📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENGEMBANGAN PERANGKAT PENGUKURAN TEKANAN DAN LAJU ALIRAN FLUIDA DALAM PEMBULUH DARAH SEBAGAI SALURAN TERTUTUP DENGAN PROBE KATETER BERBASIS TABUNG PITOT

Tubuh manusia sebagian besar tersusun atas air, dengan kandungan sekitar 70% dari total massa tubuh, yang mengalir melalui aliran darah dalam sistem kardiovaskular. Parameter kondisi aliran, seperti kecepatan aliran dan tekanan merupakan representasi dari kondisi fisiologis seseorang. Kemampuan untuk melakukan pengukuran kondisi aliran dalam pembuluh menjadi kebutuhan dalam pendekatan klinis, baik untuk evaluasi diagnostik ataupun mendukung proses pengambilan keputusan klinis. Pengukuran kondisi aliran lokal secara in situ diperlukan karena kompleksitas dinamika fluida dalam pembuluh perlu untuk dievaluasi secara langsung untuk mendapatkan informasi detail terkait hemodinamika aliran yang sebenarnya. Perangkat pengukuran aliran secara in situ yang tersedia saat ini masih memiliki berbagai keterbatasan, seperti penggunaan komponen elektronik yang diletakkan pada saluran pengukuran yang secara langsung meningkatkan resiko dan tantangan terkait biokompatibilitas. Selain itu, pengukuran dengan perangkat seperti kateter masih terbatas pada pengukuran tekanan statis, dan tidak dapat memberikan informasi profil kecepatan aliran. Pengembangan sistem dengan probe kateter berbasis mekanisme tabung Pitot, memungkinkan pengukuran kondisi aliran secara lokal tanpa menempatkan komponen elektronik di dalam saluran pengukuran. Pada penelitian ini, dilakukan pengembangan sistem pengukuran dengan probe kateter berbasis tabung Pitot untuk mengukur laju aliran lokal dan tekanan statis dalam model pembuluh sebagai saluran tertutup dengan variasi diameter sebesar 6, 7 dan 10 mm yang merepresentasi pembuluh darah arteri berukuran sedang. Sistem pengukuran menggunakan mekanisme tabung Pitot dengan sensor tekanan yang ditempatkan di luar jalur fluida, sehingga tidak memerlukan komponen elektronik di dalam jalur fluida dan kompatibel untuk aplikasi biomedis. Validasi pola aliran dan distribusi tekanan pada sekitar probe, evaluasi pengaruh diameter probe dan diameter model, serta penentuan posisi pengukuran efektif dilakukan dengan simulasi dinamika fluida komputasional. Pengukuran proof-of-concept dilakukan untuk verifikasi mekanisme dan akurasi pengukuran dari sistem yang dikembangkan. Hasil menunjukkan bahwa tekanan dinamik dan kecepatan aliran rata-rata yang terukur menggunakan sistem pengukuran sesuai dengan model teoretis tabung Pitot, dengan koefisien determinasi sebesar 87.36% pada persamaan kalibrasi untuk seluruh diameter model pembuluh. Validasi sistem pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil eksperimen dan simulasi untuk mengevaluasi distribusi kecepatan dan tekanan di sekitar probe tabung Pitot, dan hasil menunjukkan posisi pengukuran efektif pada jarak 1.5 mm di depan permukaan tabung Pitot dengan deviasi kurang dari 10% antara data eksperimen dan simulasi untuk seluruh diameter model. Pengaruh perbedaan ukuran diameter probe dan diameter model terhadap distribusi tekanan dan kecepatan tidak signifikan, sehingga dapat diabaikan terhadap akurasi keseluruhan pengukuran. Melalui pengukuran proof-of- concept sistem pengukuran memberikan akurasi yang baik dalam mengukur volume aliran dengan deviasi kurang dari 20% dibandingkan data referensi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengukuran yang dikembangkan dalam penelitian ini mampu mengukur kondisi aliran intravaskular secara minimal invasif dengan baik serta memiliki potensi untuk diterapkan dalam aplikasi biomedik.

2026
👤 Penulis: Fara Azzahra Dinata
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

IDENTIFIKASI KARAKTERISITIK LAHAN SAWAH DI PULAU JAWA DENGAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED LOGISTICS REGRESSION (GWLR) BERBASISKAN DATA GEOSPASIAL

