π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 173 dokumenKARAKTERISASI PARAMETER DESAIN CLAYSTONE KAWASAN IBU KOTA NUSANTARA (IKN) DENGAN STUDI KASUS PADA LERENG MENGGUNAKAN MODEL HOEK BROWN DAN HARDENING SOIL
Pembangunan konstruksi di Ibu Kota Nusantara (IKN) dihadapkan pada tantangan bahwa belum terdapat banyak studi penelitian dan analisis lanjutan yang dilakukan oleh berbagai ahli bidangnya. Pada proses Pembangunan Tahap I IKN utamanya pada penyelidikan awal geoteknik diketahui bahwa konstruksi yang dibangun melewati claystone Formasi Pamaluan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan klasifikasi claystone di IKN utamanya untuk penentuan parameter shear strength sehingga dapat menjadi acuan desain bagi pelaksanaan konstruksi di Kawasan IKN utamanya untuk analisa kestabilan lereng yang melibatkan lapisan claystone untuk jangka pendek dan jangka panjang. Penentuan parameter desain claystone dilakukan dengan korelasi data lapangan dan laboratorium serta perhitungan back analysis. Analisis kestabilan lereng dilakukan dengan pendekatan mekanika tanah dan mekanika batuan melalui model Hardening Soil dan Hoek Brown. Dari penelitian didapatkan bahwa claystone IKN terdiri dari weathered claystone dan fresh claystone. Weathered claystone memiliki tingkat pelapukan moderately weathered, indeks durability low β medium, dan tingkat plastisitas low β medium (2.70 β 9.80 %) sementara fresh claystone memiliki tingkat pelapukan slighty wethered β unweathered, indeks durability medium β high, dan tingkat plastisitas low (1.10 β 7.30%). Lapisan weathered claystone memiliki rentang nilai parameter desain ????? = 18 β 36 kPa, ?????????????????????= 25 - 32?, dan ?????????????????????????????= 22 β 32.5? sementara lapisan fresh claystone memiliki rentang nilai parameter desain ????? = 25 β 50 kPa ?????????????????????= 28 β 35?, dan ?????????????????????????????= 22 β 32.5?. Nilai faktor keamanan yang dihasilkan oleh analisis kestabilan lereng menggunakan model Hoek Brown relative lebih kritis dibandingkan dengan model Hardening Soil. Model Hoek Brown mampu menggambarkan perilaku rock mass dimana failure mechanism dikontrol oleh intensive defects (diskontinuitas) yang direpresentasikan oleh nilai GSI, akan tetapi Model ini tidak dapat menunjukkan perubahan parameter claystone pada kondisi jangka panjang dan jangka pendek. Model Hardening Soil mampu menggambarkan perubahan parameter jangka panjang dan jangka pendek, akan tetapi model ini tidak dapat mengakomodasi pengaruh keberadaan diskontinuitas pada claystone.
KARAKTERISASI PARAMETER DESAIN CLAYSTONE KAWASAN IBU KOTA NUSANTARA (IKN) DENGAN STUDI KASUS PADA LERENG MENGGUNAKAN MODEL HOEK BROWN DAN HARDENING SOIL
Pembangunan konstruksi di Ibu Kota Nusantara (IKN) dihadapkan pada tantangan bahwa belum terdapat banyak studi penelitian dan analisis lanjutan yang dilakukan oleh berbagai ahli bidangnya. Pada proses Pembangunan Tahap I IKN utamanya pada penyelidikan awal geoteknik diketahui bahwa konstruksi yang dibangun melewati claystone Formasi Pamaluan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan klasifikasi claystone di IKN utamanya untuk penentuan parameter shear strength sehingga dapat menjadi acuan desain bagi pelaksanaan konstruksi di Kawasan IKN utamanya untuk analisa kestabilan lereng yang melibatkan lapisan claystone untuk jangka pendek dan jangka panjang. Penentuan parameter desain claystone dilakukan dengan korelasi data lapangan dan laboratorium serta perhitungan back analysis. Analisis kestabilan lereng dilakukan dengan pendekatan mekanika tanah dan mekanika batuan melalui model Hardening Soil dan Hoek Brown. Dari penelitian didapatkan bahwa claystone IKN terdiri dari weathered claystone dan fresh claystone. Weathered claystone memiliki tingkat pelapukan moderately weathered, indeks durability low β medium, dan tingkat plastisitas low β medium (2.70 β 9.80 %) sementara fresh claystone memiliki tingkat pelapukan slighty wethered β unweathered, indeks durability medium β high, dan tingkat plastisitas low (1.10 β 7.30%). Lapisan weathered claystone memiliki rentang nilai parameter desain ????? = 18 β 36 kPa, ?????????????????????= 25 - 32?, dan ?????????????????????????????= 22 β 32.5? sementara lapisan fresh claystone memiliki rentang nilai parameter desain ????? = 25 β 50 kPa ?????????????????????= 28 β 35?, dan ?????????????????????????????= 22 β 32.5?. Nilai faktor keamanan yang dihasilkan oleh analisis kestabilan lereng menggunakan model Hoek Brown relative lebih kritis dibandingkan dengan model Hardening Soil. Model Hoek Brown mampu menggambarkan perilaku rock mass dimana failure mechanism dikontrol oleh intensive defects (diskontinuitas) yang direpresentasikan oleh nilai GSI, akan tetapi Model ini tidak dapat menunjukkan perubahan parameter claystone pada kondisi jangka panjang dan jangka pendek. Model Hardening Soil mampu menggambarkan perubahan parameter jangka panjang dan jangka pendek, akan tetapi model ini tidak dapat mengakomodasi pengaruh keberadaan diskontinuitas pada claystone.
