📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenMEMPRIORITASKAN PEMILIHAN SUPPLIER UNTUK MENGURANGI EMISI SCOPE 3 MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Penelitian ini membahas masalah dalam pemilihan supplier untuk kolaborasi guna mengurangi emisi Scope 3 di PT Siemens Indonesia. Hal ini didorong oleh kebutuhan perusahaan untuk mencapai emisi net-zero pada tahun 2050, sejalan dengan target global. Mengurangi emisi Scope 3 penting karena mencakup sebagian besar total emisi. Namun, perusahaan menghadapi kesulitan dalam mengurangi emisi karena banyaknya supplier. Perusahaan tidak dapat berkolaborasi dengan semua supplier karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Oleh karena itu, perusahaan harus fokus berkolaborasi dengan supplier terpilih untuk mencapai hasil yang optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprioritaskan supplier untuk kolaborasi guna mengurangi emisi Scope 3. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, termasuk identifikasi masalah, pertanyaan dan tujuan penelitian, tinjauan pustaka, focus group discussions, melakukan metode AHP, dan memberikan solusi bisnis serta mengusulkan rencana implementasi. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif melalui tinjauan pustaka dan FGD, dan metode kuantitatif melalui kuesioner perbandingan berpasangan untuk AHP. Jurnal-jurnal sebelumnya telah menggunakan berbagai kriteria untuk pemilihan supplier. Kriteria-kriteria ini kemudian disaring dan disesuaikan dengan topik penelitian, menghasilkan 6 kriteria yang akan diusulkan dan dibahas dalam FGD. FGD dilakukan dengan melibatkan para ahli untuk mendapatkan kriteria akhir yang akan digunakan dalam metode AHP. AHP digunakan sebagai metode analisis data untuk memprioritaskan kriteria dan memprioritaskan pemasok berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria akhir adalah citra hijau, sistem manajemen lingkungan, komitmen lingkungan, dan emisi karbon. Pada alternatif, Indowire adalah pemasok prioritas tertinggi, dengan bobot 56,96%. Indowire memiliki skor tertinggi dan menunjukkan kinerja yang kuat di semua kriteria. Diikuti oleh Globalindo, Puma, Mun Hean, dan Pentamitra. Hasil ini memberikan solusi bagi PT Siemens Indonesia, memungkinkan kolaborasi dengan pemasok yang memiliki potensi tertinggi untuk pengurangan emisi, dengan mempertimbangkan beberapa kriteria.
PENGEMBANGAN TES DIAGNOSTIK MOLEKULER BERBASIS QPCR MENGGUNAKAN GEN \TEXTIT{EXOS} SEBAGAI BIOMARKER UNTUK DETEKSI DINI RISIKO STUNTING PADA SAMPEL AIR SUSU IBU
Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis pada anak yang erat kaitannya dengan ketidakseimbangan mikrobioma usus atau disbiosis. Disbiosis ditandai dengan pertumbuhan berlebih bakteri patogen yang membawa faktor virulensi sehingga mengganggu keseimbangan komunitas mikroba. Diagnosis stunting saat ini masih terbatas pada pengukuran antropometri konvensional yang hanya mampu mendeteksi stunting setelah termanifestasi dan mengganggu pertumbuhan anak.Keterlambatan diagnosis ini berdampak kurang baik karena yang paling efektif untuk mencegah kerusakan pertumbuhan yang bersifat permanen hanya dapat dilakukan dalam periode kritis 1000 HPK. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan diagnostik molekuler yang bersifat preventif untuk mengidentifikasi risiko stunting sejak dini sebelum gejala fisik muncul. Pada penelitian sebelumnya telah diidentifikasi gen exoS pada isolat bakteri dari ASI ibu dengan anak dengan prevalensi stunting yang mengindikasikan kemungkinan adanya korelasi antara gen tersebut dan penyakit stunting. Dalam penelitian ini dikembangkan metode diagnostik molekuler berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) untuk deteksi awal stunting. Metode ini mendeteksi potensi risiko stunting dengan menguantifikasi gen exoS pada sampel ASI. Sebagai pembanding, digunakan gen 16S rRNA sebagai gen penanda populasi bakteri total untuk normalisasi data hasil kuantifikasi seluruh sampel. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menentukan persamaan, linearitas, dan efisiensi kurva standar qPCR untuk gen 16S dan gen exoS sebagai rancangan tes diagnostik molekuler berbasis qPCR; (2) Menghitung dan menentukan perbedaan jumlah gen 16S dan gen exoS pada kedua kelompok sampel, serta rasio exoS/16S sebagai indikator proporsi gen virulensi terhadap total bakteri; (3) Menentukan sensitivitas dan spesifisitas sebagai parameter kelayakan rancangan tes diagnostik dalam melakukan deteksi dini risiko stunting. Tahapan penelitian meliputi: pembuatan kurva standar qPCR untuk gen exoS dan gen 16S; kuantifikasi kedua gen pada 15 sampel ASI dari ibu dengan anak dengan prevalensi stunting dan 15 sampel ASI dari ibu dengan anak normal; analisis log-rasio exoS/16s untuk menilai proporsi gen virulensi terhadap total bakteri; dan validasi rancangan tes diagnostik dengan analisis statistik uji signifikansi dan kurva receiver operating characteristics (ROC). Persamaan kurva standar untuk gen 16S adalah y = –3.3067x + 35.389 (R² = 99.4%; efisiensi = 100.64%) dan untuk gen exoS adalah y = –3.4328x + 37.256 (R² = 98.00%; efisiensi = 95.57%). Hasil kuantifikasi menunjukkan bahwa jumlah gen 16S pada ASI Stunting (rata-rata ± SD = log 5.46 ± 0.60 copies DNA/mL) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan ASI Normal (rata-rata ± SD = log 4.61 ± 0.19 copies DNA/mL) (p ? 0.0001). Demikian pula hasil kuantifikasi gen exoS pada ASI Stunting (rata-rata ± SD = log 4.15 ± 0.72 copies DNA/mL) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan ASI Normal (rata-rata ± SD = log 2.75 ± 0.31 copies DNA/mL) (p ? 0.0001). Selain itu, log-rasio gen exoS/16s pada kelompok Stunting (rata-rata ± SD = -1.32 ± 0.19) yang juga secara signifikan (p ? 0.0001) lebih tinggi dibandingkan kelompok Normal (rata-rata ± SD = -1.87 ± 0.37) yang mengindikasikan dominasi patogen yang lebih tinggi pada ASI dari kelompok Stunting dibandingkan kelompok Normal. Hasil ini menunjukkan bahwa masing-masing metode mampu membedakan sampel Stunting dari sampel Normal. Dari analisis kurva Receiver Operating Characteristics (ROC) didapatkan area under curve (AUC) sebesar 0.92 (CI 95%: 0.826—1.000) dengan sensitivitas 100% dan spesifisitas 80% pada nilai cut-off >-1.659. Hasil ini mengindikasikan bahwa analisis mikrobioma ASI melalui kuantifikasi log-rasio gen exoS/16S merupakan metode yang layak untuk digunakan dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai rancangan tes deteksi dini risiko stunting. Disarankan pada penelitian lanjutan digunakan sampel yang lebih banyak dan variatif, pengujian hubungan kausalitas keberadaan gen exoS dengan patogenesis stunting, serta dilakukan penentuan limit of detection (LOD) dan limit of quantification (LOQ) untuk validasi teknis tambahan pada metode qPCR untuk memperkuat potensi penerapan metode ini secara klinis di lapangan.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERILAKU PEMILAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENGGUNAKAN STRUCTURAL EQUATION MODELLING (SEM) BERBASIS THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (TPB) YANG DIPERLUAS: STUDI KASUS KOTA AMBON, MALUKU
Proses pemilahan sampah rumah tangga yang efektif sangat bergantung pada partisipasi aktif dari masyarakat. Namun di Kota Ambon, tingkat partisipasi masyarakat tergolong rendah. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat perilaku pemilahan sampah serta konteks yang melatarbelakanginya menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan perilaku pemilahan sampah rumah tangga masyarakat Kota Ambon dengan menggunakan model Theory of Planned Behavior (TPB) yang diperluas dan menguji kesesuaian model, validitas, dan reliabilitasnya. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) (termasuk Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan Path Analysis) serta didukung oleh analisis statistik deskriptif. Data diperoleh melalui survei terhadap 300 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku pemilahan sampah dipengaruhi oleh sikap (CR = 3,874 dan p = 0,000), norma subjektif (CR = 2,029 dan p = 0,042), dan intervensi informasi (CR = 1,980 dan p = 0,048), Selain itu persepsi kontrol perilaku (CR = 0,894 dan p = 0,371), dukungan fasilitas (CR = -1,524 dan p = 0,127), dan regulasi dan kebijakan (CR = 0,236 dan p= 0,813), menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Model ini menunjukkan Goodness of Fit yang baik dengan nilai RMSEA = 0,058, CFI = 0,949, TLI = 0,943, dan Chi-square/df = 2,003. Temuan ini menghasilkan model perilaku berbasis TPB yang telah teruji dengan pendekatan SEM yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah. Studi ini juga berkontribusi pada literatur perilaku pro-lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan dengan secara empiris memvalidasi model TPB yang diperluas dalam konteks perkotaan di Indonesia.
ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL DAN TEMPORAL GROUND WATER STORAGE DI PULAU SULAWESI
Penyimpanan air tanah memainkan peran krusial sebagai sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan berbagai keperluan seperti domestik, pertanian, dan industri. Air tanah di Pulau Sulawesi merupakan komponen vital dalam ketahanan sumber daya air di wilayah kepulauan tropis. Pulau Sulawesi Sendiri mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan di semua sektor, yang menyebabkan peningkatan permintaan air di pulau tersebut. Ancaman volatilitas iklim ekstrem menjadi kekhawatiran yang semakin nyata dimana keterbatasan jaringan pemantauan in-situ di wilayah dengan kompleksitas geologi seperti Sulawesi menghambat deteksi dini terhadap respons akuifer terhadap perubahan iklim tersebut, sehingga variabilitas dan juga sebaran geografis dari kondisi simpanan air tanah di Pulau Sulawesi belum tercerminkan dengan jelas. Studi ini bertujuan untuk mengamati dinamika spasial dan temporal penyimpanan air tanah di Pulau Sulawesi menggunakan data dari satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) dan GRACE-Follow On (GRACE-FO) unutk melihat bagaimana variabilitas spasial dan temporal yang terjadi di Pulau utama Sulawesi. Nilai perubahan penyimpanan air tanah GWS yang mencerminkan total penyimpanan air diisolasi dengan mengurangkan komponen kelembaban tanah (SMS) dan penyimpanan air kanopi (CWS) yang diperoleh dari model Global Land Data Assimilation System (GLDAS) terhadap total penyimpanan air terestrial (TWS) hasil observasi GRACE. Analisis statistik lebih lanjut menggunakan Uji Mann-Kendall dan Korelasi Spearman dilakukan untuk mengevaluasi tren, signifikansi, dan hubungan ketergantungan antara dinamika air tanah dengan variabel presipitasi serta indeks iklim global. Analisis PC dan juga EOF diterapkan guna melihat bagaimana pola dominan terjadi pada simpanan air tanah di Pulau Sulawesi. Hasil analisis deret waktu menunjukkan bahwa penyimpanan air tanah di Sulawesi mengalami fluktuasi yang signifikan akibat transisi fase hujan dan fase iklim. Secara keseluruhan peningkatan air tanah di Sulawesi mengalami peningkatan sebesar 0.2164 mm/tahun pada sebaran seluruh pulau dengan rataan sejak 2002 hingga 2024. Fenomena surplus ini berjalan selaras dengan intensitas curah hujan tahunan yang juga mencatatkan laju peningkatan sebesar 3.34 mm/tahun di Pulau Sulawesi secara menyeluruh selama 22 tahun juga. Secara spasial, teridentifikasi perbedaan respon antara wilayah selatan (Region A/Monsunal) yang memiliki fluktuasi musiman, dengan wilayah utara (Region C/Anti-Monsunal) yang relatif lebih stabil, mencerminkan dinamika ketersediaan air secara geografis di Pulau Sulawesi sangat dipengaruhi oleh pola hujan tersebut. Analisis hubungan hidroklimatologi mengungkapkan korelasi positif yang kuat antara curah hujan dan simpanan air tanah, dengan jeda waktu respons akuifer. Studi ini membuktikan adanya hubungan korelasi atmosfer yang kuat, di mana fase La Niña dan IOD Negatif seperti pada 2011, 2012, 2017, 2022-2023 menjadi pemicu utama lonjakan cadangan air tanah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran besar mengenai ketahanan air di masa depan. Meskipun saat ini terjadi tren surplus, dominasi kontrol iklim menyiratkan bahwa ketersediaan air tanah di Sulawesi sangat rentan terhadap pengaruh siklus iklim. Dalam skenario perubahan iklim global yang memprediksi peningkatan frekuensi dan intensitas El Niño di masa depan, sehingga kondisi dari fenomena iklim kedepannya perlu diperhatikan korelasinya dengan simpanan air tanah. Distribusi nilai loadings dari EOF ini secara tegas menunjukkan polarisasi dua wilayah yang selaras dengan pembagian pola hujan antara region monsunal dan antimonsunal yang mengonfirmasi bahwa variabilitas air tanah sangat dipengaruhi kondisi hujan setempat. Mode EOF utama dan PC-1 lebih lanjut mengungkapkan pola spasial yang sejalan dengan wilayah variabilitas air tanah di Pulau Suawesi, menunjukkan jejak yang kuat dari regim curah hujan dominan dan mode iklim IOD pada penyimpanan air tanah, dimana sebarannya sangat dipengaruhi dan sejalan dengan pola region curah hujan bagian utara dan selatan. Loadings dari EOF mennjukan dua pola dua region yang selaras dengan pembagian pola hujan di Pulau Sulawesi. Fluktuasi dari PC-1 membrikan informasi yang juga sejalan dengan waktu pada periode pembagian pola hujan di wilatyah utara maupun wilayah selatan.
MENAVIGASI KETERGANTUNGAN PLATFORM: PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS DI BALIK PERGESERAN MODEL BISNIS D2C PT LOCAL
Fokus penilitian adalah tentang bagaimana perusahaan mulai berani beralih dari ketergantungan pada marketplace dan mulai menapaki jalannya sendiri lewat model Direct-to-Consumer (D2C). Pendekatannya bukan soal angka semata. Ini tentang cerita di balik layar tentang keputusan yang rumit, rasa lelah tim di lapangan, sampai harapan yang tumbuh pelan-pelan di tengah perubahan. Data yang dipakai datang dari wawancara dengan tim internal, survei pelanggan, dan laporan keuangan perusahaan. Beberapa alat bantu strategi dipakai supaya arah analisis tetap jelas. Ada SWOT dan TOWS untuk melihat kekuatan dan tantangan, Porter’s Five Forces buat menakar kerasnya persaingan, serta Resource-Based View (RBV) untuk menilai apakah PT Local punya modal yang cukup kuat untuk benar-benar berdiri sendiri. Hasilnya lumayan menampar. Dalam dua tahun terakhir, biaya dari marketplace melonjak dari 16% jadi 25% dari total penjualan online. Sementara omsetnya nyaris tidak berubah. Tanda yang jelas kalau sesuatu harus diubah. Buat mereka, yang penting itu kemudahan, bukan nama platform. Dari semua temuan itu, muncul lima langkah nyata. Pertama, biarkan tetap jadi pintu untuk menarik pembeli baru, tapi arahkan pelanggan lama ke kanal D2C supaya brand bisa mengatur margin dan punya data sendiri. Kedua, buat pengalaman D2C yang menarik, tampilan website bersih, pembayaran cepat, pengiriman tepat waktu, dan layanan pelanggan yang responsif. Ketiga, manfaatkan data pelanggan yang sudah ada untuk bikin sistem loyalitas brand, supaya pembeli merasa jadi bagian dari keluarga besar PT Local. Keempat, bereskan urusan belakang layar satukan sistem keuangan dan teknologi biar rekonsiliasi tidak lagi rumit. Dan terakhir, bentuk tim lintas divisi yang rutin cek perkembangan dan langsung tangani masalah sebelum membesar. Intinya bukan melarikan diri dari marketplace, tapi berhenti jadi tawanan mereka. PT Local sebenarnya sudah punya fondasi kuat, tim teknologi yang solid, deretan brand bagus, dan orang-orang yang peduli. Sekarang tinggal dijalani perlahan tapi pasti beralih dari traffic pinjaman ke hubungan pelanggan yang benar-benar milik sendiri, dari margin tipis ke keuntungan yang lebih tenang. Karena pada akhirnya, perjalanan menuju D2C ini bukan sekadar strategi baru, tapi cara perusahaan merebut kembali kendali atas ceritanya sendiri.
MENGEVALUASI DAMPAK BISNIS MELALUI LIVESTREAMING DENGAN KECERDASAN BUATAN SEBAGAI INOVASI STRATEGIS DALAM INDUSTRI FMCG: EFISIENSI BIAYA DAN KELAYAKAN DI INDONESIA
Kecerdasan Buatan (AI) terus berkembang dari hari ke hari menjadi sesuatu yang besar dalam industri. Pada awalnya, AI hanyalah sebuah konsep teoretis dan dianggap sebagai sebuah ide, tetapi kini teknologinya sendiri tidak hanya berkembang tetapi juga membentuk kembali industri dan memengaruhi perilaku bisnis. Sebelumnya, AI berperan sebagai pendukung di mana ia bekerja di backend, teknologi ini membantu otomatisasi untuk tugas harian & berulang yang biasanya berfokus pada analisis dan prediksi, tetapi sekarang AI telah berevolusi menjadi berhadapan langsung dengan pelanggan, di mana orang/pengguna dapat dengan mudah memasukkan perintah mereka dan AI dapat meresponsnya dengan tepat. Seiring orang-orang mengintegrasikan AI ke dalam semua aspek bisnis, perkembangan terkini adalah siaran langsung bertenaga AI, yang dianggap sebagai pelopor transformasi dan inovasi strategis di bidang pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk berfokus pada analisis penggunaan AI dalam siaran langsung, khususnya untuk berfokus pada peran AI sebagai host dalam siaran langsung. Sudut pandang penelitian ini akan mengambil perspektif efisiensi biaya melalui analisis biaya-manfaat atau analisis perbandingan biaya untuk melihat biaya antara penggunaan AI sebagai host siaran langsung dan manusia sebagai host siaran langsung. Lebih lanjut, penelitian ini akan mempersempit kelayakan penggunaan host siaran langsung AI untuk melihat apakah pengguna ingin mengadopsi teknologi baru ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk berkontribusi pada wawasan strategis bagi bisnis, untuk mengadopsi penggunaan AI dalam siaran langsung, dan untuk menempatkan inovasi strategis ini ke dalam corong pemasaran mereka dengan menganalisis aspek finansial dan kelayakan khususnya pada tahap adopsi awal. Lebih lanjut, tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan dan mengemukakan bahwa teknologi AI, khususnya dalam siaran langsung, bukanlah tren pemasaran atau bisnis yang harus diikuti, melainkan lebih merupakan inovasi strategis yang perlu dipertimbangkan.
