📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK KEGIATAN EKSKAVASI SITUS WARISAN BUDAYA INDONESIA (STUDI KASUS: KOMPLEKS CANDI BATUJAYA)
Indonesia adalah negara yang kaya akan warisan budaya. Hingga saat ini dokumentasi mengenai objek arkeologi masih terbatas. Hanya sedikit sekali sumber pengetahuan mengenai objek arkeologi yang terdokumentasi seperti foto, sketsa dan buku yang tersedia dan masih belum mencukupi kebutuhan yang diperlukan. Ekskavasi merupakan kegiatan yang khas dalam arkeologi, sehingga karena keterkaitannya yang begitu erat antara arkeologi dengan ekskavasi menjadikan ekskavasi layaknya identitas arkeologi. Sistem informasi geografis menyediakan kemampuan untuk menyimpan, menampilkan serta menganalisa data spasial. Kemampuan ini berperan besar dalam menyimpan data arkeologi yang diperlukan oleh para peneliti dalam membantu kegi ekskavasi. WebGIS memiliki keunggulan dalam menyajikan data spasial yang dapat diakses secara lebih mudah tanpa menggunakan bantuan software khusus GIS. Metode dalam menghasilkan sistem informasi berbasis web untuk membantu kegiatan ekskavasi arkeologi memiliki beberapa tahapan. Tahap awal pembangunan WebGIS dimulai dengan pembangunan basis data. Tahapan pembangunan basis data spasial ini meliputi desain konseptual, desain logika dan desain fisik. Desain basis data yang telah dirancang kemudian diimplementasikan dengan menggunakan bantuan software PostgreSQL/PostGIS. Selanjutnya, untuk membuat tampilan aplikasi ke halaman web, penulis menggunakan Mapserver dan Google Maps API. Dengan dibuatnya aplikiasi WebGIS ini, diharapkan para arkeolog dapat mengakses dan meng-update data yang dibutuhkan, sehingga kegiatan ekskavasi dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.
PEMANFAATAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK PENDOKUMENTASIAN ARSITEKTUR TRADISIONAL (STUDI KASUS: RUMAH ADAT BATAK TOBA, SUMATERA UTARA)
Rumah Adat Batak Toba merupakan salah satu bangunan bersejarah, produk kebudayaan Bangsa Indonesia dari Suku Batak yang berada di Sumatera Utara. Bangunan ini telah mengalami berbagai peralihan fungsi dari mulai didirikannya sampai saat ini sehingga perlu dilakukan rekonstruksi untuk menanggulangi berbagai kerusakan yang mungkin terjadi. Salah satu rumah adat yang berada di Huta Sialagan merupakan objek studi dalam penelitian ini. Rumah adat tersebut merupakan contoh bangunan yang memiliki ornamen lengkap yang menjadi ciri khas Rumah Adat Batak Toba sehingga sangat cocok untuk dijadikan objek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan metode Fotogrametri Rentang Dekat yang diawali dengan melakukan pemotretan terhadap objek baik secara terestris maupun melalui pemotretan udara. Pemotretan tersebut dilakukan untuk mendapatkan model tiga dimensi (3D) objek bangunan bersejarah menggunakan kamera non-metrik. Hasil lanjutan dari rekonstruksi tersebut ialah untuk dokumentasi serta penelitian lebih lanjut pada bidang arsitektur. Foto-foto yang dihasilkan dari pemotretan kemudian diproses menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner untuk menghasilkan permukaan dari fitur umum bangunan serta point cloud untuk fitur yang lebih rumit seperti patung dan ukiran. Model ini diharapkan dapat memberikan representasi yang baik dalam model arsitektur bangunan.