LEAN SIX SIGMA DALAM TRANSFORMASI DIGITAL INTEGRASI OPERASIONAL GEOTEKNIK MENGGUNAKAN PLATFORM G-ROCKS UNTUK MENGELOLA BAHAYA GEOTEKNIS DI PT. BORNEO INDOBARA
Lean six sigma dalam transformasi digitalisasi platform G-ROCKS (Geotechnical Real Time Observation and Control for Key Stability) merupakan pendekatan sistematis untuk meningkatkan efisiensi operasional dengan menggunakan menggunakan konsep DMADV (Define-Measure-Analyze-Design-Verify), kerangka kerja lean six sigma yang mendukung pengembangan produk, layanan, atau proses desain baru untuk menghasilkan fitur-fitur sesuai dengan kebutuhan operasional sehingga dapat memberikan informasi yang cepat, tepat, dan komperhensif dalam menajemen risiko geoteknik di PT. Borneo Indobara. Berdasarakan penelitian ini didapatkan bahwa informasi dilihat, analisis data, penandaan lokasi bahaya, pengumpulan dari alat pemantauan, pengumpulan dari inspeksi lapangan, pemahaman informasi, dan informasi tindak lanjut memiliki nilai sigma <2 yang menghambat dalam distribusi informasi Geotech kepada operasiona. Platform ini memiliki pemantauan waktu nyata, geofencing, dan pusat komando yang dapat diakses melalui dasbor dan dapat didistibusikan ke pengguna mobile seluler. Manajemen risiko geoteknik merupakan aspek penting dalam operasi tambang, khususnya untuk mencegah kerugian operasional, keselamatan pekerja, dan kerusakan lingkungan akibat kegagalan lereng. Setelah dievaluasi, desain G-ROCKS mampu mengurangi durasi respons dari rata-rata 17 menit menjadi sekitar 5 menit, sehingga mematuhi Prosedur Operasional Standar Tim Tanggap Darurat Golden Time dengan durasi maksimum 7 menit dengan memaksimalkan desain fitur G-ROCKS untuk mencapai level Six Sigma 6. Mitigasi longsoran yang dilakukan dalam konteks penelitian ini berfokus pada penerapan teknologi seperti Pemantauan real-time, sistem peringatan dini, informasi rekomendasi tindak lanjut, analisa faktor keamanan lereng, dan matrik resiko. Pekerjaan ini menekankan pentingnya kontribusi sistem geoteknik terpadu terhadap minimalisasi risiko, pengambilan keputusan yang lebih cerdas, dan penurunan tanah longsor karena memastikan respons yang cepat, serta praktik operasional yang memenuhi standar Industri 4.0 dengan memberikan solusi dengan sangat cepat. Wawasan ini memiliki implikasi praktis untuk implementasi digital di sektor pertambangan untuk mencapai tingkat keselamatan dan efisiensi operasional yang lebih tinggi.
STUDI SENSITIFITAS KUAT TEKAN BEBAS ROCKFILL PADA STABILITAS LERENG BADAN BENDUNGAN DI DESA SUKABUMI
Kuat Tekan Bebas Rockfill adalah parameter penting dalam rekayasa geoteknik untuk mengevaluasi kekuatan geser yang digunakan dalam konstruksi. Dalam konteks stabilitas lereng, kuat tekan bebas berpengaruh langsung pada kemampuan rockfill untuk menahan longsor atau deformasi lereng karena material ini yang berada pada bidang kontak langsung keruntuhan lereng. Sehingga zona rockfill lebih rentan terhadap perubahan sifat mekanik akibat variasi kondisi muka air. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana perubahan sifat-sifat ini memengaruhi stabilitas lereng bendungan. Dilakukan analisis stabilitas lereng dan rembesan dilakukan pada tiga kondisi muka air (muka air kosong, muka air terisi setengah, dan muka air terisi penuh) serta menggunakan tiga jenis material rockfill dengan kuat tekan berbeda: <25 MPa, 25-40 MPa, dan >40 MPa. Parameter kuat geser dan kohesi tanah untuk analisis stabilitas lereng diperoleh dari persamaan literatur yang dikalibrasi dari hasil uji laboratorium yang diteliti. Analisis dilakukan dengan bantuan piranti lunak Geostudio. Hasil penelitian menunjukan peningkatan kuat tekan dari 15 MPa ke 40 MPa tidak memberikan dampak besar terhadap stabilitas karena faktor lain seperti tekanan air pori atau sudut geser dalam lebih dominan. Dari hasil analisis faktor keamanan terhadap piping, juga menunjukkan bahwa bendungan ini sudah memenuhi persyaratan pada kuat tekan bebas 15 MPa, 25 MPa, 40 MPa terhadap variasi muka air. Penelitian ini memberikan wawasan penting dalam pemilihan material konstruksi yang optimal untuk memastikan keamanan dan efisiensi proyek bendungan.
