📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENENTUAN METODE EKSTRAKSI DAN ISOLASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA KULIT BUAH PISANG KEPOK (MUSA ACUMINATA × BALBISIANA)

Latar belakang dan tujuan: Pisang kepok terutama pada bagian kulit buah memiliki kandungan senyawa metabolit yang baik bagi tubuh manusia seperti senyawa antioksidan sehingga tujuan penelitian ini adalah mengkaji jumlah kadar senyawa fenol dan flavonoid, aktivitas antioksidan dari kulit buah pisang kepok dan mengidentifikasi isolat terpilih dari kulit buah pisang kepok. Metode: Penentuan ekstraksi dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu meserasi, refluks, dan UAE. Kemudian pada tiap ekstrak hasil metode ekstraksi yang berbeda dilalukan uji kadar flavonoid, kadar fenol, dan uji aktivitas antioksidan. Setelah penentuan metode ekstraksi, dilakukan proses isolasi dengan ekstraksi menggunakan UAE, fraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum, dan kromatografi kolom klasik, dan identifikasi senyawa dengan menggunakan instrumen NMR 1D dan 2D. Hasil: kadar flavonoid total tertinggi adalah ekstrak dengan menggunakan metode UAE sebesar 7,115 ± 0,226 g QE/100 g, kadar fenol total tertinggi adalah ekstrak dengan menggunakan metode UAE sebesar 10,104 ± 0,345 g GAE /100 g, aktivitas antioksdian dengan nilai IC50 paling rendah yaitu sebesar 23,147 ± 0,314 ?g/ml dengan kategori sangat kuat. Analisis H-NMR diperoleh hasil berupa terdapat 48 atom H dengan prediksi ikatan C-C dan C=C. Analisis C-NMR diperoleh hasil berupa terdapat 30 atom C dengan prediksi ikatan C-C, C=C, dan C karbonil. Analisis DEPT diperoleh hasil berupa terdapat molekul CH/CH3, CH2, dan C quartener pada isolat. Analisis HSQC diperoleh hasil berupa terdapat ikatan rangkap C=C dan C=O. Analisis HMBC diperoleh hasil berupa ikatan karbonil C=O bertetangga dengan ikatan rangkap C=C. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk metode ekstraksi yang memiliki kemampuan terbaik adalah UAE dan isolasi senyawa metabolit sekunder diperoleh diduga senyawa 4,4,9,10,13,14,17-heptamethyl-20-metileneicosahydropicen dengan rumus kimia C30H48O yang merupakan senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid.

2026
👤 Penulis: Arif Al Iman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGGUNAAN ADJUVANT EKSTRAK (MORINGA OLEIFERA} LAM.) PADA SISTEM PENGHANTARAN NANOPARTIKEL HBSAG

Masalah pada antigen rekombinan dewasa ini untuk penggunaan vaksin adalah kurang imunogenik dibandingkan vaksin mikroorganisme hidup atau inaktif. Dengan demikian dibutuhkan adjuvant yang potent untuk meningkatkan respon imun. Bahkan, desain pengembangan vaksin juga bel-peran penting dalam tercapainya peningkatan respon imun. Pada penelitian ini dikembangkan suatu sistem yang berupa nanopartikel dimana HBSAg dan ekstrak Moringa oleifera terinkorporasi dalam polimer kitosan yang telah di-crosslink dengan STPP melalui proses gelasi ionotropik, dimana STPP (sodium tripolyphosphate) berperan sebagai crosslinker dan ekstrak Moringa oleifera sebagai adjuvant. Konsentrasi HBSAg yang digunakan adalah 10 gg/mL dan konsentrasi ekstrak masing-masing 10,50, dan 100 gg/mL. Dalam penelitian ini dibuat tiga jenis nanopartikel yakni nanopartikel HBSAg, nanopaffikel ekstrak, dan nanopartikel HBSAg-ekstrak. Nanopartikel yang terbentuk kemudian dikarakterisasi, meliputi ukuran partikel menggunakan PSA, efisiensi penjerapan HBSAg menggunakan SDS PAGE (sodium dodecyl sulfate — polyacrylamide gel electrophoresis), dan efisiensi penjerapan ekstrak dilihat dari kandungan flavonoid total. Kemudian dilakukan evaluasi efektifitas nanopartikel dalam menstimulasi respon imun dengan menggunakan uji maturasi sel dendritik secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan ukuran partikel berada di rentang 1 11-246 nm. Efisiensi penjerapan HBSAg di formula terpisah 79,47% sedangkan di formula kombinasi 96-99%. Efisiensi penjerapan ekstrak di formula terpisah sekitar 64-91% sedangkan di formula kombinasi 55-83%. Nanopartikel kombinasi HBSAg-ekstrak memberikan respon imun lebih baik dibandingkan yang terpisah, dimana respon imun tertinggi diberikan oleh nanopartikel kombinasi HBSAg 10 gg/mL dan -ekstrak 10 gg/mL dalam mematurasi sel dendritik. Secara keseluruhan sediaan nanopartikel meningkatkan respon imun meskipun tidak sebesar HBsAg standar. Akan tetapi penggunaan nanopartikel ini diharapkan lebih efisien untuk pemakaian oral.

2026
👤 Penulis: Adik Ahmadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN DAN ANALISIS HIDRODINAMIKA PADA THREE REACTOR CHEMICAL LOOPING UNTUK PRODUKSI HIDROGEN

Konsumsi energi saat ini umumnya menyebabkan emisi CO2, salah satu gas rumah kasa (GRK), sehingga menyebabkan kenaikan temperatur global. Respon dari hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030. Berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengurangi emisi GRK untuk membatasi kenaikan temperatur global untuk abad ini menjadi 1,5-2 °C di atas temperatur bumi pra-industri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan transisi energi. Penggunaan bahan bakar non-karbon menjadi banyak perhatian karena penggunaannya tidak mengemisikan CO2, salah satu bahan bakar non-karbon yang menjanjikan adalah hidrogen. Ditambah, hidrogen menjadi salah satu calon penyimpan energi yang menjanjikan untuk mengatasi permasalahan intermitensi pembangkitan listrik dari energi baru terbarukan. Three Reactor Chemical Looping (TRCL) merupakan teknologi untuk memproduksi hidrogen. Penggunaan teknologi ini dapat membantu pengurangan emisi CO2, dikarenakan teknologi pada TRCL menyediakan pembakaran dengan pemisahan O2 dari udara sehingga CO2 dapat ditangkap dengan mudah. Pada penelitian ini, sistem TRCL dirancang dengan model aliran dingin untuk melakukan analisis hidrodinamika dari keseluruhan sistem sebelum dirancang TRCL dengan reaksi kimia. Setelah perancangan dan fabrikasi TRCL selesai, pengujian dilakukan untuk menghitung laju sirkulasi padatan dari TRCL. Dengan injeksi aliran udara menuju TRCL, didapat laju sirkulasi padatan dapat meraih 2,6 g/s. Pada reaktor bahan bakar dan reaktor uap air zona gelembung terjadi di atas kecepatan minimum fluidisasi. Pada penelitian ini juga diperoleh jangkauan operasi dari katup non mekanikal yang digunakan. Penelitian dengan model aliran dingin nantinya dapat diskala besarkan dengan aturan penskalaan untuk pembuatan model dengan reaksi kimia.

2026
👤 Penulis: Andry Noer
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR MINYAK DAUN CENGKEH (SYZYGIUM AROMATICUM (L.) MERR. & L.M. PERRY), EKSTRAK ETANOL, DAN FRAKSI DAUN JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA L.) TERHADAP JAMUR TRICHOPHYTON RUBRUM

Trichophyton rubrum merupakan salah satu jamur dermatofit penyebab tinea pedis, penyakit yang menginfeksi kulit bagian kaki. Tinea pedis umum dijumpai di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) dan jambu biji (Psidium guajava L.) termasuk famili myrtaceae yang banyak tumbuh di Indonesia, keduanya pun memiliki berbagai aktivitas farmakologi, antara lain antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry), ekstrak etanol, dan fraksi daun jambu biji (Psidium guajava L.) dalam menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Parameter karakterisasi yang dilakukan pada sampel minyak daun cengkeh mengacu pada parameter yang tertera dalam Standar Nasional Indonesia dan untuk simplisia dan ekstrak daun jambu biji mengacu pada Farmakope Herbal Indonesia. Uji aktivitas antijamur dilakukan secara kualitatif dengan metode difusi cakram dan secara kuantitatif melalui penentuan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Fungisida Minimum (KFM) dengan metode mikrodilusi. Hasil pengujian aktivitas antijamur tersebut menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki nilai KHM 0,48 ?g/mL dan KFM 0,96 ?g/mL. Ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan fraksi air-etanol daun jambu biji memiliki nilai KHM berturut-turut 6250, 3125, dan 3125 ?g/mL. Dapat disimpulkan seluruh sampel uji memiliki aktivitas antijamur terhadap jamur Trichophyton rubrum dengan minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) memiliki aktivitas antijamur yang sangat baik, sedangkan untuk ekstrak etanol dan fraksi daun jambu biji memiliki aktivitas antijamur yang rendah.

2026
👤 Penulis: Faridah Azhar Husniah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

POTENSI FRAKSI KULIT BATANG KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNII (NEES & T. NEES) BLUME) DALAM SISTEM NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) SEBAGAI INHIBITOR ENZIM TIROSINASE

