π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenIDENTIFIKASI DAN ANALISIS PERUBAHAN TOPOGRAFI PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN INDONESIA SERTA KAITANNYA DENGAN PERUBAHAN IKLIM DARI DATA SATELIT ALTIMETRI
Topografi permukaan laut atau Sea Surface Topography (SST) merupakan posisi permukaan laut terhadap permukaan geoid.SST ini selalu berubah dari waktu ke waktu karena sifat lautan yang dinamik yang dapat disebabkan oleh faktor sterik (ekspansi termal dan variasi salinitas air laut) dan faktor eustatik (angin yang menghasilkan arus di lautan, mencairnya es di kutub, serta masukan air dari atmosfer dan daratan). Perubahan SST ini memiliki hubungan dengan fenomena perubahan iklim yang terjadi pada beberapa dekade terakhir ini. Tugas Akhir ini melakukan identifikasi beserta analisis terhadap perubahan SST di perairan Indonesia dan kaitannya terhadap perubahan iklim dengan menggunakan data satelit altimetri. Untuk melihat hubungan antara perubahan SST terhadap perubahan iklim, maka digunakan data intensitas curah hujan untuk mewakili fenomena perubahan iklim pada selang waktu yang sama dengan data satelit altimetri yang digunakan. Data satelit altimetri yang digunakan yaitu data Sea Level Anomaly (SLA) yang telah mengalami koreksi dari berbagai sumber kesalahan. Data SLA dan data curah hujan tersebut akan dirata-ratakan per cycle dan pada setiap zona pengamatan yang dipilih serta akan dibentuk deret waktunya. Dari deret waktu tersebut dapat dilihat nilai tren linier yang menunjukkan kecenderungan perubahan kedua data tersebut. Analisis perubahan SST dan perubahan intensitas curah hujan dapat dilakukan dari nilai tren liniernya. Hubungan dari kedua data dapat ditentukan dari nilai matriks koefisien korelasi antar kedua data.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN NILAI TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT MULTITEMPORAL DI WADUK SAGULING, BANDUNG BARAT
Rusaknya daerah tangkapan air di kawasan hulu Sungai Citarum telah mengurangi kapasitasnya seagai daerah resapan air. Selama musim hujan tiba, kawasan hulu yang tererosi membawa sejumlah lumpur akibat dari pengikisan tanah yang tererosi. Kondisi ini menyebabkan masuknya lumpur ke sistem jaringan prasarana air yaitu Waduk Saguling. Selain masalah sedimentasi, akumulasi sampah rumahan yang tidak tertangani telah menjadi masalah krusial dalam menajemen kualitas wilayah perairan. Total Suspensi Solid (TSS) adalah bahan padat, termasuk organik dan anorganik, yang tersuspensi di dalam air. Dalam konteks kualitas air, untuk mengetahui kondisi TSS sangatlah bergantung pada luas daerah dan waktu pengamatan, akibatnya dalam melakukan pekerjaan pemantauan ini diperlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Data penginderaan jauh dapat digunakan untuk menganalisis berbagai parameter terkait kondisi kualitas air secara spasial maupun temporal, sehingga waktu dan biaya dapat dikurangi. Akan tetapi pada proses pengolahan dengan menggunakan data Penginderaan Jauh ini masih mengalami kendala terkait belum ditemukannya algoritma yang dapat malakukan ekstraksi kualitas air untuk seluruh perairan Indonesia. Penelitian ini merupakan kombinasi antara pengukuran in-situ, penurunan algoritma dengan memanfaatkan nilai reflektansi citra, dan juga data geospasial. Dalam penelitian ini memiliki dua tujuan yaitu menentukan algoritma terbaik yang dapat digunakan melakukan penurunan nilai TSS dan juga untuk mengevaluasi perubahan nilai persebaran TSS secara spasial dan temporal di Waduk Saguling, Bandung Barat. Dalam penelitian ini menunjukan adanya penambahan nilai sebaran di tahun 2005 dan 2009 dengan peningkatan menunjukan nilai lebih dari 160 mg/l. Penelitian ini berguna bagi pengembangan dan penerapan Penginderaan Jauh dan SIG untuk berbagai studi yang berkaitan dengan ekstraksi kualitas air khususnya di wilayah perairan Indonesia.