PEMETAAN POTENSI ENERGI PANASBUMI DENGAN ANALISIS ANOMALI SUHU PERMUKAAN DAN PEMETAAN MINERAL ALTERASI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS: KAWASAN PATUHA, JAWA BARAT)
Jumlah penduduk di dunia terus bertambah setiap tahunnya dan mengakibatkan peningkatan jumlah konsumsi energi fosil yang jumlahnya sendiri semakin menipis setiap tahunnya. Panasbumi merupakan energi yang terbarukan dan bersifat energi yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi. Penelitian ini dilakukan untuk memantau potensi energi panasbumi di suatu daerah dengan melihat anomali temperatur permukaan dan kandungan mineral alterasi akibat sistem hidrotermal panasbumi. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan suatu peta temperatur untuk diidentifikasi anomali suhu daerah tersebut dan menghasilkan peta klasifikasi mineral alterasi akibat sistem hidrotermal. Daerah kawasan Patuha, Jawa Barat merupakan daerah yang dijadikan objek dari penelitian ini. Data yang digunakan untuk melakukan kegiatan penelitian ini adalah menggunakan data multitemporal dari citra Landsat 7 dan Landsat 8. Metode untuk menghasilkan peta temperatur adalah dengan mengektrasi citra termal menjadi citra temperatur daerah Patuha, Jawa Barat. Sedangkan untuk mendapatkan hasil peta mineral alterasi, dilakukan metode klasifikasi berdasarkan spektrum daerah manifestasi permukaan dengan data sekunder dari hasil penelitian lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah peta temperatur daerah penelitian untuk menganalisa anomali suhu sebagai identifikasi awal terdapatnya sumber panasbumi. Selain itu, hasil penelitian juga berupa peta klasifikasi mineral alterasi untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang mengandung mineral alterasi hidrotermal berdasarkan spektrum pada manifestasi permukaan. Kemudian dari hasil klasifikasi digabungkan dengan lokasi yang anomali temperaturnya konstan pada keempat peta temperatur. Hasil dari penggabungan ini menunjukkan terdapatnya manifestasi permukaan dari hasil penelitian tugas akhir ini.
IMPLEMENTASI KONSEP CITYGML DALAM VISUALISASI MODEL TIGA DIMENSI ARSITEKTUR LANSEKAP DARI FOTO UDARA FORMAT KECIL
Kota Ciawi memiliki banyak perkampungan dan perumahan padat yang terdapat pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sehingga secara tidak langsung mengakibatkan rusaknya hulu sungai tersebut dan menyebabkan banjir pada Ibukota DKI Jakarta. Untuk mengatasi permasalahan mengenai ketidaksesuaian pembangunan pada DAS Ciliwung, diperlukan sebuah visualisasi nyata yang mampu merepresentasikan kondisi DAS Ciliwung sebenarnya. Dewasa ini, pembuatan model 3D terus mengalami perkembangan. Salah satu perkembangannya adalah diciptakannya konsep CityGML. Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan untuk membuat model 3D DAS Ciliwung yang berada di wilayah Desa Cibanon dan Pandansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk kebutuhan perancangan arsitektur lansekap dan menampilkan model 3D tersebut ke dalam format CityGML. Dalam pelaksanaannya, didapatkan data dari hasil pemotretan foto udara menggunakan pesawat tanpa awak (UAV). Data tersebut berupa hasil pengolahan triangulasi udara dari dua buah perangkat lunak yang berbeda, Isat dan Agisoft Photoscan. Kedua data tersebut akan dilakukan kompilasi data serta permodelan secara tiga dimensi sehingga menghasilkan dua buah visualisasi tiga dimensi yang akan disimpan ke dalam format CityGML. Hasil penelitian ini adalah dua buah model 3D visualisasi daerah penelitian. Dua model tersebut dilakukan perbandingan ketelitian berdasarkan pada nilai residual triangulasi udara dan pengamatan point-to-point. Hasil analisis menyatakan bahwa model hasil pengolahan Isat lebih teliti dibandingkan dengan Agisoft Photoscan. Kedua model tersebut secara visual telah merepresentasikan objek yang sesuai dengan kebutuhan arsitektur lansekap. Namun ketika dilakukan penyimpanan ke dalam format CityGML, objek yang dapat direpresentasikan hanya berupa objek bangunan.
