📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 146 dokumenSTUDI KETAHANAN GEMPA DARI STRUKTUR SRPMK GEDUNG BERTINGKAT RENDAH YANG DIRANCANG BERDASARKAN GAYA GRAVITASI DENGAN ANALISIS LTHA DAN NLTHA
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak penelitian dan studi yang dilakukan mengenai risiko kegempaan di Indonesia dan diperoleh risiko kegempaan yang terus meningkat. Oleh karena itu perlu perancangan yang baik untuk membuat bangunan tahan gempa. Salah satu tantangannya adalah proses perancangan bangunan tahan gempa yang memerlukan analisis yang cukup kompleks menggunakan perangkat lunak dimana diperlukan keahlian khusus untuk mengoperasikannya dan juga nilai investasi yang relatif mahal bagi praktisi konstruksi di Indonesia. Bangunan yang dirancang terhadap gaya gravitasi memiliki kapasitas tertentu untuk menahan gaya gempa. Pada bangunan bertingkat rendah umumnya beban gravitasi lebih dominan dibanding beban gempa dan dapat menahan gempa pada taraf tertentu. Dikarenakan perancangan berdasarkan gaya gravitasi sudah cukup dikenal dan proses perancangan yang lebih mudah, maka perancangan bangunan bertingkat rendah tahan gempa dapat dilakukan dengan mempertimbangkan gaya gravitasi saja namun tetap memenuhi persyaratan detailing SRPMK sehingga dapat menambah ketahanan gempa bangunan pada lokasi dengan risiko gempa yang tinggi. Pada kajian ini digunakan perangkat lunak berbasis spreadsheet yang penggunaanya lebih mudah, murah, dan popular digunakan. Penggunaan speadsheet dapat membantu proses perancangan bangunan bertingkat rendah yang lebih sederhana. Untuk memastikan ketahanan gempa dari struktur tersebut maka dilakukan juga kajian dengan analisis LTHA dan NLTHA dengan berbagai taraf gempa yang mungkin terjadi di Indonesia. Diperoleh pada kajian ini bahwa struktur bertingkat rendah yang dirancang berdasarkan beban gravitasi saja namun tetap memenuhi syarat SRPMK memiliki ketahanan akan gempa dengan berbagai beban gempa yang mungkin terjadi di Indonesia.
PERSEBARAN KOMPONEN PENYUSUN TANAH PRODUK VULKANIK DI GUNUNG SINABUNG (SUMATRA UTARA) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT DAN GEOLOGI LAPANGAN
Gunung Sinabung di Sumatra Utara merupakan gunung stratovulkano tipe A yang meletus pada tanggal 29 Agustus 2010 hingga tahun 2021 setelah masa istirahat selama 400 tahun. Erupsi tersebut mengeluarkan material vulkanik, seperti abu vulkanik, piroklastik, lahar, dan lava. Kandungan unsur hara produk vulkanik sebagai penyusun tanah vulkanik dinilai bagus untuk budidaya pertanian. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis pemetaan persebaran produk vulkanik secara temporal, analisis litologi, dan analisis korelasi unsur penyusun produk vulkanik terhadap tanah pertanian di sekitar Gunung Sinabung. Data yang digunakan berupa enam citra satelit dari Landsat 8 OLI/TIRS yang diakuisisi mulai tahun 2014 hingga 2022, tiga belas data geokimia batuan, peta geologi regional, peta jenis tanah, dan data gravitasi GGMplus (Global Gravity Model Plus). Pemetaan produk vulkanik secara spasiotemporal dilakukan menggunakan metode SAM (Spectral Angle Mapper) yang memetakan sembilan jenis produk vulkanik dari metode SAM, yaitu piroklastik 1 sampai 6, lava, runtuhan lava, dan lahar. Hasil pemetaan tersebut divalidasi dan dikorelasikan dengan data lapangan geologi serta data geokimia menggunakan metode XRF (X-Ray Fluoresence). Hasil analisis persebaran produk vulkanik menunjukkan perubahan sebaran produk vulkanik secara temporal akibat erupsi baru dan proses pelapukan. Jenis litologi penyusun daerah Gunung Sinabung pada umumnya berupa batuan beku andesitik didapatkan berdasarkan analisis peta geologi regional, peta jenis tanah, litologi permukaan, dan data gravitasi yang telah dikoreksi dan dilakukan pemisahan anomali bouguer. Hubungan antara produk vulkanik dengan lahan pertanian didapatkan berdasarkan analisis elemen unsur oksida dari data XRF. Keberadaan unsur silika dan potasium memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan daya tahan tanaman terhadap unsur toksik. Dalam korelasi korelasi produk vulkanik secara luasan, piroklastik 3 memiliki korelasi yang paling dominan dengan lahan pertanian sekitar 79,6 hektar area sawah, 95,07 hektar area ladang, dan 298,1 hektar area kebun. Piroklastik 3 juga memiliki kemiripan unsur geokimia dengan tanah lahan pertanian lebih dari 97%. Produk vulkanik Gunung Sinabung memiliki tingkat kesuburan tanah baik hingga sangat baik berdasarkan penilaian geokimia.