PROSEDUR TEKNIS PENGUKURAN DAN PERPETAAN OBJEK RUANG PERAIRAN TIGA DIMENSI
Kadaster Kelautan adalah sebuah sistem informasi menyeluruh yang memungkinkan pendefinisian, penyimpanan data, visualisasi, serta pengelolaan hak-hak di ruang kelautan. Kadaster Kelautan secara teknis dapat dijabarkan sebagai sebuah infrastruktur informasi hak-hak atas properti kelautan. Dalam studi komprehensif tentang Kadaster Kelautan, terdapat dua aspek yang mempengaruhi pelaksanaannya yaitu proses perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Aspek tersebut adalah aspek teknis (technical framework) dan aspek legal (legal aspect).Fakta menunjukkan bahwa daerah pantai dan laut lepas memiliki potensi dan signifikansi yang besar bagi kehidupan manusia di Bumi (Payoyo, 1994). Untuk itu, dibutuhkan kebijakan yang tepat guna dan komprehensif dalam pelaksanaan kegiatan ini. Lebih lagi, pembuatan perangkat teknis yang dibutuhkan ini, dalam penelitian ini dibatasi ke dalam perangkat teknis pengukuran dan perpetaan objek-objek ruang perairan. Kerangka pemikiran teknis yang berbasiskan riset adalah aspek yang akan dibahas dalam kegiatan ini.Cakupan riset yang dimaksud di sini meliputi pengukuran kerangka dasar horisontal dan pendefinisian datum vertikal sebagai aspek pembeda dengan kadaster di darat, dan penggambarannya ke dalam bentuk hybrid, yaitu kombinasi visualisasi 3D sebagai pemberi informasi posisi terhadap kedalaman dan ketinggian, dan 2D sebagai informasi detilnya. Dengan demikian, melalui prinsip ilmiah dan teknis (lewat kombinasi pengukuran surveying dan rekayasa hidrografi) dalam visualisasi hybrid yang bergeoreferensi ini, diharapkan dapat dibuat sebuah aturan yang fundamental berupa kebijakan dalam penggunaan dan pengelolaan ruang kelautan ini (Miles, 1998).
PENGGUNAAN PERANGKAT LUNAK SPATCOM UNTUK PENENTUAN BATAS LAUT INDONESIA (Studi Kasus : Perairan Sulawesi Utara)
Sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 17.500 lebih pulau dan 81.000 km garis pantai serta 75 persen (5,8 juta km2) wilayahnya berupa perairan laut (Laut Teritorial, Perairan Kepulauan, Perairan Pedalaman dan Zona Ekonomi Eksklusif), Indonesia memiliki batas-batas wilayah berupa perairan laut dengan 10 negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia, salah satunya dengan negara Filipina di Perairan Sulawei Utara (pulau-pulau Sangihe dengan pulau Sarangani). Oleh karena itu perlu diadakan suatu proses penetapan mengenai batas laut khususnya untuk Laut Teritorial dan Zona Tambahan. Penetapan batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan Indonesia-Filipina didasari, oleh karena belum adanya garis batas antara kedua negara tersebut. Adapun untuk membantu menentukan garis batas kedua negara, digunakan perangkat lunak SPATCOM. Namun demikian dalam proses pengerjaan batas laut ini, juga menggunakan perangkat lunak AutoCad Map untuk membantu apa saja yang belum tersedia dalam SPATCOM. Dalam penelitian ini, batas laut Indonesia-Filipina ditentukan dengan menggunakan garis pangkal kepulauan dengan prinsip ekuidistan menggunakan metode bisek dan lingkaran. Hasil akhir penelitian ini adalah peta batas laut Indonesia-Filipina yang disajikan menggunakan perangkat lunak SPATCOM.