Hiperpigmentasi merupakan suatu kondisi ketika sebagian area pada kulit menjadi lebih gelap daripada area lainnya. Kelainan ini disebabkan oleh produksi melanin yang berlebihan pada kulit. Melanin disintesis pada proses melanogenesis, dibantu oleh enzim tirosinase yang bertanggung jawab pada dua reaksi awal paling krusial pada proses tersebut. Karena hal tersebut berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi hiperpigmentasi, salah satunya dengan menggunakan inhibitor enzim tirosinase. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa terdapat aktivitas inhibisi enzim tirosinase pada kulit batang kayu manis. Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas inhibisi enzim tirosinase terhadap ekstrak dan fraksi kulit batang kayu manis yang dilanjutkan dengan pembuatan serta karakterisasi sediaan nanostructured lipid carrier (NLC) dari sampel yang memberikan aktivitas inhibisi paling tinggi. Dilakukan ekstraksi cara dingin menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% pada simplisia kulit batang kayu manis. Dilanjutkan dengan fraksinasi metode ekstraksi cair-cair (ECC) menggunakan pelarut dengan kepolaran bertingkat yaitu air, etil asetat, dan n-heksana. Kemampuan inhibisi enzim tirosinase pada sampel ekstrak dan fraksi ditentukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) bioautografi serta dengan menentukan nilai IC50 untuk tiap sampel. Nilai IC50 merupakan ukuran kuantitatif yang menunjukkan seberapa banyak zat penghambat tertentu (misalnya obat) yang diperlukan untuk menghambat proses biologis (in vitro) tertentu sebesar 50%. Fraksi n-heksana menunjukkan aktivitas yang paling tinggi dengan IC50 sebesar 161,88 ± 5,58 µg/mL jika dibandingkan dengan sampel ekstrak, fraksi etil asetat, dan fraksi air yang memiliki nilai IC50 berturut-turut sebesar >10000 µg/mL; 2960,37 µg/mL; dan >10000 µg/mL. Optimasi formula untuk sediaan NLC yang dilakukan berupa skrining lipid padat, optimasi lipid padat, dan optimasi jumlah lipid total. Formula optimum yang didapatkan dari penelitian terdiri dari lipid padat berupa setil alkohol dan lipid cair berupa asam oleat dengan rasio 3:7 dan jumlah lipid total sebesar 2,50%. Digunakan pula surfaktan berupa Tween 80 dengan jumlah 4% dari bobot total sediaan. Hasil karakterisasi ukuran partikel, indeks polidispersitas, serta potensial zeta untuk sediaan NLC dengan fraksi n-heksana (NLC-FH) adalah berturut-turut sebesar 257,07 ± 24,52 nm; 0,21 ± 0,03; dan +45,29 mV. Nilai IC50 untuk pengujian aktivitas inhibisi enzim tirosinase sediaan NLC-FH adalah sebesar 186,40 ± 3,27 µg/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan aktivitas sebesar 24,22 µg/mL pada aktivitas inhibisi kulit batang Cinnamomum burmannii dalam bentuk sediaan NLC bila dibandingkan dengan bentuk fraksinya. Analisis statistik menggunakan metode unpaired T-test menunjukkan bahwa aktivitas keduanya memiliki perbedaan yang bermakna. Maka dari itu, dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bentuk sediaan NLC dari kulit batang kayu manis memiliki aktivitas inhibisi enzim tirosinase yang lebih rendah daripada bentuk fraksinya namun cukup baik. Terjadinya penurunan aktivitas tidak membuatnya menjadi alternatif yang buruk untuk dikembangkan lebih lanjut sebab nilai IC50 NLC-FH tidak terlalu jauh berbeda dengan bentuk fraksi n-heksannya. Selain itu, yang terpenting dari pembuatan sediaan adalah ketersampaian zat aktif pada target kerja sehingga dengan dibuat menjadi sediaan NLC tentunya mampu menghantarkan obat dengan jauh lebih baik daripada dalam bentuk fraksinya.

2026
👤 Penulis: Kalista Faramadina
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ISOLASI SENYAWA AKTIF INHIBITOR ENZIM TIROSINASE DARI FRAKSI N-HEKSANA KULIT BATANG KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNII (NEES & T. NEES) BLUME)

Hiperpigmentasi merupakan kelainan pada kulit dimana terjadi peningkatan produksi melanin. Enzim tirosinase berperan sebagai katalisator pada proses melanogenesis. Penelitian sebelumnya membuktikan terdapat senyawa turunan polifenol dalam minyak atisiri dan triterpenoid pada fraksi n-heksana kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii (Nees & T. Nees) Blume) yang berperan sebagai inhibitor tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi ekstrak dan fraksi dari kulit batang kayu manis (C. burmannii) sebagai inhibitor enzim tirosinase, mengisolasi senyawa aktif inhibitor enzim tirosinase pada fraksi n-heksana kulit batang kayu manis, serta mengkarakterisasi dan mengidentifikasi isolat aktif. Simplisia diekstraksi secara maserasi dengan etanol 96%. Fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol-air. Ekstrak dan fraksi dipantau dengan KLT menggunakan penampak bercak universal dan spesifik. Uji aktivitas dilakukan secara kualitatif dengan metode KLT bioautografi dan secara kuantitatif dengan menentukan nilai IC50. Hasil KLT bioautografi menunjukkan terdapat inhibisi tirosinase pada ekstrak, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, fraksi etanol-air, dan asam kojat sebagai pembanding. Ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, fraksi etanol-air, dan asam kojat memiliki nilai IC50 berturut-turut adalah 6.496,83 ± 267,44; 637,88 ± 37,11; 3.612,28 ± 73,53; >12.000 (inhibisi 37,23% pada konsentrasi 12.000 µg/mL); 8,40 ± 1,24 µg/mL. Subfraksinasi dilakukan dengan metode kromatografi kolom klasik. Pemurnian dilakukan dengan metode kromatografi kolom klasik. Uji kemurnian dilakukan dengan metode KLT pengembangan tunggal dengan tiga fase gerak dan KLT dua dimensi. Hasil uji kemurnian didapatkan isolat X yang diuji aktivitasnya secara kualitatif. Isolat X dikarakterisasi dengan penampak bercak spesifik, spektrofotometri IR, dan KLT densitometri. Fraksi n-heksana menunjukkan aktivitas inhibisi enzim tirosinase paling kuat, diikuti oleh fraksi etil asetat, dan ekstrak etanol. Sedangkan fraksi etanol-air hanya menunjukkan inhibisi di bawah 50% pada konsentrasi 12.000 µg/mL. Isolat X yang diisolasi dari fraksi n-heksana kulit batang kayu manis secara kualitatif memiliki aktivitas inhibisi terhadap enzim tirosinase dan teridentifikasi sebagai senyawa flavonoid subgolongan isoflavon.

2026
👤 Penulis: Nur Aini Sa'ah Dini
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN UJI DIAGNOSTIK BERBASIS SYBR GREEN REAL-TIME PCR DENGAN INTERNAL CONTROL HUMAN RNASE P UNTUK DETEKSI DINI DENGUE DI INDONESIA

Demam berdarah merupakan penyakit endemik di Indonesia yang disebabkan oleh virus dengue (DENV) dan ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes sp. betina. Infeksi DENV menghasilkan gejala awal dengan spektrum luas sehingga diagnosis berdasarkan gejala klinis sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan metode diagnosis DENV yang efektif dan akurat untuk penanganan medis serta kontrol outbreak dari virus ini. Pada penelitian ini, dikembangkan uji diagnostik berbasis SYBR green real-time PCR dengan internal control Human RNase P. Untuk mendeteksi DENV, digunakan primer B2 DENV dari hasil penelitian sebelumnya yang mentarget keempat serotipe DENV. Untuk deteksi internal control, dilakukan perancangan sekuens target amplifikasi dari Human RNase P subunit RPP29 dan RPP30 dengan metode multiple sequence alignment pada tiga belas sekuens kromosom 19 dan kromosom 10 dari empat ras manusia. Kemudian, dilakukan optimasi konsentrasi primer DENV dan internal control dengan real-time PCR berbasis SYBR Green. Karakterisasi uji diagnostik dilakukan melalui penentuan linearitas, efisiensi, limit of quantification (LOQ), dan limit of detection (LOD) dengan SYBR green real-time PCR menggunakan fragmen DENV yang disisipkan pada plamid pUC57. Setelah uji diagnostik berhasil dikarakterisasi, dilakukan pengujian ke sampel pasien suspek DENV. Pengujian untuk DENV dan internal control dilakukan secara terpisah (singleplex). Dari hasil penelitian, konsentrasi primer optimum untuk DENV (forward-reverse) adalah 500 nM dan 400 nM serta untuk internal control adalah 400 nM dan 300 nM. Efisiensi reaksi uji diagnostik ini adalah 82.43% dengan R2 = 0.9994 dan memiliki LOQ sebesar 3000 kopi/mL serta LOD 2641 kopi/mL. Hasil yang didapat menujukan uji diagnostik DENV yang dikembangkan dapat mendeteksi target RNA DENV dan RPP29 pada sampel pasien suspek DENV. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini telah berhasil dirancang dan dikarakterisasi uji diagnostik berbasis SYBR Green real-time PCR dengan internal control RPP29.

2026
👤 Penulis: Kamila Puspita
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

ANALISIS KOMPARASI EKSTRAKSI DTM DARI DATA AWAN TITIK AIRBORNE LIDAR DENGAN METODE FILTERING ADAPTIVE TIN, CLOTH SIMULATION FILTER, DAN PROGRESSIVE MORPHOLOGICAL FILTER

LiDAR merupakan sebuah sistem yang dapat menghasilkan data elevasi permukaan secara digital dengan cepat dan dengan biaya yang relatif terjangkau. Dalam beberapa dekade terakhir, pengaplikasian data LiDAR dalam pemetaan semakin banyak digunakan karena memiliki resolusi dan akurasi yang tinggi. Akan tetapi, data LiDAR yang masih mentah belum dapat diolah menjadi Digital Terrain Model (DTM) karena masih mengandung data awan titik yang dipantulkan dari berbagai objek di permukaan Bumi. Untuk membuat DTM, objek tanah dan non tanah harus dipisahkan dari data awan titik LiDAR melalui proses filtering. Banyak metode filtering yang telah dibuat untuk mengekstraksi data awan titik LiDAR yang berada di tanah secara otomatis. Tugas Akhir ini dibuat dengan tujuan untuk memahami karakteristik serta perbedaan masing-masing metode filtering awan titik LiDAR dalam menghadapi berbagai kondisi topografi. Hasil yang didapatkan berupa data awan titik LiDAR yang telah melalui proses filtering dan juga permukaan DTM. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur dan pengolahan data menggunakan tiga algoritma filtering data awan titik LiDAR yaitu Adaptive Triangulated Irregular Network (ATIN), Cloth Simulation Filter (CSF), dan Progressive Morphological Filter (PMF). Hasil yang didapatkan melalui penelitian pada Tugas Akhir ini berupa data perbandingan awan titik LiDAR yang telah melalui proses filtering serta representasi DTM yang dihasilkan. Diharapkan hasil dari penelitian pada Tugas Akhir ini dapat menjadi solusi pemilihan metode filtering data awan titik LiDAR yang tepat dan sesuai dengan karakteristik data awan titik LiDAR yang digunakan.

2026
👤 Penulis: Panji Perkasa Sulung
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Digital 🏷️ Pemetaan Semenanjukan

KARAKTERISASI RESERVOIR MENGGUNAKAN METODE INVERSI EXTENDED ELASTIC IMPEDANCE DENGAN PARAMETER LAMBDA-RHO DAN MU-RHO PADA LAPANGAN “NOPAL”, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA

Formasi Kujung pada lapangan “Nopal” merupakan salah satu lapangan penghasil minyak dan gas yang berada di cekungan Jawa Timur Utara. Formasi ini tersusun atas batuan karbonat dengan selingan batuserpih. Karena kekompleksannya, diperlukan adanya penelitian terkait persebaran reservoir karbonat yang porous serta persebaran hidrokarbon yang mengisi lapangan ini secara lateral. Untuk itu, diperlukan suatu parameter elastik yang dapat memisahkan antara litologi serta keberadaan fluida. Selain itu, perlu diterapkan suatu metode yang dapat menggambarkan parameter elastik tersebut pada zona reservoir. Pada penelitian ini, digunakan parameter elastik yaitu mu-rho yang sensitif terhadap litologi sehingga dapat digunakan untuk melihat batuan karbonat yang porous, dan lambda-rho yang sensitif terhadap keberadaan fluida sehingga dapat digunakan untuk melihat hidrokarbon yang mengisi reservoir. Metode Extended Elastic Impedance (EEI), yang merupakan metode yang dapat menginversikan volume reflektivitas dari parameter elastik, sangat cocok digunakan dalam penelitian ini. Metode ini lebih cocok digunakan dibandingkan metode Acoustic Impedance (AI) yang menggunakan parameter p-impedance, karena parameter ini masih belum bisa memisahkan antara litologi dan fluida. Dari volume reflektivitas EEI yang dibuat, nantinya diinversikan menggunakan metode inversi seismik sparse spike linear programming. Kemudian dari hasil inversi dan slicing didapatkan bahwa lapangan “Nopal” memiliki batuan karbonat yang porous yang diperkirakan karena daerah tinggian pada lapangan ini merupakan tinggian masa lampau yang sempat terpapar ke permukaan dan mengalami leaching, serta terdapat zona yang terbukti terisi oleh hidrokarbon pada puncak antiklin. Namun dari analisis data log menunjukkan masih terdapat zona yang berkemungkinan terisi oleh hidrokarbon, sehingga perlu dilakukan tes lebih lanjut untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon pada zona ini.

