📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPERAN PEMBELAJARAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENGETAHUAN DALAM MENDORONG KINERJA ESG: STUDI KASUS PADA KONGLOMERASI JASA ALAT BERAT DI INDONESIA
Bagi perusahaan multi-entitas terutama pada sektor dengan risiko operasional, lingkungan, dan keselamatan kerja yang tinggi, kinerja ESG menjadi salah satu tolak ukur penting dalam memastikan keberlanjutan bisnis. Dalam konteks konglomerasi, tantangan utama dalam mencapai kinerja ESG yang baik secara konsisten terletak pada kemampuan organisasi dalam menerjemahkan arahan ESG di berbagai entitas dengan karakter bisnis yang berbeda. PT United Tractors Tbk (UT), sebagai korporasi multi-entitas yang menjalankan operasi melalui anak usaha lintas sektor, juga menghadapi tantangan yang serupa. Sustainability Index, yang menjadi indikator internal Grup UT dalam menilai kinerja ESG, menunjukkan bahwa klaster non-coal mining pada tahun 2024 mencapai 110,43%, lebih rendah dari target manajemen sebesar 125%. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya heterogenitas kinerja ESG antar entitas, meskipun Grup UT telah memiliki struktur tata kelola ESG, cascading KPI, dan mekanisme pelaporan berjenjang dari tingkat operasional ke tingkat holding. Oleh karena itu, penelitian ini melihat performance gap bukan hanya sebagai persoalan capaian angka, tetapi sebagai indikasi adanya perbedaan mekanisme internal dalam mengubah pembelajaran ESG menjadi praktik yang konsisten. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana mekanisme Organizational Learning (OL) dan Knowledge Management (KM) membentuk heterogenitas kinerja ESG, sekaligus mengidentifikasi mekanisme internal yang menjelaskan persistensi gap antar entitas. Dalam penelitian ini, KM diposisikan sebagai mekanisme internal yang mengkonversi pembelajaran organisasi menjadi pengetahuan yang dapat disimpan, dicari, digunakan ulang, ditransfer, dan diperbarui. Studi ini menggunakan pendekatan qualitative single embedded case study pada tiga unit analisis sebagai representative analytical contrast, yaitu UT Holding sebagai fungsi tata kelola korporat, UTCM sebagai business unit operasional single-entity dengan ESG maturity yang relatif matang, dan PT Anindita Multi Industri (PT AMI; nama disamarkan untuk menjaga kerahasiaan) sebagai sub-holding multi-entity dengan portofolio yang heterogen. Data dikumpulkan melalui semi-structured interviews terhadap tujuh key informants dan review dokumen internal, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis, cross-entity comparison, dan pattern matching terhadap kerangka konseptual OL–KM–ESG. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap perbedaan pola pembelajaran, pengelolaan pengetahuan, dan praktik ESG pada level korporat maupun operasional secara lebih utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola ESG dan KPI embedding di UT Group sudah relatif kuat, tetapi pembelajaran ESG belum secara konsisten dikonversi menjadi reusable organizational knowledge. Akar masalah ini termanifestasi dalam empat bentuk yang saling memperkuat, yaitu Vision-Internalization Asymmetry, Person-Dependent Capability, Knowledge Codification Gap, dan Cross-Entity Connectivity Gap. Knowledge Codification Gap diidentifikasi sebagai primary intervention lever karena menjelaskan mengapa pembelajaran, praktik baik, dan pengalaman korektif belum dapat direplikasi secara sistematis lintas entitas. Sebagai solusi bisnis, penelitian ini mengusulkan ESG Learning-to-Practice Mechanism dengan Codification Core sebagai engine utama. Mekanisme ini dijalankan melalui lima operating modules, yaitu Learning-to-Standard Pipeline, ESG Knowledge Registry, Cross-Entity Learning Forum, Structured Handover Protocol, dan Ownership and Refresh Routine. Solusi ini dirancang sebagai enabler-level intervention untuk memperkuat rutinitas ESG yang sudah ada, bukan membentuk layer tata kelola baru. Kontribusi penelitian ini terletak pada penjelasan empiris mengenai bagaimana OL dan KM bekerja dalam konteks ESG pada konglomerasi jasa alat berat di Indonesia, serta pada penempatan knowledge codification sebagai lever spesifik dalam hubungan OL–KM–ESG. Penelitian ini menggunakan selected entities sebagai representative analytical contrast, sehingga temuan ditujukan untuk analytical generalization, bukan statistical generalization.
