📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 146 dokumen

EVALUASI KESTABILAN LERENG ANDESIT MENGGUNAKAN KLASIFIKASI MASSA BATUAN DAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DI KAWASAN GUNUNG BATU DAN GRAHA PUSPA, KABUPATEN BANDUNG BARAT, JAWA BARAT

Fakta bahwa Jawa Barat memiliki kerawanan tinggi terhadap longsoran, potensi bahaya gempa akibat aktivitas sesar, dan merupakan provinsi dengan populasi tertinggi di Indonesia mendorong dilakukannya penelitian mengenai potensi longsoran yang dipicu oleh gempa di lokasi tersebut. Sebuah penelitian dilakukan untuk menentukan kestabilan lereng andesit yang berada di kawasan Gunung Batu dan Graha Puspa, Kabupaten Bandung Barat menggunakan klasifikasi massa batuan dan metode kesetimbangan batas. Data yang digunakan meliputi hasil uji properti batuan, hasil deskripsi sayatan tipis batuan, referensi mengenai kegempaan regional, hasil survei kekerasan batuan, hasil survei talipindai, dan foto drone. Metode yang digunakan meliputi studi literatur (mengenai geologi dan kegempaan regional, teknik pemerolehan dan pengolahan data, serta teknik analisis dan evaluasi), pencarian data sekunder (hasil uji properti batuan dan hasil deskripsi sayatan tipis batuan), survei kekerasan batuan, survei talipindai, pengambilan foto drone, klasifikasi massa batuan menggunakan Rock Mass Rating (RMR), analisis kinematika diskontinuitas, analisis pengaruh gempa, analisis kestabilan lereng menggunakan Slope Mass Rating (SMR) (empirik) dan metode kesetimbangan batas (deterministik), serta evaluasi kestabilan lereng. Lereng andesit di Gunung Batu dan Graha Puspa memiliki nilai RMR 74-81 yang termasuk dalam kategori massa batuan baik-sangat baik. Parameter desain dan properti keteknikan yang dapat diterapkan pada lereng andesit di kedua lokasi tersebut adalah sebagai berikut: kohesi massa batuan 0,3-0,4 hingga >0,4 MPa, sudut geser dalam massa batuan 35-45 hingga >45°, dan sudut pemotongan lereng yang aman 65 hingga >70°. Lereng GB-01, GB-02, GB-03, GP-02, dan GP-03 memiliki potensi keruntuhan tipe guling, sementara lereng GP-01 memiliki potensi keruntuhan tipe baji. Lereng andesit di Gunung Batu dan Graha Puspa memiliki nilai SMR 72-96 yang termasuk dalam kelas I-II. Lereng dengan kategori tersebut memiliki karakteristik stabil-sangat stabil, memiliki kemungkinan keruntuhan blok hingga tak ada keruntuhan, serta probabilitas keruntuhan 0,2-0. Hampir tidak ada perkuatan mayor yang diperlukan. Terdapat beberapa opsi perkuatan minor yang dapat diterapkan, seperti scaling, toe ditch, fence, dan spot bolting. Lereng GP-02 tidak dapat dimodelkan kestabilannya karena memiliki kemiringan diskontinuitas yang sangat kecil (ditolak oleh sistem peranti lunak keruntuhan guling). Pada kondisi faktual (kering-statik), semua lereng di Gunung Batu dan Graha Puspa berada pada kondisi stabil (faktor keamanan (FK) ? 1,1). Secara umum, semua lereng mengalami kenaikan nilai FK ketika lereng divariasikan pada kondisi dengan urutan: jenuh-pseudostatik, jenuh-statik, kering-pseudostatik, kering-statik; kecuali lereng GB-03 (karena FK lereng tidak sensitif terhadap perubahan kh dan %w). Peningkatan FK yang ekstrem pada lereng GB-01 dan GP-03 disebabkan oleh konfigurasi diskontinuitas yang favorable terhadap kestabilan lereng. Di Gunung Batu, lereng GB-02 stabil di semua variasi kondisi kadar air, lereng GB-01 tidak stabil pada %w = 100 dengan kh ? 0,08 g, dan lereng GB-03 tidak stabil di semua variasi kondisi kadar air dengan kh ? 0,175 g (%w = 0), 0,15 g (%w = 50), dan 0,05 g (%w = 100). Lereng GB-02 stabil di semua variasi kondisi kegempaan, lereng GB-03 sepenuhnya tidak stabil pada kh = 0,15 g dan 0,3 g, serta lereng GB-01 tidak stabil pada kondisi yang sama dengan %w ? 92 (kh = 0,15 g) dan 70 (kh = 0,3 g). Di Graha Puspa, lereng GP-01 sepenuhnya tidak stabil pada %w = 100, lereng GP-03 tidak stabil pada kondisi yang sama dengan kh ? 0,09 g. Lereng GP-01 tidak stabil di semua variasi kondisi kegempaan dengan %w ? 93 (kh = 0 g), 80 (kh = 0,15 g), dan 60 (kh = 0,3 g) sementara lereng GP-03 tidak stabil pada kh = 0,15 g (%w ? 88) dan kh = 0,3 g (%w ? 58).

