📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPREPARASI DAN STUDI PENGARUH LIPID NANOPARTIKEL ROSUVASTATIN TERHADAP SPERMATOGENESIS PADA GEN UBE2B DI SEL TM4
Rosuvastatin merupakan salah satu obat untuk mengatasi hiperkolesterolemia. Rosuvastatin beredar dalam bentuk tablet, namun karena rute oral memiliki kelemahan diformulasikanlah bentuk Lipid nanopartikel Rosuvastatin yang dapat menjadi inovasi baru dengan menggunakan formula yang telah dioptimasi pada penelitian sebelumnya. Terdapat efek samping dari penggunaan rosuvastatin pada proses spermatogenesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi LNP-Rosuvastatin (LNP-R) dan LNP Kosong (LNP) serta menganalisis pengaruh LNP-R serta LNP terhadap ekspresi gen Ube2b yang merupakan salah satu gen yang berperan pada proses spermatogenesis. Penelitian diawali dengan preparasi LNP dan LNP-R dilanjutkan dengan pengujian viabilitas pada sel TM4 untuk mengetahui dosis yang mematikan untuk setengah populasi (IC50). Selanjutnya analisis ekspresi gen Ube2b dilakukan, diawali dengan analisis kualitas primer yang terdiri dari uji pendahuluan, uji spesifisitas, dan uji efisiensi primer. Analisis ekspresi gen dilakukan untuk menentukan pengaruh LNP dan LNP-R dalam tiga seri konsentrasi yaitu 0,25; 7,5; dan 15 ppm dengan metode qPCR pada gen Ube2b. Hasil karakterisasi LNP yaitu ukuran partikel, PDI, dan zeta potensial secara berturut yaitu 108 nm; 0,314; -35,50 mV dan hasil karakterisasi pada LNP-R secara berturut yaitu 91,933 nm; 0,346; -33,74 mV dengan efisiensi penjeratan 89,323%. Uji viabilitas sel mendapatkan hasil IC50 LNP-R yaitu 25,53 ppm. Hasil uji pendahuluan menunjukkan primer gen target Ube2b dan primer gen acuan Gapdh optimal pada suhu annealing 65°C. Dari hasil analisis ekspresi gen Ube2b didapatkan bahwa pemberian LNP meningkatkan ekspresi gen Ube2b dan pemberian LNP-R menurunkan ekspresi gen Ube2b jika dibandingkan terhadap masing-masing blanko. Dapat disimpulkan pemberian LNP-R memberikan inhibisi minor terhadap ekspresi gen Ube2b.
PENGEMBANGAN MESOPOROUS SILICA NANOPARTICLE (MSN) MENGANDUNG CELECOXIB DENGAN GATEKEEPER BERBASIS POLY-L-LYSINE TERMODIFIKASI HISTIDIN
Celecoxib merupakan obat golongan Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) yang umumnya digunakan untuk mengatasi inflamasi kronis dan dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan penurunan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat setiap hari. Salah satu Upaya mengatasinya adalah dengan membuat sediaan lepas lambat. Penelitian sebelumnya menunjukkan Mesoporous Silica Nanoparticle (MSN) dapat dimodifikasi permukaannya untuk dijadikan sediaan lepas lambat. MSN umumnya dimodifikasi dengan gatekeeper seperti Poly-L-Lysine (PLL). Penilitian lainnya menunjukkan bahwa PLL yang dimodifikasi dengan gugus histidin dapat meningkatkan jumlah obat yang dilepaskan dari MSN. Penelitian ini meliputi sintesis MSN dan fungsionalisasinya dengan gugus amina, penjeratan obat ke dalam nanopartikel, pembuatan gatekeeper Poly-L-Lysine-Histidin (PLL-His), dan konjugasinya ke MSN. MSN yang telah dibuat dikarakterisasi dengan beberapa instrumen serta uji pelepasan in vitro pada pH 1,2 dan pH 7,4. Hasil analisis termogravimetri (TGA) menunjukkan adanya penurunan %weight loss yang lebih besar pada MSN dengan gatekeeper dibandingkan MSN tanpa gatekeeper. Seluruh MSN dan modifikasinya memiliki ukuran partikel <300 nm serta indeks polidispersitas <0,5. MSN mampu menjerat celecoxib dengan efisiensi 23,35 ± 0,39% dan kapasitas 23,54 ± 0,42%. Hasil uji pelepasan menunjukkan MSN yang terkonjugasi dengan gatekeeper dapat melindungi obat agar tidak terlepas pada pH lambung (pH 1,2) dan pelepasan obat yang lambat pada pH situs absorbsi (pH 7,4). Pelepasan obat pada MSN dengan gatekeeper PLL-His juga menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan (p-value <0,05) dibandingkan MSN dengan gatekeeper PLL.
