π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPEMODELAN INDEKS KERENTANAN WILAYAH PESISIR DARI FAKTOR ABRASI TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (WILAYAH STUDI : KABUPATEN DAN KOTA CIREBON)
Identifikasi variabel-variabel yang berpengaruh pada kerentanan pesisir mengkategorikan 2 variabel, variabel fisik dan variabel non-fisik (sosial ekonomi). Variabel fisik terdiri atas tunggang pasut maksimum, kecepatan arus maksimum, tinggi gelombang signifikan, kemiringan topografi, jenis sedimen, tutupan lahan, intensitas curah hujan, kecepatan angin maksimum, dan arah datang gelombang sedangkan pada variabel non-fisik terdapat kepadatan penduduk, jumlah angkatan kerja, nilai ekonomi lahan, nilai produktivitas lahan, PDRB, dan laju pertumbuhan penduduk. Kemudian diklasifikasikan dan dibobot dengan metode AHP terhadap masing-masing variabel tersebut untuk membuat model indeks kerentanan di wilayah pesisir Cirebon. Berdasarkan hasil penelitian, 4 (empat) kecamatan wilayah pesisir Cirebon termasuk ke dalam kategori rentan terhadap variabel fisik dan terdapat 7 (tujuh) kecamatan pesisir Cirebon sangat rentan terhadap variabel sosial ekonomi.
KAJIAN PRINSIP EKUIDISTAN DAN PROPORSIONALITAS DALAM PENETAPAN BATAS LAUT ANTAR NEGARA KEPULAUAN (STUDI KASUS: INDONESIA-PALAU)
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki luas laut melebihi daratan. Potensi laut di Indonesia dapat dipakai secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Keutuhan dan kedaulatan Indonesia perlu dijaga dan salah satu caranya adalah mempunyai ketegasan tentang batas wilayah, khususnya batas wilayah perairan dengan negara-negara lain yang berbatasan laut. Di antara negara-negara yang berbatasan laut dengan Indonesia baru sebagian saja yang batas lautnya sudah disepakati. Dari negara tetangga yang batas wilayah lautnya belum disepakati salah satunya adalah negara Palau. Batas laut yang belum disepakati oleh kedua negara ini adalah Zona Ekonomi Eksklusif di Samudera Pasifik. Ketidaktegasan batas laut di daerah ini sering menyebabkan konflik antara kedua negara ini. Dalam tulisan ini akan dilakukan penetapan batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ΓβΓβ Palau di Samudera Pasifik. Dalam penelitian ini, penetapan batas ZEE Indonesia - Palau di Samudera Pasifik ditentukan dengan menggunakan kombinasi antara prinsip ekuidistan dan prinsip proporsionalitas yang berdasarkan pada implementasi UNCLOS 1982. Hasil dari penelitian ini mununjukkan bahwa prinsip proporsionalitas lebih tepat digunakan untuk kasus antar negara kepulauan.
PEMANFAATAN FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT UNTUK MEMBANTU REKONSTRUKSI OBJEK ARKEOLOGI (STUDI KASUS: CANDI PERWARA NOMOR 72 KOMPLEK CANDI SEWU)
Candi Sewu merupakan monumen bersejarah yang berasal dari era sebelum Islam. Situs bersejarah ini telah melalui berbagai kerusakan baik oleh manusia maupun oleh alam. Candi ini terdiri dari candi utama dan beberapa ratus candi perwara (candi pendamping) yang mengelilinginya. Salah satu dari candi perwara ini merupakan objek studi dalam penelitian ini. Candi perwara tersebut merupakan contoh situs yang relatif utuh, sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai objek penelitian. Metode ini diawali dengan pemotretan terhadap objek dari beberapa sudut dan dari beberapa jarak untuk dapat merekonstruksi secara dijital candi perwara dalam tiga level kedetailan (Level of Detail/LOD). Hal ini dilakukan untuk merepresentasikan objek dalam model tiga dimensi multiresolusi , untuk digunakan lebih lanjut dalam penelitian arkeologis maupun sebagai sarana dokumentasi. Foto-foto yang diambil kemudian diproses dengan menggunakan PhotoModeler Scanner untuk menghasilkan model sparse point cloud untuk fitur umum candi, dan dense point cloud untuk merepresentasikan relief yang lebih rumit. Model ini diharapkan dapat merepresentasikan fitur nonhomogen pada relief dengan lebih baik dalam kerangka model arsitektural candi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ketelitian model berada pada level milimeter.