STUDI KARAKTERISTIK TEMPORAL VTEC BERDASARKAN DATA IGS BADAN INFORMASI GEOSPASIAL
Efek ionosfer adalah salah satu sumber kesalahan pada data Global Navigation Satellite System (GNSS) yang bisa menyebabkan kesalahan posisi sebesar beberapa puluh meter, sehingga untuk mendapatkan posisi yang teliti efek tersebut harus direduksi. Salah satu cara untuk mereduksi efek ionosfer pada data GNSS adalah dengan menggunakan model ionosfer. Dalam kaitannya dengan teknik pencitraan ionosfer dengan GNSS, model koreksi ionosfer bisa digunakan untuk mempelajari karakteristik fisis dari ionosfer melalui parameter Vertical Total Electron Content (VTEC) Penelitian ini akan membahas aktivitas ionosfer yang difokuskan pada kajian karakteristik temporal VTEC dan melihat korelasinya dengan aktivitas matahari. Data yang digunakan adalah data satelit Global Positioning system (GPS) dari stasiun International GNSS Service (IGS) Badan Informasi Geospasial (BIG) dari bulan Januari 2010 sampai Desember 2012. Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa nilai VTEC setiap hari dipengaruhi oleh pemanasan matahari serta memperlihatkan nilai VTEC yang fluktuatif. Aktivitas minimum ionosfer terjadi sekitar pagi hari antara jam 04:00 WIB sampai jam 05:00 WIB dengan nilai VTEC sekitar 20 TECU dan maksimum sekitar jam 14:00 WIB sampai jam 15:00 WIB dengan nilai VTEC lebih dari 40 TECU. Korelasi VTEC dengan sunspot number menunjukan korelasi yang positif dengan keofisien korelasi sebesar 0.77. Aktivitas ionosfer menunjukan peningkatan dari bulan ke bulan pada tahun 2010 sampai 2012. Secara umum puncak aktivitas ionosfer terjadi pada tahun 2012 dan dalam beberapa bulan selama tiga tahun telah terjadi fenomena sintilasi (scintillation). Musim equinox adalah musim yang aktivitas ionosfernya paling tinggi dibandingkan dengan musim summer solstice dan winter solstice. Spektral VTEC menunjukkan adanya fenomena annual, semi-annual, diurnal, semi-diurnal, dan ter-diurnal dari aktivitas matahari.
PENENTUAN LANDAS KONTINEN EKSTENSI DI PERAIRAN UTARA PAPUA
United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 menyatakan bahwa negara pantai mempunyai hak-hak kedaulatan atas wilayah lautan. Hal ini mendorong negara-negara pantai untuk mengajukan kepemilikan wilayah lautan yang salah satunya adalah landas kontinen ekstensi. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki hak untuk mengajukan landas kontinen ekstensi kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui Commission on the Limits of the Continental Shelf (CLCS). Wilayah perairan Indonesia yang memiliki potensi landas kontinen salah satunya adalah perairan utara Papua. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan landas kontinen ekstensi di perairan utara Papua. Metode yang digunakan untuk menentukan landas kontinen ekstensi tersebut yaitu dengan metode kombinasi dari garis-garis formula berdasarkan pendekatan dari pedoman keilmuan dan teknis yang dikeluarkan oleh CLCS. Luas maksimum landas kontinen ekstensi yang bisa didapatkan di perairan utara Papua adalah sebesar 39.946 km2. Landas kontinen ekstensi tersebut didapatkan dari hasil kombinasi garis formula 60 mil laut dari kaki lereng / foot of slope (FOS) dan 60 mil laut dari perbatasan lanjutan antara Indonesia dan Papua Nugini yang berada pada punggung samudra Eauripik rise.