ISOLASI SENYAWA AKTIF INHIBITOR ENZIM TIROSINASE DARI EKSTRAK ETANOL AMPAS BIJI MALAPARI (PONGAMIA PINNATA (L.) PIERRE)
Hiperpigmentasi merupakan suatu kondisi ketika area kulit memproduksi melanin secara berlebihan yang mengakibatkan warna kulit lebih gelap dibandingkan kulit normal di sekitarnya. Enzim tirosinase merupakan katalisator melanogenesis dengan menghidroksilasi tirosin dan mengoksidasi L-DOPA menjadi DOPAkuinon dalam jalur sintesis melanin. Inhibitor tirosinase dapat menghambat laju enzim tirosinase sehingga menjadi salah satu pencegahan hiperpigmentasi. Sebelumnya, biji tumbuhan malapari (Pongamia pinnata (L.) Pierre) disebutkan memiliki manfaat secara tradisional dalam penggunaan yang bervariasi terhadap kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ampas biji tanaman malapari untuk menentukan potensi ekstrak etanol dan isolatnya sebagai inhibitor enzim tirosinase serta mengkarakterisasi isolat yang diperoleh. Ampas biji malapari diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% kemudian difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Uji aktivitas inhibisi enzim tirosinase secara kuantitatif dilakukan terhadap ekstrak menggunakan microplate assay dengan mengukur absorbansinya pada panjang gelombang 475 nm. Nilai IC50 ekstrak dan asam kojat (kontrol positif) berturut-turut adalah 1306,96 ± 164,79 g/mL dan 7,92 ± 0,47 g/mL. Uji aktivitas kualitatif dengan µ µ KLT bioautografi dilakukan terhadap ekstrak dan fraksi, terbentuknya bercak putih paling intens yang menunjukkan potensi inhibisi tirosinase paling kuat dimiliki oleh fraksi n-heksana. Fraksi n-heksana disubfraksinasi menggunakan kromatografi kolom klasik dengan metode elusi gradien. Subfraksi dilanjutkan pada subfraksinasi tahap II dengan metode kromatografi radial dan pemurnian dengan menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif sehingga didapatkan isolat Y. Isolat Y diuji kemurnian dengan kromatografi pengembangan tunggal tiga fase gerak dan kromatografi dua dimensi. Karakterisasi isolat Y dengan penampak bercak spesifik dan kromatografi lapis tipis-densitometri menunjukkan bahwa isolat Y merupakan senyawa golongan flavonoid subgolongan flavon. Isolat Y diuji aktivitas kuantitatif dan menunjukan % inhibisi enzim tirosinase pada konsentrasi 100 g/mL µ sebesar 5,833%.
DEVELOPMENT OF AUTOMATION LABVIEW PROGRAM FOR ACCELEROMETER CALIBRATION
Laboratorium Dinamika LPIT ITB has been performing accelerometer calibration for industry to check the accuracy of sensitivity and frequency range of the sensor. This calibration consists of linearity and frequency response test. Currently, these accelerometer calibration is performed manually by operators, which consumed a large amount of time. Recognizing these inefficiencies of manual accelerometer calibration, this bachelor thesis aims to develop an automated accelerometer calibration program that significantly reduce the consumed time required for calibration. This automation program was developed by first doing manual calibration to identify which parts needed to be automated. The manual calibration requires the operator to control the generated signal from signal generator, read the signal amplitude, record the data, and process the data. These processes consumed a large amount of time. Generally, the total time required to perform the calibration is 1.5 to 2 hours depending on the operator skills. After understanding the manual calibration, the next step is to select the appropriate NI (National Instrument) for the calibration needs. Afterward, an automated calibration program is designed using LabVIEW software. Based on the identification from the manual calibration, the program is designed to be able to generate and acquire signal, record the data, and process the data. Additionaly, this program is designed to present the calibration results in the form of a certificate. To validate the accuracy of the automated program, manual calibration is performed again to be serve as a reference. Based on the testing results and the comparison between manual and automated calibration, it can be concluded that the accelerometer calibration automation program has been successfully developed. The sensitivity result of the calibrated accelerometer obtained from automated calibration has an error of 0.04% relative to the manual calibration. As for the frequency response test, it produce the same result both from manual and automated calibration. In contrast to the manual calibration, automated calibration only consumed 30 seconds for each acceleration amplitude and 30 seconds for each frequency.
KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN, AKAR DAN RANTING TUMBUHAN TEH (CAMELLIA SINENSIS (L.) KUNTZE) SUDAH TUA MENGGUNAKAN METODE DPPH DAN CUPRAC
Radikal bebas adalah suatu molekul reaktif yang dapat menyebabkan efek negatif pada tubuh seperti penuaan dini dan kanker. Antioksidan alami pada tumbuhan dapat berperan dalam menetralkan radikal bebas. Tumbuhan teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) adalah salah satu sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan ekstrak daun, ranting dan akar tumbuhan teh sudah tua dengan metode DPPH dan CUPRAC, penentuan fenol dan flavonoid total, korelasi fenol dan flavonoid total terhadap aktivitas antioksidan, korelasi antara kedua metode, serta identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak terpilih. Penentuan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan CUPRAC serta kadar fenol dan flavonoid total ditetapkan menggunakan spektrofotometri UV-sinar tampak. Identifikasi dan penetapan kadar senyawa flavonoid ditetapkan dengan kromatografi cair kinerja tinggi. Aktivitas antioksidan ekstrak daun, akar dan ranting tumbuhan teh sudah tua dengan metode DPPH memiliki rentang nilai 8,945 – 405,758 mg AEAC/g, sedangkan aktivitas antioksidan dengan metode CUPRAC memiliki rentang nilai 18,197 – 244, 713 mg AEAC/g. Kadar fenol total tertinggi diberikan oleh ekstrak etanol daun teh sebesar 171,910 ± 1,876 mg GAE/g. Kadar flavonoid total tertinggi diberikan oleh ekstrak etil asetat daun teh sebesar 49,694 ± 1,031 mg QE/g. Kadar fenol dan flavonoid total pada ekstrak memberikan korelasi kuat sampai sangat kuat terhadap nilai aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan CUPRAC. Senyawa gologan fenol dan flavonoid berkontribusi besar terhadap aktivitas antioksidan ekstrak daun, akar, dan ranting teh sudah tua dengan metode DPPH dan CUPRAC. Nilai aktivitas antioksidan ekstrak dari kedua metode memberikan hasil yang linier dengan korelasi kuat sampai sangat kuat. Senyawa rutin, kuersetin, dan apigenin terdapat pada ekstrak etanol daun tumbuhan teh sudah tua adalah dengan kadar berturut-turut sebesar 9,90 ± 0,14 mg/g; 0,88 ± 0,21 mg/g; dan 0,39 ± 0,02 mg/g. Daun, akar dan ranting tumbuhan teh sudah tua berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen antioksidan alami.