Pulau Jawa menjadi wilayah yang dianggap strategis dan dikenal sebagai sentra utama dalam produksi padi di Indonesia. Peranannya sangat besar dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Namun, kenyatannya dalam beberapa waktu terakhir lahan sawah yang ada di Pulau Jawa samakin terancam, akibat dari adanya alih fungsi lahan yang masif, pertumbuhan penduduk, serta meluasnya area industrial. Fenomena ini menyebabkan terjadinya penurunan luas sawah produktif dan berakibat pada berkurangnya volume produksi padi sebagai bahan pangan di masa yang mendatang. Kondisi ini harus ditangani dengan langkah bijak, agar dapat mencegah terjadinya keadaan yang tidak diinginkan. Melalui masalah ini dapat disoroti bahwa penting untuk memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberadaan lahan sawah, seperti halnya faktor biofisik. Penelitian terdahulu umumnya menggunakan pendekatan statistik dalam skala global dan berasumsi bahwa hubungan antarvariabel atau faktor-fator bersifat homogen di seluruh wilayah kajiannya. Padahal, jika diperhatikan kembali karakteristik tiap wilayah berbeda-beda seperti Pulau Jawa yang memiliki variasi spasial yang beragam. Hal ini diperlihatkan dari sisi topografi, intensitas curah hujan, maupun kondisi jenis tanahnya. Keberagaman ini memerlukan pendekatan spasial yang mampu menangkap variasi lokal dari tiap faktor secara komprehensif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan menganalisis hubungan spasial antara faktor biofisik dengan keberadaan lahan sawah yang ada di Pulau Jawa dengan metode Geographically Weighted Logistic Regression (GWLR). Metode GWLR melakukan estimasi parameter regresi yang berbeda-beda untuk tiap titik lokasi dengan lebih akurat. Data yang digunakan untuk pendekatan ini terdiri dari variabel dependen berupa lahan bukan sawah bernilai (0) dan lahan sawah bernilai (1), kemudian variabel independen berupa jarak dari jalan, jarak dari sungai, suhu permukaan tanah, curah hujan, slope, aspect, dan jenis tanah. Analisis untuk pendekatan GWLR menggunakan data training berjumlah 500 titik dan data testing berjumlah 200 titik, yang telah memuat nilai dari variabel dependen dan variabel independen serta telah tersebar di wilayah Pulau Jawa. Model GWLR yang mewakili pendekatan skala lokal akan dibandingkan dengan model Binary Logistic Regression (BLR) yang merupakan model global. Hal ini dilakukan agar dapat menilai akurasi dan kemampuan kedua model dalam menangkap variasi spasial. Hasil dari model GWLR menunjukkan akurasi keseluruhan yang lebih baik dibandingkan dengan model BLR. Overall accuracy data testing GWLR sebesar 77%, sedangkan BLR hanya 67%. Selain itu, kappa koefisien model GWLR ada pada good agreement dan model BLR poor agreement. Hal ini memperlihatkan model GWLR lebih mampu mengatasi keberagaman faktor biofisik yang ada. Nilai koefisien, odds ratio, dan p-value juga menunjukkan hasil yang berbeda-beda sehingga membuktikan adanya keberagaman karakteristik spasial yang jelas di antarwilayah. Melalui model GWLR didapatkan variabel signifikan dalam keberadaan lahan sawah berupa jenis tanah dan curah hujan. Hal ini menciptakan tipologi sawah menjadi dua tipe utama, yaitu sawah berbasis jenis tanah (soil-driven) di wilayah barat Pulau Jawa dan sawah berbasis iklim (rainfall-driven) untuk bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Dilihat dari keseluruhan hasil penelitian, didapatkan bahwa penelitian ini menyatakan hubungan antara faktor-faktor biofisik keberadaan lahan sawah di Pulau Jawa memiliki sifat signifikan dan non-stationer secara spasial. Kondisi ini memperjelas tiap wilayah memiliki karakteristik lokal dan berbeda-beda, sehingga jika ingin menyusun suatu kebijakan maupun strategi terkait lahan sawah harus dilakukan secara spesifik pada tiap wilayah dan tidak bisa secara general untuk seluruh wilayah. Pendekatan dengan metode GWLR juga memberikan hasil yang dianggap efektif dalam mengidentifikasi keberagaman karakteristik spasial sehingga memberikan gambaran yang lebih detail terhadap sistem pertanian khususnya untuk padi di Pulau Jawa. Penelitian ini juga memberikan kebaharuan dalam analisis spasial pertanian di Pulau Jawa, dan tidak hanya ikut serta dalam pengembangan metode analisis regresi spasial tetapi dapat menjadi dasar ilmiah dalam menyusun kebijakan terkait pengelolaan dan perlindungan terhadap lahan pertanian yang lebih berkelanjutan. Strategi yang lebih adaptif terhadap kondisi dari biofisik tiap wilayah yang akan dikaji.

2026
👤 Penulis: Ananda Diva Victorya Gunawan
🏷️ Geografika Weighted Logistic Regression (Gwlr) 🏷️ Analisis Pertanian 🏷️ Kecerdasan Buatan

ADSORPSI SENYAWA KETOPROFEN MENGGUNAKAN POLIMER BERCETAKAN MOLEKUL BERBASIS SILIKA TERMODIFIKASI AMINOPROPIL

Obat anti-inflamasi non steroid (NSAID) termasuk kelompok sediaan obat yang banyak ditemukan dalam air lingkungan sebagai pencemaran lingkungan. Limbah obat ini banyak terdeteksi di air permukaan, air tanah, dan efluen instalasi pengolahan air limbah (IPAL). NSAID memberikan efek ekotoksik kronis pada biota akuatik yang berdampak pada krustasea, komposisi spesies dan fungsi ekosistem. Ketoprofen merupakan salah satu NSAID yang ditemukan di perairan yang berasal dari limbah farmasi dan domestik. Ketoprofen di lingkungan air mencapai 3.15 µg/L – 209 µg/L dapat menyebabkan kerusakan ekosistem air, genotoksisitas, dan toksisitas akuatik serta kesehatan manusia. Adsorpsi memiliki beberapa keuntungan untuk menghilangkan ketoprofen dalam limbah air. Metode adsorpsi memiliki efisiensi yang cukup tinggi, luas permukaan dan porositas bahan seperti karbon aktif yang memungkinkan untuk menangkap kontaminan secara efektif. Polimer bercetak molekul (MIP) digunakan sebagai adsorben karena tingkat selektivitas tinggi dan dapat digunakan berulang. MIP konvensional memiliki aksesibilitas situs pengenal rendah karena tertutup dalam matriks polimer. Diperlukan modifikasi imprinting molekul dipermukaan untuk meningkatkan efisiensi adsorpsi dan desorpsi serta mengurangi kebocoran residu templat dengan mengurangi panjang difusi. Silika mesopori sebagai basis MIP karena luas permukaan besar dan difusi molekul yang mudah. Penelitian ini bertujuan mengadsorpsi ketoprofen dengan MIP berbasis silika termodifikasi aminopropil. Ketoprofen sebagai molekul cetakan, asam metakrilat sebagai monomer fungsional, etilen glikol dimetakrilat (EDGMA) sebagai pengikat silang, pelarut porogen asetonitril:toluene dengan komposisi templat:monomer fungsional:pengikat silang 1:8:20 menggunakan polimerisasi presipitasi. Struktur dan komposisi material hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan beberapa teknik analisis. Spektrum FTIR menunjukkan keberadaan gugus fungsi khas pada puncak regangan Si-O-Si pada 1085-800 cm-1, pergeseran dan pengurangan intensitas pada puncak pita serapan regangan ikatan O-H pada bilangan gelombang 3435-3626 cm-1 dan regangan asimetris ikatan Si-O-Si pada pita serapan 1082-800 cm-1 karena proses modifikasi APTES, gugus amina dari APTES pada rentang 1482-1562 cm?¹, spektrum polimer NIP dan MIP pada pita serapan gugus fungsi C=O dan C-O dari EGDMA, MIP setelah leaching, terjadi penurunan intensitas pita serapan gugus-gugus tersebut, mengkonfirmasi bahwa molekul templat (ketoprofen) telah berhasil dilepaskan dari matriks polimer. Difraktogram XRD mengonfirmasi Tidak terdapat puncak tajam pada rentang 20-80°, menandakan tidak terbentuk fase kristalin baru selama proses modifikasi maupun proses polimerisasi saat pembuatan NIP dan MIP. Hasil SEM- EDS menunjukkan NIP dan MIP berbentuk spheric dengan silika termodifikasi aminopropil lebih bertekstur. Citra TEM menunjukkan silika termodifikasi APTES terlapisi didalam NIP maupun MIP. Distribusi ukuran partikel NIP lebih kecil dan seragam sedangkan MIP menunjukkan ukuran lebih besar dan beragam. Hasil Potensial zeta menunjukkan MIP memiliki permukaan bermuatan negatif pada pH 3. Adsorpsi KET dengan Non-imprinted Polymer (NIP) dan MIP mencapai kondisi optimal pada pH 3 dengan waktu kontak 45 menit, massa adsorben NIP dan MIP 70 mg dan konsentrasi NIP dan MIP sebesar 100 mg/L. Proses adsorpsi KET mengikuti model kinetika adsorpsi orde dua semu dan isoterm adsorpsi non-linier model Sips Qmax sebesar 51,2 mg/g. Nilai ?G° pada 298K, 313K, dan 328K menunjukkan proses adsorpsi berlangsung spontan dan adsorpsi bersifat endotermik. Adsorben MIP lebih selektif terhadap KET dibanding DCF dilihat dari kapasitas adsorpsi yag tinggi terhadap KET. Uji keberulangan menunjukkan KET stabil dan mampu mempertahankan kapasitas adsorpsi hingga tiga siklus adsorpsi-desorpsi. MIP berbasis silika termodifikasi aminopropil sebagai adsorben memiliki potensi yang besar untuk alternatif dalam pemisahan KET dalam limbah medis.