STUDI STABILITAS RECEIVER CODE BIAS UNTUK PENENTUAN TOTAL ELECTRON CONTENT DENGAN GNSS
Bias pada ionosfer merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas data pengamatan GPS. Bias ionosfer kerap dilambangkan dengan densitas dari elektron pada lapisan ionosfer, dengan luas penampang satu meter persegi, biasa disebut dengan Total Electron Content (TEC). Estimasi TEC tidak hanya dilakukan untuk koreksi pengamatan GPS, juga untuk mempelajari fenomena dan kondisi ionosfer bumi. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mengestimasi TEC, salah satunya adalah bias pada receiver, Receiver Code Bias (RCB). Dalam melakukan perhitungan TEC, RCB sering dianggap konstan dalam satu bulan, akan tetapi RCB selalu berubah setiap harinya. Pada tugas akhir ini akan dibuktikan bahwa RCB bersifat tidak konstan, dan perbedaan tersebut dapat berpengaruh terhadap nilai TEC. Perhitungan RCB memiliki berbagai macam metode yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, pada tugas akhir ini digunakan metode least square. Setelah dilakukan perhitungan RCB untuk titik BAKO bulan Januari 2012, didapat bahwa nilai RCB bervariasi selama sebulan, meskipun hasil rata-rata RCB harian dalam sebulan tidak berbeda jauh dengan RCB yang telah diestimasi oleh The International GNSS Services (IGS). Untuk mendapatkan pengaruh dari RCB harian terhadap nilai TEC, maka dilakukan perhitungan TEC dengan menggunakan RCB yang berbeda, RCB harian hasil estimasi dan RCB bulanan dari IGS, perbedaan TEC mencapai 5.9 TECU.
PENURUNAN DIGITAL TERRAIN MODEL DARI DATA DIGITAL SURFACE MODEL MENGGUNAKAN SIMPLE MORPHOLOGICAL FILTER
DTM (Digital Terrain Model) merupakan suatu model permukaan digital yang memiliki informasi mengenai permukaan tanah sedangkan DSM (Digital Surface Model) memiliki informasi tentang permukaan tanah beserta objek yang ada seperti bangunan dan vegetasi. Untuk menghasilkan suatu DTM, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menurunkan data DSM. Proses penurunan ini terbagi menjadi 2 metode, yaitu metode image-based dan metode range-based. Metode image-based berlaku jika data yang digunakan untuk proses penurunan tersebut berdasarkan metode fotogrametri sedangkan metode range-based berlaku jika data yang digunakan berasal dari laser scanner atau LIDAR. Karena data DSM masih memiliki fitur selain tanah, maka perlu dilakukan suatu metode untuk menghilangkan fitur tersebut. Metode ini disebut juga DSM filtering. SMRF (Simple Morphological Filter) merupakan salah satu metode DSM filtering yang bertujuan untuk melakukan proses klasifikasi permukaan secara otomatis pada data DSM yang dihasilkan melalui pengolahan metode range-based. Hasil klasifikasi tersebut adalah suatu pengamatan dapat diklasifikasikan sebagai tanah atau bukan tanah Dengan menggunakan beberapa parameter seperti window, slope, cell size, dan elevation threshold, maka fitur bukan tanah dapat dihilangkan. Pada penelitian ini, SMRF digunakan pada data DSM di lokasi ITB Jatinangor dan ITB, dengan data DSM yang berasal dari pengolahan metode image-based. Hasilnya menunjukkan bahwa proses SMRF dapat menghasilkan DTM pada daerah penelitian ITB Jatinangor dan ITB. Validasi dengan menggunakan data terestris dilakukan pada DTM daerah penelitian ITB Jatinangor yang menghasilkan RMSE sebesar 1.668 m.
IDENTIFIKASI AKURASI DATA PROFIL KECEPATAN SUARA (SVP) DAN PENGARUHNYA PADA POST-PROCESSING DATA MBES
Multibeam Echosounder (MBES) merupakan salah satu instrumen yang menggunakan prinsip SONAR dimana teknologi ini menggunakan konsep gelombang akustik dimana kecepatan suara merupakan faktor kunci teknologi ini diaplikasikan , topik yang dikaji adalah bagaimana mengidentifikasi akurasi data SVP yang digunakan dalam pengolahan data MBES. Identifikasi akurasi data SVP penting karena hal ini menentukan kualitas data kedalaman yang dihasilkan dari pengolahan data MBES yang dilakukan. Identifikasi akurasi data SVP dilakukan pada saat post-processing data MBES menggunakan perangkat lunak CARIS HIPS 6.0 dengan melakukan analisis visual pada hasil permukaan yang diperoleh. Dari pengkajian yang dilakukan disimpulkan bahwa data SVP yang digunakan dalam pengolahan data tidak akurat sehingga adanya objek berupa gundukan pada saat melakukan analisis visual pada permukaan yang dihasilkan dari post-processing data bukan merupakan representasi sebenarnya dari permukaan dasar laut dan hal ini menyebabkan perlu dilakukannya proses pemotongan titik kedalaman pada beam terluar saat pengolahan data untuk mereduksi pengaruh tersebut.
PENGARUH GEOMETRI PENJALARAN SINYAL GPS TERHADAP PENENTUAN TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC)
Lapisan ionosfer secara fisis merupakan medium dispersif sehingga penjalaran sinyal GPS akan bergantung dengan frekuensi. Oleh karena itu gelombang pembawa L1 dan L2 yang memiliki frekuensi berbeda, tidak merambat pada jalur yang identik saat melintasi lapisan ionosfer. Maka, perlu diperbandingkan seberapa besar selisih hasil perhitungan Slant Total Electron Content (STEC) dari sinyal GPS jika memperhitungkan efek perbedaan lintasan sinyal. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan penghalusan data kode P1 dan P2 untuk kemudian digunakan dalam penentuan STEC dengan epok (30 detik) menggunakan formula Geometric-Free (GF) dan formula Improved Geometric-Free (IGF) yang sudah memperhitungkan efek perbedaan lintasan sinyal. Data GPS berformat rinex didapatkan dari data lokasi-lokasi pengamatan GPS pada stasiun International GNSS Service (IGS) pada tahun 2008 dan 2013 yang diambil pada lokasi pengamatan yang mencakup zona lintang menengah di Algonquin Park (Kanada), zona ekuator di Bakosurtanal (Indonesia), dan zona kutub di Syowa (Kutub Selatan). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa secara posisi geografis selisih perhitungan dengan menggunakan metode IGF terhadap metode GF pada IGS Algonquin Park yang berada pada lintang menengah memiliki nilai yang lebih besar daripada IGS Syowa yang berada pada kawasan kutub selatan. Sedangkan IGS Bakosurtanal yang berada pada zona ekuator memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan keduanya. Selisihnya pun bertambah besar saat aktivitas matahari tinggi pada tahun 2013. Hasil yang diperoleh dari pengolahan delta-STEC yang merupakan selisih antara metode penghitungan IGF dibandingkan dengan metode GF menunjukkan bahwa nilai delta-STEC maksimum hanya sebesar 20.5 miliTECU pada kawasan equator (Bakosurtanal) di saat aktivitas matahari sedang tinggi (tahun 2013). Sehingga efek penjalaran sinyal belum signifikan mempengaruhi ketelitian TEC yang sampai saat ini belum sampai orde miliTECU.
IDENTIFIKASI OBJEK-OBJEK RUANG PERAIRAN DALAM KAITANNYA DENGAN PEMBAGIAN WILAYAH LAUT (PROVINSI MALUKU)
Kadaster kelautan tidak terlepas dari konsep kadaster secara umum yang memungkinkan pencatatan hak, kewajiban, dan kepentingan semua lembaga yang tekait dalamnya. Objek ruang perairan erat kaitannya dengan batas laut. Konsep penetapan batas laut yang jelas akan memberikan informasi yang jelas tentang hak, kewajiban, dan batasan yang berlaku pada semua lembaga yang terkait dengan objek ruang perairan tersebut.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah memberikan kejelasan mengenai konsep batas laut provinsi dan kabupaten/kota. Provinsi Maluku yang berbentuk provinsi kepulauan memiliki beberapa objek ruang perairan, yang dikaitkan dengan konsep batas laut yang mengadaptasi batas laut daerah kepulauan sesuai UNCLOS 82 dan batas laut sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan identifikasi objek ruang perairan yang terdapat di Provinsi Maluku dalam kaitannya dengan konsep batas laut Provinsi Maluku dengan statusnya sebagai provinsi kepulauan. Metodologi identifikasi objek ruang perairan di Provinsi Maluku dilakukan dengan pengumpulan data dan studi literatu. Kaitan kedua hal tersebut ditampilkan dalam bentuk peta. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak semua objek ruang perairan terdapat di Provinsi Maluku dan sebagian besar terdapat di Laut Ambon.