PEMBUATAN SEDIAAN GARGARISMA DARI HIDROSOL HERBA TIMI (THYMUS VULGARIS) DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS
Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang umum terjadi, disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Dalam rangka mencegah karies gigi, dibutuhkan suatu langkah preventif, salah satunya berkumur dengan gargarisma. Akan tetapi, saat ini banyak sediaan gargarisma mengandung klorheksidin yang memberikan efek samping berupa perubahan warna gigi dan penurunan pH saliva sehingga akan menjadi masalah pada keseimbangan mikrobiota rongga mulut. Herba timi (Thymus vulgaris) merupakan salah satu tumbuhan dengan aktivitas antibakteri yang baik, khususnya dalam minyak atsiri. Dalam produksi minyak atsiri dengan distilasi uap, terdapat air distilat atau hidrosol yang dianggap sebagai limbah produksi. Sebanyak 100 gram simplisia dengan 1500 mL akuades akan didistilasi dan sebanyak 300 mL hidrosol pertama yang memiliki aktivitas antibakteri berdasarkan hasil uji difusi cakram. Pengujian dilanjutkan ke mikrodilusi, diperoleh informasi konsentrasi 50% merupakan KHM dan KBM hidrosol herba timi. Uji koefisien fenol dilakukan untuk menentukan konsentrasi hidrosol dalam formulasi, diperoleh konsentrasi 45% masih dapat membunuh bakteri sehingga konsentrasi tersebut dipilih dan dilanjutkan ke formulasi. Formulasi sediaan gargarisma adalah hidrosol, natrium sakarin, propilparaben, metilparaben, natrium sitrat, asam sitrat, etanol, gliserin, perisa mint, dan akuades. Diperoleh pH 5.87±0,02 dengan viskositas 0.99 mPa.s untuk sediaan akhir. Uji hedonik yang dilakukan memberikan hasil gargarisma hidrosol masih perlu ditingkatkan perihal aroma dan kesegarannya. Uji konfirmasi menghasilkan aktivitas antiseptik gargarisma di pasaran lebih baik dibandingkan gargarisma hidrosol herba timi, tetapi hasil uji kontak menunjukkan gargarisma hidrosol herba timi memiliki kemampuan bakterisidal karena memiliki daya bunuh sebesar 99,9% pada waktu kontak 120 detik.
AKTIVITAS INHIBITOR ENZIM XANTIN OKSIDASE SECARA IN VITRO OLEH EKSTRAK ETANOL DAUN DAN KULIT JERUK SIAM MADU (CITRUS RETICULATA BLANCO) DAN JERUK LIMAU (CITRUS X AMBLYCARPA [HASSK.] OCHSE) SERTA FRAKSI TERPILIH
Gout terjadi karena akumulasi asam urat yang membentuk kristal berbentuk jarum di sekitar persendian. Alopurinol adalah obat pilihan pertama untuk gout. Alopurinol bekerja dengan menghambat xantin oksidase (XO), yaitu enzim yang penting untuk produksi asam urat. Akan tetapi, alopurinol memiliki efek samping seperti pruritis makulopapular, nekrosis hati, hepatitis, dan hipersensitivitas. Penelitian ini bertujuan mencari inhibitor XO alternatif dari limbah bahan alam, yaitu kulit dan daun Citrus reticulata Blanco serta Citrus x amblycarpa (Hassk.) Ochse karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kulit dan daun marga Citrus mengandung flavonoid yang dilaporkan memiliki aktivitas sebagai inhibitor XO. Sampel diekstraksi melalui maserasi dengan etanol 70%, dikarakterisasi, dan diuji aktivitas penghambatan XO secara in vitro. Uji aktivitas dilakukan menggunakan 96-well plates untuk menyiapkan sampel dan spektrofotometri microplate reader untuk menentukan absorbansi. Persentase inhibisi dan nilai IC50 dihitung. Ekstrak terpilih difraksinasi menggunakan n-heksana, etil asetat, dan air, serta aktivitas penghambatan XO dari fraksi juga diuji menggunakan metode yang sama. Ekstrak etanol daun Citrus reticulata sebagai ekstrak terpilih menunjukkan aktivitas penghambatan XO dengan IC50 sebesar 25,52 ± 5,26 µg/mL, dibandingkan dengan 1,81 ± 0,35 µg/mL untuk alopurinol. Fraksi etil asetat menunjukkan nilai IC50 sebesar 40,88 ± 2,97 µg/mL. Ekstrak dan fraksi etil asetat daun Citrus reticulata mengandung rutin yang diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis (TLC). Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat daun Citrus reticulata memiliki aktivitas terhadap inhibisi enzim XO.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI TERPILIH BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA L.) SERTA DAUN DAN KULIT APEL MANALAGI (MALUS SYLVESTRIS (L.) MILL.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
Tingginya prevalensi jerawat di Indonesia menyebabkan berkembangnya penelitian terhadap bahan alam dalam mencari alternatif pengobatan jerawat. Indonesia memiliki banyak sekali tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional, termasuk tanaman bunga telang dan apel manalagi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, bunga telang (Clitoria ternatea L.) dan apel manalagi (Malus sylvestris (L.) Mill) diketahui mengandung senyawa flavonoid dan polifenol yang dapat berperan sebagai antimikroba. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak tanaman bunga telang dan apel manalagi terhadap bakteri penyebab jerawat. Aktivitas antimikroba ditentukan melalui uji difusi agar cakram sebagai uji pendahuluan, penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) dengan mikrodilusi, dan penentuan konsentrasi bunuh minimum (KBM). Uji pendahuluan menunjukkan ekstrak etanol bunga telang memiliki aktivitas paling baik dibandingkan ekstrak daun apel dan kulit apel sehingga dilanjutkan untuk uji KHM dan KBM. Diperoleh nilai KHM ekstrak bunga telang sebesar 25 mg/mL dan fraksi etil asetat sebagai fraksi dengan aktivitas paling baik sebesar 6,25 mg/mL terhadap kedua bakteri uji. Kemudian diperoleh nilai KBM ekstrak dan fraksi etil asetat bunga telang sebesar 25 mg/mL terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan >100 mg/mL terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Berdasarkan nilai KBM yang diperoleh, ekstrak dan fraksi bunga telang memiliki aktivitas lebih baik terhadap terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI JAMUR ENDOFIT EXOPHIALA PISCIPHILA S14
Resistensi antibiotik merupakan permasalahan yang akan terus dihadapi dunia. Pada tahun 2019, kematian yang disebabkan oleh resistensi antibakteri mencapai jumlah 4,95 juta jiwa. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk menghadapi permasalahan ini adalah melakukan penelitian dan pengembangan senyawa antibakteri baru. Jamur endofit Exophiala pisciphila adalah cendawan DSE yang mampu tumbuh dalam kondisi stress dan metabolit sekundernya diduga memiliki aktivitas antibakteri sehingga potensinya sebagai antibakteri dapat dikaji. Pertama, kultur cair E. pisciphila dipisahkan biomassa dan filtratnya dengan metode sentrifugasi. Biomassa yang didapatkan kemudian diekstraksi dengan metode maserasi dalam metanol dan filtrat diekstraksi dengan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut etil asetat. Melalui skrining aktivitas antibakteri metode difusi cakram, ekstrak etil asetat E. pisciphila diketahui memiliki diameter hambat sebesar 9,20 ± 0,4 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 9,65 ± 0,25 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Di antara semua fraksi, fraksi semipolar E. pisciphila diketahui memiliki aktivitas antibakteri terbaik melalui metode mikrodilusi dengan konsentrasi hambat minimum 1024 µg/mL terhadap E. coli dan S. aureus dan konsentrasi bunuh minimum 2048 µg/mL terhadap S. aureus. Senyawa yang terkandung dalam fraksi tersebut adalah senyawa golongan fenol dan steroid atau triterpenoid dengan aktivitas terbaik terhadap bakteri gram positif.
VALIDASI PREDIKSI NOAEL DAN LOAEL MENGGUNAKAN 5 MODEL BERBEDA PADA PERANGKAT LUNAK VEGA
Pada tahap pengembangan obat, uji coba praklinik secara in vivo menghasilkan No Observed Adverse Effect Level (NOAEL) dan Lowest Observed Adverse Effect Level (LOAEL). Data NOAEL dan LOAEL dapat digunakan untuk menentukan dosis awal, yaitu dosis yang diberikan pada uji klinik pertama pada manusia. Akan tetapi, pengujian secara in vivo memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama. Oleh karena itu muncul upaya berkelanjutan dengan memprediksi toksisitas secara in silico. Sebanyak 3 model QSAR untuk prediksi NOAEL dan 2 model predisi LOAEL telah tersedia secara gratis di perangkat lunak VEGA. Manusia terpapar bahan kimia dalam makanan dan lingkungan, dan salah satu tujuan penilaian risiko bahan kimia adalah untuk menetapkan tingkat keamanan guna melindungi kesehatan masyarakat dari paparan kronis. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan segmentasi data menjadi kelompok kosmetik, bahan tambahan pangan, obat, perbekalan kesehatan rumah tangga, pestisida, dan zat pewarna. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi model NOAEL dan LOAEL menggunakan beberapa parameter statistika seperti koefisien korelasi (R2), concordance correlation coefficient (CCC), index of ideality of correlation (IIC), mean absolute error (MAE), dan root mean square error (RMSE) sekaligus menentukan kelompok senyawa yang menghasilkan parameter statistik paling baik sehingga dapat diprediksi menggunakan model yang telah tersedia. Segmen bahan tambahan pangan menghasilkan parameter statistik terbaik sehingga dapat diprediksi menggunakan model yang tersedia di VEGA. Saran untuk pengembangan model selanjutnya adalah pembuatan model per segmentasi agar dapat lebih andal untuk tujuan yang spesifik.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN, BUNGA, DAN KULIT BATANG TANAMAN DAUN AFRIKA (GYMNANTHEMUM AMYGDALINUM (DELILE) SCH. BIP.) SERTA FRAKSI TERPILIH TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
Jerawat merupakan salah satu penyakit kulit paling umum yang sering disebabkan oleh peningkatan produksi sebum, hiperkeratinisasi folikel, dan proliferasi bakteri. Bakteri kulit utama yang menyebabkan terbentuknya jerawat adalah Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etanol dari daun, bunga, dan kulit batang tanaman daun afrika (Gymnanthemum amygdalinum (Delile) Sch.Bip.) dan fraksi terpilih terhadap bakteri penyebab jerawat. Metode difusi cakram digunakan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak etanol terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) ditentukan menggunakan metode mikrodilusi, mengikuti pedoman dari Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Nilai KHM untuk ekstrak etanol bunga, fraksi etanol-air, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut adalah 1,56 mg/mL; 100 mg/mL; 3,13 mg/mL; dan 6,25 mg/mL. Nilai KHM terhadap Staphylococcus epidermidis berturut-turut adalah 1,56 mg/mL; 6,25 mg/mL; 3,13 mg/mL; dan 6,25 mg/mL. Nilai KBM untuk ekstrak etanol bunga, fraksi etanol-air, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut adalah 3,13 mg/mL; lebih dari 100 mg/mL; 6,25 mg/mL; dan 12,5 mg/mL. Untuk Staphylococcus epidermidis, nilai KBM berturut-turut adalah 3,13 mg/mL; 50 mg/mL; 25 mg/mL; dan lebih dari 50 mg/mL. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga tanaman daun afrika memiliki potensi paling signifikan dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.
STUDI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK SERTA FRAKSI HERBA DAN BUAH STROBERI (FRAGARIA X ANANASSA (DUCHESNE EX WESTON) DUCHESNE EX ROZIER)
Inflamasi merupakan respons pertahanan tubuh terhadap kerusakan atau infeksi jaringan. Stroberi (Fragaria × ananassa (Duchesne ex Weston) Duchesne ex Rozier) diketahui mengandung berbagai senyawa fitokimia yang sebagian besar direpresentasikan oleh senyawa golongan polifenol dan diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antiinflamasi ekstrak serta fraksi dari herba dan buah stroberi serta melakukan karakterisasi untuk mengetahui golongan senyawa yang diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%. Fraksinasi dilakukan dengan metode kromatografi cair vakum menggunakan pelarut etil asetat, metanol, dan air. Uji aktivitas antiinflamasi pada ekstrak dan fraksi dilakukan dengan penentuan nilai IC50 menggunakan metode denaturasi protein dan stabilisasi membran. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana herba, etil asetat herba, etanol 70% herba, n-heksana buah, etil asetat buah, dan etanol 70% buah menggunakan metode denaturasi protein berturut-turut sebesar 753,59 ± 2,84; 1758,87 ± 6,17; 119,95 ± 0,13; 1528,37 ± 9,73; 607,42 ± 0,28; dan 184,93 ± 0,44 ?g/mL. Nilai IC50 untuk ekstrak n-heksana herba, etil asetat herba, etanol 70% herba, n-heksana buah, etil asetat buah, dan etanol 70% buah menggunakan metode stabilisasi membran berturut-turut sebesar 12183,66 ± 100,90; 8308,58 ± 121,27; 813,33 ± 24,40; 12115,45 ± 285,55; 1723,20 ± 210,53; dan 5433,68 ± 179,60 ?g/mL. Ekstrak etanol 70% herba terpilih menjadi ekstrak yang akan difraksinasi karena aktivitas antiinflamasinya yang paling baik. Melalui karakterisasi ekstrak, diketahui ekstrak etanol 70% herba mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, tanin, kuinon, dan saponin. Nilai IC50 untuk fraksi 1—3, 4—6, 7—8, 9—13, dan 14—21 menggunakan metode denaturasi protein berturut-turut sebesar 2154,83 ± 16,75; 1251,83 ± 15,01; 2812,15 ± 7,52; 1034,59 ± 14,42; dan 471,76 ± 16,12 ?g/mL. Fraksi 14—21 dengan aktivitas antiinflamasi yang paling baik dipilih untuk dikarakterisasi dan diketahui bahwa fraksi mengandung senyawa golongan flavonoid dan fenol. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dari herba stroberi memiliki nilai IC50 yang paling rendah dibandingkan ekstrak dan fraksi lain yang diujikan sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen antiinflamasi.