KINERJA SISTEM AKUISISI DATA ASTROFISIKA OZT-ALTS OBSERVATORIUM ASTRONOMI ITERA LAMPUNG
Sistem akuisisi data astrofisika teleskop OZT-ALTS (Ofyar Zainuddin Tamin - Astelco Lunar Telescope System) di Observatorium Astronomi ITERA (OAIL) Lampung telah dievaluasi kinerjanya melalui tiga pendekatan terintegrasi: karakterisasi detektor secara in situ, pengujian kualitas optik dengan metode Hartmann, dan pemodelan kinerja astronomis berbasis Signal-to-Noise Ratio (SNR). Detektor yang digunakan adalah kamera CMOS ZWO ASI533MC Pro (sensor Sony IMX533) yang dikarakterisasi pada variasi konfigurasi gain mengacu pada standar Abbott (1995) dan European Machine Vision Association (2021). Hasil karakterisasi detektor pada konfigurasi gain 100 menunjukkan sistem gain ???? = 0,2568 ?????/????????????, read-out noise ???????????????????? = 1,487 ????? ????????????, dark current ???? = 0,0637 ?????/ ????/???????????? pada suhu 0°C, Non-Linearitas maksimum ???????????????????? = 1,92%, full-well capacity ? ????? = 12.495 ?????, Photo Response Non-Uniformity (PRNU) piksel murni ???????? = 1,072%, dan Dynamic Range ???????? = 78,49 ???????? atau ~13,04 ???????????????? (berselisih hanya 0,56 stop dari spesifikasi pabrikan). Analisis stabilitas temporal bias menunjukkan 95% konfigurasi gain (0–295) memenuhi seluruh kriteria EMVA (2021). Pengujian kualitas optik dengan metode Hartmann menghasilkan Hartmann Test Constant ???????????? = 0,5095", wavefront error ???????????????????????? = 0,0235????, dan Strehl ratio ???? = 0,9785, mengklasifikasikan sistem optik OZT-ALTS sebagai difraksi-terbatas dengan margin lebih dari tiga kali lipat di atas kriteria Maréchal (????/14). Depth of focus terukur sebesar ±66,3 ?m (±31,6 steps focuser), dan analisis encircled energy menghasilkan ? ?????80 = 0,646? (model Airy) dan 0,751? (model King–Moffat) yang memperhitungkan pengaruh seeing. Pemodelan kinerja astronomis berbasis SNR menggunakan parameter detektor hasil karakterisasi in situ menghasilkan limiting magnitude ??????? = 18,43 ???????????? (???????????? ? 5, ???? = 300 ????, langit gelap, filter UV-IR Cut), dengan rentang 16,82–19,47 mag bergantung pada waktu eksposur dan kecerahan langit. Analisis kontribusi noise pada kondisi pengamatan riil mengidentifikasi dark current sebagai komponen dominan (65,0% varians total), konsekuensi dari akumulasi termal di lingkungan tropis Lampung. Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa dark current merupakan parameter terkritis (??????????? hingga +0,67 mag apabila dikurangi), diikuti oleh potensi peningkatan dari perbaikan seeing (??????????? hingga +1,54 mag pada full widht at half maximum 0,5 arcsec). Berdasarkan seluruh hasil tersebut, konfigurasi gain 100 dikonfirmasi sebagai konfigurasi referensi optimal dengan strategi sub-eksposur ?300 s dan stacking untuk objek redup. Program pengamatan yang paling sesuai dengan kapabilitas sistem mencakup fotometri bintang variabel, kurva cahaya asteroid Near-Earth Object (NEO), transit eksoplanet, dan monitoring Active Galactic Nucleus (AGN). Optimasi sistem pendinginan Thermo Electric Cooler (TEC) untuk menurunkan suhu sensor ke ?10°C atau lebih rendah diidentifikasi sebagai intervensi tunggal dengan dampak terbesar terhadap kinerja sistem, berpotensi meningkatkan m??? sebesar +0,3 hingga +0,7 mag.