PERANCANGAN STRUKTUR CREATIVE CENTER DI BINTARO JAYA, TANGERANG SELATAN
Saat ini industri kreatif merupakan salah satu bidang ekonomi yang berkembang pesat di Indonesia. Dalam usaha mengembangkan ekonomi kreatif nasional, pemerintah pusat pada tahun 2018 mengarahkan pemberdayaan pelaku ekonomi kreatif, salah satunya adalah melalui penyediaan infrastruktur dan teknologi. Namun, masih terdapat beberapa isu dalam pemberdayaan ekonomi kreatif di kota-kota Indonesia, salah satunya adalah di Kota Tangerang Selatan. Menurut Nizar (2018), pemberdayaan SDM dan pemasarannya belum bersaing dengan kota-kota besar lainnya. Untuk merespons hal ini, dicanangkanlah proyek arsitektur. Creative Center di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan ini terletak di Jalan Boulevard Bintaro Jaya dengan koordinat (6Β° 16 ?28 .63 ?? S, 106Β° 106Β° 106Β° 106Β° 42 ?19 ?? T). Bangunan setinggi 22,2 meter ini memiliki dua lantai basement dan empat lantai tower. Bangunan ini nantinya akan difungsikan sebagai infrastruktur pendukung kegiatan kreatif berupa auditorium, studio digital dan broadcasting, retail food & beverages, dan ruang pameran. Perancangan struktur yang dibahas pada tugas akhir ini bertujuan untuk merancang struktur beton bertulang dengan dinding penahan geser dan space truss baja yang tahan gempa. Perancangan ini melibatkan bidang ilmu lainnya yakni geoteknik, transportasi, dan manajemen rekayasa konstruksi. Struktur dengan kategori desain seismik D didesain dengan sistem ganda : Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus dan Sistem Dinding Sktruktural Khusus dengan tambahan Rangka Ruang Batang Baja yang didesain menggunakan sistem Mero. Pendesainan gedung menggunakan peraturan yang berlaku di Indonesia yakni SNI1726 :2019, SNI 1727:2020, SNI2847 :2019, dan SNI1729 :2020. Pemodelan struktur menggunakan perangkat lunak ETABS dan spColumn. Desain pada perancangan Creative Center di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan ini menggunakan prinsip desain kapasitas untuk menahan beban yang terjadi dan prinsip layanan untuk mendesain lendutan yang terjadi akibat beban.
PERANCANGAN STRUKTUR DERMAGA MARINA DI SANUR, BALI
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memerlukan transportasi laut yang memadai untuk menghubungkan antar pulaunya. Transportasi laut harus didukung dengan sarana dan prasarana berlabuh yang memadai berupa dermaga. Dengan demikian, arus perpindahan barang dan manusia melalui laut dapat berjalan dengan lancar. Salah satu jenis dermaga yang perlu dibangun yakni dermaga marina. Dermaga marina direncanakan dibangun di Pantai Matahari Terbit Sanur, Bali. Lingkup bahasan dari tugas akhir ini meliputi, dasar teori, pengolahan data lingkungan, perhitungan beban-beban yang bekerja pada dermaga, trestle dan gangway, penentuan dimensi dermaga, trestle dan gangway, analisis struktur dermaga, trestle dan gangway, analisis sambungan las pada frame dermaga dan gangway, desain penulangan elemen struktural beton, dan analisis daya dukung tanah. Acuan desain yang digunakan antara lain Overseas Coastal Development Institute of Japan (OCDI), Australian Standard, Guide lines for Design of Marinas, 2001, Pedoman Perencanaan Pelabuhan Ponton, 2017 yang dikeluarkan oleh Kementrian Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan Laut Direktorat Kepelabuhan, Buku Perencanaan Pelabuhan oleh Bambang Triatmodjo, dan British Standard (BS), sedangkan kriteria desain untuk elemen struktural (baja dan beton) didapatkan dari SNI 1729:2012 dan SNI 2847:2013. Hasil dari Tugas Akhir ini meliputi dimensi struktur dermaga dan trestle, dimensi elemen struktural dermaga dan trestle, desain sambungan las elemen frame rangka lantai, detail penulangan berdasarkan gaya dalam yang bekerja, dan kedalaman rencana pemancangan yang mampu menahan reaksi struktur berdasarkan data geoteknik yang tersedia.
STUDI ANALISIS APLIKASI DAN KINERJA SISTEM PONDASI PILED-RAFT PADA TANAH CLAYSHALE STUDI KASUS : PEMBANGUNAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH IBU KOTA NUSANTARA
Tahap pertama pembangunan infrastruktur dasar Ibu Kota Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur menjadi prioritas pemerintah sampai dengan tahun 2025. Instalasi Pengolahan Air Limbah termasuk salah satu infrastruktur dasar yang dibangun pada tahap pertama dengan lingkup pelayanan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan. Dari hasil penyelidikan tanah yang sudah dilakukan pada beberapa titik di lokasi pembangunan, dijumpai lapisan clayshale dari kedalaman -3 m sampai dengan kedalaman akhir bor -60 m. Berdasarkan uji laboratorium slake durability didapatkan hasil index durabilitas medium sedang, sedangkan dari uji x-ray diffraction,didapatkan kandungan beberapa mineral smactite dan ilite. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan dalam menentukan konstruksi pondasi bangunan pengolahan air limbah. Untuk mendukung struktur kolam instalasi pengolahan air limbah dengan beban total 2415,82 ton, dipilih desain pondasi piled-raft. Analisis daya dukung dan penurunan yang terjadi pada piled-raft dilakukan dengan pendekatan model 2D menggunakan program Geostudio SIGMA/W. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan reduksi kuat geser untuk prediksi kondisi jangka panjang. Dari hasil analisis disimpulkan dengan asumsi reduksi kuat geser 50% dapat digunakan sebagai pendekatan kondisi jangka panjang untuk jenis tanah clayshale di lokasi pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah Ibu Kota Nusantara.
STUDI EFEK DEFORMASI LATERAL AKIBAT PEKERJAAN PVD PRELOADING TERHADAP FONDASI ABUTMEN PILE SLAB
Tanah lempung lunak sering menjadi tantangan dalam konstruksi infrastruktur karena sifatnya yang sangat kompresibel dan rendah kuat geser. Pada proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, metode perbaikan tanah dengan preloading dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) digunakan untuk mempercepat proses konsolidasi guna mengurangi risiko deformasi berlebih. Namun, deformasi lateral akibat preloading dapat memengaruhi struktur yang berdekatan, termasuk fondasi abutmen pile slab. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh parameter kedalaman tanah terkonsolidasi (hc), jarak timbunan ke abutmen (x), laju penimbunan (fill rate, FR), dan momen yang terjadi pada fondasi abutmen pile slab akibat deformasi lateral selama proses konsolidasi. Simulasi numeris berbasis metode elemen hingga 2D menggunakan perangkat lunak Plaxis 2D dilakukan untuk menganalisis hubungan antara variabel-variabel tersebut terhadap deformasi lateral pada ujung timbunan (?s), defleksi lateral fondasi (?f), serta momen pada fondasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa semakin besar kedalaman tanah terkonsolidasi (hc), semakin signifikan deformasi lateral yang terjadi pada ujung timbunan dan fondasi abutmen. Laju penimbunan (FR) yang lebih tinggi mempercepat waktu konsolidasi, namun meningkatkan deformasi lateral. Jarak timbunan ke abutmen (x) berbanding terbalik dengan deformasi lateral fondasi, di mana peningkatan jarak secara signifikan mengurangi deformasi lateral. Selain itu, momen maksimum yang terjadi pada fondasi abutmen masih berada dalam batas aman material konstruksi. Perbandingan dengan penelitian sebelumnya, seperti studi Ladd (1991), Ong dan Chai (2011) dan Wang et al. (2019), mengonfirmasi bahwa deformasi lateral sangat berkaitan dengan parameter laju penimbunan dan penurunan yang terjadi. Deviasi hasil yang terjadi dari penelitian sebelumnya banyak dipengaruhi oleh geoteknik dan geometri timbunan. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk melaksanakan pekerjaan preloading sebelum pembangunan abutmen guna meminimalkan dampak deformasi lateral pada fondasi. Selain itu, pemasangan instrumentasi seperti inklinometer dan settlement plate disarankan untuk memantau stabilitas selama proses konstruksi. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi penyusunan standar pekerjaan penimbunan yang berdekatan dengan struktur eksisting khususnya pada lokasi oprit jembatan atau pile slab.