2024
👤 Penulis: Wira Cakrabuana
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Kestabilan Lereng 🏷️ Teknik Geoteknik

STUDI PERANCANGAN STRUKTUR RUMAH SUSUN NEGARA DENGAN KRITERIA KHUSUS UNTUK KEMENTRIAN KEUANGAN RI DI KEMANGGISAN

Indonesia, negara yang terletak di Cincin Api Pasifik, memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi. Bencana ini dapat menimbulkan kerusakan fisik, kerugian sosial, ekonomi, dan lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan bangunan tahan gempa sebagai solusi preventif dan mitigatif. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mendesain struktur bangunan tahan gempa 11 lantai dan 2 atap di Jakarta, dengan fokus pada proses perancangan elemen struktur, pengaruh penempatan dinding geser, dan proses perancangan elemen fondasi. Perancangan struktur dilakukan dengan metode SRPMK (Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus) dan SDSK (Sistem Dinding Struktural Khusus), serta analisis elemen struktur dan fondasi dengan SNI terkait. Dimensi elemen struktur atap, lantai, dan balok dihitung dan ditetapkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa model A dengan konfigurasi shearwall optimal memiliki eksentrisitas, rotasi pada mode kedua, dan ketidakberaturan antar lantai yang lebih baik dibandingkan model B. Desain fondasi pile cap dengan diameter 1 meter, kedalaman 20 meter, dan tipe 1, 2, atau 4 tiang untuk kolom serta 6 tiang untuk pier 1, 2, 3 dan 8 tiang untuk pier 4 pada fondasi shearwall memenuhi persyaratan SNI. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus dikombinasikan dengan Dinding Gedser Beton Khusus memiliki nilai R = 7, ????? = 2.5, dan Cd = 5.5, serta kekuatan minimal 25% dari beban gempa. Kesimpulannya, penempatan dinding geser dan desain struktur yang tepat menghasilkan bangunan tahan gempa 12 lantai yang aman dan memenuhi standar SNI. Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas bangunan tahan gempa di Indonesia.

2024
👤 Penulis: Michael Ari H.T.
🏷️ Geologi 🏷️ Desain Struktur Bangunan 🏷️ Standar Sni

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Wildan Fatih Gunawan
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