EVALUASI KUANTITATIF MASSA BATUAN BERDASARKAN KLASIFIKASI RMR, GSI, DAN SMR PADA PENAMBANGAN DIORITE DAERAH SEKONGKANG KABUPATEN SUMAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
Potensi bahan galian terutama bahan galian golongan A, B, dan C terdapat di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bahan galian tersebut antara lain batu, pasir/kerikil, batukapur, nikel, emas, dan tembaga dapat ditemui sekitar lokasi penelitian. Pada praktik penambangan, terutama pada bahan galian golongan C dilakukan secara tradisional menggunakan alat berat skala kecil. Maksud dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi penambangan yang baik dan aman berdasarkan klasifikasi tersebut diatas. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis klasifikasi massa batuan dengan metode Rock Mass Rating(RMR) dan Geological Strength Indeks(GSI), membantu mengetahui klasifikasi lereng dengan metode Slope Mass Rating(SMR), serta untuk mengetahui hubungan nilai-nilai tersebut. Hasil analisis pembobotan dengan klasifikasi RMR bobot berkisar antara 65,33 hingga 80,18 pada umumnya massa batuan termasuk pada kelas I/very good, atau massa batuan dalam kondisi sangat baik. Dari hasil analisis probabilitas keruntuhan yang digunakan diketahui berdasarkan analisis kinematika dengan perangkat lunak bahwa lereng T001, T003, T004, T005, T006 dan T007 probabilitas keruntuhan yang terjadi adalah keruntuhan guling dan pada titik pengamatan lereng T002 adalah keruntuhan bidang. Dari hasil analisis pembobotan SMR, klasifikasi lereng T001, T002, T003,T004, T005, T006, dan T008 termasuk pada klasifikasi lereng sangat baik, memiliki tingkat kestabilan lereng stabil, kemungkinan kegagalan massa batuan pada beberapa bagian blok batuan, penguatan dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang terjadi dilokasi penelitian. Sementara itu pada lereng T007 termasuk pada klasifikasi lereng baik, kategori lereng yang sangat stabil, tidak ada kemungkinan terjadinya kegagalan lereng. Analisis faktor keamanan (FK) dengan massa batuan metode RMR dan GSI menunjukkan kondisi lereng labil pada lereng T001 dan T008, masing-masing dengan nilai faktor keamanan 0,877 dan 0,905 sedangkan pada lereng T002 dan T007 dengan nilai FK masing-masing 1,064 dan 1,162 dan pada lereng T003, T004 dan, T005 memiliki nilai faktor keamanan stabil pada dua metode RMR dan GSI yaitu masing-masing nilai FK adalah 1,305, 5,772, dan 1.428.
PEMODELAN TSUNAMI SERAM BERDASARKAN SEJARAH TSUNAMI 1899 DAN KEJADIAN TSUNAMI 2021
Pada 16 Juni 2021, gempa bumi dengan kekuatan 6 SR berpusat di Tehoru, Teluk Taluti memicu terjadinya longsoran bawah laut sehingga menghasilkan kenaikan muka air sekitar 51 cm di Tehoru. Peristiwa tersebut relatif kecil dibandingkan peristiwa Tsunami Teluk Elpaputih (sebelah barat Teluk Taluti) dengan ketinggian gelombang maksimum 9 meter pada 20 September 1899 akibat longsoran bawah laut yang dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 7,8 SR. Peristiwa tsunami 2021 tersebut menandakan kemungkinan dapat terbentuknya kembali tsunami akibat longsoran di masa depan. Dengan demikian, diperlukan tinjauan mekanisme pembangkitan tsunami Seram 1899 dan 2021 untuk mendukung studi potensi karakteristik tsunami di Pulau Seram bagian selatan di masa depan. Dilakukan simulasi tsunami menggunakan model COMCOT dengan menerapkan persamaan Non Linear Shallow Water Equation. Simulasi dilakukan menggunakan data topografi dan batimetri BATNAS dan DEMNAS yang divalidasi menggunakan Bilangan Aida terhadap data tide gauge di Stasiun Tehoru dan Amahai. Berdasarkan empat skenario longsoran Tsunami 2021 menurut keterangan dalam berita lokal, longsoran dengan dimensi 4000 × 4000 × 50 m3 menghasilkan gelombang dengan fase dan tinggi yang telah memenuhi selang kepercayaan 20% Bilangan Aida, dengan nilai K sebesar 1,19 dan ???? 1,19. Berdasarkan lima skenario longsoran Tsunami 1899 menurut catatan sejarah, longsoran dengan sumber di Desa Samasuru – Paulohi, Teluk Elpaputih dan di Desa Tehoru, Teluk Taluti merupakan skenario paling mendekati karakteristik tsunami menurut sejarah. Skenario ini menghasilkan tinggi tsunami maksimum mencapai 15,22 meter di Teluk Elpaputih dan 11,72 meter di Teluk Taluti dengan waktu tiba masing-masing 5 dan 1 menit. Kedalaman aliran maksimum mencapai 15 meter di sekitar Paulohi, Teluk Elpaputih dan 6 - 9 meter di sekitar Laimu, Teluk Taluti. Tsunami akibat longsoran hipotetik di Desa Saunulu, Teluk Taluti dengan parameter longsoran dibuat dua kali lipat peristiwa tsunami 2021 dan dengan jarak longsoran secara horizontal mencapai 800 meter dapat menghasilkan gelombang dengan amplitudo maksimum 21,74 meter dengan waktu tiba 2 menit serta kedalaman aliran dapat melebihi 15 meter di sekitar Tehoru, Teluk Taluti.
PEMODELAN HIPOTETIK TSUNAMI AKIBAT AKTIVITAS VULKANIK DI KEPULAUAN TEON-NILA-SERUA PROVINSI MALUKU
Provinsi Maluku merupakan salah satu provinsi yang dilewati oleh cincin api pasifik, keadaan ini memungkinkan terbentuknya gugusan gunung api yang memiliki potensi bahaya yang tinggi serta menyebabkan kerugian yang besar. Hal ini perlu diwaspadai beberapa gunung berapi yang telah lama tidak terlihat aktivitasnya seperti Gunung Laworkawra dengan erupsi terakhir terjadi pada tahun 1968 yang berada di Pulau Nila. Analisis hipotetik dapat dilakukan dengan simulasi numerik tsunami guna melakukan mitigasi. Simulasi numerik tsunami dengan pembangkit longsor bawah laut dapat diteliti dengan menggunakan model COMCOT (Cornell Multi-grid Coupled Tsunami Model) dengan persamaan NSWE (Non-linear Shallow Water Equations) dan domain bersarang hingga 10 layer. Data batimetri yang digunakan berasal dari data batimetri IHO (International Hydrographic Organization) dan data Topografi Nasional (DEMNAS). Skenario yang disimulasikan berjumlah lima skenario dengan perbedaan volume longsoran yang merujuk pada kejadian tsunami Pulau Teon 1660 sebesar 0,275 km3, Gunung Anak Krakatu 2018 sebesar 2,8 km3, Gunung Ruang 1871 sebesar 12 km3 dan estimasi daerah rawan longsor di sekitar Pulau Nila sebesar 12.06 km3 serta 1,4 km3 Hasil simulasi numerik tsunami dengan pembangkitan longsor bawah laut memiliki waktu perambatan tercepat 3,5 menit dan tinggi rendaman tsunami tertinggi sebesar 228 meter di daerah Pulau Nila, sedangkan tsunami paling lambat menjalar menuju Pulai Kei Kecil selama 39 menit dengan tinggi rendaman tsunami tertinggi 0,32 meter. Dari lima skenario didapatkan bahwa tsunami yang diakibatkan oleh longsor akan bersifat lokal dan merusak di daerah pembangkitan, seperti Pulau Serua, Pulau Nila dan Pulau Teon sedangkan daerah yang relatif lebih jauh seperti Pulau Damar, Pulau Romang, Pulau Moa, Pulau Babar, Kepulauan Jendena, dan Kepulauan Kei Kecil memiliki kerusakan lebih rendah dari daerah sekitar pembangkitan tsunami.