2026
👤 Penulis: Intan Fitriana Sari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

FOTODEGRADASI SENYAWA KETOPROFEN MENGGUNAKAN KOMPOSIT ZNO-MOS2 SEBAGAI FOTOKATALIS

Ketoprofen (KTF) merupakan salah satu jenis sediaan obat Non-Steroidal Anti- Inflammatory Drugs (NSAIDs) yang banyak digunakan sebagai obat anti inflamasi. Limbah obat ini banyak ditemukan di lingkungan yang berasal dari limbah rumah sakit dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hanya sebanyak 31% limbah yang dilaporkan telah dilakukan pre-treatment. Akumulasi dari limbah obat yang tidak diolah dengan baik dapat bersifat toksik bagi ekosistem akuatik seperti gangguan fertilitas pada ikan dan dapat mengganggu kesehatan manusia. Metode fotodegradasi dapat menjadi alternatif proses remediasi polutan organik di lingkungan untuk mendegradasinya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Material fotokatalis memiliki peran penting untuk memproduksi radikal dalam mendegradasi polutan. Fotokatalis semikonduktor yang sering digunakan adalah ZnO, namun kemampuan fotokatalitik ZnO hanya aktif pada rentang UV dapat berpengaruh pada peformanya karena band gapnya yang besar sehingga menyebabkan rekombinasi elektron-hole. Laju rekombinasi dapat dikurangi dengan didopan atau membuat komposit dengan material lain. Material MoS? memiliki struktur berlapis dengan konduktivitas tinggi, serta band gap yang sempit dapat meningkatkan respons terhadap cahaya tampak. MoS? mampu bertindak sebagai perangkap elektron dan menyediakan situs aktif yang melimpah, sehingga menurunkan laju rekombinasi elektron–hole. Penelitian ini bertujuan untuk sintesis komposit ZnO- MoS2 menggunakan metode hidrotermal, menentukan kondisi optimum fotokatalitik, menguji keberulangan fotokatalis dan kemampuan degradasi terhadap senyawa lain. Struktur, kristalinitas, morofologi, dan sifat optik dikarakterisasi menggunakan berbagi tekni analisis. Hasil FTIR menunjukkan gugus fungsi yang khas pada material ZnO, pada puncak 500 cm?¹ yang mengindikasikan vibrasi ulur Zn-O. Pada MoS2, terdapat puncak khas 1399 cm?¹ yang merupakan regangan vibrasi S-Mo-S, 932 cm?1 yang merupakan ikatan S-S, 873 cm?1 dan 704 cm?1 yang merupakan ikatan Mo-O atau Mo=O yang muncul akibat oksidasi pada permukaan MoS2. Selain itu, puncak pada 3426 cm?¹ menunjukkan vibrasi gugus ?OH dan 1627 cm?¹ menunjukkan O?H tekuk. Hasil XRD yang terbentuk menunjukkan puncak difaktogram mirip dengan ZnO (JCPDS No. 36- 1451) dan MoS2 (JCPDS No. 37-1492). Citra SEM-EDS menunjukkan bahwa ZnO memiliki permukaan berbentuk heksagonal dengan ukuran yang kurang seragam, morfologi MoS2 menunjukkan bentuk seperti lembaran-lembaran seperti kelopak bunga, pada komposit ZnO-MoS2 menunjukkan bentuk teraglomerasi pada ZnO dan lembaran MoS2 yang tipis. Nilai energi celah pita (Eg) yang diperoleh dari DRS-UV yaitu sebesar 3,25 eV (ZnO), 1,34 eV (MoS2), dan 3,18 eV untuk komposit ZnO-MoS2. Hasil Potensial zeta menunjukkan nilai pH point zero of charge pada 5,07. Hasil analisis BET menunjukkan luas permukaan ZnO yaitu 697,37 m2/g; MoS2 sebesar 775,07 m2/g; dan komposit ZnO-MoS2 2.256,6 m2/g dengan diameter pori masing-masing sebesar 3,11 nm; 3,10 nm; dan 3,12 nm. Hasil XPS menunjukkan energi ikat pada komposit yang muncul pada Zn 2p, O 1s, C 1s, Mo 3d, dan S 2p yang menunjukkan energi ikatan khas pada tingkat energi tersebut. Hasil PSA menunjukkan ukuran partikel ZnO sebesar 3,257 µm; MoS2 0,212 µm; dan komposit ZnO-MoS2 1,19 µm. Penelitian menunjukkan kemampuan fotodegradasi komposit ZnO-MoS2 lebih baik dibandingkan dengan fotolisis, adsorpsi, dan fotokatalis tunggal yang diperoleh pada kondisi optimum jarak lampu 10 cm, waktu penyinaran 60 menit, massa fotokatalis 20 mg, pH 5, dan konsentrasi 20 mg/L KTF dengan persen degradasi sebesar 76,52%. Keberulangan fotokatalis komposit ZnO-MoS2 menunjukkan kemampuan degradasi masih baik hingga empat siklus yaitu sebesar 52,77%. Kemampuan degradasi dengan senyawa diklofenak menunjukkan persentase degradasi sebesar 29,46%. Laju reaksi fotodegradasi optimum mengikuti kinetika orde dua dengan nilai R2 0,96599 dengan nilai konstanta laju (k) yaitu 0,04275 L·mg-1·min-1. Potensi komposit ZnO-MoS2 sebagai fotokatalis untuk KTF dapat menjadi alternatif dalam penguraian senyawa pada limbah medis.