FABRIKASI MATERIAL FOTOKATALIS BERBASIS KOMPOSIT PVA/PANI/FE-DOPED ZNO UNTUK DEGRADASI TETRASIKLIN DI BAWAH CAHAYA TAMPAK
Pencemaran air oleh polutan antibiotik, khususnya tetrasiklin, telah menjadi isu genting dalam skala global. Pendekatan konvensional melalui metode fisik dan biologis memiliki kelemahan seperti hanya mampu memisahkan polutan dari air tanpa mendegradasinya serta perlu pH dan suhu kerja terkontrol. Dalam rangka mengatasi kekurangan ini, diperkenalkan metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) yang menawarkan konsep oksidasi polutan oleh spesies radikal oksidatif dengan bantuan cahaya dan material fotokatalis secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk membuat fotokatalis berbentuk serbuk PANI/Fe-doped ZnO dan film PVA/PANI/Fe-doped ZnO berbasis zinc ash untuk mendegradasi tetrasiklin dengan bantuan cahaya tampak. Prekursor ZnO diekstraksi dari zinc ash dengan menggunakan metode hidrometalurgi dan presipitasi. Kemudian, komposit PANI/ Fe-doped ZnO disintesis menggunakan metode polimerisasi in-situ. Selanjutnya, film komposit PVA/PANI/Fe-doped ZnO difabrikasi menggunakan metode dropcasting. Hasil karakterisasi XRD memvalidasi keberadaan struktur ZnO wurtzite dan NaCl dalam sampel zinc ash dan PANI/Fe-doped ZnO. Analisis XRF mengonfirmasi keberadaan unsur Zn sebagai unsur penyusun utama dan terdapat unsur Fe serta pengotor lain dalam konsentrasi yang ditemukan lebih kecil pada pH 10 dibanding pH 11. Selanjutnya, uji degradasi fotokatalisis tetrasiklin oleh sampel PANI/Fe-doped ZnO menunjukkan degradasi di bawah cahaya tampak untuk berbagai variasi massa dalam rentang 31,99% hingga 38,36%, sedangkan pada sampel Fe-doped ZnO berkisar antara 71,59% hingga 77,99%. Diperoleh kesimpulan bahwa Fe-doped ZnO berbasis zinc ash berhasil disintesis dan menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam mengurai tetrasiklin dengan menggunakan mekanisme AOPs.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT ( EUCHEUMA COTTONII ) DENGAN SISTEM RESIRKULASI BERBASIS DARAT
Rumput laut merupakan komoditas maritim strategis di Indonesia dengan nilai ekonomi yang tinggi, terutama dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Salah satu spesies yang banyak dibudidayakan adalah Eucheuma cottonii yang menjadi sumber utama penghasil karagenan. Namun, kendala dalam sistem budidaya konvensional di perairan terbuka menyebabkan ketidakstabilan produksi dan keberlanjutan pasokan rumput laut. Pendekatan budidaya dengan sistem resirkulasi berbasis darat dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk meningkatkan stabilitas produksi rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi perubahan pertumbuhan dan membuat pemodelan matematis pertumbuhan Eucheuma cottonii yang dibudidayakan dengan sistem resirkulasi berbasis darat. Penelitian ini dilakukan di Screen House B3 Institut Teknologi Bandung, Kampus Jatinangor, selama 64 hari. Budidaya dilakukan menggunakan sistem resirkulasi yang terdiri dari rangkaian tangki, yang terhubung dengan sistem penyaring di dalam container box . Bibit Eucheuma cottonii yang digunakan berasal dari hasil budidaya petani di lampung yang diseragamkan bobot awal nya sebesar ±50 g. Pengukuran pertumbuhan dilakukan melalui pengukuran bobot basah dan bobot kering. Model pertumbuhan matematis diuji dengan pendekatan curve fitting menggunakan model eksponensial, logistik, dan gompertz melalui MATLAB Online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 64 hari pemeliharaan, bobot basah rata-rata meningkat dari 50,05 g menjadi 145,42 g, sementara bobot kering meningkat dari 4,62 g menjadi 13,33 g. Nilai Growth Rate (GR) bobot basah tercatat sebesar 1,490 g/hari dengan Specific Growth Rate (SGR) 1,667%/hari, sedangkan GR bobot kering sebesar 0,136 g/hari dengan SGR 1,655%/hari. Pada penelitian ini pertumbuhan berlangsung melalui beberapa fase, yaitu fase adaptasi awal (0–12 HST), fase pertumbuhan aktif (12–20 HST), penurunan sementara (20–24 HST) yang dipicu oleh tekanan epifit, pertumbuhan aktif kembali secara landai (24–44 HST), dan fase pemulihan aktif lanjutan (48–64 HST). Melalui analisis Goodness of Fit , model Gompertz terbukti menjadi model terbaik secara statistik untuk menggambarkan pola pertumbuhan bobot basah maupun bobot kering E. cottonii , dengan nilai R² tertinggi untuk bobot basah (98,34%) dan bobot kering (98,81%) dibandingkan model logistik dan eksponensial, serta nilai SSE dan RMSE terendah untuk bobot basah (247,25 ; 4,36) dan bobot kering (1,51 ; 0,34) dibandingkan model logistik dan eksponensial. Persamaan untuk model pertumbuhan bobot basah dan bobot kering berturut-turut adalah f(x) = 38,3819 + (1018000 - 38,3819) .exp (-exp ( - 0,0660.(x - 35,1488))) dan f (x) = 3,6433 + (151450 - 3,6433) .exp (-exp (-0,0680. (x- 34,9020))). Sistem resirkulasi berbasis darat menunjukkan hasil yang positif dalam mendukung pertumbuhan Eucheuma cottonii , meskipun masih terdapat gangguan seperti adanya tekanan epifit yang mempengaruhi hasilnya. Sehingga, sistem ini masih belum mencapai hasil yang setara dengan metode konvensional. Dengan pengelolaan yang lebih baik terhadap gangguan biologis dan lingkungan, sistem ini berpotensi untuk lebih optimal di masa depan.
PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA PENGENALAN TUMBUHAN ENDEMIK INDONESIA KANTONG SEMAR UNTUK SISWA KELAS 5 SD
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, namun pengetahuan masyarakat, khususnya anak-anak, terhadap tumbuhan endemik masih tergolong rendah. Kantong semar adalah tumbuhan karnivora yang memiliki morfologi dan mekanisme penangkapan serangga yang menarik untuk dipelajari, namun materi mengenai tumbuhan ini belum banyak ditemukan dalam media pembelajaran anak. Penelitian ini berfokus pada perancangan buku ilustrasi interaktif sebagai media pengenalan tumbuhan endemik Indonesia, yaitu kantong semar (Nepenthes), bagi siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Kantong semar dikenal sebagai tumbuhan karnivora yang unik, tetapi keberadaannya belum banyak dipahami secara mendalam oleh siswa sekolah dasar, baik dari segi morfologi, habitat, maupun perannya dalam ekosistem. Kurangnya media edukasi yang menarik dan sesuai dengan karakteristik anak menjadi salah satu penyebab rendahnya minat dan pemahaman terhadap tumbuhan tersebut. Oleh karena itu, perancangan buku ilustrasi interaktif dengan mekanisme lift the flap dipilih sebagai solusi untuk menyampaikan informasi secara edukatif sekaligus menyenangkan. Metode perancangan yang digunakan adalah design thinking yang meliputi tahap empati, perumusan masalah, pengembangan ide, pembuatan prototipe, dan pengujian. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan ahli kantong semar, serta wawancara dan survei kepada target audiens. Hasil perancangan menunjukkan bahwa buku ilustrasi interaktif mampu meningkatkan ketertarikan, pemahaman, dan keterlibatan siswa dalam mempelajari tumbuhan kantong semar. Dengan penyajian visual yang menarik, bahasa yang sederhana, serta elemen interaktif, buku ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran pendukung yang efektif, sekaligus menumbuhkan kesadaran sejak dini terhadap pentingnya pelestarian tumbuhan endemik Indonesia.
MENDEFINISIKAN PENDAPATAN HIDUP LAYAK BAGI PETANI KAKAO DALAM KORELASINYA DENGAN KONTINUITAS PRODUKSI KAKAO DI INDONESIA
Industri kakao menghadapi ketidakstabilan rantai pasok karena petani kesulitan untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Studi kualitatif ini meneliti tolak ukur pendapatan hidup layak di Indonesia dengan mengidentifikasi harga minimum yang dapat diterima dan harga ideal bagi petani. Dengan menggunakan metode studi kasus ganda Robert Yin dan Kerangka Penghidupan Berkelanjutan, kami mengamati realitas ekonomi rumah tangga petani di sentra produksi Lampung dan Sulawesi Barat. Analisis lintas kasus menunjukkan bahwa ketika harga kakao turun di bawah ambang batas, petani terpaksa berada dalam mode bertahan hidup. Selanjutnya, tesis ini mengevaluasi melalui lensa bisnis strategis, dengan melihat kesulitan ekonomi petani sebagai kerentanan kritis yang secara langsung berdampak pada stabilitas rantai pasok industri kakao saat ini dan jangka panjang. Model bisnis yang diusulkan memposisikan industri kakao sebagai mentor ekosistem yang menerapkan keahlian agronomi teknis dan peningkatan kapasitas pasca panen secara langsung kepada koperasi lokal dan kelompok tani untuk menstandarisasi kualitas biji kakao. Dengan mengubah koperasi lokal menjadi pusat kualitas yang terpusat dan bernilai tambah, petani dapat secara mandiri memperoleh harga pasar yang lebih tinggi berdasarkan peningkatan kualitas biji kakao. Pendekatan praktis yang didorong oleh tim ahli ini memberikan jalur realistis untuk memenuhi persyaratan kebutuhan hidup layak, meniadakan siklus menunda perawatan kebun, dan mengamankan ketahanan pasokan jangka panjang untuk industri kakao nasional. Studi ini mengidentifikasi bahwa menurut petani kakao Indonesia, Rp 70.000 – 75.000/ Kg biji kakao kering merupakan harga ideal, sedangkan Rp 25.000 - 30.000/ Kg biji kering kakao merupakan harga minimum yang masih diterima untuk mempertahankan produksi. Data dianalisis menggunakan kerangka kerja pencocokan pola dan lingkaran kausal, dengan ambang batas harga yang diperoleh dari median untuk menetralkan outlier ekstrem dan mencerminkan realitas yang sebenarnya.
PENGEMBANGAN DAN EVALUASI SISTEM PENGUKURAN TRANSEPITHELIAL ELECTRICAL RESISTANCE SEDERHANA BERBASIS ARDUINO UNTUK KARAKTERISASI INTEGRITAS BARIER SEL IN VITRO
Integritas barier sel epitel merupakan parameter fisiologis penting dalam berbagai studi in vitro, termasuk penelitian farmakologi, toksikologi, dan pemodelan jaringan. Pengukuran Transepithelial Electrical Resistance (TEER) merupakan metode non-destruktif yang banyak digunakan untuk mengevaluasi fungsi barier sel, karena mencerminkan hambatan listrik yang dihasilkan oleh tight junction pada monolayer sel. Meskipun instrumen TEER komersial tersedia, harganya yang tinggi menjadi hambatan bagi banyak laboratorium dengan sumber daya terbatas. Penelitian ini bertujuan membuktikan konsep (proof of concept) bahwa karakterisasi integritas barier sel in vitro dapat dilakukan menggunakan perangkat pengukuran sederhana berbasis mikrokontroler Arduino. Sistem yang dikembangkan menggunakan prinsip pembagi tegangan dengan eksitasi bipolar terpulsa berfrekuensi rendah, dua elektroda platina (Pt) pada sistem dua kompartemen berbasis insert Transwell, dan antarmuka berbasis web untuk akuisisi serta pemrosesan data. Penekanan diletakkan pada kemampuan sistem mendeteksi perubahan relatif kondisi barier dan pada kesesuaian pembacaan terhadap instrumen TEER komersial yang tersedia. Validasi sistem dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, kalibrasi terhadap beban resistif standar untuk memverifikasi linearitas respons sistem pada rentang resistansi yang relevan secara biologis. Kedua, pengujian pada kultur sel Caco-2 dengan membandingkan nilai TEER yang diperoleh terhadap instrumen komersial Millicell sebagai cross-check kualitatif untuk menilai konsistensi pembacaan sistem.
PENGEMBANGAN STANDAR UKURAN BLUS WANITA DEWASA MELALUI PENDEKATAN ANTROPOMETRI DENGAN PERTIMBANGAN BENTUK TUBUH
Pertumbuhan industri pakaian jadi di Indonesia dihadapkan pada tingginya frekuensi keluhan konsumen terkait ketidaksesuaian ukuran pakaian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa standar ukuran pakaian yang tersedia, termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI), belum sepenuhnya merepresentasikan keberagaman karakteristik antropometri maupun mempertimbangkan variasi bentuk tubuh wanita dewasa di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan standar ukuran blus wanita dewasa berdasarkan karakteristik antropometri dengan pertimbangan bentuk tubuh. Penelitian ini menggunakan 1.740 data antropometri wanita dewasa yang diperoleh dari arsip pengukuran pelanggan sebuah studio jahit pakaian wanita. Data terdiri atas sembilan dimensi antropometri, yaitu panjang punggung, lebar punggung, lingkar dada, lebar dada, bahu, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, lingkar pinggul atas, dan lingkar pinggul. Bentuk tubuh diidentifikasi menggunakan metode Female Figure Identification Technique (FFIT), kemudian dipilih tiga bentuk tubuh dominan, yaitu rectangle, bottom hourglass, dan triangle, untuk dikembangkan menjadi standar ukuran awal menggunakan algoritma K-Means Clustering. Selanjutnya dilakukan uji Kruskal-Wallis dan uji lanjut Dunn untuk mengevaluasi perbedaan dimensi antropometri antar bentuk tubuh dominan. Hasil pengujian statistik tersebut kemudian digunakan bersama distribusi bentuk tubuh sebagai dasar penyusunan satu standar ukuran akhir. Hasil penelitian menghasilkan standar ukuran blus wanita dewasa yang terdiri atas tiga ukuran, yaitu S, M, dan L, dengan lingkar dada sebagai dimensi utama. Standar ukuran yang dihasilkan mempertimbangkan distribusi bentuk tubuh pada sampel, dengan sebagian besar dimensi mengacu pada karakteristik bentuk tubuh rectangle (46% sampel penelitian), sedangkan dimensi lingkar pinggul mengacu pada karakteristik bentuk tubuh bottom hourglass (32% sampel penelitian) untuk mengakomodasi variasi proporsi pinggul. Dengan demikian, standar ukuran yang dihasilkan tidak hanya mempertimbangkan karakteristik antropometri, tetapi juga variasi bentuk tubuh wanita dewasa sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesesuaian ukuran blus.
OPTIMASI PRODUKSI ASAM LAKTAT OLEH LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS DENGAN VARIASI KONSENTRASI GLUKOSA DALAM MEDIUM M9 MODIFIKASI
Asam laktat merupakan asam organik yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik, dengan permintaan global yang terus meningkat. Produksi asam laktat secara komersial umumnya dilakukan melalui fermentasi menggunakan bakteri asam laktat, seperti Lactobacillus acidophilus, karena mampu menghasilkan produk dengan kemurnian tinggi. Namun, penggunaan medium komersial seperti MRS masih menjadi kendala akibat biaya yang relatif tinggi, sehingga diperlukan alternatif medium yang lebih ekonomis, seperti medium M9 termodifikasi.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi glukosa dalam medium M9 termodifikasi terhadap produksi asam laktat oleh Lactobacillus acidophilus, mengidentifikasi kondisi optimum fermentasi, serta menentukan parameter kinetika pertumbuhan dan perolehan produk. Fermentasi dilakukan selama 48 jam pada suhu 37°C tanpa agitasi, dengan konsentrasi inokulum awal 2% (v/v) (105 CFU/mL), pH awal 6,2, serta sumber nitrogen berupa yeast extract sebesar 1,394 g/L. Variasi konsentrasi glukosa yang digunakan adalah 5, 10, 20, dan 40 g/L dengan metode One Variable at a Time (OVAT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi glukosa cenderung menurunkan kinerja fermentasi. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi glukosa 5 g/L dengan biomassa maksimum sebesar 1,48 g/L dan yield produk terhadap substrat (Yp/s) sebesar 0,993. Parameter kinetika pada kondisi optimum menunjukkan laju pertumbuhan biomassa sebesar 0,031 g/L·jam dan laju konsumsi substrat sebesar 0,067 g/L·jam. Selain itu, diperoleh total asam sebesar 0,116 M dan konsentrasi asam laktat sebesar 0,097 M, dengan yield biomassa terhadap substrat (Yx/s) sebesar 0,1686 serta yield produk terhadap biomassa (Yp/x) sebesar 5,892.Secara keseluruhan, variasi konsentrasi glukosa berpengaruh terhadap produksi asam laktat, di mana konsentrasi rendah memberikan kinerja fermentasi yang lebih optimal, menunjukkan tidak terjadinya inhibisi substrat dan tercapainya keseimbangan antara pertumbuhan sel dan pembentukan produk.
PERBANDINGAN KINERJA DAN OPTIMASI DESAIN INJEKSI POLIMER SALINITAS RENDAH MENGGUNAKAN PEMODELAN RESERVOIR NUMERIK
Waterflooding in mature reservoirs is usually limited by unfavorable mobility ratios, early water breakthroughs, and bypassed oil, leaving much of the oil in place. Low Salinity Polymer Flooding (LSPF) is a hybrid enhanced oil recovery method that combines microscopic displacement improvement from low salinity with macroscopic sweep improvement from polymer mobility control. However, systematic guidance on the optimal combination of injection water salinity, polymer concentration, and injection rate at the field model scale is still lacking. So, this study compares four injection scenarios and determines the best LSPF design. Numerical simulation was conducted in tNavigator, representing the low salinity effect through salinity dependent relative permeability shifting and the polymer effect through viscosity and mobility control functions. Waterflooding, low salinity water injection (LSWI), polymer flooding, and LSPF were simulated on the same line drive model, with sensitivities on salinity (35,000, 5,000, 120 ppm), polymer concentration at 5.75 cP (2,000, 1,250, 450 ppm), and injection rate (200 to 500 STBD). LSPF yielded the highest recovery factor of 29.68% to 51.11% with cumulative production of 4.89 to 8.42 MMSTB, exceeding waterflooding (25.31% to 34.66%), LSWI (29.01% to 49.17%), and polymer flooding (27.44% to 40.79%). An injection rate of 300 STBD was selected because the 400 and 500 STBD cases at 120 ppm showed injection rate decline and plugging signs from adsorbed polymer accumulation. At this rate, the 120 ppm case with 450 ppm polymer achieved a 38.97% recovery factor, 6.42 MMSTB cumulative production, and delayed water breakthrough relative to waterflooding, and was therefore determined as the best LSPF design
SIMULASI PERMAINAN POKéMON VGC REGULATION SET I DENGAN PENDEKATAN TEORI PERMAINAN