ESTIMASI POPULASI PENDUDUK BERDASARKAN ANALISIS REGRESI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS : KOTA BANDUNG)
Penginderaan jauh telah sering dimanfaatkan dalam estimasi populasi penduduk. Penelitian ini mengembangkan metode untuk estimasi populasi penduduk Kota Bandung menggunakan citra Landsat 7 ETM+ dan data penduduk tiap kecamatan Kota Bandung. Nilai band spektral citra, indeks vegetasi, dan temperatur tiap kecamatan menjadi variabel bebas untuk mengestimasi kepadatan penduduk sebagai variabel terikat. Analisis regresi linear digunakan untuk mengetahui korelasi antara kedua variabel tersebut dan membentuk persamaan matematika dimana kepadatan penduduk merupakan fungsi dari variabel-variabel bebas. Persamaan matematika untuk estimasi kepadatan penduduk Kota Bandung semakin baik dalam hal akurasi dan keandalan dengan disusun oleh beberapa variabel bebas, yaitu indeks vegetasi, band spektral citra, dan temperatur. Sehingga diperoleh hasil estimasi populasi penduduk untuk Kota Bandung pada tahun 2003 dengan tingkat kesalahan dibawah 8%.
ANALISIS PERBANDINGAN BERBAGAI MACAM KOREKSI KECEPATAN AKUSTIK UNTUK KEPERLUAN PENGUKURAN KEDALAMAN SECARA TELITI
Untuk mendapatkan hasil kegiatan pengukuran kedalaman dengan ketelitian yang baik, maka semua data hasil pengukuran kedalaman yang diukur dengan menggunakan alat echosounder harus diberikan koreksi agar terhindar dari berbagai macam kesalahan. Salah satu kesalahan yang mempunyai pengaruh besar terhadap hasil pengukuran kedalaman adalah kesalahan yang diakibatkan oleh perubahan kecepatan gelombang akustik yang terjadi karena adanya perbedaan salinitas, temperatur dan tekanan sebanding dengan bertambahnya kedalaman. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan koreksi kecepatan gelombang akustik. Metodenya adalah, metode barcheck, metode tabulasi berdasarkan data pengamatan kondisi fisik air laut secara langsung, dan metode pemakaian tabel koreksi yang telah tersedia. Tugas akhir ini akan membahas mengenai perbandingan terhadap ketiga metode penentuan koreksi kecepatan gelombang akustik tersebut dan untuk mengetahui kemampuan dari masing-masing metode.
ANALISIS REGRESI UNTUK DISTRIBUSI KEPADATAN PENDUDUK MENGGUNAKAN CITRA SATELIT QUICKBIRD (Studi Kasus: Kelurahan Tamansari Bandung)
Kependudukan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk perencanaan pembangunan. Kebutuhan informasi tentang kependudukan tidak cukup hanya dalam bentuk data tekstual, tetapi informasi spasial sangat dibutuhkan dalam suatu perencanaan pembangunan. Salah satu indikator utama yang dapat memberikan gambaran tentang kependudukan adalah kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk akan memberikan informasi tentang persebaran penduduk. Di Indonesia, data kepadatan penduduk disajikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik). Namun, data yang disajikan hanya bersifat tekstual secara administratif dan penyajiannya belum bisa mewakili kondisi sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk penyajian yang dapat menampilkan data tersebut mewakili kondisi spasial yang sebenarnya. Informasi spasial mengenai kependudukan dapat diperoleh dengan satelit penginderaan jauh. Hal ini memungkinkan untuk memodelkan distribusi kepadatan penduduk. Memang dalam perspektif penginderaan jauh obyek penduduk terlalu kecil untuk diidentifikasi, tetapi penduduk dapat diidentifikasi dari pola permukiman maupun faktor-faktor lain mengenai penduduk yang tampak pada citra. Kepadatan penduduk merupakan jumlah penduduk yang menempati luasan tertentu. Faktor luas merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi distribusi kepadatan penduduk. Untuk dapat memodelkan distribusi kepadatan penduduk maka perlu dianalisis terlebih dahulu hubungan antara suatu faktor yang diduga mempengaruhi sebaran jumlah penduduk pada suatu daerah terhadap jumlah penduduk. Hal ini diperlukan agar kita dapat menentukan suatu model matematik dari sebaran jumlah penduduk. Penelitian ini menggunakan data dari satelit Quickbird dan metode analisis regresi untuk menentukan kepadatan penduduk di Kelurahan Tamansari Bandung.