2026
👤 Penulis: Muhammad Husnu Jauhari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI PENCEMARAN LOGAM BERAT, HIDROKARBON AROMATIK POLISIKLIK DAN MIKROPLASTIK PADA SEDIMEN PANTAI DARI PESISIR BALONGAN INDRAMAYU

Balongan, Indramayu merupakan daerah di pesisir utara Jawa Barat yang perairannya beresiko tercemar akibat aktivitas antropogenik, terutama dari transportasi laut, kilang minyak, pertanian, pemukiman dan pariwisata. Zat pencemar seperti logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik (HAP) dan mikroplastik yang dihasilkan dari aktivitas tersebut, berbahaya bagi kesehatan lingkungan. Sedimen berperan sebagai indikator tingkat pencemaran perairan karena berbagai polutan dapat terakumulasi di dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengarakterisasi sifat fisikokimia serta menguantifikasi kandungan logam berat (Pb, Cd, Cu, Zn, Cr dan Ni), HAP (Nap, Acy, Ace, Fl, Phe, An, Fla, Py, BaA, Chry, BbF, BkF, BaP, IP, BghiP, dan DbahA) dan mikroplastik pada sedimen pantai dari pesisir Balongan Indramayu, (2) mengidentifikasi tingkat, sumber, sebaran dan risiko ekologi pencemaran pada sedimen pantai dari pesisir Balongan Indramayu, dan (3) menganalisis keterkaitan antarparameter uji, kemiripan lokasi dan faktor dominan dalam variasi pola pencemaran melalui pendekatan kemometrik. Metode pengujian meliputi uji logam berat secara AAS- nyala, uji HAP secara GC-MS dan uji mikroplastik (bentuk, ukuran dan jenis polimer) secara mikroskop optik dan FT-IR. Pengolahan data pengujian melibatkan uji statistik (uji normalitas Ryan-Joiner, uji korelasi Pearson/Spearman, uji ANOVA one-way/Kruskal-Wallis dan Principal Component Analysis) dan perhitungan matematis (Indeks Geoakumulasi (Igeo), Faktor Pengayaan (EF), Indeks Potensi Resiko Ekologi (PERI), Indeks Bahaya Polimer (PHI) dan rasio diagnostik) untuk menginterpretasikan tingkat, sumber, sebaran dan risiko pencemaran polutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi fraksi pasir dengan kadar air: 31,4% b/b; porositas: 44,7% v/v; pH: 8,4; bahan organik: 4,9% b/b dan karbonat: 5,9% b/b. Kandungan logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni dan Cr total berturut-turut adalah 18,04; 3,99; 6,53; 86,4; 33,28 dan 19,00 mg/kg bk. Kandungan HAP total adalah 64,37 ?g/kg bk yang terdiri dari HAP dengan bobot molekul rendah (BMR) sebesar 58,05 ?g/kg bk dan bobot molekul tinggi (BMT) sebesar 5,84 ?g/kg bk. Kelimpahan mikroplastik adalah 7,5 partikel/kg bk, didominasi bentuk serat, berukuran 101?700 ?m, dan jenis polipropilena (PP). Kadar Pb, Cu, Zn, Cr, HAP total dan mikroplastik masih dalam kondisi aman. Sedangkan Cd dan Ni teridentifikasi melebihi ambang batas, logam berat Cd diduga berasal dari aktivitas antropogenik, sementara logam berat Ni berasal dari proses alamiah. Meski masih di bawah ambang batas, kadar logam berat Pb, Cu, Zn, Ni dan HAP BMR lebih tinggi di lokasi dekat kilang minyak, kondisi ini diduga berasal dari tumpahan dan pembakaran minyak. Hal ini didasarkan pada rasio diagnostik yang menunjukkan nilai D3>0,1 dan D5<0,4. Selain itu, berdasarkan karakteristik fisikokimia sedimen, lokasi dekat kilang yaitu Pantai Cemara Indah dan Balongan Kesambi diduga mendapat masukan bahan organik, karena fraksi kasar dan bahan organiknya tinggi, padahal fraksi kasar tidak memiliki kemampuan berasosiasi dengan bahan organik. Logam berat (Pb, Cu, Zn dan Ni) dan HAP BMT diduga terikat dalam bahan organik atau memiliki kemiripan sumber pencemar dengan bahan organik, karena ditunjukkan dari korelasi positif antara polutan tersebut dengan fraksi lempung dan bahan organik. Sedangkan logam berat Cd, Cr dan HAP BMR cenderung tidak berkorelasi kuat dengan bahan organik, sehingga diduga utamanya bukan berasal dari tumpahan minyak. Begitupun dengan mikroplastik yang tidak berkorelasi dengan sifat fisikokimia dan polutan lain (logam berat dan HAP). Hal ini diduga bahwa mikroplastik dengan logam berat dan HAP berasal dari sumber pencemar yang berbeda. Dengan demikian, faktor dominan dalam variasi pola pencemaran adalah kemiripan sumber pencemar dan sifat fisikokimia sedimen seperti fraksi lempung dan bahan organik.

2026
👤 Penulis: Andi Budi Bakti
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENINGKATAN STABILITAS PEROVSKIT ?-CSPBI3 MELALUI STRATEGI CO-DOPING ATOM LOGAM BIVALEN UNTUK APLIKASI SEL SURYA: STUDI DFT DAN SCAPS-1D

Perovskit CsPbI3 merupakan kandidat material yang memiliki potensi unggul dalam aplikasi sel surya karena kemampuan penyerapan cahaya yang tinggi dan celah pita sempit (~1,49 eV) yang mendekati batas efisiensi teoritis ShockleyQueisser (SQ). Namun, tantangan utama dari material ini adalah kestabilan fasa perovskit kubik (?) yang secara termodinamika tidak stabil pada suhu ruang dan mudah bertransformasi menjadi fasa ? non-perovskit. Dalam penelitian ini, pengaruh doping dan co-doping atom logam bivalen (yaitu Mn2+, Zn2+ , dan Mg2+) terhadap stabilitas fasa ?-CsPbI3 dievaluasi menggunakan perhitungan Density Functional Theory (DFT). Perhitungan dilakukan menggunakan perangkat lunak VASP (Vienna Ab-initio Simulation Package) dan fungsi pertukaran-korelasi GGA-PBE (Generalized Gradient Approximation Perdew-Burke-Ernzerhof). Analisis difokuskan pada perubahan parameter struktural, energi pembentukan transisi fasa ?–?, serta sifat elektronik dan optik untuk mengevaluasi kestabilan struktur dan potensi kinerja optoelektronik material hasil doping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi co-doping dengan kombinasi atom logam Mn dan Mg mampu menekan transformasi fasa ? ke ? secara signifikan dibandingkan struktur lainnya. Struktur co-doping Mn-Mg–CsPbI3 memiliki celah pita sebesar 1,31 eV yang mendekati nilai optimal SQ (1,34 eV). Analisis terhadap sifat optik menunjukkan bahwa doping dan co-doping tidak memberikan perubahan secara signifikan terhadap kemampuan absorpsi cahaya. Simulasi numerik menggunakan Solar Cell Capacitance Simulator–1 Dimensional (SCAPS-1D) dengan konfigurasi ITO/TiO2/?-CsPbI3/CuO/Au menunjukkan bahwa perangkat sel surya berbasis Mn-Mg–CsPbI3 memiliki performa paling optimal dengan nilai Jsc 33,93 mA/cm2 , Voc 0,84 V, FF 81,97%, dan PCE mencapai 23,27%. Dengan demikian, strategi codoping Mn-Mg terbukti efektif dalam meningkatkan stabilitas fasa ?-CsPbI3 sekaligus mampu menghasilkan karakteristik optoelektronik yang unggul, sehingga menjadikannya kandidat material yang potensial untuk aplikasi sel surya berbasis perovskit yang efisien dan stabil.