PENGARUH OPERATOR LAC DAN INTRON TERHADAP EKSPRESI PROTEIN SPIKE PADA KANDIDAT VAKSIN COVID-19 BERBASIS ADENOVIRUS
Vaksin berbasis adenovirus merupakan salah satu platform vaksin yang banyak dikembangkan. Ekspresi transgen tidak diinginkan selama proses produksi vektor adenovirus rekombinan karena dapat menurunkan titer vektor sehingga penerapan regulasi ekspresi transgen dapat dilakukan. Akan tetapi, ekspresi transgen yang tinggi diinginkan pada sel target karena menunjukkan kemampuan vektor untuk menghasilkan respon klinis. Pada penelitian sebelumnya, kandidat vaksin COVID-19 berbasis adenovirus dengan operator lac dan intron telah berhasil dikonstruksi dan diproduksi, namun pengaruh keberadaan operator lac dan intron terhadap ekspresi protein spike belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh operator lac dan intron pada kandidat vaksin COVID-19 berbasis Adenovirus terhadap ekspresi protein spike. Keempat vektor adenovirus yang digunakan untuk ekspresi protein spike diproduksi terlebih dahulu pada sel AD293 dan dikarakterisasi dengan polymerase chain reaction (PCR) serta immunostaining untuk menghitung titer virus. Karakterisasi PCR dilakukan menggunakan empat pasang primer untuk mendeteksi gen hekson, gen spike, serta fragmen lacO dan intron. Hasil PCR mengonfirmasi keberhasilan produksi dengan keberadaan gen yang sesuai untuk tiap vektor. Hasil perhitungan titer vektor AdV_LacZ, AdV_Spike, AdV_LacO_Spike, dan AdV_LacO_Intron_Spike berturut-turut adalah 8,7 x 108; 1,8 x 108; 0,42 x 108; dan 5 x 108 IFU/mL. Deteksi ekspresi protein spike dilakukan pada sel AD293, sel AD293-LacI, dan sel A549 menggunakan Western blot. Ekspresi protein spike terdeteksi pada infeksi AdV_Spike dan AdV_LacO_Spike, namun terdeteksi rendah pada infeksi AdV_LacO_Intron_Spike pada sel AD293, AD293-LacI, dan A549. Hasil ini membuktikan bahwa sistem regulator operon lac belum berhasil dan pengaruh intron tidak dapat ditentukan karena ekspresi spike yang konsisten rendah dari vektor AdV_LacO_Intron_Spike.
EVALUASI USABILITY WEBSITE PAK OSMAN™ DALAM RANGKA MENINGKATKAN KESADARAN PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT: PENDEKATAN USER-CENTERED DESIGN (UCD)
Tenaga medis dan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam pelaporan efek samping obat (ESO), tetapi banyaknya kewajiban pelayanan mengakibatkan terhambatnya pelaporan efek samping. Untuk mengakomodasi efisiensi, dikembangkan suatu website yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja untuk lebih memudahkan mengakses materi secara berkelanjutan dan melaporkan efek samping dengan segera. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi website Edukasi dan Pelaporan ESO ‘Pak Osman’ yang dimiliki SF ITB terkait kemudahan dan kepuasan penggunaannya sebelum dapat digunakan secara luas. Penelitian ini dilakukan dengan metode quasi eksperimental, pre and post test yang dilakukan dalam rentang waktu Januari-April 2024 di wilayah Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa kuesioner, pertanyaan Single Ease Question System (SEQ) dan System Usability Scale (SUS) yang disebarkan secara langsung serta dilakukan dengan dua tahapan. Sampel pada penelitian ini merupakan tenaga kesehatan, tenaga medis dan staf bidang IT yang bekerja di wilayah Kota Bandung dengan jumlah total 10 orang. Data diolah dengan analisis deskriptif dan statistik. Metode analisis statistik yang digunakan adalah paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan skor 5,77 dari 7 untuk uji SEQ pada tahap pertama dan meningkat menjadi 6,56 dari 7 pada tahap kedua. Sementara untuk uji SUS didapatkan hasil skor 74,25 dari 100 pada tahap pertama yang masuk ke dalam kategori Execellent dengan grade B, lalu meningkat pada tahap kedua dengan skor 86 dari 100 yang masuk dalam kategori Best Imaginable dan grade A+. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tenaga kesehatan, tenaga medis, dan ahli IT dapat dengan mudah menggunakan website ini serta puas dengan kegunaannya. Dengan adanya website ini, tenaga medis dan tenaga kesehatan dapat lebih mudah mendapatkan materi mengenai ESO serta dapat melaporkan ESO dengan lebih mudah.
STUDI MODE KERJA ANTIBAKTERI DARI NANOPARTIKEL PERAK HASIL SINTESIS MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BUAH JERUK LEMON (CITRUS LIMON L.) DAN PENGARUHNYA TERHADAP MORFOLOGI SEL BAKTERI
Nanopartikel perak (AgNP) hasil sintesis hijau telah banyak dikembangkan dan diteliti sebagai agen antimikroba baru, tetapi mekanisme aktivitas antimikroba dari AgNP masih belum diketahui. Pada penelitian ini digunakan ekstrak kulit buah lemon sebagai sumber agen reduktor dan stabilisator pada sintesis nanopartikel perak dengan bantuan microwave (CL-AgNP). Larutan koloid hasil sintesis menunjukkan puncak absorbansi pada panjang gelombang surface plasmon resonance (SPR) spesifik untuk nanopartikel perak, yaitu pada 415 nm. Didapatkan hasil karakterisasi dari CL-AgNP bersifat stabil dengan nilai potensial zeta sebesar -59,6 mv dengan ukuran diameter partikel sebesar 52,6 nm. Koloid nanopartikel dikeringkan dengan metode freeze dry untuk mendapatkan padatan CL-AgNP. Nanopartikel perak hasil sintesis menggunakan ekstrak kulit buah lemon (CL-AgNP) menunjukkan nilai KHM berturut-turut terhadap bakteri Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Streptococcus mutans sebesar 50, 25, 25, dan 50 ?g/mL. Penentuan kurva waktu bunuh bakteri dilakukan dengan variasi nilai 1KHM, 2KHM, 4KHM, dan bakteri kontrol yang tidak diberi perlakuan, aktivitas bakterisidal ditunjukkan ketika terjadi pengurangan jumlah koloni lebih dari sama dengan 3log10 CFU/mL. CL-AgNP 2KHM dan 4KHM menunjukkan aktivitas bakterisidal setelah dilakukan inkubasi selama 24 jam dan 1KHM menunjukkan aktivitas bakteriostatik setelah 24 jam untuk Streptococcus mutans. CL-AgNP dengan konsentrasi 4KHM menunjukkan aktivitas bakterisidal setelah inkubasi selama 4 jam, konsentrasi 1KHM dan 2KHM menunjukkan aktivitas bakterisidal setelah inkubasi selama 8 jam untuk Pseudomonas aeruginosa. Pengamatan morfologi dilakukan untuk menentukan pengaruh pemaparan CL-AgNP terhadap morfologi bakteri menggunakan instrumentasi SEM, konsentrasi 2KHM untuk bakteri uji setelah diinkubasi selama 18 – 24 jam pada suhu 37oC menyebabkan perubahan morfologi pada dinding sel bakteri gram positif (Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus mutans) dan pada membran sel bakteri gram negatif (Pseudomonas aeruginosa) dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.