2026
👤 Penulis: Ammardra Naufal Taajliefan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH UNTUK IDENTIFIKASI TANAH TIMBUL DI KOTA/KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN SENTINEL-2A

Akresi tanah dan abrasi tanah merupakan suatu masalah yang krusial di Indonesia, dikarenakan hal ini berkaitan dengan bagaimana manusia hidup dan cara bertahan hidup. Tanah akresi yang terjadi sebagai bagian dari bentang alam dari Cirebon mempunyai prospek ekonomi yang tinggi serta menjadi isu yang kontroversial ketika lahan akresi yang merupakan lahan kosong ini jatuh ke tangan yang salah dan tidak memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan tanah ini. Akresi tanah adalah fenomena alam yang terjadi akibat aktivitas erosi pantai pada morfologi pantai karena fenomena dinamis yang terjadi dengan karakteristik laut dan juga karena aktivitas sedimentasi pantai di Teluk. Parameter yang digunakan untuk mengukur sedimentasi pada area ini adalah menggunakan penghitungan Untuk mencapai pengukuran pada bahan yang tersuspensi, terdapat dua pengamatan yang digunakan pada metode ini yang pertama menggunakan model hidrodinamika pada model ini, beberapa fenomena bumi seperti gelombang angin, akselerasi gelombang dan data MetOcean digunakan untuk membuat model mengenai sedimen yang tersuspensi di daerah pesisir, terutama di daerah pesisir Cirebon. Selain menggunakan model Delft3D, penginderaan jarak jauh laut digunakan untuk membuat peta deteksi perubahan dengan menggunakan pita optik Sentinel-2A, Total material yang tersuspensi dapat diukur dengan menghitung reflektansi menggunakan B4 (band merah) pada Sentinel 2A/B yang memiliki korelasi besar antara model Delft3D, kemudian penggunaan dari DSAS (Digital Shoreline Analysis) digunakan untuk mencari daerah yang mengalami sedimentasi serta pencarian model curah hujan dengan TRMM (Tropical Rainfall Measurement Mission) untuk mencari kaitan curah hujan dengan sedimentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendefinisikan kembali batas antara tanah akresi untuk tujuan kadaster dan untuk mengetahui penyebab dari akresi tanah berdasarkan model Delft3D dan otoritas yang memiliki tanggung jawab dengan evaluasi tren akresi tanah

2026
👤 Penulis: Willy Gomarga
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

SINTESIS, PELABELAN, DAN UJI BIODISTRIBUSI MESO - 5, 15 - DI [3, 4 - BIS (KARBOKSI METILEN OKSI) FENIL] PORFIRIN DAN MESO - 5, 15 - DI [3, 4 - BIS (KARBOKSI METILEN OKSI) FENIL], 10, 20 - DIFENIL PORFIRIN SEBAGAI LIGAN RADIOFARMAKA TERANOSTIK