2026
👤 Penulis: Mazaya Basmalah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

OPTIMASI SINTESIS ADSORBEN FE3O4@GELATIN MENGGUNAKAN CENTRAL COMPOSITE DESIGN UNTUK ADSORPSI KRISTAL VIOLET

Kristal violet merupakan salah satu limbah pewarna sintetis yang bersifat toksik sehingga dapat mengganggu kesehatan manusia dan menurunkan kualitas ekosistem akuatik. Keberadaan kristal violet di lingkungan perairan dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, gangguan pernapasan, dan gangguan pencernaan. Selain itu keberadaan di perairan dapat menghambat proses fotosintesis. Oleh karena itu dibutuhkan metode yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar kristal violet. Metode adsorpsi merupakan teknik yang umum digunakan untuk mengurangi kadar zat warna di perairan karena proses yang sederhana, efisien dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Kinerja adsorpsi sangat ditentukan oleh jenis dan karakteristik adsorben yang digunakan. Salah satu yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah adsorben yang digunakan. Gelatin sebagai biomaterial ramah lingkungan memiliki potensi sebagai adsorben karena memiliki gugus fungsional seperti -NH dan -COOH yang dapat berinteraksi dengan kristal violet. Namun, gelatin memiliki kecenderungan menyerap air yang mengakibatkan penurunan stabilitas mekaniknya. Oleh karena itu, gelatin diperkuat menggunakan pengikat silang glioksal untuk meningkatkan stabilitas struktur dan dikompositkan dengan Fe?O? yang bersifat paramagnetit untuk memudahkan pemisahan secara magnetik untuk penggunaan kembali. Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi optimum gelatin dan glioksal pada massa magnetit tetap dalam sintesis Fe?O?@Gelatin untuk memperoleh kapasitas adsorpsi maksimum, serta menentukan kondisi adsorpsi kristal violet yang optimum. Optimasi komposisi adsorben dilakukan menggunakan metode Central Composite Design (CCD) berbasis perangkat lunak Minitab. CCD merupakan salah satu metode dalam Response Surface Methodology (RSM) yang dapat mengetahui pengaruh masing-masing variabel serta interaksi antarvariabel secara efisien melalu kombinasi titik pusat, titik aksial, dan titik faktorial. Metode ini dapat meminimalkan jumlah percobaan yang diperlukan dan dapat memprediksikan data sehingga sangat sesuai untuk optimasi komposisi material. Sedangkan penentuan kondisi adsorpsi dilakukan secara batch untuk mengevaluasi pengaruh pH, massa adsorben, waktu kontak, konsentrasi awal, suhu dan pengaruh konsentrasi NaCl terhadap kapasitas adsorpsi kristal violet. Hasil penelitian mengenai optimasi komposisi gelatin dan glioksal dalam pembuatan adsorben Fe?O?@Gelatin dengan metode CCD menunjukkan nilai R²-pred sebesar 0,8873 dan R²-adj sebesar 0,9822. Selisih antara R²-pred dan R²-adj kurang dari 0,2 yang menunjukkan model yang dibuat memiliki kemampuan prediksi yang sangat baik. Kondisi optimum pada perbandingan massa gelatin dan glioksal adalah 4,567 : 0,4271 dengan kapasitas adsorpsi sebesar 9,63 mg/g. Setelah disintesis dan dilakukan adsorpsi diperoleh rata-rata kapasitas adsorpsi dari lima eksperimen yang dilakukan yaitu sebesar 9,4562 mg/g. Hasil Uji T dari kapasitas adsorpsi eksperimen dan kapasitas adsorpsi yang diramalkan oleh minitab menunjukkan kapasitas adsorpsi tidak berbeda signifikan. Karakterisasi FTIR, XRD, SEM-EDS, dan TEM mengkonfirmasi keberhasilan sintesis Fe?O?@Gelatin dan keberhasilan adsorpsi kristal violet. Kondisi adsorpsi optimum diperoleh pada pH 8, massa adsorben 75 mg, dan waktu kontak 30 menit. Adsorpsi kristal violet mengikuti kinetika orde dua semu dan isoterm Langmuir. Secara termodinamika, proses berlangsung endoterm (?H = 24,18 kJ/mol), spontan (?G < 0), dan disertai peningkatan ketidakteraturan (?S = 185,84 J/mol·K) dengan qmaks 20,78 mg/g. Fe?O?@Gelatin menunjukkan kinerja adsorpsi-desorpsi yang baik hingga tiga siklus penggunaan. Untuk mengetahui pengaruh keberadaan ion-ion kompetitor terhadap kinerja adsorpsi kristal violet, dilakukan pengujian pengaruh penambahan NaCl. Hasil yang diperoleh menunjukkan, kapasitas adsorpsi menurun seiring bertambahnya konsentrasi NaCl. Penurunan ini disebabkan oleh kompetisi antara Na+ dengan kristal violet yang bermuatan positif untuk mengisi situs aktif di permukaan adsorben Fe?O?@Gelatin.