STUDI KOMPARATIF MODEL KONSTITUTIF TANAH UNTUK ANALISIS GALIAN DALAM PADA TANAH LUNAK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA DENGAN VALIDASI DATA LAPANGAN: STUDI KASUS PESISIR PANTAI MUARA TAWAR
Pembangunan struktur bawah tanah di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Tawar, yang berlokasi di area pesisir dengan karakteristik tanah lempung sangat lunak, menghadirkan tantangan geoteknik yang signifikan yang memerlukan analisis dan perencanaan yang cermat untuk mencegah kegagalan struktural. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas sistem dinding penahan sementara, khususnya sheet pile dan strutting, selama proses penggalian dan konstruksi basement Steam Turbine Generator (STG) Blok #4 yang berdekatan dengan struktur eksisting. Dengan memanfaatkan PLAXIS, perangkat lunak Metode Elemen Hingga (FEM) canggih untuk analisis geoteknik, kami memodelkan dan menganalisis interaksi tanah-struktur untuk mengoptimalkan desain dan metodologi konstruksi. Studi ini berfokus pada penentuan sistem penyangga yang tepat untuk penggalian dalam, memastikan stabilitas konstruksi baru dan fasilitas yang sudah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sheet pile dan strutting yang diusulkan secara efektif mencegah keruntuhan tanah selama konstruksi. Hal ini dibuktikan dengan faktor keamanan yang memuaskan dan nilai defleksi yang dapat diterima yang diperoleh dari analisis numerik. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan tiga model tanah: Mohr-Coulomb, Soft Soil, dan Hardening Soil, untuk menilai akurasi mereka dalam memprediksi perilaku tanah dan memberikan informasi bagi proses konstruksi.
ANALISIS KERUNTUHAN LERENG PADA TANAH TIMBUNAN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA SERTA ALTERNATIF PENANGANANNYA : STUDI KASUS JALAN TOL DI PROVINSI LAMPUNG
Terdapat beberapa titik longsor di ruas Tol Terbanggi Besar β Pematang Panggang β Kayuagung, KM 1+230 s.d 1+383 di Interchange Gunung Batin, Lampung, menjadi salah satu titik kritis dimana area tersebut merupakan akses masuk dari gerbang tol Gunung Batin menuju ke mainroad. Di area tersebut ketinggian timbunan 12 m dan terletak dekat sungai, kaki timbunan tersebut sering kali tergenang saat hujan. Dalam proses memahami penyebab keruntuhan lereng dilakukan uji penyelidikan tanah, terdapat sample tanah yang memiliki nilai plastisitas 22,76% dan 34,78% dimana nilai tersebut termasuk tinggi (Peck, Hanson, Thornburn, 1974). Dari nilai tersebut kemudian dilakukan uji Swelling untuk mengkonfirmasi karakteristik tanah di lokasi penelitian merupakan tanah ekspansif atau tidak, didapatkan nilai 1,278% untuk swelling potential serta 0,411 ????????/????????2 untuk swelling pressure. Sedangkan hasil uji Metylen Blue Value (MBV) didapatkan nilai Low dan Medium (Yukselen & Kaya, 2008) untuk swelling potential-nya. Pada lokasi studi timbunan tidak terdapat data tanah eksisting, untuk mengetahui parameter tanah saat akan terjadinya longsor dilakukan langkah trial and error dengan pemodelan elemen hingga menggunakan Plaxis 2D dari parameter yang sudah ada kemudian parameter kuat geser tanah direduksi akibat pengaruh dari karakteristik tanah ekspansif hingga didapatkan nilai parameter kuat geser tanah yang terpengaruh dan bidang longsor yang menggambarkan kondisi lapangan. Parameter tanah hasil trial and error yang menggambarkan kondisi lapangan digunakan sebagai parameter tanah untuk pemodelan elemen hingga untuk metode penanganan longsor pada lokasi penelitian. Terdapat 3 metode penanganan yang diusulkan, dinding penahan tanah beton kantilever, steel sheet pile, dan gabion. Dari hasil disimpulkan bahwa pemodelan elemen hingga didapatkan metode penanganan...
EVALUASI PERBANDINGAN DESAIN PERBAIKAN TANAH PADA ZONA TRANSISI ANTARA TIMBUNAN LAMA DAN TIMBUNAN BARU STUDI KASUS : JALAN TOL JUNCTION PALEMBANG
Jalan tol Junction Palembang direncanakan akan dibangun pada area yang berhimpitan dengan jalan tol yang telah beroperasi dalam periode waktu tertentu dan dengan penanganan soil improvement menggunakan vacuum preloading. Dalam hal meminimalisir dan menjaga kestabilan lereng tol operasi dan tetap dapat mengakomodir daya dukung tanah serta meminimalisir differential settlement pada pembangunan tol baru yang berhimpitan maka diperlukan analisa dan penentuan desain yang optimal pada zona- zona transisi antara soil improvement terhadap penanganan soil improvement pada tol yang telah beroperasi. Pada daerah β daerah tersebut jalan tol direncanakan akan merusak slope timbunan badan jalan pada tol yang telah beroperasi. Slope timbunan badan jalan yang kemungkinan dirusak tersebut diprediksi akan menimbulkan masalah stabilitas lereng, daya dukung tanah dasar dan penurunan tanah dasar. Desain rencana awal pada zona tersebut tidak dilakukan perbaikan tanah apapun dimana pada pelaksanaan Pembangunan tol yang lama dilakukan pelaksanaan dengan Vacuum Preloading, sehingga jika tidak dilakukan perbaikan tanah pada zona transisi Pembangunan tol yang baru tersebut akan mengakibatkan dan menimbulkan masalah stabilitas lereng dan penurunan tanah dasar tol yang baru. Menindaklanjuti hal tersebut perlu dilakukan perbaikan penanganan tanah pada zona transisi tersebut. Pada tahapan Analisa penelitian akan dilakukan Analisa daya dukung tanah pasca diberikan perkuatan pada zona β zona transisi pertemuan suatu bagian soil improvement dengan soil improvement yang lain ataupun suatu struktur tertentu. Pada tahap ini akan dilakukan perhitungan analisa beberapa metode yang digunakan meliputi perbaikan tanah vacuum preloading + tanpa penanganan, perbaikan tanah vacuum preloading + timbunan granular 1 m, perbaikan tanah vacuum preloading + CCSP, perbaikan tanah vacuum preloading + PVD Preloading + perbaikan tanah vacuum preloading + Pile Embankment CSP60 + Granular 1 m. Berdasarkan 5 (lima) case perbaikan tanah meliputi analisa berdasarkan kriteria penurunan pembangunan jalan tol meliputi 1 cm / 1 tahun dan atau 10 cm / tahun, differential settlement yang terjadi dan Nilai Faktor Keamanan (FK) terhadap Beban Lalu Lintas, Beban Statik dan Beban Gempa. Analisis dilakukan menggunakan metode numerik berbasis elemen hingga dengan perangkat lunak Plaxis 2D untuk membandingkan beberapa pendekatan. Zona transisi antara timbunan lama dan timbunan baru pada proyek Jalan Tol Junction Palembang menghadapi tantangan geoteknik yang signifikan, terutama terkait dengan stabilitas lereng dan differential settlement. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai metode perbaikan tanah guna menentukan solusi yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Vacuum Preloading pada timbunan tol lama dan Pile Embankment CSP 60 cm + Granular 1 m pada timbunan tol baru memberikan hasil terbaik dengan nilai differential settlement antara timbunan lama dan timbunan baru sebesar 2,2 cm sehingga didapatkan kesimpulan pada pertemuan taper jalan tol lama dan jalan tol baru tidak mengalami differential settlement yang signifikan. Dari segi kriteria stabilitas memenuhi nilai faktor keamanan (FK) dengan rincian FK beban lalu lintas 2,7, FK beban statik 2,77 dan FK Beban Gempa 1,02 dimana masih memenuhi dari Persyatan Perencanaan yang diinginkan (FK Statik dan FK Lalu Lintas > 1,5 dan FK Gempa > 1) dan kriteria struktur (FK > 2,5). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa metode kombinasi tersebut efektif dalam mengurangi differential settlement dan meningkatkan stabilitas zona transisi antara timbunan lama dan timbunan baru.
ANALISIS PERKUATAN TANAH DASAR MENGGUNAKAN PILE EMBANKMENT PADA TIMBUNAN DIATAS TANAH LUNAK DI JALAN TOL BINJAI
Dalam pelaksanaan konstruksi timbunan jalan tidak jarang dihadapkan pada permasalahan konstruksi timbunan diatas tanah lunak. Tanah dasar berupa tanah lunak merupakan tantangan utama dalam bidang geoteknik. Tanah lunak memiliki karakteristik seperti kompresibilitas tinggi, permeabilitas rendah, kuat geser rendah dan daya dukung rendah. Dalam penelitian ini akan dibahas bagaimana pengaruh tanah lunak terhadap stabilitas timbunan diatasnya dan bagaimana perkuatan dengan pile embankment dapat meningkatkan faktor keamanan dan potensi penurunan yang terjadi dengan analisis numerik metode elemen hingga. Beberapa variasi perkuatan dengan pile embankment yaitu ketebalan load transform platform (LTP), jarak antar tiang, dan kedalaman tiang akan dilakukan analisis 2D dengan metode numerik elemen hingga. Dalam melakukan pemodelan, timbunan tanah dimodelkan dengan Mohr β Coulomb soil model karena fokus pada bagaimana beban dari timbunan diteruskan ke tanah dasar dan respon tanah lunak di bawahnya, sedangkan untuk tanah lunak dimodelkan dengan Hardening soil model untuk mengetahui bagaimana tanah lunak merespons beban dari timbunan, termasuk perilaku deformasi dan tekanan air pori berlebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan awal timbunan setinggi 8.5m dengan tanpa perkuatan diatas tanah lunak tidak stabil. Perkuatan dengan tebal load transform platform 0.5m, jarak antar pile 1m, dan kedalaman pile 22m menjadi rancangan perkuatan yang paling aman. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam perencanaan timbunan diatas tanah lunak untuk memastikan keamanan timbunan dan keberlanjutannya.