STUDI KINERJA PERANGKAT LUNAK LEICA GEO OFFICE 8.1 UNTUK PENGOLAHAN DATA GPS BASELINE PANJANG
Titik kontrol pada proses pembuatan peta selalu dibutuhkan sebagai acuan referensi pengukuran. Pada perencanaannya, titik kontrol tersebut dapat tersebar secara merata diseluruh Indonesia, namun tidak demikian pada kenyataannya. Sehingga, seringkali dijumpai jarak antar titik kontrol yang berjauhan. Dengan adanya teknologi satelit navigasi seperti GPS, permasalahan tersebut dapat diatasi. Karena Satelit yang bergerak mengitari bumi dapat dianggap sebagai titik kontrol yang bergerak. Untuk membantu dalam mengolah data hasil pengamatan satelit tersebut dibutuhkan suatu perangkat lunak. Umumnya pengolahan data baseline panjang akan lebih rumit jika koordinat hasil pengolahannya itu harus teliti. Melalui tugas akhir ini akan melanjutkan kajian kemampuan software pengolah data GPS untuk baseline panjang yang dilakukan oleh Andreas dkk pada tahun 2008. Software yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu SKI Pro 2.1 (keluaran Leica) dan Bernese 5.0, dimana SKI Pro menghasilkan sebaran titik kontrol hingga 10 m. Pada pertengahan tahun 2011, Leica telah mengeluarkan software pengolah data GPS terbaru yaitu Leica Geo Office 8.1 (LGO 8.1) yang mampu mengolah baseline hingga 500 km. Maka dari itu akan dibahas mengenai kinerja LGO 8.1 ketika bekerja dalam baseline panjang. Dalam menguji kinerja LGO 8.1, data yang digunakan yaitu baseline yang memiliki panjang ~100 s/d ~1000 km, terletak di perbatasan Indonesia dan Malaysia, Kalimantan. Dari hasil pengolahan data tersebut, lalu ditunjukan tingkat repeatabilitasnya dan dibandingkan terhadap hasil pengolahan Bernese 5.0 yang dianggap memiliki koordinat yang ΓβΓβbenarΓβΓβ. Dimana hasil LGO 8.1 memiliki penyimpangan dari orde mm hingga dm terhadap hasil Bernese 5.0. Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi para profesional dibidang survei dan pemetaan dalam menentukan strategi pengolahan data dan software yang akan digunakan.
PEMODELAN TIGA DIMENSI MENGGUNAKAN METODE FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK PERPIPAAN (STUDI KASUS:STASIUN KOMPRESOR GAS TEGAL GEDE, BEKASI)
Pipa merupakan objek penting dalam industri migas. Perawatan dan modifikasi pipa perlu dilakukan agar tidak menyebabkan kerugian besar. Dalam melakukan modifikasi, perlu dilakukan pengukuran ke lapangan untuk mengidentifikasi pipa. Pada era digital, pengidentifikasian tersebut akan lebih mudah dilakukan melalui model pipa tiga dimensi, sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengukuran ke lapangan. Salah satu metode untuk membuat model tiga dimensi tersebut adalah dengan fotogrametri rentang dekat. Metode ini dapat memberikan model yang akurat dan dengan alat dan pengolahan data yang sederhana. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mempelajari bagaimana proses pembuatan model tiga dimensi melalui metode fotogrametri rentang dekat serta membuat model tiga dimensi menggunakan metode ini untuk perpipaan. Untuk melakukan pengerjaannya, dilakukan studi referensi yang berkaitan, dan untuk implementasi diawali dengan kalibrasi kamera dan juga akuisisi data ke lapangan. Studi kasus dilakukan untuk pipa gas PT. Pertagas Stasiun Tegal Gede, Bekasi. Pengambilan data yang dilakukan dengan kamera non-metrik, diolah menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner. Hasil dari Tugas Akhir ini adalah model tiga dimensi perpipaan.