2026
👤 Penulis: Sri Wahyuni
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS PARASETAMOL MELALUI PENATAAN ULANG BECKMANN DALAM REAKTOR ALIRAN MIKRO

Parasetamol merupakan obat esensial dengan kebutuhan nasional lebih dari 9.000 ton per tahun, sementara Indonesia masih bergantung sekitar 90% pada bahan baku obat impor. Ketergantungan ini menimbulkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok global. Dalam upaya mendukung kemandirian bahan baku obat, penelitian ini mengembangkan rute sintesis alternatif parasetamol dari p-hidroksiasetofenon oksim (4-HAPO) melalui reaksi penataan ulang Beckmann menggunakan katalis asam trifluoroasetat (TFA) dalam sistem reaktor aliran. Prekursor 4-HAPO berhasil disintesis dengan rendemen sebesar 92% dan struktur molekulnya dikonfirmasi melalui analisis ¹H-NMR dan ¹³C-NMR. Pergeseran kimia khas oksim (–NOH) serta sinyal aromatik muncul sesuai dengan literatur. Setelah mengalami penataan ulang Beckmann, spektrum NMR menunjukkan hilangnya sinyal oksim dan munculnya sinyal amida yang mengkonfirmasi terbentuknya parasetamol. Penggunaan TFA sebagai katalis berperan dalam memfasilitasi tahap protonasi oksim dan pembentukan intermediet nitrilium, yang merupakan tahap kunci dalam penataan ulang Beckmann. Sintesis parasetamol dilakukan menggunakan sistem pompa suntik dan pompa peristaltik dengan melakukan optimasi kondisi reaksi meliputi suhu, laju alir, ekivalensi TFA, konsentrasi, dan panjang selang reaktor. Kondisi optimum diperoleh pada suhu 100 °C, laju alir 0,3 mL/menit, 1,1 ekivalen TFA, konsentrasi 0,05 M, dan panjang selang 3 m. Pada kondisi tersebut, rendemen reaksi mencapai 58%, sedangkan reaksi kontinu selama 24 jam menghasilkan rendemen hingga 82% dengan produk berwarna krem pucat. Untuk memenuhi persyaratan mutu farmakope, produk hasil sintesis dimurnikan melalui proses penghilangan warna menggunakan karbon aktif. Konsentrasi karbon aktif dioptimasi pada variasi 5, 10, 15, 25, dan 30% terhadap massa teoritis produk. Hasil optimasi menunjukkan bahwa proses penghilangan warna efektif dalam menurunkan intensitas warna produk. Produk hasil penghilangan warna direkristalisasi dan diperoleh rendemen akhir sebesar 48% berupa padatan berwarna putih. Padatan yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi menggunakan FTIR, 1H- NMR dan 13C-NMR yang menunjukkan bilangan gelombang dan geseran kimia yang sesuai dengan literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sintesis parasetamol menggunakan reaktor aliran dengan katalis TFA berpotensi menghasilkan produk dengan konversi tinggi dan kemurnian yang baik, serta menjadi jalur sintesis yang lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi dalam pengembangan produksi bahan baku parasetamol dalam negeri.

2026
👤 Penulis: Nurul Hidayah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS TURUNAN FURFURAL SEBAGAI PREKURSOR SENYAWA BIOAKTIF BERBASIS BAHAN HAYATI

Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat (BBO) masih berada pada tingkat yang sangat tinggi, sehingga menimbulkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok global. Salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan tersebut adalah pengembangan prekursor untuk sintesis senyawa farmasi berbasis sumber daya hayati lokal. Furfural merupakan senyawa platform penting yang dapat dihasilkan dari biomassa lignoselulosa dan memiliki potensi untuk ditransformasikan menjadi turunan bernilai tambah, termasuk sebagai prekursor senyawa bioaktif. Namun demikian, pemanfaatan furfural dalam sintesis organik masih menghadapi tantangan berupa selektivitas reaksi yang rendah, ketidakstabilan intermediat, serta pembentukan produk samping yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan transformasi furfural melalui reaksi Cannizzaro serta proteksi gugus hidroksil pada furfuril alkohol untuk menghasilkan turunan yang lebih stabil. Pemurnian furfural komersial dilakukan menggunakan natrium karbonat yang diikuti dengan distilasi vakum untuk menghilangkan pengotor dan produk degradasi. Reaksi Cannizzaro menggunakan larutan kalium hidroksida dalam medium air untuk menghasilkan asam furoat dan furfuril alkohol. Selanjutnya, furfuril alkohol diproteksi menggunakan tert- butildimetilsilil klorida (TBSCl) dan basa imidazol. Pemurnian furfural komersial dihasilkan furfural murni sebesar 84,9% yang dikonfirmasi melalui spektrum 1H- NMR dengan kemunculan sinyal khas proton aldehida pada ? 9,52 ppm serta tiga sinyal proton cincin furan pada daerah aromatik. Reaksi Cannizzaro menghasilkan asam furoat dan furfuril alkohol dengan rendemen masing-masing sebesar 23,1% dan 26,9%. Transformasi ini ditandai oleh hilangnya sinyal proton aldehida, munculnya sinyal metilena (-CH?OH) pada ? 4,59 ppm untuk furfuril alkohol serta pergeseran sinyal proton furan akibat pengaruh gugus karboksilat pada asam furoat. Proteksi gugus hidroksil pada furfuril alkohol berhasil mendapatkan furfuril TBS eter dengan rendemen 82,5%, yang dikonfirmasi melalui munculnya sinyal khas gugus tert-butildimetilsilil pada daerah medan tinggi (? 0,9-0,0 ppm) serta hilangnya sinyal proton hidroksil. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa furfural dapat ditransformasikan secara sistematis menjadi turunan yang lebih stabil sebagai furfuril alkohol dan asam furoat. Turunan furfural yang dihasilkan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai prekursor dalam sintesis senyawa bioaktif berbasis kerangka sikloheksena.

2026
👤 Penulis: Ainni Rohmana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KENDALA PARAMETER FUZZY DARK MATTER DAN SELF-INTERACTING DARK MATTER BERDASARKAN DATA GALAKSI KATAI SPARC DAN LITTLE THINGS IN 3D