PEMETAAN KOMPREHENSIF PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG

Cekungan Bandung merupakan daerah yang dikelilingi oleh pegunungan vulkanik Quatenary dan Late Teritary. Terdiri dari kota-kota besar seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, dan sebagian Kabupaten Sumedang, wilayah Cekungan Bandung telah berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi, sosial, dan politik yang signifikan. Namun, tingginya aktivitas di daerah ini telah menyebabkan penurunan muka tanah yang cukup mencolok dibandingkan dengan beberapa kota lain di Indonesia. Penurunan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ekstraksi air tanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi alami, atau aktivitas tektonik. Dampak dari penurunan muka tanah ini bisa sangat merugikan jika tidak ditangani dengan baik, termasuk kerusakan fisik pada bangunan, jalan, dan jembatan yang pada akhirnya menyebabkan kerugian ekonomi. Untuk memantau fenomena ini, berbagai metode geodetik seperti survei GNSS (Global Navigation Satellite System) dan InSAR (Interferometric Satellite Aperture Radar) digunakan. Hasil survei GNSS menunjukkan bahwa kecepatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung antara tahun 2016-2023 berkisar antara 1,4 cm hingga 13 cm per tahun, sedangkan hasil InSAR menunjukkan kisaran antara 0,6 cm hingga 12 cm per tahun di lokasi yang sama. Meskipun dinamika penurunan muka tanah ini relatif kecil, namun sering kali terabaikan oleh banyak pihak. Oleh karena itu, penyajian data dalam bentuk dashboard yang komprehensif dan mudah dipahami dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran akan fenomena penurunan muka tanah di Cekungan Bandung.

2024
👤 Penulis: R.M. Cessar Surya Adiputra
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Geologis 🏷️ Analisis Data Geodesi

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Bummy Akbar
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

INTEGRASI DATA POINT CLOUD MULTI SOURCES UNTUK IDENTIFIKASI BANGUNAN YANG TERKENA DAMPAK BENCANA GEOLOGI DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak, terletak di Provinsi Banten, merupakan daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam, khususnya tanah longsor. Karakteristik geografis kabupaten ini yang terdiri dari daerah perbukitan dan pegunungan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor secara signifikan. Dampak dari bencana ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga merusak infrastruktur dan bangunan. Oleh karena itu, pada project ini dilakukan identifikasi kerusakan bangunan secara akurat agar dapat dilakukan evaluasi kebencanaan secara tepat. Proses awal dilakukan identifikasi fenomena pergerakan tanah yang diturunkan dari data InSAR untuk menentukan wilayah yang berisiko tinggi. Selanjutnya, survei lapangan dilakukan dan rekomendasi untuk memvalidasi area yang teridentifikasi sehingga menghasilkan pemilihan Kecamatan Cikulur untuk analisis lebih lanjut. Untuk mengetahui dampak kerusakan bangunan secara detail, dilakukan pengintegrasian data point cloud LiDAR dan TLS dengan objek MTs Ar-Ribathiyyah Cikulur. Dari hasil integrasi dua sumber point cloud tersebut didapatkan RMSE 0,265 mm, dengan hasil penggabungan tersebut akan dibuat Model 3D BIM. Model 3D BIM memiliki kedalaman detail dan informasi pada LOD300 yang mencakup atribut informasi kondisi bangunan, termasuk hasil analisis vertikalitas bangunan, sehingga asesmen terhadap kelayakan bangunan dapat dilakukan secara kuantitatif.

2024
👤 Penulis: Resy Meilani
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Data Point Cloud 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Muhammad Akbarrudin
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

EVALUASI POTENSI LIKUEFAKSI KAITANNYA DENGAN PENURUNANTANAH DAN PERPINDAHAN LATERAL DI HUMENE, KECAMATN GUNUNGSITOLI IDANOI, GUNUNGSITOLI, KEPULAUAN NIAS

Desa Humene, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kabupaten Gunungsitoli, Nias didominasi oleh endapan Kuarter yang terdiri dari endapan, material lempung, pasir lempungan, pasir lanuan, dan pasir. Daerah tersebut dan Pulau Nias sendiri merupakan bagian depan busur Pulau Sumatra yang termasuk dalam sistem subduksi Sunda dengan letaknya dekat dengan zona subduksi memungkinkan terjadinya potensi likuefaksi. Penelitian dilakukan di Desa Humene bertujuan untuk mengetahui karakteristik material endapan Kuarter, potensi likuefaksi, penurunan tanah akibat likuefaksi, dan perpindahan lateral. Metode yang digunakan berdasarkan pengamatan 2 titik bor teknik dan 12 hasil grafik sondir (CPT) serta pengujian laboratorium dari hasil sampel bor berupa berat jenis tanah, ukuran butir, dan plastisitas tanah. Pada lokasi penelitian disimulasikan potensi gempa yang berpengaruh menggunakan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 SNI (987-602-5489-01-3) dengan menggunakan persamaan Robetson, Boulanger dan Idriss dan serta nilai magnitudo gempa 7,5 Mw sebagai standar dan 8,1 Mw gempa yang terbesar yang pernah tercatat di lokasi penelitian. Nilai faktor keamanan (fs) mencerminkan potensi likuefaksi serta hubungannya dengan penurunan tanah dan perpindahan lateral. Berdasarkan hasil pengamatan in situ berupa inti bor, grafik sondir, dan analisis laboratorium, karakteristik tanah yang terdapat pada lokasi penelitian terbagi menjadi 3 yaitu lingkungan pengendapan fluvial, lingkungan pengendapan pematang pantai, dan skala kecil lingkungan laut. Secara umum material pasir lanauan di daerah penelitian berpotensi likuefaksi. Material ini merupakan karakteristik material lingkungan fluvial mayoritas berada pada kedalaman 2-10 m. Hal tersebut dikarenakan nilai NSPT berkisar 4-24 dan tahanan konus kurang dari 100 kg/cm2. Nilai indeks potensi likuefaksi dari simulasi percepatan gempa dan menggunakan 2 persamaan, semuanya masuk dalam kategori tinggi potensi likuefaksi, sedangkan nilai LSI dengan simulasi percepatan gempa menunjukkan nilai yang lebih bervariasi, dari potensi likuefaksi rendah hingga sangat tinggi. Kaitannya dengan penurunan tanah dan perpindahan lateral, lokasi penelitian termasuk kategori kerusakan berat akibat adanya likuefaksi, dengan nilai penurunan tanah pada simulasi persamaan Robetson, Boulanger dan Idris pada magnitudo standar Mw 7,5 adalah 23,3 cm – 54,04 cm dan 32,48 cm – 54,06 cm. Sedangkan pada magnitudo 8,1 Mw adalah 40,02 cm – 66,36 cm dan 42,12 cm – 66,36 cm. Kaitannya dengan persamaan tersebut memiliki perbedaan setelah nilai fs dibandingkan dengan nilai penurunan tanah. Persamaan Robetson nilai R2 0,8436 dan nilai R-nya 0,9272 untuk magnitudo standar sedangkan untuk magnitudo 8,1 Mw adalah R2 0,8553 dan R 0,91274. Pada persamaan Boulanger dan Idriss nilai R2 0,6288 dan R 0,7280 pada magnitudo standar, sedangkan pada magnitudo 8,1 Mw nilai R2 0,6191 dan nilai R 0,7131, sehingga persamaan Robetson lebih optimal diaplikasikan di lokasi penelitian pada pengujian sondir.

2024
👤 Penulis: Aldy Recxy Vegantara
🏷️ Geologi 🏷️ Likuefaksi 🏷️ Analisis Geofisika

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA GERAKAN TANAH DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak menempati posisi 15 dari 514 kabupaten dan kota dengan indeks risiko bencana tertinggi. Beragam jenis bencana terjadi di Kabupaten Lebak, beberapa diantaranya disebabkan oleh pergerakan tanah. Pada tahun 2023, Kabupaten Lebak mengalami kerugian 200 miliar hingga menelan korban jiwa akibat bencana tersebut. Demi meminimalisasi dampak buruk, diperlukan sebuah informasi yang dapat dijadikan dasar acuan untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak dapat menjadi solusi yang dipilih untuk mengurangi dampak buruk bencana pergerakan tanah. Peta risiko sebenarnya selalu diproduksi secara berkala setiap 5 tahun sekali oleh BNPB. Namun, mengingat masih banyaknya kejadian bencana dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, maka proyek ini akan memperbarui peta risiko yang telah dibuat. Peta Risiko Bencana Gerakan Tanah disusun mengikuti petunjuk yang ada pada Buku RBI tahun 2016 dan Modul Teknis KRB Tanah Longsor tahun 2019. Peta risiko terbentuk dari hasil penggabungan peta bahaya, kerentanan, serta kapasitas. Ketiga peta penyusun tersebut disusun dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, dilakukan pengukuran langsung dengan menggunakan GNSS untuk mengetahui vektor pergerakan tanah yang terjadi di wilayah sampel. Peta yang dihasilkan pada proyek kali ini telah tervalidasi sehingga dapat dikatakan sudah cukup baik.

2024
👤 Penulis: Muhammad Naufal Mufiddin
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Pengukuran Geografi

PEMETAAN KOMPREHENSIF PENURUNAN MUKA TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG

Cekungan Bandung merupakan daerah yang dikelilingi oleh pegunungan vulkanik Quatenary dan Late Teritary. Terdiri dari kota-kota besar seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, dan sebagian Kabupaten Sumedang, wilayah Cekungan Bandung telah berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi, sosial, dan politik yang signifikan. Namun, tingginya aktivitas di daerah ini telah menyebabkan penurunan muka tanah yang cukup mencolok dibandingkan dengan beberapa kota lain di Indonesia. Penurunan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ekstraksi air tanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi alami, atau aktivitas tektonik. Dampak dari penurunan muka tanah ini bisa sangat merugikan jika tidak ditangani dengan baik, termasuk kerusakan fisik pada bangunan, jalan, dan jembatan yang pada akhirnya menyebabkan kerugian ekonomi. Untuk memantau fenomena ini, berbagai metode geodetik seperti survei GNSS (Global Navigation Satellite System) dan InSAR (Interferometric Satellite Aperture Radar) digunakan. Hasil survei GNSS menunjukkan bahwa kecepatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung antara tahun 2016-2023 berkisar antara 1,4 cm hingga 13 cm per tahun, sedangkan hasil InSAR menunjukkan kisaran antara 0,6 cm hingga 12 cm per tahun di lokasi yang sama. Meskipun dinamika penurunan muka tanah ini relatif kecil, namun sering kali terabaikan oleh banyak pihak. Oleh karena itu, penyajian data dalam bentuk dashboard yang komprehensif dan mudah dipahami dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran akan fenomena penurunan muka tanah di Cekungan Bandung.

2024
👤 Penulis: Yovani
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Geodetis 🏷️ Manajemen Risiko Lingkungan

ESTIMASI KERUGIAN LANGSUNG BERDASARKAN DAMPAK KERUSAKAN DAN TINGKAT ANCAMAN BENCANA DI PULAU JAWA

Letak geografis serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah yang rawan bencana dengan berbagai ancaman, termasuk gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung api. Berdasarkan data historis, keempat jenis bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp395.050.291.044.408,00 dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, perhitungan potensi kerugian akibat keempat bencana tersebut menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari kerugian ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Adapun jenis kerugian yang akan dibahas secara spesifik dalam project ini adalah jenis kerugian langsung (direct loss). Proses perhitungan kerugian diawali dengan mengumpulkan peta ancaman bencana untuk mengetahui parameter indeks ancaman. Kemudian, proses dilanjutkan dengan melakukan identifikasi sruktur taksonomi bangunan melalui metode GED4ALL Building Taxonomy yang telah disimplifikasi untuk parameter pengamatannya. Data indeks ancaman dan struktur taksonomi bangunan yang diperoleh akan digunakan sebagai variabel dalam persamaan perhitungan risiko kerugian langsung akibat bencana dengan metode Damage and Loss Assessment (DaLA). Pada tahapan akhir, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga proses sebelumnya akan disajikan dalam suatu dashboard berbasis WebGIS. Hasil perhitungan risiko kerugian menunjukkan bahwa bencana gempa bumi memiliki potensi kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp195.322.940.153.487,00 disusul dengan bencana longsor dan banjir dengan nilai total kerugian sebesar Rp117.043.904.494.640,00 dan Rp12.329.442.055.227,00. Potensi kerugian terendah ditunjukkan oleh jenis bencana letusan gunung api dengan nilai total kerugian Rp68.006.471.074,00. Secara keseluruhan, luaran utama yang dihasilkan pada project ini dapat digunakan untuk proses lanjutan dalam sistem manajemen risiko bencana, khususnya pada tahap analisis dan evaluasi risiko.

2024
👤 Penulis: Zidane Lutfi Salim
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ESTIMASI KERUGIAN LANGSUNG BERDASARKAN DAMPAK KERUSAKAN DAN TINGKAT ANCAMAN BENCANA DI PULAU JAWA

Letak geografis serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah yang rawan bencana dengan berbagai ancaman, termasuk gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung api. Berdasarkan data historis, keempat jenis bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp395.050.291.044.408,00 dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, perhitungan potensi kerugian akibat keempat bencana tersebut menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari kerugian ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Adapun jenis kerugian yang akan dibahas secara spesifik dalam project ini adalah jenis kerugian langsung (direct loss). Proses perhitungan kerugian diawali dengan mengumpulkan peta ancaman bencana untuk mengetahui parameter indeks ancaman. Kemudian, proses dilanjutkan dengan melakukan identifikasi sruktur taksonomi bangunan melalui metode GED4ALL Building Taxonomy yang telah disimplifikasi untuk parameter pengamatannya. Data indeks ancaman dan struktur taksonomi bangunan yang diperoleh akan digunakan sebagai variabel dalam persamaan perhitungan risiko kerugian langsung akibat bencana dengan metode Damage and Loss Assessment (DaLA). Pada tahapan akhir, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga proses sebelumnya akan disajikan dalam suatu dashboard berbasis WebGIS. Hasil perhitungan risiko kerugian menunjukkan bahwa bencana gempa bumi memiliki potensi kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp195.322.940.153.487,00 disusul dengan bencana longsor dan banjir dengan nilai total kerugian sebesar Rp117.043.904.494.640,00 dan Rp12.329.442.055.227,00. Potensi kerugian terendah ditunjukkan oleh jenis bencana letusan gunung api dengan nilai total kerugian Rp68.006.471.074,00. Secara keseluruhan, luaran utama yang dihasilkan pada project ini dapat digunakan untuk proses lanjutan dalam sistem manajemen risiko bencana, khususnya pada tahap analisis dan evaluasi risiko.

2024
👤 Penulis: Hanna Racita Lunardia
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

INTEGRASI DATA POINT CLOUD MULTI SOURCES UNTUK IDENTIFIKASI BANGUNAN YANG TERKENA DAMPAK BENCANA GEOLOGI DI KABUPATEN LEBAK

Kabupaten Lebak, terletak di Provinsi Banten, merupakan daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam, khususnya tanah longsor. Karakteristik geografis kabupaten ini yang terdiri dari daerah perbukitan dan pegunungan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor secara signifikan. Dampak dari bencana ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga merusak infrastruktur dan bangunan. Oleh karena itu, pada project ini dilakukan identifikasi kerusakan bangunan secara akurat agar dapat dilakukan evaluasi kebencanaan secara tepat. Proses awal dilakukan identifikasi fenomena pergerakan tanah yang diturunkan dari data InSAR untuk menentukan wilayah yang berisiko tinggi. Selanjutnya, survei lapangan dilakukan dan rekomendasi untuk memvalidasi area yang teridentifikasi sehingga menghasilkan pemilihan Kecamatan Cikulur untuk analisis lebih lanjut. Untuk mengetahui dampak kerusakan bangunan secara detail, dilakukan pengintegrasian data point cloud LiDAR dan TLS dengan objek MTs Ar-Ribathiyyah Cikulur. Dari hasil integrasi dua sumber point cloud tersebut didapatkan RMSE 0,265 mm, dengan hasil penggabungan tersebut akan dibuat Model 3D BIM. Model 3D BIM memiliki kedalaman detail dan informasi pada LOD300 yang mencakup atribut informasi kondisi bangunan, termasuk hasil analisis vertikalitas bangunan, sehingga asesmen terhadap kelayakan bangunan dapat dilakukan secara kuantitatif.