KONVERSI REFERENSI TINGGI DATA SRTM DARI MODEL GEOID GLOBAL EGM96 KE EGM2008 (STUDI KASUS: BANDUNG DAN SEKITARNYA)
Dalam skripsi ini dijabarkan mengenai data STRM, dimana data tersebut merupakan data topografi global. Walaupun data tersebut melingkupi hampir 80% daratan permukaan bumi, namun masih terdapat banyak kelemahan pada data tersebut dimana akurasi tinggi dari SRTM hanya berkisar sekitar 16 meter dan sistemnya masih mengacu ke tinggi di atas elipsoid. Setelah disebarkan ke publik melalui media internet, data SRTM telah dalam referensi tinggi yang mengacu ke geoid EGM96.Dengan dikeluarkannya Model Geoid terbaru EGM2008 sebagai acuan global dengan akurasi yang lebih tinggi dari EGM96 maka dalam Tugas Akhir ini adalah membahas tentang mengubah data tinggi SRTM tersebut dari tingginya di atas geoid EGM96 ke tinggi di atas geoid EGM2008, kemudian hasilnya dibandingkan dengan Titik Tinggi Geodesi hasil pengukuran MSL dan pengukuran Fotogrametri. Setelah dilakukan konversi tinggi dari tinggi terhadap geoid EGM96 ke geoid EGM2008 ternyata hasilnya tidak memberikan efek yang signifikan karena ketelitian pada SRTM jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan ketelitian geoid EGM96 maupun EGM2008.
PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA PASUT DAN ARUS DI KAWASAN PESISIT KECAMATAN MUARA GEMBONG, KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT
Kecamatan Muara Gembong merupakan wilayah pesisir yang mengalami abrasi cukup parah. Dari survei lapangan yang dilakukan, abrasi yang terjadi di kecamatan muara gembong sudah sampai menghancurkan beberapa rumah warga. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang karakteristik laut di Kecamatan Muara Gembong. Penelitian yang dilakukan mencakup pengamatan pasut selama 15 hari dan pengambilan data arus selama satu hari. Dari data hasil pengamatan pasut dapat dilakukan analisis harmonik pasut, sehingga dapat dilihat karakteristik pasut di daerah tersebut. Dari hasil pengukuran arus, bisa dilihat pola pergerakan arus dari segi arah dan kecepatannya. Pola pergerakan arus ini dikaitkan dengan kondisi pasut yang terjadi saat pengukuran arus berlangsung. Hasil dari analisis harmonik pasut menunjukkan bahwa tipe pasut di Kecamatan Muara Gembong bersifat tipe diurnal dengan bilangan Formzahl sebesar 3,51. Tunggang pasut terbesar mencapai 0,81m. Nilai muka laut rata-rata hasil pengamatan pasut yang dilakukan adalah 2,044 m di bawah benchmark yang terdapat dilapangan. Arus yang terjadi di Kecamatan Muara Gembong lebih dikarenakan pasut. Ketika pasang terjadi pergerakan arus mengarah ke daratan, dan ketika surut terjadi arus mengarah ke laut. Kecepatan arus pada saat pasang mencapai 0,071 m/s relatif lebih besar dibandingkan kecepatan arus pada saat surut sebesar 0,0451 m/s. Kecepatan arus maksimum sebesar 0,082 m/s.