Model cold dark matter (CDM) sebagai model standar materi gelap berhasil menjelaskan pembentukan struktur skala besar di alam semesta. Namun, model CDM memiliki beberapa masalah pada skala kecil seperti galaksi (smallscale problems). Salah satu solusi yang umum diusulkan untuk small-scale problems adalah model materi gelap alternatif selain CDM, seperti fuzzy dark matter (FDM) yang memodelkan partikel materi gelap ultra-ringan dan selfinteracting dark matter (SIDM) yang mengakomodasi interaksi antarpartikel materi gelap. Model FDM dan SIDM memodifikasi profil bagian dalam halo standar NFW (Navarro-Frenk-White) dengan profil inti soliton dan inti isotermal yang berdensitas konstan. Model FDM dan SIDM dikarakterisasi oleh parameter fisis yang berbeda, yaitu massa partikel untuk FDM dan crosssection hamburan interaksi per satuan massa partikel untuk SIDM. Pada pekerjaan Tesis ini dilakukan dekomposisi kurva rotasi galaksi katai dari katalog SPARC dan LITTLE THINGS in 3D dengan menggunakan metode Markov Chain Monte Carlo (MCMC) untuk memperoleh nilai dan kendala untuk parameter massa partikel FDM dan cross-section hamburan interaksi per satuan massa partikel SIDM. Berdasarkan analisis BIC, profil halo SIDM menjadi model terbaik bagi sembilan galaksi, model FDM bagi lima galaksi, dan model NFW hanya bagi satu galaksi. Diperoleh kendala massa partikel FDM dalam rentang 1?: mFDM = 0, 483+0,803 ?0,332 × 10?22 eV, yang overlap dengan kendala yang diperoleh dari pekerjaan sejenis namun bertentangan dengan hasil pengamatan yang menggunakan objek selain galaksi. Sementara itu, didapat kendala ?/m? SIDM dalam rentang 1?: ?/m? = 3, 055+0,237 ?0,224cm2/g sesuai dengan pekerjaan serupa, namun belum bisa memberikan argumen mengenai kebergantungan ?/m? terhadap kecepatan tumbukan rata-rata. Baik radius inti soliton FDM maupun radius inti isotermal SIDM berkorelasi positif dengan radius efektif galaksi lewat interaksi gravitasi, namun korelasi tersebut tidak sederhana karena ada faktor lain yang berpengaruh, seperti massa partikel FDM dan ?/m? SIDM. Model FDM dan SIDM dengan profil inti materi gelap lebih bisa cocok dengan data kurva rotasi yang bervariasi dibanding model NFW,sehingga menghasilkan fraksi materi gelap yang lebih bervariasi juga

2026
👤 Penulis: FAHMI MUHAMMAD AL FARISY
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Model Dark Matter 🏷️ Analisis Data Galaksi

PEMODELAN DYNAMIC PRICING PADA TIKET PENERBANGAN MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING

Dynamic pricing memungkinkan maskapai menyesuaikan harga sesuai kondisi pasar, memaksimalkan pendapatan, dan meningkatkan okupansi kursi. Namun, fluktuasi ini menimbulkan tantangan dalam memprediksi harga. Dengan kemajuan teknologi, terutama melalui pembelajaran mesin, yang mampu menganalisis data historis dan mengenali pola, prediksi harga tiket yang lebih akurat dapat dicapai. Penelitian ini berfokus pada penerapan algoritma Bi-directional Long Short-Term Memory (BiLSTM) untuk memodelkan harga tiket penerbangan yang dinamis, dengan tujuan memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga tiket, mengevaluasi kinerja model dalam memprediksi harga tiket, dan mengidentifikasi waktu terbaik untuk pembelian tiket. Data berasal dari Google Flights untuk rute Jakarta – Batam (CGK-BTH) dan Jakarta-Lombok (CGK-LOP) pada Juli-Agustus 2024 menggunakan maskapai Lion Air. Setelah data didapatkan, dilakukan preprocessing data dan data clustering untuk menyiapkan data dan membagi data menjadi kelompok-kelompok berdasarkan kesamaan pola harga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model BiLSTM telah sukses dikembangkan dan cukup efektif dalam memodelkan pola harga tiket, penggunaan model dedicated untuk setiap nomor penerbangan lebih efektif dalam memodelkan dinamika harga tiket dibandingkan dengan menggunakan model umum, dengan nilai MAPE terbaik 1.27% untuk JT-374. Faktor-faktor seperti jenis destinasi, waktu keberangkatan, dan maskapai penerbangan juga terbukti memiliki pengaruh terhadap pola harga tiket. Selain itu, dengan tren harga yang konsisten pada setiap nomor penerbangan, didapatkan waktu terbaik untuk membeli tiket.

2026
👤 Penulis: Nicholas Amadeus Michael
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Tarif Penerbangan 🏷️ Analisis Pasar Travel

FORMULASI DAN KARAKTERISASI NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) MENGANDUNG SIMVASTATIN SERTA AKTIVITAS SITOTOKSIK TERHADAP TRIPLE NEGATIVE BREAST CANCER (TNBC)

Triple Negative Breast Cancer (TNBC) adalah salah satu jenis kanker payudara yang tidak memiliki reseptor hormon estrogen, progesteron, dan HER2. TNBC dikenal sebagai subtipe kanker payudara yang paling agresif dengan angka kekambuhan tinggi, angka kesembuhan rendah, dan tingkat harapan hidup rendah. Tidak adanya ketiga reseptor hormon menyebabkan pilihan pengobatan untuk TNBC menjadi lebih terbatas. Selain itu, telah banyak dilaporkan kasus kemoresistensi pada TNBC akibat pemberian kemoterapi yang merupakan opsi terapi utama TNBC. Untuk itu, diperlukan pengembangan alternatif terapi lain yang lebih efektif, salah satunya dengan menggunakan konsep drug repurposing yang dikombinasi dengan suatu sistem penghantaran obat. Salah satu kandidat obat yang potensial untuk digunakan adalah simvastatin, obat antihiperlipidemia golongan statin. Pada penelitian ini dikembangkan sistem penghantaran simvastatin (Sim) dengan Nanostructured Lipid Carrier (NLC) serta pengujian aktivitas sitotoksik terhadap TNBC. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula dan proses pembuatan optimal NLC-Sim, menguji karakteristik NLC-Sim, menguji stabilitas NLC-Sim, dan menguji aktivitas sitotoksik NLC-Sim. Penelitian diawali dengan proses optimasi formula yang diikuti dengan karakterisasi dan uji stabilitas NLC-Sim. Formula optimal kemudian diuji aktivitas sitotoksik terhadap sel 4T1 yang merupakan model TNBC. Hasil optimasi formula diperoleh formula optimal dengan komponen lipid padat dan lipid cair berupa beeswax dan virgin coconut oil (VCO) dengan konsentrasi total 4% dan rasio 3:1. Kombinasi surfaktan yang diperoleh adalah Tween 80 dan PEG 400 dengan konsentrasi total 5% dan rasio 4:1. Berdasarkan optimasi proses, diperoleh proses sonikasi optimal berupa dua tahap sonikasi menggunakan sonicator bath dan sonicator probe. NLC-Sim optimal yang didapatkan memiliki ukuran partikel sebesar 192,10 ± 11,73 nm, indeks polidispersitas sebesar 0,25 ± 0,02, zeta potensial sebesar -8,67 ± 2,41 mV, dan efisiensi enkapsulasi sebesar 99,11 ± 0,25%. NLC-Sim menunjukkan stabilitas yang baik pada penyimpanan di suhu 2-8 °C selama 14 hari. Hasil uji sitotoksik terhadap sel 4T1 menunjukkan bahwa NLC-Sim memberikan efek lebih baik dibandingkan NLC blanko dan larutan simvastatin, dengan nilai IC50 sebesar 80,84 ± 11,62 µM. Hasil ini menunjukkan bahwa penghantaran simvastatin menggunakan NLC berpotensi sebagai alternatif terapi TNBC.