2024
👤 Penulis: Achmad Reksa Billah
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Data Point Cloud 🏷️ Model Bim

PEMODELAN 3D SURFACE DAN SUBSURFACE UNTUK BANJIR ROB PESISIR JAKARTA UTARA

Banjir rob merupakan bencana alam yang dapat membahayakan manusia dan harta benda serta menyebabkan kerugian lingkungan dan ekonomi. Jakarta Utara, sebagai salah satu kota administrasi di ibu kota, mengalami pertumbuhan penduduk yang memicu pesatnya pembangunan berbagai fasilitas dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ini meningkatkan permintaan air baku tanah yang berisiko menimbulkan over pumpage, menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence) dan banjir rob. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model tiga dimensi surface dan subsurface di wilayah pesisir Jakarta Utara serta mengestimasi kerugian ekonomi akibat banjir rob. Data LiDAR tahun 2010 dan 2022 digunakan untuk membangun model tiga dimensi surface serta pemodelan banjir rob. Pemodelan subsurface dilakukan melalui interpolasi metode kriging dari hasil pengeboran lapisan di area Jakarta Utara tahun 2010. Model damagescanner digunakan dalam penilaian risiko kerugian ekonomi sebagai fungsi dari hazard, exposure, dan vulnerability. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa lapisan bawah tanah di daerah pesisir Jakarta Utara didominasi oleh jenis lempung pasir dan lempung. Pada tahun 2023, wilayah Jakarta Utara diproyeksikan tergenang banjir rob dengan kedalaman maksimum 3,52 meter (dengan tanggul) dan 5,2 meter (tanpa tanggul). Estimasi total nilai kerugian akibat banjir rob di Marunda, Muara Angke, Muara Baru, dan JIS mencapai 6,8 Triliun Rupiah untuk skenario tanggul, sedangkan perhitungan skenario terburuk tanpa tanggul bisa mencapai 18,6 Triliun Rupiah.

2024
👤 Penulis: Muhammad Hassan Rafi Akbari
🏷️ Geologi 🏷️ Banjir Rob 🏷️ Analisis Risiko Ekonomi

ESTIMASI KERUGIAN LANGSUNG BERDASARKAN DAMPAK KERUSAKAN DAN TINGKAT ANCAMAN BENCANA DI PULAU JAWA

Letak geografis serta jumlah penduduk yang besar menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah yang rawan bencana dengan berbagai ancaman, termasuk gempa bumi, longsor, banjir, dan letusan gunung api. Berdasarkan data historis, keempat jenis bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp395.050.291.044.408,00 dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, perhitungan potensi kerugian akibat keempat bencana tersebut menjadi hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari kerugian ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Adapun jenis kerugian yang akan dibahas secara spesifik dalam project ini adalah jenis kerugian langsung (direct loss). Proses perhitungan kerugian diawali dengan mengumpulkan peta ancaman bencana untuk mengetahui parameter indeks ancaman. Kemudian, proses dilanjutkan dengan melakukan identifikasi sruktur taksonomi bangunan melalui metode GED4ALL Building Taxonomy yang telah disimplifikasi untuk parameter pengamatannya. Data indeks ancaman dan struktur taksonomi bangunan yang diperoleh akan digunakan sebagai variabel dalam persamaan perhitungan risiko kerugian langsung akibat bencana dengan metode Damage and Loss Assessment (DaLA). Pada tahapan akhir, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga proses sebelumnya akan disajikan dalam suatu dashboard berbasis WebGIS. Hasil perhitungan risiko kerugian menunjukkan bahwa bencana gempa bumi memiliki potensi kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp195.322.940.153.487,00 disusul dengan bencana longsor dan banjir dengan nilai total kerugian sebesar Rp117.043.904.494.640,00 dan Rp12.329.442.055.227,00. Potensi kerugian terendah ditunjukkan oleh jenis bencana letusan gunung api dengan nilai total kerugian Rp68.006.471.074,00. Secara keseluruhan, luaran utama yang dihasilkan pada project ini dapat digunakan untuk proses lanjutan dalam sistem manajemen risiko bencana, khususnya pada tahap analisis dan evaluasi risiko.

2024
👤 Penulis: Karina Auliya Maharani
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 9 dari 10
💬