KAJIAN MITIGASI BENCANA TSUNAMI AKIBAT GEMPA BUMI DI TELUK KILUAN, KECAMATAN KELUMBAYAN, PROVINSI LAMPUNG
Kecamatan Kelumbayan merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, Indonesia, yang menyimpan keindahan laut dan pantai sebagai daya tarik wisatawan. Namun, letak Kecamatan Kelumbayan yang berada di sekitar zona subduksi Samudera Hindia membuat wilayah ini rawan terhadap tsunami akibat gempa bawah laut yang dihasilkan dari pertemuan Lempeng Indo- Australia dan Lempeng Euro-Asia. Merujuk pada kasus tsunami Aceh pada tahun 2004, potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana tsunami dari zona subduksi di selatan Sumatera sangat besar, dengan korban jiwa yang banyak dan kerugian material yang sangat besar. Studi kasus potensi tsunami di Kecamatan Kelumbayan perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui tinggi muka air maksimum gelombang tsunami dan waktu tiba di daratan, serta perencanaan mitigasi yang dapat dirumuskan. Penjalaran gelombang tsunami disimulasikan dengan menggunakan perangkat Delft3D. Kejadian tsunami yang pernah terjadi ditinjau dari katalog tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Untuk mengkaji hal ini lebih lanjut, potensi gempa magnitudo maksimum yang disebabkan oleh pertemuan dua lempeng tektonik di sekitar lokasi penelitian ditentukan ii berdasarkan tiga skenario mekanisme segmen sesar (Sesar Enggano, Sesar Selat Sunda Banten, dan kombinasi kedua sesar) yang menyebabkan gempa bumi dengan mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia tahun 2017 (PUSGEN 2017). Perbandingan nilai magnitudo tiga skenario mekanisme gempa akibat patahan segmen dilakukan untuk menentukan nilai magnitudo terbesar atau terparah yang mampu menyebabkan gelombang tsunami tertinggi. Berdasarkan data gempa bumi pada PUSGEN 2017 dan persamaan empiris yang digunakan oleh BMKG, gempa yang dibangkitkan oleh gabungan segmen Sesar Enggano dan segmen Sesar Selat Sunda Banten diprediksi membangkitkan gempa berkekuatan 9,1 Mw. Gempa tersebut akan digunakan sebagai input utama dalam memodelkan propagasi gelombang tsunami. Pemodelan propagasi gelombang tsunami pada Delft3D juga dipengaruhi oleh bentuk dan kedalaman dasar laut yang berpengaruh terhadap kecepatan dan ketinggian gelombang ketika mencapai daratan. Dalam hal ini, data yang digunakan untuk merepresentasikan kedalaman dasar laut adalah data batimetri GEBCO 08 dan data Batimetri Nasional (BATNAS), sedangkan data ketinggian daratan yang digunakan adalah data DEM Nasional (DEMNAS). Modifikasi data kedalaman dasar laut dan ketinggian daratan dilakukan terhadap setiap detail model berdasarkan metode Nesting Grid pada grid 1, grid 2, grid 3, dan grid 4. Model dengan pembangkitan gempa 9,1 Mw menghasilkan ketinggian gelombang di daratan secara global sebesar 2,7 meter. Pada titik tinjauan lokasi pemukiman yang ada di sekitar Teluk Kiluan, nilai rataan ketinggian gelombang dapat mencapai 3,3 meter dengan waktu kedatangan gelombang ke daratan terjadi pada menit ke-46 setelah gempa bumi terjadi. Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) Nomor 2 Tahun 2012, ketinggian gelombang yang lebih dari 3 meter dikategorikan sebagai kelas indeks ancaman bencana tsunami yang tinggi. Beerdasarkan hal tersebut, salah satu langkah yang direncanakan dalam menghadapi bencana tsunami di Teluk Kiluan adalah perencanaan mitigasi iii bencana di wilayah pemukiman yang kemungkinan besar akan terdampak gelombang tsunami. Dengan melihat wilayah Teluk Kiluan yang dikelilingi perbukitan yang berpotensi menyulitkan penduduk dalam mencapai tempat tinggi dan potensi terjadinya kelongsoran, maka perencanaan mitigasi meliputi rute evakuasi dan perencanaan struktur penunjang evakuasi. Rute evakuasi bencana tsunami di Teluk Kiluan didasarkan pada waktu tempuh penduduk menuju bangunan penunjang evakuasi dan waktu kedatangan gelombang tsunami yang melebihi tinggi muka air pasang. Kemudian, struktur penunjang evakuasi yang direncanakan berupa Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) yang menyediakan tempat tinggi bagi penduduk ketika bencana tsunami terjadi atau dapat berfungsi sebagai bangunan rekreasi ketika tidak terjadi bencana. Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) yang direncanakan memiliki 2 lantai dengan tinggi masing-masing lantai 3,5 meter, panjang bangunan 20 meter, dan lebar bangunan 20 meter. Bangunan tersebut didesain dengan tampungan 400 orang. Pada wilayah pemukiman Teluk Kiluan, akan ditempatkan 3 unit bangunan evakuasi vertikal dan 1 bangunan Tsunami Evacuation Shelter (TES) untuk mengakomodasi seluruh penduduk.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI KAPASITAS PENYIMPANAN CO2 PADA INTERVAL GRUP RESERVOIR FORMASI ARANG TENGAH, LAPANGAN GRU, CEKUNGAN NATUNA BARAT
Sumber daya energi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, seperti minyak dan gas bumi (migas), masih menjadi kebutuhan di Indonesia sehingga pemerintah terus meningkatkan produksi migas dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 .CO2 indigenous terbesar juga ditemukan di Cekungan Natuna Barat. Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) bisa menjadi solusi untuk mengurangi emisi gas CO2. Salah satu target reservoir yang diharapkan bisa menjadi tempat penyimpanan CO2 adalah grup reservoir di Formasi Arang Tengah, Lapangan GRU, Cekungan Natuna Barat. Dalam proses melakukan estimasi kapasitas penyimpanan CO2, karakterisasi reservoir penting dilakukan untuk mengetahui kualitas reservoir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi geologi reservoir interval penelitian melalui analisis stratigrafi (fasies dan stratigrafi sikuen), penentuan lingkungan pengendapan, penentuan geometri reservoir, analisis petrofisika, dan mengestimasi kapasitas CO2 yang dapat diinjeksikan ke interval penelitian dengan beberapa batasan penelitian yang ditetapkan. Data-data yang digunakan pada penelitian ini meliputi data batuan inti, log tali kawat 12 sumur, seismik kedalaman 3D, dan data pendukung lain dari laporan sumur. Berdasarkan analisis fasies yang dilakukan, interval penelitian tersusun atas sepuluh litofasies dengan lingkungan pengendapan berupa wave and tide influenced estuarine dengan dua asosiasi fasies, yaitu regressive barrier dan tidal flat. Analisis stratigrafi sikuen menunjukkan bahwa pengendapan interval penelitian dimulai dari Highstand System Tract (HST) dan Lowstand System Tract (LST) serta diakhiri dengan Transgressive System Tract (TST). Berdasarkan batas pancung petrofisika, diperoleh properti petrofisika pada interval penelitian sebesar 0,54 untuk rasio net to gross; 0,19 untuk porositas; dan 0,61 untuk saturasi air. Interval penelitian memenuhi syarat untuk CO2 bisa mencapai kondisi superkritikal sehingga dapat dianalisis lebih lanjut untuk analisis potensi CCS. Hasil estimasi kapasitas simpan CO2 di interval penelitian Lapangan GRU sebesar 9,95 juta ton. Ketebalan batuan tudung sebagai perangkap struktural CO2 pada interval penelitian diperoleh sekitar 4,8 m – 6 m
STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI DI DAERAH SUMBEREJO DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH
Daerah Sumberejo dan sekitarnya mempunyai persebaran mata air dingin. Selain itu, pada daerah ini terdapat beberapa kemunculan mata air panas yang mengindikasikan adanya sistem geotermal di bawah permukaan. Studi geologi dan hidrogeologi rinci dapat membantu dalam pengembangan energi geotermal, sehingga dapat mencegah terganggunya sistem hidrogeologi di daerah ini. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui tatanan geologi dan kondisi hidrogeologi di daerah Sumberejo dan sekitarnya. Metode penelitian yang dilakukan berupa studi literatur, citra satelit, pemetaan geologi, analisis geomorfologi, vulkanostratigrafi, petrografi, dan hidrogeokimia. Analisis hidrogeokimia yang dilakukan berupa analisis karakteristik fisik, kandungan unsur terlarut, dan ion stabil 18O dan 2H. Hasil analisis citra satelit dan pemetaan geologi menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri dari 16 satuan geomorfologi, 19 satuan batuan tidak resmi, satu jenis struktur geologi berupa sesar, dan tiga periode erupsi sejarah geologi. Periode erupsi diawali dengan pembentukan Khuluk Pejawaran Tua 2, Khuluk Sedringo, Khuluk Timbang, Khuluk Nagasari, Gumuk Kepakisan, Khuluk Bisma, Khuluk Jimat, Khuluk Pangonan-Merdada, Gumuk Merdada, dan diakhiri dengan Khuluk Petarangan. Kondisi hidrogeologi di daerah penelitian dipengaruhi oleh kondisi geologi yang berupa daerah komplek gunungapi. Hasil pemetaan hidrogeologi menunjukkan bahwa zona resapan berada pada elevasi 1656–1679 m, terletak pada lereng gunung, dan mempunyai litologi berupa andesit dan batuan piroklastik. Zona luahan berada di elevasi yang lebih rendah, dicirikan dengan kemunculan mata air, dan mempunyai litologi berupa batuan piroklastik. Kemunculan mata air dikontrol oleh kemiringan lereng dan struktur geologi. Berdasarkan hasil analisis, seluruh sampel mata air dingin berada pada fasies Ca+Mg-HCO3 dan sampel mata air panas serta hangat berada pada fasies Ca+Mg-SO4-Cl. Pola aliran air pada daerah penelitian umumnya berupa pola aliran airtanah dangkal dari utara ke selatan.
STUDI HIDROGEOLOGI DAERAH DESA JAYAGIRI DAN SEKITARNYA, KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT, PROVINSI JAWA BARAT
Peralihan tata guna lahan pada kawasan Bandung Utara sebagai daerah resapan air menjadikan airtanah sebagai topik yang krusial. Namun, informasi mengenai kualitas airtanah pada Kecamatan Lembang belum merata. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai kondisi geologi dan hidrogeologi untuk memastikan kelayakan kualitas airtanah serta pengaruhnya. Daerah penelitian berlokasi di Kecamatan Lembang yang meliputi Desa Jayagiri, Desa Cikahuripan, Desa Cibogo, Desa Kayuambon, Desa Sukajaya, dan Desa Gudangkahuripan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian pada aspek geologi dilakukan dengan mengetahui kondisi penyebaran batuan, geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, dan sintesis geologi. Adapun metode penelitian pada aspek hidrogeologi dilakukan dengan mengetahui tinggi muka airtanah, fasies hidrokimia, proses kimia airtanah, parameter fisik-kimia airtanah, kualitas airtanah, dan laju infiltrasi. Daerah penelitian terdiri dari tiga satuan geomorfologi berupa Perbukitan Gunung Putri, Dataran Kaki Gunungapi, dan Kipas Aliran Piroklastik serta empat satuan batuan berupa Satuan Hasil Gunungapi Tua Tak Teruraikan, Satuan Tuf Berbatuapung, Satuan Lava, dan Satuan Tuf Pasir. Sistem hidrogeologi daerah penelitian memiliki sistem endapan gunungapi berisi akuifer bebas yang dibagi menjadi satuan Akuifer Hasil Gunungapi Tua Tak Teruraikan, Akuifer Tuf Berbatuapung, Akuifer Lava, dan Akuifer Tuf Pasir. Berdasarkan parameter TDS, terdapat airtanah dari 8 sumber air yang berada di luar baku mutu, sementara berdasarkan parameter pH, terdapat airtanah dari 3 sumber airtanah yang berada di luar baku mutu. Adapun fasies hidrokimia pada 5 sampel airtanah menunjukkan tipe kalsium klorida, tipe magnesium bikarbonat, dan tipe campuran. Analisis laju infiltrasi menggunakan mini disk infiltrometer di daerah penelitian menunjukkan dominasi tingkat laju infiltrasi agak lambat hingga sedang. Laju infiltrasi paling cepat berada pada zona tata guna lahan pemukiman.
INTEGRASI DATA POINT CLOUD MULTI SOURCES UNTUK IDENTIFIKASI BANGUNAN YANG TERKENA DAMPAK BENCANA GEOLOGI DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, terletak di Provinsi Banten, merupakan daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam, khususnya tanah longsor. Karakteristik geografis kabupaten ini yang terdiri dari daerah perbukitan dan pegunungan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor secara signifikan. Dampak dari bencana ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga merusak infrastruktur dan bangunan. Oleh karena itu, pada project ini dilakukan identifikasi kerusakan bangunan secara akurat agar dapat dilakukan evaluasi kebencanaan secara tepat. Proses awal dilakukan identifikasi fenomena pergerakan tanah yang diturunkan dari data InSAR untuk menentukan wilayah yang berisiko tinggi. Selanjutnya, survei lapangan dilakukan dan rekomendasi untuk memvalidasi area yang teridentifikasi sehingga menghasilkan pemilihan Kecamatan Cikulur untuk analisis lebih lanjut. Untuk mengetahui dampak kerusakan bangunan secara detail, dilakukan pengintegrasian data point cloud LiDAR dan TLS dengan objek MTs Ar-Ribathiyyah Cikulur. Dari hasil integrasi dua sumber point cloud tersebut didapatkan RMSE 0,265 mm, dengan hasil penggabungan tersebut akan dibuat Model 3D BIM. Model 3D BIM memiliki kedalaman detail dan informasi pada LOD300 yang mencakup atribut informasi kondisi bangunan, termasuk hasil analisis vertikalitas bangunan, sehingga asesmen terhadap kelayakan bangunan dapat dilakukan secara kuantitatif.
PEMETAAN KOMPREHENSIF PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG
Cekungan Bandung merupakan daerah yang dikelilingi oleh pegunungan vulkanik Quatenary dan Late Teritary. Terdiri dari kota-kota besar seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, dan sebagian Kabupaten Sumedang, wilayah Cekungan Bandung telah berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi, sosial, dan politik yang signifikan. Namun, tingginya aktivitas di daerah ini telah menyebabkan penurunan muka tanah yang cukup mencolok dibandingkan dengan beberapa kota lain di Indonesia. Penurunan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ekstraksi air tanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi alami, atau aktivitas tektonik. Dampak dari penurunan muka tanah ini bisa sangat merugikan jika tidak ditangani dengan baik, termasuk kerusakan fisik pada bangunan, jalan, dan jembatan yang pada akhirnya menyebabkan kerugian ekonomi. Untuk memantau fenomena ini, berbagai metode geodetik seperti survei GNSS (Global Navigation Satellite System) dan InSAR (Interferometric Satellite Aperture Radar) digunakan. Hasil survei GNSS menunjukkan bahwa kecepatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung antara tahun 2016-2023 berkisar antara 1,4 cm hingga 13 cm per tahun, sedangkan hasil InSAR menunjukkan kisaran antara 0,6 cm hingga 12 cm per tahun di lokasi yang sama. Meskipun dinamika penurunan muka tanah ini relatif kecil, namun sering kali terabaikan oleh banyak pihak. Oleh karena itu, penyajian data dalam bentuk dashboard yang komprehensif dan mudah dipahami dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran akan fenomena penurunan muka tanah di Cekungan Bandung.
PEMETAAN KOMPREHENSIF PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG
Cekungan Bandung merupakan daerah yang dikelilingi oleh pegunungan vulkanik Quatenary dan Late Teritary. Terdiri dari kota-kota besar seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, dan sebagian Kabupaten Sumedang, wilayah Cekungan Bandung telah berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi, sosial, dan politik yang signifikan. Namun, tingginya aktivitas di daerah ini telah menyebabkan penurunan muka tanah yang cukup mencolok dibandingkan dengan beberapa kota lain di Indonesia. Penurunan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ekstraksi air tanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi alami, atau aktivitas tektonik. Dampak dari penurunan muka tanah ini bisa sangat merugikan jika tidak ditangani dengan baik, termasuk kerusakan fisik pada bangunan, jalan, dan jembatan yang pada akhirnya menyebabkan kerugian ekonomi. Untuk memantau fenomena ini, berbagai metode geodetik seperti survei GNSS (Global Navigation Satellite System) dan InSAR (Interferometric Satellite Aperture Radar) digunakan. Hasil survei GNSS menunjukkan bahwa kecepatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung antara tahun 2016-2023 berkisar antara 1,4 cm hingga 13 cm per tahun, sedangkan hasil InSAR menunjukkan kisaran antara 0,6 cm hingga 12 cm per tahun di lokasi yang sama. Meskipun dinamika penurunan muka tanah ini relatif kecil, namun sering kali terabaikan oleh banyak pihak. Oleh karena itu, penyajian data dalam bentuk dashboard yang komprehensif dan mudah dipahami dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran akan fenomena penurunan muka tanah di Cekungan Bandung.
ESTIMASI KERUGIAN LANGSUNG AKIBAT BENCANA DI PULAU JAWA
Letak geografis serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah yang rawan bencana dengan berbagai ancaman, termasuk gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung api. Berdasarkan data historis, keempat jenis bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp395.050.291.044.408,00 dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, perhitungan potensi kerugian akibat keempat bencana tersebut menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari kerugian ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Adapun jenis kerugian yang akan dibahas secara spesifik dalam project ini adalah jenis kerugian langsung (direct loss). Proses perhitungan kerugian diawali dengan mengumpulkan peta ancaman bencana untuk mengetahui parameter indeks ancaman. Kemudian, proses dilanjutkan dengan melakukan identifikasi sruktur taksonomi bangunan melalui metode GED4ALL Building Taxonomy yang telah disimplifikasi untuk parameter pengamatannya. Data indeks ancaman dan struktur taksonomi bangunan yang diperoleh akan digunakan sebagai variabel dalam persamaan perhitungan risiko kerugian langsung akibat bencana dengan metode Damage and Loss Assessment (DaLA). Pada tahapan akhir, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga proses sebelumnya akan disajikan dalam suatu dashboard berbasis WebGIS. Hasil perhitungan risiko kerugian menunjukkan bahwa bencana gempa bumi memiliki potensi kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp195.322.940.153.487,00 disusul dengan bencana longsor dan banjir dengan nilai total kerugian sebesar Rp117.043.904.494.640,00 dan Rp12.329.442.055.227,00. Potensi kerugian terendah ditunjukkan oleh jenis bencana letusan gunung api dengan nilai total kerugian Rp68.006.471.074,00. Secara keseluruhan, luaran utama yang dihasilkan pada project ini dapat digunakan untuk proses lanjutan dalam sistem manajemen risiko bencana, khususnya pada tahap analisis dan evaluasi risiko.
PEMETAAN GEOLOGI DAERAH WATUDODOL DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR
Daerah Ijen, yang terletak di Jawa Timur, Indonesia, merupaka wilayah dengan keragaman geologis yang signifikan karena tatanan tektoniknya yang unik dan fitur geologis yang beragam. Daerah ini ditandai dengan kehadiran Gunung Ijen, sebuah gunung stratovolcano yang dikenal dengan fenomena api biru dan endapan belerangnya yang khas. Kawasan Ijen merupakan kawasan kompleks geologi yang dikenal sebagai salah satu wilayah UNESCO Global Geopark yang terletak di Indonesia. Salah satu situs geodiversitas yang ada di Geopark Ijen adalah kawasan Watudodol. Berdasarkan data regional, Kawasan Watudodol tersusun oleh batuan berupa kontak lava bantal dengan formasi batu gamping. Namun, berdasarkan penelitian dan survei lapangan terdahulu, daerah ini tidak hanya berisikan lava bantal dan formasi batu gamping. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan pemetaan lapangan area seluas 64 km², penulis menemukan sesuatu yang menarik tentang formasi di sekitar daerah Watudodol dan stratigrafi daerah tersebut. Daerah penelitian tersusun atas tujuh satuan batuan berdasarkan persebaran litologi dan analisis geomorfologi yaitu satuan lava basalt, batupasir-batulempung, batugamping terumbu, batuan gunungapi ijen tua, batuan terobosan andesit, batuan gunungapi Merapi, dan aluvial. Pada analisis geokimia yang dilakukan dari tiga sampel lava basalt daerah penelitian, didapati bahwa lava basalt memiliki tekstur trachytic atau aliran pada kenampakan mikroskopisnya serta karakteristik seri magma dari sampel tersebut adalah seri magma calc-alkaline. Selain itu, didapati pula bahwa tatanan tektonik pada saat terjadinya proses pembentukan lava basalt berasosiasi dengan sistem tatanan tektonik CAB (Continental Arc Basalt).
PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.