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Keterlambatan pendeteksian penyakit ini akan meningkatkan resiko kematian pada penderita. Kanker pada stadium awal pada dasarnya dapat diatasi dengan berbagai macam terapi. Deteksi dini dan terapi kanker lebih awal dapat mengurangi resiko kematian penderita. Selama ini penanganan penyakit kanker dilakukan dengan iradiasi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya, dan pengangkatan jaringan kanker. Pengobatan dengan iradiasi hingga kini masih belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, sedangkan kemoterapi bersifat tidak selektif dan sering menginduksi kanker primer kedua sebagai akibat dari sifat karsinogenik yang umumnya juga dimiliki oleh senyawa yang digunakan. Demikian juga dengan pengangkatan jaringan kanker yang sering tidak sempurna. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menemukan teknik diagnosis dan terapi kanker yang efektif dan aman dalam penggunaannya. Diagnosis dan terapi secara radiofarmasi adalah salah satu alternatif terbaik untuk mengatasi hal tersebut. Pelabelan radionuklida pemancar gamma dan beta pada senyawa pembawa yang selektif berikatan dengan jaringan kanker akan menghasilkan radiofarmaka yang aman dan potensial. Radiasi gamma dapat digunakan untuk diagnosis, sementara partikel beta melalui besaran energi yang dihasilkan dapat membunuh sel kanker. Peranan senyawa pembawa untuk mengantarkan radiasi gamma dan beta pada jaringan kanker menjadikan diagnosis yang tepat dan terapi yang selektif dan aman. Porfirin dan turunannya banyak dipelajari untuk terapi kanker karena memiliki selektivitas yang tinggi terhadap sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa porfirin baru larut air, meso - 5, 15 - di [3, 4 - bis (karboksi metilen oksi) fenil] porfirin (D3,4BCPP) dan meso - 5, 15 - di [3, 4 - bis (karboksi metilen oksi) fenil], 10, 20 - difenil porfirin (D3,4BCPDPP), melabelnya dengan radionuklida pemancar gamma atau beta, dan uji biodistribusinya untuk menghasilkan kandidat radiofarmaka untuk diagnosis atau terapi kanker. Penelitian diawali dengan pemodelan molekul dan prediksi toksisitas untuk memprediksi stabilitas dan keamanan senyawa yang akan disintesis serta iii kemungkinannya untuk dilabel dengan radionuklida. Hasil pemodelan molekul menggunakan perhitungan metode teori fungsi densitas (density functional theory, DFT) menunjukkan bahwa senyawa D3,4BCPP dan D3,4BCPDPP memiliki energi total yang rendah yang menunjukkan bahwa kedua senyawa tersebut stabil. Gugus karboksilat pada substituen meso senyawa D3,4BCPP dan D3,4BCPDPP dapat dilabel dengan radionuklida rhenium (Re) menghasilkan kompleks Re-D3,4BCP dan Re-D3,4BCPDPP yang lebih stabil walaupun mengalami perubahan molekular senyawa berdasarkan sudut dan panjang ikatan, energi total molekul maupun distribusi elektronnya. Hasil prediksi toksisitas menggunakan ADMET Predictor™ menunjukkan bahwa senyawa D3,4BCPP memiliki toksisitas akut terhadap tikus; D3,4BCPDPP mempunyai toksisitas akut pada tikus dan bersifat hepatotoksik; senyawa Re-D3,4BCPP mempunyai toksisitas akut pada tikus, bersifat hepatotoksik dan ada kemungkinan karsinogenik pada tikus dengan mekanisme yang membutuhkan aktivasi mikrosomal hati; dan senyawa Re- D3,4BCPDPP mempunyai toksisitas akut pada tikus dan bersifat hepatotoksik. Namun semua toksisitas itu dapat terjadi jika melewati dosis toksiknya yang tinggi (di atas 3,16 mg/kg bobot badan/hari). Sintesis D3,4BCPP dan D3,4BCPDPP menggunakan metode Lindsey dan Wagner yang dimodifikasi dengan penggunaan dipirometana dan 5-fenildipirometana, menghasilkan senyawa murni D3,4BCPDPP berbentuk kristal berwarna ungu larut air. Kedua senyawa tersebut dikarakterisasi dengan spektrofotometri resonansi magnetik inti. Pelabelan senyawa D3,4BCPDPP dan D3,4BCPP dengan radionuklida 186 Re menghasilkan kompleks 186 Re-D3,4BCPDPP dan 186 Re-D3,4BCPP dengan efektivitas pelabelan berturut-turut 92% dan 91,6% yang diperoleh dengan mekanisme reaksi transkelasi pada kondisi optimum reaksi pada pH 4-5, reduktor SnCl2, waktu inkubasi 60 menit pada suhu kamar, dan penambahan vitamin C untuk meningkatkan stabilitasnya pada penyimpanan. Uji biodistribusi pada mencit normal dan mencit yang diinduksi kanker menunjukkan retensi 186 Re-D3,4BCPDPP yang rendah pada organ-organ vital. Pada mencit yang diinduksi kanker, distribusi 186 Re-D3,4BCPDPP pada tumor 2 jam setelah penyuntikan sebesar 1,45 %ID/g yang bertahan pada level 0,81 %ID/g pada 24 jam setelah penyuntikan. Rasio distribusi 186 Re-D3,4BCPDPP pada tumor terhadap darah pada 2 jam, 4 jam, dan 24 jam setelah penyuntikan berturut-turut adalah 0,621; 0,943; dan 1,07. Sementara rasio distribusi 186 Re-D3,4BCPDPP pada tumor terhadap otot pada 2, 4, dan 24 jam setelah penyuntikan berturut-turut adalah 3,5; 3,4; dan 6,2. Hal ini menunjukkan selektivitas ikatan 186 Re- D3,4BCPDPP pada tumor, dibandingkan dengan jaringan/organ normal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa senyawa 186 Re- D3,4BCPDPP memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai radiofarmaka yang aman dan efektif untuk diagnosis dan terapi kanker.

2026
👤 Penulis: Faujan Zein Mutaqin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI DISTRIBUSI TEGANGAN, FENOMENA KEGAGALAN DAN PENINGKATAN INTEGRITAS MEKANIKAL SAMBUNGAN ADESIF PIPA KOMPOSIT YANG MENDAPAT BEBAN TEKANAN INTERNAL DAN TORSI