PENDEKATAN STRATEGIS UNTUK MEMPERKUAT KEUNGGULAN KOMPETITIF SATU DENTAL DI INDUSTRI KLINIK GIGI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana SATU Dental dapat memperkuat keunggulan kompetitifnya dalam industri klinik gigi swasta di Indonesia yang semakin kompetitif. Meskipun SATU Dental menerapkan model operasional yang terstandarisasi di seluruh jaringan kliniknya, kinerja antarwilayah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa keunggulan kompetitif perusahaan belum terealisasi secara merata pada tingkat klinik. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada identifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja klinik, serta perumusan strategi yang mampu menyelaraskan standar korporasi dengan kebutuhan pasar lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data pendapatan, volume pasien, dan pertumbuhan klinik di sembilan wilayah operasional. Analisis kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan manajemen dan tenaga medis. Seluruh temuan dianalisis menggunakan kerangka manajemen strategis, yaitu Marketing Mix (7Ps), VRIO, PESTEL, Porter’s Five Forces, serta SWOT–TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan demografi, tingkat persaingan, preferensi pasien, dan aksesibilitas lokasi menjadi faktor utama yang memengaruhi variasi kinerja antarwilayah. Wilayah dengan pertumbuhan tinggi seperti Bogor dan Jakarta Timur didukung oleh demografi kelas menengah dan persaingan yang moderat, sedangkan wilayah pasar matang seperti Jakarta Utara dan Jakarta Pusat mengalami pertumbuhan lebih lambat akibat kejenuhan pasar. Berdasarkan sintesis analisis, penelitian ini merekomendasikan tiga arah strategi utama, yaitu diferensiasi layanan melalui keunggulan klinis dan integrasi digital, pengembangan sumber daya manusia, serta standarisasi operasional dengan eksekusi strategi berbasis wilayah. Temuan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara standarisasi dan lokalisasi untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
PENGEMBANGAN ELEKTROLIT PADAT POLIMER PVA/LICH3COO TERMODIFIKASI NANOKRISTALIN SELULOSA DAN IONIC LIQUID EMIMBR UNTUK BATERAI ION LITIUM
Perkembangan teknologi baterai modern seperti Lithium-Ion Battery (LIB), telah mendesak kebutuhan untuk sumber energi yang lebih efisien, ringan, dan ramah lingkungan. Akan tetapi penggunaan elektrolit cair yang memfasilitasi konduktivitas ionik antara elektroda meskipun sangat efektif dalam kinerja baterai, tetapi memiliki resiko keselamatan yang signifikan termasuk kebocoran, mudah terbakar, dan ketidakstabilan termal. Selain itu, separator konvensional berbasis poliolefin, seperti polipropilen (PP) dan polietilen (PE) memiliki keterbatasan signifikan dalam hal stabilitas termal dan kemampuan menahan pertumbuhan dendrit litium, serta dampak lingkungan karena sulit terdegradasi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut dan seiring berkembangnya konsep baterai organik dan solid- state, pengembangan solid polymer electrolyte (SPE) berbasis polimer biodegradable menjadi solusi yang menjanjikan untuk meningkatkan keselamatan serta ramah lingkungan. SPE berfungsi sebagai elektrolit sekaligus separator elektronik antara anoda dan katoda. Penelitian ini mengembangkan membran SPE berbasis polivinil alkohol (PVA), yang dikenal memiliki sifat mekanik baik, dapat membentuk film yang stabil, biaya rendah, dan sifat biodegradable. Untuk meningkatkan konduktivitas ionik PVA, ditambahkan litium asetat (LiCH3COO) sebagai sumber ion Li?. Namun penambahan garam litium sering menurunkan kekuatan mekanik membran. Oleh karena itu, nanokristalin selulosa (CNC) digunakan sebagai agen penguat, sedangkan cairan ion 1-etil-3-metilimidazolium bromida (EMImBr) digunakan sebagai pemlastis dan konduktor ionik untuk meningkatkan fase amorf membran dan mobilitas ion. Kombinasi ketiga bahan ini diharapkan dapat menghasilkan membran SPE dengan konduktivitas ionik tinggi, kekuatan mekanik optimal, dan sifat ramah lingkungan yang sesuai untuk aplikasi baterai generasi baru. Metode sintesis yang digunakan melibatkan isolasi selulosa dari bonggol jagung dan hidrolisis untuk memperoleh nanokristalin selulosa, yang kemudian dikarakterisasi menggunakan FTIR, analisis ukuran partikel, dan analisis morfologi menggunakan SEM dan TEM. Cairan ion EMImBr disintesis menggunakan Microwave-Assisted Organic Synthesis (MAOS) dan dikarakterisasi dengan ¹H- NMR dan ¹³C-NMR. Membran SPE [PVA/LiCH3COO/CNC/EMImBr] difabrikasi dengan teknik solution casting dan diuji menggunakan XRD, FTIR, SEM, TGA, UTM, dan EIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% LiCH3COO ke dalam matriks PVA menghasilkan konduktivitas ionik diperoleh sebesar 1,43×10?? S/cm dengan kekuatan mekanik yang tinggi (tegangan 36,12 MPa, regangan 530,46%). Penambahan EMImBr pada membran [PVA/10% LiCH3COO] meningkatkan konduktivitas ionik, dengan nilai optimum pada 40% EMImBr yaitu mencapai 2,21×10?? S/cm, meskipun diikuti oleh penurunan kekuatan mekanik. Sebaliknya, penambahan 5% CNC pada membran [PVA/10% LiCH3COO] meningkatkan kekuatan mekanik (tegangan 40,3 MPa, regangan 524,97%), meskipun mengakibatkan penurunan konduktivitas ionik. Berdasarkan variasi komposisi yang diuji (penggabungan penambahan CNC dan EMImBr ke dalam PVA/10% LiCH3COO), kombinasi 5% CNC-30% EMImBr menunjukkan hasil paling optimum, menghasilkan konduktivitas ionik tertinggi (5,26×10?? S/cm) dengan sifat mekanik yang baik (tegangan 21,82 MPa, regangan 884,64%). Kebaharuan dari penelitian ini adalah penggabungan nanokristalin selulosa dan cairan ion EMImBr untuk mencapai keseimbangan optimal antara konduktivitas ionik dan kekuatan mekanik pada membran SPE berbasis polimer biodegradable, yang belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini juga memanfaatkan limbah pertanian sebagai sumber nanokristalin selulosa dan menunjukkan hasil yang ramah lingkungan serta biaya rendah. Membran SPE [PVA/LiCH3COO/CNC/EMImBr] yang dikembangkan berpotensi menjadi SPE solid-state yang aman dan efisien untuk baterai ion litium generasi berikutnya, mendukung pengembangan teknologi baterai organik, serta memberikan kontribusi pada solusi penyimpanan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.