MODEL MATEMATIKA PENENTUAN POSISI 3D UNTUK PENGAMATAN DEFORMASI DASAR LAUT
Pengukuran deformasi penting dilakukan untuk keperluan pengamatan dinamika bumi dan berbagai efek dari pergerakan tersebut yang terjadi di bawah dasar laut. Gelombang elektromagnetik yang tidak mampu menembus air mengharuskan pengamatan deformasi dasar laut menggunakan kombinasi metode pengamatan GPS kinematik dengan gelombang akustik. Hal yang menjadi pertimbangan untuk mendapatkan posisi teliti di dasar laut untuk pengamatan deformasi lempeng yaitu metode yang digunakan dan perhitungan posisi target dalam bentuk model matematika. Metode-metode tersebut adalah metode diferensial dan metode Scripps Institution of Oceanography (SIO). Pada metode diferensial, transponder langsung diidentifikasikan sebagai titik deformasi. Dan pada metode SIO, beberapa transponder mengelilingi daerah deformasi sebagai medan virtual. Hal yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah menganalisis model matematika dan membandingkan selisih koordinat definitif dengan hasil perhitungan model matematika. Dari hasil yang didapatkan, metode SIO diferensial lebih baik dan efektif untuk pengamatan deformasi lempeng dasar laut. Model matematika yang menjadi dasar perhitungan mencakup beberapa koreksi yaitu kesalahan sistematik akibat time delay dari transponder, kesalahan sistematik akibat kecepatan suara yang dipengaruhi oleh internal wave, dan kesalahan acak.
KAJIAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR INDONESIA
Indonesia memiliki 13.466 pulau dan diantaranya terdapat 92 pulau kecil terluar. Pulau- pulau ini merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga maupun laut lepas. Untuk itu, diperlukan data selengkap-lengkapnya mengenai pulau- pulau ini agar identitas pulau-pulau tersebut menjadi jelas. Dengan informasi yang jelas, dapat diklaim pulau-pulau tersebut termasuk wilayah kedaulatan Indonesia dan dapat dijadikan untuk penarikan garis pangkal lurus kepulauan dalam penentuan batas wilayah Indonesia.Data 92 Pulau Kecil Terluar diperoleh dari berbagai sumber, seperti Janhidros TNI AL dan LAPAN. Kajian dilakukan terhadap berbagai data yang diperoleh mengenai profil dan toponim Pulau-Pulau Kecil Terluar ini. Toponim Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia ini merupakan salah satu kegiatan dalam memberikan identitas suatu pulau yang nantinya disusun dalam suatu Gazetteer (daftar nama rupabumi resmi) dan dilakukan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi yang terdiri dari berbagai Instansi Pemerintah, seperti Kementrian Dalam Negeri, Bakosurtanal, dan lain lain.Setelah dilakukan Analisis terhadap 92 Pulau Kecil Terluar Indonesia ini, masih terdapat beberapa hal yang masih harus diperhatikan diantaranya perbedaan antara definisi pulau dan gosong, penggunaan nama asing dalam penamaan pulau, penggunaan nama generik lokal dalam nama spesifik suatu pulau, dan kondisi pulau-pulau itu sendiri.
PENGARUH PENGAMATAN DATA DAN KUALITAS DATA TINGGI MUKA AIR LAUT TERHADAP HASIL PREDIKSI AMPLITUDO DAN DATUM PASUT
Prediksi pasut adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi data ketinggian muka air laut di masa mendatang. Prediksi pasut ini dapat digunakan untuk mendapatkan informasi lain seperti datum pasut. Prediksi pasut dibuat menggunakan data pengamatan pasut sebelumnya, dimana data pengamatan tersebut memiliki panjang data yang beragam dan mengandung kesalahan seperti data melonjak (spike) dan data yang hilang (gap). Keadaan tersebut mengakibatkan data prediksi yang didapat tidak mendekati kenyataan di lapangan. Prediksi pasut bisa didapatkan dengan berbagai metoda salah satunya adalah metoda kuadrat terkecil. Metoda ini mengkondisikan nilai kesalahan kuadrat yang terjadi sama dengan minimum. Prediksi pasut ini dibuat dari komponen pasut yang didapat dari metoda kuadrat terkecil. Kesalahan dalam prediksi pasut bisa dilakukan dengan membandingkan data prediksi dengan data pengamatan di saat yang sama. Selain itu juga bisa dilihat dari kesalahan amplitudo dari komponen pasut pembentuknya. Datum pasut juga dibuat dari komponen pasut tertentu tergantung dari jenisnya. Kualitas prediksi pasut ini bisa dilihat dari nilai variansi yang didapat antara data prediksi dan data pengamatan dimana batas toleransi variansinya adalah 0,008856. Panjang data pengamatan sangat mempengaruhi variansi, semakin pendek maka semakin besar variansi yang didapat. Pada data yang hilang kualitas dari data prediksi sangat bergantung pada jumlah data yang hilang, baik lamanya data dan banyaknya kejadian. Sedangkan untuk data melonjak, jumlah data melonjak yang masih diperbolehkan adalah 0,5% dari jumlah data keseluruhan. Datum pasut yang dihasilkan tidak tergantung dari lama pengamatan maupun dari kesalahan yang terjadi akan tetapi dari nilai komponen pasut yang didapat.