2026
👤 Penulis: Marvel Zoe Immanuella
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK ALPHA-MANGOSTIN BERTARGET MITOKONDRIA TERHADAP TRIPLE NEGATIVE  BREAST  CANCER  (TNBC)

Kanker merupakan salah satu penyakit yang terjadi karena pertumbuhan abnormal sel yang sangat cepat dan dapat menyebabkan terjadinya metastasis. Kanker dapat menyerang berbagai organ tubuh, salah satunya adalah kanker yang menyerang payudara. Kanker payudara dapat diklasifikasikan menjadi empat subtipe molekular, yakni luminal A, luminal B, HER2-enriched, dan basal/TNBC (Triple Negative Breast Cancer). Subtipe TNBC memiliki prognosis yang paling buruk karena tidak adanya ekspresi reseptor hormon dan HER2 (Human Epidermal Growth Factor Receptor 2). Terapi TNBC yang dijalankan saat ini masih memiliki beberapa kelemahan berupa resistensi dan kemungkinan adanya toksisitas terhadap sel normal. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan alternatif terapi yang lebih spesifik terhadap TNBC. Salah satu strategi yang dapat dilakukan, yakni dengan menarget mitokondria sel menggunakan senyawa mitotoksik karena mitokondria merupakan organel esensial yang berperan dalam fungsi vital dan letal sel. Sebelumnya telah dilakukan pengembangan senyawa ?-mangostin berbasis liposom bertarget spesifik terhadap mitokondria yang disebut dengan lipoDQ ?-mangostin. Pada penelitian tersebut permukaan liposom yang mengandung ?-mangostin dimodifikasi dengan suatu mitokondriotropik, yakni dequalinium klorida (DQA). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas sitotoksik lipoDQ ?-mangostin secara in vitro terhadap sel 4T1 yang merupakan sel mammary carcinoma yang diisolasi dari mencit BALB/c sebagai model TNBC. Berdasarkan hasil karakterisasi nanopartikel, diperoleh ukuran lipoDQ ?-mangostin 150,13 ± 3,98 nm dengan indeks polidispersitas < 0,3 dan zeta potensial +11,31 ± 1,50 mV, serta efisiensi penjeratan zat aktif sebesar > 80%. Berdasarkan hasil uji aktivitas sitotoksik diperoleh bahwa toksisitas lipoDQ ?-mangostin lebih tinggi jika dibandingkan liposom ?-mangostin (tidak bertarget mitokondria) dan larutan ?-mangostin dengan IC50 sebesar 57,92 ± 5,53 µM. Berdasarkan hasil yang diperoleh menandakan bahwa lipoDQ ?-mangostin berpotensi sebagai alternatif terapi TNBC.

2026
👤 Penulis: Devira Fitriana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

POTENSI ANTIINFLAMASI  MINYAK LARVA BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS L.)

Inflamasi merupakan respon sistem imun terhadap patogen, cedera jaringan, serta infeksi dalam sel tubuh yang dapat menyebabkan gejala kemerahan (rubor/eritema), bengkak (tumor/edema), panas (calor), nyeri (dolor), serta kehilangan fungsi organ/jaringan. Obat bahan alam menjadi salah satu alternatif terapi yang dinilai memiliki efek samping yang rendah dan lebih aman dikonsumsi bila digunakan dengan tepat. Salah satu bahan alam yang berpotensi untuk mengatasi inflamasi adalah larva Black Soldier Fly / BSF (Hermetia illucens L.). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi aktivitas antiinflamasi dari minyak larva Black Soldier Fly / BSF (Hermetia illucens L.) secara in vitro. Minyak larva BSF yang didapatkan dari proses ekstraksi menggunakan metode refluks dengan pelarut n-heksana diuji aktivitas antiinflamasinya dengan metode inhibisi denaturasi protein dan stabilisasi membran darah menggunakan natrium diklofenak sebagai standar. Ekstrak dengan aktivitas antiinflamasi terbaik ditunjukkan oleh ekstrak larva BSF D15 dengan nilai IC50 sebesar 303,100 ± 44,481 µg/mL pada uji denaturasi protein dan sebesar 6720,137 ± 83,700 µg/mL pada uji stabilisasi membran darah. Karakterisasi dan identifikasi lebih lanjut diperlukan dalam pengembangan sediaan antiinflamasi berbasis ekstrak larva BSF.

2026
👤 Penulis: Raissa Devi Amadea
🏷️ Antiinflamasi 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI INHIBISI SPERMATOGENESIS DARI LIPID NANOPARTIKEL MENGANDUNG ROSUVASTATIN PADA GEN SOX9 DI SEL TM4

Rosuvastatin merupakan salah satu golongan statin yang digunakan sebagai terapi lini pertama untuk hiperkolesterolemia. Secara umum, rosuvastatin tersedia dalam rute per oral yang memiliki permasalahan farmakokinetik, sehingga dibuatlah dalam bentuk lipid nanopartikel dengan formula dan metode yang sudah dioptimasi pada penelitian sebelumnya. Namun, pemberian rosuvastatin menyebabkan permasalahan pada spermatogenesis karena rosuvastatin dapat menghambat biosintesis kolesterol yang dibutuhkan dalam sintesis androgen. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan karakterisasi formula LNP-rosuvastatin (LNP-R), serta menentukan pengaruh LNP-kosong (LNP) dan LNP-rosuvastatin pada spermatogenesis melalui analisis ekspresi gen Sox9. Penelitian ini diawali dengan preparasi LNP dan LNP-R, uji viabilitas menggunakan sel TM4, uji pendahuluan primer, dan analisis ekspresi gen Sox9. Hasil karakterisasi LNP-R yaitu ukuran partikel 88,1 ± 0,8 nm; indeks polidispersitas 0,304 ± 0,030; zeta potensial -34,05 ± 3,94 mV; serta nilai efisiensi penjeratan LNP-R sebesar 91,054 ± 2,564%. Berdasarkan analisis ekspresi gen Sox9 menunjukkan terjadi penurunan pada pemberian LNP dan LNP-R dibandingkan dengan kontrol yang diinduksi testosteron dengan nilai yang tidak signifikan untuk LNP (P>0,05), serta signifikan pada LNP-R 15 ppm (P<0,05). Nilai inhibisi yang didapatkan dari LNP-R dengan konsentrasi 0,25; 7,5; dan 15 ppm terhadap LNP sebesar 10,290, 22,084, dan 42,631%.

2026
👤 Penulis: Celine Caroline
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi
Halaman 83 dari 418
💬