STUDI MEKANISME FLOW SLIDE AKIBAT LIKUEFAKSI STUDI KASUS KAWASAN PETOBO KOTA PALU
Flow slide masif dengan deformasi kurang lebih 1 km terjadi di lereng yang landai di Petobo selama likuefaksi Gempa Palu 2018. Deformasi lateral yang sangat besar akibat likuefaksi belum sepenuhnya dipahami. Pemahaman yang komprehensif tentang mekanisme fenomena ini sangat penting untuk mitigasi bencana serupa di masa depan. Penelitian ini menjelaskan mekanisme flow slide di Petobo, dan bagaimana likuefaksi dapat memicu flow slide yang sangat jauh pada lokasi tersebut. Likuefaksi biasanya hanya memicu deformasi lateral beberapa hingga beberapa belas meter, namun di Petobo deformasi lateral terjadi di luar ekspektasi berdasarkan catatan kejadian yang pernah ada. Penelitian ini dilakukan berdasarkan data investigasi geoteknik, meliputi uji parit, MASW, CPT, Bor, dan pengujian laboratorium. Uji tabung likuefaksi juga dilakukan untuk menyelidiki mekanisme void redistribution akibat likuefaksi. Selain itu dilakukan juga analisis numerik menggunakan perangkat lunak FLAC dengan model material PM4SAND untuk mendapatkan pengaruh ketebalan, kepadatan relatif lapisan terlikuefaksi, rasio permeabilitas kcap/ksand, dan ketidakseragaman permeabilitas pada lapisan yang terlikuefaksi. Flow slide Petobo, berdasarkan pola deformasi dapat dibagi menjadi 2 blok. Blok Pertama merupakan blok yang sangat tercairkan, dan Blok Kedua merupakan bagian yang mengalami ekstensi lateral dan jungkiran. Muka air tanah pada Blok Pertama dangkal, sedangkan pada Blok Kedua lebih dalam. Hasil investigasi lapangan dan laboratorium pada area flow slide mengkonfirmasi adanya cap layer di atas lapisan yang berpotensi terlikuefaksi. Pada area flow slide lapisan yang berpotensi likuefaksi cenderung lebih tebal dibandingkan dengan area yang tidak mengalami flow slide. Lapisan yang berpotensi terlikuefaksi bisa terdiri dari beberapa lapisan yang terlikuefaksi dengan perbedaan permeabilitas akibat perbedaan kandungan butir halus. Beberapa kondisi yang ditemui pada lokasi tidak flow slide meliputi kondisi lapisan pasir tipis berselingan dengan lempung, lanau, atau gravel; di bawah cap layer terdapat lapisan yang lebih kasar seperti gravel, atau lapisan yang sangat padat; dan lereng sudah relatif datar. Secara umum hasil simulasi numerik berkorelasi dengan temuan dilapangan atau uji laboratorium. Hasil simulasi numerik menunjukan lapisan yang terlikuefaksi mengalami pengurangan angka pori, namun pada bagian atas yang terlikuefaksi tersebut seiring proses disipasi mengalami peningkatan angka pori. Semakin tebal ii lapisan terlikuefaksi, maka semakin besar peningkatan angka pori (pertambahan regangan volumetrik) lapisan tepat di bawah cap layer. Semakin rendah kepadatan relatif, maka semakin besar potensi pertambahan angka pori lapisan di bawah cap layer. Semakin besar rasio permebilitas kcap/ksand maka semakin kecil regangan volumetrik maksimum yang dapat terjadi, sebaliknya semakin kecil kcap/ksand maka semakin besar volumetrik maksimum yang dapat terjadi. Pengaruh rasio permeabilitas pada regangan volumetrik yang terbentuk relatif kecil pada saat kcap/ksand < 1x10-2. Sehingga berdasarkan hubungan kandungan butir halus dengan permeabilitas, maka disimpulkan perbedaan kandungan butir halus lebih dari 10% dapat dipertimbangkan sebagai cap layer. Dengan adanya ketidakseragaman permeabilitas pada lapisan yang terlikuefaksi, peningkatan angka pori terlebih dahulu terjadi diantara lapisan yang terlikuefaksi yang kemudian merambat naik ke bawah cap layer. Selain itu tegangan efektif hampir 0 dapat tersebar diantara lapisan yang terlikuefaksi yang memiliki permeabilitas yang lebih rendah selama proses disipasi. Fenomena ini dapat mengakibatkan tebal lapisan yang mengalami penurunan kekuatan geser semakin tebal dan potensi deformasi semakin besar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan terkait flow slide akibat likuefaksi dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi potensi longsoran di lokasi lain.