IDENTIFIKASI ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI CITRA SATELIT DAN PEMODELAN NUMERIK
Sumberdaya perikanan merupakan salah satu sumberdaya kelautan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Namun pemanfaatan sumberdaya perikanan tersebut belum dilakukan secara optimum. Salah satu kendalanya adalah sulitnya menentukan daerah penangkapan ikan. Penentuan zona potensi penangkapan ikan (ZPPI) dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi masalah ini. ZPPI tersebut diidentifikasi dengan menggunakan metode citra satelit dan pemodelan numerik. Daerah penelitian dalam tugas akhir ini adalah daerah perairan selatan Jawa Barat. Pengolahan citra satelit dari satelit AQUA MODIS dilakukan untuk memperoleh informasi sebaran suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a di bulan Januari dan Juni. Kedua informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan ZPPI Tuna. Metode lainnya, yaitu pemodelan hidrodinamika numerik, dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Delft3D untuk memperoleh informasi arus di wilayah penelitian selama bulan Januari dan Juni. Hasil dari kombinasi kedua metode ini akan memberikan informasi mengenai daerah yang berpotensi tinggi untuk penangkapan ikan dan pengaruh arus terhadap ZPPI tersebut.
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KARAKTERISTIK FISIS WAVEFORM SATELIT ALTIMETRI DI INDONESIA (STUDI KASUS : BEBERAPA WILAYAH PESISIR PULAU SULAWESI)
Satelit altimetri merupakan satelit yang memiliki fungsi utama untuk mengamati topografi dan dinamika permukaan laut. Namun satelit ini memiliki kelemahan, salah satunya adalah pengamatan permukaan laut di wilayah pesisir. Keberadaan daratan di wilayah pesisir disertai kedalaman perairan yang relatif dangkal membuat pengamatan satelit altimetri tidak sebaik di laut lepas. Hal ini tentunya sangat merugikan mengingat pentingnya peranan wilayah pesisir bagi kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi rendahnya kualitas pengamatan satelit altimetri di wilayah pesisir, dewasa ini marak dikembangkan penelitian mengenai coastal atimetry. Salah satu penelitian tersebut adalah waveform retracking atau pengolahan ulang gelombang pantul hasil pengamatan satelit altimetri. Dalam proses waveform retracking, identifikasi waveform yang terkontaminasi merupakan langkah awal yang paling penting. Pada Tugas Akhir ini dilakukan proses identifikasi beserta analisis terhadap waveform satelit Jason-2 (salah satu satelit altimetri) di wilayah pesisir Pulau Sulawesi, Indonesia. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap data waveform satelit Jason-2 (digunakan 8 set data yang teridiri dari 5 pass dalam 2 cycle), diperoleh informasi bahwa jarak 0-5 km dari bibir pantai merupakan jarak dengan tingkat kontaminasi yang tinggi. Selain itu kedalaman perairan yang kurang dari 200 m juga menjadi penyebab utama tingginya tingkat kontaminasi waveform altimetri di wilayah pesisir.
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI ZONA POTENSI IKAN DI WILAYAH PESISIR SELATAN JAWA BARAT
Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas lautan sekitar 3,1 juta km2 atau sekitar dua kali luas daratannya. Dengan kondisi demikian dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat besar. Namun pada kenyataannya, besarnya hasil laut Indonesia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat nelayan dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka mengenai zona potensi ikan sehingga banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk ΓβΓβmencariΓβΓβ bukan ΓβΓβmenangkapΓβΓβ ikan. Tugas akhir ini meliputi pembuatan model sistem informasi berupa peta zona potensi penangkapan ikan yang dilengkapi dengan tabel informasi mengenai kegiatan melaut nelayan serta mengkaji sistem informasi yang telah diterapkan di PPP Cilauteureun sehingga dapat mengoptimasi zona potensi ikan dan meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan.