π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 124 dokumenINTERPRETASI MODEL 3-D MAGNETOTELURIK ZONA SESAR SUMATERA (SUMATRAN FAULT) SEGMEN ACEH DAN SEGMEN SEULIMEUM
Sesar Sumatra dibentuk hasil dari proses subduksi oblique dari lempeng Indo Australia yang menunjam dibawah lempeng Eurasia. Sesar Sumatra memanjang sepanjang 1900 km dari 10o N ke 7o S yang dibagi menjadi 19 segmen besar sesar. Sesar Sumatra Segmen Utara (Northern Sumatra Fault) penting mengingat segmen utara yang terdiri dari sesar Aceh dan sesar Seulimeum berkontribusi sebagai daerah yang mempunyai potensi aktivitas seismik tinggi (seismic gap) berupa gempa dengan kekuatan ! ? 7.0. Pada penelitian ini dilakukan studi lebih lanjut mengenai sesar Aceh dan sesar Seulimeum berdasarkan data MT dari 33 station pengukuran yang tersebar di daerah Zona Sesar Sumatra Segmen Utara dengan frekuensi 320 β 0,1 Hz yang terdiri dari 4 lintasan pengukuran. Inversi 3- D menggunakan ModeEM telah dilakukan pada data magnetotelurik (MT) zona sesar Sumatra (Sumatran Fault) yang memberikan hasil penampang MT dengan rms 7,1. Pada penelitian ini telah dilakukan identifikasi terhadap 3 penampang MT dari 3 lintasan yang berbeda. Berdasarkan analisis dimensionalitas berupa induction arrows menunjukkan bahwa sesar Sumatra segmen Aceh (sesar Aceh) dan sesar Sumatra segmen Seulimeum (sesar Seulimeum) memanjang dari Northwest (NW) β Southeast (SE). Selanjutnya analisis diagram polar menunjukkan adanya dominasi struktur 3-D pada frekuensi 0,05 β 10 Hz. Sesar Aceh teridentifikasi diantara jarak 20 β 30 km pada Lintasan A dan B dengan adanya kontras resistivitas yang mana memisahkan zona resistif yang dikarakterisasi sebagai sebagai batuan basemen berupa batuan metamorf dari trias-cretaceous age yang mempunyai range resistivitas 150 β 1000 ?.m dan zona konduktif dikarakterisasi sebagai batuan vulkanik formasi batuan gunung api Lam Teuba dan formasi Indrapuri berupa endapan undak tua, volcanic gravels yang dengan resistivitas 1 β 15 ?.m. Pada Segmen Aceh diidentifikasi terdapat zona creep pada kedalaman 2 km yang sesuai dengan referensi. Sedangkan sesar Seulimeum teridentifikasi diantara jarak 50 β 60 km pada Lintasan B yang terkonfirmasi dengan referensi.
ANALISIS REGANGAN PULAU SULAWESI BERDASARKAN DATA GPS TAHUN 2010-2022
Indonesia merupakan negara dengan aktivitas tektonik yang tinggi sehingga dapat menyebabkan deformasi yang terjadi pada kerak bumi. Sulawesi merupakan salah satu pulau terbesar yang terletak di Indonesia bagian timur dan memiliki struktur geologi kompleks. Hal ini dikarenakan Sulawesi berada berada di wilayah triple junction, yaitu antara Lempeng Australia, Lempeng Filipina, dan Lempeng Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan menganalisis laju regangan dengan menggunakan data kecepatan deformasi harian dari data GPS. Data yang digunakan berasal dari 54 stasiun GPS yang tersebar di Sulawesi. Data tersebut sudah terkonversi dalam bentuk solusi harian untuk setiap titik stasiun GPS yang dimiliki oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Hasil perhitungan kecepatan deformasi Sulawesi menunjukkan pergerakan rata-rata mengarah ke arah barat laut. Besaran deformasi di Sulawesi bagian selatan memiliki variasi antara 1,1 cm/tahun hingga 3,61 cm/tahun. Sulawesi bagian tengah memiliki variasi besar deformasi antara 1,1 cm/tahun hingga 4,5 cm/tahun. Sulawesi bagian tenggara memiliki variasi besar deformasi antara 0,66 cm/tahun hingga 2,08 cm/tahun. Sulawesi bagian selatan memiliki variasi besar deformasi antara 0,15 cm/tahun hingga 1,88 cm/tahun. Laju regangan maksimum Pulau Sulawesi adalah 42.5 microstrain/tahun dan laju regangan minimum sebesar -26.84 microstrain/tahun. Laju dilatasi Pulau Sulawesi menunjukkan bahwa terdapat wilayah yang mengalami kompresi yang besar yaitu < -3 microstrain/tahun. Hasil analisis laju regangan geser Pulau Sulawesi, nilai laju regangan geser yang besar yaitu > 4 microstrain/tahun.
IDENTIFIKASI PARAMETER METOCEAN YANG MEMENGARUHI BANJIR ROB DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH, INDONESIA
Banjir rob merupakan fenomena di mana air laut masuk dan menggenangi daratan. Kota Semarang merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang rentan terhadap banjir rob. Beberapa faktor yang memengaruhi banjir rob diantaranya pasang surut, kenaikan muka air laut, penurunan muka tanah, serta faktor meteorologi. Dalam penelitian ini dilakukan kajian mengenai fenomena elevasi non pasang surut yang dihubungkan dengan data sea surface height anomaly (SSHA), kecepatan angin, dan curah hujan. Data elevasi muka air laut yang digunakan pada penelitian ini dari Badan Meteorologi , Klimatology, dan Geofisika (BMKG) yang berada di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang dan University of Hawaii Sea level Centre (UHSLC) di Stasiun Semarang selama 4,8 tahun (Mei 2018 β Desember 2022). Ambang batas definisi banjir rob yang digunakan dalam penelitian ini yaitu elevasi non pasang surut yang melebihi standar deviasi data. Dari hasil perhitungan ambang batas yang digunakan untuk banjir rob pada penelitian ini tergantung dengan skenarionya. Banyaknya skenario yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 5 skenario, dengan skenario 1 dan 3 yang paling mendekati event banjir rob berita. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian dan intensitas banjir rob analisis tertinggi terjadi pada bulan Mei dan Juni yang periodenya bertepatan dengan musim kemarau. Analisis rata-rata komposit kejadian banjir rob menunjukkan bahwa parameter metocean yang paling berpengaruh terhadap kejadian banjir rob analisis adalah SSHA dan kecepatan angin.
ANALISIS PENGARUH FAKTOR GEOMORFOLOGI DAN SURFACE AERODYNAMICS TERHADAP HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN ANGIN MAKSIMUM DAN RATA-RATA
Hubungan antara kecepatan angin maksimum dan kecepatan angin rata-rata tidak bersifat linear dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Berdasarkan studi yang telah dilakukan sebelumnya, geomorfologi dan surface aerodynamics merupakan faktor yang mungkin dapat mempengaruhi hubungan kedua variabel secara signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis pengaruh faktor geomorfologi dan surface aerodynamics terhadap hubungan antara kecepatan angin maksimum dan rata-rata secara statistik. Digunakan pengolahan data kecepatan angin maksimum dan rata-rata harian tahun 2016 β 2022 dari 56 Automatic Weather System (AWS) milik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang tersebar di seluruh Indonesia. Data ini diolah ke dalam bentuk distribusi gabungan untuk mendapatkan pola distribusi kecepatan angin yang mewakili tiap stasiun AWS. Pola distribusi tersebut dikelompokkan dengan metode K-Means untuk memisahkan stasiun dengan pola distribusi yang serupa. Selanjutnya, dilakukan identifikasi kecenderungan fitur geomorfologi dan surface aerodynamics pada tiap grup untuk menemukan karakteristik yang signifikan. Ditemukan enam kelompok stasiun AWS dengan pola distribusi yang serupa, mengindikasikan pengaruh faktor geomorfologi dan surface aerodynamics dalam beberapa kasus. Analisis variasi karakteristik geomorfologi menunjukkan perbedaan yang mungkin memengaruhi distribusi kecepatan angin, sementara variabel surface aerodynamics perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui perbedaan signifikan antar grup. Penelitian ini mengindikasikan bahwa tiap kelompok stasiun memiliki kecenderungan karakteristik geomorfologi dan surface aerodynamics, tetapi tidak ada parameter spesifik yang konsisten mengontrol hubungan kecepatan angin maksimum dan rata-rata.
PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI ANALISIS DERIVATIVE DATA GAYABERAT PADA LAPANGAN PANAS BUMI LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Lapangan panas bumi Lainea merupakan salah satu lapangan panas bumi yang berada pada Provinsi Sulawesi Tenggara. Di wilayah ini terdapat kepingan benua yang menunjukkan batuan metamorf yang luas dan tersingkap, disusupi oleh aplit dan diabas yang diperkirakan sebagai batuan dasar. Aktivitas tektonik wilayah ini memiliki peluang besar untuk pengembangan sumber panas bumi. Sistem panas bumi Lainea digolongkan sebagai system βheat sweepβ, dimana sumber panasnya berasal dari deformasi kerak benua atau dari intrusi batuan plutonik. Analis struktur dibutuhkan untuk melihat batas-batas tiap struktur dan melihat struktur geologis yang memengaruhi bagaimana air panas dan uap bergerak di bawah tanah dan sebagai tinjauan untuk tim peniliti lanjutan seperti penentuan kapasitas reservoir dan titik bor. Penelitian ini menggunakan data pengukuran gayaberat dan data elevasi yang di dapatkan dari penelitian Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG) tahun 2010 pada daerah panas bumi Lainea. Persebaran nilai anomali Bouguer lengkap adalah -40 β 59 mGal. Anomali Bouguer lengkap memiliki tren baratdaya-timurlaut dengan anomali tinggi berpusat di tengah Peta Complete Bouguer Anomaly (CBA) menuju ke timur. Pemisahan anomali Bouguer lengkap di-filter menggunakan moving average dan analisis derivative {First Horizontal Derivative (FHD), Second Vertical Derivative (SVD), Tilt Derivative (TDR), Analytic Signal (AS)}. Hasil anomali residual memiliki rentang nilai -8 β 6.5 mGal, sedangkan hasil analisis derivative satuan mGal memiliki rentang FHD (0 β 0.0028), SVD(-3.5e-06 β 4.5e-06), TDR (-1.6 β 1.6), dan AS (0 β 0.0038), dan arah kelurusan dominan terlihat arah barat laut - tenggara dan antitetik yang mengarah barat daya β timur laut yang terlihat hampir seluruh peta.
ANALISIS REGANGAN PULAU JAWA BERDASARKAN DATA GPS TAHUN 2010-2022
Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak gugusan pulau, salah satu pulau terbesarnya adalah Pulau Jawa. Pulau Jawa saat ini menjadi pulau terpadat di Indonesia dengan tingkat kepadatan mencapai 1.015,9 jiwa per km2. Berdasarkan pada beberapa catatan gempa seperti gempa Yogyakarta pada tahun 2006, gempa Tasikmalaya pada tahun 2009, dan gempa Pangandaran pada tahun 2006, Pulau Jawa termasuk daerah yang sering dilanda gempa bumi. Hal ini berkaitan erat dengan keberadaan zona tumbukan Lempeng Australia dan Lempeng Eurasia. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan menganalisis kecepatan regangan di Pulau Jawa menggunakan Global Positioning System (GPS). Data yang digunakan merupakan data primer yang telah terkonversi dalam bentuk solusi harian yang berasal dari 71 titik stasiun milik Badan Informasi Geospasial (BIG) di Pulau Jawa. Hasil perhitungan kecepatan deformasi menunjukkan bahwa untuk wilayah Jawa bagian timur, pergerakan rata-rata mengarah ke arah timur laut. Untuk wilayah Jawa bagian tengah dan Jawa bagian barat, memiliki arah kecepatan deformasi yang bervariasi. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa besaran deformasi di wilayah Jawa bagian timur memiliki variasi antara 0.08 cm/tahun hingga 0.48 cm/tahun. Kemudian, untuk wilayah Jawa bagian tengah dan Jawa bagian barat memiliki variasi besaran deformasi antara 0.11 cm/tahun hingga 0.64 cm/tahun dan 0.04 cm/tahun hingga 0.56 cm/tahun. Perhitungan kecepatan regangan utama di Pulau Jawa menunjukkan bahwa regangan utama bernilai >11 microstrain/tahun dan nilai regangan utama bernilai <1 microstrain/tahun. Hasil perhitungan kecepatan dilatasi didapatkan bahwa terdapat wilayah yang mengalami kompresi <-3 microstrain/tahun. Berdasarkan hasil perhitungan regangan geser maksimum didapatkan bahwa secara umum, nilai regangan geser maksimum di Pulau Jawa adalah >1 microstrain/tahun.
ANALISIS EVOLUSI CEKUNGAN PADA CEKUNGAN GORONTALO, SULAWESI UTARA
Cekungan Gorontalo berada di seluruh Teluk Gorontalo, Sulawesi Utara. Keterbatasan data menyebabkan cekungan ini kurang dipelajari dibandingkan dengan cekungan-cekungan disekitarnya. Pada tahun 2005-2006 penampang dari survei seismik non-eksklusif yang direkam oleh Fugro untuk menyediakan data terkini sehingga pengetahuan lebih lanjut tentang evolusi cekungan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan target-target eksplorasi baru di Cekungan Gorontalo. Dari hasil studi regional, Cekungan Gorontalo merupakan cekungan belakang busur dan evolusi cekungan ini dipengaruhi oleh aktivitas rollback dan break off dari Lempeng Sula. Kedalaman lempeng tidak dapat dijangkau oleh data seismik, sehingga hal tersebut dapat dianalisis dengan tomografi seismik, yaitu Cekungan Gorontalo dibangun oleh tiga lempeng yang berbeda, yaitu lempeng Sula, Celebes dan Sangihe Bagian dasar cekungan ini memiliki perbedaan lempeng dengan sudut slab yang bervariasi. Dari hasil interpretasi seismik, Sub-Cekungan Gorontalo didominasi oleh sesar-sesar turun serta beberapa kejadian inversi. Pada Miosen Bawah-Atas, pembukaan awal cekungan kemungkinan terjadi akibat aktivitas tumbukan dari Lempeng Sula diikuti dengan pembukaan yang menciptakan terbentuknya sub-cekungan Tomini dan Tilamuta. Setelah Miosen Akhir atau Pliosen Awal, rollback subduksi Sulawesi Utara menyebabkan perluasan lebih lanjut di Cekungan Gorontalo dan membentuk sub-cekungan Poso dan Ampana. Berdasarkan hasil analisis fasies seismik Sub-Cekungan Tomini dan Poso dibagi menjadi 8 unit sedimen (Unit A β Unit H) yang dibatasi oleh kejadian ketidakselarasan yang terlihat dalam interpretasi seismik yang merupakan batas perubahan evolusi sub-cekungan tersebut. Tidak adanya data sumur, menjadi tantangan tersendiri dalam menganalisa potensi batuan induk di Cekungan Gorontalo.
PENERAPAN DATA FULL TENSOR GRAVITY DALAM IDENTIFIKASI KEBERADAAN PROSPEK SUMBERDAYA HIDROKARBON DI DAERAH FRONTIER AREA CENTRA RANGE PAPUA PAPUA BARAT
Cekungan Foreland New Guinea terletak di Pulau Papua memanjang dari Papua Barat sampai ke negara Papua New Guinea (PNG) yang terletak di bagian timur dari Papua Barat. Antara daratan Papua Barat dan PNG mempunyai kesamaan baik secara morfologi maupun secara geologi dikarenakan tatanan tektonik yang mempengaruhinya. Namun demikian, dalam kaitannya dengan potensi keberadaan hidrokarbon, di PNG telah ditemukan cadangan hidrokarbon sebanyak 49 lapangan minyak dan gas. Sementara pada area daratan Papua Barat khususnya pada bagian birdβs body sampai saat ini belum ada lapangan minyak maupun gas. Tantangan yang dihadapi dalam usaha penemuan hidrokarbon di daerah ini adalah terbatasnya data seismik 2D yang ada dan juga kualitas data seismik yang kurang baik. Selain itu, dalam usaha akuisisi data seismik 2D tergolong sangat mahal sehingga diperlukan berbagai upaya eksplorasi dengan hasil yang dapat dipergunakan secara optimal dengan biaya investasi yang lebih efisien. Penelitian ini mempresentasikan hasil dari studi identifikasi keberadaan struktur yang berpotensi sebagai tempat pemerangkapan minyak dan gas dengan memanfaatkan integrasi data sumur, data seismik, dan data gravitasi termasuk akuisisi baru data Full Tensor Gravity (FTG), dimana pada daerah daratan Papua Barat memiliki potensi keberadaan closure pemerangkapan hidrokarbon dengan teridentifikasinya tiga sistem petroleum play dalam kaitannya dengan struktur pemerangkapan hidrokarbon, yaitu Fold Thrust Belt (FTB) Play, Inversion Play, dan Foreland Play. Namun demikian, dari ketiganya tetap harus dilakukan upaya eksplorasi lebih lanjut termasuk akuisisi seismik 2D terfokus pada area potensial closure atau penginderaan geologi jarak jauh dan pemetaan geologi permukaan guna penentuan lokasi yang tepat dalam pemboran sumur eksplorasi untuk mendapatkan penemuan cadangan yang dapat dikomersialitaskan.
PEMODELAN GEOFISIKA DAN GEOLOGI DENGAN METODE GAYABERAT DAERAH TALU-TOMBANG, KABUPATEN PASAMAN BARAT, PROVINSI SUMATERA BARAT
Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 28.617 MW yang diakibatkan oleh aktivitas tektonik dan vulkanik di Indonesia. Salah satu daerah yang ada di Indonesia adalah Daerah Talu-Tombang, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model bawah tanah geofisika dan geologi Daerah Talu-Tombang. Penelitian ini menggunakan data anomali Bouguer lengkap (CBA) dan data elevasi yang didapatkan dari hasil penelitian PSDMBP pada tahun 2012 di Daerah Talu-Tombang. Rentang nilai anomali Bouguer lengkap adalah -40 sampai 20 mGal. Anomali Bouguer lengkap memiliki tren peningkatan dari timur menuju barat. Pemisahan anomali Bouguer lengkap menjadi anomali regional dan residual menggunakan dua metode, yaitu metode butterworth dan metode moving average. Hasil kedua metode tersebut dibandingkan dan kemudian hasil metode yang paling optimal dipilih untuk diolah lebih lanjut. Anomali residual menunjukkan hasil anomali dengan rentang nilai masing-masing bernilai -14 sampai 18 mGal dan -20 sampai 26 mGal. Peta residual yang dipilih adalah peta residual metode butterworth karena menunjukkan kondisi geologi yang lebih representatif terhadap peta geologi dibanding peta residual metode moving average. Pemodelan ke depan 2,5 D menggunakan data anomali residual hasil metode butterworth, data elevasi, dan informasi geologi pada daerah penelitian serta menggunakan nilai background density sebesar 2,63 gr/cc. Berdasarkan hasil pemodelan, terdapat respon anomali rendah yang diinterpretasikan sebagai satuan piroklastik Cubadak 2 (?? = -0.28 gr/cc) dan anomali tinggi yang diinterpretasikan sebagai intrusi (?? = +0.47 gr/cc). Batuan dasar di daerah ini diinterpretasikan sebagai batusabak philit (?? = +0.12 gr/cc) yang berumur pratersier. Hasil pemodelan juga menunjukkan keberadaan 2 sesar yang diinterpretasi merupakan sesar pengontrol mata air panas, yaitu Sesar Tombang yang diinterpretasi merupakan sesar pengontrol Mata Air Panas Tombang 2 dan Sesar Talu yang diinterpretasi merupakan sesar pengontrol Mata Air Panas Talu.
PEMUTAKHIRAN PETA BAHAYA GEMPA INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN SUMBER GEMPA DAN PERSAMAAN ATENUASI TERBARU (NGA WEST 2 DAN NGA SUBDUCTION)
Dalam menunjang perancangan bangunan tahan gempa menggunakan analisis riwayat waktu linier dan non-linier di Indonesia yang memiliki kondisi geografis rawan bahaya gempa, diterbitkan peta bahaya gempa nasional yang berupa percepatan spektra dalam 3 periode getar pada tingkat bahaya tertentu yang ditulis dalam perioda ulang gempa. Pemutakhiran peta bahaya gempa secara berkala direkomendasikan dalam laporan Peta Hazard Gempa Indonesia 2010, dikarenakan adanya penelitian-penelitian terbaru yang memunculkan sumber-sumber gempa terbaru maupun memutakhirkan parameter-parameter seismik. Perkembangan teknologi rekam data dan perangkat lunak analisis bahaya gempa juga menjadi faktor diperlukannya pemutakhiran peta bahaya gempa. Sehingga dalam menindaklanjuti rekomendasi tersebut, dilakukan penelitian dalam memutakhirkaan peta sumber dan bahaya gempa di Indonesia periode 2024. Penelitian meliputi analisis analisis bahaya gempa secara probabilistik (PSHA) untuk beberapa perioda getar struktur dalam tingkat bahaya gempa tertentu (periode ulang gempa) untuk zona sumber dan parameter gempa subduksi (megathrust), sesar (fault) dan background yang terbaru. Pada input parameter sumber menggunakan metode sebaran guttenberg-richter (GR) dan karakteristik (char). Analisis bahaya gempa dilakukan menggunakan program USGS PSHA, dimana untuk sumber gempa subduksi dan sesar diterapkan model tiga dimensi, dan untuk sumber gempa background diterapkan model gridded seismicity. Pada penelitian ini, persamaan atenuasi gerak tanah terbaru, yaitu NGA West 2 untuk sumber gempa subduksi dan background dalam, dan NGA Subduction untuk sumber gempa sesar dan background dangkal. Penelitian menghasilkan draf peta bahaya gempa di seluruh wilayah Indonesia yang menggambarkan percepatan spektral pada 3 perioda getar PGA, 0.2s, dan 3.0s dengan tingkatan bahaya 2500 tahun, sebagai usulan dalam penyusunan Peta Bahaya Gempa Nasional 2024 yang akan digunakan sebagai pedoman perancangan bangunan tahan gempa di Indonesia melalui analisis respon linier maupun non-linier.
INTEGRASI ANALISIS BAWAH PERMUKAAN UNTUK IDENTIFIKASI KOMPARTEMEN RESERVOIR DI LAPANGAN GTN, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Lapangan GTN yang sudah berproduksi sejak Tahun 1990 dari tiga reservoir (D840, D900, dan BK1000A) awalnya diinterpretasikan hanya memiliki satu kompartemen reservoir untuk setiap lapisan produksi, meskipun indikasi dari data tekanan reservoir dan pola log resistivitas serta saturasi menunjukkan hal yang berbeda. Penelitian tesis dilakukan dengan melakukan interpretasi yang lebih detail meliputi; hubungan pola struktur geologi (sesar, lipatan) hasil sejarah tektonik pada area penelitian, perhitungan kemampuan sesar dalam menahan kolom hidrokarbon yang direpresentasikan oleh nilai SGR (Shale Gauge Ratio), korelasi elektrofasies dan identifikasi unit reservoir secara horizontal, analisis tekanan reservoir, perbandingan lebar dan tebal fasies, penentuan kedalaman kontak fluida dengan mempertimbangkan waktu relatif produksi minyak, serta analisis geokimia (oil fingerprinting). Hasil penelitian tesis mendapatkan hasil bahwa setiap lapisan produksi minyak terbagi menjadi beberapa kompartemen reservoir horizontal. Hasil analisis kompartemen reservoir berupa Reservoir D840 terdiri dari enam kompartemen, Reservoir D900 terdiri dari lima kompartemen, dan Reservoir BK1000A terdiri dari lima kompartemen. Batas kompartemen reservoir horizontal dinterpretasikan lebih dominan dibatasi oleh variasi atau perubahan nilai porositas (porositas efektif atau PHIE dengan cut off VSH <0,8 dan cut off PHIE >0,15). Keterbatasan kualitas data seismik 2D yang digunakan untuk identifikasi sesar-sesar minor menyebabkan kesulitan untuk melihat fault throw yang jelas, hal ini selanjutnya berkorelasi dengan tingkat keakuratan hasil analisis potensi awal sekatan sesar (fault seal analysis). Variasi nilai porositas mencerminkan heterogenitas internal dalam tubuh fasies selama proses sedimentasi dan mencerminkan storage unit atau unit resevoir. Perhitungan volumetrik atau sumber daya minyak bumi (Original Oil in-Place, OOIP) hasil penelitian mereduksi nilai OOIP hasil studi sebelumnya. Hasil perhitungan sumber daya minyak bumi yang baru selanjutnya divalidasi ke hasil analisis material balance, kemudian hasil cadangan sisa minyak bumi juga divalidasi terhadap hasil DCA (decline curve analysis). Nilai cadangan sisa minyak bumi konsisten menunjukkan bahwa potensi terbesar ada di Reservoir D840 dan sangat minim di Reservoir D900 dan BK1000A. Kondisi ini berakibat perubahan fokus skenario pengembangan lapangan lanjutan menjadi lebih utama ke target di Reservoir D840.
INVERSI METODE SELF-POTENTIAL PENDEKATAN GEOMETRI TETAP DAN APLIKASINYA PADA DAERAH CUGENANG, JAWA BARAT.
Nilai potensial listrik pada permukaan bumi dapat diteliti dengan menggunakan metode pada bidang ilmu geofisika. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah metode self-potential. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait potensial statis alami yang disebabkan oleh anomali yang berada di bawah permukaan bumi. Tahap pada metode ini dimulai dari pembuatan elektroda, pengambilan data lapangan proses koreksi elevasi dan posisi, sampai ke inverse modeling yang menghasilkan perbandingan antara data lapangan dan data berdasarkan perhitungan Levenberg-Marquardt. Hasil dari data sintetik telah diilustrasikan dalam bentuk grafik. Data lapangan yang diperoleh kemudian diolah sesuai urutan yang disebutkan sebelumnya. Berdasarkan penelitian, Persebaran nilai potensial listrik yang diperoleh dari daerah penelitian berkisar pada 47mV β 240.72 mV. Bentuk anomali yang terdapat di daerah penelitian adalah silinder vertikal, berada pada kedalaman 14m, konstanta geometri/shape sebesar 0.2432, sudut sebesar 91.48o , dan momen dipol sebesar -58.5677.
INTERPRETASI LOG SONIK UNTUK DETEKSI REKAHAN
Rekahan memiliki peran penting dalam menyimpan dan memproduksi hidrokarbon, terutama pada reservoir yang tidak memiliki permeabilitas matriks tinggi. Rekahan memiliki kontribusi 0.5 sampai 1.5% porositas dari total porositas reservoir. Namun nilai porositas ini terlalu kecil untuk dideteksi oleh log porositas biasa. Salah satu pendekatan untuk melakukan investigasi karakter rekahan yang memotong lubang bor adalah dengan melakukan pengukuran geofisika di lubang sumur. Walaupun metode yang telah ada dapat menentukan parameter rekahan, kadang metode ini tidak memberikan hasil yang pasti. Studi ini dilakukan untuk mengoptimalkan pengukuran menggunakan sonic log untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
DELINEASI ZONA OVERPRESSURE DALAM INTERVAL FORMASI WOOLASTON-VULCAN MENGGUNAKAN METODE EATON DAN PROPERTI ELASTIS SEISMIK DARI INVERSI SEISMIK SIMULTAN: STUDI KASUS LAPANGAN POSEIDON, CEKUNGAN BROWSE
Dalam proses eksplorasi oil and gas sebelum masuk ke tahap pengembangan, diperlukan pemboran sumur-sumur baru untuk memaksimalkan potensi hidrokarbon. Agar proses pemboran berjalan lancar dan aman, studi tekanan pori harus dilakukan untuk mencegah terjadi kick atau yang paling buruk terjadi blowout. Oleh karena itu, estimasi tekanan pori sangat penting dalam melakukan eksplorasi hidrokarbon khususnya untuk menentukan kisaran aman dari berat lumpur. Salah satu objektif dalam studi tekanan pori adalah mengetahui dimana lokasi atau zona overpressure. Penelitian ini menggunakan open data Poseidon 3D yang diolah untuk interval Formasi Woolaston hingga Formasi Vulcan/Brewster Shale. Dalam penelitian ini estimasi tekanan pori dilakukan menggunakan log sonik dengan metode Eaton. Dalam analisis tekanan pori, data mudweight dan Modular Dynamic Test (MDT) sebagai validasi hasil perhitungan sudah benar. Berdasarkan hasil perhitungan