KINERJA SISTEM βINKLUSI KOLOM MORTAR - LOAD TRANSFER PLATFORM - GEOTEKSTIL KEKAKUAN TINGGIβ UNTUK TUMPUAN TIMBUNAN DI ATAS GAMBUT BERDASARKAN UJI SKALA PENUH TERINSTRUMENTASI DAN PEMODELAN NUMERIK
Pekerjaan timbunan masih merupakan pilihan utama pada pekerjaan peninggian elevasi infrastruktur, seperti badan jalan, landas pacu dan tanggul pengendali banjir. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan terbatasnya lahan akibat pengembangan kawasan hunian dan industri, saat ini pembangunan infrastruktur telah merambah pada area pinggiran yang sebelumnya dihindari, seperti pada bantaran sungai dan rawa dengan endapan tanah lunak yang relatif tebal, dengan daya dukung rendah dan kompresibilitas tinggi. Metode konstruksi jembatan dengan fondasi dalam, secara teknis dapat menghilangkan potensi penurunan tanah jangka panjang, namun memerlukan biaya besar. Sedangkan metode konstruksi timbunan dengan pra-pembebanan dan percepatan konsolidasi membutuhkan volume material timbunan yang besar, lahan yang luas dan waktu konstruksi yang lama. Pada konstruksi timbunan di atas lapisan gambut yang tebal dengan kadar air tinggi, pemampatan terjadi baik pada pori dan serat gambut yang berefek pada penurunan jangka panjang yang sulit diprediksi. Pada prakteknya di Indonesia, konstruksi slab on pile berbiaya mahal selalu menjadi pilihan metode konstruksi jalan pada area gambut tebal. Dengan masih banyaknya rencana konstruksi pada area gambut di Indonesia, diperlukan alternatif solusi yang lebih murah melalui pendekatan geoteknik. Beberapa penelitian terkini mengenai perbaikan tanah gambut dengan berbagai metode mulai dari stabilisasi kimiawi, perkuatan dengan stone/sand column untuk konstruksi tanggul badan jalan, rel kereta api, dan struktur gedung telah dilakukan. Sebagai catatan, metode di atas telah berhasil dilakukan untuk menahan beban timbunan tanpa terjadi keruntuhan daya dukung. Namun demikian, penerapan metode perbaikan tanah gambut selain dengan metode tumpuan tiang, masih menghasilkan penurunan timbunan yang terlalu besar dan berlanjut selama bertahun-tahun......
DETEKSI LOKASI POTENSI LONGSOR BERDASARKAN DATA SENTINEL-1 DAN TEKNOLOGI INSAR DI KABUPATEN LEBAK, BANTEN
Kabupaten Lebak merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki frekuensi kejadian longsor yang tinggi. Salah satu faktor pengontrol yang berperan penting adalah bentuk morfologi dataran tinggi dengan lereng curam. Kejadian longsor menyebabkan kerugian ekonomi, fisik, lingkungan sampai korban jiwa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang efektif untuk mendeteksi dan memantau pergerakan tanah pada area luas guna mitigasi risiko bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi area berpotensi longsor di Kabupaten Lebak menggunakan metode penginderaan jauh berbasis Small Baseline Subset Interferometric Synthetic Aperture Radar (SBAS-InSAR) dan paket pengolahan data LiCSBAS. Data citra Sentinel-1 diolah dengan teknik SBAS-InSAR untuk mendeteksi pergerakan tanah dalam rentang waktu 2018-2023. Proses data interferogram menghasilkan peta kecepatan pergerakan tanah. Analisis hasil dari proses tumpang-susun peta kecepatan pergerakan tanah, peta kemiringan lereng dan koherensi citra menghasilkan titik-titik lokasi yang sesuai dengan kriteria berpotensi longsor. Analisis perhitungan pada titik berpotensi longsor dan titik longsor menunjukkan bahwa Kabupaten Lebak memiliki sebanyak 1.467 titik lokasi berpotensi longsor. Lokasi dengan jumlah titik potensi paling banyak terdapat di Kecamatan Cibeber dengan jumlah titik sebanyak 75 titik. Sebaliknya, titik dengan potensi terendah berada di Kecamatan Banjarsari, Cirinten, dan Cimarga yang hanya memiliki 1 titik potensi longsor. Dengan nilai koherensi citra diperoleh poligon area (zona) longsor yang dilakukan di Kecamatan Lebakgedong dan Kecamatan Cikulur. Berdasarkan karakteristik anatomi longsor, Kecamatan Lebakgedong menunjukkan bahwa poligon di Desa Banjarsari memiliki jenis longsor runtuhan (fall) dan Desa Banjaririgasi memiliki tipe aliran (flow). Sementara, Kecamatan Cikulur memiliki tipe longsor rayapan (creep). Analisis kecepatan pergerakan tanah di Kabupaten Lebak menunjukkan bahwa kecepatan deplesi pada tanah tertinggi di Kabupaten Lebak mencapai -110 mm/tahun.