STUDI EFEK REFRAKSI ORDE TINGGI IONOSFIR PADA PENENTUAN POSISI GPS DENGAN MENGGUNAKAN PENGUKURAN BASELINE PANJANG (DIATAS 200 KM)
GPS (Global Positioning System) adalah suatu sistem radio navigasi dan penentuan posisi objek statis maupun dinamis dengan menggunakan satelit. Dalam pengukuran data jarak antar satelit GPS ke receiver, jarak yang seharusnya diukur merupakan jarak lurus antara satelit GPS dan receiver, tetapi karena adanya efek pembiasan pada lapisan atmosfer bumi terhadap sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS, maka jarak sinyal yang diukur tidaklah berupa jarak lurus antar satelit GPS dengan reciver, tetapi merupakan jarak yang sudah mengalami pembiasan oleh lapisan atmosfer bumi,terutama pada lapisan ionosfer (Abidin, 2001). Secara praktis, kesalahan pengukuran karena ionosfir dapat diminimalisir dengan menggunakan kombinasi linear dari dua frekuensi pengamatan seperti GPS L1 dan L2, dimana perhitungan ini dapat meminimalisir hampir 90% dari bias ionosfer, sisa 10 % merupakan sesuatu yang dapat dikatakan sebagai efek orde tinggi refraksi ionosfer. Walaupun hanya bersifat 10 %, untuk keperluan aplikasi GPS yang membutuhkan ketelitian tinggi, efek orde tinggi ini harus diperhitungkan. Pada penelitian ini, pembahasan yang akan dikaji lebih dalam adalah efek refraksi yang terdapat pada lapisan ionosfer. studi kasus yang akan diambil berupa perbadingan data antara posisi titik yang mendapatkan sinar matahari yang cukup banyak (daerah ekuator) dengan daerah yang kurang mendapatkan sinar matahari (daerah belahan bumi utara) pada waktu solar cycle tertinggi dan terendah dengan menggunakan metode pengukuran baseline panjang. Hasil yang didapat dari penilitan ini mengatakan efek dari refraksi ionosfer yang ada hanya berada pada kisaran ± 1 milimeter untuk perbedaan nilai koordinat antara data yang telah dikoreksi dengan yang tidak dikoreksi, tetapi efek refraksi orde tinggi pada pengukuran GPS juga tetap harus diperhitungkan jika ingin mendapatkan hasil pengukuran yang lebih baik.
KAJIAN PEMBIAYAAN DALAM PEKERJAAN PENGUKURAN DAN PERPETAAN OBJEK RUANG PERAIRAN (STUDI KASUS : HOTEL PANTAI GAPURA KOTA MAKASSAR)
Perkembangan infrastruktur berkembang dengan begitu pesat, tidak hanya di atas dan di bawah tanah, tetapi telah berkembang bangunan-bangunan di atas perairan (danau, sungai, dan laut). Pengukuran terhadap objek ruang perairan dirasa sudah perlu untuk dilakukan dalam menjawab masalah ini. Akan tetapi tarif dalam pengukuran ruang perairan yang diatur dalam PP No 13 Tahun 2010 tentang PNBP sebesar 300 % dari tarif pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang tanah dianggap belum mencukupi. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan kajian terhadap aspek biaya dalam melakukan pengukuran dan perpetaan objek ruang perairan. Pada tugas akhir ini dilakukan pengkajian mengenai aspek biaya dalam melakukan pengukuran dan perpetaan objek ruang perairan untuk mengetahui berapa besar tarif pengukuran objek ruang perairan yang sesuai. Pada perhitungan biaya aspek yang dihitung biaya peralatan dan tenaga kerja (personil) meliputi biaya pengukuran yaitu pembuatan TDT-RP, pengamatan pasut, pengukuran detail dan pengukuran kedalaman. Sedangkan perpetaan dimulai dari pengolahan data GPS, pasut, topografi, dan batimetri sampai perpetaan menggunakan CAD. Dilakukan juga perkiraan biaya akomodasi dan transportasi sebagai pendukung dalam penyelenggaraan pengukuran dan perpetaan objek ruang perairan. Tujuan dari kajian tugas akhir ini dapat dijadikan masukan bagi Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dari hasil perkiraan biaya yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pengukuran objek ruang perairan membutuhkan biaya yang lebih besar melebihi 300% yaitu pada perkiraan biaya di Makassar mencapai 2460%. Jumlah personil yang dibutuhkan lebih banyak serta dalam menetukan metode pengukuran objek ruang perairan dipengaruhi karakteristik daerah pengukuran.