Dengan kondisi Electronic Sports (disingkat E-sports) yang terus berkembang tiap tahunnya, diperlukan cara yang lebih efisien untuk membangun tim kompetitif. Perancangan simulasi permainan turnamen Pokémon VGC dapat memudahkan pengembang game untuk mengembangkan game dan memudahkan pemain profesional dalam membangun tim untuk turnamen. Mempertimbangkan semua faktor pada permainan seperti tipe, kegunaan, kemampuan, jenis serangan, kondisi umum, dan cara penggunaan Pokémon, dikelompokkan tiga dataset yang diperlukan untuk menjalankan simulasi. Simulasi dilakukan dengan mengolah tiga dataset dan memetakan aksi yang paling menguntungkan untuk setiap Pokémon pada setiap giliran. Pada setiap giliran dievaluasi HP setiap Pokémon dan setiap gerakan yang dilakukan, proses ini dilakukan sampai permainan selesai. Pada akhir simulasi, hasil HP historis akan dirangkum dalam bentuk diagram garis, yang dapat memudahkan pembaca dalam menarik kesimpulan mengenai fungsi dan keunggulan dari setiap Pokémon. Simulasi yang dihasilkan dapat menggambarkan permainan VGC secara umum, dengan kekurangan beberapa faktor seperti EV, IV, dan Tera Type.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA MASSA DAN ENERGI BUDIDAYA PAKCOY (BRASSICA RAPA SUBSP. CHINESIS.) DENGAN MEDIA TANAM KOMBINASI KOMPOS LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OSTREATUS) DAN PUPUK ORGANIK CAIR
Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan, hasil biomassa, serta neraca massa dan energi budidaya pakcoy (Brassica rapa subsp. chinensis) pada media tanam berbasis kompos limbah baglog jamur tiram dengan aplikasi pupuk organik cair (POC). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap nonfaktorial dengan empat perlakuan dan enam ulangan, yaitu P0: tanah + POC; P1: kompos baglog 100% + POC; P2: kompos baglog 60% + tanah 40% + POC; dan P3: kompos baglog 40% + tanah 60% + POC. Data dianalisis menggunakan one-way ANOVA dan DMRT pada taraf 5%, sedangkan neraca massa dan energi dihitung per polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P0 menghasilkan pertumbuhan dan biomassa tertinggi, dengan tinggi tanaman 24,77 cm, jumlah daun 13,89 helai, luas daun 73,94 cm2, bobot segar 69,50 g, bobot kering 10,09 g, dan nilai SPAD 44,45. Di antara perlakuan berbasis kompos baglog, P3 memberikan hasil paling mendekati kontrol. Total input massa seluruh perlakuan sebesar 17.750,001 g/polibag dan total input energi sebesar 45.145,568 kJ/polibag. Kompos baglog lebih sesuai digunakan sebagai campuran media tanam daripada sebagai media tunggal.
PERANCANGAN ORGANISASI PT RAVELWARE TECHNOLOGY INDONESIA DALAM MENDUKUNG STRATEGI PERUSAHAAN MENJADI PRODUSEN GRAPHENE
PT Ravelware Technology Indonesia merupakan perusahaan start-up yang bergerak di bidang solusi Internet of Things (IoT) dan rekayasa nanomaterial, tetapi perusahaan melihat adanya peluang pasar terkait dengan material graphene. Oleh karena itu, perusahaan melakukan riset untuk menghasilkan metode dan mesin pengolahan limbah plastik dan FABA (fly ash and bottom ash) menjadi material green graphene. Riset yang dilakukan PT Ravelware Technology Indonesia menjadikan perusahaan sebagai produsen green graphene pertama di Indonesia dengan harga pokok penjualan terendah secara global. Perubahan model bisnis ini menuntut adanya peningkatan kapabilitas organisasi serta penyesuaian struktur, sistem, sumber daya manusia, dan budaya kerja agar perusahaan mampu beroperasi secara efektif sebagai perusahaan yang menjalankan lini manufaktur. Oleh karena itu, diperlukan suatu perancangan organisasi sehingga struktur yang dimiliki oleh perusahaan dapat selaras dengan strategi yang menjadi arah pengembangan perusahaan. Metodologi penelitian mengacu pada Model STAR sebagai kerangka besar penelitian yang akan didetailkan lebih lanjut menjadi tahapan sistematis perancagan organisasi. Perancangan organisasi dimulai dengan menentukan tujuan organisasi yang lebih menekankan pada efektivitas dan efisiensi. Setelah itu, dilakukan identifikasi kondisi internal perusahaan dengan menggunakan analisis rantai nilai, serta identifikasi lingkungan eksternal dengan kerangka yang dikembangkan oleh Daft, menghasilkan 7 poin kelebihan, 5 poin kelemahan, 8 poin peluang, serta 6 poin ancaman. Berdasarkan kondisi internal dan eksternal perusahaan, dirumuskan strategi korporasi dan strategi bisnis prioritas PT Ravelware Technology Indonesia dengan menggunakan QSPM yang bobot setiap faktornya dihasilkan menggunakan AHP, menghasilkan strategi intensif sebagai strategi korporasi dan strategi bestvalue sebagai strategi bisnis perusahaan. Selanjutnya, dirumuskan strategi fungsional menggunakan matriks TOWS yang menghasilkan 19 alternatif strategi fungsional yang diagregasikan menjadi 6 strategi fungsional yang relevan dengan kebutuhan perusahaan terkait dengan pengembangan produk graphene. Strategi fungsional selanjutnya dipetakan menjadi kapabilitas organisasi yang dibutuhkan perusahaan atau kriteria desain organisasi, menghasilkan 5 departemen, dan 17 divisi dengan keterangan 6 divisi usulan baru dan 11 divisi aktual perusahaan. Selanjutnya, setiap divisi dipetakan proses bisnis yang relevan dengan kerangka Process Classification Framework cross-industry. Terakhir, ditentukan pihak penanggung jawab dari setiap aktivitas, serta key performance indicators untuk mengontrol setiap aktivitas dapat mendukung ketercapaian strategi perusahaan.