tekanan pori pada sumur, didapatkan top overpressure pada Formasi Jamieson. Analisis parameter sensitif pada properti elastik seismik dengan colorkey tekanan pori dilakukan melalui teknik crossplot. Berdasarkan hasil analisis AI dan SI sensitif terhadap tekanan pori yang overpressure. Hasil Deliniasi dari model parameter AI, SI, dan perhitungan tekanan pori Metode Eaton 3D mengindikasikan bahwa terdapat variasi nilai overpressure dalam interval formasi Jamieson β Vulcan. Nilai overpressure yang rendah terdapat di area barat laut (NW) dengan sebaranya barat daya (SW) β timur laut (NE) dimana di area tersebut hadirnya struktur uplift yang terjadi rifting pada masa Jurassic sehingga terjadi nya penipisan formasi kemudian formasi menebal ke arah tenggara (SE) dan barat laut (NW) Kembali ke nilai overpressure yang tinggi.
TOMOGRAFI RESISTIVITAS LISTRIK (ELECTRICAL RESISTIVITY TOMOGRAPHY) UNTUK PEMANTAUAN FLUIDA INJEKSI KARBON DIOKSIDA DI BAWAH PERMUKAAN: MODEL FISIK SKALA LABORATORIUM
Pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan kadar gas rumah kaca, yang terutama didominasi oleh CO2 di atmosfer. Efeknya akan berdampak pada perubahan iklim global. Oleh karena itu, penangkapan dan penyimpanan CO2 dalam formasi bawah permukaan merupakan suatu pendekatan yang menjanjikan untuk mengurangi pelepasan gas rumah kaca di atmosfer. Gas CO2 disuntikkan ke dalam lapisan batuan bawah tanah yang disebut sebagai formasi reservoir batuan penyimpan, atau carbon storage. Pada formasi batuan reservoir penyimpan CO2 terdiri dari lapisan batuan penutup yang kedap fluida (caprock) dan formasi batuan reservoir yang memiliki porositas dan permeabilitas yang tinggi. Formasi penyimpan CO2 ini memiliki persyaratan dan kapasitas yang layak untuk menyimpan CO2 dengan aman dalam jangka waktu yang lama. Formasi batuan yang cocok untuk menyimpan karbon dioksida setidaknya harus berada cukup dalam agar tidak mempengaruhi air tanah. Batuan bawah permukaan berpori dan permeabel yang memiliki kapasitas penyimpanan dan kemampuan untuk mengalirkan fluida sangat cocok dalam proses injeksi CO2, diantaranya adalah batu pasir danbatu gamping. Pemantauan injeksi CO2 di bawah tanah perlu dilakukan untuk memastikan bahwa CO2 yang di injeksi ke dalam reservoir benar-benar masuk ke reservoir. Pemantauan digunakan untuk mengetahui pergerakan fluida saat proses injeksi CO2. Penggunaan metode geofisika berbasiskan pengukuran resistivitas batuan di bawah permukaan dengan Electrical Resistivity Tomography (ERT) menjadi salah satu cara yang tepat dan efisien. Berdasarkan beberapa studi literatur menunjukkan bahwa ERT dapat mendeteksi CO2 di bawah permukaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemantauan CO2 menggunakan ERT bisa dilakukan di lapangan dengan melakukan uji coba skala laboratorium. Penelitian ini menggunakan sampel pasir Formasi Petani. Pengukuran dilakukan dengan metode ERT konfigurasi Wenner-Alpha, WennerSchlumberger, dan Pole-Dipole. Pada penelitian ini dapat diketahui bahwa ERT mampu melakukan pemantauan fluida injeksi CO2 di bawah permukaan.