PEMANFAATAN KAMERA INFRAMERAH DEKAT DENGAN WAHANA PESAWAT TANPA AWAK UNTUK PEMANTAUAN TINGKAT KEMASAKAN TANAMAN TEBU (STUDI KASUS : PERKEBUNAN TEBU PT KEBUN AGUNG, PATI, JAWA TENGAH)
Tebu adalah tanaman rerumputan monokotil dari family Poaceae dan umumnya membutuhkan waktu panen sekitar 11 sampai 12 bulan, menghasilkan variasi spasio-temporal yang tinggi akan perkembangan tanaman dan radiometrinya. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami variabilitas tersebut dan selanjutnya digunakan untuk mengestimasi umur tanaman tebu dan waktu panennya. Untuk melakukan estimasi umur tanaman tebu digunakan kamera true color dan kamera inframerah dekat yang dipasangkan pada wahana pesawat tanpa awak. Dari citra inframerah dapat dihitung nilai indeks vegetasi yang menunjukan tingkat kerapatan vegetasi hijau pada area yang diamati. Indeks vegetasi yang digunakan pada penelitian ini adalah Enhanced Normalized Vegetation Index (ENDVI), sebuah model matematis yang dibuat untuk mendapatkan indeks vegetasi dari data satu kamera inframerah dekat. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa ENDVI dan umur tanaman tebu memiliki korelasi yang cukup tinggi. Korelasi antara nilai indeks vegetasi dan data umur tebu digunakan untuk mengestimasi umur kebun tebu yang lainnya. Estimasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengguakan nilai ENDVI tetapi harus dibantu dengan interpretasi secara visual. Sementara itu dari nilai faktor kemasakan didapatkan korelasi antara ENDVI dengan waktu panen terbaik
PEMBUATAN TEXTURE IMAGE MODEL TIGA DIMENSI BANGUNAN DENGAN TEKNIK TRUE ORTHOPHOTO
Orthophoto merupakan sebuah foto yang telah mengalami proses rektifikasi yang bertujuan untuk menghilangkan efek relief displacement, sehingga foto yang dihasilkan tampak seperti berproyeksi ortogonal. Akurasi posisi dan geometri dari objek yang diberikan dari orthophoto merupakan suatu hal penting dalam pembuatan informasi spasial, terutama pemodelan tiga dimensi (3D) bangunan. Selain orthophoto, ada pula true orthophoto yang mampu merepresentasikan objek dengan memperhitungkan geometri dengan lebih teliti. Pembuatan true orthophoto harus melalui proses rektifikasi diferensial yang terdiri dari proses hubungan kesegarisan (collinearity) dan manipulasi piksel. Pada penelitian ini true orthophoto yang biasanya dihasilkan dari foto udara diterapkan pada fotogrametri rentang dekat atau terestris. True orthophoto direkonstruksi untuk setiap fasad bangunan, dan true orthophoto yang dihasilkan digunakan sebagai texture image dan diikatkan pada model 3D bangunan agar model bangunan terlihat lebih realistik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyusun algoritma dari pembuatan true orthophoto melalui proses rektifikasi diferensial yang sederhana, karena sebagian besar perangkat lunak yang ada saat ini tidak menjelaskan mekanisme proses dari perangkat lunak tersebut (blackbox). Selain itu, objek studi pada penelitian ini terdiri dari tiga objek, yaitu sebuah kotak sederhana, foto udara bagian utara Kampus ITB, dan bangunan sederhana pos satpam di sekitar gedung GKU Barat Kampus ITB. Ketiga objek tersebut masing-masing dibuat orthophoto dari salah satu fasad objek menggunakan program MATLAB dan hasilnya dibandingkan dengan orthophoto yang diperoleh dari perangkat lunak PhotoModeler Scanner. Hasil dari ketiga objek tersebut diperoleh orthophoto dengan kualitas ketelitian yang berbeda. Kualitas orthophoto tersebut sangat dipengaruhi oleh ketelitian model dan kualitas dari kamera.