DYNAMIC MODEL DEVELOPMENT OF A COAL?FIRED POWER PLANT WITH GAS TURBINE REPOWERING FOR FLEXIBILITY OPERATION
Meningkatnya energi terbarukan yang intermiten menjadikan dekarbonisasi sektor kelistrikan sambil menjaga keandalan jaringan sebagai prioritas yang mendesak. Hal ini menuntut fleksibilitas yang lebih tinggi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yang secara tradisional dirancang untuk operasi beban dasar yang stabil dan hanya mampu melakukan ramp sekitar 1%/menit di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan dan memvalidasi model dinamik PLTU subkritis, menganalisis perilaku transiennya, dan mengevaluasi pengaruh repowering pemanasan air umpan dengan turbin gas (TG) terhadap fleksibilitas ramp-up-nya. Repowering TG merupakan retrofit yang memanfaatkan panas gas buang TG untuk memanaskan air umpan sekaligus menambah keluaran listrik. Model dinamik Plant Tanjung Jati B, PLTU subkritis 695,7 MW, dikembangkan dalam Aspen HYSYS dan divalidasi terhadap data operasi nyata, dengan mereproduksi variabel utama pada rata-rata galat di bawah 10%. Model TG berbasis Siemens SGT5-2000E, diverifikasi terhadap spesifikasi pabrikan, diintegrasikan dengan model PLTU melalui kopling panas air umpan dan keluaran listrik. Plant baseline (Skenario A) dan plant dengan repowering (Skenario B) kemudian dibandingkan pada variasi fraksi beban TG, waktu penghentian TG, dan beban awal PLTU. Plant dengan repowering mampu mengikuti permintaan ramp 8%/menit, melampaui target fleksibilitas 6%/menit yang tidak dapat dipenuhi oleh plant baseline. Manfaat terbesar diperoleh pada ramp beban rendah, dengan menurunkan rata-rata galat beban dari 19,56% menjadi 2,29% pada beban awal 40%, dengan manfaat kecil pada beban awal 80%. Waktu penghentian TG optimal meningkat seiring beban awal, bukan bernilai tetap. Repowering TG memperbaiki akurasi pengikutan beban dan mengurangi kedalaman penurunan tekanan uap utama, dengan biaya sekunder berupa waktu penetapan tekanan yang lebih lama.
PEMANTAUAN ESP CERDAS MENGGUNAKAN PERAMALAN SENSOR MULTI-MODEL, ESTIMASI LAJU ALIR BERBASIS FISIKA, DAN KLASIFIKASI KEGAGALAN DINI BERBASIS MAJORITY VOTING UNTUK PEMELIHARAAN PREDIKTIF
Electrical submersible pumps (ESPs) play a significant role as artificial lift systems in the oil and gas industry, installed in over 33% of operational wells and contributing approximately 60% of global oil production. Despite their widespread use, ESP systems are highly vulnerable to unplanned failures caused by electrical faults, mechanical degradation, and gas interference, often leading to costly production losses and workover operations. Conventional reactive and fixed interval preventive maintenance strategies are insufficient for early fault detection, motivating the development of a more proactive, data driven predictive maintenance approach. This study proposes an AI-based framework for early failure detection of ESP systems integrating downhole sensor forecasting, physics based virtual flow metering, multi classifier ensemble failure prediction, and a decision support dashboard. Three deep learning architectures Long Short Term Memory (LSTM), Bidirectional LSTM (BiLSTM), and Gated Recurrent Unit (GRU) were evaluated to identify the most suitable model for each of six downhole sensor parameters: discharge pressure, intake pressure, intake temperature, motor temperature, average ampere, and vibration. Data from seventeen ESP-equipped wells, recorded at ten minute intervals from April to July 2020, were used for model development and validation. BiLSTM achieved the best forecasting performance for four parameters, while LSTM and GRU were optimal for discharge pressure and vibration, respectively. All selected models produced Mean Absolute Percentage Error (MAPE) values below 10%, confirming highly accurate three day ahead sensor predictions. For wells with incomplete production data, liquid flow rates were estimated using the Power Equilibrium Equation, yielding a deviation of only 5.56% against available well test measurements. For failure classification, five supervised learning algorithms Logistic Regression, Random Forest, Support Vector Machine, K-Nearest Neighbor, and Decision Tree were trained on slope based sensor features with SMOTE oversampling and Optuna hyperparameter optimization. Random Forest and Decision Tree achieved the highest test accuracy of 99.09%, and an ensemble majority voting mechanism was applied to consolidate predictions across all classifiers. This framework detects ESP operating conditions in ten minute intervals over three days and generates prescriptive maintenance recommendations for each predicted failure mode. The key novelty of this study lies in integrating the comparative evaluation and selection of the most suitable deep learning architecture for each sensor, physics based liquid flow rate estimation, and majority voting failure classification into a unified decision support dashboard, advancing beyond previous single model approaches by providing engineers with early warnings and actionable maintenance guidance up to three days before potential ESP failure.