APLIKASI CITRA QUICKBIRD UNTUK PEMETAAN BATIMETRI DAN PEMETAAN OBJEK DASAR PERAIRAN DANGKAL (STUDI KASUS : GOBAH PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU)
Pemetaan batimetri dan objek dasar perairan dangkal dengan menggunakan citra satelit dapat dijadikan alternatif pengganti metode pemetaan konvensional pada kawasan perairan. Pencitraan satelit pada daerah pulau-pulau kecil dan perairan dangkal memiliki keterbatasan yaitu adanya efek variasi kedalaman sehingga menyebabkan suatu substrat memiliki nilai radiansi yang tidak konsisten. Hal ini disebabkan oleh atenuasi (pelemahan) gelombang cahaya tampak pada kolom air. Atenuasi merupakan akibat dari interaksi cahaya dengan partikel-partikel yang berada pada kolom air. Penelitian ini bertujuan menghasilkan peta objek dasar perairan dangkal dengan menggunakan metode Lyzenga dan untuk menghasilkan peta batimetri dengan menggunakan metode Jupp. Citra yang digunakan adalah citra Quickbird akuisisi september 2008. Pemeruman di lokasi penelitian dilakukan pada oktober 2009 dengan alat perum gema GPSmapsounder. Hasil evaluasi pengukuran kedalaman memperlihatkan bahwa kedalaman penetrasi maksimum band 2 adalah sebesar 9.9 meter, kedalaman penetrasi maksimum band 3 sebesar 3.6 meter, dan kedalaman penetrasi maksimum band 4 sebesar 0.9 meter. Implementasi algoritma Jupp memberikan nilai koefisien determinasi yang rendah. Penggunaan metode Lyzenga dapat menghasilkan citra indeks objek dasar perairan yang tidak tergantung dengan kedalaman (citra indeks invarian kedalaman). Hasil klasifikasi objek dasar perairan dalam dengan menggunakan citra indeks invarian kedalaman menunjukkan akurasi antara 77%-86%.
STUDI KINERJA SOFTWARE ON-LINE PPP (PRECISE POINT POSITIONING) DALAM PENGOLAHAN DATA SURVEY GPS
GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Sistem yang dapat digunakan oleh banyak orang sekaligus dalam segala cuaca ini, didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi yang teliti, dan juga informasi mengenai waktu, secara teliti di seluruh dunia (Abidin, 2007). Banyak aplikasi dalam navigasi, survei tanah, definisi tanah dan sejumlah pemetaan telah dibuat lebih sederhana dan lebih tepat karena aksesibilitas data Global Positioning System (GPS), dan dengan demikian permintaan untuk menggunakan teknik-teknik canggih GPS di survei aplikasi telah menjadi penting Teknik diferensial adalah satu-satunya sumber posisi yang akurat selama bertahun-tahun, dan tetap digunakan meskipun biaya. Precise point positioning (PPP) adalah teknik alternatif untuk metode penentuan posisi diferensial yang pengguna dengan penerima tunggal dapat mencapai akurasi posisi pada skala sentimeter atau decimeter. Belakangan ini banyak website yang menawarkan pengolahan data PPP secara online dan gratis. Sehubungan dengan itu maka perlu dilakukan penelitian tentang kinerja dan hasil dari beberapa website yang memberikan layanan tersebut. Penelitian ini melakukan pencaritahuan tentang parameter yang digunakan dan koordinat yang dihasikan pada website tersebut. Data CORS dari stasiun ITB, UPI, Ceremai, Alaska, dan Pago dipotong menjadi data pengamatan yang bervariasi, yaitu 2 jam, 4 jam, 6 jam, 12 jam, dan 24 jam.Data pengamatan tersebut dikirimkan dengan cara menggungah data tersebut pada masing-masing website. Hasil pengiriman data CORS dengan lama pengamatan 2, 4, 6, 12, 24 jam menghasilkan koordinat dan strandar deviasi yang dikirimkan ke-email pengguna. Koordinat yang dihasilkan ditransformasikan pada bidang proyeksi (Universal Trasversal Mercator) UTM yang selanjutnya dilihat pengaruh repeatibilitas pada masing-masing website. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini website OPUS lebih baik digunakan pada titik pengamatan di Indonesia. Koordinat yang dihasilkan dari website dapat menghasil kepresisian hingga sentimeter.
IDENTIFIKASI DAN PERHITUNGAN LUAS SAWAH DENGAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI MENGGUNAKAN METODE OBJECT BASED IMAGE ANALYSIS (OBIA)
Perhitungan produksi padi di Indonesia telah dilaksanakan oleh tiga instansi; BULOG, BPS, Kementrian Pertanian, dengan metodenya masing-masing dengan menggunakan pendekatan luas lahan sawah, jumlah bibit, maupun laporan mantri tani. Perbedaan metode pada setiap instansi memberikan informasi yang berbeda pula bagi pengguna informasi. Namun dari berbagai metode tersebut belum ada metode perhitungan produksi padi berbasiskan teknologi spasial. Penginderaan jauh dapat dimanfaatkan sebagai alternatif metode yang lebih baik dimana perhitungan produksi padi dilakukan dengan mengidentifikasi lahan baku sawah dan mengklasifikasi jenisnya dengan menggunakan citra dan metode OBIA (Object Based Image Analysis) sebagai metode klasifikasi lahan sawah. Dalam proses klasifikasi, metode OBIA memandang objek tidak hanya berdasarkan nilai piksel per piksel citra namun juga berdasarkan bentuk, luasan, tekstur, serta rasional objek sekitarnya. Berdasarkan penelitian ini didapatkan metode OBIA terbukti dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi lahan baku sawah menurut karakteristik fase padi yang dimilikinya secara tepat dan relatif cepat. Selanjutnya proses perhitungan luas baku sawah dapat diestimasi dari hasil klasifikasi citra.
KAJIAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH DATA GPS UNTUK KEPERLUAN PENENTUAN BEDA TINGGI GEODETIK
Di dalam penentuan posisi menggunakan GPS komponen tinggi yang diberikan yaitu tinggi yang mengacu ke permukaan ellipsoid atau tinggi geodetik (h). Faktor yang mempengaruhi ketelitian komponen tinggi GPS yaitu adanya pengaruh dari kesalahan dan bias. Selain itu strategi pengolahan data yang digunakan pada saat pengolahan data juga akan mempengaruhi ketelitian tinggi geodetik. Perangkat lunak (software) pengolah data GPS dikategorikan menjadi dua jenis yaitu perangkat lunak komersial, dan perangkat lunak ilmiah. Pada tugas akhir ini akan dilakukan kajian tentang kinerja perangkat lunak khususnya untuk keperluan penentuan beda tinggi geodetik. Perangkat lunak yang dikaji yaitu perangkat lunak komersial (TGO) dan sebagai verifikasi data hasil perhitungan perangkat lunak tersebut akan dibandingkan hasilnya dengan perangkat lunak ilmiah (Bernese). Dari hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa lama pengamatan yang semakin panjang menghasilkan solusi tinggi yang lebih baik.
ANALISIS NILAI BACKSCATTERING CITRA RADARSAT UNTUK IDENTIFIKASI PADI (Studi Kasus : Kabupaten & Kota Bogor, Jawa Barat)
Tugas akhir ini bertujuan untuk mendapatkan nilai koefisien radar backscattering tanaman padi yang kemudian nilai tersebut akan digunakan untuk mengidentifikasi tanaman padi yang terdapat pada citra Radarsat. Langkah yang dilakukan antara lain melakukan tahap pra-pengolahan citra yaitu koreksi geometrik, koreksi radiometrik, melakukan pemotongan citra daerah studi dengan mengoverlaykan pada peta batas administrasi, lalu menghitung nilai koefisien radar backscattering tanaman padi berdasarkan tutupan lahan yang telah ada sebelumnya. Langkah akhir adalah melakukan validasi nilai backscattering dengan membuat peta tutupan lahan padi berdasarkan nilai koefisien backscattering tersebut. Dari hasil identifikasi padi menggunakan nilai backscattering di Kabupaten dan Kota Bogor pada tahun 1995 diketahui bahwa daerah tersebut hampir 70% tutupan lahannya berupa tanaman padi, sedangkan berdasarkan peta tutupan lahan pada tahun 1994 diketahui bahwa tutupan lahan padi berkisar 60% dari keseluruhan tutupan lahan pada daerah penelitian. Data citra yang digunakan adalah citra Radarsat single band dan hanya pada satu tempo waktu saja, namun resolusi citra ini tinggi yaitu 8 meter. Kesulitan menggunakan citra ini adalah terbatasnya referensi data pendukung lainnya yang memiliki tempo waktu yang sama. Persentase kesesuaian validasi berdasarkan nilai koefisien radar backscattering pada penelitian ini adalah sebesar 60%. Dari histogram koefisien radar backscattering dan NDVI tergambar kerapatan vegetasi dengan rentang koefisien radar backscattering pada area yang sama. Nilai NDVI yang kecil menunjukkan bahwa adanya air pada lahan padi tersebut ( padi berumur muda) sedangkan nilai NDVI yang besar menunjukkan bahwa lahan padi tertutup tanaman padi seluruhnya.
PENGGUNAAN PERANGKAT LUNAK SONARPRO UNTUK PENGOLAHAN DATA SIDE SCAN SONAR
Survei dan pemetaan laut yang sangat diperlukan dalam berbagai aplikasi kelautan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan proses pencitraan dasar laut. Proses pencitraan dasar laut dapat dilakukan dengan berbagai cara pula, diantaranya pencitraan dengan menggunakan instrumen side scan sonar. Adanya perangkat lunak SonarPro diharapkan dapat meningkatkan kinerja dari pelaksanaan survei side scan sonar. Pengolahan data yang dilakukan adalah real-time processing dan post-processing. Tujuan real-time processing adalah untuk memberikan koreksi selama pencitraan berlangsung. Sedangkan tujuan post-processing adalah meningkatkan pemahaman akan suatu objek melalui interpretasi. Pemahaman yang lebih mengenai informasi yang terkandung pada citra side scan sonar akan membawa pada pengambilan keputusan yang lebih baik untuk berbagai aplikasi kelautan.
ESTIMASI KONSENTRASI SEDIMEN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN INSTRUMEN HIDRO-AKUSTIK (Studi Kasus: Muara Gembong, Bekasi)
Tugas akhir ini membahas teknik pengukuran, keterandalan instrumen dan persamaan empirik yang digunakan untuk estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi. Area studi tugas akhir ini terletak di Muara Gembong, Bekasi. Instrumen hidroΓΖΓβΓβΓΒakustik yang digunakan adalah Acoustic Doppler Current profiler (ADCP) berfrekuensi 600 kHz. Selain kecepatan arus, ADCP juga mengukur intensitas pantulan balik. Intensitas pantulan balik tersebut merupakan nilai relatif konsentrasi sedimen tersuspensi. Penggunaan ADCP juga harus dikalibrasi dengan pengambilan sampel (direct sampling) sedimen tersuspensi. Persamaan empirik digunakan untuk mengubah intensitas pantulan balik menjadi konsentrasi sedimen tersuspensi. Konstanta persamaan empirik tersebut merupakan hasil kalibrasi di Meldorf Bight, Laut Utara Jerman. Persamaan empirik dievaluasi dengan membandingkan hasil estimasi ADCP dan direct sampling. Hasil evaluasi menunjukkan kesalahan rata-rata absolut = 0,06 kg/m3, kesalahan rata-rata relatif = 74%, dan tingkat kesesuaian faktor 2 = 64%. Berdasarkan hasil evaluasi, konstanta persamaan empirik hasil kalibrasi pengukuran di Meldorf Bight dapat digunakan untuk pengukuran di Muara Gembong.
PEMETAAN IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR DAERAH ALIRAN SUNGAI PENYEBAB KERUSAKAN KONDISI WILAYAH PESISIR BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT PESISIR
Indonesia memiliki potensi sumber daya wilayah pesisir dan laut, tetapi sebagian besar masyarakat pesisir hidup di dalam kemiskinan. Salah satu penyebabnya adalah kerusakan kondisi lingkungan wilayah pesisir. Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagai salah satu unsur yang mempengaruhi kondisi wilayah pesisir, turut memberikan kontribusi atas terjadinya kerusakan tersebut. Kerusakan lingkungan pesisir berdampak secara multidimensional. Namun, pembahasan pada Tugas Akhir ini dibatasi pada aspek ekonomi dan sosial masyarakat pesisir. Untuk mengkaji dan menangani masalah tersebut di atas, pada Tugas Akhir ini, akan diidentifikasi unsur-unsur DAS penyebab kerusakan kondisi wilayah pesisir. Metode identifikasi yang digunakan adalah analisis hubungan sebab-akibat dengan pendekatan matriks korelasi. Kemudian, kerusakan kondisi wilayah pesisir akan dikaitkan dengan aspek ekonomi dan sosial agar dapat diketahui dengan jelas dampak kerusakan lingkungan terhadap masyarakat wilayah pesisir. Berdasarkan pengkajian dan penelitian ini, unsur-unsur DAS penyebab kerusakan wilayah pesisir adalah curah hujan, jaringan sungai, topografi, kondisi tanah, vegetasi, dan penggunaan lahan DAS. Kerusakan lingkungan wilayah pesisir akibat DAS berdampak pada penurunan daya beli masyarakat pesisir (dampak ekonomi) dan terganggunya tatanan kehidupan sosial masyarakat pesisir, seperti aspek kesehatan, dan pendidikan.
ASPEK GEOLOGI PENENTUAN LANDAS KONTINEN
Landas Kontinen merupakan wilayah dasar laut di luar wilayah Laut Teritorial tempat suatu negara pantai memiliki hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, kepastian hukum atas suatu wilayah Landas Kontinen yang dapat ditarik melebihi jarak 200 mil laut ini, akan sangat mendukung suatu negara pantai, termasuk Indonesia untuk memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada. Salah satu kriteria penarikan batas Landas Kontinen ini adalah berdasarkan aspek geologi, yaitu dengan menarik garis yang perbandingan ketebalan sedimennya dengan jarak horisontal dari kaki lereng kontinen bernilai 1%. Aspek geologi ini diharapkan mampu membuat batas Landas Kontinen Indonesia menjadi maksimum. Kriteria berdasarkan aspek geologi tersebut, telah diterapkan pada daerah selatan Sumbawa, yang menghasilkan batas Landas Kontinen Indonesia menjadi kurang dari 200 mil laut. Keadaan ini membuat upaya dalam menarik Landas Kontinen tambahan tidak dapat dilakukan. Sehingga, sebaiknya penerapan kriteria berdasarkan aspek geologi pada daerah selatan Sumbawa tidak digunakan.
TATA CARA DAN ATURAN PENENTUAN BATAS WILAYAH ADAT BERDASARKAN HUKUM ADAT
Batas wilayah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menentukan wilayah administrasi suatu daerah. Dengan jelasnya batas wilayah suatu daerah, maka dapat dijadikan acuan dalam menentukan pemanfaatan dari wilayah tersebut. Konflik seringkali muncul akibat ketidak-jelasan batas wilayah administrasi suatu daerah. Hal yang sama berlaku pada wilayah adat. Hukum adat masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat adat memiliki aturan baku dalam menerapkan aturan hukumnya. Dengan demikian, perlu dilakukan identifikasi konsep penentuan batas wilayah adat berdasarkan hukum adat yang berlaku di wilayah tersebut. Ciptagelar merupakan suatu daerah yang kaya akan budaya dan menggunakan hukum adat dalam mengatur kehidupan sehari-hari penduduknya. Sebagai daerah yang berpedoman kepada hukum adat, tentunya daerah ini memiliki aturan-aturan khusus dalam menentukan batas wilayah adatnya. Salah satu pengimplementasian dari aturan adat tersebut di Ciptagelar adalah pola hidup yang semi nomaden. Aturan adat tersebut memiliki nilai sosial, budaya dan hukum yang sangat mengutamakan nilai kearifan lingkungan. Dalam rangka mengidentifikasi konsep penentuan batas wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar, diperlukan proses identifikasi dari hukum adat tersebut, terutama mengenai tata cara dan aturan penentuan batas wilayah adat di Kasepuhan Ciptagelar. Proses identifikasi tersebut dilakukan melalui pengumpulan data yang mendukung terhadap proses identifikasi tersebut. Data tersebut selanjutnya dibandingkan dengan tata cara dan aturan penentuan batas wilayah yang berlaku di Indonesia. Dari hasil penelitian ini didapatkan beberapa faktor yang berpengaruh pada tata cara dan aturan penentuan batas wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar, seperti pola perpindahan pusat pemerintahan Kasepuhan Ciptagelar serta pola penyebaran lokasi kampung-kampung yang termasuk dalam Kasepuhan Ciptagelar. Pemanfaatan tata cara dan aturan penentuan batas wilayah adat di Kasepuhan Ciptagelar ternyata sangat berwawasan lingkungan. Namun, di lain sisi, status hukum wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar belum jelas akibat terjadinya tumpang tindih peraturan perundangan-undangan serta belum ada pengakuan atas batas wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar secara nasional.