Pipa komposit telah dikenal dan dipakai sejak 40 tahun terakhir. Umumnya pipa ini dipakai sebagai alternatif jika penggunaan pipa baja mengalami laju korosi tinggi sehingga tidak lagi ekonomis bahkan bisa membahayakan lingkungan. Kelebihan pipa komposit bukan hanya dari segi ketahanan terhadap korosi, tetapi juga lebih ringan dan bisa lebih kuat jika arah serat dirancang optimal sesuai dengan orientasi tegangan prinsipal. Salah satu persoalan pada pipa komposit adalah keterbatasan metode penyambungan dan sering terjadi kebocoran. Penelitian ini membahas salah satu jenis sambungan yang biasa dipakai, yaitu sambungan adesif. Permasalahan yang terjadi pada sambungan adesif adalah tingginya konsentrasi tegangan pada bagian pinggirnya, baik pada lapisan adesif maupun pada pipa / koplernya. Konsentrasi tegangan tersebut dapat menginisiasi kegagalan yang mengakibatkan sambungan menjadi tidak efektif. Beberapa peneliti telah mengusulkan modifikasi-modifikasi untuk mengatasi permasalahan ini, misalnya merancang model taper joint dan taper/taper joint. Namun metode ini pun dianggap belum memuaskan karena kegagalan masih diawali dari bagian pinggir sambungan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan rancangan optimum dengan integritas yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, terlebih dahulu dilakukan studi karakteristik sambungan adesif. Studi diawali dengan analisis distribusi tegangan pada lapisan adesif, yang mana lapisan ini dianggap bagian terlemah dari sambungan. Selanjutnya dilakukan studi parametrik untuk mengetahui pengaruh: ketebalan lapisan adesif, panjang sambungan, rasio elastisitas adesif dengan elastisitas pipa, serta rasio ketebalan kopler dengan ketebalan pipa. Parameter-parameter tersebut selanjutnya divariasikan dan dilakukan simulasi numerik untuk mendapatkan rancangan baru dengan konsentrasi tegangan yang minimal. Pada penelitian ini diusulkan dua metode baru untuk sambungan adesif yang relatif berbeda dengan model-model sebelumnya. Model pertama, disebut model sambungan tirus-dalam, adalah sebuah model yang pembuatan tirus dilakukan pada kopler bagian dalam. Metode ini memiliki dampak ganda, di mana penurunan konsentrasi tegangan bukan hanya disebabkan oleh pengecilan penampang kopler, tetapi sekaligus juga karena penebalan lapisan adesif. Model ini lebih efektif dibandingkan model taper joint yang diusulkan peneliti sebelumnya. Model ini bisa menurunkan konsentrasi tegangan menjadi 1,4, suatu angka yang 56,25 % lebih rendah dari konsentrasi tegangan 3,2 pada model tapper joint. Model kedua, disebut model sambungan dua-adesif. Model ini menggunakan dua macam material adesif dengan elastisitas yang berbeda. Adesif material rendah digunakan di bagian pinggir sambungan, sedangkan adesif dengan elastisitas tinggi di bagian tengahnya. Dari analisis numerik diketahui bahwa model ini bisa menurunkan konsentrasi tegangan sebesar 18,75 %, jika dibandingkan dengan model yang memakai satu jenis adesif saja. Penelitian ini dilengkapi dengan studi eksperimental dengan menguji beberapa spesimen sambungan. Distribusi tegangan pada lapisan adesif diukur dengan sensor regangan (strain gauge). Selanjutnya spesimen diberi beban puntir dan tekanan internal. Distribusi tegangan lapisan adesif bisa diketahui dari potensial listrik yang dihasilkan oleh masing-masing sensor. Potensial listrik dibaca dengan seperangkat peralatan pembaca data (akusisi data). Hasil pengukuran distribusi tegangan terhadap lima buah spesimen dengan beban torsi menunjukkan kecendrungan yang sama dengan kajian teoritik dan numerik, meski ada perbedaan-perbedaan hasil pengukuran. Perbedaan yang signifikan terjadi pada spesimen-2 sebesar 20 % pada posisi x/L=0 dan 17 % pada posisi x/L=1. Pengujian spesimen terhadap beban tekanan internal juga menunjukkan kecendrungan yang sama, meski terjadi kesalahan sebesar 20 % pada posisi x/L=1. Studi eksperimental juga dimaksudkan untuk mengamati fenomena kegagalan. Pengujian model tanpa modifikasi yang diberi tekanan internal menunjukkan bahwa secara umum modus kegagalan berupa terjadinya kebocoran. Kebocoran tersebut terjadi pada permukaan batas antara material adesif dengan permukaan pipa / kopler (adhesive failure mode). Dari pengamatan terhadap spesimen yang dipotong, terlihat bahwa kegagalan dimulai dari bagian pinggir (x/L=0). Dari dua model baru yang diusulkan, model tirus-dalam dianggap berhasil mengatasi kebocoran. Pengujian terhadap tiga spesimen model tirus dalam, dua spesimen (spesimen TD-2 dan TD-3) mampu menahan tekanan internal sampai 700 psi (?4,8 MPa, yaitu batas maksimum alat uji). Hanya satu spesimen (spesimen TD-1) yang mengalami kebocoran pada tekanan ?400 psi (?2.76 MPa). Kebocoran pada spesimen TD-1) terjadi karena kualitas produkasinya yang rendah, terlihat adanya porositas-porositas dari penampang potongannya.

2026
👤 Penulis: Jamiatul Akmal
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

SINTESIS PARTIKEL NANO TiO2-KITOSAN DENGAN TEMPLAT KANJI MENGGUNAKAN METODA SOL GEL PADA COTTON SEBAGAI APLIKASI TEKSTIL ANTI UV

Sintesis partikel nano menggunakan TiO2 berbasis air dengan pH basa telah berhasil disintesis dengan menggunakan metode sol-gel dan telah terimobilisasi pada bahan Cotton dengan menggunakan asam sitrat sebagai zat pengikat silang, dengan metoda pad-dry-cure. Proses sintesis dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter diantaranya konsentrasi prekursor TiCl4 0.3 M, 0.5 M dan 1.0 M, menggunakan templat kanji 1%, dengan variasi temperatur kalsinasi (400?C,500?C, 600?C) selama 2 jam dan diaplikasikan ke bahan Cotton dengan metoda pad-dry-cure pada temperatur 120?C selama 3 menit. Karakterisasi Scanning Electron Microscope (SEM) untuk melihat morfologi dari hasil sintesis serbuk dan morfologi terimobilisasinya TiO2 pada bahan Cotton. Karakterisasi struktur dilakukan dengan X-Ray Diffraction (XRD), karakterisasi UV-Vis spektrofotometri dilakukan untuk memeriksa band gap, dan karakterisasi Brunauer Emmett Teller (BET) untuk melihat luas permukaan, diameter pori, dan volume rata-rata pori. Untuk aplikasi ke bahan tekstil dilakukan karakterisasi Fourier Transform Infra Red ( FTIR). Berdasarkan hasil Scanning Electron Microscope (SEM) dilihat morfologi partikel memberikan ukuran nano kurang dari 100 nm, pH basa cenderung memberikan partikel yang kecil dan teraglomerasi, setelah diberikan templat kanji distribusi partikel lebih seragam dengan ukuran partikel naik 170 – 200 nm. Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) memiliki struktur dengan tiga puncak utama (100), (101) dan (102,) fasa kristal yang terbentuk anatase dan rutile, dengan ukuran kristal 5 – 20 nm. Karakterisasi UV-Vis spektrofotometri memberikan nilai band gap 3,1 eV- 3,5 eV dan karakterisasi Brunauer Emmett Teller (BET) tanpa templat kanji 1 % luas permukan spesifik 40,65 m2/g, dengan volume total pori 0,278 cm3/g dengan penambahan templat kanji menjadi lebih kecil dengan luas permukan spesifik 35,44 m2/g dengan volume total pori 0,196 cm3/g , diameter rata-rata pori 20 – 30 nm. Hasil terbaik dari serbuk TiO2 partikel nano pada konsentrasi 0,3 M dengan penambahan templat kanji. Pada karakterisasi aplikasi ke bahan Cotton dilihat morfologi Scanning Electron Microscope (SEM) telah berhasil masuk dan terimobilisasi ke bahan Cotton dengan penambahan kitosan dan asam sitrat sebagai crosslinking sehinggga bisa berfungsi sebagai UV blocking, hasil karakterisasi dikonfirmasi dengan Fourier Transform Infra Red( FTIR), pada puncak 3495cm-1 adanya gugus O- H dan N-H, dan terdapat ikatan hidrogen dari asam karboksilat O – H pada puncak 2546 cm-1 dan adanya gugus Ti-O-Ti pada puncak serapan 511 cm-1.

2026
👤 Penulis: Maya Komalasari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PREDIKSI BERDASARKAN CFD EFISIENSI KETAHANAN UNTUK BERBAGAI MODEL GERAK DARI PENERBANGAN BURUNG PENERBANGAN

Innovation in new technology demand, such as Micro Aerial Vehicle evolved recently for acquiring most favorable value of utilization that is denoted by efficiency parameter. Nature always become part of inspiration and for this interest, many researcher have spent much time on studying the behavior of flying animals to comprehend the fundamental, such as a bird in flight. As to seek bird flight efficiency, it is can be defined from endurance efficiency which is ratio of required aerodynamic power to a unit carried weight. This efficiency can give information about how a bird with its flapping wing motion be able to maintain its flight level for longer flight time. The paper presents the computation of endurance efficiency of a flapping bird flight using computational fluid dynamics approach. Hawk bird model becomes a computational case for studying the effect of flapping parameters on endurance efficiency. The flapping parameters includes, flapping way, flapping frequency, maximum angles of dihedral, retraction and twist. For the computational model, the bird only consider as a flat plate shaped wing model with the planform size based on Hawk bird geometry. The computational simulations are conducted to calculate time-dependent aerodynamic forces and pitching moment of the wing based on the solution of Reynold Averaged Navier-Stokes equation. To capture viscous effect at low Reynolds number of 2.0 x 105 on the wing surface, multi grid structured mesh is required. It is also to hinder numerical problem related to over-lapping mesh during the simulation of wing motion. Mimicking the motion of downstroke and upstroke of bird wing, a sinusoidal function is used. The simulations are carried out for the variation of flapping frequencies, retraction angle, maximum dihedral angle, maximum twist angle, and motion mechanism in order to investigate its effect on aerodynamic forces and moment production. The frequency variation is conducted within the upper and lower values of actual frequency 2.87 Hz as reference frequency of Hawk. Furthermore, dihedral variations is from 10 to 40 degrees. Then, the variations of twist or pitching angles is 12, 15, and 20 degrees. The variation of retraction or hand circumduction angle is 10, 20, and 25 degrees. In addition, the flapping ways are carried in three motions including pure flapping, pure flapping- retraction and symmetrical pure flapping- pitching. From the simulation results show higher flapping frequency yields greater peak aerodynamic coefficient, on the other hand, thrust production is not the same for each case. For the Retraction case, the greater dihedral the higher peak coefficient of lift, in contrary for the coefficient of thrust. For pure flapping motion case, the higher endurance efficiency is produced as decreasing dihedral angle. For the symmetrical flapping-pitching motion case, the higher efficiency produced is produced as increasing pitching angle. Then, the comparison among the motions, the pure flapping and retracting motions has lower efficiency than symmetrical flapping-pitching motion. Therefore, the higher endurance efficiency of the flapping-pitching motion can make better for range performance. The analyzed is also by generating velocity and pressure contours, mesh movement as to see the behavior of flapping motion in detail.

2026
👤 Penulis: Ratih Julistina
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SANTRI BETAH MONDOK DI PESANTREN MENGGUNAKAN MODEL PERSAMAAN STRUKTURAL

Banyak faktor diduga memengaruhi santri betah mondok di pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor tersebut. Model Persaman Struktural (MPS) digunakan untuk mencari jawaban atas tujuan penelitian tersebut. Sampel dalam penelitian ini diperoleh menggunakan metode judgment sampling, yaitu sampel diambil berdasarkan kriteria-kriteria yang dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Kriteria sampel ialah santri yang telah mondok minimal empat tahun. Berdasarkan kriteria yang ada maka sampel dalam penelitian ini santri kelas XI dan XII. Sampel yang terjaring dalam penelitian ini berjumlah 145 responden. Berdasarkan faktor-faktor yang dikaji, seperti faktor kegiatan, dorongan orangtua, kondisi lingkungan pesantren dan fasilitas pesantren, hasil dari model persamaan struktural menujukkan bahwa kegiatan (pagelaran seni dan bimbngan konseling) merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap rasa betah santri mondok di Pesantren Condong.

2026
👤 Penulis: YANYAN AHMAD YANI
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 85 dari 418
💬