umum di dalam Kota Bandung, tourists Information Center (TIC) dan signage atau petunjuk arah. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi pengelola destinasi dan pemerintah Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendukung bleisure tourism untuk memperkuat daya saing pariwisata Kota Bandung.
USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK MENINGKATKAN KINERJA BISNIS PROGRAM YOGA TEACHER TRAINING DI ELING ACADEMY
Eling Academy, unit bisnis Eling Group adalah pusat pelatihan yoga & wellness di Bali. Kinerja program Yoga Teacher Training (YTT) Eling Academy masih rendah, terbukti dari frekuensi penyelenggaraan programnya yang jauh lebih rendah dibandingkan penyelenggara lain. Meskipun Bali telah menjadi destinasi unggulan program YTT global, sebagian besar penyelenggara YTT di Bali dijalankan oleh orang asing dan illegal menurut hukum Indonesia. Sayangnya, praktik-praktik ini masih berjalnjut hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eskternal yang memengaruhi kinerja Eling Academy dan merumuskan strategi bisnis. Metodologi penelitian yang digunakan ialah studi kasus kualitatif dengan beberapa analisis. Wawancara mendalam dilakukan, dilengkapi dengan data sekunder. Analisis tematik digunakan serta triangulasi untuk menguatkan tema-tema dari wawancara dengan bukti eksternal untuk kredibilitas analitis. Alat analisis digunakan seperti VRIO, Pengalaman Pelanggan, PESTEL, Porter’s Five Forces, dan 4-Component Competitor Analysis untuk mengevaluasi kondisi internal dan eskternal Eling Academy yang kemudian diprioritaskan untuk merumuskan strategi melalui pembobotan matriks IFE dan EFE. Analisis SWOT mengkonsolidasikan hasil analisis tersebut, dan solusi yang diusulkan memprioritaskan empat strategi melalui analisis TOWS: (1) Memulai diferensiasi berbasis garis keturunan dan metode otentik Bali Hatha Yoga melalui peningkatan posisi pasar, (2) Meningkatkan kesiapan operasional untuk meningkatkan frekuensi dan konsistensi program, (3) Memperkuat visibilitas internasional melalui kehadiran digital dan kolaborasi sistematis, dan (4) Mengembangkan ekosistem peserta dan alumni yang komprehensif untuk mendorong keterlibatan berkelanjutan. Strategi-strategi ini diintegrasikan ke dalam rencana implementasi multi-tahun, yang membawa Eling Academy dari aktivasi hingga konsolidasi dan akhirnya menuju premiumisasi serta pertumbuhan berkelanjutan.
PENGEMBANGAN PRODUK PERAWATAN RAMBUT INOVATIF UNTUK AREGA BEAUTY
Penelitian ini dilakukan untuk memahami penyebab stagnasi produk Arega Beauty dan mengembangkan arah inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia. Produk awal Arega yang berfokus pada perbaikan rambut rusak akibat pewarnaan ternyata tidak menjawab masalah utama pasar yaitu kerontokan rambut dan ketidakseimbangan kulit kepala. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi pasar, analisis penjualan, serta penerapan Root Cause Analysis dan kerangka New Product Development. Analisis tematik menunjukkan bahwa konsumen sangat mengutamakan efektivitas yang dapat terlihat, keamanan bahan, dan hasil yang konsisten dalam iklim tropis. Stagnasi terjadi karena formulasi awal kurang memiliki bahan aktif yang didukung riset dan proses pengujian yang terbatas. Penelitian ini kemudian mengusulkan pengembangan Arega Fortifying Hair Tonic dengan keratin, rosemary oil, dan aloe vera sebagai solusi alami yang tetap memiliki dasar ilmiah untuk masalah kerontokan rambut. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pengembangan produk yang berbasis data dan validasi konsumen sangat penting untuk meningkatkan relevansi pasar dan membangun kembali kepercayaan terhadap Arega.
PERANCANGAN BOARD GAME DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA DESIGN - DYNAMICS - EXPERIENCE (DDE) UNTUK MELATIH KONTROL INHIBISI PADA SISWA KELAS I SD
Penelitian ini bertujuan untuk merancang board game menggunakan kerangka Design–Dynamics–Experience (DDE) untuk melatih kontrol inhibisi pada siswa kelas I Sekolah Dasar (SD). Kontrol inhibisi merupakan bagian dari fungsi eksekutif pada otak yang berperan dalam inhibisi respons dan kontrol interferensi, serta menjadi prediktor masa depan individu. Proses perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond yang diawali dengan studi literatur, wawancara 2 tenaga kependidikan, dan observasi suasana belajar kelas I SD, yang menunjukkan bahwa kemampuan kontrol inhibisi siswa belum berkembang secara optimal. Perancangan board game menggunakan DDE dimulai dari perancangan experience yang berfokus pada latihan mempertahankan fokus dan pengendalian impuls, yang kemudian diterjemahkan ke dalam dynamics dan diwujudkan melalui design. Evaluasi dilakukan melalui playtesting secara bertahap kepada satu founder komunitas board game, satu pengembang game, dan tiga wali kelas I SD, dan observasi terhadap 18 siswa kelas I SD menggunakan instrumen observasi berlandaskan komponen DDE. Hasil menunjukkan bahwa board game yang dirancang mampu melatih kontrol inhibisi siswa kelas I SD yang mencakup inhibisi respons dan kontrol interferensi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan potensi kerangka DDE tidak hanya sebagai kerangka konseptual dalam merancang permainan, tetapi juga sebagai kerangka evaluatif dalam menilai kesesuaian antara desain permainan dan tujuan perancangan.