FORMULASI MEDIA PRODUKSI PROBIOTIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI AGEN INTERVENSI ANAK STUNTING DENGAN PENDEKATAN RESPON SURFACE METHODOLOGY
Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis yang ditandai oleh terhambatnya perkembangan fisik dan kognitif. Salah satu pendekatan untuk menangani stunting adalah intervensi menggunakan probiotik. Pemberian probiotik dapat mencegah disbiosis serta menghambat kolonisasi bakteri patogen di saluran pencernaan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, telah diperoleh dua kandidat bakteri probiotik yang diisolasi dari sampel feses anak dengan prevalensi stunting. Kedua isolat tersebut diketahui memenuhi kriteria pemilihan probiotik berdasarkan kemampuan pembentukan biofilm, toleransi terhadap cekaman pH dan garam empedu, dan tidak resisten terhadap antibiotik. Selanjutnya, dibutuhkan optimasi proses produksi untuk memperoleh biomassa probiotik yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Menentukan kandidat probiotik berdasarkan kemampuan hidrofobisitas, agregasi, koagregasi, dan aktivitas hemolitik; (2) Menentukan sumber karbon terbaik antara glukosa dan high fructose corn syrup (HFCS) untuk produksi probiotik berdasarkan laju pertumbuhan dan konsentrasi sel; dan (3) Optimasi komposisi media produksi biomassa melalui pendekatan response surface methodology (RSM). Dua kandidat probiotik yaitu isolat FS304 dan FS501. Uji hidrofobisitas dilakukan dengan xilena; uji autoagregasi dan koagregasi bakteri dinkubasi pada media Luria Bertani dan diukur absorbansi pada 600 nm setelah 5 dan 24 jam; serta uji aktivitas hemolitik pada media TSA-blood agar. Uji produksi probiotik dilakukan dengan menggunakan medium dasar M9 dengan variasi sumber karbon, glukosa dan high fructose corn syrup (HFCS). Kultur diinkubasi pada erlenmeyer 250 mL dalam 90 mL media dasar M9, dan 10% (v/v) inokulum aktivasi III sebesar 106 CFU/mL, selama 24 jam pada suhu ruang 25oC dan tanpa agitasi. Hasil sumber karbon terbaik digunakan untuk optimasi lanjutan dengan RSM-Box Behnken Design (BBD), dengan tiga faktor: pH awal medium (4–8); konsentrasi HFCS (3–6 g/L); dan ii amonium klorida (0,1–2 g/L). Analisis yang dilakukan sebagai respon meliputi konsentrasi sel bakteri (CFU/mL) dan laju pertumbuhan. Pada proses RSM, inkubasi dilakukan selama 15 jam dengan kondisi kultur yang serupa dengan uji produksi probiotik. Dengan pengambilan data berupa angka lempengan total (ALT), pengukuran berat sel kering, pH, dan konsentrasi gula pereduksi menggunakan metode dinitrosalisilat (DNS). Hasil penelitian menunjukan bahwa Isolat FS304 memiliki tingkat hidrofobisitas lebih tinggi (30%) dibandingkan FS501 (21%). Isolat FS304 juga memiliki kemampuan autoagregasi yang lebih kuat (84%) dibandingkan FS501 (76%). Uji koagregasi menunjukkan bahwa setelah 24 jam kedua isolat berinteraksi positif dengan B. subtilis dan L. acidophilus. Pemberian HFCS menghasilkan laju pertumbuhan dan konsentrasi sel lebih tinggi dibandingkan glukosa. Isolat FS304 menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi pada media M9 dengan HFCS (laju pertumbuhan = 0,557 jam?¹ dan konsentrasi sel = 5,38 x 108 CFU/mL). Berdasarkan hasil RSM terhadap respon konsentrasi sel maksimum dan laju pertumbuhan, isolat FS304 menunjukkan hasil optimum pada konsentrasi HFCS sebesar 4,5 g/L, amonium klorida 1,05 g/L, dan pH awal media 6. Hasil respons optimizer menunjukan konsentrasi sel dan laju pertumbuhan yang maksimum diperoleh pada konsentrasi HFCS 4,5152 g/L; amonium klorida 1,0596 g/L; dan pH awal media 6,2626 dengan hasil produksi konsentrasi sel sebesa 5,879 x 108 CFU/mL dan laju pertumbuhan 0,5682 jam-1. Hasil optimasi ini dapat divalidasi lebih lanjut dan menjadi dasar pengembangan probiotik berbasis bakteri indigen saluran pencernaan yang berpotensi mendukung strategi intervensi stunting.
EVALUASI PERFORMA GNSS MENGGUNAKAN SMARTPHONE
Perkembangan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dan integrasi berbagai konstelasi satelit seperti GPS, GLONASS, Galileo, dan BeiDou telah membuka peluang untuk memanfaatkan perangkat konsumen, khususnya smartphone, dalam aplikasi pengukuran posisi. Namun, meskipun smartphone modern, khususnya model flagship, dapat mengakses Raw GNSS hasil pengukuran, kualitas pengukuran posisi sering kali terbatas oleh kualitas antena internal, kebisingan sinyal, serta sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan receiver geodetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja GNSS pada smartphone flagship (Samsung Galaxy Note 10 dan Samsung Z Fold 6) dibandingkan dengan receiver geodetik, dengan fokus pada pengamatan statik dan kinematik menggunakan pendekatan co-location, di mana smartphone dan receiver geodetik ditempatkan pada kondisi penerimaan sinyal yang identik untuk memungkinkan perbandingan yang objektif. Dalam penelitian ini, data yang digunakan terbatas pada data pseudorange, karena hanya data tersebut yang dapat diekstrak dan diunduh melalui perangkat smartphone. Data fase tidak tersedia untuk pengolahan data GNSS pada smartphone, sehingga hanya data pseudorange yang digunakan dalam analisis dan pengolahan data GNSS pada penelitian ini. Penelitian ini membandingkan ketelitian pengukuran posisi pada berbagai kombinasi konstelasi GNSS untuk pengukuran statik, yaitu GPS (G), GPS + GLONASS (GR), GPS + GLONASS + Galileo (GRE), GPS + GLONASS + Galileo + BeiDou (GREC), dan GPS + BeiDou (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa smartphone menghasilkan ketelitian horizontal pada baseline pendek <1 dengan konstelasi GPS sebesar 0,07524 m pada titik B4, sedangkan receiver geodetik menunjukkan presisi horizontal pada baseline pendek <1 km dengan konstelasi GPS sebesar 0,00103 m pada titik B4. Fokus penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketelitian pengukuran pada smartphone, tanpa melibatkan data fase, dengan receiver geodetik hanya digunakan sebagai perbandingan. Berdasarkan konstelasi GNSS yang diuji, penggunaan konstelasi tambahan, seperti GPS + GLONASS + Galileo + BeiDou (GREC), memberikan peningkatan ketelitian yang lebih jelas pada kondisi terhalang atau terobstruksi, seperti yang terlihat pada titik B2 (sangat terobstruksi), B5 (agak terobstruksi), dan B7 (sangat terobstruksi), di mana penggabungan konstelasi satelit memberikan hasil yang lebih stabil dan akurat dibandingkan dengan penggunaan GPS saja. Meskipun pada baseline pendek 1-2 km di kondisi open sky, GPS saja sudah cukup memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan konstelasi lainnya. Sebaliknya, ii konstelasi GPS menunjukkan performa yang paling rendah dibandingkan dengan lima skema konstelasi lainnya, terutama pada baseline pendek 1-2 km dan kondisi sangat terhalang, seperti yang terlihat pada titik B7. Untuk pengukuran kinematik dengan lintasan, hasil pengukuran yang dilakukan di Area Saraga ITB (area lintasan lebih terbuka) dan Area Kampus Ganesa ITB (area lintasan yang lebih terobstruksi) menunjukkan bahwa GK-SS memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan GK-SK. Di Area Saraga ITB, GK-SS menghasilkan rata-rata pergeseran 6,2844 m dengan standar deviasi 6,2398 m, lebih kecil dibandingkan dengan GK-SK yang memiliki rata-rata 8,1037 m dan standar deviasi 6,6938 m. Di Area Kampus Ganesa ITB, GK-SS menunjukkan hasil yang lebih baik dengan rata-rata pergeseran 3,8226 m dan standar deviasi 3,2222 m, sedangkan GK-SK menghasilkan rata-rata 9,9813 m dan standar deviasi 10,1959 m. Hasil ini menunjukkan bahwa GK-SS, meskipun menggunakan data single smartphone, memberikan ketelitian yang lebih baik dan lebih konsisten dibandingkan dengan GK-SK di kedua lokasi yang diuji. Meskipun seharusnya GK-SK diharapkan memberikan hasil yang lebih baik karena menggunakan pengolahan kinematik, keterbatasan data yang hanya menggunakan pseudorange tanpa data fase dalam penelitian ini membuat pengolahan menggunakan single smartphone (SS) sudah lebih dari cukup dan lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode kinematik (GK-SK). Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun smartphone flagship dapat mengakses data GNSS, kualitas pengukuran posisi terbatas oleh sensitivitas antena dan kebisingan sinyal. Penggunaan konstelasi GNSS tambahan seperti GPS + GLONASS + Galileo + BeiDou (GREC) meningkatkan ketelitian, terutama pada kondisi terhalang. Untuk pengukuran kinematik, meskipun pengolahan kinematik (GK-SK) diharapkan memberikan hasil lebih baik, keterbatasan data pseudorange tanpa fase membuat single smartphone (SS) lebih efektif dan konsisten. Pengukuran menggunakan GK-GS tetap lebih stabil, namun penggunaan smartphone menunjukkan potensi untuk aplikasi survei berbiaya rendah di masa depan.
BILANGAN PENYAMATAN KUADRAT PADA GRAF HASIL OPERASI KORONA UNTUK BEBERAPA KELAS GRAF
Jarak geometri (distance geometry) diperkenalkan oleh Menger pada tahun 1928 untuk merumuskan kembali sifat-sifat geometri Euclid melalui konsep jarak. Kajian ini dikembangkan lebih lanjut oleh Blumenthal melalui perumusan masalah fundamental dalam jarak geometri, dan oleh Schoenberg (1935–1937) dan Young dan Householder (1938) yang memberikan karakterisasi penyematan ruang metrik dengan matriks jarak ke dalam ruang Hilbert. Berdasarkan karakterisasi tersebut dan konsep matriks jarak Euclidean yang diperkenalkan oleh Gower (1982), Jakli?c dan Modic (2013–2014) menunjukkan bahwa graf lintasan, graf siklus, dan graf bintang yang diperumum dapat disematkan ke dalam ruang Euclidean. Berdasarkan perkembangan tersebut, Obata dan Zakiyyah (2018) memperkenalkan bilangan penyematan kuadrat (QEC) dari suatu graf terhubung G, yang didefinisikan sebagai nilai maksimum dari bentuk kuadrat matriks jarak DG pada ruang C(VG) dengan kendala ?1, f ? = 0 dan ?f , f ? = 1. Suatu graf dikatakan termasuk kelas QE apabila bilangan penyematan kuadratnya bernilai tak positif. Konsep ini digunakan untuk mengklasifikasikan graf yang dapat disematkan ke dalam ruang Euclidean. Tesis ini mengkaji bilangan penyematan kuadrat untuk graf hasil operasi korona dari beberapa kelas graf, khususnya graf G ? Cn(S) dengan S ? 1, 2, . . . , ?n/2? dan n ? 3, serta graf G ? Pn untuk setiap n ? 1, dengan G merupakan graf terhubung berorde paling sedikit dua. Dengan menggunakan struktur matriks jarak graf hasil operasi korona serta persamaan rekurensi dan polinomial Chebyshev, diperoleh rumus umum bilangan penyematan kuadratnya. Selain itu, diperoleh karakterisasi graf hasil operasi korona yang termasuk ke dalam kelas QE. Hasil ini memperluas kajian bilangan penyematan kuadrat pada graf hasil operasi graf, khususnya operasi korona untuk beberapa kelas graf.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN, SOSIAL, DAN TATA KELOLA (ESG) DENGAN KEPUTUSAN INVESTASI INVESTOR RITEL: STUDI KASUS PADA PT BANK CENTRAL ASIA TBK (BBCA)
Faktor Environmental, Social, dan Governance (ESG) telah terintegrasi menjadi standar keuangan global, dengan aset berbasis ESG diproyeksikan melampaui USD 45 triliun pada tahun 2025. Di Indonesia, penerapan ESG didorong oleh POJK 51/2017 dan Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan (2021-2025). Meskipun demikian, bukti empiris yang menjelaskan bagaimana investor ritel merespons pengungkapan ESG masih terbatas, terutama di sektor perbankan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kinerja ESG terhadap keputusan investasi investor ritel pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). ??Penelitian ini menilai pengaruh dimensi ESG terhadap keputusan investasi serta menguji peran investment horizon sebagai moderasi. Pendekatan kuantitatif eksplanatori digunakan dengan menyebarkan kuesioner terstruktur kepada 175 investor ritel pemilik saham BBCA. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dan moderated regression dengan 2.000 sampel bootstrapping BCa. Hasil menunjukkan bahwa faktor ESG secara kolektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan investasi. Di antara ketiga dimensi, Governance menjadi satu-satunya faktor yang berpengaruh signifikan, menegaskan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan etika pengelolaan dalam membangun kepercayaan investor. Dimensi Environmental dan Social berpengaruh positif namun tidak signifikan, dan investment horizon tidak memoderasi hubungan tersebut secara signifikan. ??Temuan ini memperluas penerapan teori Stakeholder, Signaling, dan Planned Behavior dengan menunjukkan bahwa praktik tata kelola yang kredibel menjadi sinyal ESG paling berpengaruh bagi investor. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan agar BCA memperkuat komunikasi ESG melalui portal ESG Highlight yang interaktif dan terintegrasi dengan media sosial untuk meningkatkan transparansi dan keterlibatan investor. Hasil ini memberikan wawasan untuk strategi ESG serta mendorong perilaku investasi berkelanjutan di sektor perbankan Indonesia.
PEMILIHAN LOKASI EKSPANSI TOKO BAKMI KITA MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)DENGAN STRATEGI PEMASARAN LOKASI YANG TERDIFERENSIASI
Pertumbuhan Industri food and beverage (F&B) Service di Indonesia semakin pesat dan mendorong semakin ketatnya persaingan, terutama di wilayah Jabodetabek yang menampung hampir 40% pelaku usaha F&B Service nasional. Dengan demikian, pemilihan lokasi menjadi keputusan strategis yang sangat menentukan keberhasilan sebuah restoran. Toko Bakmi Kita, yang berdiri di Kota Serang sejak 2019, berencana memperluas jangkauan bisnisnya ke Jabodetabek dengan pendekatan yang lebih terukur dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kriteria utama dalam pemilihan lokasi restoran menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP), serta menilai lima alternatif lokasi untuk menentukan lokasi ekspansi. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner AHP kepada 15 pelaku usaha dan professional di bidang F&B Service, serta data sekunder dari Google Maps dan MAPID. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari delapan kriteria utama, aksesibilitas menjadi faktor yang paling berpengaruh, diikuti daya Tarik pasar, biaya sewa, dan penggerak arus pelanggan. Pada tingkat sub-kriteria, jarak ke jalan utama, skema pembayaran sewa, serta tingkat okupansi siang dan malam menjadi penentu utama daya tarik lokasi. Dari lima lokasi yang dianalisis, dua lokasi memiliki skor tertinggi yaitu Graha Raya Tangerang (Lokasi E) dengan skor 88,56 dan Grand Wisata Bekasi (Lokasi A) dengan skor 85,12. Keduanya dinilai paling memenuhi kombinasi akses yang baik, potensi pasar, dan struktur biaya yang mendukung ekspansi Toko Bakmi Kita di Jabodetabek.
MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG): EVALUASI MODEL PENYALURAN MELALUI VIRTUAL ACCOUNT BRI UNTUK AKUNTABILITAS DANA PUBLIK DAN KOORDINASI PEMANGKU KEPENTINGAN
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu dari nawa cita pelaksanaan strategis pemerintah Indonesia dalam sektor gizi masyarakat, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo pada tahun 2025 di bawah naungan Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan alokasi APBN sebesar Rp71 triliun pada tahun pertama, program ini dirancang untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini menjadi tonggak harapan berkurangnya angka stunting yang masih memprihatinkan serta memperkuat kualitas gizi sumber daya manusia dalam jangka panjang. Namun, mempertimbangkan seluruh pembiayaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka penyaluran dana harus tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kaitan dengan audit. Implementasi awal jelas membuktikan adanya kelemahan dalam mekanisme penyaluran. Pada tahap awal, penyaluran dana disetorkan ke rekening virtual account yayasan mitra, yang menuaungi dapur, untuk kemudian ditransfer ke dapur-dapur penyedia makanan (SPPG). Rantai distribusi yang panjang ini menimbulkan tambahan waktu, perhitungan yang dinilai kurang transparan, serta kendala rekonsiliasi pembayaran. Beberapa dapur atau SPPG sudah mengungkapkan keberatan atas keterlambatan atas pembayaran dana, yang menyebabkan tertertunda atau terhentinya kegiatan operasional sementara. Permasalahan ini merupakan tantangan atas perlunya sistem penyaluran yang lebih efisien dan transparan, yang mampu menjaga akuntabilitas dana publik sekaligus memberi keyakinan kepastian arus kas bagi dapur dan pemasok. Sebagai mitra perbankan utama, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memperkenalkan Model Penyaluran melalui Virtual Account (VA). Melalui skema ini, setiap SPPG memperoleh nomor VA unik dalam sistem BRI, sehingga dana dari BGN dapat ditransfer langsung dengan rekonsiliasi otomatis dan pencatatan real-time melalui Cash Management System(Qlola). Penelitian ini dilakukan untuk memastikan kebermanfaatan implementasi atas Virtual Account dalam Program Makan Bergizi Gratis serta mengevaluasi tingkat penerimaan para pemangku kepentingan. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: pertama, mengkuantifikasi implementasi dampak virtual account dalam hal efisiensi dan transparansi; kedua, mengidentifikasi faktor apa saja yang memberikan kontribusi terhadap keinginan para pengguna menggunakan sistem; dan ketiga, menilai kontribusil dashboard virtual account dalam kaitan fungsi monitoring dan rekonsiliasi pada level institusional. Metode penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kombinasi data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap petugas SPPG dengan menggunakan kerangka Technology Acceptance Model (TAM3), yang berfokus pada persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan niat perilaku. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan petugas SPPG yang juga mengacu pada TAM3, serta pejabat BGN dengan pendekatan Technology–Organization–Environment (TOE). Hasil penelitian memberikan keyakinan senada dengan harapan bahwa virtual account dalam penyaluran pemerintah mampu meningkatkan kecepatan penyaluran, mengurangi kesalahan rekonsiliasi, serta memperkuat dalam hal pertanggungjawaban audit. Petugas SPPG menyampaikan bahwa kepercayaan meningkat dalam mengelola transaksi harian, senada dengan hasil survei yang menunjukkan persepsi positif terkait manfaat dan kemudahan dalam menggunakan. Dari sisi kelembagaan, BGN menegaskan bahwa dashboard memperkuat pengawasan keuangan serta meningkatkan akuntabilitas. Secara keseluruhan, penelitian memberikan keyakinan positif bahwa virtual account dapat menjadi solusi efektif secara teknis sekaligus dapat diterima pada level kelembagaan dalam hal ini Badan Gizi Nasional. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan bukti empiris bahwa sistem VA dapat menjadi instrumen keuangan digital yang handal untuk program publik berskala besar. Secara praktis, hasil penelitian merekomendasikan agar mekanisme VA diformalkan ke dalam pedoman operasional MBG, disertai pelatihan pengguna, dukungan teknis, serta strategi perluasan bertahap hingga tingkat nasional. Untuk penelitian selanjutnya, evaluasi dimungkinkan untuk diperluas sampai dengan penerima manfaat langsung (anak sekolah, ibu, dan balita) untuk mengukur dampak sosial, serta memperhatikan implementasi serupa di program sosial pemerintah lainnya. Dapat kami tarik kesimpulan, perjalanan untuk penyaluran berbasis model penyaluran dengan virtual account telah merubah peta perjalanan penyaluran MBG dari mekanisme manual yang berdampak pada kekecewaan akibat keterlambatan pembayaran menjadi mekanisme baru yang lebih cepat, tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan membuat aliran dana lebih transparan, program MBG dapat menjaga konsistensi dalam pemenuhan makanan bergizi bagi jutaan masyarakat Indonesia dan juga menjaga peran integritas dalam andil aliran dana publik.
PENINGKATAN TINGKAT KONVERSI PROSPEK MELALUI ANALISA PRINSIP-PRINSIP PERILAKU KONSUMEN: STUDI KASUS PENYEDIA LAYANAN BAHASA
Sektor jasa bahasa global sedang berkembang, tetapi strategi penjualan dan pemasaran yang tidak efektif menyebabkan rendahnya tingkat konversi pelanggan bagi organisasi penerjemahan. Meskipun terjadi peningkatan prospek media digital yang stabil, penyedia jasa bahasa PT Mediamaz Solusindo Nusantara (Mediamaz) memiliki tingkat konversi yang rendah. Kurangnya sistem Manajemen Hubungan Pelanggan (CRM), tindak lanjut yang buruk, dan komunikasi pemasaran-penjualan yang tidak memadai mengakibatkan tingkat konversi rata-rata sebesar 23% pada tahun 2024. Analisis AARRR (Akuisisi, Aktivasi, Retensi, Rujukan, Pendapatan) digunakan untuk meningkatkan tingkat konversi prospek dengan menerapkan konsep perilaku konsumen. Data survei dan transkrip diskusi calon klien dikodekan secara kualitatif menggunakan pengkodean tematik dan aksial NVivo. Pada setiap tahap kerangka kerja AARRR, persepsi konsumen dikuantifikasi menggunakan skala Likert. Pengondisian Operan (Skinner, 1953) dan Teori Mencoba (Bagozzi & Warshaw, 1990) digunakan untuk mengidentifikasi penguatan dan hambatan pembelian. Hasil penelitian menunjukkan drop-off terbesar terjadi pada tahap Aktivasi (MOFU) karena tidak adanya penguatan perilaku (reinforcement cue) seperti tindak lanjut aktif atau jaminan hasil. Di sisi internal, performa penjualan menurun akibat ketiadaan sistem penghargaan dan beban kerja manual yang tinggi. Penelitian ini merekomendasikan penerapan Behavioral Lead Scoring Model dan sistem CRM berbasis perilaku untuk memperkuat strategi konversi dan efektivitas penjualan.